Anda di halaman 1dari 28

“PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) No 45 s.

d 50”

TUGAS KELOMPOK
Mata kuliah : Akuntansi
Dosen : Bapak Yuki Dwi Dharma, SE, MM

Disusun Oleh:

Kelompok 10

1. Muhammad Hilmi Faza (1117151827)


2. Aminur Rohman (111710579)
3. Arif Rifai (111710635)
4. Hilman Habib (111710959)
5. Karindra Maharani Putri ()
6. Nia Nurhabibah (111710779)

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN S1
STIE PELITA BANGSA
Jl. Inpeksi Kalimalang Tegal Danas Arah DELTAMAS Cikarang Pusat – Kab. Bekasi
Telp. (021) 2851 8181,82,83,84, Fax. : (021) 2851 8180
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No 45 s.d 50 dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterimakasih pada Bapak Yuki selaku dosen matakuliah
Akuntansi STIE Pelita Bangsa yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai PSAK No. 45 s.d 50. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat
dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
dimasa depan.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
1.1 LATAR BELAKANG
1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1
1.3 TUJUAN
1
BAB II PSAK 45 “PELAPORAN KEUANGAN ENTITAS NIRLABA”
(KARINDRA MAHARANI PUTRI)
2
2.1 Tujuan Laporan Keuangan
2
2.2 Sifat Pembatasan Dana
2
2.3 Kompinen Laporan Keuangan
2
BAB III PSAK 46 “AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN” (NIA NURHABIBAH)
3
3.1 Penjelasan Tentang PSAK 46
3
3.2 Prinsip Dasar Akuntansi Pajak Penghasilan
3
3.3 Tujuan PSAK 46
4
3.4 Rung Lingkup PSAK 46
4
3.5 Istilah-istilah dalam PSAK 46
4
3.6 Kesimpulan PSAK 46
8
BAB IV PSAK 47 “AKUNTANSI TANAH” (AMINUR ROHMAN)
10
4.1 Penjelasan Tentang PSAK 47
10
4.2 Pengakuan Tanah
10

iii
4.3 Komponen Biaya ..............................................................................................
11
4.4 Tangguhan Yang Lain
11
4.5 Informasi Tentang Beban Tangguhan – Hak Atas Tanah
11
BAB V PSAK 48 “AKUNTANSI PENURUNAN NILAI ASET” (ARIF RIFAI)
12
5.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 48 Penurunan Nilai Aset Pengertian
...........................................................................................................................................
12
5.2 Penurunan Nilai Aset Berdasarkan Penurunan (Revisi 2013)
...........................................................................................................................................
12
5.3 Ruang Lingkup
...........................................................................................................................................
13
5.4 Indikasi Penurunan Nilai Aset
13
5.5 Pengungkapan
14
BAB VI PSAK 49 “AKUNTANSI REKSADANA” (HILMAN HABIB)
15
6.1 Pendahuluan Tentang PSAK No. 49
15
6.2 Definisi Tentang Akuntansi Reksa Dana
15
6.3 Isi dan Penjelasan Akuntansi Reksa Dana
15
BAB VII PSAK 50 “INSTRUMEN KEUANGAN : PENYAJIAN” (MUHAMMAD
HILMI FAZA)
20
7.1 Tentang Psak 50
20
7.2 Isi Dari Psak 50
20
7.3 Penjelasan Isi Dari Psak 50
20
KESIMPULAN
23

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan pedoman dalam melakukan


praktek akuntansi dimana uraian materi di dalamnya mencakup hampir semua aspekyang
berkaitan dengan akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan dalam sekumpulan orang
dengan kemampuan dalam bidang akutansi yang tergabung dalam suatu lembaga yang
dinamakan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).

Dengan kata lain, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah buku petunjuk
bagi pelaku akuntasi yang berisi pedoman tentang segala hal yang ada hubungannya dengan
akuntansi.

Sebagai suatu pedoman, Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) buakan merupakan
suatu kemutlakan bagi setiap perusahaan dalam membuat laporan keuangan. Namun paling
tidak dapat memastikan bahwa penempatan unsur unsur atau elemen data ekonomi harus
ditempatkan pada posisi yang tepat agar semua data ekonomi dapat tersaji dengan baik
sehingga dapat memudahkan bagi pihak pihak yang berkepentingan dalam
menginterpretasikan dan mengevaluasi sesuatu laporan keuangan guna mengambil keputusan
ekonomi dengan baik bagi tiap tiap pihak.

1.2 RUMUSAN MASALAH

 Bagaimana penyajian laporan PSAK 45-50.


 Apa isi dari PSAK no.45-50
 Baagaimana fungsi dari PSAK 45- 50.

1.3 TUJUAN

 Mengetahui penyajian laporan PSAK 45-50


 Mengetahui isi dari PSAK 45-50
 Mengetahui masing-masing fungsi dari PSAK 45-50

1
BAB II

PSAK 45 “PELAPORAN KEUANGAN ENTITAS NIRLABA”

(KARINDRA MAHARANI PUTRI)

Organisasi nirlaba menyediakan jasa dan tidak beritikad untuk memperoleh laba, organisasi
ini umumnya dibiayai dari kontribusi, perolehan dana dari endowment atau investasi,
pengenaan tarif atas jasa yang diberikan dan pemberian bantuan dari pemerintah.

IAI menerbitkan pernyataan standar akuntansi keuangan nomor 45 tentang pelaporan


keuangan organisasi nirlaba, dalam psak tersebut antara lain menguraikan tentang :

2.1 Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan utama laporan keuangan organisasi nirlaba pada dasarnya memiliki kesamaan dengan
tujuan laporan keuangan organisasi komersial, yaitu menyajikan informasi yang relevan atas
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Namun, dikarenakan adanya
perbedaan tujuan organisasi, menyebabkan adanya perbedaan pada kalangan pemakai laporan
keuangan dan isi dari laporan keuangan tersebut.

2.2 Sifat Pembatasan Dana:

Menurut psak nomor 45 laporan keuangan untuk organisasi nirlaba terdiri dari laporan posisi
keuangan, laporan aktivitas, laporan aruskas, dan catatan atas laporan keuangan.

2.3 Komponen Laporan Keuangan

Menurut psak nomor 45 menjelaskan bahwa komponen laporan keuangan organisasi nirlaba
meliputi:

- Laporan Posisi Keuangan


Adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan
informasi mengenai hubungan diantara universitasur-universitasur tersebut pada waktu
tertentu.
- Laporan Aktivitas
Tujuan utamanya adalah :
 pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva
bersih
 Hubungan antara transaksi, dan peristiwa lain.
 Bagaimana penggunaan sumberdaya dalam pelaksanaan berbagai program atau
jasa.
- Laporan Arus Kas

Tujuan utama laporan arus kas adalah:


Menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam satu periode.

