Anda di halaman 1dari 118

PERADILAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN YANG DILAKUKAN

ANAK DI BAWAH UMUR DI PENGADILAN NEGERI KABUPATEN

SEMARANG

SKRIPSI

Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1


untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh
DIDIK WAHYUDI
NIM 3450401026

JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL
2006
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia

Ujian Skripsi pada:

Hari :

Tanggal:

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Sugito, S.H Ubaidillah Kamal, S.Pd.


NIP. 130529532 NIP. 132233422

Mengetahui,
Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Drs. Eko Handoyo, M. Si


NIP 131764048

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang panitia ujian skripsi Jurusan

Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas ilmu sosial, Universitas Negeri Semarang

pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 04 April 2006

Penguji Skripsi

Drs. Herry Subondo, M.Hum


NIP. 130809956

Anggota I Anggota II

Drs Sugito SH Ubaidillah Kamal Spd


NIP. 130529532 NIP. 132067383
Mengetahui :
Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Sunardi, MM
NIP 130367998

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya

sendiri bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau

dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah

Semarang,

Didik Wahyudi
NIM 3450401043

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

“Keberhasilan seseorang akan ditentukan oleh kadar kejujuran”


“Segala sesuatu ada jalannya dan jalan ke surga adalah Ilmu” (HR. Ad.
Dailami)

PERSEMBAHAN:

Skripsi ini ku persembahkan untuk

Ayah dan Ibu tercinta

Mas Rofiq, mas Agus dan dek Doni yang


selalu memberikan dorongan setiap
langkah hidupku

Orang-orang yang menyayangiku

Sahabat-sahabat aku yang selalu


mendukung dalam penulisan skripsi

Teman-temanku Kepok Club dan teman-


teman angkatan 2001

Teman-teman cost “Darusallam”

Almamater

v
PRAKATA

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan

nikmat-Nya, sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: Peradilan

Tindak Pidana Kesusilaan Yang Dilakukan Anak Di Bawah Umur di Pengadilan

Negeri Kabupaten Semarang. Skripsi ini disusun untuk mencapai gelar Sarjana

Hukum pada Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Ilmu Sosial Universitas

Negeri Semarang.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tersusun bukan semata-

mata hasil usaha sendiri, akan tetapi berkat bimbingan dan motivasi dari semua

pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada:

1. Dr. H. AT. Soegito, SH, MM, selaku Rektor Universitas Negeri Semarang;

2. Drs. Sunardi, MM., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

Semarang;

3. Drs Herry Subondo Mhum, selaku Dosen penguji

4. Drs. Eko Handoyo, M.Si, selaku Ketua Jurusan Hukum dan

Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang;

5. Drs. Sugito, SH., selaku Dosen Pembimbing yang telah dengan sabar

memberikan bimbingan dan motivasi sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini;

6. Ubaidilah Kamal, S.Pd. selaku dosen Pembimbing II yang telah dengan

sabar memberikan bimbingan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi

ini;

vi
7. Ira Setiawati, SH., MH., selaku Hakim yang memberikan pengetahuan

tentang masalah dalam skripsi ini;

8. Gagat, SH., selaku Kepala Bagian Hukum Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang;

9. Seluruh Pegawai Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang;

10. Tyas Tri Arsoyo, SH., MH. selaku Pengacara;

11. Agus Budiarjo dan bapak Sukimin

12. Bapak dan Ibuku yang telah memberikan dorongan materiil maupun

spirituil.

13. Teman-temanku yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan yang sesuai dengan amalannya dalam

penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak

kekurangan mengingat keterbatasan kemampuan penulis.

Semarang, Februari 2006

Penulis

vii
SARI

Wahyudi Didik, 2006. Peradilan Tindak Pidana Kesusilaan Yang Dilakukan


Anak Di Bawah Umur Di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang. Jurusan
Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Semarang. Drs Sugito SH. Ubaidillah Kamal Spd. 99 hal.

Kata Kunci: Faktor penyebab, Peradilan, tindak pidana anak, pencegahan,


penanggulangan.

Titik tolak pada perkembangan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan


oleh anak di bawah umur di wilayah hukum Kabupaten Semarang. Bahwa ada
beberapa faktor yang melatarbelakangi dengan terjadinya tindak pidana kesusilaan
yang dilakukan anak di bawah umur di wilayah hukum Kabupaten Semrang.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) faktor


penyebab terjadinya tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur
di wilayah hukum Kabupaten Semarang ? (2) Proses peradilan tindak pidana
kesusilaan yag dilakukan anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten
Semarang ? (3) Cara pencegahan dan penanggulangan tindak pidana kesusilaan
yang dilakukan anak di bawah umur di wilayah hukum Kabupaten Semarang ?
Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya
tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di wilayah hukum
Kabupaten Semarang, (2) mengetahui proses peradilan tindak piadana kesusilaan
yang dilakukan anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang,
(3) mengetahui cara pencegahan dan penanggulangan tindak pidana kesusilaan
yang dilakukan anak di bawah umur di wialyah hukum Pengadilan Negeri
Kabupaten Semarang.

Penelitian ini dilakukan di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten


Semarang tepatnya di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang. Metode yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini dengan metode kualitatif dengan teknik
pengumpulan data adalah wawancara dan dokumentasi dan data yang
dikumpulkan di analisis dengan teknik diskriptif.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang


melatarbelakangi terjadinya suatu tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak
di bawah umur antara lain dari faktor ekstern yang terdiri dari faktor lingkungan
masyarakat, keluarga, ekonomi, pemerintah. Proses peradilan tindak pidana untuk
anak dilaksanakan sesuai dengan peraturan undang-undang Pengadilan Anak no 3
tahun 1997 dan cara pencegahannya yaitu menciptakan lingkungan keluarga yang
harmonis dan pemberian pendidikan anak lebih kearah moralitas, dan cara
menaggulangi yaitu melalui control orang tua terhadap perilaku anak dan lebih
intennya aparat penegak hukum dalam menangani kasus tindak pidana yang
dilakukan anak di bawah umur.

viii
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadinya tindak
pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di latar belakangi oleh
faktor ekonomi, lingkungan masyarakat, kelurga, pemerintah dan telah berlakunya
Undang-Undang no 3 tahun 1997 tentang Pengadilan anak. Pencegahannya adalah
menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, lingkungan rumah tangga yang
baik, pemberian pendidikan keanak ke arah moralitas, bijaknya pemerintah dalam
pemberantasan pornoaksi dam pornografi, usaha menaggulaginya adalah
Penanaman nilai moral terhadap anak, rehabilitasi perilaku di lembaga anak,
intennya penegak hukum dalam menagani kasus pidana anak.

Berdasrkan hasil penelitian hendaknya disarankan untuk menciptakan


keluarga yang harmonis dan memberikan pendidikan moral kepada anak guna
membentuk watak dan perilaku anak, proses peradilan anak dibuat berbeda
dengan orang dewasa guna menghindari faktor mental psikologis anak, pemberian
sex education mulai sejak dini dan memberikan akibat-akibat yang ditimbulkan
dari sex education tersebut apabila dilakukan oleh anak.

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... iii

PERNYATAAN............................................................................................... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

PRAKATA....................................................................................................... vi

SARI .............................................................................................................. ix

DAFTAR ISI.................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL............................................................................................ xiii

DAFTAR BAGAN...................................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan .................................................... 1

1.2. Identifikasi Masalah ................................................................... 3

1.2.1. Pembatasan Masalah ............................................................ 4

1.3. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ........................................ 4

1.4. Perumusan Masalah.................................................................... 6

1.5. Tujuan......................................................................................... 7

1.6. Sistematika Skripsi..................................................................... 8

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIK

2.1. Pengertian Tentang Anak ........................................................... 9

2.2. Tindak Pidana............................................................................. 11

2.3. Proses Peradilan Pidana ............................................................. 15

x
2.4. Dasar Hakim Menjatuhkan Pidana dan Bentuk-Bentuk dari
Pemidanaan ................................................................................ 23

2.5. Faktor-Faktor yang Dapat Menimbulkan Kejahatan.................. 25

2.6. Kerangka Teoritik ..................................................................... 29

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Dasar Penelitian.......................................................................... 32

3.2. Lokasi Penelitian ........................................................................ 33

3.3. Fokus atau Variabel Penelitian................................................... 33

3.4. Pendekatan Studi ........................................................................ 34

3.5. Sumber Data Penelitian ............................................................. 34

3.6. Alat dan Teknik Pengumpulan Data .......................................... 35

3.7. Objektifitas dan Keabsahan Data ............................................... 36

3.8. Model Analisis Data................................................................... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian .......................................................................... 39

4.2. Faktor-faktor yang dapat meyebabkan terjadinya suatu tindak


pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di
Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang................................... 48

4.3. Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang di lakukan


anak di bawah umur di daerah hukum Pengadilan Negeri
Kabupaten Semarang.................................................................. 53

4.4. Cara pencegahan dan penanggulangan terjadinya tindak


pidana kesusilaan yang dilakukan di bawah umur di daerah
hukum Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang....................... 62

4.5. Pembahasan .............................................................................. 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ................................................................................ 73

5.2. Saran........................................................................................... 75

xi
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 76

LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................... 77

xii
DAFTAR TABEL

Tabel :

Tabel 1 : Jumlah Perkara Pidana dan Perdata di Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang..................................................................... 40

Tabel 2 : Tren Kasus Tindak Pidana Kesusilaan Tiap Tahun.......................... 48

xiii
DAFTAR BAGAN

Bagan :

Bagan 1 : Proses peradilan tindak pidana .......................................................15

Bagan 2 : Kerangka Teoritik .......... ................................................................29

Bagan 3 : Siklus Data Interaktif ......................................................................38

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran :

Lampiran 1 : Pedoman wawancara .................................................................. 77

Lampiran 2 : Surat Permohanan ijin Penelitian .............................................. 78

Lampiran 3 : Surat Keterangan hasil Penelitian Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.................................................................................... 79

Lampiran 4 :Surat Keterangan Pengacara........................................................ 80

Lampiran 5 : Surat Keterangan Hasil Penelitian Kelurahan Ungaran Barat.... 81

Lampiran 6 :Surat Putusan Perkara Pidana...................................................... 82

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Anak merupakan bagian dari generasi muda yang memiliki peranan

strategis yang mempunyai ciri dan sifat khusus, selain itu anak merupakan titipan

dari Tuhan yang di berikan kepada orang tua untuk dididik dan dilindungi sebagai

penerus bangsa (Undang-Undang N0 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak),

Oleh karena itu anak memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin

pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial secara utuh yang selaras

dan seimbang. Berdasarkan fenomena yang terjadi diakhir-akhir ini ternyata

memperlihatkan perilaku anak yang berada dalam berita-berita di mass media dan

televisi di Indonesia perilaku anak banyak yang menjurus kepada tindak pidana

kejahatan, seperti pemerkosaan, pencabulan, pencurian, perkelahian antar pelajar

dan lain-lain, sehingga anak anak berhadapan dengan proses hukum yang

disamakan dengan orang dewasa.

Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang

dilakukan oleh anak, disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya dampak

negatif perkembangan yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan

informasi, kemajuan ilmu pengatuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara

hidup sebagian orang tua, telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam

kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak.

Selain itu, anak yang kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, bimbingan dan

1
2

pembinaan dalam pengembangan sikap, perilaku, penyesuaian diri, serta

pengawasan dari orang tua akan mudah terseret dalam arus pergaulan masyarakat

dan lingkungannya yang kurang sehat dan merugikan perkembangan pribadinya.

Hubungan antara orang tua dengan anak merupakan suatu hubungan yang hakiki,

baik hubungan psikologis maupun mental sepiritualnya, mengingat ciri dan sifat

anak yang khas, maka dalam menjatuhkan pidana atau tindakan terhadap Anak

Nakal diusahakan agar anak jangan dipisahkan dari orang tuanya. Mengingat pada

pasl 67 bahwa berlakunya undang-undang no 3 tahun 1997 tentang pengadilan

anak maka pasal 45, 46 dan 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan

tidak berlaku, jadi pembedaan perlakuan dan ancaman yang diatur dalam

Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak dimaksudkan untuk

lebih melindungi dan mengayomi anak agar dapat menyongsong massa depannya

yang masih panjang. Khusus mengenai sanksi terhadap anak dalam Undang-

Undang no 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan.

Anak ditentukan berdasarkan perbedaan umur anak, yaitu bagi anak yang

masih berumur 8 (delapan) tahun sampai 12 (dua belas) tahun hany dapat

dikenakan tindakan, seperti dikembalikan kepada orang tuanya, ditempatkan pada

organisasi social atau diserahkan kepada Negara, sedangkan terhadap anak yang

telah mencapai umur diatas umur 12 (dua belas) tahun sampai 18 (delapan belas)

tahun dijatuhkan pidana. Pembedaan perlakuan tersebut didasarkan atas

pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.

Mengingat pada BAB VIII pasal 67 Undang-Undang NO 3 Tahun 1997

Tentang Pengadilan Anak bahwa dasar hakim dalam memutuskan sudah tidak

2
3

berpegangan pada pasal 45, 46,dan 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,

mengingat sudah tidak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang

sudah diganti dengan Undang-Undang No 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak

dan Hukum Acaranya sudah diataur dalam BAB V pasal 40 sampai dengan 59

Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

1.2.1 Peradilan

Peradilan adalah segala sesuatu mengenai perkara pengadilan dan

merupakan suatu lembaga hukum yang bertugas memperbaiki (Kamus Besar

Bahasa Indonesia. 1988: 7).

1.2.2 Tindak Pidana

Tindak pidana adalah perbuatan pidana sebagai perbuatan yang diancam

dengan pidana. (Muljatno, 1987: 78).

1.2.3 Kesusilaan

Kesusilaan dalam bahasa Belanda berarti Zeden, sedangkan dalam

bahasa Inggris kesusilaan berarti Morals.

Menurut kamus hukum kesusilaan diartikan sebagai tingkah laku,

perbuatan percakapan bahwa sesuatu apapun yang berpautan dengan norma-

norma kesopanan yang harus/dilindungi oleh hukum demi terwujudnya tata tertib

dan tata susila dalam kehidupan bermasyarakat (Van Pramudya Puspa, 1977:

933).

3
4

Kesusilaan adalah:

− Perihal susila ysng berkaitan dengan adab dan sopan santun.

− Norma yang baik: kelakuan yang baik: tata karma yang luhur.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 874).

1.2.4 Anak

Anak adalah Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,

termasuk anak yang masih dalam kandungan (pasal 1 ayat 1 Undang-Undang N0

23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak ).

1.2.5 Pengadilan Negeri

Pengadilan Negeri adalah pengadilan yang berwewenang mengadili segala

perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam daerah hukumnya. (Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana pasal 84 ayat 1).

Pengadilan Negeri yang di dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat

tinggal, berdiam terakhir, di tempat ia diketemukan atau ditahan, hanya

berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut, apabila tempat kediaman

sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat Pengadilan Negeri itu

daripada tempat kedudukan Pengadilan Negeri yang di dalam daerahnya tindak

pidana itu dilakukan (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana pasal 84 ayat

(2)).

1.3 PEMBATASAN MASALAH

Agar masalah yang peneliti bahas tidak meluas sehingga dapat

mengakibatkan kekaburan dan ketidak jelasan pembatasan masalah maka

4
5

penyusun akan membatasi masalah yang akan diteliti. Pembatasan masalah

tersebut mengenai :

1. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana kesusilaan yang

dilakukan anak di bawah umur.

2. Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah

umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

3. Cara pencegahan dan penaggulangan terhadap tindak pidana kesusilaan

yang dialkukan anak di bawah umur.

1. 4 PERUMUSAN MASALAH

Agar masalah yang akan diteliti oleh penulis mempunyai penafsiran yang

jelas, maka perlu dirumuskan secara sistimatis kedalam suatu rumusan masalah,

dengan dapat dipecahkan secara sistimatis dan dapat memberikan gambaran yang

jelas.

Bedasarkan uraian dalam identifikasi dan pembatasan masalah di atas,

maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindak pidana kesusilaan

yang dilakukuan oleh anak dibawah umur di Pengadilan Negari Kabupaten

Semarang?

1.4.2 Bagaimanakah proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan

oleh anak dibawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang?

5
6

1.4.3 Bagaimanakah cara pencegahan dan penanggulangan terhadap tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur di Pengadilan

Negeri Kabupaten Semarang?

1.5 TUJUAN

Sudah dapat dipastikan bahwa setiap usaha maupun kegiatan mempunyai

tujuan yang hendak dicapai, karena tujuan akan dapat memberikan manfaat dan

penyelesaian dari penelitian yang akan dilaksanakan.

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan skripsi ini adalah:

1.5.1 Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan oleh anak dibawah umur, selama lima tahun

terakhir yang dimulai dari tahun 2000 samapai dengan 2005 yang terjadi di

wilayah hukum kabupaten Semarang.

1.5.2 Mengetahui tentang proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang

dilakukan oleh anak dibawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.

1.5.3 Mengetahui bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan terhadap

tindak pidana kesusilaan yang dilakukan oleh anak dibawah umur di

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

1.6 MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat dalam penelitian yang berudul PERADILAN TINDAK

PIDANA KESUSILAAN YANG DILAKUKAN ANAK DI BAWAH UMUR DI

PENGADILAN NEGERI KABUPATEN SEMARANG adalah :

6
7

1. Manfaat teoritis

Untuk menambah pengetahuan di bidang ilmu hukum khususnya hukum

pidana.

2. Manfaat praktis

Untuk memberi gambaran secara jelas tentang hal-hal yang dapat

menyebabkan terjadinya tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di

bawah umur dan proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan

anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang, cara

pencegahan dan penaggulangan terhadap terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur.

1.7 SISTEMATIKAN SKRIPSI

1.7.1 Bagian awal skripsi yang memuat halaman judul, persetujuan

pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan motto dan persembahan,

prakata, sari, daftar isi, dan daftar lampiran.

1.7.2 Bagian isi skripsi yang memuat

BAB I berisi terdiri dari pendahuluan yang terdiri dari latar

belakang, Identifikasi dan Pembatasan Masalah, Perumusan masalah,

Tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika skripsi.

BAB II berisi tentang, Telaah kepustakaan, bagian ini akan

menghasilkan masalah yang di bahas. Berisi kerangka pemikiran atau

teori-teori yang berkaitan dengan pokok masalah yang akan diteliti yang

memuat, faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana kesusilaan yang

7
8

dilakukan anak di bawah umur, proses peradilan tindak pidana kesusilaan

yang dilakukan anak di abwah umur, dan cara pencegahan

danpenaggulangannya suatu tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di abwah umur di daerah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

BAB III berisi tentang, metode penelitian, bagian ini berisi dasar

penelitian, lokasi penelitian, fokus atau fariabel penelitian, pendekatan

studi, sumber data penelitian, alat dan teknik pengumpulan data,

objektifitas dan keabsahan data, dan model analisis data.

