Anda di halaman 1dari 27

PROPOSAL

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PETA KONSEP TERHADAP

HASIL BELAJAR SISWA DI SMA NEGERI 1 KAKAS PADA MATERI

KONSEP REDOKS

Oleh:

JULINE MARADUNG

16 506 003

VIII/B

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

TONDANO

2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


aa

Pembelajaran yang menggunakan metode peta konsep didasarkan pada teori

belajar bermakna yang diusulkan oleh Ausubel. Belajar dapat bermakna jika siswa dapat

menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan yang akan dipelajari.

Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang dipahami dan permanen dipikiran

siswa. Ilmu kimia terkadang memiliki konsep-konsep abstrak yang sulit untuk dipahami,

sehingga dengan pembelajaran yang monoton konsep tersebut hanya berlangsung

sementara dan tidak akan permanen dipikiran siswa. Penelitian yang dilakukan oleh

Yunita L, dkk (2014) menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan peta

konsep dapat meningkatkan pemahaman siswa. Menurut Turan N and Ekmekci G (2016)

penggunaan peta konsep menghasilkan peningkatan dalam proses belajar siswa. Para

siswa menyatakan pendapat yang sangat positif tentang peta konsep sebagai alat

pembelajaran individu. Pendapat tertulis mereka menyatakan bahwa peta konsep

memiliki pengaruh yang dapat meningkatkan kemampuan dan dapat mencapai

keberhasilan belajar suatu konsep.

SMA NEGERI 1 KAKAS adalah salah satu sekolah di Sulawesi Utara yang

menerapkan kurikulum 2013. Pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 mengharuskan

siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian yang dilakukan

oleh Yunita L. dkk (2014) menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan peta

konsep dapat meningkatkan Interaksi proses pembelajaran di kelas khususnya pada

keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Pemberian tugas peta konsep sebelum

2
proses pembelajaran berlangsung dapat menumbuhkan kreativitas siswa dan kesiapan

siswa untuk belajar di kelas. Siswa merasa tidak jenuh dalam belajar serta mudah

memahami materi pelajaran yang telah diberikan. Menurut Jaafarpour M. dkk (2016)

Peta konsep memiliki efek positif terhadap prestasi akademik siswa dan penting untuk

melatih dan mendorong siswa menggunakan peta konsep sebagai strategi pembelajaran.

Materi konsep redoks pada umumnya sulit dimengerti oleh siswa karena materi

pelajaran serta penyelesaian soalnya cukup membingungkan. Apabila guru mampu

menerapkan cara belajar yang baik dan bermakna maka hasil belajar siswa dapat

meningkat. Menurut Asmaningruma H, dkk (2018) peta konsep dapat meningkatkan hasil

belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa dari 49,71

pada pra siklus menjadi 62,36 pada akhir siklus I dan meningkat menjadi 68,07 di akhir

siklus II. Menurut Khairudin M dan Mitarlis (2016) Peta konsep dapat meningkatkan

ketuntasan siswa dari pre test sebesar 77,14% menjadi 94,28% persen saat post test.

Dengan adanya latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH METODE PEMBELAJARAN

PETA KONSEP TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI

KONSEP REDOKS DI SMA NEGERI 1 KAKAS”.

3
1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah-

masalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan yang diperoleh melalui hafalan hanya sementara dan tidak permanen

dipikiran siswa

2. Siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar

3. Hasil belajar kimia siswa rendah

1.3 Pembatasan Masalah

Masalah pada penelitian ini dibatasi pada pengaruh penerapan metode peta

konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi konsep redoks di SMA Negeri 1 Kakas.

1.4 Perumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat

pengaruh penerapan metode pembelajaran peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada

materi Konsep redoks di SMA Negeri 1 Kakas?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dar penerapan metode peta

konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi konsep redoks di SMA Negeri 1 Kakas.

