Anda di halaman 1dari 22

CASE REPORT MODUL 3

LESI JARINGAN LUNAK MULUT

“Granuloma gravidarum”

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Dalam Melengkapi

Kepaniteraan Klinik Di Bagian Oral Medicine

Oleh:

Surya Navisa Yunid 19100707360804080

Agry Primanita Efendi 19100707360804079

Pembimbing : Dr. drg.Utmi Arma, MDSc

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT

UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PADANG

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah laporan tugas yang berjudul

“Granuloma gravidarum” untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan

kepanitraan klinik modul 3 dapat diselesaikan.

Dalam penulisan laporan kasus ini penulis menyadari, bahwa semua proses yang

telah dilalui tidak lepas dari bimbingan Dr. drg. Utmi Arma, MDSc, selaku dosen

pembimbing, bantuan dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak lainnya. Untuk

itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya kepada

kita semua dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat serta dapat memberikan

sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang memerlukan.

Padang, Mei 2020

Penulis

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah disetujui case report yang berjudul “Granuloma gravidarum” guna

melengkapi persyaratan Modul 3

Padang, Mei 2020

Disetujui Oleh

Dosen Pembimbing

(Dr. drg. Utmi Arma, MDSc)

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN...................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................. 1

1.1 LATAR BELAKANG............................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................... 2

1.3 Tujuan...................................................................................... 2

BAB II PEBAHASAN................................................................... 3

2.1Definisi dan etiologi Granuloma gravidarum........................... 3

2.2Gambaran klinis granuloma gravidarum.................................. 4

2.3 Pathogenesis granuloma gravidarum....................................... 5

2.4 Histopatologi granuloma gravidarum...................................... 6

2.5 Perawatan dari granuloma gravidarum.................................... 7

2.6 Diferensial diagnosis dari granuloma gravidarum................... 8

BAB III LAPORAN KASUS........................................................ 9

3.1 Skenario Kasus........................................................................ 9

BAB IV PENUTUP....................................................................... 17

4.1 KESIMPULAN........................................................................ 17

DAFTAR PUTAKA...................................................................... 18

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Granuloma piogenik adalah pertumbuhan jaringan granulasi berlebihan sebagai

respons terhadap trauma atau iritasi dari faktor-faktor seperti kalkulus atau benda asing

(lewis & jordan, 2019). Granuloma pyogenikum lebih sering terjadi pada wanita,

kemungkinan karena efek vaskular dari hormon pada wanita. Ini terutama terjadi pada

dekade kedua kehidupan pada wanita muda. Granuloma piogenikum sering juga disebut

dengan pregnancy tumor (tumor kehamilan) atau granuloma gravidarum karena cukup

sering ditemui pada wanita hamil. Kenaikan bertahap perkembangan lesi ini pada

kehamilan diduga terkait dengan peningkatan hormon estrogen dan progesterone bagi

perkembangan kehamilan. Setelah kehamilan dan kadar hormon kembali normal,

beberapa granuloma piogenikum dapat sembuh tanpa perawatan atau menjadi seperti

fibrous (berserat) dan menyerupai fibroma (Pascawinata, 2016).

1
1.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan granuloma gravidarum?

b. Apa etiologi dari granuloma gravidarum?

c. Bagaimana gambaran klinis dari granuloma gravidarum?

d. Bagaimana pathogenesis terjadinya granuloma gravidarum?

e. Bagaimana histopatologi granuloma gravidarum ?

f. Bagaimana perawatan dari granuloma gravidarum?

g. Apa diferensial diagnosis dari granuloma gravidarum?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan granuloma gravidarum

b. Untuk mengetahui penyebab dari granuloma gravidarum

c. Untuk mengetahui gambaran klinis granuloma gravidarum

d. Untuk mengetahui pathogenesis terjadinya granuloma gravidarum

e. Untuk mengetahui perawatan dari granuloma gravidarum

f. Untuk mengetahui diferensial diagnosis dari granuloma gravidarum

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Etiologi Granuloma Gravidarum

Granuloma piogenik adalah pertumbuhan jaringan granulasi berlebihan

sebagai respons terhadap trauma atau iritasi dari faktor-faktor seperti kalkulus

atau benda asing (lewis & jordan, 2019). Granuloma pyogenikum lebih sering

terjadi pada wanita, kemungkinan karena efek vaskular dari hormon pada wanita.

