Anda di halaman 1dari 19

RESUME MATERI KELAS X MATEMATIKA

BAB 1
BILANGAN BERPANGKAT, AKAR, DAN LOGARITMA

1.1 Bilangan Berpangkat Bentuk Akar


Jika m dan n bilangan bulat, dan a, b sebarang bilangan maka berlaku sifat-sifat berikut:
m n m+n
1. a ×a =a
n
2. ( a m) =amn
am m−n
=a
3. an ,a0

4. ( a×b )n =a n ×bn
m m
a a
5.
()b
= m
b ,b0
6. a o = 1 dengan a ≠ 0 dan a Є R
1
7. a−n = dengan a ≠ 0 dan a Є R
an
8. ¿ = √n a dengan a ≠ 0, a Є R , n ≠ A , dan n Є B
9. ¿ = √n am = ( √n a)m dengan a ≠ 0 , m Є R, dan n ≠ A

1.2 Logaritma
Logaritma x dengan basis a, untuk a ˃ 0 dilambangkan a log x adalah pangkat ataui eksponen yang
dimiliki oleh x seandainya dituliskan sebagai suatu bilangan berpangkat dengan basis a. Dengan
kata lain a log x jika x = a y
Sifat-sifat yang berlaku dalam logaritma, sebagai berikut :
1. a log x = 1, a log1= 0 , log 10 = 1
2. a log x+ a log y= a log xy

3. a log x - a log y= a log x


y

4. a logb = n. a logb
n
n
5. a mlog b = .a
m logb
n

mlogb 1
6. a logb = =
mloga blog a
7. a log p . p logq = a logq
8. aa = p
log p

a
9. an = p log p

1.3 Bentuk Akar


1) Definisi bentuk Akar
Jika a bilangan real serta m, n bilangan bulat positif, maka berlaku:
1
n
a) a n =√ a
m
n m
b) a =√ a
n

2) Operasi Aljabar Bentuk Akar


Untuk setiap a, b, dan c bilangan positif, maka berlaku hubungan:

a) a √ c + b √ c = (a + b) √ c
b) a √ c – b √ c = (a – b) √ c

c) √ a× √b = √ a×b
d) √ a+√ b = √(a+b)+2 √ ab
e) √ a− √b = √(a+b)−2√ ab
3) Merasionalkan penyebut
Untuk setiap pecahan yang penyebutnya mengandung bilangan irrasional (bilangan yang tidak
dapat di akar), dapat dirasionalkan penyebutnya dengan kaidah-kaidah sebagai berikut:
a a √ b a √b
= × =
a) √b √ b √ b b
c c a− √b c ( a− √b )
= ×
a+ √b a+ √ b a− √b
= 2
b) a −b

c c √ a− √ b c ( √a− √b )
= ×
√a+ √ b √a+ √ b √ a− √ b
= a−b
c)
BAB 2
PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN NILAI MUTLAK LINIER
SATU VARIABEL

2.1 Nilai Mutlak


Nilai mutlak atau harga mutlak adalah suatu konsep dalam matematika yang menyatakan
selalu positif. Secara sistematis pengertian harga mutlak dari setiap bilangan real x ditulis dengan
simbol ⃒x⃒ , yaitu nilai positif dari nilai x dan –x.

2.2 Persamaan Nilai Mutlak Linier Satu Variabel


Kalimat terbuka adalah kalimat yang belum diketahui nilai kebenarannya atau kalimat yang
masih memuat variabel.
Berikut sifat-sifat persamaan linier satu variabel (PLSV)
a. Nilai persamaan tidak berubah jika memenuhi syarat-syarat
berikut :
1. Kedua ruas ditambah atau dikurangi dengan
bilangan yang sama
2. Kedua ruas dikalikan atau dibagi dengan
bilangan yang sama
b. Suatu persamaan jika dipindah ruas, maka :
1. Penjumlahan berubah menjadi pengurangan,
dan sebaliknya
2. Perkalian berubah menjadi pembagian

