Anda di halaman 1dari 108

Efektivitas Pemberian Media Flip Chart dan Media Audio Visual

Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Balita Tentang Pola Pemberian


Makanan
Pada Status Gizi diPuskesmas Muara Bulian
Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi

PROPOSAL SKRIPSI

NAMA : Rizki Narulita


NIM : 181012114201112

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS


KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN
PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI
TAHUN 2020
Efektivitas Pemberian Media Flip Chart dan Media Audio Visual
Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan
Pada Status Gizi diPuskesmas Muara Bulian
Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi

PROPOSAL SKRIPSI

NAMA : Rizki Narulita


NIM : 181012114201112

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS


KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN
PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI
TAHUN 2020

2
KATA PENGANTAR

3
Puji syukur peneliti panjatkan kehadiran Allah swt. atas karunia-Nya berupa

kesehatan, kesempatan, dan nikmat yang begitu besar bagi umatnya, sehingga peeneliti

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Pemberian Media Flip

Chart dan Media Audio Visual Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu

Balita Tentang Pola Pemberian Makanan Pada Status Gizi

diPuskesmas Muara Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi”.

Selawat beriringkan salam tidak lupa kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW

yang telah memberikan petunjuk untuk keselamatan umat di dunia dan di akhirat.

Dalam penyusunan skripsi ini banyak peneliti mengucapkan terima kasih

telah mendapatkan bimbingan Ibu Ns. Elfira Husna, M.Kep selaku pembimbing I,

dan bantuan dari berbagai pihak dalam penyusunan Skripsi ini. Selanjutnya

perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat :

1. Ibu Dr. Hj. Evi Susanti, S.ST., M.Biomed, selaku Rektor IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

2. Bapak Ns.Fauzi Ashra, S.Kep, M.Kep selaku Wakil Rektor I IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

3. Bapak Yuhendri Putra, S.Si, M.Biomed selaku Wakil Rektor II IKes Prima

Nusantara Bukit Tinggi.

4. Bapak Dr. Hendri Joni, M.h, Ketua Institut Kesehatan Prima Nusantara Bukit

Tinggi.

4
5. Ibu Kepala puskesmas Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-Jambi.

6. Ibu Ns. Elfira Husna, M.Kep, Ketua Prodi Sarjana Ilmu Keperawatan Institut

Kesehatan Prima Nusantara Bukit Tinggi.

7. Ibu Dr. Hj. Evi Susanti, S.ST, M.Biomed, Sebagai Penguji I

8. Ibu Ns. Yade Kurnia Sari,M.Kep sebagai Penguji II

9. Bapak/Ibu Staf dan Dosen pengajar IKes Prima Nusantara Bukit Tinggi.

10. Kepada kedua orang tua, Suami, serta seluruh keluarga yang telah

memberikan kasih sayang, nasehat, semangat dan do’a.

11. Rekan-rekan senasib sepenanggungan mahasiswa Program Studi Ilmu

Keperawatan Institut Kesehatan Prima Nusantara Bukit Tinggi yang telah

memberikan perhatian dan masukan bagi peneliti

Semoga segala kebaikannya mendapat imbalan pahala dari Allah swt. Akhir

kata semoga Skripsi yang sederhana dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan khususnya ilmu keperawatan, Amin

Bukittinggi, Mei 2020

Rizki Narulita

5
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................i
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN.................................................ii
KATA PENGANTAR...................................................................................iii
DAFTAR ISI..................................................................................................v
DAFTAR SKEMA.........................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................vii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................9
C. TujuanPenelitian................................................................................9
D. Manfaat Penelitian.............................................................................10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................12
A. Konsep Balita.....................................................................................12
B. Konsep Dasar Gizi.............................................................................15
C. Pola Makan........................................................................................40
D. Pengetahuan.......................................................................................44
E. Media Pendidikan Kesehatan.............................................................51
F. Kerangka Teori..................................................................................58
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL.....................................................60
A. Kerangka Konseptual.........................................................................60
B. DefinisiKonseptual............................................................................61
C. Hipotesis............................................................................................63
BAB IV METODE PENELITIAN.............................................................65
A. Desain Penelitian...............................................................................65
B. Populasi dan Sampel..........................................................................65
C. Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................66
D. Etika Penelitian .................................................................................67
E. Alat Pengumpulan Data ....................................................................68
F. Prosedur Pengumpulan Data .............................................................69
G. Pengolahan Data dan Analisa Data ...................................................70
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................72
LAMPIRAN..................................................................................................75

6
DAFTAR SKEMA

SKEMA 2.1 Faktor-Faktor Yang


MempengaruhiPengetahuanDenganPemberianMakanan Pada Status Gizi...59
SKEMA 3.1 KerangkaKonsep.......................................................................61

7
DAFTAR TABEL

TABEL3.1 Definisi Operasional...................................................................62

8
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber

daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia,

meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta untuk mempertinggi

kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Disebutkan pula bahwa upaya

perbaikan kesehatan masyarakat terus ditingkatkan antara lain melalui pencegahan

dan pemberantasan penyakit menular, perbaikan gizi serta pelayanan kesehatan

ibu dan anak.(kemenkes,2018). Balita yaitu anak yang berumur kurang dari 5

tahun yang mulai disapih dari menyusu sampai dengan prasekolah. Perilaku

makan anak usia prasekolah dipengaruhi oleh keadaan psikologis, kesehatan, dan

sosial anak. Sikap keluarga dan kondisi lingkungan sangat berperan penting dalam

pemberian makan anak pada usia ini, misalnya dengan menciptakan suasana

makan yang menyenangkan (Proverati, 2011).

Rentang usia anak balita dimulai dari usia 1 sampai 5 tahun, periode usia

ini juga sebagai usia prasekolah. Zat-zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, sehingga

memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan

kesehatan secara umum setinggi mungkin. Usia balita merupakan usia pra sekolah

dimana seorang anak akan mengalami tumbuh kembang dan aktivitas yang sangat

pesat dibandingkan dengan ketika masih bayi, kebutuhan zat gizi akan meningkat.

Sementara pemberian makanan juga akan lebih sering. Pada usia ini, anak sudah

9
mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang

disukainya. Seorang ibu yang telah menanamkan kebiasaan makan dengan gizi

yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah mengarahkan makanan anak,

karena dia telah mengenal makanan yang baik pada usia sebelumnya. Oleh karena

itu, pola pemberian makanan sangat penting diperhatikan. Secara umum faktor

yang mempengaruhi terbentuknya pola makan adalah faktor ekonomi, sosial

budaya, agama, pendidikan, dan lingkungan (Wirakusuma, 2012).

Pola makan yang baik perlu dibentuk sebagai upaya untuk memenuhi

kebutuhan gizi dan pola makan yang tidak sesuai akan menyebabkan asupan gizi

berlebih atau sebaliknya kekurangan. Asupan berlebih menyebabkan kelebihan

berat badan dan penyakit lain yang disebabkan oleh kelebihan gizi. Sebaliknya

asupan yang kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi

kurus dan rentan terhadap penyakit. Sehingga pola makan yang baik juga perlu

dikembangkan untuk menghindari interaksi negatif dari zat gizi yang masuk

dalam tubuh. Interaksi dapat terjadi antara suatu zat gizi dengan yang lain, atau

dengan zat non gizi. Masing-masing interaksi dapat bersifat positif (sinergis),

negatif (antogenesis), dan kombinasi di antara keduanya. Interaksi disebut positif

jika membawa keuntungan, sebaliknya disebut negatif jika merugikan. Interaksi

antara zat gizi dapat meningkatkan penyerapan, atau sebaliknya menggangu

penyerapan zat gizi lain (Sulistyoningsih, 2011).

Status gizi balita dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor langsung dan

tidak langsung. Faktor langsung yaitu konsumsi pangan dan penyakit infeksi

sendangkan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi

10
balita adalah pengetahuan dan sikap ibu. Kurangnya pengetahuan dan sikap ibu

merupakan salah satu penyebab terjadinya kurang gizi pada balita. Ibu yang

memiliki pengetahuan dan sikap gizi yang kurang akan sukar memilih makanan

yang bergizi bagi balita dan keluarganya sehingga akan mempengaruhi asupan

makanan balita dan status gizinya. Gizi yang baik ada adalah gizi yang seimbang,

artinya asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Balita kurang gizi akan

menyebabkan terganggunya pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan. Hal ini

karena kurangnya produksi protein dan energi yang diperoleh dari makanan

(Lestari, 2015).

Masalah gizi buruk dan gizi kurang belum bisa teratasi dengan baik

dalam skala internasional maupun nasional, Menurut UNICEF (2019) jumlah

penderita gizi kurang di dunia mencapai 700 juta anak dan keadaan gizi kurang

masih menjadi penyebab kematian anak di seluruh dunia. UNICEF melaporkan

sebanyak 149 milliar anak anak umur 4 tahun atau menderita gizi buruk yang

mengeluarkan biaya 3,5 trilliun dollar AS atau setara dengan Rp. 49.395 trilliun

per tahunnya, kondisi kesehatan berpengaruh kepada perkembangan otak dan

badan. Sebgaiau contoh pada masa perang di Yaman 46 % anak usia balita

mengalam gizi buruk berasarkan data pada tahun 2013-2018. PBB menyatakan

yaman sebagai negara yang mengalai krisis kemanusiaan terburuk didunia,

sedangkan di Indonesia hampir tidak mengalami kemajuan sama sekali dalam

menurunkan tingkat kurang gizi anak sejak tahun 2015 yaitu sebanyak 18,9 %

anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita gizi kurang. Balita yang

11
termasuk gizi kurang mempunyai risiko meninggal lebih tinggi dibandingkan

balita yang gizinya baik (UNICEF, 2019).

Salah satu indikator sasaran pembangunan kesehatan pada RPJMN 2020-

2025 adalah penguatan advokasi, komunikasi sosial dan perubahan hidup sehat

terutama mendorong pemenuhan gizi seimbang berbasis konsumsu pangan,

penguatan sistem surbeilans gizi, peningkatan komitmen dan pendamping bagi

daerah dalam intervensi perbaikan gizi dengan strategi sesuai kondisi setempat

dan rspon cepat perbaikan gizi dalam kondisi darurat, proporsi balita mengalami

masalah gizi dari dari 19,6% pada tahun 2013 menjadi 17,7% pada tahun 2019.

Hasil PSG (Pemantauan Status Gizi) tahun 2018 yaitu status gizi balita menurut

indeks berat badan per usia (BB/U) di Indonesia, didapatkan hasil 79,7% gizi

baik, 13,8% gizi kurang, 3,9% gizi buruk, dan 2,6% gizi lebih. Secara nasional

prevalensi gizi kurang sebanyak 14,4% dan gizi buruk sebanyak 3,4% di

Indonesia (Kemenkes, 2020).

Berdasarkan Indeks BB/U, tahun 2016 menurut Provinsi Jambi yaitu 2,37

% gizi buruk, 10,93% gizi kurang 84,90 % gizi baik , dan 1,80% gizi lebih dan

pada tahun 2017 kejadian gizi buruk 2,6%; gizi kurang 8,7%; gizi baik 86,2% dan

gizi lebih 2,4% (Kemenkes RI, 2019). Gizi kurang merupakan salah satu penyakit

akibat gizi yang masih merupakan masalah di Indonesia. Masalah gizi pada balita

dapat memberi dampak terhadap kualitas sumber daya manusia, sehingga jika

tidak diatasi dapat menyebabkan lost generation. Kekurangan gizi dapat

mengakibatkan gagal tumbuh kembang, meningkatkan angka kematian dan

kesakitan serta penyakit terutama pada kelompok usia rawan gizi yaitu Balita.

12
(Zulfita, 2013). Anak yang makanannya tidak cukup maka daya tahan tubuhnya

akan melemah dan mudah terserang infeksi dan ibu yang kurang infomasi dan

pengetahuan tidak dapat memberikan makanan yang bergizi akan mengakibatkan

balita mengalami status gizi kurang, maka dari itu ibu harus memanfaatkan

pengetahuan yang ada baik informasi dari puskesmas maupun informasi dari

media sosial (Soekirman, 2010)

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Objek dalam pengetahuan

adalah benda atau hal yang diselidiki oleh pengetahuan itu. Penginderaan terjadi

melalui panca indera manusia, yakni indera raba, rasa, penglihatan, pendengaran

dan penciuman, karena itu pengetahuan dimungkinkan didapat dari berbagai

sumber dan pengalaman (Notoatmodjo, 2014).

Menurut Penelitian Puspitasari (2014) Dengan Judul Pengaruh Pendidikan

Kesehatan Terhadap Perubahan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dalam Upaya

Menangani Balita Gizi Kurang Di Desa Mancasan Sukoharjo jenis penelitian yang

dipakai dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode

penelitian pre experiment dengan hasil nilai rata-rata pretest sikap sebesar 43,12

dan meningkat menjadi 47,78. Hasil uji paired samples test diketahui nilai t-test

sebesar -5,75 dan nilai p-value 0,001. terdapat perbedaan sikap antara sebelum

(pretest) dan sesudah (posttest) diberikan pendidikan kesehatan tentang upaya

menangani balita gizi kurang yang memiliki banyak sekali media yang bisa

dijadikan alat promosi kesehatan.

13
Media merupakan alat untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat,

didengar, diraba, dan dirasa, untuk memperlancar komunikasi dan pengebarluasan

informasi. Media pendidikan adalah alat bantu yang digunakan oleh pemberi

materi atau pesan kesehatan untuk menyampaikan bahan atau materi kesehatan.

Media pendidikan kesehatan terbagi atas tiga bentuk yaitu media cetak, elektronik

dan papan. Media cetak sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan

kesehatan sangat bervariasi, sepertiflip chart. Berdasarkan penelitan Sinulingga

(2019) selisih rata-rata perubahan pengetahuan dan sikap, media flipchart lebih

efektif untuk pemberian informasi kesehatan tentang penyediaan konsumsi sayur

dan buah dibandingkan media standing banner. penelitian kuantitatif dengan

desain penelitian (quasi experiment)dengan desain rancangan digunakan non

equivalent control group Terdapat pengaruh (p<0,005) metode ceramah

menggunakan media flipchart terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam upaya

penyediaan konsumsi sayur dan buah bagi keluarga dengan hasil nilai p = 0,000.

