Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI I FA2241

MODUL 5
INFORMASI DASAR UNTUK PRAKTIKUM FARMAKOLOGI I

Tanggal Praktikum : 11 Maret 2020


Tanggal Pengumpulan : 18 Maret 2020

Kelompok 6 (Shift Rabu)


Nama Tugas
Ahda Ilma Shafira ( 10718018 ) tujuan,Pembahasan sensai tekanan, proses
stimulus,mekanisme pengaturan suhu tubuh
dan faktor yang mempengaruhi suhu tubuh,
kesimpulan
Rifdah Rohadatul’aisy ( 10718022 ) tujuan,Pembahasan daya membedakan,
pengaruh aktivitas,ketidakabsolutan
interpretasi suhu, mekanisme demam dan cara
mengatasi, kesimpulan
Ruth Thalia Sunardi ( 10718040 ) Tujuan, Pembahasan antipiretik dan golongan
antipiretik, kesimpulan
Salsabila Aulia Farhati ( 10718058 ) tujuan,Pembahasan adaptasi reseptor
sentuhan, reseptor suhu, after image,
kesimpulan
Nisrina Khairunnisa Ramadhita ( 10718068 ) Tujuan, Pembahasan distribusi reseptor dan
pengertian dan fungsi intergumen, kesimpulan
Natasha Belvani ( 10718100 ) Pendahuluan, metodologi,saran, gambar, data
pengamatan,editor

Asisten Praktikum
Ilhyan Widhy ( 11616003 )

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2020
I. TUJUAN PERCOBAAN

1. Menentukan distribusi reseptor sensasi kulit pada daerah yang berbeda pada kulit
2. Menentukan perbedaan sensasi terhadap intensitas stimulus pada peraba
3. Menentukan pengaruh aktivitas berbaring dan bergerak terhadap suhu tubuh
4. Menentukan kepekaan bagian tubuh dalam merasakan sensasi tekanan
5. Menentukan pengaruh fenomena referred pain terhadap lokasi nyeri yang dirasakan
pada tubuh
6. Menentukan perbedaan waktu adaptasi reseptor terhadap sensasi sentuhan pada
daerah permukaan lengan
7. Menentukan perbedaan adaptasi reseptor terhadap sensasi suhu pada air es (5 oC),
air suhu ruang (25oC), dan air hangat (45oC)
8. Menentukan kemampuan adaptasi reseptor terhadap fenomena afterimage
9. Menentukan urutan efektivitas dari parasetamol, ibuprofen, dan asam mefenamat

II. PENDAHULUAN
Sistem peliput adalah sistem organ yang paling mudah diamati. Penampilan terkadang
ditentukan dari kulit. Jika kulit sudah mengkerut, dikatakan sudah tua. Kulit juga diperlengkapi
dengan berbagai organ-organ sensori. Fungsi kulit antara lain sebagai barier protektif yang
fleksibel dan resisten terhadap penguapan air, sebagai tempat eksresi, menyimpan lemak, dan
tempat berlangsungnya sintesis vitamin D yang berperan dalam mengatur keseimbangan kalsium
dan fosfor dengan bantuan sinar matahari.
Sistem peliput terdiri dari kulit, turunan kulit (kuku, kelenjar, rambut), serta beberapa
reseptor khusus. Kulit terdiri dari dua lapisan utama yaitu epidermis (kutikula) dan dermis (korium
atau kulit sebenarnya). Pada kulit tebal terdapat 5 daerah epidermis yang disusun mulai dari
paling dalam yaitu stratum germinativum, stratum spinosum, stratum granulosum, statum
lusidum, dan stratum korneum.
Dermis sendiri bervariasi dari ketebalannya pada daerah tubuh yang berbeda, misalnya
pada kulit bagian telapak tangan dan kaki merupakan bagian yang paling tebal (5-6mm). Bagian
kulit ini terdiri dari massa jarigan ikat dan serabut-serabut elastik, banyak juga pembuluh darah,
saraf dan pembuluh limfatik juga melewati dermis.
Pelengkap kulit terdapat rambut, kuku dan kelenjar. Ada da kelenjar yang terdapat pada kulit
yaitu kelenjar keringat (sudoriferous) dan kelenjar minyak (sebaseus) yang masing-masing
memiliki fungsi tersendiri.
Sedangkan reseptor yang terdpat pada kulit ada reseptor Meisner, korpusel Pacinian,
reseptor Krause, Ruffini, dan ujung-ujung saraf bebas yang berturut-turut menerima stimulus
sentuhan, tekanan, dingin, panas, dan nyeri.
Pada pengaturan suhu tubuh, dapat dilakukan olahraga yang terbagi menjadi 3 bagian
yaitu pemanasan, latihan inti serta pendinginan. Dalam setiap bagian tersebut terdapat
perbedaan suhu tubuh sesuai dengan energi yang digunakan dan suhu tubuh dimana olahraga
dilakukan. Energi yang digunakan dalam olahraga, disediakan melalui metabolisme aerob yang
artinya hanya maksimal 30% metabolisme aerob yang tak terimbangi oleh daya aerob. Bagian
yang tidak diimbangi ini akan diimbangi pada masa pemulihan setelah olahraga selesai.

