Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Tinjauan Teori


1.1.1 Pengertian
Disfungsi seksual adalah gangguan di mana seseorang mengalami
kesulitan untuk berfungsi secara adequate ketika melakukan hubungan
seksual. Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari
salah satu saja siklus respon seksual (Atiqah, noor. 2012).
Disfungsi seksual merupakan perubahan fungsi seksual selama fase
respon seksual berupa hasrat, terangsang, orgasme, dan/atau relaksasi yang
dirasa tidak memuaskan tidak bermakna atau tidak adekuat (SDKI, 2018).
Disfungsi seksual adalah integrasi aspek fisik dan sosioemosional
terkait penyaluran dan kinerja seksual (SLKI, 2018).

1.1.2 Etiologi
1. Perubahan fungsi/struktur tubuh
2. Perubahan biopsikososial seksualitas
3. Ketiadaan model peran
4. Model peran tidak dapat mempengaruhi
5. Kurang privasi
6. Ketiadaan pasangan
7. Kesalahan informasi
8. Kelainan seksual
9. Konflik nilai
10. Penganiayaan fisik
11. Kurang terpapar informasi

1.1.3 Fisiologis
a. Alat Reproduksi Laki-laki
Alat reproduksi laki-laki terdiri dari alat kelamin bagian luar dan alat kelamin
bagian dalam. Perhatikan gambar di bawah. Alat kelamin bagian luar terdiri
dari penis dan skrotum. Sedangkan alat kelamin bagian dalam terdiri dari
testis, epididimis, vas deferens, prostat, vesika seminalis, dan kelenjar
bulbouretral.
Alat Reproduksi Pria
1. Testis
Testis disebut juga dengan buah zakar. Testis merupakan organ kecil
dengan diameter sekitar 5 cm pada orang dewasa. Testis membutuhkan
suhu lebih rendah dari suhu badan (36,7 oC) agar dapat berfungsi secara
optimal. Oleh karena itu, testis terletak di luar tubuh di dalam suatu
kantong yang disebut skrotum. Ukuran dan posisi testis sebelah kanan
dan kiri berbeda. Testis berfungsi sebagai tempat pembentukan sperma
(spermatogenesis). Spermatogenesis pada manusia berlangsung selama 2
– 3 minggu. Bentuk sperma sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan
menggunakan mikroskop. Sperma berbentuk seperti kecebong, dapat
bergerak sendiri dengan ekornya.
Testis juga memiliki tanggung jawab lain, yaitu membuat hormon
testosteron. Hormon ini merupakan hormon yang sangat bertanggung
jawab atas perubahan anak laki-laki menjadi dewasa. Membuat suara
laki-laki menjadi besar dan berat, dan berbagai perubahan lain yang
memperlihatkan bahwa seorang anak telah beranjak dewasa.
2. Skrotum
Skrotum adalah kantong kulit yang melindungi testis dan berfungsi
sebagai tempat bergantungnya testis. Skrotum berwarna gelap dan
berlipat-lipat. Skrotum mengandung otot polos yang mengatur jarak testis
ke dinding perut. Dalam menjalankan fungsinya, skrotum dapat
mengubah ukurannya. Jika suhu udara dingin, maka skrotum akan
mengerut dan menyebabkan testis lebih dekat dengan tubuh dan dengan
demikian lebih hangat. Sebaliknya pada cuaca panas, maka skrotum akan
membesar dan kendur. Akibatnya luas permukaan skrotum meningkat
dan panas dapat dikeluarkan.
3. Vas deferens
Vas deferens adalah sebuah tabung yang dibentuk dari otot. Vas
deferens membentang dari epididimis ke uretra. Vas deferens berfungsi
sebagai tempat penyimpanan sperma sebelum dikeluarkan melalui penis.
Saluran ini bermuara dari epididimis. Saluran vas deferens
menghubungkan testis dengan kantong sperma. Kantong sperma ini
berfungsi untuk menampung sperma yang dihasilkan oleh testis.
4. Epididimis
Epididimis adalah saluran-saluran yang lebih kecil dari vas deferens.
Alat ini mempunyai bentuk berkelok-kelok dan membentuk bangunan
seperti topi. Epididimis berfungsi sebagai tempat pematangan sperma.
5. Kelenjar Asesoris
Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan
berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-
getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan
pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang
terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.
a Vesikula seminalis
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani)
merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang
kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat
makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
b Kelenjar prostat
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di
bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah
yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan
untuk kelangsungan hidup sperma.
c Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar
yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper
menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).
6. Uretra
Uretra merupakan saluran sperma dan urine. Uretra berfungsi
membawa sperma dan urine ke luar tubuh.
7. Penis
Penis dibagi menjadi dua bagian, yaitu batang dan kepala penis. Pada
bagian kepala terdapat kulit yang menutupinya, disebut preputium. Kulit
ini diambil secara operatif saat melakukan sunat. Penis tidak mengandung
tulang dan tidak terbentuk dari otot. Ukuran dan bentuk penis bervariasi,
tetapi jika penis ereksi ukurannya hampir sama. Kemampuan ereksi
sangat berperan dalam fungsi reproduksi. Pada bagian dalam penis
terdapat saluran yang berfungsi mengeluarkan urine. Saluran ini untuk
mengalirkan sperma keluar. Jadi, fungsi penis sebagai alat sanggama,
saluran pengeluaran sperma, dan urine.

