Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISTIK LIMBAH BERACUN DAN BERBAHAYA (B3) SERTA DAUR

SAMPAH

MAKALAH TEORI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pencemaran Lingkungan

Yang Dibina Oleh Dr. Sueb, M.Kes.

Oleh :
Kelompok 1 Offering I-L 2018
1. Aisyah Salma Nurfahima (180342618049)
2. Muhammad Noorjazuli Abdillah (180342618087)
3. Oktaviani Jannati Kolbi (180342618038)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
September 2020
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya berupa waktu dan juga kesehatan sehingga pada kesempatan ini kami dapat
menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Karakteristik limbah beracun dan berbahaya (b3)
serta daur sampah” dengan tepat waktu. Terima kasih kepada Bapak Dr. H. Sueb, M.Kes selaku
dosen mata kuliah. Kami menyadari masih banyak kekurangan pada makalah kami. Oleh karena
itu, kami berharap pembaca memberikan kritikan untuk membangun kesempurnaan makalah
kami selanjutnya.

Malang, 09 September 2020

Tim Penyusun
Aisyah Salma Nurfahima1)*), Muhammad Noorjazuli Abdillah 1), Oktaviani Jannati Kolbi1),
Sueb1)**)
1)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang,
Jalan Semarang Nomor 05 Malang 65145, Indonesia

*)
Corresponding email: *) aisyah.salma.1803436@students.um.ac.id **)sueb.fmipa@um.ac.id

Abstrak:
Limbah bahan berbahaya dan beracun(B3) merupakan limbah yang dapat mencemari lingkungan
yang disebabkan sifat atau konsentrasinya. Bahan berbahaya beracun memiliki karakteristik yang
sangat berbahaya seperti beracun, korosif, mudah terbakar, dan mudah meledak, yang pada
akhirnya menjadi ancaman bagi lingkungan di sekitar tempat pembuangan sampah. Kurangya
edukasi, lemahnya penegak hukum dan undang-undang yang buruk akan meningkatkan resiko
pencemaran lingkungan yang disebabkan dari limbah ini. Untuk mengatasi hal tersebut kita
harus memahami pencemaran lingkungan dan sumbernya yang akan dibahas pada makalah ini.
Kata Kunci: Limbah bahan berbahaya dan beracun(B3), beracun, korosif, mudah terbakar,
mudah meledak
Abstract:
Hazardous and toxic waste (B3) is waste that can pollute the environment due to its nature or
concentration. Toxic hazardous materials have very dangerous characteristics such as poisonous,
corrosive, flammable, and explosive, which in turn become a threat to the environment around
the landfill. Lack of education, weak law enforcement and bad laws will increase the risk of
environmental pollution caused by this waste. To overcome this we must understand
environmental pollution and its sources which will be discussed in this paper.
Keywords: Hazardous and toxic waste (B3), poisonous, corrosive, flammable, explosive
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3 adalah bahan sisa suatu
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang karena sifat atau konsentrasinya, dapat
mencemarkan lingkungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (Peraturan Pemerintah
No. 18 Pasal 1 Tahun 1999). Pencemaran limbah B3 dapat terjadi secara langsung maupun
tidak langsung. Proses secara langsung dapat langsung meracuni sehingga dapat
mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan tumbuhan serta lingkungan di
sekitarnya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung, atau akan dirasakan setelah
jangka waktu tertentu. Proses tidak langsung, beberapa zat kimia bereaksi di tanah, air
maupun udara, yang akhirnya menyebakan pencemaran lingkungan. Alam dapat mengatasi
pencemaran, namun alam memiliki keterbatasan. Jika batas itu terlampaui, maka pencemaran
terakumulasi di alam, kemudian berdampak pada ekosistem (Ginting, 2007).
Hasil limbah B3 yang kuantitasnya cukup besar sangat berdampak buruk bagi
lingkungan. Untuk menghindari terjadinya pencemaran limbah B3 diperlukan suatu
pengelolaan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 74
tahun 2001 tentang Pengolahan Bahan Berbahaya dan Beracun, Pengelolaan limbah B3
adalah rangkaian proses yang berawal dari reduksi, penyimpanan, pengumpulan,
pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan B3. Pengolahan ini bertujuan
untuk mencegah dan atau mengurangi risiko dampak B3 terhadap kesehatan manusia dan
makhluk hidup lainnya.
Pencemaran yang terus terjadi juga disebabkan masih kurangnya informasi kepada
masyarakat tentang pencemaran dan pengaruhnya terhadap kesehatan serta informasi
pengolahan bahan kimia beracun, penyakit, dan tingkat polusi (Grandjean, P., dan Landrigan,
P. 2014). Peran aktif perguruan tinggi sangat diperlukan sebagai lembaga strategi yang
berkemampuan untuk menjalankan fungsi pendukung. Sistem dukungan yang diperlukan
terutama dalam upaya penyebaran pengetahuan dan informasi. Untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat, maka perlu edukasi khususnya mahasiswa sebagai generasi muda,
yang akan datang. Hal ini menjadi latar belakang kami dalam pembuatan makalah yang
menjabarkan definisi, analisis, karakteristik serta daur dari limbah B3.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian limbah B3 ?
2. Bagaimana karakteristik limbah B3?
3. Bagaimana mekanisme pengelolaan limbah B3?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian limbah B3.
2. Mengetahui karakteristik limbah B3.
3. Mengetahui mekanisme pengelolaan limbah B3.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Limbah Bahan Berbahaya Beracun

