Anda di halaman 1dari 21

PENGELOLAAN SUNGAI BERBASIS

TEKNIK KEAIRAN DAN LINGKUNGAN


Oleh:
Djoko Legono
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Disajikan pada:
WEBINAR Series #1
PENGELOLAAN SUNGAI BERBASIS “One River One Plan and One Integrated Management”
Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak
Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Yogyakarta, 10 September 2020
TATA PRESENTASI
 PENDAHULUAN
Free Intake Kamijoro  PERSPEKTIF TENTANG SUNGAI
 PENANGANAN DAN DAMPAK
 KETERPADUAN DAN KEBERLANJUTAN
21 Juni 2016  PENUTUP

Free Intake Kamijoro Free Intake Kamijoro

24 Juli 2017 21 April 2018


PENDAHULUAN
PROPINSI JAWA TENGAH Utara

Air
(aliran air) Gunung Merapi

Biota
Pengenceran Sungai
(flora dan
(alur alam dengan
fauna)
berbagai
sumberdaya yang
bervariasi &
PROPINSI DAERAH Candi
dinamik) ISTIMEWA YOGYAKARTA Prambanan

Energi
(debit dan
Sedimen KOTA
beda Bandara Adisucipto

tinggi)
Sebagai terminal
pengatusan suatu daerah
tangkapan air atau daerah Sistem Sungai
aliran sungai.
Daerah Tangkapan Air
Dinamika sumberdaya
dipengaruhi oleh perilaku
alami (kondisi fisiografi dan
iklim) serta aktivitas di DTA
sistem lahan dan alur.

Kegiatan di kawasan hulu


(upper catchment), akan
Laut
mempengaruhi kondisi aliran
Daerah Rawan Banjir
sungai di sebelah hilirnya, dan
umumnya tidak sebaliknya.
PERSPEKTIF TENTANG SUNGAI
Sungai tempat terbentuknya kota
sejak jaman nenek moyang.

 Bagdad (Sungai Tigris)


 London (Sungai Thames)
 Delhi (Sungai Brahmaputra)
 Bangkok (Sungai Caophraya) 1958
 Tokyo (Sungai Tone)
 Surabaya (Kali Brantas)
 Jakarta/Batavia (Kali Ciliwung)

1993
Tampungan air Sebelum pembangunan
di hulu  Hujan ditampung di sebelah
hutan, sawah, dan padang
Pertumbuhan rumput.
kawasan di sekitar  Banyak air meresap ke bawah
sungai, terutama di Resapan  Runoff lambat dan debit
puncak rendah.
perkotaan, sering Propinsi Aichi
diikuti dengan
persoalan
lingkungan di Hutan berubah jadi perkotaan Sesudah pembangunan

sekitarnya Runoff cepat 
Hutan dan sawah hilang
Permukaan lahan di beton
(Yokokura, 2012)  Runoff cepat dan debit
puncak tinggi.

hujan mengalir di
permukaan lahan
Perpektif atau sudut
pandang tentang sungai bisa
sangat bervariasi, dengan
faktor yang mempengaruhi:.
Sumberdaya sungai yang utama
adalah air (aliran air), sedangkan
 Kondisi geografis sungai
 Sumberdaya yang dimiliki
yang lainnya dapat berupa
sungai sumberdaya padatan (sedimen),
 Budaya dan peradaban kehidupan habitat (flora dan
masyarakat (disekitarnya) fauna).
Perkembangan manusia dan
kebudayaan manusia tidak
dapat dilepaskan dari
keberadaan sungai (Komariyah,
2015).
Kawasan di sekitar hulu Sungai:
 Pegunungan tanpa gunung api aktif
 Pegunungan dengan gunung api aktif
 Dataran dengan hutan lebat

Dampak erosi (lahan dan tebing)


Sungai Batanghari di Kota Jambi
di kawasan hulu:
banjir di sebelah hilir
- banjir di sebelah hilir
- sedimentasi di sebelah hilir
(bendung, waduk,
infrastruktur irigasi, dll).
- perubahan morfologi
- sedimentasi muara sungai Sungai Bengawan Solo di
- -dll. daerah Bojonegoro
Pengaruh urbanisasi

 Dengan adanya tanggul air hujan di lahan akan


mengalir ke sungai melalui pipa drainase
 Jika elevasi muka air sungai tinggi maka
digunakan pompa
 Jika intensitas
hujan lebih tinggi
 Orang tinggal pada daerah rawan banjir dari kapasitas
 Resapan air berkurang pompa maka
 Hujan akan segera menuju ke sungai, lahan akan
sehingga debit sungai meningkat tergenang (disebut
Inner Flood)
PENANGANAN DAN DAMPAK
Dinamika Sungai:
 Kondisi Normal Tujuan:
 Kondisi Ekstrim Mendapatkan tingkat kesejahteraan
(kolektif) yang lebih baik.

Pendekatan Penanganan: Konsekuensi:


 Struktural Diikuti atau disertai adanya dampak
 Non-Struktural negatif.

Pertimbangan Penanganan: Perlu Perhatian:


 Ecohydraulics  perolehan manfaat
 Community-based  prediksi dampak
(Participatory)  upaya mitigasi
 Lingkungan (sosial-
ekonomi-budaya)
KONDISI NORMAL

Suatu kondisi dimana perilaku sungai (aliran air


sungai, aliran sedimen sungai, kualitas air sungai,
dll) dalam kondisi tidak menimbulkan keberatan
(membahayakan bagi keselamatan dan kesehatan)
bagi masyarakat.

