Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE

SITI ALFIYANI HASANAH

KEPERAWATAN DASAR PROFESI - 6

PROGRAM STUDI PROFESI NERS STIKES KHARISMA KARAWANG


Jln. Pangkal Perjuangan Km 1 By Pass Karawang 41316
2020/2021
A. Konsep Kebutuhan Personal Hygiene
1. Definisi Kebutuhan Personal Hygiene
Personal hygiene atau kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam
memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh kesejahteraan
fisik dan psikologis. (Mubarak, 2007)

Hygiene adalah ilmu kesehatan. Cara perawatan-diri manusia untuk


memelihara kesehatan mereka disebut hygiene perorangan. Cara perawatan
diri menjadi dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional. Pemeliharaan
higiene perorangan diperlukan untuk kenyaman individu, keamanan dan
kesehatan. (Potter, 2006)

2. Anatomi Fisiologi Sistem Integumen.


Kulit merupakan organ paling luas pada tubuh manusia. Kulit dilengkapi
dengan rambut, kuku dan kelenjar (Kozier, B., et. all, 2011).
Struktur kulit meliputi :
a. Lapisan epidermis (kutikula). Lapisan epidermis terdiri dari stratum
korneum, stratum lusidum. Stratum granulosum, stratum spinosum dan
stratum basal. Lapisan ini merupakan lapisan kulit paling terluar yang
tersusun atas banyak sel epitel. Sel epitel ini tidak mengandung pembuluh
darah dan mudah sekali mengalami regenerasi (pemulihan).
b. Lapisan dermis (korium). Lapisan dermis terdiri atas pars papilaris, pars
retikularis dan memiliki serabut kolagen elastis dan retikularis. Lapisan ini
terdiri atas jaringan otot, saraf, folikel rambut dan kelenjar (keringat dan
sebasea).
c. Lapisan subkutan (jaringan adiposa). Lapisan subkutan disebut retikulus
adiposus yang bertindak sebagai shock breacker.

3. Tanda dan Gejala


Menurut Damaiyanti (2008) tanda dan gejala personal hygiene adalah
a. Gannguan kebersihan diri, di tandai dengan rambut kotor, gigi kotor,kulit
berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor.
b. Ketidak mampuan berhias/berdandan, ditandai dengan rambut acak-
acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasienlaki-
laki tidak bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.
c. Ketidak mampuan makan secara mandiri, ditandai dengan
ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan
makantidak pada tempatnya.
d. Ketidak mampuan BAB/BAK secara mandiri, ditandai dengan BAB/BAK
tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri denganbaik setelah
BAK/BAB.
Data yang bisa di temukan dalam defisit perawatan diri adalah :
a. Data subyektif
1) Klien merasa lemah
2) Malas untuk beraktifitas
3) Merasa tidak berdaya
b. Data obyektif
1) Rambut kotor berantakan
2) Badan pakaian kotor dan bau
3) Mulut dan gigi bau
4) Kulit kusam dan kotor
5) kuku panjang dan tidak terawatt

4. Pathway Keperawatan
Personal hygiene adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk
memelihara kebersihan diri. Personal hygiene dapat terganggu apabila individu
sedang sakit. Selain itu fasilitas yang kurang. Kurangnya pengetahuan tentang
personal hygiene yang tepat, ekonomi yang kurang dan faktor lingkungan
sekitar. Akibatnya individu akan mengalami defisit personal hygiene.
Apabila defisit personal hygiene individu terganggu, maka akan menimbulkan
dampak baik dilihat dari segi fisik maupun psikologis.
a. Dampak fisik yang mungkin muncul adalah
1) Integritas kulit
2) Gangguan mukosa mulut
3) Infeksi pada mata dan telinga
4) Gangguan fisik pada kuku
b. Dampak psikologis yang mungkin muncul adalah
1) Kebutuhan harga diri
2) Gangguan interaksi sosial
3) Aktualisasi diri
4) Gangguan rasa nyaman
5) Kebutuhan mencintai dicintai