III. METODOLOGI
Pada distribusi reseptor sensasi kulit, digambar suatu daerah dengan pada permukaan
lengan bawah dan daerah antara lutut dan mata kaki. Lalu gunakan sikat (untuk sensasi
sentuhan), paku yang dimasukan dalam air es (untuk sensasi dingin), paku yang dimasukan dalam

2
air suhu 40⁰C-50⁰C (untuk sensasi panas), dan jarum (untuk sensasi nyeri) pada 20 titik yang
berbeda. Diberi tanda untuk masing-masing sensai dan jumlahkan lokasi reseptornya.
Pada sensasi tekanan, digunakan ujung pensil dan ditekan cukup kuat pada daerah ujung
jari, telapak tangan, punggung tangan, tangan atas bagian dalam, dan tengkuk sampai ada
bekasnya. Dilokasikan tekanan ini dan catat jarak antara kedua titik dan dilakukan sebanyak 5 kali
dan dirata-ratakan hasilnya, dan selanjutnya dibandingkan dengan teori.
Pada adaptasi reseptor sentuhan, praktikan disuruh menutup mata dan menempatkan
uang logam pada permukaan ventral lengan dan daerah lain pada bagian lengan, dan diamati
berapa lama sensasi sentuh berlangsung. Setelah sensasi menghilang, ditambahkan lagi uang
logam yang sama di atas mata uang yang pertama dan diamati lamanya sensasi sentuh
berlangsung.
Pada adapatasi reseptor suhu, dicelupkan jari tangan kiri kedalam air es dan jari tangan
kanan ke dalam air hangat selama 2 menit, setelah itu dicelupkan kedua jari kedalam suhu ruang
dan dirasakan sensasinya.
Untuk afterimage, diletakan pensil di belakang telinga antara kepala dan daun telinga dan
catat apa yang dirasakan saat pensil diangkat.
Untuk referred pain, diletakan siku pada air es selama waktu tertentu dan rasakan sensasi
serta dimana lokasi sensasi itu terjadi. Lalu dicatat hasilnya jka terjadi perpindahan lokasi sensasi/
nyeri acuan dirasakan.
Untuk daya membedakan, praktikan diminta menutup mata dan dengan ujung jari serta
lengan bawah dilakukan penilaian terhadap ukuran kekasaran amplas, uang logam, dan kunci.
Sebelum olahraga, dilakukan pencatatan suhu tubuh dan denyut nadi/menit dan
berbaring horizontal dan tempatkan termometer dibawah lidah dan diukur setelah 10 menit.
Setelah itu dilakukan pernafasan lewat mulut selama 2 menit dan dilakukan pengukuran. Lakukan
juga untuk berkumur dengan air es selama 1 menit.
Untuk pengaruh aktivitas, praktikan diminta berlari selama 2-3 menit dan tempatkan
termometer dibawah lidah dan dilakukan pemeriksaan denyut nadi dan pembacaan suhu setelah
10 menit. Hasilnya dibandingkan dengan sebelum dilakukan olahraga.
Pada uji antipiretik, digunakan 15 ekor tikus jantan putih yang dibagi menjadi 5 kelompok
perlakuan yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan diberi 3 jenis obat antipiretik yang
berbeda, 1 kelompok kontrol yang diberi suspending agnet dan induksi pepton, dan 1 kelompok
kontrol blanko yang diberi suspending agent. Suhu rektal normal dari masing-masing tikus diukur
sebelum diberikan obat. Lalu seluruh kelompok tikus pada kelompok yang diberi obat dan
kelompok kontrol negatif disuntuk dengan larutan pepton dan kembali diukur suhunya setelah 2
jam dan 4 jam. Setelah itu 4 kelompok tikus diberikan obat antipiretik yang digunakan yaitu
asetaminofen, ibuprofen, asam mefenamat, dan suspending agent sesuai dosis dan dilakukan
pengukuran kembali pada menit ke-30, 60,90,120,150, dan 180.

