Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I

PENGENALAN ALAT DAN BAHAN KIMIA

OLEH:
NAMA : LUTHFIA ZALFA KAMILINA
NIM : K1A020038
KELOMPOK : 04
HARI/ TANGGAL : SELASA/ 22 SEPTEMBER 2020
ASISTEN : ALFIANI NUR OCTAVIA
SHIFT : SELASA, 12.30- SELESAI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA DASAR
PURWOKERTO
2020
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

JUDUL PRAKTIKUM ........................................................................................... 1

I. TUJUAN ...................................................................................................... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 1

III. PROSEDUR PERCOBAAN ...................................................................... 4

3.1 Alat............................................................................................................ 4

3.2 Bahan ........................................................................................................ 4

3.3 Cara Kerja ................................................................................................. 4

3.4 Skema Kerja .............................................................................................. 6

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 9

4.1 Data Pengamatan ...................................................................................... 9

4.2 Pembahasan ............................................................................................ 12

V. KESIMPULAN ......................................................................................... 26

5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 26

5.2 Saran ........................................................................................................ 26

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27

ii
PENGENALAN ALAT DAN BAHAN KIMIA

I. TUJUAN

1. Mengenal alat-alat praktikum dan kegunaannya.

2. Mengenal bahan-bahan kimia, rumus molekul, bobot molekul dan


derajat kemurniannya.
3. Mengenal alat dan cara menimbang.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Laboratorium kimia merupakan sebuah tempat yang digunakan untuk
melakukan suatu percobaan dan penelitian yang disebut praktikum. Praktikum di
laboratorium sangat dibutuhkan untuk mempelajari ilmu-ilmu kimia secara nyata
dan diperlukan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam
melakukan suatu percobaan, kita tentunya harus mengetahui alat-alat yang
digunakan dalam praktikum. Alat-alat yang digunakan tersebut disesuaikan dengan
tujuan percobaan. Akan tetapi, selain sudah mengetahui masing-masing nama alat,
praktikan juga harus mengetahui fungsi alat-alat yang digunakan dan bagaimana
cara menggukannya (Achmad, 1993).

Dalam sebuah praktikum, praktikan diwajibkan mengenal dan memahami


cara kerja, serta fungsi dan alat-alat di laboratorium. Selain untuk menghindari
kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-
masing alat dan bahan, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna
(Waltor, 2010). Pengenalan alat laboratorium sebelum melakukan suatu percobaan
sangatlah penting, agar dapat mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan dalam
pelaksanaan praktikum dan apabila terjadi kecelakaan dalam pelaksanaan
praktikum dapat langsung diatasi dengan cepat dan sebaik mungkin. Alat-alat
laboratorium tersebut ada yang berfungsi dalam proses pemanasan, misalnya
pembakaran gas. Ada juga alat-alat yang mempunyai jenis dan macam yang

1
2

kompleks sehingga dalam penggunaannya memerlukan ketelitian dan kehati-hatian


yang tinggi (Prabowo, 2009).

Dalam melakukan percobaan di laboratorium atau bekerja dalam


laboratorium terutama laboratorium kimia, seseorang akan selalu dihadapkan pada
hal-hal yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia, peralatan yang dapat
berbahaya dan merugikan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar bila
tidak digunakan dengan baik. Seperti pekerjaan lainnya, bekerja dalam
laboratorium kimia mempunyai resiko kecelakaan kerja. Resiko ini dapat
disebabkan karena faktor ketidaksengajaan, keteledoran dan sebab-sebab lain yang
diluar kendali manusia. Terutama disebabkan karena kesalahan penggunaan alat
dan bahan, sehingga menjadi sangat penting untuk mengetahui setiap kemungkinan
bahaya (Setiawati, 2009). Suatu laboratorium harus merupakan tempat yang aman
bagi para pekerja atau pemakainya yaitu para praktikan. Aman terhadap
kemungkinan kecelakaan fatal maupun sakit atau gangguan kesehatan lainnya.
Hanya didalam laboratorium yang aman, bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan
dan keracunan seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif dan efisien
(Khasani, 1990).

Kebanyakan peralatan untuk percobaan-percobaan di dalam laboratorium


tersebut terbuat dari gelas (kaca). Meskipun alat-alat tersebut telah siap dipakai,
namun dalam pemasangan alat untuk suatu percobaan kadang kala diperlukan
sambungan-sambungan dengan gelas atau alat lain untuk membuat peralatan
khusus sesuai kebutuhan (Imam, 2010). Pemakaian bahan kimia akan sangat
berpengaruh terhadap alat-alat yang digunakan. Setiap alat dirancang dengan
bahan-bahan yang berbeda, ada yang terbuat dari gelas, kayu, porselen, aluminium,
plastik dan lain-lain sesuai dengan fungsinya masing-masing. Alat-alat tersebut ada
yang tahan terhadap basa, tahan terhadap asam, tahan terhadap panas dan ada yang
hanya tahan terhadap kondisi normal. Oleh sebab itu, penggunaan alat dan bahan
kimia sangat menentukan keberhasilan suatu penelitian (Waltor, 2010).
3

Selain itu, dalam mengukur suatu zat atau bahan hendaknya menggunakan
suatu alat. Alat yang digunakan untuk mengukur suatu zat kimia adalah gelas ukur.
Akan tetapi, pengukuran dari gelas ukur ini penggunaannya tidaklah terlalu teliti.
Salah satu contoh alat praktikum pengukuran yang mempunyai tingkat ketelitian
tinggi yaitu pipet ukur. Namun pengukuran dengan pipet ukur ini tidak terlepas juga
dari ketelitian praktikan (Rohman, 2011).
4

III. PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat dan bahan kimia
ini antara lain gelas beker, buret, gelas ukur, pipet tetes, pipet ukur, tabung reaksi,
pengaduk, spatula, erlenmeyer, labu destilasi, corong, cawan, mortar dan pestle, hot
hand, kertas saring, kaki tiga, penjepit, kaca mata, oven, inkubator, tanur,
kondensor, gelas arloji, filler karet, dan pipet mikro.

