Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN KEPERAWATAN

“Konsep Teoritis Penjaminan Mutu Asuhan Keperawatan”

OLEH:

Aulia Rahma

183110165

III.A

Dosen Pembimbing:

Ns. Idrawati Bahar, S.Kep, M.Kep

D-III KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil’alamin, puji syukur kehadiran Allah SWT atas limpahan


dan berkat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan resume ini. Resume Manajemen
Keperawatan ini menjelaskan lebih mendalam mengenai “Konsep Teoritis Penjaminan
Mutu Asuhan Keperawatan”. Resume ini ditulis dari hasil pencarian diberbagai media
dan buku sumber.

Dalam penulisan resume ini saya masih merasa banyak kekurangan baik pada
teknik penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang saya miliki untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak yang sangat saya harapkan demi penyempurnaan
pembuatan resume ini.

Dalam penulisan resume ini saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-


pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan resume ini khususnya kepada Dosen
saya yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas ini. Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Padang, 9 September 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….

BAB 1 PENDAHULUAN …………………………………………………………………

A. Latar Belakang …………………………………………………………………………

B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………

C. Tujuan …………………………………………………………………………………..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………………

A. Konsep Teoritis Penjaminan Mutu ……………………………………………………

B. Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu ……………………………..

C. Kualitas Pelayanan (TQM) …………………………………………………………….

D. Penilaian Kinerja Perawat …………………………………………………………….

E. Konsep Teoritis Berbasis Bukti (Evidence Based Practice) …………………………

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………….

A. Kesimpulan ……………………………………………………………………………..

B. Saran …………………………………………………………………………………….
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komite keperawatan memiliki tujuan untuk mewujudkan profesionalisme


dalam pelayanan keperawatan, memberikan masukan kepada pimpinan rumah sakit
berkaitan dengan profesionalisme perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan,
menyelesaikan masalah – masalah terkait dengan penerapan disiplin dan etik
keperawatan serta meningkatakan mutu pelayanan keperawatan.

Menurut Tjiptono& Anastasia (2003) TQM merupakan suatu pendekatan dalam


menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi
melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungannya. Tangibles adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan untuk
menampilkan yang terbaik bagi pelanggan. Baik dari sisi fisik tampilan bangunan,
fasilitas, perlengkapan teknologi pendukung, hingga penampilan karyawan.

Prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem
yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen. Pendapat lain
dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan Christopher, 1993: 165-
166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya yang
berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan suatu konsep
yang berupaya, melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia.

Siklus Deming (DemingCycle), Siklus ini dikembangkan untuk


menghubungkan antara operasi dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan
sumber daya semua bagian dalam perusahaan (riset, desain, operasi, dan pemasaran)
secara terpadu dan sinergi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Ross, 1994: 237).
Siklus Deming adalah model perbaikan berkesinambungan yang dikembangkan oleh
W. Edward Deming yang terdiri atas empat komponen utama secara berurutan yang
dikenal dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act)

Penentuan kriteria keberhasilan atau biasa disebut indikator keberhasilan dari


suatu rencana kegiatan, perlu dilakukan agar organisasi tahu seberapa jauh program
atau kegiatan yang direncanakan tersebut berhasil atau tercapai. Model IOWA diawali
dengan adanya trigger atau masalah. Trigger bisa berupa knowledgefocus atau problem
focus. Jika masalah yang ada menjadi prioritas organisasi, maka baru dibentuklah tim.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Konsep Teoritis Penjaminan Mutu ?
2. Apa Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu ?
3. Apa Kualitas Pelayanan (TQM) ?
4. Apa Penilaian Kinerja Perawat ?
5. Apa Konsep Teoritis Berbasis Bukti (Evidence Based Practice) ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang Konsep Teoritis Penjaminan Mutu
2. Untuk mengetahui tentang Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan
Mutu
3. Untuk mengetahui tentang Kualitas Pelayanan (TQM)
4. Untuk mengetahui tentang Penilaian Kinerja Perawat
5. Untuk mengetahui tentang Konsep Teoritis Berbasis Bukti (Evidence Based
Practice)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teoritis Penjaminan Mutu

Penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu


pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan
pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Khusus Pelayanan Kesehatan
Penjaminan mutu pelayanan kesehatan adalah proses penetapan dan pemenuhan
standar mutu pengelolaan pelayanan kesehatan secara konsisten dan berkelanjutan,
sehingga stakeholders memperoleh kepuasan. (Suryadi,2009)

B. Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu

Komite keperawatan memiliki tujuan untuk mewujudkan profesionalisme


dalam pelayanan keperawatan, memberikan masukan kepada pimpinan rumah sakit
berkaitan dengan profesionalisme perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan,
menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan penerapan disiplin dan etik
keperawatan serta meningkatakan mutu pelayanan keperawatan.

Peran komite keperawatan dalam pengawasan mutu adalah sebagai berikut:

1. Memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan profesi keperawatan melalui


kegitan terorganisasi.
2. Mempertahankan pelayanan keperawatan berkualitas dan aman bagi pasien.
3. Menjamin tersedianya perawat yang kompeten, etis sesuai dengan kewenangannya.
4. Menyelesaikan masalah keperawatan yang terkait dengan disiplin, etik dan moral
perawat.
5. Melakukan kajian berbagai aspek keperawatan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan.
6. Menjamin diterapkannya standar praktik, asuhan dan prosedur keperawatan.
7. Membangun dan membina hubungan kerja tim di dalam rumah sakit.
8. Merancang, mengimplementasikan serta memantau dan menilai ide – ide baru.
9. Mengkomunikasikan, mendidik, negosiasi dan merekomendasikan hasil kinerja
perawat untuk pengembangan karir. (Ayun,2014)

C. Kualitas Pelayanan (TQM)


1. Definisi TQM
Total QualityManagement adalah kualitas menjadi hal utama yang
menjadi titik fokus setiap perusahaan. Berbagai hal dilakukan untuk
meningkatkan kualitas yang diterapkan pada produk, pelayanan dan manajemen
perusahaan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, lahirlah suatu
inovasi yang dikenal dengan TQM. Menurut Tjiptono& Anastasia (2003) TQM
merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.
Dalam kualitas pelayanan yang baik, terdapat beberapa jenis kriteria
pelayanan, antara lain adalah sebagai berikut :

a) Ketepatan waktu pelayanan, termasuk didalamnya waktu untuk menunggu


selama transaksi maupun proses pembayaran. 
b) Akurasi pelayanan, yaitu meminimalkan kesalahan dalam pelayanan
maupun transaksi. 
c) Sopan santun dan keramahan ketika memberikan pelayanan. 
d) Kemudahan mendapatkan pelayanan, yaitu seperti tersedianya sumber daya
manusia untuk membantu melayani konsumen, serta fasilitas pendukung
seperti komputer untuk mencari ketersediaan suatu produk. 
e) Kenyaman konsumen, yaitu seperti lokasi, tempat parkir, ruang tunggu
yang nyaman, aspek kebersihan, ketersediaan informasi, dan lain
sebagainya
2. Dimensi Kualitas Pelayanan
a) Tangibles
Tangibles adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan untuk
menampilkan yang terbaik bagi pelanggan. Baik dari sisi fisik tampilan
bangunan, fasilitas, perlengkapan teknologi pendukung, hingga penampilan
karyawan.
b) Reliability
Reliability adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan
yang sesuai dengan harapan konsumen terkait kecepatan, ketepatan waktu,
tidak ada kesalahan, sikap simpatik, dan lain sebagainya.