Proses Spermatogenesis
Spermatogenis terjadi di tubulus seminiferus testis. Dalam
tubulus tersebut terdapat sel sperma, yang disebut spermatogonium.
Spermatogonium kemudian membelah secara mitosis menghasilkan
spermatogonium yang haploid. Spermatogonium ini kemudian membesar
membentuk spermatosit primer. Spermatosit primer seterusnya akan
membelah secara meiosis I untuk menghasilkan dua spermatosit sekunder
yang haploid. Kemudian setiap spermatosit sekunder akan membelah
secara meiosis II untuk menghasilkan dua spermatid yang hapolid. Sel-sel
spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa atau sperma.

b. Alat Reproduksi Wanita


Alat reproduksi wanita terdiri dari alat kelamin dalam dan alat kelamin luar.
Alat kelamin bagian luar terdiri dari lubang vagina, labia mayora, labia
minora, mons pubis dan klitoris. Sedangkan pada alat kelamin bagian dalam
terdapat ovarium, tuba falopii (oviduk), dan uterus (rahim).
1. Vulva
Vulva merupakan daerah yang menyelubungi vagina. Vulva
terdiri atas mons pubis, labia, klitoris, daerah ujung luar vagina, dan
saluran kemih. Mons pubis adalah gundukan jaringan lemak yang
terdapat di bagian bawah perut. Daerah ini dapat dikenali dengan mudah
karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat seorang
gadis beranjak dewasa. Labia adalah lipatan berbentuk seperti bibir yang
terletak di dasar mons pubis. Labia terdiri dari dua bibir, yaitu bibir luar
dan bibir dalam. Bibir luar disebut labium mayora, merupakan bibir yang
tebal dan besar. Sedangkan bibir dalam disebut labium minora,
merupakan bibir tipis yang menjaga jalan masuk ke vagina. Klitoris
terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora dan dasar mons pubis.
Ukurannya sangat kecil sebesar kacang polong, penuh  dengan sel saraf
sensorik dan pembuluh darah. Alat ini sangat sensitif dan berperan besar
dalam fungsi seksual.
2. Vagina
Vagina adalah saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm,
dan berakhir pada rahim. Vagina dilalui darah pada saat menstruasi dan
merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar
dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat
melahirkan vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya. Pada
bagian ujung yang terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang
dikenal dengan istilah selaput dara. Bentuknya bisa berbeda-beda setiap
wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama, kecelakaan,
masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dan sebagainya.
3. Serviks
Serviks disebut juga dengan mulut rahim. Serviks ada pada bagian
terdepan dari rahim dan menonjol ke dalam vagina, sehingga
berhubungan dengan bagian vagina. Serviks memproduksi cairan
berlendir. Pada sekitar waktu ovulasi, mukus ini menjadi banyak, elastis,
dan licin. Hal ini membantu spermatozoa untuk mencapai uterus. Saluran
yang berdinding tebal ini akan menipis dan membuka saat proses
persalinan dimulai.
4. Rahim
Rahim disebut juga uterus. Alat ini memiliki peranan yang besar
dalam reproduksi wanita. Rahim berperan besar saat menstruasi hingga
melahirkan. Bentuk rahim seperti buah pear, berongga, dan berotot.
Sebelum hamil beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan
lebar 6 cm kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil
mampu membesar dan beratnya mencapai 1000 gram. Rahim berfungsi
sebagai tempat untuk perkembangan embrio menjadi janin. Dinding
rahim memiliki banyak pembuluh darah sehingga dindingnya menebal
ketika terjadi pertumbuhan janin. Rahim terdiri atas 3 lapisan, yaitu:
a Lapisan parametrium, merupakan lapisan paling luar dan yang
berhubungan dengan rongga perut.
b Lapisan miometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi
keluar pada proses persalinan (kontraksi).
c Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat
menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri atas lapisan
kelenjar yang berisi pembuluh darah.
5. Ovarium
Ovarium menghasilkan ovum. Ovarium disebut juga dengan
indung telur. Letak ovarium di sebelah kiri dan kanan rongga perut bagian
bawah. Ovarium berhasil memproduksi sel telur jika wanita telah dewasa
dan mengalami siklus menstruasi. Setelah sel telur masak, akan terjadi
ovulasi yaitu pelepasan sel telur dari ovarium. Ovulasi terjadi setiap 28
hari.
6. Tuba fallopi
Tuba fallopi disebut juga dengan saluran telur. Saluran telur
adalah sepasang saluran yang berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang
+10 cm. Saluran ini menghubungkan rahim dengan ovarium melalui
fimbria. Ujung yang satu dari tuba fallopii akan bermuara di rahim
sedangkan ujung yang lain merupakan ujung bebas dan terhubung ke
dalam rongga abdomen. Ujung yang bebas berbentuk seperti umbai dan
bergerak bebas. Ujung ini disebut fimbria dan berguna untuk menangkap
sel telur saat dilepaskan oleh ovarium. Dari fimbria, telur digerakkan oleh
rambut-rambut halus yang terdapat di dalam saluran telur menuju ke
dalam rahim.

