Anda di halaman 1dari 28

BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Kronologis Kasus

1. Data Primer

a. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 05.00 WIB

Berdasarkan wawancara yang dilakukan, ibu datang ke bidan

bersama suami dan keluarganya. Ibu mengaku hamil anak ke 2 dan

tidak pernah keguguran, dengan keluhan mules mules sejak jam 12

malam tanpa disertai keluar cairan, lendir dan darah dari jalan lahir,

pergerakan janin masih dirasakan ibu.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan pada Ny. Y

tanda tanda vital ibu menunjukkan bahwa keadaan umum ibu baik,

kesadaran compos mentis. Tekanan darah ibu 120/70 mmHg, Nadi

82 kali permenit, Respirasi atau pernafasan 21 kali permenit dan

suhu 36,50C. Hasil pemeriksaan TFU 32 cm, leopold I dapat

diketahui bahwa di fundus ibu teraba satu bagian bulat, lunak dan

tidak melenting (bokong janin), leopold II bagian kanan teraba

bagian keras memanjang (punggung janin), pada bagian kiri teraba

bagian-bagian kecil janin, dari hasil leopold III teraba satu bagian

bulat dan keras (kepala janin),sebagian kepala janin sudah masuk

PAP, Leopold IV penilaian perlimaan divergen 2/5, intensitas his

98
99

kuat, frekwensi his 4 kali dalam 10 menit. Interval his 5 menit sekali

durasi 45 detik DJJ 142 kali per menit.

Berdasarkan pemeriksaan dalam ibu dalam keadaan inpartu

dengan hasil bahwa vulva dan vagina ibu tidak ada kelainan, portio

teraba tipis dan lunak, pembukaan servik 7 cm, ketuban utuh,

presentasi belakang kepala dan tidak ada bagian-bagian lain yang

menyertai, dinominator UUK kanan depan, Hodge 3 dan tidak ada

moulase. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditegakkan diagnosa yaitu

G2P1A0 parturient aterm kala I fase aktif dalam keadaan baik, janin

tunggal, intrauterine, hidup, persentasi kepala. Asuhan yang

diberikan bidan yaitu dengan menjelaskan hasil pemeriksaan pada

ibu dan keluarga, menganjurkan ibu untuk berbaring dengan posisi

miring ke kiri atau jika masih kuat ibu disarankan untuk berjalan-

jalan di sekitar ruangan bersalin, ibu dianjurkan untuk minum dan

makan pada saat tidak ada his dan tidak dianjurkan untuk mengejan

karena pembukaan masih 7 cm. Kemudian bidan menyiapkan

perlengkapan persalinan (perlengkapan ibu, perlengkapan bayi,

perlengkapan penolong, partus set dan cairan DTT).

b. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 06.30 WIB

Ibu merasa mulesnya semakin sering dan kuat, ada keinginan

untuk meneran, kemudian dilakukan pemeriksaan dalam/PD yang

kedua dengan hasil bahwa vulva dan vagina ibu tidak ada kelainan,

99
100

pembukaan lengkap, porsio tidak teraba, ketuban pecah spontan

berwarna jernih, presentasi belakang kepala, dinominator UUK

didepan, Hodge 4 dan tidak ada moulase dan tidak teraba bagian

terkecil lainnya. Asuhan kebidanan yang dilakukan yaitu

menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan, menganjurkan ibu

untuk meneran pada saat ada his, dan mengatur nafas ibu saat tidak

ada his, membantu ibu dalam posisi setengah duduk sesuai dengan

keinginannya pada saat mengedan. Menganjurkan keluarga untuk

mendampingi dan memberikan minum pada ibu saat tidak ada his

dan tidak ada keinginan untuk meneran.kemudian bidan memakai

alat pelindung diri yang terdiri dari apron, sarung tangan steril, tanpa

sepatu boot dan kacamata google, lalu mendekatkan partus set. Ibu

dipimpin meneran ketika ada his yang adekuat disaat kepala bayi 5-6

cm didepan vulva, bidan menahan perineum dengan tangan kanan

yang telah dilapisi kain dibawah bokong ibu, sementara tangan kiri

menahan puncak kepala bayi agar tidak terjadi defleksi terlalu cepat,

mengecek lilitan tali pusat pada leher bayi, menunggu kepala

melakukan putaran paksi luar, kemudian meletakan kedua tangan di

kepala bayi secara biparietal, lalu melakukan tarikan perlahan ke

arah bawah untuk melahirkan bahu anterior, dan melakukan tarikan

perlahan kearah atas untuk melahirkan bahu posterior, kemudian

melakukan sangga susur hingga seluruh badan dan kaki bayi lahir,

100
101

terhitung lama kala II ibu seluruhnya adalah 35 menit hingga bayi

lahir.

c. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 07.05 WIB

Bayi lahir spontan dengan jenis kelamin perempuan, dilakukan

penilaian sepintas, bayi langsung menangis kuat, pergerakan aktif,

warna kulit kemerahan, kemudian bayi diletakan diatas perut ibu lalu

dikeringkan mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya tanpa

membersihkan verniks kecuali telapak tangan, setelah itu memeriksa

kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi ke 2 dalam uterus,

ternyata tidak ada bayi ke 2. Memberitahukan kepada ibu bahwa

penolong akan menyuntikan oksitosin 10 unit intra muscular 1/3 paha

atas bagian distal lateral agar uterus berkontraksi baik, dalam waktu 1

menit setelah bayi lahir, kemudian dengan menggunakan klem, jepit

tali pusat 3 cm dari pusat bayi, mendorong isi tali pusat bayi kearah ibu

dan melakuan penjepitan kedua pada 2 cm dari klem pertama dengan

satu tangan mengangkat tali pusat yang telah dijepit lalu melakukan

pengguntingan tali pusat di antara kedua klem, mengikat tali pusat

dengan benang DTT, lepaskan klem dan memasukannya ke dalam

wadah yang telah disediakan, kemudaian menempatkan bayi ke dada

ibu untuk melakukan kontak langsung dari kulit ibu dan ke kulit bayi,

bayi diletakan dengan posisi tengkurap di dada ibu, meluruskan bahu

bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada ibu,

101
102

mengusahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi

lebih rendah dari puting payudara ibu, menyelimuti ibu dan bayi

dengan kain hangat dan memasang topi dikepala bayi lalu membiarkan

bayi diatas perut ibu sampai bayi mendapat putting susu sendiri dalam

waktu 1 jam.

d. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 07.20 WIB

Suntik oxytocin telah diberikan. Bidan melakukan PTT dengan

cara berdiri di sebelah kanan ibu, memindahkan klem pada tali pusat

hingga berjarak 5 – 10 cm dari vulva, meletakan tangan kiri di atas

simpisis pubis yang dilapisi kain untuk mendeteksi konstraksi uterus.

Setelah uterus berkonstraksi, menengangkan tali pusat dengan tangan

kanan lalu tarik perlahan-lahan sambil menjaga tahanan ringan pada

tali pusat sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati -hati

kearah dorsokranial atau kearah kepala ibu. Setelah dilakukan PTT

selama 15 menit tali pusat tidak terlihat bertambah panjang dan tidak

terasa adanya tanda – tanda pelepasan plasenta, maka penolong

memberitahukan pada ibu bahwa beliau akan di berikan suntik

oxytocin 10 IU yang kedua. Bidan melakukan lagi peregangan tali

pusat terkendali (PTT) dan terlihat adanya tanda-tanda pelepasan

plasenta seperti uterus globuler, tali pusat memanjang, dan adanya

semburan darah secara tiba – tiba, maka ibu dianjurkan untuk meneran

sedikit sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai

102
103

dan kemudian ke arah atas mengikuti poros jalan lahir sehingga

plasenta tampak di depan vulva. Setelah plasenta tampak di depan

vulva, dan terasa ada tahanan, lahirkan plasenta dengan kedua telapak

tangan dan melakukan putaran searah untuk mengeluarkan plasenta

dan mencegah robeknya selaput ketuban. Jam 07.25 WIB plasenta

lahir spontan. Setelah plasenta lahir, bidan dengan segera melakukan

masase pada fundus uteri dengan cara ; meletakan telapak tangan di

fundus dan melakukan massase dengan gerakan melingkar secara

lembut hingga uterus berkontraksi selama ± 15 detik (15 x putaran).

Kontraksi uterus lembek dan adanya semburan darah dari jalan lahir

dengan jumlah 400 cc, dilakukan cek kelengkapan plasenta,

didapatkan panjang talipusat 40 cm, diameter 16 cm, ketebalan 3 cm,

ada kotiledon yang terlepas, kemudian plasenta dimasukan ke dalam

kantung plastik, lalu bidan melakukan ekplorasi uterus dan

mendapatkan kotiledon seujung jari, kemudian dilakukan masase

uterus selama 15 detik, namun uterus masih lembek, tidak ada

kontraksi dan ada pendarahan dengan jumlah 200 cc, maka bidan

memasang infus RL 500 + oksitosin 20 unit, kemudian melakukan

penanganan perdarahan dengan melakukan KBI selama 5 menit

dengan cara memasukan tangan secara obstetrik ke dalam lumen

vagina, ubah menjadi kepalan letakan dataran punggung jari telunjuk

hingga kelingking pada fornik anterior dan dorong segmen bawah

uterus ke kranio anterior,upayakan tangan luar mencakup corpus uteri

103
104

sekuat mungkin, melakukan kompresi uterus dengan mendekatkan

telapak tangan luar dan kepalan dalam, tetap berikan tekanan sampai

perdarahan berhenti dan uterus berkontraksi, melakukan lagi KBI

selama 2 menit, bidan mengeluarkan tangan secara perlahan lahan

serta memantau kala IV dengan ketat, selain itu diberikan pula

Ergometrin 0,2 mg secara IM dan obat Misoprostrol 200 mg 4 tablet

per rectal. Sambil terus melakukan masase uterus, bidan mengevaluasi

kontraksi uterus, uterus berkontraksi baik dan perdarahan normal,

kemudian dilakukan pengecekan perineum terdapat laserasi derajat II,

didaerah mukosa vagina, kulit dan otot perineum, lalu dilakukan

penjahitan dengan teknik jelujur dan anastesi lidocain 1% dan

dicampur aquabides 1:1. Bidan memastikan uterus berkonstraksi

dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam, diketahui uterus

berkontraksi dengan baik, perdarahan 50 cc.

e. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 07.45 WIB

Dilakukan pemantauan persalinan kala IV setiap 15 menit pada

jam pertama dan 1/2 jam pada jam kedua, yaitu pemantauan tanda

tanda vital ibu, tinggi fundus dan kontraksi uterus, perdarahan dan

kandung kemih. Hasil pemantauan tersebut ibu dalam keadaan stabil

dan normal, perdarahan dari jalan lahir normal. Bidan memberikan

cukup waktu untuk bayi melakukan kontak kulit dengan kulit ibu di

dada ibu kurang lebih selama 1 jam. IMD berhasil.

