Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN KISTA OVARIUM

DI SUSUN OLEH

DEWA AYU PUTRI WEDA DEWANTI


(P07120320040)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KELAS B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN KISTA OVARIUM

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik
maupun solid, jinak maupun ganas (Wiknjosastro, 2007: 346). Kista ovarium
(kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil,
yang terletak di indung telur (ovarium) (Nugroho, 2010: 101)
Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi
cairan,normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).
Kistaindung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas
sampaimenopause, juga selama masa kehamilan (Bilotta. K, 2012).
Kista indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di
dalam jaringan ovarium. Kista ini disebut juga kista fungsional karena
terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi (Yatim, 2005: 17)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
kista ovarium adalah suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik maupun
solid, jinak maupun ganas yang dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas
sampaimenopause, juga selama masa kehamilan.
2. KLASIFIKASI
Menurut Nugroho (2010), klasifikasi kista ovarium adalah :
a. Tipe Kista Normal
Kista fungsional ini merupakan jenis kista ovarium yang paling
banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum,
terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal.
Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada
masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi
oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler
dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional terdiri dari: kista
folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak
menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6 – 8
minggu.
b. Tipe Kista Abnormal
1) Kistadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur.
Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat
menimbulkan nyeri.
2) Kista coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista
coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.
3) Kista dermoid
Merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit,
kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua
bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan
gejala.
4) Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang
berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan
tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan
nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.
5) Kista hemorhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga
menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.
6) Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Kista lutein yang
sesungguhnya, umumnya berasal dari korpus luteum haematoma.
7) Kista polikistik ovarium
Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan
melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan.
Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Kista
polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan
untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan
dan rasa sakit.
3. ETIOLOGI
Menurut Nugroho (2010: 101), kista ovarium disebabkan oleh
gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium
(ketidakseimbangan hormon). Kista folikuler dapat timbul akibat hipersekresi
dari FSH dan LH yang gagal mengalami involusi atau mereabsorbsi cairan.
Kista granulosa lutein yang terjadi didalam korpus luteum indung telur yang
fungsional dan dapat membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi.
Kista theka-lutein biasanya bersifay bilateral dan berisi cairan bening,
berwarna seperti jerami. Penyebab lain adalah adanya pertumbuhan sel yang
tidak terkendali di ovarium, misalnya pertumbuah abnormal dari folikel
ovarium, korpus luteum, sel telur.
4. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis Kista Ovarium Menurut Nugroho (2010: 104),
kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala sampai
periode tertentu. Namun beberapa orang dapat mengalami gejala ini :
a. Nyeri saat menstruasi.
b. Nyeri di perut bagian bawah.
c. Nyeri saat berhubungan seksual.
d. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
e. Terkadang disertai nyeri saat berkemih atau BAB.
f. Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.
5. PATOFISIOLOGI
Fungsi ovarium yang abnormal dapat menyebabkan penimbunan
folikel yang terbentuk secara tidak sempurna didalam ovarium. Folikel
tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur,
terbentuk secara tidak sempurna didalam ovarium karena itu terbentuk kista
di dalam ovarium. Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa
kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pertengahan siklus, folikel dominan
dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel
yang ruptur akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki
struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah- tengah. Bila tidak terjadi
fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan
secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan
membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan. Kista
ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional
dan selalu jinak (Nugroho, 2010).
6. PATHWAY
Ketidakseimbangan hormon
Degenerasi ovarium Infeksi ovarium
FSH dan LH

