Anda di halaman 1dari 13

Pengauditan Internal

Dosen : Ni Made Sunarsih, SE, M.Si


Contoh Kertas Kerja Internal Audit

Di susun oleh :

Nama : Ni Nyoman Sulistya Yunia


No/ Nim : 31/ 1702622010198
Kelas : Akuntansi A Malam

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2020
CONTOH KERTAS KERJA AUDIT

Lembaga Audit Pemerintah

TIM AUDIT KINERJA


DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

 
KERTAS KERJA AUDIT
Auditee               : Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB)
Tahun Buku        : 2012
Dibuat oleh         : Asna Maulida Rizky
Direview oleh      : Moch. Bara Ampera
PEMAHAMAN ATAS ENTITAS YANG DIAUDIT
 
Tujuan
Memahami DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
Langkah-langkah:
1. Wawancara dengan manajemen dan staf kunci.
2. Review kebijakan-kebijakan, pengarahan-pengarahan, dan dokumen-
dokumen.
3. Review laporaan kinerja entitas serta laporan mengenai rencana kerja dan
prioritasnya.
4. Review peninjauan fisik terhadap fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh entitas.
5. Telusuri sistem dan prosedur pengendalian.
6. Analisis hubungan antara pemanfaatan sumber daya dan hasilnya.
7. Identifikasi risiko entitas.
8. Review laporan-laporan audit dan studi yang telah dilakukan sebelumnya,
termasuk laporan audit yang dilakukan oleh auditor lainnya.

Hasil
1. Gambaran Umum Entitas
2. Pemahaman atas Input, Proses, dan Output Entitas
3. Informasi Lainnya

Lembaga Audit Pemerintah


TIM AUDIT KINERJA
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

 
KERTAS KERJA AUDIT
Auditee              : Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB)
Tahun Buku        : 2012
Dibuat oleh         : Asna Maulida Rizky
Direview oleh    : Moch. Bara Ampera

GAMBARAN UMUM ENTITAS


1. PROFIL ORGANISASI
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 131/PMK.01/2006 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal
Perbendaharaan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan
dan standardisasi teknis di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan
kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. 
Dalam melaksanakan tugas dimaksud, Direktorat Jenderal Perbendaharaan
menyelenggarakan fungsi:
1) penyiapan perumusan kebijakan Departemen Keuangan di bidang
perbendaharaan negara;
2) pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3) penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang
perbendaharaan negara;
4) pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbendaharaan negara;
5) pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

2. VISI
”Menjadi pengelola perbendaharaan negara yang profesional, modern, dan
akuntabel guna mewujudkan manajemen keuangan pemerintah yang efektif
dan efisien”
3.  MISI
1) Menciptakan fungsi pelaksanaan anggaran yang efektif.
2) Mewujudkan pengelolaan kas yang efisien dan optimal.
3) Menciptakan sistem manajemen investasi yang tepat sasaran.
4) Mewujudkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum yang
fleksibel, efektif, dan akuntabel.
5) Mewujudkan akuntansi keuangan negara yang akuntabel, transparan,
tepat waktu dan akurat.
6) Mewujudkan dukungan teknis perbendaharaan yang handal,
terintegrasi, terotomatisasi, dan mudah diterapkan.
7) Menyempurnakan proses bisnis sistem perbendaharaan sesuai best
practice.
8) Melaksanakan pemberdayaan dan integrasi seluruh sumber daya
organisasi secara optimal.
STRUKTUR ORGANISASI

Susunan Organisasi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan terdiri dari:


1. Sekretariat Direktorat Jenderal;
2. Direktorat Pelaksanaan Anggaran;
3. Direktorat Pengelolaan Kas Negara;
4. Direktorat Transformasi Perbendaharaan;
5. Direktorat Sistem Manajemen Investasi;
6. Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;
7. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan;
8. Direktorat Sistem Perbendaharaan.