2
BAB III

PSAK 46 “AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN”

(NIA NURHABIBAH)

3.1 Penjelasan Tentang PSAK 46

Bicara masalah pajak ada baiknya kita mengetahui apa itu pajak , Pajak sebagai iuran wajib
kepada kas negara merupakan hal yang harus dijunjung tinggi keberlangsungannya, baik
ketaatan masyarakat dalam menyetor pajak, ataupun keakuratan perhitungan pajak itu sendiri.
Pembayaran pajak di Indonesia masuk dalam kas negara sekitar 75% dari jumlah kas yang
ada. Sehingga pajak dominan berpengaruh terhadap penusunan anggaran belanja negara.
Tetapi masih banyak masyarakat di lapisan bumi pertiwi ini yang tidak sadar akan pajak dan
bahkan memanfaatkan uang pajak untuk memperkaya diri sendiri, kelompok, dll.

Beriring dengan berkembangnya dunia akuntansi dan luasnya area perpajakan yang akan
dikenakan, maka PSAK juga turut mengatur masalah perhitungan pajak. Tidak hanya hal
tersebut namun dalam perkembangannya Direktorat Jendral Pajak mengeluarkan peraturan
tentang perhitungan pajak, dimana dasar pengenaan pajak khususnya pada unit bisnis
mengunakan Laporan Keuangan Fiskal, artinya laporan keuangan yang dibuat oleh unit bisnis
tersebut kemudian dikoreksi berdasarkan aturan-aturan pajak yang berlaku.
Perkembangan yang terjadi munculnya perlakuan Laporan keuangan komersial dan fiskal
mengalami berbagai permasalah yang timbul akibat perkembangan aturan dari perpajakan itu
sendiri, PSAK No. 46 tentang pajak penghasilan dan untuk menentukan laba atau pajak kena
penghasilan dalam pelaporan akuntansi, wajib pajak sering mengalami permasalahan akibat
perbedaan peraturan perpajakan dengan pernyataan standar keuangan akuntansi. Perbedaan
tersebut terdiri dari perbedaan sementara (temporary different) dan perbedaan tetap
(permanent different). Perbedaan tetap tidak boleh dimasukkan ke dalam laporan laba rugi
karena berdasar aturan perpajakan bukan merupakan penghasilan. Sedangkan perbedaan
sementara boleh diakui, sehingga harus dilakukan rekonsiliasi fiskal untuk mengetahui laba
fiskal perusahan.
Keberadaan dua hal tersebut yang memunculkan timbulnya istilah pajak tangguhan.

3.2 Prinsip Dasar Akuntansi Pajak Penghasilan

Akuntansi pajak penghasilan seperti diatur dalam PSAK 46 menggunakan dasar akrual, yang
mengharuskan untuk diakuinya pajak penghasilan yang kurang dibayar atau terutang dan
pajak yang lebih dibayar dalam tahun berjalan.Secara garis besar prinsip dasar akuntansi
pajak penghasilan adalah sebagai berikut :
1) Pajak penghasilan tahun berjalan yang kurang bayar atau terutang diakui sebagai
Kewajiban Pajak Kini (Hutang Pajak) sedangkan yang lebih dibayar disebut Aktiva Pajak

3
Kini (Piutang Pajak)
2) Konsekuensi pajak peiode mendatang yang dapat didistribusikan dengan perbedaan
temporer kena pajak diakui sebagai Kewajiban Pajak Tangguhan, sedangkan
efekperbedaan temporer yang boleh dikurangkan  dan sisa kerugin yang belum
dikompensasikan diakui sebagai Aktiva Pajak Tangguhan.
3) Pengukuran kewajiban dan aktiva pajak didasarkan pada peraturan pajak yang berlaku
4) Penilaian kembali Aktiva Pajak Tangguhan harus dilakukan pada setiap tanggal neraca,
terkait dengan kemungkinan dapat atau tidaknya pemulihan aktiva pajak direalisasikan
dalam periode mendatang.

3.3 Tujuan PSAK 46

Tujuan PSAK 46 adalah untuk mengatur akuntansi pajak penghasilan. Dalam


mempertanggungjawabkan konsekuensi pajak pada periode berjalan dan mendatang yaitu
pemulihan (penyelesaian) jumlah tercatat aset (liabilitas) di masa depan yang diakui pada
laporan posisi keuangan entitas. Transaksi-transaksi lain pada periode kini yang diakui pada
laporan keuangan entitas. Pernyataan ini juga mengatur aset pajak tangguhan yang berasal
dari rugi yang dapat dikompensasi ke tahun berikut.

3.4 Ruang Lingkup PSAK 46

Ruang Lingkup PSAK 46 yaitu, PSAK ini diterapkan untuk akuntansi pajak penghasilan
termasuk semua pajak luar negeri yang didasarkan pada laba kena pajak. Pajak penghasilan
termasuk pemotongan pajak yang terutang oleh entitas anak, entitas asosiasi atau
venturabersama atas distribusi kepada entitas pelapor. Pajak penghasilan tidak berlaku pada
hibah pemerintah, tetapi berlaku atas perbedaan temporer yang dapat ditimbulkan dari hibah
tersebut atau kredit pajak investasi.