3.2 Bahan
Bahan-bahan kimia yang digunakan yaitu bahan-bahan kimia dalam botol
kemas yang ada di lemari seperti amoniak (NH3), asam sulfat (H2SO4), asam
sianida (HCN), natrium sulfat (Na2SO4), metil alkohol (CH3OH), perak nitrat
(AgNO3), sukrosa (C12H12O11), akuades, dan bahan kimia lain yang tersedia.

3.3 Cara Kerja


a) Pengenalan Alat

1. Contoh alat yang disediakan diamati oleh praktikan. nama alat sesuai
dengan nomornya beserta fungsinya dituliskan oleh praktikan.

2. Dipandu oleh asisten, penggunaan masing-masing alat dipraktekkan


oleh praktikan

b) Pengenalan Bahan Kimia

1. Label dalam botol kemasan bahan kimia yang telah disediakan


diamati oleh praktikan.

2. Nama bahan kimia, rumus molekul, berat molekul, derajat


kemurnian, densitas, dan hazardous level dituliskan oleh praktikan.
5

c) Penimbangan

1. Persiapan Menimbang:

a. Jika gelembung udara tidak terletak di tengah lingkaran, waterpass


(air bubble) diperiksa dengan cara kaki neraca pada bagian belakang
diputar

b. Semua bagian dalam neraca termasuk piringannya dibersihkan.

c. Neraca tersebut dihubungkan dengan arus listrik.

2. Penimbangan:

a. Pintu neraca dalam keadaan tertutup. Tombol on ditekan dan


dibiarkan sampai neraca terbaca angka 0,000 g.

b. Pintu neraca dibuka, lalu wadah kosong diletakkan di atas piring


neraca.

c. Wadah kosong dicatat.

d. Sejumlah zat yang diinginkan ditimbang dengan cara zat sedikit demi
sedikit dimasukkan ke dalam wadah sampai menunjukkan angka
tertentu.

e. Bobot wadah beserta isinya dicatat.

f. Bobot zat adalah selisih bobot wadah dari atas piringan dikurangi
bobot wadah kosong.

3. Selesai Menimbang :

a. Tombol off ditekan dan wadah dikeluarkan dari atas piringan serta
semua bagian dalam neraca dibersihkan lalu kedua pintu neraca ditutup.

b. Kabel yang dihubungkan ke stop kontak dilepaskan.


6

3.4 Skema Kerja


A. Pengenalan Alat

Alat yang digunakan

- Alat diamati oleh praktikkan


- Dicatat nama dan fungsinya
(min.20)
- Dipraktikkan oleh praktikan

Hasil pengamatan

B. Pengenalan Bahan

Bahan yang digunakan

- Label di botol kemasan bahan


kimia diamati
- Nama bahan, rumus molekul,
berat molekul, derajat kemurnian,
dan hazardous level ditulis

Hasil pengamatan
7

C. Penimbangan

1. Persiapan menimbang

Neraca belum siap


dipakai

- Waterpass diperiksa
- Semua bagian dalam neraca
dibersihkan
- Dihubungkan dengan arus listrik

Neraca siap pakai

2. Penimbangan

Neraca siap pakai

- Pintu neraca tertutup. Tombol on


ditekan dan dibiarkan sampai
terbaca angka 0,000 g

- Pintu neraca dibuka, wadah kosong


diletakkan di atas piring neraca

- Wadah kosong dicatat

- Sejumlah zat yang diinginkan


ditimbang
8

- Bobot wadah beserta isinya dicatat

Data pengamatan

3. Selesai Penimbangan

Neraca sudah
dipakai
- Tombol off ditekan dan wadah
dikeluarkan

- Semua bagian dalam neraca


dibersihkan

- Kedua pintu neraca ditutup

- Kabel dilepaskan

Selesai
menimbang
9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan


Tabel 4.1.1 Data Pengamatan Pengenalan Alat-alat Kimia

No. Nama Alat Fungsi Gambar


1. Gelas Ukur Mengukur volume larutan atau
zat cair dengan tepat.

2. Erlenmeyer Labu gelas atau tempat


menampung larutan.

3. Beaker Glass Menampung zat atau larutan.

4. Labu Ukur Leher Menampung larutan atau cairan


Panjang dengan volume yang tepat.

5. Labu Ukur Menampung larutan atau cairan


dengan volume yang tepat.

6. Evaporating Dish Cawan yang bercucuk dan


terbuat dari porselen, untuk
penguapan atau pengeringan
padatan dalam bentuk tepung.
7. Gelas Arloji Cawan yang berbentuk irisan
bola, untuk penguapan atau
pengeringan padatan dalam
bentuk tepung.
8. Pipet Ukur Memindahkan larutan atau zat
cair dalam ukuran volume
tertentu saja.
9. Batang Pengaduk Mengaduk larutan.

10. Pipet Volume Mengambil cairan


dengan volume tertentu
dengan ketelitian lebih tinggi.
10

11. Tabung Reaksi Mereaksikan zat.

12. Desikator Menyimpan bahan dan benda


supaya tetap kering terutama
bahan-bahan higroskopis.

13. Mortar Menghancurkan padatan kimia.

14. Kaki Tiga Penahan kawat kasa dan


penyangga ketika proses
pemanasan.
15. Sendok Porselen Mengaduk bahan bahan kimia
yang berbentuk padatan dan
tepung
16. Termometer Mengukur suhu.