IV. PEMBAHASAN
Seluruh tubuh manusia bagian terluar terbungkus oleh suatu sistem yang disebut sebagai
sistem integumen. Sistem integumen adalah sistem organ yang paling luas. Sistem ini terdiri atas
kulit dan aksesorisnya, termasuk kuku, rambut, kelenjar (keringat dan sebaseous), dan reseptor
saraf khusus (untuk stimuli perubahan internal atau lingkungan eksternal). Integumen merupakan
kata yang berasal dari bahasa Latin integumentum, yang berarti “penutup”. Sesuai dengan
fungsinya, organ-organ pada sistem integumen berfungsi menutup organ atau jaringan dalam
manusia dari kontak luar. Sistem integumen terdiri dari organ terbesar dalam tubuh yaitu kulit,
yang melindungi struktur internal tubuh dari kerusakan, mencegah dehidrasi, penyimpanan lemak
dan menghasilkan vitamin dan hormon. Hal ini juga membantu untuk mempertahankan
homeostasis dalam tubuh dengan membantu dalam pengaturan suhu tubuh dan keseimbangan
air.

3
Sistem integumen adalah garis pertama pertahanan tubuh terhadap bakteri, virus dan
mikroba lainnya. Hal ini juga membantu untuk memberikan perlindungan dari radiasi ultraviolet
yang berbahaya. Kulit adalah organ sensorik dalam hal ini memiliki reseptor untuk mendeteksi
panas dan dingin, sentuhan, tekanan dan nyeri. Komponen kulit meliputi rambut, kuku, kelenjar
keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf dan otot. Mengenai
anatomi sistem yang menutupi, kulit terdiri dari lapisan jaringan epitel (epidermis) yang didukung
oleh lapisan jaringan ikat (dermis) dan lapisan subkutan yang mendasari (hypodermis atau
subcutis) (Anderson, 1999; Syaifuddin, 2012; Pearce, 2007; Junqeira & Jose 1980; Sherwood,
2001).
Selain kulit, ada pula rambut dan kuku yang termasuk ke dalam sistem integumen.
Rambut adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit. Rambut muncul dari epidermis (kulit
luar), walaupun berasal dari folikel rambut yang berada jauh di bawah dermis. Serta kuku tumbuh
dari sel mirip gel lembut yang mati, mengeras, dan kemudian terbentuk saat mulai tumbuh dari
ujung jari. Kulit ari pada pangkal kuku berfungsi melindungi dari kotoran. Fungsi utama kuku
adalah melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat saraf, serta mempertinggi daya sentuh.
Kulit mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai berikut:
a. Pelindung atau proteksi.
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringanjaringan
tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruhpengaruh luar seperti
luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan
tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh,
menahan luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh
serta menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari.
b. Penerima rangsang.
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan
dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai
alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi.
c. Pengatur panas atau thermoregulasi.
Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta
melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat
memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,5°C. Ketika terjadi
perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar keringat kulit mengadakan
penyesuaian seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah
salah satu fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang
dengan penguapan keringat.
d. Pengeluaran (ekskresi).
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjarkelenjar keringat
yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat
kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat
tetapi juga melalui penguapan airtransepidermissebagai pembentukan keringat yang
tidak disadari.
e. Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.
f. Penyerapan terbatas.
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam lemak
dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk
melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis.
Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran
kelenjar palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah
kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya.
g. Penunjang penampilan.

