Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

EKUITAS

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi

Dosen Pengampu :

Hj. Dewi Ratnasari Astuti, SE., M.Si

Kelompok 5

Disusun Oleh :

 Anisa Mustainah 201702006


 Nurulaeni 201702022
 Ira Siti Jazilah 201702039
 Muhammad Alwiguna 201702066
 Seli Pratami 201702069

PROGRAM STUDY AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI CIPASUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT atas berkat dan rahmat-Nya yang
selalu menyertai kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Teori Akuntansi
yang membahas tentang Ekuitas ini dengan baik. Laporan ini disusun sebagai
pertanggungjawaban kami atas pelaksanaan tugas mata kuliah Teori Akuntansi.

Kami mengakui bahwa masih banyak kesulitan yang dihadapi, baik proses penyusunan
sampai makalah ini selesai. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih atas segala
bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kami menyadari bahwa makalah ini tidak lepas dari kesalahan dan keterbatasan
karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman kami.

Oleh karena itu, kami sangat mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk kesempurnaan makalah dimasa yang akan datang dengan hasil yang baik pula.

Demikian makalah ini kami susun. Akhir kata, harapan kami semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Tasikmalaya, 23 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR.................................................................................................................i

DAFTAR ISI................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................1

1.3 Tujuan Masalah..........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekuitas Secara Formal dan Semantik.......................................................3

2.2 Pembedaan Makna Kewajiban dan Ekuitas...............................................................3

2.3 Komponen-Komponen Ekuitas dan Sumber Perubahannya......................................4

2.4 Pembedaan Modal Setoran dan Modal Bentukan......................................................6

2.5 Komponen-Komponen Ekuitas Dalam Statemen Keuangan dan

Konsep-Konsep yang Mendasarinya..........................................................................7

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan.................................................................................................................18

3.2. Saran...........................................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk perusahaan perseorangan, ekuitas sering disebut modal. Untuk perseorangan,


istilah ekuitas (ekuitas pemegang saham atau stockholders' equity) lebih merefleksi kata yang
ingin dikandungnya.Istilah modal sering digunakan pula sebagai padan kata equity walaupun
modal lebih dekat maknanya dengan istilah capital.Ekuitas mengandung unsur kepemilikan
(ownership), untuk organisasi nonprofit ekuitas disebut dengan aset bersih (net assets) untuk
menghindari kesan adanya pemilikan.
Karena kensep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen dan pemilikan,
informasi tentang akuitas pemegang saham menjadi sangat penting karena hal tersebut
menunjukan hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan pemegang saham. dari sudut
pemegang saham, ekuitas pemegang saham merupakan hak atas kekayaan atau nilai yang
tertanam dalam perseroan. Kalau dipandang dari sudut kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham
merupakan "utang" perseroan kepada para pemegang saham. Oleh karena itu, ekuitas pemegang
saham dapat juga dipandang sebagai gambaran hubungan yuridis antara perseroan dan pemegang
saham. Dengan kedudukannya yang demikian persoalannya adalah bagaimana melaporkan atau
menyajikan informasi elemen ini agar hubungan dan tanggung jawab yuridis dapat
dipertahankan.
Karena konsep kesatuan usaha menuntut artikulasi antar statemen keuangan,tidak
terdapat masalah semantik atau definisional dalam pembahasan ekuitas seperti halnya elemen
pendapatan, biaya dan laba. Teori ekuitas yang bersifat semantik adalah teori sudut pandang atau
teori entitas. Ekuitas pemegang saham itu sendiri terdiri atas dua komponen penting yaitu modal
setoran (paid-in atau contributed capital) dan laba ditahan (retained earnings).
1.2 Rumusan Masalah

1) Menjelaskan pengertian ekuitas secara formal dan semantik


2) Membedakan makna kewajiban dan ekuitas
3) Menyebutkan komponen-komponen ekuitas dan sumber perubahannya
4) Membedakan modal setoran dan modal bentukan

1
5) Menyajikan komponen-komponen ekuitas dalam statemen keuangan dan konsep-konsep
yang mendasarinya

1.3 Tujuan

1) Untuk mengetahui pengertian ekuitas secara formal dan semantik


2) Untuk mengetahui makna kewajiban dan ekuitas
3) Untuk mengetahui komponen ekuitas dan sumber perubahannya
4) Untuk mengetahui modal setoran dan modal bentukan
5) Untuk mengetahui komponen ekuitas dalam statemen keuangan dan konsep yang
mendasarinya

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekuitas Secara Formal dan Semantik

2.1.1 Pengertian Ekuitas Secara Formal

Dalam kerangka dasar Standar Akuntansi Keuangan (2002), misalnya, Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) mendefinisi ekuitas sebagai berikut (pasal 49):

“Ekuitas adalah hak residual atau aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban”.

