Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE


JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN KIMIA
DI SMA

Oleh :
YOSINA SOUHUWAT
17 506 016

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
TONDANO
2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dilakukan dengan

membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau kelompok kecil, yang terdiri dari 3-4 siswa.

Hal ini atas dasar untuk lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep yang

sulit, apabila siswa dapat mendiskusikan masalah yang ada bersama teman kelompoknya.

Selain itu model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif bagi siswa untuk

melakukan perbaikan pada proses pembelajaran melalui kerjasama antar teman sebaya untuk

menyelesaikan masalah (Syarifuddin, 2011).

Dalam proses pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat kurang

menarik, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memilik minat pada pelajaran kimia,

sehingga suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali siswa yang bertanya pada guru

meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Dalam pembelajaran seperti ini

mereka akan merasa seolah-olah dipaksa untuk belajar sehingga mereka merasa tertekan.

Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan, sikap masa bodoh sehingga

perhatian, minat, dan motivasi siswa serta hasil belajar dalam pembelajaran kimia menjadi

rendah. Hasil penelitian yang dilakukan Sunyono (2012), selama ini ternyata rendahnya hasil

belajar siswa tersebut disebabkan pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan permasalahan pembelajaran, akibat rendahnya rasa ingin tahu untuk bertanya

kepada guru dan kerjasama antara siswa saling bertanya dan menjelaskan satu dengan yang

lain.

2
Maka diperlukan suatu usaha untuk mengoptimalkan pembelajaran kimia di kelas dengan

menerapkan model dan metode yang tepat. Chu (2014), menyatakan bahwa metode

pembelajaran kooperatif terbukti menguntungkan dan berdampak positif terhadap hasil

kognitif dan afektif serta prestasi akademik siswa. Salah satu tipe model pembelajaran

kooperatif yaitu jigsaw. Mengduo & Xiaoling (2010), mengemukakan bahawa model

pembelajaran kooperative tipe jigsaw, dapat mengurangi keenganan siswa untuk dapat

berpartisipasi, dalam proses pembelajaran dan membantu menciptakan keaktifan siswa di

dalam kelas. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat memberikan siswa kesempatan

untuk melakukan sharing atau diskusi antar anggota kelompok, dengan cara membentuk

kelompok ahli. Model jigsaw ini juga bukan hanya menjadikan pembelajaran kimia

berlangsung dinamis tetapi juga menarik, karena adanya suatu variasi kelompok ahli dan

kelompok asal (Aswirna, 2012). Sejalan dengan hasil penelitian Sanova (2013) bahwa model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

dan keterkaitan siswa untuk memupuk kerjasama antar siswa yang memiliki latar belakang

heterogen seperti keadaan sosial, jenis kelamin, dan kemampuan akademik. Dengan

diterapkannya model pembelajaran Jigsaw pada proses pembelajaran kimia dapat

meningkatkan hasil belajar siswa agar nantinya siswa dapat meraih nilai yang lebih tinggi

dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Terhadap Hasil

Belajar Siswa Pada Pembelajaran Kimia Di SMA”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Siswa kurangnya minat belajar siswa pada pembelajaran kimia.

3
2. Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran.

3. Hasil belajar siswa masih rendah.

4. Siswa masih kurang memahami tentang materi kimia.

C. Pembatasan Masalah

Masalah yang dibatasi dalam penelitian ini adalah : pengaruh model pembelajaran

cooperatife learning tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran kimia di

SMA.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran cooperatife learning tipe jigsaw

terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran kimia?

E. Tujuan Penilitian

Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran cooperatife learning tipe jigsaw

terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran kimia di SMA.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa

Manfaat penelitian ini bagi siswa yang masih kurang aktif dalam proses pembelajaran,

sehingga dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw dapat

meningkatkan hasil belajar siswa.

4
2. Bagi Guru

Dengan hasil penelitian dapat memaksimalkan untuk penggunaan model pembelajaran

cooperative learning tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa.

3. Bagi Peneliti

Menambah wawasan serta pengalaman secara langsung dalam penelitian mengenai pengaruh

model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw

1. Pengertian Cooperative Learning Tipe Jigsaw

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya memaksimalkan belajar

siswa untuk meningkatkan akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara

kelompok serta saling membantu satu sama lain (Trianto, 2009:57). Menurut Johnson, model

pembelajaran cooperative learning merupakan salah satu pembelajaran yang mendukung

pembelajaran konstektual. Dan sistem pengajaran cooperative learning dapat didefinisikan

sebagai sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur dan cooperative learning adalah

suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam

bekerja yang teratur kelompok, yang terdiri dua orang atau lebih (Amri dan Ahmadi,

2010:90).

