Anda di halaman 1dari 11

STRATEGI PENGEMBANGAN UMKM MELALUI PEMBELAJARAN

KEWIRAUSAHAAN SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI INDONESIA

Sulastri Rini Rindrayani


STKIP PGRI Tulungagung
rrindrayani@yahoo.com

Abstrak

UMKM mempunyai peranan yang pengting sebagai pengerak utama perekonomian di Indonesia. Karakteristik
UMKM Indonesia adalah mempunyai daya tahan untuk hidup dan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya
selama krisis ekonomi. Terbukti pada saat krisis moneter beberapa tahun silam, sektor UMKM-lah yang mampu bertahan
disaat terjadi krisis global. Kontribusi UMKM dalam pertuumbuhan ekonomi antara lain (1) Sektor UMKM mampu
menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung pada sector formal sehingga menguranggi penggaguran; (2) sektor UMKM
mempunyai kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB); (3) Sektor UMKM sebagai sumber penghasil
devisa negara melalui ekspor berbagai jenis produk yang dihasilkan sektor ini. Namun kenyataannya UMKM tidak bisa
tumbuh dan berkembang secara optimal karena berbagai permasalahan yang dihadapi UMKM antara lain: kesulitan
permodalan, rendahnya pengetahuan menajemen pengelolaan usaha, kurangnya informasi jaringan pemasaran,dan
lemahnya penguasaan teknologi informasi. Oleh karenanya perlu upaya bagaimana mengembangkan UMKM sehingga
mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara optimal. Salah satu cara dapat dilakukan melalui
pembelajaran kewirausahaan pada tingkat pendidikan dasar , menengah , dan perguruan tinggi. Pembelajaran
kewirausahaan pada tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pengguruan tinggi mempunyai peran yang strategi untuk
membekali peserta didik memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan kewirausahaan seta soft skill
wirausahawan, sehingga mempunyai kecakapan hidup untuk mengelola usaha secara mandiri. Pembelajaran
kewirausahaan diharap juga berdampak pada lahirnya wirausahawan muda yang tangguh dan mampu bersaing pada
kondisi global. Semakin banyaknya berdirinya usaha baru, maka semakin besar kontribusinya dalam mengatasi
pengguguran, kemiskinan, meningkatkan PDB,dan meningkatnya devisa melalui ekspor.

Kata Kunci: Strtegi Pengembangan UMKM, Pembelajaran Kewirausahaan,, Pendidikan

Abstract

SMEs has an important role as the main Indonesia’s Economic Booster. Its characteristics are to have the endurance
power to live and the ability to improve its performance during the economic crisis. It was proved during the financial
crisis some years ago, the SMEs was the only sector whichwas able to survive during the global crisis. The contributions of
SMEs in the economic growth are; (1) Its sector can create jobs that are not accommodated in the formal sector so it can
decrease the number of unemployment rate; (2) Its sector has contributed to the establishment of Gross Domestic Product
(GDP); (3) Its sector is as a source of foreign exchange through the export of various types of the products that it
produces. But in fact, SMEs cannot grow and develop optimally due to various problems that it faces, such as: the difficulty
of capital, lack of business management knowledge, lack of marketing network information, and lack of mastery of
information technology. Therefore, this condition needs efforts to develop SMEs to be able to contribute to economic
growth optimally. One of the way is through the entrepreneurial learning at the primary level, secondary, and higher
education. Entrepreneurial learning at the primary level, secondary, and high educationhas strategic role to equip
learners with the competency, attitude, knowledge, entrepreneurial skills, and soft skills of entrepreneurs, so they have the
life skills to manage their own independent business. Entrepreneurial learning is also expected to have an impact on the
birth of young entrepreneurs who are resilient and able to compete on a global conditions. The harder we try to increase
the number of new businesses establishment, the greater contribution we give todecrease unemployment rate and poverty,
to increase GDP, and to rise foreign exchange through exports.

Keywords: TheStrategy of SMEs Development, EntrepreneurialLearning, Education

PENDAHULUAN banyaknya jumlah pengusaha yang memiliki jiwa


tengah ketatnya suasana persaingan global dan wirausaha menjadi indikator dalam pertumbuhan
domistik, pada tataran pemerintah, perusahaan, dan ekonomi. Semua Negara yang ada di dunia
individu, menggalakkan pengembangan aspek menyatakan bahwa wirausaha mempunyai kontribusi
kewirausahaan dan kapasitas daya saing menjadi terhadap pertumbuhan ekonomi baik dari PDB,
salah satu faktor kunci dalam memenangkan penyerapan tenaga kerja, penghematan devisisa, dan
persaingan. Mengapa demikian?? Karena terbukti mengurangi kemiskinan. Semakin banyak jumlah
wirausahawan semakin besar kontribusi terhadap Sedangkan pemberian kontribusi pada ekspor masih
pertumbuhan ekonomi, dan semakin cepat kemajuan rendah dibanding pada Negara lain, hal ini
pada Negara tersebut. dikarenakan produk UMKM belum mampu bersaing
PPN/Bappenas (2013) menjelaskan bahwa dengan produk global baik mdari segi kualitas dan
“Berdasarkan penelitian yang ada, kebutuhan akan kuantitas.
wirausaha baru di setiap negara adalah sekitar 2 Berdasarkan data di atas menujukkan bahwa
persen dari populasi penduduk suatu negara dalam UMKM mempunyai peran penting dalam
lima tahun. Perkembangan angka dari jumlah pertumbuhan ekonomi baik dalam penyerapan tenaga
wirausaha di Indonesia saat ini berdasarkan data dari kerja sehingga mampu mengurangi kemiskinan,
Kementerian Koperasi dan UKM adalah sebesar 1,56 memberikan kontribusi terbesar pada PDB, dan
persen. Sementara perkembangan jumlah pengusaha menghemat devisa dari ekspor produk UMKM.
di Negara-negara lain, menurut (Elfindri, dkk, 2010) Namun demikian UMKM di Indonesia belum dapat
Amerika Serikat memiliki 12,5 persen jumlah berkembang secara optimal. Hal ini disebabkan oleh
pengusaha dari total penduduknya. Beberapa negara faktor internal antara lain kecilnya modal, rendahnya
maju lainnya seperti Jepang 10 persen, Inggris 10 pengetahuan dan ketrampilan pengelolaan usaha,
persen,Singapura 7,5 persen. Bahkan negara belum berbadan hukum, dan rendahnya akuntabilitas
berkembang seperti China 2,5 persen, India 2,5 persen yang menggambarkan belum mempunyai sistem
dan Malaysia 2,5 persen. Jadi Indonesia untuk administrasi keuangan dan manajemen yang baik.
mencukupi kebutuhan jumlah pengusaha menjadi 2 Sedangkan faktor ekternal yang menghambat
persen dibutuhkan 1,122,000 pengusaha per tahun. perkembangan UMKM adalah iklim usaha,
Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan, infrastruktur dan akses bahan baku, akses teknologi,
pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 jumlah serta akses pasar.
