Anda di halaman 1dari 44

DETEKSI DINI KOMPLIKASI PADA NIFAS DAN

PENANGANANNYA
ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS DAN MENYUSUI

Disusun Oleh :
Kelompok 9
1. Diah Oktiar P3.73.24.2.15.094
2. Elisya Nurhakimah P3.73.24.2.16.112
3. Maghfira Kusumaningtiyas P3.73.24.2.16.128
4. Mulyanah Wahida Kamal P3.73.24.2.16.131
5. Nur Rizkiwati P3.73.24.2.16.098
6. Tesya Meilinda P3.73.24.2.16.143

Kelas : 2C

PRODI D-III KEBIDANAN JURUSAN


KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES
JAKARTA III
Jl. Arteri JORR, Jatiwarna, Kec. Pondok Melati, Bekasi 17415
Tahun Ajaran 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kesehatan dan kemudahan kepada kami untuk dapat mengerjakan tugas mata kuliah Asuhan
Kebidanan pada Masa Nifas dan Menyusui yang berjudul “Deteksi Dini Komplikasi pada Masa
Nifas dan Penanganannya”

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas dan
Menyusui. Melalui tugas ini diharapkan pembaca dapat memahami berbagai materi tentang
deteksi dini dan komplikasi pada masa nifas serta cara penanganannya. Makalah yang kami buat
ini tentunya masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun
kepada pembaca umumnya.

Bekasi, 7 Oktober 2017

Penyusun

ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS | i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah.................................................................................................1
1.3 Tujuan.....................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Masa Nifas.............................................................................................3

2.2 Tanda – Tanda Bahaya Nifas...................................................................................3


2.3 Macam-Macam Komplikasi Pada Masa Nifas dan Cara Penanganannya...................5
2.3.1 Pendarahan Post Partum................................................................................5
2.3.2 Hematoma......................................................................................................7
2.3.4 Subinvolusi...................................................................................................15
2.3.5 Masalah Payudara.........................................................................................19
2.3.6 Tromboflebitis.............................................................................................21
2.3.7 Masalah Psikologis pada Masa Nifas...........................................................24

2.4 Obatan Yang Diperlukan Masa Nifas Jika Terjadi


Komplikasi............................................................................................................25

BAB III PENUTUP


Kesimpulan..................................................................................................................35
Saran............................................................................................................................35

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................36
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak
beberapa jam setelah plasenta lahir dan berakhir
setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi
seluruh organ kandungan baru pulih kembali, seperti
dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan
setelah bersalin.

Masa nifas tidak kalah penting dengan masa-masa


ketika hamil, karena pada saat ini organ- organ
reproduksi sedang mengalami proses pemulihan
setelah terjadinya proses kehamilan dan bersalin.

Periode pasca persalinan meliputi masa transisi kritis


bagi ibu, bayi dan keluarganya secara fisiologis,
emosional dan social. Baik di Negara maju maupun
Negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan
bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan
persalinan, sementara keadaan yang sebenarnya justru
merupakan kebalikannya, oleh karena resiko
kesakitan dan kematian ibu serta bayi lebih sering
terjadi pada masa pascapersalinan. Keadaan ini
terutama disebabkan oleh konsekuensi ekonomi,
disamping ketidaktersediaan pelayanan atau
rendahnya peranan pasilitas kesehatan dalm
menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup
berkualitas. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan
juga menyebabkan rendahnya keberhasilan promosi
kesehatan dan deteksi dini sera penatalaksanaan yang
adekuat terhadap masalah dan penyakit yang timbul
pada masa pascapersalinan (Saifuddin, 2008).

Walaupun menderita nyeri dan tidak nyaman,


kelahiran bayi biasanya merupakan peristiwa yang
menyenangkan karena dengan berakhirnya masa
kehamilan yang telah lama ditunggu-tunggu dan
dimulainya suatu kehidupan baru. Namun kelahiran
bayi juga merupakan suatu masa kritis bagi kesehatan
ibu. Banyak kemungkinan untuk timbul masalah atau
ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS | 1
penyulit pada masa
nifas.

1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa itu masa nifas?
2. Apa saja tanda –
tanda bahaya pada
masa nifas?
3. Bagaimana
pendarahan post
partum terjadi pada
masa nifas?
4. Bagaimana
hematoma terjadi
pada masa nifas?
5. Bagaimana infeksi
terjadi pada masa
nifas?
6. Bagaimana sub
involusi terjadi
pada masa nifas?
7. Bagaimana
masalah payudara
terjadi pada masa
nifas?
8. Bagaimana
tromboflebitis
terjadi pada masa
nifas?
9. Apa saja obat yang
diperlukan pada
masa nifas jika
terjadi komplikasi?

ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS | 2


1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mendeteksi dini komplikasi pada masa nifas
2. Untuk mengetahui tanda – tanda bahaya pada masa nifas
3. Untuk mengetahui apa saja komplikasi yang terjadi pada masa nifas
4. Untuk mengetahui cara penanganan komplikasi pada masa nifas
5. Untuk mengetahui apa saja obat yang diperlukan pada masa nifas jika komplikasi
terjadi
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Masa Nifas


Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput
yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil
dengan waktu kurang lebih 6 minggu.

Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan
partus yang artinya melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan. Asuhan kebidanan
masa nifas adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan pada pasien mulai dari saat
setelah lahirnya bayi sampai dengan kembalinya tubuh dalam keadaaan seperti sebelum
hamil atau mendekati keadaan sebelum hamil.

Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah
persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat
reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari adanya
perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Saleha, 2009).

2.2 Tanda – Tanda Bahaya Masa Nifas


1. Terlalu Banyak Darah Yang Keluar
Untuk normalnya, darah yang keluar saat masa nifas adalah 500-600 ml per 24 jam
setelah bayi dilahirkan. Sama seperti saat sedang haid, seorang wanita biasanya
memakai pembalut untuk mencegah darah nifas tembus di pada celana dalam.
Seorang Ibu harus waspada jika dalam waktu satu jam sudah ganti pembalut lebih
dari 2 pembalut. Ganti pembalut disini dalam artian karena terlalu banyak darah yang
keluar. Hal seperti ini menandakan jika masa nifas seperti ini sangat berbahaya dan
harus segera konsultasi ke Dokter.

1. Penglihatan Kabur
Mengalami rabun merupakan ham yang wajar yang terjadi pada setiap orang. Hal ini
disebabkan karena alergi yang menyebabkan mata menjadi tidak sehat. Bagi seorang
ibu yang memiliki gangguan mata seperti mata minus biasanya disarankan untuk
melahirkan secara caesar. Hal ini dilakukan untuk keselamatan Ibu karena khawatir
minusnya akan semakin bertambah. Bagi seorang ibu yang mengalami pandangan
kabur setelah melahirkan, tentunya ini harus segera di tanyakan ke bidan atau dokter
terdekat. Pasalnya, penglihatan kabur saat wanita mengalami nifas biasanya
disebabkan karena terlalu banyak darah yang keluar.
2. Sakit Kepala Berlebih Disertai Mual
Seiring dengan keluarnya darah setelah melahirkan seringkali membuat wanita
mengalami sakit kepala. Tapi hal ini memang wajar karena kurangnya sel darah
merah. Tapi untuk wanita yang mengalami sakit kepala berlebih dan rasa mual, maka
hal ini sudah tidak wajar karena bisa menjadi penyebab gangguan penyakit yang
disebabkan oleh nifas. Pusing atau sakit kepala yang berlebihan harus segera dibawa
ke dokter untuk berkonsultasi. Jika dibiarkan terlalu lama akan mengganggu
kesehatan ibu yang baru melahirkan. Penanganan yang cepat tentunya akan lebih
mudah ditangani daripada dibiarkan terlalu lama.

3. Terjadi Pembengkakan Wajah dan Bagian Lainnya


Pembengkakan ini tidak hanya muncul pada wajah saja, namun juga pada bagian kaki
dan tangan sehingga membuat seorang ibu yang baru saja melahirkan mengalami
kesulitan berjalan karena pembengkakan pada bagian kaki. Gejala pembengkakan
pada kaki biasanya diawali dengan munculnya varises yang semakin menjalar. Hal ini
sebaiknya segera diatasi sebelum merambat ke bagian tubuh lainnya.