Langkah-langkah penyelesaian persamaan linier satu variabel sebagai berikut :


a. Mengelompokkan variabel di ruas
kiri (sebelah kiri tanda =) dan konstanta di ruas kanan (sebelah kanan tanda =)
b. Menjumlahkan atau mengurangkan
variabel dan konstanta yang telah mengelompok, sehingga menjadi bentuk sederhana
c. Persamaan linier satu variabel secara
umum dapat dinyatakan sebagai berikut : ax + b = c, dengan a ≠ 0 dan c Є R
2.3 Pertidaksamaan Nilai Mutlak Linier Satu Variabel
Bentuk umum pertidaksamaan linier satu variabel dapat dituliskan sebagai berikut :
a. ax + b ˃ 0
b. ax + b ≥ 0
c. ax + b ˂ 0
d. ax + b ≤ 0

Langkah-langkah menyelesaikan pertidaksamaan linier satu variabel sebagai berikut :


a. Memindahkan semua yang mengandung variabel ke ruas kiri, sedangkan yang tidak
mengandung variabel ke ruas kanan
b. Kemuadian menyederhanakan dan menyatakan dalam garis bilangan
Untuk setiap bilangan real x, nilai mutlak dari x ditulis ⃒x⃒ dan nilainya :
x, jika x ≥ 0
⃒ x⃒ = -x, jika x ˂ 0

Sifat dari nilai mutlak :


a. x ≥ 0 dan|x|=|−x|
Contoh :|3|=3 dan|−3|=3 maka|3|=|−3|
b. |ab| = |a|.|b|
c. |-a| = |a|
d. |x2| = x2

e. |ab|=||ba||
f. |a+ b|≠|a|+|b| atau |a−b|≠|a|−|b|

Persamaan Nilai Mutlak :


Contoh : Tentukan penyelesaian persamaan nilai mutlak dari |x +5|=1
Jawab : |x +5|=x+5 , jika x ≥−5 dan
|x +5|=−( x+ 5 ) , jika x <−5
Jika x ≥−5 , maka: x +5=1 se h ingga x=−4
Jika x <5 , maka:−(x +5)=1 se h ingga x=−6
Jadi HP : {−6 ,−4 }
Atau
x +5=1 se h ingga x=−4
x +5=−1 se h ingga x=−6

BAB 3
SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL

3.1 Memodelkan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel


Persamaan linier dua variabel adalah persamaan yang mengandung dua variabel, dimana
pangkat/derajat tiap-tiap variabelnya sama dengan satu. Bentuk umum persamaan linier dua variabel :
ax +by = c
ket : x dan y = variabel
a dan b = koefisien
c = konstanta
Sistem persamaan linier dua variabel dapat didefiniskan sebagai dua buah persamaan linier
atau lebih yang memiliki dua variabel, dimana diantara keduanya memiliki keterkaitan dan konsep
penyelesaian yang sama. Bentuk umum sistem persamaan linier dua variabel sebagai berikut :
ax + by = c
px + qy = r

3.2 Menyelesaikan SPLDV dari Suatu Permasalahan


Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan penyelesaian SPLDV :
1. Metode Grafik
Menyelesaikan sistem persamaan linier dengan metode grafik, maka persamaan a 1x + b1y
= c1 dan a2x + b2y = c2 dapat dipandang sebagai garis lurus. Perpotongan dari kedua garis
tersebut merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linier.
2. Metode subsitusi
Misalkan sistem persamaan linier berbentuk persamaan a 1x + b1y = c1 dan a2x + b2y = c2.
Menyelesaikan sistem persamaan linier dengan subsitusi, yaitu melakukan subsitusi
terhadap salah satu peubah x atau y dari 1 persamaan ke persamaan yang lain
3. Metode eliminasi
Menyelesaikan sistem persamaan linier dengan metode eliminasi, yaitu menghilangkan
salah satu peubah dari sistem persamaan dengan menyamakan koefisien peubah tersebut
Himpunan penyelesaian SPLDV adalah titik potong dari kedua garis. Jika
garisnya tidak berpotongan atau sejajar maka himpunan penyelesaiannya adalah
himpunan kosong. Namun demikian, jika garisnya berhimpit maka jumlah
himpunan penyelesaiannya tak terhingga.