Proses Oogenesis
Proses pembentukan ovum disebut oogenesis dan terjadi di
ovarium. Pembentukan ovum diawali dengan pembelahan mitosis lapisan
luar ovarium untuk membentuk oogonium yang diploid. Setiap oogonium
dilapisi oleh sel folikel. Keseluruhan struktur ini disebut folikel primer.
Ketika folikel tumbuh, oosit primer membelah secara meiosis I
menghasilkan satu oosit sekunder dan badan kutub. Oosit sekunder
kemudian berkembang menjadi ovum haploid yang siap untuk dibuahi
oleh sperma.

1.1.4 Klasifikasi
Macam gangguan atau disfungsi seksual pada laki-laki dan perempuan secara
keseluruhan meliputi :
1. Gangguan Nafsu/Hasrat Seksual
Dua gangguan merefleksikan maalah-masalah yang terkait dengan
nafsu darisiklus respon seksual. Masing-masing gangguan ditandai oleh
sedikitnya atau tidak adanya minat terhadap seks yang menimbulkan
masalah dalam suatu hubungan.
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon
testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual
sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau
faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi ganggaun dorongan seksual
(GDS) (Pangkahila, 2007).
2. Gangguan Nafsu seksual hipoaktif
The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi definisi
dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya atau hilangnya fantasi
seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan
gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal. Minat terhadap
kegiatan atau fantasi seksual yang sangat kurang yang mestinya tidak
diharapkan bila dilihat dari umur dan situasi kehidupan orang yang
bersangkutan.
3. Gangguan Aversi seksual
Perasaan tidak suka yang konsisten dan ekstrim terhadap kontak
seksual atau kegiatan serupa itu. Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa
mengalami dorongan seksual hipoaktif. Pada usia 40-60 tahun, dorongan
seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya GDS
disebabkan oleh faktor fisik dan psikis, antara lain adalah kejemuan,
perasaan bersalah, stres yang berkepanjangan, dan pengalaman seksual
yang tidak menyenangkan (Pangkahila, 2006).
4. Gangguan Rangsangan Seksual
Gangguan ereksi pada laki-laki: ketidakmampuan sebagian laki-
laki untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis sampai aktivitas
seksual selesai dan keadaan ini terjadi berulang kali.
Gangguan rangsangan seksual pada perempuan: ketidakmampuan
sebagian perempuan untuk mencapai atau mempertahankan lubrikasi
vagina dan respons keterangsangan seksual yang membuat vagina
membesar sampai aktivitas seksual selesai dan keadaaan ini terjadi
berulang kali.
Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai atau
mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan
seksual dengan baik (Pangkahila, 2007).
Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang
cukup untuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. Sedang
disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan
hubungan seksual, tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang
mengganggu ereksinya (Pangkahila, 2006).
Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor
psikis. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal,
faktor vaskulogenik, faktor neurogenik, dan faktor iatrogenik
(Pangkahila, 2007). Faktor psikis meliputi semua faktor yang
menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang diterima.
Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik, faktor psikis hampir
selalu muncul dan menyertainya (Pangkahila, 2007).