UMKM tidak berkurang, justru meningkat terus, Berdasarkan permasalah di atas maka perlu
bahkan mampu menyerap 85 juta hingga 107 juta membudayakan kewirausahaan pada seluruh
tenaga kerja sampai tahun 2012. Pada tahun itu, masyarakat sehingga dapat meningkatkan kuantitas
jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 dan kualitas UMKM. Salah satu cara pembudayaan
unit. Dari jumlah tersebut, Usaha Mikro Kecil dan kewirausahaan melalui pemberian pembelajaran
Menengah (UMKM) sebanyak 56.534.592 unit atau kewirausahaan mulai sekolah dasar, menengah dan
99.99%. Sisanya, sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah perguruan tinggi. Pembelajaran kewirausahaan ini
usaha besar (Lembaga Pengembangan Perbakan diharapkan peserta didik akan memiliki pengetahuan,
Indonesai, 2015: 1). Hal ini dapat diartikan bahwa ketampilan, dan sikap kewirausahaan sehingga
UMKM mampu bertahan hidup dalam kondisi krisis, mereka mampu menciptakan lapangan kerja untuk
karena usaha UMKM tidak tergantung pada bahan dirinya sendiri, bahkan mampu menyerapkan tenaga
baku import dan sebagian UMKM menggunakan kerja dari masyarakat. Dengan demikian pembelajaran
bahan baku lokal. kewirausahaan akan berdampak pada munculya
Kementrian perindustrian (2016) menjelaskan pengusaha baru yang mempunyai ketrampilan,
bahwa “ Kontribusi sektor usaha mikro, kecil, dan pengetahuan, dan soft skill yang tangguh dan mampu
menengah terhadap produk domestik bruto meningkat bersaing dalam kondisi global. Semakin banyak
dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen dalam lima pengusaha baru, semakin besar dampaknya pada
tahun terakhir. Serapan tenaga kerja pada sektor ini pertumbuhan ekonomi, yaitu mengurangi
juga meningkat, dari 96,99 persen menjadi 97,22 pengagguran, kemiskinan, meningkatkan pendapatan
persen pada periode yang sama. Kontribusi sektor dan pemerataan pendapatan, serta semakin besarnya
UMKM terhadap ekspor Indonesia tahun 2015 hanya cadangan devisa dari ekport produk usaha tersebut.
15,8 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan
negara-negara sekawasan di Asia Tenggara. PEMBAHASAN
Kontribusi sektor UMKM Thailand terhadap ekspor Karakteristik UMKM
29,5 persen dan Filipina 20 persen. Di tingkat global, Pengertian UMKM berdasarkan Undang-Undang
kontribusi sektor UMKM Jerman terhadap ekspor No 20 tahun 2008 :“Sebuah perusahaan yang
mencapai 55,9 persen dan Jepang sekitar 53,8 persen. digolongkan sebagai UMKM adalah perusahaan kecil
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau
pendapatan nasional berasal dari usaha kecil, mikro dimiliki oleh sekelompok kecil orang dengan jumlah
dan menegah, sebagian kecil dari usaha besar. Selain kekayaan dan pendapatan tertentu.”
itu Usaha mikro, kecil, dan menengah mampu Karakteristik UMKM menurut Sarwaono dan
menyerap sebagian besar tenaga kerja yaitu hamper Rijianto (2015:13-14) adalah sebagai berikut:
98%, sisanya terserap pada perusaha besar. Usaha Mikro:
(a) Jenis barang/komoditi tidak selalu tetap; (d) Sudah memiliki persyaratan legalitas antara lain
sewaktu-waktu dapat berganti. izin tetangga.
(b) Tempat usahanya tidak selalu menetap; sewaktu- (e) Sudah memiliki akses kepada sumber-sumber
waktu dapat pindah tempat; pendanaan perbankan:
(c) Belum melakukan administrasi keuangan yang (f) sudah umumnya telah memiliki sumber daya
sederhana sekalipun manusia yang terlatih dan terdidik.
(d) Tidak memisahkan keuangan keluarga dengan Contoh: Usaha pertambangan batu gunung untuk
keuangan usaha.; kontruksi dan marmer buatan
(e) Sumber daya manusia (pengusaha) belum Gambaran karakteristik UMKM, terutama
memiliki jiwa wirausaha yang memadai; usaha mikro memiliki karakteristik yang menjadikan
(f) Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat usaha tersebut tidak mampu berkembang dengan baik.
rendah.; Keterbatasan dalam pengetahuan, ketrampilan,
(g) Umumnya belum akses kepada perbankan, pengelolaan usaha, modal, dan informasi menjadikan
namun sebagian sudah akses ke lembaga usaha mereka tidak dapat berkembang baik serta
keuangan non bank; menjanjikan keuntungan yang besar. Sementara kalau
(h) Umumnya tidak memiliki izin usaha atau kita lihat data BPS tahun 2015 jumlah usaha mikro di
persyaratan legalitaslainnya termasuk NPWP. Indonesia 3,305,851 usaha, sedangkan usaha kecil
Contoh: Usaha perdagangan seperti kaki lima sebesar 283.022 usaha. Hal ini menunjukkan bahwa
serta pedagang di pasar. sebagian besar usaha Indonesia berskala mikro. Oleh
karenanya perlu upaya untuk meningkatkan kualitas
Usaha Kecil usaha mikro, baik dari sisi manajemen, SDM, dan
(a) Jenis barang/komoditi yang diusahakan produk.
umumnya sudah tetap tidak gampang berubah; Selain itu berdasarkan aspek komoditas yang
(b) Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap dihasilkan, UMKM mempunyai karakteristik
tidak berpindah-pindah: Sarwaono dan Rijianto (2015: 15), antara lain (a)
(c) Pada umumnya sudah melakukan administrasi kualitas belum standar. Karena sebagian besar
keuangan walau masih sederhana: UMKM belum memiliki kemampuan teknologi yang
(d) Keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan memadai; (b) Desain produknya terbatas. Hal ini
dengan keuangan keluarga: dipicu keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
(e) Sudah membuat neraca usaha: mengenai produk. Mayoritas UMKM bekerja
(f) Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan berdasarkan pesanan, belum banyak yang berani
legalitas lainnya termasuk NPWP: mencoba berkreasi desain baru; (c) Jenis produknya
(g) Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki terbatas. Biasanya UMKM hanya memproduksi
pengalaman dalam berwirausaha: beberapa jenis produk saja. Apabila ada permintaan
(h) Sebagian sudah akses ke perbankan dalam model baru, UMKM sulit untuk memenuhinya.
keperluan modal: Kalaupun menerima, membutuhkan waktu yang lama;
(i) Sebagian besar belum dapat membuat (d) Kapasitas dan daftar harga produknya terbatas.