4
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus,
putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan Fungsi lain dari kulit yaitu kulit
dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun
konstraksi otot penegak rambut (Anderson, 1999; Syaifuddin, 2012; Pearce, 2007;
Sherwood, 2001).
Pada tubuh kita terdapat beberapa jenis reseptor, yaitu mekanoreseptor (respon
terhadap energi mekanik seperti sentuhan dan tekanan), termoreseptor (respon terhadap
perubahan suhu), nosireseptor (respon terhadap rasa nyeri), kemoreseptor (respon terhadap
stimulus kimia), dan fotoreseptor (respon terhadap cahaya). Mekanoreseptor dibagi menjadi
propioreseptor (respon terhadap perubahan kondisi, contoh pada otot dan sendi), baroreseptor
(respon terhadap tekanan pada arteri), dan tactile receptor (respon terhadap tekanan pada kulit).
Tactile receptor terdiri dari ujung-ujung saraf bebas yang dapat merespon nyeri, dibagi menjadi:
1. Meissner corpuscle, yaitu respon atas sentuhan yang ditemukan pada papila dermis,
khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia.
2. Merkel disk, yaitu respon atas sentuhan ringan yang ditemukan pada lapisan epidermis
kulit.
3. Ruffini endings, yaitu respon atas panas yang ditemukan pada jaringan ikat termasuk
dermis dan kapsula sendi.
4. Pacinian corpuscle, yaitu respon atas tekanan yang ditemukan di jaringan subkutan pada
telapak tangan telapak kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendon, ligamen dan
genetalia eksterna.
5. Krause end bulbs, yaitu respon atas dingin yang ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan
genetalia eksterna), dermis dan berhubungan dengan rambut.

Berdasarkan percobaan yang kami lakukan pada permukaan kulit, dapat diamati bahwa
distribusi reseptor-reseptor sensasi tersebut letaknya bervariasi. Pada anterior lengan bawah,
jumlah reseptor sentuhan (meissner corpuscle) jumlahnya sama dengan jumlah reseptor nyeri
(ujung syaraf bebas). Hal ini tidak sesuai dengan teori, seharusnya jumlah reseptor nyeri akan
lebih banyak karena letak reseptor nyeri lebih dekat ke permukaan kulit. Ketidaksesuaian ini
dapat terjadi karena bulu sikat yang ditekan pada kulit terlalu keras sehingga sentuhannya sangat
terasa. Sedangkan jumlah reseptor dingin (krause end bulbs) lebih banyak dari jumlah reseptor
panas (ruffini endings). Hal ini dikarenakan jumlah reseptor dingin lebih banyak dan lebih dekat
dengan permukaan kulit dibandingkan reseptor panas. Pada daerah antara lutut dan mata kaki,
jumlah reseptor untuk sentuhan, nyeri, dan dingin sama dengan jumlah reseptor pada anterior
lengan bawah, hanya reseptor panas saja yang jumlahnya lebih sedikit. Faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah sensasi yang dirasakan (Jim, 2013), yaitu:

1. Anatomi kulit, jumlah rambut yang lebih banyak cenderung membuat respon terhadap
sensasi menurun.

2. Receptive field, yaitu bagian tubuh yang diberi stimulasi lalu memicu timbulnya aktivitas
mekanoreseptor. Semakin kecil receptive field, maka semakin sedikit daerah yang diperlukan
untuk memberi efek dari mekanoreseptor (tingkat kepekaan lebih besar).

3. Semakin besar bobot badan seseorang umumnya memiliki lapisan kulit yang lebih
tebal, sehingga sensasi dari stimulus yang diberikan akan lebih rendah dari orang yang kurus
karena lapisan kulitnya lebih tipis.

