Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ABSORBSI & DISTRIBUSI OBAT

Disusun oleh :

Kelompok 1

Iriana Nikita Tarek (16101105063) Astrid Maulani Runtukahu (19101105007)


Viska Fadila Tompunu (17101105077) Miracle Sintha Gonie (19101105013)
Senia Blessy Porajow (17101105023) Citra Fatima Marsidi (19101105020)
Widya H.P Gerung (17101105075) Odelia Amabel Polakitan (19101105031)
Stelly Kaehe (17101105093) Titah Amelia Ratte (19101105033)
Vania Patrisia Wauran (19101105002) Missyeling F. Saerang (19101105035)

PROGRAM STUDI FARMASI

FALKUTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SAMRATULANGI MANADO

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karna berkat rahmatnya , kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ‘’ABSORBSI & DISTRIBUSI OBAT’’ ini sesuai dengan
waktu yang ditentukan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Farmakologi Dasar dengan kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak
yang telah membantu.
Kami menyadari, penulisan makalah ini sangat jauh dari sempurna, oleh karna itu, kami
berharap untuk pembaca memberi masukan baik berupa saran maupun kritik, yang bersifat membangun
serta bimbingan lebih lanjut demi sempurnanya makalah ini.
Akhir kata , kami mohon maaf dalam pembuatan makalah ini apabila terjadi kesalahan baik
dalam penulisan maupun penyusunan tulisan. Semoga makalah ini bisa menjadi sumber baru untuk
menambah pengatahuan kita bersama.

Manado, Agustus 2020

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1

1.2 Tujuan.....................................................................................................................1

BAB II. PEMBAHASAN..................................................................................................2


2.1 Absorbsi Obat.........................................................................................................2
2.2 Distribusi Obat......................................................................................................11
BAB III. PENUTUP........................................................................................................16
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terdapat empat tahap dasar perjalanan obat dalam tubuh yaitu Penyerapan/Absorbsi,
Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi. Pada makalah ini penulis akan membahas tentang
tahap Absorbsi/Penyerapan, dan juga Distribusi.
Obat-obatan bisa masuk ke dalam tubuh dalam berbagai cara, dan mereka
diserap/diabsorbsi ketika mereka melakukan perjalanan dari berbagai rute
pemberian/administrasi ke dalam sirkulasi tubuh. Beberapa cara yang paling umum
seperti melalui mulut/oral (menelan tablet aspirin), intramuskular (mendapatkan
vaksinasi flu dalam otot lengan), subkutan (suntik insulin tepat di bawah kulit), intravena
(menerima kemoterapi melalui pembuluh darah), atau transdermal (memakai patch kulit).
Obat menghadapi rintangan terbesarnya selama penyerapan. Ketika obat diminum,
maka akan diantarkan melalui saluran pencernaan dan diabsorbsi melalui pembuluh
darah khusus menuju ke hati, di mana sejumlah besar obat dapat dihancurkan oleh enzim
metabolik pada apa yang disebut “lintas pertama obat/first fast effect.” Rute lain dari
pemberian obat yang melewati hati dengan memasuki aliran darah secara langsung atau
melalui kulit atau paru-paru.
Kemudian Distribusi. Setelah obat diserap, tahap berikutnya adalah distribusi. Pada
umumnya aliran darah akan membawa obat-obatan ke seluruh tubuh. Selama langkah ini,
efek samping dapat terjadi ketika obat memiliki efek dalam organ selain organ target.
Untuk pereda nyeri, organ sasaran mungkin otot sakit di kaki; iritasi lambung bisa
menjadi efek samping. Banyak faktor yang mempengaruhi distribusi, seperti kehadiran
molekul protein dan lemak dalam darah yang dapat menempatkan molekul obat terikat
untuk membawa ketempat yang dituju.
Obat yang ditargetkan menuju sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang)
akan menghadapi rintangan besar yakni barikade yang hampir tak tertembus disebut
penghalang darah-otak/blood brain barrier. Blokade ini dibangun khusus berbentuk
kapiler berlapis yang bersama-sama untuk melindungi otak dari zat-zat yang berbahaya
seperti racun atau virus. Namun ahli farmasi telah merancang berbagai cara untuk
menyelinap beberapa obat melewati penghalang ini.