manajemen usaha dengan baik seperti business Dengan kesulitan menetapkan kapasitas produk dan
planning. harga membuat konsumen kesulitan; (e) Bahan baku
Contoh: Pedagang di pasar grosir (agen) dan kurang terstandar. Karena bahan bakunya diperoleh
pedagang pengumpul lainnya dari berbagai sumber yang berbeda; (f) Kontinuitas
produk tidak terjamin dan kurang sempurna. Karena
Usaha Menengah produksi belum teratur maka biasanya produk-produk
(a) Memiliki manajemen dan organisasi yang lebih yang dihasilkan sering apa adanya.
baik, dengan pembagian tugas yang jelas antara Karakteristik produk yang dimiliki UMKM inilah
lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan sebagai menyebabkan UMKM belum mampu
bagian produksi; bersaing dengan perusahaan besar baik dalam pasar
(b) Telah melakukan manajemen keuangan dengan regional maupun Internasional. Faktor utama karena
menerapkan sistem akuntansi dengan teratur keterbatasan pengetahuan dan penerapan teknologi
sehingga memudahkan untuk auditing dan sehingga belum mampu untuk membuat produk yang
penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh berkualitas sesuai dengan standar. Selain itu
perbankan; rendahnya inovasi dan kreativitas produk yang
(c) Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan dihasilkan.
organisasi perburuhan;
Peran UMKM dalam Pertumbuhan Ekonomi dikelola secara manual dan tradisional, terutama
UMKM mempunyai peran penting dalam manajemen keuangan. Pengelola belum dapat
pertumbuhan ekonomi, Sarwono dan Rijianto (2015: memisahkan antara uang untuk operasional rumah
18) antara lain: (1) UMKM berperan dalam tangga dan usaha. (2) Sumberdaya manusia (SDM)
memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada meliputi: (a) Kurangnya pengetahuan mengenai
masyarakat, proses pemerataan dan peningkatan teknologi produksi terbaru dan nncara menjalankan
pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan quality control terhadap produk; (b) Kemampuan
ekonomi, serta mewujudkan stabilitas nasional; (2) membaca kebutuhan pasar masih belum tajam,
UMKM juga sangat membantu negara/pemerintah sehingga nnbelum mampu menangkap dengan cermat
dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat kebutuhan yang diinginkan pasar; (c)Pemasaran
UMKM juga banyak tercipta unit-unit kerja baru yang produk masih mengandalkan cara sederhana nnmouth
menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat to mouth marketing (pemasaran dari mulut ke mulut).
mendukung pendapatan rumah tangga; (3) UMKM Belum menjadikan media sosial atau jaringan internet
memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan sebagai alat pemasaran; (d) Dari sisi kuantitas, belum
dengan usaha yang berkapasitas lebih besar; (4) dapat melibatkan lebih banyak tenaga kerja nnkarena
Tulang punggung perekonomian nasional karena keterbatasan kemampuan menggaji; (e)Karena
merupakan populasi pelaku usaha dominan (99,9%); pemilik UMKM masih sering terlibat dalam persoalan
(5) Menghasilkan PDB sebesar 59,08% dengan laju teknis, sehingga kurang memikirkan tujuan atau
pertumbuhan sebesar 6,4% pertahun; (6) rencana strategis jangka panjang usahanya. (3)
Menyumbang volume ekspor mencapai 14,06% Hukum, pada umumnya UMKM masih berbadan
(Rp166,63 triliun) dari total eksport nasional; (7) hokum perseorangan; (4) Akuntabilitas, belum
Secara geografis tersebar di seluruh tanah air, di mempunyai sistem administrasi keuangan dan
semua sektor. Memberikan layanan kebutuhan pokok manajemen yang baik.
yang dibutuhkan masyarakat. Multiplier effect-nya Sedangkan permasalah eksternal antara lain: (1)
tinggi. Merupakan instrumen pemerataan pendapatan Iklim usaha masih belum kondusif, disebabkan oleh
dan mengurangi ketimpangan kesejahteraan (a) Koordinasi antar stakeholder UMKM masih belum
masyarakat; (8) Wadah untuk penciptaan wirausaha padu. Lembaga pemerintah, institusi pendidikan,
baru; (9) Ketergantungan pada komponen impor yang lembaga keuangan, dan asosiasi usaha lebih sering
minimal. Memanfaatkan bahan baku dan sumber daya berjalan masing-masing. (b) Belum tuntasnya
lokal yang mudah ditemukan dan tersedia di sekitar penanganan aspek legalitas badan usaha dan
sehingga menghemat devisa. kelancaran prosedur perizinan, penataan lokasi usaha,
Dengan demikian, bisnis UMKM mempunyai biaya transaksi/usaha tinggi, infrastruktur, kebijakan
peran strategis dalam perekonomian Indonesia, dalam aspek pendanaan untuk UMKM. (2)
karena: (1) Kedudukannya sebagai pemain utama Infrastruktur, dikarenalkan oleh (a) Terbatasnya
dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor; (2) sarana dan prasarana usaha terutama berhubungan
Penyedia lapangan kerja yang terbesar; (3) Pemain dengan alat-alat teknologi; (b) Kebanyakan UMKM
penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal menggunakan teknologi yang masih sederhana; (3)
dan pemberdayaan masyarakat; (4) Pencipta pasar Akses antara lain: (a) Keterbatasan akses terhadap
baru dan sumber inovasi; (5) Sumbangannya dalam bahan baku, sehingga seringkali UMKM
menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. nnmendapatkan bahan baku yang berkualitas rendah.
Sarwono dan Rijianto (2015: 18). (b) Akses terhadap teknologi, terutama bila pasar
dikuasai oleh perusahaan/nngrup bisnis tertentu; (c)
Kendala Bisnis UMKM Belum mampu mengimbangi selera konsumen yang
Sudah tidak diragukan lagi bahwa UMKM cepat berubah, terutama bagi UMKM yang sudah
mempunyai peran penting dalam pertumbuhan mampu menembus pasar ekspor, sehingga sering
ekonomi. Namun dalam perkembangannya banyak terlibat dengan perusahaan yang bermodal lebih besar.
kendala yang dihadapi, baik yang disebabkan oleh Gambaran di atas menunjukkan bahwa UMKM
faktor internal maupun eksternal. Sarwono dan mempunyai masalah baik secara interna dan eksternal.
