Anda di halaman 1dari 12

Materi Inti 8.

Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah


Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

6 URAIAN MATERI
Anggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
(dekonsentrasi, tugas pembantuan dan BOK)

A. Sumber Dana APBD dan APBN (dekonsentrasi, tugas pembantuan, BOK)


(In-class)
Salah satu konsep penting yang diilustrasikan pada sistem pembiayaan kesehatan tidak
bertindak sendiri dalam mencapai tujuan akhir n dalam mencapai UHC; kebijakan
terkoordinasi dan implementasi di seluruh fungsi sistem kesehatan sangat penting untuk
membuat kemajuan pada tujuan yang diinginkan, seperti meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan (Kutzin, 2013). Anggaran negara pada suatu tahun secara sederhana bisa
diibaratkan dengan anggaran rumah tangga ataupun anggaran perusahaan yang memiliki dua
sisi, yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran. Penyusunan anggaran senantiasa dihadapkan
pada ketidakpastian pada kedua sisi. Ketidakpastian yang dihadapi rumah tangga dan
perusahaan dalam menyusun anggaran juga dihadapi oleh para perencana anggaran negara
yang bertanggung jawab menyusun Rencana Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara
(RAPBN) yang akan menjadi Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) nantinya
setelah disahkan oleh pemerintah dengan persetujuan DPR. APBN adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Penerimaan dan
pengeluaran untuk anggaran negara (APBN) lazim disebut pendapatan dan belanja. Pada
prinsipnya, pemerintah dapat menciptakan ruang fiskal dengan cara berikut (World Bank,
2006):
a. Melalui langkah-langkah pajak atau dengan memperkuat administrasi
perpajakan;
b. Memotong pengeluaran yang prioritasnya rendah untuk memberikan ruang
bagi pengeluaran yang mempunyai prioritas lebih;
c. Sumber pinjaman, baik dari dalam negeri atau dari sumber eksternal /atau
luar negeri;
d. Meminta kepada bank sentral untuk mencetak uang yang akan dipinjamkan
kepada pemerintah; atau
e. Menerima hibah dari sumber luar.

6
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Tabel 1. Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan dan Model Pembayaran

Sumber : Wagstaff, 1999


Sistem Anggaran Negara
Sistem anggaran negara saat ini terdiri dari 2 (dua) komponen utama:
a. Anggaran untuk pemerintah pusat yang dibagi dalam:
1) Anggaran rutin yang besarnya kira-kira 62 persen dari total pengeluaran
meliputi: belanja pegawai, belanja barang dan subsidi (BBM dan bukan
BBM)
2) Anggaran pembangunan yang besarnya kira-kira 14 persen dari total
pengeluaran meliputi pembiayaan rupiah dan pembiayaan proyek. Untuk
anggaran pembangunan, peranan dana yang berasal dari negara-negara
donatur saat ini masih cukup besar.
b. Anggaran belanja untuk daerah, yang besarnya kira-kira 24 persen dari total
pengeluaran. Anggaran ini terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi
Hasil (DBH), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana tersebut di transfer ke
pemerintah daerah baik provinsi, kabupaten maupun kotamadya.
Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan
tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa
satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. APBD terdiri
atas
a. anggaran pendapatan, terdiri atas;

7
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi Pajak Daerah, Retribusi


Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah, dan Penerimaan lainnya.
2) Bagian Dana Perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi
Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus.
3) Lain-lain pendapatan yang sah seperti Dana Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi
Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus, Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah
Lainnya dan Pendapatan Lain-Lain.
b. Anggaran Belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas
pemerintahan di daerah.
c. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran
yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun
tahun-tahun anggaran berikutnya.