4. Variasi biologis, terdapat beberapa faktor biologis yang menyebabkan tingkat


sensitivitas seseorang menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari orang pada umumnya.

5
Dalam proses interpretasi stimulus, reseptor akan menerima stimulus dan
meneruskannya melalui sel saraf dalam bentuk impuls yang berupa sinyal listrik. Impuls dapat
mengalir melalui serabut saraf disebabkan oleh adanya perbedaan potensial listrik pada bagian
luar dan dalam membran sel saraf. Pada kondisi istirahat, bagian luar membran sel saraf
bermuatan positif, sedangkan bagian dalamnya bermuatan negatif sehingga membran
terpolarisasi. Pada saat impuls mengalir, terjadi pembalikan potensial listrik antara bagian dalam
dan luar membran sel saraf sehingga terjadi depolarisasi membran. Impuls ini kemudian
diteruskan oleh saraf reseptor ke sel saraf sensorik melalui sinapsis. Sinapsis merupakan
pertemuan antara ujung akson suatu sel saraf dengan ujung dendrit sel saraf lain. Penghantaran
impuls antarsel ini diperantarai oleh senyawa kimia yang disebut neurotransmitter. Senyawa ini
dilepaskan oleh sinapsis sebagai pembawa impuls dari suatu sel saraf ke sel saraf lain.
Impuls dari saraf sensorik kemudian diteruskan ke sistem saraf pusat yakni otak. Otak
akan mengolah dan menginterpretasi impuls yang diterima dan memberikan jawaban terhadap
informasi tersebut. Informasi sensorik yang diterima oleh otak disalurkan sesuai dengan lokasi
dan sifat stimulus. Misalnya, sensasi sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu dari reseptor
disalurkan ke korteks sensorik primer. Sedangkan, sensasi visual, auditori, gustatory (rasa), dan
penciuman (bau) disalurkan ke daerah visual, auditori, gustatory, dan olfaktori dari korteks.
Impuls atau sinyal yang sama dari reseptor yang berbeda akan tetap diterima oleh masing-masing
reseptornya. Hubungan spesifik antara reseptor dan sel saraf atau neuron pada korteks otak ini
disebut labeled line. Setiap labeled line terdiri dari akson yang membawa informasi tentang satu
jenis stimulus seperti sentuhan, tekanan, cahaya, suara, dan stimulus lainnya. Stimulus ini
kemudian akan diterima oleh neuron dalam korteks sensorik dan menentukan lokasi dirasakannya
stimulus tersebut. Misalnya, jika sensasi sentuhan dalam labeled line berasal dari reseptor wajah,
maka akan diterima oleh korteks sensorik wajah sehingga sentuhan akan dirasakan di bagian
wajah.
Selain saraf sensorik, pada korteks otak juga terdapat beberapa saraf motorik yang
berfungsi memberikan refleks gerakan terhadap stimulasi yang diberikan. Daerah ini disebut
korteks motorik primer. Korteks motorik primer bekerja langsung mengendalikan neuron motorik
somatik pada batang otak dan sumsum tulang belakang. Korteks motorik primer bekerja secara
spesifik sehingga jika dilakukan rangsangan terhadap neuron motorik tertentu, maka kontraksi
akan dihasilkan pada otot tertentu pula. Misalnya, bagian lengan ditusuk dengan jarum, maka
bagian lengan pula yang akan merespon dengan gerakan.
Hubungan antara suatu rangsang dan tanggapan adalah bentuk hubungan yang rumit.
Apabila rangsang yang diterima oleh tubuh berbeda – beda sehingga tanggapan yang diberikan
dapat berbeda – beda pula. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan
reseptor beradaptasi terhadap rangsang yang diterimanya. Reseptor akan beradaptasi terhadap
rangsang yang diberikan secara terus – menerus dengan cara menurunkan frekuensi
pembentukan dari potensial aksi. Dalam proses beradaptasi terhadap rangsang, kemampuan
reseptor dalam beradaptasi dibagi menjadi dua jenis yaitu reseptor yang dapat beradaptasi
dengan sangat cepat atau disebut adaptasi fasik dan terdapat pula reseptor yang beradaptasi
dengan sangat lambat disebut adaptasi tonik.
Contoh peristiwa dari adaptasi reseptor adalah ketika orang sibuk mencari kacamata
padahal kacamata yang ia cari sedang dipakai. Reseptor yang bekerja pada peristiwa tersebut
adalah mekanoreseptor pada kulit. Hal tersebut dapat terjadi karena tekanan yang diberikan oleh
benda (kacamata) yang dipakai secara terus – menerus akan menghasilkan tanggapan yang
bersifat adaptif sehingga dalam waktu yang singkat tekanan yang ditimbulkan tidak dirasakan lagi.
Adaptasi reseptor tersebut dengan menurunkan frekuensi pembentukan potensial aksi. Reseptor
nyeri/sakit merupakan reseptor yang memiliki kemampuan beradaptasi tonik. Hal tersebut
dikarenakan apabila adaptasi rasa sakit atau nyeri secara cepat maka rasa sakit yang timbul akan
terasa sangat menyakitkan.