Rijianto (2015: 18) menjelaskan Kendala Internal, Permasalah ini berdampak pada rendahnya daya
antara lain (1) modal: sekitar 60%-70% belum saing UMKM terhadap perusahaan besar baik pada
pendapat akses atau pembiayaan dari perbankan, tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Diantara penyebabnya, hambatan geografis. Belum Oleh karenanya perlu upaya bagaimana solusi untuk
banyak perbankan nnmampu menjangkau hingga ke mengatasi permasalahan tersebut sehingga UMKM
daerah pelosok dan terpencil. Kemudian kendala bisa mampu bersaing dengan usaha besar baik dalam
administratif, manajemen bisnis UMKM masih tingkat regional, nasional, dan internasional. Menurut
Kementrian PPN/Bappenas (2013:1) menjelaskan secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan
bahwa strategi pengembangan kewirausahaan untuk memulai usaha (start up), kemampuan untuk
setidaknya ada beberapa hal pokok yang menjadi mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan
perhatian yaitu: (1) Peningkatan Kapasitas Kewira- dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity),
usahaan; (2)Pembudayaan Kewirausahaan; (3) Pena- kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko
taan Kelembagaan Kewirausahaan. (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan
Berdasarkan penjelasan tersebut maka salah satu ide dan meramu sumber daya.
solusi yang dapat dilakukan untuk menigkatkan Dari beberapa pendapat di atas dapat
kualitas dan kuantitas UMKM adalah dengan disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki jiwa
membudayakan kewirausahaan di seluruh masyarakat kewirausahaan adalah orang yang berkemampuan
Indonesia melalui pembelajaran kewirausahaan. mendirikan usaha dan mengelola usaha secara
Pembelajaran dilakukan dalam pendidikan formal enovatif, kreatif, kemampuan untuk mengerjakan
mulai dari tingkat sekolah dasar samapai perguruan sesuatu yang baru, kemauan dan kemampuan mencari
tinggi. Pada pembelajaran ini akan menjadi sarana peluang, kemampuan mengembangkan ide, dan
untuk memberikan kompetensi sikap, pengetahuan, keberanian untuk menanggung resiko. Jadi seorang
ketrampilan, dan soft skill wirausaha pada peserta wirausahawan akan berhasil usahanya apabila
didik sehingga menjadi wirausaha baru yang memiliki jiwa kewirausahaan. Jiwa dan watak
mempunyai kompetensi sikap, pengetahuan, dan kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh
ketrampilan. Dengan demikian pendidikan formal keterampilan, kemampuan, atau kompetensi.
merupakan tempat strategis untuk mencetak lulusan Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan
sebagai wirausaha baru. dan pengalaman usaha.

Pengertian Kewirausahaan Strategi Pengembangan UMKM melalui


Persepsi kewirausahaan dari berbagai para ahli Pembelajaran Kewirausahaan
cukup banyak, antara lain dari Peter F. Drucker yang Pembudayaan kewirausahaan memegang
mengatakan bahwa kewirausahaan adalah peranan penting dalam upaya menumbuhkan
“kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru kewirausahaan. Pembudayan kewirausahaan dapat
dan berbeda (ability to create the new and different)”. dilakukan melalui pendidikan formal dengan
Menurut Thomas W. Zimmerer, kewirausahaan pembelajaran kewirausahaan. Pembelajaran
adalah “Penerapan kreativitas dan keinovasian untuk kewirausahaan yang diberikan sejak pendidikan
memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan dasar sampai perguruan tinggi diyakini dapat merubah
peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari”. mindset posisi kedudukan wirausaha di masyarakat
Sementara itu, Andrew J. Dubrin mengatakan bahwa tetapi juga dapat menumbuhkan sifat-sifat dan
kewirausahaan adalah “Seseorang yang memiliki perilaku berwirausaha sejak dini.
kemampuan dalam mendirikan dan menjalankan Kementrian PPN/Bappenas (2013: 13) Perilaku
sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a kewirausahaan bisa dikenalkan melalui formal sejak
person who founds and operates an innovative dini, sejak dari pendidikan pra-sekolah, tingkat dasar,
business)”. ( Kementrian PPN/Bappenas, 2013:9) menengah, atas sampai dengan perguruan tinggi.
Kementian PPN/Bappenas (2013:9) Management Perilaku terkait kewirausahaan diantaranya berani
Systems International menyebutkan karakteristik mengambil resiko, leadership, inovatif, dan percaya
pribadi wirausaha (personal entrepreneurial diri dapat dipelajari sejak dini melalui berbagai
characteristics) sebagai berikut: (1) Mencari peluang kegiatan dan program pada jalur pendidikan formal.
(2) Keuletan, (3) Tanggungjawab terhadap pekerjaan, Pembelajaran Kewirausahaan pada Sekolah Dasar
(4) Tuntutan atas kualitas dan efisiensi; (5) Pada pendidikan dasar belum ada mata pelajaran
Pengambilan resiko; (6) Menetapkan sasaran ; (7) kewirausahaan. Pembelajaran kewirausahaan pada
Mencari informasi; (8) Perencanaan yang sistematis pendidikan dasar bertujuan untuk menanamkan jiwa
dan pengawasannya;(9) Persuasi dan jejaring/koneksi; kewirausahaan pada siswa. Penanaman sikap
(10) Percaya diri. kewirausahaan dapat dilakukan dengan
Sementara Mulyani (2011: 11) seseorang mengintegrasikan sikap kewirausahaan pada setiap
wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan mata pelajaran, kegiatan ekstra kurikuler, muatan
kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. lokal, dan kultur sekolah. Penelitian yang dilakukan
Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk oleh Afandi (2013) yang merupakan penelitian
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to pengembangan dengan membuat perangkat
create the new and different) atau kemampuan kreatif pembelajaran mata pelajaran IPS berbasis
dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut kewirausahaan pada siswa kelas III SD, membuktikan
perangkat pembelajaran efektif dapat digunakan siswa sukses, yakni sikap dan tindakan untuk menjadi yang
untuk belajar IPS dan mampu menanamkan jiwa terbaik (Kemendiknas RI, 2010)
kewirausahaan dengan baik. Penelitian lain dilakukan Menurut Suryaman (2012), pendidikan kewirausa-
oleh mahasiswa Free Enterprise dari Pittsburg State haan dalam sekolah harus menganut system fun-eco-
University, menunjukkan bahwa pengembangan jiwa preneur, dimana didalamnya terdapat beberapa
kewirausahaan paling efektif jika dimulai pada keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang siswa
pendidikan prasekolah (Journal of Enterpriseship dengan jiwa wirausaha, yaitu: Pertama, keterampilan
Education, 1997) dalam (Afandi: 2013). akademis, yang meliputi: pengetahuan sepesialis,
Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa artinya fokus pada materi tertentu dan bukan menjadi
pengembangan jiwa kewirausahaan paling efektif generalis; kemampuan menerapkan pengetahuan,
dimulai pada pendidikan dasar melalui pembelajaran artinya mampu membuat dan tidak sekedar teori;
setiap mata pelajaran atau kegiatan ekstra kurikuler. berpikir logis, artinya mampu meruntutkan sebab dan
Pembelajaran kewirausahaan pada setiap mata akibatnya; analisis secara kritis; penyelesaian
pelajaran ini bisa berjalan apabila guru membuat masalah; komunikasi lisan dan tulisan; kemampuan
perangkat pembelajaran yang didesain dengan menggunakan data numerik; literasi computer; dan
mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan pada keterampilan meneliti. Kedua, keterampilan
setiap mata pelajaran. Sehingga dalam proses pengembangan diri, yang meliputi: percaya diri, diri,
pembelajaran tidak secara langsung akan mengajarkan keyakinan diri, menyadari kekuatan dan kekurangan
nilai-nilai kewirausahaan kepada peserta didik. diri, kreativitas, mandiri, pengetahuan atas hubungan
Penanaman jiwa kewirausahaan ini pada akhirnya internasional, keinginan untuk terus belajar,
menjadi karakter pada siswa yang dapat terapkan kemampuan refleksi, integritas, jujur, dan hormat
dalam kehidupan sehari-hari. kepada orang lain. Ketiga, keterampilan bisnis, yang
Sifat-sifat Wirausahawan berdasarkan Pusat mencakup hal-hal berikut: kemampuan untuk
kurikulum Balitbang Kemendiknas RI (Badan memprioritaskan tugas, manajemen waktu,
Penelitian dan Pengembangan, Kementerian keterampilan interpersonal, keterampilan presentasi,
Pendidikan Nasional Republik Indonesia) adalah: kemampuan bekerja dalam tim, kepemimpinan,
Mandiri, artinya memiliki sikap dan perilaku yang kesadaran komersial, fleksibel, inovator,
tidak bergantung pada orang lain; Kreatif, yakni independence,dan risk taking (Suryaman, 2012).