1.2 Tujuan
A. Untuk mengetahui pengertian dan mekanisme absorbsi obat .
B. Untuk mengetahui kecepatan absorbsi dan faktor yang mempengaruhi kecepatan
absorbsi.
C. Untuk mengetahui kaitan antara absorbsi dan bioavaibilitas.
D. Untuk mengatahui pengertian dan faktor yang mempengaruhi distribusi obat

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Absorbsi Obat


Absorpsi obat adalah pergerakan obat ke dalam aliran darah setelah pemberian.
Absorpsi obat meliputi proses obat dari saat dimasukkan ke dalam tubuh, melalui jalurnya
hingga masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Proses ini tegantung pada karakteristik tempat
absorpsi, aliran darah ditempat absorpsi , sifat fisika-kimia obat , dan karakteristik produk
(bentuk sediaan). (Aslam, 2003)

2.1.1 Mekanisme Absorbsi Obat


Menurut Indijah (2016), terdapat beberapa macam proses absorpsi obat
melewati membran sel, biasa disebut mekanisme absorpsi obat, yaitu:
a. Transpor Aktif
Transpor Aktif merupakan transport yang difasilitasi oleh pembawa .
Karakteristik dari transport pasif adalah pemindahan obat melawan gradien
konsentrasinya dimana obat dengan dari tempat dengan konsentrasi rendah
dibawa ke daerah dengan konsentrasi tinggi, oleh karena itu diperlukan energy
untuk tranpor aktif. Transpor Aktif membutuhkan carrier yang mengikat obat,
membawanya melintasi membrane dan melepaskannya disisi lainnya. Molekul
pembawa sangat selektif terhadap molekul obat tertentu. Misalnya, transport
aktif Iodida dari darah ke koloid kelenjar tiroid.
b. Difusi Pasif / Transport Pasif
Absorpsi sebagian besar obat secara difusi pasif. Maka sebagai barrier
absorpsi adalah sel epitel saluran cerna yang seperti halnya semua membran sel
tubuh kita merupakan lipid bilayer.Agar dapat melintasi membran sel tersebut,
molekul obat harus mempunyai kelarutan dalam lemak (setelah larut terlebih
dahulu dalam air). Kecepatan difusi berbanding lurus dengan derajat kelarutan
lemak molekul obat ( selain kadar obat lintas membrane yang merupakan
driving force proses difusi, dan dengan luasnya area permukaan membrane
tempat difusi ). Pemberian obat sublingual hanya untuk obat yang sangat larut
dalam lemak karena luas permukaan absorpsinya kecil, sehingga obat harus
melarut dan diabsorpsi dengan sangat cepat, misalnya nitrogliserin.
2
Kebanyakan obat merupakan elektrolit lemah, yaitu basa lemah atau asam
lemah. Dalam air elektrolit lemah ini akan terionisasi menjadi bentuk ionnya.
Derajat ionisasi obat bergantung pada konstanta ionisasi obat (pKa) dan pada
pH larutan dimana obat berada. Pada difusi pasif hanya bentuk ion (NI) yang
mempunyai kelarutan lemak yang dapat berdifusi, sedangkan bentuk ionv(I)
tidak dapat berdifusi karena tidak mempunyai kelarutan lemak.
Untuk asam lemah, pH tinggi (usus) akan meningkatkan ionisasinya dan
mengurangi bentuk nonionnya, hal sebaliknya berlaku untuk basa lemah. Oleh
karena bentuk nonion dan bentuk ion berada dalam kesetimbangan maka
setelah bentuk nonion diabsorpsi kesetimbangan akan bergeser kearah nonion
sehingga absorpsi akan berjalan terus sampai habis.
(mekanisme absorpsi obat melalui difusi pasif dipengaruhi oleh pKa obat, pH
tempat absorpsi, dan fraksi obat yang tidak terionkan ).
c. Difusi Difasilitasi
Difusi difasilitasi merupakan transport yang difasilitasi oleh pembawa.
Perbedaannya dengan transport aktif adalah obat yang bergerak melalui
gradient konsentrasi ( dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah) sehingga
tidak memerlukan energy.
d. Pinositosis
Pinositosis merupakan suatu proses perlintasan membran oleh molekul-
molekul besar dan terutama oleh molekul yang tidak larut. Perlintasan terjadi
dengan pembentukan vesikula (bintil) yang melewati membrane.
e. Pembentukan Ion Pair
Obat yang bersifat elektrolit kuat atau molekul yang terionisasi kuat, seperti
amin kuarterner yang dapat mempertahankan muatannya dalam semua pH
fisiologis, dapat menembus membrane dengan membentuk ikatan dengan
molekul dengan muatan yang berlawanan sehingga muatan keseluruhan netral.
Contoh propranolol yang membentuk pasangan ion dengan asam oleat.