5. Fungsi Kulit
Kulit memberikan lima fungsi utama (Kozier, B., et. all, 2011):
a. Kulit melindungi jaringan dibawahnya dari cedera dengan mencegah jalan
masuk mikroorganisme. Kulit dan membran mukosa dianggap sebagai lini
pertama pertahanan tubuh.
b. Kulit mengatur suhu tubuh. mendinginkan tubuh terjadi melalui proses
pelepasan panas dengan evaporasi atau perspirasi, dan dengan radiasi serta
konduksi panas dari tubuh ketika pembuluh darah pada kulit vasodilatasi.
Pnas tubuh ditahan dengan mengurangi perspirasi dan vasokontriksi
pembuluh darah.
c. Kulit mensekresikan sebum substansi berminyak yang melembutkan dan
melumasi rambut dan kulit, mencegah rambut menjadi rapuh, dan
menurunkan kehilangan air dari kulit pada saat kelembapan eksterneal
rendah. Karena lemak merupakan konduktor panas yang buruk, sebum
memperkecil jumlah panas yang hilang dari kulit. Sebum juga berfungsi
sebagai bakterisida (pembunuh bakteri).
d. Kulit menstramisikan sensasi melalui reseptor saraf. Yang sensitif
terhadap nyeri, suhu, sentuhan, dan tekanan.
e. Kulit memproduksi dan mengabsorpsi vitamin D yang bersamaan dengan
sinar ultraviolet dari matahari yang mengaktivasi prekusor vitamin D yang
ada dikulit.
6. Kelenjar Pada Kulit
a. Kelenjar keringat (sudoriferus) terbagi menjadi dua jenisberdasarkan
struktur dan lokasinya.
1) Kelenjar keringat ekrin adlah kelenjar tubular simpel dan berpilin
serta tidak berhubungan dengan folikel rambut. Kelenjar ini
penyebaranya meluas ke selueuh tubuh., terutama pada telapak
tangan, telapak kaki dan dahi.sekresi dari kelenjar ini (keringat)
mengandung air dan membantu pendinginan evaporatif tubuh untuk
mempertahankan suhu tubuh.
2) Kelenjar keringat apokrin adalah kelenjar keringat transpesialisasi
yang besar dan bercabangdengan penyebaran yang terbatas. Kelenjar
ini ditemukan pada aksila, areola payudara dan regia anogenital.
(a) Kelejar apokrin yang ditemukan dilipatan aksila dan area
anogenital memiliki duktus yang membuka ke bagian atas
folikel rambut. Kelenjar ini mulai berfungsi pada masa pubertas
untuk merespon stres atau kegembiraan dan mengeluarkan
semacam sekresi tidak bau yang kemudian jika bereaksi dengan
bakteri.
(b) Kelenjar seruminosa pada saluran telinga menghasilkan serumen
atau getah telinga dan Kelenjar Siliaris Moll pada kelopak mata
juga termasuk kelenjar apokrin.
(c) Kelenjar mamae adlah kelenjar apokrin termodifikasi yang
mengalami spesialisasi untuk memproduksi susu.
b. Kelenjar sebasea mengeluar sebum yang biasanya dialirkan ke folikel
rambut. Kelenjar sebasea, rambut dan kelenjar keringat apokrin
membentuk unit pilosebasea, tetapi hanya terbentuk pada rambut diarea
genitalia, bibir, puting susu dan areola panyudara.
1) Kelenjar sebasea adalah kelenjar holokrin (sel-sel sekretori
menghilang selama sekresi sebum).
2) Sebum adalah campuran lemak, zat lilin, minyak dan pecahan-
pecahan sel. Zat ini berfunsi sebagai emoliens pelembut kulit dan
merupakan suatu barier terhadap evaporasi. Zat ini juga memilki
aktivitas bakterisida.
3) Jerawat adala gangguan pada kelenjar sebasea di wajah, leher dan
punggung yang terjadi terutama pada dekade kedua masa kehidupan
kelenjar sebasea ini dapat terinfeksi sehingga menyababkan furunkel
(bisul).