104
105

Bidan A membereskan alat-alat dan merendamnya dalam larutan

klorin 0,5 % untuk didekontaminasi selama 10 menit, kemudian

mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi dan

membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang

sesuai. Bidan memberikan kenyamanan pada ibu dengan

membersihkan badan dari kotoran dan darah serta mengganti pakaian

kotor dengan pakaian yang bersih. Ibu terlihat nyaman dan dilakukan

observasi kala IV. Asuhan kebidanan yang dilakukan yaitu

mengajarkan masase uterus pada ibu, menganjurkan untuk berkemih

ke kamar mandi atau ditempat tidur bila tidak kuat,dan menganjurkan

ibu untuk minum air putih dan makan makanan yang disediakan atau

diinginkannya.

Tabel 3.1
Pematauan Kala IV
Tinggi Darah
Jam Tekanan Kontraksi Kandung
Waktu Nadi Suhu Fundus Yg
Ke Darah Uterus Kemih
Uteri Keluar
2 jari
90/60 37.8°
07.45 96x/menit bawah Baik Kosong 50 cc
mmhg C
pusat
2 jari
90/60
08.00 93x/menit bawah Baik Kosong -
mmhg
pusat
1
2 jari
90/60
08.15 94x/menit bawah Baik Kosong 30 cc
mmhg
pusat
2 jari
90/60
08.30 95x/menit bawah Baik Kosong -
mmhg
pusat
2 jari
100/60
09.00 88x/menit 37.6°C bawah Baik Kosong -
mmhg
pusat
2
2 jari
100/60
09.30 83x/menit bawah Baik 200 cc 20 cc
mmhg
pusat

105
106

f. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 08.05 WIB

Dilakukan perawatan bayi baru lahir normal dengan pemeriksaan fisik

bayi, pemberian salep mata di mata kanan dan kiri, suntikkan Vit K dengan

dosis I mg di paha sebelah kiri dan Hb 0 di paha sebelah kanan 1 jam

kemudian. Jenis kelamin bayi adalah perempuan dengan berat badan 3200

gram dan panjang badan 49 cm, lingkar kepala 34 cm dan lingkar lengan 13

cm. Refleks moro (+) Palmar graps kanan kiri (+)/(+), Rooting (+) Sucking

(+), Swalowing (+), Plantar (+)/(+), Babinski (+)/(+) dan tanda-tanda vital

suhu 36,8 0C, nadi 142 x/mnt dan pernafasan 46x/mnt. Asuhan yang diberikan

bidan pada ibu dan keluarganya yaitu memberitahu ibu bahwa bayi dalam

keadaan normal dan sehat, memberitahu ibu dan keluarga bahwa bayinya

sudah mendapatkan suntikan Vit K dengan dosis 1 mg di paha bayi sebelah

kiri dan HB 0 di paha sebelah kanan, menganjurkan ibu untuk menyusui

bayinya,serta mambantu ibu memberikan ASI pada bayinya, memberitahu ibu

dan keluarga tentang tanda tanda bahaya pada bayi dan menganjurkan ibu dan

keluarga untuk menghubungi bidan jika terdapat tanda-tanda bahaya yang

sudah disampaikan.

g. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 13.10 WIB

Dilakukan pemeriksaan Ny. Y P2A0 dengan pasca perdarahan ibu nifas 6

jam. Hasil pemeriksaan keadaan umum ibu baik dengan kesadaran

composmentis dan tanda-tanda vital pada tekanan darah 110/70 mmHg, nadi

84 x/menit, suhu 37,5 ºC, respirasi 21 x/menit, muka ibu tampak pucat,

106
107

konjungtiva pucat, sklera putih, payudara ibu menonjol dan sudah keluar

kolostrum, TFU 2 jari bawah pusat. Hasil pemeriksaan genetalia ibu

vulva/vagina tidak ada kelainan, bersih, tidak ada oedema dan varices,

pengeluaran lochea rubra dengan tidak adanya pembengkakan kelenjar

batholini dan kelenjar skene, perineum luka bekas jahitan tidak bengkak dan

tidak ada tanda tanda haematum. Ibu sudah BAK 1 kali sehari, kandung

kencing kosong. Asuhan yang dilakukan oleh bidan yaitu menganjurkan ibu

untuk minum dan makan makanan yang banyak mengandung protein dan Fe

untuk mempercepat penyembahan dan pemulihan kondisi tubuh ibu, serta

makan obat Fe dan antibiotik yang diberikan sesuai anjuran, menganjurkan

ibu untuk istirahat tidur siang 1-2 jam dan mengurangi aktivitas berat.

Menganjurkan ibu untuk menyusui sesering mungkin, memeriksa kadar Hb

ibu dengan hasil 9,8 gr%. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu akan

dikonsulkan ke dokter Puskesmas untuk penanganan anemianya.

