Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN TEORITIS

A. EKSTRASI VAKUM
1. Pengertian
Ekstraktor vakum adalah alat yang digunakan sebagai traksi.
Alat ini dapat digunakan sebagai alternative forsep. Mangkuk
vakum menempel pada kepala bayi karena adanya daya isap dan
digunakan untuk membantu upaya ibu.

2. Penggunaan vakum
Vakum dapat digunakan jika terjadi keterlambatan dalam
persalinana, jika serviks tidak mengalami dilatasi yang cukup (Miller
& Haretty 1997). Seperti halnya forsep, vakum harus digunakan jika
kepala janin telah mengalami engagement dan tidak ada
disproporsi sefalopelvik. Metode ini juga dapat dilakukan pada
kelahiran bayi kembar yang kedua, jika posisi kepala msih relative
tinggi. Dalam hal ini penggunaan vakum lebih aman dan lebih
sederhana dibandingkan forsep.

3. Pemasangan Mangkuk Vakum


Ada beberapa hal yang masih tetap menjadi kontroversi
berkaitan dengan pemasangan vakum ( Lim et al 1997 ). Metode
bertahap atau konvensional merekomendasikan peningkatan
vakum secara bertahap agar mangkuk vakum benar-benar
menempel denagn rapat pada bagian presentasi.

4. Mangkuk Ekstraktor Lunak dan Keras


Mangkok logam yang digunakan adalah varietas Bird (Johanson
& Menon 1997) dan memiliki rantai traksi sentral serta slang vakum.
Mangkuk ini berdiameter 4,5 dan 6 cm. Saat ini, mangkuk karet
silikon baru lebih disukai karena dibentuk sesuai kepala bayi. Hal
memungkinkan dipasangnya mangkuk tersebut jauh dibelakang
kepala bayi untuk meningkatkan fleksi. Mengurangi diameter
kepala, dan mempermudah pelahiran.
Keuntungan menggunakan mangkuk silicon baru yang dapat
dibentuk adalah bahwa efeknya pada kulit kepala bayi sangat
sedikit ( Miller & Handretty 1997 ). Mangkuk yang lunak memiliki
angka keberhasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan
mangkuk logam, tetapi lebih jarang menimbulkan trauma kulit
kepala ( Chenoy & Johanson 1992 ).

5. Penatalaksanaan
Ibu biasanya berada pada posisi litotomi dan tindakan
kewaspadaan yang sama dilakukan seperti pada pelahiran dengan
forsep. Dapat digunakan anestesi lokal atau analgesia inhalasi.
Blok saraf pudendal atau epidural dapat dilakukan secara rutin.
Bidan harus menjelaskan prosedur ini kepada ibu dan
persetujuan tindakan harus diperoleh, kemudian analgesia yang
adekuat diberikan dan kandung kemih dikosongkan. Frekuensi
jantung janin dicatat secara teratur. Mangkuk vakum dipasang
sedekat mengkin dengan, atau pada titik fleksi kepala janin. Vakum
pada mangkuk ditingkatkan secara bertahap hingga cukup rapat
dengan kepala janin. Biasanya vakum mencapai 0.8 kg/cm²,
dengan peningkatan 0,2 kg/ cm² secara bertahap, atau secara
langsung sebesar 0,2 sampai 0,8 kg / cm². Jika kondisi vakum telah
tercapai, penarikan dilakukan pada saat kontraksi, dibantu dengan
upaya abu untuk melibatkan ibu dalam pengalaman melahirkan.
Penarikan dilakukan ke arah bawah dan belakang, kemudian ke
depan dan ke atas, mengikuti bentuk kurva pelvis, kurva Carus.
Vakum dihentikan dan mangkuk vakum kemudian dilepas pada
saat kepala janin mengalami crowning, karena pada saat ini, kepala
tidak akan masuk kembali. Ibu kemudian dapat mengejan untuk
melahirkan bayi sebagai bagian akhir pelahiran. Dengan demikian,
ibu dilibatkan dan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi. Hal
ini akan akan memberikan pengalaman yang lebih memuaskan
bagi ibu dan keluarga.
Kewaspadaan yang harus digunakan. Meliputi hal berikut :
• Kecermatan harus dilakukan untuk memastikan
bahwa tidak ada kulit vagina yang terjepit di tepi
mangkuk vakum.
• Tidak boleh dilakukan penarikan yang terlalu lama
atau berlebihan

