Anda di halaman 1dari 16

TUGAS ILMIAH KEPANITERAAN KLINIK FK UMS

CASE REPORT

SINUSITIS MAXILLARIS DEXTRA

PENYUSUN
Nanda Meida, S.Ked J510195035

PEMBIMBING
dr. Abdul Aziz, Sp.Rad

PRODI PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Ilmiah Kepaniteraan Klinik FK UMS


CASE REPORT
Prodi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Judul : SINUSITIS MAXILLARIS DEXTRA


Penyusun : Nanda Meida, S.Ked; J510195035
Pembimbing : dr. Abdul Aziz, Sp.Rad

Sukoharjo, 14 September 2020


Penyusun

Nanda Meida, S.Ked

Menyetujui,

Pembimbing

dr. Abdul Aziz, Sp.Rad

Mengetahui,
Kepala Program Studi Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran UMS

Dr. Iin Novita N.M., M.Sc., Sp.PD

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................. ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... iv
BAB I .................................................................................................................................. 1
STATUS PASIEN .............................................................................................................. 1
A. Identitas Pasien .......................................................................................................... 1
B. Hasil Pemeriksaan CT Scan Kepala ........................................................................... 1
BAB II................................................................................................................................. 3
TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................... 3
A. Definisi Sinusitis ................................................................................................. 3
B. Anatomi Sinus Paranasal .................................................................................... 3
C. Epidemiologi ....................................................................................................... 4
D. Etiologi ................................................................................................................ 4
E. Klasifikasi ........................................................................................................... 5
F. Patofisiologi ........................................................................................................ 5
G. Manifestasi Klinis ............................................................................................... 5
H. Diagnosis Sinustisis Maxillaris ........................................................................... 6
I. Diagnosis Banding .............................................................................................. 8
J. Komplikasi .......................................................................................................... 8
K. Penatalaksanaan .................................................................................................. 9
L. Prognosis ........................................................................................................... 10
BAB III ............................................................................................................................. 11
KESIMPULAN ................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 12

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambar CT Scan kepala tanpa kontras ............................................................. 1


Gambar 2. Anatomi Sinus Paranasalis ................................................................................ 3
Gambar 3. Gambar air fluid level pada sinus maxillaris ..................................................... 7
Gambar 4. Gambar sinus normal dan sinusitis maxillaris .................................................. 7
Gambar 5. Gambar CT Scan potngan koronal .................................................................... 7

iv
BAB I
STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. SS
Umur : 69 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Polokarto, Sukoharjo
Tanggal pemeriksaan : 06 Juni 2017
Jenis pemeriksaan : CT Scan Kepala tanpa kontras

B. Hasil Pemeriksaan CT Scan Kepala

Gambar 1. Gambaran CT Scan Kepala tanpa kontras

1
CT Scan : X Foto CT- Kepala, irisan axial, dengan jarak irisan 5 mm, tanpa
kontras :
- Tak tampak diskontinuitas tulang cranium
- Sulcus dan gyrus berkurang
- Tidak tampak lesi hyperdens ataupun hyperdens pada kedua hemisperium
cerebri
- Tidak tampak kelainan pada kedua Ventrikel lateralis
- Tidak tampak deviasi Linea Mediana
- Tampak massa isodens ( Hu = +/- 28-32 ) didalam sinus Maxillaris kanan
- Massa tsb penetrasi kearah Regio Oropharynx kanan

Kesan : Gbr Sinusitis Maxillaris kanan yang penetrasi kearah Oropharynx


kanan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sinusitis
Sinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukosa atau
selaput lendir sinus paranasal. Akibat peradangan ini dapat menyebabkan
pembentukan cairan atau kerusakan tulang di bawahnya, terutama pada
daerah fossa kanina dan menyebabkan sekret purulen, nafas bau, post nasal
drip. 1
Sinusitis adalah inflamasi mukosa sinus. Penyebab utamanya adalah
common cold yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti
oleh infeksi bakteri. 2
B. Anatomi Sinus Paranasal 3
Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian
lateral kavum nasi. Sinus – sinus ini membentuk rongga di dalam beberapa
tulang wajah, dan diberi nama sesuai dengan tulang tersebut, yaitu sinus
maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus frontalis, dan sinus etmoidalis (Gambar
1). Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang mengalami
modifikasi, yang mampu mengkasilkan mukus, dan bersilia. Sekret yang
dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama
berisi udara.