5. Gangguan Orgasme
Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya
orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase
rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual.
Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu
penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan lumbal
sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan, perasaan takut
menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan. Pria yang mengalami
hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi, tapi sensasi erotiknya
tidak dirasakan.
6. Gangguan nyeri Seksual
Sexual pain disorder adalah nyeri genital yang berulang kali
terjadi, baik yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan sebelum,
selama, atau setelah hubungan seksual.
Dyspareunia adalah rasa nyeri/sakit atau perasaan tidak nyaman
selama melakukan hubungan seksual. Salah satu penyebab dispareunia ini
adalah infeksi pada kelamin. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui
hubungan seksual yang terasa sakit itu. Pada pria, dispareunia hampir
pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan
atau infeksi pada penis, buah pelir, saluran kencing, atau kelenjar prostat
dan kelenjar kelamin lainnya.
Vaginismus adalah spasme (kejang urat) pada otot-otot di pertiga
luar vagina, yang terjadi diluar kehendak, yang mengganggu hubungan
seksual, dan keadaan ini berulang kali terjadi.

1.1.5 Manifestasi Klinis


Gejala dan Tanda Mayor :
1. Mengungkapkan aktivitas seksual berubah
2. Mengungkapkan eksitasi seksual berubah
3. Merasa hubungan seksual tidak memuaskan
4. Mengungkapkan peran seksual berubah
5. Mengeluh hasrat seksual menurun
6. Mengungkapkan fungsi seksual menurun
7. Mengeluh nyeri saat berhubungan seksual
Gejala dan Tanda Minor
1. Mengungkapkan keterkaitan pada pasangan berubah
2. Mengeluh hubungan seksual terbatas
3. Mencari informasi tentang kemampuan mencapai kepuasan seksual

1.1.6 Penatalaksanaan
Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat
mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup, oleh karena
itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah. Prinsip penatalaksanaan dari
disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut :
1. Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
2. Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
3. Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
4. Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari
pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex
theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan


1.2.1 Pengakajian
1.2.1.1 Amnanesa
Hal-hal yang harus dikaji antara lain :
a. Perubahan kadar hormone
b. Perubahan pola reponsif seksual
c. Nyeri vagina
d. Tidak adanya kontraksi uterus selama orgasme
e. Klien menarik diri
f. Klien depresi
g. Klien takut akan penolakan atau reaksi orang terdekat

1.2.1.2 Pemeriksaan Fisik


Pengkajian fisik
a. Inspeksi dan palpasi
b. Beberapa riwayat kesehatan yang memerlukan pengkajian fisik
misalnya riwayat PMS, infertilitas, kehamilan, adanya sekret yang
tdk normal dari genital, perubahan warna pada genital, ggn fungsi
urinaria, dll.