BAB IV berisi tentang, hasil penelitian dan pembahasan, bagian ini

menyajikan penelitian lapangan dan permasalahan yang akan

menghubungkan fakta atau data yang diperoleh dari hasil penelitian

lapangan yang meliputi : faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur, proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur, cara pencegahan

dan pencegahan terjadinya tindak pidana kesusilaan yang dilakukananak di

bawah umur.

BAB V berisi tentang simpulan dan saran, simpulan merupakan

kritalisasi dari hasil penelitian dan pembahasan, disamping itu juga

merupakan landasan untuk mengemukakan saran, saran meliputi aspek

operasional dan kebijaksanaan.

1.7.3 Bagian akhir skripsi yang berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-

lampiran.

8
9

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1. Pengertian Tentang Anak

2.1.1 Pengertian Tentang Anak

Anak merupakan bagian dari generasi muda yang memiliki peranan

strategis dan mempunyai ciri-ciri dan sifat khusus. Oleh karena itu anak

memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan

perkembangan fisik, mental dan sosial secara utuh, serasi selaras, dan seimbang.

Dengan di undangkannya Undang-Undang N0 3 Tahun 1997 Tentang pengadilan

anak. Ketentuan pasal 1 angka 1, pasal 2 angka 2a dan 2b menyatakan secara jelas

status dan kedudukan anak yang menyebutkan bahwa:

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur delapan

tahun, tetapi belum mencapai umur delapan belas tahun dan belum pernah

kawin.

Pasal 1 angka 2a Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

a. Anak yang melakukan tindak pidana atau

b. Anak melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik

menurut peraturan perundang undangan maupun menurut peraturan hukum

lain hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Anak lebih diutamakan dalam pemahaman terhadap hak-hak anak yang harus

dilindungi, karena secara kodrat memiliki substansi yang lemah (kurang) dan di

9
9
10

dalam hukum dipandang sebagai subyek hukum yang di tanamkan dari bentuk

pertanggungjawaban, sebagaimana layaknya seorang subyek hukum yang normal.

Pengertian anak dalam lapangan hukum pidana menimbulkan aspek hukum positif

terhadap proses normalisasi anak dari perilaku menyimpang (Kejahatan dan

pelanggaran pidana) untuk membentuk kepribadian dan tanggungjawab yang

akhirnya anak tersebut berhak atas kesejahteraan yang layak dan masa depan yang

lebih baik. (Undang-Undang No. 3 Th. 1997 tentang Pengadilan Anak).

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 23 tahun 2003 tentang Perlindungan

anak.

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang

masih dalam kandungan.

Batas usia anak memberikan pengelompokan terhadap seseorang untuk

dapat disebut sebagai seorang anak. Yang dimaksud dengan batas usia anak

adalah pengelompokan usia maksimal sebagai wujud kemampuan anak dalam

status hukum sehingga anak tersebut beralih status menjadi usia dewasa atau

menjadi seorang subyek hukum yang dapat bertanggungjawab secara mandiri

terhadap perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan hukum yang dilakukan anak

itu. Batas usia anak dalam pengertian hukum pidana dirumuskan secara jelas

dalam ketentuan hukum yang terdapat dalam Undang-Undang N0 3 Tahun 1997

tentang Pengadilan Anak pada pasal 1 angka 1sebagai berikut:

“Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mecapai umur 8

tahun tetapi belum mecapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin “.

10
11

Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian tidak saja

dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi dapat ditelaah dari sisi pandang sentralistis

kehidupan agama, hukum dan sosiologi yang menjadikan pengertian anak

semakin rasional dan aktual dalam lingkungan sosial, sebab anak merupakan suatu

anugrah dari Tuhan yang berharga dan tidak dapat dinilai dengan nominal

(Wadong, 2000:1)

2.2. Tindak Pidana

2.2.1 Tinjauan Tentang Kejahatan

Kejahatan merupakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan

moral kemanusiaan (immoril) merugikan masyarakat (anti sosial) yang telah

dirumuskan dan ditentukan dalam perundang-undangan pidana. Kejahatan yang

dilakukan oleh anak timbul karena dari segi pribadinya mengalami perkembangan

fisik dan perkembangan jiwa. Emosinya belum stabil, mudah tersinggung dan

peka terhadap kritikan, sehingga mempengaruhi dirinya untuk bertindak yang

kadang-kadang tidak umum dan di luar aturan yang berlaku di masyarakat. Di

samping itu, kejahatan anak juga disebabkan karena pengaruh lingkungan.

Pangaruh kejiwaan dari individu yang hidup dalam kehidupan masyarakat,

yang mengarah pada tidak keselarasan dapat membentuk norma-norma yang

berlaku dalam masyarakat dimana individu itu hidup.Pengaruh gangguan

kejiwaan yang menimbulkan tingkah laku yang menyimpang menyebabkan

individu itu tidak dapat memisahkan antara perbuatan baik atau kejahatan.

11
12

2.2.2 Kejahatan Anak

Kejahatan anak atau dilinkuensi anak diartikan sebagai bentuk kejahatan

yang dilakukan anak dalam title khusus dari bagian Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana dan atau peraturan perundang-undangan. Spesifikasi delinkuensi

anak menjadi masalah sosial dan sekaligus hukum yang telah ada dan tumbuh

bersama perkembangan peradaban masyarakat, agama, sosial dan hukum.

Pengelompokan utama delikuensi anak merupakan masalah sosial yang terus

berkembang bersama sistim hukum sebagai bentuk solusi dari tatanan masyarakat.

Asas hukum perlindungan anak dan asas delikuensi anak adalah asas usia yang

belum dewasa, sebagaimana ketentuan pasal 1 angka 1, angka 2a dan 2b dan pasal

24 Undang-Undang N0 3 tahun 1997 tentang Pengadilan anak, asas yang dalam

rumusan tindak pidana disebut dengan asas ketidakcakapan dan ketidakmampuan

untuk mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukan di dalam

merumuskan delik (Undang-Undang No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak).

Kejahatan anak dipandang dari krimonologi.

Dalam teori anomi yang di dalamnya menterjemahkan tentang kejahatan,

bahwasanya suatu kejahatan timbul dari sikap seseorang yang berada di dalam

masyarakat dengan kurangnya akan kebutuhan ekonomi, sehingga dari kurangnya

kebutuhan ekonomi dapat menumbuhkan sifat kekurangan dan berdampak pada

kejahatan seseorang yang berusaha mencapai cita-citanya dengan melanggar

Undang-Undang, dalam teori anomi kejahatan tumbuh dari kurangnya akan

kebutuhan ekonomi terutama dari golongan ekonomi menengah ke bawah dan

golongan minoritas (Romli Atmasasmita, 1992: 25).

12
13

Faktor-faktor yang mendorong timbulnya kejahatan anak.

a. Faktor Lingkungan

Lingkungan sosial adalah berupa lingkungan rumah tangga,

sekolah dan berupa lingkungan luas sehari-hari. Rumah tangga

merupakan kelompok lingkungan yang terkecil, tetapi pengaruhnya

terhadap jiwa dan kelakuan anak adalah paling menentukan, karena

awal pendidikanya diperoleh dari lingkungan sendiri. Rumah tangga

yang tidak harmonis dapat berpengaruh terhadap perilaku jiwa anak

serta kepribadiannya, dan pergaulan juga dapat mempengaruhi efek

yang baik dan tidak baik demikian juga di lingkungan sekolah.

b. Faktor Ekonomi Sosial

Krisis ekonomi membawa banyak dampak negatif antara lain

pengangguran dan gelandangan dan ditambah kemerosotan nilai moral

agama yang dapat membawa dekadensi moral, kenakalan anak dan

sebagainya.

2. 2. 3 Kejahatan Terhadap Kesusilaan

Kejahatan kesusilaan merupakan perihal susila yang berkaitan dengan

adab sopan santun yang melanggar nilai-nilai moral dan etika dengan secara tidak

wajar dan menyimpang dari norma agama dan hukum sehingga dapat berhadapan

dengan proses hukum. Kejahatan terhadap kesusilaan pada umumnya

menimbulkan kekhawatiran atau kecemasan khususnya orang tua terhadap anak

wanita karena selain dapat mengancam keselamatan anak-anak wanita yaitu

perbuatan cabul, pemerkosaan dapat pula mempengaruhi proses pertumbuhan

13
14

kearah kedewasaan seksual lebih dini. Pada dasarnya kesusilaan bertumpu pada

nilai agama yaitu suatu perbuatan yang melanggar nilai agama atau perbuatan

dosa/ tercela. Kejahatan terhadap kesusilaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana diatur pada BAB XIV Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang terdapat

dalam pasal 281 tentang kejahatan kesusilaan. Kejahatan terhadap kesusilaan

semakin rumit dalam persepsi masyarakat dengan menonjolnya era hak asasi

manusia (HAM) dengan era globalisasi saat ini, nilai-nilai terhadap kesusilaan,

secara sengaja atau tidak sengaja, lambat atau cepat akan selalu terjadi pergeseran

nilai, khususnya dalam penanganan hukum dan proses pembuktiannya terhadap

penanganan terhadap kejahatan kesusilaan. Dalam delik kejahatan terhadap

kesusilaan banyak menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian baik dalam

penyidikan, penuntutan maupun tahap pemgambilan keputusan, selain kesulitan

dalam batasan, kesulitan pembuktian misalnya pemerkosaan atau cabul yang pada

umumnya dilakukan tanpa kehadiran orang lain. (Marpaung: 1996: 7).

14
15

2. 3. Proses Peradilan Pidana

Berdasarkan skema dibawah ini menggambarkan proses peradilan pidana:

Peristiwa pidana

Kepolisian

Penyelidikan Penyidikan

Berita Acara
Pemeriksaan

Kejaksaan Negeri

Dakwaan Penuntutan

Pengadilan Negeri

Pemeriksaan

Saksi Terdakwa

Menimbang

Memutus dan Penjatuhan Sanksi


Pidana sesuai dengan Undang-Undang

Bagan I : Proses peradilan pidana

15
16

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, bahwa suatu

proses peradilan pidana di awali dari adanya:

a. Adanya Peristiwa tindak pidana yang dilaporkan kepada kepolisian.

b. Adanya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh pihak

kepolisian terhadap tindak pidana.

c. Pembuatan berita acara pemeriksaan dari pihak kepolisian yang dibuat

dari hasil penyelidikan dan penyidikan.

d. Masukya surat berita acara pemeriksaan kepada Kejaksaan Negeri

guna pembuatan surat dakwaan yang diteruskan penuntutan yang

kemudian surat dakwaaan tersebut dimasukan kepada Pengadian

Negeri.

e. Dari pengadilan negeri mengadakan pemeriksaan lebih lanjut kepada

saksi (alat bukti) dan terdakwa.

f. Dari hasil pemeriksaan saksi (alat bukti) dan terdakwa kemudian

hakim mendapat pertimbangan dari keterangan saksi dan terdakwa

sihingga hakim dapat memutuskan dan menjatuhkan sanksi pidana

Demi Keadilan Berdasrkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan sesuai

dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

2.3.2 Perlindungan Hukum dalam Proses Peradilan terhadap Anak

Perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan tidak dapat di

lepaskan dari apa yang sebenarnya tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan

anak (juvenile justice) itu sendiri bertolak dari dasar pemikiran baru yang dapat

ditentukan apa dan bagaimana hakikat wujud dari perlindungan hukum yang

16
17

sifatnya diberikan kepada anak. Tujuan dan dasar pemikiran dari peradilan anak

jelas tidak dapat di lepaskan dari tujuan utama untuk mewujudkan kesejahteraan

anak yang pada dasarnya merupakan bagian integral dari kesejahteraan sosial.

Bahwasanya kesejahteraan atau kepentingan anak berada di bawah kepentingan

masyarakat, tetapi justru harus dilihat bahwa mendahulukan atau mengutamakan

kesejahteraan dan kepentingan anak itu pada hakikatnya merupakan bagian dari

usaha mewujudkan kesejahteraan sosial. (Barda Nawawi. Muladi: 1992: 11).

Banyaknya putusan pengadilan yang berkaitan erat dengan peradilan anak

dalam usaha pencegahan dan penanggulangan terhadap anak nakal. Hal ini

mengundang pendapat, tanggapan atau buah pikiran dari masyarakat. Pada

dasarnya sampai saat ini belum adanya Undang-Undang Pidana khusus yang

mengatur baik materi kejahatan maupun proses peradilannya. Peradilan Anak

dalam prakteknya belum dapat menyelesaikan perkara anak di Indonesia dan

sampai sekarang eksistensinya belum memperoleh tempat yang selayaknya seperti

harapan masyarakat. Peradilan anak tersebut di pengaruhi oleh faktor-faktor yang

menghambat jalannya sidang perkara anak.

Faktor-faktor pokok yang mempengaruhi eksistensi Peradilan

Anak adalah:

a. Hukum (Perangkat Perundang-Undangan)

Yang di maksud dengan faktor hukum adalah perangkat hukum

tertulis, terkodifikasi, yang meliputi hukum pidana anak dan hukum acara

pidana anak. Perangkat hukum tersebut merupakan patokan

berlangsungnya peradilan anak, karena menyangkut akan kepastian hukum

17
18

dan kesebandingan hukum, karena perundang-undangan yang mengatur

mengenai anak, sekarang ini tersebar dalam berbagai Undang-Undang dan

pada dasarnya belum memenuhi aspirasi untuk mewujudkan suatu

lembaga peradilan anak (Agung Wahyono, Siti Rahayu: 1993: 45).

b. Lembaga

Faktor yang kedua menyangkut kedudukan dan susunan lembaga

peradilan sesuai Undang-undang N0 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok

Kekuasaan Kehakiman pasal 10, mengingat kondisi, berlangsungnya

pengadilan anak diletakkan pada Badan Peradilan Umum (Agung

Wahyono, Siti Rahayu: 1993: 47).

Bahwa hakekat penempatan peradilan tidak berdasarkan

spesialisasi sebagaimana menurut penjelasan pasal 13 UU No 14 tahun

1970, tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman bahwa praktek

peradilan anak masih tergantung dengan peradilan umum dan ini

menunjukkan realita peradilan anak di Indonesia masih seadanya.

c. Masyarakat atau partisipan lain.

Respon masyarakat atau partisipan mengenai peradilan anak, pada

hakikatnya menghendaki eksistensi Peradilan anak yang berdasarkan

Undang-undang N0 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan

Kehakiman (Agung Wahyono, Siti Rahayu: 1993: 49).

Peradilan anak merupakan peradilan khusus. Hal ini didasarkan kepada

kebutuhan-kebutuhan yang sangat penting bagi anak-anak akan mempunyai dasar

perundang-undangan yang khusus, bahwa untuk peradilannya dipakai Hukum

18
19

Acara bagi orang dewasa (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana), sedangkan sebagai pegangan/dasar Hakim dalam

memutuskan adalah pasal 45, 46 dan 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

(Agung Wahyono, Siti Rahayu: 1993: 45)

2.3.3 Pandangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia Mengenai

Anak di Bawah Umur

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam masyarakat sering terjadi anak di

bawah usia 18 tahun melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran, sehingga harus

mempertanggungjawabkan secara hukum positif melalui proses pengadilan.

Dalam menghadapi perbuatan anak di bawah usia 18 tahun, hakim harus sangat

teliti apakah anak tersebut sudah dapat membeda-bedakan secara hukum akibat

dari perbuatannya atau belum. Apabila anak tersebut sudah dapat mampu

membeda-bedakan, maka hakim dapat manjatuhkan pidana terhadap anak dengan

dikurangi sepertiga dari hukuman pidana biasa, kemungkinan lain hakim dapat

memerintahkan anak tersebut untuk diserahkan kepada negara untuk dididik

melainkan tanpa pidana apapun, jika anak tersebut belum dapat membeda-

bedakan akibat perbuatannya, maka hakim dapat memerintahkan agar anak

dikembalikan kepada orang tuanya atau wali yang mengasuhnya. (Sudarsono:

2004: 1).

2.3.4 Titik Tolak Pendekatan Masalah Perlindungan Hukum Anak

Tujuan dan dasar pemikiran mengenai peradilan anak yang dikemukakan di

atas jelas merupakan titik tolak pendekatan yang pertama-tama harus

19
20

diperhtatikan dalam membicarakan masalah perlindungan hukum bagi anak dalam

proses peradilan.

Dari titik tolak pendekatan yang berorientasi pada masalah kesejahteraan

atau kepentingan anak, jelas terlihat perlunya pendekatan lain atau pendekatan

khusus dalam masalah perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan. Ini

berarti bahwa perlu ada perhatian khusus, pertimbangan, pelayanan dan perlakuan

atau perawatan khusus serta perlindungan khusus bagi anak dalam masalah

hukum dan peradilan. Pengakuan dan perlunya perlakuan dan pendekatan khusus

inilah yang jelas terlihat di dalam Declaration of the Rights of the Child, maupun

dalam Undang-Undang Kesejahteraan anak di indonesia dan negara-negara lain di

dalam Rancangan Undang-Undang Peradilan Anak di Indonesia dan Undang-

Undang Peradilan Anak yang sudah ada. Pendekatan khusus dalam menangani

masalah hukum dan peradilan anak ini sering terungkap di dalam berbagai

pernyataan antara lain;

a. Anak yang melakukan tindak pidana atau kejahatan (juvenile offender)


janganlah di pandang sebagai seorang penjahat.
b. Pendekatan yuridis terhadap anak hendaknya lebih mengutamakan
pendekatan persuasif-edukatif dan pendekatan kejiwaan (psikologis)
untuk menghindari proses hukum yang semata-mata bersifat
menghukum dan bersifat degradasi mental.(Barda Nawawi, Muladi,
1992: 14).

2.3.5 Jaminan Perlindungan Anak dalam Proses Peradilan.

Bahwa perlindungan anak dalam proses peradilan harus juga dapat

menggambarkan adanya jaminan-jaminan khusus bagi anak di bidang hukum dan

peradilan. Jaminan hukum yang bersifat khusus tidak harus bertentangan dengan

jaminan hukum yang umum Artinya: jaminan hukum yang berlaku bagi setiap

20
21

orang pada umumnya juga harus tetap berlaku bagi anak. Oleh karena itu di dalam

hak-hak anak (rights of juveniles) bahwa jaminan-jaminan prosedural yang pokok/

mendasar (basic procedural safeguards) harus di jamin pada setiap tahap proses

peradilan anak yaitu antara lain:

a. Hak untuk diberitahukanya tuduhan; .


b. Hak untuk tetap diam;
c. Hak memperoleh penasehat hukum;
d. Hak untuk hadirnya orang tua/wali;
e. Hak untuk menghadapkan saksi dan pemeriksaan silang para saksi;
f. Hak untuk banding ke tingkat yang lebih atas;
(Agung wahyono, Siti rahayu, 1993: 132).

Batas usia pertanggungjawaban anak, tidak di tetapkan batas usia

minimum untuk dapat di pertanggungjawabkannya seorang anak. Oleh karena itu

dalam sistem hukum yang mengenal batas usia pertanggungjawaban bagi anak,

permulaan batas usia pertanggungjawaban itu janganlah ditetapkan terlalu rendah

dengan mengingat faktor kematangan emosional, mental dan intelektualitas anak.

