Anda di halaman 1dari 2

A.2.3.

7 Refleksi Pembelajaran : Konsep Dasar Ilmu Pendidik

Sebagai individu, manusia mempunyai perbedaan antara satu dengan yang


lainnya. Hal itulah yang menjadikan manusia bersifat unik. Perbedaan ini dapat kita
lihat dari berbagai aspek diantaranya berkaitan dengan postur tubuhnya, kemampuan
berpikirnya, motivasinya, minat dan bakatnya, dunianya, cita-citanya, pretasinya,
hingga peran sosialnya, dan lain sebagainya. Hal ini mejadi dasar bahwa guru
diharapkan dapat memahami siswa untuk mendidik dengan baik.
Dunia pendidikan dan pengajaran mencakup kondisi dan situasi yang sangat
kompleks. Banyak aspek yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan yang
tidak hanya terkait dengan kehidupan di sekolah. Dinamika kehidupan di luar
sekolahpun menjadi penentu, dan kondisinya selalu berubah, seperti kondisi sosial
masyarakat, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dunia kerja.
Setelah mempelajari modul dan berdiskusi dengan kelompok, untuk menjawab
kompleksitas dan dinamika perkembangan kondisi dan situasi dalam dunia
pendidikan tersebut, pengetahuan atau teori dan pengalaman dalam bidang pengajaran
diperlukan,dan aspek lain yang perlu selalu dilakukan oleh guru, yaitu reflection.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran kita tentang apa saja yang
sudah kita lakukan dalam mengajar, dan apa yang sudah diperoleh oleh siswa kita dari
apa yang sudah kita lakukan.Pertanyaan pertanyaan tersebut juga sering muncul
ketika kita menghadapi berbagai masalah dalam mengajar. Dalam menjawab
pertanyaan tersebut kita perlu secara jujur merefleksikan kembali apa yang sudah
kita kerjakan.
Seperti pertanyaan bagaimana sikap kit ajika kita dihadapkan persoalan seperti
pak sigit (dalam KB 1), pertanyaan – pertanyaan seperti
Apakah siswa saya memahami apa yang saya jelaskan? Apakah siswa saya senang
dengan cara saya mengajar? Apakah yang saya lakukan sesuai dengan rencana yang
sudah saya buat? Apakah materi yang saya perkenalkan sudah sesuai dengan tujuan
mereka belajar atau sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah sikap dan perilaku
saya sudah dapat menjadi contoh yang baik baik siswa saya? Apakah siswa saya
senang ketika saya mengajar? Dan pertanyaan yang lainnya.
Guru yang reflektif akan mempunyai keuntungan untuk lebih kreatif. Tidak
tergantung dari rutinitas megajar yang hanya mengandalkan pengalamannamuntidak
dapat menyesuaikan perubahan kondisi kelas. Guru reflektif akan mengajar lebih
terarah dan tidak terburu-buru karena akan selalu mempertimbangkan faktor-
faktor terkait dalam proses pembelajaran, seperti karakteristik siswa, minat mereka,
dan kurikulum, sehingga akan menghasilkan kelas yang lebih efektif seperti yang
dibahas pada KB 2.
Berdasarkan diskusi kelompok yang paling menarik menurut saya adalah
memahami karakteristik siswa melalui gaya belajarnya. Gaya belajar siswa antara lain
:
a. Untuk gaya belajar visual, yaitu kemampuan belajar dengan melihat senang dan
pandai dalam matematika,
b. Gaya belajar auditori yaitu gaya belajar dimanapada gaya ini siswa memiliki
penendengaran yang lebih baik dan lebih fokus, Pandai dalam bercerita, minat
terhadap musik, mendengarkan suara, dan menyanyi.
c. Gaya belajar kinestetik yaitu gaya belajar dengan melibatkan gaya gerak. Pandai
dalam olahraga, tingkat aktif yang tinggi, suka bergerak, dan memiliki imajinasi yang
tinggi.
d. Gaya belajar global yaitu anak dengan gaya belajar global memiliki kemampuan
memahami sesuatu secara menyeluruh.
e. Gaya belajar analitik yaitu anak dengan gaya belajar analitik memiliki kemampuan
dalam memandang sesuatu cenderung ditelaah terlebih dahuku secara terperinci,
spesifik, dan teratur.
Dari diskusi kelompok, untuk menjadi guru yang reflektif adalah dengan
memahami karakteristik siswa. Seperti halnya yang dikatakan Dr. H Bahtiar S Bachri,
M.Pd di transisi slide lp3m unnesa di halaman utama web lp3m. Beliau
mengatakan "jika anak tidak bisa belajar dengan cara kita mengajar , maka kita
yang harus belajar memahami cara mereka belajar". Sangat menarik, sekarang
ini secara tidak sadar guru memaksakan hak belajar anak, sekarang eranya juga
daring, anak semakin leluasa dan lebih sering pegang smartphone. Siswa lebih suka
memanfatkan fitur-fitur aplikasi2 yang bersifat menyenangkan hati saja. Siswa lebih
sering menggunakan "smartphone untuk tik tok kan" ,  tapi  guru dapat menggunakan
"tik tok dengan smart" (untuk pembelajaran agar siswa tidak bosan).  Siswa jaman
now juga harus dihadapi dengan guru jaman now juga. Guru reflektif adalah guru
yang smart.