Anda di halaman 1dari 36

Keperawatan Gawat Darurat

Kegawatdaruratan Jantung Pada

Cardiac Arrest ( Henti Jantung )

Di susun oleh :

Kelompok III

Robert Tangke 201901154

Ni Kadek Nurianti 201901149

I Putu Eka 201901170

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Nusantara Palu

Program Profesi Ners

Tahun 2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
kasih dan kemurahannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul“Kegawatdaruratan Jantung pada Henti Jantung ( Cardiac Arrest ) ”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih kurang
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna dan
bermanfaat bagi semuanya.

Palu Septermber 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI .................................................................... 3


A. Pengertian Henti Jantung ( Cardiac Arrest) .................................... 3
B. Etiologi ( Cardiac Arrest) ............................... …........................... 3
C. Manifestasi klinis Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ......................... 5
D. Patofisiologi Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ................................. 5
E. Patway Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ......................................... 7
F. Penatalaksanaan Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ........................... 8
G. Pemerikasaan Penunjang Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ............. 10
H. Komplikasi Henti Jantung ( Cardiac Arrest) ................................. 20

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ................................................... 21


A. Pengkajian ........................................................................................ 21
B. DiagnosaKeperawatan ...................................................................... 26
C. Intervensi Keperawatan .................................................................... 27

BAB IV PENUTUP .................................................................................... 31


A. Kesimpulan ....................................................................................... 31
B. Saran ..................................................................................................... 31

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 32

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegawatdaruratan merupakan suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba
yang dapat disebabkan oleh kejadian alam, bencana teknologi, perselisihan atau
kejadian yang disebabkan oleh manusia, dan menuntut suatu penanganan segera.
Kejadian gawat darurat dapat menimpa siapa saja dan terjadi dimana saja.
Penyakit jantung merupakan penyebab kematian terbesar nomor satu di
dunia. Pada orang dewasa, penyakit jantung yang paling sering ditemui ialah
penyakit jantung koroner dan gagal jantung. Dimana, pada tahun 2012 tercatat
angka kematian dunia yang diakibatkan oleh penyakit jantung koroner ialah
berkisar 7,4 juta. Penyakit jantung koroner dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan listrik yang akhirnya menyebabkan Sudden Cardiac Arrest (SCA).
Kejadian henti jantung merupakan salah satu kondisi kegawat - daruratan
yang banyak terjadi di luar rumah sakit. Angka kematian akibat henti jantung
masih sangat tinggi baik di negara - negara maju maupun yang masih
berkembang. Berdasarkan data dari the American Heart Association (AHA),
sedikitnya terdapat 2 juta kematian akibat henti jantung di seluruh dunia. Di
Jepang, Singapura, Malaysia, dan juga negara - negara asia lainnya, angka
kematian akibat henti jantung menempati urutan 3 besar penyebab kematian
terbanyak. Di Indonesia sendiri, banyak ditemukan laporan kematian mendadak
akibat masalah henti jantung.
Cardiac arrest merupakan hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba guna
mempertahankan sirkulasi normal darah yang berfungsi untuk menyuplai oksigen
ke otak dan organ vital lainnya, yang ditandai dengan tidak ditemukan adanya
denyut nadi akibat ketidakmapuan jantung untuk dapat berkontraksi dengan baik.

1
Kematian pada cardiac arrest terjadi ketika jantung secara tiba-tiba berhenti
bekerja dengan benar.
Pemberian penanganan segera pada henti nafas dan jantung berupa Cardio
Pulmonary Resuscitation (CPR) akan berdampak langsung pada kelangsungan
hidup dan komplikasi yang ditimbulkan setelah terjadinya henti jantung.
Resusitasi jantung paru segera yang dilakukan dengan efektif berhubungan
dengan kembalinya sirkulasi spontan dan kesempurnaan pemulihan neurologis.
Hal ini disebabkan karena ketika jantung berhenti, oksigenasi juga akan berhenti
sehingga akan menyebabkan kematian sel otak yang tidak akan dapat diperbaiki
walaupun hanya terjadi dalam hitungan detik sampai beberapa menit.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi henti jantung ( cardiac arrest ) ?
2. Apa saja etiologi henti jantung ( cardiac arrest ) ?
3. Apa saja manifestasi klinis henti jantung ( cardiac arrest )?
4. Bagaimana patofisiologi henti jantung ( cardiac arrest ) ?
5. Bagaimana patway henti jantung ( cardiac arrest ) ?
6. Bagaimana penatalaksanaan henti jantung ( cardiac arrest ) ?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang henti jantung ( cardiac arrest ) ?
8. Apasaja komplikasi dari henti jantung ( cardiac arrest ) ?
9. Bagaiman asuhan keperawatan henti jantung ( cardiac arrest ) ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa/i dapat mengetahui kegawatdaruratan jantung tentang
henti jantung ( cardiac arrest ) dan mampu melaksanakan asuhan
Keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a) Mampu memahami konsep teori dari henti jantung ( cardiac arrest )

2
b) Mampu memahami konsep asuhan keperawatan henti jantung
( cardiac arrest )

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi henti jantung ( cardiac arrest )


Henti jantung atau tepatnya henti sirkulasi (Cardiac arrest) ialah keadaan dengan
sirkulasi yang tidak efektif dari jantung ke seluruh tubuh. Hal ini menandakan
penderita dalam keadaan gawat. Sekitar 90% henti jantung dasarnya ialah
asistole mekanis dan elektrik komplet, sedangkan 10% lainnya mempunyai dasar
fibrilasi vertrikel.
Henti jantung adalah terhentinya denyut jantung dan peredaran darah secara tiba-
tiba pada seseorang yang tidak apa-apa, merupakan keadaan darurat yang paling
gawat, yang lebih dikenal dengan istilah henti jantung, keadaan ini biasanya di
ikuti pula dengan berhentinya fungsi pernafasan dan hilangnya kesadaran serta
reflek.
B. Etiologi henti jantung ( cardiac arrest )
Etiologic henti jantung antara lain ialah:
1. Terhentinya system pernapasan secara tiba-tiba yang dapat disebabkan
karena:
a) Penyumbatan jalan napas:
1) Aspirasi cairan getah lambung atau benda asing.
2) Sekresi air yang terdapat dijalan napas, seperti pada tenggelam, edema
paru, lender yang banyak.
3) Edema atau spesma saluran pernapasar sebelah atas dan atau sebelah
bawah.
4) Kelainan kelainan anatomic, misalnya atresia choanal.