2.1.2 Pengertian Ekuitas Secara Semantik

Ekuitas tidak didefinisikan secara semantik tetapi secara sintaktik. Artinya, ekuitas
didefinisikan secara mekanik atau prosedural dalam kaitannya dengan elemen-elemen statemen
keuangan yang lain. Lebih tegasnya, ekuitas tidak dapat didefinisi secara independen terhadap
aset dan kewajiban.

Berbagai sumber yang lain mendefinisikan ekuitas sebagai hak residual untuk
menunjukkan bahwa ekuitas bukan kewajiban, ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber
ekonomik masa datang, karena didefinisikan atas dasar aset dan kewajiban, nilai ekuitas juga
bergantung bagaimana aset dan kewajiban diukur.

2.2 Membedakan Makna Ekuitas dan Kewajiban

Godfrey, Hodgson, dan holmes membedakan ekuitas dan kewajiban atas dasar kriteria
berikut :

a. Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim


b. Hak penggunaan aset dalam operasi
c. Substansi ekonomik perjanjian
Atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan pemegang saham sama-sama mempunyai
klaim atau hak untuk dilunasi atas dana yang ditanamkan dalam perusahaan. akan tetapi terdapat
dua karakteristik yang melekat pada hak kreditor yaitu: a)penyelesaian klaim mereka pada
tanggal tertentu melalui transfer ase dan b) prioritas diatas pemilik dalam penyelesaian klaim

3
mereka dalam hal likuidasi. jadi, klaim kreditor terbatas jumlahnya dan harus diselesaikan
padatanggal tertentu sementara klaim pemegang sahalm merupakan jumlah residual dan tidak
harus diselesaikan atau dilunasipada tanggal tertentu. Hak kreditor atau pemilik (pemegang
saham) juga berbeda dalam hal penggunaan aset. Kreditor pada umumya tidak mempunyai akses
dan kendali dalam penggunaan aset perusahaan. Mereka juga tidak mempunyai hak dalam
pengambilkan keputusan operasi perusahaan secara langsung. Di lain pihak, pemilik (khusus
dalam perusahaan peseorangan) mempunyai akses, hak,dan autoritas untuk menjalankan
perusahaan dan menggunakan atau mengendalikan aset.
Perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban. substansi ekonomik perjanjian antara
kreditor dengan perusahaan berbedadengan antara pemegang saham dan perusahaan dalam hal
resiko terhadap rugi. Karena kreditor diprioritaskan, resiko mereka lebih kecil dari pemegang
saham. Pemegang saham menanggung segala resiko yang berkaitan dengan operasi perusahaan.
Oleh karena itu, hak kreditor sebenarnya berbeda dengan hak pemegang saham, kreditor berhak
atas pelunasan sedangkan pemegang saham berhak atas pembagian laba (residual). jadi secara
substansi ekonomik, kreditor menanggung resiko lebih kecil dan dengan demikian mendapat
imbalan tetap berupa bunga dan pokok pinjaman sedangkan pemegang saham menanggung
resiko lebih besar sehingga berhak atas kembalian (rate of return) yang berfariasi melalui
pembagian laba (participation in profits).

2.3 Komponen Ekuitas dan Sumber Perubahannya


Dari segi riwayat terjadinya dan sumbernya, ekuitas pemegang saham diklasifikasikan
atas 2 komponen penting yaitu modal setoran dan laba ditahan.
1. Modal Setoran
Modal setoran dipecah menjadi modal saham sebagai modal yuridis dan modal
setoran tambahan, dan komponen lain yang merefleksi transaksi pemilik
(misalnya saham tresuri atau modal sumbangan).
a) Modal Yuridis
Adapun sumber perubahannya :
 Penerbitan saham baru
 Kapitalisasi laa ditahan
 Dividen saham

4
 Konversi obligasi atau saham istimewa terkonversi (convertible
bonds or preferred stocks)
 Stock subscriptions
b) Modal Setoran Lain
Adapun sumber perubahannya :
 Premium modal saham
 Penjualan saham treasuri
 Penyerapan difisit
 Deklarasi dividen likuidasi
 Restrukturisasi capital
 Revaluasi asset
2. Laba Ditahan
Laba ditahan atau modal bentukan terdapat sumber perubahannya, yaitu :
 Laba atau rugi (dari statement laba rugi)
 Dividen
 Rekapitalisasi
 Defisit
 Koreksi
 Perubahan akuntansi
Komponen lain-lain terdiri dari atas pos-pos yang tidak tepat dimasukkan dalam
komponen modal setoran lainnya atau laba ditahan tetapi sering diklasifikasikan sebagai pos
ekuitas pemegang saham. Pos-pos ini misalnya adalah untung penahanan belum terealisasi,
penyesuaian kapital belum teraliasasi lainnya, selisih revaluasi, dan hak pemegang saham
minoritas.
Dalam berbagai literatur, modal setoran sering disebut pula sebagai invested capital,
original capital, atau bahkan original investment. Modal yuridis (legal capital) sering disebut
sebagai formal capital, restricted capital, stated capital , atau capital stock. Modal setoran lain
sering disebut secara spesifik sebagai paid-in-surplu,unrestricted capital, paid-in capital in
excess of capital stock,capital in excess of par( stated value), capital surplus, atau stock premium.

