Anda di halaman 1dari 53

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI

KEUANGAN
PSAK NO. 11 – 15

Kelas Ma 17 D6
Kelompok 3
 Ellis Nurlita Fitriani
 Inda Rapita
 Iin Septiani
 Rahayu Mardiana
 Rani Fera Hutasoit
Dosen pembimbing Yuki Dwi Dharma.,SE.,MM
DAFTAR ISI

BAB I : PSAK No.11


Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing.....................................

BAB II : PSAK No. 12


Partisipasi Dalam Ventura Bersama.......................................................................

BAB III : PSAK NO. 13


Properti Investasi....................................................................................................

BAB IV : PSAK No.14


Akuntansi Persediaan..............................................................................................

BAB V : PSAK No.15


Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi...........................................
BAB I
PSAK No.11
“Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing”

(Rahayu Mardiana)
https://okta8th.wordpress.com/2009/03/09/psak-no-11penjabaran-laporan-keuangan-dalam-mata-uang-asing/

Tujuan
Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing
(foreign activities) dalam dua cars; melakukan transaksi dalam mata uang asing
atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan
kegiatan usaha luar negeri pada laporan keuangan suatu perusahaan, laporan
keuangan kegiatan usaha luar negeri harus dijabarkan ke dalam mata uang
pelaporan perusahaan.
Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk penjabaran laporan keuangan
dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan
pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs valuta asing dalam laporan
keuangan.
Ruang Lingkup
01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam penjabaran laporan keuangan dari
kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial atau
melalui penerapan dengan metode ekuitas.
02 Pernyataan ini tidak mengatur akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing
(lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam
Mata Uang Asing).
03 Pernyataan ini tidak menspesifikasi mata uang yang digunakan perusahaan
dalam menyajikan laporan keuangannya. Suatu perusahaan biasanya menggunakan
mata uang resmi negara tempat perusahaan berdomisili. Jika perusahaan
menggunakan mata uang lainnya, Pernyataan ini mewajibkan pengungkapan alasan
penggunaan mata uang tersebut. Pernyataan ini juga mewajibkan pengungkapan
alasan perubahan mata uang pelaporan.
04 Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan kembali laporan keuangan dalam mata
uang pelaporan ke mata uang lain.
05 Pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang
bersumber dari penjabaran arus kas suatu kegiatan usaha luar negeri (lihat
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 tentang Laporan Arus Kas).
Definisi
06 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:
Kegiatan usaha luarnegeri (foreign operation) adalah suatu anak perusahaan
(subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan (joint venture) atau
cabang dari perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di
luar negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan suatu
bagian integral dari suatu perusahaan pelapor atau suatu entitas asing.
Entitas asing (foreign entity) adalah suatu kegiatan usaha luar negeri
(foreign operation), yang aktivitasnya bukan merupakan suatu bagian integral dari
perusahaan pelapor.
Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan
keuangan.
Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu
perusahaan. Nilai tukar (kurs) adalah rasio pertukaran dua mata uang.
Beda nilai tukar (exchange difference) adalah selisih yang dihasilkan dari
pelaporan jumlah unit mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan
pada nilai tukar yang berbeda.
Kurs penutup (closing rate) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca.
Investasi veto dalam suatu entitas asing adalah bagian (share) perusahaan
pelapor dalam aktiva neto suatu entitas asing.
Pos moneter adalah kas dan setara kas, aktiva dan kewajiban yang akan
diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.
Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai
dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham
(knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arms’s length
transaction).
PENJELASAN
Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri
07 Metode yang digunakan untuk menjabarkan laporan keuangan suatu kegiatan
usaha luar negeri tergantung pada cara pendanaan dan operasi perusahaan
pelapor. Untuk tujuan ini, kegiatan usaha luar negeri dikiasifikasikan baik sebagai
“kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dengan operasi
perusahaan pelapor” atau sebagai “entitas asing”.
08 Suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dengan
operasi perusahaan pelapor menjalankan usahanya seolah-olah suatu perluasan dari
operasi perusahaan pelapor. Sebagai contoh, suatu kegiatan usaha luar negeri
semacam itu mungkin hanya menjual barang-barang yang diimpor dari perusahaan
pelapor dan mengirimkan hasilnya ke perusahaan pelapor. Dalam keadaan tersebut,
suatu perubahan dalam nilai tukar antara mata uang pelaporan (reporting currency)
dengan mata uang kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) memiliki dampak
langsung pada arus kas dari operasi perusahaan pelapor. Karenanya, perubahan
dalam nilai tukar mempengaruhi masing-masing pos moneter pada kegiatan usaha
luar negeri daripada investasi neto perusahaan pelapor dalam operasi tersebut.
09 Sebaliknya, suatu entitas asing mengakumuIasikan kas dan pos moneter
lainnya, mengadakan pengeluaran, menghasilkan pendapatan atau berhutang,
dalam mata uang setempat. Entitas asing mungkin juga melakukan transaksi dalam
mata uang asing, termasuk transaksi dalam mata uang perusahaan pelapor.
Perubahan dalam nilai tukar hanya sedikit atau bahkan tidak berdampak atas arus
kas dari operasi balk sekarang maupun yang akan datang untuk entitas asing
maupun perusahaan pelapor. Perubahan dalam nilai tukar mempengaruhi investasi
neto perusahaan pelapor dalam entitas asing ketimbang pos-pos moneter dan non-
moneter secara individual yang dipegang oleh entitas asing.
10 Indikasi entitas asing (foreign entity):
a. walaupun perusahaan pelapor mungkin mengendalikan kegiatan usaha luar
negeri, tetapi masih terdapat tingkat otonomi yang memadai;
b. transaksi-transaksi dengan perusahaan pelapor bukan suatu proporsi besar
bagi kegiatan usaha luar negeri;
c. aktivitas operasi luar negeri dibiayai terutama dari operasinya sendiri atau
pinjaman lokal, bukan dari perusahaan pelapor;
d. biaya tenaga kerja, bahan baku dan komponen lainnya dari produk atau jasa
kegiatan usaha luar negeri terutama dibayar atau diselesaikan dalam mata
uang lokal daripada dalam mata uang pelaporan;
e. penjualan kegiatan usaha luar negeri terutama dalam mata uang yang
berbeda dengan mata uang pelaporan; dan
f. pengelolaan arus kas mandiri.

Penggolongan yang tepat untuk setiap kegiatan usaha pada prinsipnya dapat
ditentukan berdasarkan informasi yang berkaitan dengan indikator tersebut di atas.
Kadang-kadang pembedaan suatu kegiatan usaha luar negeri (foreign operation)
sebagai suatu entitas asing atau kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian
integral dari perusahaan pelapor mungkin tidakjelas, dan memerlukan
pertimbangan.
Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) yang Merupakan Bagian
Integral dari Perusahaan Pelapor
11 Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bag
ian integral dari perusahaan pelapor harus dijabarkan dengan menggunakan
prosedur sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-olah transaksi kegiatan
usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan pelapor sendiri.
12 Masing-masing pos dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri
dijabarkan seolah-olah seluruh transaksi telah dilaksanakan sendiri oleh
perusahaan pelapor.
a) Biaya perolehan dan beban penyusutan aktiva tetap berwujud, dijabarkan
menggunakan kurs tanggal transaksi atau, jika aktiva dinilai dengan nilai
wajar, menggunakan kurs pada tanggal penilaian.
b) Biaya persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 14
tentang Persediaan) dijabarkan dengan menggunakan kurs pada saat biaya
terjadi.
c) Jumlah yang dapat dipulihkan (recoverable amount) atau nilai yang dapat
direalisasikan (realisable value) dari suatu aktiva dijabarkan dengan
menggunakan kurs yang berlaku pada saat penilaian.
Contohnya, apabila nilai realisasi neto dari suatu pos persediaan ditentukan
dalam suatu mata uang asing maka jumlah tersebut dijabarkan dengan
menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal nilai realisasi neto ditentukan, atau
kurs penutup (closing rate) karena biasanya penilaian dilakukan pada saat tanggal
neraca. Suatu penyesuaian mungkin diperlukan untuk mengurangi nilai tercatat
suatu aktiva dalam laporan keuangan perusahaan pelapor sehingga menjadi jumlah
yang terpulihkan atau nilai realisasi neto,meskipun penyesuaian tersebut tidak
diperlukan dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri.
Sebaliknya, penyesuaian dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri
perlu dieliminasi balik (reverse) dalam laporan keuangan perusahaan pelapor.
13 Untuk tujuan praktis, apabila kurs yang sebenarnya sulit diketahui, maka sering
kali digunakan kurs rata-rata selama periode yang bersangkutan sebagai dasar
penjabaran.
Entitas Asing
14 Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/
diinkorporasi dengan laporan keuangan perusahaan pelapor, digunakan prosedur
sebagai berikut:
a) aktiva dan kewajiban entitas asing, balk moneter maupun non-moneter
dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate);
b) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs
yang berlaku pada tanggal transaksi; dan
c) Beda nilai tukar yang terjadi disajikan sebagai “selisih kurs karena
penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas
sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan.
15 Berdasarkan pertimbangan praktis, suatu kurs yang mendekati nilai tukar
sebenarnya, misalnya kurs rata-rata selama suatu periode, sering kali digunakan
untuk menjabarkan pendapatan dan beban suatu entitas asing.
16 Penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing mengakibatkan pengakuan
beda nilai tukar yang timbul dari:
a) pendapatan dan beban dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal
transaksi dan aktiva serta kewajiban dengan menggunakan kurs penutup;
b) penjabaran saldo awal investasi neto dalam entitas asing dengan kurs yang
berbeda dan yang dilaporkan sebelumnya; dan
c) perubahan lain atas ekuitas dalam entitas asing.
Beda nilai tukar ini tidak diakui sebagai pendapatan atau beban untuk periode
yang bersangkutan, karena perubahan dalam nilai tukar hanya sedikit atau bahkan
tidak berdampak atas arus kas dari operasi baik sekarang maupun yang akan
datang untuk entitas asing maupun perusahaan pelapor. Bila suatu entitas asing
dikonsolidasikan tapi tidak dimiliki seluruhnya, akumulasi beda nilai tukar yang
ditimbulkan penjabaran dan teratribusi untuk kepentingan minoritas, dialokasikan
dan dilaporkan sebagai suatu bagian dari kepentingan minoritas dalam neraca
konsolidasi.
17 Setiap goodwi yang timbul dari akuisisi suatu entitas asing dan setiap
penyesuaian nilai wajar terhadap nilai tercatat (carrying value) aktiva dan
kewajiban yang timbul sehubungan akuisisi suatu entitas asing diperlakukan
dengan salah satu cara sebagai:
a) aktiva dan kewajiban dari entitas asing dan dijabarkan dengan kurs penutup
(closing rate) sesuai dengan paragraf 14; atau
b) aktiva dan kewajiban perusahaan pelapor yang telah dinyatakan dalam mata
uang pelaporan atau sebagai pos non-moneter dalam mata uang asing yang
dilaporkan dengan menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi sesuai
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi
dalam Mata Uang Asing paragraf 27 b.