Cistoma Ovari Histeroktomi

Kurang informasi Pembesaran Ovarium Coverektomi, kistektomi

MK: Defisit Pengetahuan Menahan organ sekitar

MK: Ansietas Tekanan syaraf sel tumor

Komplikasi peritonitis MK: Nyeri Akut/Kronis

Peritonitis Imobilisasi Luka Operasi

Peristaltic usus menurun Diskontinuitas Jaringan

MK: Risiko Konstipasi

Port D’entry

MK: Nyeri Akut MK: Resiko Infeksi


7. KOMPLIKASI
Menurut Wiknjosastro (2007: 347-349), komplikasi yang dapat terjadi
pada kista ovarium diantaranya:
a. Akibat pertumbuhan kista ovarium
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembesaran perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan
oleh besarnya tumor atau posisinya dalam perut. Apabila tumor mendesak
kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan miksi, sedangkan kista
yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang
hanya menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat juga
mengakibatkan edema pada tungkai.
b. Akibat aktivitas hormonal kista ovarium
Tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika tumor itu sendiri
mengeluarkan hormon.
c. Akibat komplikasi kista ovarium
1) Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur
menyebabkan kista membesar, pembesaran luka dan hanya
menimbulkan gejala-gejala klinik yang minimal. Akan tetapi jika
perdarahan terjadi dalam jumah yang banyak akan terjadi distensi
yang cepat dari kista yang menimbukan nyeri di perut.
2) Torsio atau putaran tangkai
Torsio atau putaran tangkai terjadi pada tumor bertangkai dengan
diameter 5 cm atau lebih. Torsi meliputi ovarium, tuba fallopi atau
ligamentum rotundum pada uterus. Jika dipertahankan torsi ini dapat
berkembang menjadi infark, peritonitis dan kematian. Torsi biasanya
unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma, TOA, massa yang
tidak melekat atau yang dapat muncul pada ovarium normal. Torsi ini
paling sering muncul pada wanita usia reproduksi. Gejalanya meliputi
nyeri mendadak dan hebat di kuadran abdomen bawah, mual dan
muntah. Dapat terjadi demam dan leukositosis. Laparoskopi adalah
terapi pilihan, adneksa dilepaskan (detorsi), viabilitasnya dikaji,
adneksa gangren dibuang, setiap kista dibuang dan dievaluasi secara
histologis.
3) Infeksi pada tumor
Jika terjadi di dekat tumor ada sumber kuman patogen.
4) Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat
trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada
saat bersetubuh. Jika robekan kista disertai hemoragi yang timbul
secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung ke uterus ke dalam
rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai
tanda-tanda abdomen akut.
5) Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis
yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasannya.
Adanya asites dalam hal ini mencurigakan. Massa kista ovarium
berkembang setelah masa menopause sehingga besar kemungkinan
untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah yang
menyebabkan pemeriksaan pelvik menjadi penting.
8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat
diperolehkepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang
cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat
membantudalam pembuatan differensial diagnosis. Beberapa cara yang
dapatdigunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah (Bilotta, 2012
:1)
a. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuahtumor
berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor
itu.
b. Ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor,apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing,apakah tumor
kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairandalam rongga perut
yang bebas dan yang tidak.
c. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya
hidrotoraks.Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat
adanyagigi dalam tumor.
d. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perludiperhatikan
bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi
kista bila dinding kista tertusuk.
9. PENATALAKSANAAN
a. Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor
(dipantau) selama 1 -2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang
dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil
jika tidak curiga ganas (kanker) (Nugroho, 2010: 105).
b. Terapi bedah atau operasi
Bila tumor ovarium disertai gejala akut misalnya torsi, maka
tindakan operasi harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada 22
gejala akut, tindakan operasi harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan
seksama.
Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan biasanya
memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita menopause yang
memiliki kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk
meminimalisir resiko terjadinya kanker ovarium. Wanita usia 50-70 tahun
memiliki resiko cukup besar terkena kenker jenis ini. Bila hanya kistanya
yang diangkat, maka operasi ini disebut ovarian cystectomy. Bila
pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi, maka
disebut salpingo oophorectomy.
Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan, antara lain
tergantung pada usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak, kondisi
ovarium dan jenis kista. Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang
ovarium terlilit (twisted) dan menghentikan pasokan darah ke ovarium,
memerlukan tindakan darurat pembedahan (emergency surgery) untuk
mengembalikan posisi ovarium menurut Yatim, (2005: 23). Prinsip
pengobatan kista dengan pembedahan (operasi) menurut Yatim, (2005: 23)
yaitu:
a. Apabila kistanya kecil (misalnya, sebesar permen) dan pada
pemeriksaan sonogram tidak terlihat tanda-tanda proses keganasan,
biasanya dokter melakukan operasi dengan laparoskopi. Dengan cara
ini, alat laparoskopi dimasukkan ke dalam rongga panggul 23 dengan
melakukan sayatan kecil pada dinding perut, yaitu sayatan searah
dengan garis rambut kemaluan.
b. Apabila kistanya besar, biasanya pengangkatan kista dilakukan dengan
laparatomi. Teknik ini dilakukan dengan pembiusan total. Dengan cara
laparotomi, kista bisa diperiksa apakah sudah mengalami proses
keganasan (kanker) atau tidak. Bila sudah dalam proses keganasan,
operasi sekalian mengangkat ovarium dan saluran tuba, jaringan lemak
sekitar serta kelenjar limfe.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Data subyektif
1) Identitas pasien
a) Nama : Dikaji untuk mengenal atau memanggil agar tidak
keliru dengan pasien-pasien lain.
b) Umur : Untuk mengetahui apakah pasien masih dalam masa
reproduksi.
c) Agama : Untuk mengetahui pandangan agama klien
mengenai gangguan reproduksi.
d) Pendidikan : Dikaji untuk mengetahui sejauh mana tingkat
intelektualnya sehingga bidan dapat memberikan konseling
sesuai dengan pendidikannya.
e) Suku/bangsa : Dikaji untuk mengetahui adat istiadat atau
kebiasaan sehari-hari pasien.
f) Pekerjaan : Dikaji untuk mengetahui dan mengukur tingkat
sosial ekonominya.
g) Alamat : Dikaji untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.
2) Alasan Kunjungan Alasan apa yang mendasari ibu datang.
Tuliskan sesuai uangkapan.
a) Keluhan Utama
Dikaji dengan benar-benar apa yang dirasakan ibu untuk
mengetahui permasalahan utama yang dihadapi ibu mengenai
kesehatan reproduksi.
b) Riwayat Kesehatan
(1) Riwayat kesehatan yang lalu
Dikaji untuk mengetahui penyakit yang dulu pernah diderita
yang dapat mempengaruhi dan memperparah penyakit yang
saat ini diderita.
(2) Riwayat kesehatan sekarang
Data ini dikaji untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang berhubungan
dengan gangguan reproduksi terutama kista ovarium.
(3) Riwayat kesehatan keluarga
Data ini dikaji untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gaangguan kesehatan
pasien.
c) Riwayat Perkawinan
Untuk mengetahui status perkawinan, berapa kali menikah, syah
atau tidak, umur berapa menikah dan lama pernikahan.
d) Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui tentang menarche umur berapa, siklus, lama
menstruasi, banyak menstruasi, sifat dan warna darah,
disminorhoe atau tidak dan flour albus atau tidak. Dikaji untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan system reproduksi sehubungan
dengan menstruasi.
e) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Bertujuan untuk mengetahui apabila terdapat penyulit, maka
bidan harus menggali lebih spesifik untuk memastikan bahwa apa
yang terjadi pada ibu adalah normal atau patologis.
f) Riwayat KB
Dikaji untuk mengetahui alat kontrasepsi yang pernah dan saat ini
digunakan ibu yang kemungkinan menjadi penyebab atau
berpengaruh pada penyakit yang diderita saat ini.
g) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
(1) Nutrisi
Dikaji tentang kebiasaan makan, apakah ibu suka memakan
makanan yang masih mentah dan apakah ibu suka minum
minuman beralkohol karena dapat merangsang pertumbuhan
tumor dalam tubuh.
(2) Eliminasi
Dikaji untuk mengetahui pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan
bau serta kebiasaan air kecil meliputi frekuensi, warna,
jumlah.
(3) Hubungan seksul
Dikaji pengaruh gangguan kesehatan reproduksi tersebut
apakah menimbulkan keluhan pada hubungan seksual atau
sebaliknya.
(4) Istirahat
Dikaji untuk mengetahui apakah klien beristirahat yang cukup
atau tidak.
(5) Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga
kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia.
(6) Aktivitas
Dikaji untuk menggambarkan pola aktivitas pasien sehari
hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap
kesehatannya.
b. Data Objektif
Seorang perawat harus mengumpulkan data untuk memastikan bahwa
keadaan klien dalam keadaan stabil. Yang termasuk dalam komponen-
komponen pengkajian data obyektif ini adalah:
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum
Dikaji untuk menilai keadaan umum pasien baik atau tidak.
b) Kesadaran
Dikaji untuk menilai kesadaran pasien.
c) Vital sign
Dikaji untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi
yang dialaminya, meliputi : Tekanan darah, temperatur/ suhu,
nadi serta pernafasan
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
a) Kepala : Dikaji untuk mengetahui bentuk kepala, keadaan
rambut rontok atau tidak, kebersihan kulit kepala.
b) Muka : Dikaji untuk mengetahui keadaan muka oedem atau
tidak, pucat atau tidak.
c) Mata : Dikaji untuk mengetahui keadaan mata sklera
ikterik atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak.
d) Hidung : Dikaji untuk mengetahui keadaan hidung simetris
atau tidak, bersih atau tidak, ada infeksi atau tidak.
e) Telinga : Dikaji untuk mengetahui apakah ada penumpukan
sekret atau tidak.
f) Mulut : Dikaji untuk mengetahui apakah bibir pecah-pecah
atau tidak, stomatitis atau tidak, gigi berlubang atau tidak.
g) Leher : Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar tiroid, limfe, vena jugularis atau tidak.
h) Ketiak : Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar limfe atau tidak.
i) Dada : Dikaji untuk mengetahui apakah simetris atau tidak,
ada benjolan atau tidak.
j) Abdomen : Dikaji untuk mengetahui luka bekas operasi dan
pembesaran perut.
k) Ekstermitas atas : Dikaji untuk mengetahui keadaan turgor
baik atau tidak, ikterik atau tidak, sianosis atau tidak.
l) Ekstermitas bawah : Dikaji untuk mengetahui keadaan turgor
baik atau tidak, sianosis atau tidak, oedem atau tidak, reflek
patella positif atau tidak.
m) Genitalia : Untuk mengetahui apakah ada kelainan, abses
ataupun pengeluaran yang tidak normal.
n) Anus : Dikaji untuk mengetahui apakah ada hemorrhoid
atau tidak.
3) Pemeriksaan khusus
a) Inspeksi
Inspeksi adalah proses pengamatan dilakukan untuk melihat
keadaan muka, payudara, abdomen dan genetalia.
b) Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan indera peraba atau tangan,
digunakan untuk memeriksa payudara dan abdomen.
4) Pemeriksaan Penunjang
Mendukung diagnosa medis, kemungkinan komplikasi, kelainan dan
penyakit.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre-operasi
a. Nyeri akut
b. Nyeri kronis
c. Deficit pengetahuan
d. Ansietas
Post-operasi
a. Nyeri akut
b. Risiko infeksi
c. Risiko konstipasi