c) Responsiveness
Responsiveness adalah tanggap memberikan pelayanan yang cepat atau
responsif serta diiringi dengan cara penyampaian yang jelas dan mudah
dimengerti.
d) Assurance
Assurance adalah jaminan dan kepastian yang diperoleh dari sikap sopan
santun karyawan, komunikasi yang baik, dan pengetahuan yang dimiliki,
sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya pelanggan.
e) Empati
Empati adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat pribadi kepada
pelanggan, hal ini dilakukan untuk mengetahui keinginan konsumen secara
akurat dan spesifik.
3. Prinsip - Prinsip TQM
Prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar
sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.
Pendapat lain dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan
Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c.,
A.P.U. dalam bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan
bahwa TQM merupakan suatu konsep yang berupaya, melaksanakan sistem
manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu, diperlukan perubahan besar dalam
budaya dan sistem nilai suatu organisasi. ada empat prinsip utama dalam TQM,
yaitu :
a) Kepuasan Pelanggan Dalam Total Quality Management, konsep mengenai
kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian
dengan spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh
pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala
aspek, termasuk dalam harga, keamanan, dan ketepatan waktu.
b) Respek terhadap setiap orang. Dalam perusahaan berkualitas, setiap
karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas
yang khas. Dengan demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi
yang paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi
diperlukan dengan baik dan diberikan kesempatan untuk terlibat dan
berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
c) Manajemen berdasarkan fakta. Perusahaan kelas berkualitas berorientasi
pada fakta, maksudnya bahwa setiap keputusan selalu didasarkan pada data,
bukan sekedar pada perasaan. Ada dua konsep pokok yang berkaitan
dengan hal ini: 
1) Prioritas, yakni suatu konsep yang menyatakan bahwa perbaikan tidak
dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan,
mengingat keterbatasan sumber daya yang ada; 
2) Variasi atau variabilitas kinerja manusia, variasi/variabilitas
(keragaman) kinerja/kemampuan dari setiap anggota merupakan bagian
yang wajar dari setiap sistem organisasi. Maksudnya, setiap perbedaan
yang terjadi dikaji, kemudian ditetapkan langkah/kebijakan yang paling
sesuai untuk diterapkan. Dengan demikian, manajemen dapat
memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang
dilakukan.
d) Perbaikan yang berkesinambungan. Agar dapat sukses, setiap perusahaan
perlu melakukan proses sistematis dalam melaksanakan perbaikan secara
berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCAA
(plan-do-check-act-analyze), yang terdiri dari langkah-langkah
perencanaan, dan melakukan tindakan koreksi terhadap hasil yang
diperoleh.
4. Metode Total Quality Management
Pembahasan mengenai metode TQM difokuskan pada tiga pakar utama
yang merupakan pelopor dalam pengembangan TQM. Mereka adalah W.
EdwardsDeming, Joseph M. Juran, dan Philip B. Crosby.
Penjelasan selengkapnya dijelaskan Nasution (2004), sebagai berikut :
a) Metode W. Edwards Deming
Selama ini Deming dikenal sebagai Bapak gerakan TQM. Deming
mencatat kesuksesan dalam memimpin revolusi kualitas di Jepang, yaitu
dengan memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan masalah dan
pengendalian proses statistic (statisticalprocesscontrol = SPC). Deming