Limbah adalah sisa bahan dari proses produksi rumah tangga (domestik), industry,
pertambangan, dan sebagainya. Limbah dapat berupa padat, cair, maupun gas yang diantaranya
terdapat bahan yang beracun dan berbahaya. Oleh karena itu limbah tersebut dikenal sebagai
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya Beracun
(B3) merupakan zat, energi, maupun bahan lain yang karena sifat, konsentrasi, maupun
jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan dan
membahayakan makhluk hidup.

Limbah bahan berbahaya dan beracun diantaranya adalah bahan yang sudah tidak
digunakan karena sisa bahan, sisa proses, rusak, kadaluarsa, tumpahan, oli sisa, dan sisa
pembersihan kapal yang memerlukan pengelolaan khusus. Limbah cair dan limbah gas yang
pengelolaannya diawasi oleh pemerintah dan diatur dalam peraturan pemerintah. Limbah
beracun adalah limbah yang mengandung zat yang dapat merusak lingkungan dan menyebabkan
kematian atau penyakit serius saat masuk ke dalam tubuh manusia. Tercantum dalam PP No. 85
tahun 1999 pengujian tiingkat racun dengan menggunakan baku mutu konsentrasi Toxicity
Characteristic Leaching Procedure (TCLP).

Dampak limbah yang langsung dibuang ke lingkungan sangat besar dan akumulatif,
karena dapat masuk dalam rantai makanan dan merusak keseimbangan.[3] Limbah sebelum di
buang ke lingkungan perlu dilakukan identifikasi untuk menentukan jenis dan tingkat kadar
racun yang dimiliki dengan cara uji toksikologi.

2.2 Karakteristik Limbah Bahan Berbahaya Beracun

Karakteristik Limbah Bahan Berbahaya Beracun biasa dilakukan untuk memudahkan


mengidentifikasi limbah agar pengangkut limbah mudah dalam mengelompokkan jenis limbah
yang akan dikelola. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya Beracun kode D220, D221, D222, D223 dapat dinyatakan sebagai
limbah apabila sudah melalui uji karakteristik.

Pengelompokan limbah B3 berdasarkan jenisnya, yaitu (“Sistem Pengelolaan Limbah”)

1. Buangan bahan kimia, umumnya digolongkan menjadi (a) sintetik organic (b) organic
logam, garam-garam, asam, basa (c) flammamble (d)explosive.
2. Buangan radioaktif, buangan berupa emisi radioaktif yang berbahaya dan persistensi
dalam waktu yang lama.
3. Buangan biological, berasal dari penelitian biologi atau dari rumah sakit, yang dapat
menyebabkan sakit pada makhluk hidup dan bersifat toksik.
4. Buangan mudah meledak (explosive).
5. Buangan mudah terbakar (flammamble).