18 Penyatuan/inkorporasi laporan keuangan entitas asing dalam perusahaan


pelapor mengikuti prosedur normal, misalnya pengeliminasian saldo intragrup dan
transaksi intragrup dari satu anak perusahaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi, Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan
Asosiasi, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 12 tentang Pelaporan
Keuangan mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi dan
Aset). Akan tetapi beda nilai tukar yang timbul pada suatu pos moneter intragrup,
baik jangka pendek atau jangka panjang, tidak dapat dieliminasi terhadap saldo
intragrup lainnya karena pos moneter menunjukkan suatu komitmen untuk
menukar satu mata uang ke mata uang lainnya dan memberikan dampak pada
perusahaan pelapor tentang keuntungan atau kerugian karena fluktuasi kurs mata
uang. Sehubungan dengan itu, dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan
pelapor beda nilai tukar diakui sebagai penghasilan atau beban atau jika timbul
karena keadaan seperti dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, paragraf 31, diklasifikasikan
sebagai ekuitas hingga pelepasan investasi neto.
19 Jika laporan keuangan suatu entitas asing disusun pada tanggal pelaporan yang
berbeda dengan tanggal laporan perusahaan pelapor, untuk tujuan penyatuan
laporan keuangan entitas asing sering kali menyusun laporan pada tanggal yang
sama dengan perusahaan pelapor. Jika penyesuaian tersebut tidak praktis, sesuai
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan
Konsolidasi, laporan keuangan dapat disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda
selama perbedaan tidak lebih dari tiga bulan.
Dalam keadaan tersebut, aktiva dan kewajiban entitas asing dijabarkan
dengan nilai tukar pada tanggal neraca entitas asing. Penyesuaian dilakukan untuk
mengungkapkan perubahan nilai tukar yang signifikan yang terjadi sampai dengan
tanggal neraca perusahaan pelapor.
Pelepasan (Disposal) Suatu Entitas Asing
20 Pada pelepasan (disposal) suatu entitas asing, jumlah kumulatif beda nilai tukar
yang telah ditangguhkan dan berkaitan dengan entitas asing tersebut harus diakui
sebagai pendapatan atau sebagai beban dalam periode yang sama pada waktu
keuntungan atau kerugian pelepasan (disposal) diakui.
21 Suatu perusahaan mungkin melepas kepentingannya dalam suatu entitas asing
melalui penjualan, likuidasi, pembayaran kembali modal saham, pembebasan
seluruh, atau sebagian, dari entitas. Pembayaran dividen hanya dianggap sebagai
suatu pelepasan (disposal) jika sebenarnya merupakan pengembalian atas investasi.
Dalam keadaan pelepasan sebagian (partial disposal), hanya bagian proporsional
akumulasi beda nilai tukar yang diperhitungkan sebagai keuntungan atau kerugian.
Penurunan (write down) nilai tercatat suatu entitas asing tidak merupakan suatu
pelepasan (disposal) sebagian. Dengan demikian, tidak ada bagian dari keuntungan
atau kerugian beda nilai tukar yang ditangguhkan diakui pada waktu pencatatan.
Perubahan dalam Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign
Operation)
22 Jika terdapat perubahan klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri, prosedur
penjabaran yang dapat diterapkan pada klasifikasi yang direvisi harus diterapkan
sejak tanggal perubahan klasifikasi.
23 Suatu perubahan dalam cara pembiayaan dan operasi suatu kegiatan usaha luar
negeri sehubungan dengan perusahaan pelapor dapat menyebabkan perubahan
klasifikasi kegiatan usaha luar negeri itu. Jika suatu kegiatan usaha luar negeri
yang integral dengan operasi perusahaan pelapor diklasifikasikan kembali sebagai
suatu entitas asing, beda nilai tukar yang timbul pada penjabaran aktiva non-
moneter pada tanggal pengklasifikasian ulang diklasifikasikan sebagai ekuitas. Jika
suatu entitas asing diklasifikasikan ulang sebagai suatu kegiatan usaha luar negeri
yang integral dengan operasi perusahaan pelapor, jumlah yang dijabarkan dari pos
non-moneter pada tanggal perubahan diperlakukan sebagai biaya historis untuk
pos-pos tersebut pada tanggal perubahan dan periode berikutnya. Beda nilai tukar
yang telah ditangguhkan tidak diakui sebagai pendapatan atau beban hingga
pelepasan (disposal) operasi.
Pengungkapan
24 Perusahaan harus mengungkapkan beda nilai tukar bersih yang diklasifikasikan
dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi beda
nilai tukar tersebut pada awal dan akhir periode.
25 Jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat perusahaan
berdomisili, alasan untuk menggunakan mata uang yang berbeda harus
diungkapkan. Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan juga
harus diungkapkan.
26 Jika terdapat suatu perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri
yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan:
a) sifat perubahan dalam klasifikasi;
b) alasan perubahan;
c) dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham; dan
d) dampak pada laba bersih atau kerugian untuk setiap periode sebelumnya jika
perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal.

27 Suatu perusahaan harus mengungkapkan metode yang dipilih sesuai dengan


paragraf 17 untuk menjabarkan goodwill dan penyesuaian nilai wajar yang timbul
pada akuisisi suatu entitas asing.
28 Perusahaan mengungkapkan dampak atas pos-pos moneter mata uang asing
atau atas laporan keuangan suatu kegiatan usaha luar negeri sehubungan dengan
suatu perubahan dalam nilai tukar yang terjadi setelah tanggal neraca jika
perubahan tersebut adalah sedemikian besar sehingga bila tidak diungkapkan akan
mempengaruhi kemampuan pembaca laporan keuangan untuk membuat evaluasi
dan keputusan yang tepat (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8
tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca).
29 Pengungkapan juga diperlukan sehubungan dengan kebijakan manajemen risiko
mata uang asing.
30 Pernyataan ini harus diterapkan dalam penjabaran laporan keuangan dari
kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial atau
melalui penerapan dengan metode ekuitas.
Kegiatan Usaha Luar Negeri yang Merupakan Bagian Integral dari
Perusahaan Pelapor
31 Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian
integral dengan operasi dari perusahaan pelapor harus dijabarkan dengan
menggunakan prosedur sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-
olah transaksi kegiatan usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan
pelapor sendiri.
Entitas Asing
32 Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/
diinkorporasi dengan laporan keuangan perusahaan pelapor, digunakan prosedur
sebagai berikut:
a) aktiva dan kewajiban entitas asing, baik moneter maupun non-moneter
dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate);
b) pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs
yang berlaku pada tanggal transaksi; dan
c) beda nilai tukar yang terjadi disajikan sebagai “selisih kurs karena
penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas
sampal pelepasan investasi neto yang bersangkutan.
Pelepasan (Disposal) Suatu Entitas Asing
33 Pada pelepasan (disposal) suatu entitas asing, jumlah kumulatif beda nilai tukar
yang telah ditangguhkan dan berkaitan dengan entitas asing tersebut harus diakui
sebagai pendapatan atau sebagai beban dalam periode yang sama pada waktu
keuntungan atau kerugian pelepasan (disposal) diakui.
Perubahan dalam Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign
Operation)
34 Jika terdapat perubahan klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri, prosedur
penjabaran yang dapat diterapkan pada klasifikasi yang direvisi harus diterapkan
sejak tanggal perubahan klasifikasi.
Pengungkapan
35 Perusahaan harus mengungkapkan beda nilai tukar bersih yang diklasifikasikan
dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi beda
nilai tukar tersebut pada awal dan akhir periode.
36 Jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat perusahaan
berdomisili, alasan untuk menggunakan mata uang yang berbeda harus
diungkapkan. Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan juga
harus diungkapkan.
37 Jika terdapat suatu perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri
yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan:
a) sifat perubahan dalam klasifikasi;
b) alasan perubahan;
c) dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham; dan
d) dampak pada laba bersih atau kerugian untuk setiap periode sebelumnya jika
perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal.
38 Suatu perusahaan harus mengungkapkan metode yang dipilih sesuai dengan
paragraf 17 untuk menjabarkan goodwill dan penyesuaian nilai wajar yang timbul
pada akuisisi suatu entitas asing.
Masa Transisi
39 Pada saat Pernyataan ini pertama kali diterapkan, perusahaan harus
mengklasifikasikan secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada
awal periode, beda nilai tukar yang ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai
ekuitas dalam periode sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat
ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut maka perlu dijelaskan

Tanggal Efektif
40- Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode
laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih
dini dianjurkan.
BAB II

PSAK No. 12
“Partisipasi Dalam Ventura Bersama”
(Iin Septiani)
https://www.scribd.com/doc/183132115/psak.12.dock

Pengertian Modal Ventura

Modal ventura adalah merupakan suatu investasi dalam bentuk pembiayaan


berupa penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan swasta sebagai pasangan
usaha (investee company) untuk jangka waktu tertentu. Pada umumnya investasi
ini dilakukan dalam bentuk penyerahan modal secara tunai yang ditukan dengan
sejumlah saham pada perusahaan pasangan usaha.
Investasi modal ventura biasanya memiliki suatu resiko yang tinggi namun
memberikan imbal hasil yang tinggi pula. Kapitalis ventura atau dalam bahasa
asing disebut venture capitalist (VC), adalah seorang investor yang berinvestasi
pada perusahaan modal ventura. Dana ventura ini mengelola dana investasi dari
pihak ketiga (investor) yang tujuan utamanya untuk melakukan investasi pada
perusahaan yang memiliki resiko tinggi sehingga tidak memenuhi persyaratan
standar sebagai perusahaan terbuka ataupun guna memperoleh modal pinjaman
dari perbankan. Investasi modal ventura ini dapat juga mencakup pemberian
bantuan manajerial dan teknikal. Kebanyakan dana ventura ini adalah berasal dari
sekelompok investor yang mapan keuangannya, bank investasi, dan institusi
keuangan lainnya yang melakukan pengumpulan dana ataupun kemitraan untuk
tujuan investasi tersebut.