Berdasarkan pendekatan modern seorang anak dipertanggungjawabkan

atas perbuatannya harus berdasar tingkat kecerdasan dan pemahaman individual

dari anak itu. Oleh karena itu apabila batas pertanggungjawaban ditetapkan terlalu

rendah atau sama sekali tidak ditentukan, maka konsepsi pertanggungjawaban

akan menjadi tidak berarti, sehubungan dengan pedoman kiranya cukup beralasan

dan tidak terlalu rendah apabila Rancangan Undang-Undang-Pengadilan Anak

(pasal 3) dan juga konsep Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Baru (pasal 52)

menetapkan batas usia minimal 12 tahun untuk dapat dijatuhi pidana, khususnya

pidana penjara. (Agung wahyono dan Siti Rahayu, 1993 ; 133).

21
22

2.3.6 Upaya Pencegahan Kejahatan Anak

Upaya pencegahan terjadinya kejahatan anak, pada dasarnya kurangnya

kesadaran dari lingkungan masyarakat terutama dari keluarga dalam memberi

pendidikan kepada seorang anak. Jadi dalam menangani upaya pencegahan dan

penganggulangan dari kenakalan yang dapat mengakibatkan terjadinya tindak

kejahatan seorang anak, dalam masyarakat mempunyai suatu kelembagaan dalam

menangani kejahatan dan kenakalan, yang merupakan suatu reaksi terhadap

terjadinya kejahatan dan kenakalan, system kelembagaan yang dimaksud yaitu

kepolisian, kejaksaan, pengadilan yang bertujuan untuk pencegahan terhadap

tindak kejahatan dan kenakalan dari anak serta untuk sosialisasi petindak pidana.

Dapat dikatakan sebab social terjadinya suatu kejahatan antara lain terdapat pada

pola-pola nilai, system-sistem normative, pola-pola perilaku yang bertentangan,

standar-santar pengaruh golongan sosial, pengaruh keluarga dan kelompok

sebaya, bentuk-bentuk social yang dapat diidentifikasi, lingkungan abstrak dan

konkrit dan variabel-variabel lain.

Upaya–upaya pencegahan (preventif) melalui :

a. Pemberian bimbingan terhadap tingkah laku anak untuk jangka waktu

tertentu

b. Membuka lapangan kerja yang layak untuk anak

c. Meningkatkan ketrampilan kerja anak.

Upaya-upaya penanggulangan (represif) melalui :

22
23

a. Meningkatkan kedispliman dan penanaman nilai-nilai moral yang

lebih mendalam pada anak yang berperilaku menyimpang terutama

dari lingkuangan keluarga.

b. Rehabilitasi penyimpangan perilaku anak di lembaga pemasyarakatan

anak.

c. Aparat penegak hukum lebih inten dalam menagani kasus tindak

kejahatan yang khususnya dilakukan oleh anak.

2.4 Dasar Hakim Menjatuhkan Pidana dan Bentuk-Bentuk dari Pemidanaan

2.4.1 Dasar Hakim Menjatuhkan Pemidanaan

Secara tradisional teori-teori pemidanaan pada umumnya dapat dibagi

dalam dua kelompok, yaitu:

a. Teori Absolut atau Teori Pembalasan

Menurut Karl O. Christiansen yang dikutip oleh Barda Nawawi dan

Muladi dalam buku “Teori-teori dan Kebijakan Pidana” edisi 2 tahun 1998,

bahwa teori absolut atau teori pembalasan suatu pidana dijatuhkan semata-mata

karena orang telah melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana. Pidana

merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang

yang melakukan kejahatan. Jadi dasar pembenaran dari pidana terletak pada

adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri.

Ciri-ciri yang terdapat di dalam teori absolut ini adalah:

1) Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan


2) Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung
sarana untuk tujuan misalnaya untuk kesejahteraan masyarakat
3) Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana
4) Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar

23
24

5) Pidana melihat kebelakang, merupakan pencelaan yang tujuannya


tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memasyarakatkan kembali
penjahat (Muladi, Barda nawawi : 1998: 8).

b. Teori Relatif

Menurut Karl O. Christiansen yang dikutip oleh Barda Nawawi dan

Muladi dalam buku “Teori-teori dan Kebijakan Pidana” edisi 2 tahun 1998, bahwa

teori ini memidana bukanlah untuk balas dendam, melainkan untuk keadilan.

Suatu pembalasan itu tidak mempunyai nilai tetapi hanya sebagai sarana untuk

melindungi kepentingan masyarakat. Dasar dari pemidanaan pada teori ini adalah

agar orang tersebut setelah dipidana dapat menjadi lebih baik dan berguna bagi

masyarakat.

Ciri-ciri yang terdapat di dalam teori relatif ini adalah:

1) Tujuan dari pemidanaan adalah pencegahan


2) Pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sebagai sarana untuk
mencapai tujuan yang lebih baik yaitu kesejahteraan masyarakat.
3) Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan
kepada pelaku saja yang memenuhi syarat untuk adanya pidana.

4) Pidana harus ditetapkan berdasarkan tujuannya sebagai alat untuk


pencegahan kejahatan.

5) Pidana melihat ke depan. Pidana dapat mengandung unsur pencelaan,


tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan tidak dapat
diterima apabila tidak membantu pencegahan kejahatan untuk
kepentingan masyarakat (Muladi, Barda Nawawi 1998: 8-9)

2.5 Faktor-Faktor Yang Dapat Menimbulkan Kejahatan

2.5.1 Sebab-sebab timbulnya kejahatan dapat dijumpai dalam berbagai fakor,


yaitu:

a. Faktor yang terdapat dalam diri individu (inter) antara lain :

faktor psikologis kejiwaan seseorang atau mental yang terdapat pada

seseorang, juga dapat mengakibatkan terjadinya tindak kejahatan yang

24
25

dikarenakan cacat mental atau gangguan kejiwaan yang diakibatkan

adanya konflik mental yang berlebihan sehingga memunculkan

kecenderungan untuk melakukan kejahatan.

b. Faktor yang terdapat diluar diri individu (ekstern) antara lain :

(1). Faktor lingkungan masyarakat.

Dari faktor lingkungan dampak yang ditimbulkan sangat besar

terhadap suatu tindak kejahatan, yang disebabkan karena faktor

masyarakat yang relatif akan kekerasan tidak menutup

kemungkinan suatu hal yang besar suatu masyarakat juga

mengikuti perkembangannya dan juga lingkungan bergaul juga

dapat menyebabkan terjadinya tindak kejahatan karena seseorang

tumbuh dan berkembang diawali dari pergaulan, jadi pengaruh

pergaulan juga menutup kemungkinan dapat menyebabkan tindak

kejahatan yang tidak lain juga dilakukan anak di bawah umur,

karena tingkat pengaruh anak cukup tinggi untuk dapat membeda-

bedakan terhadap hal-hal yang positif dan negatif.

(2). Faktor keluarga.

Lingkungan terkecil dari masyarakat adalah keluarga, faktor yang

paling dominan terhadap terjadinya tindak kejahatan tidak lain

banyak disebabkan dari keluarga yang dikarenakan dari kurang

kasih sayang orang tua terhadap anak yang sebagian besar banyak

menimbukan tingakah laku yang tidak baik, sehingga dari hal itu

25
26

dapat menyebabkan perilaku anak untuk dapat berbuat

menyimpang.

(3). Faktor ekonomi.

Dengan kondisi ekonomi sekarng ini ada kecenderungan terhadap

pengaruh perubahan kondisi sosial masyarakat, dan hal itu

menyebabkan perubahan perilaku masyarakat yang dipengaruhi

oleh kondisi sosial ekonomi. Masyarakat lebih cenderung

melakukan pelanggaran hukum dalam memenuhi akan kebutuhan

hidup dari hal itu dapat menyebabkan pola perilaku kriminalitas

yang sering terjadi di lingkungan masyarakat (I. S. Susanto : 1995 :

30-48).

2.5.2 Menurut Abdul Syani dalm buku “sosiologi kriminalitas”, bahwa faktor-

faktor yang dapat menyebabkan tindak pidana antara lain : faktor-faktor

yang bersumber dalam diri (intern) ini dapat dibagi menjadi dua bagian

yakni faktor yang bersifat khusus dan faktor yang intern yang bersifat

umum. Sifat khusus dalam diri individu

Sifat khusus ini adalah keadaan psikologis diri individu, masalah

kepribadian sering dapat menimbulkan kelakukan yang menyimpang dan apabila

seseorang tertekan dengan perasaannya mempunyai kecenderungan untuk

melakukan penyimpangan dan penyimpangan ini kemungkinan besar terhadap

sistem sosial ataupun terhadap pola-pola kebudayaan

Dari sifat yang khusus ini ada beberapa sifat khusus yang dapat

menimbulkan kejahatan yaitu antara lain:

26
27

a. Sakit jiwa : Orang yang terkena sakit jiwa mempunyai kecenderungan

untuk bersikap anti sosial dan disebabkan oleh adanya konflik mental yang

berlebihan.

b. Daya emosional : Masalah emosional erat hubungannya dengan masalah

sosial yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat menyimpang.

Penyimpangan ini dapat mengarah kepada suatu perbuatan kriminal atau

kejahatan. Jika seseorang tersebut tidak mampu untuk mencapai

keseimbangan antara emosinya dengan kehendak masyarakat.

c. Rendahnya mental : Rendahnya mental ada hubunannya dengan daya

inteligensia. Jika ketinggalannya dirasakan sudah terlalu jauh dari keadaan

atau standar umum, maka ia akan berusaha menebusnya dengan jalan dan

pikirannya sendiri yang biasanya berlebihan. Setiap usaha yang ingin

mencapai sesuatu yang besar tanpa sedikit jerih payah indentik dengan

tindakan kejahatan.

d. Anomi : Secara psikologis, kepribadian manusia itu sifatnya dinamis, yang

ditandai adanya kehendak, berorganisasi, berbudaya dan sebagainya

(Abdul Syani, 1987 : 43-45).

2.5.3 Faktor-faktor yang bersumber dari luar individu

Pengaruh dari faktor-faktor luar inilah yang menentukan bagi seseorang

untuk mengarah kepada perbuatan jahat.

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejahatan (kriminalitas) yang

bersumber dari luar individu ini kurang lebih meliputi hal-hal sebagai berikut:

27
28

a. Faktor Ekonomi

Banyak atau sedikitnya pengaruh faktor ekonomi terhadap

timbulnya kejahatan, tetapi lebih menitikberatkan pada standar umum bahwa

faktor ekonomi merupakan salah satu penyebab dari pada timbulnya

kejahatan.

Untuk dapat memperjelas bahwa faktor-faktor ekonomi itu dapat

mengakibatkan timbulnya kejahatan atau kriminalitas, maka dapat dirincikan

sebagai berikut:

1) Pengangguran dapat dikatakan sebagai penyebab timbulnya kejahatan,

yang semuanya itu dilatarbelakangi oleh kondisi buruk faktor ekonomi.

2) Tentang perubahan-perubahan harga

Dengan adanya perubahan harga yang melambung tinggi sehingga

kebutuhan seseorang tidak dapat terpenuhi maka dapat menimbulkan

tindakan menyimpang yang tidak lain dari kejahatan

b. Faktor agama

Dari kurangnya pemahaman nilai-nilai agama dapat berpengaruh

pada seseorang untuk melakukan tindak kejahatan karena ajaran agama

mengajarkan tentang kebaikan dan menuju jalan yang benar.

c. Faktor bacaan

Bahwa bacaan-bacaan yang buruk, porno, kriminal merupakan

faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejahatan atau

kriminalitas.

28
29

d. Faktor film (termasuk televisi)

Kesan yang mungkin mendalam dari apa yang telah disaksikan dan

didengar serta acara penyajian yang berbau negatif di pertunjukan di dalam

film, sehingga dari apa yang ia lihat dan yang ia dengar dapat menggugah

perasaan dan lebih cenderung ke dalam kriminalitas (Abdul Syani, 1987: 43-

51).

2.6 Kerangka Teori/Kerangka Pikir

Faktor Intern Faktor-faktor Faktor ekstern


penyebab kejahatan

Kejahatan kesusilaan yang


dilakukan oleh anak di bawah umur

Peranan Pengadilan Negeri


Perlindungan hukum terhadap Semarang terhadap tindak
anak di bawah umur pidana kesusilaan anak di
bawah umur

Proses peradilan anak di Pengadilan


Negeri Semarang

Tercapainya perlindungan hukum


terhadap anak di bawah umur

29
30

Anak merupakan bagian dari generasi muda yang memiliki peranan

strategis dan mempunyai ciri dan sifat yang khusus. Kejahatan kesusilaan

merupakan perihal susila yang berkaitan dengan adat dan sopan santun. Faktor-

faktor penyebab kejahatan secara umum meliputi faktor intern serta faktor elstern.

Faktor intern adalah faktor yang bersumber dalam diri individu, yang terdiri dari

faktor yang bersifat khusus serta faktor yang bersifat umum. Faktor yang bersifat

khusus adalah keadaan psikologis, masalah kepribadian yang menimbulkan

kelakuan menyimpang. Seperti: sakit jiwa, rendahnya mental, daya emosional,

serta anomi. Sedangkan faktor yang bersifat umum meliputi faktor umur, sex,

pendidikan individu. Faktor-faktor ekstern ini meliputi:faktor ekonomi, faktor

agama, faktor bacaan serta film termasuk televisi (Abdul Syani, 1987 : 43-51).

Faktor-faktor inilah yang melatarbelakangi seoang anak di bawah

umur hingga melakukan kejahatan-kejahatan kesusilaan. Kejahatan ini merupakan

suatu tindakan yang melanggar nilai-nilai moral dan etika secara tidak wajar dan

menyimpang dari norma agama dan hukum, serta menimbulkan kekhawatiran,

khususnya orang tua, karena kejahatan ini mengancam keselamatan anak-anak

wanita, yaitu perbuatan cabul, pemerkosaan serta proses pertumbuhan ke arah

kedewasaan seksual lebih dini.

Pada proses hukum penanganan kejahatan kesusilaan banyak timbul

kesulitan, dalam penyelesaian baik dalam penyidikan, penuntutan maupun tahap

pengambilan keputusan,serta elain kesulitan dalam batasan, kesulitan pembuktian

misalnya pemerkosaan atau cabul pada umumnya dilakukan tanpa kehadiran

orang lain (Marpaung, 1996: 7).

30
31

Berdasar hal tersebut maka pada proses hukum penanganan kejahatan

kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur, diperlukan adanya

perlindungan hukum, hal tersebut diwujudkan dengan adanya jaminan-jaminan

khusus bagi anak di bidang hukum serta pada proses peradilan.

Proses peradilan anak dilakukan pada Pengadilan Negeri. Pada proses

peradilan tersendiri harus menjamin hak-hak anak serta jaminan-jaminan prosedur

yang pokok atau mendesak.Diharapkan melalui proses peradilan anak itu, maka

akan tercapai perlindungan hukum terhadap anak sesaui dengan tujuan Undang-

Undang yang berlaku.

31
32

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penulisan skripsi ini sebagai karya ilmiah, maka hal-hal yang

dapat membantu untuk memperlancar penyusunan skripsi ini diperlukan adanya

suatu data-data. Untuk memperoleh data-data ini diperlukan beberapa metode

sebagai pedoman karena metode penelitian ini merupakan unsur yang penting

dalam penelitian. Metodologi pada hakekatnya memberi pedoman tentang cara-

cara seorang ilmuan mempelajari, menganalisa dan memahami lingkungan yang

dihadapi. (Soekamto, 1986: 6)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:

3.1. Dasar Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan

kualitatif. Menurut Bog dan Taylor yang dimaksud penelitian kualitatif adalah

sebagai prosedur penelitian yang menggunakan data diskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati (Moleong 1990:3)

Metode kualitatif diskriptif digunakan karena beberapa pertimbangan.

Pertama penyelesaian masalah akan lebih mudah apabila berhadapan dengan

kenyataan ganda. Kedua, metode ini menggunakan secara langsung hakekat

hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih

dapat menyesuaikan diri dengan banyak prajaman pengaruh bersama dan terhadap

pola-pola yang dihadapi (Moleong, 1990: 5)

33
32
33

3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

Dengan objek penetian adalah Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang di

lakukan oleh anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

Alasan pemilihan lokasi penelitian di Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang dengan adanya kasus-kasus yang akan diteliti, maka peneliti memilih

tempat di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang dengan alasan adanya kasus,

biaya transportasi mudah dijangkau, sehingga tidak menghambat masalah kuliah.

3.3. Fokus atau Variabel Penelitian

Menurut Moleong (1991: 55) focus dasar adalah masalah yang bersumber

dari pengalaman penelitian atau melalui pengetahuan yang bersumber dari

pengalaman peneliti melalui pengetahuan yang di perolehnya dan melalui

kepustakaan ilmiah. Penentuan fokus penelitian memiliki tiga tujuan yaitu:

a. Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana kesusilaan yang

dilakukan oleh anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.

b. Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan oleh anak di

bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

c. Cara pencegahan dan penanggulangan tindak pidana kesusilaan yang

dilakukan oleh anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.

33
34

3.4. Pendekatan Studi

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif

menurut Kirk dan Miller yang dikutip oleh Moleong (2001: 3) mendefinisikan

bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial

yang secara fundamental bergantung pada manusia dalam kawasannya sendiri dan

berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam

peristilahannya.

3.5. Sumber Data Penelitian

Menurut Lop Land sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah

kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan

lain-lain (Moleong, 2002: 112)

Sumber data adalah tempat dari mana data diperoleh, diambil dan

dikumpukan. Adapun yang menjadi sumber data penelitian ini adalah:

1. Data primer

Sumber data utama atau primer adalah kata-kata dan tindakan orang-

orang yang diamati atau diwawancara (Moleong, 2002: 112). Sumber data

primer diperoleh peneliti melalui pengamatan atau observasi secara langsung

yang didukung oleh wawancara terhadap informan. Pencatatan sumber data

utama melalui pengamatan atau obervasi dan wawancara merupakan hasil usaha

gabungan dari kegiatan melihat, mendengardan bertanya yang dilakukan secara

sadar, terarah dan senantiasa bertujuan memperoleh informasi yang diperlukan.

Sumber data dalam penelitian ini adalah:

34
35

a. Responden

Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pihak-pihak

yang berkompeten dengan masalah yang diteliti yaitu Hakim dan Pengacara

b. Informan

Informan yaitu orang dalam latar penelitian yang dimanfaatkan untuk

memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian yaitu

masyarakat (Moleong, 2002: 90).

2. Data Sekunder

Selain kata-kata dan tindakan sebagai sumber data utama diperlukan

juga data-data tambahan seperi dokumen dan lain-lain sebagai sumber data

sekunder yaitu buku-buku perpustakaan dan surat putusan perkara pidana

(Moleong, 2002: 112). Jadi data sekunder digunakan untuk mendukung data

primer yaitu melalui buku-buku, arsip atau dokumen dan sumber data lain yang

relevan dengan penelitian ini.