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Pre-operasi
Tujuan dan Kriteria
No. Diagnosa Keperawatan Intervensi Keperawatan
Hasil
1. Nyeri Akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri
Definisi: tindakan keperawatan Observasi
Pengalaman sensorik atau selama .... X .... jam  Identifikasi lokasi, karakteristik,
emosional yang berkaitan diharapkan Tingkat durasi, frekuensi, kualitas ,
dengan kerusakan jarigan actual Nyeri Menurun intensitas nyeri
atau fungsional, dengan onset dengan kriteria hasil :  Identifikasi skala nyeri
mendadak atau lambat dan  Keluhan nyeri (5)  Identifikasi respons nyeri non
berintensitas ringan hingga berat  Meringis (5) verbal
yang berlangsung kurang dari 3  Sikap protektif (5)  Identifikasi faktor yang
bulan.  Gelisah (5) memperberat nyeri dan
Penyebab:  Kesulitan tidur (5) memperingan nyeri
 Agen pencedera fisiologis  Menarik diri (5)  Identifikasi pengetahuan dan
(mis. Inflamai,iskemia,  Berfokus pada diri keyakinan tentang nyeri
neoplasma sendiri (5)  Identifikasi pengaruh budaya
 Agen pencedera kimiawi  Diaforesis (5) terhadap respon nyeri
(mis. Terbakar, bahan kimia  Perasaan depresi  Identifikasi pengaruh nyeri pada