5
Tujuan penyajian ekuitas

Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi oleh tujuan
penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan. Pada umumnya, tujuan
pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah menyediakan informasi kepada yang
berkepentingan tentang efisiensi dan kepengurusan manajemen. Tujuan lain adalah menyediakan
informasi tentang riwayat serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainnya.
Informasi tentang kewajiban yuridis perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya
juga merupakan tujuan penyajian ekuitas pemegang saham ini.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, informasi yang harus disampaikan tentang ekuitas
pemegang saham tersebut minimal adalah:

 sumber ekuitas pemegang saham beserta riwayatnya


 peraturan yuridis yang membatasi pembagian dividen dan pengembalian modal
setoran kepada pemegang saham dan
 prioritas beberapa golongan pemegang saham atau pemegang ekuitas lainnya.

2.4 Pembedaan Modal Setoran dan Modal Bentukan (Laba Ditahan)

Klasifikasi ekuitas pemegang saham menjadi modal setoran dan laba ditahan sebenarnya
merefleksi pembedaan atas dasar sumber. Penyajian ekuitas pemegang saham atas dasar sumber
sebenarnya bersifat tradisi karena anggapan bahwa penyajian seperti ini akan memberi informasi
tentang riwayat modal sejak berdirinya perseroan.

Ditinjau dari sumbernya, ada beberapa komponen yang membentuk ekuitas pemegang
saham, yaitu :

a) Jumlah rupiah yang disetorkan oleh pemegang saham


b) Laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian dividen
c) Jumlah rupiah yang timbul akibat apresiasi/revaluasi asset fisis tertentu
d) Jumlah rupiah donasi dari pihak nonpemegang saham
e) Sumber lainnya
Laba ditahan pada dasarnya adalah terbentuk dari akumulasi laba yang dipindahkan dari
akun ikhtisar laba-rugi. Begitu saldo laba ditutup ke laba ditahan, sebenarnya saldo laba tersebut

6
telah lebur menjadi elemen modal pemegang saham yang sah. Seperti juga modal setoran, laba
ditahan menunjukan sejumlah hak atas seluruh jumlah rupiah aset bukan hak atas jenis aset
tertentu. Dengan demikian untuk mengukur seluruh hak pemegang saham atas aset, laba ditahan
harus digabungkan dengan modal setoran.

Pembedaan antara dua bagian elemen ekuitas pemegang sangat penting. Dari segi
administrasi keuangan, laba ditahan merupakan indikator daya melaba sehingga laba ditahan
harus selalu dipisahkan dengan modal setoran meskipun jumlah akhirnya ditotal untuk
membentuk ekuitas pemegang saham. Pembedaan ini juga penting secara yuridis karena modal
setoran merupakan dana besar yang harus tetap dipertahankan untuk menunjukan perlindungan
bagi pihak lain. Dana ini hanya dapat ditarik kembali dalam likuidasi rupiah yang secara yuridis
dapat digunakan untuk pembagian dividen.

2.5 Komponen-Komponen Ekuitas Dalam Statement Keuangan dan Konsep-Konsep yang


Mendasarinya

2.5.1 Modal Yuridis

Modal setoran dibedakan menjadi modal yuridis dan modal setoran lain
(agio/premium modal saham). Modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang
mengharuskan bahwa harus ada sejumlah rupiah yang harus dipertahankan dalam rangka
perlindungan terhadap pihak lain. Bentuk ketentuan hukum ini adalah bahwa saham
harus, mempunyai nilai nominal atau nilai minimun yang dinyatakan untuk menunjukan
hak yuridis. Modal yuridis adalah jumlah rupiah "minimal" yang harus disetor oleh
investor sehingga membentuk modal yuridis (legal capital). Tujuan penyajian modal
yuridis ini adalah untuk memberi informasi kepada para pemegang ekuitas lainnya
tentang batas perlindungan investasinya.