1.1 Jenis Pembiayaan Modal Ventura


1. Equity Financing, merupakan jenis pembiayaan langsung, dalam hal ini
perusahaan modal ventura melakukan penyertaan secara langsung pada
perusahaan pasangan usaha dengan cara mengambil bagian dari jumlah
saham milik perusahaan pasangan usaha.
2. Semi Equity Financial, merupakan jenis pembiayaan dengan cara membeli
obligasi konversi yang diterbitkan oleh perusahaan pasangan usaha.
3. Mendirikan perusahaan baru, dalam hal ini perusahaan modal ventura
bersama-sama dengan perusahaan pasangan usaha mendirikan usaha yang
baru .
4. Bagi Hasil, merupakan jenis pembiayaan yang ditujukan kepada usaha kecil
yang belum memiliki bentuk badan hukum PT. Namun tidak tertutup
kemungkinan dengan yang berbadan hukum PT, apabila kedua pihak saling
menginginkannya.

1.2 Ciri-ciri perusahaan modal ventura


 Pembiayaan Modal Ventura Merupakan Equity.
Bentuk pembiayaan oleh perusahaan modal ventura dilakukan dengan
penyertaan modal langsung pada perusahaan pasangan usaha.
 Modal Ventura Merupakan Investasi Dengan Perspektif Jangka Panjang.
Modal ventura tidak mengharapkan perolehan keuntungan dengan
memperdagangkan sahamnya secara jangka pendek akan tetapi
mengharapkan capital gain setelah jangka waktu tertentu.
 Modal Ventura Merupakan Pembiayaan Yang Bersifat Risk Capital.
Beresiko tinggi karena pembiayaan modal ventura tidak disertai dengan
jaminan seperti halnya dengan kredit perbankan. Resiko tinggi tersebut
sebenarnya diimbangi dengan harapan mendapatkan return yang lebih
besar.
 Modal Ventura Bersifat Sementara.
Meskipun pembiayaan modal ventura berupa penyertaan saham, namun
ada prinsipnya tetap bersifat sementara yaitu misalnya ketentuan jangka
waktu penyertaan modal ventura di Indonesia maksimun 10 tahun
 Keuntungan Berupa Capital Gain dan Deviden.
Keuntungan yang diharapakan diperoleh perusahaan modal ventura
terutama capital gain atau apresiasi nilai saham di samping deviden.
 Rate Of Return yang tinggi.
Bidang usaha yang umunya dibiayai oleh modal ventura adalah yang
bersifat terobosan-terobosan baru yang menjanjikan keuntungan yang
tinggi.
1.2 Pengaturan Ventura Bersama
1. Pasal 23 UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing

2. PP Nomor 17 Tahun 1992 jo. PP Nomor 7 Tahun 1993 tentang Pemilik


Saham Perusahaan Penanaman Modal Asing

3. PP Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan


yang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing

4. SK Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan Koordinasi


Penanaman Modal Nomor: 15/SK/1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan dalam Rangka
Penanaman Modal asing.

Penyelesaian Sengketa : Hukum yang digunakan dalam kontrak Joint Venture


adalah hukum Indonesia. Sedangkan penyelesaian sengketa yang tidak dapat
diselesaikan oleh para pihak, harus tunduk pada ketentuan International
Chambers of Commerce (ICC).
Jenis Ventura Bersama
1. Joint Venture domestic

2. Joint Venture internasioanal

Menurut pasal 8 ayat (1) SK Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua


Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 15/SK?1994 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan dalam Rangka
Penanaman Modal Asing, Bidang usaha yang wajib mendirikan perusahaan Joint
Venture adalah:
 Pelabuhan
 Produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum
 Telekomunikasi
 Pelayanan
 Penerbangan
 Air minum
 Kereta api umum
 Pembengkit tenaga atom
 Mass media
Faktor PMA wajib mengadakan usaha patungan (Joint Venture) dengan
perusahaan domestic kerena usaha-usaha tersebut tergolong penting bagi Negara
dan menguasai hajat hidup orang banyak. Sedangkan yang dilarang untuk
penanaman modal asing adalah bidang-bidang yang berkaitan dengan pertahanan
Negara, sperti produksi senjata, mesin, alat-alat peledak dan peralatan perang.
1.3 Para Pihak dan Objek dalam Kontrak Joint Venture:
Para pihak yang terkait dalam kontrak ini adalah perusahaan penanaman modal
asing (PMA) dengan warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia yang
terdiri dari Bdan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Koperasi,
perusahaan PMA, perusahaan PMDN, perusahaan Non-PMA/PMDN. Objek dari
kontrak Joint Venture adalah adanya kerja sama patungan antara perusahaan
penanaman modal asing (PMA) dengan warga Negara Indonesia dan/atau bahan
hukum Indonesia.
1.4 Jangka Waktu Kontrak Joint Venture
Ditentukan oleh para pihak, yang dituangkan dalam kontrak Joint Venture.
Berdasarkan hasil kajian, angka waktu yang ditentukan adalah selama 20 tahun dan
dapat diperpanjang. Dalam PP Nomor 20 Tahun 1994, penanaman modal asing
diberikan izin usaha untuk jagka waktu 30 tahun terhitung sejak perusahaan
berproduksi komersial.
1. PSAK 12

PSAK 12 ini ini diterapkan untuk akuntansi bagian partisipasi dalam ventura
bersama dan pelaporan aset, liabilitas, penghasilan dan beban ventura bersama
dalam laporan keuangan venturer dan investor, terlepas dari struktur atau bentuk
yang mendasari dilakukannya aktivitas ventura bersama. Namun, pernyataan ini
tidak berlaku untuk bagian partisipasi venturer dalam pengendalian bersama entitas
yang dimiliki oleh : organisasi modal ventura, reksa dana, unit perwalian dan
entitas sejenis termasuk dana asuransi terhubung investasi.
2.1 Joint Venture menurut SAK 12
Joint ventures di artikan ke dalam bahasa Indonesia adalah bentuk kerja sama,
sedangkan menurut PSAK No.12 joint ventures memiliki definisi sebagai
perjanjian kontraktual antara dua atau lebih pihak untuk melaksanakan kegiatan
ekonomi yang dikendalikan bersama.
DEFINISI :
a. Joint Ventures adalah perjanjian kontraktual antara dua atau lebih pihak untuk
melaksanakan kegiatan ekonomi yang dikendalikan bersama.

b. Pengendalian (Control) adalah wewenang (power) untuk mengatur dan


menentukan kebijakan keuangan dan operasi dari suatu kegiatan usaha dengan
tujuan untuk mendapat manfaat dari kegiatan tersebut.

c. Pengendalian bersama (joint control) adalah pengendalian bersama oleh para


venturer atas suatu kegiatan usaha yang didasarkan pada perjanjian kontraktual.

d. Pengaruh signifikan adalah wewenang untuk ikut berpartisipasi dalam


pengambilan keputusan mengenai kebijakan keuangan dan operasi, walaupun
tidak dapat melakukan pengendalian atau pengendalian bersama terhadap
kebijakan tersebut.

e. Venturer adalah salah satu pihak dalam joint ventures yang ikut melakukan
pengendalian bersama terhadap joint ventures tersebut.

f. Investor dalam suatu joint ventures adalah salah satu pihak dalam joint
ventures yang tidak ikut melakukan pengendalian bersama terhadap joint
ventures tersebut.

g. Proportionate consolidation adalah suatu metode akuntansi dan pelaporan


keuangan dimana atas setiap aset, kewajiban, pendapatan dan beban dari suatu
joint ventures digabungkan satu persatu (line-by-line) dengan unsur yang sama
dengan laporan keuangan venturer.

h. Metode ekuitas adalah metode akuntansi dan pelaporan keuangan dimana


bagian partisipasi (interest) pada suatu joint ventures pada awalnya dibukukan
sebesar biaya perolehan (cost) dan selanjutnya disesuaikan terhadap perubahan
dalam bagian venturer atas aset bersih (net asset) dari joint ventures yang terjadi
setelah perolehan (post acquisition). Laporan laba rugi mencerminkan bagian
venturer atas hasil usaha joint venture.
Karakteristik umum joint ventures adalah :
• Dua atau lebih venturer diikat oleh suatu perjanjian kontraktual
• Perjanjian kontraktual tersebut menciptakan pengendalian bersama
2.2 Perjanjian Kontraktual
Perjanjian kontraktual dapat dibuktikan dalam beberapa cara, misalnya melalui
suatu kontrak antara para venturer atau notulen rapat antara para venturer. Dalam
beberapa kasus, perjanjian tersebut dimasukkan dalam akte atau anggaran dasar
dan anggaran rumah tangga dari ventura bersama. Apapun bentuknya, perjanjian
kontraktual biasanya tertulis dan berkaitan dengan masalah-masalah seperti :
a. aktivitas, jangka waktu, dan kewajiban pelaporan dari ventura bersama.

b. penetapan dewan direksi dan dewan komisaris atau organ setara dari ventura
bersama dan hak suara venturer.

c. kontribusi modal oleh venturer.

d. pembagian oleh venturer atas output, penghasilan, beban, atau hasil dari
ventura bersama.

Perjanjian kontraktual membentuk pengendalian bersama atas ventura bersama.


Persyaratan tersebut memastikan bahwa tidak ada venturer tunggal dalam posisi
mengendalikan aktivitas secara sepihak. Perjanjian kontraktual dapat menentukan
satu venturer sebagai operator atau manajer dari ventura bersama. Operator tidak
mengendalikan ventura bersama tersebut, tetapi bertindak dalam kebijakan
keuangan dan operasi yang sudah disepakati oleh venturer sesuai dengan perjanjian
kontraktual dan didelegasikan kepada operator tersebut. Jika operator memiliki
kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi dari aktivitas ekonomi,
maka operator mengendalikan ventura tersebut merupakan entitas anak dari
operator, bukan merupakan ventura bersama.
2.3 Pengendalian Bersama
Pengendalian bersama dapat terhalang jika invester mengalami reorganisasi
legal atau kebangkrutan, atau beroperasi dalam pembatasan ketat jangka panjang
dalam kemampuannya untuk mengalihkan dana kepada venturer.
Jika pengendalian bersama berlanjut, maka kejadian tersebut tidak cukup
dengan sendirinya untuk menjustifikasi tidak menerapkan akuntansi untuk ventura
bersama sesuai dengan Pernyataan ini.
Bentuk Joint Venture meliputi :
a. Pengendalian Bersama Operasi (Jointly Controled Operation )
 Operasi dari beberapa ventura bersama melibatkan penggunaan aset dan
sumber daya lainnya dari venturer.
 Setiap venturer menggunakan aset tetap dan persediaannya.
 Venturer menanggung beban, kewajiban dan memperoleh pembiayaan, yang
mewakili kewajibannya.
 Aktivitas ventura bersama dapat dilaksanakan oleh karyawan venturer
bersamaan dengan aktivitas venturer yang serupa.
 Perjanjian ventura bersama mengatur sedemikian sehingga pendapatan dari
penjualan produk bersama dan beban yang terjadi dibagi antar venturer.
 Dua atau lebih venturer menggabungkan kegiatan operasi, sumber daya dan
keahliannya untuk menciptakan pasar dan menyalurkan produk tertentu secara
bersama