5. Suhu Tubuh Yang Mengalami Peningkatan


Suhu tubuh memang tidak bisa diprediksi, khususnya pada ibu hamil dan setelah
persalinan. Ini dikarenakan daya tahan tubuh setiap orang berbeda-beda. Bagi ibu
setelah melahirkan mungkin akan naik turun seiring dengan proses persalinan yang
menyebabkan dehidrasi. Tapi hal ini hanya berlangsung selama 1 sampai 3 hari saja.
Suhu tubuh untuk ibu yang baru melahirkan umumnya 37-38 derajat celcius. Jika
suhu tubuh lebih dari itu maka sudah tidak wajar sehingga harus kembali ke Rumah
sakit untuk diperiksa.

5. Mengalami Depresi Setelah Melahirkan


Depresi ibu melahirkan biasanya dialami oleh wanita yang baru pertama kali
melahirkan. Bagi beberapa orang, ini merupakan proses instrospeksi terhadap waktu
yang merubah seseorang yang tadinya lajang dan sekarang memiliki bayi. Pendarahan
yang berlebihan seringkali disebabkan karena ibu yang stres setelah melahirkan. Ini
biasanya akan membuat ibu enggan menyentuh bayinya karena terlalu stress. Jika
sudah begini sebaiknya dibawa ke rumah sakit atau ke psikolog agar dapat membantu
mengatasi perasaan deperesinya.

6. Darah Nifas Yang Berbau Menyengat


Bau darah pada nifas umumnya sama dengan bau darah haid. Bau yang tidak enak
atau lebih menyengat biasanya merupakan tanda bahayanya masa nifas sehingga
harus segera diatasi. Ini biasanya diikuti oleh gumpalan darah yang lebih besar dan
menyebabkan rasa sakit pada vagina saat mengeluarkannya. Untuk mengantisipasi
terjadinya hal yang tidak diinginkan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar
dapat diatasi lebih cepat.
2.3 Macam – Macam Komplikasi pada Masa Nifas dan Cara
Penanganannya

2.3.1 Pendarahan Post Partum


Pendarahan post partum adalah pendarahan yang terjadi pada jalan lahir yang
volumenya lebih dari 500 ml dan berlangsung dalam 24 jam setelah bayi lahir.
Menurut waktu terjadinya, pendarahan post partum di bagi menjadi 2 tahap, yaitu
:
a. Post partum dini (Early post partum) di sebut juga perdarahan post partum
primer. Perdarahan pada post partum primer terjadi dalam 24 jam pertama
setelah bayi lahir.
b. Post partum lanjut (Late post partum) disebut juga perdarahan post partum
sekunder. Terjadi setelah24 jam pertama sejak bayi lahir.

Perdarahan post partum dapat di sebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya :


1. Atonia Uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal berkontraksi dengan
baik setelah persalinan. Penyebab atonia uteri antara lain :
a. Umur ibu yang terlalu muda ( kurang dari 20 tahun ) atau terlalu tua (
lebih dari 40 tahun )
b. Status paritas ( multipara dan grande multi )
c. Partus lama atau partus tak maju
d. Uterus terlalu regang atau besar ( pada kehamilan kembar atau bayi besar )
e. Kelainan uterus
f. Faktor social ekonomi yang berpengaruh terhadap status gizi ibu.

2. Uterus Atonik
Uterus atonik terjadi karena sisa plasenta atau selaput ketuban tertinggal di
dalam uterus dan menyebabkan terjadinya perdarahan. Bagian plasenta yang
masih menempel pada dinding uterus mengakibatkan kontrkasi uterus tidak
ade kuat sehingga pembuluh darah yang terbuka pada dinding uterus tidak
dapat berkontraksi/terjepit dengan sempurna.

3. Inversio Uteri
Inversio uteri terjadi dimana rahim sebagian atau seluruhnya ikut keluar
ketika plasenta lahir. Bagian rahim bagian atas (fundus) menjadi terbalik
(inversi) mengarah ke bawah, tergantung derajatnya bagian rahim ini bisa
sampai ke mulut rahim hingga keluar dari jalan lahir.
Penyebab inversio uteri adalah :
a) Uterus lembek dan lemah ( tidak berkontraksi )
b) Grandemultipara
c) Kelemahan pada organ reproduksi (tonus otot rahin yang lemah )
d) Meningkatnya tekanan IntraAbdomen ( akibat mengejan yang terlalu kuat
atau batuk yang berlebihan )

Inversioa uteri dibagi menjadi :


a. Inversio uteri ringan
Terbaliknya fundus uteri kedalam cavum uteri namun belum keluar dari
rongga Rahim.
b. Inversio uteri sedang
Fundus uteri terbalik menonjol ke cavum uteri dan sudah masuk ke dalam
vagina
c. Inversio uteri berat
Uterus dan vagina dalam keadaan terbalik dan sebagian sudah keluar dari
vagina.

4. Robekan Jalan Lahir


Robekan jalan lahir merupakan laserasi atau luka yang terjasi sepanjang jalan
lahir (perineum) akibat proses persalinan. Robekan jalan lahir dapat terjadi
secara di sengaja ( episiotomy) atau tidak di sengaja.
Tanda-tanda ibu yang mengalami robekan jalan lahir adalah perdarahan segar
yang mengalir dan terjadi segera setelah bayi lahir, kontraksi uterus baik,
plasenta baik, kadang ibu terlihat pucat, lemah dan menggigil akibat
berkurangnya haemoglobin.
Berdasarkan kedalam robekan dan luasnya laserasi, robekan jalan lahir /
perineum di bagi menjadi 4 tingkat, yaitu :
a. Tingkat 1
Robekan hanya terjadi pada selaput lender vagina atau tanpa mengenai
kulit perineum
b. Tingkat 2
Robekan mengenai selaput lender vagina dan oto perineum transersalis
tapi tidak mengenai sphingter ani
c. Tingkat 3
Robekan mengenai seluruh perineum dan otot sphingter ani
d. Tingkat 4
Robekan sampai ke mukosa rectum
Penatalaksanaan :
a) Pijat Kontraksi agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah
b) Kaji kondisi pasien ( denyut jantung , tekanan darah , warna kulit ,
kesadaran, kontraksi uterus) dan perkirakan banyaknya darah yang
sudah keluar. Jika pasien dalam kondisi syok, pastikan jalan nafas dalam
kondisi terbuka.
c) Berikan oksitosin ( oksitosin untu 10 iu IV dan ergometrin 0,5 IV.
Berikan melalui IM apabila tidak bisa melalui IV).
d) Siapkan donor untuk transfuse, ambil darah untuk cross cek berikan
NaCl 11/15 menit apabila pasien mengalami syok), pada kasus syok
yang parah gunakan plasma ekspander.
e) Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
f) Awasi agar uterus tetap berkontraksi denganbaik. Tambahkan 40 iu
oksitosin dalam 1 liter cairan infus dengan tetesan 40 tetesan/menit.
Usahakan tetap menyusui bayinya.
g) Jika perdarahan persisten dan uterus tetap relaks, lakukan kompresi
bimanul.
h) Jika perdarahan persisten dan uterus tetap berkontraksi dengan baik,
pastikan laserasi jalan lahir.
i) Jika ada indikasi mungkin terjadi infeksi maka berikan antibiotic.
j) Lakukan pencatatan yang akurat.

Penatalaksaan Lanjutan :
Pantau Kondisi pasien 24-48 jam selanjutnya.

2.3.2 Hematoma
Hematoma adalah pembengkakan jaringan yang berisi darah. Bahaya hematoma
adalah kehilangan sejumlah darah karena haemoragi, anemia, dan infeksi.
Hematoma terjadi karena rupture pembuluh darah spontan atau akibat trauma. Pada
siklus reproduktif, hematoma sering kali terjadi selama proses melahirkan atau
segera setelahnya, seperti hematoma vulva, vagina, atau hematoma ligamentum
latum uteri.

Penyebab hematoma adalah:


1. Pelahiran operatif
2. Laserasi sobekan pembuluh darah yang tidak dijahit selama injeksi lokal atau
pudendus, atau selama penjahhitan episiotomy atau laserasi
3. Kegagalan hemostatis lengkap sebelum penjahitan laserasi atau episiotomy
4. Pembuluh darah diatas apeks insisi atau laserasi tidak dibendung, atau
kegagalan melakukan jahitan pada titik tersebut
5. Penanganan kasar pada jaringan vagina kapanpun atau pada uterus selama
masase
Tanda Dan Gejala Umum Hematoma
Tanda-tanda umum hematoma adalah nyeri ekstrem di luar proporsi
ketidaknyamanan dan nyeri yang diperkirakan. Tanda dan gejala lain hematoma
vulva atau vagina adalah
1. Penekanan perineum, vagina, uretra, kandung kemih, atau rectum dan nyeri hebat
2. Pembengkakan yang tegang dan berdenyut
3. Perubahan warna jaringan kebiruan atau biru kehitaman

Hematoma vulva adalah yang paling jelas, dan hematoma vagina umumnya dapat
diidentifikasi jika dilakukan inspeksi vagina dan serviks dengan cermat. Hematoma
ukuran kecil dan sedang mungkin dapat secara spontan diabsopsi. Jika hematoma
terus membesar dan bukan menjadi stabil, bidan harus memberitahuka dokter
konsultan untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut.