menganjurkan penggunaan SPC agar perusahaan dapat membedakan
penyebab sistematis dan penyebab khusus dalam menangani kualitas. Ia
berkeyakinan bahwa perbedaan atau variasi merupakan suatu fakta yang
tidak dapat dihindari dalam kehidupan industri.
Siklus Deming (DemingCycle), Siklus ini dikembangkan untuk
menghubungkan antara operasi dengan kebutuhan pelanggan dan
memfokuskan sumber daya semua bagian dalam perusahaan (riset, desain,
operasi, dan pemasaran) secara terpadu dan sinergi untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan (Ross, 1994: 237). Siklus Deming adalah model
perbaikan berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edward Deming
yang terdiri atas empat komponen utama secara berurutan yang dikenal
dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act)
b) Metode Joseph M. Juran
Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok / sesuai untuk digunakan
(fitnessforuse), yang mengandung pengertian bahwa suatu barang atau jasa
harus dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para pemakainya. Satu
kontribusi Juran yang paling terkenal adalah Juran’sThree Basic
StepstoProgress, diantaranya :
1) Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang
dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2) Mengadakan program pelatihan secara luas. c.Membentuk komitmen
dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih tinggi.
c) Metode Philip B. Crosby
Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero defect dan pencegahan.
Dalil manajemen kualitas menurut Crosby adalah sebagai berikut :
1) Definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan. Pada awalnya
kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebagusan atau kebaikan
(goodness). Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan
secara spesifik baik / bagus itu bagaimana. Definisi kualitas menurut
Corsby adalah memenuhi atau sama dengan persyaratan
(conformancetorequirements). Kurang sedikit saja dari persyaratannya
maka suatu barang atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan
tersebut dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan
organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah, teknologi, serta pasar atau
persaingan.
2) Sistem Kualitas adalah pencegahan. Pada masa lalu, sistem kualitas
adalah penilaian (appraisal). Suatu produk dinilai pada akhir proses.
Penilaian akhir ini hanya menyatakan bahwa apabila baik, maka akan
diserahkan kepada distributor, sedangkan bila buruk akan disingkirkan.
Penilaian seperti ini tidak menyelesaikan masalah, karena yang buruk
akan selalu ada. Maka dari itu, sebaiknya dilakukan pencegahan dari
awal sehingga output-nya dijamin bagus serta hemat biaya dan waktu.
Dalam hal ini dikenal thelawoftens. Maksudnya, bila kita menemukan
suatu kesalahan di awal proses, biayanya cuma satu rupiah. Akan tetapi,
bila ditemukan di proses kedua, maka biayanya menjadi 10 rupiah. Atas
dasar itulah sistem kualitas menurut Corsby merupakan pencegahan.
3) Kerusakan Nol (zero defect) merupakan standar kinerja yang harus
digunakan
Konsep yang berlaku di masa lalu, yaitu konsep mendekati
(closeenoughconcept), misalnya efisiensi mesin mendekati 95 persen.
Namun, coba dihitung berapa besarnya inefisiensi 5 persen bila
dikalikan dengan penjualan. Bila diukur dalam rupiah, maka baru
disadari besar sekali nilainya. Orang sering terjebak dengan nilai
persentase, sehingga Crosby mengajukan konsep kerusakan nol, yang
menurutnya dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu dengan
benar sejak pertama proses dan setiap proses.