6. Komplikasi
Secara aktual, vakum bekerja dengan meninggikan kaput
buatan sehingga tidaklah logis jika dikatakan bahwa kaput
merupakan komplikasi intervensi ini, karena tujuannya adalah
membentuk chignon. Namun demikian, traksi yang terlalu lama
akan meningkatkan kemungkinan abrasi kulit kepala,
sefalhematoma, atau perdarahan subaponeuretik ( Miller &
Hanretty 1997 ).
Kegagalan metode vakum dapat mencapai 20 % pada setiap
kasus (Drife 1996). Kemungkinan kegagalan ini lebih besar jika
terdapat kaput yang berlebihan, dan dilakukan dokter spesialis
obstetrik yang kurang berpengalaman. Peran bidan adalah
meningkatkan efisiensi metode ini secara keseluruhan, dan
memberi dukungan pada ibu dan pasangan.

B. PERSALINAN MACET
1. Pengertian
Perasalinan disebut mengalami obstruksi jika tidak ada
kemajuan penurunan bagian presentase janin sekalipun uterus
berkontraksi dengan kuat. Obstuksi biasanya terjadi pada gelang
pelvik, tetapi juga dapat juga terjadi pada pintu bawah pelvik.

2. Penyebab Persalinan Macet


a. Disproporsi sefalopelvik atau ketidaksesuaian antara ukuran
pelvis ibu dan janin yang menghalangi kelahiran per vagina. Hal
ini merupakan penyebab tersering persalinan macet. Janin
mungkin berukuran terlalu besar dibandingkan dengan pelvis,
atau pelvis mungkin mengalami kontraksi.
b. Persalinan macet pada diameter transversal. Hal ini
merupakan akibat posisioksipitoposterior, dan
dapatmenyebabkan terjadinya persalinan macet.
c. Malpresentasi. Pelahiran per vagina tidak mungkin
dilakukan pada kasus presentasi bahu atau dahi, atau posisi
mentoposterior persisten.
d. Massa pelvik. Fibroid yang berada di segmen bawah atau
pada serviks dapat menghambat penurunan kepala janin
sehingga menyebabkan terjadinya persalinan macet. Tumor
ovarium atau tumor tulang pelvis yang jarang terjadi juga dapat
menghambat masuknya kepala janin ke pelvis.
e. Abnormalitas janin. Abnormalitas seperti hidrosefalus
menimbulkan ketidaksesuian antara ukuran janin dan pelvis
yang menyebabkan terjadinya obstruksi. Kembar siam, atau
kembar terkunci merupakan penyebab yang jarang terjadi.

3. Tanda-tanda Persalinan Macet


Bagian janin tidak memasuki gelang pelvik, meskipun uterus
berkontraksi dengan baik. Bidan harus memastikan terlebih dahulu
bahwa tidak ada hal lain, misalnya kandung kemih yang penuh,
rektum yang menjadi penyebab gagalnya penurunan janin.
Bagian presentasi janin tidak dapat turun sehingga dilatasi
serviks akan terpengaruh dan dilatasi berlangsung lambat. Serviks
digambarkan menggantung bebas seperti lengan baju yang kosong
karena bagian persentase janin tidak terdapat di dalamnya.
Kontraksi uterus menekan membran yang menutupi serviks, yang
menyebabkan terjadinya ruptur dini atau pembentukan kantong
forewater yang memanjang.

4. Penatalaksanaan Persalinan Macet


Penatalaksanannya meliputi pecegahan persalinan macet.
Pengkajian risiko yang dilakukan pada periode antenatal dimulai
denagn mencatat adanya riwayat persalinan lama atau pelahiran
yang sulit. Pengkajian antenatal meliputi pemeriksaan abdomen,
yang dapat memberi tahu bidan tentang adanya malpresentasi atau
tanda-tanda disproporsi sepalopelvik.
Perujukan dapat sebelum awitan persalinan dan
penatalaksanaan kasus disesuaikan untuk memastikan untuk
memastikan pelahiran yang aman. Seksio sesaria elektif mungkin
dianjurkan.
Pengkajian yang cermat terhadap kemajuan persalinan
membantu mendeteksi penurunan yang lambat sebelum persalinan
mengalami obstruksi. Korelasi hasil pemeriksaan abdomen dan
pemeriksaan vagina membantu memastikan penurunan bagian
presentasi janin pada pelvis.
Jika persalinan macet diketahui pada kala satu, yaitu ketika
kepala mengalami ekstensi menjadi presentasi dahi, pelahiran
harus dilakukan dengan seksio sesaria. Pada kala dua persalinan,
kegagalan kemajuan persalinan dan penurunan janin dapat
disebabkan oleh persalinan yang macet pada diameter tranversal.
Jika obstruksi tidak dapat diatasi dengan rotasi dan pelahiran
dengan alat bantu, seksio sesaria harus dilakukan segera mungkin.
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny. L
DENGAN P1 POST EKSTRASI VAKUM ATAS INDIKASI
PERSALINAN MACET DIRUANG NIFAS III RSUP
PERSAHABATAN

