Anda di halaman 1dari 42

Panduan

Praktik
Penyusunan LKPD
(Lembar Kerja
Peserta Didik)

PREPARED BY
POERWANTI HADI
PRATIWI

PROGRAM STUDI:
PENDIDIKAN
SOSIOLOGI
FIS UNY

Tahun 2020
DAFTAR ISI

A. Latar Belakang …………………………………………………………… 1

B. Tujuan Kegiatan Praktikum ………………………………………… 2

C. Topik ………………………………………………………………………… 2

D. Contoh Komponen LKPD ……………………………………………… 2

 Contoh LKPD Model 1 …………………………………………… 4

 Contoh LKPD Model 2 …………………………………………… 6


PANDUAN PRAKTIK
PENYUSUNAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

A. Latar Belakang

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau student worksheet


merupakan lembaran di mana peserta didik mengerjakan sesuatu
terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya (Suyanto, Paidi,
Wilujeng, 2011)1. Sesuatu yang dipelajari sangat beragam, seperti
merancang proyek sosial, menyusun rencana kerja atau jadwal
kegiatan, melakukan pengamatan, menuliskan atau menggambar hasil
pengamatannya, dan menarik kesimpulan. Tujuan penyusunan
students worksheet/LKPD, antara lain: (1) menyajikan salah satu
bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan
materi yang diberikan, (2) menyajikan tugas-tugas yang dapat
meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan, (3)
melatih kemandirian belajar peserta didik, (4) memudahkan guru
dalam memberikan tugas kepada peserta didik (Prastowo, 2011)2.
Pelatihan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) belum
banyak dilakukan, jika dibandingkan dengan pelatihan penyusunan
soal. Padahal dalam Kurikulum 2013, proses pembelajaran (langsung)
tidak hanya menekankan aspek kognitif saja, namun juga aspek
psikomotor, sesuai dengan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
yang telah disusun oleh guru. Untuk itulah, dalam Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) yang akan disusun melalui kegiatan pelatihan ini,
tidak hanya menyusun instrumen penilaian tes saja (KD 3), namun
1
Suyanto, Paidi, dan Insih Wilujeng. (2011). Lembar Kerja Siswa (LKS). Makalah.
Disampaikan dalam acara Pembekalan SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah
Terpencil, Terluar, dan Tertinggal) di Akademi Angkatan Udara (AAU)
Yogyakarta, tanggal 26 November – 6 Desember 2011.
2
Prastowo, A. (2011). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.
Yogyakarta: Diva Press.

1
juga perlu memuat instrumen non-tes (KD 4). Instrumen non-tes yang
dirancang oleh peserta pelatihan dapat berupa lembar kerja (student
worksheet). Lembar kerja ini diharapkan dapat membantu peserta
didik mencapai kompetensi aspek psikomotor (KD 4).

B. Tujuan Kegiatan Praktikum

1. Meningkatkan kompetensi pedagogik mahasiswa pendidikan


sosiologi dalam menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
2. Menghasilkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang sesuai
dengan Kurikulum 2013
3. Menghasilkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik di sekolah

C. Topik
Mengacu pada Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang
Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, maka Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) yang akan dikembangkan memiliki karakteristik
sebagai berikut:
a. Pendekatan ilmiah (scientific)
b. Tematik (dalam suatu mata pelajaran)
c. Pembelajaran berbasis penelitian (discovery/inquiry learning)
d. Pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan
masalah (project based learning)

D. Contoh Komponen Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

1) Nomor LKS, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah guru


mengenal dan menggunakannya. Misalnya untuk kelas X, KD 1 dan
kegiatan 1, nomor LKS-nya adalah LKS X.1.1. Dengan nomor
tersebut guru langsung tahu kelas, KD, dan kegiatannya.

2
2) Judul Kegiatan, berisi topik kegiatan sesuai dengan KD, seperti
Hubungan Sosial Individu dan Kelompok
3) Tujuan, adalah tujuan belajar sesuai dengan KD.
4) Alat dan bahan, jika kegiatan belajar memerlukan alat dan bahan,
maka dituliskan alat dan bahan yang diperlukan.
5) Prosedur Kerja, berisi petunjuk kerja untuk peserta didik yang
berfungsi mempermudah peserta didik melakukan kegiatan belajar.
6) Tabel Data, berisi tabel di mana peserta didik dapat mencatat hasil
pengamatan atau pengukuran. Untuk kegiatan yang tidak
memerlukan data, maka bisa diganti dengan kotak kosong di
mana peserta didik dapat menulis, menggambar, atau berhitung.
7) Bahan diskusi, berisi pertanyaan-pertanyaan yang menuntun
peserta didik melakukan analisis data dan melakukan
konseptualisasi. Untuk mata pelajaran Sosiologi, bahan diskusi
bisa berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat analitis – kritis.

3
Contoh Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Model 1

Nama: ………………………………………………

NIS : ………………………………………………

Kelas : ………………………………………………

Nomor : X.2.1 (Kelas X, Kompetensi Dasar Ke-2, Kegiatan Ke-1)


Kelas : X
Mata Pelajaran: Sosiologi
Materi : Individu, Kelompok, dan Hubungan Sosial

Kompetensi Dasar
4.2 Mengolah realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial sehingga
mandiri dalam memposisikan diri dalam pergaulan sosial di
masyarakat

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


4.2.1 Mengamati berbagai bentuk hubungan sosial di lingkungan keluarga
dan lingkungan tempat tinggal
4.2.2 Mendiskusikan hasil pengamatan mengenai berbagai bentuk
hubungan sosial di lingkungan keluarga dan lingkungan tempat
tinggal

4
4.2.3 Mempresentasikan hasil pengamatan dan hasil diskusi tentang
hubungan sosial di lingkungan keluarga dan lingkungan tempat
tinggal

PETUNJUK KERJA
1. Amatilah berbagai bentuk hubungan sosial di lingkungan keluarga dan
lingkungan tempat tinggal
2. Identifikasilah bentuk-bentuk hubungan sosial di lingkungan keluarga
dan lingkungan tempat tinggal
3. Tulislah hasil identifikasi Kalian dalam tabel berikut ini!