melakukan sesuatu untuk menghasikan karya yang Penjelasan di atas menggambarkan bahwa nilai-
berbeda dariyang sudah dibuat sebelumnya; Berani nilai kewirausahaan yang diajarkan pada tingkat
mengambil resiko, yakni kemampuan untuk sekolah dasar berbeda-beda, namun pada intinya nilai-
memikirkan dan melakukan keputusan mengambil nilai kewirausahaan diberikan sesuai dengan tingkat
resiko dengan pertimbangan yang sangat terukur; kemampuan atau tingkat sekolah siswa. Misalnya
Berorientasi pada tindakan, artinya selalu berinisiatif penanaman nilai untuk kelas Sekolah Dasar berbeda
dan aktif, bukan menunggu dan pasif; Kepemimpinan, dengan Sekolah Menengah. Nilai-nilai krewirausa-
yakni memiliki kemampuan dalam bekerjasama dan haan yang bisa diberikan pada siswa sekolah dasar:
mampu pula memberikan pengarahan kepada orang jujur, kerjasama, rasa ingin tahu, komunikatif, kerja
lain; Kerja keras, yakni bersungguhsungguh dalam keras, kreatif dan inovatif, kepemimpinan, dan berani
menyelesaikan segala pekerjaan; Jujur, yakni mampu mengambil resiko.Demikian juga keluasan dan
menjadi orang yang dipercaya, baik dalam perkataan kedalam materi yang diberikan pada siswa disesuikan
dan sikap maupun tindakan dan pekerjaan; Disiplin, dengan tingkat sekolah dan tingkat kemampuan siswa.
yakni mampu menunjukkan perilaku yang tertib dan Hal ini dimaksudkan agar siswa bisa mudah
taat pada peraturan dan ketentuan; Inovatif, yakni memahmi materi yang diberikan dan menerapkan
kemampuan untuk menghasilkan karya baru; dalam kehidupan sehari-hari.
Kerjasama, yaitu kemampuan melakukan hubungan Bagaimana pembelajaran kewirausahaan pada
baik dengan teman secara individu maupun tim; Ulet, tingkat sekolah dasar sehingga dapat membudayakan
yaitu kemampuan untuk bekerja secara terstruktur dan nilai-nilai kewirausahaan dalam kehidupan sehari-
berkelanjutan; Komitmen, yaitu melakukan hari. Untuk pembelajaran kewirausahaan pada tingkat
kesepakatan yang dibuat, baik oleh dirinya sendiri sekolah dasar karena tidak ada mata pelajaran
maupun dengan orang lain; Realistis, yaitu menggu- kewirausahaan, maka penanam nilai-nilai
nakan fakta dan realita sebagai dasar berpikir yang kewirausahaan di integrasikan pada setiap mata
rasional; Rasa ingin tahu, yaitu memiliki sikap dan pelajaran. Sudrajat (2011) Yang dimaksud dengan
upaya untuk belajar hal-hal yang baru; Komunikatif, pendidikan kewirausahaan terintegrasi di dalam
yaitu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi proses pembelajaran adalah penginternalisasian nilai-
secara lisan dan tulisan; serta Motivasi kuat untuk nilai kewirausahaan ke dalam pembelajaran sehingga
hasilnya diperolehnya kesadaran akan pentingnya Pada gambar 1 dapat di jelaskan bahwa guru mata
nilai-nilai, terbentuknya karakter wirausaha dan pelajaran harus mengkaji SK-KD dan memasukan
pembiasaan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam nilai kewirausahaan pada SK-KD, yang kemudian di
tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses gunakan untuk mengembangkan silabus, RPP dan
pembelajaran baik yang berlangsung di dalam bahan ajar yang memuat nilai-nilai kewirausahaan,
maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. dan selanjutnya menerapkannya dalam proses
Integrasi nilai kewirausahaan dilakukan mulai pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan
dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam pembelajran juga harus dipertimbangkan.
pembelajaran pada semua mata pelajaran. Pada tahap Metode yang sesuai untuk penanaman nilai-nilai
perencanaan, silabus dan RPP dirancang agar muatan kewirausahaan adalah metode yang dapat memberikan
maupun kegiatan pembelajarannya memfasilitasi kesempatan siswa untuk bisa menerapkan nilai-nilai
untuk mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan. kewirausahaan, misalnya metode berbasis masalah,
Cara menyusun silabus yang terintegrasi nilai-nilai metode berbasis proyek, dan metode descovery.
kewirausahaan dilakukan dengan mengadaptasi
silabus yang telah ada dengan menambahkan satu Pembelajaran Kewirausahaan Pada Sekolah
kolom dalam silabus untuk mewadahi nilai-nilai Menengah
kewirausahaan yang akan diintegrasikan. Sedangkan Pada sekolah menengah ada mata pelajaran
cara menyususn RPP yang terintegrasi dengan nilai- kewirausahaan baik pada sekolah SMA ataupun
nilai kewirausahaan dilakukan dengan cara SMK. Pembelajaran kewirausahaan pada sekolah
mengadaptasi RPP yang sudah ada dengan menengah mepunyai tujuan untuk meningkat
menambahkan pada materi, langkah-langkah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan kewirausahaan.
pembelajaran atau penilaian dengan nilai-nilai Pada kurikulum 2013 mata pelajaran kewirausahaan
kewirausahaan. (Sudrajat: 2011) dinamakan “prakarya dan Kewirausahaan”. Tujuan
Pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan dalam pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan
silabus dan RPP dapat dilakukan melalui langkah- tergambarkan pula dalam skema sebagai berikut.
langkah berikut: (Yandriana, 2013: 2) adalah (1) Dilaksanakan sebagai
(1) Mengkaji SK dan KD untuk menentukan apakah pendidikan formal namun mengharapkan tujuan akhir
nilai-nilai kewirausahaan sudah tercakup mempunyai keterampilan ekonomis; (2) bertujuan
didalamnya. sebagai pendidikan formal menghasilkan kualitas
(2) Mencantumkan nilai-nilai kewirausahaan yang manusia yang mempunyai wawasan penciptaan
sudah tercantum di dalam SKdan KD kedalam berbasis pasar.( Yandriana, 2013: 2)
silabus. Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa
(3) Mengembangkan langkah pembelajaran peserta prakarya dan kewirausahaan diberikan pada
didik aktif yang memungkinkan peserta didik pendidikan formal mempunyai tujuan akhir agar siswa
memiliki kesempatan melakukan integrasi nilai mempunyai ketrampilan ekonomis dan memjadikan
dan menunjukkannya dalam perilaku. siswa mempunyai wawasan pencipta berbasis pasar.