D. Penilaian Kinerja Perawat

Penilaian kinerja disebut juga sebagai performanceappraisal,


performanceevaluation, developmentreview, performancereviewanddevelopment.
Penilaian kinerja merupakan kegiatan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, penilaian kinerja
harus berpedoman pada ukuran–ukuran yang telah disepakati bersama dalam standar
kerja (Usman,2011)

Penilaian kinerja perawat merupakan mengevaluasi kinerja perawat sesuai


dengan standar praktik professional dan peraturan yang berlaku. Penilaian kinerja
perawat merupakan suatu cara untuk menjamin tercapainya standar praktek
keperawatan. Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh
manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas. Proses
penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai,
dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi.
Perawat manajer dapat menggunakan proses operasional kinerja untuk mengatur arah
kerja dalam memilih, melatih, membimbing perencanaan karier serta memberi
penghargaan kepada perawat yang berkompeten (Nursalam,2008).

Menurut Nursalam (2008) manfaat dari penilaian kerja yaitu:

1. Meningkatkan prestasi kerja staf secara individu atau kelompok dengan


memberikan kesempatan pada mereka untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri
dalam kerangka pencapaian tujuan pelayanan di rumah sakit.
2. Peningkatan yang terjadi pada prestasi staf secara perorangan pada gilirannya akan
mempengaruhi atau mendorong sumber daya manusia secara keseluruhannya.
3. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan meningkatkan hasil
karya dan prestasi dengan cara memberikan umpan balik kepada mereka tentang
prestasinya.
4. Membantu rumah sakit untuk dapat menyusun program pengembangan dan
pelatihan staf yang lebih tepat guna, sehingga rumah sakit akan mempunyai tenaga
yang cakap dan trampil untuk pengembangan pelayanan keperawatan dimasa
depan.
5. Menyediakan alat dan sarana untuk membandingkan prestasi kerja dengan
meningkatkan gajinya atau sistem imbalan yang baik.
6. Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staf untuk mengeluarkan
perasaannya tentang pekerjaannya atau hal lain yang ada kaitannya melalui jalur
komunikasi dan dialog, sehingga dapat mempererat hubungan antara atasan dan
bawahan.

Nursalam, (2008) standar pelayanan keperawatan adalah pernyataan deskriptif


mengenai kualitas pelayanan yang diinginkan untuk menilai pelayanan keperawatan
yang telah diberikan pada pasien. Tujuan standar keperawatan adalah meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan, mengurangi biaya asuhan keperawatan, dan melindungi
perawat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas dan melindungi pasien dari tindakan
yang tidak terapeutik. Dalam menilai kualitas pelayanan keperawatan kepada klien
digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan. Standar praktek keperawatan telah di jabarkan oleh
PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesi) (2000) yang mengacu dalam tahapan
proses keperawatan yang meliputi: (1) Pengkajian; (2) Diagnosa keperawatan; (3)
Perencanaan; (4) Implementasi; (5) Evaluasi.

1. Standar Satu: Pengkajian Keperawatan


Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara sistematis,
menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian
keperawatan, meliputi:
a) Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, observasi, pemeriksaan
fisik serta dari pemeriksaan penunjang.
b) Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang yang terkait, tim kesehatan,
rekam medis, dan catatan lain.
c) Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:
1) Status kesehatan klien masa lalu
2) Status kesehatan klien saat inI
3) Status biologis-psikologis-sosial-spiritual
d) Respon terhadap terapi
e) Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal
f) Resiko-resiko tinggi masalah
2. Standar Dua: Diagnosa Keperawatan
Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan dignosa keperawatan.
Adapun kriteria proses:
a) Proses diagnosa terdiri dari analisa, interpretasi data, identifikasi masalah klien,
dan perumusan diagnosa keperawatan.
b) Diagnosa keperawatan terdiri dari: masalah (P), Penyebab (E), dan tanda atau
gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).
c) Bekerjasama dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk memvalidasi
diagnosa keperawatan.
d) Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data terbaru.
3. Standar Tiga: Perencanaan Keperawatan
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan
meningkatkan kesehatan klien. Kriteria prosesnya, meliputi:
a) Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan, dan rencana
tindakan keperawatan.
b) Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
c) Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
d) Mendokumentasi rencana keperawatan.
4. Standar Empat: Implementasi
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana
asuhan keperawatan. Kriteria proses, meliputi:
a) Bekerja sama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
b) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
c) Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien.
d) Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep
keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang
digunakan.
e) Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan
respon klien.
5. Standar Lima: Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam
pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Adapun kriteria
prosesnya:
a) Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif, tepat
waktu dan terus menerus.
b) Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukut perkembangan ke
arah pencapaian tujuan.
c) Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat.
d) Bekerja sama dengan klien keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan
keperawatan.
e) Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.