iritan) (tertekan) (5) kualitas hidup


 Agen pencedera fisik (mis.  Perasan takut  Monitor keberhasilan terapi
Abses, amputasi, terbakar, mengalami cedera komplementer yan sudah diberikan
terpotong, mengangkat berat, berulang (5)  Monitor efek samping penggunaan
prosedur operasi, trauma,  Anoreksia (5) analgetik
latihan fisik berlebih)  Perineum terasa Terapeutik
tertekan (5)  Berikan teknik nonfarmakologis
Gejala dan Tanda Mayor
 Uterus teraba untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
Subjektif
membulat (5) TENS, hypnosis, akupresur, terapi
 Mengeluh nyeri  Ketegangan otot music, biofeedback, terapi pijat,
Objektif (5) aromaterapi, teknik imajinasi
 Tampak meringis  Pupil dilatasi (5) terbimbing, kompres
 Bersikap protektif (mis.  Muntah (5) hangat/dingin, terapi bermain)
Waspada, posisi menghindari  Mual (5)  Kontrol lingkungan yang
nyeri)  Frekuensi nadi (5) memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
 Gelisah
 Pola napas (5) ruangan, pencahayaan, kebisingan)
 Frekuensi nadi meningkat
 Tekanan darah (5)  Fasilitas istirahat dan tidur
 Sulit tidur
 Proses berpikir (5)  Pertimbangkan jenis dan sumber

Gejala dan Tanda Minor  Fokus (5) nyeri dalam pemilihan strategi

Subjektif  Fungsi kemih (5) meredakan nyeri

-  Perilaku (5) Edukasi

Objektif  Nafsu makan (5)  Jelaskan penyebab, periode, dan

 Tekanan darah meningkat  Pola tidur (5) pemicu

 Pola napas berubah Kontrol Nyeri  Jelaskan strategi meredakan nyeri

 Nafsu makan berubah Meningkat dengan  Anjurkan memonitor nyeri secara


 Proses berpikir terganggu kriteria hasil : mandiri
 Menarik diri  Melaporkan nyeri  Anjurkan menggunakan analgetik
 Berfokus pada diri sendiri terkontrol (5) secara tepat
 Diaforesis  Kemampuan  Ajarkan teknik nonfarmakologis
mengenali onset untuk mengurangi rasa nyeri
Kondisi klinis terkait nyeri (5) Kolaborasi
 Kondisi pembedahan  Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
 Cedera traumatis  Kemampuan
 Infeksi mengenali Pemberian Analgesik
 Sindrom koroner akut penyebab nyeri (5) Observasi

 Glaukoma  Kemampuan  Identifikasi karakteristik nyeri


menggunakan (mis. Pencetus, pereda, kualitas,
teknik non- lokasi, intensitas, frekuensi,
farmakologis (5) durasi)

 Dukungan orang  Identifikasi riwayat alergi obat

terdekat (5)  Identifikasi kesesuaian jenis

 Keluhan nyeri (5) analgesic (mis. Narkotika, non

 Penggunaan narkotika, atau NSAID) dengan

analgesic (5) tingkat keparahan nyeri


 Monitor tanda tanda vital sebelum
dan sesudah pemberian analgesik
 Monitor efektifitas analgesik
Terapeutik
 Diskusikan jenis analgesic yang
disukai untuk mencapai analgesia
optimal, jika perlu
 Pertimbangkan penggunaan infus
kontinu, atau bolus opioid untuk
mempertahankan kadar dalam
serum
 Tetapkan target efektifitas
analgesik untuk mengoptimalkan
respon pasien
 Dokumentasikan respons
terhadap efek analgesik dan efek
yang tidak diinginkan
Edukasi
 Jelaskan efek terapu dan efek
samping obat
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian dosis dan
jenis analgesik, sesuai indikasi
2. Nyeri Kronis Setelah dilakukan Manajemen Nyeri
Definisi: tindakan keperawatan Observasi
Pengalaman sensori atau selama .... X .... jam  Identifikasi lokasi,
emosional yang berkaitan diharapkan Tingkat karakteristik, durasi,
dengan kerusakan jaringan Nyeri Menurun frekuensi, kualitas , intensitas
actual atau fungsional, dengan dengan kriteria hasil : nyeri
onset mendadak atau lambat dan  Keluhan nyeri  Identifikasi skala nyeri
berintensitas ringan hingga berat (5)  Identifikasi respons nyeri non
dan konstan, yang berlangsung  Meringis (5) verbal
lebih dari 3 bulan.  Sikap protektif  Identifikasi faktor yang
Penyebab : (5) memperberat nyeri dan
 Kondisi musculoskeletal  Gelisah (5) memperingan nyeri
kronis  Kesulitan tidur  Identifikasi pengetahuan dan
 Kerusakan sistem saraf (5) keyakinan tentang nyeri
 Penekanan saraf  Menarik diri (5)  Identifikasi pengaruh budaya