1.6 Manfaat Penelitian

1) Manfaat Akademis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang pembelajaran

peta konsep sebagai alat belajar siswa yang dapat dijadikan suatu alternatif dalam

proses pembelajaran kimia

4
2) Manfaat Praktis

a. Bagi Sekolah

Dari penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan suatu metode pembelajaran

yang baik bagi sekolah, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses

pembelajaran dan kualitas sekolah.

b. Bagi Guru

Dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan metode pembelajaran peta

konsep sebagai alat belajar siswa yang bisa dijadikan sebagai alternatif dalam

proses pembelajaran kimia.

c. Bagi Siswa

Dapat membantu siswa untuk dapat lebih memahami materi pelajaran kimia,

setelah menggunakan metode pembelajaran peta konsep sebagai alat belajar siswa

dan dapat memberikan bantuan kepada siswa dengan peta konsep untuk

memahami konsep-konsep kimia yang abstrak, sehingga pembelajaran lebih

bermakna.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori

2.1.1 Metode Peta Konsep

Salah satu dalam teori Ausubel adalah bahwa faktor paling penting yang mampu

mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal).

Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-

konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat

atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui

oleh para siswa. Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin mengemukakan bahwa cara

untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna

berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan Peta Konsep (Amri dan Iif, 2010).

Pengorganisasian bahan ajar guna persiapan mengajar untuk semester tertentu,

concept map dapat digunakan sebagai cara untuk membangun struktur pengetahuan para

guru dalam merencanakan bahan ajar. Desain bahan ajar berdasarkan concept map ini

memiliki karakteristik yang khas. Pertama, ia hanya memiliki konsep-konsep atau ide-ide

pokok (sentral, mayor, utama). Kedua, ia memiliki hubungan yang mengaitkan antara

satu konsep dengan konsep yang lain. Ketiga, ia memiliki label yang menyembunyikan

arti hubungan yang mengaitkan antara konsep-konsep. Keempat, desain itu berwujud

sebuah diagram atau peta yang merupakan satu bentuk representasi konsep-konsep atau

materi bahan ajar yang pentinng. Mengambil ide dari teori asimilasi Ausubel, Novak

mengembangkan teori pada tahun 1974. Dalam penelitiannya tersebut, ia menghasilkan

concept map sebagai satu diagram yang berdimensi dua, yaitu analog dengan sebuah peta

6
jalan yang tidak hanya mengidentifikasi butir-butir utama (konsep-konsep), tetapi juga

menggambarkan hubungan antar konsep utama tersebut (Munthe, 2009).

Penelitian yang dilakukan oleh Romero C. dkk (2017) menyatakan bahwa

penggunaan peta konsep dalam pengajaran memberikan serangkaian keuntungan: peta

konsep mempromosikan ketangkasan dan keterampilan dalam mengorganisir konsep

dalam bidang studi tertentu, memiliki dampak visual yang hebat dengan menunjukkan

hubungan antara ide-ide utama dengan cara yang sederhana, menarik secara visual, dan

secara grafis menampilkan organisasi dan koneksi antara konsep dan ide. Peta konsep

memberikan pemahaman konsep-konsep baru yang cepat, mudah, dan memungkinkan

untuk menjelaskan dengan kata-kata kita sendiri apa yang telah kita pelajari. Melalui

pengalaman peta konsep, siswa ditunjukkan bagaimana bekerja dengan konsep peta

teknik sebagai strategi untuk membantu meningkatkan pembelajaran. Menurut Talbert L.

dkk (2019) Peta konsep berkorelasi dengan peningkatan hasil belajar dalam pemahaman

konseptual.

A. Ciri-ciri Peta Konsep (Consept Mapping) (Trianto, 2007)

Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

1. Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan

konsep-konsep dan proporsi-proporsi suatu bidang studi, apakah itu bidang

studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep,

siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi

itu lebih bermakna.

7
2. Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi,

atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan

hubungan-hubungan proporsional antara konsep-konsep.

3. Tidak semua peta konsep mepunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep

yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep yang lain.

4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih

inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep tersebut.