Biasanya ada batas-batasnya:


 ditetapkan oleh otoritas sungai terkait
 dikonfirmasi pemanfaat sungai di ujung tombak
PENDEKATAN ECOHYDRAULICS

Definisi:

• Penanganan sungai yang memperhatikan


interaksi atau kaitan antara proses fisik dan
respon ekologi. (Center for Ecohydraulics
Research - CER, University of Idaho, 1996).

Penjelasan:
• Tidak menunjukkan ketidak-bolehan
pengenalan bangunan keras (hard
structure), namun tuntutan bertahannya
kualitas lingkungan.
Ada kemiripan kekompleksan penanganan banjir
Jakarta dengan Tokyo (beberapa tahun yang lalu)

JAKARTA

TOKYO
PEMADUAN PEMENUHAN FASILITAS UMUM DAN PENGENDALIAN
BANJIR SUNGAI TONE, TOKYO (Yokokura, 2012)

Pada kondisi normal: Pada kondisi banjir:


Untuk Lapangan Tenis) Untuk Retarding Basin
SUNGAI BOYONG/CODE PADA BERBAGAI KONDISI

Banjir 1 Maret 2005

Hilir Jembatan Gondolayu

Jembatan
Jembatan Rejodani Gondolayu

Banjir Banjir 30 November 2010


KETERPADUAN DAN KEBERLANJUTAN

Makna keterpaduan (antara lain):


 Terpadu antara program antar sektor di
dalam satu administrasi otonom
 Terpadu antara program antar sektor di
dalam dua atu lebih administrasi otonom,
dll.

Makna keberlanjutan (antara lain):


 Tidak menimbulkan dampak negatif yang
memberatkan, baik pada kondisi sekarang
maupun pada kondisi yang akan datang.
PERAN SERTA MASYARAKAT
1) Pengelolaan atau penanganan sungai termasuk dalam salah satu dari
program pengelolaan sumberdaya air.
2) Peranserta masyrakat mempunyai nilai penting dalam upaya
memelihara keberlanjutan program pengelolaan sumberdaya air
(Maxwell dkk, 2012 dan Arwin dkk., 2019).
3) Program pengelolaan sumberdaya air dengan pendekatan peranserta
masyarakat tidak saja diperlukan dalam kondisi normal, namun juga
dalam kondisi ekstrim
4) Komunitas masyarakat lokal banyak terbentuk dan terorganisasi di
setiap penggal Kawasan Sungai Code (Brontowiyono, dkk., 2010).
Kawasan Sungai Code memiliki potensi positif berupa letak yang
strategis dan berpotensi bagi pengembangan ekowisata, juga potensi
sosial budaya dan perhatian banyak pihak
5) Permasalahan mendasarnya adalah pihak-pihak terkait tersebut
belum terkoordinasi secara terpadu dan program penataannya juga
belum sistematis.
6) Upaya pelestarian ekosistem daerah aliran sungai di Kota Yogyakarta
dan sekitarnya melalui program pengelolaan sempadan Sungai Code
merupakan kegiatan yang dipandang memberikan kontribusi yang
nyata terhadap keberlanjutan fungsi Sungai Code (Noviyanti dkk.,
2017).
7) Menurut Novianti, aktifitas ritual yang sebagi kegiatan kelompok
masyarakat Merti Code dinilai sangat efektif untuk mengadaptasi
masyarakat dari bahaya karena tercipta modal sosial yang baik.
8) Adaptasi ini sebaiknya diiringi dengan mitigasi struktural dan
nonstruktural serta peningkatan kapasitas masyarakat. normal, namun
juga dalam kondisi ekstrim
9) Bnetuk siklus manajemen (missal konsep P-D-C-A) yang mengandung
pelibatan masyarakat perlu diimplemntasikan secara konsisten, untuk
itu suatu strategi untuk menuju efektifitas dan efisiensi dari siklus
manajemen pengelolaan sungai.
SIKLUS MANAJEMEN P-D-C-A DALAM PENGELOLAAN SUNGAI

 Nilai-nilai keterpaduan dan Mensetting platform komunikasi


keberlanjutan sesungguhnya untuk pengembangan kebijakan
sangat dinamis, seiring
dengan dinamika kondisi fisik
secara alami maupun secara
campur tangan manusia. PERENCANAAN-Hipotesis
 Dengan demikian usaha (mungkin ada tantangan) Diagnosis publik
menciptakan keterpaduan dan Siklus
keberlanjutan ini harus Manajemen
dilakukan secara terus
menerus. Konsep siklus Perencanaan kebijakan Memeriksa
Memeriksa
manajemen Plan–Do–Check– (membuat atau merevisi) statusnya
statusnya
Action (P-D-C-A) dengan
pelibatan masyarakat
diindikasikan sebagai proses
yang menjamin keberlanjutan Mengimplementasi
pengelolaan sungai. kebijakan
PENUTUP
1) Pengelolaan atau sungai berbasis
keterpaduan antara teknik keairan dan
lingkungan merupakan upaya dalam
memelihara keberlanjutan fungsi
sungai
2) Pengelolaan sungai dengan
mengikutsertakan peranserta
masyarakat dinilai akan mensukseskan
penyelenggaraan pengelolaan sungai
tersebut pada Butir 1).
3) Suatu pengendalian siklus pengelolaan
sungai secara konsisten sangat
diperlukan, dapat dimulai dari jejaring
(nested cyclus) yang kecil, dan
kemudian bergabung dengan jejaring
berikutnya yang lebih besar.
TERIMA KASIH