Anda di halaman 1dari 8

Yogyakarta, 10 Sept.

2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

PENGELOLAAN SUNGAI BERBASIS KETERPADUAN TEKNIK


KEAIRAN DAN LINGKUNGAN

Djoko Legono1*)
1
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
*)
E-mail: djokolegono@ugm.ac.id

ABSTRAK
Sungai merupakan alur alam yang mempunyai sumberdaya yang bervariasi, dengan perilaku yang
secara alami sangat dinamik, tergantung pada banyak hal, termasuk kondisi geografis dan iklim di mana
sungai tersebut berada. Perilaku yang secara alami dinamik akan semakin kompleks seiring dengan
campur tangan manusia dalam upaya memanfaatkan sumberdaya sungai yang dimiliki oleh suatu sungai.
Sumberdaya sungai yang utama adalah air (aliran air), sedangkan yang lainnya dapat berupa sumberdaya
padatan (sedimen), kehidupan habitat (flora dan fauna). Sungai mempunyai berbagai fungsi yang dapat
memberikan manfaat dan atau kerugian, tergantung kepada bagaimana cara manusia mengelola suatu
sungai tersebut. Pada satu sisi, pengelolaan sungai tidak dapat dipisahkan dari kaedah-kaedah perilaku
kairan yang terus berkembang sampai dengan saat ini. Di sisi lain, pengelolaan sungai juga perlu adaptif
dengan dinamika lingkungan, termasuk kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat lokal di sekitar
sungai tersebut. Tulisan ini memuat beberapa pandangan tentang bagaimana sebaiknya melakukan
kegiatan pengelolaan penanganan sungai agar fungsi sungai dapat memberikan manfaat yang sebanyak-
banyaknya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya. Beberapa ilustrasi tentang arah penanganan
sungai pada tataran global, regional, dan lokal disampaikan dalan tulisan ini, namun masih sangat
terbatas. Bagian akhir dari tulisan ini disampaikan dorongan akan pentingnya kolaborasi antara pihak-
pihak dalam mengupayakan kelestarian dan keberlanjutan fungsi sungai.
Kata kunci: Pengelolaan sungai, terpadu, lestari, teknik keairan, lingkungan

PENDAHULUAN

Sungai didefinisikan sebagai alur alam yang berfungsi sebagai tempat pengangkutan air
dan sedimen hasil proses interaksi antara perilaku hidrologi dengan permukaan bumi, dari suatu
tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, dan berakhir di laut (Legono, 2007).
Sebagai alur alamiah, sungai merupakan tempat yang sekaligus berfungsi sebagai terminal
pengatusan pada suatu wilayah sungai atau basin sungai. Dinamika aliran air dan sedimen di
sungai tidak saja dipengaruhi oleh perilaku alami (kondisi hidrologi dan kondisi permukaan
bumi), namun juga perilaku manusia (aktivitas di sistem daerah tangkapan air maupun di sistem
alur sungai). Perilaku aliran dan kondisi lingkungan di sepanjang suatu sungai sangat
dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi di daerah tangkapan air atau catchment area dari sungai
yang bersangkutan, baik fenomena yang bersifat alami ataupun fenomena karena campur
tangan manusia. Secara alami kegiatan di kawasan hulu (upper catchment), baik di sistem alur
maupun di sistem lahan, akan mempengaruhi kondisi aliran sungai di sebelah hilirnya, dan
umumnya tidak sebaliknya. Permasalahan pengelolaan sungai dapat bervariasi, yang secara
umum dapat dibedakan menurut fungsi lokasi (bagian hulu, bagian tengah, dan atau bagian
hilir), jumlah (banjir dan atau kekeringan), kualitas (agradasi-degradasi, erosi-sedimentasi,
pencemaran limbah cair/padat), ataupun waktu (musim hujan, dan atau musim kemarau).
Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 1
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

Seiring dengan keinginan manusia untuk memperoleh tingkat kehidupan yang lebih baik,
perkembangan kegiatan pemanfaatan kawasan (termasuk sungai) sudah barang tentu akan sulit
dihentikan. Sekalipun demikian, degradasi kualitas lingkungan tetap harus diminimalkan.