7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Fungsi Personal Hygiene


Faktor-faktor yang mempengaruhi personal higiene antara lain :
a. Budaya.
Sejumlah mitos yang berkembang dimasyarakat menjelaskan bahwa saat
individu sakit ia tidak boleh dimandikan karena dapat memperparah
penyakitnya.
b. Status sosial-ekonomi
Untuk melakukan personal higieneyang baik dibutuhkan sarana dan
prasarana yang memadai, seperti kamar mandi, peralatan mandi, serta
peralatan mandi yang cukup (mis. Sabun, sikat gigi, sampo, dll)
c. Agama
Agama juga berpangaruh pada keyakinan individu dalam melaksanakan
kebiasaan sehari-hari. Agama Ismal misalnya, umat islam diperintahkan
untuk selalu menjaga kebersihan karena kebersihan karena kebersiahan
adalah sebagian dari iman. Hal ini tentu akan mendorong individu untuk
mengingat pentingnyakebersihan diri bagi kelangsungan hidup.
d. Tingkat pengetahuan atau perkembngan individu.
Kedewasaan seseorang akan memberi pengaruh tertentu pada kualitas diri
orang tersebut, salah satunya adalah pengetahuan yang lebih baik.
Pengetahuan penting dalam meningkatkan status kesehatan individu.
e. Status kesehatan
Kondisi sakit atau cedera akan menghambat kemapuan individu dalam
melakukan perawatan diri. Hal ini tentunya berpengaruh pada tingkat
kesehatan individu. Individu akan semakin lemah yang pada akhirnya
jatuh sakit.
f. Kebiasaan
Ini adakaitanya dengan kebiasaan individu dalam menggunakan produk-
produk tertentu dalam melakukan perawatan diri, misalnya menggunakan
shower, sabun padat, sabun cair, sampo.
g. Cacat jasmani / mental bawaan.
Kondisi cacat dan ganguan mental menghambat kemampuan individu
untuk melakukan perawatan diri secara mandiri.

B. Rencana Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari, sarana dan
prasarana yang dimiliki, serta faktor-faktor yang mempengaruhi personal
higiene individu, baik faktor pendukung maupun faktor pencetus.
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, kaji personal higiene individu, mulai dari
eksteremita atas samapai bawah.
1) Rambut. Amati kondisi rambut (warna, tekstur, kuantitas),apakan
tampak kusam? Apakah ditemukan kerontokan?
2) Kepala. Amati denga seksama kebersihan kulit kepala. Perhatikan
adanya ketombe, kebotakan atau tanda-tanda kemerahan.
3) Mata. Amati adanya tanda-tanda ikhterus, konjungtiva anemis,
sekret pada kelopak mata, kemerahan atau gatal-gatal pada mata.
4) Hidung. Amati kondidsi kebersihan hidung, kaji adanya sinusitis,
perdarahan hidung, tanda-tanda flu yang tidak kunjung sembuh,
tanda-tanda alergi atau perubahan pada daya penciuman.
5) Mulut. Amati kondisi mukosa mulut dan kaji kelembapannya.
Perhatikan adanya lesi, tanda-tanda radang gusi/ sariawan,
kekeringan atau pecah-pecah, kebersihan mulut ...
6) Gigi. Amati kondisi dan kebersihan gigi, perhatikan adnya tanda-
tanda karang gigi, karies, gigi peceh-peceh, tidak lengkap atau gigi
palsu.
7) Telinga. Amati kondisi kebersihan telinga. Perhatiakan adanya
serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi atau perubahan daya
pendengaran.
8) Kulit. Amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembapan) dan
kebersiahannya. Perhatikan adanya perubahan warna kulit, stria,
kulit keriput, lesi atau pruritus. Daki kusam berminyak ..
9) Kuku tangan dan kaki. Amati bentuk dan kebersihan kuku panjang
kuku... Perhatiakan adanya kelainan atau luka.
10) Genitalia. Amati kondisi dan kebersihan genitalia berikut area
perineum. Perhatiakan pola pertumbugan rambut pubis/ pada laki-
laki, perhatiak kondisi skrotum dan testisnya.
11) Personal higiene secara umum. Amati kondisi dan kebersiahn kulit
secara umum. Perhatiakan adanya kelainan pada kulit atau bentuk
tubuh.