Pada pukul 16.00 WIB

Ibu mengatakan ingin pulang lalu bidan melakukan pemeriksaan tanda-

tanda vital dengan hasil tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit,

respirasi 22 kali per menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong,

lochea rubra, perdarahan 10 cc. Ibu dalam keadaan stabil dan normal sehingga

bidan membuka infusan, ibu diizinkan pulang. Bidan membarikan pendidikan

kesehatan pada ibu mengenai vulva hygiene dan mobilisasi dini, kebutuhan

nutrisi, kebutuhan istirahat dan tanda bahaya masa nifas. Agar ibu bisa

107
108

melakukannya dengan baik di rumah secara mandiri. Bidan juga memberikan

pendidikan kesehatan kepada ibu mengenai kebutuhan nutrisi bayi dengan

memberikan ASI tanpa di jadwal semaunya bayi, serta cara menyusui yang

benar, cara menjaga kebersihan bayi dengan mengganti popok jika sudah

terlihat penuh dan kotor, tanda-tanda bahaya bayi baru lahir, dan apabila ada

tanda-tanda bahaya pada bayi, segera hubungi bidan. Selain itu, bidan juga

memberikan obat-obatan seperti cefadroxil 500 mg 3 x 1, Paracetamol 500 mg

3 x 1, Ramabion 2 x 1, dan ibu diberi vitamin A 200.000 IU 2 kapsul, kasa

steril untuk mengganti tali pusat bayi. Dan memberitahukan kepada ibu bahwa

bidan akan memberikan kunjungan rumah setelah 3 dan 7 hari setelah

persalinan.

h. Tanggal 22 Mei 2018 Jam 16.30 WIB KF I (pemeriksaan 3 hari post partum) .

Dilakukan pemeriksaan Ny. Y P2A0 dengan pasca perdarahan ibu nifas 3

hari. Hasil pemeriksaan ibu keadaan umum baik, kesadaran composmentis,

tanda-tanda vital: tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80 kali per menit, suhu

36,5ºC, respirasi 19 kali per menit, payudara ibu menonjol dan sudah keluar

kolostrum TFU pertengahan pusat dan simphisis. Hasil pemeriksaan genetalia

ibu vulva/vagina tidak ada kelainan, bersih, tidak ada oedema dan varices,

pengeluaran lochea rubra dengan tidak adanya pembengkakan kelenjar

batholini dan kelenjar skene, perineum luka bekas jahitan tidak bengkak dan

tidak keluar pus. Ibu BAK 3 – 4 kali sehari dan belum buang air besar karena

ibu khawatir jahitanya lepas. Tidak terdapat tanda tanda bahaya pada ibu nifas.

108
109

Asuhan yang dilakukan yaitu dengan memberitahu ibu tentang hasil

pemeriksaan yang menunjukan bahwa ibu dalam keadaan sehat, menganjurkan

ibu untuk banyak minum dan makan makanan yang mengandung banyak serat

supaya BAB lancar, menganjurkan ibu untuk melakukan vulva hygine dan

menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara serta menganjurkan

ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin dengan posisi yang benar.

i. Tanggal 26 Mei 2018 jam 16.30 WIB KF II (hari ke 7 post partum)

Dilakukan pemeriksaan pada Ny.Y P2A0 dengan hasil pemeriksaan

keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital: tekanan

darah 100/70 mmhg, nadi 80 x/menit,suhu 37,5oC, respirasi 20 x/menit, TFU 2

jari atas sympisis, payudara tidak bengkak, ada lecet pada bagian putting susu,

hasil pemeriksaan genetalia ibu: vulva/ vagina tidak ada kelainan, bersih, tidak

ada oedema dan varices, pengeluaran lochea sanguilenta dengan tidak adanya

pembengkakan kelenjar bartolini dan kelenjar sken, perineum luka bekas

jahitan tidak bengkak dan tidak keluar pus, asuhan kebidanan yang dilakukan

yaitu memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa putting susunya lecet, suhu

37,8oC, bidan mengajarkan ibu tentang cara menyusui yang baik dan benar.

j. Tanggal 04 Juni 2018 jam 16.00 WIB (hari ke 15 masa nifas)

Penulis melakukan kunjungan rumah di hari ke 15 postpartum. Ny. Y

mengaku tidak ada keluhan, pada kunjungan ini dilakukan pemeriksaan secara

mandiri dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut ; keadaan umum ibu baik,

kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/70 mmhg, nadi

109
110

82 x/menit,suhu 36,6oC, respirasi 19 x/menit, TFU sudah tidak teraba,

payudara tidak bengkak, hasil pemeriksaan genetalia ibu: vulva/ vagina tidak

ada kelainan, bersih, tidak ada oedema dan varices, pengeluaran lochea alba,

tidak adanya pembengkakan kelenjar bartolini dan kelenjar sken.

k. Tanggal 19 Mei 2018 Jam 16.45 WIB KN I (10 jam)

Hasil pemeriksaan bayi hari KN 1 keadaan umum bayi dalam keadaan

baik, ditandai dengan tanda-tanda vital denyut jantung 142 kali per menit,

pernafasan 45 kali per menit, suhu 37,2 0C, gerakan aktif dan mau menyusu,

sudah BAB 1 kali dengan konsistensi lunak berwarna hitam, sudah BAK 2

kali/hari. Tidak ada tanda tanda bahaya pada bayi. Bayi di pakaikan kain yang

kering dan hangat, kepala bayi tertutup, ini dilakukan untuk menjaga

kehangatan bayi. Tidak ada tanda tanda bahaya pada bayi. Asuhan yang

dilakukan berupa memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bayinya yang

dalam keadaan sehat dan normal. Memberitahu ibu dan keluarga tentang

perawatan bayi sehari–hari, pemberian ASI, dan tanda-tanda bahaya pada bayi

baru lahir.