Media audio visual yang berupa video dapat digunakan sebagai media

penyuluhan yang memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah dapat lebih

mudah diterima karena mengaitkan langsung dengan indera penglihatan dan

pendengarannya. Kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia

diperoleh/disalurkan melalui indera pandang, 13% melalui indera dengar dan 12%

lainnya tersalur melalui indera yang lain. Berdasarkan penelitian Novita (2019)

penelitian yang digunakan adalah quassy experimental dengan rancangan one

group pretest-posttest design, terdapat pengaruh penggunaan media audio visual

14
terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang stunting di Puskesmas Rawasari

Kota Jambi tahun 2019 yang signifikan dengan p =0,00

Adanya masalah tersebut maka muncul salah satu upaya dalam mencegah

terjadinya gizi kurang pada balita yaitu dengan peningkatan pengetahuan, sikap

dan juga perilaku dari ibu mengenai gizi balita. Pengetahuan yang kurang

sehingga dapat merugikan kesehatan seyogyanya diubah kearah yang

menguntungkan kesehatan. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan mampu

mempengaruhi sikap yang akhirnya mampu mempengaruhi bagaimana seseorang

berperilaku. Pengetahuan tersebut mampu mengarahkan ibu untuk melakukan

pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita dengan menyediakan

makanan seimbang yang sesuai dengan kebutuhan gizi pada balita tersebut.

Adanya pemenuhan gizi yang seimbang tersebut maka akan tercipta status gizi

yang normal bagi balita dan angka balita gizi kurang akan menurun (Nugrahaeni,

2018).

Ibu dengan sumber informasi yang luas maka akan lebih banyak

mempunyai pengetahuan mengenai gizi balita lebih banyak dibandingkan ibu

dengan sumber informasi yang minim. Sehingga mereka dianggap lebih mampu

untuk menangani masalah kesehatan terutama masalah gizi dikeluarganya dengan

baik. Berbagai metode dan alat telah dikembangkan dunia pendidikan dalam

menyampaikan pesan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan sikap dan

keterampilan, media tersebut berupa flip chart dan media audio visual (Novita,

2019).

15
Hasil datayang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20 Juni 2020 bahwa

data gizi kurang pada tahun 2017 sebanyak 27 (28,4 %) balita, pada tahun 2018

sebanyak 31 (32,6%) balita dan pada tahun 2019 sebanyak 37 (39%) balita,

sedangkan pada tahun 2020 dari bulan Januari sebanyak 2 (25%) balita, Februari

2 (25%) balita dan Maret 4 (50%) balita (Puskesmas Muara Bulian, 2020). Gizi

kurang merupakan keadaan tidak sehat karena tidak cukup makan dalam jangka

waktu tertentu. Kurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi baik secara kualitas

maupun kuantitas dapat menurunkan status gizi.

Berdasarkan survey awalmelaluiwawancara dan observasi yang

penelitilakukan pada tanggal 20 Juni 2020 kepada 10 orang ibubalita yang ada di

PuskesmasMuara Bulian 8 orang status gizi anak perempuan dan anak laki-laki

dengan BB/U yang kurang, ibu balita mengatakan tidak tahu tentang pemberian

makanan dan gizi yang baik karena mereka belum pernah diberikan pendidikan

kesehatan tentang pemberian makanan dan gizi pada anak yang baik dan

kurangnya informasi yang didapatkan. Pada wawancara berikutnya 6 dari 10

orang ibu mengatakan memiliki kebiasaan memberikan jajanan kepada balitanya

untuk sarapan pagi. Ibu balita juga mengatakan bahwa mereka belum pernah

diberikan pendidikan kesehatan tentang pemberian makanan dan gizi pada anak

yang baik.

Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian yang berjudul Efektivitas pemberian media flip chart dan media

audio visual terhadap tingkat pengetahuan ibu balita tentang pola

16
pemberian makanan Pada Status Gizi di Puskesmas Muara Bulian,

Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi Tahu 2020.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada perbedaan media Flip Chart dan

Media Audio Visual terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu balita tentang Pola

Pemberian Makanan Pada Status Gizi di Puskesmas Muara Bulian, Kabupaten

Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui adanya perbedaan media Flip Chart dan Media Audio

Visual terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu balita tentang Pola Pemberian

Makanan Pada Status Gizi di Puskesmas Muara Bulian, Kabupaten

Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:

a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang pola pemberian

makanan sebelum media flip chart

b. untuk Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang pola pemberian

makanan sesudah diberi media flip chart

c. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang pola pemberian

makanan sebelum sebelum diberi Media Audio Visual

d. Untuk Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang pola pemberian

makanan sesudah diberi Media Audio Visual.

17
e. Untuk Mengetahui Perbedaan Pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang

pola pemberian makanan sebelum dan sesudah diberi media buku flip

chart dan Media Audio Visual.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi puskesmas Muara Bulian

Dapat dijadikan bahan masukan dalam pelaksanaan perawatan pada Ibu

dengan dengan status gizi balita dan untuk mengetahui pengetahuan ibu

tentang pola pemberian makanan di wilayah kerja Puskesmas Muara Bulian,

Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, sehingga dapat meningkatkan derajat

kesehatan terhadap masyarakat.

2. Bagi institusi pendidikan

Sebagai referensi bagi pespustakaan dan sebagai acuan bagi penelitian

berikutnya di masa yang akan datang khususnya tentang pola pemberian

makanan dengan status gizi anak balita.

3. Bagi ilmu keperawatan

Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang

keperawatan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pemberian

makanan dengan status gizi pada anak balita dengan peran perawat, yaitu:

sebagai fasilitator, edukator, dan konseling.

4. Bagi peneliti lain

18
Penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan atau referensi untuk

melengkapi penelitian yang akan datang tentang status gizi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang Lingkup penelitian ini yaitu Efektifitas Perbedaan Peningkatan

Pengetahuan Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan dengan media Flip Chart dan

Media Audio Visual Pada Status Gizi di Puskesmas Muara Bulian, Kabupaten

Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020. Yang akan dilakukan ibu balita yang

berlokasi di Puskesma Muara Bulian degan penelitian yang akan dilakukan pada

bulan Oktober Tahun 2020. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan menggunakan rancangan

Non-Equivalent Control Group. Rancangan ini sangat baik digunakan untuk

evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan lainnya. Dalam

rancangan ini, pengelompokkan anggota sampel pada kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol tidak dilakukan secara random atau acak. Oleh sebab itu

rancangan ini sering juga ‘Non-randomized Control Group Pretest-Posttest

Design”. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan tehnik Total

Sampling.

19
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Balita

1. Pengertian

Balita yaitu anak yang berumur kurang dari 5 tahun yang mulai

disapih dari menyusu sampai dengan prasekolah. Balita terbagi menjadi dua

golongan yaitu balita dengan usia 1-3 tahun dan balita dengan usia 1-5 tahun

(Soekirman, 2010).

Balita adalah anak usia 1-5 tahun yang masih dalam tahap

pertumbuhan dan perkembangannya yang ditandai dengan aktifitas anak

untuk belajar berbicara, lari dan mulai bersosialisasi. Pada masa balita

tentunya masih memerlukan perhatian khusus dari orang tua, perkembangan

20
ini merupakan hasil interaksi antara keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang

menimbulkan tampilan dan kualitas tumbuh kembang anak (Istiany, 2013).

Dari uraian diatas disimpulkan balita merupakan individu dengan usa

dibawah lima tahun. Pertumbuhan pada usia ini berlangsung dengan cepat

dan melambat pada usia prasekolah. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari balita

masih sangat tergantung dengan orang lain. Perkembangan masa balita akan

berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak

selanjutanya.

2. Makanan dan status gizi anak balita

Asupan zat-zat yang lengkap masih terus dibutuhkan anak selama

proses tumbuh kembang masih terus berlanjut. Zat gizi yang dibutuhkan anak

usia 12-18 bulan ini porsi makanan yang dikonsumsi sekarang ini yang

bertambah, sesuai dengan pertambahan berat tubuhnya dan peningkatan

proses tumbuh kembang yang terjadi. Tubuh anak tetap membutuhkan semua

zat gizi utama yaitu karbohidrat, lemak, serat, vitamin dan mineral. Asupan

makanan sehari untuk anak harus mengandung 10-15% kalori, 20-35%

lemak, dan sisanya karbohidrat. Setiap kg berat badan anak memerlukan

asupan energi sebanyak 100 kkal. Asupan lemak juga perlu ditigkatan karena

struktur utama pembentuk otak adalah lemak. Lemak tersebut dapat diperoleh

antara lain dari minyak dn margarine (Marimbi, 2010).

21
Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisk dan

kecerdasan anak. Oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu

diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan

variasi makanan (Marimbi, 2010).

Gizi seimbang dapat dipenuhi dengan pemberian makanan kepada

balita sebagai berikut:

a. Sumber zat tenaga

3-4piring( 1 gelas nasi/penggantinya seperti mie, bihun, dll.

b. Sumber zat pembangun

4-5porsi lauk @ 50 gr, seperti : telur, daging, ikan, tahu, tempe.

c. Sumber zat pengatur

2-3 porsi sayuran dan buah-buahan yang berwarna: 1 porsi sayuran = 1

mangkok sayuran terdiri dari berbagai sayuran berwarna, 1 porsi buah ± 100

gr. (Marimbi, 2010).

Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan

asupan gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Waktu-waktu

yang disarankan adalah:

a. Pagi hari waktu sarapan.

b. Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.

c. Pukul 12.00 pada waktu makan siang.

d. Pukul 16.00 sebagai selingan.

e. Pukul 18.00 pada waktu makan malam.

f. Sebelum tidur malam, tambahkan susu.

22
g. Jangan lupa kumur-kumur dengan air puth atau gosok gigi.

(Marimbi, 2010)

Pada usia balita anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam,

sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia

selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang teratur

dn variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin makan yang

baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola gizi seimbang,

yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan

diperoleh melalui makanan sehari-hari. Dengan makan makanan yang bergizi

seimbang secara teratur, diharapkan pertumbuhan anak akan berjalan optimal

(Marimbi, 2010).

B. Konsep Dasar Gizi

1. Status Gizi

Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh

setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia

balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini,

bersifat irreversible 9 tidak dapat pulih) (Marimbi, 2010).

Menurut ahli gizi dari IPB, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, standar acuan

status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan

menurut Tinggi badan (BB/TB), dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U).

Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight (kurus), dan gemuk.

untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik

disebut stunted (pendek). Pedoman yang sering digunakan di Indonesia

23
adalah World Health Organzation-National Centre for Health (WHO-

NCHS). Status gizi pada balita dapat diketahui dengan cara mencocokan

umur anak (dalam bulan) degn berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila

berat badannya kurang, maka sttus gizinya kurang.

2. Akibat yang Ditimbulkan Oleh Malnutrisi

Kekurangam gizi secara umum (makanan kurang dalam kualitas dan

kuantitas) menyebabkan gangguan pada proses-proses :

a. Pertumbuhan

Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan

sebagai zat kualitas pembakar, sehingga otot-otot jadi lembek dan rambut

mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari tingkat soail ekonomi

menengah ke atas rata-rat lebih tinggi daripada yang bersal dari sosial

ekonomi rendah.

b. Produksi Tenaga

Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seseoarang

terganggu untuk bergerak, bekerja, dan melkukan aktivitas. Orang menjadi

malas, merasa lemah dan produktifitas kerja menurun.

c. Pertahanan Tubuh

Daya tahan terhadap tekanan atau stes menurun. Sistem imunitas

dan antibodi berkurang, sehingg orang mudah terserang penyakit infeksi

seperti pilek, btuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dpat membawa

kematian.

d. Struktur dan Fungsi Otak

24
Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap

perkembangan mental dan kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk

maksimal pada usia 2 tahun . Kekurangan gizi dapat berakibat

terganggunya fungsi otak secara permanen.

e. Perilaku

Bila anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi

menujukkan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng

dan apatis. Dari pernyataan tersebut tampak bahwa gizi yang baik

merupakan modal bagi pengembangan sumber daya manusia (Almatsir,

2012).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Faktor yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi status

gizi adalah asupan makanan dan penyakit infeksi. Berbagai faktor yang

melatarbelakangi kedua faktor tersebut misalnya faktor ekonomi dan keluarga

(Soekirman, 2012).

a. Ketersediaan dan Konsumsi Pangan

Penilaian konsumsi pangan rumah tangga atau secara perorangan

merupakan cara pengamatan langsung yang dapat menggambarkan pola

konsumsi penduduk menurut daerah, golongan sosial ekonomi dan sosial

budaya. Konsumsi pangan lebih sering digunakan sebagai salah satu

teknik untuk memajukan tingkat keadaan gizi. Penyebab masalah gizi

yang pokok di tempat paling sedikit dua pertiga dunia adalah kurang

25
cukupnya pangan untuk pertumbuhan normal, kesehatan, dan kegiatan

normal. Kurang cukupnya pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan

dalam keluarga. Tidak tersedianya pangan dalam keluarga yang terjadi

terus menerus akan menyebabkan terjadinya penyakit kurang gizi.

Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat karena tidak cukup

makan dalam jangka waktu tertentu. Kurangnya jumlah makanan yang

dikonsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menurunkan

status gizi. Anak yang makanannya tidak cukup maka daya tahan

tubuhnya akan melemah dan mudah terserang infeksi

b. Infeksi

Penyakit infeksi dan keadaan gizi anak merupakan 2 hal yang

saling mempengaruhi. Dengan infeksi, nafsu makan anak mulai menurun

dan mengurangi konsumsi makanannya, sehingga berakibat

berkurangnya zat gizi ke dalam tubuh anak. Dampak infeksi yang lain

adalah muntah dan mengakibatkan kehilangan zat gizi. Infeksi yang

menyebabkan diare pada anak mengakibatkan cairan dan zat gizi di

dalam tubuh berkurang. Kadang-kadang orang tua juga melakukan

pembatasan makan akibat infeksi yang diderita dan menyebabkan asupan

zat gizi sangat kurang sekali bahkan bila berlanjut lama mengakibatkan

terjadinya gizi buruk. Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan

kematian pada anak di negara berkembang. Sekitar 80% kematian yang

berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.

26
Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat

kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Diare menjadi

penyebab penting bagi kekurangan gizi. Hal ini disebabkan oleh adanya

anoreksia pada penderita diare, sehingga anak makan lebih sedikit

daripada biasanya dan kemampuan menyerap sari makanan juga

berkurang. Padahal kebutuhan tubuh akan makanan meningkat akibat

dari adanya infeksi. Setiap episode diare dapat menyebabkan kekurangan

gizi, sehingga bila episodenya berkepanjangan maka dampaknya

terhadap pertumbuhan anak akan meningkat. Diare secara epidemiologik

didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau

lebih dalam satu hari. Secara klinik ada tiga macam sindroma diare.

