Anda di halaman 1dari 24

RESUME MATERI MATEMATIKA

BAB 1
PERSAMAAN LINGKARAN
A. DEFINISI
Y
Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik
A (x1 , y1)
yang berjarak sama ( jari-jari linkaran )
terhadap sebuah titik tertentu ( pusat lingkaran
r B(x2 , y2)
) yang digambarkan pada bidang kartesius.
r
P (a ,b) = Pusat Lingkaran
P(a,b)
r r = jari-jari lingkaran

O X r = AP = BP = CP
C (x3 , y3)
Dalam menentukan persamaan lingkaran, kita harus mengerti tentang formula jarak. Berikut ini
diberikan beberapa formula untuk menentukan jarak.

1. Jarak antara dua titik A(x1 , y1) dan B(x2 , y2), ditentukan oleh j = √( x 2−x 1 )2+( y 2− y 1 )2
ax 1 +by 1 +c
j=| |
2. Jarak titik A(x1 , y1) terhadap garis lurus ax + by + c = 0 dirumuskan √ a2+b 2
B. Persamaan Lingkaran yang Berpusat di O ( 0,0 ) dan Berjari-jari r

Y Berdasarkan definisi lingkaran, maka akan diperoleh


persamaan lingkaran yang berjari– jari r dan berpusat
A ( x, y ) di titik pangkal O(0,0). Titik A(x,y) pada Lingkaran. Jari-
r
jari lingkaran r = |OP| .
y Dengan mengingat kembali rumus jarak antara dua
titik, maka akan diperoleh rumus persamaan lingkaran:
O x
X |OP| = √( x−0 )2+( y−0 )2
r = √ x2+ y 2 x 2+ y 2=r2
Jadi diperoleh bentuk umum persamaan lingkaran
Contoh
dengan pusat O(0,0) dan berjari-jari r adalah :
Tentukan persamaan lingkaran yang :
a. berpusat di O(0, 0) dan r = 3
b. berpusat di O(0, 0) dan melalui titik A(3, 4)
c. berpusat di O(0, 0) dan meyinggung garis 12x – 5y – 39 = 0
Jawab :
a. Pusat di O(0, 0) dan r = 3
x2 + y2 = r2 ⇒ x2 + y 2 = 3 2
x2 + y2 = 9 atau x2 + y2 – 9 = 0
b. Pusat di O(0, 0) dan melalui titik A(3, 4)
Karena melalui titik A(3, 4) maka nilai r2 ditentukan dari x2 + y2 = r2 diperoleh nilai
r 2 = 32 + 42 ⇒ r2 = 25. Jadi persamaan lingkarannya adalah x2 + y2 = 25.

c. Pusat di O(0, 0) dan meyinggung garis 12x – 5y – 39 = 0

Y Karena menyinggung garis 12x – 5y – 39=0


maka r merupakan jarak titik pusat O(0, 0)
12x – 5y – 39 = 0 dengan garis 12x – 5y – 39 = 0. Dengan
menggunakan rumus jarak titik terhadap
garis diperoleh jar-jari :
r
ax 1 +by 1 +c
| |
2 2
r= √ a +b
O
12.0+(−5).0+(−39)
X
Jadi persamaan lingkarannya |
adalah x2 + y2 = 9 |
2 2
Persamaan Lingkaran yang Berpusat di Pr(=a, b ) dan√Berjari-jari r
C.
12 +(−5) ⇒ r=3

Titik A(x, y) pada lingkaran yang berpusat di P(a,b) dan


Y A(x,y)
jari-jari lingkaran r, sehingga |PA| = r. Dengan
menggunakan rumus jarak antara dua titik, maka akan
r
diperoleh rumus persamaan lingkaran:

P(a, b)
X
√( x 2−x 1 )2+( y 2− y 1 )2=r
O
√( x−a2)2+( y−b2)2=r2
( x−a ) +( y −b ) =r
Merupakan persamaan baku lingkaran dengan pusat P(a,
b) dan jari-jari r.

Contoh
Tentukan persamaan lingkaran yang :
a. berpusat di P(4, 3) dan r = 6
b. berpusat di P(5, -1) dan melalui A(-1, 7)
Jawab :
a. berpusat di P(4, 3) dan r = 6 maka diperoleh a = 4 dan b = 3
2 2 2
Persamaan Lingkaran : ( x−a ) +( y −b ) =r
(x – 4)2 + (y – 3)2 = 62
(x – 4)2 + (y – 3)2 = 36

b. berpusat di P(5, -1) dan melalui A(-1, 7), maka r = panjang PA = |PA| . Dengan

menggunakan jarak dua titik diperoleh r = √(−1−5)2+(7−(−1))2 = 10

Persamaan Lingkaran : ( x−a )2 +( y −b )2=r 2


(x – 5)2 + (y + 1)2 = 102
(x – 5)2 + (y + 1)2 = 100

D. BENTUK UMUM PERS. LINGKARAN

Persamaan lingkaran dengan pusat P(a, b) dan berjari-jari r mempunyai persamaan baku
2 2 2
( x−a ) +( y −b ) =r , jika bentuk ini dijabarkan maka diperoleh :

( x−a )2 +( y −b )2=r 2
⇔ x2 – 2ax + a2 + y2 – 2by + b2 = r2
⇔ x2 + y2 – 2ax – 2by + a2 + b2 – r2 = 0, misalkan A = – 2a, B = – 2b dan C = a 2 + b2 – r2 maka
diperoleh bentuk umum persamaan lingkaran :

x 2 + y 2 + Ax+ By +C=0
A 2 B 2
Dengan Pusat
Contoh
A B
P − ,−
2 2 ( ) dan jar-jari
r= −
√(
2 )( )
+ − −C
2

Tentukan pusat dan jari-jari lingkaran x2 + y2 – 6x + 8y – 24 = 0 !


