Anda di halaman 1dari 30

POLITEKNIK NEGERI MALANG

BAB I

MENENTUKAN LETAK TITIK KOORDINAT

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab I, mahasiswa akan mampu
- Melakukan penitikan lokasi koordinat.
- Mengetahui alternative pemilihan lokasi
- Menggunakan perangkat survey radio

1.1 Tujuan
• Menentukan lokasi BTS baru di daerah seputar dari tower existing di
Polinema
• Menitik koordinat lokasi tower existing Polinema dan lokasi BTS baru
(New Site)

1.2 Alat dan bahan


• GPS
• Kompas
• Kamera
• Software google earth

1.3 Dasar teori


1.3.1 Global Positioning Sistem
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan
penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini
didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi
mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan
cuaca, bagi banyak orang secara simultan.
Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang di seluruh dunia dalam
berbagai bidang aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi, kecepatan,
percepatan ataupun waktu yang teliti. GPS dapat memberikan informasi posisi
dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter (orde nol) sampai dengan

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 1


POLITEKNIK NEGERI MALANG

puluhan meter. GPS didesain untuk memberikan informasi posisi, Kecepatan


dan waktu.

Gambar 1.1. GPS

Pada dasarnya GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu:


1. Segmen angkasa (space segment)
Terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam 6 orbit dengan inklinasi 55° dan
ketinggian 20200 km dan periode orbit 11 jam 58 menit.
2. Segmen sistem control (control system segment)
Mempunyai tanggung jawab untuk memantau satelit GPS supaya satelit GPS
dapat tetap berfungsi dengan tepat. Misalnya untuk sinkronisasi waktu, prediksi
orbit dan monitoring “kesehatan” satelit.
3. Segmen pemakai (user segment)
Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut maupun udara,
yang menggunakan receiver GPS untuk mendapatkan sinyal GPS sehingga dapat
menghitung posisi, kecepatan, waktu dan parameter lainnya.

Kemampuan GPS
Beberapa kemampuan GPS antara lain dapat memberikan informasi tentang
posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana saja di bumi ini
tanpa tergantung cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-satunya
sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa abad ini yang
memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian dari GPS dapat mencapai
beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 2


POLITEKNIK NEGERI MALANG

kecepatannya dan beberapa nanodetik untuk ketelitian waktunya. Ketelitian posisi


yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi,
geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.

Metode Penentuan Posisi dengan GPS


Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi
(pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara
simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang
diberikan oleh GPS adalah posisi 3 dimensi (x,y,z atau j,l,h) yang dinyatakan dalam
datum WGS (World Geodetic System) 1984, sedangkan inggi yang diperoleh adalah
tinggi ellipsoid.
Adapun pengelompokan metode penentuan posisi dengan GPS berdasarkan
mekanisme pengaplikasiannya dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Metode Penentuan Posisi dengan GPS

1.3.2 Kompas
Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah berupa sebuah panah
penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi
secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat
membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara,
selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan,

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 3


POLITEKNIK NEGERI MALANG

maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu
perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman
dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada kedudukan bintang
untuk menentukan arah.
Penemuan bahwa jarum magnetik selalu mengarah ke utara dan selatan terjadi
di Cina dan diuraikan dalam buku Loven Heng. Di abad kesembilan, orang Cina
telah mengembangkan kompas berupa jarum yang mengambang dan jarum yang
berputar.Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan kemudian
memperdagangkannya. Tetapi baru pada tahun 1877 orang Inggris, William
Thomson, 1st Baron Kelvin(Lord Kelvin) membuat kompas yang dapat diterima
oleh semua negara. Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang timbul dari
deviasi magnetik karena meningkatnya penggunaan besi dalam arsitektur kapal.
Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak
menunjuk arah utara magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap
sebagai kompas. Kompas jam adalah kompas yang dilengkapi dengan jam matahari.
Kompas variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang digunakan dengan cara
mengamati variasi pergerakan jarum. Girokompas digunakan untuk menentukan
utara sejati.
Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian
terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa
posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.