Selain diare, Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) juga

merupakan salah satu panyakit infeksi yang erat kaitannya dengan

masalah gizi. Tanda dan gejala penyakit ISPA ini bermacam-macam

antara lain batuk, kesulitan bernafas, tenggorakan kering, pilek demam

dan sakit telinga. ISPA disebabkan lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan

rickettsia. Pada anak umur 12 bulan dan batuk sebagai salah satu gejala

infeksi saluran pernafasan hanya memiliki asosiasi yang signifikan

dengan perubahan berat badan, tidak dengan perubahan tinggi badan

(Depkes RI, 2010).

c. Pengetahuan Gizi

Pengetahuan tentang gizi adalah kepandaian memilih makanan

yang merupakan sumber zat-zat gizi dan kepandaian dalam mengolah

27
bahan makanan. Status gizi yang baik penting bagi kesehatan setiap

orang, termasuk ibu hamil, ibu menyusui dan anaknya. Pengetahuan gizi

memegang peranan yang sangat penting dalam penggunaan dan

pemilihan bahan makanan dengan baik sehingga dapat mencapai keadaan

gizi yang seimbang.

d. Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan sangat menentukan bahan makanan yang

akan dibeli. Pendapatan merupakan faktor yang penting untuk menetukan

kualitas dan kuantitas makanan, maka erat hubungannya dengan gizi.

Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang

dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi

kebutuhan zat gizi anggota keluarganya. Tingkat pendapatan dapat

menentukan pola makan. Pendapatan merupakan faktor yang terpenting

menentukan kualitas dan kuantitas hidangan keluarga. Semakin tinggi

penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut

untuk membeli buah, sayur dan beberapa jenis bahan makanan lainnya.

Pendapatan dianggap sebagai salah satu determinan utama dalam dalam

diet dan status gizi. Ada kecenderungan yang relevan terhadap hubungan

pendapatan dan kecukupan gizi keluarga. Hukum Perisse mengatakan

jika terjadi peningkatan pendapatan, maka makanan yang dibeli akan

lebih bervariasi

Selain itu menurut hukum ekonomi (hukum Engel) yang

disebutkan bahwa mereka yang berpendapatan sangat rendah akan selalu

28
membeli lebih banyak makanan sumber karbohidrat, tetapi jika

pendapatannya naik maka makanan sumber karbohidrat yang dibeli akan

menurun diganti dengan makanan sumber hewani dan produk sayuran

(Soekirman, 2010).

Pada tingkat keluarga, penurunan daya beli akan menurunkan

kualitas dan kuantitas pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan

terutama sekali bagi warga kelas ekonomi bawah. Hal ini akan

berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap

gangguan gizi dan kesehatan. Besarnya pendapatan yang diperoleh setiap

keluarga tergantung dari pekerjaan mereka sehari-hari. Pendapatan dalam

satu keluarga akan mempengaruhi aktivitas keluarga dalam pemenuhan

kebutuhan sehingga akan menentukan kesejahteraan keluarga termasuk

dalam perilaku gizi seimbang (Padila, 2012).

e. Besar Keluarga

Besar keluarga atau banyaknya anggota keluarga berhubungan erat

dengan distribusi dalam jumlah ragam pangan yang dikonsumsi anggota

keluarga. Keberhasilan penyelenggaraan pangan dalam satu keluarga

akan mempengaruhi status gizi keluarga tersebut. Besarnya keluarga

akan menentukan besar jumlah makanan yang dikonsumsi untuk tiap

anggota keluarga. Semakin besar jumlah anggota keluarga maka semakin

sedikit jumlah konsumsi gizi atau makanan yang didapatkan oleh

masing-masing anggota keluarga dalam jumlah penyediaa makanan yang

sama (Padila, 2012).

29
f. Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan Dasar

Status gizi anak berkaitan dengan keterjangkauan terhadap

pelayanan kesehatan dasar. Anak balita sulit dijangkau oleh berbgai

kegiatan perbaikan gizi dan kesehatan lainnya karena tidak dapat datang

sendiri ke tempat berkumpul yang ditentukan tanpa diantar. Beberapa

aspek pelayanan kesehatan dasar yang berkaitan dengan status gizi anak

antara lain: imunisasi, pertolongan persalinan, penimbangan anak,

pendidikan kesehatan anak, serta sarana kesehatan seperti posyandu,

puskesmas, rumah sakit, praktek bidan dan dokter. Makin tinggi

jangkauan masyarakat terhadap sarana pelayanan kesehatan dasar

tersebut di atas, makin kecil risiko terjadinya penyakit gizi kurang.

g. Higiene Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan sangat terkait dengan ketersediaan air bersih,

ketersediaan jamban, jenis lantai rumah serta kebersihan peralatan makan

pada setiap keluarga. Makin tersedia air bersih untuk kebutuhan

seharihari, makin kecil risiko anak terkena penyakit kurang gizi, selain

faktor tersebut di atas adalah faktor pengasuhan anak. (Soekirman, 2012).

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada anak menurut

Adriana (2013), antara lain:

a. Faktor internal

Berikut ini adalah faktor-faktor internal yang berpengaruh pada

tumbuh kembang anak:

1. Ras/etnik atau bangsa

30
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika tidak

memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesi atau sebaliknya.

2. Keluarga

Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh

tinggi, pendek, gemuk, atau kurus.

3. Umur

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenal,

tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

4. Jenis kelamin

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih

cepat daripada laki-laki. Akan terjadi setelah melewati masa pubertas

pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

5. Genetik

Genetik adalah bawaan anak yaitu potensial anak yang akan

menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang

berpengaruh pada tumbuh tumbuh kembang anak, contohnya seperti

kerdil.

6. Kelainan kromosom

Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan

pertumbuhan seperti sindrom Down’s dan sinrom Turner’s.

b. Faktor eksternal

1. Faktor prental

a. Gizi

31
Nutrisi ibu hamil terutma pada trimester akhir kehamilan

akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

b. Mekanis

Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan

kongenital seperti club foot.

c. Toksin/ zat kimia

Beberapa obat-obatan seperti minopterin atau thaldomid

dapat menyebabkan kelainan kongenitak seperti palatoskisis.

d. Endokrin

Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia,

kardiomegali, dan hiperplasia adrenal.

e. Radiasi

Paparan radiasi dan sinar rontgen dapat mengakibatkan

kelainan pda janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi

mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata,

serta kelainan jantung.

f. Infeksi

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH

(Toksoplasma, Ribella, Citomegalo virus, Herpes simpleks)

dapat menyebabkan kelainan pada janian seperti katarak, bisu,

tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jantung

kongenital.

g. Kelainan imunologi

32
Eritoblastosis fatalis timbul atas dasar perbedaan

golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk

antiboti terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui

plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan akan

menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan

hiperblirubinemia dan kemikterus yang akan menyebabkan

pertumbuhan terganggu.

h. Anoksia embrio

Anoksida embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi

plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.

i. Psikologi ibu

Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah

atau kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

2. Faktor persalinan

Komplikasi persalinan pada bayi trauma kepala, asfiksia

dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.

3. Faktor pasca persalinan

a. Gizi

Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan

yang adekuat.

b. Penyakit kronis

33
Tuberkulosis, anemia, dan kelainan jantung bawaan

mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.

c. Lingkungan fisik dan kimia

Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat

anak tersebut hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan

dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik,

kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia

tertentu.

d. Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak

yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu

merasa tertekan, akan mengalami hambatan pertunbuhan.

e. Endokrin

Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid,

akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

f. Sosial ekonomi

Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan

makanan serta kesehatan lingkungan yang jelek dan

ketidaktahuan, hal tersebut menghambat pertumbuhan anak.

g. Lingkungan pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat

mempengaruhi tumbuh kembang anak.

h. Stimulasi

34
Perkembangan memerlukan rangsanan atau stimulasi,

khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan mainan,

sosialisasi anak, serta keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain

terhadap kegiatan anak.

i. Obat-obatan

Pemakaian kortikosteroid jangka panjang akan

menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian

obat perangsang terhadap saraf yang menyebabkan

terhambatnya produksi hormon pertumbuhan (Adriana, 2013).

4. Jenis-jenis zat gizi

a. Karbohidrat

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, bahan pembentuk

berbagai senyawa tubuh, bahan pembentuk asam amino esensial,

metabolisme normal lemak, menghemat protein meningkatkan

pertumbuhan bakteri usus, mempetahankan gerak usus, meningkatkan

konsumsi protein, mineral dan vitamin. Sumber karbohidrat terdapat

pada makanan bahan pangan seperti beras, ubi jalar, singkong, kentang,

pisang, sagu, gandum dan sebagainya.

b. Protein

Protein meupakan zat gizi yang berfungsi untuk membentuk

jaringan baru dalam masa tumbuh kembang, memilihara jaringan tubuh,

mengganti jaringan yang rusak, menyediakan asam amino, mengatur

keseimbangan air, dan mempertahankan asam basa tubuh. Sumber

35
protein diperoleh dari daging ayam, telur, susu, kedelai, kacang tanah,

kacang hijau dan sebagainya.

c. Lemak

Lemak merupakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk

memberikan rasa gurih an renyah, memberi klori yang tinggi dan sebagai

cadangan energi dalam bentuk jaringan lemak. Sumber lemak dapat

diperoleh makanan yang berasal dari daging, keju, ikan, telur, susu sapi,

kacang-kacangan, biji kelapa, alpokat dan sebagainya.

d. Vitamin

Vitamin dibutuhkan oleh untuk melakukan fungsi metabolik,

mempertahankan fungsi berbagai jaringan, membantu pembuatan zat

tertentu dalam tubuh. Berbagai vitamin yang dibutuhkan yang

dibutuhkan yaitu vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, vitamin E,

vitamin K. Sumber vitamin dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan

yang berasal dari ikan, hati, mentega dan lain-lain sebagai sumber

vitamin A. Sumber vitamin B diperoleh dari makanan yang berasal dari

daging, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan telur. Vitamin C dpat

diperoleh dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari buah-

buahan, orbai, kangkung dan sebagainya. Vitamin D diperoleh dari jenis

makanan yang barasal dari minyak ikan, susu, hati dan sebagainya.

Vitamin E dapat diperoleh dari minyak lembaga gandum, lembaga paci,

kacang-kacang, susu, telur, daging dan ikan. Vitamin K diperoleh dari

jenis makanan yang berasal dari bayam, kubis dan hati (Almatsier, 2012).

36
e. Mineral

Mineral merupakan bahan organik yang bersifat esensial. Mineral

bagi tubuh berfungsi untuk memelihara keseimbangan asam tubuh,

mengkoordinasi reaksi yang berkaitan dengan pemecahan karbohidrat,

protein dan lemak, sebagai hormon, memantau keseimbangan air dalam

tubuh, sebagai cairan usus dn pemeliharaan tulang. Sumber mineral

diperoleh dari mengkonsumsi berbagai jenis makanan sayur-sayuran dan

buah-buahan.

f. Air

Air bagi tubuh berfungsi sebagai bahan pembangun disetiap sel

tubuh. Cairan tubuh memiliki fungsi yang sangat vital yaitu mengontrol

suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi metabolisme,

sebagai pelarut, pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu tubuh dan

sumber meneral.

5. Penilaian Status Gizi

Metode Penilaian Status Gizi antara lain:

a. Penilaiam status gizi secara langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat

penilaian yaitu:

1. Antropometri

Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam

pengukuran dimensi tubuh dari berbagai tingakat umur dan tingkat

37
gizi. Antropometri secar umum digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi.

2. Klinis

Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi

dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat

pada jaringn epitel seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau

organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjer

tiroid. Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara

cepat.

3. Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia dalah pemeriksaan

spesimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai

macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:

darah, urine, tinja. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan

bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah

lagi.

4. Biofisik

Metode ini dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya

jaringan) dan melihat perubahan struktural jaringan. Umumnya dapat

digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadia buta senja epidemik

(Marimbi, 2010).

b. Penilaian status gizi secara tidak langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu:

38
1. Survei konsumsi makanan

Metode ini melihat jumlah dan jenis zat gizi yang

dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat

memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada

masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat

mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.

2. Statistik vital

Metode ini menganalisa data beberapa statistik kesehatan

seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan

kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang

berhubungan dengan gizi. Penggunan metode ini dipertimbangkan

sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi

masyarakat.

3. Faktor ekologi

Malnutrisi nerupakan biologis dan lingkungan budaya.

Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan

ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor

ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab

malnutrisi disuatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan

program intervensi program intervensi gizi (Marimbi, 2010).

6. Antropometri Gizi

Secara umum antropometri gizi digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ditinjau dari sudut pndang gizi

39
berhubungan engan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan

komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan berbagai tingkat gizi.

a. Pengertian

Antropometri bersal dari dari anthopos dan metros. Anthopos

artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran

dari dari tubuh.), antropometri gizi adalah berhubungan dengzn berbagai

macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai

tingkat umur dan tingkat gizi.

b. Jenis parameter

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan

dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal

dari tubuh manusia antara lain umur, berat badan, tinggi badan, lingkar

kepala, lingkar dada, lingkar panggul dan tebal lemak dibawah kulit.

1. Umur

Faktor umum sangat penting dalam penentuan status gizi.

Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretas status gizi

menjadi salah. batasan umur digunakan adala dalam penentuan status

gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretas

status gizi menjadi salah. batasan umur digunakan adalah tahun

penuh (completed month). Contoh umur 7 tahun 2 bulan dihitung 7

tahun.

Untuk kendala di lapangan dalam melengkapi data usia

dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

40
a. Meminta surat kelahiran, kartu keluarga, atau catatan lain yang

dibuat oleh orang tuanya. Apabila tidak ada, jika kemungkinan

cobalah minta catatan kelahiran pada pamong desa.

b. Jika diketahui kalender lokal seperti bulan Arab atau bulan lokal

(Jawa, Sunda, dll), cocokan dengan kalender nasional.

c. Jika tetap tidak diketahui, catatan kelahiran anak berdasarkan

daya ingat orang tua atau berdasarkan kejadian-kejadian

penting, seperti lebaran, tahun baru, puasa, pemilihan kepala

desa atau peristiwa nasional, seperti pemilu, banjir, gunung

meletus, dll. Sebelum pengumpulan dta, buatlah daftar tentang

tanggal, bulan dan tahun kejadian dari kejadian dari peristiwa-

peristiwa penting di daerah dimana kita ingin mngumpulkan

data.

d. Cara lain jiak memungkinkan dapat dilakukan dengan

membandingkan anak yang diketahui usianya dengan anak

kerabat/tetangga yang diketahui pasti tanggal lahirnya,

misalnya: beberapa bulan lebih tua atau lebih muda.

e. Jika tanggal lahirnya tidak diketahui dengan tepat, sedangkan

bulan dan tahunnya diketahui, maka tanggal lahir anak tersebut

ditentukan tanggal 15 bulan yang bersangkutan

2. Berat badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang

terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir

41
(neonatus). Berat badan menggambarkan jumlah dari protein,

lemak, air, dan mineral pada tulang. Pada remaja lemak ubuh

cenderung meningkat dan protein otot menurun. Pada orang yang

edema dan acites terjadi penambahan cairan dalam tubuh.