Jawab :
Lingkaran : x2 + y2 – 6x + 8y – 24 = 0 diperoleh A = – 6, B = 8 dan C = – 24

Pusat:
(− A2 ,− B2 ) = (3, – 4)

A 2 B 2
Jari – jari = √( −
2 )( )
+−
2
−C

r = √ 32+(−4)2−(−24 ) =7

E. POSISI TITIK TERHADAP LINGKARAN

Ada tiga kemungkinan posisi suatu titik terhadap lingkaran:


1. Titik terletak pada lingkaran, jika titik tersebut disubtitusikan ke persamaan lingkaran didapat:
2 2 2
a. x + y =r atau
2 2 2
b. ( x−a ) +( y −b ) =r atau
2 2
c. x + y + Ax+ By +C=0
2. Titik terletak di dalam lingkaran, jika titik tersebut disubtitusikan ke persamaan lingkaran
didapat:
2 2 2
a. x + y <r atau
2 2 2
b. ( x−a ) +( y −b ) <r atau
2 2
c. x + y + Ax+ By +C< 0
3. Titik terletak di luar lingkaran, jika titik tersebut disubtitusikan ke persamaan lingkaran didapat:

a. x 2+ y 2> r2 atau
2 2 2
b. ( x−a ) +( y −b ) >r atau

c. x 2 + y 2 + Ax+ By +C> 0

Contoh
Tanpa menggambar pada bidang kartesius tentukan posisi titik A(1, 2) terhadap lingkaran :
a. x2 + y2 = 9
b. (x – 2)2 + (y + 1)2 = 10

Jawab :
a. Titik A(1, 2) dan L ¿ x2 + y 2 = 9
Subtitusi A(1, 2) ke L ¿ x2 + y2 = 9 diperoleh 12 + 22 = 5 < 9. Jadi A(1, 2) terletak di dalam
L ¿ x2 + y2 = 9.
b. Titik A(1, 2) dan L ¿ (x – 2)2 + (y + 1)2 = 10
Subtitusi A(1, 2) ke L ¿ (x – 2)2 + (y + 1)2 = 10 diperoleh (1 – 2)2 + (2 + 1)2 = 10 = 10. Jadi
titik A(1, 2) terletak pada L ¿ (x – 2)2 + (y + 1)2 = 10.

F. JARAK TITIK PADA LINGKARAN


1. Titik di luar lingkaran

C Jarak terdekat titik A dengan lingkaran = AB


AB = AP – PB = AP – r
A


P
Jarak terjauh titik A dengan Lingkaran = AC
B

2. Titik di dalam lingkaran

Jarak terdekat titik A dengan lingkaran = AB


P B AB = PB – AP = r – AP
A
C

Jarak terjauh titik A dengan Lingkaran = AC

Contoh
Diberikan titik A(6, 8) dan L ¿ x2 + y2 = 49. Hitunglah jarak terdekat titik A ke lingkaran L !
Jawab :
Mula-mula kita harus mengetahui posisi titik A terhadap lingkaran L dengan cara mensubtitusi titik
A(6, 8) ke L ¿ x2 + y2 = 49, diperoleh :
A(6, 8) ⇒ x2 + y2 = 49 ⇒ 62 + 82 = 100 > 49 jadi titik A berada diluar lingkaran.

Jarak terdekat = AP – r = √(6−0)2 +(8−0 )2 –7=3


Jadi jarak terpendek titik A ke lingkaran L adalah 3 satuan panjang.

G. KEDUDUKAN GARIS TERHADAP LINGKARAN


Secara geometri ada tiga kedudukan garis terhadap lingkaran, yaitu :

¿ ¿ ¿

(i) Garis memotong L (ii) Garis menyinggung L (iii) Garis tidak memotong
L
Syarat : D > 0 Syarat : D = 0 Syarat : D < 0
Dengan D = Diskriminan = b2 – 4ac.

H. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG LINGKARAN


1. Pers. Garis singgung lingkaran Melalui Titik pada Lingkaran
g
Garis g disebut garis singgung Lingkaran L di titik A(x 1, y1).
Catatan :

 A(x1, y1) 1. Titik A harus pada lingkaran L.