Akuntansi menganggap pengungkapan modal yuridis tersebut tidak penting


karena akuntansi lebih menekankan pada jumlah rupiah yang benar-benar disetor oleh
pemegang saham sebagai jumlah rupiah kontrak antara perseroan dengan pemegang
saham. Jadi, walaupun secara akuntansi yang menganut konsep kesatuan usaha,
pemisahan ini tidak mempunyai makna ekonomik yang cukup berarti, secara yuridis

7
pemisahan ini dianggap cukup penting dan harus diungkapkan dalam pelaporan
keuangan.

Besarnya modal yuridis sama dengan jumlah yang dikenal dengan nama modal
saham (capital stock). Modal saham menunjukan jumlah rupiah perkalian antara cacah
saham beredar dengan nilai nominal persaham. Jumlah ini merupakan jumlah rupiah
yang secara yuridis menjadi hak pemegang saham walaupun dalam transaksi pembelian
saham jumlah rupiah yang disetor atau dibayar melebihi modal yiridis tersebut.

2.5.2 Modal Setoran Lain

Nominal saham sering dianggap bukan merupakan harga efektif saham sehingga
secara akuntansi penentuan nilai nominal saham sebenarnya tidak bermakna ekonomik.
Dalam hal tertentua, nilai nominal saham lebih merupakan alat untuk pemerataan
distribusi pemilikan daripada untuk menunjukkan nilai saham itu sendiri. Karena tidak
bermakna ekonomik, saham dapat diterbitkan tanpa nilai nominal (no par stock).

Ada dua alasan penerbitan saham tanpa nilai nominal yaitu :

1. Untuk menghindari utang bersyarat dalam hal saham terjual dibawah


harga nominal.
2. Tidak ada hubungan antara nilai nominal dengan harga pasar saham.

Patton dan littleton menyatakan bahwa modal saham dan modal setoran lain
merupakan komponen yang harus dianggap sebagai satu kesatuan dan jumlah rupiahnya
harus di total untuk menunjukkan modal setoran total. Akan tetapi, harus dibedakan
dengan tegas antara modal setoran dengan laba ditahan. Selanjutnya ditegaskan bahwa
secara ekonomik bukanlah modal yuridis yang menjadi batas perlindungan tetapi justru
laba ditahanlah yang merupakan penyangga umum segala kemungkinan rugi dan hal-hal
bersyarat lainnya.

2.5.3 Perubahan Modal Setoran


Tujuan utama perekayasaan akuntansi modal setoran ini adalah untuk
membedakan secara tegas antara perubahan akibat transaksi operasi dan perubahan akibat
transaksi operasi.

8
Berbagai sumber yang dapat mengubah modal setoran dengan berbagai masalah
teoretisnya adalah:
a. Pemesanan saham (stock subscriptions)
b. Obligasi terkonversi atau berhak-tukar (convertible bonds)
c. Saham istimewa terkonversi atau berhak-tukar (convertible stocks)
d. Dividen saham (stock dividends)
e. Hak beli saham, opsi, dan waran (stock rights, options, dan warrant)
f. Saham treasuri (treasury stocks)

a. Pemesanan Saham
Pada umumnya, pada saat perseroan didirikan atau pada saat melakukan
penawaran public perdana (initial public offering atau IPO), perusahaan telah
menetapkan apa yang disebut modal dasar (authorized capital stocks).
Secara konseptual, ekuitas pemegang saham bersifat seperti kewajiban. Oleh
karena itu, jumlah rupiah saham pesanan dapat diakui sebagai modal setoran hanya
apabila kedua syarat berikut dipenuhi:
1. Jumlah rupiah yang disepakati dalam pemesanan merupakan klaim yuridis
bagi perusahaan terhadap pemesan dan tidak dapat dibatalkan.
2. Harga pemesanan tersebut akan ditagih penerbit dalam periode yang cukup
pasti dan tidak terlalu lama.

b. Obligasi Terkonversi
Perusahaan menerbitkan obligasi dengan karakteristik bahwa obligasi tersebut
dapat ditukarkan dengan saham biasa atas kehendak pemegang obligasi dalam
periode konversi tertentu. Telah dibahas sebelumnya bahwa obligasi yang demikian
mengandung sifat ekuitas dan kewajiban sehingga menimbulkan masalah apakah
perlu dipisahkan jumlah rupiah yang merepresentasi ekuitas dan yang merepresentasi
kewajiban.
Dalam hal ini, ada dua nilai yang dapat digunakan sebagai basis kapitalisasi
yaitu:

9
1. Nilai buku (book value) atau nilai bawaan (carrying value) obligasi pada
saat penukaran.
2. Harga pasar obligasi atau harga pasar saham (mana yang paling objektif).