Contoh dari PBO adalah bila dua atau lebih venturer menggabungkan operasi,
sumber daya dan keahliannya dalam rangka memproduksi, memasarkan dan
mendistribusikan bersama suatu produk tertentu, misalnya pesawat terbang. Proses
produksi komponen pesawat tertentu dilakukan oleh masing-masing venturer.
Setiap venturer memikul biayanya sendiri dan memperoleh bagian dari hasil
penjualan pesawat terbang sesuai dengan cara pembagian yang telah disepakati
dalam perjanjian kontraktual
Sehubungan dengan bagian partisipasi (interest) venturer pada PBO, setiap
venturer membukukan dan menyajikan dalam laporan keuangannya masing-
masing:
a. aset yang dikendalikan dan liabilitas yang ditanggung
b. beban yang ditanggung dan bagian pendapatan yang diperoleh dari
penjualan barang dan jasa ventura bersama.
Pembukuan :
 Catatan akuntansi terpisah tidak disyaratkan
 Laporan keuangan untuk PBO tidak perlu namun dapatmenyusun
pertanggung jawaban manajemen sehingga dapat menilai kinerja

b. Pengendalian Bersama Aset ( Jointly Controled Operation )


 Kepemilikan bersama, oleh venturer atas satu atau lebih aset yang
dikontribusikan dan didedikasikan untuk tujuan dari ventura bersama
 Aset tersebut digunakan untuk memperoleh manfaat bagi venturer
 Setiap venturer dapat mengambil suatu bagian keluaran dari aset dan
menanggung suatu bagian yang disetujui dari beban yang terjadi
 Ventura bersama tersebut tidak melibatkan pendirian suatu perusahaan
 Setiap venturer memiliki pengendalian atas bagiannya dari manfaat ekonomi
masa depan melalui bagiannya dalam pengendalian bersama aset.

Venturer mengakui dalam laporan keuangannya atas bagian partisipasinya


dalam Pengendalian Bersama Aset (PSAK 12 revisi 2009) :
 Bagiannya atas pengendalian bersama aset, yang diklasifikasikan sesuai
dengan sifat aset
 Setiap kewajiban yang telah terjadi
 Bagiannya atas kewajiban yang terjadi bersama dengan venturer lain yang
berkaitan dengan ventura bersama
 Setiap penghasilan dari penjualan atau pemakaian bagiannya atas keluaran
ventura bersama, bersama dengan bagiannya atas beban yang terjadi oleh
ventura bersama
 Setiap beban yang telah terjadi sehubungan dengan bagian partisipasinya
dalam ventura bersama

Perlakuan akuntansi PBA mencerminkan substansi dan realitas ekonomi dan


bentuk formal joint ventures. Catatan akuntansi terpisah untuk joint ventures
tersebut dapat dibatasi misalnya pada beban bersama yang terjadi yang akhirnya
harus ditanggung bersama oleh venturer sesuai dengan pembagian yang telah
disepakati. Laporan keuangan tidak perlu dibuat untuk joint venture, walaupun
venturer dapat menyusun pertanggungjawaban manajemen agar joint venture dapat
dinilai kinerjanya.
Contoh dari pengendalian bersama aset adalah banyak aktivitas dalam industri
ekstraksi minyak, gas dan mineral melibatkan pengendalian bersama aset.
Misalnya, sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak mengendalikan dan
mengoperasikan bersama suatu pipa saluran minyak.
Setiap venturer menggunakan pipa saluran tersebut untuk mengangkut
produknya dan menanggung proporsi yang disetujui dari beban operasi pipa
saluran.

c. Pengendalian Bersama Entitas ( Jontly Controled Entity )


 Pengendalian bersama entitas adalah ventura bersama yang melibatkan
pendirian suatu perseroan terbatas, persekutuan atau entitas lainnya yang
mana setiap venturer mempunyai bagian partisipasi.
 Entitas tersebut beroperasi dalam cara yang sama seperti entitas lainnya,
kecuali adanya perjanjian kontraktual antar venturer yang
menciptakanpengendalian bersama atas aktivitas ekonomi entitas.
 Pengendalian bersama entitas mengendalikan aset ventura bersama,
menanggung kewajiban, beban dan memperoleh penghasilan.
 Entitas tersebut dapat mengadakan kontrak atas nama sendiri dan
memperoleh pembiayaan untuk tujuan aktivitas ventura bersama.
 Setiap venturer berhak atas bagian laba dari pengendalian bersama entitas,
meskipun beberapa pengendalian bersama entitas juga meliputi pembagian
keluaran ventura bersama.

Contoh umum pengendalian bersama entitas adalah ketika dua entitas


menggabungkan aktivitas mereka dalam lini usaha tertentu dengan mengalihkan
aset dan kewajiban yang relevan ke suatu pengendalian bersama entitas. Contoh
lainnya adalah ketika entitas memulai suatu usaha di luar negeri bersama dengan
pemerintah atau lembaga lain di negara tersebut, dengan cara mendirikan entitas
terpisah yang dikendalikan bersama oleh entitas dan pemerintah atau lembaga.
2.4 Laporan keuangan venturer

Metode pengakuan partisipasi dalam PBE dengan menerapkan konsolidasi


proporsional atau metode ekuitas pada laporan keuangan yang dibuat, maka
laporan tersebut bukan merupakan laporan keuangan sendiri, laporan keuangan
suatu entitas yang tidak memiliki entitas anak, entitas asosiasi, atau bagian
partisipasi venturer dalam pengendalian bersama entitas
1. Konsolidasi Proporsional.
 Konsolidasi proporsional atau metode ekuitas digunakan ketika memiliki
pengendalian bersama atas PBE
 Ketika konsolidasi proporsional digunakan, maka salah satu dari dua format
pelaporan di bawah ini digunakan.
 Venturer dapat menggabungkan bagiannya atas setiap aset,kewajiban,
penghasilan dan beban dari pengendalian bersamaentitas dengan unsur
yang sama, satu per satu, dalam laporan keuangannya
 Venturer dapat memasukkan unsur-unsurterpisah dalam laporan
keuangan untuk bagiannya atas aset,kewajiban, penghasilan dan beban
dari pengendalian bersama entitas.
 Laporan posisi keuangan venturer memasukan bagiannya atas aset dan
kewajiban yang ditanggung bersama
 Laporan laba rugi komprehensif venturer memasukan bagiannya atas
penghasilan dan beban dari PBE
 Banyak prosedur yang sesuai bagi penerapan konsolidasi proporsional adalah
sama denganprosedur untuk konsolidasi investasi pada entitas
anak,sebagaimana diatur dalam PSAK 4.
 Venturer menghentikan penggunaan konsolidasi proporsional sejak tanggal
venturer kehilangan pengendalian bersama atas pengendalian bersama entitas
 Konsolidasi proporsional dihentikan ketika :
 Venturer melepaskan bagian partisipasinya
 Adanya pembatasan eksternal atas PBE sehingga venturer tidak lagi
memiliki pengendalian bersama
2. Metode Ekuitas
• Metode ini yang direkomendasikan untuk digunakan dalam PBE
• Venturer dapat mengakui bagian partisipasinya tanpa memperhatikan apakah ia
memiliki investasi pada entitas anak atau venturer menjelaskan laporan
keuangannya sebagai laporan keuangan konsolidasian
• Penggunaan metode ekuitas didukung oleh mereka yang berargumentasi bahwa
tidak tepat untuk menggabungkan unsur yang dikendalikan sendiri dengan unsur
yang dikendalikan bersama.
• Venturer menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal venturer
berhenti memiliki pengendalian bersama atas, atau memiliki pengaruh signifikan
dalam, pengendalian bersama entitas.
2.5 Transaksi antar Venturer dan Ventura Bersama
 Kontribusi atau penjualan kepada ventura bersama :
Pengakuan bagian dari keuntungan atau kerugian dari transaksi mencerminkan
substansi dari transaksi tersebut.
 Aset dipertahankan oleh ventura bersama, dengan syarat venturer telah
mengalihkan manfaat dan risiko:
Venturer hanya mengakui bagian keuntungan atau kerugian yang dapat
diatribusikan ke bagian partisipasi venturer lain.
 Venturer mengakui jumlah kerugian secara penuh ketika kontribusi atau
penjualan memberikan bukti pengurangan dalam nilai realisasi neto aset lancar
atau rugi penurunan nilai.
 Venturer membeli aset ventura bersama:
Venturer tidak mengakui bagiannya atas keuntungan ventura bersama dari
transaksi tersebut sampai venturer tersebut menjual kembali aset tersebut
kepada pihak independen.

 Venturer mengakui bagiannya atas kerugian yang diakibatkan oleh transaksi


tersebut dalam cara yang sama dengan keuntungan, kecuali kerugian tersebut
diakui segera ketika kerugian tersebut mencerminkan suatu pengurangan dalam
nilai realisasi neto dari aset lancar atau rugi penurunan nilai.

2.6 Pelaporan Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama Pada Laporan


Keuangan Investor
Investor dalam ventura bersama yang tidak memiliki pengendalian bersama
mencatat investasi tersebut sesuai dengan PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen
Keuangan.
Pengakuan dan Pengukuran, atau jika memiliki pengaruh signifikan dalam
ventura bersama maka sesuai dengan PSAK 15 (revisi 2009): Investasi pada
Entitas Asosiasi.
2.7 Operator Ventura Bersama

 Pengelola atau manajer ventura bersama mencatat setiap imbalan sesuai dengan
PSAK 23: Pendapatan.
 Satu atau lebih venturer dapat bertindak sebagai operator atau manajer ventura
bersama.
 Operator umumnya menerima imbalan pengelolaan untuk tugas tersebut.
Imbalan tersebut dicatat oleh ventura bersama sebagai beban.

