Anda di halaman 1dari 3

Berliana Dwi Jayanti S

201710200311059
6C Agroteknoogi
TEKNIK VERTIKULTUR PADA TANAMAN SAWI

Permintaan terhadap komoditas sayuran di Indonesia terus meningkat, seiring


dengan meningkatnya penduduk dan konsumsi per kapita. Disamping itu, sebagian
masyarakat juga menginginkan produk hortikultura yang lebih berkualitas. Meningkatnya
jumlah komoditas sayuran dari luar negeri mengindikasikan bahwa permintaan pasar
belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Apabila kondisi ini terus berlangsung,
maka Indonesia akan sangat tergantung dari produk hortikultura impor. Konsumsi
sayuran di Indonesia tahun 2010 adalah 37.30 kg/kapita/tahun. Hal ini masih rendah dari
syarat minimum yang direkomendasikan oleh FAO yakni 65 kg/kapita/tahun. Disisi lain
produksi sayuran masih rendah dari konsumsi yakni sebesar 35.30 kg/kapita/tahun.
(Deptan, 2011), dengan demikian peningkatan produksi tanaman sayuran masih terbuka
lebar untuk memenuhi kebutuhan dan tingkat konsumsi sayuran nasional, salah satu
diantaranya adalah Sawi
Tanaman Sawi (Brassica juncea) merupakan salah satu jenis sayuran famili kubis-
kubisan (Brassicaceae) yang diduga berasal dari negeri China. Sawi masuk ke Indonesia
sekitar abad ke -17, namun sayuran ini sudah cukup populer dan diminati di kalangan
masyarakat. Tanaman Sawi rasanya enak serta mempunyai kandungan gizi yang
dibutuhkan tubuh manusia seperti energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, Fosfor, zat
Besi,Natrium, Kalium dan sumber vitamin A. Kandungan gizi serta rasanya yang enak,
membuat sawi menjadi salah satu produk pertanian yang diminati masyarakat, sehingga
mempunyai potensi serta nilai komersial tinggi.
Usaha untuk meningkatkan produksi Sawi dapat dilakukan dengan diversifikasi pola
budidaya dengan menjaga kesuburan lahan pertanian supaya kesinambungan usaha
pertanian tetap terlaksana. Pertanian berkesinambungan adalah suatu teknik budidaya
pertanian yang menitik beratkan adanya pelestarian hubungan timbal balik antara
organisme dengan sekitarnya. Sistem pertanian ini tidak menghendaki penggunaan
produk berupa bahan-bahan kimia yang dapat merusak ekosistem alam. Pertanian
berkesinam-bungan identik dengan penggunaan pupuk organik yang berasal dari limbah-
limbah pertanian, pupuk kandang, pupuk hijau, kotoran manusia, serta kompos, dengan
penerapan pertanian organik diharapkan keseim-bangan antara organisme dengan
lingkungan tetap terjaga.
Jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat setiap
tahunnya, sehingga luas lahan yang tersedia dan dapat diolah untuk areal pertanian juga
semakin terbatas. Bahkan tidak sedikit pula lahan pertanian yang telah beralih fungsi
menjadi, seperti areal industri, perumahan dan gedung-gedung perkantoran. Hal ini tentu
menjadi peluang untuk mengembangkan vertikultur secara intensif. Sistem vertikultur ini
sangat cocok diterapkan bagi petani atau perorangan yang mempunyai lahan sempit,
namun ingin menanam tanaman sebanyak-banyaknya.
Produksi tanaman yang dibudidayakan secara vertikultur dipengaruhi oleh media
tanam yang digunakan, dan bahan yang digunakan sebagai wadah vertikultur. Beberapa jenis
bahan yang banyak digunakan sebagai media tanam dalam vertical garden adalah sekam
bakar, serbuk pakis, cocopeat, moss, pupuk kandang dan lain-lain. Jenis media ini dipilih
sesuai syarat tumbuh optimal suatu jenis tanaman. Media tanam yang digunakan dalam
penelitian ini ialah tanah, humus, cocopeat dan arang sekam. Sedangkan wadah yang
digunakan ialah karung goni, karpet, dan plastik. Interaksi antara media tanam dan wadah
vertikultur diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi dari tanaman yang
dibudidayakan secara vertikultur. Metode yang dapat digunakan sangat beragam, diantaranya
dengan metode bambu, plempem, pipa, pot dan karung plastik. Tapi yang sering
digunakan adalah bambu dan pipa, alasannya karena kedua metode ini sangat mudah untuk
dilakukan dan mudah untuk mencari bahannya. Selain itu, dalam pembuatan kerangka
dapat menggunakan kayu, bambu, tali, paku.
Kelebihan bertanam secara vertikultur adalah sebagai berikut :
1. Dapat menghemat lahan dengan hasil maksimal
2. Dapat diperoleh hasil yang lebih banyak dibandingkan dengan cara biasa. Semakin