Tanda dan gejala hematoma ligamentum latum uteri meliputi:


1. Nyeri uteri lateral sensitive terhadap palpasi
2. Penyebaran nyeri ke panggul
3. Pembengkakan yang sangat nyeri diidentifikasi pada pemeriksaan rectum tinggi
4. Penonjolan jaringan tepat diatas pintu atas panggul, menyebar kearah lateral (ini
adalah ujung ligamentumlatum uteri yang membengkak).
5. Distensi abdomen
6. Jika di duga terjadi hematoma ligamentum latum uteri, penting
mengkonsultasikannya dengan dokter

Hematoma Puerperalis atau hematoma pada masa nifas ini terjadi karena rupture
pembuluh darah, khususnya pembuluh vena di balik kulit genetalia ekterna dan di
bawah mukosa vagina. Trauma penyebab terjadi pada saat melahirkan atau
perbaikan. Pada kasus yang jarang dijumpai, peristiwa tersebut berlangsung selama
kehamilan dan dalam proses persalinan yang sangat awal dan adanya hematoma
yang besar dapat merintangi kemajuan persalinan. Kerusakan pada pembuluh darah
bisa menimbulkan nekrosis dan hematoma mungkin tidak terlihat selama beberapa
hari.

Kebanyakan hematoma berukuran kecil dan terletak tepat dibawah kulit perineum.
Keadaan ini tidak begitu penting sekalipun menyebabkan rasa nyeri dan perubahan
warna kulit. Karena darah dapat diabsorpsi secara spontan, tindakan tidak
perludilakukan selain perawatan perineum yang lazim.

Rupture pembuluh darah yang ada di balik mukosa vagina merupakan masalah
serius, karena darah dalam jumlah yang besar dapat berkumpul dalam jaringan
submukosa yang longgar. Banyak hematoma vaginal mengandung lebih dari
setengah liter darah
pada saat diagnosis dibuat. Massanya dapat sedemikian besar sehingga menyumbat
lumen vagina, dan tekanan pada rectum dapat besar sekali. Kalau perdarahan terjadi
pada dasar ligamentum, darah dapat mengalir sampai ke dalam ruang retroperitoneal
dan bahkan bisa mencapai ginjal.

Banyak hematoma yang terjadi setelah kelahiran spontan yang mudah disamping
berkaitan dengan kelahiran traumatic. Seringkali hematoma terdapat pada sisi-sisi
yang berlawanan dengan episiotomy. Peregangan jaringan dalam dapat
mengakibatkan rupture pembuluh darah yang dalam tanpa terlihat perdarahan.
Varikositas memainkan peranan predisposisi. Kemungkinan adanya kelainan
pembekuan harus dipertimbangkan. Kegagalan dalam mencapai hemostatis yang
sempurna merupakan factor etiologi yang penting.

Diagnosis
Diagnosis dibuat dalam waktu 12 jam melahirkan. Secara klasik, keluhan nyeri dari
pasien tidak akan diperhatikan karena dianggap sebagai bagian dari kesakitan
postpartum pada perineum yang lazim terjadi. Beberapa saat kemudian barulah
bahwa keluhan nyeri tersebut tidak sebanding dengan trauma yang biasa terjadi
setelah melahirkan. Pemberian sedative dan analgesic tidak meredakan rasa nyeri.
Pemeriksaan yang seksama pada vagina danvulva akhirnya mengungkapkan adanya
pembengkakan, perubahan warna, nyeri tekan yang sangat, tekanan rektal dan massa
fluktuan yang bisa diraba per rectum atau per vaginam. Kalau darah yang hilang dari
sirkulasi umum berjumlah banyak, terdapat gejala pucat, takikardi, hipotensi dan
bahkan syok. Jika hematoma tersebut tinggi letaknya dan mengalami rupture ke
dalam cavum peritonei, shock dapat timbul mendadak dan pasiennya dapat
meninggal dunia.

Tindakan
Tindakan yang aktif tidak diperlukan bagi hematoma yang kecil dan yang tidak akan
menjadi besar. Daerah hematoma harus dijaga agar tetap bersih, dan nekrosis
jaringan dapat diikuti oleh infeksi, pasien harus mendapat preparat antibiotika.

Hematoma yang besar dan yang dapat membesar membutuhkan terapi pembedahan.
Luka tersebut dibuka, bekuan darah dikosongkan dan jika ditemukan titik perdarahan
maka bagian tersebut diikat. Daerah bekas hematoma ditampon dengan kassa steril
sementara didalam vagina juga ditempatkan tampon untuk menekan. Tampon ini
dibiarkan ditempatnya selama 24 jam hingga 48 jam. Antibitik diberikan, transfusi
darah dilakukan kalau perlu, dan pasien diobservasi dengan cermat untuk menjaga
kalau-kalau terjadi perdarahan baru. Sebuah indwelling catheter harus dipasangkan.
2.3.3 Infeksi Nifas
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat alat genitalia
dalam masa nifas. Masuknya kuman – kuman dapatterjadi dalam kehamilan, waktu
persalinandan nifas.

Demam dalam masa nifas sering juga disebut morbiditas nifas dan merupakan indeks
kejadian infeksi nifas. Morbiditas nifas ditandai dengan suhu 38°C atau lebih, yang
terjadi selama 2 hari berturut-turut. Kenaikan suhu ini terjadi sesudah 24 jam pasca-
persalinan dalam 10 hari pertama masa nifas.

Mikroorganisme penyebab infeksi puerperalisdapat berasal dari luar (eksogen) atau


dari jalan lahir penderita sendiri (endogen). Mikroorganisme endogen lebih sering
menyebabkan infeksi. Mikroorganisme yang tersering menjadi penyebab ialah
golongan streptococcus, basil coli, dan stafilacoccus. Akan tetapi, kadang-kadang
mikroorganisme lain memegang peranan, seperti: Clostridium welchii, Gonococcus,
Salmonella typii, atau Clostridium tetani.

Cara Terjadinya Infeksi adalah:


a. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan
dalam atau operasi membawa bateri yang sudah ada dalam vagina ke dalam
uterus
b. Alat tidak tersteril dengan baik
c. Doplet Infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang
berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau pembantu-pembantunya.

Predisposisi terjadinya infeksi adalah:


a. Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan
b. Teknik aseptik tidak sempurna
c. Tidak memperhatikan teknik mencuci tangan
d. Pemeriksaan dalam terlalu sering
e. Tindakan operasi persalinan, terutama pelahiran melalui sc
f. Trauma jaringan sangat luas atau luka terbuka, seperti laserasi yang tidak
diperbaiki
g. Hematoma
h. Hemoragi, khususnya jika kehilangan darah lebih dari 1.000 ml
i. Retensi sisa plasenta atau membran janin
j. Perawatan perineum tidak memadai
k. Infeksi vagina/serviks atau PMS yang tidak ditangani
Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala infeksi pada umumnya adalah peningkatan suhu tubuh, malaise
umum, nyeri, dan lochea berbau tidak sedap. Peningkatan kecepatan nadi dapat
terjadi, terutama pada infeksi berat. Interpretasi kultur laboratorium dan sensifitas,
pemeriksaan lebih lanjut, dan penanganan memerlukan diskusi serta kolaborasi
dengan dokter konsultan anda.

Tempat-Tempat Infeksi Pada Masa Nifas


Meskipun infeksi pascapartum terbanyak adalah endometritis, yang jauh lebih umum
terjadi setelah pelahiran SC daripada pelahiran pervaginam, adanya laserasi atau
trauma jaringan dalam saluran genetalia dapat terkena infeksi setelah melahirkan.
Selain itu, juga terdapat penyebaran infeksi yang berasal dari infeksi local dan
menyebar melalui jalur sirkulasi vena dan limfanik sehingga mengakibatkan infeksi
bakteri di tempat yang lebih jauh. Area perluasaan infeksi puerperium melalui
selulitis panggul, salpingitis, ooforitis, tromboflebitis panggul atau femoral, dan
bacteremia.