Berdasarkan pemaparan ciri-ciri peta konsep di atas maka sebaiknya peta konsep

dibuat secara hierarki yang artinya konsep yang lebih inklusif ditempatkan pada posisi

paling atas, sehingga semakin ke bawah konsep-konsep yang tersaji semakin kurang

inklusif.

B. Langkah-Langkah dalam Membuat Peta Konsep (Concept Mapping)

Dalam bidang sains, peta konsep dapat membuat informasi yang dianggap bersifat

abstrak menjadi informasi yang bersifat konkret. Sehingga sangat bermanfaat untuk

meningkatkan ingatan terhadap suatu konsep. Adapun langkah-langkah dalam membuat

peta konsep adalah sebagai berikut (Arends, 1997 yang dikutip oleh Trianto, 2009):

1. Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah

konsep. Contoh Ekosistem

2. Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang

ide utama. Contoh individu, populasi, dan komunitas.

3. Tempatkan ide-ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut

8
4. Kelompokkan ide-ide sekunder di keliling ide utama yang secara visual

menunjukkan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Langkah-langkah mutlak dalam membuat peta konsep adalah sebagai berikut

(Munthe, 2009):

1. Brainstorming atau curah gagasan

2. Menentukan 8-12 konsep (topik) utama (mayor)

3. Menulis dan menyusun konsep-konsep dalam satu bentuk gambar

4. Menghubungkan konsep-konsep dengan garis

5. Memberikan label di atas garis panah

Dari langkah-langkah yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam

membuat suatu peta konsep langkah awalnya di mulai dari memilih suatu bahan bacaan,

lalu menentukan konsep-konsep yang relevan kemudian menyusun konsep-konsep

tersebut secara hierarki dari yang inklusif sampai yang kurang inklusif dalam satu bagan.

Kemudian antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya dihubungkan dengan

kata penghubung seperti “terdiri atas”, “contoh”, dan lain-lain.

C. Tujuan Pembuatan Peta Konsep (Concept Mapping)

Dalam pendidikan peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan, diantaranya:

1. Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa, untuk memperlancar proses

belajar, baik guru maupun siswa perlu mengetahui “tempat awal konseptual”.

Dengan kata lain guru harus mengetahui konsep-konsep apa yang telah

dimiliki siswa untuk pelajaran baru akan dimulai.

9
2. Belajar sebagai mana belajar, dengan meminta siswa menyusun peta konsep

dari isi bab tersebut. Dengan cara demikian ia telah berusaha benar untuk

memahami isi pelajaran itu. Sehingga peta konsep berfungsi untuk menolong

siswa belajar bagaimana belajar.

3. Mengungkapkan konsepsi salah, konsepsi salah biasanya timbul karena

terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proporsi yang

salah. 

4. Alat evaluasi, Selama ini alat evaluasi yang dikenal oleh guru dan siswa

terutama bentuk tes objektif atau tes essai. Walaupun cara evaluasi ini akan

terus memegang peranan dalam bidang pendidikan, teknik-teknik evaluasi

baru perlu dipikirkan untuk memecahkan masalah-masalah evaluasi yang

dihadapi dewasa ini. Salah satu bentuk evaluasi yang disarankan adalah peta

konsep (Dahar, 1988). 

2.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Sudjana (2009)

mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku

sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif,

dan psikomotor. Dimyati dan Mudjono (2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan

hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Sisi guru, tindak mengajar

diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Sisi siswa, hasil belajar merupakan

berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjono, 2006) menyebutkan enam jenis

perilaku ramah kognitif,sebagai berikut:

10
1. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah di pelajari

dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenan dengan fakta,

peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.

2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal

yang di pelajari.

3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk

mengahadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.

4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-

bagian sehingga tersrtuktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.

Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

5. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal

berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.

6. Mencipta, memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru

dan koheren atau untuk membuat suatu produk orisina.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, di simpulkan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.

Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Hasil belajar dapat di lihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan

data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai

tujuan pembelajaran.