2.1.2 Rute Pemberian obat dan proses absorbsi obat


 Rute pemberian obat

3
Gambar 1.Rute pemberian obat

1. Interavaskular (Obat yang langsung kedalam pembuluh darah/ sirkulasi sistemik)


 Interavena (i.v)
 Intraarteri (i.a)
 Intracardial (i.c)
2. Estravaskular (Obat harus melalui fase absorbs agar dapat mencapai sistemik)
 Oral (peroral)
 Subligual
 Rektal
 Intramuscular (i.m)
 Subkutan (s.c)
 Intraperitonial (i.p)
3. Lain-lain
 Inhalasi
 Intranasal
 Interatekal/ interaventikular
 Topikal
 Transdermal

Tabel 2.1 Karakteristik berbagai cara pemberian sediaan obat

Rute Pola Absorpsi Kegunaan Keterbatasan


Intravena Tidak ada Pada kedaan gawat darurat Meningkatkan risiko efek
absorpsi Memungkinkan titrasi samping.
Memberikan dosis. Harus menginjeksikan
efek dengan Diperlukan untuk obat- larutan dengan perlahan-
segera obatan peptida dan protein lahan.
dengan berat molekul Tidak sesuai untuk larutan
tinggi. yang berminyak atau zat-zat

4
yang tidak larut
Subkutan Cepat, untuk Sesuai untuk larutan yang Tidak sesuai untuk larutan
larutan dalam volumenya besar dan untuk bervolume besar.
air. zat yang mengiritasi bila Kemungkinan timbul rasa
Lambat, untuk dilarutkan. nyeri atau kematian sel
sediaan Sesuai untuk suspense yang akibat zat-zat yang
cadangan tidak larut dan untuk mengiritasi.
implantasi lempengan
padat.
Intramuskular Cepat, untuk Sesuai untuk larutan yang Hindari selama pengobatan
larutan dalam volumenya cukup besar dengan antikoagulan.
air. (moderat), larutan yang Dapat mempengaruhi
Lambat, untuk berminyak dan larutan interpretasi diagnostic
sediaan mengiritasi. tertentu, misalnya creative
cadangan kinase.
Oral Tidak tetap Penggunaanya mudah dan Membutuhkan kerjasama
tergantung ekonomis;biasanya lebih pasien.
pada banyak aman. Ketersediaan hayati obat-
faktor obatan yang sulitlarut tidak
menentu dan tidak lengkap,
absorpsinya lambat atau
dimetabolisme secara luas
oleh hati dan/atau usus.

 Proses absorbsi

Gambar 2. Siklus Enterohepatik

5
Proses absorpsi obat terjadi di tempat pemberian obat, secara lokal misalnya dalam
lambung (obat antasida penetral asam lambung), dalam kulit (sediaan topikal), di
dinding pembuluh darah kapiler di sekitar anus (obat wasir) atau secara sistemik yakni
di lambung atau usus (jika obat diberikan secara oral atau melalui mulut). Untuk obat
yang diberikan secara intravena (masuk ke pembuluh darah vena secara langsung
dengan suntikan atau infus) maka obat tidak mengalami absorpsi, namun langsung
terdistribusi ke darah.

