Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Stage Keperawatan Jiwa


PEMBIMBING
M.Anwari, Ns., M.Kep.
Mas’udah, S.Kep., Ns.

Disusun Oleh:
Nama :Erna Lidia Sari, S.Kep.
NIM : 1914901210106

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN AJARAN 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI

I. PROSES TERJADINYA MASALAH


1.1 Pengertian
Halusinasi adalah persepsi klien yang salah terhadap lingkungan tanpa stimulus
yang nyata, memberi persepsi yang salah atau pendapat tentang sesuatu tanpa ada
objek atau rangsangan yang nyata dan hilangnya kemampuan manusia untuk
membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsangan eksternal (Trimeilia,
2011).

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh
pasien gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan, atau penghiduaan tanpa adanya stimulus yang nyata
(Keliat, 2014).

Halusinasi adalah gangguan persepsi tentang suatu objek atau gambaran dan
pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi
semua sistem penginderaan (Ermawati dkk, 2014).
1.2 Jenis-jenis Halusinasi
Menurut Trimeilia (2011) jenis-jenis halusinasi adalah sebagai berikut :
1.2.1 Halusinasi Pendengaran (Auditory)
Mendengar suara yang membicarakan, mengejek, mentertawakan,
mengancam, memerintahkan untuk melakukan sesuatu (kadang-kadang
hal yang berbahaya). Perilaku yang muncul adalah mengarahkan telinga
pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab,
menutup telinga, mulut komat-kamit, dan ada gerakan tangan.
1.2.2 Halusinasi Penglihatan (Visual)
Stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar, orang atau
panorama yang luas dan kompleks, bisa yang menyenangkan
atau menakutkan. Perilaku yang muncul adalah tatapan mata pada tempat
tertentu, menunjuk ke arah tertentu, ketakutan pada objek yang dilihat.
1.2.3 Halusinasi Penciuman (Olfactory)
Tercium bau busuk, amis, dan bau yang menjijikan, seperti bau darah,
urine atau feses atau bau harum seperti parfum. Perilaku yang muncul
adalah ekspresi wajah seperti mencium dengan gerakan cuping hidung,
mengarahkan hidung pada tempat tertentu, menutup hidung.
1.2.4 Halusinasi Pengecapan (Gustatory)
Merasa mengecap sesuatu yang busuk, amis dan menjijikan, seperti rasa
darah, urine atau feses. Perilaku yang muncul adalah seperti mengecap,
mulut seperti gerakan mengunyah sesuatu, sering meludah, muntah.
1.2.5 Halusinasi Perabaan (Taktil)
Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, seperti
merasakan sensasi listrik dari tanah, benda mati atau orang. Merasakan
ada yang menggerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil dan makhluk
halus. Perilaku yang muncul adalah mengusap, menggaruk-garuk atau
meraba-raba permukaan kulit, terlihat menggerakkan badan seperti
merasakan sesuatu rabaan.
1.2.6 Halusinasi Sinestetik
Merasakan fungsi tubuh, seperti darah mengalir melalui vena dan arteri,
makanan dicerna atau pembentukan urine, perasaan tubuhnya melayang di
atas permukaan bumi. Perilaku yang muncul adalah klien terlihat menatap
tubuhnya sendiri dan terlihat seperti merasakan sesuatu yang aneh tentang
tubuhnya.
1.3 Faktor Penyebab
1.3.1 Faktor Predisposisi
Menurut Yosef dalam Yusuf dkk (2015) faktor predisposisi klien dengan
halusinasi :
1.3.1.1 Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya kontrol
dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu
mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih
rentah terhadap stress.
1.3.1.2 Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima dilingkungannya sejak bayi
akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.
1.3.1.3 Faktor Biologis
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya
stres yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan
dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia.
Akibat stres berkepanjangan jangan menyebabkan teraktivitasnya
neurotransmitter otak.
1.3.1.4 Faktor Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh
pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang
tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat
dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
1.3.1.5 Faktor genetik dan pola asuh
1.3.1.6 Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang
tua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi
menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
1.3.2 Faktor Presipitasi
1.3.2.1 Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
perasaan tidak aman, gelisah, bingung, perilaku menarik diri,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak
dapat membedakan keadaan yang nyata dan tidak nyata.