Sumber: Kemendagri, 2018


Gambar 1. Gambaran APBD Tahun 2016
Pendapatan dan Belanja yang tidak berimbang, menunjukkan surplus dan defisit yang lebih
jelas. Sebagian besar daerah menunjukkan bahwa perencanaan untuk pendapatan perlu
dioptimalkan. Mengapa pendapatan perlu dioptimalkan dan muncul defisit, beberapa
argumen menyebutkan pada anggapan bahwa pengambil keputusan yang dipilih secara lokal
lebih memilih untuk menghindari kekurangan anggaran, karena potensi defisit dapat
8
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

mengharuskan para pengambil keputusan untuk membatalkan keputusan anggaran mereka


dan dapat mencerminkan secara negatif pada kepemimpinan mereka. Akhirnya, para
pemimpin politik yang dipilih secara lokal dapat memilih untuk memiliki surplus anggaran
yang tidak terduga (karena pendapatan yang diremehkan) yang dapat dialokasikan melalui
anggaran tambahan dengan cara yang memberikan keuntungan kepada petahana ketika akan
mencalonkan kembali (Shah, 2007).

Sumber: Kemendagri, 2018


Gambar 2. Gambaran APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/ Kota Tahun 2016
Dana Perimbangan Dana Transfer untuk Daerah dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Poster dana transfer dari tahun ke tahun juga mengalami perubahan. Perubahan ini merupakan
dari kebijakan pemerintah untuk memenuhi pemerataan kebutuhan daerah.

Sumber: Kemendagri, 2018


Gambar 3. Anggaran dan Realisasi APBD Tahun 2017
Penyelarasan perencanaan nasional dan perencanaan daerah merupakan bagian penting dari
kebijakan pembangunan kesehatan. Termasuk di sini perencanaan dan penggunaan anggaran
dari berbagai sumber pendanaan baik dari Pemerintah Pusat (Kantor Pusat, Kantor Daerah,
Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan) maupun dana transfer ke daerah (Dana Perimbangan,
Dana Insentif Daerah, Dana Otonomi Khusus, dan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa

9
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Yogyakarta), pemerintah desa maupun sumber lain. Dana perimbangan merupakan


pendapatan daerah yang harus tercantum dalam APBD, salah satunya adalah Dana Alokasi
Khusus.
Dana Dekonsentrasi adalah dana yang digunakan sebagai pelimpahan sebagian Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada gubernur dan
bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum. sedangkan dana
Tugas Pembantuan adalah dana untuk penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah
otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Provinsi kepada kabupaten/kota untuk melaksanakan
sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi.
Pemetaan Sumber - Sumber Anggaran Kesehatan
Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/ Kota menghadapi tantangan dalam alokasi sumber –
sumber dana. Untuk memastikan hal tersebut perlu dilakukan pemetaan sumber sumber dana
di daerah. Alokasi sumber dana tidak hanya meminta apda Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah, namun dinas kesehatan dapat menciptakan peluang adanya aliran dana ke dinas
kesehatan. Berikut ini potensi sumber dana di daerah yang dapat menjadi peluang untuk
memancing sumber dana lain ke dinas kesehatan.
Kebutuhan perbekalan kesehatan dan
DEKON
DEKON bahan pendukung diagnosis,
operasional program dan
APBN
APBN DAK
DAK menyediakan kebutuhan
pendanaan kegiatan peningkatan
BOK
BOK SDM, Promosi Kesehatan
peluang daerah untuk
melimpahkan
APBD
APBD kegiatan ke
pembiayaan lainnya
Jasa Pelayanan, Pengobatan,
Kemenkes Pemeriksaan Penunjang, kamar rawat,
Kemenkes JKN
JKN Promosi Kesehatan dan Edukasi di
Fasilitas Kesehatan (INA CBG) dan
luar gedung (Non-kapitasi)

Indikasi over
Swasta
Swasta budgeting pada
salah satu sumber
pembiayaan

Hibah
Hibah

Gambar 4. Sumber Dana Di Daerah


Dinas Kesehatan dapat melihat peluang untuk menggali sumber – sumber dana untuk
membiayai program dan kegiatan.
Tabel 2. Contoh Pemetaan Sumber Dana di Daerah Untuk Kesehatan