1.2.2 DiagnosaKeperawatan
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Disfungsi Seksual D.0069
Kategori : Fisiologis
Subkategori: Reproduksi dan Seksualitas
Definisi
Perubahan fungsi seksual selama fase respon seksual berupa hasrat, terangsang,
orgasme, dan/atau relaksasi yang dirasa tidak memuaskan tidak bermakna atau
tidak adekuat
Penyebab
1. Perubahan fungsi/struktur tubuh
2. Perubahan biopsikososial seksualitas
3. Ketiadaan model peran
4. Model peran tidak dapat mempengaruhi
5. Kurang privasi
6. Ketiadaan pasangan
7. Kesalahan informasi
8. Kelainan seksual
9. Konflik nilai
10. Penganiayaan fisik
11. Kurang terpapar informasi
Gejalah dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
1. Mengungkapkan aktivitas (tidak tersedia)
seksual berubah
2. Mengungkapkan eksitasi
seksual berubah
3. Merasa hubungan seksual tidak
memuaskan
4. Mengungkapkan peran seksual
berubah
5. Mengeluh hasrat seksual
menurun
6. Mengungkapkan fungsi seksual
menurun
7. Mengeluh nyeri saat
berhubungan seksual

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif Objektif
1. Mengungkapkan keterkaitan (Tidak tersedia)
pada pasangan berubah
2. Mengeluh hubungan seksual
terbatas
3. Mencari informasi tentang
kemampuan mencapai
kepuasan seksual
Kondisi Klinis Terkait
1. Gangguan endokrin, perkemihan, neuromuskular, muskuloskeletal,
kardiovaskuler
2. Trauma genital
3. Pembedahan pelvis
4. Kanker
5. Manaopause
6. Gangguan psikiatrik seperti mania, depresi berat, demensia, gangguan
kepribadian, penyalahgunaan atau penggunaan zat, gangguan kecemasan,
dan schizophreni

1.2.3 Intervensi Keperawatan


Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI )
Fungsi Seksual (L. 04033)
Definisi
Integrasi aspek fisik dan sosioemosional terkait penyaluran dan kinerja
seksual
Ekspektasi Membaik
Kriteria Hasil
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menuru Meningkat
Kepuasan 1 n 2 3 4 5
hubungan
seksual

Mencari 1 2 3 4 5
informasi
untuk
mencapai
kepuasan
seksual
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menuru Meningkat
Verbalisasi 1 n 2 3 4 5
aktivitas
seksual
berubah
Verbalisasi 1 2 3 4 5
ekstasi
seksual
berubah
Verbalisasi 1 2 3 4 5
peran
seksual
berubah
Verbalisasi 1 2 3 4 5
fungsi
seksual
berubah
Keluhan 1 2 3 4 5
nyeri saat
berhubunga
n seksual
(dispareunia)
Keluhan 1 2 3 4 5
hubungan
seksual
terbatas
Keluhan sulit 1 2 3 4 5
melakukan
aktivitas
seksual
Verbalisasi 1 2 3 4 5
aktivitas
seksual
berubah
Verbalisasi 1 2 3 4 5
perilaku
seksual
berubah
Konflik nilai 1 2 3 4 5
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menuru Meningkat
1 n 3 4 5
Hasrat 2
seksual

Orientasi 1 2 3 4 5
seksual
Keterkaitan 1 2 3 4 5
pada
pasangan

Tingkat Depresi (L. 09097)


Definisi
Perasaan sedih yang berdampak negative pada pikiran, tindakan, perasaan dan
kesehatan
Ekspektasi Menurun
Kriteria Hasil
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
Minat 1 2 3 4 5
beraktivitas
Aktivitas 1 2 3 4 5
sehari-hari
Konsentrasi 1 2 3 4 5
Harga Diri 1 2 3 4 5
Kebersihan 1 2 3 4 5
diri
Meningka Cukup Sedang Cukup Menurun
t Meningka Menurun
Perasaan t
tidak 1 2 3 4 5
berharga
Sedih 1 2 3 4 5
Putus asa
Peristiwa 1 2 3 4 5
negatif
Perasaan 1 2 3 4 5
bersalah
Keletihan 1 2 3 4 5
Pikiran 1 2 3 4 5
menciderai
diri
Pikiran 1 2 3 4 5
bunuh diri
Bimbang 1 2 3 4 5
Menangis 1 2 3 4 5
Marah 1 2 3 4 5
Penyalahgun 1 2 3 4 5
aan zat
Penyalahgun 1 2 3 4 5
aan alkohol
Memburu Cukup Sedang Cukup Membaik
k Memburu Membaik
k
Berat badan 1 2 3 4 5
Nafsu makan 1 2 3 4 5
Pola tidur 1 2 3 4 5
Libido 1 2 3 4 5