Ini terutama terjadi pada dekade kedua kehidupan pada wanita muda. Granuloma

piogenikum sering juga disebut dengan pregnancy tumor (tumor kehamilan) atau

granuloma gravidarum karena cukup sering ditemui pada wanita hamil. Kenaikan

bertahap perkembangan lesi ini pada kehamilan diduga terkait dengan

peningkatan hormon estrogen dan progesterone bagi perkembangan kehamilan.

Setelah kehamilan dan kadar hormon kembali normal, beberapa granuloma

piogenikum dapat sembuh tanpa perawatan atau menjadi seperti fibrous (berserat)

dan menyerupai fibroma (Pascawinata, 2016).

Granuloma gravidarum (GG) adalah peradangan pada lesi, yang

berkembang di mukosa mulut wanita hamil dalam reaksi iritasi kronis derajat

rendah seperti biofilm bakteri, kalkulus gigi dan agen traumatis. Konsentrasi

meningkat estrogen dan progesteron meningkatkan kadar Prevotella intermedia

dalam biofilm subgingiva, mengurangi respons inang terhadap biofilm bakteri,

meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, mendukung infiltrasi cairan ke

dalam jaringan perivaskular dan meningkatkan respon inflamasi, memiliki peran

penting dalam perkembangan lesi (cardoso dkk, 2013).

3
2.2 Gambaran klinis Granuloma gravidarum

Gambaran klinis adalah berbentuk lesi lunak dan bermassa lobular yang

biasanya pedunkulata (bertangkai), walaupun beberapa lesi tidak bertangkai

(sessile). Karakteristik permukaannya bersifat ulserasi dan berwarna dari pink,

merah, hingga ungu, tergantung dari usia lesi (Pascawinata, 2016).Permukaan lesi

dapat halus atau berlobus, tetapi sering kali mengalami ulserasi, dan terututp oleh

membran fibrinosayang berwarna putih-kekuningan.pada palpasi teraba lunak,

cendrung mudah berdarah. Daerah yang terkena biasanya gingiva, lidah,bibir, dan

mukosa pipi (Laskaris, 2018).

Penelitian yang dilakukan oleh Cordoso dkk pada tahun 2012 41 kasus GG

yang didiagnosis di Divisi Obat Oral, Rumah Sakit São Lucas, Brasil. memiliki

hasil di mana Lesi berkembang terutama pada trimester ketiga kehamilan

(51,22%) dan usia rata-rata pasien adalah 28 tahun. Sebagian besar GG ditemukan

di gingiva (73,17%), berwarna kemerahan dan memiliki diameter rata-rata 1,5 cm.

Iritasi lokal terlibat dalam 75. 6% dari kasus. Selama kehamilan, karakteristik

inflamasi yang ditandai biasanya diamati pada gingiva, dengan adanya edema,

eritema intens, hiperplasia, dan kecenderungan perdarahan yang meningkat.

4
kecenderungan perdarahan yang meningkat. kecenderungan perdarahan yang

meningkat. Hal ini disebabkan oleh Hal ini disebabkan oleh Hal ini disebabkan

oleh kapasitas wanita hamil untuk menghasilkan progesteron dan estrogen dalam

jumlah besar, yang mempotensiasi respons vaskular (cordoso dkk, 2013).