3.6. Alat dan Teknik Pengumpulan Data

Guna mendapatkan data yang diperlukan, peneliti ini menggunakan

metode:

a. Wawancara

Wawancara adalah cara pengumpulan data dengan cara mengajukan

sejumlah pertanyaan lesan untuk dijawab secara lesan (Rachman 1999: 83)

Bahwa metode wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan

data dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara peneliti

daengan nara sumber data.

35
36

Wawancara tersebut ditujukan untuk memperoleh pendapat-pendapat

dari para ahli hukum yang menguasainya. Dalam hal ini yang dituju adalah

Hakim, Pengacara di Pengadilan Negeri Semarang. Wawancara tersebut

dilakukan untuk memperoleh pendapat para ahli hukum yang bersangkutan

mengenai faktor-faktor penyebab meningkatnya kejahatan tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur dan proses peradilan

tindak pidana kesusilaan dan cara pencegahan di Kabupaten Semarang.

b. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal/

variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

notulen rapat, metode dokumentasi.

Metode dokumentasi ini dilakukan peneliti dengan cara

mengumpulkan data tertulis melalui arsip-arsip (berkas perkara pidana),

tennasuk buku-buku tentang pendapat, teori atau buku hukum yang

berhubungan dengan tema penelitian ini adalah dokumen resmi yang didapat

dari data yang ada diPengadilan Negeri Kabupaten Semarang.

3.7. Objektifitas dan Keabsahan Data

Menggunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data

yang memanfaatkan suatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan

atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong 2001: 178). Tehnik

triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah pemeriksaan melalui sumber

lainnya yang dapat dicapai dangan jalan:

36
37

a. Membandingkan apa yang dikatakan orang dengan situasi penelitian

dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu;

b. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

pendapat dan pandangan orang;

c. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

3.8. Model Analisis Data

Analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data

kedalam pola dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan

dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan data (Moleong 2001: 103). Data

yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kualitatif.

Menurut (Miles 1992: 15-19), langkah-langkah dalam menganalisis data

adalah:

a. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses pemilihan, perumusan perhatian dan

penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi bahasan yang muncul dari

catatan yang muncul di lapangan (Miles, 1992: 15).

b. Penyajian data

Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun memberi

kemungkinan adanya kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles, 1992:

17).

37
38

c. Menarik kesimpulan atau verifikasi

Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari

konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama

penelitian berlangsung. Dalam penarikan kesimpulan ini, didasarkan pada

reduksi data dan sajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang

diangkat dalam penelitian (Miles, 1992: 19).

Untuk mempermudah pemahaman tentang metode analisis tersebut,

Miles dan Huberman menggambarkan siklus data interaktif sebagai berikut:

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Sajian Data
Kesimpulan-kesimpulan
Penarikan atau Verifikasi

Bagan III : Siklus Data Interaktif

Alur siklus data interaktif : Jika kumpulan data yang ada memiliki

karakteristik yang baik, dapat langsung dibuat dalam bentuk sajian data yang

dijadikan sebagai simpulan atau pengambilan keputusan. Namun jika data yang

ada tidak fokus atau terlalu luas dari konsentrasi penelitian maka perlu adanya

reduksi data yaitu proses pemilihan, perumusan perhatian, penyederhanaan,,

pengabstrakan dan trasformasi bahasan yang muncul dari catatan di lapangan.

Kemudian data hasil reduksi diverifikasi dengan penarikan kesimpulan. Data hasil

verifikasi disimpulkan sebagai data dan hasilnya layak digunakan dalam sajian

data tersebut.

38
39

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil Penelitian

4. 1. 1 Gambaran Umum Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Berdasarkan hasil penelitian mengenai peradilan tindak pidana yang

dilakukan anak di bawah umur di daerah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.

Pada dasarnya Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang masih bergabung

dengan Pengadilan Negeri Salatiga. Kemudian setelah Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang tidak bergabung lagi dengan Pengadilan Negeri Salatiga

pada tahun 1963 yang bertepatan pada tanggal 1 januari Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang pindah ke Ambarawa, dari kepindahan Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang tersebut dengan di dasari surat Keputusan Menteri

Kehakiman No. J. T. 18 / 1996 / 20. dan kemudian pada tanggal 17 september

1985 pindah ke Ungaran yang terletak di Jalan: Gatot Subroto No 16 Ungaran.

Dan dasar kepindahan tersebut dengan di turunkannya Surat Keputusan Menteri

Kehakiman M- 03- AT- 01- 1985.

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang menduduki luas tanah 1526 m

yang terdiri dari 2 (dua) bangunan yaitu antara lain gedung Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang dan rumah dinas. Untuk luas gedung Pengadilan Negeri

Kabupaten Semarang yang terdiri dari dua lantai dengan luas tanah 1, 425 m dan

dengan rumah dinas mempunyai luas tanah bangunan 810 m yang terdiri dari luas

40
39
40

bangunan 210 m dan luas tanah 600 m yang terdiri dari 3 rumah dinas dan untuk

mushola mempunyai luas tanah 91 m dan sisanya untuk halaman parkir dan

taman.

4. 1. 2 Wilayah Yuridis Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Untuk Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang membawahi dari 17

kecamatan yang terdiri dari kecamatan Ungaran, Bergas, Pring Apus, Bawen,

Sumowono, Ambara, Banyu biru, Jambu, Tuntang, Pabelan, Getasan, Brigin,

Bancak, Tengaran, Suruh, Kali wungu, Susukan. Dengan rincian adalah

Jumlah kecamatan yang terdiri dari 17 kecamatan, dan jumlah desa terdiri

dari 208 desa, dan jumlah kelurahan 27 kelurahan, dan dari 27 kelurahan terdiri

dari 1279 dusun dengan jumlah Rt 1557 dan Rw 6136 dan jumlah BPD 2188.

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang tergolong Pengadilan Negeri

kelas II A dimana hal itu dapat dilihat dari tren kasus dengan jumlah perkara

pidana dan perkara perdata yang masuk dari tiap tahunnya. Hal tersebut dapat

dilihat jumlah perkara yang ada pada tabel 1 (satu) di bawah ini.

Tabel I
Jumlah Perkara Pidana dan Perdata
di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

No Tahun Perkara Pidana Perkara Perdata


1 2000 165 Perkara 31 Perkara
2 2001 178 Perkara 39 Perkara
3 2003 150 Perkara 41 Perkara
4 2004 221 Perkara 48 Perkara
5 2005 197 Perkara 39 Perkara
6 2005 203 Perkara 47 Perkara

Sumber Data: Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

40
41

4.1.3. Kewenangan Pengadilan Negeri (Sesuai dengan pasal 77 sampai 86

(KUHAP)

Untuk sekarang ini Pengadilan Negeri tidak di bawah naungan

Departemen Kehakiman yang sekarang berubah dan menjadi Departemen Hukum

dan HAM (Hak Asasi Manusia). Pengasdilan Negeri dibawah Mahkamah Agung

(MA), tetapi mengenai tugas dan wewenang masih menggunakan Undang-

Undang atau peraturan yang lama karena belum adanya peraturan yang baru

(Wawancara dengan bapak Ishar Budi P : 2 Februari 2006).

Mengenai kewenangan Pengadilan Negeri, hal ini dapat dilihat dari

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana mulai dari pasal 77 sampai dengan

pasal 86 KUHAP.

Pasal 77

Pengadilan Negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan


ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang:
a. Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan;
b. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara
pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.

Sesuai yang dijelaskan pada pasal 77 diatas, bahwa pengadilan negeri

mempunyai wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara terdakwa dengan

sah atau tidaknya suatu penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan sampai

dengan penghentian penuntutan dengan mendapat ganti kerugian apapbila proses

penyidikan dan penunyutan perkara pidananya dihentikan.

Pasal 78

(1) Yang melaksanakan wewenang Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud

dalam pasal 77 adalah praperadilan.

41
42

(2) Praperadilan dipimpin oleh Hakim tunggal yang ditunjuk oleh ketua

Pengadilan Negeri dan dibantu oleh seorang panitera.

Bahwa dari pasal 78 menjelaskan , suatu wewenang pengadilan adalah

memeriksa dan memutus perkara pidana, dan sesuai dengan pasal 78 bahwa dalam

praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal dan seorang panitera yang telah

ditunjuk oleh ketua pengadilan negeri.

Pasal 79
Permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau

penahanan diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada ketua

Pengadilan Negeri dengan menyebutkan alasannya.

Tersangka, kelurga atau kuasanya dapat mengajukan tentang sah atau tidaknya

suatu penangkapan atau penahanan dengan menyebutkan alasan-alasanya kepada

ketua pengadilan.

Pasal 80
Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan

atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak

ketiga yang berkepentingan kepada ketua Pengadilan Negeri dengan

menyebutkan alasannya.

Bahwa penyidik dan penuntut umum dapat mengajukan permintaan atas

pemeriksaan kepada ketua pengadilan dari sah atau tidaknya suatu penghentian

penyidikan atau penuntutan dengan menyebutkan alasan-alasannya.

42
43

Pasal 81

Permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak sahnya

penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau

penuntutan diajukan oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan

kepada ketua Pengadilan Negeri dengan menyebut alasannya.

Bahwa tersangka dapat mengajukan kepada pengadilan negeri atas gantikerugian

atau rehabilitasi yang diakibatkan dari tidak sahnya suatu penangkapan atau

penahanan dan akibat sahnya penghentian penyidikan dan penuntutan dengan

menyebutkan alasan-alasannya.

Pasal 82
(1) Acara pemeriksaan praperadilan untuk hal sebagaimana dimaksud dalam
pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 ditentukan sebagai berikut:
a. Dalam waktu tiga hari setelah diterimanya permintaan, Hakim yang
ditunjuk menetapkan hari sidang;
b. Dalam memeriksa dan memutus tentang sah tidaknya penangkapan
atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau
penuntutan, permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat
tidak sahnya penangkapan atau penahanan, akibat sahnya penghentian
penyidikan atau penuntutan dan ada benda yang disita yang tidak
termasuk alat pembuktian, Hakim mendengar keterangan baik dari
tersangka atau pemohon maupun dari pejabat yang berwenang;
c. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara cepat dan selambat-lambatnya
tujuh hari Hakim harus sudah menjatuhkan putusannya;
d. Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan
Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada
praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur.
e. Putusan praperadilan pada tingkat penyidikan tidak menutup
kemungkinan untuk mengadakan pemeriksaan praperadilan lagi pada
tingkat pemeriksaan oleh penuntut umum, jika untuk itu diajukan
permintaan baru.
(2) Putusan Hakim dalam acara pemeriksaan praperadilan mengenai hal
sebagaimana dimaksud dalam pasal 79, pasal 80 dan pasal 81, harus
memuat dengan jelas dasar dan alasannya.
(3) Isi putusan selain memuat ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) juga memuat hal sebagai berikut:

43
44

a. Dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penangkapan atau


penahanan tidak sah, maka penyidik atau jaksa penuntut umum pada
tingkat pemeriksaan masing-masing harus segera membebaskan
tersangka;
b. Dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penghentian penyidikan
atau penuntutan tidak sah, penyidikan atau penuntutan terhadap
tersangka wajib dilanjutkan;
c. Dalam hal putusan menetapkan bahwa suatu penangkapan atau
penahanan tidak sah, maka dalam putusan dicantumkan jumlah
besarnya ganti kerugian dan rehabilitasi yang diberikan, sedangkan
dalam hal suatu penghentian penyidikan atau penuntutan adalah sah
dan tersangkanya tidak ditahan, maka dalam putusan dicantumkan
rehabilitasinya;
d. Dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang
tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan
bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka
atau dari siapa benda itu disita.
(4) Ganti kerugian dapat diminta, yang meliputi hal sebagaimana dimaksud
dalam pasal 77 dan pasal 95.

Acara pemeriksaan sebelum proses pemeriksaan peradilan mengenai

pemeriksaan sah atau tidaknya penagkapan dan penahanan yang diajukan oleh

tersangka, mengenai sah atu tidaknya suatu penyidikan atau penuntutan dan

mengenai dan mengenai ganti rugi atau rehabilitasi akibat dari sah atau tidaknya

penangkapan dilakukan oleh penghadilan negeri dalam waktu tiga hari setelah

diterimanya putusan waktu sidang. Dalam menentukan putusan praperadilan

tersebut seorang hakim harus memuat dengan jelas dasar dan alasannya isi

putusan tersebut.

Pasal 83
(1) Terhadap putusan praperadilan dalam hal sebagaimana dimaksud dalam
pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 tidak dapat dimintakan banding.
(2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) adalah putusan praperadilan yang
menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, yang
untuk itu dapat dimintakan putusan akhir ke pengadilan tinggi dalam
daerah hukum yang bersangkutan.

44
45

Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan yang diajukan

tersangka kepada ketua pengadilan negeri untuk ganti kerugian dan rehailitasi

dalam tahap putusan praperadilan sesuai dengan pasal 83 ayai (1), hal tersebut

tidak dapat dimintakan banding di kecualikan kententuan ayat (1) apabila putusan

praperadilan yang menetapkan tidak sahnya suatu penghentian atau penuntutan

yang dapat dimintakan putusan akhir ke pengadilan tinggi di dalam daerah hukum

tersangka.

Pasal 84
(1) Pengadilan Negeri berwenang mengadili segala perkara mengenai tindak
pidana yang dilakukan dalam daerah hukumnya.
(2) Pengadilan Negeri yang di dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat
tinggal, berdiam terakhir, di tempat ia diketemukan atau ditahan, hanya
berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut, apabila tempat kediaman
sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat Pengadilan
Negeri itu daripada tempat kedudukan Pengadilan Negeri yang di dalam
daerahnya tindak pidana itu dilakukan.
(3) Apabila seorang terdakwa melakukan beberapa tindak pidana dalam
daerah hukum pelbagai Pengadilan Negeri, maka tiap Pengadilan Negeri
itu masing-masing berwenang mengadili perkara pidana itu.
(4) Terhadap beberapa perkara pidana yang satu sama lain ada sangkut
pautnya dan dilakukan oleh seorang dalam daerah hukum pelbagai
Pengadilan Negeri, diadili oleh masing-masing Pengadilan Negeri dengan
ketentuan dibuka kemungkinan penggabungan perkara tersebut.

Bahwasanya pengadilan negeri hanya dapat mengadili suatu perkara yang

terdapat pada daerah hukum yang dilakukan oleh tersangka yang berdomicili

didaerah hukum pengadilan negeri tersebut.

Pasal 85
Dalam hal keadaan daerah tidak mengizinkan suatu Pengadilan Negeri untuk

mengadili suatu perkara, maka atas usul ketua Pengadilan Negeri atau kepala

kejaksaan negeri yang bersangkutan, Mahkamah Agung mengusulkan kepada

45
46

Menteri Kehakiman untuk menetapkan atau menunjuk Pengadilan Negeri lain

daripada yang tersebut pada pasal 84 untuk mengadili perkara yang dimaksud.

Dalam hal ini suatu Pengadilan Negeri tidak berwewenang mengadili suatu

perkara diluar wilayah yuridisnya, maka atas usul ketua Pengadilan Negeri, atau

Kejaksaan Negeri yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung mengusulkan

agar Menteri Kehakiman untuk menunjuk atau menetapkan Pengadilan Negeri

lain untuk mengadili suatu perkara yang dimaksud.

Pasal 86

Apabila seorang melakukan tindak pidana di luar negeri yang dapat diadili

menurut hukum Republik Indonesia, maka Pengadilan Negeri Jakarta pusat

yang berwenang mengadilinya.

Kewenangan yuridis hukum suatu negara mengikat jug pada warga negara yang

berada diluar negeri. Hal itu dimaksudkan untuk melindumgi warga negera di

negera lain. Maka pengadilan yang berwewenang untuk mengadili atau

memeriksa perkara adalah Pengadilan Negeri pusat.

4.1.4. Struktur Organisasi Pengadilan Negeri

Pada dasarnya struktur organisasi di Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang dibuat berdasarkan keputusan mahkamah agung republik Indonesia

KMA/004/SK/11/1999 pada tanggal 1 Februari 1999. Berikut ini adalah gambaran

struktur organisasi Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang yang keseluruhan

jumlahnya 70 orang.

46
47

Struktur organisasi dan kepegawaian Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang:

Ketua : Sumarto SH. M.H

Wakil ketua : Asmuis S.H

Ketua panitera/sekretaris : Suroso S.H

Wakil panitera : Mat Djusman S.H

Wakil sekretaris : Heru S. S.H

Panitera muda urusan pidana : Tris Hariadi, S.H

Panitera muda urusan perdata : Isnadi, S.H

Panitera muda urusan hukum : Hidayat, S.H

Kepala urusana kepegawaian : Ludiowo

Kepala urusan keuangan : Sri Wahyudi

Kepala urusan umum : Ishar Budi P.

Panitera pengganti : 20 orang

Calon hakim : 6 orang

Juru sita : 2 orang

Juru sita pengganti : 21 orang

Staf : 30 orang

Mengenai uraian jabatan didasarkan pada keputusan mentri Kehakiman

Republik ond nomor N.01-KP.09.05 tahun 1991 tentang penetapan uraian jabatan

di lingkungan departemen kehakiman ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Maret

1991.

47
48

4.1.5. Trend Kasus Tindak Pidana Kesusilaan

Dalam hal ini peneliti mengambil data selama lima tahun terakhir mulai

dari tahun 2000 sampai dengan 2005, berdasarkan perolehan data mengenai tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di daerah hukum

Kabupaten Semarang meningkat dari tahun ke tahun. Dapat dilihat pada tabel

intensitas tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang dari tahun 2000 sampai dengan tahun

2005 di bawah ini.

Tabel II: Tren Kasus Tindak Pidana Kesusilaan Tiap Tahun

Tahun Tindak Pidana Kesusilaan Anak


2000 5 (Kasus)
2001 6 (Kasus)
2002 4 (Kasus)
2003 6 (Kasus)
2004 7 (Kasus)
2005 9 (kasus)
Sumber: Data Penelitian Pengadilan Negeri Kabupaten Semaran

4. 2. Faktor-faktor yang dapat meyebabkan terjadinya suatu tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di Pengadilan

Negeri Kabupaten Semarang.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan anak melakukan tindak pidana

kesusilaan yaitu antara lain:

“ Faktor yang dapat menyebabkan anak melakukan tindak asusila yaitu

antara lian dari faktor Ekonomi, faktor lingkungan masyarakat, faktor pemerintah

terhadap maas media porno grafi dan porno aksi” (wawancara : Ira Setiawati,

Hakim, 27 Januari 2006).