2. AP tegak lurus dengan garis singgung g.
P(a, b)
Rumus Persamaan Garis Singgung Lingkaran di titik A(x1 , y1) :

Pers. Lingkaran Pers. Garis Singgung

x2 + y2 = r2 x1x + y1y = r2

(x – a)2 + (y – b)2 = r2 (x1 – a)(x – a) + (y1 – b)(y – b) = r2


A B
x2 + y2 + Ax + By + C = 0
x1x + y1y + 2 (x + x1) + 2 (y + y1) + C = 0

Contoh
Tentukan persamaan garis singgung lingkaran :
a. L ¿ x2 + y2 = 5 di titik A(1, -2)
b. L ¿ (x + 3)2 + (y – 2)2 = 58 di titik B(0, 9)
Jawab :
a. PGS L ¿ x2 + y2 = 5 di titik A(1, -2) berarti x1 = 1, y1 = – 2 dan r2 = 5
PGS ¿ x1x + y1y = r2 ⇒ x – 2y = 5 atau x – 2y – 5 = 0. Jadi persamaan garis singgungnya
adalah x – 2y – 5 = 0.
b. PGS L ¿ (x + 3)2 + (y – 2)2 = 58 di titik B(0, 9) berarti x1 = 0, y1 = 9, a = - 3, b = 2, r2 = 58
PGS ¿ (x1 – a)(x – a) + (y1 – b)(y – b) = r2
⇔ (0 + 3)(x + 3) + (9 – 2)(y – 2) = 58
⇔ 3x + 7y – 63 = 0
Jadi persamaan garis singgungnya adalah 3x + 7y – 63 = 0.

2. Pers. Garis singgung lingkaran Melalui suatu Titik di luar Lingkaran

Q Langkah-langkah menentukan PGS


dari titik di luar lingkaran :


1. Menentukan persamaan garis


A(x1 , y1) kutub ( rumus yang digunakan
P sama dengan rumus mencari PGS
lingk. diatas)
2. Menentukan titik singgung
lingkaran (titik Q dan R) dengan
R mensubtitusikan pers. Garis kutub
Garis hubung QR disebut Garis kutub atau garis polar. ke pers. Lingkaran.
3. Menentukan persamaan garis
Garis hubung AQ dan AR disebut garis singgung lingkaran. singgung di titik singgung
tersebut
Contoh
Tentukan PGS pada x2 + y2 = 9 yang dapat ditarik dari titik A(0, 4) !
Jawab :
(i) Menentukan persamaan garis kutub/polar dari titik A(0, 4), berarti x1 = 0, y1 = 4, r2 = 9
9
Pers. Grs kutub ¿ x 1x + y 1y = r 2 ⇒ 0.x + 4y = 9 ⇒ y = 4
(ii) Menentukan titik singgung lingkaran dengan cara mensubtitusi pers. Garis
polar ke pers. Lingkaran.
9
y= 4 ⇒ x2 + y2 = 9
2
9
x2 +
() 4 =9
144−81 63
x 2
= 16 = 16

3 √7 3 √7

x1 = 4 atau x2 = 4

Jadi titik singgungnya


( 3 √47 , 94 ) dan
(− 3 √47 , 94 )
(iii) Menentukan persamaan garis singgung L ¿ x2 + y2 = 9 di titik

3 √7 9 3 √7 9
( ,
4 4 ) dan
(− ,
4 4 )
3 √7 9
Garis singgung di titik
( ,
4 4 ) ⇒ x1x + y1y = r2

3 √7 9
⇔ 4 x+ 4 y=9

⇔ 3 √7 x + 9y = 36 ⇒ √7 x + 3y – 12 = 0

Garis singgung di titik


(− 3 √47 , 94 ) ⇒ x1x + y1y = r2
3 √7 9

⇔ 4 x+ 4 y=9

⇔ – 3 √7 x + 9y = 36 ⇒ √7 x – 3y + 12 = 0

Jadi persamaan garis singgung L ¿ x2 + y2 = 9 yang ditarik dari titik A(0, 4) adalah √7 x + 3y –

12 = 0 dan √7 x – 3y + 12 = 0.

3. Pers. Garis singgung lingkaran dengan Gradien tertentu

Pers. Lingkaran Pers. Garis Singgung


PGS dengan
gradien m


x2 + y2 = R2 y=mx±r √ 1+m2
P(a, b) (x – a)2 + (y – b)2 = R2 y−b=m( x−a )±r √ 1+m2

x2 + y2 + Ax + By + C = 0 y−b=m( x−a )±r √ 1+m2


Contoh
Tentukan persamaan garis singgung lingkaran :
L ¿ x2 + y2 = 9 dengan gradien 2
Jawab:
L ¿ x2 + y2 = 9 dengan gradien 2 berarti m = 2, r = 3