Absorpsi obat tergantung sifat fisika dan kimia obat yang berbeda-beda tiap
senyawa, dan tempat absorpsi obat yang menentukan pH lingkungan absorpsi
(lambung memiliki pH rendah=asam, usus pH tinggi=basa). Selain itu ada pengaruh
bentuk obat, yang berbentuk partikel kecil sangat mudah/cepat absorpsinya. Juga tak
bisa dilupakan bentuk obat yang tersedia di lokasi absorpsi, apakah bentuk ion atau
molekul. Hanya obat dalam bentuk molekul yang akan mengalami absorpsi karena
bentuk molekul yang larut dalam lipid akan mudah menembus membran tubuh tempat
absorpsi obat (membran tubuh bersifat lipid bilayer).

Oleh karena itu, kita bisa memperkirakan di mana tempat absorpsi obat tergantung
pH obat. Obat bersifat asam seperti asetosal (aspirinR), ibuprofen (prorisR), asam
mefenamat (ponstanR) pasti akan mengalami absorpsi di lambung bukan di usus.
Sebabnya adalah dalam lambung yang bersuasana asam obat-obat asam akan
mengalami bentuk molekul yang lebih banyak dibandingkan bentuk ionnya (bentuk ion
larut air mudah diekskresikan, bukan diabsorpsi). Selama proses absorpsi, obat
mengalami penurunan jumlah karena tak semua obat diabsorpsi. Selain itu selama
proses absorpsi, jika obat diberikan secara oral maka akan mengalami siklus
enterohepatik (perjalanan dari pembuluh darah di usus ke portal hepar di mana terdapat
enzim beta-glikosidase yang mengolah sebagian obat sebelum sampai di reseptornya).

Berdasarkan proses absorpsi dan sifat asam-basa obat ini pula, kita dapat
memperkirakan apakah obat lebih baik jika dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.
Obat bersifat asam yang diabsorpsi di lambung lebih baik dikonsumsi sesudah makan
karena saat makanan sudah sampai usus maka obat akan tinggal lama di lambung, di
tempat yang tepat untuk absorpsi jenis obat ini sehingga efek/kerja obat lebih cepat dan
maksimal. Adanya makanan dalam lambung (sisa makanan) juga akan menurunkan
asam lambung, hal ini menguntungkan untuk obat yang bersifat asam karena sangat
korosif bagi lambung.
6
Dengan demikian, obat asam jika dikonsumsi sesudah makan selain efeknya
maksimal juga efek samping nyeri lambung akan tereduksi dengan nyata. Sebaliknya
obat seperti parasetamol yang bersifat kurang asam lebih baik dikonsumsi sebelum
makan, dengan harapan saat ada makanan masuk lambung maka parasetamol akan
terdorong ke usus di mana menjadi tempat absorpsi yang maksimal bagi obat jenis
kurang asam. Jadi perlu ditegaskan kalau setiap obat memiliki sifat fisika kimia
berbeda yang menyebabkan tak semua obat harus dikonsumsi setelah makan. Masih
banyak contoh obat yang bisa dikonsumsi sebelum makan, bahkan adanya makanan di
lambung bagi beberapa obat justru akan mengurangi efeknya seperti berbagai jenis
antibiotik.

2.1.3 Kecepatan Absorbsi


Apabila pembatas antara obat aktif dan sirkulasi sistemik hanya sedikit, absorbsi
terjadi cepat obat akan segera mencapai level pengobatan dalam tubuh.
 Detik s/d menit : Intra vena (IV), SL, Inhalasi
 Lebih Lambat : Oral, topical kulit
 Lambat : Per rektal/ sustained release
Faktor yang mempengaruhi penyerapan :
 Aliran darah ketempat absorbsi
 Total luas permukaaan yang tersedia sebagai tempat absorbsi
 Waktu kontak permukaan absorbsi

 Diperlambat oleh nyeri dan stres


Nyeri dan stres  mengurangi aliran darah, mengurangi pergerakan saluran cerna,
retensi gaster.
 Makanan tinggi lemak
Makanan tinggi lemak dan padat akan menghambat pengosongan lambung dan
memperlambat waktu absorpsi obat
 Faktor bentuk obat
Absorpsi dipengaruhi formulasi obat: tablet, kapsul, cairan, sustained release, dll)
 Kombinasi dengan obat lain
Interaksi satu obat dengan obat lain dapat meningkatkan atau memperlambat
tergantung jenis obat.