17. pH Meter Digital Mengukur kadar pH

18. Buret Mengukur volume cairan yang


akan dipindahkan.

19. Pipet Tetes Memindahkan larutan yang


volumenya tidak perlu
diperhatikan.
20. Pipet Filler Alat penyedot pipet untuk
larutan yang berbahaya.

Tabel 4.1.2 Data Pengamatan Pengenalan Bahan-bahan Kimia

No. Rumus Nama Derajat Bobot Molekul Hazardous


Kimia Kemikalia Kemurni Symbol
an
1. C7H7BrMg Petroleumbenzi PA 150 g/mol
n

2. KI Potassium ACS 166,0028 g/mol -


Iodide
3. Na3C6H5O7 Tri-Natrium PA 258,06 g/mol -
Citrate
11

4. Na2WO4 Natrium PA 293,82 g/mol -


Wolframat

5. H2O Aquades - 18.0153 g/mol -


6. H2O Aqua DM - 18.0153 g/mol -
7. H2O Aquabides - 18.0153 g/mol -
8. KNaC4H4O6 Kaliumnatrium PA 282,1 g/mol -
·4H2O Tatrat
9. Na2SO4 Natrium Sulfat PA 142,04 g/mol -
10. C2H2O4 Oxalicsaure PA 90,03 g/mol

11. Na2HPO4 Natriumhydrog PA 141,96 g/mol -


enphospat
12. Na2CO3 Natriumcarbon PA 105,9888 g/mol
at

13. CuSO4 Kupfer(II)sulfa PA 159,609 g/mol


t

14. CuSO4. 5 Kupfer(II)sulfa PA, ACS 249.70 g/mol


H2O t Pentahydrat

15. H2O2 Hydrogen Komersial 34,0147 g/mol


Peroxide Grade

16. NH3 Ammonia - 17,031 g/mol

17. KI Kalium Iodida pH EUR, 166,0028 g/mol -


BP, USP
18. BaCl2 Bariumchlorid PA 208,23 g/mol

19. SiO2 Silicagel - 60,08 g/mol -


20. CCl4 Tetrachlorid - 153,82 g/mol
12

4.2 Pembahasan
1) Pengenalan Alat
Laboratorium kimia merupakan sebuah tempat yang digunakan
untuk melakukan suatu percobaan dan penelitian yang disebut praktikum.
Praktikum di laboratorium sangat dibutuhkan untuk mempelajari ilmu-ilmu
kimia secara nyata dan diperlukan untuk perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dalam melakukan suatu percobaan, kita tentunya harus
mengetahui alat-alat yang digunakan dalam praktikum. Alat-alat yang
digunakan tersebut disesuaikan dengan tujuan percobaan. Akan tetapi,
selain sudah mengetahui masing-masing nama alat, praktikan juga harus
mengetahui fungsi alat-alat yang digunakan dan bagaimana cara
menggukannya (Achmad, 1993).
Gelas ukur berfungsi sebagai alat ukur volume, untuk sampel bahan
cair dengan ketelitian rendah. Erlenmeyer berfungsi mengukur volume
bahan kimia cair dengan ketelitian rendah, sebagai tempat menampung
bahan kimia untuk sementara, tempat menghomogenkan larutan, dan
menampung titran pada saat tetrasi. Beaker glass berfungsi sebagai
penampung sample / bahan sementara, atau bisa digunakan sebagai
penyimpan zat sementara. Labu ukur berfungsi membuat suatu larutan
dengan volume yang diketahui secara teliti, mengencerkan larutan sampai
volume tertentu dengan ketelitian yang tinggi. Evaporating dish berfungsi
untuk mereaksikan zat kimia pada suhu tinggi, tempat mengeringkan bahan,
dan menguapkan bahan dengan cara dipanaskan baik pemanasan langsung
maupun tidak langsung. Gelas arloji berfungsi sebagai penutup gelas kimia
ketika tengah proses pemanasan sampel (penguapan) dan sebagai tempat
untuk mengeringkan padatan dalam desikator. Pipet ukur berfungsi untuk
mengambil larutan dan mengukur volume larutan pada berbagai skala /
ukuran dengan ketelitian tinggi. Batang pengaduk berfungsi untuk
mencampur larutan dan membantu dekantasi larutan dari suatu wadah ke
13

wadah lain sementara padatan tetap tertinggal di wadah asal. Pipet volume
berfungsi untuk mengambil bahan dan mengukur volume larutan hanya satu
skala ukuran dengan ketelitian tinggi (ketelitian lebih tinggi dibanding pipet
ukur). Tabung reaksi yang berfungsi sebagai media pertumbuhan dan
penampungan cairan lainnya seperti pelarut selain itu juga dapat dapat diisi
dengan media padat. Desikator berfungsi menghilangkan air dan kristal
hasil pemurnian dan mengandung zat pengering yang berfungsi
mengeringkan zat-zat lainnya. Mortar berfungsi untuk menghaluskan
bahan. Kaki tiga berfungsi sebagai penahan kawat kasa dan penyangga
ketika proses pemanasan. Sendok porselen berfungsi untuk mengambil
bahan cair serbuk atau semi padat. Thermometer berfungsi untuk
mengukur suhu suatu larutan. pH meter berfungsi untuk mengukur
kadar pH yaitu kadar keasaman/basa pada suatu cairan. Buret berfungsi
untuk meneteskan sejumlah caran kimia dalam sebuah eksperimen. Pipet
tetes berfungsi mengambil bahan dalam jumlah sedikit / tetesan tidak ada
skala ukuran volume pada alat ini. Pipet filler berfungsi membantu
mengambil larutan kimia yang berbahaya dengan cara disambungkan
dengan pipet ukur atau pipet volume, terdapat tiga bagian pada pipet filler
yaitu katup A (Air) berfungsi untuk mengeluarkan udara yang ada di dalam
filler, katup S (Suction) berfungsi untuk mengambil larutan, dan katup E
(Empty) berfungsi untuk mengeluarkan larutan.