Jenis – Jenis Infeksi

a. Infeksi pada Vulva, Perineum, Vagina, Serviks


Infeksi luka perineum dan luka abdominal adalah peradangan karena masuknya
kuman - kuman kedalam luka episiotomy atau abdomen pada waktu persalinan
dan nifas, dengan tanda-tanda infeksi jaringan sekitar

Faktor Predisposisi (Penyebab)


 Kurangnya tindakan aseptic saat melakukan penjahitan
 Kurangnya hygiene pasien
 Kurangnya nutrisi

Tanda Dan Gejala


 Nyeri lokal
 Dysuria
 Suhu derajat rendah- jarang diatas 38,3°C
 Edema
 Sisi jahitan merah dan inflamasi
 Mengeluarkan pus atau eksudat berwarna abu-abu kehijauan
 Pemisahan atau terlepasnya lapisan luka operasi
b. Endometritis
Endometritis adalah infeksi yang terjadi pada endometrium. Jenis infeksi
endometritis ialah infeksi yang paling sering. Kuman-kuman yang memasuki
endometrium, biasanya melalui luka bekas insersio plasenta, dan dalam waktu
yang singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman
yang tidak terlalu pathogen, radang terbatas pada endometrium.

Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens). His
lebih nyeri dari biasanya dan lebih lama dirasakan. Lochea bertambah banyak,
berwarna merah atau cokelat, serta berbau. Lochea yang berbau tidak selalu
menyertai endometritis sebagai gejala. Sering terdapat subinvolusi. Leukosit naik
anatara 15.000-30.000/mm³. sakit kepala, kurang tidur, dan kurang nafsu makan
dapat mengganggu penderita.

Tanda dan gejala endometritis yaitu:


a. Peningkatan demam hingga 40°C, bergantung pada keparahan infeksi
b. Menggigil
c. Nyeri pada saat perabaan uterus
d. Nyeri panggul
e. Uterus membesar
f. Nadi menurun
g. Uterus lembek

Penanganan dengan obat antimikroba spectrum luas termasuk sefalosporin


(misalnya: cefoxitin, cefotetan) danpenisilin spektum-luas, atau inhibitor
kombinasi penicillin/betalaktamase (Augmentin, Unasyn). Kombinasi klindamisn
dan gentamisin juga dapat digunakan seperti metronodazol jika ibu tidak
menyusui. Endrometritie ringan dapat ditangani dengan terapi oral meskipun
infeksi yang lebih serius memerlukan hospitalisasi untuk terapi intravena.

Penyebaran endometritis, jika tidak ditangani dapat menyebabkan salpingitis,


tromboflebitis septik, peritonitis, dan fasilitas nekrotikans. Setiap dugaan adanya
infeksi memburuk, gejala yang tidak dapat dijelaskan, atau nyeri akut
memerlukan konsultasidokter dan rujukan.

Jika infeksi tidak meluas, maka suhu turun secara berangsur-angsur dan turun
pada hari ke-7 sampai 10. Pasien sedapatnya diisolasi, tetapi bayi boleh terus
menyusu pada ibunya. Untuk kelancaran pengeliran lochea, pasien boleh
diletakkan dengan posisi fowler dan diberi juga uterustonika.
c. Parametritis
Parametritis meruoakan peradangan pada parametrium yang merupakan lapisan
terluar yang melapisi uterus. Parametritis disebut juga sellulitis pelvika.

Tanda Gejala Parametritis :


 Suhu badan meningkat 38°C - 40°C
 Menggigil
 Nyeri perut bagian bawah dan terasa kaku
 Denyut nadi meningkat
 Terjadi lebih dari hari ke7 postpartum
 Lochea yang purulent dan berbau

d. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan lapisan tipis di dinding bagian dalam perut
(peritoneum). Peritoneum juga berfungsi untuk melindungi organ di dalam perut.
Jika dibiarkan memburuk, maka peritonitis bisa menyebabkan infeksi seluruh
sistem tubuh yang membahayakan nyawa.

Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus,


parametritis yang meluas ke peritroneum, salpingo-ooforitis meluas ke
peritoneum atau langsung sewaktu tindakan per abdominal. Peritonitis yang
terlokalisasi hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke
seluruh rongga peritoneum disebut peritonitis umu, dan keadaan ini sangat
berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian
infeksi.

Tanda dan Gejala


 Demam dengan temperatur sangat tinggi.
 Perut terasa kembung.
 Detak jantung semakin cepat.
 Diare.
 Menggigil.
 Terus menerus merasa haus.
 Tidak mengeluarkan urine atau jumlah urine lebih sedikit.
 Sulit buang air besar dan mengeluarkan gas.
 Nafsu makan menurun.
 Kelelahan.
 Pembengkakan perut disertai nyeri saat perut disentuh.
 Mual dan muntah.
e. Tetanus
Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan seringkali fatal yang disebabkan
oleh bakteri Clostridium tetani yang memproduksi toksin (racun). Racun ini yang
kemudian menghasilkan gangguan saraf yang ditandai dengan meningkatnya
tegangan dan kekejangan otot.

Diagnosis
 Trismus (keterbatasan pergerakan rahang)
 Kaku kuduk, wajah
 Punggung melengkung
 Perut kaku seperti papan
 Spasme spontan

Faktor Predisposisi
 Imunisasi tidak lengkap atau tidak imunisasi
 Luka tusuk
 Adanya infeksi bakteri lainnya

Tatalaksana
1. Tatalaksana Umum
Rujuk ibu ke rumah sakit

2. Tatalaksana Khusus
 Selama mempersiapkan rujukan:
- Miringkan ibu ke samping agar tidak terjadi aspirasi
- Jaga jalan nafas tetap terbuka
- Atasi kejang dengan diazepam 10 mg IV selama 2 menit. Jauhkan ibu dari
kebisingan dan cahaya
- Pasang jalur intravena untuk memberikan cairan. Jangan berikan cairan
lewat mulut
- Berikan antibiotika benzil penisilin 2 juta unit IV setiap 4 jam selama 8
jam.
Lalu lanjutkan dengan ampisilin 500 mg 3 kali sehari selama 10 hari
- Berikan antitoksin tetanus 3000 unit IM
 Di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, cari tahu dan singkirkan penyebab
infeksi (misalnya jaringan yang terinfeksi)
 Ventilasi mekanik mungkin diperlukan
Upaya Pencegahan Infeksi Nifas
a. Pada masa hamil
 Mencukupi asupan nutrisi saat hamil
 Mengobati penyakit yang diderita ibu saat hamil
 Jangan melakukan pemeriksaan dalam kalau tidak diperlukan
 Mengurangi koritus pada hamil tua untuk mencegah ketuban pecah agar
tidak infeksi
b. Pada masa persalinan
 Hindari melakukan pemeriksaan dalam berulang – ulang
 Menjaga kesterilan alat
 Hindari partus lama dan ketuban pecah lama
 Mencegah terjadinya pendarahan
c. Pada masa nifas
 Perawatan luka harus dilakukan dengan baik jangan sampai terjadi infeksi
 Penderita infeksi nifas harus diisolasi atau dipisahkan dengan ibu yang sehat
 Tamu yang bekunjung harus dibatasi

Pengobatan pada Infeksi


Bidan masih diperkenankan untuk memberi antibiotik ringan seperti penisilin kapsul,
preparat sulfat, dan sebagainya. Di samping itu, perawatan luka lokal perlu
dilakukan untuk mengurangi penyebaran infeksi masa nifas.

Pada kasus infeksi masa nifas yang berat sebaiknya dirujuk dan dikonsultasikan agar
mendapat pengobatan yang tepat. Sebagian infeksi masa nifas yang berat perlu
mendapat perawatan di rumah sakit agar dapat di lakukan observasi untuk
menyelamatkan jiwa pasien.

2.3.4 Subinvolusi
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana berat rahim
dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi 40-60 mg 6 minggu kemudian. Bila
pengecilan ini kurang baik atau terganggu di sebut sub-involusi.
Subinvolusi adalah kegagalan perubahan fisiologis pada sistem reproduksi pada
masa nifas yang terjadi pada setiap organ dan saluran yang reproduktif.
Subinvolusi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kemunduran
yang terjadi pada setiap organ dan saluran reproduktif,kadang lebih banyak
mengarah secara spesifik pada kemunduran uterus yang mengarah ke ukurannya.
(Varney’s Midwivery)

Faktor penyebab sub-involusi, antara lain: sisa plasenta dalam uterus, endometritis,
adanya mioma uteri (Prawirohardjo, 2005).
Pada pemeriksaan bimanual di temukan uterus lebih besar dan lebih lembek dari
seharusnya, fundus masih tinggi, lochea banyak dan berbau, dan tidak jarang
terdapat pula perdarahan (Prawirohardjo, 2005).