a. Bentuk-bentuk sistem persamaan linear dua variabel


1) Perbedaan PLDV dan SPLDV
a) Persamaan linear dua variabel (PLDV)
Persamaan linear dua variabel adalah persamaan yang memiliki dua variabel dan
pangkat masing-masing variabelnya satu. Jika dua variabel tersebut x dan y, maka
PLDV-nya dapat dituliskan :
ax + by = c dengan a, b ≠ 0
Contoh :
1). 2x + 2y = 3
2). y = 3x -2
3). 6y + 4 = 4x
b) Sistem persamaan linear dua variabel (SLDV)
SPLDV adalah suatu system persamaan yang terdiri atas dua persamaan linear
(PLDV) dan setiap persamaan mempunyai dua variabel. Bentuk umum SPLDV
adalah:
ax + by = c
px + qy = r ; dengan a, b, p, q ≠ 0
Contoh :
1). 3x + 2y = 7 dan x = 3y + 4
7x 4 y 2x − y
= − 10 dan =3
2). 2 3 4

3). x – y = 3 dan x + y = -5 atau dapat ditulis


{ x −y=3¿¿¿¿
2). Menyatakan suatu variabel dengan variabel lain pada persamaan linear
Contoh :
Diketahui persamaan x + y = 5, jika variabel x dinyatakan dealam variabel y
menjadi :
x+y=5
Ûx=5–y
3). Mengenal variabel dan koefisien pada SPLDV
Contoh :
Diketahui SPLDV : 2x + 4y = 12 dan 3x – y = 5
 Variabel SPLDV adalah x dan y
 Konstanta SPLDV adalah 12 dan 5
 Koefisien x dari SPLDV adalah 2 dan 3
 Koefisien y dari SPLDV adalah 4 dan -1
4). Akar dan Bukan akar SPLDV
Dalam sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) terdapat pengganti-pengganti
dari variabel sehingga kedua persamaan menjadi benar. Pengganti-pengganti variabel
yang demikian disebut penyelesaian atau akar dari sistem persamaan linear dua variabel.
Apabila pasangan pengganti menyebabkan salah satu atau kedua persamaan menjadi
kalimat tidak benar disebut bukan penyelesaian atau bukan akar dari SPLDV tersebut.
Contoh :
Diketahui SPLDV : 2x – y = 3 dan x + y = 3
Tunjukkan bahwa x = 2 dan y = 1 merupakan akar dari SPLDV tersebut .
Jawab :
 2x – y = 3
Jika x = 2 dan y = 1 disubstitusikan pada persamaan diperoleh
2x - y = 3
Û 2(2) – 1 = 3
Û 3 = 3 (benar)
 x+y=3
jika x = 2 dan y = 1 disubstitusikan pada persamaan diperoleh
x+y=3
Û2+1=3
Û 3 = 3 (benar)
Jadi, x = 2 dan y = 1 merupakan akar dari SPLDV 2x – y = 3 dan x + y = 3
b. Penyelesaian SPLDV
Untuk menentukan penyelesaian atau akar dari SPLDV dapat ditentukan dengan 3 cara,
yaitu metode grafik, metode substitusi, metode eliminasi.
1. Metode grafik
Prinsip dari metode grafik yaitu mencari koordinat titik potong grafik dari kedua
persamaan. Dari contoh diatas apabila dikerjakan dengan metode grafik sebagai berikut.

x+y=4
4

2
x – 2y = -2
1

-2 -1 1 2 3 4
x+y=4
x 0 4
y 4 0
(x,y (0,4) (4,0) x – 2y = - 2
) x 0 -2
y 1 0
(x,y) (0,1) (-2,0)
Gambar 1.1