 Infiltrasi tumor  Berfokus pada terhadap respon nyeri

 Ketidakseimbangan diri sendiri (5)  Identifikasi pengaruh nyeri

neurotrasmiter,  Diaforesis (5) pada kualitas hidup

neuromodulator, dan  Perasaan  Monitor keberhasilan terapi

reseptor. depresi komplementer yan sudah

 Gangguan imunitas ( (tertekan) (5) diberikan

mis. Neuropati terkait  Perasan takut  Monitor efek samping

HIV, virus varicella- mengalami penggunaan analgetik

zoster) cedera berulang Terapeutik


(5)  Berikan teknik
 Gangguan fungsi
 Anoreksia (5) nonfarmakologis untuk
metabolic
 Perineum terasa mengurangi rasa nyeri (mis.
 Riwayat posisi kerja
tertekan (5) TENS, hypnosis, akupresur,
statis
terapi music, biofeedback,
 Peningkatan indeks  Uterus teraba terapi pijat, aromaterapi,
massa tubuh membulat (5) teknik imajinasi terbimbing,
 Kondisi pasca trauma  Ketegangan otot kompres hangat/dingin, terapi
 Tekanan emosional (5) bermain)

 Riwayat penganiayaan  Pupil dilatasi (5)  Kontrol lingkungan yang


(mis. Fisik, psikososial,  Muntah (5) memperberat rasa nyeri (mis.
seksual)  Mual (5) Suhu ruangan, pencahayaan,

 Riwayat  Frekuensi nadi kebisingan)

penyalahgunaan obat/zat (5)  Fasilitas istirahat dan tidur


Gejala Dan Tanda Mayor  Pola napas (5)  Pertimbangkan jenis dan
Subyektif :  Tekanan darah sumber nyeri dalam pemilihan
 Mengeluh nyeri (5) strategi meredakan nyeri

 Merasa depresi  Proses berpikir Edukasi

(Tertekan) (5)  Jelaskan penyebab, periode,


Objektif :  Fokus (5) dan pemicu

 Tampak meringis  Fungsi kemih  Jelaskan strategi meredakan

 Gelisah (5) nyeri

 Tidak mampu  Perilaku (5)  Anjurkan memonitor nyeri

menuntaskan aktivitas  Nafsu makan (5) secara mandiri

Gejala Dan Tanda Minor  Pola tidur (5)  Anjurkan menggunakan


Sunjektif: Kontrol Nyeri analgetik secara tepat

 Merasa takut mengalami Meningkat dengan  Ajarkan teknik


cedera berrulang kriteria hasil : nonfarmakologis untuk
Objektif :  Melaporkan mengurangi rasa nyeri

 Bersikap protektif (mis. nyeri terkontrol Kolaborasi

Posisi menghindari (5)  Kolaborasi pemberian

nyeri)  Kemampuan analgetik, jika perlu

 Waspada mengenali onset

 Pola tidur berubah nyeri (5)

 Anoreksia  Kemampuan

 Fokus menyempit mengenali


 Berfokus pada diri penyebab nyeri
sendiri (5)
Kondisi Klinis Terkait  Kemampuan
 Kondisi kronis (mis. menggunakan
Arthritis rheumatoid) teknik non-
 Infeksi farmakologis
 Cedera medula spinalis (5)