c. Saham Prioritas Terkonversi


Pengukuran jumlah rupiah yang harus diakui sebagai modal setoran dapat
menggunakan cara seperti pada obligasi terkoversi. Dengan pendekatan pertama,
nilai nominal saham prioritas plus porsi premium/diskun ditransfer ke modal
pemegang saham dan premium/diskun modal pemegang saham biasa. Tidak ada
untung atau rugi yang diakui pada saat konversi tersebut. Ini berarti bahwa jumlah
rupiah yang mula-mula diterima pada saat menerbitkan saham prioritas karena nilai
likuidasi saham prioritas adalah sebesar nilai nominalnya. Itulah sebabnya porsi
premium/diskun juga ikut ditransfer. Kalau porsi premium tidak ditransfer dan semua
saham prioritas dikonversi menjadi saham biasa maka akan terjadi kejanggalan
karena akan terdapat premium saham prioritas padahal tidak ada saham prioritas
yang beredar. Konversi ini semata-mata menandai perubahan status atau hak dua
golongan pemegang saham. Perubahan ini sering disertai penerbitan sertifikat saham
biasa baru dan penarikan sertifikat saham prioritas atau istimewa.

d. Dividen Saham
Dividen saham adalah distribusi dividen dalam bentuk saham yang sejenis
dengan saham yang mula-mula diterbitkan. Bila distribusi dividen saham tidak
disertai dengan kapitalisasi laba ditahan, dividen saham akan menyerupai pemecahan
saham (stock split). Pemecahan saham adalah penurunan nominal (atau nilai
nyataan/stated value) per saham dengan cara menukar tiap satu saham yang beredar
dengan dua atau lebih saham baru yang dinilai nominal per sahamnya merupakan
pecahan dari nilai nominal saham semula. Bila perusahaan mendistribusi dividen
saham 20% tanpa disertai kapitalisasi, perusahaan sebenarnya telah menurunkan
nominal per saham menjadi 100/120 dari nilai nominal semula.
a. Karakteristik Dividen Saham

10
Bagi pemegang saham, dividen saham bukan merupakan pendapatan atau
laba. Berbagai teori atau argument diajukan untuk menjelaskan mengapa
dividen saham bukan merupakan laba bagi penerimanya.
Dari sudut pandang kesatuan usaha, dividen saham bukan merupakan
pembagian laba karena tidak ada penurunan aset perusahaan atau kenaikan
utang perusahaan. Hal ini berbeda dengan dividen kas jelas merupakan
pendapatan bagi penerima karena ada transfer kemakmuran (wealth) ke
pemegang saham.
Bila toh dividen saham dipandang sebagai pendapatan in natura karena
menaikkan nilai investasi, pendapatan tersebut belum terrealisasi bila belum
dijual oleh penerimanya. Investasi naik karena dividen saham dapat dijual atau
kalau tidak dijual penerima berhak menerima dividen tunai di masa datang atas
saham tersebut.
b. Kapitalisasi Atas Dasar Nilai Nominal
Kalau tujuan penyajian informasi modal pemegang saham adalah untuk
menunjukkan modal yuridis (legal capital), kapitalisasi dividen saham haruslah
hanya sebesar nilai nominal atau nyataannya. Jumlah ini sebesarnya merupakan
jumlah minimal yang harus dikapitalisasi untuk memenuhi ketentuan yuridis.
Alasan pendukung kapitalisasi hanya sebesar nilai yuridis adalah bahwa
dividen saham bukan merupakan pendapatan dan mengkapitalisasi sebesar
harga pasar member kesan bahwa dividen tersebut merupakan pendapatan yang
direinvestasi ke dalam perusahaan.
c. Kapitalisasi Atas Dasar Harga Saham
Walaupun dividen saham berbeda dengan dividen kas, sebagai dividen
keduanya dianggap serbagai distribusi ke pemilik. Oleh karena itu, dividen
saham dapat dipandang sebagai pengganti dividen kas karena dividen saham
mempunyai nilai. Harga pasar merupakan dasar yang tepat untuk menentukan
kapitalisasi. Berbagai dasar pikiran mendukung hal ini:
a. Laba ditahan pada dasarnya adalah reinvestasi dari pemegang saham
tanpa tindakan pernyataan resmi.