48
49

Dari faktor-faktor diatas tersebut dapat di terangkan oleh peneliti dari hasil

wawancara dengan responden dan informan yang menerangkan tentang timbulnya

tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur.

a. Faktor ekonomi yang meliputi dari ekonomi menengah ke bawah (orang

miskin) dapat juga sering melakukan di luar kejiwaan yang biasanya

berdampak ke anak, dari kurangnya akan kebutuhan ekonomi orang tua

keseharianya, sehingga anak kurang mendapat perhatian dari orang tuanya

baik pendidikan maupun pergaulan lingkungan sekolah, dan ekonomi

menengah ke atas dapat juga berdampak ke anak, dengan tercukupinya akan

fasilitas dari segi materi sehingga anak dengan bebas akan menggunakan

fasilitasnya sampai-sampai orang tua tidak memperhatikan pendidikan,

pergaulan di karenakan akan kesibukanya.

b. Faktor lingkungan masyarakat, juga dapat sangat mempengaruhi, terjadinya

tindak asusila yang dilakukan anak di bawah umur yang disebabkan dari

lingkungan rumah tangga, kurangnya pendidikan orang tuanya itu juga bisa,

lingkungan pendidikan, kurangnya ilmu pendidikan dan pengetahuan dari

pengajar ke arah moralitas dan agama, lingkungan pergaulan baik di luar

linkungan keuarga maupun lingkungan luar sekolah.

c. Faktor pemerintah, kurangnya kebijakan pemerintah terhadap pers, dengan

tidak adanya filter dari pemerintah terhadap mass media, dari tayangan

tentang pornografi dan pornoaksi, vcd porno, majalah-majalah yang berbau

foto bugil, internet (situs porno) sangat berdampak kearah kejahatan yang

pelakunya dari dewasa sampai ke anak-anak, di karenakan kurangnya

49
50

proktek pemeritah terhadap mass media yang dinggap sepele. (Wawancara :

Ira Setiawati S.H MH, Hakim, 27 Januari 2006)

Bahwasanya hasil wawancara di atas tidak sejalan dengan pendapat Barda

nawawi, 1992, 78. dan Abdul Syani, 1987, 43-51, Bahwa faktor-faktor yang dapat

menyebabkan suatu tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak yaitu antara

lain faktor lingkungan, ekonomi dan psikologis, pemerintah, agama, bacaan dan

film dari faktor-faktor tersebut yang sangat berdampak negatif pada perilaku anak.

Seperti halnya yang di ungkapkan oleh Tyas Tri Arsoyo SH. M.H, 30

Januari 2006, sebagai pengacara)

“Faktor penyebab terjadinya tindak pidana kesusilaan yang di lakukan

anak yaitu, Faktor ekonomi, faktor lingkungan yang terdiri dari lingkungan

sekolah, pergaulan bermain bisa juga lingkungan rumah tangga, kalau dari

lingkungan ekonomi dengan kurangnya akan kebutuhan itu bisa juga, dengan

tercukupinya akan kebutuhan bisa juga dari kurangnya perhatian orang tua

sehingga anak lebih bebas bergaul” (Wawancara : Tyas Tri Arsoyo SH. M.H,:

Pengacara, 27 Januari 2006).

Seperti halnya pemaparan hasil wawancara diatas juga sesuai dengan

pendapat dari Romli Atmasasmita 1992, bahwa faktor ekonomi dan lingkungan

dalam teori anomi yang didalamnya menjelaskan tentang kejahatan, suatu

kejahatan timbul dari sikap seseorang yang berada dalam lingkungan masyarakat

dengan kurangnya akan kebutuhan ekonomi yang bisa berdampak terutama pada

perkembangan pola pikir anak. Jadi faktor ekonomi dan linkungan masyarakat

yang dapat menyebabkan akan terjadinya suatu kejahatan.

50
51

Demikian halnya yang diungkapkan oleh Agus Budiarjo sebagi ketua Rt 2

Perumahan Kedung Banteng, Kelurahan Ungaran Barat : “Ya saya sebagai

masyarakat, bagi saya perilaku anak yang melakukan tindak pidana itu jangan di

salahkan pada anak saja, jadi bagaimana pula peran orang tua dan lingkungan itu

juga di permasalahkan, dari cara mendidik anak dan bagaimana lingkungan itu

menciptakan lingkungan yang baik dan edukatif terhadap anak, itu sangat

mempengaruhi anak. Anak yang sejak kecil dia hidup dalam lingkungan yang

senang akan kekerasan secara psikologis juga akan berkembang ke arah

kekerasan. Kemudian dari orang tua yang memanjakan anak meskipun ia berbuat

salah tidak diberi teguran atau nasehat yang proporsional anak akan tidak tau

bahwa perbuatan yang dilakukan itu salah jadi peran orang tua sangatlah

berpengaruh pada perkembangan anak” (Wawancara : Agus Budiarjo, Ketua RT

2, 2 Februari 2006).

Hasil wawancara di atas sependapat dengan pemaparan dari Barda

nawawi 1992 bahwa tindak kejahatan jangan di disalahkan pada pelakunya akan

tetapi lingkungan sosial yang sangat mendukung baik dari lingkungan keluarga,

sekolah dan berupa lingkungan luas sehari-hari yang dapat menpengaruhi efek

baik dan tidak baik pada perkembangan kedewasaan anak.

Seperti halnya pendapat dari Sukimin pegawai negeri sipil: “Faktor

pendidikan dari orang tua, lingkungan rumah tangga atau keluarga sangat-sangat

berdampak pada perkembangan anak ke arah dewasa” (Wawancara : Sukimin,

Pegawai negeri sipil, 20 Februari 2006).

51
52

Demikian juga diungkapkan faktor umum yang paling dominan yang

dapat menyebabkan anak melakukan suatu tindakan asusila.

“Anak secara psikologis hormon sexnya itu semakin hari semakin

berkembang pada mendekati usia dewasanya, jadi anak mempunyai rasa

keinginan rasa dari pada sex tersebut yaitu pada intinya pegendalian diri yang

menjadi faktor dominan, dari rasa keinginan anak untuk mempraktekan rasa sex

itu sepaerti apa “(Wawancara : Agus Budiarjo, Ketua RT, 2 februari 2006)

Pendapat di atas sependapat dengan Abdul Sani 1987 bahwa faktor

psikologis dapat menyebabkan suatu tindak kejahatan, dengan perkembangan usia

kedewasaan anak dari rasa keinginan tahuannya tentang hal-hal yang menyimpang

dan mempunyai kecenderungan untuk melakukan penyimpangan yang

kemungkinan besar terhadap sistem sosial maupun pola kebudayaan.

Pendapat dari Sukimin faktor umum yang paling dominan yang dapat

menyebabkan anak melakukan kejahatan

“Faktor kontrol orang tua terhadap perkembangan usia anak dan faktor

pengaruh terhadap media massa dan media elektronik mengenai pornografi dan

pornoaksi”(Wawancara : Sukimin, Pegawai negeri sipil, 20 Februari 2006)

Hal di astas sependapat dengan Abdul sani 1987 faktor yang bersumber

dari luar individu seseorang yang meliputi faktor ekonomi, agama, bacaan dan

film yang dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak dari apa yang ia

lihat dan ia dengar sehingga dapat menggugah perasaan dari rasa keingin

tahuannya yang dapat menimbulkan perbutaan terlarang.

52
53

Dari faktor-faktor tesebut yang dapat menyebabkan suatu tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur, dampak yang di timbulkan

terhadap perkembangan kepribadiandan perilaku terhadap anak yang berkelakuan

baik. seperti halnya yang diungkapkan oleh Agus Budiarjo

“Jadi untuk melihat pengaruhnya adalah perkembangan lebih lanjut

terhadap anak yang melakukan tindakan asusila tersebut, apakah anak yang

melakukan tindakan asusila itu dia akan tidak melakukan perbuatan itu lagi

dengan varian yang berbeda, apakah malah justru dia punya pengalaman

melakukan. Sanksi penjeraan terhadap anak ini yang harus di teliti lagi apakah

harus di jatuhkan pidana penjara meskipun relative lebih dini”(Wawancara : Agus

Budiarjo, Ketua RT 2, 2 Februari 2006).

4. 3. Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang di lakukan anak di

bawah umur di daerah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang.

Berdasar hasil penelitian di lapangan di dalam proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di perlukan adanya

perlindungan hukum terhadap anak yang tidak dapat dilepaskan dari apa yang

sebenarnya tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan anak itu sendiri bertolak

dari dasar pemikiran baru yang dapat ditentukan apa dan bagaimana hakikat

wujud dari perlindungan hukum yang sifatnya di berikan kepada anak.

Untuk mengetahui proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang di

lakukan anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang dan dari

53
54

hasil wawancara dengan pihak yang berkaitan antara lain, Hakim dan Pengacara.

Dapat dilihat dari tahapan-tahapan dalam peradilan untuk anak di bawah umur di

bawah ini antara lain :

a. Dalam sidang hakim menyuruh jaksa (penuntut umum) untuk

menghadirkan terdakwa dengan dipimpin oleh hakim tunggal dengan

tidak pakai toga (tidak berpakaian dinas) dan sidang dilakukan tertutup

untuk umum.

b. Setelah terdakwa hadir, hakim membacakan indentitas terdakwa dan di

sumpah menurut agama dan kepercayaannya dalam sidang tertutup

untuk umum.

c. Hakim menyuruh jaksa (Penuntut umum)untuk menghadirkan saksi-

saksi guna untuk disumpah dan menerangkan tentang kesaksiannya dari

apa yang ia lihat dan ia dengar dalam sidang tertutup untuk umum.

d. Hakim memberikan tanya jawab kepada para saksi-saksi.

e. Hakim memberikan tanya jawab kepada terdakwa dengan didampingi

oleh orang tua terdakwa.

f. Pembacaan tuntutan oleh seorang Jaksa.(Penuntut umum).

g. Pembacaan jawaban oleh Penasihat Hukum (Replik).

h. Pembacaan jawaban oleh Jaksa (Duplik).

i. Pembacaan putusan oleh hakim terhadap sanksi pidana yang di jatuhkan

kepada terdakwa (Anak) dari hakim dengan sanksi pidana seper dua

(1/2) dari sanksi pidana untuk orang dewasa dan pembacaan putusan

dilakukan terbuka untuk umum

54
55

Dari tahapan-tahapan peradilan diatas menerangkan bahwa peradilan untuk

anak di bawah umur sesuai dengan Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang

Peradilan Anak.

Demikian hasil wawancara yang di ungkapkan oleh Ira Setiawati SH.

M.H (Hakim) Tentang peradilan tindak pidana kesusilaan secara umum.

Pada dasarnya dalam sidang untuk anak, sidang dilakukan secara

tertutup untuk umum, dan dalam persidangan hakim tidak menggunakan toga,

sidang dilakukan di ruangan sendiri yang telah disediakan oleh pihak pengadilan,

terdakwanya biasanya itu didampingi oleh orang tuanya guna mendengarkan apa

yang menyebabkan anak dari orang tua tersebut melakukan perbuatan yang

melanggar norna-norma asusila, selain anak di dampingi oleh orang tuanya anak

biasanya juga ada yang didampingi oleh BAPAS, sanksi pidananya yang di

berikan untuk anak ½ (setengah) dari hukuman yang dijatuhkan kepada orang

dewasa. Dalam putusan terbuka untuk umum, sesuai dengan (pasal 26 ayat 1, 2, 3

dan 4 Undang-Undang Peradilan Anak) di dalam persidangan anak, majelis

mendapat informasi terlebih dahulu dari BAPAS agar supaya majelis hakim

dalam menjatuhkan putusan lebih mengerti dari kasus yang sebenarnya di teliti.”

(Wawancara : Ira Setiawati S.H. M.H, Hakim, 30 januari 2006)

Pendapat diatas sesuai dengan Undang-Undang no 3 tahun 1997 Peradilan

Anak yang didalamnya menerangkan tata cara peradilan anak dan proses

penjatuhan sanksi pemidanaan yang di berikan kepada anak bahwa hakim

memeriksa anak dalam sidang tertutup, dengan hakim tunggal, dan dalam sidang

tertutup anak di dampingi oleh orang tuanya atau Penasihat Hukum dan

55
56

Pembimbing Kemasyarakatan dan penjeraan terhadap sanksi pidana untuk anak

satu per dua dari sanksi pidana untuk orang dewasa.

Demikian juga halnya di ungkapkan oleh Tyas Tri Aryoso, SH. M.H,

(pengacara).

“Sidang pada umumnya tertutup untuk umum dan sidang dilakukan di

ruangan sendiri dengan hakim tunggal tidak memakai toga, terdakwa di dampingi

oleh orang tua, sanksi pidana yang di jatuhkan setengah dari pada orang dewasa,

dalam putusan di lakukan terbuka untuk umum”(Wawancara : Tyas Tri Aryoso

SH. M.H, Pengacara, 27 Januari 2006)

Pemaparan diatas sudah sesuai dengan aturan Undang-Undang peradilan

anak yang di dasarkan pada pasal 8 dan 26 tentang poses peradilan dengan

dilakukanya siding tertutup untuk umum dan penjatuhan pidana terhadap anak.

Perbedaan peradilan tindak pidana kesusilaan antara anak dengan orang

dewasa.

“Peradilan pidana antara orang dewasa dengan anak itu ya berbeda,

pebedaanya antara lain untuk orang dewasa yaitu sidang terbuka untuk umum

sesuai dengan KUHAP, hakim dalam persidangan menggunakan toga, sanksi

pidana yang diberikan sepuhnya sesuai dengan Undang-Undang yang

mengaturnya atau KUHP, orang dewasa tidak didampingi oleh BAPAS dan orang

tuanya, dalam putuasan terbuka untuk umum. Kalau dalam persidangan anak,

sidang tertutup untuk umum, hakim tidak menggunakan toga, sidang dilakukan di

ruangan sendiri atau tertutup, sanksi pidana yang di berikan untuk anak ½ dari

orang dewasa sesuai dengan Undang-Undang Peradilan Anak, kalau anak dalam

56
57

sidang didampingi oleh oarng tuanya dan BAPAS, dan dalam putusan terbuka

untuk umum, dalam persidangan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

keterangan terlebih dahulu dari saksi korban.”(Wawancara : Ira Setiawati SH,

MH, Hakim, 30 Januari 2006).

Bahwa pendapat diatas sesuai dengan Undang-Undang no 3 tahun 1997

tentang peradilan anak, secara formal hukum acaranya yang dipakai untuk anak

berbeda dengan orang dewasa.

Seperti yang di ungkapkan oleh Tyas Tri Arsoyo SH, M.H: “Hukum

acaranya berbeda secara formal, anak hakimnya tunggal kalau dewasakan Majelis

dan prosesnya tertutup untuk umum, sedangkan putusannya terbuka untuk umum

kalau di anak ada lembaga pendamping yaitu BAPAS, tapi proses pertanyaanya

sama saja.” (Wawancara : Tyas Tri Arsoyo SH. M.H, Pengacara, 27 Januari

2006).

Bahwa hal di atas sudah sesuai yang diatu dalam Undang-Undang No 3

Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang di dalamnya menerangkan tata cara

peradilan untuk anak di bawah umur.

Letak persamaan peradilan anak dengan orang dewasa seperti halnya yang

diungkapkan oleh Ira Setiawati SH M.H:

“Yang sama antara lain yaitu sidang sesuai dengan aturan dalam KUHAP,

dalam tindak pidana kesusilaan biasanya keterangan di dengar terlebih dahulu dari

saksi korban, dan dalam putusanya terbuka untuk umum” (Wawancara : Ira

Setiawati S. H M.H, Hakim, 30 Januari 2006).

57
58

Seperti halnya yang di ugkapkan oleh Tyas Tri Arsoyo SH, M.H:

“Persamaanya, baik untuk orang dewasa ataupun untuk anak yang sekarang terjadi

penghargaan terhadap Praduga tak bersalah, itu prosesnya. jadi kita harus otopritik

di peradilan, baik hakim, jaksa, pengacara harus begitu. sidang tertutup untuk

umum dan dalam putusannya terbuka untuk umum” (Wawancara : Tyas Tri

Arsoyo SH, M.H, Pengacara, 27 januari 2006).

Letak persamaan dari hasil pemaparan diatas bahwasanya peradilan untuk

anak dalam prakteknya tidak sama dengan orang dewasa mengingat Undang-

Undang yang mengaturnya. Jadi hakim, Jaksa maupun pengacara harus otopritik

di dalam peradilan.

Faktor-faktor yang menghambat proses peradilan tindak pidana kesusilaan

yang dilakukan oleh anak di bawah umur.

”Keterlambatannya proses pemeriksaan yang dilakukan langsung oleh

BAPAS, sehingga untuk masuknya surat ke Pengadilan Negeri tersebut lambat,

dan juga terlambatnya surat yang di buat dari kejaksaan lambat, dan masalahnya

terdakwanya anak-anak sehingga dalam mempengaruhinya sangat sulit untuk

diajak ke muka persidangan harus dengan di bujuk atau merayunya harus pakai

segala macam cara supaya mau, dan dari sulitnya untuk merayu anak tersebut

memperlambat proses persidangannya, karena pengadilan sifatnya memutus

perkara baik masalahnya kecil sampai ke permasalahan yang besar” (Wawancara :

Ira Setiawati SH M.H, Hakim, 30 Januari 2006).

Sebagaimana pendapat diatas tidak sependapat dengan Agung wahyono,

Sti Rahayu 1993, bahwa dampak yang ditimbulkan dari pada proses peradilan

58
59

secara positifnya anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak negatifnya dapat

menghambat pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan dan

keterbelakangan mental, sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan

masyarakat kesan anak akan menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas

tidaksependapat dengan pemaparan dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan

pendekatan yang berorentasi pada masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan

didiperlukannya pendekatan khusus dalam masalah perlindungan hukum bagi

anak dalam proses peradilan. Pendekatan khusus dalam menangani masalah

hukum dan peradilan anak sering terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak

pidana jangan dipandang sebagai penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap

anak hendaknya lebih mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan

pendekatan psikologis untuk menghindari proses hukum yang semata-mata

bersifat menghukum yang pada akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh

pada perkembangan pola pikir anak kearah dewasa.

Demikian juga yang di ungkapkan oleh Tyas Tri Arsoyo SH, M.H:

“Tentunya pengetahuan anak di bawah umur itu kendala sendiri untuk

mengungkap kebenarannya karena keterbatasan wawasan mungkin itu juga bisa

menjadi keuntungan juga, karena anak di bawah umur jujur tidak banyak rekayasa

dan mengatakan dengan apa adanya.” (Wawancara : Tyas Tri Arsoyo SH. M.H,

Pengacara, 27 Januari 2006).

Dampak daripada proses peradilan pidana tersebut terhadap anak di bawah

umur yang melakukan tindak pidana kesusilaan.

59
60

“Dipandang dari segi positifnya. Biasanya anak bisa juga menjadi baik

setelah mendapat hukuman dari keputusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan

Negeri tersebut, bisa juga anak tersebut setelah mendapat hukuman, bisa

menyebabkan kesadaran pola piker anak dari apa yang ia lakukan sehingga bisa

membawa dampak kea rah yang lebih baik. Dari pemerintah juga dapat

memberikan dampak yang positif setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan

berubah menjadi lebih baik.

Dipandang dari segi negatifnya, Anak setelah menerima hukuman tidak

bisa menjadi baik, sehingga berdampak lebih cenderung nakal, setelah mendapat

hukuman dapat juga menghambat pendidikannya, setelah mendapat hukuman bisa

juga dapat mempengaruhui beban mental diri anak dan dapat juga anak menjadi

cacat mental sehingga mempengaruhi kejiwaan anak tersebut, anak setelah

kembali kemasyakat sangat menimbulkan kesan yang lebih jelek, sehingga anak

tersebut di dalam masyarakat di cap sebagai anak nakal. Bisa juga pendidikan

orang tua sangat mempengaruhui terhadap perilaku anak.”(Wawancara : Ira

Setiawati S.H. M. H, Hakim, 30 januari 2006).