Penyebab subinvolusi adalah:

 Status gizi ibu nifas buruk


 Kurang mobilisasi
 Faktor usia
 Parietas
 Terjadi infeksi pada endometrium
 Terdapat sisa plasenta dan selaputnya
 Terdapat bekuan darah yang tidak keluar
 Mioma uteri
 Tidak ada kontraksi

Subinvolusi Dapat Terjadi Pada:


a. Subinvolusi Uterus
Subinvolusi Uterus adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal
involusi/proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya,sehingga
proses pengecilan uterus terhambat.

Tanda dan gejala


 Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen/pelvis dari
yang seharusnya atau penurunan fundus uteri lambat.
 Konsistensi uterus lembek
 Pengeluaran lochea seringkali gagal berubah
 Terdapat bekuan darah
 Lochea berbau menyengat
 Uterus tidak berkontraksi
 Pucat, pusing dan tekanan darah rendah serta suhu tubuh tinggi

Penyebab
 Terjadi infeksi pada miometrium
 Terdapat sisa plasenta dan selaput plasenta di dalam uterus
 Lochea rubra lebih dari 2 minggu post partum dan pengeluarannya lebih
banyak dari yang diperkirakan
Terapi

 Pemberian antibiotika
 Pemberian uterotonika
 Pemberian tablet Fe

b. Subinvolusi tempat plasenta


Yaitu kegagalan bekas tempat implantasi untuk berubah

Tanda dan Gejala


 Tempat implantasi masih meninggalkan parut dan menonjol
 Perdarahan

Penyebab
 Tali pusat putus akibat dari traksi yang berlebihan
 Inversio uteri sebagai akibat tarikan
 Tidak adanya regenerasi endometrium di tempat implantasi plasenta
 Tidak ada pertumbuhan kelenjar endometrium

c. Subinvolusi Ligamen
Yaitu kegagalan ligamen dan diafragma pelvis vasia kembali seperti sedia kala.

Tanda dan Gejala


 Ligamentum rotundum masih kendor
 Ligamen, fasia dan jaringan lat penunjang serta alat genitalia masih kendor

Penyebab
 Terlalu sering melahirkan
 Faktor umur
 Ligamen, fasia dan jaringan penunjang serta alat genitalia sudah berkurang
elastisitasnya.

d. Subinvolusi serviks
Yaitu kegagalan serviks berubah kebentuk semula seperti sebelum hamil.

Tanda dan Gejala


 Konsistensi serviks lembek
 Perdarahan

Penyebab
 Multiparitas
 Terjadi ruptur saat persalinan
 Lemahnya elastisitas serviks
e. Subinvolusi Lochea
Yaitu tidak ada perubahan pada konsistensi lochea. Seharusnya lochea berubah
secara normal sesuai dengan fase dan lamanya postpartum.

Tanda dan gejala


 Perdarahan tidak sesuai dengan fase
 Darah berbau menyengat
 Perdarahan
 Demam,menggigil

Penyebab
 Bekuan darah pada serviks
 Uterus tidak berkontraksi
 Posisi ibu telentang sehingga menghambat darah nifas untuk keluar
 Tidak mobilisasi
 Robekan jalan lahir
 Infeksi

f. Subinvolusi Vulva dan Vagina


Yaitu tidak kembalinya bentuk dan konsistensi vulva dan vagina seperti semula
setelah beberapa hari postpartum.

Tanda dan Gejala


 Vulva dan vagina kemerahan
 Terlihat oedem
 Konsistensilembek

Penyebab
 Elastisitas vulva dan vagina lemah
 Infeksi
 Terjadi robekan vulva dan vagina saat partus

g. Subinvolusi Perineum
Yaitu tidak ada perubahan perineum setelah beberapa hari persalinan

Tanda dan Gejala


 Perineum terlihat kemerahan
 Konsistensi lembek
 Oedema
Penyebab
 Tonus otot perineum sudah lemah
 Kurangnya elastisitas perineum
 Infeksi
 Pemotongan benang catgut terlalu pendek pada saat laserasi sehingga jahitan
perineum putus.

2.3.5 Masalah Payudara

a. Bendungan Asi
Pembendungan ASI menurut Pritchar (1999) adalah pembendungan air susu
karena penyempitan duktus lakteferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak
dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu (Buku
Obstetri Williams). Pada versi lain bendungan air susu diartikan sebagai
pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga
menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan
(Sarwono, 2005:700).

Setiap ibu akan mengalami bendungan atau pembengkakan pada payudara. Hal
ini merupakan kondisi yang alamiah. Bendungan payudara adalah peningkatan
aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiakan diri untuk
laktasi.

Penyebab terjadinya bendungan ASI :

1. Pengosongan mamae yang tidak sempurna


Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada Ibu yang produksi
ASI-nya berlebihan. apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu &
payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam
payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan
bendungan ASI.

2. Faktor hisapan bayi yang tidak aktif


Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin atau
jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI.
3. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi
lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya Ibu
tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI.

4. Puting susu terbenam


Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena
bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan
akibatnya terjadi bendungan ASI.
5. Puting susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu
karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus
untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan
bendungan ASI.

Penanganan yang dilakukan bila ibu menyusui bayinya :


1. Susukan bayi sesering mungkin
2. Menyusui dengan kedua payudara secara bergantian kiri dan kanan
3. Kompres hangat payudara sebelum menyusui
4. Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui
5. Sangga payudara
6. Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui
7. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
8. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya

Bila ibu tidak menyusui :


1. Sangga payudara
2. Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit
3. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
4. Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara

b. Mastitis
Mastitis termasuk salah satu infeksi payudara. Mastitis disebabkan oleh kuman
terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui
peredaran darah. Keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberikan tindakan yang
tepat. Abses payudara, penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan
komplikasi berat dari mastitis.

Tanda gejala mastitis adalah :


1. Peningkatan suhu yang cepat (39,5°C sampai 40°C)
2. Peningkatan kecepatan nadi
3. Menggigil
4. Sakit kepala
5. Nyeri hebat
6. Bengkak
7. Area payudara keras

Tindakan:
1. Berikan kloksasiklin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari. Bila diberikan
sebelum terbentuk abses biasanya keluhan akan berkurang
2. Sangga payudara
3. Kompres dingin
4. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
5. Ibu harus didorong menyusui bayinya
6. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
c. Abses Payudara
Abses payudara terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik, sehingga
memperberat infeksi. Abses payudara merupakan komplikasi akibat peradangan
payudara / mastitis yang sering timbul pada minggu ke dua post partum (setelah
melahirkan), karena adanya pembengkakan payudara akibat tidak menyusui dan
lecet pada puting susu.

Tanda dan gejala abses payudara adalah:


1. Discharge putting susu
2. Demam
3. Menggigil
4. Pembengkakan payudara
5. Nyeri yang sangat hebat
6. Massa besar dan keras
7. Kulit berwarna kemerahan dan kebiruan mengindikasikan abses berisi pus.

Penanganan abses payudara adalah:


1. Diperlukan anestesi umum (ketamin)
2. Insisi radial dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak
memotong saluran ASI
3. Pecahkan kantung pus dengan tissue forceps atau jari tangan
4. Pasang tampon dan drain
5. Berikan kloksasiklin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari
6. Sangga payudara
7. Kompres dingin
8. Berikan parasetamol 500 mg setiap 4 jam sekali bila diperlukan
9. Ibu didorong tetap memberikan ASI
10. Lakukan evaluasi setelah pemberian pengobatan selama 3 hari

2.3.6 Tromboflebitis
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Bekuan darah dapat terjadi di permukaan atau di
dalam vena. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat
kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi
vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena
kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan
penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.
Tromboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Tromboflebitis Pelvik
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum,
yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering
terkena ialah vena ovarika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta
yang terletak dibagian atas uterus; proses biasanya unilateral.
Perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra ialah ke vena renalis, sedangkan
perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra ialah ke vena kava inferior.
Peritonium selaput yang menutupi vena ovarika dekstra dapat mengalami
inflamasi dan dapat menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan periapendistits.
Perluasan infeksi dari vena uterina ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi
sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.