6
Pada percobaan yang dilakukan untuk mengetahui adaptasi reseptor terhadap sentuhan
menggunakan mata uang logam dan dihitung waktunya. Pada saat penempelan mata uang logam
1 pada ventral lengan dibutuhkan waktu rata – rata yaitu 43 detik hingga rangsangan sudah tidak
berasa. Waktu tersebut merupakan waktu dimana reseptor dapat beradaptasi dengan tekanan
atau sentuhan yang diberikan pada uang logam. Kemudian, pada saat pemberian logam pada
tumpukan kedua dirasakan kembali tekanan yang diberikan oleh uang logam dengan ukuran dan
massa yang hampir sama. Waktu rata – rata yang dibutuhkan untuk menanggapi rangsang pada
saat penambahan uang logam yang kedua adalah 50 detik. Hal tersebut membuktikan bahwa
adanya tekanan yang semakin besar, maka waktu yang diperlukan reseptor untuk beradaptasi
akan semakin lama. Rangsang berupa sentuhan/tekanan adalah gejala adaptasi fasik atau secara
cepat. Hal tersebut dibuktikan dengan waktu dirasakannya koin logam hingga tidak berasa lagi
maksimal hanya terjadi pada waktu dua menit. Reseptor yang menerima adalah meisner corpulse
(sentuhan) dan paccinian corpulse (tekanan). Cara reseptor beradaptasi saat diberikan sentuhan
mata uang logam adalah dengan menurunkan frekuensi pembentukan potensial aksi dan pada
saat mencapai titik yang sesuai maka konduksi impuls akan terhenti sehingga tidak merasakan lagi
sentuhan akibat koin. Pada saat penambahan mata uang logam, maka reseptor potensial aksi
akan meningkat kembali sehingga menghasilkan impuls dan dapat terasa sentuhan lagi.
Percobaan yang selanjutnya adalah mengetahui adaptasi reseptor terhadap suhu dengan
cara mencelupkan jari tangan pada masing – masing air dengan suhu yang berbeda-beda. Pada air
dingin, rasa yang dirasakan yaitu tangan menjadi mengkerut dan kaku sedangkan pada air panas
atau hangat menjadi melepuh dan terasa nyeri atau sakit. Kemudian, setelah beberapa menit,
tangan dicelupkan pada air dengan suhu ruang. Sensasi yang dirasakan adalah rasa dingin tetap
terasa dan rasa nyeri atau sakit masih terasa juga namun rasa panas langsung menghilang. Hal
tersebut dikarenakan rasa yang diakibatkan oleh air panas berupa rangsangan nyeri atau sakit
dimana adaptasi reseptor terhadap rangsangan tersebut merupakan adaptasi tonik atau sangat
lambat. Sehingga pada saat dicelupkan pada air pada suhu ruang rasa yang disebabkan oleh air
dingin ataupun panas masih dapat terasa. Pada saat mencelupkan pada air suhu ruang, rasa panas
langsung menurun atau hilang karena penurunan suhu dapat berlangsung dengan cepat karena
melepaskan energi. Sedangkan, pada tangan yang sebelumnya dicelupkan pada air dingin tidak
mudah menghilang sensasinya dikarenakan untuk beradaptsi dengan suhu air pada ruang harus
dinaikkan suhunya yang dirasakan pada tangan dan untuk proses adaptasinya diperlukan energi
agar dapat langsung dirasakan perubahannya sehingga rasa dingin masih terasa. Hal tersebut
dikarenakan adaptasi reseptor dingin lebih cepat dibandingkan reseptor panas sehingga tangan
masih terasa dingin walaupun sudah dicelupkan pada air pada suhu ruang.
Afterimage adalah suatu peristiwa dimana seseorang masih dapat merasakan rangsang
yang diberikan oleh suatu benda, dimana benda tersebut sudah tidak menempel pada daerah
stimulus seseorang. Afterimage dapat terjadi akibat reseptor pada kulit dapat beradaptasi.
Afterimage terjadi karena aktivitas penyaluran impuls dari reseptor dimana kita sudah tidak
menerima stimulus aslinya. Reseptor yang berperan pada peristiwa ini adalah paccinian corpulse
(tekanan). Pada percobaan yang dilakukan adalah dengan ditempatkan sebuah pensil dibelakang
telinga. Pada saat pensil diangkat, yang dirasakan adalah terasa masih ada pensil yang berada
dibelakang telinga dalam jangka waktu tertentu. Hal tersebut disebabkan karena stimulus yang
diterima oleh resptor paccinian corpulse (tekanan) belum selesai dilanjutkan, namun pensil telah
diangkat sehingga tetap masih terdapat stimulus yang dirasakan. Pada setiap individu yang diuji,
waktu yang dibutuhkan untuk masih dapat ebrasakan adanya pensil setelah diangkat berbeda-
beda. Hal tersebut dikarenakan kemampuan reseptor seseorang dalam beradaptasi berbeda –
beda.
Pada percobaan sensasi tekanan, digunakan lima daerah pengujian yang berbeda, yakni
ujung jari, telapak tangan, punggung tangan, lengan atas bagian dalam, dan tengkuk. Berdasarkan
percoban, hasil menunjukkan bahwa jarak kesalahan antara lokasi diberikannya rangsangan dan
lokasi yang ditunjuk subjek dari kecil ke besar adalah pada ujung jari, telapak tangan, punggung