Gambar 1.2. Kompas


Jenis kompas
Kompas dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kompas analog dan kompas digital.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 4


POLITEKNIK NEGERI MALANG

1.Kompas analog
Kompas analog adalah kompas yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-
hari. Misalnya saja kompas yang dipakai ketika acara pramuka. Sedangkan kompas
digital merupakan kompas yang telah menggunakan proses digitalisasi. Dengan kata
lain cara kerja kompas ini menggunakan komputerisasi.

2. Kompas digital
Diciptakannya kompas digital bertujuan untuk melengkapi kebutuhan
robotika yang semakin canggih. Dunia robotika ini sangat membutuhkan alat
navigasi yang efektif dan efisien. Sementara itu alat sistem navigasi yang tersedia
di pasaran harganya mahal. Sedangkan kompas sendiri merupakan sebuah alat
sistem navigasi yang efektif dengan harga lebih murah. oleh karena itu kompas
digital diharapkan bisa mensubstitusi alat sistem navigasi pada robot.
Google Earth

Gambar 1.3. Tampilan Google Earth

Google Earth adalah sebuah aplikasi peta online yang dapat didownload
yang terdiri dari citra satelit dan peta yang memungkinkan kita untuk melihat lokasi
di seluruh dunia ini,selain itu memberikan kita kekuatan untuk menelusuri semua
lokasi dibumi ini langsung dari desktop.
Semua hal-hal yang luar biasa disajikan kepada pengguna dalam antarmuka
yang sederhana dan bersih, dengan bumi tepat di tengah.Pengguna dengan mudah
dapat memperbesar, memperkecil atau bergerak di sekitar hanya menggunakan
mouse, tapi juga dapat memasukkan lokasi tertentu di kotak pencarian di sebelah
kiri untuk melompat langsung ke sana.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 5


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Ini hanya masalah waktu sampai kita terbiasa dengan Google Earth dan
semakin kita menemukan, semakin mudah untuk menikmati fungsi yang kuat dari
software ini.
Selain citra ini mengesankan, aplikasi ini juga dilengkapi dengan video Flash
dalam balon tanda letak dan juga dengan alat-alat khusus untuk mencari restoran,
taman dan lainnya kepentingan cepat dan mudah.
Kita selalu dapat menikmati pemandangan 3D yang besar dengan bantuan
terutama bangunan yang dibuat di beberapa kota yang paling populer di dunia,
sementara pada saat yang sama kita dapat menyimpan dan berbagi lokasi favorit kita
hanya dengan satu klik. Google Earth tetap menjadi salah satu aplikasi yang paling
menarik yang pernah dibuat.

1.4 Langkah Survey


1. Mencari nilai koordinat site lama/tower existing (Lab TT Polinema).
2. Menentukan arah lokasi BTS baru/new site menuju tower existing
3. Mencari lokasi yang berkembang sehingga membutuhkan catuan telepon
(berdasarkan kebutuhan demand) untuk masing-masing kelompok
dengan lokasi yang berbeda.
4. Tentukan titik dimana BTS baru akan dibangun dengan pertimbangan :
• Berdekatan dengan catu daya.
• Akses jalan ke lokasi tidak sulit
• Pilih tempat yang lebih tinggi
• Ada legalisasi tempat dan lingkungan
• Mengecek frekuensi yang ada di lokasi baru
• Space tower dan shelter
5. Ambil foto panorama pada BTS existing 3600 masing-masing per 300.
6. Menghitung jarak lokasi BTS existing ke lokasi BTS baru dan catat
koordinatnya.
7. Ambil foto paronama pada BTS baru (New Site).
8. Mendata antenna yang terpasang di lokasi existing/tower di Polinema
9. Menggambar guide map dan site map masing-masing lokasi.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 6


POLITEKNIK NEGERI MALANG

10. Menentukan titik far end lokasi tujuan baik lokasi lama maupun lokasi
baru.
11. Menggambar sketsa penempatan kabel yang terdiri dari kabel feeder dan
kabel grounding.
12. Mengestimasi panjang kabel feeder dan grounding yang dibutihkan pada
proses instalasi alat.
13. Membuat sketsa penempatan alat di ruang telah ditentukan.
14. Jika terdapat tower existing di masing-masing tempat perlu didata
antenna yang telah terpasang di tower beserta frekuensi kerjanya.