Grafik perpotongan x + y = 4 dan x – 2y = -2


Dari grafik terlihat kedua grafik berpotongan di (2,2). Koordinat titik potong (2,2)
merupakan penyelesaiannya
Jadi, penyelesaiannya x = 2 dan y = 2
2. Metode substitusi
Hal ini dilakukan dengan cara memasukkan atau mengganti salah satu variabel dengan
variabel dari persamaan kedua.
Contoh :
Tentukan penyelesaian dari SPLDV : x + y = 4 dan x – 2y = -2 dengan metode
substitusi!
Jawab :
 x+y=4Þx=4–y
 x = 4 – y disubstitusikan pada x – 2y = - 2 akan diperoleh :
x – 2y = - 2
Û (4 – y ) – 2y = - 2
Û 4 – 3y = - 2
Û -3y = -6
−6
Û y = −3 = 2
 selanjutnya untuk y =2 disubstitusikan pada salah satu persamaan, misalnya ke
persamaan x + y = 4, maka diperoleh :
x+y=4
Ûx+2=4
Ûx=4–2=2
Jadi, penyelesaianya adalah x = 2 dan y = 2
3. Metode eliminasi
Caranya sebagai berikut :
a. Menyamakan salah satu koefisien dan pasangan suku dua persamaan bilangan
yang sesuai.
b. Jika tanda pasanganan suku sama, kedua persamaan di kurangkan.
c. Jika tanda pasangan suku berbeda, kedua suku persamaan ditambahkan
Contoh :
Tentukan penyelesaian dari SPLDV : x + y = 4 dan x – 2y = -2 dengan metode
eliminasi!
Jawab :
 Mengeliminir peubah x
x+y =4
x – 2y = - 2
3y = 6
y=2
 Mengeliminir peubah y
x+y =4 •2 2x + 2y = 8
x – 2y = - 2 •1 x – 2y = -2
3x =6
x =2
Jadi, penyelesaianya adalah x = 2 dan y = 2

BAB 4
PROGRAM LINIER
PROGRAM LINIER

A. Sistem Pertidaksamaan Linier Dua Variabel


1. Pengertian Pertidaksamaan Linier Dua Variabel
Pertidaksamaan linear dua variabel adalah kalimat terbuka matematika yang
memuat dua variabel, dengan masing-masing variabel berderajat satu dan
dihubungkan dengan tanda ketidaksamaan. Tanda ketidaksamaan yang dimaksud
adalah >, <, ≥, atau ≤.
Bentuk umum pertidaksamaan linear dua variabel sama dengan bentuk
umum persamaan linear dua variabel. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,
perbedaannya terletak pada tanda ketidaksamaan.
Pada persamaan digunakan tanda “ = ”, sedangkan pada pertidaksamaan
digunakan tanda “ >, <, ≥, atau ≤ “. Berikut bentuk umum dari pertidaksamaan linear
dua variabel.
ax + by > c
ax + by < c
ax + by ≥ c
ax + by ≤ c
Dengan :
a = koefisien dari x, a ≠ 0
b = koefisien dari y, b ≠ 0
c = konstanta
a, b, dan c anggota bilangan real.
Penyelesaian dari suatu pertidaksamaan linear dua variabel berupa pasangan
terurut (a, b) yang memenuhi pertidaksamaan linear dua variabel.
Semua penyelesaian dari pertidaksamaan linear dua variabel disatukan dalam
suatu himpunan penyelesaian. Himpunan penyelesaian dari suatu pertidaksamaan
linear dua variabel biasanya disajikan dalam bentuk grafik pada bidang koordinat
cartesius.
Langkah-langkah yang harus diambil untuk menggambar kan grafik
penyelesaian dari per tidaksama an linear dua variabel, hampir sama dengan
langkah-langkah dalam menggambarkan grafik persamaan linear dua variabel.
Berikut ini langkah-langkah mencari daerah penyelesaian dari
pertidaksamaan linier dua variabel :
a. Ganti tanda ketidaksamaan >, <, ≥, atau ≤ dengan tanda “ = “.
b. Tentukan titik potong koordinat cartesius dari persamaan linear dua variabel
dengan kedua sumbu.
 Titik potong dengan sumbu x, jika y = 0 diapit titik (x,0)
 Titik potong dengan sumbu y, jika x = 0 diapit titik (0,y)
c. Gambarkan grafiknya berupa garis yang menghubungkan titik (x,0) dengan titik
(0,y). Jika pertidaksamaan memuat > atau <,gmbarkan grafik tersebut dengan
garis putus-putus
d. Gunakanlah sebuah titik uji untuk menguji daerah penyelesaian pertidaksamaan
e. Berikanlah arsiran pada daerah yang memenuhi himpunan penyelesaian
pertidaksamaan
Contoh :
Gambarlah daerah himpunan penyelesaian pertidaksamaan
3x + 4y ≤ 12, x, y €R.
Jawab:
3x + 4y ≤12, ganti tanda ketidaksamaan sehingga diperoleh garis
3x + 4y =12.
 Titik potong dengan sumbu x, y = 0
3x + 4(0) = 12
3x = 12
x=4