(4) Memasukan langkah pembelajaran aktif yang Artinya pembelajaran prakarya dan kewirausahaan
terintegrasi nilai-nilai kewirausahaan ke dalam harus dapat membekali siswa sikap, pengetahuan
RPP. dan ketrampilan wirausaha untuk menghasilkan
Silabus karya yang dapat dijual, disenangi pembeli dan
Kurikulum SK Pembe-
mata dan
RPP menghasilkan pendapatan bagi pembuatnya.
Bahan lajaran
pelajaran KD Siswa
“ Pendidikan kejuruan memang mempersiapkan
ajar
aktif anak didik sebagai tenaga kerja kelas menengah yang
siap bekerja di masyarakat. Oleh karena itulah
Nilai kewirausahaa program pembelajaran yang diterapkan adalah
- Jujur evaluasi pembelajaran dengan konsep learning by doing”.
- Kreatif, inovatif, (Saroni, 2012 :129)
- Mandiri,kerjasama,
- Berani mengambil Menurut Saroni (2012: 175) Kita perlu
resiko, rasa ingin mengetahui bahwa modal dasar kegiatan kewira-
tahu, komunikatif usahaan adalah ketrampilan usaha. Oleh karena itulah
kegiatan kewirausahaan dapat dikondisikan atau
dapat dilatih sedemikian rupa sehingga anak-anak
Gambar 1 Integrasi Nilai Kewirausahaan
dalam Mata Pelajaran tranpil. Di setiap institusi pendidikan, diharapkan
dapat membimbing anak-anak untuk mempunyai
ketrampilan tertentu yang dapat dijadikan sebagai dibutuhkan beserta harganya, menentukan BEP usaha
modal dirinya”. yang akan di kelola, menentukan cara promosi dan
Hal ini sesuai pandangan Chun-Mei Chou, pemasaranya, menentukan desain produk, desain dan
dkk.( 2010, 316) ,”Pendidikan kewirausahaan adalah pengemasan produk. (2) memratikan membuat batik
pendidikan yang mengembangkan dan meningkatkan sesuai perencanaan usaha yang dibuat sebelumnya. (3)
kompetensi dasar siswa untuk memulai usaha. Tujuan memratikan membuat desain pengemasan batik. Jadi
pengajaran pendidikan entrepreneur adalah untuk tugas yang diberikan berurutan dan saling berkaitan
meningkatkan kompetensi kewirausahaan siswa dan sehingga memudahkan siswa memahami pengelolaan
semangat kewirausahaan. Lebih lanjut memupuk usaha. Praktik kewirausahaan ini diharapkan siswa
sikap mereka terhadap kerja aktif berdasarkan pada akan memiliki sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
interaksi kompetensi dalam tindakan operasi, dalam cara membuat batik, cara membuat kemasan
kompetensi dalam mengambil tindakan, kompetensi batik, cara promosi batik, dan cara pemasaran batik.
dalam mengambil tindakan terus menerus dan Sikap, pengetahuan, dan ketrampilan kewirausahaan
kompetensi dalam merangsang tindakan”. yang dimilki siswa ini akan menjadi modal untuk
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas membuat usaha baru berupa usaha batik.
pembelajaran kewirausahaan akan dapat memberikan Dengan pengalaman praktik ini siswa tidak
kompetensi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara langsung memahami dan memraktikan
apabila pembelajaran dilakukan dengan praktik atau bagaiman cara mengelola usaha. Selain itu praktik
pembelajaran learning by doing. Dengan kewirausahaan ini akan menanamkan jiwa
pembelajaran ini siswa belajar sambil bekerja. kewirausahaan dan mendorong untuk mendirikan
Pembelajran praktik kewirausahaan ini memberikan usaha baru.
kesempatan pada peserta didik untuk mempraktikan
pengelolaan usaha sehingga dapat meningkatkan Pembelajaran Kewirausahaan di Perguruan
kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan Tinggi
kewirausahaan. Untuk jenjang Perguruan Tinggi, pemerintah
Metode pembelajaran yang bisa dilakukan untuk telah menetapkan beberapa program yang bertujuan
memberikan kesempatan praktik adalah metode untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan
berbasis proyek. Tentunya untuk melaksanakan mahasiswa. program-program tersebut meliputi
pembelajaran metode berbasis proyek ini perlu Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), Program
persiapan dari guru meliputi: membuat RPP, materi, Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan
tugas yang diberikan, alat evaluasi yang digunakan (PKMK). Tujuan penyelenggaraan PMW dimaksud-
untuk menilai proses dan hasil proyek. kan untuk: (1) menumbuhkan motivasi berwirausaha
Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek di kalangan mahasiswa; (2) membangun sikap mental
oleh The George Lucas Educational Foundation wirausaha. percaya diri, sadar akan jati dirinya,
(2005), yaitu (1) pembelajaran dimulai suatu bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang
pertanyaan esensial, (2) perencanaan dilakukan menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif,
secara kolaboratif ( guru dan peserta didik), (3) guru berani mengambil risiko dengan perhitungan,
dan peserta didik menyusun jadwal aktivitas berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan,
menyelesaikan proyek, (4) melakukan monitor tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki
terhadap aktivitas peserta didik selama melakukan kemampuan empati dan keterampilan sosial; 3)
proyek, (5) melakukan penilaian terhadap hasil meningkatkan kecakapan dan keterampilan para
produk, dan (6) guru dan peserta didik melakukan mahasiswa khususnya sense of business; 4)
refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru
sudah dikerjakan. yang berpendidikan tinggi, 5) menciptakan unit bisnis
Tugas proyek yang diberikan agar siswa baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan
memiliki ketrampilan, pengetahuan, dan sikap seni; dan 6) membangun jejaring bisnis antarpelaku
kewirausahaan maka tugas yang diberikan bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan
memberikan kesempatan pada peserta didik untuk pengusaha yang sudah mapan. Sedangkan tujuan
praktik mengelola usaha. Misalnya memberi tugas PKM-K adalah merupakan program pengembangan
proyek membuat kerajinan membatik, maka tugas keterampilan mahasiswa dalam berwirausaha dan
proyek yang diberikan pada siswa meliputi: (1) berorientasi pada laba (profit). Komoditas usaha yang
membuat perencanaan usaha membatik: pada tugas dihasilkan oleh mahasiswa dapat berupa barang atau
ini peserta didik akan memartikan cara menentukan jasa yang selanjutnya merupakan salah satu modal
besarnya modal yang digunakan untuk memulai dasar mahasiswa dalam berwirausaha dan memasuki
uasah, menentukan bahan baku dan pembantu yang pasar. (Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa
tahun 2015). Kedua program tersebut bertujuan Sesuai penjelasan sebelumnya bahwa pembelajaran
menghasilkan wirausahawan baru yang dapat kewirausahaan yang dapat memberikan ketrampilan,
menghasilkan produk yang mempunyai nilai jual. pengetahuan, dan sikap wirausaha dilakukan dengan
Hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia praktik berwirausaha. Praktik berwirausaha ini
memberikan mata kuliah kewirausahaan dan didesain selama satu semester sehingga mahasiswa
dimasukan pada kurikulum sebagai mata kuliah wajib mempunyai pengalaman mendirikaan usaha.