Menurut Rawlins dan Heacock dalam Yusuf dkk (2015) mencoba


memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat
keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas
dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spritual. Sehingga halusinasi
dapat dilihat dari lima dimensi yaitu :
a. Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik
seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan,
demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan
untuk tidur dalam waktu yang sama.
b. Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak
dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi, isi
daari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah
tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap kekuatan tersebut.
c. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu
dengan halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk
melawan impuls yang menekan, namun merupakan satu hal
yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat menagmabil
seluruh perhatian klien dan jarang akan mengontrol semua
perilaku klien.
d. Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dari fase awal dan
comforting klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi
dialam nyata sangat membahayakan. Klien asik dengan
halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, contoh diri dan
harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi
halusinasi dijadikan ancaman, dirinya atau orang lain individu
cenderung keperawatan klien dengan mengupayakan suatu
proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal
yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak menyendiri
sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan
halusinasi tidak berlangsung.
e. Dimensi Spiritual
Secara spritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan
hidup, rutinitas, tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan
jarang berupaya secara spritual untuk menyucikan diri, irama
sirkardiannya terganggu, karena ia sering tidur larut malam dan
bangun sangat siang. Saat terbangun terasa hampa dan tidak
jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir tetapi lemah
dalam upaya memjemput rezeki, menyalahkan lingkungan dan
orang lain yang menyebabkan takdirnya memburuk.
1.4 Manifestasi Klinis/Tanda gejala

Tahap Ciri-ciri Perilaku yang dapat diobservasi

Comforting Klien yang berhalusinasi mengalami  Tersenyum lebar, menyeringai tetapi


emosi yang intense seperti cemas, tampak tidak tepat
Halusinasi kesepian, rasa bersalah, dan takut dan  Menggerakan bibir tanpa membuat
menyenangkan, mencoba untuk berfokus pada pikiran suara
Cemas ringan yang menyenangkan untuk  Pergerakan mata yang cepat
menghilangkan kecemasan. Seseorang  Respon verbal yang lambat seperti
mengenal bahwa pikiran dan asyik
pengalaman sensori berada dalam  Diam dan tampak asyik
kesadaran control jika kecemasan
tersebut bisa dikelola.