3
b) Depresi susunan saraf pusat yang dapat disebabkan karena:
1) Obat-obatan
2) Racun
3) Rudapaksa
4) Arus listrik tegangan tinggi
5) Edema otak
6) Hipoksia berat
7) Hiperkapnia
8) Penyakit susunan saraf pusat, seperti ensefalitis, poli omielitis,
sindromguilian barre, dll.
c) Dehidrasi berat dan gangguan keseimbangan asam basa
d) Paralisis neuromuscular
1) Rudapaksa
2) Arus listrik tegang tinggi
3) Edema otak
4) Hipoksia berat
5) Hiperkapnia
6) Penyakit susunan pusat, seperti ensefalitis, poli omielitis,
sindromguilian barre, dll.
e) Thension pneumothoraks”bilateral
2. Terhentinnya peredaran darah secara tiba-tiba yang dapat disebabkan karena:
a) Hipoksia, asidosis, atau hiperkapnia karena penyakit paru atau karena
henti penapasan secara tiba-tiba.
b) Rangsangan vagus misalnya karena pengisapan tengkorak, endoskopi,
dilatasi rectum, operasi mata, dll.
c) Arus listrik tegangan tinggi
d) Obat-obatan terutama digitalis, quinidine, kalium, obat anestesia
e) Aritmia yang hebat, karena obat-obatan, penyakit jantung, kateterisasi
jantung, dll.

4
f) Syok (trauma, perdarahan, sepsis, pada operasi dan pasca operasi,
dehidrasi, dll.
g) Keadaan terminal pada berbagai penyakit
h) Obat-obatan intervena yang sering digunakan pada angiografi, yang
kadang-kadang sering juga diberikan secara intraarteri.
3. Tergangguanya fungsi sisstem saraf, yang terjadi sebagai akibat
terganggunya system persarafan dan peredaran darah.
Didalam susunan saraf pusat terjadi iskemia, hipoksia, dan hiperkapnia,
asidosis, dan hipoglekimia, yang berakibat terganggunya metabolisme otak
disertainya terjadinya edema serebri dan diikuti dengan infark serebri.
Susunan saraf pusat sangat rentan terhadap keadaan tadi, urutan kerentanan
tersebut ialah:
a) Korteks serebri akan menderita kerusakan setelah 3-5 menit.
b) Pusat pupil dan palpebral, setelah 5-10 menit
c) Serrebelum, setelah 10-15 menit
d) Pusat peredaran darah dan pernapasan, setelah 20-30 menit
e) Medulla spinalis, setelah 45 menit
f) Ganglion simpatik, setelah 60 menit
C. Manifeastasi klinis henti jantung ( cardiac arrest )
1. Tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi kolaps tiba-tiba)
2. Pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan terengah-engah secara
intermiten)
3. Sianosis dari mukosa buccal dan liang telinga
4. Pucat secara umum dan sianosis
5. Hipoksia
6. Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau
brakialis pada bayi)
D. Patofisiologi henti jantung ( cardiac arrest )

5
Henti jantung timbul akibat terhentinya semua sinyal kendali listrik di
jantung, yaitu tidak ada lagi irama yang spontan. Henti jantung timbul selama
pasien mengalami hipoksia berat akibat respirasi yang tidak adequat. Hipoksia
akan menyebabkan serabut-serabut otot dan serabut-serabut saraf tidak mampu
untuk mempertahankan konsentrasi elektrolit yang normal di sekitar membran,
sehingga dapat mempengaruhi eksatibilitas membran dan menyebabkan
hilangnya irama normal.
Apapun penyebabnya, saat henti jantung anak telah mengalami insufisiensi
pernafasan akan menyebabkan hipoksia dan asidosis respiratorik. Kombinasi
hipoksia dan asidosis respiratorik menyebabkan kerusakan dan kematian sel,
terutama pada organ yang lebih sensitif seperti otak, hati, dan ginjal, yang pada
akhirnya akan menyebabkan kerusakan otot jantung yang cukup berat sehingga
dapat terjadi henti jantung.
Penyebab henti jantung yang lain adalah akibat dari kegagalan sirkulasi (syok)
karena kehilangan cairan atau darah, atau pada gangguan distribusi cairan dalam
sistem sirkulasi. Kehilangan cairan tubuh atau darah bisa akibat dari
gastroenteritis, luka bakar, atau trauma, sementara pada gangguan distribusi
cairan mungkin disebabkan oleh sepsis atau anafilaksis. Organorgan kekurangan
nutrisi esensial dan oksigen sebagai akibat dari perkembangan syok menjadi
henti jantung melalui kegagalan sirkulasi dan pernafasan yang menyebabkan
hipoksia dan asidosis. Sebenarnya kedua hal ini dapat terjadi bersamaan.
Pada henti jantung, oksigenasi jaringan akan terhenti termasuk oksigenasi ke
otak. Hal tersebut, akan menyebabkan terjadi kerusakan otak yang tidak bisa
diperbaiki meskipun hanya terjadi dalam hitungan detik sampai menit. Kematian
dapat terjadi dalam waktu 8 sampai 10 menit. Oleh karena itu, tindakan resusitasi
harus segera mungkin dilakukan.