2.3 Pathogenesis terjadinya granuloma gravidarum.

Granuloma piogenikum biasanya disebabkan karena infeksi Botryomycotic,

Staphylococci, dan Streptococci. Granuloma piogenikum terjadi akibat hasil dari

trauma minor pada jaringan, yang menjadi jalur invasi ke jaringan bagi

mikroorganisme non spesifik (Pascawinata, 2016). Regezi et al (2003)

memasukkan granuloma piogenik sebagai reactive hyperplasia sebagai respon dari

stimulus atau kerusakan jaringan akibat kalkulus atau benda asing dalam gingival

crevice. Beberapa etiologi seperti trauma, kerusakan pada gigi, iritasi kronis,

hormon, obat-obatan, gingivitis, overhang restoration, impaksi makanan,

periodontitis totalis diketahui dapat menyebabkan timbulnya lesi.

Enzinger dkk mengelompokkan granuloma piogenik sebagai Benign,

acquired, vascular, neoplasm. Adanya proliferasi vaskuler memberikan kesan

granuloma piogenik sebagai neoplasma. Terdapat dua faktor yang berperan

penting dalam angiogenesis pada granuloma piogenik yaitu VEGF dan bFGF.

Setelah mengalami trauma maka terjadi pemulihan jaringan dengan membentuk

jaringan granulasi dengan diawali migrasi sel radang, angiogenesis, proliferasi

fibroblast dan sintesis matriks ekstraseluler. Proses ini diatur oleh sitokin VEGF

dan bFGF.

5
bFGF merupakan factor pertumbuhan (a heparin binding angiogenic

protein) yang mitogenik tinggi untuk sel endotel vaskuler dan menstimulasi

angiogenesis. Beberapa peneliti menemukan bFGF yang tinggi pada granuloma

piogenik yang diyakini disintesa dan dilepaskan dari makrofag dan sel mast

kedalam matriks ekstraseluler selama neovaskularisasi jaringan granulasi

(Hanriko, 2016).

2.4 Histopatologi granuloma gravidarum.

Dari sudut pandang histopatologis, tidak ada perbedaan antara GG dan

granuloma piogenik. Ada variasi dalam nomenklatur lesi berdasarkan kejadiannya

pada periode kehamilan berdasarkan kejadiannya pada periode kehamilan

(cordoso dkk, 2013). Secara makroskopis granuloma piogenik berupa massa

polipoid berwarna merah kebiruan, kenyal, bias pedunculated atau sessile, ukuran

beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter. Kadang-kadang ditemukan

ulserasi akibat trauma sekunder dimana lesi ulserasi ditutupi membran fibrin

berwarna kuning. Secara mikroskopis granuloma piogenik memiliki pola

pertumbuhan eksofitik dikelilingi jaringan yang normal dilapisi epitel gepeng

berlapis yang rata, atrofi atau ulserasi dengan lesi terdiri dari proliferasi pembuluh

darah disertai jaringan granulasi. Terdapat sebukan sel radang limfosit dan sel

plasma. Netrofil terdapat di superficial dari daerah ulserasi (Hanriko, 2016).

6
2.5. Perawatan pada Granuloma Gravidarum

Penatalaksanaan kasus tersebut diakukan dengan biopsi eksisi atau

pengambilan seluruh bagian lesi dan dilanjutkan dengan pemeriksaan

histopatologis. Pertama, anestesi lokal diaplikasikan pada daerah sekitar lesi

dengan teknik anestesi infiltrasi. Setelah itu dilakukan eksisi dari lesi, kemudian

dilakukan diseksi pada sekeliling tepi mukosa untuk memudahkan dalam prosedur

penjahitan. Bentuk jahitan yang digunakan adalah simple interrupted suture

dengan menggunakan benang jahit jenis black silk..

Lesi yang telah diambil direndam dalam larutan formalin 10 % untuk

selanjutnya dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Pasien diinstruksikan untuk

makan makanan lunak dan menjaga agar bekas operasi tidak tergigit kembali.

Kontrol dilakukan 1 minggu setelah operasi untuk pengambilan jahitan dan 2

minggu setelahnya untuk observasi terjadinya rekurensi atau tidak. Kesimpulan

dari pemeriksaan patologi anatomi adalah granuloma pyogenikum (Pascawinata,

2016).