1.5 Hasil Survey


1.5.1 Lokasi Existing
Gambar Panorama Gambar Panorama
No Koordinat
Lokasi existing Polinema Lokasi Baru/New Site
1 0o

2 30o

3 60o

4 900

5 1200

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 7


POLITEKNIK NEGERI MALANG

6 1500

7 1800

8 2100

9 2400

10 2700

11 3000

12 3300

13 3600

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 8


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Analisa Hasil Survey:

Tampak Tower di POLINEMA dari lokasi SITE baru (far end)

Peta dari google earth

- Jarak antara Tower POLINEMA dan Site Baru adalah ………. km

-
Azimuth A ke B : ………….o

-
Azimuth B ke A : ………….o

- Tabel 1.2 Data antena pada tower existing :

POSITION AZIMUTH
NO TYPE IN POLE HEIGHT REMARK
*) (meter)
(DEGREE)
1.
2.
3.
4.
5.
10
11.
14. Proposed New Antenna

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 9


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Berdasarkan data antena pada tower POLINEMA antena yang mengarah ke site baru
space tersedia/tidak tersedia *) sehingga membutuhkan penambahan antena baru
mengarah ke Tower existing di POLINEMA

1.6. Kesimpulan

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 10


POLITEKNIK NEGERI MALANG

BAB II
PERHITUNGAN LINTASAN (PATH PROFILE)

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab II, mahasiswa akan mampu
- Menjelaskan proses perhitungan lintasan.
- Menghitung besarnya daerah Fresnel zone
- Menghitung tinggi antenna yang terpasang di lokasi baru

2.1 Tujuan :
• Mengetahui halangan sepanjang LOS (Line Of Sight) dan mengetahui tinggi
tower serta antenna pada new site.
• Menghitung besaran Fresnel Zone.
• Menghitung tinggi antenna yang dibutuhkan di masing-masing lokasi.
• Menentukan tinggi tower yang diperlukan.

2.2 Alat dan Bahan :


• Software Google Earth
• Laptop
• Path Profile

2.3 Dasar Teori


Pada teknik gelombang mikro, suatu hubungan komunikasi disebut Line
of Sight (LOS), jika antara antena pengirim dan penerima dapat saling “melihat”
tanpa adanya penghalang pada lintasan pada batas-batas tertentu. Parameter-
parameter dalam propagasi line of sight antara lain: panjang lintasan, faktor k,
tinggi tonjolan bumi, daerah Fresnel, tinggi penghalang dan tinggi penghalang
tambahan.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 11


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Gambar 2.1 Komunikasi Line Of Sight (LOS)


Dimana:
Ta1 = tinggi antena stasiun pemancar (m)
Ta2 = tinggi antena stasiun penerima (m)
Ap1 = altitude stasiun pemancar (m)
Ap2 = altitude stasiun penerima (m)
C = clearance (m)
P1 = tinggi penghalang (m)
k = faktor kelengkungan bumi
d1 = jarak penghalang ke pemancar (m)
d2 = jarak penghalang ke penerima (m)

Panjang lintasan
Panjang lintasan merupakan jarak antara antenna pemancar dengan
antenna penerima yang dapat ditentukan dengan pengukuran pada peta
topografi.
Faktor ”k”
Dalam propagasi, sebuah sinyal dari pengirim ke penerima tidak
selamanya merupakan suatu lintasan yang lurus. Pada kondisi atmosfer tertentu
kurva sinyal dapat mengalami refraksi melengkung menjauhi atau mendekati
permukaan bumi yang terjadi karena adanya perubahan indeks bias udara sesuai
dengan ketinggiannya. Hal ini perlu diantisipasi dengan mengunakan suatu
faktor pengali jari-jari bumi yang disebut faktor “k’. Faktor kelengkungan bumi
dirumuskan dengan:

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 12


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Dimana:
Reff = jari-jari kelengkungan bumi hasil transformasi
k = faktor kelengkungan bumi (dipengaruhi atmosfer)
R = jari-jari bumi sebenarnya
Untuk atmosfer standar, R = 6370 km dan ρ = 25.000 km sehingga
didapatkan:

Kemudian,

Kasus-kasus faktor kelengkungan bumi

Gambar 2.2 Penentuan factor k

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 13


POLITEKNIK NEGERI MALANG

A. Daerah Fresnel
Daerah Fresnel atau Fresnel zone adalah tempat kedudukan titik sinyal
tidak langsung yang berbentuk elips dalam lintasan propagasi gelombang radio
dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect signal)
dan memunyai beda panjang lintasan dengan sinyal langsung sebesar kelipatan
½λ atau 2 kali ½λ. Jika sinyal langsung dan tak langsung berbeda panjang
lintasan sebesar ½λ, maka kedua sinyal tersebut akan berbeda fase 180º, artinya
kedua sinyal tersebut akan saling melemahkan. Fresnel pertama merupakan
daerah yang memunyai fading multipath terbesar, sehingga diusahakan untuk
daerah Fresnel pertama dijaga agar tidak dihalangi oleh obstacle. Secara
matematis daerah Fresnel didekati dengan rumus sebagai berikut:

dimana:
Fn = jarak lintasan tertentu terhadap lintasan LOS (m)
n = daerah Fresnel ke n
d1 = jarak ujung lintasan (pemancar/penerima) ke penghalang (km)
d2 = jarak ujung lintasan lain (pemancar.penerima ke penghalang (km)
f = frekuensi (Ghz)
D = d1 + d2 (km)
Rumus praktis untuk menghitung jari-jari Fresnel I (dalam meter)

R1 = jari-jari Fresnel I (meter)


d1, d2, d = jarak (km)
f = frekuensi (GHz)
Rumus praktis untuk menghitung jari-jari Fresnel I (dalam feet)

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 14


POLITEKNIK NEGERI MALANG

R1 = jari-jari Fresnel I (feet)


d1, d2, d = jarak (statute mile)
f = frekuensi (GHz)

B. Jenis Tower yang digunakan , antara lain :


➢ Self supporting tower
Tower dengan rangka kaki 4 (empat) dengan kisaran ketinggian antara 20 –
100 meter dan cocok untuk digunakan di site Greenfield atau Roof Top.

Gambar 2.3 Self Supporting Tower

➢ Monopole Tower
Tower dengan tiang tunggal dengan ketinggian berkisar 6 – 36 meter. Jenis
tower ini umumnya digunakan di kota-kota yang memberlakukan aturan
batas tinggi maksimal tower atau karena keterbatasan lahan dan kondisi
lainnya seperti persyaratan estetika.

Gambar 2.4 Monopole Tower

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 15


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Apabila terdapat persyaratan estetika, maka kami dapat


mengimplementasikan solusi rancangan dengan teknik tower camouflage
(kamuflase).
➢ Minipole/Standard Tripod
Tower dengan tiang tunggal yang diterapkan di atas Roof Top dimana
kebutuhan tinggi tiang tidak lebih dari 6 meter.
➢ Tower Guyed Mast
Jenis tower yang berupa tiang pancang tunggal yang dikaitkan dengan tali-
tali baja yang membentang dari tower sampai tanah dengan jarak ± 0.5 m
dari tower dan sudut ± 600. Jenis tower ini memiliki ketinggian antara 50
m sampai dengan 70 m. Penggunaan guyed mast sebagai tower
telekomunikasi masih jarang di Indonesia. Biasanya tower jenis ini dipakai
untuk pemancar radio.
Guyed mast sering digunakan untuk tiang-tiang radio struktur vertikal tipis
tinggi . Tiang dapat mendukung antena ( untuk VHF dan UHF ) dipasang di
atasnya , atau seluruh struktur itu sendiri bisa berfungsi sebagai antena
(untuk VLF , LF , MF dan HF ) , ini disebut mast radiator . pada mast radiator
ini, harus terisolasi dari tanah . dan juga dapat digunakan untuk mendukung
semua jenis kawat antena (untuk VLF , LF , MF dan HF ) .
Tiang guyed kadang-kadang juga digunakan untuk pengukuran meteorologi
pada ketinggian tertentu di atas permukaan tanah .