6
E. Patway

Etiologi

Penyakit Kelainan Obat-obatan Penyebab lain


jantung bawaan

Aritmia, infark miokard, emboli


paru, aneurisma dekans

Henti Jantung Penurunan


curah jantung

Gangguan
perfusi Suplai O2 ↓ Hipoksia
serebral serebral

Tidak dilakukan Penurunan


Kematian
CPR kesadaran

Gangguan Kembalinya Dilakukan CPR


pertukaran detak jantung,
gas pernapasan,
akral dingin dan
pucat
7
Intoleransi
aktivitas

F. Pemeriksaan penunjang henti jantung ( cardiac arrest )


1. Elektrokardiogram
Biasanya tes yang diberikan ialah dengan elektrokardiogram (EKG). Ketika
dipasang EKG, sensor dipasang pada dada atau kadang-kadang di bagian
tubuh lainnya misalnya tangan dan kaki. EKG mengukur waktu dan durasi
dari tiap fase listrik jantung dan dapat menggambarkan gangguan pada irama
jantung. Karena cedera otot jantung tidak melakukan impuls listrik normal,
EKG bisa menunjukkan bahwa serangan jantung telah terjadi. ECG dapat
mendeteksi pola listrik abnormal, seperti interval QT berkepanjangan, yang
meningkatkan risiko kematian mendadak.
2. Tes darah
a) Pemeriksaan Enzim Jantung
Enzim-enzim jantung tertentu akan masuk ke dalam darah jika jantung
terkena serangan jantung. Karena serangan jantung dapat memicu sudden
cardiac arrest. Pengujian sampel darah untuk mengetahui enzim-enzim ini
sangat penting apakah benar-benar terjadi serangan jantung.
b) Elektrolit Jantung
Melalui sampel darah, kita juga dapat mengetahui elektrolit-elektrolit
yang ada pada jantung, di antaranya kalium, kalsium, magnesium.
Elektrolit adalah mineral dalam darah kita dan cairan tubuh yang
membantu menghasilkan impuls listrik. Ketidak seimbangan pada
elektrolit dapat memicu terjadinya aritmia dan sudden cardiac arrest.
c) Test Obat

8
Pemeriksaan darah untuk bukti obat yang memiliki potensi untuk
menginduksi aritmia, termasuk resep tertentu dan obat-obatan tersebut
merupakan obatobatan terlarang.
d) Test Hormon
Pengujian untuk hipertiroidisme dapat menunjukkan kondisi ini sebagai
pemicu cardiac arrest.
3. Imaging tes
a) Pemeriksaan Foto Thorax
Foto thorax menggambarkan bentuk dan ukuran dada serta pembuluh
darah. Hal ini juga dapat menunjukkan apakah seseorang terkena gagal
jantung.
b) Pemeriksaan nuklir
Biasanya dilakukan bersama dengan tes stres, membantu
mengidentifikasi masalah aliran darah ke jantung. Radioaktif yang dalam
jumlah yang kecil, seperti thallium disuntikkan ke dalam aliran darah.
Dengan kamera khusus dapat mendeteksi bahan radioaktif mengalir
melalui jantung dan paru-paru.
c) Ekokardiogram
Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran
jantung. Echocardiogram dapat membantu mengidentifikasi apakah
daerah jantung telah rusak oleh cardiac arrest dan tidak memompa secara
normal atau pada kapasitas puncak (fraksi ejeksi), atau apakah ada
kelainan katup.
4. Electrical system (electrophysiological) testing and mapping
Tes ini, jika diperlukan, biasanya dilakukan nanti, setelah seseorang sudah
sembuh dan jika penjelasan yang mendasari serangan jantung belum
ditemukan. Dengan jenis tes ini, mungkin mencoba untuk menyebabkan
aritmia,Tes ini dapat membantu menemukan tempat aritmia dimulai. Selama
tes, kemudian kateter dihubungkan dengan electrode yang menjulur melalui

9
pembuluh darah ke berbagai tempat di area jantung. Setelah di tempat,
elektroda dapat memetakan penyebaran impuls listrik melalui jantung pasien.
Selain itu, ahli jantung dapat menggunakan elektroda untuk merangsang
jantung pasien untuk mengalahkan penyebab yang mungkin memicu atau
menghentikan – aritmia. Hal ini memungkinkan untuk mengamati lokasi
aritmia.

5. Ejection fraction testing


Salah satu prediksi yang paling penting dari risiko sudden cardiac arrest
adalah seberapa baik jantung mampu memompa darah.Ini dapat menentukan
kapasitas pompa jantung dengan mengukur apa yang dinamakan fraksi ejeksi.
Hal ini mengacu pada persentase darah yang dipompa keluar dari ventrikel
setiap detak jantung. Sebuah fraksi ejeksi normal adalah 55 sampai 70 persen.
Fraksi ejeksi kurang dari 40 persen meningkatkan risiko sudden cardiac
arrest.Ini dapat mengukur fraksi ejeksi dalam beberapa cara, seperti dengan
ekokardiogram, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari jantung Anda,
pengobatan nuklir scan dari jantung Anda atau computerized tomography
(CT) scan jantung.
6. Coronary catheterization (angiogram)
Pengujian ini dapat menunjukkan jika arteri koroner terjadi penyempitan atau
penyumbatan. Seiring dengan fraksi ejeksi, jumlah pembuluh darah yang
tersumbat merupakan prediktor penting sudden cardiac arrest. Selama
prosedur, pewarna cair disuntikkan ke dalam arteri hati Anda melalui tabung
panjang dan tipis (kateter) yang melalui arteri, biasanya melalui kaki, untuk
arteri di dalam jantung. Sebagai pewarna mengisi arteri, arteri menjadi
terlihat pada X-ray dan rekaman video, menunjukkan daerah penyumbatan.
Selain itu, sementara kateter diposisikan,mungkin mengobati penyumbatan

10
dengan melakukan angioplasti dan memasukkan stent untuk menahan arteri
terbuka.
G. Penatalaksanaan henti jantung ( cardiac arrest )
Henti jantung dapat terjadi setiap saat di dalam atau di luar rumah sakit,sehingga
pengobatan dan tindakan yang cepat serta tepat akan menentukan prognosis; 30-
45 detik. Sesudah henti jantung terjadi akan terlihat dilatasi pupil dan pada saat
ini harus di ambil tindakan berupa:

1. Bantuan hidup dasar / resusuitasi jantung paru


a) Definisi
Resusitasi jantung paru (RJP) atau CPR adalah tindakan pertolongan
pertama yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernapasan
(respiratory arrest) dan atau sirkulasi (henti jantung) pada orang yang
mengalami henti nafas dan henti jantung karena penyebab tertentu.
GP dilaksanakan secara berkesinambungan dan saling berkaitan satu
sama lain seperti satu mata rantai (chain of Survival) atau mata rantai
keberhasilan titik semakin cepat penolong masuk dalam suatu mata
rantai, semakin tinggi tingkat keberhasilan dan pertolongan tersebut.
b) Tujuan
1) Melindungi sel otak dari kerusakan yang irreversible akibat hipoksia
2) Memberikan bantuan ventilasi pada henti nafas atau memberikan
bantuan sirkulasi pada korban yang mengalami henti nafas dan henti
jantung.
3) Juga untuk mempertahankan hidup, memulihkan kesehatan,
mengurangi penderitaan, membatasi kecacatan, menghormati
keputusan individu, hak-haknya dan kebebasan pribadi.