Tanda dan Gejala Tromboflebitis Pelvik adalah:


a. Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping
b. Timbul pada hari ke 2 – 3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
c. Menggigil berulang kali
d. Suhu badan naik turun secara tajam (360c menjadi 400c).
e. Penyakit dapat berlangsung selama 1 – 3 bulan.
f. Cenderung terbentuk PUS, yang menjalar ke mana-mana, terutama ke paru-
paru.
g. Gambaran darah : Terdapat leukositosis
h. Pada periksa dalam hampir tidak ditemukan apa-apa karena yang paling
banyak terkena adalah vena ovarika, yang sukar dicapai pada pemeriksaan
dalam.

2. Tromboflebitis Femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena
femarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca
partum.

Komplikasi jarang terjadi, tapi ketika mereka terjadi mereka bisa serius.
Komplikasi yang paling serius terjadi ketika bekuan darah dislodges, bepergian
melalui hati dan occluding lebat jaringan kapiler paru-paru; ini adalah emboli
paru-paru dan sangat mengancam nyawa. Gangguan ini berjalan secara cepat,
dapat berlanjut menjadi emboli paru-paru yang berkemampuan menjadi
komplikasi fatal.
Tanda dan Gejala Tromboflebitis Femoralis

Pada salah satu kaki yang terkena, akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:

a. Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak,
lebih panas dibanding dengan kaki lainnya.
b. Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada
paha bagian atas.
c. Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
d. Reflektorik akan terjadi spasmus sehingga kaki menjadi bengkak, tegang,
nyeri dan dingin dan pulsasi menurun.
e. Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri dan pada
umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari
jari-jari kaki dan pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah ke atas.
f. Nyeri pada betis, yang dapat terjadi spontan atau dengan memijit betis.
g. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7 – 10 hari,
kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke 10 – 20, yang disertai
dengan menggigil dan nyeri sekali

Faktor Predisposisi Tromboflebitis:

1. Pertambahan usia, semakin tua maka semakin beresiko terjadi tromboflebitis


2. Episode tromboflebitis sebelumnya
3. Pembedahan obstetric
4. Kelahiran
5. Obesitas
6. Imobilisasi
7. Trauma vaskular
8. Varises
9. Multiparietas
2.3.7 Masalah Psikologis pada Masa Nifas

a. Post Partum Blues


Post partum blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti
kemunculan kecemasan,labilitas persaan dan depresi pada ibu . Diperkirakan
hampir 50-70% seluruh wanita pasca melahirkan akan mengalami baby blues atau
post natal syndrome yang terjadi pada hari ke-4 -10 pasca persalinan.

Adapun gejalanya yaitu reaksi depresi, sedih, disporia. Sering menangis ,mudah
tersinggung,cemas,labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri,
gangguan tidur dan gangguan nafsu makan ,kelelahan, mudah sedih, cepat marah,
mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat menjadi gembira. Perasaan
terjebak,marah kepada pasangan dan bayinya, perasaan bersalah, dan sangat
pelupa.

b. Depresi Post Partum


Depresi post partum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan mungkin
seorang ibu baru akan merasa benar-benar tidak berdya dan merasa serba kurang
mampu,tertindih oleh beban terhadap tangung jawab terhadap bayi dan
keluarganya,tidak bisa melakukan apapuan untuk menghilangakan perasaan
itu.Depresi post partum dapat berlangsung selama 3 bulan atau lebih dan
berkembang menjadi depresi lain lebih berat atau lebih ringan.Gejalanya sama
saja tetapi di samping itu,ibu mungkin terlalu memikirkan kesehatan bayinya dan
kemampuanya sebagai seorang ibu.

Jadi pada dasarnya depresi menyerang siapa aja,tetapi terutama orang-orang usia
tengan baya (usia 35-50 tahun) .Misalnya gagalnya mencapai sasaran-sasaran
yang telah di rencanakan anak-anak mulai meningalkan rumah dan lain-
lain,semua ini bisa menyebabkan depresi.Menurut catatan psikiater orang-prang
yang menikah lebih banyak mengalami depresi dari pada yang yang tidak
menikah.Para ahli mengatakan hal ini di sebabkan oleh konflik-konflik
interpersonal yang timbul dalam relasi yang dekat didalam perkawinan.

Di samping itu perempuan dua kali lebih banya di diagnosa sebagai memngalami
depresi dari pada laki-laki penyeba masie belum di ketahui dengan pasti.Apakah
mungkin karena bedanya biologis karena wanita lebih mudah menyatakan
perasaanya atau karena perempuan lebih banyak mengalami stress sosial karena
tidak berhasil memenuhi keinginan mereka di masyarakat.
c. Psikosa Post Partum
Psikosa pospartum Merupakan gangguan jiwa yang berat yang ditandai dengan
waham, halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality) yang terjadi
kira-kira 3-4 minggu pasca persalinan. Merupakan gangguan jiwa yang serius,
yang timbul akibat penyebab organic maupun emosional (fungsional) dan
menunjukkan gangguan kemampuan berfikir, bereaksi secara emosional,
mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan tindakan sesuai kenyataan
itu, sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat
terganggu.

2.4 Obat-Obatan Yang Diperlukan Masa Nifas Jika Terjadi Komplikasi

1. Obat Batuk
a. Kodein
Kodein suatu golongan opium alam yang banyak digunakan di Amerika Serikat.
Nama lain obat satu ini adalah methylmorphine. Dinamakan seperti itu karena
kodein diperoleh dari morfin yang melalui proses metilasi.

Indikasi
Pengobatan simtomatik dengan merangsang reseptor dalam SSP sehingga
menekan refleks batuk.

Mekanisme Kerja
Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila kodein
berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan
saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas kodein terhadap reseptor
opioid tersebut. Kodein merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf
pusat dengan menekan pusat batuk.

Dosis
 Dosis untuk obat batuk untuk dewasa 10-20 mg tiap 4-6 jam (maksimum 120
mg/hari).
 Untuk anak-anak (6-12 tahun): 5-10 mg tiap 4-6 jam (maksimum 60 mg/hari).
 Sedangkan anak-anak (2-6 tahun): 2,5-5 mg tiap 4-6 jam (maksimum 30
mg/hari).

Perhatian
 Codeine mempunyai potensi ketergantungan prmer. Penggunaan jangka lama
dengan dosis tinggi menyebabkan toleransi yang sama dengan ketergantungan
fisik dan mental.
 Codeine tidak boleh digunakan untuk anak-anak kurang dari 2 tahun. Belum
ada dosis yang direkomendasikan untuk pemakaian anak sampai 2 tahun.
 Jika batuk masih tetap berlangsung lebih dari 1 minggu atau kemudian disertai
demam, rash atau sakit kepala, konsultasikan ke dokter.
 Petunjuk pengobatan dan lamanya pengobatan ditentukan oleh dokter
 Simpan hati-hati, jauhkan dari jangkauan anak-anak

Interaksi
 Alkohol:Meningkatkan efek hipotensif dan sedasi saat opioid analgesik
diberikan bersama alkohol
 Antihistamin :Efek sedasi mungkin meningkat saat analgesik opioid diberikan
dengan antihistamin sedative

Kontraindikasi
 Codein tidak boleh digunakan pada anak kurang dari 2 tahun karena berisiko
meningkatkan depresi pernafasan.
 Karena penggunaan codeine dikontraindikasikan pada penderita dengan
serangan asma akut, sedangkan batuk kronik pada anak-anak umumnya
merupakan gejala awal dari asma bronkial maka codein tidak boleh digunakan
untuk sedasi pada kondisi seperti ini.
 Wanita hamil atau menyusui.
 Depresi napas, penyakit paru obstruktif, serangan asma akut

Efek Samping
 Dosis terapeutik yang tinggi atau overdosis dapat berakibat pada sinkope dan
penurunan tekanan darah, edema paru-paru dapat terjadi pada pasien yang
sebelumnya telah ada kerusakan fungsi paru-paru
 Efek samping umumnya terjadi setelah pengurangan dosis dan biasanya dapat
dihindari dengan pemberian dosis secara berhati-hati dan secara individual.
 Mual dan muntah kemungkinan akan timbul pada pemulaan pengobatan
 Pada kasus individual dapat menimbulkan kenaikan berat badan

Bentuk Sediaan
Tablet

Sediaan
 Codein 10 mg
 Codein 15 mg
 Codein 20 mg
b. Ambroxol
Ambroxol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan mukolitik, yaitu
obat yang berfungsi untuk mengencerkan dahak. Ambroxol umumnya digunakan
untuk mengatasi gangguan pernapasan akibat produksi dahak yang berlebihan
pada kondisi seperti bronkiektasis dan emfisema. Dengan obat mukolitik, dahak
yang diproduksi akan lebih encer sehingga lebih mudah dikeluarkan dari
tenggorokan saat batuk. Dengan demikian, pipa saluran pernapasan pun lebih
terbuka dan terasa lega.