3. Tinggi badan

Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi

keadaan sekarang jika umur tidak diketahui dengan tepat.

Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah dapat berdiri

dilakukan dengan otot pengukuran tinggi mikrotoa (mikrotoise) yang

mempunyai ketelitian.

4. Lingkaran lengan atas

Lingkaran lengan atas (LILA) dewasa ini merupakan salah

satu pilihan, untuk penentuan suatu gizi karena mudah dilakukan dan

tidak memerlukan otot-otot yang sulit diperoleh dengan harga yang

lebih murah. Alat yang digunakan merupakan suatu pita pengukur

terbuat dari fiberglass atau H berlapis plastik.

5. Lingkar kepala

Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu

kedokteran anak secara praktis yang biasanya untuk memeriksa

keadaan patologi dari besarnya kepala atas peningkatan ukuran

kepala.

6. Lingkar dada

42
Biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3

tahun karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6

bulan. Cara ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan

KEP pada anak balita.

7. Jaringan lemak

Otot, hati, jantung dan organ dalam lainnya merupakan

bagian yang cukup besar dari berat badan, tetapi relatif tidak berubah

beratnya pada anak malnutrisi. Antropometri jaringan dapat

dilakukan pada kedua jaringan tersebut dalam pengukuran status gizi

di masyarakat.

c. Indeks antropometri

Parameter antroponetri merupakan dasar dari penilaian status gizi.

Kombinasi anatara beberapa parameter disebut indeks antropometri

menurut (Kemenkes, 2020):

1. Berat badan menurut umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan

gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap

perubahan-perubahan yang mendadk, misalnya karena terserang

penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah

makanan yng dikonsumsi. Mengingat karakteristik berat badan yang

labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang

saat ini (current nutritional status). Kelebihan indeks BB/U adalah:

43
a. Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum.

b. Baik untuk mngukur status gizi akut atau kronis.

c. Berat badan dapat berfluktuasi.

d. Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil.

e. Dapat mendeteksi kegemukan.

Kelemahan indeks BB/U adalah:

a. Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila

terdapat edema maupun acites.

b. Di daerah pedesaan yang tradisional, umur sering sulit ditaksir

secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik.

c. Diperlukan data umur yng akurat terutama untuk balita,

d. Sering terjadin kesalahan dalam pengukuran seperti pengaruh

pakaian atau gerakan pada saat penimbangan.

2. Tinggi badan menurut umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan

keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tidak

seperti berat badan, relatif kurang sensitf terhadap masalah kekurangan

gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap

tinggi badan akan tmpak dalam relatif lama. Berdasarkan karakteristik

tersebut maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu.

3. Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)

Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan.

Dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan searah dengan

44
tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indeks

yang independen terhadap umur.

4. Lingkaran lengan atas menurut umur (LLA/U)

Lingkaran lengan atas memberikan gambaran tentang jaringan

otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas merupakan

parameter antropometri yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh

tenaga yang bukan profesinal. Perkembangan lingkar lengan atas pada

umur 2-5 tahun sangat kecil yaitu kurang lebih 1,5 cm pertahun dan

kurang sensitif untuk usia selanjutnya.

7. Klasifikasi Status Gizi

Status gizi dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu:

a. Gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas.

b. Gizi baik untuk well nourished.

c. Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderate,

PCM (Protein Calori Malnutrition).

d. Gizi buruk untuk servere PCM (Protein Calori Malnutrition), termasuk

marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor.

Untuk menentukan klasifikasi status gizi diperlukan ada batasan-

batasan yang disebut dengan ambang batas. Batasan disetiap negara

relatif berbeda. Hal ini tergantung dari kesepakatan para ahli gizi di

negara tersebut. Berdasarkan hasil penelitian empiris dan keadaan klinis.

Salah satu saran yang dijalankan pada semiloka Antropometri

adalah penggunaaan secara seraga di Indonesia buku rujukan WHO-

45
NCHS menurut WHO. Data berat dan fungsi badan yang dikumpulkan

oleh USA-National Center For Health Statistic (NCHS) merupakan

pilihan yang paling baik digunakan sebagai buku rujukan (Supariasa,

2010).

Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan.

Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan

pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Pertimbangan

dalam menetapkan batas ambang (cutt-off point) status gizi didasarkan

pada asumsi resiko kesehatan:

a. Antara -2 SD sampai +2 SD tidak memiliki atau beresiko paling

ringan untuk menderita masalah kesehatan.

b. Antara -2 SD samapai -3 SD atau antara +2 SD samapai +3 SD

memiliki resiko cukup tinggi (moderate) untuk menderita masalah

kesehatan.

c. Di bawah -3 SD atau di atas 3 SD memiliki resiko tinggi untuk

menderita masalah kesehatan.

IMT adalah perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan

kuadrat. Cara pengukurannya adalah pertama-tama ukur berat badan dan

tinggi badannya. Selanjutnya dihitung IMT-nya, yaitu :

Berat badan (kg)


        IMT = ----------------------------------------------
Tinggi badan 2 (meter)

Dimana : berat badan dalam satuan kg, sedangkan tinggi badan

dalam satuan meter.Untuk menentukan status gizi anak balita (usia 0-60

46
bulan), nilai IMT-nya harus dibandingkan dengan nilai IMT standar WHO

2005; sedangkan pada anak dan remaja usia 5-19 tahun nilai IMT-nya

harus dibandingkan dengan referensi WHO/NCHS 2007 (Kemenkes,

2020). Pada saat ini, yang paling sering dilakukan untuk menyatakan

indeks tersebut adalah dengan Z-skor atau persentil.

- Z-skor : deviasi nilai seseorang dari nilai median populasi referensi

dibagi dengan simpangan baku populasi referensi.

- Persentil : tingkatan posisi seseorang pada distribusi referensi

(WHO/NCHS), yang dijelaskan dengan nilai seseorang sama atau

lebih besar daripada nilai persentase kelompok populasi.

Z-skor paling sering digunakan. Secara teoritis, Z-skor dapat

dihitung dengan cara berikut :

Nilai IMT yang diukur – Median Nilai IMT (referensi)


Z-Skor = -------------------------------------------------------------
Standar Deviasi dari standar/referensi

Tabel 2.1
Kategori dan ambang batas status gizi anak berdasarkanindeks

Indeks Kategori Ambang batas


status gizi (Z-Score)
Berat badan menurut Berat badan <-3 SD
umur sangat
(BB/U) kurang
Anak Umur 0 – 60 Bulan Berat badan - 3 SD sampai dengan <-2 SD
kurang
Berat badan -2 sampai dengan +1 SD
normal
Indeks Masa Tubuh Gizi Buruk <-3 SD
menurut Umur (IMT/U) Gizi Kurang -3 SD sampai dengan <-2 SD
anak usia 5 tahun Gizi Baik -2 SD sampai dengan +1 SD
Beresiko >2 SD sampai dengan +2 SD
gizi lebih

47
Gizi Lebih >-1 SD sampai dengan +2 SD
Obesitas >-3 SD
Sumber : Kemenkes RI 2020

C. Pola Makan

1. Pengertian

Pola makan yang baik mengandung makanan sumber energi,sumber

zat pembangun dan sumber zat pengatur, karena semua zat gizi diperlukan

untuk pertumbuhan dan pemiliharaan tubuh serta perkembangan otak dan

produktivitas kerja, serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan

kebutuhan. Dengan pola makan sehari-hari yang seimbang dan aman, berguna

untuk mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan optimal

(Almatsier, 2010).

2. Pola Makan Balita

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang paling baik bagi bayi dan

balita hingga berumur dua tahun, dan dianjurkan memberian secara

ekslusif selama enam bulan pertama. Secara berangsur sesudah berusia

enm bulan bayi diberikan makanan luna, makanan lembek dan makanan

biasa guna untuk mengembangkan kemampuan menguyah, menelan serta

menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa,

sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi dibutuhkan.

Pemberian makanan hendaknya disesuaikan dengan perkembangan balita,

makanan hendaknya dipilih dengan baik yaitu mudah dicerna, diabsorbsi

dan dimetabolisme. Makanan akan mempengaruhi pertumbuhan serta

perkembangan fisik dan mental balita, oleh karena itu makanan yang

48
diberikan harus memenuhi kebutuhan gizi balita. Balita dalam proses

pertumbuhan dan perkembangannya ditentukan oleh makanan yang

dimakan sehari-hari, untuk tumbuh optimal membutuhan asupan makanan

yang baik yaitu beragam, jumlah yang cukup, bergizi dan seimbang

(Depkes RI, 2010).

Tabel 2.2
Pola pemberian makanan menurut kecukupan energi
Waktu pembagian makanan ssehari balita menurut
Total
Umur kecukupan energi
Energi
Balita Pagi Selingan siang Selingan sore
(kkal)
pagi siang
0-6 bulan 550 - - - - -
6-8 bulan 650 84 - 97 - 28
9-11 900 122 36 123 25 143
bulan
12 bulan 1100 144 50 218 126 253
1-3 tahun 1300 221 140 261 87 235
4-5 tahun 1550 318,75 125 06,25 325 375
Sumber : Soekirman, 2010

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk pengaturan makan yang

tepat adalah umur, berat badan, keadaan mulut sebagai alat penerima

makanan, kebiasaan makan, kesukaan dan ketidaksukaan, aseptabilitas

dari makanan dan toleransi anak terhadap makanan yang diberikan.

Dengan memperhatikan dan memperhitungkan faktor-faktor tersebut

diatas umumnya tida akan terjadi kekeliruan dalam mengatur makanan

untuk balita. Pada umumnya kepada anak balita telah dapat diberikan

jadwal waktu makan yang berupa tiga kali makan dan diantaranya dua kali

makanan selingan.

Pada makanan sehari yang dianjurkan untuk balita adalah makanan

seimbang yang terdiri atas:

49
a. Sumber zat tenaga : misalnya nasi, roti, mie, bihun, jagung, ubi,

singkong, tepung-tepungan, gula dan minyak.

b. Sumber zat pembangun : misalnya ikan, telur, ayam, daging, susu.

Kacang-kacangan, tahu dan tempe.

3. Kebutuhan Zat Gizi Pada Balita

Kebutuhan gizi pada balita diberikan harus disesuaikan dengan

umur, jenis kelamin, berat badan, akivitas, jumlah yang cukup, bergizi dan

seimbang. Guna untuk pemeliharaan, pemulihan, pertumbuhan dan

perkembangan yang pesat. Kebutuhan energi protein balita berdasarkan

Angka Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata perhari yang dianjurkan oleh

Widyakarya Pangan dan Gizi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

50
Tabel 2.3
Kebutuhan Konsumsi Energi Dan Protein Balita Berdasarkan Angka
Kecukupan Gizi Anjuran (AKG) Rata-Rata Per Hari

Tinggi
Berat Energi Protein
No Kelompok Umur Badan
badan (Kg) (kkal) (kkal)
(cm)
1 0-6 bulan 6,0 60 550 10
2 7-11 bulan 8,5 71 650 16
3 1-3 tahun 12,0 90 1000 25
4 4-5 tahun 18,0 110 1550 39
Sumber : Widyakaya Pangan Dan Gizi, 2010

4. Mengatur Makanan Anak Usia 1-5 Tahun

Dalam memenuhi kebutuhan zat gizi anak usia 1-5 tahun hendaknya

digunakan kebutuhan prinsp sebagai berikut:

a. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari makanan

pokok, minyak dan zat lemak serta gula.

b. Berikan sumber protein nabati dan hewani.

c. Jangan memanksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan

makanan lain yang dapat diterima.

d. Berikan makanan selingan (makanan ringan) misalnya biskuit dan

semacamnya diberikan antara waktu makan pagi, siang, dan malam

(Marimbi, 2010).

Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisk dan

kecerdasan anak. Oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu

51
diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan

variasi makanan (Marimbi, 2010).

Gizi seimbang dapat dipenuhi dengan pemberian makanan kepada

balita sebagai berikut:

a. Sumber zat tenaga

3-4 piring( 1 gelas nasi/penggantinya seperti mie, bihun, dll.

b. Sumber zat pembangun

4-5 porsi lauk @ 50 gr, seperti : telur, daging, ikan, tahu, tempe.

c. Sumber zat pengatur

2-3 porsi sayuran dan buah-buahan yang berwarna: 1 porsi sayuran

= 1 mangkok sayuran terdiri dari berbagai sayuran berwarna, 1 porsi buah

± 100 gr. (Almatsier, 2009). Kebutuhn bahan makanan itu perlu diatur,

sehingga anak mendapatkan asupan gizi yang diperlukannya secara utuh

dalam satu hari.

Waktu-waktu yang disarankan adalah

a. Pagi hari waktu sarapan.

b. Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.

c. Pukul 12.00 pada waktu makan siang.

d. Pukul 16.00 sebagai selingan.

e. Pukul 18.00 pada waktu makan malam.

f. Sebelum tidur malam, tambahkan susu.

g. Jangan lupa kumur-kumur dengan air puth atau gosok gigi.

(Marimbi, 2010)

52
Pada usia balita anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan

tajam, sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia

selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang

teratur dn variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin

makan yang baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola

gizi seimbang, yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan

kebutuhan tubuh dan diperoleh melalui makanan sehari-hari. Dengan

makan makanan yang bergizi seimbang secara teratur, diharapkan

pertumbuhan anak.

D. Pengetahuan

1. Pengertian

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang

melakukan penginderan terhadap suatu objek tertentu. Objek dalam

pengetahuan adalah benda atau hal yang diselidiki oleh pengetahuan itu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera raba, rasa,

penglihatan, pendengaran dan penciuman. Karena itu pengetahuan

dimungkinakan didapat dari berbagai sumber dan pengalaman (Notoadmodjo,

2010).