c. Diagnosan keperawatan
Diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI (2017) adalah :
1) Diagnosa : Defisit Perawatan Diri (D.0109)
a) Definisi : Tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas
perawatan diri.
b) Penyebab
₋ Gangguan muskuloskeletal
₋ Gangguan neuromuskuler
₋ Kelemahan
₋ Gangguan psikologis dan/atau psikotik
₋ Penurunan motivasi/minat
c) Gejala dan tanda
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
₋ Menolak melakukan perawatan diri
Objektif :
₋ Tidak mampu mandi/mengenakan
pakaian/makan/ketoilet/berhias secara mandiri
₋ Minat melakukan perawatan diri kurang
Gejala dan tanda minor
Subjektif : -
Objektif : -
d) Kondisi klinis terkait
₋ Stroke
₋ Cedera medula spinalis
₋ Depresi
₋ Arthitis reumatoid
₋ Retardasi mental
₋ Delirium
₋ Demensia
₋ Gangguan amnestik
₋ Skizofrenia dan gangguan psikotik lain
₋ Fungsi pemeliharaan terganggu
e) Keterangan
Diagnosa dapat dispesifikasikan menjadi salah satu atau lebih dari:
a. Mandi
b. Berpakaian
c. Makan
d. Toileting
e. Berhias

d. Luaran Keperawatan
Luaran keperawatan berdasarkan diagnosa SDKI (2017) menurut SLKI
(2019) adalah :
Diagnosa : Defisit Perawatan Diri (D.0109)
1) Luaran Utama : Perawatan Diri (L.11103)
Tujuan : kemampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas
perawatan diri
Ekspektasi : meningkat
Kriteria Hasil :
₋ Kemampuan mandi, Kemampuan mengenakan pakaian,
Kemampuan makan, Kemampuan ke toilet (BAK/BAB),
Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri, Minat melakukan
perawatan diri, Mempertahankan kebersihan diri, Memperhatikan
kebersihan mulut : meningkat (5)
Luaran Tambahan :
₋ Fungsi sensori
₋ Koordinasi pergerakan
₋ Mobilitas fisik
₋ Motivasi
₋ Status kognitif
₋ Status neurologi
₋ Tingkat delirium
₋ Tingkat demensia
₋ Tingkat keletihan
₋ Tingkat kenyamanan
₋ Tingkat nyeri

e. Rencana Tindakan Keperawatan


Rencana tindakan / intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa SDKI
(2017)
Diagnosa : Defisit Perawatan Diri (D.0109)
1) Intervensi : Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
Definisi : memfasilitasi pemenuhan kebutuhan perawatan diri
Observasi :
₋ Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
₋ Monitor tingkat kemandirian
₋ Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian,
berhias, dan makan
Terapeutik :
₋ Sediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat, rilek,
privasi)
₋ Siapkan keperlua pribadi (parfum, sikat gigi, dan sabun mandi)
₋ Dampingi dalam melakuka perawatan diri sampai mandiri
₋ Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan
₋ Fasilitasi kemandirian, bantu juka tidak mampu melakukan
perawatan diri
₋ Jadwalkan rutinitas perawatan diri
Edukasi :
₋ Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai
kemampuan

2) Intervensi : Dukungan Perawatan Diri : BAB/BAK (I.11349)


