Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Saintifika, Volume16, Nomor 2, Desember 2014, hlm.

49 – 56
STRUKTUR ANATOMI BATANG ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. &
Binnend) VARIETAS TANDO DAN TEMBAGA DI KALIMANTAN
BARAT
Dwi Gusmalawati, Mukarlina, Wahdina ,Siti Khotimah.
Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak Kalbar
Indonesia Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalbar,
Indonesia

PENDAHULUAN
Ulin (Eusideroxylon zwageri T et B) merupakan salah satu tumbuhan asli
Indonesia yang dapat ditemukan di sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan,
Malaysia dan beberapa pulau di Philipina (Soerianegara dan Lemmens, 1993).
Menurut Heyne (1987) di Kalimantan Barat ditemukan 4 (empat) varietas
ulin yang dibedakan berdasarkan kegunaan dan warna batang. Keempat varietas
tersebut adalah ulin tando dengan warna batang coklat kemerahan, ulin lilin
dengan batang coklat gelap, ulin tembaga dengan warna batang kekuningan dan
ulin kapur dengan warna batang coklat muda. Ulin tando, lilin dan tembaga pada
umumnya digunakan untuk pondasi bangunan dan lantai.

METODE PENELITIAN
Batang ulin umur 3 tahun dipotong sepanjang 5 cm pada bagian tengah
kurang lebih 15 cm dari pangkal batang. Setelah cukup lunak, contoh uji disayat
dengan mikrotom geser setebal 15-25 µm. Tahap selanjutnya adalah dehidrasi
berturut-turut dengan alkohol bertingkat 70%, 80%, 90% dan alkohol absolut
masing-masing selama 10 menit Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan
merendamnya selama 10 menit dalam alkohol dan xilol.
Pembuatan contoh uji untuk pengamatan dimensi serat menggunakan
metode maserasi yang mengacu pada metode Schmids (Ruzin, 1999; Husein dan
Sulistyo, 2006). Contoh uji diambil dengan memotong cabang bagian pangkal (1
cm dari pangkal), bagian tengah dan bagian ujung (1 cm dari ujung. Contoh uji
dipotong sebesar batang korek api kemudian dipanaskan dalam tabung reaksi
yang berisi larutan asam asetat dan hidrogen peroksida dengan perbandingan 1:20.
Serat yang sudah terpisah dicuci hingga bebas asam. Serat didehidrasi
menggunakan alkohol 20%, 30%, 50%, 70%, 90% dan alkohol absolut masing-
masing selama 30 menit.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Susunan Jaringan Batang Ulin dalam Sayatan Melintang
Batang anakan ulin umur 3 tahun varietas tando dan tembaga pada sayatan
melintang memperlihatkan susunan jaringan dari luar ke dalam yaitu jaringan
epidermis, jaringan korteks dan empulur, sistem jaringan pembuluh (xilem dan
floem) dan cambium.
Epidermis batang ulin varietas tando dan tembaga berkembang menjadi
trikoma bersel satu. Bagian empulur batang ulin kedua varietas tersebut
memperlihatkan adanya sel minyak berbentuk bulat dan berwarna merah
mengkilat. Esau (1953) menyatakan bahwa epidermis batang dapat membentuk
derivat berupa stomata dan trikoma.

Penyebaran Pembuluh, Parenkim Aksial dan Jari-Jari


Sayatan melintang batang ulin pada bidang tangensial memperlihatkan sel
pembuluh yang berbentuk lubang kecil atau pori. Ulin varietas tando dan tembaga
memiliki sebaran pori tata baur yaitu pori dari bermacam ukuran bercampur pada
seluruh permukaan sayatan melintang kayu.
Berdasarkan susunan porinya ulin varietas tando memiliki susunan pori
soliter, berganda radial 2-5 pori, berganda tangensial 2-3 pori dan berkelompok,
susunan pori varietas Tembaga adalah soliter, berganda radial 2-3 pori, dan
berganda tangensial 2-3 pori.