Merek Dagang
Brommer 30, Cystelis, Epexol, Epexol Forte, Galpect, Lapimuc, Mucera,
Mucopect, Mucopect Retard, Mucos, Promuxol, Propect, Roverton, Silopect,
Silopect Forte, Transbroncho, Berea, Limoxin, Mosapec, Ambril, Betalitik,
Broncozol, Broxal, Molapec, Mucoxol, Sohopec, Ambroxol Indo Farma,
Bronchopront, Broxal, Interpec, Mucolica, Nufanibrox, Transmuco.

Bentuk Sediaan
 Tablet
 Sirup

Peringatan:
 Tanyakan dosis ambroxol untuk anak-anak kepada dokter.
 Harap berhati-hati bagi penderita ulkus atau tukak lambung.
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Ambroxol
Untuk dewasa, dosis biasanya diberikan sebanyak 30 hingga 120 mg perhari.
Dosis akan disesuaikan dengan kondisi pasien, tingkat keparahannya dan respons
tubuh terhadap obat. Pada pasien anak-anak, dosis juga akan disesuaikan dengan
berat badan mereka.

Mengonsumsi Ambroxol dengan Benar


 Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan ambroxol
sebelum mulai mengonsumsinya. Konsumsi ambroxol pada saat makan atau
setelah makan.
 Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis
berikutnya. Usahakan untuk mengonsumsi ambroxol pada jam yang sama tiap
hari untuk memaksimalisasi efeknya.
 Bagi pasien yang lupa mengonsumsi ambroxol, disarankan segera
melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat.
Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis ambroxol.
 Konsumsilah ambroxol sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan oleh
dokter. Obat ini tidak disarankan untuk penggunaan dalam jangka waktu lama.

Interaksi Obat
 Penggunaan ambroxol bersamaan dengan antibiotik, seperti cefuroxime,
amoxicillin, doxycyclin, dan erythromycin, dapat meningkatkan konsentrasi
antibiotik di dalam jaringan paru-paru.
 Penggunaan ambroxol bersamaan dengan obat penekan refleks batuk, tidak
disarankan.

Efek Samping dan Bahaya Ambroxol


Ambroxol kadang dapat menyebabkan efek samping berupa gangguan pada
sistem pencernaan, seperti rasa mual, muntah dan nyeri ulu hati. Namun efek
samping ini umumnya tergolong ringan.

2. Obat Nyeri dan Demam


a. Paracetamol
Paracetamol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan analgesik
(pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam).

Merek Dagang
Biogesic, Cetapain, Eterfix, Farmadol, Fevrin, Ikacetamol, Kamolas, Moretic,
Naprex, Nofebril, Ottopan, Pamol, Panadol, Pehamol, Praxion, Pyrexin, Pyridol,
Sanmol, Sumagesic, Tamoliv, Tempra

Bentuk Sediaan
 Tablet
 Tablet kunyah
 Sirup
 Suntik
 Sipositoria

Peringatan:
 Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, gangguan hati, malanutrisi,
dehidrasi, dan bagi orang yang sering mengonsumsi minuman keras (alkohol)
dalam jangka lama.
 Untuk orang dewasa, jangan mengonsumsi lebih dari 4 gram per 24 jam.
 Untuk anak-anak, pastikan dosis diberikan sesuai dengan umur.
 Jika terjadi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.

Dosis Paracetamol
Usia (tahun) Takaran (minimal – maksimal dosis tiap 4-6
jam) per miligram (mg)

>16 500 – 1000

12-16 480 – 750

10-12 480– 500

8-10 360-375

6-8 240-250

4-6 240

2-4 180

6 – 24 120
bulan

3 – 6 bulan 60

2 – 3 bulan 60
setelah
imunisasi

Mengonsumsi Paracetamol dengan Benar


 Umumnya, paracetamol tidak menimbulkan efek samping. Walau demikian,
pastikan obat ini cocok untuk gejala-gejala yang dialami dan tidak berlawanan
dengan kondisi kesehatan fisik.
 Paracetamol bisa dikonsumsi orang dewasa sebanyak 500 mg tiap empat
hingga enam jam.Sedangkan untuk anak-anak, sesuaikan dosisnya dengan
anjuran dokter. Obat ini bisa diminum sebelum atau sesudah makan.
 Jangan mengonsumsi paracetamol melebihi dosis yang ditentukan, terlalu
banyak mengonsumsi obat ini bisa merusak organ hati.
 Apabila melewatkan waktu mengonsumsi paracetamol, jangan minum dua
dosis sekaligus dengan maksud menggantikannya.
Interaksi Obat
Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan lain, paracetamol bisa
menimbulkan reaksi berupa peningkatan efek samping atau justru mengurangi
efektivitas paracetamol itu sendiri. Untuk menghindarinya, jangan mengonsumsi
paracetamol dengan obat-obatan di bawah ini:
 Warfarin (obat yang biasanya digunakan untuk mencegah pembekuan darah).
 Carbamazepine (obat yang biasanya digunakan untuk mengobati epilepsi).
 Phenobarbital, phenytoin, atau primidone (obat-obatan yang biasanya
digunakan untuk mengontrol kejang).
 Colestyramine (obat yang biasanya digunakan untuk mengurangi rasa gatal
pada gangguan ginjal).
 Metoclopramide (obat yang biasanya digunakan untuk meredakan rasa mual
dan muntah).
 Imatinib atau busulfan (obat-obatan yang biasanya digunakan untuk
mengobati kanker jenis tertentu.
 Lixisenatide (obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi diabetes tipe 2).
 Ketoconazole (salah satu jenis obat antijamur).

Efek Samping dan Bahaya Paracetamol


Paracetamol jarang menyebabkan efek samping, namun ada beberapa yang
mungkin terjadi, di antaranya:
 Penurunan jumlah sel-sel darah, sepeti sel darah putih atau trombosit.
 Muncul ruam, terjadi pembengkakan, atau kesulitan bernapas karena alergi.
 Tekanan darah rendah (hipotensi) dan jantung berdetak cepat
(takikardi).Kerusakan pada hati dan ginjal jika menggunakan obat ini secara
 Bisa menyebabkan overdosis jika digunakan lebih dari 200 mg/kg, atau lebih
dari 10 gram, dalam 24 jam.

3. Obat Alergi
a. Loratadin
Loratadine adalah obat yang dapat mengobati gejala alergi, seperti bersin-bersin,
ruam kulit, pilek, hidung tersumbat, dan mata berair akibat paparan alergen
(misalnya debu, bulu hewan, atau gigitan serangga).

Merk dagang
Alernitis, Alloris, Clarihis, Claritin, Dayhist, Imunex, Logista, Pylor, Rahistin,
Rihest.
Peringatan:
 Harap berhati-hati dalam menggunakan obat ini jika Anda merupakan
penderita gangguan hati dan gangguan darah porfiria.
 Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan lain.
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Loratadine
Untuk mengatasi reaksi alergi pada pasien dewasa, dosis loratadine yang biasanya
direkomendasikan oleh dokter adalah 10 mg satu kali sehari, atau 5 mg dua kali
sehari. Sedangkan pada anak-anak usia 2-5 tahun, dosisnya adalah 5 mg satu kali
sehari.

Mengonsumsi Loratadine dengan Benar


Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan obat sebelum
menggunakan loratadine. Obat ini dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.
Jika diresepkan loratadine tablet, konsumsilah dengan air putih.

