Anda di halaman 1dari 4

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS ANGKATAN VII, VIII, dan IX a


Angkatan : VIII
Nama Mata Pelatihan : Anti Korupsi
Nama : Gaby Giovanni Putri, S.Pd
Nomor Daftar Hadir : 16
Lembaga Penyelenggaraan Pelatihan : PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

A. Pokok Pikiran
Corruptio berasal dari Bahasa latin yang berarti kerusakan, kebobrokan, dan kebusukan.
Korupsi adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dapat merugikan sehingga perlu dilakukan
pencegahan dan harus ditindak secara tegas. Menurut UU 31 tahun 1999 yang diperbaharui
menjadi UU nomo 20 tahun 2001, korupsi adalah perbuatan untuk memperkaya diri sendiri
atau korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah kegiatan yang secara melawan hukum
merugikan negara untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi sehingga dapat
dikatakan perbuatan tindak pidana. Sedangkan tindak pidana adalah suatu perbuatan yg
diancam dengan pidana oleh undang-undangm bertentangan dengan hukum, dilakukan dengan
kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung-jawab. Korupsi menyebabkan kerusakan
baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, & kehidupan yg lebih luas,
berlangsung dalamkurun waktu yang panjang.

7 Jenis Korupsi :
 Korupsi Transaktif
Korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal balik antara pemberi dan penerima,
demi keuntungan bersama. Kedua pihak sama-sama aktif menjalankan perbuatan tersebut.
 Korupsi Ekstroaktif
Korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk koersi (tekanan) tertentu dimana pihak pemberi
dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang mengancam diri, kepentingan, orang-
orangnya, atau hal-hal yang dihargai.
 Korupsi Investif
Korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung
dengan keuntungan bagi pemberi. Keuntungan diharapkan akan diperoleh di masa yang akan
datang.
 Korupsi Nepotistik
Korupsi berupa pemberian perlakuan khusus kepada teman atau yang mempunyai kedekatan
hubungan dalam rangka menduduki jabatan publik.
 Korupsi Autogenik
Korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai kesempatan untuk mendapat keuntungan
dari pengetahuan dan pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahui sendiri
 Korupsi Suportif
Korupsi yang mengacu pada penciptaan suasana yang kondusif untuk melindungi atau
mempertahankan keberadaan tindak pidana korupsi yang lain.
 Korupsi Defensif
Korupsi yang terpaksa dilakukan dalam rangka mempertahankan diri dari pemerasan

KELOMPOK TINDAK PIDANA KORUPSI


Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7 :
(1) Kerugian keuangan negara, (2)Suap-menyuap, (3) Pemerasan, (4) Perbuatan Curang,
(5) Penggelapan dalam Jabatan, (6) Benturan Kepentingan dalam Pengadaan, (7) Gratifikasi.

Kesadaran anti korupsi memuncak pada spiritual accountability (sadar nilai-nilai


keTuhanan & memahami hakikat kehidupannya – primordial covenant); Tuhan yg
menciptakan kehidupan, memberikan amanah pada manusia, & akan meminta pertanggung-
jawaban kelak.

Nilai Dasar Anti Korupsi :


(1) Jujur (6) Kerja Keras
(2) Peduli (7) Sederhana
(3) Mandiri (8) Berani
(4) Disiplin (9) Adil.
(5) Tanggung Jawab

Penanaman Nilai Integritas


Konsep Tunas Integritas memastikan tersedianya manusia yang senantiasa melakukan
upaya peningkatan integritas diri & lingkungannya dengan membangun sistem yang kondusif;
mampu menyelaraskan rohani & jasmani; selaras dalam semua elemen (jiwa, pikiran, perasaan,
ucapan, & tindakan); sesuai nurani (kebaikan universal); terbentuk perilaku integritas yg
selaras dgn berbagai situasi & lingkungan (sistem & budaya).
Peran Tunas Integritas :
1) Menjadi jembatan masa depan kesuksesan organisasi
2) Berpartisipasi aktif membangun sistem integritas;
3) Peluang korupsi ditutup
4) Mempengaruhi orang lain untuk berintegritas tinggi.

Tunas integritas diharapkan memiliki kemmapuan re-framing kultur/budaya yaitu


mengembalikan budaya dengan cara memutuskan generasi yang tidak sesuai untuk
dikembalikan seperti semula tau menjadi lebih baik. Utilisasi fenomena perilaku otomatis
dimulai dari perubahan diri, keluarga, organisasi dan bangsa dengan menciptakan peradaban
yang lebih baik.

B. Penerapan
Penerapan konsep anti korupsi pada Sekolah Dasar.
Sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan pencetak calon – calon pempimpin masa depan
memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pendidikan karakter terutama mengenai
anti korupsi bagi siswanya. Penerapan budaya anti korupsi pada sekolah dasar dilaksanakan
sesuai dengan aturan dan sistem pembelajaran di sekolah. Berikut ini beberapa kegiatan untuk
menumbuhkan budaya anti korupsi:
1. Pendidikan dan Pengajaran
Guru memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mewujudkan dan menumbuhkan budaya anti
korupsi. Dapat terlihat dari ketauladanan para guru untuk bersikap jujur, tegas, dan displin
kepada siswa. Guru dapat memberi contoh cara berpakaian yang baik, konsisten dalam hal
pemenuhan jam kehadiran dalam pembelajaran. Menghilangkan budaya diberi bingkisan atau
hadiah oleh orang tua siswa karena hal tersebut merupakan cikal bakal sikap korupsi, kolusi,
dan nepotisme. Sebagai guru kita harus berikap merasa cukup dengan rezeki yang diberikan
Allah, baik itu gaji dan honor yang diterima. Guru juga harus menjunjung tinggi integritas
ilmiah dengan tegas memberi hukuman ketika ada siswa yang mencontek saat ujian,
melakukan plagiat dalam mengerjakan tugas sekolah. Dan sebaliknya memberikan
penghargaan kepada siswa yang berprestasi dan jujur untuk memicu siswa untuk berlomba
dalam meningkatkan prestasi dan kejujuran.
2. Penelitian dan pengabdian pada masyarakat
Pada proses pengajuan usulan kenaikan Jabatan fungsional guru, mengharuskan adanya
beberapa bukti penelitian baik itu dari jurnal, prosiding, maupun artikel yang dimuat pada
media massa. Sikap anti korupsi perlu senantiasa ditegakkan dalam proses tersebut. Tidak
sedikit guru yang mencuri karya tulis teman sejawatnya, memanfaatkan data dan hasil analisis
siswa nya untuk diakui sebagai karyanya sendiri. Sebagai guru kegiatan tersebut tidak patut
dilakukan demi menjunjung etika dan moral dalam pelaksanaan Pendidikan. Sedangkan pada
bidang pengabdian pada masyarakat guru dengan dukungan sekolah dasar harus senantiasa
melakukan pembekalan kepada siswa, dan masyarakat dengan rutin melaksanakan kegiatan
sosialisasi, seminar, atau proses pembelajaran mengenai dampak yang ditimbulkan dari korupsi
bagi bangsa dan negara.

Anda mungkin juga menyukai