2.8 Pengungkapan Ventura Bersama

VENTURER
 Jumlah agregat dari liabilitas ontinjensi
 Jumlah agregat dari komitmen
 Daftar dan penjelasan bagian partisipasi dalam ventura bersama yang signifikan
dan bagian partisispasi kepemilikan dalam pengendalian bersama entitas
 Bagian partisipasinya dalam pengendalian bersama entitas menggunakan format
pelaporan baris demi baris untuk konsolidasi proporsional atau metode ekuitas,
mengungkapkan jumlah agregat : aset lancar, tidak lancar, kewajiban jangka
pendek, kewajiban jangka panjang, penghasilan dan beban yang terkait dengan
bagian partisipasinya dalam ventura bersama.
 Metode yang digunakan untuk mengakui bagian partisipasinya dalam
pengendalian bersama entitas
BAB III

PSAK NO. 13
“ Properti Investasi ”
(Ellis Nurlita Fitriani)
Sumber : http://www.warsidi.com/2016/04/definisi-properti-investasi-PSAK13.html
http://allinmyall.blogspot.co.id/2014/04/psak-13-properti-investasi.html

Properti Investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari
suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau penyewa
melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai
atau keduanya, dan tidak untuk :
1. digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk
tujuan administratif
2. dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Sumber: Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 13 Properti Investasi, paragraf 5
(PSAK 13.5)
Penjelasan tambahan :
Properti investasi dapat dikuasai untuk menghasilkan rental atau untuk
mendapatkan kenaikan nilai atau keduanya. Oleh karena itu, properti investasi
menghasilkan arus kas yang sebagian besar tidak bergantung pada aset lain yang
dikuasai oleh entitas. Hal ini membedakan properti investasi dari properti yang
digunakan sendiri (PSAK 13.7).
Berikut adalah contoh property investasi :
1. Tanah yang dikuasai dalam jangka panjang untuk kenaikan nilai dan
bukan untuk dijual jangka pendek dalam kegiatan usaha sehari-hari.
2. Tanah yang dikuasai saat ini yang penggunaannya di masa depan belum
ditentukan. (jika entitas belum menentukan penggunaan tanah sebagai
property yang digunakan sendiri atau akan dijual jangka pendek dalam
kegiatan usaha sehari-hari, maka tanah tersebut sebagai tanah yang
dimiliki dalam rangka kenaikan nilai).
3. Bangunan yang dimiliki oleh entitas (atau dikuasai oleh entitas melalui
sewa pembiayaan) dan disewakan kepada pihak lain melalui satu atau
lebih sewa operasi.
4. Bangunan yang belum terpakai tetapi tersedia untuk disewakan kepada
pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi.
5. Properti dalam proses pembangunan atau pengembangan yang di masa
depan digunakan sebagai properti investasi (PSAK 13.8).
Beberapa properti terdiri atas bagian yang dikuasai untuk menghasilkan
rental atau untuk kenaikan nilai dan bagian lain dari properti tersebut dimiliki
untuk digunakan dalam proses produksi atau untuk menghasilkan barang atau jasa
atau untuk tujuan administratif. Jika bagian properti tersebut dapat dijual secara
terpisah maka entitas harus mencatatnya secara terpisah. Jika bagian tersebut tidak
dapat dijual secara terpisah, maka properti ini masuk sebagai properti investasi
hanya jika suatu bagian yang digunakan dalam proses produksi atau persediaan
barang atau jasa atau untuk tujuan administratif jumlahnya tidak signifikan.
Pengakuan
Properti investasi diakui sebagai aset jika dan hanya jika:
a) Besar kemungkinan manfaat ekonomik di masa depan dari aset yang
tergolong properti investasi akan mengalir ke dalam entitas; dan
b) Biaya perolehan properti investasi dapat diukur dengan andal.
Pengukuran pada Saat Pengakuan Awal
Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya
transaksi termasuk dalam pengukuran awal tersebut. Biaya perolehan awal hak atas
properti yang dikuasai dengan cara sewa dan diklasifikasikan sebagai properti
investasi yang dicatat sebagai sewa pembiayaan seperti diatur dalam PSAK 30
(revisi 2011): Sewaparagraf 19, dalam hal ini aset diakui pada jumlah mana yang
lebih rendah antara nilai wajar dan nilai kini dari pembayaran sewa minimum.
Suatu entitas dapat:
a) Memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh properti
investasi yang menjadi agunan liabilitas yang menghasilkan imbalan yang
terkait langsung dengan nilai wajar dari, atau imbalan dari, aset tertentu
termasuk properti investasi; dan
b) Memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh properti
investasi lain, tanpa memerhatikan pilihan sebagaimana dimaksud dalam
huruf (a).
Model Nilai Wajar
Setelah pengakuan awal, entitas yang memilih menggunakan model nilai
wajar mengukur seluruh properti investasi berdasarkan nilai wajar. Keuntungan
atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar atas properti investasi diakui
dalam laba rugi pada periode terjadinya.
Nilai wajar properti investasi merupakan harga yang mana properti dapat
dipertukarkan antara pihak-pihak yang memiliki pengetahuan memadai dan
berkeinginan dalam suatu transaksi yang wajar. Nilai wajar tidak mencakup
estimasi kenaikan atau penurunan harga karena kondisi atau keadaan khusus
seperti pembiayaan yang umum, perjanjian penjualan dan penyewaan kembali,
kondisi khusus atau konsesi yang diberikan oleh pihak yang terkait dengan
penjualan.
Nilai wajar properti investasi mencerminkan, antara lain, penghasilan rental dari
sewa yang sedang berjalan dan asumsi-asumsi yang layak dan rasional yang
mencerminkan keyakinan pihak-pihak yang berkeinginan bertransaksi dan
memiliki pengetahuan memadai mengenai asumsi tentang penghasilan rental dari
sewa di masa depan dengan mengingat kondisi sekarang. Dengan dasar pemikiran
yang sama, nilai wajar juga mencerminkan arus kas keluar (termasuk pembayaran
rental dan arus ke luar lainnya) yang dapat diperkirakan sehubungan dengan
properti tersebut. Sebagian arus kas ke luar tersebut dicerminkan dalam liabilitas,
sementara arus kas ke luar lainnya tidak diakui dalam laporan keuangan sampai
dengan tanggal tertentu.
Definisi nilai wajar mengacu pada "pihak-pihak yang berkeinginan dan
memiliki pengetahuan memadai." Pada konteks ini, "memiliki pengetahuan
memadai" artinya bahwa keduanya baik pembeli maupun penjual yang saling
berkeinginan, memiliki informasi yang memadai (layak) tentang sifat dan
karakteristik dari properti investasi tersebut, kegunaan aktual serta potensinya, dan
kondisi pasar pada tanggal pelaporan.
Nilai wajar properti investasi tidak mencerminkan pengeluaran modal di
masa depan yang akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas atau memperbaiki
properti dan tidak mencerminkan manfaat masa depan terkait dari pengeluaran
masa depan tersebut.
Ketidakmampuan Menetapkan Nilai Wajar yang Andal
Ada anggapan yang sulit dibantah bahwa entitas dapat menentukan nilai
wajar properti investasi secara andal atas dasar berkelanjutan. Namun demikian
dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, terdapat bukti yang jelas ketika suatu
entitas pertama kali memperoleh properti investasi (atau ketika properti yang ada
pertama kali menjadi properti investasi karena perubahan penggunaan) bahwa nilai
wajar properti investasi tidak dapat ditentukan secara andal atas dasar
berkelanjutan.
Hal ini timbul jika, dan hanya jika, transaksi pasar serupa jarang terjadi dan
alternatif estimasi andal nilai wajar (misalnya, berdasarkan proyeksi arus kas
diskontoan) tidak tersedia. jika entitas menentukan bahwa nilai wajar properti
investasi dalam proses pembangunan tidak dapat ditentukan secara andal tetapi
mengharapkan nilai wajar properti tersebut dapat ditentukan secara andal saat
pembangunan selesai, maka properti tersebut diukur dengan cara properti investasi
dalam proses pembangunan diukur berdasarkan biaya perolehan sampai nilai
wajarnya dapat ditentukan secara andal atau sampai pembangunannya selesai
(mana yang lebih dahulu).
Jika entitas menetukan bahwa nilai wajar dari properti investasi (selain
properti investasi dalam proses pembangunan) tidak dapat ditentukan secara andal
pada dasar berkelanjutan, entitas mengukur properti investasi tersebut
menggunakan model biaya sesuai PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap. Nilai residu
dari properti investasi diasumsikan nol. Entitas menerapkan PSAK 16 (revisi 2011)
hingga pelepasan properti investasi tersebut.
Jika sebelumnya entitas telah mengukur properti investasi berdasarkan nilai
wajar, maka entitas melanjutkan pengukuran properti tersebut berdasarkan nilai
wajar hingga pelepasan (atau sampai properti menjadi properti yang digunakan
sendiri atau sampai entitas mulai mengembangkan properti tersebut dan kemudian
menjualnya dalam kegiatan normal usaha) bahkan jika transaksi pasar yang sejenis
menjadi jarang terjadi dan harga pasar menjadi tidak banyak tersedia.
Model Biaya
Setelah pengakuan awal, entitas yang memilih model biaya mengukur
seluruh properti investasinya sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam PSAK 16
(revisi 2011): Aset Tetap. Sedangkan jika properti investasi tersebut memenuhi
kriteria dimiliki untuk dijual (atau termasuk dalam kelompok aset lepasan yang
dikelompokkan sebagai dimiliki untuk dijual) sesuai dengan PSAK 58 (revisi
2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang
Dihentikan. Properti investasi yang memenuhi kriteria dimiliki untuk dijual (atau
termasuk dalam kelompok aset lepasan yang dikelompokkan sebagai dimiliki
untuk dijual) diukur sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009).
Transfer
Transfer ke atau dari properti investasi dilakukan jika, dan hanya jika,
terdapat perubahan penggunaan yang ditunjukkan dengan:
a) Dimulainya penggunaan oleh pemilik, ditransfer dari properti investasi
menjadi properti yang digunakan sendiri;
b) Dimulainya pengembangan untuk dijual, ditransfer dari properti investasi
menjadi persediaan;
c) Berakhirnya pemakaian oleh pemilik, ditransfer dari properti yang
digunakan sendiri menjadi properti investasi;
d) Dimulainya sewa operasi ke pihak lain, ditransfer dari persediaan menjadi
properti investasi;
Untuk transfer dari persediaan ke properti investasi yang akan dicatat pada nilai
wajar, perbedaan yang ada antara nilai wajar properti pada tanggal tersebut dan
jumlah tercatat diakui dalam laba rugi.
Pelepasan
Properti investasi dihentikan pengakuannya (dikeluarkan dari laporan posisi
keuangan) pada saat pelepasan atau ketika properti investasi tersebut tidak
digunakan lagi secara permanen dan tidak memiliki manfaat ekonomik di masa
depan yang dapat diharapkan pada saat pelepasannya.
Pelepasan properti investasi dapat dilakukan dengan cara dijual atau
disewakan secara sewa pembiayaan. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari
penghentian atau pelepasan properti investasi ditentukan dari selisih antara hasil
neto dari pelepasan dan jumlah tercatat aset, dan diakui dalam laba rugi (kecuali
jika PSAK 30 (revisi 2011): Sewa mensyaratkan lain dalam hal jual dan sewa-
balik) dalam periode terjadinya penghentian atau pelepasan tersebut.
Pengungkapan Model Nilai Wajar dan Model Biaya
Entitas mengungkapkan:
a) Apakah entitas tersebut menerapkan model nilai wajar atau model biaya;
b) Jika menerapkan model nilai wajar, apakah, dan dalam keadaan bagaimana,
hak atas properti yang dikuasai dengan cara sewa operasi diklasifikasikan
dan dicatat sebagai properti investasi;
c) Apabila pengklasifikasian ini sulit dilakukan (lihatkriteria yang digunakan
untuk membedakan properti investasi dengan properti yang digunakan
sendiri dan dengan properti yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha
sehari-hari;
d) Metode dan asumsi signifikan yang diterapkan dalam menentukan nilai
wajar dari properti investasi, yang mencakup pernyataan apakah penentuan
nilai wajar tersebut didukung oleh bukti pasar atau lebih banyak berdasarkan
faktor lain (yang harus diungkapkan oleh entitas tersebut) karena sifat
properti tersebut dan keterbatasan data pasar yang dapat diperbandingkan;
e) Sejauh mana penentuan nilai wajar properti investasi (yang diukur atau
diungkapkan dalam laporan keuangan) didasarkan atas penilaian oleh penilai
independen yang diakui dan memiliki kualifikasi profesional yang relevan
serta memiliki pengalaman mutakhir di lokasi dan kategori properti investasi
yang dinilai. Apabila tidak ada penilaian seperti itu, hal tersebut
diungkapkan;
f) Jumlah yang diakui dalam laba rugi
g) eksistensi dan jumlah pembatasan atas realisasi dari properti investasi atau
pembayaran penghasilan dan hasil pelepasan;
h) kewajiban kontraktual untuk membeli, membangun
BAB IV
PSAK No.14
“ Akuntansi Persediaan ”
(Rani Fera Hutasoit)