10
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Sumber Dana Pasti Setengah Pasti Belum Pasti


APBN - DAU √
APBN - DAK √
APBN - DBH √
APBN – Dana lain √
APBD – PAD √
APBD – Dana JKN √
APBD – Dana Lain √
Dana Swasta √
Tabel pemetaan dimanfaatkan untuk koordinasi memudahkan kepastian adanya dana – dana
untuk penyusunan Rencana Kerja (Renja) Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) yang
bersumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD menekankan pada
sinkronisasi pendanaan antara Pusat dan Daerah khususnya untuk Dana Dekonsentrasi
(Dekon), Tugas Pembantuan (TP), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana bagi hasil
(DBH). Dengan mengetahui dan memahami kepastian alokasi sumber dana kesehatan,
diharapkan penyusunan serta kegiatan umum perencanaan APBD dapat berjalan dengan baik
dan tepat waktu.
B. Sistem Asuransi Kesehatan (JKN) dalam mencapai UHC (Online)
Pooling risiko kesehatan memungkinkan pembentukan asuransi dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dengan memungkinkan individu untuk membayar jumlah yang
telah ditetapkan untuk melindungi diri terhadap biaya pengobatan yang besar tak terduga. Ada
berbagai cara bagi pemerintah untuk membiayai program jaminan kesehatan masyarakat, dan
masing-masing harus dinilai berdasarkan pemerataan, efisiensi, keberlanjutan, kelayakan
administrasi, dan biaya administrasi. Sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan
menengah memiliki beberapa pengaturan dalam pengumpulan dana publik dan swasta, dan
pemerintah harus berusaha mengurangi fragmentasi dengan demikian dapat meningkatkan
ekuitas dan efisiensi, biaya administrasi yang lebih rendah, dan tersedianya pooling risiko dan
pembelian layanan kesehatan yang lebih efektif (Gottret dan Schieber, 2006).
Semua dana untuk kesehatan ditampung pada asuransi kesehatan baik publik mapun swasta
dan di anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penampungan dana tersebut
mengalokasikan kembali dana dari individu yang sehat ke individu yang sakit, kemudian dari
individu dengan risiko sakit lebih rendah untuk risiko sakit tinggi yang memerlukan biaya
perawatan yang tinggi. Penampungan – penampungan dana kesehatan (pooling) pada sistem
pembiayaan nasional didominasi dari instansi pemerintah. Tahun 2014 di Indonesia terbentuk
Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan. Terbentunyak pooling ini dapat mengurangi harga
pembayaran langsung (out of pocket) dari pasien yang membayar langsung pada saat
menerima pelayanan kesehatan dan meyakinkan kembali perlindungan keuangan terhadap
pengeluaran katastropik kesehatan dan equity pada pelayanan yang digunakan (Scieber. G,
Baeza. C, Kress. D, Et.al, 2014). Namun, mengelola dana keshatan adalah sebagai cara agar
pengumpulan nya adil dan efisien. Hal ini yang menjadi tantangan terbesar bagi pengelola
dana kesehatan (Gottret dan Schieber, 2006). Peningkatan pengumpulan berkontribusi
terhadap tingginya pembiayaan kesehatan dengan meningkatkan sisi permintaan (demand)
terhadap pelayanan kesehatan.

11
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Di sebagian besar negara, beberapa pengaturan penampungan dijalankan bersamaan, hal ini
mengarah pada risiko fragmentasi. Fragmentasi yang dihasilkan menimbulkan kekhawatiran
terhadap ekuitas dalam pelayanan yang digunakan di kelompok yang berbeda (across
different group). Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan keuangan
pool risiko yang kecil (Scieber. G, Baeza. C, Kress. D, Et.al, 2014). Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang
diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat
wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
masyarakat bagi yang membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah baik
Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Jaminan sosial sendiri meliputi: a)