RENCANA STRATEGIS
a. Organisasi
b. Pelayanan prima
c. Peningkatan Kapasitas Pengelola Keuangan Negara 
d. Pengembangan organisasi yang modern
e. Pengelolaan anggaran yang optimal 
f. Peningkatan Kualitas SDM
g. Reformasi Birokrasi
Fungsi Pelaksanaan Anggaran 
a. Pelaksanaan belanja negara yang optimal Tingkat kepuasan pelanggan yang
tinggi
b. Pelayanan prima melalui manajemen pelaksanaan anggaran yang efektif dan
efisien 
c. Optimalisasi monitoring dan evaluasi
Fungsi  Pengelolan Kas Negara
a. Pengelolaan Kas Negara yang optimal
b. Pengelolaan perbendaharaan negara yang yang efektif dan efisien
c. Optimalisasi monitoring dan evaluasi
Fungsi Sistem Manajemen Investasi
a. Investasi pemerintah yang optimal bagi sektor riil
b. Optimalisasi penyaluran dana investasi
c. Peningkatan transparansi pengelolaan keuangan penerusan pinjaman yang
akuntabel dan wajar
d. Penyempurnaan tingkat kesehatan keuangan dan kemampuan manajerial
keuangan BUMN/BUMD dan Pemda
e. Penggunaan mekanisme on-budget dalam pengelolaan pinjaman kepada
BUMN/BUMD/Pemda
f. Peningkatan kinerja operator investasi pemerintah yang semakin professional,
kepastian hukum, transparan, dan akuntabel dalam memberikan manfaat
ekonomi, sosial, dan /atau manfaat lainnya
g. Peningkatan kapasitas SDM stakeholder khususnya BUMN/PDAM/Pemda
dalam melakukan pengelolaan pinjaman
h. Penurunan tingkat risiko gagal dalam pengembalian dana dibidang investasi,
pinjaman, dan kredit program
i. Penyediaan dan penyaluran dana investasi pemerintah, penerusan pinjaman
dan kredit program yang sesuai dengan program dan kebijakan yang telah
ditetapkan

Fungsi Badan Layanan Umum


a. Penerapan pengelolaan keuangan BLU yang efektif
b. Tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi
c. Pelayanan prima melalui peningkatan kinerja pelayanan publik 
d. Tingkat kepatuhan dan penegakan hukum
Fungsi Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
a. Pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel
b. Transparansi pengelolaan keuangan Negara
c. Optimalisasi monitoring dan evaluasi
d. Tingkat kepatuhan dan penegakan hukum
Fungsi  Sistem Perbendaharaan
a. Penerapan sistem perbendaharaan yang handal dan modern
b. Tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi
c. Kajian dan perumusan kebijakan yang berkualitas
d. Peningkatan kapasitas pengelola keuangan negara 
e. Optimalisasi monitoring dan evaluasi
Fungsi  Transformasi  Perbendaharaan
a. Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang terintegrasi
b. Penerapan sistem perbendaharaan yang handal dan modern
Lembaga Audit Pemerintah
TIM AUDIT KINERJA
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

 
KERTAS KERJA AUDIT
Auditee              : Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB)
Tahun Buku        : 2012
Dibuat oleh         : Asna Maulida Rizky
Direview oleh    : Moch. Bara Ampera
IDENTIFIKASI AREA KUNCI
 
Tujuan
Menentukan area kunci.
Langkah-langkah:
1. Analisis untuk menentukan area audit potensial dengan menggunakan
pendekatan faktor pemilihan pada empat tugas utama Direktorat Jenderal
Perbendaharaan (DJPB), yaitu:
1) penyiapan perumusan kebijakan Departemen Keuangan di bidang
perbendaharaan negara;
2) pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
3) penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang
perbendaharaan negara;
4) pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbendaharaan
negara;
5) pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan


pemeringkatan atas area audit potensial adalah sebagai berikut:
1) Risiko manajemen, yaitu risiko bahwa entitas atau area yang
akan diaudit melakukan tindakan ketidakekonomisan,
ketidakefisienan, dan ketidakefektifan.
2) Signifikansi, yaitu dari suatu area audit yang berkaitan dengan
tingkat besar kecilnya pengaruh kegiatan tersebut terhadap
entitas secara keseluruhan. Disini tim audit berfokus pada
visibilitasnya
3) Dampak potensial dari audit kinerja, yang meliputi unsur
efektivitas, peningkatan perencanaaan, pengendalian dan
pengelolaan, serta peningkatan akuntabilitas efisiensi,
ekonomi, dan kepentingan mutu pelayanan. Dalam hal ini
peningkatan pengendalian dan pengelolaan dimasukkan
sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam pembobotan
karena entitas yang diaudit melakukan koordinasi pelaksanaan
tugas serta pembinaan dan pemberian dukungan administrasi
Kementerian Keuangan.
4) Auditabilitas, berkaitan dengan kemampuan tim audit dalam
melaksanakan audit berdasarkan standar profesional.
2. Analisis untuk menentukan area kunci berdasarkan area dengan memerhatikan
beberapa faktor sebagai berikut.
1) Risiko manajemen, yaitu risiko manajemen tidak tercapainya ‘3E’
(ekonomis, efisiensi, dan efektivitas).
2) Signifikansi, yaitu menilai apakah suatu kegiatan dalam area audit
secara komparatif memiliki pengaruh yang besar terhadap kegiatan
lainnya dalam objek audit secara keseluruhan. Faktor-faktor yang
dipertimbangkan antara lain Materialitas keuangan, Batas kritis
keberhasilan, Visibilitas.
3) Dampak hasil pemeriksaan, yaitu pengaruh hasil audit terhadap
perbaikan atas area yang diaudit. Oleh karena entitas yang diaudit
adalah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) yang bertugas
menjadi pengelola perbendaharaan negara yang profesional, modern,
dan akuntabel guna mewujudkan manajemen keuangan pemerintah
yang efektif dan efisien, maka unsur lain yang juga harus dilihat dalam
“dampak hasil pemeriksaan” adalah apakah tugas Jenderal
Perbendaharaan (DJPB) tersebut dapat berjalan dengan baik dengan
adanya audit kinerja ini.
4) Auditabilitas, berkaitan dengan kemampuan tim audit untuk
melaksanakan audit sesuai dengan standar profesional.