 Titik potong dengan sumbu y, x = 0


3(0) + 4y = 12
3x = 12
y=3
 Titik potong dengan sumbu koordinat di (4, 0) dan (0, 3). Diperoleh grafi k 3x +
4y =12.
y

3 (0, 3)

1
(4, 0)
x
0
1 2 3 4
3x + 4y = 12

Ambil titik uji (0, 0) untuk mendapatkan daerah penyelesaian dari pertidaksamaan
3x + 4y ≤12 , diperoleh 3(0) + 4(0) ≤ 12
0 ≤ 12 (Benar)
Dengan demikian, titik (0, 0) memenuhi pertidaksamaan 3x + 4y ≤ 12
Himpunan penyelesaian pertidaksamaan adalah daerah di bawah garis batas (yang
diarsir).
y

3 (0, 3)
Daerah himpunan
penyelesaian
3x + 4y < 12 2

1
(4, 0)
x
0
1 2 3 4

2. Sistem Pertidaksamaan Linier Dua Variabel


Sistem pertidaksamaan linear dua variabel adalah suatu sistem yang terdiri
atas dua atau lebih pertidaksamaan dan setiap pertidaksamaan tersebut mem punyai
dua variabel.
Langkah-langkah menentukan daerah penyelesaian dari
sistempertidaksamaan linear dua variabel sebagai berikut.
a. Gambarkan setiap garis dari setiap pertidaksamaan linear dua variabel yang
diberikan dalam sistem pertidaksamaan linear dua variabel.
b. Gunakanlah satu titik uji untuk menentukan daerah yang memenuhi setiap
pertidaksamaan linear dua variabel. Gunakan arsiran yang berbeda untuk setiap
daerah yang memenuhi pertidaksamaan yang berbeda.
c. Tentukan daerah yang memenuhi sistem pertidaksamaan linear, yaitu daerah
yang merupakan irisan dari daerah yang memenuhi pertidaksamaan
linear dua variabel pada langkah b.

BAB 5
BARISAN DAN DERET

 POLA BILANGAN
Adalah susunan bilangan yang memiliki aturan atau pola tertentu.

Contoh :

a. 1, 2, 3, 4,5, ….mempunyai pola bilangan ditambah satu dari bilangan


sebelumnya, dimulai dari 1
b. 0, 2, 4, 6, 8, ….mempunyai pola bilangan ditambah dua dari bilangan sebelumnya,
dimulai dari 0

 BARISAN BILANGAN
Barisan bilangan adalah suatu urutan bilangan dengan pola tertentu. Masing-masing
bilangan dalam urutan tersebut disebut suku-suku barisan dan setiap suku digabungkan
dengan tanda koma(,).

Contoh:

1, 5, 9, 13, 17, 21, 25, 29,….

Angka 9 merupakan suku ketiga, 17 merupakan suku kelima. 25 merupakan suku ketujuh

Secara umum ditulis : U1, U2, U3, …., Un , dengan U1 = suku pertama, U2 = suku kedua, U3 =
suku ketiga, Un = suku ke-n.