l. Tanggal 26 Mei 2018 jam 16.45 WIB /KN II (hari ke 7)

Hasil pemeriksaan fisik bayi hari ke7/KN II keadaan umum bayi dalam

keadaan baik, ditandai dengan tanda-tanda vital denyut jantung 142 kali per

menit, pernafasan 45 kali per menit, suhu 36.50C dan berat badan 3100 gram,

panjang badan 49 cm. Tali pusat lepas, gerakan aktif dan mau menyusu, BAB

110
111

2-3 kali/hari dengan konsistensi lunak berwarna kekuningan, BAK 10-11

kali/hari, tidak ada tanda-tanda bahaya pada bayi.

m. Tanggal 04 Juni 2018 jam 16.30 WIB

Penulis melakukan kunjungan rumah hari ke 15 pada bayi baru lahir, ibu

mengaku bayinya tidak ada keluhan, dari hasil pemeriksaan dapat diketahui

bahwa keadaan umum bayi dalam keadaan baik, ditandai dengan tanda-tanda

vital ; pernafasan 40x/menit, frekwensi denyut jantung 142x/menit, suhu

36.50C dan berat badan 4100 gram, panjang badan 52 cm, gerakan aktif dan

mau menyusu. BAB 2-3 x/hari dengan konsistensi lunak berwarna kekuningan.

BAK 11-12 x/hari. Tidak ada tanda tanda bahaya pada bayi.

2. Data Sekunder

Data sekunder Ny. Y G2P1A0 Persalinan dengan perdarahan didapatkan

dari Buku KIA yang dimiliki oleh ibu.

a. Asuhan Kebidanan Ante Natal Care

1) Identitas Keluarga

a) Ibu

1) Nama ibu : Ny. Y

2) Usia : 24 tahun

3) Agama : Islam

4) Pendidikan : SMA

5) Golongan darah :-

6) Pekerjaan : ibu rumah tangga

111
112

b) Suami

1) Nama : Tn.N

2) Usia : 25 tahun

3) Agama : Islam

4) Pendidikan : SMA

5) Golongan darah :…

6) Pekerjaan : Wiraswasta

7) Alamat rumah : Cicadas RT 02 RW 01

Kecamatan Binong Kabupaten

Subang

2) Catatan Kesehatan ibu hamil

a) Hari pertama haid : tidak diketahui

b) Hari taksiran persalinan : 20-05-2018

c) Lingkar lengan atas : 31 cm, tidak KEK

d) Tinggi badan : 156 cm

e) Berat badan sebelum hamil : 62 kg

f) IMT : 25,8 (ideal)

g) Golongan darah :O

h) Penggunaan kontrasepsi sebelum hamil ini: suntik 1 bulan

i) Riwayat penyakit yang diderita ibu : tidak ada

j) Riwayat alergi : tidak ada

k) Hamil ke : 2

l) Jumlah persalinan 1 jumlah keguguran 0 : G2P1A0

112
113

m) Jumlah anak hidup : 1 orang

n) Jumlah lahir mati : tidak ada

o) Jumlah anak kurang bulan : tidak ada

p) Jarak kehamilan ini dengan persalinan terakhir : 3,5 tahun

q) Status imunisasi TT terakhir : TT 3

r) Penolong persalinan terakhir : bidan, jenis kelamin laki

laki, berat badan lahir 3000 gr dan panjang badan 48 cm.

s) Cara persalinan terakhir : spontan, persalinan cepat

Tabel 3.2
Hasil Pemeriksaan ANC Ny. Y

Tgl Keluha Tek B U Tin Let DJJ Ka Has Tind Nasihat Ket Kapa
n ana B m ggi ak ki il akan n
sekara n ur fun jani ben pe harus
ng dar ke dus n gka mer kemb
ah h cm k iksa ali
a an
m lab
il
a
n
14/10 Mual 120 68 7 Rob/ Nutrisi PMB A 1 bln
/2017 /80
17/12 Mual,m 100 70 16 2 jr Folak Kebersih PMB A 1 bln
/2017 untah /60 bwh sin an
pus Istirahat
at nutrisi
21/1/ Tidak 110 77 22 TT1, Nutrisi PMB A 1 bln
2018 ada /70 Fe
21/2/ Tidak 110 77 26 Sep Kep 140 - - Fe Nutrisi PMB A
18 ada /70 usat Kalk Istirahat
8/3/2 Batuk 110 72 28 26 Kep 142 - - Fe,ka Hidrasi PMB A 1 bln
018 /70 lk
18/3/ Tak 110 76 34 - Kep 140 - - - DSOG 2mgg
2018 /70
4-4- TAK 110 76 36 27 Kep 132 Fe, Nutrisi PMB A 2 mgg
2018 /70 kalk Istirahat
10-4- Gatal 110 75 35 Kep DSOG 2 mgg
2018 gatal /70
14-5- Belum 110 77 39 32 Kep 143 Fe, Tanda 2 PMB A 1
2018 mules /70 kalk persalina mingg
n u

113
114

3) Hasil Wawancara

Berdasarkan wawancara pada ibu dapat diketahui bahwa aktivitas

sehari- hari yang berkaitan dengan kebutuhan nutrisi pola makan ibu

dilakukan sebanyak 3-4 kali sehari dengan porsi makan yang sedang nasi

dan lauk pauk serta sayur dan kadang-kadang makan buah-buahan. Selama

hamil ibu mengalami kenaikan berat badan 9 kg. Tidak ada makanan yang

dipantang. Ibu sehari-hari minum air putih dan teh sebanyak 6 -7 gelas

kadang-kadang minum susu khusus untuk ibu hamil.