Dimensi Serat
Nilai rata-rata panjang serat kedua varietas ulin menunjukkan bagian
pangkal lebih panjang dari bagian tengah, dan semakin ke ujung semakin pendek
(Tabel 1). Hal ini sesuai dengan Tavita (2001) yang menyatakan bahwa pola
variasi panjang serat cenderung menurun dari pangkal ke ujung suatu cabang.
SIMPULAN
Perbedaan secara anatomi antara batang varietas tando dan tembaga adalah
varietas Tando memiliki pori berganda radial 2-5 sel dan tipe berkelompok,
varietas Tembaga memiliki pori berganda radial 2-3 sel; jari-jari varietas tando
bertipe heteroseluler, varietas tembaga bertipe homoseluler. Rerata panjang serat,
diameter lumen dan ketebalan dinding serat varietas tando berturut-turut adalah
1647,40 µm, 11,90 µm dan 11,70 µm, sedangkan rerata panjang serat, diameter
lumen dan ketebalan dinding serat varietas tembaga berturut-turut adalah 1598,20
µm, 15,20 µm dan 11,20 µm.

DAFTAR PUSTAKA
Esau,K. 1953. Plant Anatomy. Toppan Company. Tokyo. Jepang.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Koperasi Karyawan
Departemen Kehutanan. Jakarta.
Husein, N. dan A.S. Budi, 2006. Serat Eksentrik Pada Kulit kayu Marobamban. J.
Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis. 4: 39-43.
Ruzin, S.E. 1999. Plant Microtechnique and Microscopy. Oxford University
Press.New York.
Soerianegara, I. dan R.H.M.J. Lemmens. 1993. Plant Resources of South-East
Asia . Pudoc Scientific Publishers. Wageningen.
Tavita, G.E. 2001. Kajian Anatomi Kayu Jati (Tectona grandis L.F.) Dari
Mikropropagasi Kultur Jaringan. Program Pasca Sarjana. IPB Bogor.
(Tesis).
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.1, (2013) 2337-3520
Perbandingan Anatomi Akar Dan Daun Pada Anggrek Epifit Dan Terestrial;
Studi Kasus Beberapa Spesies Anggota Genus Liparis Dan Malaxis
(Orchidaceae)
Byan Arasyi Arraniry , Tutik Nurhidayati dan Destario Metusala
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Indonesia

PENDAHULUAN
Anggrek (Orchidaeae) merupakan famili terbesar yang menempati 7 - 10
% tumbuhan berbunga dan memiliki kurang lebih 20.000 - 35.000 spesies yang
terdiri atas 750 - 850 genus [1]. Kebanyakan anggrek ditemukan hidup sebagai
tumbuhan terestrial dan beberapa spesies hidup menempel di batang pohon atau
epifit [1]. Tribe Malaxideae dikenal juga sebagai salah satu dari sedikit kelompok
anggrek yang memiliki spesies terestrial dan epifit dalam jumlah besar [2].
Walaupun genus Malaxis dan Liparis memiliki kedekatan hubungan kekerabatan,
namun secara umum kedua genus tersebut memiliki bentuk hidup yang sangat
berbeda [3]

METODOLOGI
A. Metode Sayatan langsung
Sayatan direndam dalam alkohol 70 % selama 30 menit. Pewarnaan
sayatan menggunakan metode Sass. Sayatan yang telah direndam alkohol 70 %
diwarnai menggunakan safranin 1 % kemudian di dehidrasi bertingkat
menggunakan alkohol 30 % - 96 %. Sayatan yang telah didehirasi kemudian
direndam dalam larutan fast green selama 1 menit dan dibilas menggunakan
alcohol 96 %.
B. Pengamatan Sayatan Melintang Daun
Pengamatan secara langsung dilakukan untuk mengetahui karakter sel
penyusun jaringan dan ada tidaknya jaringan epidermis, hipodermis, mesofil dan
ikatan pembuluh angkut.
C. Pengamatan Sayatan Melintang Akar
Pengamatan secara langsung dilakukan untuk mengetahui karakter
jaringan velamen, jaringan eksodermis dan endodermis, jaringan korteks dan
karakter pembuluh angkut pada akar.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian tentang komparasi anatomi anggrek epifit dan terestrial
mencakup dua organ tanaman yang sangat rentan terjadi perubahan secara
morfologi maupun anatomi, yaitu pada organ akar dan daun.
Bentuk Adaptasi dan Evolusi pada Anggrek Terestrial dan Epifit
Pengamatan pada ketebalan jaringan epidermis adaksial dan abaksial pada
daun, diketahui bahwa genus Malaxis memiliki ketebalan epidermis yang relatif
lebih tebal dibandingkan dengan genus Liparis, dengan ketebalan diatas 20 µm
bahkan hingga 42 µm. Genus Malaxis tidak memiliki organ penyimpan cadangan
air (pseudobulb). Epidermis yang tebal yang diikuti dengan penebalan lapisan
kutikula diketahui sangat bermanfaat dalam menahan kehilangan air pada kondisi
kelembaban yang terbatas [4][5].
Selanjutnya pengamatan pada organ akar pada genus Malaxis, terdapat
modifikasi lapisan epidermis menjadi bentuk rambut akar. Modifikasi rambut akar
tersebut berfungsi untuk meningkatkan efektifitas penyerapan air dan unsur hara
dari celah – celah partikel tanah. Sedangkan pada genus Liparis yang hidup secara
epifit, tidak ditemukan modifikasi epidermis dalam bentuk rambut akar.

SIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini terdapat beberapa perbedaan karakter
anatomi pada daun dan akar antara anggrek epifit yang diwakili oleh genus
Liparis dengan anggrek terestrial yang diwakili genus Malaxis. Karakteristik yang
terlihat menonjol sebagai ciri kelompok anggrek epifit yaitu lapisan jaringan
epidermis adaksial daun yang lebih tipis, sebaran stomata pada kedua helaian
daun, dan lapisan epidermis akar yang tidak termodifikasi membentuk rambut
akar. Karakteristik yang terlihat menonjol sebagai ciri kelompok anggrek terestrial
yaitu lapisan jaringan epidermis adaksial yang lebih tebal, sebaran stomata pada
helaian daun bagian bawah saja, dan lapisan epidermis akar yang termodifikasi
membentuk rambut akar.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Dressler, R.L. Phylogeny and Classification of The Orchid Family. Australia:
Press Syndicate of The University of Cambridge. (1993).
[2] Atwood, J. T. “The Size of The Orchidaceae and The Systematic Distribution
of Epiphytic Orchids”. Selbyana 9: 171–186. (1986).
[3] Cameron, K. M. “Leave It to The Leaves: A Molecular Phylogenetic Study of
Malaxideae”. American Journal of Botany 92(2005) 1025-1032.
[4] Rashid, P., F. Yasmin & J.L. Karmoker. “Effect of Salinity On Ion Transport
and Anatomical Structure in Wheat (Triticum Aestivum L. Cv. Kanchan)”.
Bangladesh Journal of Botany 30(1). 2001. 65-69.
[5] Bahaji, A., I. Mateu, A. Sanz & M.J. Cornejo. “Common and Distinctive
Responses of Rice Seedling to Saline and Osmotically Generated Stress”.
Plant Growth Regulation 38. 2002. 83-94.
Jurnal Produksi Tanaman Vol. 6 No. 12, ISSN: 2527-8452
Evaluasi Anatomi dan Sitologi Tanaman Jeruk Colchiploid Siam Pontianak
Evaluation Of Anatomy and Cytology Of Citrus Colchiploid Pontianak
Tangerine
Muharshal Fahriz, Farida Yulianti dan Sri Lestari Purnamaningsih
Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University
Jl. Veteran, Malang 65145 Jawa Timur
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Jl. Raya Tlekung No. 1 Kota Batu

PENDAHULUAN
Menurut Kosmiatin et al (2016) perbaikan kualitas tanaman jeruk melalui
kegiatan pemuliaan tanaman dapat dilakukan secara inkonvensional dengan
mutasi menggunakan kolkhisin. Aplikasi kolkhisin terhadap jeruk Siam Pontianak
telah dilakukan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro)
pada tahun 2005.
Tanaman hasil pemberian kolkhisin yang didapatkan kemudian dilakukan
seleksi secara bertahap, mulai dari seleksi sitologi (jumlah kloroplas dan
kromosom), genetik (analisis DNA) dan morfologi. Seleksi jeruk Siam Pontianak
hasil perlakuan kolkhisin bedasarkan genetik dan morfologi telah dilakukan,
sedangkan seleksi terhadap sitologi jeruk Siam Pontianak hasil perlakuan
kolkhisin belum dilakukan.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan mengamati bagian daun dan tunas tanaman
jeruk colchiploid Siam Pontianak berumur 10 tahun hasil perlakuan kolkhisin.
Perlakuan kolkhisin telah dilakukan dengan perendaman kalus embriogenik. Total
tanaman yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 18 tanaman jeruk Siam
Pontianak hasil perlakuan kolkhisin dan 1 tanaman jeruk Siam Pontianak sebagai
tanaman kontrol. Jumlah sampel setiap tanaman yang digunakan dalam
pengamatan stomata dan kloroplas sebanyak 8 preparat, setiap preparat terdapat 4
titik objek pengamatan. Sedangkan jumlah sampel dalam pengamatan kromosom
sebanyak 3 preparat