Pembelajaran cooperative yang berkembang yaitu model pembelajaran cooperative

Jigsaw. “Cooperative Jigsaw merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa aktif

dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang

maksimal” Aronson (Abidin, 2014). Metode jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran aktif

yang terdiri dari tim-tim belajar heterogen beranggotakan 4-5 orang (materi disajikan siswa

dalam bentuk teks) dan setiap peserta didik bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi

belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain.

Menurut (Majid, 2013) “Pembelajaran cooperative model jigsaw adalah sebuah model

belajar cooperative yang menitik beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk

kelompok kecil”. Menurut Lie (Majid, 2013) Pembelajaran cooperative model jigsaw

merupakan model belajar cooperative dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang

6
terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen, dan siswa bekerjasama saling

ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.

2. Sintaks Cooperative Learning Tipe Jigsaw

Sintaks cooperative learning tipe jigsaw Menurut Slavin (2014) dalam bentuk tabel :

Tahapan Tingkah Laku Guru


Tahap 1 Guru memberikan topik-topik materi kepada siswa, dan
Membaca siswa diminta utuk menemukan informasi dari materi-
materi tersebut.
Tahap 2 Guru membentuk kelompok-kelompok ahli, dimana siswa
Diskusi kelompok ahli dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikan
materi dalam kelompok ahli tersebut.
Tahap 3 Siswa yang berada dalam kelompok ahli kembali ke dalam
Laporan tim kelompok mereka masing-masing untuk mengajari materi-
materi mereka kepada teman satu timnya.
Tahap 4 Siswa mengerjakan kuis-kuis individual yang
Kuis mencangkup semua topik materi.
Tahap 5 Guru bersama siswa menghitung skor dalam kelompok
dan guru memberikan penghargaan kepada kelompok
Rekognisi Tim
yang memiliki skor tertinggi.
Tabel 1. Sintaks cooperative learning tipe jigsaw

3. Kelebihan dan Kelemahan Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw

Menurut Ibrahim (Majid, 2013) adapun kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran

cooperative learning tipe jigsaw adalah sebagai berikut:

Kelebihannya adalah :

1) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain,

2) Siswa dapat menguasai pelajaran yang di sampaikan.

3) Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya.

4) Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif.

5) Setiap siswa dapat mengisi satu sama lain.

Kelemahanya adalah :

7
1) Membutuhkan waktu yang lama,

2) Siswa yang pandai cenderung tidak mau disatukan dengan temannya yang kurang

pandai, dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila digabungkan dengan

temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan

sendirinya.

B. Hasil Belajar

Menurut Crow (Dalam Sagala, 2012: 13) mengemukakan belajar adalah upaya untuk

memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap. Belajar dikatakan berhasil

manakala sesorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, maka belajar

seperti ini disebut “Rote Learning” kemudian, jika yang telah dipelajari itu mampu

disampaikan dan diekspresikan dalam bahasa sendiri, maka disebut “Over Learning”.

Hasil belajar merupakan tingkat puncak dari proses pembelajaran, dimana hasil belajar

adalah bukti yang didapatkan dari proses belajar. Guru bertujuan agar bisa mengajarkan atau

mentransformasikan ilmu serta pengetahuannya ke pada murid dengan proses belajar

mengajar. Dengan harapan murid mendapatkan hasil pemahaman dari proses ini.

Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pembelajaran di sekolah.

Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis

mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar.

Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa di

kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut merupakan

hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar

di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar

merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 3).

Menurut (Sudjana, 2012: 22), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa

setelah menerima pengalaman belajar. Selanjutnya Warsito (dalam Depdiknas, 2012: 125)

8
mengemukakan bahwa hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku

ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Sehubungan dengan

pendapat itu, maka (Wahidmurni, dkk. 2013: 18) menjelaskan bahwa sesorang dapat

dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam

dirinya. Perubahanperubahan tersebut di antaranya dari segi kemampuan berpikirnya,

keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek.