3.5 Istilah-istilah dalam PSAK 46

 Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada
periode masa depan sebagai akibat adanya:
- Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan
- Akumulasi rugi pajak belum dikompensasi
- Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan
mengizinkan.
 Beban pajak (Penghasilan pajak) adalah jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan
yang diperhitungkan dalam menentukan laba atau rugi pada satu periode.
 Laba akuntansi adalah laba atau rugi selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.
Laba kena pajak atau laba fiskal (rugi pajak atau rugi fiskal) adalah laba (rugi) selama satu
periode yang dihitung berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Pajak atas
pajak penghasilan yang terutang (dilunasi).
 Liabilitas pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terutang pada periode masa
depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
 Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan pajak
ini dikenakan atas laba kena pajak entitas.
4
 Pajak penghasilan final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah
pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak
penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak
penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis
penghasilan, transaksi, atau usaha tertentu.
 Pajak kini adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang (dilunasi) atas laba kena pajak
(rugi pajak) untuk satu periode.
 Perbedaan temporer adalah perbedaan antara jumlah tercatat aset atau liabilitas pada posisi
keuangan dengan dasar pengenaan pajaknya. Perbedaan temporer dapat berupa:
- Perbedaan temporer kena pajak adalah perbedaan temporer yang menimbulkan jumlah
kena pajak dalam penghitungan laba kena pajak (rugi pajak) periode masa depan pada
saat jumlah tercatat aset atau liabilitas dipulihkan atau diselesaikan.
- Perbedaan temporer dapat dikurangkan adalah perbedaan temporer yang menimbulkan
jumlah yang dapat dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak (rugi pajak)
periode masa depan pada saat jumlah tercatat aset atau liabilitas dipulihkan atau
diselesaikan.
 Perbedaan permanen dan perbedaan sementara dalam pajak
- Perbedaan Permanen
Perbedaan permanen adalah perbedaan pengakuan pajak yang timbul karena terjadi
transaksi-transaksi pendapatan dan biaya yang diakui menurut akuntansi komersial dan
tidak diakui menurut fiskal (pajak). Dimana pengakuan seperti hal tersebut biasanya
terdapat pada kategori dibwa ini, yaitu:
1. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedangkan menurut ketentuan
PPh bukan penghasilan. Misalnya dividen yang diterima oleh Perseroan Terbatas
sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal sebesar 25% atau lebih
pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia. (Pasal 4 ayat 3 UU
PPh).
2. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut ketentuan
PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. Penghasilan ini dikenakan pajak
tersendiri (final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung) dengan penghasilan
lainnya dalam menghitung PPh yang terutang. Misalnya :
a) Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek
b) Penghasilan dari hadiah undian
c) Penghasilan bunga tabungan, deposito, jasa giro dan diskonto BI
d) Penghasilan bunga/diskonto obligasi yang dijual di bursa efek
e) Penghasilan atas persewaan tanah dan bangunan
f) Penghasilan dari jasa konstruksi (Pengusaha Konstruksi Kecil)
g) Penghasilan WP perusahaan pelayaran dalam negeri
3. Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan menurut
ketentuan PPh tidak dapat dibebankan (Pasal 9 Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2000), misalnya biaya-biaya yang menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan
karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya; daftar nominatif biaya
entertainment, daftar nominatif atas peghapusan piutang), pembagian laba dengan
nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan

5
oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi, dll
- Perbedaan Sementara
Perbedaan sementara adalah perbedaan yang terjadi secara fiskal karena perbedaan
pengakuan waktu dan biaya dalam menghitung laba. adapun unsur-unsur yang menjadi
objek dalam beda sementara adalah
a) Metode Penyusutan dan atau Amortisasi
b) Metode penilaian persediaan
c) Penyisihan piutang tak tertagih
d) Rugi-laba selisih kurs
e) Kompensasi Kerugian
f) Penyisihan bonus
 Pengertian Pajak Tangguhan
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan datang yang
disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan
serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax loss carry
forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu periode tertentu.
Dampak PPh di masa yang akan datang yang perlu diakui, dihitung, disajikan dan
diungkapkan dalam laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi. Suatu perusahaan
bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki potensi hutang
pajak yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja perusahaan membayar
pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih kecil
di masa datang. Bila dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam neraca dan
laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya.
 Dasar Pengenaan Pajak
DPP aktiva adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal, terhadap setiap
manfaat ekonomi(penghasilan) kena pajak yang akan diterima perusahaan pada saat
memulihkan nilai tercatat aktiva tersebut. Apabila manfaat ekonomi (penghasilan) trsebut
tidak akan dikenakan pajak maka DPP aktiva adalah sama dengan nilai tercatat aktiva.
Contoh :
Mesin nilai perolehan 100. Untuk tujuan fiskal, mesin telah disusutkan sebesar 30 dan sisa
nilai buku dapat dikurangkan pada periode mendatang. Penghasilan mendatang dari
penggunaan aktiva merupakan obyek pajak. DPP aktiva tersebut adalah 70.
Piutang bunga mempunyai nilai tercatat 100. Untuk tujuan fiskal, pendapatan bunga diakui
dengan dasar kas. DPP piutang adalah nihil
Piutang usaha mempunyai nilai tercatat 100. Pendapatan usaha terkait telah diakui untuk
tujuan fiskal. DPP piutang adalah 100.
Pinjaman yang diberikan mempunyai nilai tercatat 100. Penerimaan kembali pinjaman
tidak mempunyai konsekuensi pajak. DPP pinjaman yang diberikan adalah 100
DPP kewajiban adalah nilai tercatat kewajiban dikurangi dengan setiap jumlah yang dapat
dikurangkan pada masa mendatang. Contoh :

Nilai tercatat beban yang masih harus dibayar (accured expenses) 100. Biaya tersebut
dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal dengan dasar kas. DPP-nya adalah nol.
Nilai tercatat pendapatan bunga diterima dimuka 100. Untuk tujuan fiskal, pendapatan

6
bunga tersebut dikenakan pajak dengan dasar kas. DPP-nya adalah nol.
Nilai tercatat beban masih harus dibayar (accured expense) 100. Untuk tujuan fiskal biaya
tersebut telah dikurangkan. DPP-nya adalah 100.
Nilai tercatat beban denda yang masih harus dibayar 100. Untuk tujuan fiskal, beban
denda tersebut tidak dapat dikurangkan. DPP-nya adalah 100.
Nilai tercatat pinjaman yang diterima 100. Pelunasan pinjaman tersebut tidak mempunyai
konsekuensi pajak. DPP-nya adalah 100.

Apabila DPP aktiva atau kewajiban tidak begitu jelas, maka DPP tersebut dapat ditentukan
menurut prinsip dasar yang digunakan dalam Pernyataan ini. Dengan beberapa
pengecualian, perusahaan harus mengakui kewajiban (aktiva) pajak tangguhan apabila
pemulihan nilai tercatat aktiva atau pelunasan nilai tercatat kewajiban tersebut akan
mengakibatkan pembayaran pajak pada periode mendatang lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan dengan pembayaran pajak sebagai akibat pemulihan aktiva atau pelunasan
kewajiban yang tidak memiliki konsekuensi pajak.