 Kondisi pasca trauma  Dukungan

 Tumor orang terdekat


(5)
 Keluhan nyeri
(5)
 Penggunaan
analgesic (5)
3. Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan Promosi Perilaku Upaya
Definisi: intervensi selama ...... Kesehatan
Ketiadaan atau kurangnya x......., diharapkan Observasi
informasi kognitif yang tingkat pengetahuan  Identifikasi perilaku upaya
berkaitan dengan topik tertentu membaik dengan kesehatan yang dapat ditingkatkan
Penyebab: kriteria hasil : Terapeutik
 Keterbatasan kognitif  Perilaku sesuai  Berikan lingkungan yang
 Gangguan fungsi kognitif anjuran meningkat mendukung kesehatan
 Kekeliruan mengikuti (5)  Orientasi pelayanan kesehatan
anjuran  Verbalisasi minat yang dapat dimanfaatkan
 Kurang terpapar informasi dalam belajar Edukasi
 Kurang minat dalam meningkat (5)  Anjurkan persalinan ditolong oleh
belajar  Kemampuan tenaga kesehatan
 Kurang mampu mengingat menjelaskan  Anjurkan memberi bayi ASI
 Ketidaktahuan menemukan pengetahuan Eksklusif
sumber informasi tentang suatu topik  Anjurkan menimbang balita setiap
Gejala dan Tanda Mayor: meningkat (5) bulan
Subjektif  Kemampuan  Anjurkan menggunakan air bersih
 Menanyakan masalah yang menggambarkan  Anjurkan mencuci tangan dengan
dihadapi kemampuan air bersih dan sabun
Objektif sebelumnya yang  Anjurkan menggunakan jamban
 Menunjukkan prilaku tidak sesuai dengan sehat
sesuai anjuran topik (5)  Anjurkan Memberantas jentik
 Menunjukkan persepsi yang  Perilaku sesuai dirumah seminggu sekali
keliru terhadap masalah dengan  Anjurkan makan sayur dan buah
Gejala dan Tanda Minor pengetahuan (5) setiap hari
Objektif  Pertanyaan tentang  Anjurkan melakukan aktivitas
Tidak tersedia masalah yang fisik
Subjektif dihadapi menurun  Anjurkan tidak merokok didalam
 Menjalani pemeriksaan yang (5) rumah
tidak tepat  Persepsi yang
 Menunjukkan perilaku keliru terhadap Pengembangan Kesehatan
berlebihan (mis. apatis, masalah menurun Masyarakat
bermusuhan, agitasi, histeria) (5) Observasi
Kondisi Klinis Terkait  Menjalani  Identifikasi masala atau isu
 Kondisi klinis yang baru pemeriksaan yang kesehatan dan prioritasnya
dihadapi oleh klien tidak tepat (5)  Identifikasi potensi atau aset
 Penyakit akut  Perilaku membaik dalam masyarakat terkait isu yang
 Penyakit kronis (5) dihadapi
 Identifikasi kekuatan dan partner
dalam pengembangan kesehatan
 Identifikasi pemimpin/tokoh
dalam masyarakat
Terapeutik
 Berikan kesempatan kepada setiap
anggota masyarakat untuk
berpartisipasi sesuai asset yang
dimiliki
 Libatkan anggota masyarakat
untuk meningkatkan kesadaran
terhadap isu dan masalah
kesehatan yang dihadapi
 Libatkan masyarakat dalam
musyawarah untuk mendefinisikan
isu kesehatan dan
mengembangkan rencana kerja
 Libatkan masyarakat dalam proses
perencanaan dan implementasi
serta revisinya
 Libatkan anggota masyarakat
dalam mengembangkan jaringan
kesehatan
 Pertahankan komunikasi yang
terbuka dengan anggota
masyarakat dan pihak-pihak yang
terlibat
4. Ansietas Setelah dilakukan Reduksi Ansietas
Definisi: tindakan keperawatan Observasi :
Kondisi emosional dan selama .... X .... jam  Identifikasi saat tingkat ansietas
pengalaman subyektif individu diharapkan Tingkat berubah (mis. Kondisi, waktu,
terhadap objek yang tidak jelas Ansietas Menurun stressor)
dan spesifik akibat antisipasi dengan kriteria hasil :  Identifikasi kemampuan
bahaya yang memungkinkan  Verbalisasi mengambil keputusan
individu melakukan tindakan kebingungan (5)  Monitor tanda-tanda ansietas
untuk menghadapi ancaman.  Verbalisasi (verbal dan nonverbal)
Penyebab: khawatir akibat Terapeutik :
 Krisis situasional kondisi yang  Ciptakan suasana terapeutik
 Kebutuhan tidak dihadapi (5) umtuk menumbuhkan
terpenuhi  Perilaku gelisah (5) kepercayaan
 Krisis maturasional  Perilaku tegang (5)
 Ancaman terhadap  Keluhan pusing (5)  Temani pasien untuk
konsep diri  Anoreksia (5) mengurangi kecemasan, jika
 Ancaman terhadap  Palpitasi (5) memungkinkan
kematian  Diaphoresis (5)  Pahami situasi yang membuat
 Kekhawatiran  Tremor (5) ansietas
mengalami kegagalan  Pucat (5)  Dengarkan dengan penuh
 Disfungsi sistem  Konsentrasi (5) perhatian
keluarga  Pola tidur (5)  Gunakan pendekatan yang
 Hubungan orang tua-  Frekuensi tenang dan meyakinkan
anak tidak memuaskan pernafasan (5)  Tempatkan barang pribadi
 Faktor keturunan  Frekuensi nadi (5) yang memberikan kenyamanan
(temperamen mudah  Tekanan darah (5)  Motivasi mengidentifikasi
teragitasi sejak lahir)  Kontak mata (5) situasi yang memicu
 Penyalahgunaan zat  Pola berkemih (5)
kecemasan
 Terpapar bahaya  Diskusikan perencanaan
 Orientasi (5)
lingkungan (mis. Toksin, realistis tentang peristiwa yang
polutan, dan lain-lain) akan datang
 Kurang terpapar Edukasi :
informasi  Jelaskan prosedur, termasuk
Gejala Dan Tanda Mayor sensasi yang mungkin dialami
Subjektif :  Informasikan secara faktual
 Merasa bingung mengenai diagnosis,
 Merasa khawatir dengan pengobatan, dan prognosis
akibat dari kondisi yang  Anjurkan keluarga untuk tetap
dihadapi bersama pasien, jika perlu
 Sulit berkonsentrasi  Anjurkan melakukan kegiatan
Objektif : yang tidak kompetitif, sesuai
 Tampak gelisah kebutuhan
 Tampak tegang  Anjurkan mengungkapkan
 Sulit tidur perasaan dan persepsi
Gejala Dan Tanda Minor
Subjektif :  Latih kegiatan pengalihan
 Mengeluh pusing untuk mengurangi ketegangan
 Anoreksia  Latih penggunaan mekanisme
 Palpitasi pertahanan diri yang tepat
 Merasa tidak berdaya  Latih teknik relaksasi
Objektif : Kolaborasi :
 Frekuensi napas  Kolaborasi pemberian obat
meningkat antiansietas, jika perlu
 Frekuensi nadi
meningkat
 Tekanan darah
meningkat
 Diaphoresis
 Tremor
 Muka tampak pucat
 Suara bergetar
 Kontak mata buruk
 Sering berkemih
 Berorientasi pada masa
lalu
Kondisi Klinis Terkait :
 Penyebab kronis
progresif (mis. Kanker,
penyakit autoimun)
 Penyakit akut
 Hospitalisasi
 Rencana operasi
 Kondisi diagnosis
penyakit belum jelas
 Penyakit neurologis
 Tahap tumbuh kembang
Post-operasi
Tujuan dan Kriteria
No. Diagnosa Keperawatan Intervensi Keperawatan
Hasil
1. Nyeri Akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri
Definisi: tindakan keperawatan Observasi
Pengalaman sensorik atau selama .... X .... jam  Identifikasi lokasi, karakteristik,
emosional yang berkaitan diharapkan Tingkat durasi, frekuensi, kualitas ,
dengan kerusakan jarigan actual Nyeri Menurun intensitas nyeri
atau fungsional, dengan onset dengan kriteria hasil :  Identifikasi skala nyeri
mendadak atau lambat dan  Keluhan nyeri (5)  Identifikasi respons nyeri non
berintensitas ringan hingga berat  Meringis (5) verbal
yang berlangsung kurang dari 3  Sikap protektif (5)  Identifikasi faktor yang
bulan.  Gelisah (5) memperberat nyeri dan
Penyebab:  Kesulitan tidur (5) memperingan nyeri
 Agen pencedera fisiologis  Menarik diri (5)  Identifikasi pengetahuan dan
(mis. Inflamai,iskemia,  Berfokus pada diri keyakinan tentang nyeri
neoplasma sendiri (5)  Identifikasi pengaruh budaya
 Agen pencedera kimiawi  Diaforesis (5) terhadap respon nyeri
(mis. Terbakar, bahan kimia  Perasaan depresi  Identifikasi pengaruh nyeri pada