Pada saat hamil ibu mengaku tidak ada perubahan pola makan kecuali

saat hamil muda atau 3 bulan pertama, ibu merasa nafsu makan berkurang

pada awal kehamilan karena adanya mual dan muntah. Ibu mengatakan

pada saat siang jarang tidur siang dan tidur pada malam hari kurang lebih 8

jam sehari. Ibu tidak ada alergi maupun penyakit pada saat sebelum hamil

maupun saat hamil. Ibu mengatakan mandi 2-3 kali sehari dengan ganti

pakaian dalam dan luar 2-3 kali sehari. Ibu mengatakan pola seksual ibu

tidak ada perubahan dan masalah. Pada eliminasi ibu BAK sebanyak 4-5

kali sehari dan BAB hampir 1 kali setiap hari.

Ibu pernah mengikuti kegiatan senam hamil 1 kali pada kegiatan kelas

ibu hamil. Ibu juga mengatakan bidan pernah mengajarkan cara perawatan

payudara saat periksa kehamilan di trimester III. Ibu mengatakan bekum

pernah mendapatkan minyak yodium dari bidan.

Selama 9 kali melakukan pemeriksaan kehamilan ke bidan maupun ke

dokter ibu mendapatkan tablet penambah darah/Fe/zat besi sebanyak 12

114
115

lembar yang berisi 10 tablet dari setiap lembarnya (120 tablet), namun ibu

tidak meminumnya setiap hari dengan alasan mual setelah meminum Fe

tersebut, ibu mengaku Fe yang diminum hanya 3 atau 4 butir dari tiap

lembarnya (40 tablet), ibu meminum Fe dengan air putih hangat pada

malam hari, bidan menganjurkan minum Fe 1 kali 1 setiap hari selama

hamil dengan air hangat, sebelum tidur malam. Berdasarkan informasi dari

hasil wawancara ke bidan, diketahui bahwa Ny. Y mendapatkan

pemeriksaan laboratorium pada saat ANC terpadu di Desa Cicadas yang

dilakukan oleh Tim Puskesmas Binong pada tanggal 17 Mei 2018 pukul

09.30 sehingga tidak dilakukan pemeriksaan ulang karena data hasil

pemeriksaan laboratorium Ny.Y tercatat di buku register Laboratorium

Puskesmas Binong, sementara pada buku KIA ibu hasil pemeriksaan tidak

tercantum karena pada saat pelayanan tidak dibawa. Berdasarkan

konfirmasi yang dilakukan bidan pada petugas laboratorium Puskesmas

Binong hasil pemeriksaan laboratorium Ny.Y didapatkan hasil golongan

darah O,Hb 10,2 gr%, Protein (-), glukosa (-), Tes HIV (-), Tes HbSAg (-).

115
116

3.2 Pembahasan

3.2.1 Faktor Predisposisi Atonia Uteri pada Ny.Y

Kasus

Hasil pemeriksaan Hb Ny. Y di laboratorium Puskesmas Binong

adalah 10,2 gr % dan pada saat persalinan Kala III ditemukan adanya

sisa plasenta terbukti saat dilakukan eksplor terdapat kotiledon seujung

jari.

Teori

Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi

ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa

selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah

: keguguran (abortus), kelahiran prematur, persalinan yang lama akibat

kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan

pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia

uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta

anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan dekompensasi

kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian

ibu pada persalinan (Manuaba,2012).

Atonia uteri merupakan perdarahan pasca persalinan yang dapat

terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari uterus dan sebagian

lagi belum lepas. Salah satu faktor penyebab atonia uteri adalah retensi

kotiledon, pragmen plasenta atau membrane, hal ini juga mengganggu

kerja uterus yang efisien.

116
117

Asumsi

Menurut asumsi peneliti, faktor predisposisi terjadinya perdarahan

atonia uteri pada persalinan Ny.Y berdasarkan data yang diperoleh dari

kehamilan dan saat persalinan menunjukan bahwa Ny. Y menderita

anemia ringan pada kehamilan dan adanya sisa plasenta.

3.2.2 Menganalisa Kualitas Dan Kuantitas Antenatal Care (ANC)

Kasus

Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan buku KIA Ny.Y

pemeriksaan kehamilan ibu 7 kali di bidan dan 2 kali di dokter spesialis

kandungan. Pada Trimester I sebanyak 1 kali kunjungan, pada Trimester II

4 kali kunjungan, pada Trimster III sebanyak 4 kali kunjungan dan hasil

pemeriksaan laboratorium Ny.Y ialah ; golongan darah O, Hb 10,2 gr%,

protein (-), glukosa (-), tes HIV (-), tes HbSAg (-).

