Anda di halaman 1dari 4

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS ANGKATAN VII, VIII, dan IX a


Angkatan : VIII
Nama Mata Pelatihan : NASIONALISME
Nama : Gaby Giovanni Putri, S.Pd
Nomor Daftar Hadir : 16
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

A. Pokok Pikiran

Nasionalisme merupakan implementasi rasa cinta kita sebagai rakyat Indonesia terhadap
bangsa dan negara yang didasari pada nilai-nilai Pancasila. Sebagai ASN kita harus memiliki
rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat, yang kemudian diaktualisasikan ke
dalam fungsi dan tugas kita yang didasari Pancasila dan UUD 1945. Sehingga diharapkan
Nasionalisme dapat menjadikan kita sebagai ASN yang berorientasi pada kepentingan publik,
bangsa, negara, dan menghindari pemikiran yang mementingkan kepentingan pribadi atau
golongan.

Nilai dasar nasionalisme sebagai ASN yang menerapkan Pancasila sebagai dasar dalam
menjalankan tugasnya dibagi menjadi lima sesuai dengan jumlah sila dari Pancasila.

1. Sila ketuhanan yang maha esa memiliki nilai religious, toleran, transparan, etos kerja,
tanggung jawab, amanah, dan percaya diri.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab memiliki nilai humanis, tenggang rasa,
persamaan derajat, saling menghormati, tidak diskriminatif.
3. Sila persatuan Indonesia memiliki nilai cinta tanah air, rela berkorban, menjaga
ketertiban, mengutamakan kepentinngan public, dan gotong royong.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan memiliki nilai musyawarah mufakat, kekeluargaan, menghargai pendapat,
dan bijaksana.
5. Sila keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia memiliki nilai bersikap adil, tidak
serakah, tolong menolong, kerja keras, dan sederhana.
Sebagai ASN, nasionalisme diaktualisasikan sesuai dengan fungsi dan tugas antara lain pada
ranah berikut:

1.    Kebijakan public


Sebagai ASN, kita harus memiliki nilai kepublikan yang memiliki orientasi pada kepentingan
public, menempatkan kepentingan public, bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya serta
kepentingan nasional diatas kepentingan sectoral atau golongan
2.    Pelayanan public
Sebagai ASN kita harus memiliki integritas tinggi dalam melayani yang disesuaikan dengan
kode etink ASN. Bersikap adil, tidak diskriminatid, professional dan berintegritas dalam
memberkan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu ASN harus menjunjung tinggi nilai-nilai
kejujuran, keadilan, tidak korupsi, transparan, akuntabel, dan memiliki kinerja yang
memuaskan public.
3.    Sebagai Perekat dan Pemersatu bangsa
Sebagai ASN kita harus memiliki rasa nasionalisme yang kuat, memiliki kesadaran yang tinggi
untuk menjaga kedaulatan negara dan pemersatu bangsa serta mengupayakan sutuasi yang
damai di seluruh Indonesia dan terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Profil Tokoh
Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Indonesia. Sebelum berkarier di Indonesia bapak
B.J. Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang di
Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule Jerman. Ia pun menerima gelar Diplom Ingenieur
pada 1960 dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cumlaude dari
Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Beliau menemukan
rumus yang dinamakan "Faktor Habibie" karena bisa menghitung keretakan atau krack
propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Sehingga beliau pun dijuluki
"Mr Crack" karena keahliannya itu.
Ada banyak pelajaran terkait nasionalisme dan cinta tanah air dari beliau. Kecerdasan, totalitas
dan tanggung jawab terhadap negara rupanya tidak hanya terlihat saat berada di Indonesia.
Sebelum Indonesia sadar akan potensinya, beliau sudah beberapa kali ditawari oleh beberapa
negara lain untuk menggalakkan teknologi pesawat terbang. Tawaran pertama datang datang
dari Jerman. Jerman yang saat itu tahu Pak Habibie bukan orang biasa, langsung saja
menawarinya dengan status 'warga negara kehormatan'. Bukannya senang dengan status yang
jarang diberikan Jerman, beliau justru menolak. Karena rasa nasionalisme beliau yang tinggi,
beliau tetap memilih pulang ke Indonesia untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan
negaranya.
walaupun beliau tidak mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia ketika melanjutkan
studi di Jerman.  Ada banyak terobosan dan sumbangsih yang beliau buat sejak di Indonesia,
salah satunya ketika memegang jabatan Menteri riset dan teknologi. Beliau berhasil membuat
pesawat terbang N250 yang ditujukan sebagai alat transportasi utama di Indonesia yang
merupakan negara kepulauan, walaupun cita-cita tersebut tidak kesampaian karena adanya
krisis moneter tahun 1998.

B.    Penerapan
Penerapan Nasionalisme dalam Proses KBM :
Sebagai guru yang memberikan pembelajaran Moral dan penanaman karakter di sekolah, nilai
– nilai nasionalisme secara utuh dapat diterapkan mulai dari sikap nasionalisme yang didasari
penerapan sila pertama sampai sila kelima. Walapun dalam proses pembelajaran lebih
mengutamakan kompetensi keilmuan, di satu sisi siswa juga perlu ditanamkan nilai-nilai
nasionalisme. Sehingga setelah pelaksanaan pembelajaran ini selesai, siswa dapat menguasai
ilmu yang sesuai dengan bidang ilmunya, siswa juga memiliki jiwa nasionalisme. Adapun
pelaksanaan pembelajaran untuk mengimplementasikan nilai nasionalisme dilaksanakan
dengan langkah-langkah berikut:

1. Pengamalan nilai Pancasila sila pertama yaitu setiap membuka pembelajaran diawali
dengan berdoa, dan sedikit brainstorming tentang nilai-nilai religious.
2. Penanaman nilai-nilai Pancasila lainnya adalah dengan memberikan pemahaman
kepada siswa bahwa dalam KBM ini, tidak mengedepankan kompetisi melainkan rasa
solidaritas dan persatuan. Contohnya ketika ada siswa yang belum memahami materi
maka siswa lain harus membantu. Selain itu sebagai guru kita harus bersifat demokratis
dan menghindari sikap otoriter selama pelaksanaan pembelajaran.
3. Melakukan penerapan pentingnya nilai-nilai karakter dan moral selama pembelajaran.
siswa diberikan arahan bagaimana memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin. Hal ini
merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran, karena
jangan sampai siswa hanya “pintar” secara keilmuan tetapi memliki attitude yang
kurang, sehingga akan menyebabkan disintegrasi.
4. Penguatan rasa bangga dan cinta kepada tanah air, dengan memberikan brainstorming
mengenai pentingnya kita sebagai siswa mendukung terlaksananya program nasional
yang dicanangkan oleh pemerintah. Selain itu selama pembelajaran, siswa
diperkenalkan dan diarahkan untuk menggunakan produk buatan Indonesia yang
kualitasnya tidak kalah dengan buatan luar negeri.
5. Melakukan proses penilaian terhadap sikap selain penilaian terhadap pengetahuan dan
keterampilan. Sebagai contoh, ketika siswa telah menyelesaikan tugas sekolah dengan
benar, tetapi ketahuan bahwa tugas tersebut merupakan hasil menyontek milik
temannya, maka siswa tersebut harus diberi sanksi sesuai dengan ketentuan dan
peratuaran yang berlaku agar tidak mengulangi perbuatannya.

Anda mungkin juga menyukai