2) Pengenalan Bahan
a) Hazardous symbol

Kecelakaan terkait bahan kimia kebanyakan terjadi karena pengabaian


tindakan pencegahan atau tidak adanya simbol kehati-hatian pada bahan
tersebut (Su dan Hsu, 2008). Jadi, untuk menarik perhatian pengguna serta
sarana untuk mengklasifikasikan bahan kimia, masingmasing bahan kimia
harus diberi label dengan simbol pencegahan bahaya yang menunjukkan
fiturnya. Simbol-simbol ini (mudah terbakar, korosif, mengiritasi,
14

berbahaya bagi lingkungan, radioaktif, pengoksidasi, toksik atau berbahaya)


mencakup berbagai warna dan gambar yang dirancang untuk memberi tahu
pengguna tentang fitur bahan kimia (United Nations, 2017). Simbol
pencegahan bahaya dan risiko ini harus diketahui oleh semua orang yang
masuk laboratorium. Pemahaman terhadap makna dari simbol pencegahan
bahaya akan membantu penggunaan bahan kimia secara aman.

Tanda dan simbol pencegahan bahaya adalah alat komunikasi


keselamatan yang penting, mereka membantu untuk menunjukkan berbagai
bahaya yang ada di laboratorium. Pada saat yang sama, mereka
memperingatkan praktikan agar selalu waspada terhadap bahaya tersebut
dengan memberikan informasi dan instruksi keselamatan yang dibutuhkan.
Kebanyakan kecelakaan bahan kimia yang dijelaskan diatas terjadi karena
kurang baiknya pemahaman mengenai simbol pencegahan bahaya bahan
kimia (label) atau kurang tepatnya tindakan keselamatan. Hal ini
mengindikasikan bahwa pengetahuan terhadap potensi bahaya dan risiko
bahan kimia serta memahami label bahan tersebut akan sangat membantu
pengambilan keputusan yang tepat. Disamping itu juga untuk keamanan
dalam penggunanaan dan penanganan bahan kimia (Adane dan Abeje,
2012).

Ada sejumlah keuntungan dari penggunaan simbol pencegahan bahaya


sebagia informasi keselamatan. Pertama-tama, mereka memiliki potensi
untuk ditafsirkan lebih akurat dan lebih cepat daripada kata-kata. Dengan
demikian, mereka dapat berfungsi sebagai "pengingat instan" dari bahaya
(Emery dkk, 2015). Simbol pencegahan bahaya memperbaiki pemahaman
akan peringatan bagi mereka yang memiliki kesulitan visual atau melek
huruf (Walters dkk, 2017). Simbol ini juga dapat membuat peringatan lebih
terlihat dan "menarik perhatian" sehingga bisa memperbaiki tingkat
keterbacaan. Mengenali gambar lebih mudah daripada membaca teks.
Sebuah gambar diproses secara paralel dan karena itu lebih cepat daripada
kata-kata, yang memerlukan pemrosesan serial (Tijus dkk, 2007).
15

Simbol bahaya bahan kimia adalah suatu piktogram berlatar belakang


orange dengan garis batas dan gambar berwarna hitam. Gambar yang
terdapat dalam piktogram umumnya menggambarkan sifat bahaya
dari bahan tersebut. Terdapat beberapa simbol bahaya bahan kimia yaitu:

1. Toxic. Produk ini dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius
bila sedikit bahan kimia masuk ke dalam tubuh dengan ingestion,
menghirup uap, bau, atau debu, atau dengan penyerapan melalui
kulit. Contoh dari bahan ini di antaranya merkuri klorida, arsen
triklorida, bahkan zat-zat lain yang ada di sekitar kita seperti asap
kendaraan, detergen, cairan pembersih, dsb.
2. Corrosive. Produk ini dapat merusak jaringan hidup, mata paling
mudah kena. Beberapa zat kimia yang bersifat korosif adalah belerang
oksida, klorin, dan jenis-jenis air keras lainnya.
3. Explosive. Produk ini dapat meledak dengan adanya panas,
percikan bunga api, guncangan atau gesekan. Beberapa senyawa
membentuk garam yang eksplodif pada kontak (singgungan dengan
logam/metal). Contoh bahan kimia yang mudah meledak antara lain
nuklir, TNT (Trinitrotoluena), bubuk mesiu, aziroazide azide,
amonium nitrat, nitroselulosa, dan bahan-bahan kimiawi lainnya yang
memang digunakan untuk keperluan peledakan.
4. Oxidizing. Senyawa ini dapat menyebabkan kebakaran. Senyawa
ini menghasilkan panas pada kontak dengan bahan organik dan agen
pereduksi (reduktor). beberapa zat kimia yang mudah teroksidasi di
antaranya hidrogen peroksida, kalium perklorat, sodium perklorat, dsb.
5. Flammable. Senyawa ini mempunyai “flash point” yang rendah,
dan yang bereaksi dengan air atau membasahi udara (berkabut)
untuk menghasilkan gas yang mudah terbakar (seperti misalnya
hidrogen) dari hidrida metal. Sumber nyala termasuk api bunsen,
permukaan metal panas, loncatan bunga api listrik dan lain-
16

lain. Beberapa jenis zat kimia mudah terbakar, di


antaranya acetone, butanol, etanol, alkohol, metanol, propanol, dsb.
6. Harmful/Irritant. Bahan kimia irritan menyebabkan luka bakar pada
kulit, berlendir, mengganggu sistem pernafasan. Semua bahan
kimia mempunyai sifat seperti ini (harmful) khusus kontak dengan
kulit, dihirup atau ditelan. Beberapa zat kimia yang termasuk dalam
golongan ini adalah piridina, amonia, dan benzoil klorida.

