Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA KAYU

PENAMPILAN KAYU

Dosen : Fathul Yurso, S.Hut, M.Si, Ph.D

DI SUSUN OLEH :
Nama : Sri Hayani Natalia Manurung (G1011191364)
NIM : G1011191364
Kelas : D

FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya saya dapat
menyelesaikan laporan Fisika Kayu yang berjudul Penampilan kayu ini dengan tepat waktu.
Adapun tujuan dari laporan praktikum ini adalah untuk memenuhi tugas pada bidang studi fisika
kayu, selain itu laporan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang penampilan kayu
bagi para pembaca dan saya.
Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu yang telah membimbing dan memberi materi kepada
saya. Saya menyadari laporan yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
sebuah kritikan dan saran yang dapat membangun akan saya terima dan memperbaiki laporan
saya ini.

Pontianak,1 September 2020

Sri Hayani Natalia Manurung


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kayu adalah gabungan biopolymer tiga dimensi yang saling berhubungan. Kayu juga
diartikan sebagai bahan biologis yang kompleks atau sebuah materi yang dapat digunakan
oleh manusia. Kayu merupakan hasil metabolisme suatu organisme yang hidup, yang terdiri
dari zat yang sangat kompleks baik dari susunan fisika maupun susunan kimianya, kayu juga
memiliki variable yang sifat dasarnya sukar dikendalikan. Kayu ialah salah satu hasil hutan
yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi di masa
modern ini. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.
Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan
tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab
dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam
penggunaan yang memungkinkan
Sifat fisik kayu merupakan bagian yang dimiliki oleh kayu tertentu dimana kayu tersebut
menunjukkan suatu kondisi khusus dari struktur dan anatomi kayu itu sendiri. Sifat fisik kayu
itu sendiri dapat menunjukkan seberapa besar kekuatan dari kayu tersebut, karena dari sifat
fisik kayu ini juga dapat kita ketahui keadaan kayu seperti : berat kayu, kekerasan kayu,
tekstur, arah serat, higroskopis, kesan raba, bau dan rasa, nilai dekoratif, warna, keawetan
alami, dan berat jenis.
Sifat fisika kayu adalah sifat-sifat asli dari kayu (wood inheren factors) yang dapat berubah-
ubah karena adanya pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban udara). Pemilihan dan
penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat
kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan
tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang
memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu
lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.
Pengenalan atas sifat-sifat fisik kayu akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis
kayu untuk tujuan pengunaan tertentu.
Secara umum kayu diklasifikasikan menjadi dua kelas yaitu, kayu daun lebar dan kayu daun
jarum. Kayu daun lebar mempunyai struktur lebih lengkap daripada kayu daun jarum,
memiliki pori-pori atau sel-sel pembuluh. Sedangkan kayu daun jarum tidak memiliki pori-
pori melainkan sel trakeida, yaitu sel yang berbentuk panjang dengan ujung-ujung yang kecil
sampai meruncing. Sel-sel ini merupakan jaringan dasar kayu daun jarum dan merupakan
bagian terbesar dari volume kayu. Kayu daun jarum mempunyai struktur yang lebih
sederhana dibandingkan kayu daun lebar. Pada kayu daun jarum, jumlah dan jenis selnya
lebih sedikit dan kombinasi bentuk-bentuk jaringannya juga lebih sederhana.
Kayu adalah bagian keras tanaman yang digolongkan kepada pohon dan semak belukar.
Bidang orientasi kayu adalah bidang pembantu yang diperlukan dalam pengenalan kayu
sehingga diperoleh kesan yang sebenarnya dari sifat-sifat atau tanda-tanda yang diperlukan
untuk pengenalan. Untuk memperoleh bidang-bidang orientasi yang tepat perlu diperhatikan
hal-hal berikut :
- Sumbu vertikal atau aksial batang yaitu sumbu batang yang dibuat melalui empulur batang.
- Bidang potongan lintang adalah bidang yang dihasilkan apabila batang kayu dipotong tegak
lurus pada sumbu vertikal batang.
- Bidang potongan radial adalah bidang yang dihasilkan apabila batang kayu dibelah menurut
garis sumbu vertikal batang, sehingga sumbu aksial batang tersebut seluruhnya berada di
dalam bidang potongan tersebut.
Metode pengenalan kayu secara praktis adalah suatu metode pengenalan kayu berdasarkan
kepada sifat-sifat struktur anatominya. Struktur anatomi suatu jenis kayu adalah merupakan
sifat yang objektif, yang secara konstan terdapat di dalam kayu. Sifat-sifat objektif kayu yang
sudah jelas dilihat dan diamati hanya dengan mata telanjang atau dibantu dengan lup
( biasanya mempunyai pembesaran 10 kali ), disebut sifat makroskopis kayu.
Sifat makroskopis jika diperhatikan lebih jauh dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
a. Sifat makroskopis non-struktural : sifat-sifat yang tidak ada atau sedikit
sekalihubungannya dengan struktur dan jaringan kayu.
b. Sifat makroskopis struktural : sifat-sifat yang langsung berhubungan dengan struktur
dan jaringan kayunya.
Sedangkan yang dimaksud sifat higroskopis kayu adalah kemampuan kayu untuk menghisap
atau mengeluarkan air, yang tergantung pada kelembapan udara disekelilingnya. Sehingga
banyaknya air di dalam kayu selalu berubah-ubah menurut keadaan sekelilingnya. Berat jenis
kayu merupakan rasio antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada suhu 4 derajat celsius
( rasio antara berat kayu pada volume tertentu dengan berat air pada suhu 4 derajat celsius
pada volume yang sama dengan kayu yang bersangkutan ).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berat kayu adalah :
· Kerapatan struktur dasar kayu
· Kadar air
· Mineral dan zat ekstraktif ( jenis-jenis tertentu )

