Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PARIWISATA (LAUT) PADA PASIEN


DENGAN DROWNING

Oleh:

OLEH :
KELOMPOK 2
TINGKAT 3.2

NI WAYAN ALFANI GIAN PURNAMA N (P07120018048)


NI KADEK AYU DIAH PARAMITA (P07120018049)
IDA AYU MADE MAS MELIYANA (P07120018050)
NI KOMANG AYU MARINI PERMATA C (P07120018051)
NI LUH PUTRI KRISTINA MELLANI (P07120018052)
AYU BINTANG PRABAYONI (P07120018053)
NI PUTU DINA JULIANTARI (P07120018054)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PARIWISATA (LAUT) PADA PASIEN
DENGAN DROWNING

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Drowning didefiniskikan sebagai sebuah gangguan pernafasan yang
diakibatkan terendam dalam cairan. Istilah drowning dan near drowning
sering digunakan untuk membedakan antara individu yang meninggal
kurang dari 24 jam setelah insiden drowning dan individu yang hidup 24
jam atau lebih setelah kejadian (istilah “near drowning”). Proses drowning
dimulai ketika jalan nafas pasien diisi dengan cairan, biasanya air, yang
jika proses ini terus berlanjut mungkin atau juga bisa tidak menimbulkan
kematian (Putra, 2014)

2. Penyebab/Faktor Predisposisi
a) Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan
b) Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
c) Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang
d) Kurangnya pengawasan oarng tua terhadap anak.
e) Kurangnya keamanan peralatan saat renang.
3. Pohon Masalah

4. Klasifikasi
Klasifikasi drowning adalah :

a. Dry Drowning
Dry drowning terjadi tanpa aspirasi cairan. Obstruksi
saluran napas yang lama terjadi sekunder akibat spasme laring.
Ketika tingkat kesadaran menurun, penutupan glotis akan terjadi
sehingga timbul asfiksia, refles vagal, cardiac arrest, atau kolaps
sirkulasi.
b. Wet Drowning
Wet drowning merupakan apirasi cairan yang dipicu oleh
spasme laring dan menyebabkan kehilangan kesadaran yang diikuti
dengan relaksasi glotis, sehingga korban menghirup cairan dan
tidak dapat bernapas. Sering kali wet drowning terjadi dengan
perlawanan korban yang keras (meronta-ronta saat tenggelam),
korban akan menghembuskan udara dalam parunya keluar,
sehingga mempercepat aspirasi air. Pada kasus wet drowning ada
tiga penyebab kematian yang terjadi, tyaitu akibat asfiksia, fibrilasi
ventrikel pada kasus tenggelam di air tawar, dan edema paru paa
kasus tenggelam di air asin.

c. Sindrom tenggelam (immersion syndrome)


kematian mendadak akibat aritmia ventrikel atau asistol
yang disebabkan oleh air dingin. Korban kecelakaan tenggelam
dengan awitan yang cepat ini jarang dapat diresusitasi dengan
berhasil dan diselamatkan; sebagian besar korbannya akan
meninggal terbenam. Penyebab sindrom ini adalah mekanisme
refleks (refleks menyelam) yang terjadi pada saat wajah tercelup ke
dalam air dingin sehingga terjadi apnea, bradikardia dan
vasokonstriksi perifer yang intensif. Pada umumnya alcohol dan
makan terlalu banyak merupakan factor pencetus kejadian ini.

d. Secondary Drowning
Terjadi beberapa hari setelah korban tenggelam
diangkut dari air. Korban meninggal karena komplikasi yang
diakibatkan tenggelam seperti asppirasi, pneumonia, dan
ketidakseimbangan elektrolit