Comdemning Penngalaman sensori menjijikan dan  Ditandai dengan peningkatan kerja


menakutkan. Klien yang berhalusinasi system saraf autonomic yang
Halusinasi mulai merasa kehilangan control dan menunjukan kecemasan misalnya
menjijikan, Cemas mungkin berusaha menjauhkan diri, terdapat peningkatan nadi, pernafasan
sedang serta merasa malu dengan adanya dan tekanan darah.
pengalaman sensori tersebut dan  Rentang perhatian menjadi sempit
menarik diri dari orang lain.  Asyik dengan penngalaman sensori
dan mungkin kehilangan kemampuan
untuk membedakan halusinasi dengan
realitas.
Controlling Klien yang berhalusinasi menyerah  Arahan yang diberikan halusinasi tidak
untuk mencoba melawan pengalaman hanya dijadikan objek saja oleh klien
Pengalamansensori halusinasinya. Isi halusinasi bisa tetapi mungkin akan diikitu/dituruti
berkuasa, Cemas menjadi menarik/meimkat. Seseorang  Klien mengalami kesulitan
berat mungkin mengalami kesepian jika berhubungan dengan orang lain
pengalaman sensori berakhir.  Rentang perhatian hanya dalam
beberapa detik atau menit
 Tampak tanda kecemasan berat seperti
berkeringat, tremor, tidak mampu
mengikuti perintah.
Conquering Pengalaman sensori bisa mengancam  Perilaku klien tampak seperti dihantui
jika klien tidak mengikuti perintah terror dan panik
Melebur dalam dari halusinasi. Halusinasi mungkin  Potensi kuat untuk bunuh diri dan
pengaruh berakhir dalam waktu empat jam atau membunuh orang lain
halusinasi, Panic sehari bila tidak ada intervensi  Aktifitas fisik yang digambarkan klien
terapeutik menunjukan isi dari halusinasi
misalnya klien melakukan kekerasan,
agitasi, menarik diri atau katatonia
 Klien tidak dapat berespon pada arahan
kompleks
 Klien tidak dapat berespon pada lebih
dari satu orang
1.5 Masalah keperawatan
1.5.1 Gangguan persepsi sensori: Halusinasi
1.5.2 Isolasi sosial
1.5.3 Resiko perilaku kekerasan
1.6 Tahapan Halusinasi
Menurut Yusuf dkk (2015) dan Trimeilia (2011) tahapan halusinasi ada lima fase
yaitu :
1.6.1 Stage I (Sleep Disorder)
Fase awal seseorang sebelum muncul halusinasi.
Karakteristik :
Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut
diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Masalah makin terasa
sulit karena berbagai stressor terakumulasi, misalnya kekasih hamil,
terlibat narkoba, dikhianati kekasih, masalah di kampus, di drop out, dst.
Masalah terasa menekan karena terakumulasi sedangkan support sistem
kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk. Sulit tidur berlangung
terus-menerus sehingga terbiasa menghayal. Klien menganggap lamunan-
lamunan awal tersebut sebagai pemecahan masalah.
1.6.2 Stage II (Comforting Moderate Level of Anxiety)
Halusinasi secara umum ia terima sebagai sesuatu yang alami.
Karakteristik :
Klien mengalami emosi yang berlanjut, seperti adanya perasaan cemas,
kesepian, perasaan berdosa, ketakutan dan mencoba untuk memusatkan
pemikiran pada timbulnya kecemasan. Ia beranggapan bahwa pengalaman
pikiran dan sensorinya dapat ia kontrol bila kecemasannya diatur, dalam
tahapan ini ada kecenderungan klien merasa nyaman dengan
halusinasinya. Perilaku yang muncul biasanya dalah menyeringai atau
tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan
suara, gerakan mata cepat, respon verbal lamban, diam dan dipenuhi oleh
sesuatu yang mengasyikkan.
1.6.3 Stage III (Condemning Severe Level of Anxiety)
Secara umum halusinasi sering mendatangi klien.
Karakteristik :
Pengalaman sensori klien menjadi sering datang dan mengalami bias.
Klien mulai merasa tidak mampu mengontrolnya dan mulai berupaya
untuk menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan klien.
Klien mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya tersebut dan
menarik diri dari orang lain dengan intensitas watu yang lama. Perilaku
yang muncul adalah terjadinya peningkatan sistem syaraf otonom yang
menunjukkan ansietas atau kecemasan, seperti : pernafasan meningkat,
tekanan darah dan denyut nadi menurun, konsentrasi menurun.
1.6.4 Stage IV (Controling Severe Level of Anxiety)
Fungsi sensori menjadi tidak relevan dengan kenyataan.
Karakteristik :
Klien mencoba melawan suara-suara atau sensori abnormal yang datang.
Klien dapat merasakan kesepian bila halusinasinya berakhir. Dari sinilah
dimulai fase gangguan psikotik. Perilaku yang biasanya muncul yaitu
individu cenderung mengikuti petunjuk sesuai isi halusinasi, kesulitan
berhubungan dengan orang lain, rentang perhatian hanya beberapa
detik/menit.
1.6.5 Stage V (Concuering Panic Level of Anxiety)
Klien mengalami gangguan dalam menilai lingkungannya.
Karakteristik :
Pengalaman sensorinya terganggu. Klien mulai terasa terancam dengan
datangnya suara-suara terutama bila klien tidak dapat menuruti ancaman
atau perintah yang ia dengar dari halusinasinya. Halusinasi dapat
berlangsung selama minimal empat jam atau seharian bila klien tidak
mendapatkan komunikasi terapeutik. Terjadi gangguan psikotik berat.
Perilaku yang muncul adalah perilaku menyerang, risiko bunuh diri atau
membunuh, dan kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi (amuk,
agitasi, menarik diri).