Gambar 2.5 Guyed Mast

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 16


POLITEKNIK NEGERI MALANG

C. Perhitungan Tinggi Antenna


Diket ahui profil lintasan ( path profile) seperti pada Gambar 6-12. Jarak antara
Tx (pada titik A) dan Rx (pada titik B) adalah 50 Km. Pada jarak 20 Km dari
A, terdapat bukit dengan ketinggian tertentu. Rancanglah ketinggian antena
pada Tx dan Rx, agar lintasan tersebut bisa digunakan untuk mentransmisikan
gelombang pada frekuensi 3 GHz secara line of sight .

Gambar 2.6 Path Profile


Penyelesaian: Evaluasi dari profil lintasan pada Gambar 6 -12, menunjukkan
bahwa halangan pandangan atau ( sight obstruction) harus kita antisipasi adalah
bukit yang berjarak 20 Km dari A atau 30 Km dari B. Perlu dicari radius
Fresnel pertama dari persamaan berikut :

Harga F1 ini merupakan daerah Fresnel pertama ini dipetakan di atas bukit
tersebut.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 17


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Setelah g aris line of sight geometris di atas F1 dibuat, maka ketinggian antena
di titik A dan B dapat ditentukan (Gambar 2.7). Dari profil lintasan tersebut,
ketinggian antena di titik A: hA = ± 75 m, dan di titik B: hB = ± 90 m.

Gambar 2.7 Hasil Perhitungan dari Path Profile


D. Menentukan Tinggi Antenna
Untuk menetapkan tinggi antenna kita dapat menentukannya dengan
menggunakan software PLW 40 dengan cara memasukkan data-data yang
didapatkan dari survey sebelumnya.

Untuk menghitung tinggi tower kita dapat melihat dari gambar diatas

Gambar 2.8 Hasil gambar path profile dengan PLW 40

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 18


POLITEKNIK NEGERI MALANG

dengan cara:
Angka pada Garis merah – sudut elevasi ( ditunjukkan dengan garis
orange )

2.4 Prosedur Kerja


a. Menentukan dua lokasi yang akan dihitung ketinggian tower masing-
masing.
b. Diketahui tinggi tower A = …… m, temukan pada mana space atau ruang
antenna bisa di install (gambar tower existing) pada contoh dilihat pada kaki
no 1 dan no 4.

4 1

3 2

c. Sehingga tinggi di A dapat diketahui.


d. Membuat tabel lintasan.
e. Menghitung Fresnel Zone dengan cara manual menggunakan gambar profile
k = 4/3.
f. Menghitung Fresnel Zone dengan menggunakan software PLW 40.
g. Menentukan tinggi antenna di lokasi B.
h. Menentukan tinggi tower di lokasi B.

2.5 Hasil Survey


2.5.1. Lokasi yang Akan Dihitung Ketinggian Tower

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 19


POLITEKNIK NEGERI MALANG

LOKASI A LOKASI B
Tempat : Tempat :

Koordinat : ……………. S Koordinat : ……………. S

……………. E ……………. E

Elevasi : ………. m Elevasi : ………. m


Tinggi : ………. m Tinggi : ………. m
tower tower

2.5.2 Data Obstacle


No Jarak dari 𝑡𝑀𝑆𝐿 (m) 𝑡𝐴𝐺𝐿 (m) Jenis Keterangan
Polinema (m) Obstacle
1

2.5.3 Menentukan Space Antenna


Diketahui tower A 42 meter, jadi space di intall di pole 4.
4 1

2 3

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 20


POLITEKNIK NEGERI MALANG

2.5.4 Gambar lokasi yang akan ditentukan ketinggian Tower

2.6 Analisa Data


Pada lintasan terdapat 1 obstacle yang paling berpengaruh yaitu ………….. dengan
tinggi sebesar ………. meter dan dengan frekuensi center ………. GHz dapat
dihitung Fresnel Zone:
Dengan : d1 = …… km, d2 = …….. km
Maka :

d1.d 2
F1 = 17,3
f (d1 + d 2)