11
c) Indikasi
1) Gagal napas
Pernapasan yang terganggu seperti cepat dan dangkal ataupun
bradipnue merupakan tanda awal gagal nafas dan akan terjadinya
henti jantung.
2) Henti napas
Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran
udara pernapasan korban gawat darurat. Henti napas dapat terjadi
pada keadaan tenggelam, stroke, obstruksi Jalan napas, overdosis,
infark miokard dll.

3) Henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung sama dengan ganti sirkulasi. Nanti
sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital
lainnya kekurangan oksigen. Prinsip utama dalam resusitasi adalah
memperkuat rantai kelangsung kehidupan (chain of Survival).
Keberhasilan resusitasi memerlukan integrasi koordinasi rantai
kelangsungan hidup pada pasien dengan henti jantung (cardiac arrest)
dapat berubah tergantung lokasi kejadian Apakah cardiac arrest
terjadi di dalam lingkungan rumah sakit (HCA) atau luar rumah sakit
(OHCA).
d) Langkah-langkah Bantuan Hidup Dasar
1) D: Danger (3 A: Aman diri, aman pasien, aman lingkungan)
Pastikan sebelum menolong korban, penolong mengamati segi
keamanan dari penolong, korban, dan lingkungan.
2) R: Respons (cek respons pasien)
Cek respon dengan teknik touch and talk. Setelah penolong
mematikan keadaan aman, penolong harus memeriksa kesadaran

12
korban titik nilai respon pasien dengan menepuk bahu atau berteriak
"Bangun, Papak/Bu!" atau "Buka mata, Pak/Bu!" "Are you all right?"
Hati-hati kemungkinan tromol leher dan jangan pindahkan atau
mobilisasi korban bila tidak perlu.
3) S: Sound
( minta tolong warga sekitar atau menghubungi petugas kesehatan:
ambulans, Puskesmas atau rumah sakit terdekat) atau sistem
penanggulangan gawat darurat terpadu (activation of emergency
response) Jika penolong menemukan penderita dalam keadaan tidak
sadar atau tidak ada respon atau pergerakan saat dirangsang verbal
maupun rangsang nyeri, segera aktifkan sistem emergency/SPGDT
atau Panggil bantuan tim penolong penolong/ambulans (call for
helping).
4) Sirkulasi (pemeriksaan nadi carotis)
Tentukan ada tidaknya nadi dalam waktu tidak boleh lebih dari 10
detik. Ada tidaknya denyut jantung korban dapat ditentukan dengan
meraba Arteri karotis di daerah leher korban. Pada bayi dan neonatus
pada arteri bradialis. Jika lebih dari 10 detik atau nadi sulit dideteksi
lakukan kompresi dada.
5) Kompresi dada: perbandingan komponen RJP dewasa, anak, dan bayi
(a) Neonatus
● Pastikan pada posisi supinasi
● Kompresi dada dilakukan dengan cepat dan dalam kecepatan
100-120x/menit.
● Setiap siklus terdiri dari tiga kali kompresi dan satu kali
ventilasi (3:1), dievaluasi setiap 30 detik pada nadi brakialis.
(b) Bayi
● Pastikan korban pada posisi supinasi.

13
● Kompresi dilakukan di tengah sternum serta menempatkan
ibu jari pada tulang dada.
● Teknik ibu jari: melingkari dada bagian lateral dengan kedua
tangan serta menempatkan ibu jari pada tulang dada dan jari-
jari tangan. Teknik dua jari: Letakkan jari telunjuk di antara
dua puting susu Letakkan jari tengah dan jari manis
disampingnya, gunakan jari tengah dan jari manis dari satu
tangan untuk menekan.
● Nadi dievaluasi setiap 2 menit kompresi dilakukan dengan
kecepatan 100-120x/menit.
● Kedalaman satu 1/3 arterior dan posterior toraks (4 cm).
● Setiap siklus terdiri atas 30 kali kompresi dan 2 kali ventilasi
(30:2), jika penolong hanya 1 orang. Jika penolong 2 orang,
15 kompresi dan 2 kali ventilasi (15:2).
(c) Anak
● Pastikan korban pada posisi supinasi.
● Lutut berada di sisi bahu korban
● Posisi badan tepat di atas dada pasien, bertumpu pada kedua
tangan dengan posisi lengan 90 derajat terhadap dada korban.
● Kompresi dilakukan di sternum tepatnya di antara puting susu
(midsternal) menggunakan satu tangan.
● Kecepatan 100-120x/menit.
● Setiap siklus terdiri atas 30 kompresi dan 2 vemtilasi (30:2),
jika penolong hanya satu orang. Jika 2 orang penolong 15
kompresi 3 ventilasi (15:2).
● Nadi dievaluasi setiap 2 menit.
(d) Dewasa
● Pastikan korban pada posisi supinasi

14
● Lutut berada di sisi bahu korban.
● Posisi badan tepat di atas dada pasien, bertumpu pada kedua
tangan dengan posisi lengan 90 derajat terhadap dada korban.
● Titik kompresi terletak di bagian setengah sternum tepatnya di
antara dua puting susu pada laki-laki (pada garis tengah)
menggunakan dua tangan. Tangan pertama di atas tangan
yang lain dengan jari saling bertaut.
● Kompresi dilakukan dengan cepat dan dalam kecepatan
setidaknya 100-120x/menit. Kedalam kompresi 2 inci atau 5
cm dan hindari kedalaman kompresi yang berlebihan (lebih
dari 2,4 inci (6cm).
● Setiap siklus terdiri atas 30 kompresi dan 2 ventilasi (30:2)
oleh satu atau dua penolong.
● Nadi dievaluasi setiap 2 menit.
(e) ibu hamil
● Pastikan korban pada posisi supinasi.
● Lutut di sisi bahu korban.
● Posisi badan tepat di atas dada pasien bertumpu pada kedua
tangan dengan posisi 90 derajat terhadap dada korban.
● Kompresi dilakukan di Jerman tepatnya dua jari di atas
prosesus simfoideus ke sisi kiri menggunakan dua tangan,
tangan pertama di atas tangan yang lain dengan jari saling
bertaut. Kompresi dilakukan dengan cepat dan dalam
kecepatan setidaknya 100x/menit. Kedalam kompresi 2 inci
atau 5 sentimeter dan hindari kedalaman kompresi yang
berlebihan (lebih dari 2,4 inchi (6 cm).