Sistem Sungai

Daerah Tangkapan Air

Laut

Daerah Rawan Banjir

Gambar 1. Skema tipikal sistim alur (sungai)

PERSPEKTIF TENTANG SUNGAI

Sungai merupakan sumber air dan sedimen yang pada perkembangannya telah menjadi
tempat terbentuknya kota sejak jaman nenek moyang, seperti halnya kota Bagdad (Sungai
Tigris), kota London (Sungai Thames), kota Delhi (Sungai Brahmaputra), kota Bangkok
(Sungai Caophraya), dll. Demikian juga yang terjadi di Indonesia, antara lain kota Surabaya
(Kali Brantas), kota Jakarta/Batavia (Kali Ciliwung), Kota Pontianak (Sungai Kapuas), serta
Kota Samarinda (Sungai Mahakam). Sebagai konsekuensinya, sistem sungai di perkotaan
merupakan tempat dimana persoalan lingkungan sangat dominan. Pertumbuhan kawasan di
sekitar sungai, terutama di perkotaan, sering diikuti dengan persoalan lingkungan di sekitarnya.
Persoalan tersebut antara lain berupa genangan akibat banjir, erosi tebing sungai, degradasi
dasar sungai, sedimentasi sungai di kawasan hulu yang mengganggu kinerja sistem
infrastruktur bangunan sungai (waduk dan bangunan sadap/bendung), sampai pada sedimentasi
di muara sungai. Ditinjau di kawasan Asia Pasific, persoalan banjir di Indonesia dinilai belum
separah yang terjadi di daerah Bangladesh, Thailand, maupun India (Legono, 2007).

Perpektif atau sudut pandang tentang sungai bisa sangat bervariasi yang dipengaruhi oleh
kondisi geografis sungai tersebut serta perkembangan peradaban dan budaya manusia.
Perkembangan manusia dan kebudayaan manusia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan
sungai (Komariyah, 2015). Perspektif atau pandangan tentang sungai dapat timbul dari nilai
sumberdaya yang dimiliki oleh suatu sungai. Sumberdaya sungai yang utama adalah air (aliran
air), sedangkan yang lainnya dapat berupa sumberdaya padatan (sedimen), kehidupan habitat

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 2
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

(flora dan fauna). Sungai yang berhulu dari daerah pegunungan seperti pada umumnya di pulau
Jawa akan sangat berbeda dengan sungai yang berhulu dari daerah dataran dengan hutan serta
muara yang banyak dipengaruhi pasangsurut seperti halnya di Kalimantan. Sungai yang
berhulu dari gunung api aktif akan mempunyai perilaku yang didominasi oleh angkutan
sedimen yang sangat berlebihan. Walaupun demikian Sungai Bawakaraeng dan Sungai Palu
merupakan contoh sungai yang tidak berhulu dari gunung api aktif namun sedimentasi
merupakan persoalan yang sangat dominan. Hal ini disebabkan karena hulu kedua sungai
tersebut merupakan sumber sedimen yang sangat aktif sebagai akibat dari pelapukan batuan
dan longsoran yang terjadi secara masif atau besar-besaran.

PENANGANAN DAN DAMPAK

Perilaku sungai beserta sumberdayanya sangat dipengaruhi oleh fenomena iklim dan
dinamika kondisi fisik lainnya di daerah tangkapan air (DTA). Secara umum, perilaku ini dapat
dibedakan pada dua kondisi normal dan kondisi ekstrim. Kondisi normal secara umum tidak
memberikan permasalahan yang signifikan bagi kehidupan di sekitar kawasan sungai.
Sedangkan perilaku pada kondisi ekstrim umumnya tidak disukai. Pembangunan atau
penanganan sungai dapat diarahkan pada antisipasi terhadap kondisi normal dan kondisi
ekstrim, baik penanganan secara structural maupun secara non-struktural. Semua bentuk
pembangunan/penanganan sungai tersebut di atas perlu dipandang sebagai upaya untuk
mendapatkan tingkat kesejahteraan kolektif yang lebih baik. Perlu disadari, pada umumnya
segala bentuk pembangunan infrastruktur akan diikuti atau disertai dengan adanya dampak
negatif. Hal yang perlu diperhatikan adalah mengidentifikasi dampak negatif tersebut serta
mencari upaya mitigasinya agar dampak negatif dapat ditekan menjadi sekecil-kecilnya.