11
2.1.3 Konsep Redoks (Purba dan Sarwiyati, 2017)

Reaksi dengan oksigen lazim disebut reaksi redoks. Sebaliknya, reaksi pelepasan

oksigen disebut reaksi reduksi. Sebenarnya, reduksi dan oksidasi berlangsung secara simultan

(bersamaan) sehingga penamaan yang lebih tepat adalah reaksi reduksi oksidasi atau reaksi

redoks. Pada awalnya, reaksi reduksi oksidasi dikaitkan dengan pengikatan dan pelepasan

oksigen, kemudian dikembangkan menjadi proses serah terima elektron dan perubahan

bilangan oksidasi.

1. Perkembangan konsep reduksi dan oksidasi

a. Oksidasi-reduksi sebagai pengikatan dan pelepasan oksigen

Pada awalnya pengertian reduksi dan oksidasi dikaitkan dengan oksigen.

Reduksi adalah pelepasan oksigen

Oksidasi adalah pengikatan oksigen

Contoh reduksi:

a.Reduksi bijih besi ( Fe2 O 3, hematit) oleh karbon monoksida (CO).

Fe2 O3 ( s ) +3 CO ( g ) →2 Fe ( s ) +3 CO2

b. Reduksi tembaga (II) oksida oleh gas hydrogen

CuO ( s ) + H 2 ( g ) → Cu ( s )+ H 2 O( g)

Zat yang menarik oksigen pada reaksi reduksi disebut reduktor. Pada contoh tersebut

reduktor yang digunakan adalah CO dan H 2.

Contoh oksidasi:

1) Perkaratan logam, misalnya besi.

4 Fe ( s )+ 3O 2 (g)→2 Fe2 O3

c.Reduksi tembaga (II) oksida oleh gas hydrogen

12
CH 4 ( g ) +2O 2 ( g ) → CO 2 ( g ) +2 H 2 O(g)

Sumber oksigen pada reaksi oksidasi disebut oksidator. Pada contoh di atas oksidator yang

digunakan adalah udara.

b. Oksidasi-reduksi sebagai pelepasan dan penerimaan elektron

Dalam ikatan kimia, reaksi antara unsur logam dan nonlogam melibatkan pelepasan dan

penerimaan elektron.

1) Reaksi kalsium dengan oksigen

.. ..
Ca: + O: + :O .. CaO
..

2) Reaksi kalsium dengan belerang

.. ..
Ca: + S:
.. + :S CaS
..
Menurut konsep oksidasi-reduksi terdahulu, reaksi (1) tergolong oksidasi karena merupakan

pengikatan oksigen, tetapi reaksi (2) tidak termasuk oksidasi. Padahal, dalam kedua reaksi itu

kalsium mengalami hal yang sama, yaitu melepas 2 elektron. Kelihatannya, pengertian

oksidasi-reduksi yang dikaitkan dengan oksigen terlalu sempit sehingga diperlukan definisi

oksidasi-reduksi yang lebih luas. Untuk itu, pengertian oksidasi-reduksi kemudian dikaitkan

dengan pelepasan dan penerimaan elektron

Oksidasi adalah pelepasan elektron.

Reduksi adalah penyerapan elektron.

13
Jadi, oksidasi dan reduksi tidak harus melibatkan oksigen. Dengan demikian, semua proses

kimia yang disertai pelepasan elektron digolongkan oksidasi. Pada reaksi (2) tersebut,

kalsium mengalami oksidasi (karena melepas elektron) sedangkan belerang mengalami

reduksi (karena menyerap elektron).

Reaksi reduksi dan oksidasi saja disebut setenga reaksi. Pemisahan reaksi redoks atas

setengah reaksi reduksi dan setengah reaksi oksidasi hanya dalam ide saja, tidak dalam

kenyataanya. Reaksi kalsium dengan belerang tersebut terdiri atas 2 setenga reaksi berikut.

Oksidasi :
Reduksi :
+
Redoks :
Pada contoh tersebut kalsium dioksida oleh belerang. Oleh karena itu belerang merupakan

pengoksidasi atau oksidator. Sementara itu, belerang direduksi oleh kalsium. Jadi, kalsium

merupakan pereduksi atau reduktor.