5. Gejala Klinis
Tanda dan gejala yang sering muncul ialah tanda dan gejala sistem
kardiorespiratori dan neurologi. Distres respiratori awalnya tidak
terlihat, hanya terlihat adanya perpanjangan nilai RR tanpa hipoksemia.
Pasien yang lebih parah biasanya menunjukkan tanda hipoksemia,
retraksi dinding dada, dan suara paru abnormal. Manifestasi neurologi
yang muncul seperti penurunan kesadaran, pasien mulai meracau,
iskemik-hipoksia pada sistem saraf pusat sehingga menunjukkan tanda
peningkatan ICP
Sedangkan menurut sumber lain, manifestasi drowning yang muncul
antara lain :
 Frekuensi pernafasan berkisar dari pernapasan yang cepat dan
dangkal sampai apneu.
 Syanosis
 Peningkatan edema paru
 Kolaps sirkulasi
 Hipoksemia
 Asidosis
 Timbulnya hiperkapnia
 Lunglai
 Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi
 Koma dengan cedera otak yang irreversible

Tanda-tanda yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning),


yaitu :
a) Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah
b) Lebam mayat biasanya sianotrik kecuali mati tenggelam di air
dingin berwarna merah muda
c) Kulit telapak tangan/telapak kaki mayat pucat (bleached) dan
keriput (washer woman’s hands/feet)
d) Kadang terdapat cutis anserine/goose skin pada lengan, paha dan
bahu mayat
e) Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat
(scheumfilz froth) yang bersifat melekat
f) Bila mayat dimiringkan, cairan akan keluar dari mulut/hidung
g) Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air/bahan setempat
berada dalam genggaman tangan mayat
h) Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti
i) Saluran napas mayat berisi buih, kadang berisi lumpur, pasir.
j) Lambung mayat berisi banyak cairan
k) Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli
l) Organ dalam mayat mengalami kongesti

6. Pemeriksaan Diagnostik
Pasien dengan drowning harus melakukan X-ray dada dan
monitoring saturasi oksigen.Radiografi dada mungkin menunjukkan
perubahan akut, seperti infiltrasi alveolar bilateral.Selain itu,
pemeriksaan sistem saraf pusat, EKG, dan analisis gas darah juga
diperlukan. Berikut pemeriksaan diagnostic lainnya yaitu:
 Laboratorium
 ABG + oksimetri, methemoglobinemia dan
carboxyhemoglobinemia CBC prothrombin time, partial
thromboplastin time, fibrinogen, D-dimer, fibrin
 Serum elektrolit, glukosa, laktat, factor koagulasi
 Liver enzymes :
 Aspartate aminotransferase dan alanine minotransferase,
 Renal function tests (BUN, creatinine)
 Drug screen and ethanol level
 Continuous pulse oximetry and cardiorespiratory monitoring
 Cardiac troponin I testing
 Urinalisis
 Imaging:
 Foto thoraks : bukti aspirasi, edema pulmo, atelektasis, benda
asing, evaluasi penempatan endotrakea tube
 CT scan kepala dan servikal bila curiga trauma
 Extremity, abdominal, pelvic imaging bila ada indikasi
 Echocardiography jika ada disfungsi miokard
 EKG
 Kateter swan-ganz untuk monitor cardiac output dan
hemodinamik pada pasien dg status CV tidak stabil atau pasien
yang membutuhkan pengobatan inotropic multiple dan vasoaktif.
7. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaannya sebagai berikut :
a. Bantuan Hidup Dasar
Penanganan ABC merupakan hal utama yang harus
dilakukan, dengan fokus utama pada perbaikan jalan nafas dan
oksigenesasi buatan. Penilaian pernapasan dilakukan dengan tiga
langkah, yaitu :
a. Look yaitu melihat adanya pergerakan dada
b. Listen yaitu mendengar suara nafas
c. Feel yaitu merasakan ada tidaknya hembusan nafas
Penanganan pertama pada korban yang tidak sadar dan
tidak bernafas dengan normal setelah pembersihan jalan napas
yaitu kompresi dada lalu pemberian napas buatan dengan rasio
30:2. Terdapat tiga cara pemberian napas buatan, yaitu mouth to
mouth, mouth to nose, mouth to neck stoma.
Penanganan utama untuk korban tenggelam adalah
pemberian napas buatan untuk mengurangi hipoksemia. Melakuakn
pernapasan buatan dari mulut ke hidung lebih disarankan karena
sulit untuk menutup hidung korban saat pemberian napas mulut ke
mulut. Pemberian napas buatan dianjurkan hingga 10-15 kali
sekitar 1 menit. Kompresi dada diindikasikan pada korban yang
tidak sadar dan tidak bernapas dengan normal, karena kebanyakan
korban tenggelam mengalami henti jantung akibat hipoksia.