Jaminan Kesehatan, b) Jaminan Kecelakaan Kerja, c) Jaminan Hari Tua, d) Jaminan

Pensiun, e) Jaminan Kematian. BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan


merupakan badan atau perusahaan asuransi yang menyelenggarakan perlindungan kesehatan
bagi pesertanya. BPJS Kesehatan mulai berooperasi pada tanggal 1 Januari 2014 berdasarkan
Undang –Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan badan hukum yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan.
Siapa saja yang menjadi Peserta JKN?
Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
menjelaskan bahwa peserta JKN yaitu seluruh masyarakat Indonesia. Kepesertaanya JKN
sendiri adalah bersifat wajib, tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena metode
pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah. Kepesertaan BPJS Kesehatan
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Peserta Bukan
Penerima Bantuan Iuran (Non-PBI).
a. Kepesertaan PBI (Perpres No 101 Tahun 2011) dengan kriteria Peserta PBI yaitu
orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu. Kriteria Fakir Miskin dan
orang tidak mampu ditetapkan oleh menteri di bidang sosial setelah berkoordinasi
dengan menteri dan /atau pimpinan lembaga terkait. Daerah perlu memetakan
rancangan pendanaan untuk masyarakat PBI. Kepastian data harus ada untuk
memastikan data masyarakat yang dijamin PBI tidak double atau seharusnya by name
by addres.
Tabel 3. Sinkronisasi Data Peserta PBI di Daerah
Sumber Data PBI APBN PBI APBD
Kementerian Sosial
Tingkat Pusat
Data tingkat Daerah
Penggunaan data terpadu yang ditetapkan oleh Menteri dirinci menurut provinsi dan
kabupaten/kota. Jumlah peserta PBI Jaminan Kesehatan yang didaftarkan ke BPJS
Kesehatan sejumlah 86,4 juta jiwa tahun 2014, tahun 2018 yaitu 92,4 juta jiwa dan
tahun 2019.
b. Peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non-PBI)

12
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan sebagaimana yang dimaksud merupakan peserta yang
tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas (sesuai Perpres No 12
Tahun 2013):
1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya, yaitu Pegawai Negeri Sipil;
Anggota TNI; Anggota Polri; Pejabat Negara; Pegawai Pemerintah Non Pegawai
Negeri; Pegawai swasta; dan peserta yang tidak termasuk golongan sebelumnya.
2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya, terdiri atas pekerja di
luar hubungan kerja dan pekerja mandiri.
3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya, yaitu Investor , Pemberi Kerja, dan
Penerima pensiun
4) Veteran
5) Perintis Kemerdekaan; dan
6) Bukan Pekerja yang tidak termasuk 1) sampai 5) yang mampu membayar iuran.
Perkembangan Kepesertaan JKN
Peserta JKN telah mencapai 201 juta peserta diseluruh Indonesia yang sekarang mempunyai
penduduk kurang lebih 257 juta jiwa. Salah satu target sasaran poko yang akan dicapai pada
tahun 2019 menurut buku Peta Jalan JKN 2019 adalah seluruh penduduk Indonesia menjadi
peserta JKN. Target 2019 masih belum dicapai, kurang lebih 22% penduduk Indonesia belum
menjadi peserta JKN. Upaya – upaya terus dilakukan oleh Pemerintah dan BPJS Kesehatan
agar mencapai target. Hal ini juga membutuhkan kerjasama lintas sektor sehingga Presiden
mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2017 tentang Optimalisasi Pelaksanaan
Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Sumber: BPJS Kesehatan, 2018


Gambar 5. Jumlah Peserta JKN
Kementerian dan Lembaga Pemerintah diinstruksikan melakukan tugas, fungsi, dan
kewenangannya masing – masing untuk menjamin keberlangsungan dan meningkatkan
kualitas pelayanan bagi peserta JKN. Namun, instruksi ini hanya berlaku satu tahun. Rencana