Oksidator = menyerap elektron; mengalami reduksi.

Reduktor = melepas elektron; mengalami oksidasi.

. ..
.. ..
Reduktor Oksidator Hasil oksidasi Hasil reduksi

Oksidasi

Reduksi

c. Oksidasi-reduksi sebagai pertambahan dan penurunan bilangan oksidasi

14
Pelepasan elektron menyebabkan kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan penyerapan

elektron menyebabkan penurunan bilangan oksidasi.

Oksidasi adalah kenaikan bilangan oksidasi.

Reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi.

Reaksi kalsium dengan belerang membentuk kalsium sulfida.

. ..
.. ..
Oksidasi

Reduksi
Setelah melepas 2 elektron, bilangan oksidasi kalsium naik dari 0 menjadi +2. Sementara itu,

setelah menyerap 2 elektron, bilangan oksidasi S turun dari 0 menjadi -2. Jadi, dalam reaksi

itu, kalsium mengalami oksidasi (kenaikan bilangan oksidasi), sedangkan belerang

mengalami reduksi (penurunan bilangan oksidasi). Jika dikaitkan dengan perubahan bilangan

oksidasi, oksidator dan reduktor dalam reaksi tersebut adalah sebagai berikut.

Oksidator = mengalami penurunan bilangan oksidasi.

Reduktor = mengalami kenaikan bilangan oksidasi.

2. Konsep bilangan oksidasi

Bilangan oksidasi adalah besarnya muatan yang diemban oleh suatu atom dalam suatu

senyawa jika semua elektron ikatan didistribusikan kepada unsur yang lebih elektronegatif.

Aturan menentukan bilangan oksidasi

Dengan mempertimbangkan keelektornegatifan unsur, dapat disimpulkan suatu aturan untuk

menentukan bilangan oksidasi sebagai berikut.

1) Unsur bebas mempunyai bilangan oksidasi = 0

15
2) Fluorin, unsur yang paling elektronegatif dan membutuhkan tambahan 1 elektron,

mempunyai bilangan oksidasi -1 pada semua senyawanya.

3) Bilangan oksidasi unsur logam selalu bertanda positif.

4) Bilangan oksidasi suatu unsur dalam suatu ion tunggal sama dengan muatanya.

5) Bilangan oksidasi H umumnya = +1, kecuali dalam senyawanya dengan logam halida

(hidrida), bilangan oksidasinya H = -1.

6) Bilangan oksidasi O umumnya = -2.

Kecuali:

a. Dalam OF 2, bilangan oksida O = +2.

b. Dalam peroksida, seperti H 2 O2 , bilangan oksidasi O = -1.

−1
c. Dalam superoksida, seperti KO 2, bilangan oksidasi O = .
2

7) Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu senyawa = 0

8) Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu ion poliatom = muatannya.

3. Reaksi disproporsionasi dan reaksi konproporsionasi

Reaksi disproporsionasi adalah reaksi redoks yang oksidator dan reduktornya merupakan zat

yang sama. Jadi, sebagian dari zat itu mengalami oksidasi dan sebagian lagi mengalami

reduksi.

Contoh: Reaksi antara klorin dengan larutan NaOH

0 -1 +1

Reduksi

Oksidasi

16
Sebagian dari gas Cl 2 (bilangan oksidasi = 0) mengalami reduksi menjadi NaCl (bilangan

oksidasi Cl = -1) dan sebagian mengalami oksidasi menjadi NaClO (bilangan oksidasi Cl =

+1).

Reaksi konproporsionasi merupakan kebalikan dari reaksi disproporsionasi, yaitu reaksi

redoks yang mana hasil reduksi dan oksidasinya sama.

Contoh: Reaksi antara hidrogen sulfide dengan belerang dioksida menghasilkan belerang dan

air.

-2 +4 0

Oksidasi

Reduksi

Pada contoh tersebut, hasil reduksi dan hasil oksidasinya merupakan zat yang sama, yaitu

belerang.