Tujuan

Tujuan Pernyataan ini adalah untuk merumuskan perlakuan akuntansi untuk


persediaan menurut sistem biaya historis. Permasalahan pokok dalam akuntansi
persediaan adalah jumlah biaya yang harus diakui sebagai aktiva dan konversi
selanjutnya sampai pendapatan yang bersangkutan diakui. Pernyataan ini
menyediakan pedoman praktis dalam penentuan biaya dan pengakuan
selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunannya menjadi nilai realisasi
bersih (net realisable value). Pernyataan ini juga menyediakan pedoman rumus
biaya yang digunakan untuk membebankan biaya pada persediaan.

Ruang Lingkup

1 Pernyataan ini harus diaplikasikan dalam penyusunan laporan


keuangan dalam konteks sistem biaya historis tentang akuntansi persediaan
selain:

(a) pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi


(construction contracts) (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 34 tentang Kontrak Konstruksi);

(b) instrumen keuangan; dan


(c) persediaan yang dimiliki oleh produsen peternakan, produk pertanian dan
kehutanan, dan hasil tambang sepanjang persediaan tersebut dinilai
berdasarkan nilai realisasi bersih sesuai dengan kelaziman praktek yang
berlaku dalam industri tertentu.

2 Persediaan yang dirujuk dalam paragraf 1 (c) diukur dengan nilai


realisasi bersih pada tahap produksi tertentu. Hal tersebut terjadi, misalnya,
ketika hasil pertanian telah dipanen atau hasil tambang telah ditambang dan
penjualan telah dijamin berdasarkan kontrak berjangka atau jaminan pemerintah,
atau bila terdapat suatu pasar homogen dan risiko kegagalan pemasaran tidak
berarti. Persediaan tersebut tidak termasuk dalam lingkup Pernyataan ini.

Definisi

3 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam

Pernyataan ini: Persediaan adalah aktiva:

(a) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;

(b) dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau

(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa.

Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha
normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan
untuk melaksanakan penjualan.

4 Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual


lsembali, misalnya, barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali,
atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga
mencakupi barang jadi yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian
yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan.
Pengukuran Persediaan
5 Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi
bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value).
Biaya persediaan
6 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya
konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition).
Biaya pembelian.

7 Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk


dan pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan
kepada kantor pajak), dan biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya
yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan
jasa. Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa dikurangkan
dalam menentukan biaya pembelian.
8 Dalam keadaan yang jarang terjadi, biaya pembelian yang meliputi
selisih valuta asing yang timbul secara langsung dalam perolehan persediaan
yang ditagih dalam valuta asing, diperkenankan sebagai perlakuan alternatif
seperti yang diuraikan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10
tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing. Selisih valuta asing tersebut terbatas
pada yang ditimbulkan dari devaluasi atau depresiasi suatu mata uang yang
cukup besar dan terhadap peristiwa tersebut tidak mungkin dilakukan hedging,
dan membawa dampak pada hutang yang tidak dapat diselesaikan dan timbul
dari perolehan persediaan yang baru saja dilakukan.(Namun, apabila tersedia
kesempatan hedging sebelum devaluasi terjadi akan tetapi kesempatan tersebut
tidak dimanfaatkan maka selisih kurs yang timbul akibat devaluasi tidak boleh
diperhitungkan sebagai bagian dari biaya pembelian).
Biaya konversi
9 Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung
terkait dengan unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan
variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi
bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead produksi tetap adalah biaya produksi
tak langsung yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi yang
dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik,
dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Biaya overhead produksi variabel
adalah biaya yang beruhah secara langsung, atau hampir secara langsung,
mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tak langsung dan upah tak
langsung.

10 Pengalokasian biaya overhead produksi tetap ke biaya konversi


didasarkan pada kapasitas normal fasilitas produksi. Kapasitas normal adalah
produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode atau
musim dalam keadaan normal, dengan memperhitungkan hilangnya kapasitas
selama pemeliharaan terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan bila
mendekati kapasitas normal. Pembebanan biaya overhead produksi tetap pada
setiap unit produk tidak bertambah sebagai akibat dari rendahnya produksi atau
tidak terpakainya kapasitas pabrik. Biaya overhead yang tidak teralokasi diakui
sebagai beban pada ,periode terjadinya. Dalam periode produksi luar biasa
tinggi, biaya overhead yang dialokasikan pada unit produk diturunkan agar
persediaan tidak dinilai di atas biaya. Biaya overhead produksi variabel
dialokasikan pada unit produk atas dasar penggunaan fasilitas produksi yang
sebenarnya.

11 Proses produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu jenis produk


secara serentak. Hal tersebut terjadi, misalnya, bila dihasilkan produk bersama
(joint product) atau bila terdapat produk utama dan produk sampingan. Bila
biaya konversi tidak dapat diidentifikasikan secara terpisah, biaya tersebut
dialokasi kan antar produk secara rasional dan konsisten. Pengalokasian
misalnya dapat dilakukan berdasarkan perbandingan harga jual untuk masing
masing produk, baik pada tahap proses produksi pada waktu produk telah dapat
diidentifikasikan secara terpisah, atau pada saat produksi telah selesai. Sebagian
besar produk sampingan, pada hakekatnya tidak material. Kalau kasusnya
demikian, produk sampingan sering kali dinilai berdasarkan nilai realisasi bersih
dan nilai tersebut dapat dikurangkan pada biaya produk utama. Dengan
demikian, nilai produk utama tidak berbeda secara material dari biayanya.
Biaya lain-lain
12 Biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang
biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap
untuk dijual atau dipakai. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk
membebankan biaya overhead non produksi atau biaya perancangan produk
untuk pelanggan khusus sebagai biaya persediaan.
13 Beberapa contoh biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan
diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:
(a) jumlah pemborosan bahan, upah, atau biaya produksi lainnya yang tidak
normal;
(b) biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses
produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya;
(c) biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan sumbangan untuk
membuat persediaan berada dalam lokasi dan kondisi sekarang; dan
(d) biaya penjualan.

14 Dalam keadaan tertentu, biaya pinjaman (borrowing costs)


dimasukkan sebagai biaya persediaan sesuai dengan Pernyataan akuntansi
keuangan tentang hal tersebut.

Biaya Persediaan Pemberian Jasa

15 Biaya persediaan perusahaan jasa terutama meliputi upah dan biaya


personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa, termasuk
tenaga penyelia, dan overhead yang diatribusikan. Upah dan biaya lainnya yang
menyangkut personalia penjualan serta administrasi umum tidak termasuk
sebagai biaya persediaan, tapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya .

Teknik Pengukuran Biaya

16 Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar


atau metode eceran (retail method), demi kemudahan, dapat digunakan bila
hasilnya mendekati biaya historis. Biaya standar memperhitungkan tingkat
normal penggunaan bahan dan perlengkapan (supplies), upah, efisiensi dan
pemanfaatan kapasitas. Biaya standar ditelaah secara berkala dan, bila perlu,
direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.

17 Metode eceran sering kali digunakan dalam perdagangan eceran


untuk menilai persediaan sejumlah besar barang yang berubah dengan cepat, dan
memiliki margin yang tidak jauh berbeda sehingga tidak praktis kalau
digunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentukan
dengan mengurangi harga jual persediaan dengan persentase margin bruto yang
sesuai. Persentase tersebut digunakan dengan memperhatikan persediaan yang
telah diturunkan nilainya (marked down) di bawah harga jual normal. Persentasi
rata-rata sering digunakan untuk setiap departemen penjualan eceran yang
menjual kelompok barang yang berbeda.

Rumus Biaya

18 Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti


dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang serta jasa yang
dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus harus diperhitungkan
berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing masing.

19 Yang dimaksud dengan identifikasi khusus biaya adalah atribusi


biaya ke barang tertentu yang dapat diidentifikasikan dalam persediaan. Cara ini
merupakan perlakuan yang sesuai bagi barang yang dipisahkan untuk proyek
khusus, baik yang dibeli maupun yang dihasilkan. Namun demikian identifikasi
khusus biaya tidak tepat bagi sejumlah besar barang homogen yang dapat
menggantikan satu sama lain (ordinarily interchangeable). Dalam keadaan
demikian, metode pemilihan barang yang masih berada dalam persediaan dapat
digunakan untuk menentukan di muka dampaknya terhadap laba rugi periode
berjalan.

20 Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 19, harus


dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama
(MPKP atau FIF0), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau
masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIF0).

21 Formula MPKP/FIF0 mengasumsikan barang dalam persediaan


yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang
tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian.
Dengan rumus biaya ratarata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan
berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari barang serupa pada awa! periode dan
biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan
rata-rata dapat dilakukan secara berkala, atau pada setiap penerimaan kiriman,
tergantung pada keadaan perusahaan. Rumus MTKP/LIF0 mengasumsikan
barang yang dibeli atau diproduksi terakhir dijual atau digunakan terlebih
dahulu, sehingga yang termasuk dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau
diproduksi terdahulu.

