Anda di halaman 1dari 18

m mm m m

 

     
m 
p  




  !"##$#!%
 &'( !"##$#$#
 !"##$!))
*+, -( !"##$#!.
m  (- !"##$#.)
&+ !"##$!%.
  / ( !"##$#$.


 m , 


 
 0 m"  
  
1 m

 
, 
m

2#!#
p

Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi


polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi
oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur
kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada
banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan
beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi
metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.
Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme
untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada
perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit
untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Yang
termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat, petroleum
hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida,
herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan
mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang
bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai
bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis
mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan
bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat
penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada
bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan
pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan
beracun menjadi tidak berbahaya.
Bioremediasi adalah suatu teknik dengan menggunakan mikroorganisme
atau tumbuhan untuk detoksifikasi kontaminan (Melethia, 1996). Detoksifikasi
kontaminan bisa dengan cara transformasi senyawa dari senyawa toksik menjadi
senyawa non toksik atau dengan cara degradasi kontaminan menjadi karbon
dioksida dan air. Proses biologi yang terjadi merupakan proses pemulihan
komponen lingkungan secara biologis (Backer dan Herson, 1994) dengan cara
mengekslopitasi kemampuan katalitik sifat organisme untuk meningkatkan laju
perombakan suatu polutan (Sheehan, 1997). Dalam teknik bioremediasi ada dua
tujuan utama dalam penanggulangan lingkungan yang tercemar oleh senyawa
hidrokarbon yaitu:
a. Transformasi senyawa toksin menjadi senyawa non toksin
b. Membuat akumulasi antrophogenik lebih cepat memasuki siklus biogeokimia
alami.
Untuk mencapai tujuan diatas ada 4 teknik dasar dalam bioremediasi yaitu:
1.w Stimulasi aktivitas mikroorganisme indogenous dengan cara penambahan
nutrisi, kondisi reaksi redok, optimasi pH dan lain-lain.
2.w [nokulasi daerah yang tercemar dengan mikroorganisme yang mempunyai
kemampuan spesifik mentransformasi kontaminan
3.w Aplikasi dari imobilisasi enzim
4.w Penggunaan tanaman (!itoremediasi) untuk menghilangkan atau transformasi
kontaminan.
Bioremediasi merupakan proses biologi secara alami yang aplikasinya
merupakan proses mikrobiologi yang menyebabkan terjadinya pemutusan
senyawa dari senyawa komplek menjadi senyawa sederhana dan mengakibatkan
perubahan sifat polutan dari bersifat toksik menjadi non toksik. Pada proses
bioremediasi ada beberapa persyaratan supaya bioremediasi dapat berjalan dengan
sukses, adapun kriteria menurut Steven and Marc, 1996 adalah:
a.w Adanya populasi mikroba, yaitu mikroba yang dapat mendegradasi polutan
b.w Terdapatnya sumber energi dan sumber karbon yang bisa digunakan sebagai
sumber energi dengan melepaskan elektron selama transformasi dan juga
digunakan oleh sel mikroba tersebut.
c.w Adanya elektron aseptor, elektron lepas dikarenakan adanya transformasi
karbon.
d.w Adanya nutrisi, antara lain: nitrogen, phospor, calcium, potasium,
magnesium, besi.
e.w Kondisi lingkungan yang mendukung seperti temperatur, pH, salinitas,
tekanan, konsentrasi polutan dan kehadiran inhibitor.
Berdasarkan agen dan proses biologis serta pelaksanaan rekayasa,
bioremediasi dapat dibagi menjadi lima kelompok (Gossalam, 1999) yaitu:
a. [n situ Bioremediasi
[n situ bioremediasi juga disebut interistik bioremediasi atau natural
attnuation, secara prinsip merupakan rancangan yang mengandalkan
kemampuan mikroorganisma indogen dalam merombak polutan untuk
melenyapkan polutan dari lingkungan. Pembersihan in-situ adalah
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri
dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