11
b. Transaksi dividen saham dapat dianggap terdiri atas dua transaksi
yaitu pembagian dividen kas dan penerbitan saham baru dengan harga
sebesar dividen kas tersebut.
c. Dari kaca mata perusahaan, jumlah rupiah dividen saham adalah kos
kesempatan penjualan saham baru ke pasar modal.
d. Penggunaan harga pasar (bukan hanya nilai nominal) juga mengurangi
kesan keliru para pemegang saham bahwa masih tersedia laba ditahan
yang dapat didistribusi lagi baik dalam bentuk dividen saham atau kas.
e. Hak Beli Saham
Hak beli saham adalah hak yang diberikan bagi pemegang saham lama untuk
membeli sejumlah saham (proporsional dengan kepemuilikan). Hal ini biasanya
dimaksudkan untuk mempertaruhkan pemilikan pemegang saham lama. Pada
umumnya, hak beli saham umurnya tidak lama dan harga beli saham dengan hak beli
tersebut biasanya lebih rendah dari harga pasar saham bersangkutan.
f. Opsi Saham
Opsi merupakan instrument yang digolongkan sebagai sekuritas turunan-saham
atau derivative-saham (equity-derivative securities). Disebut turunan karena harus
ada sekuritas yang melandasi atau menjadi basis (underlying securities). Secara
umum opsi diartikan sebagai klaim untuk membeli atau menjual saham tertentu yang
sengaja diciptakan oleh investor untuk dijual kepada investor lain.
a. Opsi saham Nonimbalan
b. Opsi Saham Imbalan
c. Waran

2.5.4 Penurunan Modal Setoran


Berbagai sumber perubahan modal setoran yang dibahas di atas bersifat menaikan
atau menambah modal setoran. Pada umumnya lebih banyak faktor yang bersifat
menaikkan modal setoran daripada yang menurunkan modal setoran. Alasannya adalah
bahwa begitu modal disetor dan tertanam dalam perusahaan, modal tersebut akan menjadi
investasi permanen dalam perusahaan. Kalaupun pemegang saham ingin melepaskan
investasinya, pemegang saham akan menjualnya ke pasar saham sehingga apa yang

12
dilakukan pemegang saham tidak mempengaruhi operasi ataupun posisi keuangan
perusahaan. Yang perlu ditekankan adalah bahwa penilaian pasar tidak menjadi alasan
kuat untuk merevisi ekuitas modal pemegang saham tanpa adanya transaksi modal.

2.5.5 Perubahan Laba Ditahan

Jika pemisahan antara transaksi modal dan transaksi operasi harus tetap
dipertahankan, Hanya terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi besarnya laba
ditahan yaitu laba atau rugi periodic dan pembagian dividen. Laba yang dipindahkan dari
laba akun laba – rugi (income summary) adalah laba yang pindahkan dari akun selisih
seluruh elemen transaksi operasi dalam arti luas disebut laba komprehensif. Transaksi
lain yang dapat mempengaruhi laba yang ditahan adalah transaksi yang tergolong dalam
transaksi modal seperti yang diuraikan di atas.

Terdapat beberapa hal lain yang dapat menyebabkan laba ditahan dalam suatu
perioda berubah selain karena transaksi modal tetapi karena transaksi khusus yaitu :

 Penyesuaian perioda lalu


Penyeuaian ini adlah perlakuan terhadap suatu jumlah rupiah yang
memepengaruhi operasi perioda masa lalu.bukan segai pengurang atau
penambah perhitungan laba tahun sekarang. Tetapi sebagai penyesuai
terhadap laba dithan awal perioda sekarang .perlakuan semacam ini
dimaksudkan untuk menjadikan laba di tahan awal perioda sekarang
menunjkuan saldo yang semestinya seadainya jumlah rupiah tersebut telah
diakui dalam perioda yang lalu.
 Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumya
System akuntansi biasanya sudah dengan cukup cermat sehingga kesalahan
dalam pencatatan akan segera dapat dideteksi sehingga dapat segera
dilakukan koreksi. Dalam hal tertentu, kesalahan tidak segera diketahui dan
baru diketahui beberapa waktu atau bahkan beberapa perioda setelah statemen
keuangan disusun dan diterbitkan.
 Perubahan Akuntansi

13
Karena alasan tertentu suatu perusahaan mungkin melakukan kebijakan yang
mempunyai pengaruh terhadap konsistensi dalam proses akuntansi dan
pelaporan keuangan yang disebut dengan perubahan akuntansi.

 Kuasi-reorganisasi
Kuasi reorganisasi biasanya dilakukan dalam hal terjadi suatu
defisit.PSAK no.51 pasal 9 mendeskripsikan pengertian kuasi reorganisasi
sebagai berikut:
“Kuasi reorganisasi adalah reorganisasi, tanpa melalui reorganisasi secara
hukum yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan
kewajiban pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo devisit.”