b) Sifat fisika dan sifat kimia beserta fungsi dari bahan-bahan kimia

Sifat fisika adalah sifat yang menggambarkan ciri khas suatu zat
yang dapat diukur dan diamati tanpa mengubah zat-zat penyusunan.
Sifat-sifat fisis zat tersebut, antara lain warna, bentuk, ukuran,
kepadatan, kelarutan, daya hantar listrik, kemagnetan, massa jenis, titik
didih, titik lebur, dan titik beku. Sifat kimia adalah sifat yang
menunjukan reaksi kimia antarzat yang menimbulkan terjadinya
pembentukan zat baru. Zat baru yang terbentuk tersebut tidak dapat
kembali ke keadaan semula melalui cara sederhana. Contoh sifat-sifat
kimia adalah mudah terbakar, berkarat, mudah meledak, dan beracun
(Erlangga, 2020).

Petroleum Benzin berbentuk cair, tidak berwarna, memiliki titik


didih/rentang didih > 50 °C pada 1.013 hPa, titik nyala -31 °C memiliki
densitas 0,666 g/cm3 pada 15 °C, kelarutan dalam air pada 20 °C tak-
tercampur, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak
memiliki sifat oksidator. Fungsi petroleum benzene adalah untuk
mengekstraksi/melarutkan lemak pada bahan karena lemak hanya dapat
larut pada pelarut organik non polar.

Potassium Iodide/ Kalium Iodida berbentuk padat, memiliki warna


keputih-putihan, tidak berbau, memiliki pH kira-kira 6,9 pada 50 g/l 20
°C, memiliki titik lebur 685 °C pada kira-kira 975 hPa, memiliki titik
17

didih/rentang didih 1.325 °C pada 1.013 hPa, tidak mudah-menyala,


memiliki tekanan uap kira-kira 1 hPa pada 745 °C, memiliki densitas
3,23 g/cm3 pada 25 °C. Kelarutan dalam air kira-kira1.430 g/l pada 20
°C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak memiliki sifat
oksidator. Fungsi potassium iodide adalah Sebagai obat-obatan hal ini
digunakan pada penyakit hipertiroidisme, dalam radiasi darurat, dan
untuk melindungi kelenjar tiroid.

Tri-natrium Citrate berbentuk padat, memiliki warna putih, tidak


berbau, memiliki pH 7,5 - 9,0 pada 50 g/l 25 °C, memiliki titik lebur 150
°C (senyawa anhydrat), memiliki titik didih/rentang didih 309,6 °C pada
1.013,3 hPa, kelarutan dalam air 720 g/l pada 25 °C , memiliki suhu
penguraian > 230 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak,
tidak memiliki sifat oksidator. Fungsi tri-natirum citrate adalah sebagai
pengatur keasaman seperti Citric Acid / Citrun, sebagai pengawet dan
pemberi flavor, dan digunakan untuk membersihkan kerak.

Natrium wolframat berbentuk Kristal, memiliki warna putih, tidak


berbau, memiliki pH 8 - 9 pada 50 g/l 20 °C, memiliki titik lebur 100 °C
Peniadaan air kristalisasi 698 °C (senyawa anhydrat), memiliki densitas
3,23 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air kira-kira730 g/l pada 20 °C
, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, dan tidak memiliki sifat
oksidator. Dalam kimia organik, natrium tungstat digunakan sebagai
katalis untuk oksidasi alkena dan oksidasi alkohol menjadi aldehida atau
keton. Natrium tungstat juga diketahui atas efeknya untuk anti-diabetes.

Aquades, Aqua DM, Aquabides memiliki sifat fisik tidak berwarna,


tidak berasa, dan tidak berbau, selalu berinteraksi, berubah, dan
bergerak, dapat menyerap sejumlah kalor karena memiliki kalor jenis
yang tinggi, mempunyai tegangan permukaan yang sangat tinggi,
pelarut yang baik karena kepolarannya, konstanta dielektrik yang tinggi
dan ukurannya yang kecil, mempunyai titik didih yang tinggi,
18

mempunyai massa jenis yang lebih kecil dalam keadaan beku bila
dibandingkan dengan keadaan cair. Memiliki sifat kimia yaitu
molekulnya berbentuk seperti huruf V, memiliki pasangan elektron
bebas pada atom oksigen, bersifat polar, bersifat netral (pH=7) dalam
keadaan murni. Fungsinya adalah sebagai bahan pencuci alat-alat
laboratorium, sebagai pelarut, sebagai sumber air dalam produksi di
berbagai industry, untuk memotong baja dan pendingin mesin, di mana
alat atau mesin juga pastinya membutuhkan air sebagai pendinginnya
dan menghambat terjadinya kerak atau lumut yang akan berkembang,
dan digunakan sebagai air aki.

Kaliumnatrium Tatrat berbentuk padat, memiliki warna keputih-


putihan, tidak berbau, memiliki pH 7,0 - 8,5 pada 50 g/l 25 °C, memiliki
titik lebur 70 - 80 °C, kelarutan dalam air 630 g/l pada 20 °C, tidak
diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak ada sifat oksidator.
Fungsi kaliumnatrium tatrat adalah digunakan sebagai obat pencahar,
digunakan dalam proses cermin perak, dalam sintesis organic digunakan
dalam larutan berair untuk memecah emulsi, terutama untuk reaksi di
mana reagen hidrida berbasis aluminium digunakan, sebagai bahan
dalam reagen Biuret yang digunakan untuk mengukur konsentrasi
protein. Bahan ini mempertahankan ion tembaga dalam larutan pada pH
basa.