Dalam laporan keuangan konsolidasi, perbedaan temporer ditentukan dengan


membandingkan nilai tercatat aktiva dan kewajiban pada laporan keuangan konsolidasi
dengan DPP-nya. Berhubung peraturan perundangan perpajakan di Indonesia tidak
memperkenankan SPT konsolidasi, maka DPP aktiva dan kewajiban ditentukan dengan
merujuk pada SPT masing-masing entitas.
 Metode Penangguhan dalam Pajak penghasilan
a. Deferred Method (Metode Penangguhan)
Metode ini menggunakan pendekatan laba rugi (Income Statement Approach) yang
memandang perbedaan perlakuan antara akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang
laporan laba rugi, yaitu kapan suatu transaksi diakui dalam laporan laba rugi baik dari segi
komersial maupun fiskal. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan waktu dan perbedaan
permanen. Hasil hitungan dari pendekatan ini adalah pergerakan yang akan diakui sebagai
pajak tangguhan pada laporan laba rugi. Metode ini lebih menekankan matching principle
pada periode terjadinya perbedaan tersebut.
b. Asset-Liability Method (Metode Asset dan Kewajiban)
Metode ini menggunakan pendekatan neraca (Balance Sheet Approach) yang menekankan
pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi posisi keuangan dan
memprediksikan aliran kas pada masa yang akan datang. Pendekatan neraca memandang
perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang neraca, yaitu perbedaan
antara saldo buku menurut komersial dan dasar pengenaan pajaknya. Pendekatan ini
mengenal istilah perbedaan temporer dan perbedaan non temporer.
c. Net-of-Tax Method (Metode Bersih dari Pajak)
Metode ini tidak ada pajak tangguhan yang diakui. Konsekuensi pajak atas perbedaan
temporer tidak dilaporkan secara terpisah, sebaliknya diperlakukan sebagai penyesuaian
atas nilai asset atau kewajiban tertentu dan penghasilan atau beban yang terkait. Dalam
metode ini, beban pajak yang disajikan dalam laporan laba rugi sama dengan jumlah pajak
penghasilan yang terhutang menurut SPT tahunan.
 Bagaimana cara Menentukan Pajak Tangguhan

7
a. Pengakuan (Recognition)
Standar yang mengatur bahwa dampak PPh atas perbedaan temporer dan tax loss carry
forward (TLCF) atau kompensasi rugi harus diakui dalam laporan keuangan. Pengakuan
ini menyiratkan bahwa perusahaan pelapor akan memulihkan nilai tercatat asset pajak
tangguhan atau deferred tax asset (DTA) dan akan melunasi nilai tercatat dalam kewajiban
pajak tangguhan atau deferred tax liability (DTL) tersebut.
b. Pengukuran (Measurement)
Cara menghitung jumlah yang harus dibukukan dalam buku besar perusahaan. Dalam hal
ini pajak tangguhan akan dihitung dengan menggunakan tarif yang berlaku atau efektif
akan berlaku di masa yang akan datang.
c. Penyajian (Presentation)
Standar yang menentukan cara penyajian di dalam laporan keuangan, baik dalam neraca
ataupun laba rugi. Asset pajak tangguhan (DTA) atau kewajiban pajak tangguhan (DTL)
harus disajikan secara terpisah dari asset atau kewajiban pajak kini dan disajikan dalam
unsur non current dalam neraca.
d. Pengungkapan (Disclosure)
Berkaitan dengan standar informasi yang perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.Misalnya unsur-unsur utama perbedaan temporer yang menimbulkan pajak
tangguhan, unsur-unsur yang dibebankan langsung ke laba ditahan, perubahan tarif pajak
dan sebagainya.
 Bagaimana Cara Mengindentifikasi Aktiva atau Kewajiban Pajak Tangguhan dan
Penghasilan atau Beban Pajak Tangguhan menggunakan Pendekatan Laba Rugi
a. Lihat rekonsiliasi fiskal yang sudah dibuat dan identifikasi akun-akun di laba rugi yang
termasuk dalam beda waktu, seperti:
Beban penyisihan persediaan
Beban penyisihan piutang tak tertagih
Beban penyisihan bonus
Beban penyisihan pensiun
Beban penyusutan atau dan Beban amortisasi
b.Identifikasi koreksi fiskal yang dihasilkan dari akun-akun di atas dan tentukan apakah
koreksi fiskal tersebut termasuk koreksi positif atau negatif.
c. Hitung pajak tangguhan dengan cara menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh dikali koreksi
fiskal yang dihasilkan oleh langkah di atas.
d.Tentukan DTA/DTL dengan cara merujuk pada saldo DTA/DTL tahun sebelumnya.

3.6 Kesimpulan

PSAK No.46 merupakan standar yang mengatur perlakuan akuntansi pajak penghasilan
dengan menerapkan pendekatan neraca. Pendekatan neraca mengakui adanya kewajiban dan
aktiva pajak tangguhan terhadap konsekuensi fiskal masa depan sebagai akibat adanya
perbedaan waktu dan sisa kerugian yang belum dikompensasikan.
Apabila ada perusahaan belum menerapkan PSAK No.46 sehingga perubahan penerapan
kebijakan yang baru menyebabkan laporan keuangan harus disajikan kembali.Dari hasil
penyajian kembali tersebut diketahui bahwa penerapan PSAK No.46 mengakibatkan
munculnya akun baru yaitu aktiva pajak tangguhan yang menambah jumlah aktiva

8
perusahaan sebagai akibat dari adanya manfaat pajak tangguhan yang mengurangi beban
pajak perusahaan. Adanya manfaat pajak tangguhan juga mengakibatkan bertambahnya laba
perusahaan sehingga meningkatkan ekuitas perusahaan.

9
BAB IV
PSAK 47 “AKUNTANSI TANAH”

(AMNUR ROHMAN)

4.1 Penjelasan Tentang PSAK 47


Tanah adalah aktiva berwujud yang diperoleh siap pakai atau diperoleh lalu disempurnakan
sampai siap pakai dalam operasi entitas dengan
manfaat ekonomik lebih dari setahun, dan tidak dimaksud untuk diperjualbelikan dalam
kegiatan operasi normal entitas.
Beban Tangguhan karena pengurusan legal Hak Atas Tanah adalah biaya untuk memperoleh
semua hak yang diterbitkan oleh pemerintah berdasar peraturan perundang-undangan. Jenis
hak, batasan hak dan masa berlaku hak, tercantum secara eksplisit dalam dokumen hak
tersebut. Hak milik tak mempunyai batasan waktu kepemilikan, sehingga tidak dapat
dikelompokkan sebagai Beban Tangguhan, namun dikapitalisasi sebagai elemen biaya
Perolehan Tanah. Hak jenis lain diluar sertifikat hak milik mempunyai batasan waktu berlaku,
walaupun dapat diperpanjang dan atau diperbaharui. Berbeda dengan aktiva tak berwujud
lain, Beban Tangguhan yang timbul karena perolehan hak atas tanah terkait erat pada keadaan
fisik tanah. Masa manfaat tanah adalah:
a) Jangka waktu penggunaan aktiva tanah yang diharapkan dapat dicapai, atau
b) Jangka waktu jumlah unit produksi yang diharapkan dapat dihasilkan oleh suatu aktiva
tanah.
c) Masa berlakunya hak, bila hak tak dapat diperbaharui atau diperpanjang bila butir c lebih
pendek dari butir a atau b.