2.7 Kesimpulan

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 21


POLITEKNIK NEGERI MALANG

BAB III

PERHITUNGAN LEVEL DAYA PENERIMA

Capaian Pembelajaran
Setelah melaksanakan praktikum Bab III, mahasiswa akan mampu
- Menentukan rugi-rugi pada sisi pemancar.
- Menentukan rugi-rugi pada sisi penerima.
- Menghitung link budget pada transmisi radio.

3.1. Tujuan
• Dapat menentukan rugi-rugi transmisi di sisi pemancar dan penerima
• Dapat menghitung nilai EIRP, FSL, IRL dan RSL
• Menghitung Link Budget antara Lokasi A dan Lokasi B

3.2. Alat dan Bahan


• Software PLW 40
• Microwave Calculator Online
• Kompas
• GPS

3.3. Dasar Teori


3.3.1 Link Budget
Link budget merupakan sebuah cara untuk menghitung mengenai semua
parameter dalam transmisi sinyal, mulai dari gain dan losses dari Tx sampai Rx
melalui media transmisi. Dalam hal ini perhitungan dengan media transmisi
Wifi.
Link budget merupakan parameter dalam merencanakan suatu jaringan
yang menggunakan media transmisi berbagai macam. Link budget ini dihitung
berdasarkan jarak antara transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link budget juga
dihitung karena adanya penghalang antara Tx dan Rx misal gedung atau
pepohonan. Link budget juga dihitung dengan melihat spesifikasi yang ada
pada antenna.
Pada penentuan serta perhitungan link budget yang akan dihitung adalah

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 22


POLITEKNIK NEGERI MALANG

• Free Space Loss


• Fresnel Zone Clearance
• RX Signal Level
• Fade Margin
Untuk lebih jelasnya pada bab ini juga akan disertakan contoh parameter antenna
yang dibutuhkan dalam perhitungan tersebut. Parameter tersebut antara lain :
• Jarak (d) terjauh antara antenna pemancar (Tx) dengan antenna penerima
(Rx). Misal jarak tersebut sekitar beberapa Km, dan jarak ini harus kita
konversi ke mil.
• Frekuensi BS dan Antena penerima, ini merupakan frekuensi standart yang
telah ditentukan.
• TX Power merupakan daya dari AP (Access Point) yang akan kita gunakan..
Tidak menggunakan satuan watt, harus ke dBm. Untuk konversi dari waat
ke dBm akan disampaikan di bawah.
• TX Cable Loss ini merupakan loss atau kerugian yang terjadi karena kabel
yang kita gunakan.. Loss ini biasanya terjadi pada kabel antara penghubung
dari antenna ke AP. Yang biasa disebut dengan kabel pigtail. Kabel pigtail
biasanya terbuat dari kabel coaxial dan diusahakan jangan menggunakan
kabel pigtail yang terlalu panjang. Biasanya panjang pigtail di pasaran
sekitar 50 cm.
• TX Antenna Gain merupakan daya terpancar dari antenna yang kita
gunakan.. Itulah yang dimaksud dengan Tx antenna gain).
• RX Antenna Gain merupakan daya yang dihasilkan dari antenna penerima,
misal kita menggunakan antenna grid.
• RX cable Loss sebenarnya hamper sama dengan Tx kabel loss, hanya saja
ini terjadi pada daerah penerima atau antenna penerima.
• RX Sensitivity merupakan sensitivitas dari antenna penerima dalam hal
menangkap sinyal wifi dari antenna pemancar.