No. Bentuk Antar Individu – Antar


Hubungan Individu Kelompok Kelompok
Sosial
Lingkungan Keluarga

1.
2.
3.
4.
5.
Lingkungan Tempat Tinggal

1.
2.
3.
4.
5.

4. Diskusikan hasil identifikasi yang Kalian peroleh dengan teman


sebangku dan carilah perbedaan – persamaan hasil identifikasi Kalian!
5. Presentasikan hasil pengamatan dan hasil diskusi di depan kelas!

5
Contoh Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Model 2

Nama : 1. ……………………………………………
2. ……………………………………………
3. ……………………………………………
Kelas : ………………………………………………
Kelompok: ………………………………………………

Nomor : XI.4.1 (Kelas X, Kompetensi Dasar Ke-4, Kegiatan Ke-1)


Kelas : XI
Mata Pelajaran: Sosiologi
Materi : Pemetaan dan Resolusi Konflik Sosial

Kompetensi Dasar
4.4 Memetakan konflik untuk dapat melakukan resolusi konflik dan
menumbuhkembangkan perdamaian di masyarakat

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


4.4.1 Mendiskusikan pemetaan konflik sosial menggunakan alat bantu
analisis konflik sosial
4.4.2 Menyajikan hasil pemetaan konflik sosial menggunakan alat bantu
analisis konflik sosial

6
Materi Kelompok 1: Segitiga SPK

Segitiga SPK (Sikap, Perilaku, dan Konteks) atau dikenal dengan


istilah The ABC Triangle (Attitude, Behaviour, Context). Analisis ini
berawal dari adanya premis yang menganggap bahwa pada dasarnya
konflik memiliki tiga faktor utama, yaitu situasi, perilakum dan sikap
pihak-pihak yan ada di dalamnya. Segitiga SPK dapat digunakan dalam
proses memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang motivasi pihak
yang terlibat dalam konflik. Di akhir proses segitiga SPK berguna untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat diatasi dengan suatu intervensi.
Perubahan dalam satu aspek mungkin mempengaruhi aspek yang lain.
Selain itu, segitiga SPK dapat pula digunakan setelah membuat daftar
berbagai isu dagi setiap komponen, usulan kebutuhan, atau ketakutan
pokok dari pihak yang berada di tengah-tengah segitiga (Fisher, 2007:
25).
Terdapat tiga komponen utama yang tampak pada gambar, yaitu
attitude (sikap), behaviour (perilaku), dan context (situasi). Ketiga
komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Sikap
merupakan pandangan ataupun perasaan yang disertai dengan
kecenderungan terhadap objek tertentu. Perilaku adalah semua kegiatan
atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun tidak
langsung, dan dapat diamati oleh pihak luar. Sementara itu, situasi lebih
kepada kondisi lingkungan dan keadaan sosial di sekitar pihak-pihak yang
berkonflik. Tujuan penggunaan segitiga SPK adalah:
a. mengidentifikasi faktor SPK untuk setiap kelompok
b. menganalisis pengaruh setiap komponen
c. menghubungkan faktor SPK dengan berbagai kebutuhan dan
ketakutan setiap pihak
d. mengidentifikasi titik awal intervensi dalam situasi konflik

7
Langkah-langkah penggunaan alat segitiga SPK sebagai berikut

a. Gambarlah segitiga SPK secara terpisah dari tiap-tiap kelompok/pihak


yang terlibat dalam konflik
b. Buatlah daftar isu (kunci permasalahan) yang berhubungan dengan
sikap, perilaku, dan situasi berdasarkan sudut pandang tiap-tiap pihak
yang terlibat
c. Tentukan ketakutan ataupun kebutuhan terpenting yang mereka
perlukan berdasarkan analisis Anda dengan menuliskannya pada
tengah-tengah segitiga
d. Bandingkan perbedaan persepsi dari tiap-tiap segitiga yang berbeda.
Selanjutnya, tentukan upaya pemecahan yang tepat berdasarkan
analisis yang telah Anda lakukan

8
Artikel Kelompok 1

Perlu Rekayasa Sosial Canggih Atasi Konflik Tolikara

Sumber: http://www.beritasatu.com/nasional/292772-perlu-rekayasa-
sosial-canggih-atasi-konflik-tolikara.html

Selasa, 21 Juli 2015 | 21:31

Jakarta - Tokoh-tokoh agama di Papua bergerak cepat meredam


ketegangan pascapenyerangan terhadap jemaah salat Idul Fitri dan
pembakaran musala di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, yang
diduga dilakukan oleh sekelompok umat Gereja Injil di Indonesia (GIDI).
Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among
Civilisations (CDCC), Alpha Amirrachman, mengapresiasi upaya
perdamaian antarpemimpin agama ini. Namun, Alpha meminta pihak
kepolisan harus mengusut tuntas siapa di balik penyerangan termasuk
soal surat edaran dari GIDI yang provokatif.

"Kami juga minta pihak kepolisian perlu memberikan sanksi yang tegas
kepada para pelaku jika memang terbukti bersalah," ujar Alpha dalam
keterangan persnya kepada Beritasatu.com, Selasa (21/7).
Alpha menjelaskan, Papua memang sangat rentan dengan konflik, bukan
hanya antara sesama ratusan suku asli yang tidak selalu hidup damai.
Namun juga antara penduduk asli non-muslim dan pendatang yang
mayoritas muslim.

Potensi konflik sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor non-agama,


terutama ekonomi, di mana penduduk asli merasa "tergusur" dengan
kedatangan pendatang yang kebanyakan dari Jawa dan Sulawesi yang
mayoritas muslim dan berpartisipasi lebih aktif dari penduduk asli dalam
pembangunan ekonomi dan sosial di Papua.