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui arah potong serat
2. Mahasiswa dapat mengetahui serat kayu
3. Mahasiswa dapat mengetahui warna kayu
4. Mahasiswa dapat mengetahui gubal/teras kayu
5. Mahasiswa dapat mengetahui kilap kayu
6. Mahasiswa dapat mengetahui mata kayu
7. Mahasiswa dapat mengetahui saluran damar
8. Mahasiswa dapat mengetahui cacat kayu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kayu merupakan bahan yang memiliki sel. Kayu merupakan bahan yang cukup komplek karena
sifatnya yang ndustry ic. Anisotropik adalah struktur dan sifat-sifat bahan (kayu) berbeda dalam
arah yang berlainan (radial, tangensial dan longitudinal) (Bakri, 2008).

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber daya alam yang merupakan bahan mentah yang mudah
diproses menjadi barang atau bentuk lain yang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu berasal
dari berbagai pohon yang memiliki sifat berbeda-beda. Bahkan dari pohon memiliki sifat agak
berbeda. Sifat yang dimaksud antara lain sifat fisika dan mekanika kayu. Dalam hubungannya
maka ada perlunya jika sifat-sifat kayu itu diketahui lebih dulu, sebelum dipergunakan berbagai
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373 Volume 3, Nomor 2 Hal: 73-79 Desember 2015 74 bahan
bangunan ndustry kayu, maupun untuk pembuatan perabotan (Purwaningsih, 2014). Pemanfaatan
jenis kayu sampai saat ini masih sangat terbatas, sedangkan ribuan jenis lainnya belum
dimanfaatkan dengan baik. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa jenis-jenis kayu
yang tergolong lesser known species memiliki sifat-sifat yang sangat baik digunakan sebagai
bahan baku ndustry pengolahan kayu. Kayu kemiri merupakan salah satu lesser known species
(Risnasari dkk, 2012). Di Indonesia, kekuatan kayu diklasifikasikan dalam lima kelas yaitu sangat
lemah (kelas kuat V) sampai sangat kuat (kelas kuat I) Demikian juga dengan serat kayu untuk
bahan baku pembuatan pulp kertas diklasifikasikan dalam empat kelas kualitas yaitu sangat jelek
(kelas kualitas IV) sampai sangat baik (kelas kualitas I). Kecenderungan pemakaian kayu akan
terus meningkat, baik untuk keperluan bahan bangunan maupun ndustry. Hal ini perlu diimbangi
dengan pengetahuan jenis kayu dan sifatnya agar kayu tersebut dapat digunakan secara efektif dan
efisien (Lempang, 2014)