b. Ex situ Bioremediasi
Ex situ bioremediasi merupakan pemindahan polutan dalam suatu tempat
untuk diberikan suatu perlakukan (above ground treatment). Bioremediasi ex-
situ dilakukan dengan cara tanah yang tercemar digali dan dipindahkan ke
dalam penampungan yang lebih terkontrol, kemudian diberi perlakuan khusus
dengan menggunakan mikroba. Bioremediasi ex-situ dapat berlangsung lebih
cepat, mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih
beragam, dan lebih mudah dikontrol dibanding dengan bioremediasi in-situ.
c. Bioaugmentasi
Bioaugmentasi merupakan perlakuan biologis dengan menggunakan
mikroorganisme perombak pemulih lingkungan yang tercemar. Ada beberapa
situasi yang mensyaratkan penggunaan mikroorganisma selektif tersebut
seperti:
1)w Mikroorganisme indogen hanya mampu merombak polutan dengan
kecepatan sangat rendah.
2)w Mikroorganisme indogen perombak polutan pada lingkungan
bersangkutan jumlahnya tidak banyak.
3)w cingkungan telah tercemar berat sehingga perlu dilakukan pemulihan
populasi mikroorganisme.
4)w Bila kecepatan perombakan polutan menjadi faktor tertentu.
5)w Jika waktu dan biaya yang tersedia untuk melakukan bioremediasi
hanya sedikit.
d. Sur!actan-aided Bioremediation
Sur!actan-aided Bioremediation, umumnya digunakan untuk mendegradasi
polutan yang melekat pada partikel tanah (tanah, pasir atau sendimen).
e. Fitoremediasi
Penggunaan tanaman atau pohon untuk pemulihan tanah atau badan perairan
yang telah tercemar. Tanaman bisa berperan aktif maupun pasif dalam proses
penyisihan polutan.
Proses bioremediasi harus memperhatikan antara lain temperatur tanah,
derajat keasaman tanah, kelembaban tanah, sifat dan struktur geologis lapisan
tanah, lokasi sumber pencemar, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan
C : N kurang dari 30:1, dan ketersediaan oksigen. Contoh bioremediasi bagi
lingkungan yang tercemar minyak bumi. Yang pertama dilakukan adalah
mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah yang
mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah
minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan
minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem
bioremediasi.
Minyak bumi mengandung n-alkana, paraffin, hidrokarbon polinuklear
aromkatik, aromatic, dan beberapa jenis logam berat seperti arsen (As), cadmium
(Cd), krom (Cr), raksa (Hg), nikel (Ni), timbale (Pb), tembaga (Cu), dan seng (Zn)
(Rossiana, 2002).
Berdasarkan kandungan senyawanya, komposisi minyak bumi sebagai
berikut:
Jenis Senyawa Jumlah (%) Contoh
Senyawa hidrokarbon 90,00-99,00 Alkana, sikloalkana, dan
aromatis
Senyawa karbon 0,10-7,00 Trioalkana(R-S-H)
mengandung belerang Alkanatiol (R-S-H)
Senyawa karbon 0,01-0,90 Pirol (C4H5N)
mengandung nitrogen
Senyawa karbon 0,01-0,04 Asam karboksilat
mengandung oksigen (RCOOH)
Senyawa organo logam Sangat kecil Senyawa logam nikel
w
ë w w
Salah satu bentuk senyawa xenobiotik adalah senyawa hidrokarbon.
Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang mengandung unsur karbon (C) dan
hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom
hidrogen yang berikatan pada rantai karbon tersebut. Menurut Alvarez (1991)
yang dikutip dari Anna et al (2003), pencemaran pada tanah yang diakibatkan oleh
kontaminasi senyawa hidrokarbon menyebabkan kerusakan yang luas karena
terakumulasinya polutan pada jaringan hewan dan tumbuhan yang dapat
meningkatkan resiko terjadinya kematian dan mutasi. Mikroorganisme yang
mampu bertahan di habitat yang tercemar disebabkan karena mikroorganisme
tersebut mampu memanfaatkan kontaminan dalam metabolismenya dan mampu
menjalankan peran yang tepat di lingkungan tersebut (Anna et al, 2003).
Senyawa hidrokarbon minyak bumi merupakan salah satu senyawa
hidrokarbon xenobiotik. Senyawa ini dapat menjadi sumber pencemar bagi
lingkungan air dan tanah yang potensinya semakin meningkat seiiring dengan
perkembangan perindustrian (Margesin dan Schinner, 2001 dalam Ueno et al,
2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi terdegradasi atau tidaknya senyawa
xenobiotik oleh mikroorganisme antara lain (Hutzinger dan Verkamp, 1981 yang
dikutip dari Marini, 2003):
1.w Kemampuan enzim dalam menerima substrat yang secara struktur sama
tetapi tidak
identik dengan senyawa yang ditemukan di alam.
2.w Kemampuan substrat tersebut untuk merangsang mikroorganisme untuk
