Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rita Indah MesraYani

Nim : 18129078

Seksi : 18 BKT 13

Tugas :Masalah kelompok dalam Manajemen Kelas

A. MASALAH KELOMPOK

Anak perlu bergaul dengan teman lainya, di samping sebagai segi individu ia juga
mempunyai segi sosial yang perlu diperhatikan dan dikembangkan. Karena bekerja di
dalam kelompok dapat juga meningkatkan cara berpikir mereka sehingga dapat
memecahkan masalah dengan baik dan lancar.
Dalam perkembanganya setiap individu dalam kelompok pasti akan menjumpai
problem atau masalah dalam kelompok tersebut. Masalah kelompok akan muncul jika
tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas akan jadi membosankan dan
akhirnya para siswa dalam kelompok bersikap pasif, acuh, tidak puas dan belajarnya
terganggu.
Ciri-ciri kelompok menurut Lois U Johnson dan Marry A. Bany:
1. Kesatuan kelompok
2. Interaksi dan komunikasi
3. Struktur kelompok
4. Tujuan-tujuan kelompok
5. Kontrol (hukum)
6. Iklim kelompok
Jika kebutuhan tersebut tidak dijumpai dalam kelompok maka akan timbul enam
kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud
adalah sebagai berikut;
1. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio
ekonomi dan sebaginya.
2. Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu anggotanya, misalnya, mengejek anggota
kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang.
3. Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya
pemberian semangat kepada badut kelas.
4. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
5. Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena
mengangap tugas yang diberikan kurang adil.
6. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya gangguan
jadwal atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan sebagainya.

Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:


1. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-
cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori
kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak
kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan
dan kekerasan.

2. Kesulitan mengikuti peraturan kelompok 


Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-
aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu
kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini
ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa
diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu
semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-
mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.

3. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok 


Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang
bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh
kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau
anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok
dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk
mengikuti kemauan kelompok.

4. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang 


Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi
apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok
yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh
yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-
gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan
masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih
perlu mendapat perhatian.

5. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah
ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang
(anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah
terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa
menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini
terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.

6. Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau


protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan
protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka
maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu
tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di
rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-
lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya
protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian
secara terbuka biasanya jarang terjadi.

7. Ketidak mampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidak


mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas)
mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan,
pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan
kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu
terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya
kelas itu adalah kelas yang baik.
B. SOLUSI DALAM MEMECAHKAN MASALAH MANAJEMEN KELAS
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan
yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
1. Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari
penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu
merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas
dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif)
dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian,
dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena
jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
2. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari
penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari
oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau
peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya
iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan
pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan
menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan
mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). 
 Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic
Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang
dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat
3. Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah
bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru
adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A.
Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan
pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership;
(c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d)communication; (d) cohesiveness.
4. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana
kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah
disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas,
maka perlu adanya pendekatan:
a) Perintah dan larangan
b) Penekanan dan penguasaan
c) Penghukuman dan pengancaman
d) Pendekatan perintah dan larangan
5. Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk
melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat
perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan
pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada
diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
a) Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif.
Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta
didik.
b) Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
c) Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
d) Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang
sebenarnya.
e) Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
f) Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
6. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang
peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.

Anda mungkin juga menyukai