2. Tingkatan Pengetahuan

Dalam domain kognitif ada 6 (enam) tingkatan pengetahuan yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelum termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

53
mengingat kembali (recall) terhadap spesifik dari seluruh badan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu tahu

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwaborang itu tahu tentang apa yang dipelajari antara lain

menyebutkan, mengarahkan, mendefenisikan, dan menyatakan.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan akan berjalan optimal (Marimbi, 2010).materi

tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Application)

Aplikais diartikan sebagai kemampuan untuk mengeluarkan

materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riel (sebenarnya).

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu

struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan ata kerja, seperti

dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

dan mengelompokkan.

e. Sintesis (Syntesis)

54
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru, dengan kat lain sintesisi adalah suatu kemampuan formulasi baru

dari formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditemukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

Menurut Notoatmodjo (2010), dalam buku Ilmu Kesehatan

Masyarakat mengemukakan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku

baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang

berurutan yaitu:

a. Kesadaran (Awareness), dimana oarang tersebut menyadari dalam

arti mengetahui dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap

stimulus.

b. Merasa tertarik (Interest) terhadap stimulus atau objek tersebut.

Disini sikap subjek sudah mulai timbul.

c. Menimbang-menimbang (Evalution) terhadap baik atau tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah

lebih baik lagi.

d. Mencoba (Trial), dimana subjek ini mulai mencoba melakukan

sesuatu sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh stimulus.

55
Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

3. Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Faktor Internal

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu

yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan

untu mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan

untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang

kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB

Mantra yang dikutip Notoatmodjo, (2010), pendidikan dapat

mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan

pola hidup terutama dalam memotivasi untukm sikap berperean serta

dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan

seseorang makin mudah menerima informasi.

2) Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2010),

pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan

bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara

56
mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan.

Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita

waktu.

3) Umur

Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2010), usia

adalah umur individu yang terhitung mulai saat melahirkan sampai

berulang tahun. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang

lebih dewasa dipercayai dari orang yang belum tinggi

kedewasaannya.

4) Pengalaman

Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut

dapat diartikan bahwa pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh

kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun

dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal

ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengamalan yang

diperoleh dalam memcahkan permasalahan yang dihadapi pada masa

lalu. (Notoatmodjo, 2010).

b. Faktor Eksternal

1) Lingkungan

Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam (2010),

lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia

57
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan

perilaku orang atau kelompok.

2) Sosial Budaya

Sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi sikap dan menerima informasi. Sosial budaya

mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang.

4. Cara Memperoleh Pengetahuan

Notoatmodjo (2010), menyatakan cara memperoleh kebenaran

pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:

a. Cara Tradisional

Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain :

1) Cara coba-coba

Ini dilakukan dengan menggunakn kemungkinan tersebut

tidak berhasil dicoba kemngkinan yang lama.

2) Cara kekuasaan (Otoritas)

Dimana pengetahuan diperoleh berdasarkan pada kekuasaan,

baik otoritas tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin, maupun

otoritas ahli ilmu pengetahuan.

3) Berdasarkan pengalaman

Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali

pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang

dihadapi pada masa lalu.

4) Melalui jalan pikiran

58
Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam

memperoleh pengetahuan.

5. Pengukuran pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau

diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Arikunto 2010).

Penilaian pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan yang akan

diberikan peneliti kepada responden. Menurut Arikunto (2010), kategori

pengetahuan dapat ditentukan dengan kriteria :

a. Pengetahuan baik : jika jawaban benar 76 – 100 %

b. Pengetahuan cukup : jika jawaban benar 56 – 75 %

c. Pengetahuan kurang : jika jawaban benar ≤ 55

6. Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada deasa ini

lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut dengan metode penilaian

ilmiah atau lebih populer Metodelogi Penetian. (Notoatmodjo, 2010).

E. Media Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian Media

Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan

sebagai alat bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar,

59
diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan

penyebarluasan informasi.

2. Fungsi Media

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah :

a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang

dimiliki oleh para audience.

b. Media pembelajaran dapat melampui batasan ruang promosi.

c. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara

audience dengan ligkungannya.

d. Media menghasilkan keseragaman pengamatan

e. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret, dan realistis

f. Media membangkitkan keinginan dan minat baru

g. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

h. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang

konkretsampai dengan abstrak ( Sakinatun, 2013).

3. Manfaat Media Pendidikan Kesehatan

Manfaat media Pendidikan Kesehatan yaitu:

1. Media Pembelajaran menungkinkan adanya interaksi langsung antara

sasaran Pendidikan dengan Lingkungan

2. Media menghasilkan keseragaman lingkungan

3. Media Membangkitkan keinginan minat BaruMedia Membangkitkan

Motivasi dan Merangsang anak Untuk belajar

4. Macam Macam media Pendidikan Kesehatan

60
Media atau alat peraga akan sangat membantu didalam promosi

kesehatan agar pesan pesan kesehatan dapat disampaikan lebih jelas dan

masyarakat atau sasaran dapat menerima pesan tersebut dengan jelas dan

tepat pula.

a. Media flip chart

1) Pengertian flip chart(bagan balikan)

flip chart(bagan balikan) merupakan lembaran-lembaran

kertas yang menyerupai album atau kalender berukuran 50 x 75 cm,

atau ukuran yang lebih kecil 28 x 21 cm sebagai flip book yang

disusun dalam urutan yang diikat pada bagian atasnya.flip

chart(bagan balikan) merupakan media visual yang salah satu

fungsinya memberikan informasi secara simbolis (Arifiandi, 2013).

Menurut Arifiandi (2013) penggunaan flip chart (bagan

balikan) ini adalah salah satu cara guru dalam menghemat waktunya

untuk menulis di papan tulis dan juga sangat efektif untuk

mempermudah guru dalam mengajar, sehingga materi yang

disampaikan dapat di serap dengan baik oleh semua siswa. Penyajian

informasi flip chart(bagan balikan) dapat berupa gambar, huruf,

diagram dan angka. Jauh sebelum teknologi OHP, slide film, dan

LCD memasuki ruang belajar, flip chart (bagan balikan) sudah

digunakan untuk media presentasi guru. Sampai saat ini, flip chart

(bagan balikan) juga masih digunakan karena kepraktisannya. Ketika

61
pembelajaran di alam terbuka yang jauh dari aliran listrik, flip

chart(bagan balikan) sangat tepat untuk membantu presentasi guru.

Bendel flip chart(bagan balikan) mudah dibawa ke mana saja

bergantung tempat presentasi.

flip chartsecara umum terbagi dalam dua sajian:

a) flip chart(bagan balikan) yang hanya berisi lembaran-lembaran

kertas kosong yang siap diisi pesan pembelajaran.

b) flip chart(bagan balikan) yang berisi pesan-pesan pembelajaran

yang telah disiapkan sebelumnya yang isinya bisa berupa gambar,

teks, grafik, bagan dan lain-lain.

2) Ciri-Ciri flip chart

flip chart(bagan balikan) memiliki berbagai macam ciri,

diantaranya:

a) Bahan flip chart (bagan balikan) biasanya kertas berukuran

plano;

b) Kertas yang digunakan mudah di bolak-balik;

c) Kertas yang digunakan mudah untuk ditulis;

d) Berwarna cerah;

e) Menggunakan bahan yang mudah digunakan;

f) Bersifat menarik.

3) Kelebihan dan Kekurangan Flip Chart

Menurut Arsyad (2004) Dalam penggunaan media flip chart

(bagan balikan) memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

62
a) Mampu menyajikan pesan pembelajaran atau informasi secara

ringkas praktis dan bertahap.

b) Apabila informasi yang akan disajikan tersebut sulit ditunjukkan

dalam selembar chat (bagan), maka bagan balikan (flip chart)

dapat dipakai

c) Penyajian dengan flip chart (bagan balikan) sangat

menguntungkan untuk informasi visual seperti kerangka pikiran,

diagram, bagan/chart, atau grafik karena dengan mudah karton-

karton lebar yang disusun sebelum penyajian dibuka dan dibalik

dan jika perlu dapat ditunjukkan kembali kemudian.

d) Bahan pembuatan relatif lebih murah.

e) Pada umumnya berukuran sedang lebih kecil dari ukuran white

board maka pesan pembelajaran yang di sajikan harus ringkas

hanya mencakup pokok-pokok materi pembelajaran.

f) Dapat digunakan di dalam ruangan atau luar ruangan.

g) Penggunaan media flip chart (bagan balikan) adalah cara yang

paling mudah untuk pengajaran.

h) Dalam penggunaannya dapat dibalik jika pesan pada lembaran

depan sudah ditampilkan dan digantikan dengan lembaran

berikutnya.

i) Merupakan suatu cara lain agar siswa telah tidak bosan sehingga

siswa lebih berimajinasi dalam mengembangkan ide-idenya

dalam belajar atau dapat meningkatkan aktivitas siswa.

63
j) Menghemat waktu guru untuk tidak menulis di papan tulis.

Dalam penggunaan media flip chart (bagan balikan) memiliki

beberapa kekurangan, yaitu:

a) Membutuhkan waktu untuk mempersiapkan media dalam

melaksanakan pembelajaran, seperti: dalam pembuatan alat

penyangganya, mencari objek gambar yang relevan.

b) flip chart(bagan balikan) hanya cocok untuk pembelajaran kelompok

kecil yaitu 30 orang.

c) Penggunaan flip chart(bagan balikan) hannya digunakan sesuai

dengan jarak maksimum siswa dalam melihat.

Berdasarkan tujuan yang telah kita tentukan maka dipilih bentuk flip

chart(bagan balikan) yang sesuai. Membuat flip chart (bagan balikan)

yang sudah berisi pesan pembelajaran diperlukan tahap-tahap seperti:

a) Membuat alat penyangga dari kayu;

b) Kemudian mengumpulkan gambar-gambar yang relevan dengan

tujuan menuliskan pesan pada kertas atau kalau perlu objek gambar

yang sudah ada misalnya dari koran atau majalah dapat ditempelkan;

c) Diatur komposisinya, jika gambar langsung dibuat pada kertas

tersebut perlu dibuat sketsa terlebih dulu, membuat outline dan

mewarnai;

d) Materi yang disajikan pada media flip chart(bagan balikan) tidak

dalam bentuk uraian panjang, dengan menggunakan kalimat

64
majemuk seperti halnya pada buku teks namun materi disarikan,

diambil pokok-pokoknya.

Menurut Jurnal ekonomi dan pendidikan (2011), Adapun cara-cara

menggunakan flip chart(bagan balikan):

a) Mempersiapkan diri. Dosen/Guru perlu menguasai bahan

pembelajaran dengan baik, dan memiliki keterampilan untuk

menggunakan media tersebut.

b) Penempatan yang tepat. Perhatikan posisi flip chart, sehingga dapat

dilihat dengan baik oleh semua siswa yang ada di ruangan kelas

tersebut.

c) Pengaturan ibu. Misalnya ibu dibentuk menjadi setengah lingkaran,

atau leter U, pastikan semua ibu memperoleh pandangan yang baik.

d) Perkenalkan pokok materi. Materi yang disajikan terlebih dahulu

diperkenalkan kepada siswa pada saat awal membuka pelajaran.

e) Sajikan gambar. Setelah masuk pada materi, mulailah

memperlihatkan lembaran-lembaran gambar flip chart (bagan

balikan) dan berikan keterangan yang cukup.

Beri kesempatan ibu untuk bertanya. Berikan stimulus agar ibu mau

bertanya, meminta klarifikasi apakah materi yang telah disampaikannya jelas

dipahami atau masih kurang jelas. Beri kesempatan ibu memberikan

komentar terhadap isi flip chart yang telah dijelaskan.

b. Media Audio Visual

65
Penggunaan media sebagai sumber belajar pada saat proses

pembelajaran masih kurang, salah satu sumber belajar yang dapat

digunakan oleh guru yaitu media audio visual yang diproyeksikan dengan

infokus / LCD Projector. Media audio visual yang diproyeksikan dengan

infokus/LCD Projector dapat mengaktifkan siswa, memudahkan

penyampaian materi dalam proses pembelajaran dan menambah minat

belajar siswa. Proses pembelajaran dikelas akan lebih efektif jika

menggunakan media pembelajaran, karena media pembelajaran dengan

berbasis teknologi memberikan dampak yang sangat positif bagi

kemampuan dan kemauan siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran

(Hayati, 2017)

Menurut Febliza (2015) menyatakan bahwa media audio visual

adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang

mengandung unsur suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan

materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dengan

adanya media audio visual yang diproyeksikan dengan infokus / LCD

Projector, guru langsung bisa memberikan bukti konkrit atas apa yang

sedang diajarkan dengan harapan, siswa atau pun ibu.

Media audio visual yang menampilkan realitas materi dapat

memberikan pengalaman nyata pada siswa saat mempelajarinya sehingga

mendorong adanya aktivitas diri. Fungsi Media Pembelajaran Menurut

Oemar Hamalik “pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar

mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,

66
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan

membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.” Pesan

pembelajaran yang disampaikan guru tanpa menggunakan media akan

terasa hambar dan tidak akan membekas jika tidak menggunakan media.

Begitupun semangat siswa untuk belajar sangat rendah bahkan bisa

dikatakan tidak ada. Ketika pembelajaran sudah mencapai titik jenuh dan

tidak ada semangat siswa untuk melanjutkan kegiatan belajar, maka

kehadiran sebuah media akan terasa sangat membantu dan sangat

diperlukan (Musfiqon, 2012).

F. Kerangka Teori

Kerangka teori ini merupakan kerangka untuk menjawab penilitian.