iritan) (tertekan) (5) kualitas hidup


 Agen pencedera fisik (mis.  Perasan takut  Monitor keberhasilan terapi
Abses, amputasi, terbakar, mengalami cedera komplementer yan sudah diberikan
terpotong, mengangkat berat, berulang (5)  Monitor efek samping penggunaan

prosedur operasi, trauma,  Anoreksia (5) analgetik


latihan fisik berlebih)  Perineum terasa Terapeutik
tertekan (5)  Berikan teknik nonfarmakologis
Gejala dan Tanda Mayor  Uterus teraba untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
Subjektif membulat (5) TENS, hypnosis, akupresur, terapi
 Mengeluh nyeri  Ketegangan otot music, biofeedback, terapi pijat,
Objektif (5) aromaterapi, teknik imajinasi
 Tampak meringis  Pupil dilatasi (5) terbimbing, kompres
 Muntah (5) hangat/dingin, terapi bermain)
 Bersikap protektif (mis.  Mual (5)  Kontrol lingkungan yang
Waspada, posisi menghindari  Frekuensi nadi (5) memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
nyeri)  Pola napas (5) ruangan, pencahayaan, kebisingan)
 Gelisah  Tekanan darah (5)  Fasilitas istirahat dan tidur
 Frekuensi nadi meningkat  Proses berpikir (5)  Pertimbangkan jenis dan sumber
 Sulit tidur  Fokus (5) nyeri dalam pemilihan strategi
 Fungsi kemih (5) meredakan nyeri
Gejala dan Tanda Minor
 Perilaku (5) Edukasi
Subjektif
 Nafsu makan (5)  Jelaskan penyebab, periode, dan
-
 Pola tidur (5) pemicu
Objektif
Kontrol Nyeri  Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Tekanan darah meningkat
Meningkat dengan  Anjurkan memonitor nyeri secara
 Pola napas berubah
kriteria hasil : mandiri
 Nafsu makan berubah
 Melaporkan nyeri  Anjurkan menggunakan analgetik
 Proses berpikir terganggu
terkontrol (5) secara tepat
 Menarik diri
 Kemampuan  Ajarkan teknik nonfarmakologis
 Berfokus pada diri sendiri
mengenali onset untuk mengurangi rasa nyeri
 Diaforesis
nyeri (5) Kolaborasi
 Kemampuan  Kolaborasi pemberian analgetik,
Kondisi klinis terkait
mengenali jika perlu
 Kondisi pembedahan
penyebab nyeri (5)
 Cedera traumatis
 Kemampuan Pemberian Analgesik
 Infeksi
menggunakan Observasi
 Sindrom koroner akut
teknik non-  Identifikasi karakteristik nyeri
 Glaukoma
farmakologis (5) (mis. Pencetus, pereda, kualitas,

 Dukungan orang lokasi, intensitas, frekuensi,

terdekat (5) durasi)

 Keluhan nyeri (5)  Identifikasi riwayat alergi obat


 Identifikasi kesesuaian jenis
 Penggunaan
analgesic (5) analgesic (mis. Narkotika, non
narkotika, atau NSAID) dengan
tingkat keparahan nyeri
 Monitor tanda tanda vital sebelum
dan sesudah pemberian analgesik
 Monitor efektifitas analgesik
Terapeutik
 Diskusikan jenis analgesic yang
disukai untuk mencapai analgesia
optimal, jika perlu
 Pertimbangkan penggunaan infus
kontinu, atau bolus opioid untuk
mempertahankan kadar dalam
serum
 Tetapkan target efektifitas
analgesik untuk mengoptimalkan
respon pasien
 Dokumentasikan respons
terhadap efek analgesik dan efek
yang tidak diinginkan
Edukasi
 Jelaskan efek terapu dan efek
samping obat
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian dosis dan
jenis analgesik, sesuai indikasi
2. Resiko Infeksi Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi
Factor Resiko asuhan keperawatan Observasi
 Penyakit kronis selama …. X 24 jam  Monitor tanda dan gejala infeksi
 Efek prosedur invasive diharapkan status local dan istemik
 Malnutrisi kekebalan px Terapeutik
 Peningkatan paparan meningkat dengan  Batasi jumlah pengunjung

organisme pathogen kriteria hasil:  Berikan berawatan kulit pada area


lingkungan  Kebersihan tangan edema
 Gangguan peristaltic meningkat
 Kerusakan integritas kulit  Kebersihan badan  Cucitangan sebelum dan sesudah
 Perubahan skresi pH meningkat kontak dengan pasien dan
 Penurunan kerja siliaris  Nafsu makan lingkungan pasien
 Ketuban pecah lama meningkat  Pertahankan Teknik aseptic pada
 Ketuban pecah sebelum  Demam menurun pasien beresiko tinggi
waktunya  Kemerahan Edukasi