membentuk enzim pendegradasi.
Walaupun senyawa hidrokarbon yang terdapat dalam minyak bumi sangat
banyak jumlahnya, namun senyawa tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga
golongan senyawa hidrokarbon, yaitu: senyawa hidrokarbon paraffin, naften dan
aromat. Di samping senyawa-senyawa tersebut, dalam produk minyak bumi juga
terdapat senyawa hidrokarbon monoolefin dan diolefin, yang terjadi karena
rengkahan dalam proses pengolahan minyak bumi dalam kilang, misalnya pada
destilasi minyak mentah dan proses perengkahan.
1.1 Senyawa Hidrokarbon paraffin
Senyawa hidrokarbon paraffin adalah senyawa hdirokarbon jenuh dengan
rumus umum CnH2n+2. Senyawa ini mempunyai sifat-sifat kimia stabil
pada suhu biasa tidak bereaksi dengan asam sulfat pekat dan asam sulfat
berasap, larutan alakali pekat, asam nitrat maupun oksidator kuat seperti
asam kromat, kecuali senyawa yang mempunyai atom karbon tersier.
Bereaksi lamban dengan khlor dengan bantuan sinar matahari, bereaksi
dengan khlor dan brom kalau ada katalis.
1.2 Senyawa hidrokarbon naften
Senyawa hidrokarbon naften adalah senyawa hdirokarbon jenuh dengan
rumus CnH2n. karena senyawa hidrokarbon ini mempunyai sifat kimia
seperti senyawa hidrokarbon paraffin dan mempunyai struktur molekul
siklis, maka senyawa ini juga disebut senyawa sikloparafin. Senyawa
naften yang mempunyai cincin dengan 5 dan 6 atom karbon, misalnya
siklopentan.
1.3 Senyawa hidrokarbon aromat
Senyawa hidrokarbon aromat adalah senyawa hidrokarbon tidak jenuh
dengan rumus umum CnH2n-6, sehinga karenanya senyawa ini
mempunyai sifat kimia yang sangat reaktif. Contohnya naftalen dan
antrasen.
1.4 Senyawa hidrokarbon monolefin
Senyawa hidrokarbon monoolefin mempunyai rumus CnH2n dan
meruapakan senyawa hidrokarbon yang tidak jenuh dengan sebuah ikatan
rangkap dua. Contohnya propilen (C3H6)
1.5 Senyawa hidrokarbon diolefin
Senyawa hidrokarbon diolefin mempunyai rumus umum CnH2n-2 dan
merupakan senyawa tidak jenuh dengan dua buah ikatan rangkap dua.
Minyak terbukti menjadi pencemar lautan nomor satu. Separuhnya
dihasilkan dari aktivitas industri. Selebihnya akibat kegiatan pelayaran hingga
kecelakaan kapal tanker. cautan [ndonesia sebagai jalur kapal tanker internasional
pun rawan tercemar limbah minyak. Namun laut [ndonesia juga memiliki
mekanisme tersendiri untuk menetralisasi pencemaran. caut [ndonesia kaya
mikroba pengunyah minyak yang mampu meremediasi kawasan tercemar.
Minyak bumi merupakan sumber energi utama yang digunakan baik pada
rumah tangga, industri maupun transportasi. Hal ini menyebabkan meningkatnya
kegiatan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan transportasi produksi minyak
bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga semakin besar pula
kecenderungannya untuk mencemari lingkungan, terutama di wilayah pesisir.
Pencemaran tersebut berasal dari buangan limbah kilang minyak, hasil sampingan
dari proses produksi, distribusi maupun transportasi.
cimbah yang dihasilkan dari kilang minyak berupa limbah cair dan limbah
padat. Produksi kilang minyak bumi sebanyak 1000 barrel per hari akan
menghasilkan limbah padat (lumpur minyak) lebih dari 2.6 barrel sedangkan di
[ndonesia, produksi kilang menghasilkan minyak bumi sekitar 1,2 juta barrel per
hari yang berarti menghasilkan limbah padat sebanyak 3120 barrel per hari dan
dalam waktu satu tahun menghasilkan limbah sebanyak 1.3 juta barrel, yang
285.000 barrel diantaranya adalah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Pengolahan limbah minyak bumi dilakukan secara fisika, kimia dan
biologi. Pengolahan secara fisika dilakukan untuk pengolahan awal yaitu dengan
cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil
booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil
skimmers) ke sebuah fasilitas penerima reservoar baik dalam bentuk tangki
ataupun balon dan dilanjutkan dengan pengolahan secara kimia, namun biayanya
mahal dan dapat menimbulkan pencemar baru. Pengolahan limbah secara biologi
merupakan alternatif yang efektif dari segi biaya dan aman bagi lingkungan.
Pengolahan dengan metode biologis disebut juga bioremediasi, yaitu bioteknologi
yang memanfaatkan makhluk hidup khususnya mikroorganisme untuk
menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar (Kepmen cH No. 128,
2003).