"Apalagi yang dibakar dalam insiden di Tolikara bukan hanya musala, tapi
juga kios-kios yang merupakan simbol kemajuan ekonomi kaum
pendatang," tandasnya.

Menurut Alpha, konflik di Papua berbeda dengan konflik di Maluku sejak


jatuhnya Orde Baru, di mana penduduk asli memang sudah sejak dahulu
terbagi dua Islam dan Kristen yang direpresentasikan dengan negeri
(kampung adat) Islam dan Kristen.

9
“Maluku punya mekanisme adat pela gandong antara kampung Kristen
dan Islam untuk mengantisipasi konflik sosial, walaupun tetap ada
gesekan ketegangan dengan pendatang yang kebetulan muslim, dan
konflik dipicu selain oleh politik juga oleh persoalan ekonomi antara
penduduk asli dan pendatang yang lalu melebar ke persoalan agama,”
ungkap Alpha.
Hal ini, kata Apha berbeda dengan Papua dan Papua Barat yang jauh
lebih kompleks, dengan ratusan suku asli non-muslim yang kebanyakan
masih rendah pendidikannya versus pendatang yang mayoritas muslim
yang terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi dan sosial.

“Dengan demikian sentimen anti-pendatang muslim jauh lebih keras dan


tajam di Papua dan Papua Barat karena hampir tidak ada penduduk asli
yang muslim, apalagi mereka tidak punya mekanisme sosial yang teruji
untuk mengantisipasi dan meredam konflik,” jelas Alpha.

Lebih lanjut, kata Alpha, mekanisme sosial untuk mengantisipasi dan


meredam konflik inilah yang perlu diciptakan oleh pemerintah, para tokoh
masyarakat dan para pelaku usaha. Alpha menganjurkan perlu
adanya social engineering yang canggih, di mana dialog yang kita dorong
antara penduduk asli dan pendatang bukan hanya sebatas berbicara soal
perdamaian antar pemuka agama di panggung di tengah sorotan media.
"Tidak bisa superficial begitu. Tapi harus lebih konkrit dan membawa
kemaslahatan bersama yang nyata, misalnya kerja sama sosial-ekonomk
antara penduduk asli dan pendatang di bidang pertanian, perkebunan,
dan juga perdagangan," tandasnya.
Alpha juga mengharapkan pemerintah memperhatikan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di Papua dan Papua Barat. Menurutnya,
walaupun anggaran otonomi khusus terus meningkat, tahun 2002 Rp 5
triliun, 2006 Rp 17 triliun, tahun 2013 Rp 75,7 triliun, namun IPM Papua
paling rendah dibanding provinsi yang lain, nilai 65,36 tahun 2011 dan
65,86 tahun 2012.

“Ini perlu affirmative policy dari pemerintah, bukan hanya sekadar kuota
penduduk asli dalam kertelibatan mereka dalam pembangunan, namun
juga mendorong peningkatan pendidikan dan keterampilan penduduk asli
agar bisa berpartisipasi secara penuh dalam pembangunan,” tambah
Alpha.

10
Lembar Kerja Kelompok 1

A. Tema Artikel : ……………………………………………………………………………………….

B. Hasil Analisis Konflik Sosial

Perilaku (behavior)

Sikap (attitude) Konteks (context)

Gambar 1.
Analisis Segitiga SPK

1. Kelompok Pendatang

Penilaian kelompok  ……………………………………………….


pendatang mengenai
penduduk asli  ………………………………………………..

 ………………………………………………..

Kelompok pendatang  ……………………………………………….


menilai diri mereka
 ………………………………………………..

Kelompok pendatang  ……………………………………………….


menilai sikap penduduk asli
 ………………………………………………..

11
Penilaian perilaku kelompok  ……………………………………………….
pendatang mengenai diri
mereka  ………………………………………………..

Penilaian perilaku kelompok  ……………………………………………….


pendatang mengenai
lingkungan asalnya  ………………………………………………..

Penilaian kelompok  ……………………………………………….


pendatang mengenai
lingkungan barunya  ………………………………………………..

2. Kelompok Penduduk Asli

Penilaian penduduk asli  ……………………………………………….


mengenai penduduk
pendatang  ………………………………………………..

Kelompok penduduk asli  ……………………………………………….


menilai diri mereka
 ………………………………………………..

Kelompok penduduk asli  ……………………………………………….


menilai sikap penduduk
pendatang  ………………………………………………..

Penilaian perilaku kelompok  ……………………………………………….


penduduk asli mengenai diri
mereka  ………………………………………………..

Penilaian perilaku kelompok  ……………………………………………….


penduduk asli mengenai
lingkungan asalnya  ………………………………………………..

12
Penilaian kelompok  ……………………………………………….
penduduk asli mengenai
lingkungannya yang  ………………………………………………..
menjadi target

C. Resolusi Konflik yang dapat dilakukan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

13
Materi Kelompok 2: Peta Konflik

Pemetaan konflik adalah sebuah teknik visual yang bertujuan


menunjukkan hubungan antarbagian dalam konflik. Adapun tujuan
pemetaan konflik sebagai berikut
a. memahami situasi yang lebih baik
b. melihat lebih jelas hubungan antarpihak yang terlibat
c. memperjelas letak kebohongan
d. memeriksa keseimbangan aktivitas, kontak, ataupun hubungan
antarpihak
e. melihat sekutu ataupun sekutu potensial
f. mengidentifikasi kemungkinan untuk intervensi atau melakukan suatu
tindakan
g. mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan

A B
>>>>>>>>>><<<<<<

Isu

Kelompok
Luar
D E

Gambar 2.
Analisis Peta Konflik

14
Keterangan:
= Lingkaran mencerminkan pihak dan besarnya kekuatan
yang terlibat dalam situasi konflik
= Garis lurus mencerminkan hubungan yang cukup dekat
= Garis ganda mencerminkan persekutuan
= Garis titik mencerminkan hubungan informal/sementara
= Panah mencerminkan arah dominan dari pengaruh atau
aktivitas
>>><<< = Garis zig – zag mencerminkan perselisihan atau konflik
= Garis lurus yg ditandai dua garis ganda menunjukkan
hubungan yang rusak (putus hubungan)
= Persegi mencerminkan isu/topik/unsur lain
= Bayangan besar/lingkungan tidak sempurna mencerminkan
pihak yang turut memiliki pengaruh tetapi tidak terlibat
langsung

Dengan memetakan konflik seperti gambar di atas, kita akan lebih


mudah mengetahui gambaran sederhana tentang konflik yang terjadi di
lapangan. Selain itu, melalui peta konflik dapat diketahui pihak-pihak
yang terlibat, besar kecilnya kekuatan, pola hubungan antarkelompok
yang berkonflik, serta pihak-pihak yang menjadi sekutu.
Alat analisis peta konflik dapat diterapkan untuk menganalisis hampir
semua jenis konflik. Jenis konflik yang dapat dianalisis mulai dari konflik
kecil seperti konflik antar teman, konflik keluarga, hingga konflik berskala
besar seperti konfli antar anggota masyarakat atau konflik antargolongan.
Langkah-langkah analisis konflik menggunakan alat analisis peta konflik
sebagai berikut:
a. Kumpulkan data mengenai konflik yang ingin diteliti. Sebelumnya,
tentukan apa yang diinginkan dari pemetaan konflik tersebut. Selain
itu, tentukan kapan dan dari sudut pandang mana konflik ini dipetakan.
Anda perlu mencari tahu isu yang menyebabkan konflik serta
persebaran isu tersebut.

15
b. Setelah mendapat data yang diperlukan, gambarlah peta konflik.
Tempatkan siapa saja yang menjadi pemeran pokok dalam konflik,
selanjutnya gambar pola hubungannya. Letakkan juga isu yang
menjadi latar belakang konflik. Setelah itu, gambarkan pihak-pihak
yang memiliki hubungan dengan konflik tersebut. Misalnya, oposisi
ataupun koalisi. Gambarkan juga pola hubungannya.
c. Peta konflik digambarkan secara dinamis. Artinya, jika terjadi
perubahan atau kemungkinan-kemungkinan baru dari pola hubungan
tiap aktor di lapangan, segera ubah pola dalam peta konflik.

16
Artikel Kelompok 2

Tawuran pelajar di Bogor, satu orang tewas


Rabu, 12 Februari 2014 18:31 WIB | 74.788 Views

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/418655/tawuran-pelajar-di-
bogor-satu-orang-tewas

Bogor (ANTARA News) - Tawuran antar pelajar kembali terjadi di wilayah


Kabupaten Bogor, Jawa Barat antara SMA Wiyata Karisma dengan SMK
Mensin di Kecamatan Kemang hingga menewaskan satu orang. Kepala
Kepolisian Sektor Kemang Kompol Pramono DA mengatakan peristiwa
tawuran pelajar terjadi sekitar pukul 14.30 WIB di Jalan Raya Kemang,
Rabu.

"Korban meninggal dunia bernama Ade Sudrajat Al Ade usia 16 tahun


status pelajar dari SMA Wiyata Karisma, beralamat di Kampung Tegal RT
01/RW 03 Kecamatan Kemang," ujar Kompol Ade.

Kompol Ade menyebutkan, korban tewas akibat bacokan senjata tajam


pada pelipis sebelah kanan. Saat ditemukan kondisi korban tersungkur
dijalanan dengan celurit masih menempel di pelipis korban.

"Korban saat ini sudah dibawa ke RS PMI untuk diotopsi demi keperluan
penyelidikan," ujar Kapolsek.

Adapun kronologi singkat tawuran terjadi saat pelajar SMA Wiyata


Karisma yang berjumlah 15 orang dihadang di depan Gang Masjid
Jampang oleh siswa SMK Mensin.
Pertemuan antara dua sekolah tersebut akhirnya memicu terjadinya
tawuran, hingga warga dibantu pihak keamanan berupaya membubarkan
aksi para pelajar yang brutal dengan menggunakan senjata tajam, hingga
korban meninggal dunia tidak mampu dielakkan.

Hingga kini, lanjut Kapolsek, berkat kerja sama antara aparat dan
masyarakat 10 orang pelajar yang terlibat tawuran telah diamankan, dan
beberapa diantaranya diduga sebagai tersangka yang menyebabkan
seorang tewas.

"10 orang pelajar ini yang ada saat tawuran, semua kita amankan ke
kepolisian untuk diproses. Kita sedang mengejar informasi siapa dalang
utama dari tawuran ini dan pelaku pembacokan," ujar Kapolsek.

17
Tawuran antarpelajar di wilayah Kabupaten Bogor kerap terjadi. Hampir
setiap tahunnya terjadi seperti pada tahun 2013 tepatnya bulan
November seorang pelajar SMP Telaga Kautsa Kecamatan Cibungbulang
bernama Muhammad Mahdor tewas setelah ditikam oleh pelajar dari SMP
Pandu.

Tiga pelajar SMP Pandu Cibungbulang menjadi tersangka kasus tawuran


yang menewaskan seorang pelajar ini, dan kini telah menjalani proses
persidangan di Pengadilan Negeri Cibinong.