Gambaran link budget tersebut dapat dilihat di bawah ini.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 23


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Gambar 3.1 Link Budget

1. Free Space Loss (FSL)


Pada saat sinyal radio berpropagasi di udara akan mengalami redaman
dari udara. Besarnya redaman yang terjadi dapat dihitung secara empiris.
Redaman itulah yang disebut dengan Free Space Loss.
Free Space Loss (dB) = 20 Log10 (MHz) + 20 Log10 (Distance km) + 32,44

2. Fresnel Zone Clearance merupakan diameter antara antenna pemancar dengan


antenna penerima dimana diantara kedua antenna tersebut ada penghalang.
Maka Fresnel Zone Clearance (FZC) adalah diameter antara penghalang dengan
LOS antara Tx dan Rx. Untuk lebih jelasnya mengenai FZC, bisa dilihat gambar
di bawah ini.

Gambar 3.2 Fresnel Zone Clearance

Nilai FZC ini dihitung berdasarkan kondisi permukaan bumi yang datar.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 24


POLITEKNIK NEGERI MALANG

3. Rx Sinyal Level (daya yang diterima) dapat dihitung dengan menambahkan dan
mengurani daya pancar (TX power) dengan berbagai parameter yang ada dalam
sebuah persamaan yang sederhana, yaitu,
Rx signal level = Tx power – Tx cable loss + Tx antenna gain – FSL+ Rx antenna
gain – Rx cable loss.

4. Setelah kita mempunyai semua data / parameter yang dibutuhkan kita dapat
menghitung Fade Margin untuk meyakinkan bahwa system yang kita kerjakan
akan bekerja secara benar. Pada dasarnya Fade Margin menghitung selisih antara
sinyal yang di terima dengan sensitifitas penerima. Maka rumusnya adalah
Fade Margin = Rx signal level – Rx sensitivity

3.3.2. Line Of Sight


Pada umumnya, dimaksud dengan sistem radio link line of sight (LOS)
adalah hubungan telekomunikasi (jarak jauh) pita-lebar (broadband ) yang
menggunakan perangkat radio pada frekwensi gelombang mikro (microwave).
Aplikasi secara umum, hubungan radio LOS ini merupakan subsistem dari
jaringan telekomunikasi, berupa jaringan terrestrial di daratan. Jaringan
tersebut akan membawa salah satu ataupun gabungan dari kanal -kanal
telepon, data, telegraph/teleks, faksimil, video, telemetri atau kanal-kanal
program lainnya. Gelombang yang ditransmisikan selain dalam bentuk
gelombang analog FM, juga dalam bentuk digital. Pada waktu kita akan
merencanakan suatu sistem jaringan radio LOS, hasil-hasil perhitungan di atas
kertas biasanya disusun dalam sebuah tabel yang kita sebut sebagai
Tabel Perhitungan Lintasan (Path Calculation Table). Ada 4 langkah
proses dalam merencanakan suatu radio link LOS, yaitu :
• Rencana awal dan penentuan/pemilihan lokasi.
• Menggambar profil lintasan (path profile).
• Survey lapangan.
• Analisa lintasan (path).

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 25


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Langkah yang satu, saling terkait dengan langkah -langkah yang lain.
Dalam praktek, bisa saja diadakan pergeseran/perubahan lokasi jika
dipandang perlu, karena lintasan radio link tersebut kurang layak disebabkan
karena medan, faktor kualitas, dan atau faktor ekonomis kurang
menguntungkan.

Rencana Awal dan Pemilihan Lokasi


Suatu rute gelombang mikro LOS terdiri dari stasiun pemancar dan
stasiun penerima dan atau beberapa/stasiun pengulang (repeater), yang bisa
membawa informasi dalam bentuk gelombang analog maupun digital. Seorang
perencana pasti akan mencari tahu untuk memastikan, apakah subsistem LOS
ini adalah sistem yang terisolasi, seperti misalnya : sistem gelombang mikro
pribadi, jaringan dari studio ke pemancar, atau perluasan jaringan TV-Kabel
(CATV). Ataukah merupakan bagian dari jaringan telekomunikasi yang lebih
besar, dimana jaringan LOS ini merupakan tulang-punggung dari sistem
tersebut. Untuk itu harus diperhatikan hal-hal dibawah ini.