Pendekatan Ecohydraulics

Pada tahun 1996, suatu asosiasi penelitian hidraulik tingkat internasional (IAHR =
International Association for Hydraulic Research) menyelenggarakan suatu forum pertemuan
dimana para ahli biologi, hidrologi, geomorfologi, mikro-biologi, kimia air, statistik, model
matematik, dan hidraulik saling bertukar gagasan dan informasi untuk membentuk seksi baru
asosiasi tersebut, yaitu seksi Ecohydraulics. Lembaga atau asosiasi tersebut menyebutkan
bahwa penanganan sungai dengan pendekatan ecohydraulics didefinisikan sebagai pendekatan
interdisiplin untuk menyelesaikan permasalahan sungai pada skala hidraulika, dengan
melibatkan habitat organisme yang terkait. Selanjutnya definisi penanganan sungai dengan
pendekatan ecohydraulisc seperti diberikan oleh Center for Ecohydraulics Research (CER),
University of Idaho, adalah suatu penanganan sungai yang memperhatikan interaksi atau kaitan
antara proses fisik dan respon ekologi. Penanganan sungai dengan pendekatan ekohidraulik
Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 3
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

sungguh tidak menunjukkan ketidak-bolehan pengenalan bangunan keras (hard structure),


namun terletak pada tuntutan bertahannya kualitas lingkungan karena proses fisik dan respon
ekologi. Dengan demikian konsep ecohydraulics ini sesungguhnya sudah memadukan teknik
keairan dan lingkungan.

Pengelolaan atau penanganan sungai yang ditujukan untuk pengendalian banjir


memerlukan kesadaran tentang pentingnya mengantisipasi fenomena ekstrim jangka panjang,
walaupun probabilitas kejadian fenomena ekstrim tersebut mungkin sangat kecil. Biaya
penanganannyapun akan menjadi mahal dan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga
pelaksnaannya perlu dilakukan secara bertahap. Pada Gambar 2 ditunjukkan contoh perbedaan
antara a) kondisi bantaran Sungai Ciliwung pada 2010 dan b) kondisi Sungai Tone di salah satu
kawasan perkotaan Tokyo pada tahun 1947 dan 1959. Terlihat bahwa akan dijumpai beberapa
konsekuensi pada saat memilih bentuk penanganan sungai, yang secara lokalitas dapat berbeda
antara sungai di Indonesia dan di Jepang.

a). Kondisi bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta (Yokokura, YEC Co.Ltd).

1947 1959

b). Penanganan Sungai Tone, Tokyo (Yokokura, YEC Co.Ltd).

Gambar 2. Kondisi antara banjir Jakarta dan penanganan banjir Tokyo

KETERPADUAN DAN KEBERLANJUTAN DALAM PENGELOLAAN SUNGAI

Pengertian pengelolaan atau penanganan sungai mempunyai nilai keterpaduan yang dapat
ditinjau dari beberapa hal, misalnya terpadu antara program antar sektor di dalam satu
administrasi otonom, antar sektor di dalam dua atu lebih administrasi otonom, dll. Sedangkan

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 4
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

pengelolaan atau penanganan sungai yang mempunyai nilai keberlanjutan diartikan sebagai
penanganan yang tidak menimbulkan dampak negatif yang memberatkan, baik pada kondisi
sekarang maupun pada kondisi yang akan datang. Pengelolaan atau penanganan sungai
termasuk dalam salah satu dari program pengelolaan sumberdaya air. Program pengelolaan
sumberdaya air secara terpadu juga sering diselenggarakan dengan mengikut sertakan
peranserta masyarakat (Maxwell dkk, 2012 dan Arwin dkk., 2019). Program pengelolaan
sumberdaya air dengan pendekatan peranserta masyarakat tidak saja diperlukan dalam kondisi
normal, namun juga dalam kondisi ekstrim atau bencana (Legono dkk., 2008 dan 2017).

Berikut ini adalah contoh bentuk keterpaduan pengelolaan sungai berbasis saling
melengkapi antara tujuan pemenuhan kebutuhan fasilitas publik dan pengendalian banjir,
dimana suatu lahan difungsikan secara berbeda pada kondisi normal dan kondisi ekstrim
(banjir). Pada kondisi normal lahan dapat digunakan untuk lapangan tenis, sedangkan pada
kondisi banjir digunakan untuk kolam retensi untuk pengurangan debit puncak di bagian hilir
sungai (lihat Gambar 3).

a). Lapangan Tenis (Kondisi Normal) b). Kolam Retensi (Kondisi Banjir

Gambar 3. Pemanfaatan lahan bantaran Sungai Tone, Tokyo (Yokokura, YEC Co.Ltd.)