Dampak dari pada peradilan pidana tersebut terhadap anak di bawah umur

yang melakukan tindak pidana kesusilaan menurut Tyas Tri Arsoyo SH, MH:

“Ya, menurut saya. Anak bisa akan lebih cenderung lebih nakal, karena anak

mengetahui hukuman yang dijatuhkannya lebih ringan dari pada orang dewasa.

Bisa juga anak akan lebih baik setelah mendapat hukuman yang di berikan

kepadanya, bisa juga anak malah jadi depresi atau cacat mental, itu bisa juga”

(Wawancara : Tyas Tri Arsoyo SH, M.H, Pengacara, 27 januari 2006).

60
61

Dari kedua pendapat di atas dampak yang ditimbulkan dari pada proses

peradilan secara positifnya anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak

negatifnya dapat menghambat pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan

dan keterbelakangan mental, sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan

masyarakat kesan anak akan menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas

tidaksependapat dengan pemaparan dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan

pendekatan yang berorentasi pada masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan

didiperlukannya pendekatan khusus dalam masalah perlindungan hukum bagi

anak dalam proses peradilan. Pendekatan khusus dalam menangani masalah

hukum dan peradilan anak sering terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak

pidana jangan dipandang sebagai penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap

anak hendaknya lebih mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan

pendekatan psikologis untuk menghindari proses hukum yang semata-mata

bersifat menghukum yang pada akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh

pada perkembangan pola pikir anak kearah dewasa.

Hakim dalam melakukan tugas dalam menangani anak: “Ya, yang saya

lihat meskipun kadang hakim dalam mengorek keterangan baik saksi atau pelaku

(terdakwa) itu lebih teliti dan hati-hati untuk menghargai sebagai anak.”

(Wawancara : Tyas Tri Arsoyo SH, M.H, Pengacara, 27 Januari 2006).

Menurut pandangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana mengenai anak

di bawah umur (Sudarsono, 2004) pemaparan di atas sependapat bahwa dalam

masyarakat sering terjadi anak melakukan tindak pidana. Dalam menghadapi

61
62

perbuatan anak di bawah umur hakim harus lebih teliti baik dalam mengorek

keterangan terdakwa maupun saksi.

Lembaga-lembaga khusus yang mendampingi anak dalam proses

peradilan: “Lembaga-lembaga yang khusus mendampingi anak selain orang tua

yaitu BAPAS ” (Wawancara : Ira Setiawati S.H M.H, Hakim, 30 Januari 2006)

Peran dari pada lembaga pendamping (BAPAS): “Perananya yaitu antara

lain setelah anak menerima keputusan majelis untuk menjadi anak Negara atau di

serahkan kedalam lembaga pemasyarakatan anak, peran BAPAS membimbing

dan mendidik supaya anak tersebut bisa menjadi lebih baik, mengetahui kelakuan

pekembangan anak setelah mendapat hukuman, BAPAS hanya meneliti batas

usuia anak dari usia 8 sampai dengan 18 tahun” (Wawancara : Ira Setiawati S H,

M, Hakim, 30 Januari 2006).

Seperti halya di atas peran dari pada lembaga kemasyarakatan (BAPAS)

sudah sesuai dengan Pasal 34 Undang-Undang No 3 tahun 1997 Tentang

Pengadilan anak.

4. 4. Cara pencegahan dan penanggulangan terjadinya tindak pidanan

kesusilaan yang dilakukan di bawah umur di daerah hukum

Pengadilan Negeri Kabupaten Semaran g

Dari titik tolak pendekatan yang berorentasi pada masalah kejahatan atau

kepentingan anak, jelas terlihat perlunya pendekatan khusus dalam masalah

perlindungan anak dalam proses peradilan dan perlu adanya suatu perhatian

khusus bagi anak dalam maslah perlindungan hukum dan peradilan. Bahwa

62
63

perlindungan anak dalam proses peradilan harus juga dapat menggambarkan

adanya jaminan-jaminan khusus bagi anak dalam bidang hukum dan peradilan.

Dari suatu tindak kejahatan kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur,

agar tindak tejadinya suatu peningkatan tindak pidana yang dilakukan anak maka

perlunya adanya suatu pencegahan dan cara penanggulangan suatu tindak

kejahatan yang dilakukan anak di bawah umur.

Bahwa pencegahan adalah Suatu usaha yang dilakukan sebelum terjadinya

tindak pidana atau antisipasi mulai sejak dini (Preventif).

Bahwa penaggulangan adalah Usaha dilakukan sesudah terjadinya tindak

pidana dan supaya tidak terulang lagi tindak pidana tersebut (Represif).

Jadi cara pencegahan dan cara penanggulangannya terhadap tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur tidak meningkat dapat dilihat di

bawah ini :

Usaha pencegahan (preventiv) melalui antar lain :

a. Menciptakan lingkungan masyarakat yang baik dan sehat.

b. Menciptakan lingkungan keluarga dan rumah tangga yang harmonis.

c. Memberikan pendidikan bagi anak ke arah moralitas.

d. Bijaknya pemerintah dalam pemberantasan obat-obatan terlarang dan

pemberantasan pornografi dan pornoaksi.

Usaha Menanggulanginya (represiv) melalui antara lain :

a. Meningkatkan kedisipliman dan penaman nilai-nilai moral yang lebih

mendalam pada diri anak yang berperilaku menyimpang terutama

dilingkungan keluarga.

63
64

b. Rehabilitasi penyimpangn perilaku anak dilembaga pemasyarakatan

anak.

c. Aparat penegak hukum lebih inten dalam menangani kasus tindak

pidana kejahatan yang khususnya dilakukan oleh anak.

Dari hal diatas usaha untuk dapat mencegah dan menggulangi terjadinya

tindak pidana yang khususnya dilakukan oleh nak di bawah umur, seperti halnya

yang dipaparkan oleh Hakim, Pengacara dan masyarakat di bawah ini.

“Upaya untuk mencegah dan cara menanggulangi yaitu dengan cara di

tambahnya suatu pendidikan dan tata karama (moral) bagi anak untuk mengetahui

kesopanan baik dari dari segi pendidikan sekolah ataupun dari keluarga sendiri.

Keluargalah yang sangat mendukung bagi pendidikan anak untuk berkelakuan

baik, dan dari pemerintah sangat berperan dengan diberantasnya peredaran obat-

obatan terlarang dan berita maas media tentang pornografi yang dapat

mempengaruhi perilaku anak ke arah yang negatif dan melanggar nilai agama dan

norma hukum, dan kurangnya pemerintah otoprotek terhadap pengusaha hiburan

dengan tayangan yang lebih identik ke arah pornografi dan pornoaksi seperti

halnya televisi, internet (situs) dan terbitnya majalah-majalah yang berbau

pornografi yang dapat mempengaruhui kejiwaan anak akan lebih cenderung untuk

mencoba dari apa yang ia lihat dan ia dengar untuk kearah yang salah, adanya

penberian pendidikan dari lembaga-lembaga atau yayasan, setelah anak

diserahkan dari proses peradilan ” (Wawancara : Ira Setiawati SH. M. H, Hakim,

30 Januari 2006).

64
65

Demikian halnya yang di ungkapkan oleh Tyas Tri Arsoyo SH. M.H, 27

januari 2006: “Perlu adannnya pendekatan etimologi dan kriminologi karena

bagaimanapun sisi korban itu sangat berperan. Maka dari itu dengan keterbukaan

informasi sex sangatlah penting dengan pemberian informasi yang luas dan diberi

konsekuensi dan resiko yang luas terhadap perbutan asusila atau yang berkaitan

dengan sex itu dan peran dari orangtualah yang sangat mendukung dan untuk

mengarahkan perilaku anak kearah yang positif dari linkungan sekolah dan

pergaulan, dan orang tua juga memberikan pengarahan tentang nilai-nilai moral

pada diri anak, sehingga anak dapat mengetahui sisi buruk dari perilaku

menyimpang” (Wawancara : TyasTri Arsoyo SH, M.H, Pengacara, 27 Januari

2006).

Seperti halnya yang diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat Agus

Budiarjo mengenai pencegahan dan penanggulangan tindak pidana kesusilaan

yang di lakukan anak di daerah hukum Kabupaten Semarang.

“Menciptakan lingkungan yang sehat baik mengenai informasi

pendidikan, dan menciptakan lingkungan keluarga yang baik karena anak tumbuh

dan berkembang di dalam keluarga jadi basik pendidikanlah yang sangat penting

bukan pendidikan formal dan juga dari aparat penegak hukum lebih waspada

dalam menangani kasus-kasus anak di bawah umur” (Wawancara : Agus

Budiarjo, Ketua Rt 2, 27 januari 2006).

“Meningkatkan kedisipliman dan penanaman nilai moral yang lebih

mendalam pada perilaku anak, sebagai orang tua memberikan pengarahan

mengenai perbuatan yang terpuji, memberikan pendidikan yang baik secara

65
66

formal dan menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan harmonis ”

(Wawancara : Sukimin, Pegawai negeri sipil, 20 Februari 2006).

Berdasarkan uraian pendapat di atas. Bahwa upaya dalam pencegahan dan

penaggulangan suatu tindak pidana, sejalan dengan pendapat (Topo Santoso

2001), bahwa suatu pencegahan dan penanggulangan suatu tindak pidana

kesusilaan yang khususnya dilakukan oleh anak di bawah umur antara lain:

diperlukannya kesadaran lingkungan masyarakat yang tidak lain lingkungan

rumah tangga dalam memberikan pendidikan ke arah moral dan lebih intennya

aparat penegak hukum dalam menangani kasus tindak pidana yang khususnya

dilakukan anak . Jadi pada intinya untuk uapaya pencegahan dan penanggulangan

tindak pidana yang dilakukan anak di perlukannya suatu perhatian orang tua

terhadap perilaku anak dalam memberikan pendidikan anak untuk mengarahkan

ke moralitas sehinga anak mengetahui tata karma dan sopan santun, aparat

penegak hukum dalam menagani tindak kejahatan.

4. 5. Pembahasan

Sehubungan dengan pemaparan hasil penelitian yang telah ditulis

sesuai dengan permasalahan, peneliti akan membahas hasil penelitian

tersebut :

4. 5. 1 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur

Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan perilaku anak

menyimpang dari adab sopan santun dan norma hukum yang terjadi di

66
67

wilayah hukum Kabupaten Semarang, bahwasanya dilatarbelakangi oleh

faktor-faktor antara lain:

a. Faktor ekonomi

Pada dasarnya dengan kondisi ekonomi masyarakat yang rendah ada

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

sangat berpengaruh pada perkembangan tingkah laku anak. Demikian juga

dengan ekonomi masyarakat yang tinggi yang tidak lain mempnyai

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

juga sangat berpengaruh pada perkembangan pola perilaku anak untuk

berperilaku menyimpang dari norma kesusilaan.

b. Faktor lingkungan masyarakat

Dapat juga kejahatan anak ditimbulkan dari lingkungan masyarakat.

Hal ini dikarenakan dari lingkungan yang relatif dengan kekerasan, maka

dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan masyarakat yang tidak lain

terhadap perkembangan perilaku anak karena sifat pengaruh anak sangat

besar terhadap hal-hal yang negatif dan positif.

c. Faktor pemerintah

Dari pihak pemerintah dapat juga menimbulkan kejahatan yang tidak

lain dilakukan oleh anak di bawah umur, yang dikarenakan kurangnya

perhatian pemerintah dalam memberikan kebijakan terhadap pers dari hal-

hal yang dianggap sepele seperti halnya pornografi dan pornoaksi yang

67
68

secara tidak sadar dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak

sehingga anak dapat berhungan langsung dengan proses hukum.

Jadi tindak kejahatan pada dasarnya disebabkan oleh faktor eksternal

pada seseorang, yang antara lain faktor lingkungan masyarakat, dimana

kejahatan dapat disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang

disebabkan karena dari masyarakat yang relatif akan kekerasan tidak

menutup kemungkunan suatu hal yang besar suatu masyarakat juga

mengikuti perkembanganya. Dari hal ini suatu tindak kejahatan secara

relatip besar juga dapat dilakukan oleh anak di bawah umur, yang

dikarenakan oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Demikian juga faktor

keluarga sangat-sangat berdampak pada tindak kejahatan yang dilakukan

anak di bawah umur yang dikarenakan kurangnya hubungan orang tua

terhadap anak kurang baik, sehingga dapat menimbulkan perilaku anak

menyimpang dan penyimpangan itu yang tidak lain dengan kejahatan. Dari

faktor ekonomi suatu hal faktor yang dapat menyebabkan tindak kejahatan

dilihat dari kondisi ekonomi sekarang ini bahwa ada kecenderungan

terhadap pengaruh perubahan kondisi masyarakat yang dipengaruhi oleh

kondisi sosial ekonomi. Masyarakat lebih cenderung melakukan

pelanggaran hukum dalam memenuhi akan kebutuhan hidup dari hal itu

dapat menyebabkan pola perilaku kriminalitas yang sering terjadi

dilingkngan masyarakat. Dari hal di atas bahwasanya faktor yang dapat

menyebabkan anak melakukan tindak kejahatan seperti halnya yang

68
69

dikemukakan oleh salah satu Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang bahwasanya yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana

yang dilakukan anak antara lain faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor

lingkungan masyarakat dan faktor pemerintah. Seperti halnya yang

dikemukakan oleh pengacara Tyas Tri Arsoyo bahwa faktor penyebab

terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh faktor

ekonomi, lingkungan dan pemerintah, bahwa tindak kejahatan jangan di

disalahkan pada pelakunya akan tetapi lingkungan sosial yang sangat mendukung

baik dari lingkungan keluarga, sekolah maupun berupa lingkungan luas sehari-

hari yang dapat menpengaruhi efek baik dan tidak baik pada perkembangan

kedewasaan anak.

4. 5. 2 Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Pada dasarnya undang-undang yang mengatur tentang peradilan anak

bahwasanya terletak pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan

Anak, mengingat letak peradilan anak yang eksistentinya masih bergabung

dengan badan peradilan orang dewasa, di dalam proses peradilan tindak pidana

kesusilaan anak di bawah umur bahwasanya di perlukan adanya perlindungan

hukum terhadap anak yang tidak dapat dilepaskan dari apa yang sebenarnya

tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan anak itu sendiri bertolak dari dasar

pemikiran baru yang dapat ditentukan apa dan bagaimana hakikat wujud dari

69
70

perlindungan hukum yang sifatnya di berikan kepada anak. Hukum acara yang

digunakan dalam pengadilan anak seperti halnya yang terdapat pada Undang-

Undang No3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak ayaitu :

a. Sidang tertutup untuk umum.

b. Hakim tunggal tidak memakai toga (tidak berpakaian dinas).

c. Terdakwa didampingi oleh orang tua atau penasihat hukum dan balai

pemasyarakatan (BAPAS).

d. Sanksi pidana ½ dari sanksi pidana untuk orang dewasa.

e. Dalam putusan sidang terbuka umum.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, bahwa proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di daerah hukum

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang sesuai dengan penerapan pada Undang-

Undang N0 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak pasal 26 ayat (1) sampai

dengan ayat (4).Bahwa dalam persidangan tentang peradilan anak dilakukan

dengan sidang tertutup untuk umum dengan memakai hakim tunggal dan tidak

berseragam dinas dan dalam persidangan seorang terdakwa anak di dampingi

dengan orang tua wali dan dari lembaga kemasyarakatan (BAPAS), dan dalam

penerapan sanksi pidana yang dijatuhakan terhadap anak oleh hakim satu per dua

(1/2) dari sanksi pidana untuk orang dewasa dan putusan sidang dilakukan terbuka

untuk umum. Pada eksistensi penerapan peradilan terhadap anak di bawah umur

sudah sesuai dengan Undang-Undang Pengadilan Anak yang berada. Dan dampak

yang ditimbulkan dari pada proses peradilan ada dua segi yaitu: secara positifnya,

anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak negatifnya dapat menghambat

70
71

pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan dan keterbelakangan mental,

sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan masyarakat kesan anak akan

menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas tidaksependapat dengan pemaparan

dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan pendekatan yang berorentasi pada

masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan diperlukannya pendekatan khusus

dalam masalah perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan.

Pendekatan khusus dalam menangani masalah hukum dan peradilan anak sering

terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak pidana jangan dipandang sebagai

penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap anak hendaknya lebih

mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan pendekatan psikologis untuk

menghindari proses hukum yang semata-mata bersifat menghukum yang pada

akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh pada perkembangan pola pikir

anak kearah dewasa. bahwa dalam masyarakat sering terjadi anak melakukan

tindak pidana. Jadi dalam menghadapi perbuatan anak di bawah umur hakim

harus lebih teliti baik dalam mengorek keterangan terdakwa maupun saksi.

4. 5. 3 Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Terjadinya Tindak

Pidana Kesusilaan

Hasil penelitian dari tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di

bawah umur dapat dicegah dan ditanggulangi dengan menciptakan lingkungan

yang baik yang terdiri dari lingkungan rumah tangga yang sangat berpengaruh

pada perkembangan usia anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari

keluarga, lingkungan masyarakat juga dapat membawa perkembangan anak agar

71
72

tidak terjadinya suatu tindak pidana yang disebabkan oleh anak maka dipelukanya

kontrol dan perhatian orang tua terhadap perilaku anak terutama dalam

memberikan peran pendidikan baik kea rah moralitas. Demikian juga halnya dari

pemerintah juga berperan terhadap pencegahan dan penanggulangan terhadap

tindak kejahatan asusila yang disebabkan oleh anak, maka pemerintah sangat

berperan dalam memberantas obat-obatan terlarang dan maas media yang

memunculkan sifat pornografi dan pornoaksi sehingga cepat atau lambat dapat

mempengaruhi pola pikir seseorang khususnya anak dibawah umur, lebih intenya

aparat penegak hokum dalm menagani kasus tindak pidanyang khususnya

dilakukan anak. Dilihat dari hasil penelitian dia atas bahwa pencegahan dan

penanggulangan tindak pidana di dasarkan pada sifat perhatian sebagai orang tua

terhadap anak dengan di dukung dari lingkungan masyarakat. Hal tersebut

sependapat dengan teori dari Topo Sutopo dan Arif Gosita, bahwa upaya

pencegahan dan penaggulangan tindak pdana kesusilaan yang khusunya di

lakukan anak di bawah umur, pada intinya perlunya kajian orang tua dan

lingkungan terhadap perhatian dalam memberikan basik pendidikan kepadan anak

dan menciptakan lingkungan yang sehat akan kekerasan tindak pidana. Jadi peran

lingkungan masyarakat yang sangat mendukung dalam mencegahan dan

menanggulangi suatu tindak pidana yang dilakukan anak di bawah umur, sebab

anak merupakan titipan tuhan yang diberikan kepada orang tua untuk dididik dan

dilindungi

72
73

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur, yang meliputi dari faktor-

faktor penyebab, proses peradilan sampai dengan cara pencegahan dan cara

menanggulangi suatu tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah

umur. Dapat disimpulkan sebagai berikut:

5.1.1. Faktor penyebab terjadinya tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di bawah umur antara lain:

a. Faktor ekonomi

b. Faktor lingkungan

c. Faktor pemerintah

5.1.2. Proses Peradilan

Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah

umur di daerah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang pada dasarnya

hampir sama dengan proses perdilan pidana untuk orang dewasa, namun ada

tahap-tahap tertentu yang membedakan perdilan anak dengan orang deawasa

antara lain :

a. Sidang dilakukan tertutup untuk umum.

b. Hakim tunggal tidak memakai toga (tidak berpakaian dinas)

c. Terdakwa didampingi oleh orang tua dan penasehat hukum atau balai

pemasyarakatan (BAPAS)

74
73
74

d. Sanksi pidan ½ dari sanksi untuk orang dewasa.

e. Putusan terbuka untuk umum

Bahwa peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah

umur dalam praktiknya sesuai dengan Undang-Undang yang ada, yaitu Undang-

Undang Pengadian Anak No. 3 tahun 1997.