Gambar 2. Anatomi Sinus Paranasalis 3

Sinus maksilaris merupakan satu - satunya sinus yang rutin ditemukan


pada saat lahir. Sinus maksilaris terletak di dalam tulang maksilaris, dengan

3
dinding inferior orbita sebagai batas superior, dinding lateral nasal sebagai
batas medial, prosesus alveolaris maksila sebagai batas inferior, dan fossa
canine sebagai batas anterior. 3
C. Epidemiologi 4
Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis.Virus
adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. Namun,
sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan
pemberian antibiotik. Lima milyar dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk
pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan untuk
pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat.
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia,
terutama di tempat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin,
dengan konsentrasi pollen yang tinggi terkait dengan prevalensi yang lebih
tinggi dari sinusitis. Sinusitis maksilaris adalah sinusitis dengan insiden yang
terbesar.
D. Etiologi 2
Berbagai faktor infeksius dan nonifeksius dapat meberikan kontribusi
dalam terjadinya obstruksi akut ostia sinus atau gangguan pengeluaran cairan
oleh silia, yang akhirnya menyebabkan sinusitis. Penyebab nonifeksius antara
lain adalah rinitis alergika, barotrauma, atau iritan kimia. Penyakit seperti
tumor nasal atau tumor sinus (squamous cell carcinoma), dan juga penyakit
granulomatus (Wegener’s granulomatosis atau rhinoskleroma) juga dapat
menyebabkan obstruksi ostia sinus, sedangkan kondisi yang menyebabkan
perubahan kandungan sekret mukus (fibrosis kistik) dapat menyebabkan
sinusitis dengan mengganggu pengeluaran mukus. Di rumah sakit,
penggunaan pipa nasotrakeal adalah faktor resiko mayor untuk infeksi
nosokomial di unit perawatan intensif.
Infeksi sinusitis akut dapat disebabkan berbagai organisme, termasuk
virus, bakteri, dan jamur. Virus yang sering ditemukan adalah rhinovirus,
virus parainfluenza, dan virus influenza. Bakteri yang sering menyebabkan
sinusitis adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan

4
moraxella catarralis. Bakteri anaerob juga terkadang ditemukan sebagai
penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar.
Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai penyebab sinusitis pada pasien
dengan gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi invasif yang
mengancam jiwa. Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain adalah dari
spesies Rhizopus, rhizomucor, Mucor, Absidia, Cunninghamella,
Aspergillus, dan Fusarium.
E. Klasifikasi 5
Klasifikasi sinusitis maksilaris berdasarkan waktunya menurut
Cauwenberg:
1. Akut, bila infeksi terjadi kurang dari 4 minggu.
2. Subakut, bila infeksi terjadi sampai 4 minggu-3 bulan.
3. Kronis, bila infeksi terjadi lebih dari 3 bulan.
F. Patofisiologi 6
Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril. Apabila terjadi infeksi
karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka
terjadilah sinusitis. Sinusitis dapat terjadi bila klirens silier sekret sinus
berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan retensi
sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen.
Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen.
G. Manifestasi Klinis 2
Gejala sinusitis maksilaris akut berupa demam, malaise, nyeri kepala,
wajah terasa bengkak dan penuh, gigi terasa nyeri pada gerakan kepala
mendadak (sewaktu naik atau turun tangga), nyeri pipi khas yang tumpul dan
menusuk, sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan berbau busuk.
Gambaran klinis yang sering dijumpai pada sinusitis maksilaris
kronik berupa hidung tersumbat, sekret kental, cairan mengalir di belakang
hidung, hidung berbau, indra pembau berkurang, dan batuk.
Kriteria Saphiro dan Rachelefsky:
1. Gejala Mayor : Rhinorea purulent, Drainase Post Nasal, Batuk
2. Gejala Minor : Demam, Nyeri Kepala, Foeter ex oral