Nilai Realisasi Bersih


22 Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali
(recoverable) bila barang rusak, seluruh atau sebagian barang telah usang atau
bila harga penjualan menurun. Biaya persediaan juga tidak akan diperoleh
kembali jika estimasi biaya penyelesaian atau estimasi biaya penjualan
meningkat. Praktek penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai
realisasi bersih konsisten dengan pandangan bahwa aktiva seharusnya tidak
dinyatakan melebihi jumlah yang mungkin dapat direalisasi melalui penjualan
atau penggunaan.
23 Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi bersih secara
terpisah untuk setiap barang dalam persediaan. Namun demikian, dalam
beberapa kondisi, penurunan nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika dihitung
terhadap kelompok barang serupa atau yang berkaitan. Misalnya barang-barang
yang termasuk dalam lini produk dengan tujuan atau penggunaan akhir yang
serupa, diproduksi dan dipasarkan di wilayah yang sama, dan tidak dapat
dievaluasi terpisah dari barang-barang lain dalam lini produk tersebut. Penurunan
nilai persediaan tidak tepat jika dihitung berdasarkan klasifikasi persediaan,
misalnya, barang jadi, atau seluruh persediaan dalam suatu industri atau segmen
geografis tertentu. Perusahaan jasa pada umumnya mengakumulasikan biaya
dalam hubungannya dengan setiap jasa agar dapat menetapkan harga jual jasa
tersebut. Dengan demikian, masing-masing jenis jasa tersebut dibukukan
tersendiri.
24 Estimasi nilai realisasi bersih didasarkan pada bukti paling andal
yang tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang
diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini mempertimbangkan fluktuasi harga
atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir
periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan (confirm) kondisi yang ada
pada akhir periode.
25 Estimasi nilai realisasi bersih juga mempertimbangkan tujuan
pengadaan persediaan yang bersangkutan. Misalnya, nilai realisasi bersih
kuantitas persediaan yang dimiliki untuk memenuhi kontrak penjualan produk
atau jasa didasarkan pada harga kontrak. Bila kontrak penjualan adalah untuk
kuantitas barang yang lebih kecil daripada persediaan, nilai realisasi bersih untuk
kelebihannya harus didasarkan pada harga penjualan umum. Kerugian kontinjen
dari kontrak penjualan yang melebihi kuantitas persediaan yang dimiliki dan
kerugian kontinjen dari kontrak pembelian diperlakukan sesuai dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan
Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.
26 Nilai bahan baku dan perlengkapan (supplies) lain yang diadakan
untuk digunakan dalam produksi persediaan tidak diturunkan di bawah biaya bila
barang jadi yang dihasilkan diharapkan dapat dijual sebesar atau di atas biaya.
Namun demikian, bila penurunan harga bahan baku mengindikasikan biaya
barang jadi yang dihasilkan akan melebihi nilai realisasi bersih, maka nilai bahan
diturunkan ke nilai realisasi bersih. Dalam kondisi semacam itu, biaya ganti
(replacement cost) merupakan tolak ukur terbaik yang tersedia bagi nilai realisasi
bersih.

27 Nilai realisasi bersih yang telah ditentukan harus ditinjau kembali


pada setiap periode berikutnya. Apabila kondisi yang semula mengakibatkan
penurunan nilai persediaan di bawah biaya ternyata tidak lagi berlaku, maka
jumlah penurunan nilai harus dieliminasi balik (reversed) sedemikian rupa
sehingga jumlah tercatat baru persediaan
adalah yang terendah dari biaya atau nilai realisasi bersih yang telah direvisi.
Hal ini timbul, misalnya, jika suatu barang dalam persediaan, yang dicantumkan
sebesar nilai realisasi bersih karena harga jualnya teiah turun, masih dimiliki
pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat.

Pengakuan sebagai Beban

28 Jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan


tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas
penjualan tersebut. Setiap penurunan niiai persediaan di bawah biaya menjadi
nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban
pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan
kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi
bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada
periode terjadinya pemulihan tersebut.
29 Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai
beban menghasilkan pengaitan (matching) beban dengan pendapatan.
30 Beberapa persediaan dapat dialokasikan ke rekening aktiva lainnya
seperti misalnya persediaan yang digunakan sebagai komponen aktiva tetap yang
dibangun sendiri, pabrik atau peralatan. Persediaan yang dialokasikan ke aktiva
lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aktiva tersebut.
Pengungkapan

31 Laporan keuangan harus mengungkapkan:


(a) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan,
termasuk rumus biaya yang dipakai;
(b) total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut
klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan;
(c) jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih
(d) jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui
sebagai penghasilan selama periode sebagaimana dijelaskan pada paragraf
28;
(e) kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan
yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28; dan
(f) nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

32 Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai


klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi
para pemakai laporan keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan
adalah barang dagang, perlengkapan produksi, bahan baku, pekerjaan dalam
penyelesaian dan barang jadi. Persediaan dalam perusahaan jasa biasanya disebut
pekerjaan dalam penyelesaian.

33 Laporan keuangan harus mengungkapkan salah satu informasi


berikut ini:
(a) biaya persediaan yang diakul sebagai beban selama periode tertentu, atau
(b) biaya operasi, yang dapat diaplikasikan pada pendapatan, diakui sebagai
beban selama periode laporan keuangan, diklasifikasikan sesuai dengan
hakekatnya.

34 Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode


meliputi biaya yang sebelumnya temasuk dalam pengukuran barang dalam
persediaan yang telah dijual dan biaya overhead produksi yang tidak
teralokasikan serta jumlah abnormal biaya produksi persediaan. Kondisi
perusahaan juga membuka peluang untuk memasukkan biaya lainnya, seperti
biaya distribusi.
35 Beberapa perusahaan menggunakan format laporan laba rugi yang
berbeda, yang mengakibatkan diungkapkannya berbagai jumlah sebagai
pengganti biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode yang
bersangkutan. Dengan format yang berbeda ini, perusahaan mengungkapkan
jumlah biaya operasi yang dapat diaplikasikan pada pendapatan periode tersebut,
dan diklasifikasikan menurut hakekatnya. Dalam kasus ini, perusahaan
mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban untuk bahan baku dan barang-
barang habis terpakai (consumables), tenaga kerja dan biaya operasi lainnya
bersama-sama dengan jumlah perubahan bersih persediaan pada periode tersebut.

36 Skala, insiden dan hakekat penurunan nilai persediaan menjadi nilai


realisasi bersih mungkin sedemikian materialnya sehingga memerlukan
pengungkapan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No .25
tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan
Perubahan Kebijakan Akuntansi.

PERNYATAAN
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 14 terdiri dari paragraf 37 - 45.
Pemyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 36

37 Pernyataan ini harus diaplikasikan dalam penyusunan laporan


keuangan dalam konteks sistem biaya historis tentang akuntansi persediaan
selain:

(a) pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi


(construction contracts) (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 34 tentang Kontrak Konstruksi);

(b) instrumen keuangan; dan

(c) persediaan produsen peternakan, produk pertanian dan kehutanan, dan


hasil tambang sepanjang persediaan tersebut dinilai berdasarkan nilai
realisasi bersih.

38 Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi


bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value).
39 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya
konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition).

40 Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti


dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang serta jasa yang
dihasilkan dan dipisahkan untuk projek khusus harus diperhitungkan berdasarkan
identifikasi khusus terhadap biayanya masing masing.

41 Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 40, harus


dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama
(MPKP atau FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau
masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO).

42 Jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan


tersebut harus diakui sebagai beban pada periode di mana pendapatan atas
penjualan tersebut diakui. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya
menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui
sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap
pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai
realisasi bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban
persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut.

43 Laporan keuangan harus mengungkapkan:

(a) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan,


termasuk rumus biaya yang dipakai;
(b) total jumlah tercatat persediaan dan jumlah tercatat menurut klasifikasi
yang sesuai bagi perusahaan;
(c) jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih
(d) jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui
sebagai penghasilan selama periode sesuai dengan paragraf 42;
(e) kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan
yang diturunkan sesuai dengan paragraf 42; dan
(f) nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.
44 Laporan keuangan harus mengungkapkan salah satu informasi
berikut ini:

(a) biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode tertentu, atau

(b) biaya operasi, yang dapat diaplikasikan pada pendapatan, diakui sebagai
beban selama periode laporan keuangan, diklasifikasikan sesuai dengan
hakekat
BAB V

PSAK No.15
“Akuntansi Untuk Investasi Dalam
Perusahaan Asosiasi”
(Inda Rapita)
Sumber : http://denricositorus.blogspot.co.id/2012/06/psak-15-akuntansi-
untuk-investasi-dalam.html

Tujuan

Pernyataan ini mengatur perlakuan akuntansi untuk investor yang


melakukan investasi dalam perusahaan asosiasi (associates).

Ruang Lingkup

01 Pernyataan ini tidak mengatur:

(a) investasi pada anak perusahaan;


(b) investasi pada joint venture;
(c) goodwill, hak paten, trademarks dan aktiva yang serupa;
(d) finance leases sebagaimana didefinisikan pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha; dan
(e) investasi Dana Pensiun dan perusahaan asuransi jiwa.
Definisi

02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

Perusahaan Asosiasi adalah suatu perusahaan yang investornya mempunyai


pengaruh yang signifikan dan bukan merupakan anak perusahaan maupun joint
venture dari investornya.

Joint Venture adalah perjanjian kontraktual yang melibatkan dua atau lebih
pihak-pihak untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang dikendalikan bersama.

Pengaruh Signifikan adalah wewenang untuk berpartisipasi dalam keputusan


yang menyangkut kebijakan keuangan serta operasi investee tapi bukan merupakan
pengendalian terhadap kebijakan tersebut.

Pengendalian (dalam Pernyataan ini) adalah kekuatan untuk mengatur


kebijakan keuangan dan operasi dari sebuah perusahaan untuk mendapat manfaat
dari aktivitasnya.

Anak Perusahaan (Subsidiary) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh


perusahaan lain (yang disebut induk perusahaan).

Metode Ekuitas (Equity Method) adalah metode akuntansi yang mencatat


investasi pada mulanya sebesar biaya perolehan (cost) dan selanjutnya disesuaikan
untuk perubahan dalam bagian pemilikan investor atas aktiva bersih investee yang
terjadi setelah perolehan. Laporan laba rugi investor merefleksikan bagian laba
atau rugi investor atas hasil usaha investee.

Metode Biaya (Cost Method) adalah metode akuntansi yang mencatat


investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Penghasilan baru diakui oleh investor
apabila investee mendistribusikan laba bersih (kecuali dividen saham) yang berasal
dari laba setelah tanggal perolehan.