No. Register : 2.09.08.23.0009


Tanggal masuk : 23 Agustus 2009 jam : 15.00 WIB
Tanggal pengkajian : 24 Agustus 2009 Jam : 10.00 WIB

IDENTITAS ( BIODATA )
a. Ibu
Nama : Ny. L
Umur : 31 tahun
Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Jawa / Indonesia
Pend. Terakhir : S1
Pekerjaan : swasta
Alamat : Jl. Poncol atas RT. 17/ 05 kel. Jati kec:
Pulogadung
b. Suami
Nama : Tn. S
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pend. Terakhir : STM
Pekerjaan : swasta
Alamat : Jl. Poncol atas RT. 17/ 05 Kel. Jati Kec:
Pulogadung

RIWAYAT PERSALINAN
Tempat : RSUP Persahabatan Jakarta
Tanggal : 23 Agustus 2009 Jam : 12.00
Ditolong oleh : Bidan dan dokter
Kelahiran ke :1
Jenis persalinan : ekstrasi vakum
Jenis kelamin : laki-laki BB: 3600 gr PB : 40 CM

PENYULIT DAN KOMPLIKASI


Tekanan darah tinggi, kejang, infeksi, lain-lain tidak ada
Tindakan dan pengobatan masa persalinan : ekstrasi vakum
BAK : 6 x sehari
BAB : 1 x sehari

S : Ibu mengatakan melahirkan tanggal 23-08-2009 jam: 12.00 WIB


secara ekstrasi vakum, jenis kelamin laki-laki, ani merupakan
persalinan yang pertama, tidak pernah menderita penyakit
jantung, hypertensi, kejang, ibu tidak ada keluhan hari ini.
Perdarahan tidak ada, pengeluaran ASI sudah ada, ibu belum
menyusui bayinya.
O : Keadaan umum : lemah
Keadaan emosional : stabil
1. tanda-tanda vital
TD : 90/60 mmHg
N : 72x / menit
S : 36˚C
R : 18 x / menit
2. Mata : konjungtiva anemis
Sklera tidak ikterik
3. Payudara : simetris, pembesaran ada, pengeluaran ASI
dan kolostrum ada
4. Abdomen : tidak terdapat luka operasi
TFU : 2 jari bawah pusat
Kontraksi uterus baik, konsistensi uterus
keras
Kandung kemih kosong
5. Pengeluaran lochea warna merah kekuningan jumlah
pembalut 2, bau amis.
6. Perineum : terdapat jahitan perineum
7. Anus : tidak ada haemoroid
8. Ekstremitas : oedema tiak ada, refleks ka / ki : ( + )
9. Eliminasi : BAK : 6 x sehari terpasang kateter
BAB : 1 x sehari

Data penunjang
Haemoglobin : 8,9 gr / dl

A : P1 post ekstraksi vakum atas indikasi persalinan macet hari ke-1


anemia hormositik
P : - KU : lemah
- Observasi TTV
TD : 90/60 mmHg
N : 72 x / menit
S : 36˚C
R : 18 x / menit
- Mengobservasi TFU : 2 jari bawah pusat
Perdarahan tidak ada, kontraksi uterus : baik
- Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup dan
mencegah kelelahan yang berlebihan
- Menganjurkan ibu memperhatikan personal hygiene
- Menjelaskan dan mendemonstrasikan pada ibu tentang
perawatan ibu sehari-hari
- Menjelaskan dan mendemonstrasikan kepada ibu tentang
perwatan payudara
- Memberi motivasi kepada ibu mengenai pentingnya
pemberian ASI dan penggunaan alat komtrasepsi setelah
persalinan
- Menjelaskan kepada ibu tentang pentingnya pemenuhan
nutrisi bagi ibu dan bayi.