w
p   ë
w

Mikroorganisme, terutama bakteri yang mampu mendegradasi senyawa


yang terdapat di dalam hidrokarbon minyak bumi disebut bakteri
hidrokarbonoklastik. Bakteri ini mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon
dengan memanfaatkan senyawa tersebut sebagai sumber karbon dan energi yang
diperlukan bagi pertumbuhannya. Mikroorganisme ini mampu menguraikan
komponen minyak bumi karena kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan
menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya. Mikroorganisme ini
berpartisipasi dalam pembersihan tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak
bumi menjadi gas karbon dioksida (CO2). Bakteri pendegradasi minyak bumi
akan menghasilkan bioproduk seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer
yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan reservoir formasi
klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi. Udiharto
(1992), mengatakan bahwa hidr okarbon teroksidasi karena spesifitas enzim
yang dimiliki oleh mikroba cukup luas, seperti hal nya enzim monooksigenase
yang berperan dalam oksidasi n-alkana menjadi alkohol primer, enzim
oksigenase yang berperan dalam degradasi sikloalkana dan enzim
deoksigenase pada degradasi benzen dan katekol.
Berikut adalah reaksi degradasi senyawa hidrokarbon fraksi aromatik oleh
bakteri yang diawali dengan pembentukan Protocatechuate atau catechol atau
senyawa yang secara struktur berhubungan dengan senyawa ini. Kedua senyawa
ini selanjutnya didegradasi menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus
Krebs (siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.
Bakteri hidrokarbonoklastik diantaranya adalah Pseudomonas,
Arthrobacter, Alcaligenes, Brevibacterium, Brevibacillus, dan Bacillus. Bakteri-
bakteri tersebut banyak tersebar di alam, termasuk dalam perairan atau sedimen
yang tercemar oleh minyak bumi atau hidrokarbon. Kita hanya perlu mengisolasi
bakteri hidrokarbonoklastik tersebut dari alam dan mengkulturnya, selanjutnya
kita bisa menggunakannya sebagai peng-olah limbah minyak bumi yang efektif
dan efisien, serta ramah lingkungan.
w
‘  w  w  wp  wwwp w  w
‘ w ww
Pencemaran lingkungan oleh hidrokarbon minyak bumi terus mengalami
peningkatan dan telah menimbulkan dampak yang berarti bagi makhluk hidup.
Bioremediasi adalah salah satu upaya untuk mengurangi polutan tersebut dengan
bantuan organisme. Biodegradasi senyawa hidrokarbon dari minyak bumi ini
dapat dilakukan oleh mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri pseudomonas
sp.
Bakteri pseudomonas sp. merupakan bakteri hidrokarbonoklastik yang
mampu mendegradasi berbagai jenis hidrokarbon. Keberhasilan penggunaan
bakteri Pseudomonas dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat pencemaran
minyak bumi membutuhkan pemahaman tentang mekanisme interaksi antara
bakteri Pseudomonas sp dengan senyawa hidrokarbon. Kemampuan bakteri
pseudomonas sp. [A7D dalam mendegradasi hidrokarbon dan dalam
menghasilkan biosurfaktan menunjukkan bahwa isolat bakteri pseudomonas sp.
[A7D berpotensi untuk digunakan dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat
pencemaran hidrokarbon. Bahan utama minyak bumi adalah hidrokarbon alifatik
dan aromatik. Selain itu, minyak bumi juga mengandung senyawa nitrogen antara
0-0,5%, belerang 0-6%, dan oksigen 0-3,5%.
Terdapat sedikitnya empat seri hidrokarbon yang terkandung di
dalam minyak bumi, yaitu seri n-paraffin (n-alkana) yang terdiri atas metana