18
Lembar Kerja Kelompok 2

A. Tema Artikel: ………………………………………………………………………………………..

B. Hasil Analisis Konflik Sosial

19
C. Resolusi Konflik yang dapat dilakukan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

20
Materi Kelompok 3: Analisis Piramida

Teknik analisis piramida merupakan sebuah alat bantu analisis


konflik berbentuk segitiga yang menunjukkan kuantitas tokoh atau aktor
yang terlibat dalam suatu konflik serta hubungannya. Konflik yang
biasanya dianalisis dan dipetakan menggunakan metode ini adalah konflik
berskala sedang hingga besar.
Besar kecilnya suatu konflik diukur dari luasnya cakupan konflik,
baik berdasarkan luas wilayah, jumlah aktor, maupun banyaknya tokoh
yang terlibat dalam konflik. Sebagai contoh, konflik antarkelompok
seperti tawuran pelajar, bentrok antarpemuda desa, dan konflik
masyarakat dengan pemerintah daerah.
Tujuan penggunaan teknik analisis piramida sebagai berikut
a. Mengidentifikasi pelaku-pelaku utama, termasuk pemimpin pada tiap-
tiap tingkat
b. Memutuskan pada tingkat mana sebuah konflik diatasi dan cara
melihat hubungan tiap-tiap tingkat
c. Menilai tipe-tipe pendekatan atau tindakan-tindakan tepat yang
dilakukan pada tiap-tiap tingkat
d. Mengidentifikasi pihak sekutu dan oposisi dalam konflik pada tiap-tiap
tingkat
Untuk lebih memahami alat analisis piramida, coba perhatikan gambar di
bawah! Sedikit

Level 1
(top)
Pihak yang

Level 2
dampak
terkena

(middle)

Level 3
(grass roots)

Gambar 3.
Banyak
Analisis Piramida Konflik

21
Tingkatan pada gambar di atas menunjukkan intensitas pengaruh
yang terlibat dalam suatu konflik serta mengidentifikasi tokoh kunci
dalam setiap tingkatan (Fisher, 2007: 33). Dalam gambar ditunjukkan
adanya gugusan segitiga yang dibagi dalam beberapa lapisan. Lapisan ini
menunjukkan tingkatan jumlah aktor yang terpengaruh atas terjadinya
konflik. Lapisan paling bawah adalah golongan yang paling banyak terlibat
langsung dalam konflik, sedangkan tingkat di atasnya akan semakin
sedikit terlibat namun masih memiliki ikatan dengan konflik. Analisis
piramida tidak selalu dibagi dalam tiga lapisan. Pembagian ini disesuaikan
dengan situasi yang dihadapi. Kita dapat menemukan sebuah konflik yang
hanya terdiri atas satu lapisan atau bahkan bisa jadi lebih dari tiga lapisan.
Langkah-langkah analisis konflik melalui teknik piramida sebagai berikut:
a. Kumpulkan data mengenai konflik yang diteliti. Perhatikan
perkembangan konflik dan lihat persebaran isu. Konflik biasanya
dimulai dari konflik manifest (tampak/ nyata) dari setiap individu.
Anda perlu mencari tahu isu yang menyebabkan konflik tersebut dan
perkembangan atau persebaran konflik tersebut
b. Catatlah aktor yang terlibat dalam konflik tersebut. Lihat juga latar
belakang dan alasan aktor-aktor tersebut terlibat konflik. Jangan
hanya fokus pada aktor yang terlibat secara langsung, lihat juga aktor
lain yang memiliki hubungan dengan konflik tersebut walaupun tidak
terlibat secara langsung. Anda dapat mengumpulkan data ini dengan
menggunakan studi pustaka, observasi, atau wawancara.
c. Gambarlah struktur piramida. Sesuaikan jumlah lapisan piramida
berdasarkan data yang telah didapat. Setelah itu, tuliskan aktor yang
terlibat, perhatikan kuantitas dari aktor yang terlibat. Posisi bawah
adalah posisi bagi aktor yang banyak terlibat langsung dalam konflik.
Posisi semakin ke atas ditempati oleh mereka yang tidak terlibat
langsung, tetapi memiliki keterkaitan.

22
d. Petakan pola hubungan yang terjadi dari setiap aktor yang terlibat
dalam hubungan yang berkaitan dengan konflik. Dengan memetakan
pola hubungan ini, akan dapat diketahui pola hubungn antar lapisan.
Misalnya lapisan atas turut mendukung terjadinya konflik pada lapisan
bawah.

23
Artikel Kelompok 3

Dua Suku di Mimika Perang Akibat Rebutan Lahan


Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/dua-suku-di-mimika-
perang-akibat-rebutan-lahan.html

Merdeka.com - Dua kelompok warga terlibat konflik perebutan lahan di


sekitar Kali Kamoro Jalan
Trans Timika-Paniai, di kompleks Djayanti, Distrik Kuala Kencana.
Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini, mengatakan meski saat ini
kelompok warga Suku Moni dan Dani tidak lagi terlibat aksi saling serang
namun situasinya belum sepenuhnya aman.
"Khusus untuk bentrok antara dua kelompok warga di Djayanti Mayon
belum sepenuhnya aman karena belum ada prosesi adat patah panah.
Kami mengimbau dua kelompok ini untuk segera mengosongkan area itu
sambil menunggu tim pemetaan tanah dari pemerintah daerah. Saat ini
tim sedang bekerja untuk memasang patok di lahan sengketa," jelas
Rontini seperti dikutip dari Antara, Senin (24/2).
Guna mencegah terjadinya kembali bentrok dua kelompok warga, polisi
terus melakukan penertiban terhadap warga yang sering lalu-lalang di
lokasi itu sambil menenteng senjata tajam seperti busur, anak panah,
parang dan lainnya.
"Kita akan razia siapa saja yang masuk dan keluar lokasi itu sambil
membawa senjata tajam. Ini dilakukan untuk mencegah adanya bentrok
susulan," jelasnya.
Pada Jumat (21/2) jajaran Polres Mimika dibantu Brimob Detasemen B
Polda Papua mengadakan penyisiran di lokasi bentrok warga Moni dan
Dani di kompleks Djayanti, Mayon, Kuala Kencana.
Kedua kelompok warga itu sebelumnya sudah pernah menandatangani
surat pernyataan berdamai. Namun tak lama berselang, mereka kembali
'membuang panah', lalu disusul dengan saling menyerang satu satu sama
lain. Selama penyisiran, aparat menyita sejumlah senjata tajam seperti
panah, parang, dan linggis.
Polisi bahkan harus mengerahkan kendaraan Barracuda untuk menghalau
dua kelompok massa yang terus bersiaga di lokasi masing-masing.