7
2.1.4 Faktor yang mempengaruhi kecepatan Absorbsi Obat

2.1.6 Pengaruh tingkat enhakit terhadap absorbsi obat

Absorbsi obat dipengaruhiolehbeberapa penyakityang disebabkan


olehperubahan :

1.  Alirandarahintestinal

2. Motilitasgastrointestinal

3. Waktu pengosonganlambung

4. pH lambungyang mempengaruhi kelarutanobat 

5. pH intestinal yang mempengaruhi besarnyaionisasi

6. Permeabilitasdindig usus

7. Sekresiempedu

8. Sekresienzimpencernaan

9. Alterasiflora normal gastrointestinal

2.1.7 Bioavailabilitas
            Absorbsi, berkaitan dengan bioavailabilitas (kadar obat dalam darah) yaitu
jumlah obat dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik (masuk
ke pembuluh darah) dalam bentuk utuh, karena tidak semua obat yang diabsorpsi dari
8
tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sitemik. Kadar obat dalam darah
dipengaruhi terutama oleh dosis obat. (El Fitri 2016)
Bioavailabilitas (ketersediaan hayati ) obat adalah ukuran laju dan besarnya
obat mencapai sirkulasi sistemik.
Parameter farmakokinetika yang menggambarkan laju absorpsi adalah
ka(tetapan laju absorpsi) tmaks (waktu obat mencapai konsentrasi puncak) da Cpmaks
(konsentrasi obat mencapai maksimum); sedangkan parameter yang menggambarkan
besarnya obat yang mencapai sirkulasi sitemik adalah AUC (luas area di bawah
kurva) obat dalam plasma dam F (fraksi dosis terabsorpsi atau ketersediaan hayati)
absolut atau relarif.

Jumlah obat yang masuk ke ss


Ketersediaan hayati absolut =Fabs=
Dosis obat dalam sediaan
AUCev
¿
AUCiv

Gambar 1. Grafik Bioavaibilitas

Ss = sirkulasi sistemik atau dapat dijabar F=1-F’-F”


F” = hilangnya obat sebelum masuk ke ss karena metabilisme lintas pertama
F” =hilangnya obat sebelum masuk ke ss karena non metabolism lintas pertama.
Menurut Aslam (2003) berkurangnya jumlah obat dikarenakan non metabolisme lintas
pertama dapat disebabkan oleh pengaruh:
 Formulasi obat antara lain karakteristik pembawa, pH sediaan, ukuran partikel,
perbedaan bentuk Kristal
 Metode pabrikasi (granulasi basah dan kering, lama pengadukan, lama pemanasan,
pembentukan disperse)
 Karakteristik tempat absorpsi (pH lingkungan, volume meia, luas permukaan tempat
absorpsi, aliran darah, dan kecepatan pengosongan lambung).
9
 Karakteristik obat (kelarutan, disolusi, pKa, koefisien partisi, habit, dan lain-lain).
 Mekanisme absorpsi obat.
Berbagai bentuk sediaan obat, kaplet, kapsul, serbuk, suspense, larutan, atau bentuk
sediaan pemberian ekstra vaskuler lainnya kemungkinan mempunyai keteersediaan hayati
berbeda dikarenakan factor satu dan factor lainnya diatas baik secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama.
Sediaan bentuk oral merupakan sediaan yang paling banyak berada dipasaran, selain
pemakaiannya lebih mudah juga lebih praktis dibawa dan mungkin juga lebih ekonomis.
Kekurangan bentuk sediaan obat berupa keterbatasannya dalam mengabsorpsi semua obat
karena obat mempunyai karakteristik yang berbeda, misalnya polaritasnya tinggi, berat
molekulnya besar, stabilitasnya pada saluran cerna, muntah akibat iritasi pada mucus
saluran cerna, ketidakteraturan absorpsi karena adanya makanan atau obat lainnya.
Injeksi parental mempunyai keuntungan dibandingkan sediaan oral atau ekstra
vaskuler lainnya. Ketersediaan hayati lebih dapat dipastikan, sehingga mula kerja obat dan
lama kerja obatjuga ditegakkan. Pada kasus gawat darurat, pemberian parenterallebih
efisien, misalnya pada keadaan pasien tidak sadar, tidak kooperatif atau tidak dapat
menerima apapun dari mulut. Obat dalam bentuk parenteral ini juga mempunyai
kekurangan antara lain asepsis harus dijaga, nyeri yang menyertai injeksi dan bagi pasien
tidak mungkin menggunakannya sendiri serta factor biaya. Berikut contoh karakteristik
cara pemberian sediaan obat yang dapat disesuaikan dengan keadaan pasien dan status
penyakit.