Pengelompokan limbah berdasarkan karakteristik atau sifatnya, yaitu :

1. Bersifat reaktif (pengoksidasi)

2. Mudah meledak (explosive)

3. Mudah terbakar (Flammamble)


4. Buangan beracun (toxic waste)

5. Buangan penyebab penyakit (Infectious waste)

6. Menimbulkan karat (corrosive)

7. Berbahaya (harmful)

8. Iritasi (iritant)

9. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous for environment)


10. Karsinogenik, teratogenic, mutagenic (carcinogenic, tetragenic, mutagenic)

11. Gas bertekanan (pressure gas)

2.3 Daur limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pada pasal 9 Bagian Pertama Tentang Penghasil Bab III Tetang Pelaku Pengelolaan
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun disebutkan bahwa “setiap orang yang melakukan usaha atau kegiatan yang
menggunakan bahan berbahaya dan beracun atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan
reduksi limbah B3, mengolah limbah B3, atau menimbun limbah B3”.

Prinsip pengelolaan limbah adalah “cradle to grave” dimana jejak limbah harus diikuti
sampai pembuangan akhir. Penghasil limbah wajib membuat dan menyimpan catatan jenis,
karakteristik, jumlah, dan waktu limbah B3 yang dikirimkan pada pengolah limbah B3.
2.3.1 Reduksi limbah

Reduksi limbah adalah upaya menyempurnakan penyimpanan bahan baku dalam


kegiatan proses (house keeping), subtitusi bahan, serta upaya reduksi limbah B3 lainnya.

2.3.2 Pengemasan limbah B3

Pengemasan limbah harus memperhatikan karakteristik limbah, wadah yang


membungkus limbah, dan label untuk mengenali macam limbah.

2.3.3 Penyimpanan Limbah

Penyimpanan limbah dilakukan dengan maksud disimpan sementara untuk kemudian


diserahkan pada pengumpul limbah. Penghasil limbah paling lambat 90 hari sebelum
menyerahkan pada pengumpul.

2.3.4 Pengumpulan Limbah

Pengumpulan limbah adalah mengumpulkan limbah dari penghasil untuk disimpan


sementara sebelum diserahkan pada pemanfaat, pengolah, maupun penimbun limbah.

2.3.5 Pengangkutan Limbah

Pengangkutan limbah adalah kegiatan pemindahan limbah dari penghasil ke pengumpul,


pemanfaat ke pengolah,maupun dari pengolah ke penimbun yang setiap pengangkutannya wajib
disertai dokumen limbah yang ditetapkan kepala instansi yang bertanggung jawab.

2.3.6 Pemanfaatan Limbah

Pemanfaatan limbah dilakukan dengan perolehan kembali atau penggunaan Kembali atau
daur ulang yang bertujuan utuk mengurangi limbah B3.

2.3.7 Pengolahan Limbah

Pengolahan limbah industry harus memperhatikan beberapa hal, yaitu mengurangi


sampai seminimum mungkin jumlah limbah, daur uang limbah menjadi bahan baku, proses
mengurangi kandungan unsur beracun hingga tidak berbahaya, pengkapsulan agar dapat dibuang
ke tempat pembuangan yang aman, detoksifikasi dan netralisasi kadar racun, dan memusnahkan
dengan alat pembakaran khusus.

BAB III
PEMBAHASAN

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap bersinggungan dengan berbagai bahan


berbahaya dan beracun. Kurangnya pengetahuan mengenai pengertian, jenis dan cara
pengelolaan limbah dengan benar dapat memberikan dampak yang berkepanjangan bagi
manusia, lingkungan, serta makhluk hidup lain. Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 Pasal 1
Tahun 1999, limbah bahan berbahaya dan beracun atau disingkat limbah B3 merupakan bahan
sisa suatu kegiatan yang mengandung bahan berbahaya yang karena sifat atau konsentrasinya
dapat mencemarkan lingkungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, suatu limbah tergolong sebagai
bahan berbahaya dan beracun jika ia memiliki sifat-sifat tertentu, seperti mudah meledak, mudah
teroksidasi, mudah menyala, mengandung racun, bersifat korosif, menyebabkan iritasi, atau
menimbulkan gejala-gejala kesehatan seperti karsinogenik, mutagenik, dan sebagainya.