Natrium Sulfat berbentuk padat, memiliki warna putih, tidak berbau,


memiliki pH 5,2 - 8,0 pada 50 g/l 20 °C, memiliki titik lebur 888 °C,
memiliki densitas 2,70 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air 200 g/l
pada 20 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, dan tidak
ada sifat oksidator. Fungsi Natrium sulfat banyak digunakan untuk
memenuhi kebutuhan industri, antara lain yaitu industri kertas dan pulp,
deterjen, pembuatan flat glass, tekstil, farmasi, keramik, zat
pewarna dan sebagai reagent di laboratorium kimia.
19

Oxalicsaure berbentuk cair, tidak berwarna, tidak berbau, memiliki pH


kira-kira 1 pada 20 °C, memiliki densitas 1,02 g/cm3 pada 20 °C,
kelarutan dalam air pada 20 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah
meledak, dan tidak ada sifat oksidator. Asam oksalat memiliki berbagai
macam fungsi, salah satunya yang paling umum adalah untuk
membersihkan kerak kamar mandi, dapat juga digunakan sebagai zat
bleaching, terutama untuk menghilangkan karat, dan sebagai bahan
pengikat untuk pigment dan dye (pewarna).

Natriumhydrogen phospat berbentuk cair, tidak berwarna, tidak


berbau, memiliki pH 7,0 pada 25 °C, memiliki titik lebur -5 °C, memiliki
titik didih/rentang didih 109 °C pada 1.013 hPa, memiliki densitas 1,01
g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air pada 20 °C larut, tidak
diklasifikasikan sebagai mudah meledak, dan tidak ada sifat oksidator.
Fungsinya adalah sebagai zat penghambat korosi, zat ini membantu
menjaga kesegaran isi produk dan mencegah korosi atau karat pada
kaleng, wadah, atau dispenser.

Natrium Carbonat berbentuk serbuk, memiliki warna putih, tidak


berbau, memiliki pH 11,16 pada 4 g/l 25 °C, memiliki titik lebur 854
°C, memiliki densitas 2,53 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air 212,5
g/l pada 20 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak ada
sifat oksidator. Natrium karbonat dapat digunakan dalam pembuatan
kaca, sebagai pelembut air di dalam mencuci pakaian, sebagai tambahan
pangan yaitu pengatur keasaman, anti-lengket pada kue, pengembang
kue, dan penstabil.

Kupfer (II) Sulfat berbentuk padat (bubuk), memiliki warna putih,


tidak berbau, memiliki pH 3,5 - 4,5 (50 g /l , 20 °C) , memiliki densitas
3,6 g /cm³ pada 20 °C, kelarutan dalam air 203 g /l pada 20 °C, tidak
boleh diklasifikasikan sebagai eksplosif, sifat oksidator tidak ada.
Fungsi Sebagai herbisida, fungisida dan pestisida.
20

Kupfer (II) Sulfat Pentahydrat berbentuk padat, berwarna biru, tidak


berbau, memiliki pH 3,5 - 4,5 pada 50 g/l 20 °C, memiliki titik lebur 147
°C, memiliki densitas 2,284 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air 317
g/l pada 20 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak ada
sifat oksidator. Fungsi Sebagai herbisida, fungisida dan pestisida.

Hydrogen Peroxide berbentuk cair, tidak berwarna, memiliki bau agak


pedih, memiliki pH <= 3,5 pada 20 °C, memiliki titik lebur -25,7 °C,
memiliki titik didih/rentang didih 107 °C pada 1.013 hPa, memiliki
tekanan uap kira-kira18 hPa pada 20 °C, memiliki densitas 1,11 g/cm3
pada 20 °C, kelarutan dalam air pada 20 °C tercampur sepenuhnya, tidak
diklasifikasikan sebagai mudah meledak, memiliki potensi
mengoksidasi. Fungsi Hidrogen peroksida adalah sebagai obat
antiseptik ringan untuk mencegah infeksi kulit dari luka gores, luka
potong, dan luka bakar ringan. Obat ini juga sering dimasukkan ke
dalam obat kumur untuk membasmi kuman penyebab masalah gigi dan
gusi, seperti sariawan dan radang gusi (gingivitis).

Ammonia berbentuk cair, tidak berwarna, memiliki bau pedih,


memiliki ambang bau 0,02 - 70,7 ppm , memiliki pH pada 20 °C, alkali
kuat, memiliki titik lebur -57,5 °C, memiliki titik didih/rentang didih
37,7 °C pada 1.013 hPa, memiliki tekanan uap 483 hPa pada 20 °C,
memiliki densitas 0,903 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air pada 20
°C larut, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, tidak ada sifat
oksidator. Fungsi Zat Amonia biasanya digunakan sebagai obat obatan,
bahan campuran pupuk urea (CO(NH2)2) dan ZA (Zwvelamonia)
((NH4) 2SO4), bahan pembuatan amonium klorida(NH4Cl)pada
baterai, asam nitrat (HNO3), zat pendingin, membuat hidrazin
(N2H4)sebagai bahan bakar roket, bahan dasar pembuatan bahan
peledak, kertas pelastik, dan detergen dan jika dilarutkan kedalam air
maka zat tersebut akan dapat menjadi pembersih alat perkakas rumah
tangga.
21

Barium Chlorida berbentuk padat, memiliki warna putih, tidak berbau,


memiliki pH kira-kira 5 – 8 pada 50 g/l 20 °C, memiliki titik lebur 963
°C, memiliki titik didih/rentang didih 1.560 °C pada 1.013 hPa,
memiliki densitas 3,9 g/cm3 pada 20 °C, kelarutan dalam air 375 g/l
pada 20 °C, tidak diklasifikasikan sebagai mudah meledak, dan tidak
ada sifat oksidator. Fungsi barium klorida untuk mengendapkan ion
sulfat yang ada dalam garam.