Masa manfaat Beban Tangguhan karena perolehan Hak Atas Tanah, adalah masa manfaat
tanah atau masa berlaku hak tak dapat diperpanjang atau diperbaharui mana yang lebih
pendek.
Nilai wajar tanah adalah harga pasar bebas obyektif pada tanggal transaksi perolehan atau
berdasar penilaian profesional yang berterima umum yang mana yang lebih handal.
Nilai wajar prasarana dan sarana adalah nilai pasar obyektif pada tanggal transaksi perolehan
atau dasar penilaian profesional berterima umum yang mana yang lebih handal.
4.2 Pengakuan tanah

 Biaya perolehan Aktiva Tetap Tanah yang dibangun


sendiri merupakan akumulasi seluruh biaya perolehan dan pengembangan
tanah, berupa biaya pematangan tanah, di luar Beban Tangguhan
akibat biaya legal pengurusan hak.
Pengakuan Awal Aktiva Tetap Tanah
 Tanah pada awalnya diukur berdasar biaya perolehanPengeluaran untuk memperoleh
tanah diakui secara terpisah dari pengeluaran
legal hak atas tanah. Apabila tanah diperoleh cuma-cuma, pengakuan awal terdiri dari
harga wajar sesuai paragraf 13 Standar ini, ditambah unsur biaya legal saja.

10
4.3 Komponen Biaya
Biaya perolehan tanah antara lain meliputi:
a) Harga transaksi pembelian tanah termasuk tanaman, prasarana, bangunan diatasnya yang
harus dibeli kemudian dimusnahkan. Bila tidak dimusnahkan, menggunakan paragrap 10.
Harga tanah berasal dari sumbangan diatur pada paragraf 13.
b) Biaya konstruksi atau pembuatan tanah, bila lahan tanah diciptakan.
c) Biaya ganti rugi penghuni, biaya relokasi.
d) Biaya pembelian tanah lain sebagai pengganti.
e) Biaya komisi perantara jual beli tanah.
f) Biaya pinjaman terkapitalisasi kedalam tanah.
g) Biaya pematangan tanah.
Beban Tangguhan untuk pengurusan legal Hak Atas Tanah antara lain meliputi:
a) Biaya legal audit seperti pemeriksaan keaslian sertifikat tanah, rencana tata kota.
b) Biaya pengukuran-pematokan- pemetaan ulang.
c) Biaya notaris, biaya jual beli & PPAT
d) Pajak terkait pada jual - beli tanah.
e) Biaya resmi yang harus dibayar ke Kas Negara, untuk perolehan hak, perpanjangan atau
pembaharuan Hak baik status maupun peruntukan.

Karena sifatnya berbeda dengan Beban Tangguhan yang lain, dan mempunyai hubungan erat
dengan aktiva Tanah, serta mempunyai pola amortisasi sendiri, maka penyajian di neraca
dipisahkan dari Beban
4.4 Tangguhan yang lain
Perolehan tanah dan prasarana-sarana yang berada di atas atau di bawah tanah secara
gabungan, dialokasi kepada aktiva tetap tanah secara proporsional berdasar perbandingan nilai
wajar aktiva tetap tanah dan aktiva non-tanah.

Apabila harga wajar tanah amat handal, maka harga tanah ditentukan lebih dahulu, lalu sisa
harga gabungan dikapitalisasi menjadi harga perolehan prasarana dan sarana. Cara yang sama
berlaku, yaitu bila harga prasarana dan sarana amat handal, sebaliknya harga wajar tanah sulit
ditentukan
4.5 Informasi tentang Beban Tangguhan - Hak Atas Tanah
Informasi tentang Beban Tangguhan - Hak Atas Tanah
harus diungkapkan, dalam catatan atas laporan keuangan, terutama:
a) Keterkaitan dengan tanah tertentu, sejalan dengan pengungkapan pada paragraf 30.
b) Kebijakan amortisasi Beban Tangguhan dan alasan pemilihan kebijakan.
c) Bila perpanjangan atau pembaharuan hak tidak diperoleh, harus diungkapkan secara khusus
TANGGAL EFEKTIF Pernyataan ini berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian
laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal
1 Januari 1999. Penerapan lebih dini dianjurkan.

11
BAB V

PSAK 48 “PENURUNAN NILAI ASET”

(ARIF RIFAI)

5.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 48 Penurunan Nilai Aset Pengertian


Definisi

Penurunan Nilai Aset (impairment) terjadi apabila jumlah tercatatnya melebihi jumlah
terpulihkan. Jumlah terpulihkan suatu aset atau unit penghasil kas adalah jumlah yang lebih
tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya. Pada setiap akhir
periode pelaporan, entitas menilai apakah terdapat indikasi aset mengalami penurunan nilai.
Jika terdapat indikasi tersebut, maka entitas mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut. 
Penurunan nilai didasarkan pada prinsip konservatisme dan kehati-hatian. Aset tak boleh
dicatat overstated, dari nilai dapat diperoleh kembali. Aset harus disajikan sebesar nilai yang
mencerminkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh di masa depan. Jika nilai di masa depan
lebih rendah dari nilai tercatat, maka aset harus diturunkan.Pengukuran penurunan nilai dapat
dilakukan untuk satu unit aset tunggal maupun satu kelaompok aset. Ada aset yang dapat
menghasilkan arus kas independen dari aset atau kelompok aset lain. Jika satu aset dapat
menghasilkan arus kas independen maka pengukuran penurunan nilai dilakukan berdasarkan
unit aset tersebut. Namun ada beberapa aset yang dapat menghasilkan arus kas jika berada
dalam kelompok aset, sehingga penurunan nilai dilakukan untuk satu unit penghasil kas.
Contoh unit penghasil kas adalah investasi asosiasi, investasi di anak perusahaan, suatu unit
pabrik.
Aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan (value through sales) dan penggunaan (value
through sales). Jika aset dijual, entitas akan mendapatkan nilai wajar dikurangi dengan biaya
penjualan. Dalam penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat
diperoleh kembali dan nilai yang digunakan.

5.2 Penurunan Nilai Aset Berdasarkan PSAK No.48 (revisi 2013)

Penurunan nilai terjadi pada saat perubahan situasi menyebabkan estimasi arus kas masa
mendatang (manfaat aset di masa datang) lebih rendah dari nilai buku aset tersebut. Secara
periodik perusahaan harus menguji atau mereviewI ada atau tidaknya indikasi tersebut maka
perusahaan harus menaksir atau mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut. Untuk setiap
aset yang mengalami penurunan nilai, perusahaan akan mencatat kerugian selisih antara nilai
buku aset dengan nilai pasar aset maka aset diturunkan sebesar nilai wajar (fair value).
Tujuan PSAK No.48 (revisi 2013) Menetapan prosedur agar aset dicatat tidak melebihi
jumlah terpulihkannya. Aset dikatakan melebihi jumlah terpulihkan jika jumlah tercatat aset
melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui penggunaan atau penjualan aset.

12
5.3 Ruang Lingkup.