(CH4) sampai aspal yang memiliki atom karbon (C) lebih dari 25 pada rantainya,
seri iso-paraffin (isoalkana) yang terdapat hanya sedikit dalam minyak bumi, seri
neptena (sikloalkana) yang merupakan komponen kedua terbanyak setelah n-
alkana, dan seri aromatik (benzenoid). Bakteri Pseudomonas yang umum
digunakan antara lain: pseudomonas aeruginosa, pseudomonas stutzeri,
pseudomonas diminuta.
Salah satu faktor yang sering membatasi kemampuan bakteri Pseudomonas
dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon adalah sifat kelarutannya yang rendah,
sehingga sulit mencapai sel bakteri. Oleh karena itu, untungnya, bakteri
Pseudomonas dapat memproduksi biosurfaktan. Kemampuan bakteri
Pseudomonas dalam memproduksi biosurfaktan berkaitan dengan keberadaan
enzim regulatori yang berperan dalam sintesis biosurfaktan.
Ada 2 macam biosurfaktan yang dihasilkan bakteri Pseudomonas :
1.w Surfaktan dengan berat molekul rendah (seperti glikolipid, soforolipid,
trehalosalipid, asam lemak dan fosfolipid) yang terdiri dari molekul
hidrofobik dan hidrofilik. Kelompok ini bersifat aktif permukaan, ditandai
dengan adanya penurunan tegangan permukaan medium cair.
2.w Polimer dengan berat molekul besar, yang dikenal dengan
bioemulsifier polisakarida amfifatik. Dalam medium cair, bioemulsifier ini
mempengaruhi pembentukan emulsi serta kestabilannya dan tidak selalu
menunjukkan penurunan tegangan permukaan medium.
Biosurfaktan merupakan komponen mikroorganisme yang terdiri atas
molekul hidrofobik dan hidrofilik, yang mampu mengikat
molekul hidrokarbon tidak larut air dan mampu menurunkan tegangan permukaan.
Selain itu biosurfaktan secara ekstraseluler menyebabkan emulsifikasi
hidrokarbon sehingga mudah untuk didegradasi oleh bakteri. Biosurfaktan
meningkatkan ketersediaan substrat yang tidak larut melalui
beberapa mekanisme. Dengan adanya biosurfaktan, substrat yang berupa cairan
akan teremulsi dibentuk menjadi misel-misel, dan menyebarkannya ke permukaan
sel bakteri. Substrat yang padat dipecah oleh biosurfaktan, sehingga lebih mudah
masuk ke dalam sel.
Pelepasan biosurfaktan ini tergantung dari substrat hidrokarbon yang ada.
Ada substrat (misal seperti pada pelumas) yang menyebabkan biosurfaktan hanya
melekat pada permukaan membran sel, namun tidak diekskresikan ke dalam
medium. Namun, ada beberapa substrat hidrokarbon (misal heksadekan) yang
menyebabkan biosurfaktan juga dilepaskan ke dalam medium. Hal ini terjadi
karena heksadekan menyebabkan sel bakteri lebih bersifat hidrofobik. Oleh
karena itu, senyawa hidrokarbon pada komponen permukaan sel yang hidrofobik
itu dapat menyebabkan sel tersebut kehilangan integritas struktural selnya
sehingga melepaskan biosurfaktan untuk membran sel itu sendiri dan juga
melepaskannya ke dalam medium.
Terdapat tiga cara transpor hidrokarbon ke dalam sel bakteri secara umum
yaitu :
1.w [nteraksi sel dengan hidrokarbon yang terlarut dalam fase air. Pada kasus
ini, umumnya rata-rata kelarutan hidrokarbon oleh proses fisika sangat
rendah sehingga tidak dapat mendukung.
2.w Kontak langsung (perlekatan) sel dengan permukaan
tetesan hidrokarbon yang lebih besar daripada sel mikroba. Pada kasus
yang kedua ini, perlekatan dapat terjadi karena sel bakteri bersifat
hidrofobik. Sel mikroba melekat pada permukaan
tetesan hidrokarbon yang lebih besar daripada sel dan pengambilan
substrat dilakukan dengan difusi atau transpor aktif. Perlekatan ini terjadi