7
Perlunya intervensi bedah selama kehamilan harus diperiksa dengan

cermat, mengingat tingginya tingkat kekambuhan GG, serta kemungkinan regresi

setelah melahirkan, karena kemungkinan regresi setelah melahirkan, karena

normalisasi kadar normalisasi kadar hormon Secara umum, perawatan selama

kehamilan diperlukan jika lesi menyebabkan kerusakan fungsional atau estetika.

Di sisi lain, eksisi bedahnya diindikasikan setelah kehamilan. Kontrol biofilm

bakteri sangat Kontrol biofilm bakteri sangat Kontrol biofilm bakteri sangat

penting untuk mencegah kekambuhan setelah perawatan (cardoso dkk, 2013)

2.6 Diagnosis Banding Granuloma Gravidarum

Granuloma Giant cell tumors Epulis Epulis Granuloma


gravidarum Fissuratum fibromatosa piogenik

Etiologi Trauma lokal, Trauma , tumor Iritasi kronik Iritasi kronik Trauma lokal,
infeksi ,‘Faktor periodontium atau pemakaian gigi infeksi
sistemik karena membran tiruan
hormonal periodontal
( esterogen )

Jenis Wanita Semua jenis Semua jenis Semua jelnis Paling sering
kelamin kelamin kelamin tetapi kelamin pada wanita
lebih sering
pada wanita

Umur Usia subur Tidak signifikan Usia lanjut Dewasa dewasa

Lokasi Gingiva Gingiva Di bagian Gingiva , bibir , Mukosa


depan rahang mukosa bukal terutama di
ginggiva

Gambaran pertumbuhan Fibroblastik Poloferasi jaringan Pertumbuhan


mikroskopis berlebih jaringan polifersi, banyak ikat collagenic berlebih
granulasi dengan sel darah merah, dengan berbagai jaringan
proliferasi endotel sel raksasa derajat dengan sel granulasi yang
yang nyata osteoklastik dalam infiltasi inflamasi ditandai
jumlah yang dengan

8
bervariasi plofirasi
endotelia

 waktu Mulai pada awal Spontan dan Saat setelah Spontan Spontan dan
kehamilan pertumbuhan pemakaian gigi pertumbuhan
terbatas tiruan terbatas

BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Skenario Kasus

9
Seorang wanita berusia 28 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah dengan

keluhan adanya benjolan yang besar pada bagian gusi di antara gigi bagian bawah.

pasien tidak merasakan sakit hanya saja menyebabkan ketidaknyamanan yang

mengganggu aktivitas bibir dan mudah berdarah. Benjolan tersebut terjadi pada

minggu ke 15 kehamilannya, Pasien mengatakan bahwa benjolan tersebut secara

bertahap meningkat semakin lama membesar pada minggu ke-37 kehamilan.Pada

pemeriksaan ektra oral tidak ada keluhan dan pasien tersebut tidak memiliki

riwayat penyakit sistemik. Pada pemeriksaan intraoral menunjukkan adanya nodul

merah muda berukuran diameter 1,5 cm berada dibawah servikal gigi 43,

konsistensi lunak, mudah berdarah , terdapat karies pada gigi 35 24 dan terdapat

sisa akar pada gigi 16 17 26 35 36 46 47 dan kondisi rongga mulut pasien jelek.

A. Data Pasien

Nama Pasien        : Rani

No. Rekam Medis        : 053120

Umur            : 28 Tahun

Jenis Kelamin             : Perempuan

Alamat             :  Jl. Maransi

Pekerjaan            : Ibu rumah tangga

Agama            : Islam

B. Riwayat Kesehatan

 Anamnesis

1. Keluhan Utama

adanya benjolan yang besar pada bagian gusi di antara gigi bagian bawah

10
2. Keluhan Tambahan

Lokasi : benjolan besar pada bagian gusi di bawah servikal gigi 43

Waktu :pada minggu ke 15 kehamilannya dan secara bertahap meningkat

semakin lama membesar pada minggu ke-37 kehamilan.