13
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

tindak lanjut setelah masa berlaku instruksi habis perlu direncanakan dan perlu dilakukan
evaluasi terkait pengaruh instruksi presiden terhadap pelaksanaan JKN tahun 2018.
Iuran Peserta JKN
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 yang telah dirubah Peraturan Presiden
Nomor 12 Tahun 2013 kemudian dirubah kembali Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2016
tentang Perubahan Ketiga atas Perpres No. 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan, jenis
Iuran dibagi menjadi:
a. Iuran Jaminan Kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah daerah
dibayar oleh Pemerintah Daerah (orang miskin dan tidak mampu).
b. Iuran Jaminan Kesehatan bagi peserta Pekerja Penerima Upah (PNS, Anggota
TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri dan
pegawai swasta) dibayar oleh Pemberi Kerja yang dipotong langsung dari gaji
bulanan yang diterimanya.
c. Pekerja Bukan Penerima Upah (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja
mandiri) dan Peserta bukan Pekerja (investor, perusahaan, penerima pensiun,
veteran, perintis kemerdekaan, janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau
perintis kemerdekaan) dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.
Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta PBI Jaminan Kesehatan serta penduduk yang
didaftarkan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp 23.000,00 (dua puluh tiga ribu rupiah) per
orang per bulan. Sementara bagi peserta perorangan akan ditentukan ketentuan iuran sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhannya. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta Pekerja Bukan
Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja sesuai dengan Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 TentangPerubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor
12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan yaitu:
a. sebesar Rp 30.000,00 (tiga puluh ribu rupiah) per orang per bulan dengan
Manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
b. sebesar Rp 51.000,00 (lima puluh satu ribu rupiah) per orang per bulan dengan
Manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II.
c. sebesar Rp 80.000,00 (delapan puluh ribu rupiah) per orang per bulan dengan
Manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.
Tabel 4. Jumlah Iuran JKN di Daerah
Jumlah Dana 2014 2015 2016 2017 2018
PBI - APBN
PBI - APBD
PBPU - PNS
PBPU – ABRI/Polri
PBPU – Mandiri
Dst...
Tujuan adanya tabel di atas adalah mengambarkan sinkronisasi jumlah peserta JKN di daerah
dengan gambara iuran diterima di daerah. Hal ini juga dapat menggambarkan iuran yang
14
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

dibayarkan lancar atau menunggak di daerah tersebut.


Pembayaran BPJS Kesehatan Ke FKTP dan FKTL
Model pembayaran atas pelayanan kesehatan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) oleh BPJS Kesehatan dibagi menjadi
beberapa metode.
a. BPJS Kesehatan melakukan pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama (FKTP) secara pra upaya berdasarkan kapitasi atas jumlah Peserta yang
terdaftar di Fasilitas Kesehatan tingkat pertama. Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama
1) Puskesmas Rp 3000,- – Rp.6000,- rupiah sesuai dengan tenaga dokter dan
dokter gigi di Puskesmas,
2) Rumah sakit Kelas D Pratama, klinik pratama, praktik dokter, atau fasilitas
kesehatan yang setara sebesar Rp8.000,00 (delapan ribu rupiah) sampai
dengan Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per peserta per bulan. Besaran ini
juga ditentukan karena jumlah ketenagaan di fasilitas kesehatan sebagai
3) Praktik perorangan dokter gigi sebesar Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) per
peserta per bulan.
FKTP didaerah terpencil dan kepulauan memperoleh kapitasi khusus sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 dengan tarif kapitasi khusus bagi FKTP yang
memiliki dokter sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per peserta per bulan dan tarif
Kapitasi khusus bagi FKTP yang hanya memiliki bidan/perawat sebesar Rp8.000,00 (delapan
ribu rupiah) per peserta per bulan.
b. Pembayaran kepada FKTP tidak hanya menggunakan metode pembayaran
kapitasi. Pembayaran lain untuk FKTP yaitu dengan metode non kapitasi. Tarif
Non Kapitasi ini juga diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan yang telah
mengalami beberapa perubahan.
c. BPJS Kesehatan juga melakukan pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan
rujukan tingkat lanjutan (Rumah Sakit Rujukan) berdasarkan cara Indonesian
Case Based Groups (INA-CBG’s).
Data jumlah pembayaran untuk fasilitas kesehatan di daerah perlu diketahui oleh Pemerintah
Daerah. Salah satu tujuannya yaitu bahwa memastikan iuran dan belanja kesehatan berimbang
atau ada aspek kendali biaya.
Tabel 5. Jumlah Biaya Pelayanan Kesehatan di Daerah
Biaya 2014 2015 2016 2017 2018
Pelayanan
Kapitasi
Non Kapitasi
INA - CBGs