Definisi : memfasilitasi pemenuha kebutuhan buang air kecil (BAK)
dan buang air besar (BAB)
Tindakan :
Observasi
₋ Identifikasi kebiasaan BAK/BAB sesuai usia
₋ Monitor integritas kulit pasien
Terapeutik
₋ Buka pakaian yang diperlukan untuk memudahkan eliminasi
₋ Dukung penggunaan toilet/commode/pispot/urinal secara
konsisten
₋ Jaga privasi selama eliminasi
₋ Ganti pakaian pasien setelah eliminasi, jika perlu
₋ Bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah digunakan
₋ Latih BAK/BAB sesuai jadwal, jika perlu
₋ Sediakan alat bantu (mis. kateter eksternal, urinal), jika perlu
Edukasi
₋ Anjurkan BAK/BAB secara rutin
₋ Anjurkan ke kamar mandi/toilet, jika perlu
3) Intervensi : Dukungan Perawatan Diri : Berpakaian (I.11350)
Definisi : memfasilitasi pemenuhan kebutuhan berpakaian dan behias
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi usia dan budaya dalam membatu berpakaian/berhias
Terapeutik
- Sediakan pakaian pada tempat yang mudah dijangkau
- Sediakan pakaian pribadi, sesuai kebutuhan
- Fasilitasi mengenakan pakaian, jika perlu
- Fasilitasi berhias (mis. menyisir rambut, merapikan
kumis/jenggot)
- Jaga privasi selama berpakaian
- Tawarkan untuk laundry, jika perlu
- Berikan pujian terhadap kemampuan berpakaian secara mandiri
Edukasi
- Informasikan pakaian yang tersedia untuk dipilih, jika perlu
- Ajarkan mengenakan pakaian, jika perlu

4) Intervensi : Dukungan Perawatan Diri : Makan/Minum (I.11351)


Definisi : memfasilitasi pemenuhan kebutuhan makan/minum
Tindakan :
Observasi
- Identifikasi diet yang dianjurkan
- Monitor kemampuan menelan
- Monitor status hidrasi pasien, jika perlu
Terapeutik
- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama makan
- Atur posisi yang nyaman untuk makan/minum
- Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
- Letakkan makanan di sisi mata yang sehat
- Sediakan sedotan untuk minum, sesuai kebutuhan
- Siapkan makanan dengan suhu yang meningkatkan nafsu makan
- Sediakan makanan dan minuman yang disukai
- Berikan bantuan saat makan/minum sesuai tingkat kemandirian,
jika perlu
- Motivasi untuk makan di ruang makan, jika tersedia
Edukasi
- Jelaskan posisi makanan pola pasien yang mengalami gangguan
dengan menggunakan arah jarum jam (mis. sayur di jam 12,
rendang di jam 3)
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat (mis. analgesic, antiemetic) sesuai
indikasi

5) Intervensi : Dukungan Perawatan Diri : Mandi (I.11352)


Definsi : memfasilitasi pemenuhan kebutahan kebersihan diri
Tindakan :
Observasi
₋ Identifikasi usia dan budaya dalam membantu kebersihan diri
₋ Identifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan
₋ Monitor kebersihan tubuh (mis. rambut, mulut, kulit, kuku)
₋ Monitor integritas kulit
Terapeutik
₋ Sediakan peralatan mandi (mis. sabun, sikat gigi, shampoo,
pelembab kulit)
₋ Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman
₋ Fasilitasi menggosok gigi, sesuai kebutuhan
₋ Fasilitasi mandi, susuai kebutuhan
₋ Pertahankan kebiasaan kebersihan diri
₋ Berikan bantuan sesuai tingkat kemandirian
Edukasi
₋ Jelaskan manfaat mandi dan dampak tidak mandi terhadap
kesehatan
₋ Ajarkan kepada keluarga cara memandikan pasien, jika perlu
Daftar Pustaka
Hidayat, A. A. A. (2008). Pengantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta: Salemba
Medika.
Kozier, B., et. all. (2011). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses, &
praktik. Jakarta: EGC.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis & nanda nic-noc. Jakarta: EGC.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2009). Fundamental keperawatan. Edisi 7, buku 2.
Jakarta: EGC.
Sloane, E. (2004). Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan indonesia:
Definisi dan indikator diagnortik. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan indonesia: Definisi
dan tindakan keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar luaran keperawatan indonesia: Definisi
dan kriteria hasil keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.