Kerangka teori adalah kesimpulan dari tinjauan pustaka yang berisi tentang

konsep-konsep teori yangberhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan

(Notoatmodjo, 2010).Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka kerangka teori

yang mendasari penelitan ini adalah sebagai berikut :

67
Skema 2.1

Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan dengan pemberian


makanan pada status gizi
1. Faktor internal
a. Ras/etnik
b. Keluarga
c. Umur
Cara memperoleh d. Jenis kelamin
Tingkatan Pengetahuan e. Genetik
a. (Comprehension)Tahu pengetahuan
1. Cara coba-coba f. Kelainan
(Know) kromosom
b. Memahami 2. Cara Kekuatan
3. Berdasarkan Pengalaman 2. Faktor eksternal
(Comprehension) a. Pengetahuan Pola
c. Aplikasi (Application) 4. Melalui jalan pikiran
Pengukuran pengetahuan pemberian
d. Analisis (Analysis) pengetahuan
e. Sintetis (Syntetis) 1. Pengetahuan baik
2. Pengetahuan cukup b. Sikap
f. Evaluasi (Evaluation) c. perilaku
3. Pengetahuan kurang

Informasi yang diperoleh oleh ibu

Pendidikan kesehatan (PENKES)

Media Pendididkan kesehatan

Flip Chart Media Audio visual

Pengetahuan tentang
Status Gizi
Pola Pemberian makanan
pada balita

Sumber : Marimbi, 2010, Arikunto,2010,Notoatmodjo, 2010

68
BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

A. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan

bagaimana seorang peneliti menyusun teoria tau menghubungkan secara logis

beberapa factor yang dianggap penting untuk masalah, dan dalam penelitian ini

kerangka konsep yang akan mengarahkan peneliti dalam melakukan penelitian

(Hidayat,2010). Menurut Sugiyono (2011). Variabel bebas (independent)

adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya

atau timbulnya variable terikat (dependent). Variabel terikat (dependent)

merupakan variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya

variable bebas (independent). Dalam penelitian ini penulis mengelompokan

menjadi dua variable yaitu:

1. Variabel independent

Variabel dari independent adalah sebagai berikut :

a. Media Flip chart

b. Media Audio Visual

2. Variabel Dependent

Variabel Dependent adalah sebagaiberikut :

a. Tingkat pengetahuan sebelum diberi media flip chat dan media audio

visual

b. Tingkat pengetahuan sesudah diberi pengetahuan media flip chat dan

media audio visual

69
Variabel Independen Variabel Dependen
Media Flip Chart Tingkat Pengetahuan
Sebelum dan Sesudah
dan Media Audio intervensi

Visual Skema 3.1 Kerangka Konsep

B. Defenisi Operasional

Defenisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti

untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu

objek atau fenomena (Hidayat, 2010).

70
Tabel 3.1
Defenisi operasional

N Variabel Defenisi Operasional Alat Cara Ukur Hasil Skala


o Ukur Ukur Ukur
1 Variabel flip chart (bagan Flip Pemberian - -
Independen balikan) Chart materi
(MediaFlip merupakan Dan tentang
Chart dan lembaran- Media Pola
Media lembaran kertas Audio pemberian
audio yang menyerupai Visual makanan
Visual) album atau dan status
kalender gizi
berukuran 50 x
75 cm, atau
ukuran yang lebih
kecil 28 x 21 cm
sebagai flip book
yang disusun
dalam urutan
yang diikat pada
bagian atasnya.
(Arifiandi, 2013).
- media audio
visual adalah
sebuah cara
pembelajaran
dengan
menggunakan
media yang
mengandung
unsur suara dan
gambar, dimana
dalam proses
penyerapan materi
melibatkan indra
penglihatan dan
indra pendengaran
(Febliza, 2015)
Variabel Tingkat Kuesio angket a. Pengetah Rasi
Dependen pengetahuan Ibu ner uan baik : o
tentang Segala jika jawaban
(Tingkat ssuatu yang benar 76 –
pengetahuan diketahui oleh ibu 100 %
sebelum dan tentang pola b. Pengetah
sesuah diberi pemberian uan cukup :
media flip makanan sebelum jika jawaban
chart dan dan sesudah diberi benar 56 – 75

71
media audio media flip chat %
visual) dan media audio c. Pengetah
visual uan kurang :
(Notoatmodjo, jika jawaban
2010) benar ≤ 55
(Arikunto,
2010)

C. Hipotesis

Hipotesis Merupakan suatu simpulan sementara atau jawaban

sementara dari suatu penelitian. Hipotesis dari penelitian ini adalah:

Ha : ada perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan

media Flip Chart dan media Audio Visual

Ho : Tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah

diberikan media Flip Chart dan media Audio Visual

72
73
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain Penelitian yang akan dilakukan adalah quesi experimental

menggunakan desain penelitian non equivalent control grup desiqn. Dilakukan

pre test, perlakuan,dan post test, pada dua kelompok subjek yang sama tetapi

dengan perlakuan yang berbeda (Notoadmojo, 2012).

Pretest Intervensi Posttest


01 X1 02
01 X2 02
Keretangan:

01 : Pretest

X1 : Perlakuan atau intervensi dengan media flip chart

X2 : Perlakuan atau intervensi dengan media audio visual

02 : Posttest

(Notoatmodjo, 2011)

Dengan rancangan tersebut kuesioner yang sama diteskan (diujikan)

kepada responden yang sama sebanyak dua kali. Sedangkan waktu antara tes

yang pertama (pretest) dengan yang kedua (posttest), tidak terlalu jauh, tetapi

juga tidak terlalu dekat saat diberikan pengetahuan tentang perilaku hidup

bersih dan sehat untuk memenuhi syarat (Notoatmodjo, 2011). Apabila selang

waktu terlalu pendek, kemungkinan responden masih ingat pertanyaan-

pertanyaan pada tes yang pertama.

74
B. Populas dan Sampel

b) Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti.

Populasi dapat berupa orang, benda, gejala atau wilayah yang ingin

diketahui oleh peneliti (Kartika, 2017). Populasi yang diteliti adalah ibu

balita yang berada diPuskesmas Muara Bulian kabupaten Batanghari

berlokasi diMuara bulian, kabupaten batanghari-Jambi dengan jumlah 38

orang ibu balita.

c) Sampel

Sampel sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap

mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Pengambilan sampel

dalam penelitian ini dengan mengambil seluruh populasi dijadikan sampel

sebanyak 19 untuk kelompok kontrol dan 19 responden untuk kelompok

eksperimen/intervensi. Cara pengambilan sampel dalam penelitian yaitu

total sampling, dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Alasan

mengambil total sampling karena menurut (sugiyono, 2007). Jumlah

populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian

semuanya. Sampel yang diambil peneliti yaitu sebanyak 20 orang.

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut:

Kriteria inklusi subyek penelitian ini adalah:

1. Ibu yang mempunyai balita

2. Ibu yang bersedia menjadi responden

Kriteria Eksklusi subyek penelitian ini:

1. Ibu yang tidak hadir pada saat penelitian

75
2. Ibu yang bersangkutan sedang sakit

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian yang akan dilakukan diPuskesmas Muara Bulian

kabupaten Batanghari-Jambi, Waktu yang akan dilaksanakan pada Bulan

Oktober Tahun 2020.

D. Etika Penelitian:

1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity).

Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subyek untuk

mendapatkan informasi yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian

serta berpartisipasi dalam kegiatan penelitian (autonomy). Beberapa

tindakan yang terkait dengan prinsip menghormati harkat dan martabat

manusia adalah peneliti mempersiapkan formulir persetujuan subyek

(informed consent).

2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect forprivacy

and confidentiality).

Setiap manusia memiliki hak-hak dasar individu termasuk privasi

dankebebasan individu. Pada dasarnya penelitian akan memberikan akibat

terbukanya informasi individu termasuk informasi yang bersifat pribadi.

Sedangkan, tidak semua orang menginginkan informasinya diketahui oleh

orang lain, sehingga peneliti perlu memperhatikan hak-hak dasar individu

tersebut. Dalam aplikasinya, peneliti tidak boleh menampilkan informasi

mengenai identitas baik nama maupun alamat asal subyek dalam kuesioner

untuk menjaga anonimitas dan kerahasiaan identitas subyek. Peneliti dapat

76
menggunakan koding (inisial atau identification number) sebagai pengganti

identitas responden.

3. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness).

Prinsip keadilan memiliki konotasi keterbukaan dan adil. Untuk

memenuhi prinsip keterbukaan, penelitian dilakukan secara jujur, hatihati,

profesional, berperikemanusiaan, dan memperhatikan faktor-faktor

ketepatan, keseksamaan, kecermatan, intimitas, psikologis serta perasaan

religius subyek penelitian. Lingkungan penelitian dikondisikan agar

memenuhi prinsip keterbukaan yaitu kejelasan prosedur penelitian. Keadilan

memiliki bermacam-macam teori, namun yang terpenting adalah

bagaimanakah keuntungan dan beban harus didistribusikan diantara anggota

kelompok masyarakat. Prinsip keadilan menekankan sejauh mana kebijakan

penelitian membagikan keuntungan dan beban secara merata atau menurut

kebutuhan, kemampuan, kontribusi dan pilihan bebas masyarakat.

4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing

harms and benefits)

Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian

guna mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin bagi subyek

penelitian dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi (beneficence)

Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek

(nonmaleficence).

E. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data atau Instrumen tpenelitian yang akan digunakan

dalam penelitian ini adalah kuesioner sebelum dan sesudah, media flip chart

77
dan media audio visual. Instrumen pengukuran ini adalah hasil dari kuesioner

sebelum dan sesudah diberikan pendidikan, Selain itu juga menggunakan status

pasien, lembar isian data sempel, lembar kesediaan menjadi responden dan

lembar observasi untuk mencatat hasil dari kuesioner.

F. Prosedur Pengumpulan data

1. Data Primer

Data primer diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner

yang di berikan kepada ibu balita sebelum dan sesudah perlakuan.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pencatatan dan pelaporan dari

Puskesmas Muara Bulian kabupaten Batanghari- Jambi

3. Langkah-Langkah Pengumpulan data

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu :

a. Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilakukan meliputi :

1) Melakukan izin pengambilan data dari kesbangpol ke puskesmas

Muara Bulian Kabupaten Batanghari

2) Melakukan pengumpulan data awal dari Puskesmas Muara Bulian

dan melakukan pengamatan secara langsung.

3) Menentukan sampel penelitian sesuai jumlah dan teknik sampel.

4) Mengumpulkan daftar nama ibu yang mempunyai balita yang

mempunyai status gizi yang akan menjadi sampel penelitian.

5) Mempersiapkan media flip chartdan media audio visual

6) Menyusun jadwal penelitian

78
b. Tahap pelaksanaan penelitian

1) Menemui responden yang memenuhi kriteria inklusi

2) Memperkenalkan diri, maksud dan tujuan penelitian

3) Dibantu dengan 2 Enumator

4) Lingkungan harus tenang

5) Memberikan pre test menggunakan kuesioner kepada ibu balita yang

merupakan sampel penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan

tentang pemberian makanan pada status gizi dengan media flip

chartdan media audio visual

6) Memberikan intervensi tentang pengetahuan tentang pemberian

makanan pada status gizi dengan media flip chartdan media audio

visual

7) Memberikan post test menggunakan kuesioner kepada ibu balita

yang merupakan sampel penelitian untuk mengetahui tingkat

pengetahuan tentang pemberian makanan pada status gizi dengan

media flip chartdan media audio visual.

G. Pengolahan Data dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan dari hasil dokumentasi dari pengukuran

kemudian diolah dengan tahap-tahap sebagai berikut:

c. Editing

79
Langkah ini dilakukan dengan maksud mengantisipasi kesalahan

dari data yang dikumpulkan, juga memonitor jangan sampai terjadi

kekosongan dari data yang dibutuhkan.

d. Coding

Coding Merupakan usaha untuk mengelompokkan data menurut

variable penelitian. Coding dilakukan untuk mempermudah dalam

proses tabulasi dan analisa data selanjutnya.

e. Proccesing

Proccesing Merupakan pemprosesan data yang dilakukan dengan

cara meng-entry data dari lembar observasi kepaket program computer.

f. Cleaning

Cleaning Merupakan pengecekan kembali data yang sudah

dientry dengan missing data, variasi data dan konsistensi data.

g. Tabulating

Kegiatan memasukkan data hasil penelitian kedalam tabel

kemudian diolah dengan bantuan komputer.

2. Analisa Data

Analisa data merupakan analisis terhadap data yang berhasil

dikumpulkan oleh peneliti melalui perangkat metodelogi tertentu. Dalam

penelitian ini, data yang sudah terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis

dengan teknik statistik. Proses pemasukan data dan pengolahan data

menggunakan aplikasi perangkat lunak komputer.

a. Analisa Univariat

80
Analisa Univariat merupakan proses analisis data pada tiap

variabelnya. Pada penelitian ini analisis univariat dilakukan terhadap

variabel dari hasil penelitian, analisa ini akan menghasilkan distribusi

dan frekuensi dari tiap variabel yang diteliti.

b. Analisa Bivariat

Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan variabel

independen dan variabel dependen yaitu untuk melihat perbedaan

tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan media audio

visual dan Flip Chart. Data yang didapatkan diolah dengan uji T test

dependen dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Sebelum

dilakukan uji Ttest dependen, peneliti melakukan uji normalitas data

terlebih dahulu dengan menggunakan saphirowilk dimana sampel <

50. Jika data yang didapatkan normal maka peneliti akan melakukan

analisis bivariat dengan uji T dependen namun jika data tidak normal

maka peneliti melakukan analisis bivariat dengan uji alternatif yaitu

uji wilcoxon (Dahlan, 2010).

81
DAFTAR PUSTAKA

________, 2011, Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan, Jakarta : Gramedia


Pustaka Utama

___________, 2010, Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak (WHO-


NCHS)

____________, 2010, Penilaian Status Gizi, Jakarta : EGC

_____________, 2010, Metodeologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta

Adriana, 2013, Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak, Jakarta :
Salemba Medika

Almatsier, 2011, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Arifiandi, 2013 Media Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima

Arikunto, S, 2011, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta :


Rineka Cipta

Azwar, 2010, Gizi Reproduksi, Yogyakarta : Pustaka Rihana

Depkes RI, 2010, Klasifikasi Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (Balita),
Jakarta : Depkes RI

Depkes RI, 2010, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak Di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar,
Jakarta : Depkes RI

Hidayat,Alimul.2010.KeterampilanDasarPraktikKlinikKebidanan.Edisi2.
Jakarta:SalembaMedika

Hayati, Dkk. Hubungan Penggunaan Media Pembelajaran Audio Visual dengan


Minat Peserta Didik pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN
1 Bangkinang Kota,Jurnal Al-hikmah Vol. 14, No. 2, Oktober 2017 ISSN
1412-5382.10 Mei 2020

Kartika. 2017. Buku Ajar Dasar Dasar Riset Keperawatan Dan Pengolahan Data
Statistik. Trans Info Media : Jakarta

Kemenkes RI, 2019, Survei Riskesdes tentang Prevelensi Status Gizi Balita
Berdasarkan Berat badan per umur (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun
2018

82
Kemenkes RI. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia N0.
1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian
Status Gizi Anak.

Lestari, 2015, Hubungan Status Gizi Dengan Perkembangan Motorik Kasar


Balita Usia 2-5 Tahun Di Posyandu Desa Bentarsari Kecamatan Salem
Kabupaten Brebes

Marimbi, 2010, Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Balita,
Yogyakarta : Nuha Offset

MENKES/PER/XI/2011 PMKRIn. Pedoman pembinaan perilaku hidup bersih


dan sehat (PHBS). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2011.

