Anda di halaman 1dari 3

Diabetes melitus (DM) atau biasa disebut dengan diabetes merupakan suatu penyakit

gangguan metabolik menahun dikarenakan pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau
tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif yang mengakibatkan
terjadinya hiperglikemia. (Kemenkes, 2014). Selain itu, etiologi dari DM sangat kompleks,
mulai dari gaya hidup tidak sehat, lingkungan bahkan sampai genetik (Perkeni, 2006).

Sampai saat ini, DM masih menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia
disebabkan angka kejadian DM yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data WHO
2014, penyandang DM saat ini mengalami peningkatan menjadi 422 juta orang dimana
penduduk yang berada di atas usia 18 tahun mengalami kenaikan dari 4,7% menjadi 8,5%.
Sedangkan berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) 2014, saat ini
diperkiraan 9,1 juta orang penduduk didiagnosis sebagai penyandang DM. Dengan angka
tersebut Indonesia menempati peringkat ke-5 di dunia, atau naik dua peringkat dibandingkan
data IDF tahun 2013 yang menempati peringkat ke-7 di dunia dengan 7,6 juta orang
penyandang DM. Dan International Diabetes Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan
jumlah penyandang DM di Indonesia menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. (WHO, 2014; IDF
2014)

Menurut hasil Riskesdas Tahun 2013 Prevalensi diabetes di Sulawesi Selatan yang
didiagnosis dokter sebesar 1,6 persen. DM yang didiagnosis dokter atau berdasarkan gejala
sebesar 3,4 persen. Prevalensi diabetes yang didiagnosis dokter tertinggi terdapat di
Kabupaten Pinrang (2,8%), Kota Makassar (2,5%), Kabupaten Toraja Utara (2,3%) dan Kota
Palopo (2,1%). Prevalensi diabetes yang didiagnosis dokter atau berdasarkan gejala, tertinggi
di Kabupaten Tana Toraja (6,1%), Kota Makassar (5,3%), Kabupaten Luwu (5,2%) dan
Kabupaten Luwu Utara (4,0%). Berdasarkan diagnosis dokter dan gejala meningkat sesuai
dengan bertambahnya umur, namun mulai umur ≥65 tahun cenderung menurun. Prevalensi
DM pada perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Prevalensi DM, di perKotaan
cenderung lebih tinggi daripada di perdesaan. Prevalensi DM cenderung lebih tinggi pada
masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan dengan kuintil indeks kepemilikan
lebih atas. Berdasarkan data Survailans Penyakit tidak menular Bidang P2PL Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014 terdapat Diabetes Mellitus 27.470 kasus
baru, 66.780 kasus lama dengan 747 kematian. (Riskesdas, 2013)

Pengetahuan pasien mengenai penyakit DM merupakan sarana yang dapat membantu


pasien menjalankan penanganan DM semasa hidupnya. Perilaku pasien yang didasari oleh
pengetahuan dan sikap yang positif akan berlangsung langgeng. Pengetahuan yang
diberikan kepada pasien DM, akan membuat pasien mengerti mengenai penyakitnya dan
mengerti bagaimana harus mengubah perilakunya dalam menghadapi penyakit tersebut. 3
Diabetes melitus merupakan penyakit yang disandang seumur hidup, peran dokter praktik
umum sebagai ujung tombak di pelayanan kesehatan primer menjadi sangat
penting.Pengelolaan penyakit ini memerlukan peran serta dokter, perawat ahli gizi, dan
tenaga kesehatan lainnya.3
Pasien beserta keluarga berhak mendapatkan pengetahuan dan edukasi mengenai
perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit, dan penatalaksanaan DM. Kepatuhan pada
pasien DM tipe 2 secara umum didefinisikan sebagai tingkatan perilaku seseorang yang
mendapatkan pengobatan untuk menjalankan diet, minum obat dan melaksanakan gaya
hidup sesuai dengan rekomendasi pemberi pelayanan kesehatan.6 Pasien yang tidak paham
mengenai penyakit DM, sering tidak patuh dalam melaksanakan pengobatan DM. 7
Keberhasilan pengobatan DM sangat bergantung pada kepatuhan pasien minum obat. 8
Beberapa penelitian sebelumnya tentang hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan
minum obat menunjukkan hasil yang berbeda-beda. 9-11 Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran tentang hubungan antara pengetahuan pasien DM tipe 2 dan
kepatuhan minum di Puskesmas Lau Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.

Sarana Penelitian
Sarana yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner

Tingkat pengetahuan pasien diabetes diukur dengan kuesioner yang diadopsi dari
Diabetes Knowledge Quesionnaire (DKQ-24).12 dan Kepatuhan Minum obat pada
pasien diabetes melitus digunakan dan diadopsi dari kuesioner Morisky Medication
Adherence Scale (MMAS-8)13, kedua kuesioner telah dilakukan uji validitas dan
reabilitas.14,15
12. Garcia AA, Villagomez ET, Brown SA, Kouzekanani K, Hanis CL. The starrcounty diabetes
education study: development of the Spanish-language diabetes knowledge
questionnaire. Diabetes Care. 2001; 24(1):16-21.
13. Morisky D, Green L, Levine D. Concurrent and predictive validity of a self-reported
measure of medication adherence. Med Care. 2009; 24:67-74.
14. Agrimon, OH. Exploring the feasibility of implementing self-management and patient
empowerment through a structured diabetes education programme in Yogyakarta City
Indonesia: a pilot cluster randomised controlld trial [disertasi]. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada; 2014.
15. Rosyida L, Priyandani Y, Sulistyarini A, Nita Y. Kepatuhan pasien pada penggunaan obat
anti diabetes dengan metode pill-count dan MMAS-8 di Puskesmas Kedurus Surabaya.
Jurnal Farmasi Komunitas. 2015; 2(2):36-41.

F. Identifikasi Variabel
1. Variabel independen : Tingkat pengethauan pasien diabetes melitus
2. Variabel dependen : Retinopati diabetik
G. Definisi Operasional
1. Tingkat pengetahuan:
• Baik, bila subjek mampu menjawab dengan benar 76-100% dari seluruh
pertanyaan
• Cukup, bila subjek mampu menjawab dengan benar 56-75% dari seluruh
pertanyaan
• Kurang, bila subjek mampu menjawab dengan benar <56% dari seluruh
pertanyaan
2. Diabetes mellitus adalah pasien yang berdasarkan data rekam medik yang
diambil dan telah didiagnosis oleh dokter poliklinik
Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis
dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi
fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta
Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap
insulin (WHO, 1999).

http://www.p2ptm.kemkes.go.id/informasi-p2ptm/penyakit-diabetes-melitus