karena adanya biosurfaktan pada membrane sel bakteri Pseudomonas.
3.w [nteraksi sel dengan tetesan hidrokarbon yang telah teremulsi atau
tersolubilisasi oleh bakteri. Pada kasus ini sel mikroba berinteraksi dengan
partikel hidrokarbon yang lebih kecil daripada sel. Hidrokarbon dapat
teremulsi dan tersolubilisasi dengan adanya biosurfaktan yang dilepaskan
oleh bakteri pseudomonas ke dalam medium.
‘  w w www w  wp  w
1.w Hidrokarbon Alifatik
Mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon rantai lurus dalam
minyak bumi ini jumlahnya relatif kecil dibanding mikroba pendegradasi
hidrokarbon aromatik. Di antaranya adalah Nocardia, Pseudomonas,
Mycobacterium, khamir tertentu, dan jamur. Mikroorganisme ini
menggunakan hidrokarbon tersebut untuk pertumbuhannya. Penggunaan
hidrokarbon alifatik jenuh merupakan proses aerobik (menggunakan
oksigen). Tanpa adanya O2, hidrokarbon ini tidak didegradasi oleh
mikroba (sebagai pengecualian adalah bakteri pereduksi sulfat).
pseudomonas sp. menggunakan hidrokarbon tersebut untuk
pertumbuhannya. cangkah pendegradasian hidrokarbon alifatik jenuh oleh
pseudomonas sp. meliputi oksidasi molekuler (O2 ) sebagai sumber reaktan
dan penggabungan satu atom oksigen ke dalam hidrokarbon teroksidasi.
Gambar 1. Reaksi degradasi hidrokarbon alifatik
2.w Hidrokarbon Aromatik
Banyak senyawa ini digunakan sebagai donor elektron secara aerobik
oleh bakteri Pseudomonas. Degradasi senyawa hidrokarbon aromatik
disandikan dalam plasmid atau kromosom oleh gen xy/E. Gen ini berperan
dalam produksi enzim katekol 2,3-dioksigenase. Metabolisme senyawa ini
oleh bakteri diawali dengan pembentukan Protocatechuate atau catechol
atau senyawa yang secara struktur berhubungan dengan senyawa ini.
Kedua senyawa ini selanjutnya didegradasi oleh enzim katekol 2,3-
dioksigenase menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus Krebs
(siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.
w
Gambar 2. Reaksi degradasi hidrokarbon aromatik
ï wp w 
Kemampuan sel mikroorganisme untuk melanjutkan pertumbuhannya
sampai minyak bumi didegradasi secara sempurna bergantung pada suplai oksigen
yang mencukupi dan nitrogen sebagai sumber nutrien. Seorang ilmuwan bernama
Dr. D. R. Boone menemukan bahwa nitrogen tetap merupakan nutrien yang paling
penting untuk degradasi bahan bakar. Selain itu keaktifan mikroorganisme
pendegradasi hidrokarbon juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti
temperatur dan pH. Kondisi lingkungan yang tidak sesuai menyebabkan mikroba
ini tidak aktif bekerja mendegradasi minyak bumi. Sebagai contoh, penambahan
nutrien anorganik seperti fosfor dan nitrogen untuk area tumpahan minyak
meningkatkan kecepatan bioremediasi secara signifikan.
Senyawa hidrokarbon aromatis polisiklis (PAH) dalam minyak memiliki
toksisitas yang cukup tinggi. Efek toksik dari hidrokarbon yang terdapat dalam
minyak berlangsung melalui larutnya lapisan lemak yang menyusun membran sel,
sehingga menyebabkan hilangnya cairan sel atau kematian terhadap sel
(Rosenberg and Ron, 1998). Menurut [wabuchi · Harayama (1997), biodegradasi
senyawa PAH diawali dengan masuknya atom oksigen (reaksi oksidasi) ke dalam
inti aromatik. Reaksi ini dikatalisis oleh multikomponen dioksigenase. Senyawa
PAH yang teroksidasi akan membentuk precursor intermediet dari siklus asam
sitrat. Sebagai produk dari siklus tersebut pada akhirnya akan terbentuk air dan
karbon dioksida. Fenantren merupakan salah satu poliaromatik hidrokarbon