Contoh soal :

Tentukan tiga buah suku pertama dari barisan yang memiliki rumus suku ke-n sebagai
berikut :
a. Un = 2n – 1
b. Un = n2 + 2
Jawab :

a. Un = 2n – 1
U1 = 2.1 – 1 = 1

U2 = 2.2 – 1 = 3

U3 = 2.3 – 1 = 5. Jadi tiga suku pertama: 1, 3, 5

b. Un = n2 + 2
U1 = (1)2 + 2 = 3

U2 = (2)2 + 2 = 6

U3 = (3)2 + 2 = 11. Jadi tiga suku pertama : 3, 6, 11

 DERET
Deret adalah penjumlahan dari suku-suku suatu barisan, secara umum ditulis

u1 + u2 + u3 + u4 + ….+ un

 Notasi Sigma

Notasi sigma dilambangkan dengan ∑ yang berarti penjumlahan. Secara umum notasi
sigma dapat didefinisikan sebagai berikut :
n
∑ ui
u1 + u2 + u3 + u4 + ….+ un = i=1 , dibaca penjumlahan suku ui dimulai dari i = 1 sampai i =
n

Contoh :

Tentukan notasi sigma untuk setiap deret berikut ini :

a. 1 + 2 + 3 + … + 10

b. 2 + 4 + 6 + … + 30

Jawab :
10
∑i
a. 1 + 2 + 3 + … + 10 = i=1

15
∑2i
b. 2 + 4 + 6 + … + 30 = i=1

 BARISAN DAN DERET ARITMATIKA


Barisan aritmatika adalah suatu barisan bilangan yang memiliki selisih dua bilangan yang
berurutan selalu tetap.

Rumus suku ke-n dari barisan aritmatika adalah sebagai berikut :

Un = a + (n – 1)b

Dimana :

Un = suku ke-n

a = suku awal

n = banyaknya suku

b = beda ( b = Un – Un-1)

Contoh :

Tentukan suku pertama, beda, suku kesepuluh dari barisan berikut ini :

a. 1, 4, 7, 10, ….
b. -2, 0, 2, 4, …
Jawab :

a. 1, 4, 7, 10, ….
a = 1, b = 3, U10 = 1 + ( 10 – 1).3
= 1 + 27 = 28

b. -2, 0, 2, 4, …
A = -2, b = 2 , U10 = -2 + ( 10 – 1)2

= -2 + 18 = 16

 JUMLAH N SUKU PERTAMA


Jumlah n suku pertama dari deret aritmatika ditentukan dengan rumus
n n
[ 2 a+(n−1)b ] S n = [ a+U n ]
Sn = 2 atau 2

Un = Sn – Sn-1

Keterangan :

Sn = Jumlah n suku pertama

n = banyaknya suku

a= suku awal/pertama

b = beda

Contoh :

 Diketahui deret aritmatika : 1 + 3 + 5 + 7 + 9 + …. Tentukan :


a. Rumus suku ke –n
b. Rumus jumlah n suku pertama
c. Jumlah 50 suku pertama
Jawab :

a. 1 + 3 + 5 + 7 + 9 + ….
a = 1, b = 2

Un = a + (n – 1)b

Un = 1 + ( n – 1)2

Un = 1 + 2n – 2

Un = 2n – 1

n
[ 2 a+(n−1)b ]
b. Sn = 2
n n n
[ 2. 1+( n−1)2 ] [ 2+2 n−2 ] [ 2 n]
Sn = 2 = 2 = 2 = n2
c. Sn = n2  S50 = (50)2 = 2500

 BARISAN DAN DERET GEOMETRI


Adalah suatu barisan yang memiliki perbandingan ( rasio ) antar dua buah suku terdekat
berturut-turut selalu tetap. Secara umum a, ar, ar2, ar3, …., arn-1