b. Bantuan hidup lanjut


Bantuan hidup lanjut pada korban tenggelam yaitu
pemberian oksigen dengan tekanan lebih tinggi, yang dapat
dilakukan dengan BVM (Bag Valve Mask) atau tabung oksigen.
Oksigen yang diberikan memiliki saturasi 100%. Jika setelah
pemberian oksigen ini keadaan korban belum membaik maka
dapat dilakukan intubasi trakeal.
  Dalam, penatalaksanaan pasien
dengan neardrowning umumnya terbagi menjadi tiga fase, antara
lain perawatan prehospital, perawatan unit gawat darurat,
penatalaksanaan rawat inap.

1) Perawatan pre hospital


Pada fase ini, penatalaksanaan difokuskan pada Airway
(A), Breathing (B), dan Circulation (C).Pasien harus
dipindahkan dari air secepatnya, namun menyelamatkan
pernafasan dapat dimulai walau korban masih berada di
air.Cara memindahkan pasien harus benar dengan
meminimalkan gerakan pada leher pasien untuk menghindari
terjadinya cedera medula spinal.Ketika pasien telah berada di
permukaan yang datar, segera dilakukan CPR ketika nadi tidak
teraba.Akan tetapi, nadi mungkin lemah dan sulit teraba pada
korban yang mengalami hipotermia karena bradikardi
dan atrial fibrilation (AF).Heimlich Maneuver tidak banyak
menguntungkan bila digunakan untuk mengeluarkan air yang
tertelan, teknik ini seharusnya hanya digunakan saat penyebab
obstruksi jalan nafas adalah benda asing. Oksigen tambahan
(100%) dapat diberikan jika tersedia.Pasien yang mengalami
apneu harus dilakukan intubasi sesegera mungkin.

2) Perawatan di unit gawat darurat


Ketika pasien sudah dipindah ke unit gawat darurat, harus
dilakukan pengkajian ulang secara hati-hati untuk mengetahui
adanya tanda-tanda trauma seperti trauma spinal, trauma dada,
atau trauma abdomen.Pengkajian status neurologi termasuk
reflek batang otak dan GCS diperlukan untuk memastikan
prognosis pasien.
3) Pakaian yang basah harus dilepas, pasien dengan hipotermia
harus dihangatkan dengan menggunakan berbagai cara. Seperti
selimut hangat, bantalan pemanas, mandi air hangat,
teknik forced warm air.Kadang-kadang peritoneal
lavage dan pleural lavagedengan larutan hangat juga
digunakan.
4) Oksimetri nadi dan EKG digunakan untuk mendeteksi hipoksia
dan aritmia jantung. Analisis gas darah arteri, serum elektrolit,
level etanol, pemeriksaan urin biasanya dilakukan. Cervical
spine imaging, radiografi dada, CT scan dilakukan jika
dicurigai adanya trauma.Pasien yang sudah terlihat membaik
dapat dipulangkan setelah dilakukan monitoring selama 7
sampai 12 jam.Pasien dengan distres respiratori berat dan
perubahan status mental diperlukan intubasi dan ventilasi
mekanik.
5) Perawatan rawat inap
Tujuan dari penatalaksanaan di rumah sakit ialah untuk
mencegah cedera neurologi sekunder, iskemia yang menetap,
hipoksemia, edema serebral, asidosis, dan abnormalitas
elektrolit.Pasien dengan hipotermia diperlukan resusitasi
sampai suhu mencapai 32 atau 35oC. Pasien dengan hipotensi
dilakukan resusitasi cairan dan diberikan obat inotropik bila
perlu. Radiografi dada  biasanya menunjukkan gambaran
normal sampai edema pulmonar yang menyebar. Pneumonia
pada pasien diobati dengan antibiotik spektrum luas.