Notoatmodjo, S, 2012, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka


Cipta

Notoatmodjo, S, 2012, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka


Cipta

Novita. Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Peningkatan


Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Di Puskesmas Rawasari Kota Jambi
Tahun 2019. Vol. 4 No. 1 Maret 2020 Jurnal Kesmas Jambi (JKMJ). (10
Mei 2020)

Nugrahaeni, Dkk. Pencegahan Balita Gizi Kurang Melalui Penyuluhan Media


Lembar Balik Gizi.©2018. Nugrahaeni. Open access under CC BY – SA
license. Received 27-12-2017, Accepted 19-1-2018, Published online: 12-
3-2018.doi: 10.20473/amnt.v2.i1.2018.113-12. (10 Mei 2020)

Nursalam. 2008. Manajemen keperawatan: Aplikasi dan Praktik Keperawatan


Profesional, Edisi Kedua. Jakarta: Salemba Medika

Puspita, Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perubahan Pengetahuan Dan


Sikap Ibu Dalam Upaya Menangani Balita Gizi Kurang Di Desa Mancasan
Sukoharjo 2015 [skripsi]. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah 2015

Sakinatun S.2013. Perbedaan Efek Edukasi Kesehatan Menggunakan Media


Berbasis Komputer dengan Media Lembar Balik terhadap Pengetahuan dan
Retensinya pada Anak Usia 7- 8 tahun. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sinulingga. Pengaruh Metode Ceramah Menggunakan Media Flipchart dan Media
Standing Banner terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu dalam Upaya
Penyediaan Konsumsi Sayur dan Buah bagi Keluarga di Lingkungan XX
Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018 [Skripsi]
http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/281 Downloadedfrom Reposit
ori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara Fakultas Kesehatan
Masyarakat

83
Soekirman, 2012. Pedoman Gizi Seimbang. Rineka Cipta. Jakarta

Sugiyono,2011. MetodePenelitianKuantitatifdanR&D.Bandung:ALFABETA

Sukandar dkk, 2013, Kaitan Antara Status Gizi, Perkembangan Kognitif, Dan
Perkembangan Motorik Pada Anak Usia PraSekolah

Supariasa, dkk, 2010, Penilaian Status Gizi, Jakarta : EGC

84
FORMAT BIMBINGAN PROPOSAL /HASIL SKRIPSI
PRODI KEPERAWATAN IKES PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI

Nama Mahasiswa :
NIM :
Judul Skripsi :

Nama Pembimbing :Ns. Elfira Husna, M.Kep

Tanggal Materi Bimbingan Tandatangan


Bimbingan Pembimbing
Jum'at, 8 Mei 2020 Acc Judul

Rabu, 10 Juni 2020 Revisi BAB I, lanjut BAB


II, BAB III, BAB IV
Sesuaikan. Sistematika
penulisan dengan buku
panduan
Tambahkan daftar isi dan
kata pengantar

Senin, 22 Juni 2020 BAB I Masukan penelitian


orang lain
BAB I, BAB II, BAB III,
BAB IV gunakan referensi
minimal 2010

Rabu, 19 Agustus Revisi BAB III dan BAB


2020 IV
Lampirkan daftar pustaka
dan instrumen penelitian

Minggu, 6 September ACC Ujian Proposal


2020 Skripsi

85
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth
Calon Responden
Di Tempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini adalah mahasiswa Program Studi
Ilmu Keperawatan IKES Pria Nusantara Bukit Tinggi.
Nama : Rizki Narulita
Nim : 181012114201112
Alamat: Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-Jambi
Akan mengadakan penelitian dengan judul “Efektifitas Pemberian media Flip
Chart dan Media Audio Visual terhadap tingkat pengetahuan ibu balita
tentang pola pemberian makanan Pada Status Gizi di Puskesmas Muara
Bulian, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020”.
Untuk keperluan tersebut saya memohon kesediaan dari Ibu/Saudari untuk
menjadiresponden dalam penelitian ini dan menandatangani lembar persetujuan
menjadi responden. Selanjutnya saya mengharapkan Ibu/Saudari untuk
memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang kami berikan dengan
kejujuran dan jawaban anda dijamin kerahasiaannya. Jika Ibu/Saudari tidak
bersedia menjadi responden, tidak ada sanksi bagi Ibu/Saudari .
Apabila Ibu/Saudari menyetujui, maka saya mohon kesediaannya untuk
menandatangani lembar persetujuan dan mengikuti semua rangkaian proses
penelitian ini. Atas perhatian dan kerjasama saudara kami ucapkan terima kasih.
Peneliti

(Rizki Narulita)

86
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, bersedia untuk berpartisipasi

dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu

Keperawatan IKES Prima nusantara Bukit Tinggi

Nama : Rizki Narulita


Nim : 181012114201112
Judul Penelitian : Efektifitas Pemberian media Flip Chart dan Media Audio
Visual terhadap tingkat pengetahuan ibu balita tentang pola pemberian
makanan Pada Status Gizi di Puskesmas Muara Bulian, Kabupaten
Batanghari, Provinsi Jambi Tahun 2020
Saya memahami penelitian ini dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah

dalam rangka menyusun skripsi bagi peneliti dan tidak akan mempunyai dampak

negatif serta merugikan bagi saya dan keluarga saya, sehingga jawaban dan hasil

observasi, benar-benar dapat dirahasiakan. Dengan demikian secara sukarela dan

tidak ada unsur paksaan dari siapapun, saya siap berpartisipasi dalam penelitian

ini. Demikian lembar persetujuan ini saya tanda tangani dan kiranya dipergunakan

sebagai mestinya.

Muara Bulian, 2020

Responden

(________________)

87
88
LEMBAR KUESIONER

Identitas Responden
a. Nama Ibu : .......................................................
b. Usia Ibu : .........................................................
c. Pendidikan terakhir Ibu : SD / SMP / SMA / Diploma / S1 *)
d. Pekerjaanibu : ................................................
e. Jumlah anak balita : .......................................................
f. Usia anak : .....................................................................
*) lingkari yang sesuai
Instrumen Pengetahuan Ibu tentang Pola pemberianGizi Balita
Pilihlah jawaban yang anda anggap paling tepat dengan memberikan tanda (X) !
1. Pemberian makanan pada anak sebaiknya disesuaikan dengan .....
a. usia dan kebutuhan gizi anak
b. kesenangan anak
c. kesenangan ibu
2. Zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan terdiri atas ....
a. karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air
b. karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air
c. karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan air
3. Tubuh mendapatkan energi dari 3 jenis zat gizi, yaitu .....
c. karbohidrat, lemak dan vitamin
d. karbohidrat, protein dan vitamin
e. karbohidrat, protein dan lemak

89
4. Sumber lemak dapat diperoleh makanan yang berasal dari.....
a. daging, telur, susu sapi
b. kangkung dan bayam
c. tahu dan tempe
5. Makanan 4 sehat 5 sempurna terdiri dari .....
a. makanan pokok, lauk-pauk, buah, susu, vitamin
b. makanan pokok, sayur, lauk-pauk, buah, vitamin
c. makanan pokok, sayur, lauk-pauk, buah, susu

6. Berikut ini yang bukan termasuk fungsi protein adalah.....


a. mengganti sel-sel jaringan tubuh yang rusak
b. membantu dalam proses pembekuan darah
c. memberi daya tahan tubuh terhadap penyakit
7. Zat yang dapat melarutkan vitamin A, D, E, dan K adalah .....
a. Karbohidrat
b. Lemak
c. Protein
8. Sayuran dan buah-buahan merupakan bahan makanan sumber ......
h. vitamin dan mineral
i. mineral dan air
j. protein dan vitamin
9. Bahan pangan di bawah ini yang banyak mengandung karoten/pro vitamin A
adalah .....
3. cumi-cumi, udang, ikan
4. tahu, tempe kedelai, bakso
5. pepaya, labu kuning dan brokoli
10. Merebus sayuran terlalu lama akan menyebabkan hilangnya vitamin
dalamsayuran terutama .....
a. vitamin A dan vitamin D
b. vitamin B dan vitamin C
c. vitamin E dan vitamin K

90
11. Sayuran dan buah-buahan yang berwarna kuning, merah, dan hijau tua sangat
baik dikonsumsi untuk anak-anak karena banyak mengandung ....
a. retinol
b. vitamin
c. karoten
12. Kekurangan vitamin D pada anak dapat menyebabkan ......
c. tulang dan gigi keropos
d. rabun senja
e. kulit kusam
13. Sumber zat besi dapat ditemukan pada bahan pangan berikut, kecuali.....
a. telur, hati, daging
b. bayam, kangkung, seledri
c. tomat, pepaya, wortel
14. Kekurangan protein pada anak-anak dalam jangka waktu lama akan
menyebabkan penyakit...
d) Busung lapar
e) beri – beri
f) marasmus
15. Dalam memenuhi kebutuhan zat gizi anak usia 1-5 tahun hendaknya
digunakan kebutuhan prinsip..
7) Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari makanan

pokok, minyak dan zat lemak serta gula

8) memaksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan makanan

lain yang dapat diterima.

9) Berikan sumber instan yang dijual dimini market.

16. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola gizi seimbang, yaitu

2. pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan

diperoleh melalui makanan sehari-hari

3. pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan jajanan

91
4. pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan makanan instan atau siap

saji yang diperoleh di minimarker/supermarket

17. Pada umumnya kepada anak balita telah dapat diberikan jadwal waktu makan

yang berupa ..

a. lima kali makan dan diantaranya empat kali makanan selingan.

b. tiga kali makan dan diantaranya dua kali makanan selingan.

c. tiga kali makan dan diantaranya satu kali makanan selingan.

18. Gizi seimbang dapat dipenuhi dengan pemberian makanan kepada balita

yaitu..

c. Sumber zat Tenaga, Sumber zat energi, Sumber zat pengatur

d. Sumber zat Tenaga, Sumber zat pembangun, Sumber zat pengatur

e. Sumber zat Tenaga, Sumber zat pembangun, Sumber zat Gizi

19. Sumber zat pembangun pada balita yaitu..

a. telur, daging, ikan, tahu, tempe

b. mie dan sirup

c. bakso, mie ayam dan ikan

20. Kebutuhan gizi pada balita diberikan harus disesuaikan dengan

a. umur, jenis kelamin, berat badan, akivitas, jumlah yang cukup, bergizi

dan seimbang.

b. umur, jenis kelamin, berat badan, akivitas, jumlah yang banyak, dan

seimbang.

c. umur, jenis kelamin, berat badan, jumlah yang cukup, bergizi dan

seimbang.

92
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Gizi Balita

Sasaran : Ibu yang berkunjung ke Puskesmas Muara Bulian, Kec. Muara

Bulian, provinsi Jambi

Hari/ tgl : , 2020

Waktu : 30 menit

Tempat : Aula/ ruang pertemuan Puskesmas

A. Latar Belakang

Status gizi balita dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor langsung

dan tidak langsung. Faktor langsung yaitu konsumsi pangan dan penyakit

infeksi sendangkan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi

status gizi balita adalah pengetahuan dan sikap ibu. Kurangnya pengetahuan

dan sikap ibu merupakan salah satu penyebab terjadinya kurang gizi pada

balita. Ibu yang memiliki pengetahuan dan sikap gizi yang kurang akan

sukar memilih makanan yang bergizi bagi balita dan keluarganya sehingga

akan mempengaruhi asupan makanan balita dan status gizinya. Balita

kurang gizi akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan otak dan tingkat

kecerdasan. Hal ini karena kurangnya produksi protein dan energi yang

diperoleh dari makanan (Lestari, 2015).

Pola makan yang baik perlu dibentuk sebagai upaya untuk memenuhi

kebutuhan gizi dan pola makan yang tidak sesuai akan menyebabkan asupan

gizi kekurangan asupan yang kurang dari yang dibutuhkan akan

93
menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentan terhadap penyakit. Sehingga

pola makan yang baik juga perlu dikembangkan untuk menghindari

interaksi negatif dari zat gizi yang masuk dalam tubuh. Interaksi dapat

terjadi antara suatu zat gizi dengan yang lain, atau dengan zat non gizi.

interaksi dapat bersifat negatif (antogenesis). Interaksi negatif disebut

negatif jika merugikan. Interaksi antara zat gizi dapat meningkatkan

penyerapan, atau sebaliknya mengganggu penyerapan zat gizi lain

(Sulistyoningsih, 2011). Pola asuh anak adalah sikap dan pengetahuan ibu

atau pengasuh kepada anaknya dalam pemberian makan, Wirajmadi (2012)

menjelaskan bahwa praktik pemberian makan berkaitan dengan cara

pemberian maka oleh ibu kepada anaknya yang meliputi jenis makanan,

frekuensi makan, porsi dan variasi bahan makanan. Oleh karena itu, pola

pemberian makanan sangat penting diperhatikan.

Masalah gizi kurang belum bisa teratasi dengan baik dalam skala

internasional maupun nasional, Menurut UNICEF (2019) jumlah penderita

gizi kurang di dunia mencapai 700 juta anak dan keadaan gizi kurang masih

menjadi penyebab kematian anak di seluruh dunia. UNICEF melaporkan

sebanyak 149 milliar anak anak umur 4 tahun atau menderita gizi buruk

yang mengeluarkan biaya 3,5 trilliun dollar AS atau setara dengan Rp.

49.395 trilliun per tahunnya, kondisi kesehatan berpengaruh kepada

perkembangan otak dan badan. Sebagai contoh pada masa perang di Yaman

46 % anak usia balita mengalam gizi buruk berasarkan data pada tahun

2013-2018. PBB menyatakan yaman sebagai negara yang mengalai krisis

kemanusiaan terburuk didunia, sedangkan di Indonesia hampir tidak

94
mengalami kemajuan sama sekali dalam menurunkan tingkat kurang gizi

anak sejak tahun 2015 yaitu sebanyak 18,9 % anak Indonesia di bawah usia

lima tahun menderita gizi kurang. Balita yang termasuk gizi kurang

mempunyai risiko meninggal lebih tinggi dibandingkan balita yang gizinya

baik (UNICEF, 2019).