Pada setiap jenis kayu atau bahkan pada jenis yang sama jelas memiliki sifat baik fisis,mekanis,
anatomi maupun kimia yang berbeda-beda. Sifat fisis yang meliputi kerapatan, kadar air, berat
jenis, dan perubahan dimensi kayu merupakan salah satu sifat kayu yang penting karena dapat
dijadikan sebagai parameter kualitas kayu serta dapat memprediksi sifat-sifat kayu lainnya seperti
kekuatan kayu dan pengeringan sehingga pemanfaatan kayu dapat dilakukan secara optimal
(Siarudin dan Marsoem, 2007)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu


A. Tempat
Sampel kayu diambil di hutan dan yang ada dirumah
B. Waktu
Sampel kayu yang diambil di hutan pada Jumat tanggal 28 Agustus 2020

3.2 Alat dan Bahan


A. Alat:
1. Handphone
2. Gergaji
3. Alat tulis
B. Bahan:
1. Kayu jonger
2. Kayu durian
3. Kayu rambutan
4. Kayu leban
5. Kayu pelaik

3.3 Langkah Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Selanjutnya membuat memotong kayu
3. Amati sampel kayu.
4. Catat penampilan kayu tersebut yang terlihat seperti arah potongan, serat, saluran damar,
warna kayu, kilap kayu, mata kayu, cacat kayu jika ada.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1. Kayu Jonger (Ploiarium alternifolium)

Arah potongan : potongan perempatan


1. Serat : lurus
2. Warna kayu : putih kemerah-merahan
3. Dominan : kayu gubal
4. Kilap kayu : mengkilap
5. Mata kayu : ada
6. Saluran damar : tidak ada
7. Cacat kayu : tidak rapi dan tergores
8. Tekstur :agak kasar

2. Kayu durian (Durio zibethinus)


Arah potongan : potongan perempatan
1. Serat :lurus
2. Warna kayu :putih
3. Dominan : kayu gubal
4. Kilap kayu : mengkilap
5. Mata kayu : tidak ada
6. Saluran damar: tidak ada
7. Cacat kayu : kurang rapi
8. Tekstur : agak kasar

3. Kayu Rambutan (Nephelium lappaceum)


Arah potongan : potongan perempat
1. Serat : lurus
2. Warna kayu :coklat
3. Dominan : kayu gubal
4. Kilap kayu :tidak mengkilap
5. Mata kayu : tidak ada
6. Saluran damar : tidak ada
7. Cacat kayu : tidak ada
8. Tekstur :agak kasar

4. Kayu leban (Vitex pinnata L)


Arah potongan : potongan perempatan
1. Serat : lurus
2. Warna kayu :kuning keemasan
3. Dominan : kayu gubal
4. Kilap kayu : agak mengkilap
5. Mata kayu : tidak ada
6. Saluran damar : tidak ada
7. Cacat kayu :tidak ada
8. Tekstur : agak kasar

5. Kayu pulai (Alstonia scholaris)


Arah potongan : potongan perempatan
1. Serat : lurus
2. Warna kayu :putih kemerahan
3. Dominan : kayu gubal
4. Kilap kayu : agak mengkilap
5. Mata kayu : tidak ada
6. Saluran damar : ada
7. Cacat kayu : tidak ada
8. Tekstur : agak kasar