Jika dikaji lebih mendalam, maka hasil belajar dapat tertuang dalam taksonomi Bloom,

yakni dikelompokkan dalam tiga ranah (domain) yaitu domain kognitif atau kemampuan

berpikir, domain afektif atau sikap, dan domain psikomotor atau keterampilan. Sehubungan

dengan itu, Gagne (dalam Sudjana, 2012: 22) mengembangkan kemampuan hasil belajar

menjadi lima macam antara lain: (1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar

terpenting dari sistem lingsikolastik; (2) strategi kognitif yaitu mengatur cara belajar dan

berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termaksuk kemampuan memecahkan masalah;

(3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas emosional dimiliki seseorang

sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang dan kejadian;

(4) informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta; dan (5) keterampilan

motorik yaitu kecakapan yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta memprestasikan

konsep dan lambang.

C. Senyawa Hidrokarbon Alifatik (Alkana, Allkena dan Alkuna)

Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari atom karbon (C) dan atom

hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang

berikatan. Karena senyawa hidrokarbon terdiri atas karbon dan hidrogen, maka salah satu

bagian dari ilmu kimia yang membahas segala sesuatu tentang senyawa hidrokarbon disebut

kimia karbon. Ilmu kimia karbon disebut kimia organik, karena senyawa-senyawanya

dianggap hanya dapat diperoleh dari tubuh makhluk hidup dan tidak dapat disintesis dalam

9
pabrik. Pendapat ini digugurkan setelah Wohler berhasil membuat senyawa karbon dari

senyawa anorganik. Lambat laun teori tentang arti hidup hilang dan orang hanya

menggunakan kimia organik sebagai nama saja tanpa disesuaikan dengan arti yang

sesungguhnya.

a. Hidrokarbon Alifatik

Merupakan senyawa hidrokarbon yang atom-atom karbonya terikat dengan membentuk rantai

terbuka, baik lurus atau bercabang. Contohnya sebagai berikut

1. Hidrokarbon Alifatik berikatan tunggal CH3 – CH2 – CH3 propana

2. Hidrokarbon Alifatik berikatan rangkap etena (rangkap dua) dan propuna (berikatan

rangkap tiga)

b. Hidrokarbon siklik

Merupakan senyawa hidrokarbon yang atom-atom karbonya terikat dengan membentuk rantai

tertutup. Hidrokarbon siklik terbagi menjadi dua jenis yaitu aromatik dan alisiklik.

1. Hidrokarbon Aromatik merupakan senyawa hidrokarbon yang memiliki sifat

aromatis, seperti benzena.

2. Hidrokarbon Alisiklik merupakan senyawa hidrokarbon yang atom-atom karbonya

terkait dengan membentuk rantai tertutup, tetapi tidak bersifat aromatis. Atom-atom

karbon pada hidrokarbon alisiklik berikatan tunggal atau rangkap. Contohnya sebagai

berikut:

10
Senyawa hidrokarbon terdiri dari senyawa hidrokarbon alifatik (rantai lurus) dan senyawa

hidrokarbon siklik. Senyawa Hidrokarbon alifatik terdiri dari senyawa hidrokarbon alkana

(CnH2n+2), alkena (CnH2n) dan alkuna (CnH2n-2).

a) Alkana

Alkana adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan jenuh, yaitu ikatan atom C-

nya tumggal. Alkana merupakan senyawa yang kurang reaktif dan kadang disebut parafin.

Kata parafin berasal dari parum afinis yang berarti daya tabung kecil.

Pada tabel diatas jumlah atom C dan H bertambah secara teratur dengan penambahan CH 2

seperti berikut:

CH4 + CH2 = C2H6

C2H6 + CH2 = C3H8

C3H8 + CH2 = C4H10

Deretan senyawa yang mengalami penambahan jumlah atom secara teratur seperti contoh

disebut deret homolog alkana. Berdasarkan deret homolog alakan tersebut, diperoleh

persamaan sebagai berikut:

1. Jika atom C = 1 maka atom H = 4

11
2. Jika atom C = 2 maka atom H = 6

3. Jika atom C = 3 maka atom H = 8

Jika atom C = n maka atom H = 2n + 2

Jadi rumus umum golongan alkana ialah CnH2n + 2

Contoh: molekul butana. Pertama-tama dibuat rangkanya yang terdiri dari 4 atom karbon

dan diletakkan berdampingan. Selanjutnya, atom-atom hidrogennya diletakkan pada masing-

masing atom karbonnya. Bentuk butana dalam ruang sesunggunhya adalah seperti yang

ditampilkan oleh Gambar berikut.

CH3 - CH2 - CH2 - CH3 atau CH3CH2CH2CH3 Butana

12
Pemberian nama isomer butana itu menggunakan aturan tata nama

yang diterbitkan IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry).