Ny. Y mendapatkan tablet penambah darah/Fe/zat besi sebanyak 120

tablet namun tablet Fe tersebut hanya diminum 40 tablet, ibu meminumnya

dengan air putih dan tidak diminum setiap hari dengan alasan mual.

Teori

Berdasarkan kebijakan pelayanan kebidanan pada antenatal care

yang terdapat pada Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan

Ibu dan Anak (PWS–KIA) (Lukas,2009) bahwa minimal ibu melakukan

pemeriksaannya sebanyak 4 kali yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada

117
118

trimester II dan 2 kali pada trimester III. Indikator standar pelayanan yang

harus didapatkan ibu adalah 14 standar atau 14 T yaitu :

1) Timbang berat badan dan ukur Tinggi badan.

2) Ukur Tekanan darah.

3) Ukur Tinggi fundus uteri

4) Pemberian Imunisasi TT

5) Pemberian tablet zat besi

6) Test terhadap penyakit menular seksual /VDRL

7) Temu wicara/konseling

8) Tes laboratorium/Pemeriksaan Hb

9) Tes laboratorium/Pemeriksaan urin protein

10) Tes reduksi urin

11) Perawatan payudara (tekan pijat payudara)

12) Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil)

13) Terapi Yodium kapsul

14) Tatalaksana kasus

Asumsi

Menurut asumsi peneliti kuantitas pelayanan ANC Ny. Y sudah

sesuai standar yang ditetapkan, namun berdasarkan kualitas pelayanan

yang diberikan kepada Ny. Y belum sesuai standar pelayanan minimal,

terutama dalam mengkonsumsi tablet Fe hanya 40 tablet dan pemeriksaan

laboratorium hanya 1 kali .

118
119

3.2.3 Asuhan Intranatal Care (INC)

Penatalaksanaan Atonia Uteri pada Ny. Y

Kasus

Pada persalinan kala III plasenta tidak lahir dalam 15 menit pertama

sehingga diberikan oksitosin kedua pada pukul 07.20 WIB, plasenta lahir

spontan pada jam 07.25, kemudian dilakukan segera masase uterus selama

15 detik, tidak ada kontraksi dan ada pendarahan dengan jumlah 400 cc,

ditemukan adanya sia plasenta, bidan memasang infus RL 500 + oksitosin

20 unit, setelah itu dilakukan penanganan atonia uteri dengan melakukan

KBI selama 5 menit dan meneruskan lagi KBI selama 2 menit,

memberikan Ergometrin 0,2 mg secara IM dan obat misoprostrol 200 mg

4 tablet per rectal sambil terus dilakukan masase uterus.

Pada kala IV, bidan melakukan pemantauan kontraksi uterus dan

perdarahan pervaginam setiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan

setiap 30 menit sekali pada 1 jam kedua setelah persalinan.

Teori

Kompresi bimanual Internal (KBI) dilakukan pada kasus atonia

uteri dengan tujuan untuk mengurangi jumlah perdarahan, dengan langkah

– langkah ; berikan dukungan emosional, lakukan tindakan pencegahan

infeksi, kosongkan kandung kemih, pastikan plasenta lahir lengkap,

pastikan perdarahan karena atonia uteri. Segera lakukan kompresi

bimanual internal (KBI) selama 5 menit. Letakkan kepalan tangan pada

fomiks anterior, tekan dinding anterior uterus, sementara telapak tangan

119
120

lain pada abdomen, menekan dengan kuat di dinding. Tekan uterus dari

kedua tangan secara kuat, kompresi uterus ini memberikan tekanan

langsung pada pembuluh darah didalam dinding uterus dan juga

merangsang miometrium untuk berkontraksi. Jika uterus berkotraksi dan

perdarahan berkurang, terus melakukan KBI selama 2 menit, kemudian

keluarkan perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina. Jika

kontraksi uterus tidak terjadi dalam waktu 5 menit ajarkan keluarga untuk

melakukan kompresi bimanual eksternal, kemudian teruskan dengan

langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya minta tolong

keluarga mulai menyiapkan rujukan. Alasan: Atonia seringkali bisa di

atasi dengan KBI, KBI tidak berhasil dalam waktu 5 menit di perlukan

tindakan-tindakan lain, yaitu berikan 0.2 mg ergometrin IM (jangan

berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi). Alasan: Ergometrin

yang diberikan akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi dari kondisi

normal.

Pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam pada

Kala IV dilakukan 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan,

setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan, dan setiap 30 menit

pada jam kedua pasca persalinan (JNPKKR, 2008).

Asumsi

Menurut asusmsi peneliti terjadi kesenjangan antara kasus dan teori

karena bidan memasang infus RL 500 dan memberikan oksitosin 20 unit

drip sebelum melakukan Kompresi Bimanual Internal (KBI), setelah

120
121

melakukan konfirmasi terhadap bidan, tindakan ini diambil karena

keadaan umum ibu yang sudah tampak lemas, anemis, uterus masih

lembek, tidak ada kontraksi dan ada pendarahan dengan jumlah 600 cc.

Terdapat kesenjangan pula antara kasus dengan teori pada

pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam pada Kala IV.

3.2.4 Kunjungan Nifas (KF)

Kasus

Ny. Y dipulangkan oleh bidan pada 10 jam postpartum. Kunjungan nifas

yang dilakukan oleh bidan yaitu pada tanggal 22 Mei 2018 KF I (hari ke 3

postpartum) dan pada tanggal 26 Mei 2018 KF II (hari ke 7 postpartum) Ny.