2.5.6 Penyajian Modal Pemegang Saham

Urutan penyajian kewajiban dan modal pemegang saham dalam neraca


sebenarnya menggambarkan urutan perlindungan dalam kondisi perusahaan mengalami
defisit dan dalam kondisi perusahaan dilikuidasi. Dalam terjadi defisit, urutan penyajian
menggambarkan urutan penyerapan rugi (sequence of charges) sedangkan dalam kondisi
likuidasi urutan penyajian menggambarkan urutan perlindungan yuridis (legal sequence
of protection) bagi para penyedia dana dalam hal terjadi likuidasi.

a. Urutan Penyerapan Rugi


Dalam hal terjadi pengorbanan kos akibat hilangnya manfaat menjadi rugi, rugi tersebut
akan diserap dahulu melalui laba bersih dan hanya dalam keadaan yang sangat khusus
maka kos tersebut dapat diserapkan oleh kelompok modal pemegang saham. Jadi, urutan
penyerapan biaya, rugi, dan rugi luar biasa (sequence of charges) dapat digambarkan
sebagai berikut:
 Pendapatan Kotor
 Laba Bersih
 Laba Ditahan
 Premium Modal Saham
 Modal saham

14
b. Urutan Menerima Distribusi Aset
Urutan ini menjadi basis penyajian untuk kewajiban dan ekuitas pemegang saham.
Urutan perlindungan dapat dikemukakan sebagai berikut:
 Karyawan dan pemerintah.
 Kreditor berjaminan.
 Kreditor tak berjaminan.
 Pemegang saham prioritas.
 Pemegang saham biasa.

2.5.7 Perincian Laba Ditahan


Bila komponene-komponen tertentu yang berasal dari transaksi operasi dilaporkan
langsung ke laba ditahan, laba ditahan dapat disajikan dan dirinci atas dasar sumber. Terdapat
pula kebiayasaan bahwa laba ditahan disajikan dengan merincinya atas dasar tujuan dengan cara
yang disebut apropriasi dan pembatasan.
a. Perincian atas dasar sumber
b. Perincian Atas Dasar Tujuan Penggunaan

2.5.8 Laba Komprehensif


Masalah teoritis dalam hal ini adalah pos-pos mana saja yang disajikan melalui statement
laba rugi dan pos-pos mana saja yang dilaporkan melalui statement laba ditahan. Dalam hal ini,
ada 2 pendekatan yang dapat dianut, yaitu :
a. Laba Kinerja Sekarang
b. Laba Semua-Termasuk

2.5.9 Penyajian Laba Komprehensif


Komponen-komponen pembentuk statemen Laba Rugi :
1) Seksi operasi utama (major operating activities section)
a. Penjualan atau pendapatan (sales or revenues)
b. Kos barang terjual (cost of goods sold)
c. Biaya penjualan (selling expenses)
d. Biaya administrasif atau umum (administrative or general expenses)

15
2) Seksi operasi tambahan (secondary or auxillary activities section) :
a. Pendapatan lainnya dan untung (other revenues and gains)
b. Biaya lainnya dan rugi (other expenses and loses)
3) Pajak penghasilan (Income taxes)
4) Operasi hentian/taklanjutkanan (discontinued operations)
5) Pos-pos luar biasa/extraordiner (extraordinary items)
6) Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi (cumulative effects of changes in
accounting principles)
7) Pengaruh kumulatif perubahan estimate/taksiran (cumulative effects of changes in
accounting estimates)
8) Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equity)
termasuk pos-pos penerobos.
Komponen 6 dan 7 dikategorikan sebagai komponen perubahan ekuitas nonpemilik dan
keduanya disebut pengaruh kumulatif perubahan akuntansi atau penyesuaian kumulatif akuntansi
sehingga pos-pos yang termasuk dalam kategori ini disebut dengan perubahan ekuitas
nonpemilik lainnya. karena komponen 1 sampai 8 semuanya masuk ke dalam statemen laba-rugi,
angka bersih yang diperoleh disebut oleh FASB dengan laba komprehensif. tujuan
dimasukkannya komponen 8 dalam statemen laba-rugi adalah untuk mencegah penyembunyian
atau penghilangan secara diskresioner pos-pos laba atau rugi tertentu dari statemen laba-rugi.
dengan kata lain, tujuannya adalah untuk mencegah penyalahgunaan.
Sebelum SFAC No. 6 diterbitkan, statemen yang termasuk ke dalam laba-rugi semua-
termasuk hanyalah komponen 1 sampai 7 dan angka bersihnya disebut laba bersih. Dalam SFAC
No. 6, komponen 6 dan 7 dikeluarkan dari laba bersih dan dilaporkan sebagai perubahan ekuitas
nonpemilik dan laba bersih yang diperoleh dari komponen 1 sampai 5 disebut dengan laba
perioda dan laba perioda setelah komponen 6 dan 7 disebut laba perioda bersih atau tetap laba
bersih. Bila terjadi rugi, laba komprehensif menjadi rugi komprehensif. Laba komprehensif dapat
disebut juga perubahan ekuitas nonpemilik total.