PGS ¿ y=mx±r √ 1+m2 ⇒ y = 2x ± 3 √ 1+22


y = 2x ± 3 √5
Jadi persamaan garis singgungnya adalah y = 2x + 3 √5 dan y = 2x – 3 √5
BAB 2
LOGIKA MATEMATIKA
PENGERTIAN LOGIKA
Secara etimologis, istilah “logika” berasal dari bahasa Yunani, “logos”, yang berarti kata, ucapan,
pikiran, atau bisa juga mengandung arti ilmu pengetahuan. Dalam arti luas, logika merupakan suatu
metode dan prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar
dengan penalaran yang salah.
PENGERTIAN PERNYATAAN
Pernyataan harus dibedakan dari kalimat biasa. Tidak semua kalimat termasuk ke dalam pernyataan.
Pernyataan diartikan sebagai kalimat matematika tertutup yang benar saja, atau salah saja, tetapi tidak
kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan. Biasanya pernyataan dinotasikan dengan huruf kecil,
seperti: p, q, r, s, dan sebagainya.
Contoh
Di bawah ini adalah contoh-contoh pernyataan:
p : Semua sapi adalah hewan menyusui.
q : 3 + 2 = 6.
s : Bilangan ganjil adalah bilangan yang tidak habis dibagi dua.
Contoh
Di bawah ini adalah contoh-contoh yang bukan pernyataan:
1. Kapan kamu menikah?
2. Makan, yuk!

NILAI KEBENARAN
Kebenaran atau kesalahan sebuah pernyataan disebut Nilai Kebenaran dari pernyataan tersebut. Nilai
kebenaran suatu pernyataan p ditulis τ (p). Jika benar, maka nilai kebenarannya B, dan jika salah nilai
kebenarannya S.
Contoh
p:3+2=6 maka τ (p) = S.
p : 2x – 4 = 6, untuk x = 5 maka τ (p) = B.
PERNYATAAN MAJEMUK
Pernyataan tunggal yang digabung disebut pernyataan majemuk. Perhatikan contoh sederhana
berikut!
Elzan adalah pria yang kaya.
Elzan adalah pria yang tampan.
Kedua pernyataan tunggal di atas dapat digabungkan sehingga membentuk suatu pernyataan
majemuk dengan menggunakan kata penghubung “dan”. Pernyataan majemuk yang
dimaksud adalah
Elzan adalah pria yang kaya dan tampan.
1. Operasi Konjungsi
Salah satu cara untuk menggabungkan pernyataan tunggal sehingga menjadi pernyataan majemuk
adalah dengan menggunakan kata “dan”., yang dikenal dengan nama operasi konjungsi. Perhatikan
kembali kalimat majemuk yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan kata penghubung
“dan”, yaitu
Elzan adalah pria yang kaya dan tampan.

Pernyataan pertama : Aufa adalah pria yang kaya.


Pernyataan kedua : Aufa adalah pria yang tampan.

Pernyataan majemuk dengan kata penghubung “dan” hanya bernilai benar jika baik
pernyataan pertama maupun pernyataan kedua sekaligus benar. Dalam keadaan lain adalah
salah, yaitu jika salah satu atau kedua-duanya dari pernyataan tunggal adalah salah,
pernyataan majemuk adalah salah.
Definisi
Misalkan p dan q adalah pernyataan. Pernyataan majemuk p dan q disebut konjungsi dari p
dan q dan dilambangkan dengan
p ¿ q
Konjungsi bernilai benar jika keduannya p dan q adalah benar, dan dalam keadaan lain adalah
salah. Kita sarikan definisi konjungsi dengan tabel kebenaran berikut.
Tabel Kebenaran Konjungsi
P q p ¿ q
B B B
B S S
S B S
S S S
Contoh
Tentukan nilai kebenaran dari pernyataan majemuk p ¿ q berikut ini!
p : 100 + 500 = 800
q : 4 adalah faktor dari 12
Jawaban:
p salah, q benar
p ¿ q : 100 + 500 = 800 dan 4 adalah faktor dari 12 (Salah)
Atau bisa juga ditulis: τ (p) = S, τ (q) = B.
Jadi, τ (p ¿ q) = S.

2. Operasi Disjungsi
Misalkan p dan q adalah pernyataan. Pernyataan majemuk p atau q disebut disjungsi dari p
dan q dan dilambangkan dengan p  q. Disjungsi p  q bernilai benar jika salah satu p atau q,
atau keduanya adalah benar, disjungsi adalah salah hanya jika keduanya p dan q adalah salah.
Kita sarikan definisi konjungsi dengan tabel kebenaran berikut.
Tabel Kebenaran Disjungsi
P Q pq
B B B
B S B
S B B
S S S
Contoh
Tentukanlah nilai kebenaran untuk disjungsi dua pernyataan yang diberikan !
p : 3 + 4 = 12
q : Dua meter sama dengan 200 cm
Jawaban:
τ (p) = S, τ (q) = B. Jadi, τ (p  q) = B.
p  q : 3 + 4 = 12 atau dua meter sama dengan 200 cm (benar).

3. Operasi Impilikasi
Misalkan, p : Sore tidak hujan.
q : Elzan mengajak Gusrayani menonton.
Pernyataan “jika sore nanti tidak hujan, maka Elzan akan mengajak Gusrayani nonton”.
Dapat dinyatakan sebagai “jika p maka q” atau dilambangkan dengan “p ⇒ q”. Suatu
pernyataan majemuk dengan bentuk “jika p maka q” disebut implikasi.