1.7 Rentang Respon


Respon Adaptif Respon Maladaptif

 Pikiran logis  Pikiran terkadang  Kelainan pikiran


 Persepsi akurat menyimpang  Halusinasi
 Emosi konsisten  Ilusi  Tidak mampu mengatur
 Perilaku sosial  Emosional emosi
 Hubungan sosial berlebihan/dengan  Ketidakteraturan
pengalaman kurang  Isolasi sosial
 Perilaku ganjil
 Menarik diri
(Ermawati dkk, 2014)
Keterangan :
1.7.1 Respon adaptif adalah respon yang yang dapat diterima oleh norma-norma
sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam
batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan
masalah tersebut.
1.7.1.1 Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
1.7.1.2 Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
1.7.1.3 Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul
dari pengalaman ahli.
1.7.1.4 Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam
batas kewajaran.
1.7.1.5 Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi denagn orang lain
dan lingkungan.
1.7.2 Respon psikosial meliputi
1.7.2.1 Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan
gangguan.
1.7.2.2 Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang
penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena
rangsangan panca indera.
1.7.2.3 Emosi berlebihan atau berkurang.
1.7.2.4 Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi
batas kewajaran.
1.7.2.5 Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan
orang lain.
1.7.3 Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan,
adapun respon maladaptif ini meliputi :
1.7.3.1 Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan sosial.
1.7.3.2 Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan sosial.
1.7.3.3 Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul
dari hati.
1.7.3.4 Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak
teratur.
1.7.3.5 Isolasi sosial adalah kondisi sendirian yang dialami oleh individu
dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu
kecelakaan yang negatif mengancam.

1.8 Mekanisme Koping


Menurut Dalami dkk (2014) mekanisme koping adalah perilaku yang mewakili
upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan
berhubungan dengan respon neurobiologi maladaptif meliputi:
1.8.1 Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku
kembali seperti apa perilaku perkembangan anak atau berhubungan
dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi
ansietas.
1.8.2 Proyeksi, keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada
orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya
untuk menjelaskan kerancuan persepsi).
1.8.3 Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun
psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindari sumber
stressor, misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi, gas beracun dan lain-
lain. Sedangkan reaksi psikologis individu menunjukan perilaku apatis,
mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan
bermusuhan.
II. POHON MASALAH

Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori : halusinasi

Isolasi sosial: menarik diri

Faktor predisposisi

Faktor presipitasi

III. PENGKAJIAN DAN MASALAH KEPERAWATAN


3.1 Pengkajian :
3.1.1 Data subjektif
3.1.1.1 Klien mengatakan mendengar sesuatu
3.1.1.2 Klien mengatakan melihat bayangan putih
3.1.1.3 Klien mengatakan dirinya seperti disengat listrik
3.1.1.4 Klien mencium bau-bauan yang tidak sedap, seperti feses
3.1.1.5 Klien mengatakan kepalanya melayang di udara
3.1.1.6 Klien mengatakan dirinya merasakan ada sesuatu yang berbeda
pada dirinya.
3.1.2 Objektif :
3.1.2.1 Klien terlihat bicara atau tertawa sendiri saat dikaji
3.1.2.2 Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
3.1.2.3 Berhenti bicara di tengah-tengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
3.1.2.4 Disorientasi
3.1.2.5 Konsentrasi rendah
3.1.2.6 Pikiran cepat berubah-ubah
3.1.2.7 Kekacauan alur pikiran
3.2 Masalah Keperawatan
Perubahan Sensori Persepsi: halusinasi
IV. INTERVENSI KEPERAWATAN
4.1 Rencana Tindakan Keperawatan
4.1.1 Tujuan tindakan untuk klien adalah sebagai berikut :
4.1.1.1 Klien dapat mengenal halusinasi yang dialaminya
4.1.1.2 Klien dapat mengontrol halusinasinya
4.1.1.3 Klien mengikuti program pengobatan secara optimal
4.1.2 Tindakan Keperawatan
4.1.2.1 Membantu klien mengenal halusinasi
Dalam membantu klien mengenal halusinasinya, perawat dapat
berdiskusi dengan klien tentang isi halusinasi (apa yang
didengar, dilihat atau dirasa), waktu terjadi halusinasi, frekuensi
terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan terjadinya
halusinasi, dan respon klien saat halusinasi itu muncul.
4.1.2.2 Melatih klien mengontrol halusinasi
a. Menghardik halusinasi
 Menjelaskan cara menghardik halusinasi
 Memperagakan cara menghardik
 Meminta klien memperagakan ulang
 Memantau penerapan cara, menguatkan perilaku klien.
b. Bercakap-cakap dengan orang lain
Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu
mengontrol halusinasi, ketika klien bercakap-cakap dengan
orang lain terjadi distraksi yaitu focus perhatian klien akan
beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan
orang lain. Anjurkan atau ingatkan kepada klien bahwa
ketika waktu-waktu yang diperkirakan sebagai waktu
halusinasi tersebut muncul maka kien diharapkan langsung
mencari teman untuk bercakap-cakap.
c. Melakukan aktivitas yang terjadwal
 Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk
mengatasi halusinasi
 Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan klien
 Melatih klien melakukan aktivitas
 Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan
aktivitas yang telah dilatih. Upayakan agar klien memiliki
aktivitas muali dari bangun pagi sampai dengan tidur
malam.
d. Minum obat secara teratur
Jelaskan kegunaan obat, akibat putus obat dan cara
mendapatkan obat/berobat
4.2 Strategi Pelaksanaan
SP PASIEN SP KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Identifikasi halusinasi: dengan 1. Diskusikan masalah yang dirasakan
mendiskusikan isi, frekuensi, waktu keluarga dalam merawat pasien
terjadi situasi pencetus, perasaan dan 2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala serta
respon proses terjadinya halusinasi (gunakan
2. Jelaskan cara mengontrol halusinasi : booklet)
hardik, obat, bercakap-cakap, 3. Jelaskan cara merawat pasien dengan
melakukan kegiatan halusinasi
3. Latih cara mengontrol halusinasi 4. Latih cara merawat halusinasi: hardik
dengan menghardik 5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
4. Masukan pada jadwal kegiatan untuk dan beri pujian
latihan menghardik
SP 2 SP 2
1. Evaluasi kegiatan menghardik: beri 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat
pujian melatih pasien menghardik beri pujian
2. Latih cara mengontrol halusinasi 2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat
dengan obat (jelaskan 6 benar obat, 3. Latih cara memberikan atau membembing
jenis, guna, dosis, frekuensi, kontinuitas minum obat
minum obat) 4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
3. Jelaskan pentingnya pengguanaan obat dan beri pujian
pada gangguan jiwa
4. Jelaskan akibat jika obat tidak diminum
sesuai program
5. Jelaskan akibat putus obat
6. Jelaskan cara berobat
7. Masukan pada jadwal kegiatan untuk
latihan menghardik dan beri pujian
SP 3 SP 3
1. Evaluasi kegiatan latihan menghardik 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat
dan obat. Beri pujian atau melatih pasien dalam menghardik dan
2. Latih cara mengontrol halusinasi memberikan obat. Beri pujian
dengan bercakap-cakap ketika 2. Jelaskan cara bercakap-cakap dan
halusinasi muncul melakukan kegiatan untuk mengontrol
3. Masukan pada jadwal kegiatan untuk halusinasi
latihan menghardik, minum obat dan 3. Latih dan sediakan waktu untuk bercakap-
bercakap-cakap cakap dengan pasien terutama saat
halusinasi
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan berikan pujian