Konsep penting: HIGHT QUALITY dalam CPR, yaitu:

15
● Push hard and pust fast (tekan dengan keras dan cepat).
● Lakukan kompresi dada dengan kecepatan yang adekuat yaitu
100-120x/menit.
● Lakukan kompresi dada dengan kedalaman yang adekuat.
● Memungkinkan terjadinya konflik chest recoil setelah
kompresi. Recoil penuh dinding dada terjadi bila tulang dada
kembali ke posisi alami atau netralnya saat fase dekompresi
CPR berlangsung. Recoil dinding dada memberikan relatif
tekanan intratoraks negatif dan mendorong pengembalian
Vena dan aliran darah cardiopulmonary.
● Menghindari ventilasi berlebihan. Berikan penjelasan
sebanyak 2 kali, pemberian ventilasi dengan jarak 1 detik
diantara ventilasi. perhatikan kenaikan dada korban untuk
memastikan volume tidak adekuat.
● Meminimalkan interupsi saat kompresi. Penolong harus
berupaya meminimalkan frekuensi dan durasi gangguan
dalam kompresi untuk mengoptimalkan jumlah kompresi
yang dilakukan permenit menghentikan kompresi lebih dari
10 detik kecuali tindakan khusus seperti pemasangan airway
definitif atau penggunaan defibrilator.
● Setelah terpasang saluran nafas lanjutan (misalnya
endotracheal tube), tidak dibutuhkan sinkronisasi antara
ventilasi dan kompresi.
● Jika ada dua orang penolong sebaiknya pemberi kompresi
dada bergantian setiap 2 menit.
6) Airway (jalan napas)
Nilai jalan nafas dengan membuka mulut korban, pastikan Apakah
ada sumbatan atau tidak. Jika terlihat ada sumbatan jalan nafas segera

16
bersihkan sesuai dengan penyebabnya. kalau berupa cairan, dapat
dibersihkan kan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi
kain (finger Sweep). Kalau sumbatan oleh benda keras, dapat
dibersihkan dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.
mulut dapat dibuka dengan teknik Cross finger, yaitu ibu jari
diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.
Jika jalan apa sudah bersih, segera buka jalan nafas dengan manuver
head tilt/chin lift (kepala tengadah/dagu diangkat), bila tidak ada
trauma kepala atau leher. Bila penolong mencurigai adanya trauma
servikal, buka jalan nafas dengan manuver jaw trhust
7) Breathing (pernapasan)
Bantuan napas bisa diberikan dengan:
● Mulut ke mulut
● Mulut ke hidung
● Mulut ke stoma
● Mulut mask
● BVM (Bag Valve Mask).
8) Defibrilation (terapi elektrik)
Defibrillation atau defibrilasi adalah suatu terapi dengan memberikan
energi listrik. Saat ini sudah tersedia alat untuk defibrilasi
(defibrillator) yang dapat digunakan oleh orang awam yang disebut
dengan automatic external defibrillation (AED) seperti yang tersedia
di bandara. Alat tersebut dapat mengetahui korban henti jantung harus
dilakukan fibrilasi atau tidak. Jika perlu dilakukan sefibrilasi, alat
tersebut dapat memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan
defibrilasi atau melanjutkan nafas dan bantuan sirkulasi saja.
9) Evaluasi (penilaian ulang)

17
Sesudah 5 siklus kompresi dan ventilasi. Kemudian korban dievaluasi
lagi.
● Jika tidak ada nadi karotis, lakukan kembali kompresi dan
ventilasi dengan rasio 30: 2.
● Jika nadi teraba dan nafas tidak ada ada titik berikan bantuan
nafas sebanyak 10-12x/menitb dan monitor nadi setiap 2 menit.
● Jika nadi teraba dan nafas ada, Letakkan pasien pada posisi
mantap (recovery position) agar jalan nafas tetap terbuka.
● Waspada terhadap kemungkinan pasien mengalami henti napas
kembali. Jika terjadi, segera telentangkan pasien dan lakukan
nafas buatan kembali.
10) Recovery position
Recovery position atau posisi voli merupakan posisi yang tepat untuk
menjaga Airway tetap terbuka tanpa menggunakan alat. posisi ini
dilakukan pada korban yang tidak sadar dengan pernapasan dan
denyut nadi normal serta tidak mengalami cedera kepala, leher dan
tulang belakang. Dengan menempatkan korban pada posisi puli
muntahan darah atau lendir akan keluar dari rongga mulut dengan
gaya gravitasi.
e) RJP Dihentikan
1) Kembalinya ventilasi dan sirkulasi spontan.
2) ada yang lebih bertanggung jawab.
3) Penolong lelah atau sudah 30 menit tidak ada respon.
4) tanda kematian yang irreversible:
● Kaku mayat (rigor mortis)
● lebam mayat
● pupil melebar (midriasis)
● refleks cahaya (-)

18
f) RJP Tidak dilakukan
1) DNAR (Do Not Attempt Resuscitation)
2) Tampak tanda kematian
3) Sebelumnya dengan fungsi vital yang sudah sangat jelek dengan
terapi maksimal.
4) Bila menolong korban, akan membahayakan penolong.
g) Penyulit RJP
1) Fraktur
2) Pneumotoraks
3) Hematotoraks
4) Luka dan memar pada paru,hati, dan limpa

h) Komplikasi RJP
1) Kompresi jantung luar:
● Fraktur iga dan sternum sering terjadi terutama pada orang tua
● RJP tetap diteruskan walaupun terasa ada fraktur Iga. Fraktur
mungkin terjadi bila posisi tangan salah
● Pneumotorax
● Hemothorax
● Kontusio paru
● laserasi hati dan limpa
● posisi tangan yang terlalu rendah akan menekan prosesus
xipoideus ke arah hepar/limpa
● emboli lemak.
2. Memperbaiki irama jantung
a) Defibrilasi,yaitu bila kelainan dasar henti jantung ialah fibrilasi ventrikel
b) Obat-obatan:infus norepinefrin 4 mg/1000ml larutan atau vasopresor dan
epinefrin 3 ml 1:1000 atau kalsium klorida secara intra kardial (pada bayi