2.1.8 Faktor yang mempengaruhi Bioavailabilitas

 First-pass metabolism hepar (metabolisme


lintas pertama hepar)
 Solubilitas obat
 Ketidakstabilan kimiawi
 Formulasi obat

10
Hepar
 Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke hepar
sebelum beredar ke seluruh tubuh.
 Hepar memetabolisme banyak obat sebelum
 masuk ke sirkulasi. Hal ini yang disebut dengan efek
first-pass.
 Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi
inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke
sirkulasi sitemik dosis obat yang diberikan harus banyak

2.2 Distribusi Obat


Distribusi obat adalah tahapan farmakokinetika setelah proses absorbsi obat mencapai
sirkulasi sistemik. Obat didistribusikan ke berbagai bagian tubuh melalui aliran darah.

2.2.1 Faktor yang mempengaruhi distribusi obat :

 Karakteristik jaringan (aliran darah, koefisien partisi, kelarutannya dalam lemak)


 Status penyakit yang dapat mempengaruhi fisiologi
 Ikatan obat-protein

Pada awal distribusi, obat mengikuti aliran darah menuju jaringan/organ yang mempunyai
perfusi tinggi dengan darah seperti jantung, paru-paru, ginjal, hati sehingga cepat terjadi
keseimbangan dengan sirkulasi sistemiik sehingga merupakan kompartemen yang sama
dengan sirkulasi sistemik dan selanjutnya disebut kompartemen sentral.

Pada tahap berikutnya, obat terdistribusi ke jaringan lemak, tulang, otot, kulit, jaringan
ikat yang mempunyai perfusi lebih rendah. Obat-obat yang tidak larut dalam lemak atau tidak
sesuai karakteristiknya dengan jaringan-jaringan diatas, tidak mengalami distribusi pada tahap
ini. Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah obat yang mempunyai sifat polar,
banyak berada dalam sirkulasi sistemik, selanjutnya dikelompokkan dalam obat yang
mengikuti model kompartemen satu. Tetapi obat-obat yang mempunyai kelarutan yang cukup
dalam lemak, mempunyai kesesuaian karakteristiknya dengan jaringan / organ tertentu, obat
akan terdistribusi ke dalamnya selanjutnya akan terjadi keseimbangan dengan sirkulasi

11
sistemik; obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini dikatakan obat mengikuti model
kompartemen dua atau tiga.

Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan
cairan tubuh. Distribusi obat yang telah diabsorpsi tergantung beberapa faktor :

 Aliran darah
Setelah obat sampai ke aliran darah, segera terdistribusi
ke orga berdasarkan jumlah aliran darahnya. Organ
dengan aliran darah terbesar : Jantung, Hepar, Ginjal.
Distribusi ke organ lain kulit, lemak dan otot lebih lambat.
 Permeabilitas kapiler
Tergantung : Struktur kapiler dan Struktur Obat

 Ikatan protein
Obat beredar di seluruh tubuh berkontak dengan
protein > Dapat terikat atau bebas. Obat yang terikat
protein tidak aktif dan tidak dapat bekerja. Hanya obat
bebas yang dapat memberikan efek. Obat dikatakan
berikatan protein tinggi bila >80% obat terikat protein.