Definisi:
Misalkan p dan q adalah pernyataan. Suatu implikasi (pernyataan bersyarat) adalah suatu
pernyataan majemuk dengan bentuk “jika p maka q”, dilambangkan dengan p ⇒ q.
Pernyataan p disebut hipotesis (ada juga yang menamakan anteseden) dari implikasi. Adapun
pernyataan q disebut konklusi (atau kesimpulan, dan ada juga yang menamakan konsekuen).
Implikasi bernilai salah hanya jika hipotesis p bernilai benar dan konklusi q bernilai salah;
untuk kasus lainnya adalah benar. Perhatikan tabel berikut ini.
Tabel Kebenaran Implikasi
P q p ⇒ q
B B B
B S S
S B B
S S B
Contoh
Tentukanlah nilai kebenaran dari implikasi berikut : Jika 4 + 7 = 10 maka besi adalah benda
padat.
Jawab :
Jika 4 + 7 = 10 maka besi adalah benda padat.
Alasan salah, kesimpulan benar. Jadi, implikasi bernilai benar.

4. Operasi Biimplikasi
Definisi:
Misalkan p dan q adalah pernyataan. Suatu biimplikasi adalah suatu pernyataan majemuk
dengan bentuk p jika dan hanya jika q dilambangkan dengan p ⇔ q. Biimplikasi p dan q
bernilai benar jika keduanya p dan q adalah benar atau jika keduannya p dan q adalah salah;
untuk kasus lainnya biimplikasi adalah salah. Perhatikan Tabel berikut ini.
Tabel Kebenaran Biimplikasi
P q p ⇔ q
B B B
B S S
S B B
S S B

Contoh
Tentukan nilai kebenaran biimplikasi di bawah ini!
a. 20 + 7 = 27 jika dan hanya jika 27 bukan bilangan prima.
B B
τ (p) = B, τ (q) = B. Jadi, τ (p ⇔ q) = B.

b. 2 + 5 = 7 jika dan hanya jika 7 adalah bilangan genap.


τ (p) = B, τ (q) = S. Jadi, τ (p ⇔ q) = S.

PERNYATAAN MAJEMUK BERTINGKAT


Nilai Kebenaran (p ¿ q) ¿ r
(p ¿ q) ¿ r
B B B B B
B B B B S
B S S B B
B S S S S
S S B B B
S S B S S
S S S B B
S S S S S

Adapun langkah-langkah membuat tabel kebenaran, yang memuat n buah pernyataan tunggal
adalah sebagai berikut:
n−1
Langkah 1 : Istilah kolom pertama dengan huruf B sebanyak 2 buah, mulai dari baris
n−1
pertama berurut ke bawah. Kemudian, diikuti dengan huruf S sebanyak 2 berturut-turut
pula ke bawah.
n−2
Langkah 2 : Isilah kolom kedua mulai dari baris pertama dengan huruf B sebanyak 2
n−2
berturut-turut, diikuti dengan huruf S sebanyak 2 pula. Untuk baris tsetelahnya yang
masih kosong diisi dengan pola huruf B dan S yang telahada sebelumnya, sampai semua
baris terisi.
n−3
Langkah 3 : Isilah kolom ketiga mulai baris pertama dengan huruf B sebanyak 2 buah,
n−3
dilanjutkan dengan huruf S sebanyak 2 pula. Demikian seterusnya untuk baris-baris
setelahnya, diisi sama dengan pola B dan S yang telah ada sebelumnya.
TAUTOLOGI DAN KONTRADIKSI

Tabel 5.1.6 Tabel 5.1.7


Contoh Tautologi Contoh Kontradiksi
p  ~p p  ~p
B B S B S S
S B B S S B
ARGUMEN DAN
PENARIKAN KESIMPULAN
ARGUMEN
Argumen merupakan serangkaian pernyataan-pernyataan yang mempunyai ungkapan pernyataan
inferensi (penarikan kesimpulan). Dalam argumen terdapat kata: jadi, sehingga, oleh karena itu, dan
sebagainya. Pernyataan-pernyataan yang terletak sebelum kata jadi disebut premis, sedangkan
pernyataan yang terletak setelah kata jadi disebut konklusi.
Dua Kelompok Pernyataan dalam Argumen
1 Jika kehidupan penuh kerja keras, maka kehidupan merupakan
saat kerja yang mengesankan.
2 Jika kehidupan adalah harapan indah, maka kehidupan
Premis
merupakan suatu kebahagiaan.
3 Kehidupan adalah kerja keras atau harapan indah.

Konklusi Jadi, kehidupan merupakan saat kerja yang mengesankan atau


merupakan suatu kebahagiaan.