19
di sela iga IV kiri dan pada anak dibagian yang lebih bawah) untuk
meninggikan tonus jantung,sedangkan asidosis metabolik diatasi dngn
pemberian sodium bikarbonat.bila di takutkan fibrilasi ventrikel
kambuh,maka pemberian lignokain 1% dan kalium klorida dapat
menekan miokard yang mudah terangsang. Bila nadi menjadi lambat dan
abnormal,maka perlu di berikan isoproterenol.
3. Perawatan dan pengobatan komplikasi
a) Perawatan: Pengawasan tekanan darah,nadi,jantung ; menghindari
terjadinya aspirasi (dipasang pipa lambung) ; mengetahui adanya
anuri yang dini (di pasang kateter kandung kemih).
b) Pengobatan komplikasi yang terjadi seperti gagal ginjal ( yang di
sebabkan nekrosis kortikal akut) dan anuri dapat di atasi dengan
pemberian ion exchange resins,dialisis peritoneal serta pemberian cairan
yang di batasi.kerusakan otak di atasi dngan pemberian obat hiportemik
dan obat untuk mengurangi edema otak serta pemberian oksigen yang
adekuat.
H. Komplikasi
1. Kerusakan otak
2. Keterbatasan fisik / kelumpuhan
3. Pneumonia akibat ventilasi berlebihan
4. Fraktur iga akibat kompresi dada yang tidak benar
5. Kematian

20
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengkajian primer
a) Airway/ jalan napas
Pemeriksaan/pengkajian menggunakan metode look, listen, feel.
1) Look: lihat status mental, pergeraka/pengembangan dada, terdapat
sumbatan jalan napas/tidak, sianosis, ada tidaknya retraksi pada
dinding dada, ada/tidaknya penggunaan otot-otot tambahan.
2) Listen: mendengarkan aliran udara pernapasan, suara pernapasan, ada
bunyi napas tambahan seperti snoring, gurling, atau stidor.
3) Feel: merasakan ada aliran udara pernapasan, apakah ada krepitasi,
adanya pergeseran/deviasi trachea, ada hematoma pada leher, teraba
nadi karotis atau tidak.

21
Tindakan yang harus dilakukan perawat adalah:

1) Penilaian untuk memastikan tingkat adaran adalah dengan


menyentuh, menggoyang dan di beri rangsangan atau respon nyeri.
2) Periksa dan atur jalan napas untuk memastikan kepatenan.
3) Periksa apakah pasien tersebut mengalami kesulitan bernapas.
4) Buka mulut dengan ibu jari dan jari-jari anda untuk memegang lidah
dan rahang bawah dan tengadah dengan perlahan.
5) Identifikasi dan keluarkan benda asing (darah, muntahan, secret,
ataupun benda asing) yang menyebabkan obstruksi jalan napas baik
persial maupun total dengan cara memiringkan kepala pasien ke satu
sisi (bukan pada trauma kepala).
6) Pasang orofaringeal airway/nasofaringeal airway untuk
mempertahankan kepatenan jalan napas.
7) Pertahankan dan lindungi tulang servikal.
b. Breathing/pernapasan
Pemeriksaan atau pengkajian menggunakan metode look, listen, feel.
1) Look : nadi karotis ada atau tidak, frekuensi pernapasan tidak ada
dan tidak terlihat adanya pergerakan dinding dada, kesadaran
menurun, sianosis, identifikasi pola pernapasan abnormal, periksa
penggunaan otot bantu dll.
2) Listen : mendengar hembusan napas
3) Feel : tidak ada penapasan melalui hidung atau mulut.

Tindakan yang harus dilakukan perawat adalah:

1) Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ekspansi dinding dada.


2) Berikan therapy O2 (oksigen)

22
3) Beri bantuan napas dengan menggunakan masker/bag valve mask
(BMV)/endo tracheal tube (ETT) jika perlu.
4) Tutup luka jika didapatkan luka terbuka pada dada
5) Kolaborasi therapy untuk mengurangi bronkhospasme/adanya edema
pulmonal, dll.
c. Circulation/sirkulasi
Pemeriksaan atau pengkajian :
1) Periksa denyut nadi karotis dan brakhialis pada (bayi), kualitas dan
karakternya
2) Periksa perubahan warna kulit seperti sianosis tindakan yang harus
dilakukan perawat :
Lakukan tindakan CPR/defibrilasi sesuai dengan indikasi.
Langkah-langkah dilakukannya RJP :
● Perhatikan pasien untuk menentukan apakah pasien masih
bernapas
● Perhatikan apakah dada pasien bergerak
● Tempatkan telinga didekat hidung dan mulut pasien dan
dengarkan aliran udara.
● Jentikkan kaki bayi apabila ada perubahan warna kulit atau bila
bayi tidak bernapas jangan menguncang-nguncang bayi.
● Mulailah RJP jika bayi tetap tidak tidak bernapas setelah kakinya
tidak di jentikkan .
● Tempatkan bayi diatas permukaan yang keras
● Posisikan kepala dengan tepat dan bebaskan jalan napas dengan
menetapkan tangan anda pada dahi dan jari-jari tangan anda dari
tangan yang lain dibawah tulang rahang, berhati-hatilah
mendorong jaringan lunak dibawah dagu angkat dan sedikit

23
tengadahkan kepala kearah belakang dan hidung mengarah
keatas.
● Tarik garis yang menghubungkan antara kedua putting susu bayi.
● Dengan telunjuk dan jari tengah anda, tekan lurus kebawah pada
tulang dada 1,25 cm sampai 2,5 cm. ulangi hal ini sebanyak 30
kali dan 2 kali napas buatan.
2. Pengkajian sekunder
a) Pengkajian subjektif
1) Identitas klien
Hal yang perlu dikaji pada identitas klien yaitu nama, umur,
suku/bangsa, agama, pendidikan, alamat, lingkungan tempat tinggal.
2) Keluhan utama
3) Riwayat Penyakit
● Riwayat penyakit sekarang
− Alasan masuk rumah sakit
− Waktu kejadian hingga masuk rumah sakit
− Mekanisme atau biomekanik
− Lingkungan keluarga, kerja, masyarakat sekitar
● Riwayat penyakit dahulu
− Perawatan yang pernah dialami
− Penyakit lainnya antara lain DM, Hipertensi, PJK
● Riwayat penyakit keluarga
● Penyakit yang diderita oleh anggota keluarga dari anak
yang mengalami penyakit jantung.