 Merokok menurun  Jelaskan tanda dan gejala nfeksi

 Statis cairan tubuh  Nyeri menurun  Ajarkan cara mencuci tangan

 Penurunan hemoglobin  Bengkak menurun dengan benar

 Imunosupresi  Vesikel menurun  Ajarkan etika batuk

 Leukopenia  Kadar sel darah  Ajarkan cara memeriksa kondisi


 Supresi respon inflamasi putih membaik luka

 Vaksinasi tidak adekuat  Anjurkan meningkatkan asupan


nutrisi
 Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian imunisasi,
jika perlu
3. Risiko konstipasi Setelah diberikan Pencegahan Konstipasi
Definisi : Berisiko mengalami asuhan keperawatan Tindakan Observasi
penurunan frekuensi normal selama …..x…. jam  Identifikasi faktor risiko
defekasi disertai kesulitan dan diharapkan Eliminasi konstipasi (mis. asupan serat
pengeluaran feses tidak lengkap. Fekal membaik tidak adekuat, asupan cairan
Faktor risiko dengan kriteria hasil : tidak adekuat, aganglionik,
Fisiologis :  Konsistensi feses kelemahan otot abdomen,
 Penurunan mortilitas normal aktivitas fisik kurang)
gastrointestinal,  Frekuensi BAB  Monitor tanda dan gejala
 Ketidakadekuatan normal konstipasi (mis. defekasi
pertumbuhan gigi,  Peristaltic usus kurang 2 kali seminggu,
 Ketidakcukupan diet, normal
 Ketidakcukupan asupan  Nyeri abdomen defekasi lama/sulit, feses
serat, menurun keras, peristaltik menurun)
 Ketidakcukupan asupan  Identifikasi status kognitif
cairan, untuk mengkomunikasikan
 Aganglionik (mis. kebutuhan Identifikasi
Penyakit hircsprung) penggunaan obat-obatan yang
 Kelemahan otot menyebabkan konstipasi
abdomen. Terapeutik
Psikologis :  Batasi minuman yang
 Konfusi, mengandung kafein dan

 Depresi dan alkohol

 Gangguan emosional  Jadwalkan rutinitas BAK

Situasional :  Lakukan massage abdomen

 Perubahan kebiasaan  Berikan terapi akupresur


makan (mis. Jenis Edukasi
makanan, jadwal  Jelaskan penyebab dan faktor
makan), risiko konstipasi
 Ketidakadekuatan  Anjurkan minum air putih
toileting, sesuai dengan kebutuhan
 Aktivitas fisik harian (1500-2000 mL/hari)
kurang dari yang  Anjurkan mengkonsumsi
dianjurkan, makanan berserat (25-30
 Penyalahgunaan laktasif, gram/hari)

 Efek agen farmakologis,  Anjurkan meningkatkan

 Ketidakteraturan aktivitas fisik sesuai

kebiasaan defekasi, kebutuhan

 Kebiasaan menahan  Anjurkan berjalan 15-20 menit

dorongan defekasi dan 1-2 kali/hari

 Perubahan lingkungan  Anjurkan berjongkok untuk


memfasilitasi proses BAB

.
Kondisi klinis terkait Kolaborasi
 Lesi/cedera pada  Kolaborasi dengan ahli gizi,
medulla spinalis, jika perlu
 Spina bifida,
 Stroke,
 Sklerosis multiple,
 Penyakit parkinson,
 Demensia,
 Hiperparatiroidisme,
 Hipoparatiroidisme

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi
keperawatan yang telah ditetapkan. Menurut effendy, implementasi adalah
pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada
tahap perencanaan. Jenis tindakan pada implementasi ini terdiri dari tindakan
mandiri, saling ketergantungan/kolaborasi, dan rujukan/ketergantungan.

5. EVALUASI KEPERAWATAN
a. Evaluasi Formatif : Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon
segera pada saat dan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
b. Evaluasi Sumatif : Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa
status kesehatan sesuai waktu pada tujuan ditulis pada catatan
perkembangan
DAFTAR PUSTAKA

Bilotta, Kimberli. 2012. Kapita Selekta Penyakit: Dengan Implikasi Keperawatan.


Edisi 2. Jakarta : EGC
Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.
Yogyakarta : Nuha Medika
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.
Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan Ed.2. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwomo Prawirohardjo
Yatim, Faisal. 2005. Penyakit Kandungan, Myom, Kista, Indung Telur, Kanker
Rahim/Leher Rahim, serta Gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka Populer
Obor
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar,……………….. 2020

Mengetahui, Mahasiswa

Nengah Runiari, S.Kp.,S.Pd.,M.Kep.,Sp.Mat. Dewa Ayu Putri Weda Dewanti


NIP. 197202191994012000 NIM. P07120320040