4. Tata Nama IUPAC

Banyak unsur yang dapat membentuk senyawa dengan lebih dari satu macam tingkat

oksidasinya. Salah satu cara yang disarankan IUPAC untuk membedakan senyawa-senyawa

seperti itu adalah dengan menuliskan bilangan oksidasinya dalam tanda kurung dengan angka

romawi. Perhatikan contoh-contoh berikut.

a. Senyawa Ion

Cu2 S : tembaga (I) sulfide

CuS : tembaga (II) sulfide

FeSO 4 : besi (II) sulfat

17
Fe2 SO 4 ¿3 : besi (III) sulfat

b. Senyawa Kovalen

N2 O : nitrogen (I) oksida

N 2 O3 : nitrogen (III) oksida

P2 O5 : fosforus (V) oksida

P2 O3 : fosforus (III) oksida

Namun demikian, tata nama senyawa kovalen biner yang lebih umum digunakan adalah

dengan cara menyebutkan angka indeksnya. Dengan cara ini, senyawa kovalen tersebut

diberi nama sebagai berikut.

N2 O : dinitrogen monoksida

N 2 O3 : dinitrogen trioksida

P2 O5 : difosforus pentaoksida

P2 O3 : difosforus trioksida

2.2 Kerangka Berpikir

Pembelajaran yang bermakna dapat terjadi jika siswa mampu menghubungkan

pengetahuan lama yang sudah ada dan permanen dalam pikirannya dengan informasih

baru atau pengetahuan baru yang akan dipelajarinya. Metode pembelajaran peta konsep

adalah salah satu cara yang dapat menjadi solusi dari masalah kurangnya penerapan

pembelajaran yang bermakna. Peta konsep adalah alat atau cara yang dapat membuat

siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran karena siswa dituntut untuk membuat peta

konsepnya sendiri. Dengan peta konsep siswa dapat menghubungkan konsep lama

dengan konsep baru dan dapat memahami hubungan antar konsep. Ketika siswa dapat

18
menghubungkan konsep lain dengan kata-katanya sendiri maka bisa dikatakan

pembelajaran bermakna sedang terjadi.

Penelitian yang dilakukan oleh Turan N and Ekmekci G (2016) dengan judul The

effect of concept maps, as an individual learning tool, on the success of learning the

concepts related to gravimetric analysis menunjukan bahwa terjadi peningkatan dalam

proses belajar siswa. Para siswa juga menyatakan pendapat yang sangat positif tentang

peta konsep sebagai alat pembelajaran individu. Pendapat tertulis mereka menyatakan

bahwa peta konsep memiliki pengaruh yang dapat meningkatkan kemampuan dan dapat

mencapai keberhasilan belajar suatu konsep. Selain itu Lestari F dkk (2019) menyatakan

bahwa peta konsep jaringan pohon yang diambil dari sistem pembelajaran Jepang,

memiliki efek yang sangat positif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian

yang dilakukan oleh Makarawung F dkk (2019) menyatakan bahwa terdapat pengaruh

yang signifikan antara penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping dan

konvensional terhadap hasil belajar siswa.

2.3 Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah “Terdapat pengaruh dengan penerapan

Metode pembelajaran Peta Konsep terhadap Hasil Belajar siswa pada SMA Negeri 1

Kakas”.

19
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode dan Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah One-Shot Case Study (Sugiyono, 2018)

X O

Gambar 3.1 Model One-Shot Case Study

Dimana,

X = Perlakuan menggunakan Metode pembelajaran peta konsep

O = Test setelah diberikan perlakuan

3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kakas pada siswa kelas X

MIA 1 semester genap tahun ajaran 2019/2020.

3.3 Populasi dan Sampel

 Populasi dalam penelitian ini adalah seluru siswa kelas X MIA SMA Negeri 1

Kakas tahun ajaran 2019/2020.

 Sampel dalam penelitian ini diambil secara acak (random) dan terpilih kelas X

MIA 1 SMA Negeri 1 Kakas.