Silicagel memiliki bentuk padat (granulat), berwarna putih, tidak


berbau, memiliki pH (nilai) 4 – 9 (air: 100 g /l , 20 °C), titik cair/titik
beku 1.713 °C, titik didih awal dan rentang didih >1.700 °C, densitas
2,2 g /cm³ pada 20 °C , tidak boleh diklasifikasikan sebagai eksplosif,
dan sifat pengoksidasi tidak ada. Fungsi Silica gel mencegah
terbentuknya kelembapan yang berlebihan sebelum
terjadi. Silica merupakan produk yang aman digunakan untuk menjaga
kelembapan makanan, obat-obatan, bahan sensitif, elektronik dan film
sekalipun.

Tetrachlorid memiliki formula CCl4, memiliki berat molekul 153,82


g/mol, berbentuk cairan tidak berwarna mengkristal dalam bentuk
kristal monoklinik, baunya aromatik dan agak manis, mirip dengan bau
tetrakloretilen dan kloroform, memiliki titik didih 170.1 ºF (76,8 ºC)
hingga 760 mmHg, memiliki titik lebur -9ºF (-23ºC), tidak larut dalam
air tetapi larut dengan alkohol, benzena, kloroform, eter, karbon
disulfida, eter minyak bumi, nafta, etanol dan aseton, tidak mudah
terbakar. Tekanan uap 91 mmHg pada 68 ° F; 113 mmHg pada 77 ºF
dan 115 mmHg pada 25 ºC. Fungsi sebagai pelarut organik, sebagai
bahan pemadam api, bahan pendingin, bahan pembersih, dan
memunculkan tanda perangko.
22

c) Aquades
Akuades merupakan air hasil penyulingan yang bebas dari zat-zat
pengotor sehingga bersifat murni dalam laboratorium. Akuades
berwarna bening, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa. Akuades biasa
digunakan untuk membersihkan alatalat laboratorium dari zat pengotor
(Petrucci, 2008). Air murni diperoleh dengan cara penyulingan
(destilasi), tujuan dari destilasi yaitu memperoleh cairan murni dari
cairan yang telah tercemari zat terlarut, atau bercampur dengan cairan
lain yang berbeda titik didihnya. Cairan yang dikehendaki dididihkan
hingga menguap kemudian uap diembunkan melalui kondensor,
sehingga uap mencair kembali. Cairan hasil destilasi ini disebut destilat.
Air murni antara lain dipergunakan untuk keperluan di laboratorium
kimia, dan perawatan kesehatan (Pitojo, 2003).

1. Manfaat dan kegunaan aquades:

Sebagai bahan pencuci alat-alat laboratorium

Aquades di laboratorium digunakan untuk mencuci alat-alat gelas di


laboratorium bekas praktikum/penelitian. Kita ketahui bersama bahwa
alat-alat gelas digunakan untuk mencampurkan berbagai macam bahan
kimia. Membersihkannya tentu diperlukan bahan yang baik dan dapat
membersihkan alat gelas secara sempurna. Aquades yang merupakan air
murni sangat cocok digunakan untuk membersihkan alat-alat tersebut.

Sebagai pelarut

Aquadest juga digunakan sebagai pelarut bahan-bahan kimia


padatan/serbuk yang akan dibuat menjadi larutan. Hampir sebagian
besar larutan dibuat menggunakan aquades. Hal ini disebabkan aquades
merupakan pelarut yang universal (umum) dan kebanyakan bahan-
bahan kimia padat/serbuk larut dalam air sehingga sangat cocok dengan
aquades.
23

Digunakan dalam industri

Penggunaan aquadest juga banyak dibidang industri. Beberapa


industri yang menggunakan aquades adalah industri pupuk, industri
kertas dan banyak industri lainnya. Biasanya aquades digunakan sebagai
sumber air dalam proses produksi.

Digunakan dalam Pengolahan Baja

Telah banyak diketahui dan dilakukan jika aquadest juga memiliki


manfaat untuk memotong baja dan pendingin mesin, di mana alat atau
mesin juga pastinya membutuhkan air sebagai pendinginnya. Tak hanya
itu saja, air ini juga bisa menghambat terjadinya kerak atau lumut yang
akan berkembang. Hal ini bisa membuat aquadest sebagai air yang
begitu bermanfaat dalam dunia industri, terlebih dalam pengolahan baja
ini.

Digunakan sebagai Air Aki

Aki pasti akan membutuhkan air untuk mesin dan aquades tersebut
biasanya dipergunakan untuk air aki tersebut. Misal saja, untuk
perawatan terhadap pengisi aki pada motor atau pada mobil.

2. Macam-macam aquades

Aquadest (Aqua Destilata) yaitu air yang dihasilkan dari 1 kali proses
distilasi atau penyulingan, sering disebut sebagai air murni, namun
juga tetap mengandung mineral tertentu.
Aquabidest (Aqua Bidestilata) yaitu air yang dihasilkan dari proses
distilasi atau penyulingan secara bertingkat (2 kali proses distilasi atau
penyulingan) dan mengandung mineral yang jauh lebih sedikit dari
aquadest.
24

Aquademin (Aqua Demineralisata) yaitu air bebas mineral, baik itu


ion positif yang berasal dari logam, kesadahan, maupun ion negatif.