A. Persyaratan Dasar
Marilah kita anggap bahwa akan direncanakan suatu subsistem gelombang
mikro LOS untuk jaringan telekomunikasi. Kriteria perencanaan akan
didasarkan pada rencana/spesifikasi arus transmisi sesuai dengan aturan badan
telekomunikasi dunia. Untuk militer, standart yang benar adalah versi MIL-
STD-188. Untuk sistem tranmisi video dan kanal program yang lain, mengikut
EIA-250 dan rekomendasi CCIR. Suatu rencana transmisi, paling tidak akan
menyatakan kualitas sinyal sebagai berikut :
• Untuk sinyal analog : Akumulasi noise dalam kanal suara untuk FDM. S/N
untuk program video dan program lain (misalnya : recomendasi CCIR
no.567. Pada jaringan referensi hipotetis merekomendasi S/N :57 dB untuk
lebih 20 % per bulan dan 45 dB untuk lebih dari 0,1 % per bulan).
• Untuk sinyal digital : Bit error rate (BER), misalnya d alam rekomendasi
CCIR no.G.821 untuk ISDN. BER < 1x10 -6 harus kurang dari 10 % per
menit. BER > 1 x 10-6 harus lebih dari 90 % per menit.

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 26


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Umur suatu sistem transmisi biasanya sekitar 15 tahun, walaupun


beberapa sistem masih bisa bekerja di atas waktu tersebut. Perencanaan
sistem harus mempertimbangkan perkembangan 15 tahun yang akan
datang, dengan rencana 5 tahunan untuk perbaikan dan penggantian.
Perencanaan yang demikian memang akan memakan beaya awal yang
relatif lebih besar, tetapi sebenarnya secara ekonomis akan menghemat,
karena umur sistem menjadi lebih panjang. Hal yang tidak boleh dilupakan
dalam perancangan yang menyangkut perkembangan di masa yang akan
datang adalah masalah kompalibilitas (kesesuaian) dengan perangkat yang
sudah ada, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi sistem secara
keseluruhan.

3.4 Prosedur Kerja


➢ Menentukan panjang lintasan antara lokasi A (Existing) dan B (New Site).
➢ Menghitung rugi feeder lokasi A dan B melalui loss feeder calculator via
web: www.timesmicrowave.com dengan menentukan jenis kabel feeder
yang digunakan.
➢ Menghitung nilai EIRP (Effective Isotropic Radiated Power)
➢ Menghitung nilai FSL (Free Space Loss)
➢ Menghitung nilai IRL (Isotropic Receive Level)
➢ Menghitung nilai RSL (Receive Signal Level)
➢ Menentukan besarnya Fade Margin yang terjadi.

3.5 Analisa Data

Gambar 3.3 Perhitungan Link budget

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 27


POLITEKNIK NEGERI MALANG

a. Sisi Lokasi A (Polinema)

Gambar 3.4 Tampilan feeder calculator Lokasi A

Diketahui :
Gain TX = …… dB
Diameter antenna = …… m
Po = …… dB
Connector Loss = 0,17dB/pair
Feeder Loss = 69,8dB

Sehingga menghasilkan nilai :


• FSL = ……… dB
• EIRP = ……… dB
• IRL = ……… dB

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 28


POLITEKNIK NEGERI MALANG

• RSL = ………. dB

b. Sisi Lokasi B (New Site)

Gambar 3.5 Tampilan Feeder Calculator Lokasi B


Diketahui :
Gain TX = ………. dB
Diameter antenna = ……….. m
Connector Loss = ……….. dB/pair
Feeder Loss = ……….. dB

Sehingga menghasilkan nilai :


• IRL = ………. dB
• RSL = ………. dB

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 29


POLITEKNIK NEGERI MALANG

Perhitungan pada Lokasi A (Tower Polinema)


EIRP = Po – Loss Connector – Loss feeder + GTX
FSL = 32,45 + 20log D(km) + 20 log F(MHz)
Rugi-rugi antenna = Po – feeder + Gain

Perhitungan pada Lokasi B (Cengger Ayam)


RSL = IRL + GR + LR → IRL + Gain antenna + Loss receiver
IRL = EIRP +FSL(dB) + Lg 0,6 dB
L
g

3.6.Kesimpulan

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO 30