Untuk mendapatkan data subjektif perlu dipertimbangkan budaya


pasien, kemampuan kognitif dan tingkat pertumbuhan. Pengkajian tentang
keluhan nyeri termasuk tingkat keparahan, lokasi durasi, dan intensitas
mnyeri dengan menggunakan mnemonic PQRST.

24
Mnemonic PQRST untuk pengkajian nyeri.
P : Provokativ/palliative
Apa yang menjadi Penyebab, apakah ada hal yang menyebabkan kondisi
memburuk/membaik. Apa yang dilakukan jika sakit/nyeri timbul. Apakah
nyeri ini sampai menggang tidur.
Q : Quallity/kualitas
Seberapa berat keluhan di rasa, atau bagaimana rasanya,
R : Sergion/radiasi
Apakah sakitnya menyebar, seperti apa penyebarannya.
S : Skala severity
Skala kegawatan dapat digunakan GCS untuk gangguan kesadaran skala nyeri
atau ukuran lain yang berkaitan dengan ukuran
T : Time/waktu
Kapan keluhan tersebut mulai dirasakan/di temukan atau seberapa sering
keluhan tersebut dirasakan.
Pada unit gawat darurat riwayat kesehatan lengkap dan pengkajian subjektif
secara detail jarang dilakukan atau dibutuhkan. Pengkajian di unit gawat
darurat lebih difokuskan pada keluhan utama yang di rasakan pasien.
b) Pengkajian objektif
Pengkajian objektif adalah sekumpulan data yang dapat dilihat di ukur
meliputi TTV, BB dan TB pasien, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan
EKG, serta tes diagnostik.
c) Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi adalah pemeriksaan dimulai dari status keseluruhan pasien.
Apakah pasien sadar atau tidak, penampilan secara umum pasien
(general apperance). Rapi atau berantakan, melihat apakah pasien
bernapas dengan tersengal-sengal, bagaimana warna kulit dan
mukosa, apakah ada memar, perdarahan, atau bengkak. Perhatikan

25
postur dan pergerakan tubuh apakah ada nyeri, gangguan neurologis,
orthopedi, dan status mental.
2) Auskultasi adalah di gunakan untuk pemeriksaan paru-paru, jantung
dan suara peristaltik. Periksa kualitas suara, intensitas, dan durasi.
Lakukan pemeriksaan auskultasi sebelum dilakukan palpasi dan
perkusi.
3) Palpasi adalah diperiksa untuk karakteristik permukaan seperti,
tekstur kulit, sensitifitas, turgor dan suhu tubuh. Gunakan palpasi
ringan untuk memeriksa denyut nadi,deformitas, kekuatan otot,
sedangkan palpasi dalam dapa di gunakan untuk mengidentifikasi
adanya massa, nyeri, ukuran, organ dan adanya kekakuan.
4) Perkusi adalah dapat dilakukan untuk mengevaluasi organ atau
kepadatan tulang dan dapat digunakan untuk membedakan struktur
padat, berongga, atau adanya cairan.
d) Pengkajian neurologis
Indikator utama dalam pengkajian neurologis adalah tingkat kesadaran
pasien. Untuk mengetahui status neurologis dan mencatat perubahan
setiap saat maka dapat digunakan Glasgow Coma Scale (GCS) untuk
dewasa dan pediatrik Glasgow coma scale pada anak-anak yang belum
bisa bicara.
e) Pengkajian kardiovaskuler
Gunakan EKG 12 lead untuk mengetahui atau menilai adanya
abnormalitas irama.
1) Suara jantung
2) Murmur
3) Efusi perikat/tamponade
4) Perfusi
f) Pernapasan

26
Suara napas di kelompokkan menjadi, tracheal, bronkhiale, vesicular, dan
bronkovesikuler. Suara napas abnormal (berat) termasuk stridor, ronkhi,
rales, terputus-putus, dan sulit bernapas.
g) Gastrointestinal
Pada pengkajian subjektif perlu dikaji/pemeriksaan system
gastrointestinal. Apakah ada riwayat gastritis, sirosis hepatis,
appendiditis, dan pankreatitis, dll. Apakah ada gaya hidup yang
mempengaruhi masalah gastrointestinal.
B. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan perfusi serebral
2. Penurunan curah jantung
3. Gangguan pertukaran gas
4. Intoleransi aktivitas

C. Intervensi keperawatan

Diagnosa Perencanaan

Kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Penuruna Setelah dilakukan 1. Lakukan pijat 1. untuk


n curah jantung mengaktifkan
perawatan 3x24
jantung 2. Berikan oksigen kerja pompa
b/d jam klien dapat: tambahan jantung
perubahan dengan kanula 2. Meningkatkan
preload, Menunjukan curah nasal/masker sediaan
afterload, dan obat sesuai oksigen untuk
jantung yang
dan
indikasi kebutuhan
kontraktili memuaskan di

27
tas. buktikan dengan (kolaborasi) miokard untuk
3. Palpasi nadi melawan efek
keefektifan pimpa
perifer hipoksia/iskem
jantung,status 4. Pantau Tekanan ia. Banyak
sirkulasi,perfusi Darah obat dapat
5. Kaji kulit digunakan
jaringan (organ
terhadap pucat untuk
abdomen),dan dan sianosis meningkatkan
perfusi jaringan volume
sekuncup,
(perifer) memperbaiki
kontraktilitas.
Dengan Indikator: 3. Penurunan
curah jantung
1. Tekanan darah dapat
sistilik,diastolik
menunjukkan
dalam batas
4. menurunnya
normal
nadi radial,
2. Denyut jantung dorsalis pedis
dalam batas dan postibial.
normal Nadi mungkin
hilang atau
3. Tekanan vena tidak teratur
sentral dan untuk
tekanan dala dipalpasi.
paru dbn 5. menunjukan
menurunnya
4. Hipotensi
perfusi
ortostatis tidak sekunder
ada terhadap tidak
adekuatnya
5. Gas darah dbn
curah jantung.
6. Bunyi napas
tambahan
tidak ada