a. Mudah meledak (explosive)

Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak
karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi lewat reaksi fisika atau kimia
sederhana. Limbah ini sangat berbahaya baik saat penanganannya, pengangkutan, hingga
pembuangannya karena bisa menyebabkan ledakan besar tanpa diduga-duga. Adapun contoh
limbah B3 dengan sifat mudah meledak misalnya limbah bahan eksplosif dan limbah
laboratorium seperti asam prikat.

b. Pengoksidasi (oxidizing)

Limbah pengoksidasi adalah limbah yang dapat melepaskan panas karena teroksidasi sehingga
menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya. Limbah ini jika tidak ditangani dengan
serius dapat menyebabkan kebakaran besar pada ekosistem. Contoh limbah b3 dengan sifat
pengoksidasi misalnya kaporit.

c. Mudah menyala (flammable)

Limbah yang memiliki sifat mudah sekali menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena
kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar.
Contoh limbah B3 yang mudah menyala misalnya pelarut benzena, pelarut toluena atau pelarut
aseton yang berasal dari industri cat, tinta, pembersihan logam, dan laboratorium kimia.

e. Beracun (moderately toxic)


Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi
manusia atau hewan, sehingga menyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak
pernafasan, kulit, maupun mulut. Contoh limbah b3 ini adalah limbah pertanian seperti buangan
pestisida.

f. Berbahaya (harmful)

Limbah berbahaya adalah limbah yang baik dalam fase padat, cair maupun gas yang dapat
menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu melalui kontak inhalasi ataupun
oral.

g. Korosif (corrosive)

Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang memiliki ciri dapat menyebabkan iritasi
pada kulit, menyebabkan pengkaratan pada baja, mempunyai pH ≥ 2 (bila bersifat asam) dan pH
≥ 12,5 (bila bersifat basa). Contoh limbah B3 dengan ciri korosif misalnya, sisa asam sulfat yang
digunakan dalam industri baja, limbah asam dari baterai dan accu, serta limbah pembersih
sodium hidroksida pada industri logam.

h. Bersifat iritasi (irritant)

Limbah yang dapat menyebabkan iritasi adalah limbah yang menimbulkan sensitasi pada
kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup.
Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.

i. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)

Limbah dengan karakteristik ini adalah limbah yang dapat menyebabkan kerusakan pada
lingkungan dan ekosistem, misalnya limbah CFC atau Chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari
mesin pendingin

j. Karsinogenik (carcinogenic), Teratogenik (teratogenic), Mutagenik (mutagenic)


Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker,
teratogenik adalah limbah yang mempengaruhi pembentukan embrio, sedangkan limbah
mutagenik adalah limbah yang dapat menyebabkan perubahan kromosom.

Berbagai peraturan perundang-undangan telah mengatur tentang pengelolaan bahan


berbahaya dan beracun atau 3B. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, setiap kegiatan perlu diupayakan untuk
melakukan pengelolaan terhadap limbah yang dikeluarkannya, terutama dalam hal ini adalah
limbah B3.

Pengelolaan Limbah B3 merupakan satu rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan,


pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, dan pengolahan limbah B3 termasuk penimbunan
hasil pengolahan tersebut. Pada dasarnya prinsip pengolahan limbah adalah upaya untuk
memisahkan zat pencemar dari cairan atau padatan. Selama ini, zat pencemar yang sudah
dipisahkan atau konsentrat belum tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi bahaya
yang setiap saat mengancam kesehatan manusia dan keselamatan lingkungan hidup. Oleh sebab
itu  limbah B3 perlu dikelola melalui pengelolaan limbah B3.

Upaya pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan melalui beberapa tahapan.

1. Penyimpanan

Reduksi limbah dengan mengoptimalkan penyimpanan bahan baku dalam proses kegiatan
atau disebut house keeping, substitusi bahan, modifikasi proses, maupun upaya reduksi lainnya.
Kemudian kegiatan pengemasan dilakukan dengan penyimbolan dan pelabelan yang
menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 berdasarkan acuan Keputusan Kepala Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-05/Bapedal/09/1995.

Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan.


Secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik,
bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan limbah
yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan harus dibuat rangkap
di mana kemasan bagian dalam harus dapat menahan agar zat tidak bergerak dan mampu
menahan kenaikan tekanan dari dalam atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat self-
reactive dan peroksida organik juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya.
Pembantalan kemasan limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar
dan tidak mengalami penguraian atau dekomposisi saat berhubungan dengan limbah. Jumlah
yang dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang
memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.

Penyimpanan dapat dilakukan di tempat yang sesuai dengan persyaratan yang berlaku acuan
Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep-01l/Bapedal/09/1995.
Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus disimpan
dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan
harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 2×2 kemasan. Limbah-limbah harus
diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan
penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke
arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi
yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem
penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan
yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan
dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi.

2. Pengumpulan

Pengumpulan dapat dilakukan dengan memenuhi persyaratan pada ketentuan Keputusan


Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep-01/Bapedal/09/1995 yang
menitikberatkan pada ketentuan tentang karakteristik limbah, fasilitas laboratorium,
perlengkapan penanggulangan kecelakaan, maupun lokasi.

4. Pengangkutan

Kegiatan pengangkutan perlu dilengkapi dengan dokumen pengangkutan dan ketentuan


teknis pengangkutan. Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki
peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Peraturan pengangkutan yang menjadi
acuan adalah peraturan pengangkutan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal
pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya. Persyaratan yang
harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi
pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke lingkungan dalam jumlah yang
berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektifitas kemasan tidak
berkurang selama pengangkutan. Limbah gas yang mudah terbakar harus dilengkapi dengan head
shields pada kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah
kenaikan suhu yang cepat.

5. Pemanfaatan

Upaya pemanfaatan dapat dilakukan melalui kegiatan daur ulang (recycle), perolehan
kembali (recovery) dan penggunaan kembali (reuse) limbah B3 yang dlihasilkan ataupun bentuk
pemanfaatan lainnya.

6. Pengolahan

Untuk pengolahannya, limbah B3 dapat dilakukan dengan cara thermal, stabilisasi,


solidifikasi secara fisika, kimia, maupun biologi dengan cara teknologi bersih atau ramah
lingkungan. Sedangkan kegiatan penimbunan limbah B3 wajib memenuhi persyaratan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan

1. Suatu limbah tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun jika ia memiliki sifat-sifat
tertentu, di antaranya mudah meledak, mudah teroksidasi, mudah menyala, mengandung
racun, bersifat korosif, menyebabkan iritasi, atau menimbulkan gejala-gejala kesehatan
seperti karsinogenik, mutagenik dan sebagainya.
2. Pengelolaan Limbah B3 merupakan satu rangkaian kegiatan yang mencakup
penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, dan pengolahan limbah B3
termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Pada dasarnya prinsip pengolahan
limbah adalah upaya untuk memisahkan zat pencemar dari cairan atau padatan.

4.2 Saran

Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami pengertian,


karakteristik dan jenis serta cara pengelolaan limbah B3 dengan benar. Selain itu juga diharapkan
mahasiswa dapat mengembangkan penelitian baru tentang pengelolaan limbah B3 dengan ide
yang lebih kreatif dan inovatif.

DAFTAR PUSTAKA

A, Das, A. K. Gupta, and T. N. Mazumder, “Vulnerability assessment using hazard


potency for regions generating industrial hazardous waste,” J. Hazard. Mater., vol.
209–210, pp. 308–317, Mar. 2012, doi: 10.1016/j.jhazmat.2012.01.025.
Dinas Lingkungan Hidup. 2019. Profile Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng.
Singaraja, Bali.
Ginting, P. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Bandung: Yrama
Widya.
Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengolahan Bahan Berbahaya dan
Beracun

Grandjean, P., dan Landrigan, P. 2014. Neurobehavioural Effects of Developmental


Toxicity. Lancet Neurol. 13: 330–38.
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun.

Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
Dan Beracun [JDIH BPK RI]