5
Dikatakan sinusitis maksilaris jika ditemukan 2 gejala mayor atau 1 gejala
mayor dan 2 atau lebih gejala minor.
H. Diagnosis Sinusitis Maxillaris 1
Untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus maksilaris dilakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang .
1. Anamnesis
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama sinusitis akut ialah hidung
tersumbat disertai nyeri rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang sering
sekali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat juga disertai gejala sistemik
seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang
terkena, merupakan ciri khas sinusitis akut, serta kadang nyeri juga dirasakan di
tempat lain (refered pain). Nyeri pipi, gigi, dahi dan depan telinga menandakan
sinusitis maksila.
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : Pemeriksaan yang diperhatikan ialah adanya
pembengkakan pada muka. Pembengkakan di pipi sampai
kelopak mata bawah yang berwarna kemerahmerahan mungkin
menunjukan sinusitis maksilaris akut.
b. Palpasi : Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi.
3. Pemeriksaan penunang
a. Transiluminasi : Memasukan sumber cahaya ke rongga mulut.
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan tampak
suram atau gelap.
b. Pemeriksaan Radiologi : Posisi waters, PA, Lateral dan Cald
well-Luc. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa
atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.

6
Gambar 3. Gambaran air fluid level pada sinus maxillaris 7

Gambar 4. Gambaran sinus normal dan sinusitis maxillaris 7

c. CT scan : Metode mutakhir yang lebih akurat untuk melihat


kelainan sinus maksilaris adalah pemeriksaan CT scan.
Potongan CT scan yang rutin dipakai adalah potongan koronal.

Gambar 5. Gambaran CT Scan potongan koronal 7

d. MRI : Dibandingkan dengan CT, MRI lebih mampu


memberikan visualisasi yang lebih baik bagi jaringan lunak, tapi

7
tidak dapat dengan mudah menunjukan bagian yang terdapat
batas cortical air-bone. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa
CT masih menempati urutan prioritas pada pencitraaan
paranasal sinus ini.
e. Kultur : Karena pengobatan harus dilakukan dengan mengarah
kepada organisme penyebab, maka kultur dianjurkan. Bahan
kultur dapat diambil dari meatus medius, meatus superior, atau
aspirasi sinus.
I. Diagnosis Banding 2
Diagnosos banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala
sinusitis tidak sensitif dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal,
penyalahgunaan kokain, rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis
medikamentosa dapat datang dengan gejala pilek dan kongesti nasal.
Rhinorrhea cairan serebrospinal harus dipertimbangkan pada pasien dengan
riwayat cedera kepala. Pilek persisten unilateral dengan epistaksis dapat
mengarah kepada neoplasma atau benda asing nasal. Tension headache,
cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah diagnosis alternatif pada
pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah. Pasien dengan demam memerlukan
perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi sinusitis saja
atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau abses
intrakranial.
J. Komplikasi 8
Komplikasi dari sinusitis disebabkan oleh penyebaran bakteri yang
berasal dari sinus ke struktur di sekitarnya. Penyebaran tersering adalah
penyebaran secara langsung terhadap area yang terkontaminasi.
1. Komplikasi lokal : Mukokel, Osteomielitis (pott’s puffy tumor)
2. Komplikasi orbital : Inflamatori edema, Abses orbita, Abses
subperiosteal, Trombosisi sinus cavernous
3. Komplikasi intracranial : Meningitis, Abses subperiosteal

8
K. Penatalaksanaan 1
1. Medikamentosa
Pengobatan medikamentosa sinusitis dibagi atas pengobatan
pada orang dewasa dan pada anak – anak.
a. Orang dewasa
1) Terapi awal:
- Amoxicillin 875 mg per oral 2 kali sehari selama
10 hari, atau
- TMP-SMX 160mg-800mg per oral 2 kali sehari
selama 10 hari
2) Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir
- Amoxicillin 1000 mg per oral 2 kali sehari selama
10 hari, atau
- Amoxicillin/Clavulanate 875 mg per oral 2 kali
sehari selama 10 hari, atau
- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari
selama 7 hari.
3) Pasien dengan gagal pengobatan
- Amoxicillin 1500mg dengan klavulanat 125 mg
per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau
- Amoxicillin 1500mg per oral 2 kali sehari dengan
Clindamycin 300 mg per oral 4 kali sehari selama
10 hari, atau
- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari
selama 7 hari.
b. Anak – anak
1) Terapi awal: Pengobatan oral selama 10 hari dengan:
- Amoxicillin 45-90 mg/kg/hari terbagi dalam dua
atau tiga dosis sehari, atau
- Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam
dua dosis sehari, atau

