Anda di halaman 1dari 6

Nama : MORIS AL-FAYED

NIM : G1011191133
Kelas :G
Mata Kuliah : Kimia Kayu
Hari / Tanggal : Kamis, 18 Juni 2020

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

SOAL :

1. Zat ekstraktif adalah komponen bukan struktural dari kayu dengan jumlah 3% - 8% dari
berat kayu kering tanur. Zat ekstraktif larut dalam air dan senyawa organik. Jelaskan
fungsi dari zat ekstraktif.
2. Sebagian besar zat ekstraktif terdapat di sel parenkim dan atau di saluran resin. Jelaskan
perbedaan zat ekstraktif pada kayu daun lebar dan pada kayu daun jarum.
3. Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau
sedikit oksigen sehingga material akan memgalami pemecahan struktur kimia menjadi
fase gas. Jelaskan produk pirolisis dan penggunaannya.
4. Pelapukan merupakan proses alami yang menghancurkan kayu. Menurut proses
terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi tiga. Jelaskan tiga proses pelapukan
tersebut.
5. Tanin adalah salah satu zat ekstraktif kayu yang terdapat pada kayu daun lebar dan kayu
daun jarum. Jelaskan dua golongan tanin dan kegunaan dari masing-masing kelompok
tanin tersebut.

JAWABAN :

1. X
2.
 Zat ekstraktif kayu daun jarum
- Terpena dan terpenoid
- Lemak, lilin dan komponennya
- Senyawa fenolat
 Zat ekstraktif kayu daun lebar
- Terpena dan terpenoid
- Lemak, lilin dan komponennya
- Fenol, lignan dan kuinon
- Tanin dan flavonoid
3. Pirolisis dari limbah domestik (sampah kota) menghasilkan : 35% produk arang dan
kadar abu hingga 37%.
Pirolisis dengan laju pemanasan yang lambat terhadap limbah ban akan menghasilkan:
arang hingga 50% dan kadar abu sekitar 10%.
Pemanfaatan arang :
 Digunakan langsung sebagai bahan bakar
 Dipadatkan menjadi briket bahan bakar
 Digunakan sebagai bahan adsorpsi spt karbon aktif
 Dihancurkan dan dicampur dengan produk minyak priolisis menghasilkan lumpur
(slurry) untuk pembakaran
 Nilai kalori arang relatif tinggi:
 Arang dari sampah kota sekitar 19 mj/kg,
 Arang dari ban sekitar 29 kj/kg
 Arang limbah kayu sekitar 33 mj/kg
 Nilai kalori batu bara 30 mj/kg.
 Arang dari limbah dapat digunakan sebagai bahan bakar kelas menengah.
 Produk minyak dari pirolisis limbah dapat digunakan dalam sistem pembangkitan
listrik secarakonvensional, seperti mesin diesel dan turbin gas.
 Nilai kalor minyak dari pirolisis:
 25 mj/kg untuk minyak dari limbah domestik (sampah)
 42 mj/kg untuk minyak dari limbah ban

Gas yang dihasilkan dari proses pirolisis terhadap sampah atau biomassa didominasi
oleh karbondioksida, karbon mono oksida, hidrogen, methan, dan sebagian kecil gas
hidrokarbon lainnya.
Tingginya konsentrasi gas karbon dioksida dan karbonmono oksida berasal dari
struktur oksigen yang ada dalam bahan aslinya, antara lain sellulosa,hemisellulosa,
dan lignin.

Pirolisis dari limbah ban dan campuran plastik akan menghasilkan konsentrasi yang
lebih tinggi untuk gas hidrogen, methan, dan gas hidrokarbon lainnya karena materi
limbah mempunyai senyawa karbon danhidrogen yg tinggi dan senyawa oksigen yg
lebih kecil.