15
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

Sasaran Pokok Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2012 - 2019


Sasaran pokok ini terdapat dalam Peta jalan JKN 2012 – 2019. Peta Jalan ini merupakan
pegangan bagi semua pihak untuk memahami dan mempersiapkan diri serta berperan aktif
untuk mencapai cakupan universal satu Jaminan Kesehatan untuk seluruh penduduk
Indonesia pada Tahun 2019. Pencapaian tersebut perlu dirumuskan sasaran yang akan dicapai
pada tahun 2014 dan sasaran yang akan dicapai pada tahun 2019. Sehingga ditetapkan 8
(delapan) Sasaran Pokok sebagaimana terlampir dalam tabel berikut:
Tabel 6. Sasaran Pokok Peta Jalan JKN Tahun 2012-2019
No Sasaran 1 Januari 2014 Sasaran 1 Januari 2014
BPJS Kesehatan mulai beroperasi BPJS Kesehatan beroperasi dengan
1
baik
BPJS Kesehatan mengelola jaminan Seluruh penduduk Indonesia (yang
kesehatan setidaknya bagi 121,6 juta pada 2019 diperkirakan sekitar 257,5
2
peserta (sekitar 50 juta masih dikelola juta jiwa) mendapat jaminan kesehatan
Badan lain) melalui BPJS Kesehatan
Paket manfaat medis yang dijamin Paket manfaat medis dan non medis
adalah seluruh pengobatan untuk seluruh (kelas perawatan) sudah sama, tidak
penyakit. Namun, masih ada perbedaan ada perbedaan, untuk mewujudkan
3 kelas perawatan di rumah sakit bagi keadilan sosial bagi seluruh rakyat
yang mengiur sendiri dan bagi Penerima
Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya
dibayarkan oleh Pemerintah
Rencana Aksi Pengembangan fasilitas Jumlah dan sebaran fasilitas pelayanan
kesehatan tersusun dan mulai kesehatan (termasuk tenaga dan alat-
4 dilaksanakan alat) sudah memadai untuk menjamin
seluruh penduduk memenuhi
kebutuhan medis mereka
Seluruh peraturan pelaksanaan (PP, Semua peraturan pelaksanaan (PP,
Perpres, Peraturan Menteri, dan Perpres, Peraturan Menteri, dan
5 Peraturan BPJS) yang merupakan Peraturan BPJS) yang merupakan
turunan UU SJSN dan UU BPJS telah turunan UU SJSN dan UU BPJS telah
diundangkan dan diterbitkan diundangkan dan diterbitkan
Paling sedikit 75% peserta menyatakan Paling sedikit 85% peserta menyatakan
puas, baik dalam layanan di BPJS puas, baik dalam layanan di BPJS
6
maupun dalam layanan di fasilitas maupun dalam layanan di fasilitas
kesehatan yang dikontrak BPJS kesehatan yang dikontrak BPJS
Paling sedikit 65% tenaga dan fasilitas Paling sedikit 80% tenaga dan fasilitas
kesehatan menyatakan puas atau kesehatan menyatakan puas atau
7
mendapat pembayaran yang layak dari mendapat pembayaran yang layak dari
BPJS BPJS
BPJS dikelola secara terbuka, efisien, BPJS dikelola secara terbuka, efisien,
8
dan akuntabel dan akuntabel

16
Materi Inti 8. Penganggaran dan Pembiayaan Kesehatan Daerah
Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kepala Dinas Kesehatan

17