9
- Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari.
c. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir:
Pengobatan oral selama 10 hari dengan:
- Amoxicillin 90 mg/kg/hari (maksimal 2 gram) plus
Clavulanate 6,4 mg/kg/hari, keduanya terbagi dalam
dua dosis sehari, atau
- Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam dua
dosis sehari, atau
- Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari.
2. Fisioterapi
Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu
penyembuhan sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus.
3. Pembedahan
Terdapat tiga pilihan operasi yang dapat dilakukan pada sinusitis
maksilaris, yaitu :
a. unisinektomi endoskopik dengan atau tanpa antrostomi
maksilaris
b. prosedur Caldwell-Luc, dan
c. antrostomi inferior
Saat ini, antrostomi unilateral dan unisinektomi endoskopik
adalah pengobatan standar sinusitis maksilaris kronis refrakter.
Prosedur Caldwell-Luc dan antrostomi inferior antrostomy jarang
dilakukan.
L. Prognosis 5
Sinusitis akut akibat infeksi virus biasanya baik. Hampir 98% kasus
dapat sembuh sendiri. Sinusitis bacterial memiliki angka kekambuhan 5%.
Sinusitis akibat jamur memiliki prognosis yang bururk bila sudah ada
keterlibatan intracranial dan orbita atau menimbulkan erosi tulang.
Kasus sinusitis akut yang tidak ditangani segera secara adekuat dapat
berubah menjadi sinusitis kronis. Sinusitis kronis mungkin agak sulit
ditangani, namun bila penyebab yang melatarbelakangi mampu ditangani,
tindakan pembedahan jarang diperlukan.

10
BAB III
KESIMPULAN

Sinusitis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di seluruh dunia.


Sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan
pemberian antibiotik. Sinus maksilaris merupakan sinus yang paling besar dan juga
paling sering mengalami infeksi atau peradangan. Komplikasi dari sinusitis
disebabkan oleh penyebaran bakteri yang berasal dari sinus ke struktur di
sekitarnya. Penyebaran tersering adalah penyebaran secara langsung terhadap area
yang terkontaminasi. Pemeriksaan sinusitis dengan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan yang harus dilakukan pun
menyesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit bahkan dibutuhkan tindakan
pembedahan. Prognosisi buruk pada sinusitis akibat jamur dan sinusitis kronis.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E, Rifki N. Sinusitis. Dalam: Supardi EA, Iskandar N, editor.


Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Ed 5.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2001. p.120-4
2. Higler PA. Paranasal Sinuses Diseases. In: Adams GL, Boies LR, Higler PA,
editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. Philadelphia, PA: WB
Saunders Company; 1989. p.240-62
3. Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR,
Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. Philadelphia,
PA: WB Saunders Company; 1989. p.173-90
4. Mekhitarian Neto, et al. Acute Sinusitis in Children- a retrospective Study of
Orbital Complication. Article of Otorhinolaryngology. Vol. 73. No. 1. Sao Paulo.
2007.
5. Brook I. Bronze MS. Acute sinusitis. 2018.
https://emedicine.medscape.com/article/232670-0verview. Tanggal 10 September
6. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. Infections of the Upper Respiratory Tract. In:
Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors.
Harrison’s Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill;
2005. p. 185-93
7. Ramanan RV. Sinusitis Imaging : Imaging. Departement of Radiology The Apollo
Heart Centre India. Diunduh dari http : //Medicine-Radiology.com. Tanggal 10
September 2020.
8. Schawrt G, white S. Complication of Acute and Chronic Sinusitis and Their
management; dalam Sinusitis from Microbiology to Management. Brook 1, new
York : Taylor and Francis Group. 2006; hal 269-88.

12