4.2 Pembahasan
Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan (kayu gergajian, moulding, dan
sebagainya) masih mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar yang
mudah dilihat. Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis) memiliki gambar lingkaran
tumbuh yang jelas). Namun apabila kayu tersebut diamati dalam bentuk barang jadi
dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi karena sudah dilapisi dengan cat,
maka satu-satunya cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan jenisnya adalah
dengan cara memeriksa sifat anatomi/strukturnya. Demikian juga untuk kebanyakan
kayu di Indonesia, dimana antar jenis kayu sukar untuk dibedakan, cara yang lebih lazim
dipakai dalam penentuan jenis kayu adalah dengan memeriksa sifat anatominya (sifat
struktur).
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk
mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat makroskopis) dan sifat
struktur (disebut juga sifat mikroskopis). Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis
lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau makroskopis dalam mengenal atau
menentukan suatu jenis kayu. Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat
dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini dapat dipergunakan secara bersama-sama,
karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur dalam menentukan jenis.
Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui
panca indera, baik dengan penglihatan, penciuman, perabaan dan sebagainya tanpa
menggunakan alat bantu. Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain
adalah :
1. warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
2. tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
3. arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
4. gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
5. berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
6. kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
7. lingkaran tumbuh,
8. bau, dan sebagainya.
Warna kayu harus ditetapkan dengan hati-hati. Warna potongan-potongan kayu dari jenis
yang sama dapat berbeda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan letaknya dalam
batang, perbedaan umur pohon, kadar air dan lama penyimpanan sesudah pohonnya
ditebang dan kayunya digergaji. Kayu pohon muda biasanya lebih pucat daripada kayu
yang berasal dari pohon yang sudah tua. Kayu yang basah biasanya lebih gelap daripada
kayu yang kering. Kayu yang sudah lama disimpan dapat lebih pucat, tetapi umumnya
berwarna lebih gelap dari kayu yang masih segar. Warna kayu dapat pula berubah oleh
serangan jamur. Jenis-jenis kayu yang berwarna putih biasanya mudah diserang jamur
pewarna pada waktu kayu masih segar dan berubah menjadi biru atau hitam. Warna
demikian bukan warna asli dari kayu dan tidak dapat dipakai dalam penetapan warna
kayu. Faktor lain yang dapat mengubah warna kayu adalah pengeringan dalam tanur.
Suhu yang tinggi dapat melelehkan damar atau getah yang ada dalam kayu, sehingga
menimbulkan noda di permukaan. Dari semua sampel kayu yang digunakan, kayu Ulin
memiliki warna yang paling gelap. Sedangkan warna yang paling terang yaitu kayu
Sungkai. Pada bidang radial kayu Ulin tampak samar-samar berselang-seling jalur-jalur
warna gelap dan agak terang.
Istilah tekstur kayu berhubungan dengan kualitas permukaan yang ditentukan oleh ukuran
relatif sel-sel penyusun. Tekstur suatu jenis kayu dikatakan halus jika sel-selnya,
terutama pembuluh dan jari-jari, berukuran kecil-kecil. Sebaliknya dikatakan kasar jika
sel-selnya berukuran relatif besar. Tekstur dinilai pula dari tingkat kerataannya. Tekstur
dikatakan tidak rata jika halus di tempat-tempat tertentu dan kasar di tempat lain pada
permukaan yang sama.
Mata kayu atau knot merupakan bagian kayu yang menjadi awal percabangan atau
kuncup yang dorman. Terdapatnya mata kayu pada sebuah pohon memengaruhi kualitas
kayu, baik positif maupun negatif. Kayu yang memiliki mata kayu, tidak cocok untuk
konstruksi karena kekuatan kayu akan menuurun. Namun dari sudut pandang seni, mata
kayu dapat meningkatkan nilai seni. Mata kayu dapat dibedakan sebagai berikut :
- Mata kayu sehat : mata kayu yang tidak busuk, berpenampang keras, tumbuh kukuh dan
rapat pada kayu, berwarna sama atau lebih gelap dibandingkan dengan kayu sekitarnya.
- Mata keyu lepas : mata kayu yang tidak tumbuh rapat pada kayu, biasanya pada proses
pengerjaan, mata kayu ini akan lepas dan tidak ada gejala busuk.
- Mata kayu busuk : mata kayu yang menunjukkan tanda-tanda pembusukan dan bagian-
bagian kayunya lunak atau lapuk, berlainan dengan bagian-bagian kayu sekitarnya.
Pengaruh mata kayu yaitu:
- Mengurangi sifat kekuatan kayu.
- Menyulitkan pengerjaan karena kerasnya penampang mata kayu (mata kayu sehat).
- Mengurangi keindahan permukaan kayu.
- Menyebabkan lubangnya lembaran-lembaran finir.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan yang saya amati saya dapat menyimpulkan bahwa dalam
tiap-tiap jenis kayu itu berbeda-beda.contohnya dari segi warna
kayu,tekstur,mata kayu,cacat kayu,serat kayu,dominan kayu itu berbeda-
beda di tiap-tiap jenis kayu yang saya amati.
TINJAUAN PUSTAKA
1. http://icuk-sugiarto.blogspot.com/2016/08/laporan-lengkap-sifat-fisika-kayu.html
2. http://sylvesterunila.blogspot.com/2011/06/sifat-makroskopis-kayu-laporan.html

Anda mungkin juga menyukai