PENJELASAN

Pengaruh Signifikan

03 Istilah "perusahaan asosiasi" digunakan untuk menggambarkan suatu


perusahaan dimana investor mempunyai pengaruh signifikan.
04 Jika investor memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui
anak perusahaan, 20% atau lebih dari hak suara pada perusahaan investee, maka
investor dipandang mempunyai pengaruh signifikan. Sebaliknya, jika investor
memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, kurang
dari 20% hak suara, dianggap investor tidak memiliki pengaruh signifikan.
Kepemilikan substansial atau mayoritas oleh investor lain tidak perlu menghalangi
investor memiliki pengaruh signifikan. Apabila investor mempunyai pengaruh
yang signifikan maka investasi pada investee dicatat dengan menggunakan metode
ekuitas. Sebaliknya apabila investor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
maka investasi dicatat dengan menggunakan metode biaya.

Metode Akuntansi:

- Metode Ekuitas
05 Menurut metode ekuitas, investasi pada awalnya dicatat sebesar biaya
perolehan dan nilai tercatat ditambahkan atau dikurangi untuk mengakui bagian
investor atas laba atau rugi investee setelah tanggal perolehan. Distribusi laba
(kecuali dividen saham) yang diterima dari investee mengurangi nilai tercatat
(carrying amount) investasi. Penyesuaian terhadap nilai tercatat tersebut juga
diperlukan untuk mengubah hak kepemilikan proporsional investor pada investee
yang timbul dari perubahan dalam ekuitas investee yang belum diperhitungkan ke
dalam laporan laba rugi. Perubahan semacam itu meliputi perubahan yang timbul
sebagai akibat dari revaluasi aktiva tetap, perbedaan dalam penjabaran valuta
asing, dan dari penyesuaian selisih yang timbul dari penggabungan usaha.

- Metode Biaya
06 Menurut metode biaya, investor mencatat investasinya pada
perusahaan investee sebesar biaya perolehan. Investor menyakui penghasilan
hanya sebatas distribusi laba (kecuali dividen saham) yang diterima yang berasal
dari laba bersih yang diakumulasikan oleh investee setelah tanggal perolehan.
Penerimaan dividen yang melebihi laba tersebut dipandang sebagai pemulihan
investasi dan dicatat sebagai pengurangan terhadap biaya investasi sesuai
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk
Investasi.
Pilihan Metode Akuntansi dalam Laporan Keuangan Konsolidasi

07 Pengakuan penghasilan berdasarkan dividen yang diterima tidak dapat


digunakan sebagai ukuran yang memadai untuk merefleksikan penghasilan yang
diperoleh investor dari investasi dalam suatu perusahaan asosiasi karena distribusi
yang diterima tersebut hampir tidak ada hubungannya dengan kinerja perusahaan
asosiasi. Mengingat pengaruhnya yang signifikan terhadap perusahaan asosiasi,
investor memiliki tolok ukur atas kinerja perusahaan asosiasi, yaitu imbalan
investasi (return on investment). Investor melaksanakan tanggungjawab ini dengan
memperluas lingkup laporan keuangan konsolidasi sehingga mencakup bagiannya
atas hasil usaha perusahaan asosiasi dan dengan demikian menyediakan analisis
terhadap penghasilan serta investasi sehingga rasio yang lebih relevan dapat
dihitung. Dengan demikian, penerapan metode ekuitas memungkinkan pelaporan
aktiva bersih dan penghasilan bersih oleh investor dengan lebih informatif.

08 Investasi di perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan


menggunakan metode biaya jika perusahaan asosiasi beroperasi dengan
pembatasan yang ketat dalam jangka panjang sehingga secara signifikan
mempengaruhi kemampuannya untuk mengalihkan dana kepada investor. Investasi
di perusahaan asosiasi juga dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode
biaya jika investasi diperoleh dan dimiliki secara khusus dengan tujuan untuk
dijual dalam jangka pendek.

09 Investor menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal


dimana:

(a) investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dala perusahaan asosiasi
tetapi menahan, seluruh atau sebagian, investasinya; atau

(b) penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena beberapa alasan
sebagaimana dijelaskan pada paragraf 8.

Pada saat penghentian penggunaan metode ekuitas, jumiah investasi yang terbawa
pada tanggal tersebut diperlakukan sebagai biaya (cost).

 
Penerapan Metode Ekuitas

10 Terdapat beberapa prosedur dalam penerapan metode ekuitas yang tidak


berbeda dengan prosedur konsolidasi sebagaimana dijelaskan dalam Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi.
Selanjutnya, konsep yang mendasari prosedur konsolidasi yang digunakan dalam
perolehan anak perusahaan digunakan dalam perolehan investasi dalam perusahaan
asosiasi.

11 Investasi dalam perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan metode


ekuitas sejak tanggal pada saat investasi tersebut memenuhi definisi perusahaan
asosiasi. Selisih (baik positif maupun negatif) antara biaya perolehan (acquisition
cost) dengan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi
(net identificable asset) pada tanggal akuisisi harus dipertanggungjawabkan sesuai
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang Akuntansi
Penggabungan Usaha.

Penyesuaian yang diperlukan terhadap bagian investor atas laba rugi setelah
akuisisi harus dilakukan untuk hal-hal berikut:

(a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya.

(b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai
wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value
of net identifiable assets) .

12 Laporan keuangan perusahaan asosiasl yang paling akhir digunakan


oleh investor dalam penerapan metode ekuitas; laporan tersebut biasanya disajikan
pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan investor. Jika tanggal pelaporan
tersebut berbeda, perusahaan asosiasi sering menyajikan, untuk digunakan oleh
investor, laporan pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan investor. Jika
penyamaan tanggal tidak mungkin dilakukan, dapat digunakan laporan keuangan
yang disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda, akan tetapi prinsip konsistensi
mempersyaratkan bahwa jangka waktu penggunaan tanggal tersebut konsisten dari
periode ke periode.
13 Jika digunakan laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang
berbeda, penyesuaian dilakukan terhadap dampak dari setiap transaksi atau
peristiwa signifikan yang terjadi antara investor dan perusahaan asosiasi antara
tanggal laporan keuangan perusahaan asosiasi dan tanggal laporan keuangan
investor.

14 Laporan keuangan investor lazimnya disusun dengan menggunakan


kebijakan akuntansi untuk transaksi dan peristiwa yang sama dalam keadaan yang
serupa. Apabila perusahaan asosiasi menggunakan kebijakan akuntansi yang lain
daripada yang digunakan investor untuk transaksi dan peristiwa yang sama, maka
penyesuaian tertentu dilakukan terhadap laporan keuangan - perusahaan asosiasi
apabila laporan tersebut digunakan oleh investor dalam penerapan metode ekuitas.
Jika penyesuaian semacam itu tidak dapat dilakukan, fakta adanya perbedaan
tersebut harus diungkapkan.

15 Jika perusahaan asosiasi memiliki saham preferen kumulatif yang


dimiliki oleh pihak luar, investor menghitung bagiannya atas laba atau rugi setelah
penyesuaian untuk dividen saham prioritas dengan mengabaikan apakah dividen
tersebut telah atau belum dideklarasikan.

16 Jika, berdasarkan metode ekuitas, bagian investor atas kerugian


perusahaan asosiasi sama atau melebihi nilai tercatat dari investasi, maka investasi
dilaporkan nihil. Kerugian selanjutnya diakru oleh investor apabila telah timbul
kewajiban atau investor melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi
yang dijaminnya. Jika perusahaan asosiasi selanjutnya laba, investor akan
mengakui penghasilan apabila setelah bagiannya atas laba menyamai bagiannya
atas kerugian bersih yang belum diakui.

17 Jika terjadi penurunan permanen atas nilai investasi dalam perusahaan


asosiasi, nilai tercatat dikurangkan untuk mengakui penurunan tersebut. Karena
investasi pada perusahaan asosiasi secara individual penting bagi investor, maka
nilai tercatat ditentukan untuk setiap perusahaan asosiasi secara individual.

Kontinjensi

18 Sesuai dengan paragraf 12 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca, investor
mengungkapkan:
(a) bagiannya atas kontijensi dan komitmen modal dari perusahaan asosiasi di
mana investor secara kontinjen ikut bertanggungjawab; dan

(b) kontijensi yang timbul karena investor ikut bertanggungjawab terhadap


semua kewajiban perusahaan asosiasi.

Pengungkapan

19 Agar para pemakai laporan keuangan memahami dengan jelas,


investor mengungkapkan nama perusahaan asosiasi yang signifikan termasuk
proporsi hak kepemilikannya.

PERNYATAAN

Pernyataan Standar AKuntansi Keuangan No. 15 terdiri dari paragraf 20-26.


Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-19.

Laporan Keuangan Konsolidasi

20 Investasi dalam perusahaan asosiasi harus dipertanggungjawabkan


dalam laporan keuangan konsolidasi menurut metode ekuitas, apabila investor
mempunyai pengaruh signifikan dan menurut metode biaya, apabila investor tidak
mempunyai pengaruh signifikan.

21 Investor harus menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak


tanggal pada saat:

(a) investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dalam perusahaan asosiasi;
atau

(b) penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena perusahaan asosiasi
beroperasi di bawah pembatasan ketat dalam jangka panjang yang secara
signifikan mempengaruhi kemampuannya untuk memindahkan dana kepada
investor.
Nilai tercatat dari investasi pada tanggal tersebut untuk selanjutnya harus
diperlakukan sebagai biaya.

Penerapan Metode Ekuitas

22 Nilai tercatat dari investasi dalam perusahaan asosiasi harus dikurangi


untuk mengakui penurunan permanen, dalam nilai investasi. Pengurangan tersebut
harus ditentukan dan dibuat untuk setiap investasi secara individual.

23 Selisih (baik positif maupun negatif) antara biaya perolehan


(aquisition cost) dengan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat
diidentifikasi (net identificable asset) pada tanggal akuisisi harus
dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha.
Penyesuaian yang diperlukan terhadap bagian investor atas laba rugi setelah
akuisisi harus dilakukan untuk hal-hal berikut:

(a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya.

(b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai
wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value of net
identificable assets).

Pengungkapan

24 Pengungkapan berikut harus dibuat:

(a) daftar dan penjelasan dari perusahaan asosiasi yang signifikan yang meliputi:
nama, tempat, kedudukan, persentase kepemilikan dan persentase hak suara
(apabila berbeda dengan persentase kepemilikan).

(b) metode yang digunakan untuk mempertanggungjawabkan investasi tersebut.

25 Investasi dalam perusahaan asosiasi yang dipertanggungjawabkan dalam


metode ekuitas, harus diklasifikasikan sebagai aktiva jangka panjang dan
diungkapkan sebagai pos terpisah dari neraca. Bagian investor atas pos luar biassa
atau pos masa lalu (prior period items) yang berasal dari investee harus
diungkapkan secara terpisah.

Tanggal Efektif

26 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi


periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapkan
lebih dini dianjurkan.