1. Rantai karbon berurutan yang terpanjang dalam suatu molekul ditentukan sebagai

rantai induk kemudian dicari namanya padasuku pertama sampai dengan suku

kesepuluh senyawa alkana dan diletakkan dibagian belakang.

2. Isomer bercabang diberi nama sebagai turunan rantai lurus dimana satu atau beberapa

atom hidrogen diganti dengan pecahan alkana(gugus alkil). Pecahan alkana ini disebut

gugus alkil,biasadiberi tanda -R (dari kata radikal), dan mempunyai rumus umum-

CnH2n+1. Nilai n adalah jumlah atom karbon yang ada pada senyawa tersebut dan

sedemikian hingga didapat suku-sukunya seperti terlihat pada tabel berikut

b) Alkena

Alkena adalah senyawa hidrokarbpn yang mempunyai ikatan tak jenuh, yaitu terdapat

ikatan anatar atom C rangkap dua. Dengan adanya ikatan rangkap dua, senyawa alkena masi

memungkinkan mengikat atom hidrogen dengan membuka ikatan rangkap dua tersebut.

Reaksi ini disebut reaksi hidrogenasi.

13
Ikatan rangkap dua masi memungkinkan untuk mengikat atom H sehingga disebut ikatan

tak jenuh. Golongan alkena termasuk golongan hidrokarbon tak jenuh.

Jumlah atom C dan H pada pertambahan secara teratur dengan penambahan CH2 sebagai

berikut:

C2H4 + CH2 = C3H6

C3H6 + CH2 = C4H8

C4H8 + CH2 = C5H10

Deretan senyawa alkena yang mengalami penambahan jumlah atom secara teratur seperti

contoh disebut deret homolog alkena. Berdasarkan deret homolog alkena, diperoleh

persamaan sebagai berikut:

Jika atom C = 2 maka atom H = 4

Jika atom C =3 maka atom H = 6

Jika atom C = 4 maka atom H = 8

Jika atom C = n maka atom H = 2n

Jadi, rumus umum alkena adalah CnH2n

 Tata nama Senyawa alkena

14
Prinsip dasar penamaan golongan alkena sama seoerti alkana, tetapi akhiran ana pada nama

alkana diganti dengan ena. Aturan penamaan senyawa alkena adalah sebagai berikut :

a. Rantai induk merupakan rantai yang terpanjang dan memiliki ikatan rangkap dua.

Nama alkena diberika sesuai dengan jumlah atom C pada rantai induk dan

menggunakan akhiran diberi ena.

b. Atom C pada ikatan rangkap diberi nomor serendah mungkin. Nomor atom C yang

memiliki ikatan rangakap dua dituliskan di awal nama alkena.

c. Apabila ikatan rangkap 2 berjumlah lebih dari satu, penamaannya sesuai dengan

banyaknya ikatan rangkap dua tersebut. Misalnya, alkena dengan dua ikatan rangakap

diberi rangkap 2 diberi akhiran diena seperti contoh berikut CH2 = CH – CH = CH 2

1,2 butadiena.

d. Ketentuan lain sama seperti penamaan alkena.

Berikut ini merupakan contoh alkena dan penamaannya

Penomoran atom C dimulai dari kiri supaya nomor atom C memiliki ikatan rangkap

bernomor lebih kecil. Jadi nama senyawa tersebut ialah 4,4-dimetil-2-pentena (bukan 2,2

dimetil 3 pentena)

Penulisan struktur alkena tersebut dapat diurai menjadi struktur berikut.

15
Penomoran atom C dimulai dari kanan ke kiri bawa. Jika metil dan etil memiliki alternatif

nomor yang sama, nomor etil harus lebih kecil dari metil karena etil memiliki lebih

banyak atom C. Nama senyawa tersebut adalah 4,5,6-trietil-3-metil-4-oktena.

c) Alkuna

Alkuna adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan tak jenuh, yaitu ikatan

antaratom C rangkap tiga. Dengan adanya ikatan rangkap tiga, senyawa alkuna masih

memungkinkan untuk mengikat atom hidrogen dengan membuka ikatan rangkap tiga

tersebut.

Ikatan rangkap tiga masih memungkinkan untuk mengikat atom H sehinga disebut

ikatan tak jenuh. Golongan alkuna termasuk golongan hidrokarbon tak jenuh.

16
Jumlah atom C dan H bertambah secara teratur dengan penambahan CH 2 sebagai

berikut :

C2H2 + CH2 = C3H4

C3H4 + CH2 = C4H6

C4H6 + CH2 = C5H8

Deretan senyawa alkuna yang mengalami penambahan jumlah atom seperti contoh

disebut deret homolog alkuna. Berdasarkan deret homolog alkuna, diperoleh persamaan

sebagai berikut.