3) Penimbangan
Neraca digital merupakan alat yang sering ada dalam laboratorium yang
digunakan untuk menimbang bahan yang akan digunakan. Neraca digital
berfungsi untuk membantu mengukur berat serta cara kalkulasi fecare
otomatis harganya dengan harga dasar satuan banyak kurang. Cara kerja
neraca digital hanya bisa mengeluarkan label, ada juga yang hanya timbul
ditampilkan layar LCDnya (Mansur, 2010). Kita mengenal neraca digital
sebagai alat ukur untuk satuan berat. Dibandingkan dengan neraca jaman
dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual, neraca digital
memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur, diantaranya neraca digital lebih
akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil dari setiap penimbangan)
(Timbangandigital, 2010).

Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat
ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas
0,0001 g. Proses penimbangan dengan neraca analitik digital yaitu:

1. Persiapan alat bantu penimbangan


Untuk menimbang zat padat diperlukan:
• Kaca arloji yang kering dan bersih, digunakan untuk menampung kelebihan
25

zat yang ditimbang, karena kelebihan zat tidak boleh dikembalikan ke botol
zat.
• Sendok (biasanya sendok plastik)
• Kertas isap untuk memegang tempat menimbang pada saat
memasukan/mengeluarkan alat timbang (dan zat) ke atau dari dalam neraca
• Botol timbang sebagai tempat penimbangan
• Zat yang akan ditimbang dan setelah penimbangan selesai, botol zat harus
dikembalikan ke tempatnya

2. Pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca adalah:


• Pemeriksaan kebersihan neraca terutama piring-piring neraca dapat
dibersihkan menggunakan sapu-sapu yang tersedia dalam neraca
• Pemeriksaan kedataran neraca dilakukan dengan cara melihat water pass,
dengan mengatur sekrup pada kaki neraca sehingga gelembung air di water
pass tepat berada di tengah
• Pemeriksaan kesetimbangan neraca yang dilakukan dengan membiarkan
dahulu pointer bergoyang ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Jika goyangan
maksimum ke kiri dan ke kanan kira-kira sama jauh maka neraca dalam
keadaan setimbang

3. Penimbangan
• Pastikan bahwa timbangan sudah menyala.
• Pastikan timbangan menunjukkan angka nol (jika tidak perlu di koreksi).
• Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda.
• Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan
tersebut.
• Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit,
karena hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.
26

V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
1. Mengetahui alat-alat praktikum dan kegunaannya.

2. Mengetahui bahan-bahan kimia, rumus molekul, bobot molekul dan


derajat kemurniannya.
3. Mengetahui alat dan cara menimbang.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah praktikkan lebih memperhatikan secara
teliti dan baik mengenai fungsi dari masing-masing alat laboratorium. Praktikkan
lebih berhati-berhati menggunakan bahan-bahan kimia dengan memperhatikan
simbol bahaya yang terdapat di label kemasan botol bahan kimia tersebut.
Kemudian, praktikkan harus memperhatikan dengan teliti bagaimana cara
menggunakan alat-alat kimia.
DAFTAR PUSTAKA
A, A. L, 2012. Assessment of Familiarity and Understanding of Chemical Hazard
Warning Signs among University Students Majoring Chemistry and
Biology: A Case Study at Jimma University, Southwestern Ethiopia. World
Applied Sciences Journal 16 (2): 290-299.

Achmad, H. 1993. Penuntun Dasar-dasar Praktikum Kimia. ITB, Bandung.

Emery SB, H. A.-E, 2015. A Review of the Use of Pictograms for Communicating
Pesticide Hazards and Safety Instructions: Implications for EU Policy.
Human and Ecological Risk Assessment, 21: 1062–1080.

Husnul Khotimah, E. W, 2017. Karakteristik Hasil Pengolahan Menggunakan Alat


Destilasi. Jurnal Chemurgy, Vol.01, No.2, Desember 2017.

Imam, K, 2010. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. UI Press, Jakarta.

Khasani. 1990. Prosedur Alat-Alat Kimia. Liberty, Yogyakarta.

Merckmilipore, 2018. Lembaran Data Kelamatan Bahan. Menurut Peraturan (UE)


No. 1907/2006.

Nations, U, 2017. Globally Harmonized System of Classification and Labelling of


Chemicals (GHS), 7th revision edition. New York and Geneva.

Petrucci, R. H, 2008. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat
Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Pitojo, S. P, 2003. Deteksi Pencemar Air Minum. Semarang: CV. Aneka Ilmu.

Prabowo, E, 2009. Laporan Praktikum Kimia Dasar. Universitas Lambung


Mangkurat,Banjar baru.

27
Rohman, T, 2011. Penanganan Bahan Kimia dengan Alat Gelas Kimia Serta
Penanganan Karbon Akibat Kontak dengan Bahan Kimia. Makalah
Seminar Pada Pelatihan Dosen Biokimia, Banjarbaru.

Setiawati, 2009. Biokimia I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Su TS dan Hsu IY, 2008. Perception towards Chemical Labeling for College
Students in Taiwan using Globally Harmonized System. Safety Sci., 46(9):
1385-1392.

Tijus C, B. J, 2007. Chapter 2: The Design Understanding and Usage of


Pictograms. Written Documents in the Workplace.

Tim Dosen Kimia, 2017. Modul Praktikum Kimia Dasar I. Purwokerto.

Walters AUC, L. W, 2017. Chemical laboratory safety awareness, attitudes and


practices of tertiary students. Safety Science 96 (2017) 161–171.

Waltor, M. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Kimia. Media Cipta, Jakarta.

28

Anda mungkin juga menyukai