Bagi pasien yang lupa mengonsumsi loratadine, disarankan untuk segera


melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat.
Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Obat
 Jika digunakan bersamaan dengan obat-obatan tertentu, loratadine bisa
menimbulkan reaksi berupa peningkatan efek samping atau justru mengurangi
efektivitas obat itu sendiri.
 Hindari mengonsumsi loratadine dengan obat-obatan yang mengandung
desloratadine. Sama seperti loratadine, desloratadine merupakan obat yang
bisa digunakan untuk meredakan gejala-gejala alergi.
 Jangan mengonsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan loratadine
karena dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko efek samping.
Efek Samping dan Bahaya Loratadine
Sama seperti obat-obatan lainnya, loratadine juga berpotensi menyebabkan efek
samping. Walau jarang, efek samping yang dapat terjadi setelah mengonsumsi
antihistamin ini adalah merasa lelah atau mengantuk.
4. Antibiotik
a. Amoxicillin
Amoxicillin adalah salah satu jenis antibiotik golongan penisilin yang digunakan
untuk mengatasi infeksi berbagai jenis bakteri, seperti infeksi pada saluran
pernapasan, saluran kemih, dan telinga. Amoxicillin hanya berfungsi untuk
mengobati infeksi bakteri dan tidak bisa mengatasi infeksi yang disebabkan oleh
virus, misalnya flu.

Peringatan
 Berhati-hatilah jika Anda alergi terhadap obat, seperti penisilin atau bahan
tertentu.
 Jika Anda akan menjalani vaksinasi apa pun, pastikan memberi tahu dokter
bahwa Anda sedang mengonsumsi amoxicillin karena obat ini dapat
menghambat kerja vaksin, terutama vaksin tifoid.
 Jika Anda sedang mengonsumsi pil kontrasepsi dan mengalami muntah-
muntah akibat amoxicillin, gunakan alat pengaman tambahan seperti kondom.
 Kosultasikan pada dokter jika menderita gangguan ginjal atau dicurigai
menderita demam kelenjar (glandular fever).
 Beri tahu dokter jika mengonsumsi obat lain, termasuk suplemen atau herbal.
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Amoxicillin
Berikut ini adalah dosis penggunaan amoxicillin yang telah disesuaikan dengan
sejumlah kondisi:

Kondisi Dosis

Abses gigi Dewasa: 3 gram, diulang sesudah 8 jam

Infeksi saluran kemih Dewasa : 3 gram diulang setelah 10-12 jam

Infeksi saluran pernapasan Dewasa: 3 gram


parah atau berulang

Infeksi H. pylori Dewasa: 750 atau 1000 mg

Infeksi gonore Dewasa: 3 gram


Aktinomikosis, infeksi Dewasa: 250-500 mg setiap 8 jam atau
saluran empedu, bronkitis, 500-875 mg setiap 12 jam
endokarditis, gastroenteritis,
infeksi mulut, otitis media, Anak: di bawah 40 kg: 40-90 mg/kg berat
pneumonia, gangguan limpa, badan setiap hari, dibagi dalam 2-3 dosis.
demam tifoid dan paratifoid, Masimal: 3 gram/hari
infeksi saluran kemih

Faringitis dan tonsilitis Dewasa: 775 mg untuk 10 hari

Pasien hemodialisis (cuci 250-500 mg setiap 24 jam


darah)

Mengonsumsi Amoxicillin dengan Benar


 Bacalah petunjuk pada bungkus obat dan ikuti anjuran dokter dalam
mengonsumsi amoxicillin. Jangan mengubah dosis amoxicillin kecuali
disarankan oleh dokter.
 Amoxicillin bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.
 Pastikan Anda menghabiskan dosis dalam jangka waktu yang sudah
ditetapkan oleh dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya kembali
infeksi. Jika infeksi masih belum sembuh setelah mengonsumsi semua dosis
yang diresepkan, kembali temui dokter.
 Jika tidak sengaja melewatkan dosis amoxicillin, segera minum jika jadwal
dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, jangan menggandakan
dosis.
 Pada beberapa pasien anak-anak, konsumsi obat ini dapat mengakibatkan
perubahan warna gigi menjadi kuning, coklat, atau abu-abu. Berkonsultasilah
dengan dokter gigi untuk mencegah dan mengatasi perubahan warna gigi.

Interaksi Obat
Berhati-hati saat mengonsumsi amoxicillin dengan:
 Antikoagulan (pengencer darah). Amoxicillin dapat meningkatkan efek obat
pengencer darah, sehingga berpotensi menyebabkan perdarahan.
 Allopurinol, meningkatkan risiko alergi terhadap amoxicillin.
 Probenecid, meningkatkan kadar amoxicillin dalam darah.
 Antibiotik chloramphenicol, macrolides, sulfonamide, dan tetracycline, karena
dapat mempengaruhi efek amoxicillin dalam membunuh bakteri.
 Pil KB (kontrasepsi oral). Amoxicillin akan menurunkan efektivitas pil KB.
Efek Samping dan Bahaya Amoxicillin
Walau jarang terjadi, amoxicillin dapat menyebabkan efek samping yang tidak
diinginkan. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi adalah:
 Mual dan muntah
 Mengalami diare
 Sakit kepala
 Ruam
Segera hentikan penggunaan amoxicillin lalu temui dokter atau pergi ke rumah
sakit terdekat apabila timbul ruam, pembengkakan pada wajah atau mulut, atau
kesulitan bernapas setelah mengonsumsi obat ini. Gejala tersebut menandakan
adanya alergi terhadap obat.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Periode pasca persalinan meliputi masa transisi kritis bagi ibu, bayi, dan keluarganya
secara fisiologis, emosional, dan sosial. Macam-macam komplikasi pada masa nifas
antara lain perdarahan post partum, hematoma, infeksi pada masa nifas, subinvolusi,
masalah payudara (bendungan ASI, masititis dan abses payudara), tromboflebitis, merasa
sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya dan diri sendiri.

Cara penanganan untuk masing-masing komplikasi disesuaikan dengan kondisi ibu dan
tingkat kegawatan dari maisng-masing komplikasi yang terjadi. Bidan wajib berperan
dalam upaya pencegahan komplikasi yang terjadi pada masa nifas, karena masa nifas
merupakan fase yang sangat rawan terjadi komplikasi yang berakibat pada kematian.

Dalam penatalaksanaan dari terjadinya komplikasi bidan harus melakukannya dengan


cepat dan akurat, karena ini menyangkut dengan kesejahteraan maternal dan neonatal
yang menjadi kewajiban seorang bidan.

3.2 Saran
Mahasiswa kebidanan diharapkan mengetahui dan memahami masalah komplikasi-
komplikasi yang terjadi pada masa nifas karena merupakan salah satu masalah yang harus
dikuasai karena berkaitan dengan profesinya nanti. Dengan memahaminya tentu akan
lebih mudah dalam menerapkannya dalam kehidupan secara nyata.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian, Tri Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika.

Fadlun dan achmad feryanto. 2013. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika

Kementrian Kesehatan. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar
Dan Rujukan. Jakarta : WHO, KEMENKES, IBI

Maritalia, Dewi. 2017. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta : GOSYEN PUBLISING

Mochtar, Rusman. 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Oxorn, Harry, Wiliam R. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta :
Yayasan Essentia Medica.

Prawirohardjo,sarwono. 2009. Buku Asuhan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal

dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Prawirohardjo, sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Pritchard, Maedonal Bant. 1999. Obstetri Williams. Surabaya : Airlangga University

Saifudin, Abdul Bari. 2005. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : YBPSP

Sukrisno,adi. 2010. Asuhan kebidanan IV ( Patologi Kebidanan ). Jakarta : Trans Info Media

Walyani, Elisabeth Siwi. 2015. Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui. Yogyakarta :
Pustaka Baru Press

Wiknjosastro. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP

http://www.alodokter.com/peritonitis diakses pada 07 Oktober 2017 pukul 20.00 WIB

http://www.alodokter.com/tromboflebitis diakses pada 07 Oktober 2017 pukul 20.00 WIB

http://bnhina.blogspot.co.id/2013/10/gangguan-psikologi-pada-masa-nifas.html. Diunduh pada 3


Oktober 2017 pukul 20.48

https://hamil.co.id/pasca-hamil/nifas/tanda-bahaya-masa-nifas di unduh pukul 19:48 tanggal 02


oktober 2017
https://hamil.co.id/pasca-hamil/nifas/macam-macam-infeksi-masa-nifas di unduh pukul 20:42
tanggal 04 oktober 2017

http://www.kerjanya.net/faq/4946-tetanus.html diakses pada 07 Oktober 2017 pukul 19.00 WIB

https://www.kompasiana.com/bidancare/obat-aman-untuk-ibu-
menyusui_54fff44ea333112b6c50f849. Diunduh pada 5 Oktober pukul 18.51

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/ Di unduh pukul 19:39 tanggal 02 oktober


2017

https://wulanamarmeliana.wordpress.com/2014/01/12/tromboflebitis-2/. Diunduh pada 2 Oktober


2013 pukul 20.53 WIB