3.4 Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Bebas (Independen)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Metode Pembelajaran Peta

Konsep.

20
2. Variabel Terikat (Dependen)

a. Variabel terikat dalam penelitian adalah Hasil Belajar Siswa pada

Materi Konsep redoks

3.5 Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

b. Menentukan populasi, yaitu seluruh kelas X MIA di SMA Negeri

Kakas

c. Menetapkan sampel, yaitu dengan mengambil satu kelas di kelas X

MIA 1 di SMA Negeri 1 Kakas

d. Membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Peta

Konsep (Rangkuman materi konsep redoks)

e. Menyiapkan bahan ajar dengan pokok bahasan konsep redoks

2. Tahap pelaksanaan

a. Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa

b. Membuat peta konsep pada materi konsep redoks

c. Menjelaskan Materi konsep redoks berdasarkan peta konsep

d. Menghubungkan konsep yang sudah diketahui siswa, dengan konsep

yang baru dipelajari.

e. Mengungkpakn konsepsi yang salah, jika ada.

f. Menjelaskan sedikit tentang cara membuat peta konsep pada materi

konsep redoks

g. Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat sendiri peta konsep

pada bahasan materi tertentu yang berkaitan dengan konsep redoks

21
h. Bila ada siswa yang masih kurang paham dengan pembuatan peta

konsep, bisa langsung menanyakan kepada guru.

3. Tahap Evaluasi

Pada tahap ini, peneliti memberikan tes hasil belajar yang dilaksanakan

pada pertemuan terakhir.

a. Menunjuk beberapa siswa untuk menyampaikan konsep-konsep

tentang pembelajaran yang diingatnya.

b. Melengkapi instrument dengan mengerjakan kunci jawaban

c. Pemberian soal tes hasil belajar

3.6 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Instrumen penelitian yang digunakan peneliti yaitu:

1. Soal tes

Soal tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa yang ingin dicapai

selama penelitian dilakukan. Bentuk tes yang digunakan adalah objektif

yang diberikan di akhir (posttest).

2. Soal non-tes (angket)

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis pada responden

untuk dijawab (Sugiyono, 2018). Pemberian angket bertujuan untuk

mendapatkan informasi mengenai tanggapan siswa tentang pembelajaran

yang telah dilakukan.

22
3.7 Uji Instrumen

1) Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2018), pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item,

yaitu mengkorelasi tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.

Validitas butir soal dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment, yaitu

sebagai berikut:

N Σ XY −(Σ X )(ΣY )
rxy = 2 2 2 2
(Sugiyono, 2018)
√ { NΣ X − ( Σ X ) } {N Σ Y −( Σ Y )}

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi skor butir soal dan skor total

N = banyaknya peserta tes

ƩX = jumlah skor tiap butir soal

ƩY = jumlah skor total butir soal

ƩXY = jumlah perkalian skor butir soal dengan skor total

ƩX2 = jumlah kuadrat skor butir soal

ƩY2 = jumlah kuadrat skor total

Hasil perhitungan rxy dibandingkan dengan harga kritis r product moment dengan taraf

kesalahan 5%. Jika rxy > rtabel, maka instrumen tersebut dikatakan valid.

2) Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal concostency dengan Teknik

Belah Dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown.

2 rb
ri =
1+ r b

23
dimana,

ri = reliabilitas internal seluruh instrumen

rb = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

Untuk keperluan itu maka butir-butir instrumen di belah menjadi dua kelompok,

yaitu kelompok instrumen ganjil dan genap.

3.8 Pengolahan Data

Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber

data lain terkumpul. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik.