Pernyataan ini diterapkan untuk akuntansi penurunan nilai terhadap semua aset, kecuali :
a) Persediaan (lihat PSAK 14: Persediaan).
b) aset yang timbul dari kontrak konstruksi (lihat PSAK 34:Akuntansi KontrakKonstruksi)
c) aset pajak tangguhan (lihat PSAK 46: Akuntansi Pajak Penghasilan)
d) aset yang timbul dari imbalan kerja (lihat PSAK 24: Imbalan Kerja)
e) aset keuangan yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan
Pengakuan dan Pengukuran
f) Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (lihat PSAK 13: Properti Investasi)
g) biaya akuisisi tangguhan, dan aset tidak berwujud, yang timbul dari hak kontraktual penan
ggung berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK28:
Kontrak Asuransi; dan
h) aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang diklasifikas ikan sebagai dimiliki
untukdijual sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan
Operasi yang Dihentikan.

PSAK 48 ini berlaku untuk aset keuangan yang dikelompokkan sebagai  investasi dalam
a) entitas anak PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan
Tersendiri; 
b) ventura bersama PSAK 12: Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama 
c) entitas asosiasi PSAK 15. Investasi pada Entitas Asosiasi.

5.4 Indikasi Penurunan Nilai Aset

Ada 2 (dua) informasi minimum yang perlu dipertimbangkan entitas perihal adanya indikasi
penurunan nilai, diantaranya :
Informasi eksternal meliputi : 
a) Perubahan signifikan nilai pasar
b) Perubahan signifikan teknologi, pasar, ekonomi dan lingkup hukum
c) Perubahan suku bunga
d) Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya
Informasi Internal yang meliputi :
a) Bukti keusangan atau kerusakan fisik aset
b) Perubahan signifikan atas penggunaan, penghentian dan masa manfaat aset
c) Bukti internal mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk dari yang
diharapkan

13
Contoh
Pada tahun 2009, Kyo Industries membeli peralatan untuk memproduksi printer yang
berkecepatan tinggi. Peralatan ini berharga perolehan Rp. 1.000.000, mempunyai masa
manfaat 8 tahun, dan taksiran nilai sisa Rp. 200.000. Dua tahun kemudian, dengan
munculnya printer laser sebagai printer yang lebih cepat dan bermutu lebih tinggi daripada
printer jenis chain-drive contract, menjadi jelas bagi manajemen Kyo Industries bahwa
peralatan produksinya mendadak mengalami penurunan nilai yang permanen. Pada awal
2010, ketika nilai buku dari peralatan itu sebesar 800.000 {1.000.000 – (1.000.000-
200.000)/8 x 2}, manajemen menentukan bahwa (1) nilai haruslah hanya sebesar Rp.
300.000, masa manfaat 2 tahun, dan nilai sisa sebesar Rp. 50.000. Penghapusan seperti itu
tidak diklasifikasikan sebagai pos luar biasa karena penghapusan aset operasi sering terjadi
dalam kegiatan bisnis yang normal.

Jika diperkirakan tidak ada penggunaan masa depan untuk peralatan itu, suatu ayat jurnal
serupa dengan diatas harus dibuat untuk suatu jumlah yang mengurangi nilai buku sampai
nilai sisa. Selain itu, peralatan harus diklasifikasikan kembali ke aset bukan operasi
(investasi) di laporan posisi keuangan.

5.5 Pengungkapan

Untuk setiap kelompok aset, entitas mengungkapkan hal berikut ini:


a) Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode tersebut
dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi penurunan nilai.
b) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama
periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi
penurunan nilai yang dibalik
c) jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif lainnya selama periode itu.
d) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan
laba rugi komprehensif lainnya selama periode tersebut.

14
BAB VI

PSAK NO 49 “AKUNTANSI REKSA DANA”

(HILMAN HABIB)

6.1 Pendahuluan

Karakteristik Usaha Reksa Dana

1 Dana yang dihimpun pada suatu reksa dana dapat ditarik setiap saat oleh pemodal melalui
penjualan unit penyertaan kepada reksa dana tersebut.

2 Nilai Aktiva Bersih reksa dana merupakan nilai dari seluruh unit penyertaan yang dijual
oleh reksa dana kepada investor. Nilai Aktiva Bersih reksa dana terbuka harus tersedia setiap
hari bursa.

Bapepam sebagai pembina dan pengawas reksa dana memerlukan informasi keuangan khusus
yang mungkin tidak tersedia dalam laporan keuangan yang disajikan berdasarkan Pernyataan
SAK no 49.

6.2 Definisi

Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Reksa Dana Terbuka adalah reksa dana yang dapat menawarkan dan membeli kembali
saham-sahamnya dari pemodal sampai dengan sejumlah modal yang telah dikeluarkan.

Kustodian adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain yang berkaitan
dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain,
menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.

Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham,
obligasi, tanda bukti hutang dan unit penyertaan kontrak investasi kolektif. Termasuk dalam
pengertian efek adalah kontrak berjangka dan setiap derivatif lain dari efek.

6.3 Isi Dan Penjelasan

Transaksi Reksa Dana untuk Portofolio Efek

Transaksi portofolio efek diakui dalam laporan keuang-an reksa dana pada saat
timbulnya perikatan atas transaksi efek.

Dalam transaksi efek di pasar reguler, tanggal timbulnya perikatan transaksi berbeda dengan
tanggal penyelesaian transaksi. Risiko, manfaat dan potensi ekonomi timbul pada tanggal
perikatan transaksi tersebut, meskipun penyerahan atau penyerahan efek belum terjadi.
Lapor-an keuangan reksa dana harus menyajikan piutang transaksi efek atas tagihan yang
timbul kepada perusahaan efek dari penjualan efek pada tanggal perdagangan dan hutang

15
transaksi efek atas kewajiban yang timbul dari pembelian efek kepada perusahaan efek pada
tanggal perdagangan.

Penilaian Portofolio Reksa Dana

Portofolio efek dinilai berdasarkan harga pasar. Keun-tungan atau kerugian yang
belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan harga pasar dilaporkan dalam
laporan operasi dan per-ubahan aktiva bersih periode berjalan.

Efek yang diperdagangkan di bursa mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi dan mengalami
perubahan harga yang cukup cepat. Oleh karena itu, penilaian berdasarkan harga pasar lebih
mencerminkan nilai yang dapat direalisasi. Harga pasar tersedia di bursa dan dipublikasikan
secara harian. Dalam hal suatu efek tercatat pada lebih dari satu bursa, maka harga pasar yang
digunakan adalah harga terakhir pada bursa utama dimana efek tersebut diperdagangkan.

Untuk efek dalam portofolio reksa dana yang per-dagangannya tidak likuid atau harga
pasar yang tersedia tidak dapat diandalkan, maka efek tersebut dinilai berdasarkan
nilai wajar.

