Anda di halaman 1dari 4

Museum Gunung Merapi

Yogyakarta, 13 Oktober 2013


Perjalanan Survey untuk Class Event Olifant Elementary

Di depan sign pengarahan evakuasi gempa di museum gunung merapi

Anda yang merasa masyarakat Jogja, sudah berapa banyak yang pernah mengunjungi museum
ini, atau bahkan sudah berapa banyak yang mendengar mengenai museum ini. Setelah hampir 7
tahun berada di Jogja baru pertama kali mendengar tentang museum ini. Hehe, mungkin saya
yang kuper ya. 

Melihat dari jauh ketika kita akan memasuki area Museum ini, bangunan nya cukup menarik.
Dengan bangunan depan yang unik dan cukup artistik, dilengkapi dengan parkir yang luas dan
sangat bersih, dari luar tempat ini cukup direkomendasikan untuk dikunjungi. Secara tampungan
parkir kayana kita ga perlu khawatir. Masuk pakai parkir apa enggak ya kemarin, hehe lupa. 

Memasuki pintu utama, masih tetap kesan bersih kita dapatkan. Hanya sayang di penampilan
atap ada beberapa yang berlubang dengan cukup besar. Dari keterangan penjaga di situ ini adalah
bagian dari hasil erupsi merapi 2010 kemarin. Dari penjaga juga kami mendapatkan informasi
bahwa museum ini sudah dibangun dari 2005 tapi baru dibuka 2010. 

Dengan tiket 3000 per orang, kita bisa berkeliling di setiap bagian di museum. Di depan pintu
utama kita disambut dengan bentuk replika gunung merapi. Ada 2 tombol otomatis yang jika
ditekan akan memberikan simulasi keluarnya wedus gembel dari puncak gunung, dan aliran
lahar. Cukup menarik, namun sayang mungkin karena sudah lama, jadi asepnya yang keluar
hanya sedikit, dan warna aliran magma nya pun tidak terlalu terlihat.
Replika letusan dan aliran magma gunung merapi

Kesan bersih tetap terlihat dari lantai dan penataan barang - barang dan foto pajangan juga sangat
rapi. Di bagian akhir akan disertakan foto - foto yang berhasil direkam. Selain berbagai benda -
benda, foto - foto dan keterangan tentang beberapa hal di lantai satu, di lantai 2 kita juga bisa
merasakan ruangan untuk simulasi gempa dan tsunami, sayang nya sekali lagi sehubungan
dengan maintenance dan penggunaan yang kurang tepat, alat ini sudah tidak berfungsi lagi.
Bagian yang mungkin akan menarik adalah pemutaran film, dengan menambah 5000 rupiah dan
minimal 10 tiket kita bisa menontonnya. Sayang nya kemarin belum berkesempatan untuk
meliatnya. Dari keterangan penjaga, isinya hanya berisi pengetahuan dan tidak ada bagian yang
'mengerikan' sehingga aman juga untuk dilihat anak - anak.

Akhirnya tempat ini menjadi pilihan kami untuk membawa anak - anak experiential activity dan
memberikan enrichment kepada anak - anak mengenai peristiwa alam. Mungkin tips jika akan
membawa anak - anak ke sana adalah sedia tissue basah dan kering. Kamar mandinya cukup
bersih, namun air nya terkadang sedikit kotor jika musim hujan. Dan yang pasti jika ingin makan
dan minum harus dilakukan di luar museum. Cukup recommended untuk mengajak anak - anak
berusia sekolah dasar ke sana. HHHmmm kita tunggu saja seberapa menariknya untuk anak -
anak besok.
Salah satu rangka motor yang tersisa saat pengendaranya menyelamatkan diri.

Berbagai macam batu yang merupakan bagian dari larva

Tempat yang rencananya akan digunakan sebagai pertunjukan  simulasi gempa


Disebut bom merapi

Beberapa foto mengenai letusan gunung api di Indonesia dan dunia

Salah satu sudut hallway di Museum Gunung Merapi