5. 1. 3 Cara pencegahan dan penanggulangan

Untuk dapat menghindari terjadinya (Preventif) suatu tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur, maka baik masyarakat maupun

pemerintah untuk dapat menciptakan antara lain :

a. Menciptakan lingkungan masyarakat yang baik dan sehat.

b. Menciptakan lingkungan keluarga dan rumah tangga yang harmonis.

c. Memberikan pendidikan bagi anak kearah moralitas.

d. Bijaknya pemerintah dalam pemberantasan obat-obatan terlarang dan

ponoaksi dan pornografi.

Untuk dapat menanggulangi (represif) suatu tindak pidana yang dilakukan

anak di bawah umur anatara lain :

a. Meningkatkan kedisiplinan dan penanaman nilai moral yang lebih

mendalam pada diri anak yang berperilaku menyimpang terutama dari

lingkungan keluarga.

b. Adanya rehabilitasi perilaku anak di lembaga pemasyakatan anak.

c. Aparat penegak hukum lebih inten dalam menangani kasus tindak

kejahatan yang khususnya dilakukan anak di bawah umur.

74
75

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil dari penelitian di daerah hukum Pengadilan

Negeri Kabupaten Semarang, saran yang perlu dikemukakan adalah sebagai

berikut:

a. Hendaknya keluarga menciptakan suasana yang harmonis didalam

memberikan pendidikan moral, karena hal tersebut membentuk watak atau

karakter anak dalam berperilaku.

b. Bahwasanya dalam suatu proses peradilan anak dibuat suatu proses

persidanagan yang berbeda dengan orang dewasa dengan maksud agar

anak tidak merasa takut, trauma dan anak mendapat pendampingan dari

orang tua dan BAPAS sehingga dapat menguatkan mental anak dalam

proses peradilan.

c. Hendaknya orang tua memberikan pengertian tentang sex education mulai

sejak dini dan memberikan akibat-akibat yang ditimbulkan dari sex

education tersebut apabila dilakukan anak di bawah umur.

75
76

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Syani. 1987. sosiologi kriminalitas, Bandung.

D Gunarsa Singgih. 1995. Psikologi anak bermasalah. Gunung Mulia. Jakarta.

Gosita, Arief. 1989. Masalah Perlindungan Anak Edisi 2. Jakarta: Akademika


Pressindo.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Surabaya: Karya Anda.

Leden Marpaung. 1996. Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah


Prevensinya. Sinar Grafika. Jakarta.

Miles, 1992. Analisis Data kualitatif, Jkarta Universitas Indonesia.

Moeljatno. 1987. Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara. Jakarta.

Moeljatno. Kitab Undang- Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara.

Moeleong, Lexy.j. 1990, Metode Penelitian Kualitatip, Roosdakarya

Muladi, Barda Nawawi.1992. Bunga Rampai Hukum Pidana

Muladi, Nawawi Barda 1998. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana,Alumni.


Bandung.

Uzunova,T., Doneva, T. (2005). 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dinas


Pendidikan dan Kebudayaan.

___________1997. Undang-Undang N0 3 .Tentang Pengadilan Anak, Jakarta:


Sekretaris Negara Republik Indonesia.

___________2000.Undang-Undang.no 23 Tentang Perlindungan Anak, Jakarta,


Sekretaris Negara Indonesia

Sudarsono.1990. Kenakalan Remaja, Rineka Jakarta.

Sunaryati, C.F.G. Sunaryati Hartono, S.H. 1991. Politik Hukum Menuju Satu
Sistem Hukum Nasional. Bandung: Remaja Karya.

76
77

Topo Santoso, Eva Achjani Zulfa, 2001.Kriminologi. Jakarta. Raja Grafika.

Wadong, Hasan Maulana, 2000. Pengantar Advokasi Dan Perlindungan Anak.


Jakarta: Grasindo.
Wahyono Agung, Rahayu Siti. 1993. Tinjauan Tentang Peradilan Anak
Indonesia. Sinar Grafika: Jakarta.

77
78

4. 2 Pembahasan

Sehubungan dengan pemaparan hasil penelitian yang telah ditulis

sesuai dengan permasalahan, peneliti akan membahas hasil penelitian

tersebut :

4.2.1 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur

Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan perilaku anak

menyimpang dari adab sopan santun dan norma hukum yang terjadi di

wilayah hukum Kabupaten Semarang, bahwasanya dilatarbelakangi oleh

faktor-faktor antara lain:

a. Faktor keluarga

Dimana faktor diatas yang paling dominan terhadap perilaku anak,

control orag tua merupakan paling utama dalam memberikan pengarahan

terhadap anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari keluarga yang

tidak lepas dari orang tua. Maka control orang tua terhadap perilaku anak

sangatlah mendukung terhadap perkembangan jiwa dan perilaku anak, anak

dapat berperilaku menyimpang dikarenakan kurangnya control orang tua

terhadap anak baik dalam bersosial dalam masyarakat maupun dalam

lingkungan pendidikan. Jadi anak dalam berperilaku sangat membutuhkan

control orang tua guna menghindari perilaku yang menyimpang.

78
79

b. Faktor ekonomi

Pada dasarnya dengan kondisi ekonomi masyarakat yang rendah ada

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

sangat berpengaruh pada perkembangan tingkah laku anak. Demikian juga

dengan ekonomi masyarakat yang tinggi yang tidak lain mempnyai

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

juga sangat berpengaruh pada perkembangan pola perilaku anak untuk

berperilaku menyimpang dari norma kesusilaan.

c. Faktor lingkungan masyarakat

Dapat juga kejahatan anak ditimbulkan dari lingkungan masyarakat.

Hal ini dikarenakan dari lingkungan yang relatif dengan kekerasan, maka

dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan masyarakat yang tidak lain

terhadap perkembangan perilaku anak karena sifat pengaruh anak sangat

besar terhadap hal-hal yang negatif dan positif.

d. Faktor pemerintah

Dari pihak pemerintah dapat juga menimbulkan kejahatan yang tidak

lain dilakukan oleh anak di bawah umur, yang dikarenakan kurangnya

perhatian pemerintah dalam memberikan kebijakan terhadap pers dari hal-

hal yang dianggap sepele seperti halnya pornografi dan pornoaksi yang

secara tidak sadar dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak

sehingga anak dapat berhungan langsung dengan proses hukum.

79
80

Jadi tindak kejahatan pada dasarnya disebabkan oleh faktor eksternal

pada seseorang, yang antara lain faktor lingkungan masyarakat, dimana

kejahatan dapat disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang

disebabkan karena dari masyarakat yang relatif akan kekerasan tidak

menutup kemungkunan suatu hal yang besar suatu masyarakat juga

mengikuti perkembanganya. Dari hal ini suatu tindak kejahatan secara

relatip besar juga dapat dilakukan oleh anak di bawah umur, yang

dikarenakan oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Demikian juga faktor

keluarga sangat-sangat berdampak pada tindak kejahatan yang dilakukan

anak di bawah umur yang dikarenakan kurangnya hubungan orang tua

terhadap anak kurang baik, sehingga dapat menimbulkan perilaku anak

menyimpang dan penyimpangan itu yang tidak lain dengan kejahatan. Dari

faktor ekonomi suatu hal faktor yang dapat menyebabkan tindak kejahatan

dilihat dari kondisi ekonomi sekarang ini bahwa ada kecenderungan

terhadap pengaruh perubahan kondisi masyarakat yang dipengaruhi oleh

kondisi sosial ekonomi. Masyarakat lebih cenderung melakukan

pelanggaran hukum dalam memenuhi akan kebutuhan hidup dari hal itu

dapat menyebabkan pola perilaku kriminalitas yang sering terjadi

dilingkngan masyarakat. Dari hal di atas bahwasanya faktor yang dapat

menyebabkan anak melakukan tindak kejahatan seperti halnya yang

dikemukakan oleh salah satu Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang bahwasanya yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana

80
81

yang dilakukan anak antara lain faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor

lingkungan masyarakat dan faktor pemerintah. Seperti halnya yang

dikemukakan oleh pengacara Tyas Tri Arsoyo bahwa faktor penyebab

terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh faktor

ekonomi, lingkungan dan keluarga, bahwa tindak kejahatan jangan di

disalahkan pada pelakunya akan tetapi lingkungan sosial yang sangat mendukung

baik dari lingkungan keluarga, sekolah maupun berupa lingkungan luas sehari-

hari yang dapat menpengaruhi efek baik dan tidak baik pada perkembangan

kedewasaan anak.

4. 2. 2 Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Pada dasarnya undang-undang yang mengatur tentang peradilan anak

bahwasanya terletak pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan

Anak, mengingat letak peradilan anak yang eksistentinya masih bergabung

dengan badan peradilan orang dewasa, di dalam proses peradilan tindak pidana

kesusilaan anak di bawah umur bahwasanya di perlukan adanya perlindungan

hukum terhadap anak yang tidak dapat dilepaskan dari apa yang sebenarnya

tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan anak itu sendiri bertolak dari dasar

pemikiran baru yang dapat ditentukan apa dan bagaimana hakikat wujud dari

perlindungan hukum yang sifatnya di berikan kepada anak. Hukum acara yang

81
82

digunakan dalam pengadilan anak seperti halnya yang terdapat pada Undang-

Undang No3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak ayaitu :

f. Sidang tertutup untuk umum.

g. Hakim tunggal tidak memakai toga (tidak berpakaian dinas).

h. Terdakwa didampingi oleh orang tua atau penasihat hukum dan balai

pemasyarakatan (BAPAS).

i. Sanksi pidana ½ dari sanksi pidana untuk orang dewasa.

j. Dalam putusan sidang terbuka umum.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, bahwa proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di daerah hukum

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang sesuai dengan penerapan pada Undang-

Undang N0 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak pasal 26 ayat (1) sampai

dengan ayat (4).Bahwa dalam persidangan tentang peradilan anak dilakukan

dengan sidang tertutup untuk umum dengan memakai hakim tunggal dan tidak

berseragam dinas dan dalam persidangan seorang terdakwa anak di dampingi

dengan orang tua wali dan dari lembaga kemasyarakatan (BAPAS), dan dalam

penerapan sanksi pidana yang dijatuhakan terhadap anak oleh hakim satu per dua

(1/2) dari sanksi pidana untuk orang dewasa dan putusan sidang dilakukan terbuka

untuk umum. Pada eksistensi penerapan peradilan terhadap anak di bawah umur

sudah sesuai dengan Undang-Undang Pengadilan Anak yang berada. Dan dampak

yang ditimbulkan dari pada proses peradilan ada dua segi yaitu: secara positifnya,

anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak negatifnya dapat menghambat

pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan dan keterbelakangan mental,

82
83

sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan masyarakat kesan anak akan

menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas tidaksependapat dengan pemaparan

dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan pendekatan yang berorentasi pada

masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan diperlukannya pendekatan khusus

dalam masalah perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan.

Pendekatan khusus dalam menangani masalah hukum dan peradilan anak sering

terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak pidana jangan dipandang sebagai

penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap anak hendaknya lebih

mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan pendekatan psikologis untuk

menghindari proses hukum yang semata-mata bersifat menghukum yang pada

akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh pada perkembangan pola pikir

anak kearah dewasa. bahwa dalam masyarakat sering terjadi anak melakukan

tindak pidana. Jadi dalam menghadapi perbuatan anak di bawah umur hakim

harus lebih teliti baik dalam mengorek keterangan terdakwa maupun saksi.

4. 2. 3 Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Pidana Kesusilaan

Hasil penelitian dari tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di

bawah umur dapat dicegah dan ditanggulangi dengan menciptakan lingkungan

yang baik yang terdiri dari lingkungan rumah tangga yang sangat berpengaruh

pada perkembangan usia anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari

keluarga, lingkungan masyarakat juga dapat membawa perkembangan anak agar

tidak terjadinya suatu tindak pidana yang disebabkan oleh anak maka dipelukanya

kontrol dan perhatian orang tua terhadap perilaku anak terutama dalam

memberikan peran pendidikan baik kea rah moralitas. Demikian juga halnya dari

83
84

pemerintah juga berperan terhadap pencegahan dan penanggulangan terhadap

tindak kejahatan asusila yang disebabkan oleh anak, maka pemerintah sangat

berperan dalam memberantas obat-obatan terlarang dan maas media yang

memunculkan sifat pornografi dan pornoaksi sehingga cepat atau lambat dapat

mempengaruhi pola pikir seseorang khususnya anak dibawah umur, lebih intenya

aparat penegak hokum dalm menagani kasus tindak pidanyang khususnya

dilakukan anak. Dilihat dari hasil penelitian dia atas bahwa pencegahan dan

penanggulangan tindak pidana di dasarkan pada sifat perhatian sebagai orang tua

terhadap anak dengan di dukung dari lingkungan masyarakat. Hal tersebut

sependapat dengan teori dari Topo Sutopo dan Arif Gosita, bahwa upaya

pencegahan dan penaggulangan tindak pdana kesusilaan yang khusunya di

lakukan anak di bawah umur, pada intinya perlunya kajian orang tua dan

lingkungan terhadap perhatian dalam memberikan basik pendidikan kepadan anak

dan menciptakan lingkungan yang sehat akan kekerasan tindak pidana. Jadi peran

lingkungan masyarakat yang sangat mendukung dalam mencegahan dan

menanggulangi suatu tindak pidana yang dilakukan anak di bawah umur, sebab

anak merupakan titipan tuhan yang diberikan kepada orang tua untuk dididik dan

dilindungi.

84
85

4. 2 Pembahasan

Sehubungan dengan pemaparan hasil penelitian yang telah ditulis

sesuai dengan permasalahan, peneliti akan membahas hasil penelitian

tersebut :

4.2.1 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur

Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan perilaku anak

menyimpang dari adab sopan santun dan norma hukum yang terjadi di

wilayah hukum Kabupaten Semarang, bahwasanya dilatarbelakangi oleh

faktor-faktor antara lain:

a. Faktor keluarga

Dimana faktor diatas yang paling dominan terhadap perilaku anak,

control orag tua merupakan paling utama dalam memberikan pengarahan

terhadap anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari keluarga yang

tidak lepas dari orang tua. Maka control orang tua terhadap perilaku anak

sangatlah mendukung terhadap perkembangan jiwa dan perilaku anak, anak

dapat berperilaku menyimpang dikarenakan kurangnya control orang tua

terhadap anak baik dalam bersosial dalam masyarakat maupun dalam

lingkungan pendidikan. Jadi anak dalam berperilaku sangat membutuhkan

control orang tua guna menghindari perilaku yang menyimpang.

85
86

b. Faktor ekonomi

Pada dasarnya dengan kondisi ekonomi masyarakat yang rendah ada

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

sangat berpengaruh pada perkembangan tingkah laku anak. Demikian juga

dengan ekonomi masyarakat yang tinggi yang tidak lain mempnyai

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

juga sangat berpengaruh pada perkembangan pola perilaku anak untuk

berperilaku menyimpang dari norma kesusilaan.

c. Faktor lingkungan masyarakat

Dapat juga kejahatan anak ditimbulkan dari lingkungan masyarakat.

Hal ini dikarenakan dari lingkungan yang relatif dengan kekerasan, maka

dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan masyarakat yang tidak lain

terhadap perkembangan perilaku anak karena sifat pengaruh anak sangat

besar terhadap hal-hal yang negatif dan positif.

d. Faktor pemerintah

Dari pihak pemerintah dapat juga menimbulkan kejahatan yang tidak

lain dilakukan oleh anak di bawah umur, yang dikarenakan kurangnya

perhatian pemerintah dalam memberikan kebijakan terhadap pers dari hal-

hal yang dianggap sepele seperti halnya pornografi dan pornoaksi yang

secara tidak sadar dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak

sehingga anak dapat berhungan langsung dengan proses hukum.

86
87

Jadi tindak kejahatan pada dasarnya disebabkan oleh faktor eksternal

pada seseorang, yang antara lain faktor lingkungan masyarakat, dimana

kejahatan dapat disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang

disebabkan karena dari masyarakat yang relatif akan kekerasan tidak

menutup kemungkunan suatu hal yang besar suatu masyarakat juga

mengikuti perkembanganya. Dari hal ini suatu tindak kejahatan secara

relatip besar juga dapat dilakukan oleh anak di bawah umur, yang

dikarenakan oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Demikian juga faktor

keluarga sangat-sangat berdampak pada tindak kejahatan yang dilakukan

anak di bawah umur yang dikarenakan kurangnya hubungan orang tua

terhadap anak kurang baik, sehingga dapat menimbulkan perilaku anak

menyimpang dan penyimpangan itu yang tidak lain dengan kejahatan. Dari

faktor ekonomi suatu hal faktor yang dapat menyebabkan tindak kejahatan

dilihat dari kondisi ekonomi sekarang ini bahwa ada kecenderungan

terhadap pengaruh perubahan kondisi masyarakat yang dipengaruhi oleh

kondisi sosial ekonomi. Masyarakat lebih cenderung melakukan

pelanggaran hukum dalam memenuhi akan kebutuhan hidup dari hal itu

dapat menyebabkan pola perilaku kriminalitas yang sering terjadi

dilingkngan masyarakat. Dari hal di atas bahwasanya faktor yang dapat

menyebabkan anak melakukan tindak kejahatan seperti halnya yang

dikemukakan oleh salah satu Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang bahwasanya yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana

87
88

yang dilakukan anak antara lain faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor

lingkungan masyarakat dan faktor pemerintah. Seperti halnya yang

dikemukakan oleh pengacara Tyas Tri Arsoyo bahwa faktor penyebab

terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh faktor

ekonomi, lingkungan dan keluarga, bahwa tindak kejahatan jangan di

disalahkan pada pelakunya akan tetapi lingkungan sosial yang sangat mendukung

baik dari lingkungan keluarga, sekolah maupun berupa lingkungan luas sehari-

hari yang dapat menpengaruhi efek baik dan tidak baik pada perkembangan

kedewasaan anak.