Meskipun suatu efek tercatat di bursa, dapat terjadi bahwa harga pasar efek tersebut tidak
tersedia atau tidak dapat diandalkan, karena efek tersebut tidak aktif diperdagangkan. Dalam
hal demikian, harus ditentukan nilai wajar dari efek tersebut.

Beban dan Pendapatan

Beban yang Berhubungan dengan Pengelolaan Investasi

Beban yang berhubungan dengan pengelolaan inves-tasi diakui secara akrual dan
harian.

Sesuai dengan karakteristiknya, reksa dana menerbitkan laporan nilai aktiva bersih setiap
hari. Oleh karena itu, perhitungan beban harus dilakukan secara harian.

Beban yang berhubungan dengan kegiatan reksa dana antara lain termasuk:

a) beban pengelolaan investasi sebagai imbalan atas jasa manajer investasi;

b) beban transaksi yang terdiri dari beban jasa pialang, beban bursa, dan beban lain yang
terkait dengan transaksi yang dilakukan untuk kepentingan portofolio efek;

c) beban kustodian sebagai imbalan atas jasa kustodian; dan

d) beban penerbitan prospektus.

Pada umumnya jumlah beban reksa dana dan beban kus-


todian ditentukan dalam kontrak berdasarkan persentase tertentu dari nilai
aktiva bersih harian reksa dana yang bersangkutan.

Keuntungan (Kerugian) Investasi Reksa Dana

16
Keuntungan (kerugian) investasi yang telah direalisasi dan yang belum direalisasi
diakui pada laporan laba rugi periode berjalan.

Dalam kegiatan mengelola dana pada suatu reksa dana, manajer investasi menginvestasikan
dana tersebut dalam portofolio efek. Keuntungan atau kerugian investasi berasal baik dari
penjualan efek maupun dari kenaikan (penurunan) nilai wajar efek. Untuk pelaporan reksa
dana, keuntungan atau kerugian tersebut dibagi ke dalam dua klasifikasi, yaitu:

a) Keuntungan (kerugian) yang sudah direalisasi; dan

b) Keuntungan (kerugian yang belum direalisasi.

Keuntungan (kerugian) yang berasal dari penjualan efek merupakan keuntungan (kerugian)
yang telah direalisasi, sedangkan yang berasal dari kenaikan (penurunan) nilai wajar efek
merupakan keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi. Piutang bunga dari efek hutang
merupa-kan keuntungan yang belum direalisasi.

Dalam menghitung keuntungan (kerugian) penjualan efek digunakan metode rata-rata untuk
penilaian harga pokok yang dianut oleh industri reksa dana.

Pendapatan dari Pembagian Hak oleh Perusahaan

Pendapatan dari pembagian hak oleh perusahaan diakui pada tanggal ex (ex-date).

Dari kegiatan investasi pada saham dalam portofolio efek, akan diperoleh dividen, saham
bonus dan hak lain yang dibagikan oleh perusahaan. Untuk saham yang tercatat di bursa
saham, pada pembagian hak tersebut dikenal beberapa tahapan, yaitu:

a) tanggal pengumuman dividen oleh perusahaan;

b) tanggal cum (cum-date), yaitu tanggal yang menyatakan bahwa semua saham beredar dari
perusahaan dimaksud memiliki hak atas dividen atau saham bonus atau hak lain yang akan
dibagikan;

c) tanggal ex (ex-date), yaitu tanggal dimana saham perusahaan dimaksud tidak memiliki hak
atas dividen, saham bonus atau hak lain.

Pada tanggal ex (ex-date) harga pasar dari saham yang tercatat di bursa cenderung untuk
terpengaruh turun karena tidak lagi memiliki klaim atas hak yang diumumkan perusahaan.
Oleh sebab itu pembagian hak tersebut tidak dicatat pada tanggal cum (cum-date)

Pendapatan Bunga

Pendapatan bunga dari efek hutang diakui secara akrual dan dilaporkan sebagai
pendapatan yang belum direalisasi.

Potongan harga pembelian dari nilai pokok efek hutang diakui sebagai piutang bunga
dan diamortisasi sebagai pendapatan bunga sepanjang umur efek hutang tersebut.

17
Obligasi yang dibeli dengan harga terpisah dari bunga berjalan, maka bunga yang
dibayar tersebut diakui sebagai piutang bunga

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN Laporan Keuangan Reksa Dana

Laporan keuangan reksa dana terdiri dari:

a) Laporan aktiva dan kewajiban;

b) Laporan operasi;

c) Laporan perubahan aktiva bersih; dan

d) Catatan atas laporan keuangan.

Laporan Aktiva dan Kewajiban

Tujuan laporan aktiva dan kewajiban adalah untuk me-nyediakan informasi mengenai
aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih suatu reksa dana dan informasi mengenai
hubungan antar unsur ter-sebut pada waktu tertentu.

Laporan aktiva dan kewajiban disajikan dengan meng-gunakan metode tidak


dikelompokkan (unclassified) sehingga aktiva dan kewajiban tidak dikelompokkan
menjadi elemen lancar dan elemen tidak lancar. Pada bagian aktiva, akun portofolio
efek disajikan pada urutan pertama, sedangkan akun lainnya berdasarkan urutan
likuiditas. Akun kewajiban dilaporkan berdasarkan urutan jatuh tempo.

Laporan Operasi

Tujuan laporan operasi adalah untuk menyajikan peru-bahan aktiva bersih yang berasal
dari seluruh aktivitas investasi reksa dana, dengan melaporkan pendapatan investasi berupa
dividen, bunga, dan pendapatan lain-lain dikurangi beban-beban, jumlah keuntungan
(kerugian) transaksi efek yang telah direalisasi, dan per-ubahan nilai wajar efek dalam
portofolio efek yang belum direalisasi dalam satu periode. Penyajian tersebut akan membantu
pengguna laporan untuk memahami kontribusi setiap aspek kegiatan investasi terhadap
operasi reksa dana secara keseluruhan.

Laporan operasi disajikan dalam bentuk berjenjang (multiple-step) dengan


memisahkan pendapatan dan beban investasi dari keuntungan (kerugian) yang berasal
dari kenaikan atau penurunan nilai wajar portofolio efek (baik yang sudah direalisasi
maupun yang belum direalisasi).

Laporan Perubahan Aktiva Bersih

Tujuan laporan perubahan aktiva bersih adalah untuk menyajikan informasi ringkas
tentang perubahan aktiva bersih dari operasi dan perubahan aktiva bersih yang
berasal dari transaksi dengan pemegang saham atau pemilik unit penyertaan.