Rumus suku ke-n dari barisan geometri adalah

Un = a.rn-1

Keterangan : a = suku pertama

n = banyaknya suku

Un
r=
r = rasio  U n−1

 Tentukan suku pertama, rasio, dan suku kedelapan dari barisan geometri berikut ini
2, 6, 18, 54, …

Jawab :

6
a = 2, r = 2 = 3, n = 8

Un = a.rn-1

U8 = 2.(3)8-1 = 2. (3)7 = 2.2.187 = 4.374

 DERET GEOMETRI
Adalah jumlah suku-suku dari barisan geometri. Secara umum ditulis sebagai berikut :

a + ar + ar2 + ar3 + … + arn-1

Rumus umum jumlah n suku pertama deret geometri :

n
a .(1−r )
S n=
1. (1−r) untuk r <1

n
a(r −1)
Sn=
2. (r−1 ) untuk r > 1

Contoh :

 Tentukan jumlah 7 suku pertama dari deret 1 + 2 + 4 + 8 + ….


Jawab :

a = 1, r = 2
n 7
a(r −1) 1(2 −1 ) 1(128−1)
Sn= S 7= S7=
(r−1 )  (2−1)  (2−1) = 127

 Suku ke-n dari barisan geometri adalah Un = 2n. Tentukan :


a. Jumlah 8 suku pertama
b. Rumus jumlah n suku pertama
Jawab :

a. Un = 2n  U1 = 21 = 2

U2 = 22 = 4

U3 = 23 = 8

2 + 4 + 8 + 16 + …

a = 2, r = 2, n = 8

n 8
a(r −1) 2(2 −1 ) 2(256−1 )
Sn= S 8= S 8=
(r−1 )  (2−1)  (2−1 )  S8 = 2.255 = 510
n n
a(r −1) 2(2 −1 )
Sn= S n=
b. (r−1 )  (2−1)  Sn = 2. ( 2n – 1)  Sn = 2.2n – 2 = 2n+1 – 2

 DERET GEOMETRI TAK HINGGA


Deret geometri tak hingga a + ar2 + ar3 + …akan mempunyai nilai jika

-1 < r < 1 ( nilai r terletak antara -1 dan 1)

Jumlah deret tak hingga dirumuskan sebagai berikut :

a
S~ = 1−r

Keterangan :

S~ = Jumlah deret tak hingga

a = suku awal

r = rasio

Contoh :

 Hitunglah jumlah tak hingga dari deret berikut :


1 1
a. 2+1+ 2 + 4 +…
1 1
b. 3+1+ 3 + 9 +…
Jawab :

1 1
a. 2 + 1 + 2 + 4 + …
1
a = 2, r = 2

2 2
a 1 1
1−
S~ = 1−r  S~ = 2  S~ = 2 = 4

1 1
b. 3 + 1 + 3 + 9 + …
3 3
1 a 1 2
1−
a = 3, r = 3  S~ = 1−r  S~ = 3  S~ = 3  S~ = 4,5

 Jumlah suatu deret tak hingga adalah 4. Jika suku pertamanya adalah 2. Tentukan rasio deret
tersebut ¡
Jawab :

a 2 1
S~ = 4, a = 2  S~ = 1−r  4 = 1−r 4(1 – r) = 2  4 – 4r = 2  r = 2

 Sebuah bola dijatuhkan dari ketinggian 3 m. Setiap kali jatuh, bola memantul lagi dengan
2
ketinggian 3 dari tinggi sebelumnya, demikian seterusnya sampai bola berhenti.
Hitunglah panjang lintasan yang ditempuh bola sampai berhenti
Jawab :

a. Lintasan turun

2
a = 3, r = 3

3 3
a 2 1
1−
S~ = 1−r  S~ = 3  S~ = 3  S~ = 9 m

b. Lintasan turun
2 2
a=3x 3 =2,r= 3

2 2
a 2 1
1−
S~ = 1−r  S~ = 3  S~ = 3  S~ = 6 m

Jadi, panjang lintasan seluruhnya = 9 + 6 = 15 m