E. Konsep Teoritis Berbasis Bukti (Evidence Based Practice)


1. Konsep Evidence Based Practice
Evidence Based Practice (EBP) adalah proses penggunaan bukti-bukti
terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan guna pembuatan keputusan
klinik dalam merawat individu pasien. Dalam penerapan EBP harus memenuhi
tiga kriteria yaitu berdasar bukti empiris, sesuai keinginan pasien, dan adanya
keahlian dari praktisi.
 Tujuan EBP

Tujuan utama di implementasikannya evidance based practice di dalam

praktek keperawatan adalah untuk meningkatkan kualitas perawatan dan

memberikan hasil yang terbaik dari asuhan keperawatan yang diberikan.

Selain itu juga, dengan dimaksimalkannya kualitas perawatan tingkat

kesembuhan pasien bisalebih cepat dan lama perawatan bisa lebih pendek

serta biaya perawatan bisa ditekan (Madarshahian et al., 2012). Dalam


rutinititas sehari-hari para tenaga kesehatan profesional tidak hanya

perawat namun juga ahli farmasi, dokter, dan tenaga kesehatan profesional

lainnya sering kali mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang

muncul ketika memilih atau membandingkan treatment terbaik yang akan

diberikan kepada pasien/klien, misalnya saja pada pasien post operasi

bedah akan muncul pertanyaan apakah teknik pernapasan relaksasi itu

lebih baik untuk menurunkan kecemasan dibandingkan dengan cognitive

behaviour theraphy, apakah teknik relaksasi lebih efektif jika

dibandingkan dengan teknik distraksi untuk mengurangi nyeri pasien ibu

partum kala 1 (Mooney, 2012).

 Komponen kunci EBP

Evidence atau bukti adalah kumpulan fakta yang diyakini kebenarannya.

Evidence atau bukti dibagi menjadi 2 yaitu eksternal evidence dan internal

evidence. Bukti eksternal didapatkan dari penelitian yang sangat ketat dan

dengan proses atau metode penelitian ilmiah. Pertanyaan yang sangat

penting dalam mengimplementasikan bukti eksternal yang didapatkan dari

penelitian adalah apakah temuan atau hasil yang didapatkan didalam

penelitian tersebut dapat diimplementasikan kedalam dunia nyata atau

dunia praktek dan apakah seorang dokter atau klinisi akan mampu

mencapai hasil yang sama dengan yang dihasilkan dalam penelitian

tersebut. Berbeda dengan bukti eksternal bukti internal merupakan hasil

dari insiatif praktek seperti manajemen hasil dan proyek perbaikan

kualitas (Melnyk & Fineout, 2011).