Pada kondisi umum dimana sungai bukan berhulu dari kawasan gunung berapi aktif,
(misalnya Ciliwung, Cisadane, Cimanuk, Citarum, di Jawa Barat), permasalahan di bagian hulu
seperti luapan air, pencemaran kualitas fisik maupun kimia seharusnya kurang signifikan
dibanding di bagian hilir. Hal ini dikarenakan beberapa hal, di satu sisi karena beban aliran (air
dan sedimen) di bagian hulu relatif lebih kecil dari di bagian hilir, di sisi lain karena
permukiman di sekitar sungai bagian hulu relatif kurang padat dari di bagian hilir. Pada kondisi
lain dimana sungai berhulu dari gunung berapi aktif (misalnya Kali Code, Kali Gendol, Kali
Kuning di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), persoalan sungai di bagian hulu dirasakan
lebih dominan dikarenakan beban aliran (terutama sedimen) sangat besar, karena adanya
sumber sedimen dalam jumlah yang sangat besar. Ketiga sungai ini merupakan sungai strategis
yang mengalir dari Wilayah Gunung Merapi, berturut-turut mengalir ke arah Kota Yogyakarta,

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 5
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

Bandara International Adisucipto, serta samping Candi Prambanan. Kondisi tipikal pengelolaan
sungai di wilayah Gunung Merapi (termasuk Sungai Code) adalah dengan dibangunnya fasilitas
dam pengendali sedimen yang ditujukan untuk melindungi kawasan penting di sebelah hilirnya
tersebut. Proses degradasi sungai merupakan proses yang panjang, yang lajunya tidak saja
dipengaruhi oleh fenomena stokastik (hujan, banjir, longsoran, letusan gunung berapi, dsb.),
namun juga campur tangan manusia. Kegiatan penarikan pasir dari dasar sungai (penambangan
pasir), satu sisi perlu dinilai positip karena dapat menciptakan ruang untuk antisipasi bahaya
aliran lahar seta kemampuan untuk menopang ekonomi masyarakat. Namun demikian perlu
disadari bahwa penarikan pasir secara berlebihan akan memberikan beberapa dampak negatif,
salah satunya adalah penurunan dasar sungai.

Beberapa ilustrasi tentang kondisi Sungai Code sesaat sesudah kejadian bencana erupsi
Gunung Merapi 2010 (tepatnya tanggal 30 November 2010) disajikan pada Gambar 4. Perlu
diingat bahwa infrastruktur sungai termasuk bangunan pengendali sedimen dibangun pada
tingkat perancangan tertentu. Apabila tingkat perancangan tersebut dilampaui, maka fenomena
ekstrim atau bencana akan menimpulkan dampak negatif yang lebih besar.

Hilir Jembatan Gondolayu

Jembatan
Jembatan Rejodani Gondolayu

Gambar 4. Kondisi Sungai Code 30 November 2010

Upaya pelestarian ekosistem daerah aliran sungai di Kota Yogyakarta dan sekitarnya
melalui program pengelolaan sempadan Sungai Code merupakan kegiatan yang dipandang
memberikan kontribusi yang nyata terhadap keberlanjutan fungsi Sungai Code (Noviyanti dkk.,
2017). Menurut Novianti, aktifitas ritual yang sebagi kegiatan kelompok masyarakat Merti
Code dinilai sangat efektif untuk mengadaptasi masyarakat dari bahaya karena tercipta modal
sosial yang baik. Adaptasi ini sebaiknya diiringi dengan mitigasi struktural dan nonstruktural
serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Kawasan Sungai Code memiliki potensi positif berupa letak yang strategis dan berpotensi
bagi pengembangan ekowisata, juga potensi sosial budaya dan perhatian banyak pihak
(Brontowiyono, dkk., 2010). Komunitas masyarakat lokal banyak terbentuk dan terorganisasi
di setiap penggal kawasan. Perguruan tinggi dan instansi pemerintah juga banyak melakukan

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 6
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

program di kawasan Sungai Code. Permasalahan mendasarnya adalah pihak-pihak terkait


tersebut belum terkoordinasi secara terpadu dan program penataannya juga belum sistematis.

Perlu diingat bahwa nilai-nilai keterpaduan dan keberlanjutan sesungguhnya sangat


dinamis, seiring dengan dinamika kondisi fisik secara alami maupun secara campur tangan
manusia. Dengan demikian usaha menciptakan keterpaduan dan keberlanjutan ini harus
dilakukan secara terus menerus. Konsep siklus manajemen Plan–Do–Check–Action (P-D-C-A)
dengan pelibatan masyarakat diindikasikan sebagai proses yang menjamin keberlanjutan
pengelolaan sungai (lihat Gambar 5). Namun konsep ini harus ada yang memulai membuat
rencana (walaupun masih pada tataran hipotesis), serta ada yang mengendalikan (memantau
dan memproses evaluasi) perjalanan siklusnya. Siklus pengelolaan dengan konsep P-D-C-A ini
dapat selalu diimplementasi secara konsisten.