SP 4 SP 4
1. Evaluasi kegiatan latihan menghardik, 1. Evaluasi kegiatan keluarga merawa/
penggunaan obat dan bercakap-cakap. melatih pasien mengahardik, memberikan
Beri pujian obat dan bercakap-cakap. Beri pujian
2. Latih cara mengontrol halusinasi 2. Jelaskan follow up ke RSJ / PKM, tanda
dengan menggunakan kegiatan harian kambuh, rujukan
(mulai 2 kegiatan) 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal.
3. Masukan kedalam jadwal kegiatan Beri pujian
untuk latihan menghardik, minum obat,
bercakap-cakap dan kegiatan harian
SP 5-12 SP 5-12
1. Evaluasi kegiatan latiahn menghardik, 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat
minum obat, bercakap-cakap dan atau melatih pasien menghardik, minum
melakukan kegiatan harian. Beri pujian obat, bercakap-bercakap, kegiatan harian
2. Latih kegiatan harian dan foloow up. Beri pujian
3. Nilai kemampuan yang telah mandiri 2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien
4. Nilai apakah halusinasi terkontrol 3. Nilai kemampuan keluarga melakukan
kontrol ke RSJ/PKM
V. TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
5.1 Sesi I: Mengenal Halusinasi
Tujuan
5.1.1 Klien mengenal isi halusinasi.
5.1.2 Klien mengenal waktu terjadinya halusinasi.
5.1.3 Klien mengenal frekuensi halusinasi.
5.1.4 Klien mengenal perasaan bila mengalami halusinasi
5.2 SESI II: MENGONTROL HALUSINASI: MENGHARDIK
Tujuan
5.2.1 Klien dapat menjelaskan cara yang selama ini dilakukan untuk mengatasi
halusnasi.
5.2.2 Klien dapat memahami dinamika halusinasi
5.2.3 Klien dapat memahami cara menghardik halusinasi.
5.2.4 Klien dapat memperagakan cara menghardik halusinasi
5.3 SESI III: MENYUSUN JADWAL KEGIATAN
Tujuan
5.3.1 Klien dapat memahami pentingnya melakukan aktifitas untuk mencegah
munculnya halusinasi
5.3.2 Klien dapat menyusun jadwal aktivitas dari pagi sampai tidur malam.
5.4 SESI IV: CARA MINUM OBAT YANG BENAR
Tujuan
5.4.1 Klien dapat mengetahui jenis-jenis obat yang harus diminumnya.
5.4.2 Klien mengetahui perlunya minum obat secara teratur.
5.4.3 Klien mengetahui 5 benar dalam minum obat.
5.4.4 Klien mengetahui efek terapi dan efek samping obat 5. Klien mengetahui
jika putus minum obat
5.5 SESI V: MENGONTROL HALUSNASI DENGAN BERCAKAP-CAKAP
Tujuan
5.5.1 klien memahami pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain.
5.5.2 Klien memahami tentang pentingnya brcakap-cakap dengan orang lain.
5.5.3 Klien menerapkan cara menghubungi orang lain ketika mulai mengalami
halusinasi
VI. DAFTAR PUSTAKA
Ernawati, dkk. 2014. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Cetakan
Kedua. Jakarta Timur: CV. Trans Info Media
Keliat, Budi Ana. 2014. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC
Trimeilia. 2011. Asuhan Keperawatan Klien Halusinasi. Jakarta Timur: CV. Trans
Info Media
Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.

Banjarmasin, September 2020


Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

M.Anwari, Ns., M.Kep. Mas’udah, S.Kep., Ns

Anda mungkin juga menyukai