8. Komplikasi
a. Ensefalopati hipoksik.
b. Tenggelam sekunder.
c. Pneumonia aspirasi.
d. Fibrosis interstitial pulmonal.
e. Disritmia ventrikular.
f. Gagal ginjal.
g. DIC (Diseminata Intravascular Coagulation)
h. Nekrosis pankreas.
i. Infeksi.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Konsep pengkajian dasar ketika melakukan asuhan keperawatan kritis
dengan drowning menurut Braid (2005), adalah:
Tujuan Pengkajian
Evaluasi terhadap fungsi pernafasan dan neurologi
Riwayat dan Faktor Resiko
Usia korban, kemampuan berenang, waktu tenggelam, suhu air,
derajat kontaminasi dari air, penggunaan alkohol dan/atau obat-obatan,
injury pada kepala dan spinal, berada  pada pengaruh pengobatan, dan
resusitasi prehospital.
Vital Signs
1. Temperatur dapat rendah jika drowning terjadi pada badan yang
dingin
2. Peningkatan RR atau tidak ada jika pasien mengalami areest
3. Hipotensi
4. HR dapat meningkat atau menurun tergantung temperatur dan status
pernafasan. Asistol atau ventrikulatr takikardia dapat timbul pada
pasien
5. RR dapat meningkat diserati dispneu atau dapat RR dapat meningkat
diserati dispneu atau dapat tidak arrest terjadi.
Observasi
Evaluasi tanda trauma dari kepala dan leher, warna kulit sebagai
indikasi hipoksia, tanda dan fungsi neurologis termasuk ukuran pupil dan
respons terhadap stimulus. Sputum berbusa dan berwarna merah muda
dapat mengindikasi terjadi edema pulmonal.
Palpasi
Evaluasi suhu tubuh, deformitas pada leher, tanda-tanda trauma pada
kepala termasuk adanya pembengkakan.
Auskultasi
Evaluasi bagian paru untuk mengindetifikasi suara paru yang
abnormal.
- Penurunan suara paru mengindikasikan penumothorax atau hemothorax
- Suara seperti menyeruput saat inspirasi mengindikasikan open
penumothorax
- Suara crackles, ronki, dan wheezing.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipotermia berhubungan dengan Transfer panas (mis. Konduksi,
konveksi, evaporasi, radiasi) ditandai dengan kulit teraba dingin,
menggigil, suhu tubuh di bawah nilai normal, bradikardi, dasar kuku
sianotik, hipoksia, pengisian kapiler >3 detik, konsumsi oksigen
meningkat.
b. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Benda asing
dalam jalan nafas ditandai dengan dispnea, sulit bicara, ortopnea, tidak
mampu batuk, ronkhi kering, sianosis, bunyi nafas menurun, frekuensi
nafas berubah, pola nafas berubah.
c. Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Hambatan upaya napas
(mis. Nyeri saat bernapas, kelemahan otot penapasan ditandai dengan
dispnea, ortopnea, pola napas abnormal (mis.bradipnea, kussmaul),
kapasitas vital menurun, tekanan ekspirasi menurun, tekanan inspirasi
menurun, ekskursi dada berubah.