ATURAN PENARIKAN KESIMPULAN


1. Modus Ponen
Berikut adalah suatu ilustrasi mengenai penalaran kondisional.
Jika saya lapar, maka saya makan.
Ternyata saya lapar.
Jadi, saya makan.
Penalaran kondisional menjelaskan hubungan antara dua buah kondisi, dalam ilustrasi di atas
adalah kondisi lapar dan makan. Hubungan tersebut dapat dinyatakan sebagai:
p ⇒ q
p
∴ q
Rumusan di atas merupakan bentuk argumen valid yang dikenal dengan nama Modus Ponen.
2. Modus Tollen
Dengan konteks yang sama, sekarang kita lihat bahwa suatu pernyataan kondisional atau pernyataan
implikasi yang benar dengan konsekuen yang salah harus mempunyai anteseden yang salah. Argumen
ini dinamakan Modus Tollen, dengan bentuk:
p ⇒ q
~q
∴ ~p
3. Silogisme Hipotetik
Beranjak pada argumen lain yang disebut sebagai Silogisme Hipotetik dengan bentuk sebagai berikut:
p ⇒ q
q ⇒ r
∴ p ⇒ r
BAB 3
RUANG DIMENSI TIGA
A. KEDUDUKAN TITIK, GARIS, DAN BIDANG
1. Kedudukan titik terhadap garis
Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah garis g, maka :
a. Titik T teletak pada garis g, tau garis g melalui titik T
b. Titik T berada diluar garis g, atau garis g tidak melalui titik T
2. Kedudukan titik terhadap bidang
Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah bidang H, maka :
a. Titik T terletak pada bidang H, atau bidang H melalui titik T
b. Titik T berada diluar bidang H, atau bidang H tidak melalui titik T
3. Kedudukan garis terhadap garis
Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah garis h, maka :
a. Garis g dan h terletak pada sebuah bidang, sehingga dapat terjadi :
 garis g dan h berhimpit, g = h
 garis g dan h berpotongan pada sebuah titik
 garis g dan h sejajar
b. Garis g dan h tidak terletak pada sebuah bidang, atau garis g dan h bersilangan, yaitu
kedua garis tidak sejajar dan tidak berpotongan.
4. Kedudukan garis terhadap bidang
Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah bidang H, maka :
a. Garis g terletak pada bidang H, atau bidang H melalui garis g.
b. Garis g memotong bidang H, atau garis g menembus bidang H
c. Garis g sejajar dengan bidang H
5. Kedudukan bidang terhadap bidang
Jika diketahui bidang V dan bidang H, maka :
a. Bidang V dan bidang H berhimpit
b. Bidang V dan bidang H sejajar
c. Bidang V dan bidang H berpotongan. Perpotongan kedua bidang berupa garis lurus yang
disebut garis potong atau garis persdekutuan.
Contoh
H G
a. Titik yang berada pada garis DF
b. Titik yang berada diluar bidang BCHE
E F
c. Garis yang sejajar dengan CF
d. Garis yang berpotongan dengan BE
e. Garis yang bersilangan dengan FG
D C

A B
f. Bidang yang sejajar dengan bidang BDG
Jawab :
a. Titik D dan F
b. Titik A, D, F, G
c. DE
d. EA, EF, ED, EH
e. AB, DC, AE, DH
f. AFH

B. JARAK TITIK, GARIS, DAN BIDANG


1. Menghitung jarak antara titik dan garis
Jarak antara titik dan garis merupakan panjang ruas garis yang ditarik dari suatu titik sampai
memotong garis tersebut secara tegak lurus.
2. Menghitung jarak antara titik dan bidang
Jarak antara titik dan bidang adalah panjang ruas garis yang ditarik dari suatu titik diluar
bidang sampai memotong tegak lurus bidang.
3. Menghitung jarak antara 2 garis
a. Dua garis yang berpotongan tidak mempunyai jarak
b. Jarak antara dua garis yang sejajar adalah panjang ruas garis yang ditarik dari suatu
titik pada salah satu garis sejajar dan tegak lurus garis sejajar yang lain.
c. Jarak dua garis bersilangan adalah panjang ruas garis hubung yang letaknya tegak
lurus pada kedua garis bersilangan itu.
4. Menghitung jarak antara garis dan bidang
Jarak antara garis dan bidang yang sejajar adalah jarak antara salah satu titik pada garis
tehadap bidang.
5. Jarak antara dua bidang
Jarak antara dua bidang yang sejajar sama dengan jarak antara sebuah titik pada salah satu
bidang ke bidang yang lain.
C. PROYEKSI
1. Proyeksi titik pada bidang
Jika titik A diluar bidang H, maka proyeksi A pada bidang H ditentukan sebagai berikut :
a. Dari titik A dibuat garis g yang tegak lurus bidang H
b. Tentukan titik tembus garis g terhadap bidang H, misalnya titik B. Proyeksi titik A pada
bidang H adalah B.
2. Proyeksi garis pada bidang
Menentukan proyeksi garis pada bidang sama dengan menentukan proyeksi dua buah titik
yang terletak pada garis ke bidang itu, dan proyeksi garis tadi pada bidang merupakan garis
yang ditarik dari titik-titik hasil proyeksi.
a. Jika sebuah garis tegak lurus pada bidang maka proyeksi garis ke bidang itu berupa
titik.
b. Jika garis sejajar bidang maka proyeksi garis ke bidang merupakan garis yang sejajar
dengan garis yang diproyeksikan.
Contoh :
Diketahui limas beraturan T. ABCD dengan AB = 5 cm dan TA = 8 cm.
Hitunglah panjang proyeksi :
a. TB pada bidang ABCD
b. TB pada bidang TAC
Jawab :
a. Proyeksi T pada bidang ABCD adalah titik O. Jadi proyeksi TB pada bidang ABCD = BO
BO = ½ .AC