24
Lembar Kerja Kelompok 3
A. Tema Artikel: …………………………………………………………………………………………

B. Hasil Analisis Konflik Sosial

25
C. Resolusi Konflik yang dapat dilakukan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

26
Materi Kelompok 4: Pohon Konflik
Coba Anda amati pohon yang berada di lingkungan sekitar Anda.
Pohon memiliki akar, batang, ranting, daun, dan buah. Secara garis besar
segala sumber makanan yang berasal dari tanah diserap oleh akar,
disalurkan oleh batang hingga ranting untuk diolah pada daun melalui
sinar matahari.
Berdasarkan analogi tersebut, konflik kemudian dapat
dikembangkan untuk dipetakan dengan mengadaptasi sistem kerja pohon.
Pohon konflik biasa digunakan untuk memetakan permasalahan dalam
kelompok, bukan pada individu.
Adapun tujuan penggunaan alat analisis pohon konflik sebagai
berikut:
a. menjadi alat bantu diskusi berbagai sebab dan akibat konflik
b. membantu kelompok untuk menyepakati permasalahan inti
c. membantu suatu kelompok dalam mengambil keputusan menangani
masalah konflik
d. membantu menyusun prioritas untuk mengatasi berbagai isu konflik
e. menghubungkan berbagai sebab dan akibat satu sama lain dan
memfokuskan pengorganisasiannya
Setelah Anda membaca penjelasan di atas, Anda dapat memperhatikan
gambar pohon konflik yang dapat digunakan sebagai alat analisis berikut.

27
Dampak Akibat
(effect) konflik

Inti
Permasalahan
(core problem)
Isu
utama
konflik

Penyebab
(causes)

Faktor-faktor Penyebab Konflik

Gambar 4.
Analisis Pohon Konflik

Berdasarkan pengamatan gambar di atas, Anda dapat melihat tiga


komponen utama sistem kerja pohon konflik, yaitu akar, batang, serta
ranting dan daunnya. Dengan melihat akar, Anda akan mencoba berpikir

28
untuk menentukan penyebab permasalahan. Selain itu, dengan melihat
batang Anda dapat membayangkan inti/isu permasalahan, serta ranting
dan cabang pohon sebagai efek konflik. Pohon konflik biasanya digunakan
ketika kelompok mengalami kesulitan untuk menyepakati masalah inti/isu
yang dialami. Selain itu, pohon konflik diperlukan ketika sebuah
tim/kelompok yang berkonflik harus memutuskan isu-isu yang harus
segera mereka atasi terlebih dahulu.
Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam penggunaan pohon konflik
sebagai berikut:
a. Gambarlah sebuah pohon yang terdiri atas akar, batang, dan cabang
pada selembar kertas yang cukup luas ataupun pada papan tulis
b. Berikan tiap-tiap orang kartu indeks atau potongan kertas yang dapat
digunakan untuk menulis beberapa kata, simbol, atau gambar yang
menjadi indikator yang mereka anggap sebagai isu utama
c. Undang setiap orang untuk menempelkan kartu pada pohon. Misalnya,
tiap orang diminta menempelkan/menulis inti permasalahan pada
batang, penyebab permasalahan pada akar, dan dampak pada ranting
d. Setelah semua kartu ditempelkan pada pohon, seseorang dapat
diminta untuk memfasilitasi diskusi sehingga tiap anggota kelompok
dapat mencapai kesepakatan mengenai penempatan isu dan bagian
inti permasalahan
e. Langkah selanjutnya adalah bertanya kepada setiap prang secara
opsional untuk memvisualisasikan organisasi yang mereka miliki
sebagai suatu pohon. Setiap orang diminta menentukan masalah
utama yang mereka hadapi, yaitu pada akar, inti, ataupun dampak.
f. Jika sebuah kesepakatan sudah dicapai, pihak yang berkonflik dapat
memutuskan isu mana yang ingin mereka selesaikan pertama kali
g. Proses ini dapat berjalan lama dan membutuhkan kelanjutan pada
pertemuan kelompok berikutnya

29
Artikel Kelompok 4

Konflik Buruh-Pengusaha, Sekali Abadi Tetap Abadi


Wednesday, 06 November 2013, 06:09 WIB
Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/13/11/06/mvtcbj-konflik-
buruhpengusaha-sekali-abadi-tetap-abadi

Pada satu sesi diskusi informal di sela pertemuan tahunan Dana Moneter
Internasional (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat, Oktober lalu,
seorang aktivis LSM dari Brasil mengukapkan perihal konflik abadi dalam
ekonomi. Kata dia, selain perseteruan antara setan dan manusia, ada
satu lagi konflik abadi yang hingga kapan pun sulit dicarikan titik temunya.
Itu adalah konflik antara buruh dan majikan, konflik kelas pekerja dengan
kaum borjuis.

Tak heran, kata dia, pada forum-forum internasional, terutama forum


ekonomi, reformasi kebijakan buruh selalu menjadi agenda penting untuk
dituntaskan. Jika kita bentangkan tali dari Selandia Baru di Benua
Australia ke Barbados di Benua Amerika, atau dari Yaman di Timur
Tengah ke Inggris di Eropa, daftar konflik tuntutan gaji, kesejahteraan
buruh, hingga aksi mogok paling banyak menghiasi tali itu. Makanya,
kata aktivis Brasil itu, sejak kematian tokoh gerakan kiri, Karl Marx,
hingga saat ini Eropa terus digentayangi hantu yang disebut marxisme.