HASIL DAN PEMBAHASAN


Jumlah Stomata dan Ukuran Stomata
Jumlah stomata pada beberapa nomor tanaman mengalami penambahan
jumlah, serta pada beberapa nomor menunjukkan pengurangan jumlah stomata.
Ukuran stomata tanaman colchiploid memiliki ukuran panjang dan lebar stomata
yang lebih besar dari tanaman kontrolnya. Setiap individu tanaman yang diberikan
kolkhisin dapat memiliki jumlah kromosom tiga kali atau lebih dari jumlah
kromosom dasarnya (Sulistianingsih et al., 2004).
Jumlah Kloroplas
Jumlah kloroplas tanaman jeruk colchiploid Siam Pontianak dengan
konsentrasi 0,15% memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan
tanaman control. Menurut Yulianti et al (2015) penggunaan kolkhisin dengan
perlakuan 0.1%-0.3% dapat menghasilkan jumlah kloroplas yang lebih banyak
dari pada tanaman kontrol.
Jumlah Kromosom
Jumlah kromosom didapatkan semua hasilnya lebih banyak dari tanaman
kontrolnya. Suminah et al (2002) menjelaskan terjadinya perubahan pada
kromosom disebabkan karena senyawa kolkhisin dapat menghalangi terbentuknya
benang-benang mikrotubuli. Tanaman colchiploid dari hasil perlakuan kolkhisin
tersebut termasuk kedalam aneuploid, yang merupakan jumlah kromosom yang
terbentuk tidak merupakan dari kelipatan kromosom awalnya.
Nilai Standar Devisiasi
Jumlah stomata dan jumlah kromosom dengan perlakuan 10 hari
perendaman memiliki nilai standar deviasi yang tinggi. Ukuran panjang dan lebar
stomata serta jumlah kloroplas pada perendaman 7 hari, memiliki nilai standar
deviasi yang tinggi. Semakin tinggi nilai standar devisi pada setiap nomor
tanaman, menunjukkan bahwa nilai data yang didapatkan semakin bermacam-
macam.
Nilai Korelasi
Hubungan dari 4 aspek tersebut didapatkan hasil pada jumlah stomata
dengan panjang dan lebar stomata memiliki nilai korelasi yang negatif, sehingga
dengan meningkatnya nilai pada suatu aspek maka mengakibatkan penurunan
nilai pada aspek yang lainnya. Hal tersebut ditunjukkan pada hasil jumlah stomata
yang semakin banyak maka ukuran panjang dan lebar stomata yang didapatkan
menjadi lebih kecil.

SIMPULAN
Pertambahan jumlah stomata terjadi pada semua tanaman dengan lama
perendaman kolkhisin selama 10 hari, sedangkan pengurangan jumlah stomata
terjadi pada semua tanaman dengan perendaman kolkhisin selama 7 hari.
Pertambahan ukuran panjang dan lebar stomata, serta jumlah kloroplas terjadi
pada semua tanaman, yang memiliki hasil lebih besar dari tanaman kontrol.
Pertambahan jumlah kromosom terjadi pada semua tanaman, dengan jumlah
kromosom yang dihasilkan berjumlah 20, 21, 22, 23, 24 dan 27 kromosom.

DAFTAR PUSTAKA
Kosmiatin, M., A. Husni, dan C. Martasari. 2016. Variasi stomata dari populasi
mini grafting jeruk Siam Medana (Citrus nobilis) yang diregenerasikan
dari kultu endosperma. Dalam Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi KIP dengan Pusat Studi Lingkungan
dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang.
Sulistianingsih, R., Z. A. Suryanto dan A. E. Noer. 2004. Penigkatan kualitas
anggrek Dendrobium hibrida dengan pemberian kolkisin. J. Ilmu Pertanian
11(1):13-21.
Yulianti, F., A. Purwito, A. Husni, dan D. Dinarti. 2015. Induksi tetraploid tunas
pucuk jeruk Siam Simadu (Citrus nobilis lour) menggunakan kolkisin
secara in vitro. J. Agronomi Indonesia 43(1):66-71.
Suminah, Sutarno dan A. D. Setyawan. 2002. Induksi poliploidi bawang merah
(Allium ascalonicum L.) dengan pemberian kolkisin. Biodiversitas.
3(1):174-180.