Jenis : nodul merah muda berukuran , konsistensi lunak, mudah berdarah

Faktor pelega : pada saat diam

Sudah pernah diobati : Belum

Ukuran lesi : diameter 1,5cm

Faktor yang memperparah : jika terkena sikat gigi pada saat menggosok gigi

3. Riwayat perawatan gigi

Pasien tidak pernah melakukan perawatan gigi

4. Riwayat penyakit terdahulu

Pasien tidak mengalami penyakit sistemik dan pasien belum pernah dirawat

dirumah sakit.

5. Riwayat penyakit dalam keluarga 

Keluarga pasien tidak memiliki penyakit sistemik

6. Riwayat Sosial-Pekerjaan 

Pasien sering begadang dan memiliki waktu tidur 5-6 jam

7. Riwayat Kebiasaan buruk.

Pasien tidak memiliki kebiasaan buruk

C. Pemeriksaan Ekstra Oral

Kesadaran Umum

Kompos Mentis

Tanda-tanda Vital

11
Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi : 70x/menit

Suhu : 36,50 C

Respirasi : 18x/menit

Wajah        : Simetri

Bibir         : Normal

Sirkum oral    : Normal

Mata         : Normal

Hidung     : Normal

KGB        : Kanan tidak teraba, tidak sakit

          Kiri tidak teraba, tidak sakit

TMJ        : Normal

D. Pemeriksaan Intra Oral

Mukosa labial : Normal

Frenulum        : Normal

Mukosa bukal : Normal

Gingiva            : terdapat benjolan diameter1,5 cm dibawah servikal gigi

43 , konsistensi lunak , dan mudah berdarah

Palatum            : Normal

Lidah           : Normal

Dasar Mulut     : Normal

Jaringan periodontal : Normal

Uvula          : Normal

12
Tonsil           : Normal

Kebersihan mulut      : Buruk

Kelainan gigi geligi   :terdapat karies pada gigi 35 24 terdapat sisa akar pada

gigi 16 17 26 35 36 46 47.

E. Pemeriksaan Penunjang

Secara makroskopis granuloma gravidarum sama dengan granuloma

piogenik berupa massa polipoid berwarna merah kebiruan, kenyal, bias

pedunculated atau sessile, ukuran beberapa millimeter sampai beberapa

sentimeter. Kadang-kadang ditemukan ulserasi akibat trauma sekunder dimana

lesi ulserasi ditutupi membran fibrin berwarna kuning. Secara mikroskopis

granuloma piogenik memiliki pola pertumbuhan eksofitik dikelilingi jaringan

yang normal dilapisi epitel gepeng berlapis yang rata, atrofi atau ulserasi dengan

lesi terdiri dari proliferasi pembuluh darah disertai jaringan granulasi. Terdapat

sebukan sel radang limfosit dan sel plasma. Netrofil terdapat di superficial dari

daerah ulserasi

F. Diagnosa Klinis

Lesi vaskular tanpa rasa sakit jinak yang mempengaruhi 5% kehamilan.

Kondisi hormonal kehamilan dapat berdampak pada rongga mulut, membuat

pasien rentan terhadap lesi inflamasi seperti Granuloma gravidarum.

Granuloma gravidarum dapat mulai berkembang selama trimester

pertama. Selama kehamilan, karakteristik inflamasi yang ditandai biasanya

diamati pada gingiva, dengan adanya edema, eritema intens, hiperplasia, dan

kecenderungan perdarahan yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh kapasitas

13
wanita hamil untuk menghasilkan progesteron dan estrogen dalam jumlah besar,

yang mempotensiasi respons vaskular. Kehamilan mengubah kondisi hormon

wanita secara signifikan. Perubahan ini dapat berakibat pada rongga mulut, yang

membuat wanita hamil mengalami peradangan periodontal, di mana Granuloma

gravidarum adalah lesi reaksional yang dihasilkan dari peradangan ini.