2.2.2 Distribusi obat berdasarkan penyebaran

Distribusi obat berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh, ada 2 fase :

1. ke organ yang perfungsinya sangat baik, mis : jantung, paru-paru, ginjal, hati
dan otak
2. mencakup jaringan yang prefungsinya tidak sebaik organ diatas, mis :
jaringan lemak, tulang, otot, kulit, dan jaringan ikat.

2.2.3 Volume Distribusi


Volume Distribusi Obat (Vd) :
12
 Volume yang diperlukan untuk memuat jumlah obat secara homogen pada
konsentrasi yang ditemukan didalam darah, plasma, atau air plasma
 Berguna untuk membandingakan distribusi dari suatu obat dengan volume-
volume kompartemen cairan didalam obat.
a. Kompartemen cairan dalam tubuh
1. Kompartemen plasma
2. Cairan ekstraseluler
3. Cairan tubuh total
4. Tempat-tempat lain, mis : kehamilan > fetus
b. Volume distribusi yang nyata
Sebagian besar obat terdistribusi kedalam beberapa kompartemen, sering
berikatan dgn komponen-komponen, misalnya lipid, protein, asam nukleat.

 Penentuan Vd :
1. a. Distribusi obat tanpa adanya eliminasi

Vd = D/C
C= Konsentsi plasma obat
D= Jumlah total obat dalam tubuh

b.Distribusi oba bila


terdapat eliminasi

13
c. Kalkulasi knsetrasi obat jika di ditribui bersifat segera
d. Distribusi obat yang tidak merata antar kompartemen
2. Volume obat mempunyai efek yang besar terhadap waktu paruh suatu
oabt.

2.2.4 Pengikatan Obat pada protein plasma

 Derajat ikatan obat dengan proteinplasma ditentukan oleh :

- Afinitas obat terhadap protein

- Kadar Obat

- Kadar Protein

 Obat yang bersifat asam terutama yang terikat pada albumin plasma

 Obat yang bersifat basa yang terikat pada asam glikoprotein

a. Kapasitas pengikatan albumin

b. Kompetisi untuk pengikatan di antara obat-obat :

Obat Kelas I : Dosis kurang dibanding tempat perlekatan yang


tersedia

Obat Kelas II : Dosis lebih besar dibadingkan tempat perlekatn


yang trsedia

14
2.2.5 Perjalanan Obat dalam tubuh

 Metabolisme obat (biotransformasi)


Biotransformasi atau metabolisme obat merupakan proses perubahan struktur
kimia obat yang terjadi di dalam tubuh dan dipengaruhi oleh enzim. Pada
proses ini molekul obat diubah menjadi kurang larut dalam lemak dan lebih
mudah larut dalam air sehingga lebih mudah dikeluarkan (ekskresi). Sebagian
proses metabolism obat terjadi di hati, dan pada umumnya obat sudah dalam
bentuk tidak aktif jika sampai di hati. Kecepatan metabolisme obat tiap orang
berbeda-beda, tergantung pada faktor genetik, usia, penyakit yg menyertai dan
interaksi antara obat-obatan.
 Ekskresi
Selanjutnya obat akan diekskresi, atau dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai
organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi maupun dalam
bentuk asalnya. obat dalam bentuk metabolit polar, diekskresi lebih cepat
daripada obat yang larut lemak, kecuali dalam ekskresi melalui paru. Ginjal
merupakan organ ekskresi yang terpenting, sehingga ekskresi obat melalui
ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis obat perlu
diturunkan atau jarak pemberian obat yang diperpanjang. Ekskresi obat juga
terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu dan rambut, tapi dalam jumlah
yang relatif kecil. Begitulah perjalanan obat yang kita konsumsi di dalam
tubuh