7. Distensi vena

28
leher tidak ada

8. Edema perifer
tidak ada

2. Gangguan Setelah dilakukan 1. vasodilator 1. Obat diberikan


perfusi misalnya untuk
perawatan 3x24
serebral nitrogliserin, meningkatkan
b/d jam klien dapat: nifedipin sesuai sirkulasi
penurunan indikasi miokardia.
suplai O2 Sirkulasi darah
2. Posisikan kaki 2. Mempercepat
ke otak kembali normal lebih tinggi pengosongan
sehingga transport dari jantung vena superficial,
3. Pantau adanya mencegah
O2 kembali lancar pucat, sianosis distensi
Dengan Indikator: dan kulit dingin berlebihan dan
atau lembab meningkatkan
1. Pasien akan 4. Pantau aliran balik vena
memperlihatkan pengisian 3. Sirkulasi yang
tanda-tanda kapiler (CRT) terhenti
vital dalam menyebabkan
batas normal transport O2 ke
2. Warna dan seluruh tubuh
suhu kulit juga terhenti
normal CRT < sehingga akral
2 detik. sebagai bagian
yang paling jauh
dengan jantung
menjadi pucat
dan dingin
4. Suplai darah
kembali normal
jika CRT < 2
detik dan
menandakan
suplai O2 kembali
normal
3. Gangguan Setelah dilakukan 1. Berikan O2 1. Meningkatkan

29
pertukar perawatan 3x24 sesuai indikasi konsentrasi
an gas b/d 2. Pantau GDA oksigen alveolar
jam klien dapat:
suplai O2 Pasien dan dapat
tidak 3. Pantau memperbaiki
adekuat Sirkulasi darah
pernapasan hipoksemia
kembali normal klien jaringan
2. Nilai GDA yang
sehingga
normal
pertukaran gas menandakan
pertukaran gas
dapat
semakin membaik
berlangsung 3. Untuk evaluasi
distress
Dengan Indikator:
pernapasan
1. Nilai GDA
normal
2. Tidak ada
distress
pernafasan
4. Intoleran Setelah dilakukan 1. Evaluasi respon 1. Menetapkan
si aktivitas perawatan 4x24 terhadap aktivitas kemampuan/
berhubu jam klien dapat: 2. Berikan kebutuhan pasien
ngan lingkungan dan memudahkan
Peningkatan memilih
dengan tenang dan batasi
kelemah toleransi terhadap pengunjung intervensi
an umum, aktivitas selama secara tepat
ketidaks fase akut. 2. Menurunkan
eimbanga Dengan Indikator: 3.Jelaskan stress dan
n suplai pentingnya rangsangan
dan 1. Menunjukk istirahat dan berlebihan
kebutuha perlunya
an 3. Tirah baring
n oksigen. keseimbangan diperlukan
peningkata aktivitas dan selama
n toleransi istirahat. fase akut untuk

30
terhadap 4.Bantu aktivitas menurunkan
aktivitas perawatan, kebutuhan
aktivitas diri yang metabolic.
2. Tanda-
diperlukan. 4. Meminimalkan
tanda vital 5.Bantu pasien kelelahan dan
dalam batas memilih posisi menbantu
nyaman untuk keseimbangan
normal istirahat / tidur. suplai dan
kebutuhan
oksigen.
5. Pasien mungkin
nyaman dengan
kepala tinggi,tidur
dikursi /
menunduk
kedepan meja /
bantal

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Henti jantung merupakan suatu keadaan terhentinya fungsi pompa otot
jantung secara tiba-tiba yang berakibat pada terhentinya proses penghantaran
oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Keadaan ini bisa terjadi akibat hipoksia
lama karena terjadinya henti nafas yang merupakan akibat terbanyak henti
jantung.

31
Kerusakan otak dapat terjadi luas jika henti jantung berlangsung lama,
karena sirkulasi oksigen yang tidak adekuat akan menyebabkan kematian
jaringan otak. Hal tersebutlah yang menjadi alasan penatalaksanaan berupa CPR
atau RJP harus dilakukan secepat mungkin untuk meminimalisasi kerusakan otak
dan menunjang kelangsungan hidup korban.
Hal yang paling penting dalam melakukan resusitasi pada korban, apapun
teknik yang digunakan adalah memastikan penolong dan korban berada di tempat
yang aman, menilai kesadaran korban dan segera meminta bantuan.
B. Saran
Informasi dan pelatihan tatalaksana henti nafas dan henti henti jantung
sebaiknya dapat diberikan kepada masyarakat umum, mengingat bahwa resusitasi
dapat memberikan pertolongan awal. Dampak yang di timbulkan semakin berat
jika waktu datangnya pertolongan semakin lama.

DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association. Pediatric Basic Life Support : 2010 American Heart
Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and emergency
cardiovascular care. Circulation 2015

Chandra syah putra, Ruly Yanti Hutabarat, 2016, Asuhan Keperawatan


Kegawatdaruratan, Bogor, IN MEDIA

32
Karina Diana Safitri, ddk, 2014, ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER HENTI JANTUNG (CARDIAC ARREST),
tidak diterbitkan, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember

Muthmainnah, 2019, HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN AWAM KHUSUS


TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR BERDASARKAN KARAKTERISTIK USIA DI
RSUD X HULU SUNGAI SELATAN, Heath Mu Journal, volume 2 no 2,
https://journal.umbjm.ac.id/index.php./healthy/article/download/235/164,
diakses tanggal februari 2019.

Pitron lumbantoruan, dkk, 2017, BTCLS AND DISASTER MANAGEMENT edisi 2,


Tanggerang Selatan, YPIKI ( Yayasan Pelatihan Ilmu Keperawatan Indonesia)

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan : diagnosa


NANDA,intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC

33