Jika atom C = 2 maka atom H = 2

Jika atom C = 3 maka atom H = 4

Jika atom C = 4 maka atom H = 6

Jika atom C = n maka atom H = 2n-2

Jadi, rumus umum alkuna ialah CnH2n-2

C. Kerangka Berpikir

Masalah

Solusi

Harapan

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir

17
F. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh model pembelajaran

cooperatife learning tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa pada materi hidrokarbon .

18
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1) Tempat

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Tondano pada kelas XI MIPA 1 dan XI

MIPA 2.

2) Waktu

Pelaksanaan penelitian pada semester ganjl 2020/2021.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan ada dua yaitu penelitian kuantitatif. Penelitian

kuantitatif untuk melihat pengaruh model pembelajaran cooperatife learning tipe jigsaw

terhadap hasil belajar siswa pada materi hidrokarbon dengan menggunakan analisis uji-t.

Penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan seluruh subjek dalam kelompok belajar

(intact group) untuk diberi perlakuan (treatment) dan bukan menggunakan subjek yang

diambil secara acak.

C. Devenisi Operasional Variabel

Pada penelitian ini terdapat variabel yaitu :

1. Variabel Independen (Variabel bebas), yang dilambangkan dengan huruf “X” dimana

model pembelajaran cooperatife learning tipe jigsaw merupakan model pembelajaran

dimana siswa dibagi menjadi kelompok asal dan kelopok ahli.

2. Variabel Dependen “Y” (Variabel terikat), yaitu hasil belajar pada materi senyawa

hidrokarbon.

19
D. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas XI MIPA yang

ada di SMA Negeri 2 Tondano yaitu kelas XI MIPA 1 dan kelas XI MIPA 2. Cara

pengambilan sampel untuk menentukan yang menjadi kelas eksperiman dan kelas kontrol

diambil secara acak (Random). Siswa kelas XI MIPA 1 yang berjumlah 20 orang sebagai

kelas eksperimen yaitu kelas yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran

cooperatife learning tipe jigsaw dan siswa kelas XI MIPA 2 yang berjumlah 20 orang sebagai

kelas kontrol yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran konvensional.

E. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen dengan menggunakan

Desain Penelitian Non equivalent control group design (Sugiyono, 2015).

Tabel 2. Rancangan Penelitian

O1 X O2

O3 Y O4
Keterangan :
O1 : Pretest untuk kelas eksperimen
O3 : Pretest untuk kelas kontrol
O2 : Posttest untuk kelas eksperimen
O4 : Posttest untuk kelas kontrol
X : Penggunaan model pembelajaran cooperatife learning tipe jigsaw
Y : Penggunaan model konvensional

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Tes dalam hal ini pretest dan

posttest pada siswa yang melakukan proses belajar untuk mengetahui hasil belajar siswa.

20
G. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan beberapa tahap yang meliputi: Uji Normalitas, Uji

Homogenitas, dan dilanjutkan dengan pengujian hipotesis.

1. Uji Prasyarat Analisis Data

a. Uji Normalitas

Uji normalitas, bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan awal kedua kelas

berdistribusi normal atau tidak. Untuk uji normalitas akan dilakukan sebelum diberikan

materi pembelajaran. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan cara manual.

Langkah-langkah pengujian :

 Urutkan data dari kecil sampai yang besar

 Hitunglah rata-rata nilai skor secara keseluruhan.

 Hitung standar deviasi nilai skor sampel menggunakan standar deviasi tunggal,

2
dengan rumus SD=
√ ∑ fx
N

x−x́
 Hitung Zi dengan rumus Zi =
Sd

 Tentukan nilai tabel Z (lihat tabel Z) berdasarkan nilai Zi, dengan mengabaikan

nilai negatifnya. Kemudian langkah selanjutnya adalah melihat tabel pada kolom

Z dengan mengambil satu angka dibelakang koma dan melihat angka kedua

setelah koma untuk menentukan kolom mana yang harus dipilih.

21
 Tentukan besar peluang masing-masing nilai Z berdasarkan tabel Z tuliskan

dengan simbol F(Zi). Yaitu dengan cara nilai 0,5- nilai tabel Z apabila nilai Zi

negatif (-), dan 0,5+ nilai tabel Z apabila nilai Zi positif (+).