=½ √ AB 2+BC 2
=½ √ 25+25
=½ 5 √2
5
√2
= 2 cm
b. Proyeksi TB pada bidang TAC = TO

TO = √ TB2−BO 2
25
= √ 64−
2
103
= √ 2
1
√206
= 2 cm

D. SUDUT ANTARA GARIS DAN BIDANG


1. Sudut antara dua garis berpotongan
Sudut antara dua garis berpotongan diambil sudut yang lancip.
2. Sudut antara dua garis bersilangan
Sudut antara dua garis bersilangan ditentukan dengan membuat garis sejajar salah satu garis
bersilangan tadi dan memotong garis yang lain dan sudut yang dimaksud adalah sudut antara dua
garis berpotongan itu.
3. Sudut antara garis dan bidang
Sudut antara garis dan bidang hanya ada jika garis menembus bidang.
Sudut antara garis dan bidang adalah sudut antara garis dan proyeksinya pada bidang itu.
4. Sudut antara bidang dengan bidang
Sudut antara dua bidang terjadi jika kedua bidang saling berpotongan.
Untuk menentukannya sbb :
a. Tentukan garis potong kedua bidang
b. Tentukan sebarang garis pada bidang pertama yang tegak lurus garis potong kdua bidang
c. Pada bidang kedua buat pula garis yang tegak lurus garis potong kedua bidang dan
berpotongan dengan garis pada bidang pertama tadi.
d. Sudut antara kedua bidang sama dengan sudut antara kedua garis tadi
BAB 4
TRANSFORMASI GEOMETRI
1. REFLEKSI
Refleksi atau pencerminan suatu transformasi yang memindahkan setiap titik pada sebuah
bentuk ke titik yang simetris dengan titik semula terhadap sumbu pencerminan tersebut.

Dalam geometri bidang, sebagai cermin digunakan


a. Sumbu x
b. Sumbu y
c. x = m
d. y = n
e. y = x
f. y = -x
g. Titik pusat O(0,0)

Refleksi Rumus Matriks


Refleksi A ( x , y )⃗
sb . x A ' ( x ,− y ) x' 1 0 x
terhadap sumbu- ( )(=
y ' 0 −1 y )( )
x
Refleksi A ( x , y )⃗
sb . y A ' ( −x , y ) x' −1 0 x
terhadap sumbu- ( )(
y'
=
0 1 y )( )
y
Refleksi A ( x , y )⃗
y= x A ' ( y , x )
terhadap garis ( xy'' )=(01 10 )( xy )
y=x
Refleksi A ( x , y )⃗
y=− x A ' ( y ,−x )
terhadap garis ( x'y' )=(−10 −10 )( xy )
y=-x
Refleksi A ( x , y )⃗
x =k A ' ( 2 k −x , y ) x' −1 0 x 2k
terhadap garis ( )(
y'
=
0 1 y
+
0 )( ) ( )
x=k
Refleksi A ( x , y )⃗
y=k A ' ( x , 2k − y ) x' 1 0 x 0
terhadap garis ( )(= +
y ' 0 −1 y 2 k )( ) ( )
y=k
Refleksi A ( x , y )⃗
( p , q ) A ' ( x ', y ' )
terhadap titik
Sama dengan rotasi pusat (p,q)
( x'− p = cos180°
y'−q ) ( sin180 °
−sin 180° x− p
cos180° y−q )( )
(p,q)
sejauh 180˚
Refleksi A ( x , y )⃗
(0,0 ) A ' (−x ,− y )
terhadap titik ( x'y' )=(−10 −10 )( xy )
pusat (0,0)
Refleksi A ( x, y )⃗
y=mx A ' ( x', y' ) x ' cos2 α sin 2 α x
terhadap garis dengan x'=x cos2α+ y sin 2α ( )(=
y ' sin 2 α −cos2 α y )( )
y=mx,m=tan α y'=xsin 2α− y cos2α
Refleksi A ( x, y )⃗y= x+k A ' ( x ', y ' )
terhadap garis dengan x '= y −k ( xy'' )=(01 10 )( y −kx )+( 0k )
y=x+k y '=x+k
Refleksi A ( x, y )⃗y=− x+k A ' ( x ', y' )
terhadap garis dengan x'=− y+k ( xy'' )=(−10 −10 )( y−kx )+(0k )
y=-x+k y'=−x+k

1. TRANSLASI
Dengan kata lain pergeseran adalah suatu transformasi yang memindahkan setiap titik pada
bidang dengan jarak dan arah tertentu.