Salah satu indikator sasaran pembangunan kesehatan pada RPJMN

2020-2025 adalah penguatan advokasi, komunikasi sosial dan perubahan

hidup sehat terutama mendorong pemenuhan gizi seimbang berbasis

konsumsu pangan, penguatan sistem surbeilans gizi, peningkatan komitmen

dan pendamping bagi daerah dalam intervensi perbaikan gizi dengan strategi

sesuai kondisi setempat dan rspon cepat perbaikan gizi dalam kondisi

darurat, proporsi balita mengalami masalah gizi dari dari 19,6% pada tahun

2013 menjadi 17,7% pada tahun 2019. Hasil PSG (Pemantauan Status Gizi)

tahun 2018 yaitu status gizi balita menurut indeks berat badan per usia

(BB/U) di Indonesia, didapatkan hasil 79,7% gizi baik, 13,8% gizi kurang,

3,9% gizi buruk, dan 2,6% gizi lebih. Secara nasional prevalensi gizi kurang

sebanyak 14,4% dan gizi buruk sebanyak 3,4% di Indonesia (Kemenkes,

2020).

Pemberian makanan pada anak dapat dipengaruhi oleh pengetahuan

dan sikap ibu serta adanya dukungan keluarga dan lingkungan. Pengetahuan

dan sikap ibu akan mempengaruhi asupan makanan yang ada di dalam

keluarga terutama anak.7,8 Penelitian yang dilakukan oleh Rinda

menunjukkan hanya sekitar 62,5% ibu yang dapat mempraktikkan perilaku

pemberian makan seimbang pada anak, 75% yang mempunyai sikap positif

95
dalam pemberian makanan bergizi seimbang dan 54,2% ibu yang hanya

mengerti pemberian makanan bergizi seimbang namun tidak dapat

mempraktikkan dengan baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Evan menunjukkan pendidikan gizi

pada orang tua atau keluarga yang mempunyai anak dapat merubah perilaku

dari keluarga terutama dalam pemberian makan. Penelitian yang dilakukan

oleh Ertem menunjukkan pemberian asupan makan yang tepat akan banyak

dipengaruhi oleh keluarga sehingga dapat mempengaruhi asupan makan dan

status gizi anak. Pemberian makanan yang tepat meliputi pemberian makan

utama dan camilan pada anak. Penelitian yang dilakukan oleh Askerning

menunjukkan sikap ibu mengenai makanan pada anak akan mempengaruhi

praktik ibu dalam pemberian makan anaknya. Sikap ibu dalam pemberian

makan pada anak dapat mempunyai risiko 2,7 kali terhadap praktik ibu,

dibandingkan dengan pengetahuan ibu yang tidak mempengaruhi perilaku.

B. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan selama 30 menit tentang gizi

balita maka anggota keluarga mampu mehahami tentang gizi balita.

C. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan tentang gizi balita selama 30 menit

keluarga mampu :

1. Menjelaskan pengertian gizi.

2. Menjelaskan jenis makanan yang diberikan pada balita.

3. Menjelaskan pola pemberian makanan pada balita.

4. Menjelaskan pengaturan makanan anak usia 1-5 tahun.

96
D. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

3. Demonstrasi

E. Media/alat

d. Leafleat

e. power slide

F. Sasaran

Ibu Klien yang telah menjadi sampel penelitian

G.    Manfaat

1 Bagi Mahasiswa

Sebagai media untuk berinteraksi terhadap responden

4. Bagi responden

Menambah wawasan responden terhadap Gizi pada Balita, dan

Pemberian makanan pada balita

H. Materi

a. Pengertian gizi

b. Jenis makanan yang diberikan pada balita

c. Pola pemberian makanan pada balita

d. Pengaturan makanan anak usia 1-5 thn

97
6. Setting Tempat

Keterangan :

: responden : penyaji

98
i. Kegiatan Penyuluhan

No Tahap Wkt Kegiatan Pengajar Kegiatan


. Peserta
1 Pembukaan 5’ 1. Perkenalan. Memperhatikan
. 2. Menghubungkan dan menanggapi
pengalaman peserta tentang review
penyuluhan dengan topik gizi balita.
yang akan disampaikan
melalui review tentang
gizi balita.

2 Pengembang 25’ 1. Menjelaskan tentang: Mendengarkan


. an a. Pengertian gizi balita. dan
b. Jenis makanan yang memperhatikan .
diberikan pada balita.
c. Pola pemberian
makanan pada balita.
d. Pengaturan makanan
anak usia 1 – 5 tahun.

2. Memberi kesempatan Menanyakan hal-


peserta penyuluhan untuk hal yang kurang
menanyakan hal-hal yang jelas.
kurang jelas.
3. Menjawab pertanyaan Memperhatikan.
yang diajukan peserta
penyuluhan.
3 Penutup 5’ 1. Menyimpulkan materi yang Memperhatikan
. telah diberikan. dan mencatat.
2. Melakukan evaluasi hasil Menjawab
penyuluhan. pertanyaan.
3. Memberi salam penutup.
ii. Evaluasi

b) Prosedur : Selama proses penyuluhan dan setelah proses penyuluhan

c) Jenis tes : Lisan

d) Bentuk : Subyektif

e) Alat tes :Soal Test

99
MATERI GIZI BALITA

1. Pengertian Gizi

Gizi adalah makanan dan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh yang

berhubungandengan kesehatan.Balita merupakan individu yang berumur 0-5

tahun, dengan tingkat plastisitas otak yang masih sangat tinggi sehingga akan

lebih terbuka untuk proses pembelajaran dan pengayaan (Depkes RI, 2009).

Balita terbagi menjadi dua golongan yaitu balita dengan usia 1-3 tahun

dan balita dengan usia 1-5 tahun (Soekirman, 2010). Masa balita merupakan

masa yang sangat penting bagi proseskehidupan manusia. Pada masa ini akan

berpengaruh besar terhadap keberhasilan anak dalam proses tumbuh kembang

selanjutnya (Nicki, 2009).

2. Jenis-jenis zat gizi

a. Karbohidrat

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, bahan

pembentuk berbagai senyawa tubuh, bahan pembentuk asam amino

esensial, metabolisme normal lemak, menghemat protein meningkatkan

pertumbuhan bakteri usus, mempetahankan gerak usus, meningkatkan

konsumsi protein, mineral dan vitamin. Sumber karbohidrat terdapat

pada makanan bahan pangan seperti beras, ubi jalar, singkong, kentang,

pisang, sagu, gandum dan sebagainya.

b. Protein

100
Protein meupakan zat gizi yang berfungsi untuk membentuk

jaringan baru dalam masa tumbuh kembang, memilihara jaringan tubuh,

mengganti jaringan yang rusak, menyediakan asam amino, mengatur

keseimbangan air, dan mempertahankan asam basa tubuh. Sumber

protein diperoleh dari daging ayam, telur, susu, kedelai, kacang tanah,

kacang hijau dan sebagainya.

c. Lemak

Lemak merupakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk

memberikan rasa gurih an renyah, memberi kalori yang tinggi dan

sebagai cadangan energi dalam bentuk jaringan lemak. Sumber lemak

dapat diperoleh makanan yang berasal dari daging, keju, ikan, telur, susu

sapi, kacang-kacangan, biji kelapa, alpokat dan sebagainya.

d. Vitamin

Vitamin dibutuhkan oleh untuk melakukan fungsi

metabolik, mempertahankan fungsi berbagai jaringan, membantu

pembuatan zat tertentu dalam tubuh. Berbagai vitamin yang dibutuhkan

yang dibutuhkan yaitu vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D,

vitamin E, vitamin K. Sumber vitamin dapat diperoleh dari berbagai jenis

makanan yang berasal dari ikan, hati, mentega dan lain-lain sebagai

sumber vitamin A. Sumber vitamin B diperoleh dari makanan yang

berasal dari daging, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan telur. Vitamin

C dpat diperoleh dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari

buah-buahan, orbai, kangkung dan sebagainya. Vitamin D diperoleh dari

101
jenis makanan yang barasal dari minyak ikan, susu, hati dan sebagainya.

Vitamin E dapat diperoleh dari minyak lembaga gandum, lembaga paci,

kacang-kacang, susu, telur, daging dan ikan. Vitamin K diperoleh dari

jenis makanan yang berasal dari bayam, kubis dan hati (Almatsier,2009).

e. Mineral

Mineral merupakan bahan organik yang bersifat esensial.

Mineral bagi tubuh berfungsi untuk memelihara keseimbangan asam

tubuh, mengkoordinasi reaksi yang berkaitan dengan pemecahan

karbohidrat, protein dan lemak, sebagai hormon, memantau

keseimbangan air dalam tubuh, sebagai cairan usus dn pemeliharaan

tulang. Sumber mineral diperoleh dari mengkonsumsi berbagai jenis

makanan sayur-sayuran dan buah-buahan.

f. Air

Air bagi tibuh berfungsi sebagai bahan pembangun disetiap

sel tubuh. Cairan tubuh memiliki fungsi yang sangat vital yaitu

mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi

metabolisme, sebagai pelarut, pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu

tubuh dan sumber meneral.

3. Pola Makan Balita

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang paling baik bagi bayi

dan balita hingga berumur dua tahun, dan dianjurkan memberian secara

ekslusif selama enam bulan pertama. Secara berangsur sesudah berusia enm

bulan bayi diberikan makanan lunak, makanan lembek dan makanan biasa

102
guna untuk mengembangkan kemampuan menguyah, menelan serta

menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa,

sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi dibutuhkan.

Pemberian makanan hendaknya disesuaikan dengan perkembangan balita,

makanan hendaknya dipilih dengan baik yaitu mudah dicerna, diabsorbsi dan

dimetabolisme. Makanan akan mempengaruhi pertumbuhan serta

perkembangan fisik dan mental balita, oleh karena itu makanan yang

diberikan harus memenuhi kebutuhan gizi balita. Balita dalam proses

pertumbuhan dan perkembangannya ditentukan oleh makanan yang dimakan

sehari-hari, untuk tumbuh optimal membutuhan asupan makanan yang baik

yaitu beragam, jumlah yang cukup, bergizi dan seimbang (Depkes RI, 2007).

Tabel 2.1

Pola pemberian makanan menurut kecukupan energi

Waktu pembagian makanan ssehari balita menurut


Total
umur kecukupan energy
Energi
Balita Pagi Selingan siangSelingan Sor
(kkal)
pagi siang e
0-6 550 - - - - -
bulan
6-8 650 84 - 97 - 28
bulan
9-11 900 122 36 123 25 143
bulan
1 110 144 50 218 126 253
2 bulan 0
1-3 130 221 140 261 87 235
tahun 0
4-5 155 318,7 125 06,2 325 375
tahun 0 5 5
Sumber : Soekirman, 2010

103
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk pengaturan makan yang

tepat adalah umur, berat badan, keadaan mulut sebagai alat penerima

makanan, kebiasaan makan, kesukaan dan ketidaksukaan, aseptabilitas dari

makanan dan toleransi anak terhadap makanan yang diberikan. Dengan

memperhatikan dan memperhitungkan faktor-faktor tersebut diatas umumnya

tida akan terjadi kekeliruan dalam mengatur makanan untuk balita. Pada

umumnya kepada anak balita telah dapat diberikan jadwal waktu makan yang

berupa tiga kali makan dan diantaranya dua kali makanan selingan.

4. Kebutuhan Zat Gizi Pada Balita

Kebutuhan gizi pada balita diberikan harus disesuaikan dengan

umur, jenis kelamin, berat badan, akivitas, jumlah yang cukup, bergizi dan

seimbang. Guna untuk pemeliharaan, pemulihan, pertumbuhan dan

perkembangan yang pesat. Kebutuhan energi protein balita berdasarkan

Angka Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata perhari yang dianjurkan oleh

Widyakarya Pangan dan Gizi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.2

Kebutuhan Konsumsi Energi Dan Protein Balita Berdasarkan

Angka Kecukupan Gizi Anjuran (AKG) Rata-Rata Per Hari

Ting
N Kelompok Berat Ener Prote
gi Badan
o Umur badan (Kg) gi (kkal) in (kkal)
(cm)
1 0-6 bulan 6,0 60 550 10
2 7-11 bulan 8,5 71 650 16
3 1-3 tahun 12,0 90 1000 25
4 4-5 tahun 18,0 110 1550 39
Sumber : Widyakaya Pangan Dan Gizi, 2010

104
5. Mengatur Makanan Anak Usia 1-5 Tahun

Dalam memenuhi kebutuhan zat gizi anak usia 1-5 tahun hendaknya

digunakan kebutuhan prinsip sebagai berikut:

5. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari makanan

pokok, minyak dan zat lemak serta gula.

6. Berikan sumber protein nabati dan hewani.

7. Jangan memanksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan

makanan lain yang dapat diterima.

8. Berikan makanan selingan (makanan ringan) misalnya biskuit dan

semacamnya diberikan antara waktu makan pagi, siang, dan malam

(Marimbi, 2010).

Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisk dan

kecerdasan anak. Oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu

diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan

variasi makanan(Marimbi, 2010).

Gizi seimbang dapat dipenuhi dengan pemberian makanan kepada

balita sebagai berikut:

a) Sumber zat tenaga

3-4 piring( 1 gelas nasi/penggantinya seperti mie, bihun, dll.

b) Sumber zat pembangun

4-5porsi lauk @ 50 gr, seperti : telur, daging, ikan, tahu, tempe.

c) Sumber zat pengatur

105
2-3 porsi sayuran dan buah-buahan yang berwarna: 1 porsi sayuran = 1

mangkok sayuran terdiri dari berbagai sayuran berwarna, 1 porsi buah ±

100 gr. (Marimbi, 2010).

Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan

asupan gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Waktu-waktu

yang disarankan adalah:

d. Pagi hari waktu sarapan.

e. Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.

f. Pukul 12.00 pada waktu makan siang.

g. Pukul 16.00 sebagai selingan.

h. Pukul 18.00 pada waktu makan malam.

i. Sebelum tidur malam, tambahkan susu.

j. Jangan lupa kumur-kumur dengan air puth atau gosok gigi.

(Marimbi, 2010)

Pada usia balita anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam,

sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia

selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang teratur

dn variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin makan

yang baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola gizi

seimbang, yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan

tubuh dan diperoleh melalui makanan sehari-hari. Dengan makan makanan

yang bergizi seimbang secara teratur, diharapkan pertumbuhan anak akan

berjalan optimal (Marimbi, 2010).

106
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, 2015, Hubungan Status Gizi Dengan Perkembangan Motorik Kasar

Balita Usia 2-5 Tahun Di Posyandu Desa Bentarsari Kecamatan Salem

Kabupaten Brebes

Marimbi, 2010, Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Balita,

Yogyakarta : Nuha Offset

Notoatmodjo, S, 2012, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka

Cipta

_____________, 2010, Metodeologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta

Purwanto, 2010.Gizi dalam Dasar Kehidupan, Jakarta : EGC

Rachmawati, 2016, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Motorik

Anak Usia 12-18 Bulan Di Keluarga Miskin Dan Tidak Miskin

107
108