dengan bobot 2-3 Tujuan dari mata kuliah ini adalah Langkah-langkah pembelajaran praktik kewirausa-
membakali kompetensi sikap, pengetahuan, dan haan ini dilakukkan selama satu semester dapat
ketrampilan kewirausahaan dan soft skill sehingga dijelaskan sebagai berikut: (1) dosen membentuk
mampu malakukan pengelolaan usaha atau mencetak kelompok berdasarkan minat usaha, setiap kelompok
wirausaha baru. Namun demikian pembelajaran terdiri 4-5 anggota. Pada tahap ini masing-masing
kewirausahaan di Perguruan tinggi belum sesuai yang kelompok berdiskusi untuk menentukan usaha yang
diharapkan, maka perlu pemikiran bagaimana akan di kelola dan DU/DItempat observasi. (2)
pembelajaran kewirausahaan yang mampu observasi: Observasi bertujuan untuk mengetahui
menghasilkan lulusan wirausaha. lebih jelas bagaimana melakukan pengelolaan usaha
Pembelajaran kewirausahaan di Perguruan sesuai dengan usaha yang akan dikelola. (3) praktik
Tinggi menurut Chrismadani (2015) Kurikulum yang membuat laporan observasi dan presentasi: hasil
disusun sejak semester awal sampai akhir berdasarkan observasi dianalisis untuk dibuat laporan observasi
tahapan pengembangan kewirausahaan. Tahapan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Hasil laporan
tersebut secara umum dapat dirancang sebagai berikut kemudian dipresentasikan di dalam kelas untuk
(1) Tahap penanaman mindset kewirausahaan mendapatkan masukan dan saran dari teman dan
Tahap ini dilakukan di semester awal dengan tujuan dosen. (4) praktik membuat perencanaan usaha:
untuk menumbukan jiwa kewirausahaan, mengubah laporan hasil observasi sebagai dasar membuat
pola pikir, menumbuhkan minat dan motivasi untuk perencanaan usaha. (5) presentasi Proposal di depan
berwirausaha. (2)Tahap pengalaman bisnis Pada kelas. Proposal akan mendapat masukan dari teman
tahap ini mahasiswa sudah mulai untuk dan dosen untuk perbaikan, (6) praktik kegiatan usaha
menerjemahkan konsep menjadi sebuah business plan. sesuai minatnya. Masing-masing kelompok akan
(3) Tahap start up business Tahap ini meliputi membuat produksi sesuai dengan perencanaan
implementasi dari business plan yang sudah dibuat usahanya. Peralatan dan bahan untuk praktik
pada tahap sebelumnya. (4) Tahap pengembangan disediakan sendiri oleh mahasiswa. Praktik ini selain
bisnis Pada tahap akhir ini, mahasiswa dapat memberikan sikap, pengetahuan dan ketrampilan juga
membuat tugas akhir berupa business plan untuk melatih ketrampilan mengelola sumber-sumber daya
pengembangan bisnis yang sudah dimulainya. proses produksi. (7) Pemasaran produk, mahasiswa
Sementara (Kasih: 3013) Keberhasilan pendidikan diwajibkan memasarkan produk yang dihasilkan (8)
atau pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi Membuat laporan pemasaran. Mahasiswa diwajibkan
juga sangat tergantung pada kurikulum yang untuk membuat laporan perkembangan pemasaran
digunakan. Bila kurikulum kewirausahaan yang produknya selama 1 bulan. Kegiatan ini sangat
disusun sudah tepat dan sesuai dengan tujuan menentukan keberlanjutan usaha yang dikelola.
pendidikan kewirausahaan yang ingin dicapai maka Semakin luas pemasaran produknya semakin ada
dapat dikatakan pendidikan kewirausahaan itu peluang pasar. Produk yang memperoleh peluang
berhasil. pasar ini akan bisa dilanjutkan menjadi usaha mandiri
Berdasarkan penjelasan dapat dimpulkan mahasiswa.
pembelajaran kewirausahaan di Perguruan Tinggi Pembelajaran praktik kewirausahaan yang
direncanakan secara matang dimulai dari perencanaan diterapkan selama satu semester dengan pertemuan 16
capaian pembelajaran yang dituangkan dalam kali tatap muka 1 kali tatap muka (3sks), 1 sks sama
kurikulum. Karena capaian pembelajaran pada dengan 170 menit
kurikulum perguruan tinggi merupakan hasil akhir
yang diharapkan dari pembelajaran mata kuliah
kewirausahaan. Capaian pembelajaran kewirausahaan
di Perguruan tinnggi adalah membekali mahasiswa
pengetahuan kewirausahaan, ketrampilan kewirausa-
haan, sikap kewirausahaan, dan soft skill sehingga
mampu mengelola usaha secara mandiri. Dengan
demikian pembelajaran kewirausahaan diharapkan
dapat menghasilkan wirausaha baru.
Tabel 1 Dasar pembelajaran kewirausahaan dilakukan dengan
Jadwal Kegiatan Praktik Kewirausahaan 1 semester mengitegrasi nilai-nilai kewirausahaan pada semua
mata pelajaran, estrakurikuler, dan muatan lokal.
No Kegiatan Praktik Waktu Hasil Pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan bertujuan
untuk menanamkan dan menbudayakan nilai-nilai
1 Kotrak kuliah dan 2 kewirausahaan pada siswa sehingga dapat diterapkan
penjelasan mata kuliah pertemuan
praktik kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kewirausahaan
2 Observasi pengelolaan 2 Observasi yang perlu diberikan pada siswa adalah: jujur,
usaha sesuai yang diminati pertemuan kerjasama, rasa ingin tahu, komunikatif, kerja keras,
di lingkungan tempat kreatif dan inovatif, kepemimpinan, dan berani
tinggal (secara kelompok)
mengambil resiko.