Y mengeluh putting susu lecet.

Teori

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan

selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas

ini yaitu 6-8 minggu. Dan paling sedikit 3 kali kunjungan masa nifas yaitu 6 -

48 jam (KF 1), 4 hari – 28 (KF 2) dan 29-42 hari (KF 3). Pengkajian masa

nifas meliputi : tinggi fundus uteri, pengeluaran lochea, pemberian ASI pada

bayi, pemantauan TTV, perdarahan, ambulasi dini, tanda-tanda bahaya pada

masa nifas, istirahat, nutrisi dan hidrasi bagi ibu dan personal hygine (Depkes

RI, 2009).

Salah satu masalah yang dihadapi ibu pada awal menyusui adalah putting

susu lecet. Penyebabnya ada beberapa hal, diataranya adalah posisi menyusui

121
122

yang tidak benar atau tekanan pada putting saat menyusui karena mulut bayi

tidak menempel dengan baik pada putting. Selain beberapa hal tersebut, putting

lecet juga bisa disebabkan karena saat menyusui putting dan bagian sekitar

payudara tidak masuk dengan benar kedalam mulut bayi, sehingga bayi hanya

menghisap bagian putingnya saja.

Cara mengatasi putting susu lecet diantaranya adalah dengan melakukan

teknik menyusui dan posisi menyusui yang baik dan benar, menjaga kebersihan

putting susu, menghindari penghentian pemberian ASI, melakukan teknik

melepas isapan bayi dengan benar, menggunakan bra khusus bagi ibu

menyusui yaitu menggunakan bra dengan bahan katun untuk menjaga sirkulasi

udara dan menghindari lembab yang dapat memperparah luka.

Asumsi

Menurut asumsi peneliti terjadi ketidaksesuaian antara kasus dengan teori

karena bidan memulangkan pasien 10 jam postpartum. dan bidan tidak

melakukan kunjungan nifas KF 3. Kunjungan selanjutnya dilakukan oleh

penulis karena kesibukan dan keterbatasan waktunya.

Masalah putting susu lecet pada Ny. Y dapat diatasi dengan baik karena

Ny. Y mengerti dan melakukan apa yang diajarkan bidan tentang teknik

menyusui dan posisi menyusui yang baik dan benar yang baik dan benar,

menjaga kebersihan putting susu, terus memberikan ASI, melakukan teknik

melepas isapan bayi dengan benar, dan menggunakan bra khusus bagi ibu

menyusui.

122
123

3.2.5 Kunjungan Neonatus (KN)

Kasus

Bidan A melakukan kunjungan neonatus (KN) hanya sebanyak 2 kali

yaitu pada neonatus 10 jam (KN1) dan pada neonatus hari ke 7 (KN2).

Teori
Pelayanan kesehatan neonatus adalah adalah pelayanan kesehatan sesuai

standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada

neonatus sedikitnya 3x selama periode 0-28 hari setelah lahir, baik di

fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah, Adapun pelaksanaan kesehatan

neonatus sebagai berikut ; Pelayanan kunjungan neonatus pertama (KN 1)

dilakukan dalam kurun waktu 6 – 48 jam setelah lahir, kunjungan neonatus

kedua (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3-7 setelah bayi lahir,

kunjungan neonatus ketiga (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8-28

setelah lahir (depkes, 2009).

Asumsi

Menurut asumsi peneliti ada kesenjangan antara kasus dengan teori

karena bidan tidak melakukan kunjungan neonatus ketiga (KN 3).

Kunjungan selanjutnya dilakukan oleh penulis karena kesibukan dan

keterbatasan waktu bidan A.

123
124

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan pengkajian asuhan secara menyeluruh dari berbagai

aspek terhadap Ny. Y G2P1A0 dengan perdarahan di PMB A di Kecamatan

Binong Kabupaten Subang Tahun 2018 dapat diperoleh kesimpulan sebagai

berikut :

1. Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri pada Ny. Y adalah anemia pada

kehamilan dan sisa plasenta .

2. Kuantitas ANC sudah sesuai standar pelayanan minimal namun kualitas

ANC belum sesuai standar pelayanan minimal.

3. Penatalaksanaan kasus perdarahan karena atonia uteri yang dilakukan

bidan pada Ny. Y belum sesuai dengan teori, hal ini dibuktikan dengan

adanya beberapa tindakan yang tidak sesuai yaitu bidan memasang infus

RL 500 dan memberikan oksitosin 20 IU drip sebelum melakukan

tindakan Kompresi Bimanual Internal (KBI).

4.2 Saran

4.2.1 Bagi Penulis

Diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan,

pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisa sebuah kasus

komplikasi kebidanan yang terjadi di lapangan sehingga dapat

124
125

meningkatkan kualitas pelayanan dan mengenali deteksi dini masalah

dalam proses kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.

4.2.2 Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai bahan

bacaan bagi mahasiswa sebagai informasi yang dapat dipelajari untuk

dapat menganalisa kasus komplikasi kebidanan dan melakukan asuhan

kebidanan pada ibu saat masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi

baru lahir sesuai standar pelayanan.

4.2.3 Bagi PMB A

Diharapkan bidan di PMB A lebih memahami dan lebih baik lagi

dalam melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan dengan atonia

uteri yang sesuai dengan standar.

125