Tingkat keletihan L.05046


Definisi : kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih dengan istirahat
Ekspektasi membaik
Kriteria Hasil
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
menurun meningkat
Verbalisasi 1 2 3 4 5
kepulihan
energi
Tenaga 1 2 3 4 5
Kemampuan 1 2 3 4 5
melakukan
aktivitas rutin
Motivasi 1 2 3 4 6
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun
meningkat menurun
Verbalisasi 1 2 3 4 6
lelah
Lesu 1 2 3 4 6
Gangguan 1 2 3 4 5
konsentrasi
Sakit kepala 1 2 3 4 6
Sakit 1 2 3 4 6
tenggorokan
Mengi 1 2 3 4 5
Sianosis 1 2 3 4 5
Gelisah 1 2 3 4 5
Frekuensi nafas 1 2 3 4 5
Perasaan 1 2 3 4 5
bersalah
Memburuk Cukup Sedang Cukup membaik
membaik membaik
Selera makan 1 2 3 4 5
Pola napas 1 2 3 4 5
Libido 1 2 3 4 5
Pola istirahat 1 2 3 4 5

1.2.4 Implementasi Keperawatan


Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Edukasi Kesehatan ( I. 12383)
Definisi
Mengajarkan pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih
serta sehat
Tindakan
Observasi
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
2. Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan
motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
Terapeutik
3. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
4. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
5. Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
6. Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
7. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
8. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat

Edukasi Aktivitas/istirahat ( I. 12362)


Definisi
Mengajarkan pengaturan aktivitas dan istirahat
Tindakan
Observasi
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
2. Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan istirahat
3. Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
4. Berikan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk bertanya.
Edukasi
5. Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas fisik/olahraga secara rutin
6. Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok, aktivitas bermain atau
aktivitas lainnya
7. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat
8. Ajarkan mengidentifikasi kebutuhan istirahat (kelelahan, sesak nafas
saat aktivitas)
9. Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis aktivitas sesuai
kemampuan.

Edukasi Seksualitas ( I. 12447)


Definisi
Memberikan informasi dalam memahami dimensi fisik dan psikologis
seksualitas
Tindakan
Observasi
1. Identifikasi persiapan dan kemampuas menerima informasi
Terapeutik
1. Sediakan materi dan pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya
4. Fasilitasi kesadaran keluarga terhadap anak dan remaja serta
pengaruh media
Edukasi
1. Jelaskan anatomi dan fisiologis sistem reproduksi laki-laki dan
perempuan
2. Jelaskan perkembangan sesualitas sepanjang siklus kehidupan
3. Jelaskan perkembangan emosi masa anak dan remaja
4. Jelaskan pengaruh tekanan kelompok dan sosial terhadap aktivitas
seksual
5. Jelaskan konsekuensi negatif mengasuh anak pada usia dini
6. Jelaskan resiko tertular penyakit menular seksual dan AIDS akibat
seks bebas
7. Anjurkan orangtua menjadi edukator seksualitas bagi anak-anaknya
8. Anjurkan anak/remaja tidak melakukan aktivitas seksual diluar
nikah
DAFTAR PUSTAKA

Atiqah, noor. 2012. Disfungsi Seksual. (Online).


Available:https://www.scribd.com/doc/71045218/Disfungsi-Seksual (diakses
pada tanggal 13 September 2020 pukul 19.00)
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017 Standar
Diagnosis Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2019 Standar Luaran
Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2018 Standar


Intervensi Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.

Fajarini, dkk. 2013. Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
reproduksi.https://id.scribd.com/doc/148084983/ASUHAN-KEPERAWATAN-
PADA-PASIEN-DENGAN-GANGGUAN-SISTEM-REPRODUKSI-doc.
(diakses pada tanggal 14 September 2020 pukul 16.00)

Uray, umi. 2011. Disfungsi Seksual. (Online). Availbale:


https://www.scribd.com/doc/76363220/Disfungsi-Seksual-Data-
Gabungan#download (diakses pada tanggal 13 September 2020 pukul 19.30)

Anda mungkin juga menyukai