3 Presentasi hasil laporan 3 Presentasi
pertemuan Laporan Pada tingkat sekolah menengah pembelajaran
observasi kewirausahaan bertujuan untuk membekali siswa
4 Membuat proposal usaha 3 Presentasi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan kewirausahaan
yang diminati (secara pertemuan Laporan sehingga mempunyai kecakapan hidup untuk
kelompok) proposal usaha
melakukan usaha mandiri. Pembelajaran yang bisa
5 Praktik pengelolaan usaha 3 Produk barang
yang diminati sampai pertemuan /jasa membentuk wirausaha baru dapat dilakukan melalui
menghasilkan produk pembelajaran praktik pengelolaan usaha. Salah satu
6 Praktik Memasarakan 3 Presentasi metode yang bisa dipilih adalah metode berbasis
produk yang dihasilkan pertemuan Laporan Hasil proyek. Tugas proyek yang diberikan membuat
pemasaran
produk
produk : mulai dari perencanaan usahak, mendesain
Jumlah 16 produk, mendesain kemasan Produk, menentukan
pertemuan promosi dan pemasar produk. Pelaksanaan proyek ini
Sumber : penulis akan menjadi pengalaman siswa dan meningkatkan
ketrampilan serta pengetahuan pengelolaan usaha,
Jadwal kegiatan pelaksanaan praktik pada tabel1 yang selanjutnya dapat memberikan motivasi untuk
menunjukkan bahwa : pada pertemuan 1-2 guru mendirikan usaha.
melakukan kontrak kuliah, menjelaskan langkah- Pembelajaran kewirausahaan pada perguruan
langkah pembelajaran, tugas yang akan diberikan, tinggi mempunyai tujuan untuk mencetak wirausaha
memberikan gmbaran tugas, dan membentuk baru. Pembelajaran kewirausahaan sebagai mata
kelompok. Pada pertemuan 3-4 mahasiswa sesuai kuliah wajib didesain pada kurikulum melalui capaian
kelompoknya ditugasi melakukan observasi pada pembelajaran mata kuliah. Pembelajaran kewirausaha
usaha yang diminati dan mewajibkan untuk dapat dilakukan dengan pembelajaran praktik
melaporakan hasil obseravasi, Pertemuan 5-7 kewirausahaan yang didesain selama satu semester.
mahasiswa secara kelompok presentasi hasil Praktik kewirausahaan yang dilakukan: praktik
observasi. Pertemuan 8-10 secara kelompok membuat perencanaan usaha, praktik membuat
mahasiswa membuat proposal perencanaan usaha dan produk berdasarkan perencanaan usaha, praktik
presentasi proposal, pertemuan 11-13 membuat mengemas produk, praktik memasarkan produk.
produk sesuai proposal perencanaan usaha, peretmuan Praktik pengelolan usaha ini diharapkan dapat
14-16 melakukan pemasaran produk dan melaporkan dilanjutkan menjadi usaha baru bagi mahasiswa.
hasil pemasaran produknya dengan presentasi,
DAFTAR PUSTAKA
KESIMPULAN Afandi, Rifki. 2013.Penanaman Jiwa Kewirausahaan
UMKM terbukti mempunyai peran dalam Pada Siswa Sekolah Dasar Jurnal Pemikiran
pertumbuhan ekonomi antara lain menyerap tenaga dan Pengembangan SD, Jilid 1, Nomor 2,
kerja, mengurangi penggaguran dan kemiskinan, September 2013.
memberikan kontribusi sebagian besar pendapatan Chun-Mei Chou, dkk. 2010. National Yunlin
nasional, menghemat devisa pada produk ekspor. University of Science and Technology, Yunlin,
Untuk mengatasi kelemahan karakterik dari UMKM, Taiwan,A study on constructing entrepreneurial
maka salah satunya melalui pembelajaran competence indicators for business department
kewirausahaan mulai tingkat dasar, menengah, dan students of vocational and technical colleges in
perguruan tinggi. Taiwan, World Transactions on Engineering
Pembelajaran kewirausahaan dimasing-masing and Technology Education (WIETE) Vol.8,
tingkas sekolah berbeda karena menyesuaikan dengan No.3, 2010, diakses 12 Oktober 2012
tingkat kemampuan siswa. Pada tingkat Sekolah
Elfindri, Desri Ayunda, dan Wiko Saputra. /Madrasah Aliyah (MA) www.yandriana.
2010, ”Minang Entrepreneurship”, Jakarta :Buduose wordpress.com. Diakses 12 Desember
Media
Kuswara, Heri. 2012 ,“Strategi Perguruan Tinggi
Mewujudkan Entrepreneurial Campus“,
http://www.dikti.go.id, diakses pada 21/12/
2012.
Kasih,Yulizar.2013. Mewujudkan Pendidikan Kewira-
usahaan Di Perguruan Tinggi Melalui Proses
Pembelajaran Yang Berkelanjutan. Vol. 2 No.
2 Maret 2013
Kompas. Kementrian Perindustrian Republik
Indonesia. Kontribusi UMKM naik http:// www.
kemenperin.go.id/artikel/14200/Kontribusi-
UMKM-Naik . diakses 28 Nop 2016
Koran Tempo. Kementrian Perindustrian Republik
Indonesia Pertumbuhan Ekonomi Dorong Ekspansi
UKM http://www.Kemenperin. go.id/art
kel/5774/Pertumbuhan-Ekonomi-Dorong Ekspansi -
UKM. Diakses 28 Nop 2016
Mentri PPN/Bappenas. Direktorat Pemberdayaan
Koperasi Dan Ukm Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Bappenas. Memba -
ngun Budaya Kewirausahaan. Jakarta: Warta
KUMKM. Vol 1 No 2 – 2013 ISSN 2338-3747.
Mulyani, Endang. (Staf Pengajar FE Universitas
Negeri Yogyakarta) 2011. Model Pendidikan
Kewirausahaan Di Pendidikan Dasar Dan
Menengah Jurnal Ekonomi & Pendidikan,
Volume 8 Nomor 1, April 2011
Rijianto, Erwin. Dan Sarwono, Hartadi. 2015.Profil
Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Jakarta: Kerjasama LPPI dengan Bank Indonesia.
Suryaman. (2012). “Pendidikan Fun-Eco-Preneur di
Sekolah Menengah Atas” Jurnal Enterpreneur
dan Enterpreneurship, Vol.1, No.1.
Sudrajad, Akhmad. 2011.Konsep Kewirausahaan dan
Pendidikan Kewirausahaan. https: // akhmad
sudrajat .wordpress.com/2011/06/29/konsep-
kewirausahaan-dan-pendidikan-kewirausahaan.
di Akses 29 Nopem- ber 2016
Saroni, Muhammad. 2011. Mendidik dan Melatih
Entrepreneur Muda Membuka Kesadaran Atas
Pentingnya Kewirausahaan Bagi Anak Didik.
Jogjakarata: Ar-Ruzz Media
The George Lucas Educational Foundation
(2005).Instructional Module Project Based
Learning (Online) http://www.edutopia.org
/modules/PBL/whatpbl .php, di akses 20 0ktober
2012
Yandriana. 2013. Pengantar Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Prakarya dan
Kewirausahaan Untuk Sekolah Menengah Atas
(SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)