(PAH) yang biasa ditemukan pada tanah yang tercemar, daerah estuaria dan
perairan lainnya. Fenantren merupakan bentuk paling sederhana dari PAH yang
mempunyai bentuk bay-region dan Kregion sehingga sering digunakan sebagai
model substrat untuk mempelajari metabolisme PAH yang karsinogenik.
Beberapa bakteri yang diketahui dapat mendegradasi senyawa PAH
(polycyclic Aromatic Hydrocarbon) dalam minyak bumi antara lain
Cycloclasticus, Marinobacter, pseudomonas, dan Sphingomonas (Kasai et
al.2002). Phenanthrene merupakan salah satu dari senyawa PAH yang berpotensi
sebagai zat karsinogen dan bersifat racun terhadap biota laut seperti diatom,
gastropoda, remis, serta ikan (Ouyang 2006; Sack et al. 1997).
Terbentuknya zona bening disekeliling koloni bakteri menunjukkan bahwa
koloni bakteri tersebut dapat menggunakan senyawa phenanthrene sebagai sumber
karbon dan energi bagi pertumbuhannya. Oleh karena media ONR7a merupakan
media minimum mineral, setelah sumber karbon dari medium digunakan untuk
pertumbuhan habis, maka bakteri akan menggunakan senyawa karbon aromatik
yaitu phenanthrene sebagai sumber karbon dan energi bagi bakteri (Sheryl et al.
1995).
Menurut [wabuchi · Harayama, (1997), biodegradasi senyawa PAH
diawali dengan masuknya atom oksigen (reaksi oksidasi) ke dalam inti aromatik.
Reaksi ini dikatalisis oleh multikomponen dioksigenase. Senyawa PAH yang
teroksidasi akan membentuk precursor intermediet dari siklus asam sitrat. Sebagai
produk dari siklus tersebut pada akhirnya akan terbentuk air dan karbon dioksida.
Senyawa phenanthrene dapat didegradasi secara sempurna oleh bakteri menjadi
air dan karbon dioksida melalui salah satu dari dua jalur yang ada, yakni jalur o-
phthalat dan salisilat ([wabuchi & Harayama 1997). Kedua jalur tersebut melalui
senyawa intermediet yang sama, yaitu 1-hydroxy-2-napthoic acid.
Naftalena adalah senyawa hidrokarbonw aromatikw denganw rumus molekul
C10H8. Naftalena berbentuk padatan kristal putih, berbau tajam, dan dapat
terbakar. Naftalena diperoleh dari hasil ekstraksi tar batubara. Digunakan dalam
industri warna, bahan dasar pembuatan resin sintetik, dan di rumah tangga
(dikenal dengan nama kapur barus atau kamper).
  w w‘  w   wp  w  w
Secara ekonomi dan fungsi, penggunaan teknik bioremediasi harus dapat
berkompetisi dengan teknologi remediasi lainnya, seperti pembakaran (insinerasi)
atau perlakuan kimia. Sebelum suatu teknik bioremediasi diaplikasikan, informasi
tentang keadaan lokasi dan potensi mikroorganisme harus sudah diketahui. Untuk
itu perlu dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kecepatan degradasi pada
suatu fungsi lingkungan tertentu seperti pH, konsentrasi oksigen, nutrien,
komposisi mikroba, ukuran partikel tanah, dan juga suhu. Dibanding teknik
remediasi lain, aplikasi bioremediasi jauh lebih murah. cevine and Gealt (1993)
menyatakan bahwa bioremediasi untuk satu yard tanah yang terkontaminasi
diperlukan dana sekitar 40 sampai 100 dolar. Sedangkan melalui proses lainnya,
seperti dengan insinerasi, memerlukan biaya 250 sampai 800 dolar dan landfilling
sekitar 150 sampai 250 dolar untuk kapasitas tanah yang sama. Bioremediasi
dapat diaplikasikan pada lingkungan-lingkungan yang terpolusi melalui berbagai
mekanisme. citchfield (1991), bioremediasi dilakukan melalui lima pendekatan
berikut: bioreaktor, perlakuan fase padat, pengomposan, landfarming, dan
perlakuan in situ. Berbagai proses teknologi telah berkembang di masing-masing
bidang.
w