15
BAB III
KESIMPULAN

1. Absorbsi obat adalah pergerakan obat ke dalam aliran darah setelah pemberian. Absorpsi
obat meliputi proses obat dari saat dimasukkan ke dalam tubuh, melalui jalurnya hingga
masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Mekanisme absorbsi obat terbagi atas Difusi Pasif /
Transport Pasif. Dimana sebagian besar obat diabsorbsi secara difusi pasif. Mekanisme
absorpsi obat melalui difusi pasif dipengaruhi oleh pKa obat, pH tempat absorpsi, dan
fraksi obat yang tidak terionkan. Ada juga dengan cara Transpor Aktif. Transpor Aktif
merupakan transport yang difasilitasi oleh pembawa . Karakteristik dari transport pasif
adalah pemindahan obat melawan gradien konsentrasinya dimana obat dengan dari
tempat dengan konsentrasi rendah dibawa ke daerah dengan konsentrasi tinggi, oleh
karena itu diperlukan energy untuk tranpor aktif. Ada juga secara Difusi Difasilitasi.
Difusi difasilitasi merupakan transport yang difasilitasi oleh pembawa. Perbedaannya
dengan transport aktif adalah obat yang bergerak melalui gradient konsentrasi ( dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah) sehingga tidak memerlukan energi. Selanjutnya
secara Pinositosis. Pinositosis merupakan suatu proses perlintasan membran oleh
molekul-molekul besar dan terutama oleh molekul yang tidak larut. Perlintasan terjadi
dengan pembentukan vesikula (bintil) yang melewati membrane. Selanjutnya ada
Pembentukan Ion Pair. Dimana, Obat yang bersifat elektrolit kuat atau molekul yang
terionisasi kuat, seperti amin kuarterner yang dapat mempertahankan muatannya dalam
semua pH fisiologis, dapat menembus membrane dengan membentuk ikatan dengan
molekul dengan muatan yang berlawanan sehingga muatan keseluruhan netral. Contoh
propranolol yang membentuk pasangan ion dengan asam oleat.
2. Kecepatan absobsi :
Detik s/d menit : Intra vena (IV), SL, Inhalasi
Lebih Lambat : Oral, topical kulit
Lambat : Per rektal/ sustained release
Faktor yang mempengaruhi penyerapan yaitu Aliran darah ketempat absorbsi, Total luas
permukaaan yang tersedia sebagai tempat absorbsi, dan Waktu kontak permukaan
absorbsi
3. Kaitan antara absorbsi dan bioavaibilitas (kadar obat dalam darah) yaitu dimana, jumlah
obat dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik (masuk ke pembuluh
darah) dalam bentuk utuh, karena tidak semua obat yang diabsorpsi dari tempat
pemberian akan mencapai sirkulasi sitemik. Kadar obat dalam darah dipengaruhi
terutama oleh dosis obat.
4. Distribusi obat adalah tahapan farmakokinetika setelah proses absorbsi obat mencapai
sirkulasi sistemik. Faktor yang mempengaruhi distribusi obat antara lain :Karakteristik
jaringan (aliran darah, koefisien partisi, kelarutannya dalam lemak), Status penyakit yang
dapat mempengaruhi fisiologi, dan Ikatan obat dan protein

16
DAFTAR PUSTAKA

Aslam, Mohamed, dkk. 2003. FARMASI KLINIS (CLINICAL PHARMACY, Menuju


Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
El Fitri, Dhaniah .2016. Mengetahui Bagaimana Perjalanan Obat Dalam Tubuh Kita.
https://rsiypdhi.com/2016/07/12/mengetahui-bagaimana-perjalanan-obat-dalam-tubuh-
kita/.
Indijah, Sujati Woro,, Purnama Fajri. 2016. MODUL BAHAN AJAR CETAK FARMASI:
FARMAKOLOGI. Jakarta : Kemenkes RI
Iskandar, Sinta. 2017. Absorbsi dan Jalur utama Pemberian Obat.
https://www.academia.edu/37149478/ABSORBSI_DAN_JALUR_UTAMA_PEMBERIA
N_OBAT_PPT.

iii