Hasil
1. Area Audit Profesional
Dari kelima  area audit potensional yang ada, area audit yang dipilih adalah
‘penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang
perbendaharaan negara’.
2. Area kunci
Area kunci yang akan dinilai oleh tim audit berdasarkan hasil analisis dalam
pelaksanaan audit di lapangan, yaitu:
penyempurnaan peraturan tentang penyusunan, penelaahan, dan pelaksanaan
DIPA sesuai performance based budgeting dan MTEF.
Lembaga Audit Pemerintah
TIM AUDIT KINERJA
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

 
KERTAS KERJA AUDIT
Auditee              : Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB)
Tahun Buku        : 2012
Dibuat oleh         : Asna Maulida Rizky
Direview oleh    : Moch. Bara Ampera
PENETAPAN TUJUAN DAN LINGKUP AUDIT
Tujuan
Menetapkan tujuan audit tetap (firm audit objective) dan lingkup audit.
Langkah-langkah:
1. Tentukan tujuan audit tetap berdasarkan area kunci yang telah ditetapkan
sebelumnya.
2. Tentukan lingkup audit dengan langkah-langkah sebagai berikut. 
3. Manfaatkan informasi dari tahap audit sebelumnya
4. Sesuaikan lingkup audit
5. Gunakan pertimbangan profesional
6. Pertimbangkan karakteristik objek audit

Hasil
1. Tujuan Audit Tetap
Dari lima  area potensial yang ada, tim audit melihat area ‘penyusunan
standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang perbendaharaan
negara’ adalah yang terpenting untuk dilakukan audit karena betapa besar
dampak  area tersebut. Bersasarkan pertimbangan di atas, tim audit akan lebih
berfokus pada penilaian atas efektivitas penyempurnaan peraturan tentang
penyusunan, penelaahan, dan pelaksanaan DIPA sesuai performance based
budgeting dan MTEF dengan harapan bahwa audit ini akan mengoptimalkan
pelaksanaan belanja negara. Dengan demikian perumusan audit tetap adalah
“ menilai efektivitas penyempurnaan peraturan tentang penyusunan,
penelaahan, dan pelaksanaan DIPA sesuai performance based budgeting dan
MTEF.”
Untuk memenuhi tujuan di atas, audit akan menilai:
1) Apakah struktur organisasi dan pengelolaan keuangan tekah
mendukung penyusunan, penelaahan, dan pelaksanaan DIPA sesuai
performance based budgeting dan MTEF?
2) Apakah proses penyusunan, penelaahan, dan pelaksanaan DIPA telah
sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan?
3) Apakah penyusunan, penelaahan, dan pelaksanaan DIPA dan penilaian
kinerja DJPB  telah dikelola dan dipertanggungjawabkan dengan baik?
2. Lingkup audit
1) Tahun anggaran yang diaudit adalah 2011 dan 2012.
2) Lingkup kegiatan yang diperiksa dalam audit meliputi penyusunan
standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang
perbendaharaan negara.
3) Lingkup kegiatan yang diuji dalam audit berdasarkan pemilihan are
kunci yang sudah dilakukan mencakup satu area kunci, yaitu area
penyempurnaan peraturan tentang penyusunan, penelaahan, dan
pelaksanaan DIPA sesuai performance based budgeting dan MTEF.
4) Lokasi audit di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB)
5) Audit pada instansi-instansi Eselon 1 lain di bawah Kementerian
Keuangan hanya bersifat konfirmasi.