w
ë‘p
w

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai


berikut:
1.w Bioremediasi merupakan proses mikrobiologi yang menyebabkan
terjadinya pemutusan senyawa dari senyawa komplek hidrokarbon
menjadi senyawa sederhana CO2 dan H2 O serta mengakibatkan perubahan
sifat polutan dari bersifat toksik menjadi non toksik.
2.w Bakteri pseudomonas sp. merupakan bakteri hidrokarbonoklastik yang
mampu mendegradasi berbagai jenis hidrokarbon, karena memiliki
kemampuan dalam memproduksi biosurfaktan yang berkaitan dengan
keberadaan enzim regulatori.
w

w
 ïm wpëm w

Anna, [ et al. 2003. [solation Of Soil Bacteria For Bioremediation Of


Hydrocarbon Contamination. BETCH MOCK. Chapter 2.
Anonim, 2008. Mekanisme Kerja Bakteri pseudomonas sp.
http://orpipu.blogspot.com/ Diakses tanggal 6 Desember 2010.

______, 2008. Penanganan cimbah Bioremediasi. http://massofa.wordpress.com.


Diakses tanggal 6 Desember 2010.

______, 2010. Bakteri, Pengolah cimbah Minyak Bumi yang Ramah cingkungan.
http://wwwesdm.go.id. Diakses tanggal 6 Desember 2010.
______, 2010. Pseudomonas. http://id.wikipedia.org/wiki/Pseudomonas. Diakses
tanggal 6 Desember 2010.
J. Ouyang, M. Fitzgerald, 2006. University of Minnesota.
http://umbbd.umn.edu/pha/pha_map.

Marini, carisa. 2003. [mmobilisasi Kultur Campuran Bakteri Petrofilik dan


Karakterisasi Aktivitasnya dalam Degradasi Minyak Pelumas. Bandung:
Tugas Akhir Tc-[TB.

Rosenberg, E. and Ron, E.Z. (1998). Bioremediation of Petrolium Contamination.


[n: Bioremediation: Principles and Application, ed. R. c. Crawford & D. c.
Crawford, Cambridge University Press, Cambridge. pp. 100-124.
Rossiana N, D. Sumiarsa, dan H. Salim, 2002. Bioremediasi cumpur Minyak
Bumi dengan Kascing. Journal Biotika Vol, 1 no.2, Desember 2002: 11-15.
Jurusan Biologi FM[PA-UNPAD Jatinangor.
Toccalino, P. c., R. c. Johnson, & D. R. Boone. 1993. Nitrogen limitation and
nitrogen fixation during alkane biodegradation in a sandy soil. Appl.
Environ. Microbiol. 59:2977-2983.
Udiharto. 1992. Aktivitas Mikroba dalam Degradasi Crude Oil. Diskusi [lmiah
V[[ Hasil Penelitian PPPTMGB "cEM[GAS". Jakarta.
Ueno, A., [to, Y., Yumoto, [., Okuyama, H. 2007. [solation and Characterization
of Bacteria From Soil Contaminated With Diesel Oil and Possible Use of
these in Autochthonous Bioaugmentation. World J Microbiol Biotechnol.
Vol 23. pp 1739-1745.