Memang, terlalu ekstrem untuk membandingkan konflik abadi buruh-


pengusaha dengan manusia dan setan, selepas iblis diusir dari surga
gara-gara mengingkari penciptaan manusia (Adam). Tapi sebetulnya,
tidak salah-salah amat untuk mencap konflik buruh-borjuis ini bersifat
abadi, dalam pengertian duniawi. Lihat saja, separuh dunia masih
menghadapi demonstrasi dan tuntutan buruh, termasuk di negara-negara
maju seperti Amerika Serikat (AS).

Di Indonesia, kita tahu sendirilah, ini seperti konflik tanpa ujung. Setiap
tahun kita selalu dihadapkan periodisasi demonstrasi butuh, mulai dari
yang terkait dengan hari-hari tertentu maupun yang tak terukur. Untuk
yang pertama, demonstrasi dan ancaman mogok kerja biasanya terjadi
saat merayakan Hari Buruh, penentuan upah minimum, hingga kegagalan
kesepakatan tripartit. Untuk yang kedua, umumnya terjadi ketika buruh

30
mendapat ancaman, intimidasi, gajinya tak dibayar, hak-haknya
diabaikan, hingga pemutusan kerja secara sepihak.

Pertanyaannya, mengapa ini terus terjadi? Jangankan buruh dan


pengusaha, wartawan saja mungkin sudah bosan mengulang-ulang
pertanyaan atas permasalahan ini. Namun, sebetulnya, kata seorang
wartawan dari Korea Selatan yang mengaku penganut Neo-Marxian ini,
tidak perlu orang sekelas Adam Smith, Joseph Stiglitz, atau Ben Bernanke
untuk menjawab pertanyaan ini. Dia menilai, ini pertanyaan mudah yang
bisa dijawab, bahkan oleh buruh itu sendiri.

Sedikitnya ada tiga latar belakang mengapa konflik buruh-pengusaha


terus terjadi, bahkan sejak zaman sebelum dunia modern lahir. Ibaratnya,
seperti dua kutub yang tidak mungkin disatukan. Pertama, terkait dengan
filosofi ekonomi antara pengusaha dan buruh. Efisiensi dan mencari
untung sebesar-besarnya selalu menjadi target pengusaha, di mana pun.
Ini lumrah, alamiah, dan memang begitu seharusnya. Buruh memiliki
pandangan berbeda. Filosofi mereka: bisa hidup layak, aman secara
finansial, sejahtera, dan mendapat penghasilan tinggi. Apalagi, mereka
percaya bahwa kayanya pengusaha muncul dari keringat buruh.

Kedua, pemilik modal menganggap buruh adalah komoditas, bukan aset


yang bernilai tinggi. Sebagai komoditas, buruh tidak ada bedanya dengan
produk yang dihasilkan, termasuk nilainya. Semakin banyak produk yang
dihasilkan, semakin murah harga produk itu. Hukum pasar ini pun berlaku
buat buruh. Sementara, buruh menilai diri mereka adalah aset
perusahaan seperti batu berharga yang harus dibayar mahal. Karena aset,
gaji mereka pun harus layak dan bagus, hidup keluarga harus terjaga.
Ketiga, buruh ingin hari-hari dalam kehidupan mereka dimasukkan
sebagai faktor pendukung penentuan gaji. Jika mereka bekerja lima jam
sehari, mereka menganggap bukan faktor lima jam itu yang dihitung, tapi
jam-jam lainnya juga. Tak heran, jika kemudian buruh membuat daftar
kebutuhan hidup layak (KHL) puluhan, bahkan sempat di atas angka
seratus. Pengusaha? Mereka memandang nilai buruh berdasarkan hukum
permintaan dan penawaran tadi alias hukum pasar.

31
Lembar Kerja Kelompok 4
A. Tema Artikel: ………………………………………………………………………………………..

B. Hasil Analisis Konflik Sosial

32
C. Resolusi Konflik yang dapat dilakukan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

33
Materi Kelompok 5: Analisis Kekuatan Konflik

Teknik analisis kekuatan konflik atau sering disebut force field


analysis (FFA) merupakan sebuah alat bantu analisis yang menunjukkan
bentuk persebaran kekuatan dari kedua belah pihak yang mengalami
konflik. Persebaran kekuatan yang dimaksud adalah perbedaan
kemampuan untuk mengontrol, mengatur, atau menekan pihak lawan
yang memungkinkan terjadinya tekanan atau penguasaan terhadap pihak
lainnya.
Bentuk analisis kekuatan konflik dapat bermacam-macam, bisa
berdasarkan kekuatan fisik, seperti banyaknya jumlah anggota yang
berkonflik, penggunaan senjata, kekuatan non-fisik (seperti pengaruh
kedudukan dan peran seseorang, bentuk tekanan-tekanan psikis, dan
pengaruh politik).

Kekuatan Positif Kekuatan Negatif


(Dukungan) (Rintangan)

Gambar 5.
Analisis Kekuatan Konflik

34
Gambar di atas menunjukkan adanya kekuatan negative dan positif
yang dipisahkan oleh sebuah garis. Garis tengah yang membagi kekuatan
tersebut adalah batas titik temu dari kedua kekuatan yang bertumbukan.
Tanda panah yang saling berhadapan mempresentasikan bentuk
kekuatan tiap-tiap pihak dari beragam kategori. Adapun perbedaan
ukuran, tebal dan tipis, panjang ataupun pendek tanda panah tersebut
menunjukkan besar kecilnya suatu kekuatan.
Adapun tujuan penggunaan teknik analisis kekuatan konflik sebagai
berikut:
a. Untuk mengidentifikasi dan memperoleh gambaran lengkap tentang
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi suatu konflik. Sebuah konflik
dapat terjadi karena adanya kelompok yang sedang memperjuangkan
sesuatu dan ada kelompok yang merintanginya. Selain itu, bentuk
kekuatan yang mendorong ataupun menghambat konflik tidak hanya
satu, bisa jadi lebih bervariatif
b. Menyediakan suatu cara untuk mengidentifikasi kekuatan positif dan
negative serta menilai berbagai kekuatan dan kelemahannya. Dengan
memetakan kekuatan, Anda dapat mengetahui, kekuatan yang
cenderung positif dan kekuatan yang cenderung negative. Positif dan
negative disini bisa dilihat dari arah serta dampak yang ditimbulkan
selama konflik berlangsung
c. Membantu mengukur besarnya kekuatan suatu kelompok dalam
mempengaruhi orang lain. Teknik ini juga dapat digunakan oleh pihak
yang berkonflik untuk mengukur pemetaan kekuatan yang dimiliki.
Menentukan seberapa besar kekuatan kelompok mereka untuk
menekan atau mempengaruhi kelompok lain. Dengan demikian, dapat
dicari sisi kelemahan untuk ditekan
d. Membantu membuat keputusan dalam pemecahan masalah dengan
meningkatkan kekuatan positif dan menurunkan kekuatan negative.
Melalui pemetaan kekuatan, akan dapat diketahui letak titik kelemahan