 Nilai kalor gas hasil pirolisis :


 Gas pirolisis sampah 18 mj/m3
 gas pirolisis limbah kayu 16 mj/m3
 Penggunaan pirolisis dalam bidang kimia :

 Arang diperoleh dengan pemanasan pada kayu hingga terjadi proses pirolisis secara
sempurna (karbonisasi), hingga menjadi karbon dan abu anorganik. Panas yang
dihasilkan dari proses pembakaran kayu dan bahan volatile tersebut memiliki hasil
samping proses pirolisa pada tumpukan tersebut

 Biochar merupakan residu padat dari hasil pirolisa berbagai macam material terutama
limbah organik.biochar meningkatkan tekstur tanah dan ekologi,menaikkan kemampuan
untuk menyuburkan tanah

 Coke (ampas batu bara): pirolisis digunakan dalam skala besar untuk mengubah arang
menjadi kokas dalam metalurgi khususnya dalampembuatan baja. Pembuatan kokas ini
dilakukan dengan pemanasan material pada tangki tertutup dengan temperature sangat
tinggi (2000oc atau 3600of) sehingga molekul-molekul tersebut akan pecah menjadi
substansi volatile yang lebih ringan dan meninggalkan tangki dan pori sehingga hanya
meninggalkan karbon dan abu anorganik

 Serat karbon: sering diproduksi dengan cara menenun dan memintal sesuai dengan serat
polimer yang diinginkan

 Pirolitik karbon : pirolisis adalah reaksi yang digunakan untuk melapisi substrat
performed dengan menggunakan lapisan pirolitik karbon. Proses ini biasanya dilakukan
dalam reactor fluidized bed dengan pemanasan 1000-2000oc. Pirolitik karbon digunakan
dalam berbagai aplikasi salah satunya sebagai pelapis katup jantung buatan

 Biofuel : pirolisis adalah metode dasar yang sedang dikembangkan untuk memproduksi
bahan bakaralternative biomassa, yang dapat bersumber dari tanaman atau limbah
biologis industri. Efisiensi yang tinggi akan dihasilkan pada pirolisis yang disebut
flashpirolisis yaitu proses yang dilakukan dengan pemanasan antara 350-500oc selama
kurang dari 2 detik

 Pembuangan limbah plastik : pirolisis anhidrat juga dapat digunakan untuk memproduksi
bahan bakar cair mirip dengan diesel yang terbuat dari limbah plastik

4. A. Pelapukan fisik mekanik


Pada proses ini batuan/kayu akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun
ukurannya.
Kayu yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus.
Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara
mekanik.
- Contoh pelapukan oleh kekuatan angin
 Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklimkontinental atau di daerah
gurun yang temperatur pada siang hari dapat mencapai 50oc. Pada siang hari
bersuhu tinggi atau panas. Kayu menjadi mengembang, pada malam hari nsaat
udara menjadi dingin, kayu mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus
Dapat mengakibatkan kayu pecah atau retak-retak.
2. Terjadinya pembekuan air di dalam kayu
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini
menimbulkan tekanan, karena tekanan ini kayu menjadi rusak atau pecah pecah.
Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
3. Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan
garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali dan dapat merusak kayu
pegunungan di sekitarnya, terutama pohon di daerah pantai.
B. Pelapukan organik
 - penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia,
binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
- pohon di daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang
yang disebut marine borer.
- pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik
atau kimiawi.
- pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam
tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa
zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam
makanan. Zat asam ini merusak pohon sehingga garam-garaman mudah diserap
oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan
pohon, pembangunan maupun penambangan.
C. Pelapukan kimiawi
 Pada pelapukan ini kayu mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa
pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (karst).
 Pelapukan ini berlangsung dengan bantuan air dan suhu yang tinggi.
 Air yang banyak mengandung co2 (zat asam arang) dapat dengan mudah
melarutkan batu kapur (caco2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat
menimbulkan gejala karst. Di indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah
pelapukan kimiawi. Hal ini karena di indonesia banyak turun hujan. Air hujan
inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.
5.
 Tanin terhidrolisis (hydrolysable tannin)
- ester dari asam galat atau asam fenol karbonat lainnya yang merupakan turunan
dari asam galat dengan alkohol multivalen atau gula yang dapat dipecah menjadi
unit bermolekular rendah oleh enzim yang terhidrolisis atau oleh asam.
- karena kereaktifannya yang rendah terhadap formaldehide maka tanin
terhidrolisis menjadi tidak penting pada produksi perekat
 Tanin terkondensasi (condensed tanin)
- produk oligomer atau polimer yang terkondensasi yang terdiri dari
polyhydroxyflavan-3-ols (cathecols,i) dan polyhydroxyflavan-3,4-diols
(leucoanthocyanidin,ii)
- tanin terkondensasi mempunyai potensi sebagai bahan perekat