4. 2. 2 Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Pada dasarnya undang-undang yang mengatur tentang peradilan anak

bahwasanya terletak pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan

Anak, mengingat letak peradilan anak yang eksistentinya masih bergabung

dengan badan peradilan orang dewasa, di dalam proses peradilan tindak pidana

kesusilaan anak di bawah umur bahwasanya di perlukan adanya perlindungan

hukum terhadap anak yang tidak dapat dilepaskan dari apa yang sebenarnya

tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan anak itu sendiri bertolak dari dasar

pemikiran baru yang dapat ditentukan apa dan bagaimana hakikat wujud dari

perlindungan hukum yang sifatnya di berikan kepada anak. Hukum acara yang

88
89

digunakan dalam pengadilan anak seperti halnya yang terdapat pada Undang-

Undang No3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak ayaitu :

k. Sidang tertutup untuk umum.

l. Hakim tunggal tidak memakai toga (tidak berpakaian dinas).

m. Terdakwa didampingi oleh orang tua atau penasihat hukum dan balai

pemasyarakatan (BAPAS).

n. Sanksi pidana ½ dari sanksi pidana untuk orang dewasa.

o. Dalam putusan sidang terbuka umum.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, bahwa proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di daerah hukum

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang sesuai dengan penerapan pada Undang-

Undang N0 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak pasal 26 ayat (1) sampai

dengan ayat (4).Bahwa dalam persidangan tentang peradilan anak dilakukan

dengan sidang tertutup untuk umum dengan memakai hakim tunggal dan tidak

berseragam dinas dan dalam persidangan seorang terdakwa anak di dampingi

dengan orang tua wali dan dari lembaga kemasyarakatan (BAPAS), dan dalam

penerapan sanksi pidana yang dijatuhakan terhadap anak oleh hakim satu per dua

(1/2) dari sanksi pidana untuk orang dewasa dan putusan sidang dilakukan terbuka

untuk umum. Pada eksistensi penerapan peradilan terhadap anak di bawah umur

sudah sesuai dengan Undang-Undang Pengadilan Anak yang berada. Dan dampak

yang ditimbulkan dari pada proses peradilan ada dua segi yaitu: secara positifnya,

anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak negatifnya dapat menghambat

pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan dan keterbelakangan mental,

89
90

sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan masyarakat kesan anak akan

menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas tidaksependapat dengan pemaparan

dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan pendekatan yang berorentasi pada

masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan diperlukannya pendekatan khusus

dalam masalah perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan.

Pendekatan khusus dalam menangani masalah hukum dan peradilan anak sering

terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak pidana jangan dipandang sebagai

penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap anak hendaknya lebih

mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan pendekatan psikologis untuk

menghindari proses hukum yang semata-mata bersifat menghukum yang pada

akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh pada perkembangan pola pikir

anak kearah dewasa. bahwa dalam masyarakat sering terjadi anak melakukan

tindak pidana. Jadi dalam menghadapi perbuatan anak di bawah umur hakim

harus lebih teliti baik dalam mengorek keterangan terdakwa maupun saksi.

4. 2. 3 Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Pidana Kesusilaan

Hasil penelitian dari tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di

bawah umur dapat dicegah dan ditanggulangi dengan menciptakan lingkungan

yang baik yang terdiri dari lingkungan rumah tangga yang sangat berpengaruh

pada perkembangan usia anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari

keluarga, lingkungan masyarakat juga dapat membawa perkembangan anak agar

tidak terjadinya suatu tindak pidana yang disebabkan oleh anak maka dipelukanya

kontrol dan perhatian orang tua terhadap perilaku anak terutama dalam

memberikan peran pendidikan baik kea rah moralitas. Demikian juga halnya dari

90
91

pemerintah juga berperan terhadap pencegahan dan penanggulangan terhadap

tindak kejahatan asusila yang disebabkan oleh anak, maka pemerintah sangat

berperan dalam memberantas obat-obatan terlarang dan maas media yang

memunculkan sifat pornografi dan pornoaksi sehingga cepat atau lambat dapat

mempengaruhi pola pikir seseorang khususnya anak dibawah umur, lebih intenya

aparat penegak hokum dalm menagani kasus tindak pidanyang khususnya

dilakukan anak. Dilihat dari hasil penelitian dia atas bahwa pencegahan dan

penanggulangan tindak pidana di dasarkan pada sifat perhatian sebagai orang tua

terhadap anak dengan di dukung dari lingkungan masyarakat. Hal tersebut

sependapat dengan teori dari Topo Sutopo dan Arif Gosita, bahwa upaya

pencegahan dan penaggulangan tindak pdana kesusilaan yang khusunya di

lakukan anak di bawah umur, pada intinya perlunya kajian orang tua dan

lingkungan terhadap perhatian dalam memberikan basik pendidikan kepadan anak

dan menciptakan lingkungan yang sehat akan kekerasan tindak pidana. Jadi peran

lingkungan masyarakat yang sangat mendukung dalam mencegahan dan

menanggulangi suatu tindak pidana yang dilakukan anak di bawah umur, sebab

anak merupakan titipan tuhan yang diberikan kepada orang tua untuk dididik dan

dilindungi.

91
92

PEDOMAN WAWANCARA

Yang berjudul: PERADILAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN YANG

DILAKUKAN ANAK DI BAWAH UMUR/DI PENGADILAN NEGERI KAB.

SEMARANG

Identitas :

Nama Informan :

Umur :

Jabatan :

Hakim

1. Bagaimana proses peradilan tindak pidana kesusilaan secara umum?

2. Bagaimana proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang khusus dilakukan

oleh anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang?

3. Apakah sama atau berbeda proses peradilan tindak pidana kesusilaan antara

orang dewasa dengan anak yang di bawah umur?jelaskan.

4. Jika sama di mana letak persamaan proses peradilan tindak pidana kesusilaan?

Jelaskan!

5. Faktor apakah yang menghambat proses peradilan tindak pidana kesusilaan

yang dilakukan oleh anak di pengadilan?

92
93

6. Bagaimana dampak dari pada proses peradilan pidana tersebut terhadap anak

di bawah umur yang melakukan tindak pidana kesusilaan?

7. Apakah ada lembaga-lembaga khusus yang mendampingi anak-anak tersebut


dalam proses peradilan?

8. Jika ada, apa sajakah lembaga yang mendampingi anak dalam proses

peradilan?

9. Sebagai apakah peran lembaga pendamping dalam peradilan anak?

10. Faktor-faktor apakah yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur di wilayah Kabupaten

Semarang?

11. Menurut bpk/ibu, upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya

tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur?

12. Menurut bpk/ibu bagaimana cara menanggulangi supaya tindak pidana


kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di wilayah kabupaten

Semarang tidak mengalami peningkatan?

93
94

PEDOMAN WAWANCARA

Yang berjudul: PERADILAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN YANG

DILAKUKAN ANAK DI BAWAH UMUR/DI PENGADILAN

NEGERI KAB. SEMARANG

Identitas :

Nama Informan :

Umur :

Jabatan :

Pengacara:

1. Bagaimana proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang khusus dilakukan

oleh anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang?

2. Bagaimana dampak dari pada proses peradilan pidana tersebut terhadap anak

di bawah umur yang melakukan tindak pidana kesusilaan?

3. Bagaimana proses peradilan tindak pidana kesusilaan secara umum?

4. Jika sama di mana letak persamaan proses peradilan tindak pidana kesusilaan?

5. Apakah sama atau berbeda proses peradilan tindak pidana kesusilaan antara

orang dewasa dengan anak yang di bawah umur?jelaskan.

6. Faktor apakah yang menghambat proses peradilan tindak pidana kesusilaan

yang dilakukan oleh anak di pengadilan?

7. Bagaimana hakim melakukan tugas dalam menangani anak?

94
95

PEDOMAN WAWANCARA

Yang berjudul: PERADILAN TINDAK PIDANA KESUSILAAN YANG

DILAKUKAN ANAK DI BAWAH UMUR/DI PENGADILAN

NEGERI KAB. SEMARANG

Identitas :

Nama Informan :

Umur :

Jabatan :

Masyarakat:

1. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap perilaku tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur?

2. Apakah dampak yang ditimbulkan dengan adanya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur terhadap perkembangan

kepribadian dan perilaku anak yang berkelakuan baik?

3. Faktor-faktor apa yang menyebabkan tindak pidana yang dilakukan anak

di bawah umur?

4. Sebutkan Faktor umum yang paling dominan yang menyebabkan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur di Kabupaten

Semarang?

95
96

5. Bagaimana cara pencegahan tindak pidana kesusiaan yang dilakukan anak

di bawah umur di wilayah Kab Semarang?

Bagaimana cara menanggulangi tindak pidana kesusilaan yang dilakukan

anak di bawah umur di wilayah Kabupaten Semarang?

96
97

4. 2 Pembahasan

Sehubungan dengan pemaparan hasil penelitian yang telah ditulis

sesuai dengan permasalahan, peneliti akan membahas hasil penelitian

tersebut :

4.2.1 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana

kesusilaan yang dilakukan anak di bawah umur

Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan perilaku anak

menyimpang dari adab sopan santun dan norma hukum yang terjadi di

wilayah hukum Kabupaten Semarang, bahwasanya dilatarbelakangi oleh

faktor-faktor antara lain:

a. Faktor keluarga

Dimana faktor diatas yang paling dominan terhadap perilaku anak,

control orag tua merupakan paling utama dalam memberikan pengarahan

terhadap anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari keluarga yang

tidak lepas dari orang tua. Maka control orang tua terhadap perilaku anak

sangatlah mendukung terhadap perkembangan jiwa dan perilaku anak, anak

dapat berperilaku menyimpang dikarenakan kurangnya control orang tua

terhadap anak baik dalam bersosial dalam masyarakat maupun dalam

lingkungan pendidikan. Jadi anak dalam berperilaku sangat membutuhkan

control orang tua guna menghindari perilaku yang menyimpang.

97
98

b. Faktor ekonomi

Pada dasarnya dengan kondisi ekonomi masyarakat yang rendah ada

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

sangat berpengaruh pada perkembangan tingkah laku anak. Demikian juga

dengan ekonomi masyarakat yang tinggi yang tidak lain mempnyai

kecenderungan berpengaruh pada pola tingkah laku masyarakat. Hal ini

juga sangat berpengaruh pada perkembangan pola perilaku anak untuk

berperilaku menyimpang dari norma kesusilaan.

c. Faktor lingkungan masyarakat

Dapat juga kejahatan anak ditimbulkan dari lingkungan masyarakat.

Hal ini dikarenakan dari lingkungan yang relatif dengan kekerasan, maka

dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan masyarakat yang tidak lain

terhadap perkembangan perilaku anak karena sifat pengaruh anak sangat

besar terhadap hal-hal yang negatif dan positif.

d. Faktor pemerintah

Dari pihak pemerintah dapat juga menimbulkan kejahatan yang tidak

lain dilakukan oleh anak di bawah umur, yang dikarenakan kurangnya

perhatian pemerintah dalam memberikan kebijakan terhadap pers dari hal-

hal yang dianggap sepele seperti halnya pornografi dan pornoaksi yang

secara tidak sadar dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak

sehingga anak dapat berhungan langsung dengan proses hukum.

98
99

Jadi tindak kejahatan pada dasarnya disebabkan oleh faktor eksternal

pada seseorang, yang antara lain faktor lingkungan masyarakat, dimana

kejahatan dapat disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang

disebabkan karena dari masyarakat yang relatif akan kekerasan tidak

menutup kemungkunan suatu hal yang besar suatu masyarakat juga

mengikuti perkembanganya. Dari hal ini suatu tindak kejahatan secara

relatip besar juga dapat dilakukan oleh anak di bawah umur, yang

dikarenakan oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Demikian juga faktor

keluarga sangat-sangat berdampak pada tindak kejahatan yang dilakukan

anak di bawah umur yang dikarenakan kurangnya hubungan orang tua

terhadap anak kurang baik, sehingga dapat menimbulkan perilaku anak

menyimpang dan penyimpangan itu yang tidak lain dengan kejahatan. Dari

faktor ekonomi suatu hal faktor yang dapat menyebabkan tindak kejahatan

dilihat dari kondisi ekonomi sekarang ini bahwa ada kecenderungan

terhadap pengaruh perubahan kondisi masyarakat yang dipengaruhi oleh

kondisi sosial ekonomi. Masyarakat lebih cenderung melakukan

pelanggaran hukum dalam memenuhi akan kebutuhan hidup dari hal itu

dapat menyebabkan pola perilaku kriminalitas yang sering terjadi

dilingkngan masyarakat. Dari hal di atas bahwasanya faktor yang dapat

menyebabkan anak melakukan tindak kejahatan seperti halnya yang

dikemukakan oleh salah satu Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten

Semarang bahwasanya yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana

99
100

yang dilakukan anak antara lain faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor

lingkungan masyarakat dan faktor pemerintah. Seperti halnya yang

dikemukakan oleh pengacara Tyas Tri Arsoyo bahwa faktor penyebab

terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh faktor

ekonomi, lingkungan dan keluarga, bahwa tindak kejahatan jangan di

disalahkan pada pelakunya akan tetapi lingkungan sosial yang sangat mendukung

baik dari lingkungan keluarga, sekolah maupun berupa lingkungan luas sehari-

hari yang dapat menpengaruhi efek baik dan tidak baik pada perkembangan

kedewasaan anak.

4. 2. 2 Proses peradilan tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak

di bawah umur di Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang

Pada dasarnya undang-undang yang mengatur tentang peradilan anak

bahwasanya terletak pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan

Anak, mengingat letak peradilan anak yang eksistentinya masih bergabung

dengan badan peradilan orang dewasa, di dalam proses peradilan tindak pidana

kesusilaan anak di bawah umur bahwasanya di perlukan adanya perlindungan

hukum terhadap anak yang tidak dapat dilepaskan dari apa yang sebenarnya

tujuan atau dasar pemikiran dari peradilan anak itu sendiri bertolak dari dasar

pemikiran baru yang dapat ditentukan apa dan bagaimana hakikat wujud dari

perlindungan hukum yang sifatnya di berikan kepada anak. Hukum acara yang

100
101

digunakan dalam pengadilan anak seperti halnya yang terdapat pada Undang-

Undang No3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak ayaitu :

p. Sidang tertutup untuk umum.

q. Hakim tunggal tidak memakai toga (tidak berpakaian dinas).

r. Terdakwa didampingi oleh orang tua atau penasihat hukum dan balai

pemasyarakatan (BAPAS).

s. Sanksi pidana ½ dari sanksi pidana untuk orang dewasa.

t. Dalam putusan sidang terbuka umum.

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan, bahwa proses peradilan tindak

pidana kesusilaan yang dilakukan anak dibawah umur di daerah hukum

Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang sesuai dengan penerapan pada Undang-

Undang N0 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak pasal 26 ayat (1) sampai

dengan ayat (4).Bahwa dalam persidangan tentang peradilan anak dilakukan

dengan sidang tertutup untuk umum dengan memakai hakim tunggal dan tidak

berseragam dinas dan dalam persidangan seorang terdakwa anak di dampingi

dengan orang tua wali dan dari lembaga kemasyarakatan (BAPAS), dan dalam

penerapan sanksi pidana yang dijatuhakan terhadap anak oleh hakim satu per dua

(1/2) dari sanksi pidana untuk orang dewasa dan putusan sidang dilakukan terbuka

untuk umum. Pada eksistensi penerapan peradilan terhadap anak di bawah umur

sudah sesuai dengan Undang-Undang Pengadilan Anak yang berada. Dan dampak

yang ditimbulkan dari pada proses peradilan ada dua segi yaitu: secara positifnya,

anak akan menjadi lebih baik dan dari dampak negatifnya dapat menghambat

pendidikan, perkembangan pola pikir kedewasaan dan keterbelakangan mental,

101
102

sehinga dengan kembalinya anak ke lingkungan masyarakat kesan anak akan

menimbukan kejelekan. Jadi pendapat di atas tidaksependapat dengan pemaparan

dari Barda Nawawi, bahwa anak memerlukan pendekatan yang berorentasi pada

masalah kesejahteraan atau kepentingan dengan diperlukannya pendekatan khusus

dalam masalah perlindungan hukum bagi anak dalam proses peradilan.

Pendekatan khusus dalam menangani masalah hukum dan peradilan anak sering

terungkap, bahwa anak yang melakukan tindak pidana jangan dipandang sebagai

penjahat, dan dari pendekatan yuridis terhadap anak hendaknya lebih

mengutamakan pendekatan persuasif-edukatif dan pendekatan psikologis untuk

menghindari proses hukum yang semata-mata bersifat menghukum yang pada

akhirnya dampak yang di timbulkan berpengaruh pada perkembangan pola pikir

anak kearah dewasa. bahwa dalam masyarakat sering terjadi anak melakukan

tindak pidana. Jadi dalam menghadapi perbuatan anak di bawah umur hakim

harus lebih teliti baik dalam mengorek keterangan terdakwa maupun saksi.

4. 2. 3 Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Pidana Kesusilaan

Hasil penelitian dari tindak pidana kesusilaan yang dilakukan anak di

bawah umur dapat dicegah dan ditanggulangi dengan menciptakan lingkungan

yang baik yang terdiri dari lingkungan rumah tangga yang sangat berpengaruh

pada perkembangan usia anak, karena anak tumbuh dan berkembang dari

keluarga, lingkungan masyarakat juga dapat membawa perkembangan anak agar

tidak terjadinya suatu tindak pidana yang disebabkan oleh anak maka dipelukanya

kontrol dan perhatian orang tua terhadap perilaku anak terutama dalam

memberikan peran pendidikan baik kea rah moralitas. Demikian juga halnya dari

102
103

pemerintah juga berperan terhadap pencegahan dan penanggulangan terhadap

tindak kejahatan asusila yang disebabkan oleh anak, maka pemerintah sangat

berperan dalam memberantas obat-obatan terlarang dan maas media yang

memunculkan sifat pornografi dan pornoaksi sehingga cepat atau lambat dapat

mempengaruhi pola pikir seseorang khususnya anak dibawah umur, lebih intenya

aparat penegak hokum dalm menagani kasus tindak pidanyang khususnya

dilakukan anak. Dilihat dari hasil penelitian dia atas bahwa pencegahan dan

penanggulangan tindak pidana di dasarkan pada sifat perhatian sebagai orang tua

terhadap anak dengan di dukung dari lingkungan masyarakat. Hal tersebut

sependapat dengan teori dari Topo Sutopo dan Arif Gosita, bahwa upaya

pencegahan dan penaggulangan tindak pdana kesusilaan yang khusunya di

lakukan anak di bawah umur, pada intinya perlunya kajian orang tua dan

lingkungan terhadap perhatian dalam memberikan basik pendidikan kepadan anak

dan menciptakan lingkungan yang sehat akan kekerasan tindak pidana. Jadi peran

lingkungan masyarakat yang sangat mendukung dalam mencegahan dan

menanggulangi suatu tindak pidana yang dilakukan anak di bawah umur, sebab

anak merupakan titipan tuhan yang diberikan kepada orang tua untuk dididik dan

dilindungi.

6.

103