3. Rencana asuhan keperawatan


No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
1. Hipotermia berhubungan Setelah diberikan asuhan Intervensi utama
dengan Transfer panas (mis. keperawatan selama … Manajemen Hipotermia
x24 jam diharapkan
Konduksi, konveksi, termoregulasi membaik Observasi :
evaporasi, radiasi) ditandai dengan Kriteria hasil : 1. Monitor suhu tubuh
dengan kulit teraba dingin, 1. Menggigil menurun 2. Identifikasi penyebab
menggigil, suhu tubuh di 2. Konsumsi oksigen hipotermia (mis. Terpapar
bawah nilai normal, meningkat suhu lingkungan yang
bradikardi, dasar kuku 3. Pucat menurun rendah)
sianotik, hipoksia, pengisian 4. Bradipnea menuru 3. Monitor tanda dan gejala
kapiler >3 detik, konsumsi 5. Dasar kuku sianolik akibat hipotermia
oksigen meningkat. menurun ( menggigil, apatis, edema
6. Hipoksia menurun paru)
7. Suhu tubuh membaik Terapeutik
8. Suhu kulit membaik 4. Ganti pakaian dan atau
9. Pengisian kapiler linen yang basah
membaik 5. Lakukan penghangatan
10.Tekanan darah pasif (mis. Selimut,
membaik menutup kepala, pakaian
tebal)
6. Lakukan penghangatan
aktif eksternal (mis.
Kompres hangat, botol
hangat, selimut hangat,
perawatan metode
kangguru)
Edukasi
7. Anjurkan makan/
minuman hangat

2. Bersihan Jalan Nafas Tidak Setelah diberikan asuhan Intervensi utama


Efektif berhubungan dengan keperawatan selama ... x Manajemen jalan nafas
Benda asing dalam jalan 24 jam, diharapkan Observasi :
nafas ditandai dengan bersihan jalan napas 1. Monitor pola napas
dispnea, sulit bicara, meningkat dengan (Frekuensi, kedalaman,
ortopnea, tidak mampu batuk, kriteria hasil: usaha napas)
ronkhi kering, sianosis, bunyi 1. Batuk efektif 2. Monitor bunyi napas
nafas menurun, frekuensi meningkat tambahan (mis. Gurgling,
nafas berubah, pola nafas 2. Dipsnea menurun mengi, wheezing, ronkhi
berubah. 3. Ortopnea menurun kering)
4. Sulit bicara menurun Terapeutik
5. Sianosis menurun 3. Pertahankan kepatenan

6. Frekuensi nafas jalan napas dengan head-

membaik tilt dan chin lift (Jaw-

7. Pola nafas membaik thrust jika curiga trauma


servikal)
4. Posisikan semi fowler atau
fowler
5. Berikan minum hangat
6. Berikan oksigen
Edukasi
7. Ajarkan teknik batuk
efektif
Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik
3. Pola Nafas Tidak Efektif Setelah diberikan asuhan Intervensi utama
berhubungan dengan keperawatan selama ... x Manajemen jalan nafas
Hambatan upaya napas (mis. 24 jam, diharapkan pola Observasi :
Nyeri saat bernapas, napas membaik dengan 1. Monitor pola napas
kelemahan otot penapasan kriteria hasil: (Frekuensi, kedalaman,
ditandai dengan dispnea, 1. Kapasitas vital usaha napas)
ortopnea, pola napas meningkat 2. Monitor bunyi napas
abnormal (mis.bradipnea, 2. Tekanan ekspirasi tambahan (mis. Gurgling,
kussmaul), kapasitas vital menurun mengi, wheezing, ronkhi
menurun, tekanan ekspirasi 3. Tekanan inspirasi kering)
menurun, tekanan inspirasi menurun Terapeutik
menurun, ekskursi dada 4. Dispnea menurun 3. Pertahankan kepatenan
berubah. 5. Ortopnea menurun jalan napas dengan head-
6. Frekuensi napas tilt dan chin lift (Jaw-
membaik thrust jika curiga trauma
7. Kedalaman napas servikal)
membaik 4. Posisikan semi fowler atau
8. Ekskursi dada fowler
membaik 5. Berikan minum hangat
6. Berikan oksigen
Edukasi
7. Ajarkan teknik batuk
efektif
Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik
C. REFERENSI

Wilianto, W., 2012. Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga


Tenggelam. Jurnal Kedokteran Forensik Indonesia, Volume 14,
pp. 39-46.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi

Putra, A. A. G. A., 2014. Kematian Akibat Tenggelam : Laporan


Kasus, Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP
Sanglah .

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :
definisi dan indikator diagnostik. Jakarta Selatan : DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI 2018 Standar Intervensi Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan: DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI 2019 Standar Luaran Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan : DPP PPNI