Mensetting platform komunikasi


untuk pengembangan kebijakan

PERENCANAAN-Hipotesis
(mungkin ada tantangan) Diagnosis publik
Siklus
Manajemen

Perencanaan kebijakan Memeriksa


Memeriksa
(membuat atau merevisi) statusnya
statusnya

Mengimplementasi
kebijakan

Gambar 5. Siklus pengelolaan berbasis P-D-C-A

KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan, dalam upaya memelihara keberlanjutan pengelolaan sungai, kiranya


perlu diperhatikan beberapa hal seperti berikut.

1) Pemahaman tentang “oleh siapa, program apa, menyebabkan apa, seberapa besar”
merupakan bagian dari siklus pengolaan sungai yang perlu dilakukan secara kolaboratif
yang melibatkan segenap pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan sungai.
2) Konsep pengelolaan atau penanganan sungai dengan pendekatan ecohydraulics serta
program pelibatan masyarakat sesungguhnya telah merupakan konsep yang memadukan
teknik keairan dan lingkungan secara utuh (termasuk sosial-ekonomi-budaya masyarakat).
3) Penyelenggaraan pengelolaan atau penanganan sungai berbasis peranserta masyarakat
dinilai mempunyai keberlanjutan fungsi sungai yang tinggi, namun demikian perlu upaya

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 7
Yogyakarta, 10 Sept. 2020, “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, One Integrated Management”

agar implementasinya dapat berjalan secara efektif, misalnya dengan pengendalian siklus
pengelolaan secara konsisten.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak atas
kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk menyampaikan suatu
pandangan yang hendaknya dapat menginpirasi usaha melakukan pengelolaan sungai secara
“one river – one plan – one integrated management”.

DAFTAR USTAKA

Arwin van Buuren, Ingmar van Meerkerk & Cecilia Tortajada (2019), Understanding emergent
participation practices in water governance, International Journal of Water Resources
Development, 35:3, 367-382, DOI: 10.1080/07900627.2019.1585764
Djoko Legono (2007), Pendidikan dan Implementasi Penanganan Sungai Berwawasan Terpadu dan
Berkelanjutan, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas
Teknik, Universitas Gadjah Mada
Djoko Legono dan Adam Pamudji Rahardjo (2017), Lahar Flow Disaster, Human Activities, and Risk
Mitigation on Volcanic Rivers, Book Chapter (Chapter 20), Gravel Bed River 8, John Wiley,
Edited by Daizo Tsutsumi and Jonathan B. Laronne, DOI:
https://doi.org/10.1002/9781118971437.ch20.
Djoko Legono, Adam Pamudji Rahardjo, Teuku Faisal Fathani (2008), Community-based Early
Warning System Against Debris Flow - Mt. Merapi, Proceeding of 1st World Landslide Forum,
Tokyo, JAPAN.
Maxwell K. Boakye dan Oghenerobor B. Akpor (2012), Community Participation in Water Resources
Management in South Afrika, International Journal of Environmental Science and
Development, Vol. 3, No. 6, December 2012, DOI:10.7763/IJESD. 2012.V3.277
Noviyanti Listyaningrum, Syiva Fauzia Lestari, Indra Agus Riyanto, Ahmad Cahyadi (2017),
Pengelolaan Sempadan Sungai Code Sebagai Upaya Pelestarian Ekosistem Daerah Aliran
Sungai di Kota Yogyakarta dan Sekitarnya, Seminar Nasional III,
https://www.researchgate.net/publication/326122976
Siti Zumariyah (2018), Upaya membangun Kemitraan dalam Pengelolaan Sungai yang Berwawasan
Lingkungan, Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosioogi, Vol. 2, No.1, Mei 2018. ISSN: 2615-7500
Widodo Brontowiyono, Ribut Lupiyanto, Donan Wijaya (2010), Pengelolaan Kawasan Sungai Code
Berbasis Masyarakat, Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 2, Nomor 1, Januari
2010, Halaman 7‐20.

Webinar Series #1, BBWS Serayu Opak, Ditjen SDA, Kementerian PUPR 8