(a ¿) ¿ ¿¿
Jika translasi T = ¿ memetakan titik P(x,y) ke P´(x’,y’)
maka x’ = x + a dan y’ = y + b ditulis dalam bentuk matrik:

( x ' ¿) ¿ ¿ ¿
¿
Contoh :
Diketahui segitiga OAB dengan koordinat titik O(0,0), A(3,0) dan B(3,5). Tentukan koordinat

(1 ¿ )¿ ¿¿
bayangan segitiga OAB tersebut bila ditranslasi oleh T = ¿
Jawab :
⃗ (1 )¿
Talignl ¿ ¿¿¿¿
titik O (0,0) ¿ O’(0+1, 0+3) = O’(1,3)
⃗ (1 )¿
Talignl ¿ ¿¿¿¿
titik A (3,0) ¿ A’(3+1, 0+3) = A’(4,3)
⃗ (1 )¿
Talignl ¿ ¿¿¿¿
titik B (3,5) ¿ B’ (3+1, 5+3) = B’(4,8)
2. ROTASI

Rotasi adalah perputaran. Rotasi ditentukan oleh pusat rotasi dan besar sudut rotasi.
Rotasi Pusat O(0,0)
Titik P(x,y) dirotasi sebesar a berlawanan arah jarum jam dengan pusat O(0,0) dan diperoleh
bayangan P’(x’,y’)
maka: x’ = x cosa – y sina
y’ = x sina + y cosa

Jika sudut putar a = ½π (rotasinya dilambangkan dengan R½π)


maka x’ = - y dan y’ = x dalam bentuk matriks:

( x ' ¿) ¿ ¿ ¿ 0 −1
¿ Jadi R½π =
( 1 0 )
Rotasi Rumus Matriks
Rotasi A ( x, y )⃗
R ( 0,α ) A ' ( x', y' )
dengan pusat dengan x'=x cosα− y sin α ( xy'' )=(cos α
sin α
−sin α x
)( )
cos α y
(0,0) dan y'=xsin α + y cosα
sudut putar α
Rotasi A ( x , y )⃗
R ( P ,α ) A ' ( x ', y ' )
dengan pusat dengan x '−a=( x−a ) cos α−( y−b ) sin α
P(a,b) dan y '−b=( x−a ) sin α+ ( y−b ) cos α
sudut putar α
Contoh :
Persamaan bayangan garis x + y = 6 setelah dirotasikan pada pangkal koordinat dengan
sudut putaran 900, adalah….
Jawab :
R+900 berarti: x’ = -y → y = -x’
y’ = x → x = y’
disubstitusi ke: x+y=6
y’ + (-x’) = 6
y’ – x’ = 6 → x’ – y’ = -6
Jadi bayangannya: x – y = -6

Jika sudut putar a = π (rotasinya dilambangkan dengan H)


maka x’ = - x dan y’ = -y
dalam bentuk matriks:
x ' = −1 0 x
( )(y' 0 −1 )() y
−1 0
Jadi H =
( 0 −1 )
4. DILATASI
Adalah suatu transformasi yang mengubah ukuran (memperbesar atau memperkecil)
suatu bangun tetapi tidak mengubah bentuk bangunnya.
Dilatasi Pusat O(0,0) dan faktor skala k
Jika titik P(x,y) didilatasi terhadap pusat O(0,0) dan faktor skala k didapat bayangan
P’(x’,y’) maka x’ = kx dan y’ = ky dan dilambangkan dengan [O,k].

Contoh :
Garis 2x – 3y = 6 memotong sumbu X di A dan memotong sumbu y di B. Karena dilatasi
[O,-2], titik A menjadi A’ dan titik B menjadi B’.
Hitunglah luas segitiga OA’B’
Jawab :
garis 2x – 3y = 6 memotong sumbu X di A(3,0) memotong sumbu Y di B(0,-2) karena
dilatasi [O,-2] maka
A’(kx,ky)→ A’(-6,0) dan
B’(kx,ky) → B’(0,4)
Dilatasi Pusat P(a,b) dan faktor skala k
bayangannya adalah
x’ = k(x – a) + a dan
y’ = k(y – b) + b
dilambangkan dengan [P(a,b) ,k]

Dilatasi Rumus Matriks


Dilatasi dengan A ( x , y )⃗
[ 0 , k ] A ' ( kx , ky ) x' k 0 x
pusat (0,0) dan ( ) ( )( )
=
y' 0 k y
faktor dilatasi k
Dilatasi dengan A ( x, y ) ⃗
[ P ,k ] A ' ( x ', y ' )
pusat P(a,b) dan dengan x '−a=k ( x−a ) ( xy'' )=(k0 0k )( xy−b
−a a
)+ ( b )
faktor dilatasi k y '−b=k ( y−b )
Contoh :
Titik A(-5,13) didilatasikan oleh [P,⅔] menghasilkan A’. Jika koordinat titik P(1,-2), maka
koordinat titik A’ adalah….
Jawab :
[ P(a,b),k]
A(x,y) A’(x’,y’)
x’ = k(x – a) + a
y’ = k(y – b) + b
2
[ P(1,-2), 3 ]
A(-5,13) A’(x’ y’)
x’ = ⅔(-5 – 1) + 1 = -3
y’= ⅔(13 – (-2)) + (-2) = 8
Jadi koordinat titik A’(-3,8)