Terdapat dua pendekatan penyusunan statemen laba-rugi utnuk menyajikan komponen 1


sampai 8. Pendekatan satu statemen menyajikan kedelapan komponen tersebut dalam satu
statemen yang diberi judul statemen laba-rugi dan laba-rugi komprehensif. Pendekatan dua
statemen memisahkan pelaporan 1 sampai 7 dalam statemen laba-rugi dan menyajikan pengaruh

16
komponen 8 terhadap laba perioda bersih dalam statemen laba-rugi komprehensif. Biaya bunga
dimasukkan dalam komponen biaya lainnya dan rugi. Angka bersih dan biaya lainnya dan rugi
serta pajak penghasilan disebut laba dari operasi berlanjut. jadi, komponen 1 sampai disebut
komponen operasi (dalam arti luas) dan membentuk laba dari operasi berlanjut. Hal ini berarti
bahwa pos-pos dalam komponen pendapatan lainnya dan untung atau biaya lainnya atau rugi
tidak dipandang sebagai pos-pos nonoperasi. Oleh karena itu, pos-pos dalam komponen 4 sampai
8 sering disebut pos-pos tak reguler atau tak teratur. Pengertian tak reguler menjadi masalah bila
dikaitkan dengan makna tak umum atau tak biasa dan luar biasa atau ekstraordiner. Persoalannya
adalah kapan suatu pos harus dikategori sebagai komponen 2, komponen 5, atau lainnya. Bila
masuk komponen 5, apakah pos tersebut tak biasa atau luar biasa.

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsep kesatuan usaha memisahkan secara fisik dan konseptual antara manajemen dan
pemilik. Ekuitas pemegang saham menggambarkan hubungan yuridis antara perseroan dengan
para pemegang saham. Ekuitas pemegang saham terdiri atas dua komponen yaitu modal setoran
dan laba ditahan. Modal setoran dipecahkan menjadi modal yuridis dan modal setoran lain.
Ekuitas didefinisikan secara sintatik sebagai hak residual atas aset perusahaan setelah
dikurangi semua kewajiban. Ekuitas terpaksa didefinisi secara sintatik bukan semantik karena
keperluan untuk memprtahankan artikulasi statemen keuangan. Ekuitas mengandung makna
pemilikan. Oleh karena itu, untuk organisasi nonbisnis ekuitas sering disebut sebagai aset bersih.
Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal, yaitu hak atas penyelesaian klaim, hak
penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis). Walaupun demikian, atas dasar konsep
kesatuan usaha kreditor dan investor dipandang sebagai pihak luar perusahaan yang terpisah dari
manajemen.
Modal setoran perlu dibedakan dengan laba ditahan karena modal setoran merupakan
suatu bentuk kontrak yuridis yang harus dipertahankan keutuhannya sedangkan laba ditahan
merupakan modal yang tercipta atau terhimpun karena pemanfaatan aset. Modal setoran
merupakan perubahaan aset dalam rangka pendanaan (transaksi modal) sedangkan laba ditahan
merupakan perubahan aset dalam rangka produksi (transaksi operasi).
Kontrak yang sesungguhnya antara pemegang saham dan perseroan ditunjukan oleh
keseluruhan dana yang disetor (modal setoran) tanpa memperhatikan adanya modal yuridis atau
modal saham yang sering dianggap sebagai batas perlindungan bagi pihak lain. Pemisahan dan
pelaporan modal yuridis tidak menjadi masalah secara teknis. Akan tetapi, secara konseptual
modal yuridis dan modal setoran lain harus ditotal untuk menunjukan modal setoran yang harus
dibedakan dengan laba ditahan. Dari segi akuntansi, yang mendasarkan diri pada konsep dasar
substansi di atas bentuk, ekuitas pemegang saham adalah seluruh jumlah yang secara ekonomik
tertanam dalam perseroan termasuk laba ditahan.

18
3.2 Saran

Demikian makalah yang dapat kami paparkan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi
kita semua, khusunya bagi pembaca. Dan tidak lupa kritik dan sarannya sangat kami harapkan
untuk memperbaiki pembuatan makalah yang selanjutnya. Apabila ada kesalahan dalam
penulisan maupun penyampaian serta kurangnya pengetahuan, kami mohon maaf. Dan
sesungguhnya kebenaran semata hanyalah milik Alloh SWT. Semoga bermanfaat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. Teori Akuntansi. Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Jogjakarta: BPFE, 2005 –


SWD