1) Model EvidenceBasedPractice
a) Model Stetler
Model Stetler dikembangkan pertama kali tahun 1976 kemudian
diperbaiki tahun 1994 dan revisi terakhir 2001. Model ini terdiri dari 5
tahapan dalam menerapkan Evidence Base PracticeNursing.
1. Tahap persiapan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah atau
isu yang muncul, kemudian menvalidasi masalah dengan bukti atau
landasan alasan yang kuat.
2. Tahap validasi. Tahap ini dimulai dengan mengkritisi bukti atau
jurnal yang ada (baik bukti empiris, non empiris, sistematik review),
kemudian diidentifikasi level setiap bukti menggunakan table “level
ofevidence”. Tahapan bisa berhenti di sini apabila tidak ada bukti
atau bukti yang ada tidak mendukung.
3. Tahap evaluasi perbandingan/ pengambilan keputusan. Pada tahap
ini dilakukan sintesis temuan yang ada dan pengambilan bukti yang
bisa dipakai. Pada tahap ini bisa muncul keputusan untuk melakukan
penelitian sendiri apabila bukti yang ada tidak bisa dipakai.
4. Tahap translasi atau aplikasi. Tahap ini memutuskan pada level apa
kita akan melakukan penelitian (individu, kelompok,organisasi).
Membuat proposal untuk penelitian, menentukan strategi untuk
melakukan diseminasi formal dan memulai melakukan pilot projek.
5. Tahap evaluasi. Tahap evaluasi bisa dikerjakan secara formal
maupun non formal, terdiri atas evaluasi formatif dan sumatif, yang
di dalamnya termasuk evaluasi biaya.
b) Model IOWA
Model IOWA diawali dengan adanya trigger atau masalah.
Trigger bisa berupa knowledgefocus atau problem focus. Jika masalah
yang ada menjadi prioritas organisasi, maka baru dibentuklah tim. Tim
terdiri atas dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain yang tertarik dan
paham dalam penelitian. Langkah berikutnya adalah minsintesis bukti-
bukti yang ada.Apabila bukti yang kuat sudah diperoleh, maka segera
dilakukan uji coba dan hasilnya harus dievaluasi dan didiseminasikan.
c) Model konseptual Rosswurm&Larrabee
Model ini disebut juga dengan model Evidence Based Practice Change
yang terdiri dari 6 langkah yaitu :
Tahap 1 :mengkaji kebutuhan untuk perubahan praktis
Tahap 2 : tentukkanevidence terbaik
Tahap 3 : kritikal analisis evidence
Tahap 4 : design perubahan dalam praktek
Tahap 5 : implementasi dan evaluasi perunbahan
Tahap 6 : integrasikan dan maintain perubahan dalam praktek
Model ini menjelaskan bahwa penerapan EvidenceBasedNursing
ke lahan paktek harus memperhatikan latar belakang teori yang ada,
kevalidan dan kereliabilitasan metode yang digunakan, serta
penggunaan nomenklatur yang standar.
2. Pentingnya Evidence Based Practice
Mengapa EBP penting untuk praktik keperawatan :
a) Memberikan hasil asuhan keperawatan yang lebih baik kepada pasien
b) Memberikan kontribusi perkembangan ilmu keperawatan
c) Menjadikan standar praktik saat ini dan relevan
d) Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
e) Mendukung kebijakan dan rosedur saat ini dan termasuk menjadi penelitian
terbaru
f) Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat penting untuk
meningkatkan kualitas perawatan pada pasien.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut Tjiptono& Anastasia (2003) TQM merupakan suatu pendekatan dalam
menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya. Tangibles
adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan untuk menampilkan yang terbaik bagi
pelanggan. Baik dari sisi fisik tampilan bangunan, fasilitas, perlengkapan teknologi
pendukung, hingga penampilan karyawan.
Prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu;
Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen. Pendapat lain dikemukakan oleh
Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh
Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu
Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan suatu konsep yang berupaya, melaksanakan
sistem manajemen kualitas kelas dunia.
Planning of Action (POA) atau disebut juga Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
merupakan sebuah proses yang ditempuh untuk mencapai sasaran kegiatan. Rencana kegiatan
dapat memiliki beberapa bentuk, antara lain: Rangkaian sasaran yang lebih spesifik dengan
jangka waktu lebih pendek, Rangkaian kegiatan yang saling terkait akibat dipilihnya
alternatif pemecahan masalah, Rencana kegiatan yang memiliki jangka waktu spesifik,
kebutuhan sumber daya yang spesifik, dan akuntabilitas untuk setiap tahapannya.

B. Saran
Penulis berharap semoga penyusunan resume tentang Konsep Teoritis Penjaminan
Mutu Asuhan Keperawatan ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang
pendidikan dan praktik keperawatan. Dan juga dengan resume ini dapat menjadi acuan untuk
mahasiswa dan pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Ayun, Q., 2014. Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu dan Audit
Keperawatan

Nasution, M., 2004. Manajemen Mutu Terpadu (Total QualityManagement), Jakarta: Ghalia
Indonesia.

Tjiptono, F. & Anastasia, D., 2003. Total Quality Management Edisi Kedu., Yogyakarta:
Andi Offset

Utami, P., 2012. Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang Dengan
Kinerja Perawat Pelaksana Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan Di Ruang
Rawat Inap RSUD Kota Semarang. UNIMUS

Yuan, H., 2016. PlanningOfAction (POA) & Implementasi Manajemen Keperawatan.