18
Laporan perubahan aktiva bersih disajikan dengan memisahkan antara perubahan
aktiva bersih yang berasal dari operasi dan perubahan aktiva bersih yang berasal dari
transaksi dengan pemegang saham atau pemilik unit penyertaan.

PENGUNGKAPAN

Informasi berikut ini harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a) ikhtisar pembelian dan penjualan efek selama periode pelapor-


an yang memuat informasi untuk tiap efek sebagai berikut:

1. 1. Efek ekuitas (i) nama efek; (ii) nilai total harga beli/jual; (iii) jumlah efek.
2. 2. Efek hutang (i) nama efek; (ii) nilai total harga beli/jual (iii) jumlah efek; (iv) nilai
nominal; (v) tanggal jatuh tempo; (vi) tingkat bunga; (vii) peringkat efek

b) beban komisi Perantara Pedagang Efek selama periode pelaporan

c) jumlah unit penyertaan yang dimiliki oleh pemodal dan yang dimiliki oleh manajer
investasi

rincian portofolio efek yang memuat informasi untuk tiap efek sebagai berikut:

1. 1. nama efek;
2. 2. nilai wajar;
3. 3. jumlah efek;
4. 4. nilai nominal untuk efek hutang;
5. 5. tanggal jatuh tempo;
6. 6. tingkat bunga;
1. 7. persentase nilai wajar dari efek terhadap total nilai wajar portofolio efek;

19
BAB VII

PSAK 50 “INSTRUMEN KEUANGAN : PENYAJIAN”


(MUHAMMAD HILMI FAZA)

7.1 Tentang PSAK 50

PSAK 50 merupakan adopsi dari IAS 32 Financial Instrument: Presentation

•PSAK revisi 2006 baru berlaku 2008  ditunda penerapan 2010

• PSAK revisi 2010 merevisi PSAK 50 (sebelumnya mengenai instrumen keuangan:


penyajian dan pengungkapan yang diterbitkan tahun 2006).

• PSAK 50 (revisi 2010) diadopsi dari IAS 32 versi Oktober 2009.

• PSAK 50 (2014)

– Penghapusan pengaturan pajak penghasilan terkait dividen

– Penambahan persyaratan saling hapus aset dan liabilitas keuangan

– Penyesuaian definisi nilai wajar sesuai PSAK 68

7.2 Isi dari PSAK.50 2016

• Devinisi nilai wajar

• Liabilitas dan Ekuitas

• Instrumen Keuangan Majemuk

• Saham yang Diperoleh Kembali(Saham Treasuri)

• Saham, Deviden, Kerugian dan Keuangan

• Saling Hapus antar Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan (revisi 2013)

7.3 Penjelasandari isi PSAK 50

1.Devinis nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga
yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku
pasar pada tanggal pengukuran.

2.Yang dimaksud Liabilitas dan ekuitas adalah Penerbit instrumen keuangan pada saat
pengakuan awal mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponennya sebagai liabilitas
keuangan, aset keuangan, atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian
kontraktual dan definisi liabilitas keuangan, aset keuangan, dan instrumen ekuitas.

3.Mengatur instrumen keuangan majemuk yaitu penerbit instrumen keuangan


nonderivatif mengevaluasi persyaratan instrumen keuangan untuk menentukan apakah

20
instrumen tersebut mengandung komponen liabilitas dan ekuitas. Komponen tersebut
diklasifikasikan secara terpisah sebagai liabilitas keuangan, aset keuangan,, atau instrumen
ekuitas sesuai dengan ketentuan di paragraf 11 dalam PSAK.50.Entitas mengakui secara
terpisah komponen instrumen keuangan yang: menimbulkan liabilitas keuangan bagi entitas;
dan memberikan opsi bagi pemegang instrumen untuk -mengkonversi instrumen keuangan
tersebut menjadi instrumen ekuitas dari entitas yang bersangkutan.

4.Pengertian Saham Treasuri

-Jika entitas. memperoleh kembali instrumen ekuitasnya, maka instrumen tersebut (saham
treasuri) dikurangkan dari ekuitas.

-Keuntungan atau kerugian yang timbul dari pembelian, penjualan, penerbitan, atau
pembatalan instrumen ekuitas entitas tersebut tidak diakui dalam laba rugi.

-Saham treasuri tersebut dapat diperoleh dan dimiliki oleh entitas yang bersangkutan atau
oleh anggota lain dalam kelompok usaha yang dikonsolidasi. Imbalan yang dibayarkan atau
diterima diakui secara langsung di ekuitas.

-Nilai saham treasuri yang dimiliki diungkapkan secara terpisah, dalam Iaporan posisi
keuangan atau catatan atas laporan keuangan, sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan
Keuangan.

-Entitas mengungkapkan sesuai dengan PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi jika


saham treasuri diperoleh oleh pihak-pihak berelasi.

5.Pengertian Bunga Deviden,Keuntungan dan Kerugian.

Bunga, dividen, keuntungan, dan kerugian yang terkait dengan instrumen keuangan atau
komponen yang merupakan liabilitas keuangan diakui sebagai pendapatan atau beban dalam
laba rugi.

Distribusi kepada pemegang instrumen ekuitas didebit oleh entitas secara langsung ke
ekuitas, setelah dikurangi dampak pajak penghasilan terkait.

Biaya transaksi yang timbul dari transaksi ekuitas, dicatat sebagai pengurang ekuitas, setelah
dikurangi dampak pajak penghasilan terkait.

6.Pengertian saling hapus antar asset keuangan dan liabilitas keuangan.

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai netonya disajikan dalam laporan
posisi keuangan jika, dan hanya jika, entitas:

saat ini memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan sating hapus
atas jumlah yang telah diakui tersebut; dan

berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan
liabilitasnya secara simultan.

21
Dalam akuntansi untuk transfer atas aset keuangan yang tidak memenuhi kualifikasi
penghentian pengakuan, entitas tidak boleh melakukan saling hapus aset keuangan yang
ditransfer dan liabilitas terkait (lihat PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen Keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran paragraf 36).

Entitas mengungkapkan informasi yang disyaratkan dalam PSAK 60: Instrumen Keuangan:
Pengungkapan paragraf 13B-13E untuk pengakuan instrumen keuangan yang termasuk dalam
ruang lingkup paragraf PSAK 60 paragraf 13A.

22
KESIMPULAN

PSAK digunakan sebagai pedoman untuk menjalankan segala hal yang ada hubungannya
dengan akutansi dan proses penyusunan PSAK melibatkan Ikatan Akutansi Indonesia (IAI).
Masing masing bab daalam PSAK mempunyai penjelasan dan pembahasan yang berbeda dan
dapat beberapa kali mengalmi revisi karena PSAK harus mengikuti perkembangan jaman dan
peraturan perundang undangan yang selalu berubah-ubah.

23
24