Uji Hipotesis:

 Uji Regresi Sederhana

Penggunaan persamaan Regresi Sederhana untuk meramalkan variabel terikat (Y)

apabila variabel bebas (X) diketahui. Persamaan umumnya adalah:

(Sugiyono, 2018)
Y=a+bX
Dimana :

Y = variabel terikat

X = variabel bebas

b = Koefisien regresi

a = Konstanta atau bila harga X = 0

harga a dan b dapat dihitung dengan rumus:

a=
∑ Y −b ⋅ ∑ X
n
n ∑ ( XY )−∑ x−∑ y
b=
n ∑ X 2−( ∑ X ) 2
 Uji Korelasi

24
Menguji apakah data terdistribusi normal maka menggunakan rumus uji pearson

product moment yaitu :

N Σ XY −(Σ X )(ΣY )
rxy = 2 2 2 2
√ { NΣ X − ( Σ X ) } {N Σ Y −( Σ Y )}
Berikut adalah pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi.

Tabel 3.1 Interval korelasi (Sugiyono, 2018)


Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1000 Sangat Kuat

Untuk mengitung besarnya konstribusi variabel X dalam mempengaruhi variabel Y dapat

menggunakan rumus koefisien determinan atau koefisien penentu sebagai berikut :

KP = r2 x 100%

Keterangan:

KP = Nilai koefisien penentu/determinan

R = Nilai koefisien korelasi

25
DAFTAR PUSTAKA

Amri S. dan Iif K.A. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas.
Jakarta: Prestasi Pustaka.

Asmaningrum H, Gelong M and Werang B. 2018. Penerapan Media Peta Konsep


Terhadap Hasil Belajar Siswa Sma Geradus Adii Merauke. Pendidikan Kimia
FKIP Universitas Musamus. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 12, No. 2,
halaman 2224 – 2238.

Dahar, R.W.1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Departemen pendidikan dan


Kebudayaan.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineke Cipta.

Jaafarpour M, Aazamia S, and Mozafaria M. 2016. Does Consept Mapping Enhance


Learning Outcome Of Nursing Students. Department of nursing and midwifery.
Ilam university of medical science. Ilam. Iran.

Khairudin M and Mitarlis. 2016. Implementation Of Direct Instruction Model Learning


With Mind Mapping Strategy On Acid Base In Sman 1 Waru Sidoarjo. Jurusan
Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya. UNESA Journal of Chemical
Education Vol. 5, No. 3, pp. 580-587.

Lestari F, Saryantono B, Syazali M, Madiyo A, Durruljauhariyah, And Umam R. 2019.


Cooperative Learning Application with the Method of Network Tree Concept
Map: Based on Japanese Learning System Approach. Journal for the Education of
Gifted Young Scientists. 7(1) 15-32. e-ISSN: 2149- 360X. http://jegys.org.

Makarawung F, Anom I, and Lombok J. 2019. Pengaruh Metode Pembelajaran Mind


Mapping terhadap Hasil Belajar pada Pokok Bahasan Hukum-Hukum Dasar
Kimia Siswa Kelas X Semester Ganjil di SMA Negeri 2 Langowan. Kimia FMIPA
Universitas Negeri Manado. Minahasa. Oxygenius Vol. 1, No. 2: 107 – 111.

Munthe, B. 2009. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.

Oluk Turan N and Ekmekci G. 2018. The effect of concept maps, as an individual
learning tool, on the success of learning the concepts related to gravimetric
analysis. Chemistry Education Research and Practice. 19: 819-833.

Purba, Michael dan Sarwiyati, Eti. 2017. KIMIA 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta:
Erlangga

Romero C, Cazorla M and Buzón O, 2017. Meaningful Learning Using Consept Maps As
A Learning Strategy. Universidad Internacional de la Rioja (Spain). Colegio
ValdeSerra (Spain). Journal of technology and science education.

26
Sudjana N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.

Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Talbert L, Bonner J, Mortezaei K, Guregyan C, Henbest G and Eichler J. 2019. Revisiting


the use of concept maps in a large enrollment general chemistry course:
implementation and assessment. Chem. Educ. Res. Pract.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivistik.


Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Yunita L, Sofyan A and Agung S. 2014. Pemanfaatan Peta Konsep (Concept Mapping)
Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Konsep Senyawa Hidrokarbon.
EDUSAINS. Volume VI Nomor 01.

27