banyak tingkatnya, maka akan semakin berlipat hasil yang akan diperoleh
3. Tidak tergantung musim
4. Sangat praktis sehingga mudah diaplikasikan
5. Pemeliharaannya relatif sederhana
6. Lebih sedikit gulma yang tumbuh
7. Dapat menciptakan keindahan dan keasrian lingkungan
8. Dalam skala yang agak besar dapat menambah sumber ekonomi keluarga
Untuk melakukan penanaman sawi secara vertikutur, ada beberapa langkah yang
harus dilakukan, beberapa diantaranya sebagai berikut :
1. Penyiapan bibit sawi berkualitas
Untuk memulai dalam pembudidayaan tanaman sawi secara vertikultur,
sebaiknya yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah penyiapan bibit sawi
berkualitas tinggi. Bibit sawi dikatakan berkualitas apabila bibit sawi tersebut dibeli
dari toko tanaman yang professional dan bibit sawinya telah terverifikasi dari badan
pertanian atau lembaga terkait lainnya yang mampu bertanggungjawab atas edara
bibit tersebut. Pastikan di dalam kemasan bibit sawi tersebut tertuliskan bahwa bibit
telah terbebas dari penyakit tanaman tertentu. Setelah bibit didapatkan siapkan
terlebih dahulu lahan tanam vertikultur.
2. Penyiapan lahan, media danproses penanaman sawi vertikultur
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk penyiapan media dan lahan
tanam secara vertikultur adalah :
- Siapkan paralon PVC besar dengan ukuran ideal
- Buatkan lubang ttanam pada paralon PVC dengan beberapa lubang tanam. Untuk
melubangi paralon PVC dapat menggunakan pisau dapur yang tajam atau dengan
alat khusus melubangi PVC dengan cepat menggunakan hole saw danmesin bor.
- Buatlah jarak antar lubang sekitar 10-13 cm, sebaiknya gunakanlah paralon
ukuran 1-2 meter untuk budidaya sawi secara vertikultur supaya lubang yang
dibuat juga banyak untuk ditanami beberapa macam bibit sawi.
- Setelah selesai membuat lubang tanam para paralon PVC, menegakkan paralon
PVC, kemudian isi bagian dalam PVC dengan tanah humus atau tanah liat yang
ditambahkan pupuk kandang dari kotoran ayam dengan perbandingan 1:1.
- Menanam bibit sawi pada lubang yang telah dibuat dengan 1-2 bibit untuk tiap 1
lubang tanam.
- Setelah bibit ditanam, melakukan penyiraman ruti setiap hari, pastikan bahwa
tanah dimedia vertikultur tetap lembab jangan sampai kering.
- Biasanya bibit sawi akan tumbuh dan berkecambanh pada umur 4-7 hari sejak
tanam awal. Pada masa inilah sebenarnya bibit sawi telah siap untuk dilakukan
proses perawatan berikutnya.
3. Kegiatan perawatan tanaman sawi vertikultur
Proses perawatan sawi vertikultur bertujuan untukmenjadikan benih-benih
sawi yang telah berkecambah menjadi tanaman sawi dewasa yang siap untuk
dikonsumsi atau dijual dipasaran. Proses kegiatan perawatan tanaman sawi vertikultur
meliputi :
- Penyiraman
Ini merupakanperawatan mutlak yang harus diperhatikan oleh para petani
vertikultur. Penyiraman ditujukan bagi tanaman yang tanahnya mengalami
kekeringan. Pstikan bahwa lahan tanam vertikultur sawi agar tetap lembab ddan
ketercukupan airnya terpenuhi dengan sempurna. Hal ini dilakukan bukan tanpa
alasan, karena terbukti akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan
sawi serta menentukan besar kecilnya produktivitan panen nantinya. Penyiraman
dilakukan dengan menggunakan saluran-saluran pipa semprot atau manual
menggunakan gayung yang disiramkan ke satu per satu tanaman.
- Pemberian pupuk organik cair
Beberapa petani vertikultur telah menambahkan/menyemprotkan pupuk
organik cair (POC) pada akar tanaman yang ditanam. POC dapat diperoleh dari
hasil fermentasi air kencing kelinci, sapi dll.
- Pengontrolan tanaman dari hama dan penyakit
Beberapa tanaman vertikultur sayur ada yang terserang hamadan penyakit.
Namun, jika perawatan dan penjagaan kesehatan lingkungan dilakukan dengan
baik, maka dimungkinkan tanaman akan terhindar dari hama maupun penyakit.
4. Pemanenan
Biasanya tanaman sawi secara vertikultur dapat segera dipanenketika tanaman
sawii berumur 1-2 bulan. Kecepatan pemanenam sawi secara vertikultur juga
ditentukan oleh proses penanaman dan perawatan tanaman secara benar dan terarah.
Cara panen sawi yaitu dengan cara mencabut sawi yang telah dewasa ( yang sudah
siiap dipanen berdasarkan kebutuhan ) hingga pencabutan sampai pada akarnya.
Setelah itu, bersihkan akar-akar sawi hingga bersih ebelum dijual atau dikonsumsi.