 Hitung frekuensi kumulatif nyata dari masing-masing nilai Z untuk setiap baris,

dan sebut dengan S(Zi) kemudian dibagi dengan jumlah number of cases (N)

fk
sample. S(Zi) dapat dicari dengan: S ( Zi )=
N

 Tentukan nilai L hitung = F(Zi)-S(Zi) dan bandingkan dengan nilai L tabel (tabel

nilai kritis untuk uji liliefors). Cara mencari F(Zi)-S(Zi) dengan rumus = F(Zi)-

S(Zi)

 Apabila Lo (hitung) < L tabel maka sampel berasal dari populasi yang

berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas

Setelah melakukan uji normalitas, kemudian data yang sama digunakan kembali untuk

homogenitas data. Uji homogenitas berfungsi untuk mengetahui apakah kedua kelompok

populasi itu homogen atau heterogen. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan distribusi F. Varians dari populasi homogen apabila, Fhitung lebih kecil dari Ftabel.

Apakah Fhitung lebih besar dari Ftabel, maka varians dari populasi itu adalah heterogen.

Langkah-langkah pengujian :

1) Hipotesis Statistik yang hendak diuji pada kedua kelompok adalah :

H 0 :σ 21=σ 22 (Homogen)

H 1 : σ 21 ≠ σ 22 (Tidak Homogen)

2) Taraf Nyata : α =0,05

3) Wilayah kritik :

22
Tolak H 0 jika f hitung < f 1 α (n −1 ,n −1) atau f hitung > f α
1 2
2 2

4) Mencari Fhitung dari varians X dan Y, dengan rumus :


2
Varians Terbesar S 1 2 2
F hitung = = 2 , bila S 1> S 2
Varians Terkecil S 2

5) Membandingkan Fhitung dengan Ftabel pada tabel distribusi F.

2. Uji Hipotesis

Setelah normalitas dan homogenitas, maka untuk menguji data yang diperoleh

digunakan rumus uji-t

Tahapan pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :

1) Kriteria Pengujian

Ho : µ1 = µ2

H1 : µ1 ≠ µ2

2) Taraf nyata : 5% = 0,05

3) Wilayah Kritis : t hitung > t tabel

4) Statistik Uji :

X́ 1− X́ 2
t=
1 1
S
√ +
N1 N2

Dengan varians sampel :

2( n1 −1 ) S 21+ ( n2−1 ) S22


S=
( n1+ n2−2 )

(Sugiyono, 2010)

Keterangan:
X́ 1 : Rata-rata selisih skor pretest dan posttes kelas eksperimen

23
X́ 2 : Rata-rata selisih skor pretest dan posttes kelas kontrol
n1 : Jumlah siswa kelas eksperimen
n2 : Jumlah siswa kelas kontrol
S2 : Varians gabungan
S21 : Varians dari kelas eksperimen

S22 : Varians dari kelas kontrol

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, dkk. Lifv dan Amiri Sofyan, 2011, mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu.
Jakarta: PT.Perestasi Pustaka Karya

Aswirna, P. (2012). Peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran kimia dengan
penerapan cooperative learning model jigsaw pada kelas X IPA3 di SMA Negeri 1
Padang. Jurnal Al-Ta’lim, 19(2), 158-165.

Budiawan, M., & Arsani, A. (2013). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar ilmu fisiologi olahraga. Jurnal
Pendidikan Indonesia, 2(1), 138-144.

Chu, S.-Y. (2014). Application of the jigsaw cooperative learning method in economics
course. International Journal of Managerial Studies and Research (IJMSR), 2(10), 166-
172.

Hertiavi, M. A., Langlang, H., & Khanafiyah, S. (2010). Penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw untuk peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 6(1), 53-57

Isjoni, 2010.CooperativeLearning Bandung Alfabetab

Sudjana, N. (2002). Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sanova, A. (2013). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Student


TeamAchievement Divisions (STAD) Ditinjau dari Kecerdasan Interpersonal Siswa.
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora, 15(2): 21-30.

24
Sunyono. (2012). Identifikasi Masalah Kesulitan dalam Pembelajaran Kimia SMA Kelas X di
Propinsi Lampung. Journal Pendidikan, Jurusan PMIPA, FKIP,UNILA. Diakses dari
http://sunyonoms.files.wordpress.com/.../ artikel_pmipa.

Syarifuddin, A. (2011). Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Dalam


Pembelajaran, Ta’dib, 16(02), 209–226.

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruksvitis, (Jakarta: Prestasi


Pustaka, 2007), hlm. 81

25

Anda mungkin juga menyukai