G. Diagnosa Banding

Granuloma Giant cell tumors Epulis Epulis Granuloma


gravidarum Fissuratum fibromatosa piogenik

Etiologi Trauma lokal, Trauma , tumor Iritasi kronik Iritasi kronik Trauma lokal,
infeksi ,‘Faktor periodontium atau pemakaian gigi infeksi
sistemik karena membran tiruan
hormonal periodontal
( esterogen )

Jenis Wanita Semua jenis Semua jenis Semua jelnis Paling sering
kelamin kelamin kelamin tetapi kelamin pada wanita
lebih sering
pada wanita

Umur Usia subur Tidak signifikan Usia lanjut Dewasa dewasa

Lokasi Gingiva Gingiva Di bagian Gingiva , bibir , Mukosa


depan rahang mukosa bukal terutama di
ginggiva

Gambaran pertumbuhan Fibroblastik Poloferasi jaringan Pertumbuhan


mikroskopis berlebih jaringan polifersi, banyak ikat collagenic berlebih
granulasi dengan sel darah merah, dengan berbagai jaringan
proliferasi endotel sel raksasa derajat dengan sel granulasi yang
yang nyata osteoklastik dalam infiltasi inflamasi ditandai
jumlah yang dengan
bervariasi plofirasi
endotelia

 waktu Mulai pada awal Spontan dan Saat setelah Spontan Spontan dan
kehamilan pertumbuhan pemakaian gigi pertumbuhan

14
terbatas tiruan terbatas

H. Rencana Perawatan

Granuloma gravidarum pada kehamilan biasanya akan reduksi sendiri

setelah melahirkan tetapi jika granuloma gravidarum tersebut tidak hilang makan

pasien akan di rujuk ke bedah mulut untuk di lakukan operasi eksisi pada lesinya.

Selain itu menghilangkan sumber pencetusnya seperti kalkulus dan lainnya

termasuk perbaikan higiene oral oleh pasien.

KIE :

1. Jelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini terjadi karna trauma gigitan,

dan juga bisa timbul pada wanita hamil karena dipengaruhi leh hormon.

2. Instruksikan pasien untuk kontrol ke dokter gigi secara rutin 6 bulan sekali

dan menjaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi 2 kali sehari

(pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

SURAT RUJUKAN

15
BAB IV

16
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Lesi vaskular tanpa rasa sakit jinak yang mempengaruhi 5% kehamilan.

Kondisi hormonal kehamilan dapat berdampak pada rongga mulut, membuat

pasien rentan terhadap lesi inflamasi seperti Granuloma gravidarum. Granuloma

gravidarum dapat mulai berkembang selama trimester pertama. Selama

kehamilan, karakteristik inflamasi yang ditandai biasanya diamati pada gingiva,

dengan adanya edema, eritema intens, hiperplasia, dan kecenderungan perdarahan

yang meningkat.

Granuloma gravidarum pada kehamilan biasanya akan reduksi sendiri

setelah melahirkan tetapi jika granuloma gravidarum tersebut tidak hilang makan

pasien akan di rujuk ke bedah mulut untuk di lakukan operasi eksisi pada lesinya.

Selain itu menghilangkan sumber pencetusnya seperti kalkulus dan lainnya

termasuk perbaikan higiene oral oleh pasien.

DAFTAR PUSTAKA

17
Cardoso, J.A, dkk,. 2013., Oral granuloma gravidarum: a retrospective study of
41 cases in Southern Brazil., J Appl Oral Sci., Vol 21(3):215-8

Hanriko, R. 2016., Granuloma Piogenik Pada Ginggiva., JK Unila., Vol 1(2):


428-431

Mcdonald, R.H, Lieutekant, Grade .J., 1956., GRANULOMA GRAVIDARUM”


Pregnancy Tumor of the Gingiva”., The Department of Obstetrics and
Gynecology, United States Naval Hospital, Key West, Fla., Vol 72 (5)

Pascawinata ,A., 2016 ., PENATALAKSANAAN GRANULOMA


PYOGENIKUM PADA BIBIR BAWAH (Laporan Kasus) ., Jurnal
B-Dent, Vol 3(1) 18-22

18