35
dan titik kekuatan pada suatu kelompok yang berkonflik. Dengan
demikian, dapat diupayakan usaha menekan dampak negative konflik
dari sisi kelemahannya
Langkah-langkah penggunaan alat analisis konflik berbasis kekuatan
konflik sebagai berikut:
a. Alat analisis konflik berbasis kekuatan konflik hampir sama dengan
teknik piramida. Kumpulkan data mengenai konflik yang diteliti,
kemudian perhatikan perkembangan konflik yang terjadi. Lihat
persebaran isu yang muncul dari tiap-tiap pihak. Konflik biasanya
muncul dimulai dari konflik manifest (nyata) tiap individu. Anda perlu
mencari tahu isu yang menyebabkan konflik tersebut dan persebaran
isu yang berkembang.
b. Petakan kekuatan dengan melihat sasaran yang dituju dari tiap-tiap
pihak yang berkonflik. Setiap pihak yang berkonflik pasti memiliki
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini biasanya ditunjukkan dengan
besarnya upaya yang dilakukan untuk memperjuangkannya
c. Setelah mengetahui tujuan tiap-tiap pihak, gambarkan peta kekuatan
konflik dengan cara membuat garis tengah dalam kertas. Tempatkan
kekuatan yang tergolong positif pada sisi kiri. Adapun kekuatan yang
bersifat negative diletakkan pada posisi kanan
d. Berdasarkan informasi kekuatan yang telah diperoleh, gambarlah
tanda panah yang saling menunjuk. Panah yang saling sejajar
menunjukkan kekuatan yang bertumbukan. Gunakan variasi tebal tipis
tanda panah atau panjang pendek yang menunjukkan besar kecilnya
kekuatan. Misalnya, panah yang panjang menunjukkan kekuatan yang
lebih dominan dan panah yang lebih pendek menunjukkan kondisi
sebaliknya.

36
Artikel Kelompok 5
Warga Syiah Sampang diserang, satu tewas

Minggu, 26 Agustus 2012 17:39 WIB | 9.736 Views


Sumber: http://www.antaranews.com/berita/329518/warga-syiah-
sampang-diserang-satu-tewas

Sampang (ANTARA News) - Warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang,


Madura, Jawa Timur, kembali diserang sekelompok massa pada Minggu,
menyebabkan satu orang pengikut aliran itu tewas dan lima orang lainnya
terluka.
"Dari enam orang itu, satu orang diantaranya tewas," kata Kepala Bagian
Operasional (Kabag Ops) Polres Sampang, Kompol Alfian Nurizal.

Menurut dia, lima korban yang terluka terdiri atas empat orang dari
kelompok Syiah dan seorang lainnya dari kelompok penyerang.
Peristiwa yang menurut warga terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan
menurut versi polisi pukul 11.00 WIB itu bermula saat keluarga pimpinan
Islam Syiah, Ustazd Tajul Muluk, hendak mengunjungi keluarganya di
penjara dengan mengendarai mobil.

Dalam perjalanan, mobil yang dikendarai keluarga Ustadz Tajul Muluk--


terpidana dalam kasus penistaan agama yang tengah menjalani hukuman
di Lapas Sampang, dicegat sekelompok pengendara motor yang
mengolok-olok keluarga itu sebagai penganut ajaran sesat.

Akibat gangguan diganggu kelompok massa bersepeda motor ini,


keluarga Tajul mengurungkan diri berkunjung ke Lapas Sampang. Akan
tetapi aksi sekelompok massa bersepeda motor tersebut tidak sampai
disitu saja.

Para pengendara motor ini terus membuntuti keluarga Ustazd Tajul


hingga ke rumah mereka di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam,
Kecamatan Omben, Sampang.

"Saat itulah terjadi bentrok antara kedua belah pihak," tutur Alfian Nurizal.

Bentrok antara kelompok bersepeda motor dengan keluarga kelompok


Islam Syiah itu membuat warga lain yang selama ini tidak suka dengan
penganut aliran itu berdatangan.

Massa bersenjata tajam mendatangi perkampungan warga Syiah di Dusun


Nanggernang dan membakar sebagian rumah pengikut aliran itu.

37
Sekitar seribu warga bersenjata tajam mengepung pengikut kelompok
Islam Syiah. Petugas dari kepolisian Polres Sampang berupaya
menghentikan aksi itu dengan menurunkan petugas gabungan dan
meminta bantuan TNI.

Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa


Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, kali ini
merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini.
Aksi serupa juga terjadi pada akhir Desember 2011. Ketika itu rumah
pimpinan Islam Syiah, mushalla dan madrasah kelompok Syiah diserang
oleh massa. Sebanyak 200 pengikut Islam Syiah terpaksa mengunggi ke
tempat yang lebih aman.

38
Lembar Kerja Kelompok 5
A. Tema artikel: ………………………………………………………………………………………..

B. Hasil Analisis Konflik Sosial

39
C. Resolusi Konflik yang dapat dilakukan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………

40

Anda mungkin juga menyukai