7
tangan, lengan atas bagian dalam, dan terakhir tengkuk. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa
daerah ujung jari dan telapak tangan memiliki banyak reseptor pacini sehingga lebih peka
terhadap rangsang tekanan. Selain itu, luas permukaan juga berpengaruh terhadap kepekaan
reseptor dalam menerima rangsangan. Semakin kecil luas permukaan daerah tubuh, maka daerah
tersebut akan semakin peka terhadap rangsangan karena reseptor cenderung berkumpul pada
titik tertentu. Hal ini dapat dilihat melalui hasil percobaan pada ujung jari dan tengkuk. Ujung jari
memiliki luas permukaan yang lebih kecil daripada tengkuk sehingga lebih peka terhadap
rangsang dan lokalisasi tempat diberikannya rangsang pun lebih akurat. Sedangkan, tengkuk
memiliki luas permukaan yang lebih besar sehingga reseptor pacini lebih tersebar pada daerah
tersebut yang menyebabkan lokalisasi daerah rangsangnya menjadi tidak akurat.
Pada percobaan daya membedakan ini diliat dari kemampuan sensori taktil dalam
diskriminasi intensitas yaitu berhubungan dengan penilaian kekuatan stimulus dan diskriminasi
spasial yang berhubungan dengan penentuan lokasi atau asal rangsang. Implus taktil dibedakan
menjadi taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior dan taktil halus
dihantarkan oleh faciculus gracilis dan faciculus cunneatus. Oleh karena itu kita dapat
membedakan kekasaran pada permukaan amplas.
Tanpa melihat benda kita dapat menentukan bentuk benda tersebut yang merupakan
peran dari reseptor kinaesthesi. Bentuk dan berat benda dibedakan akibat reseptor tekanan yang
digeserkan. Implus taktil juga merupakan mekanoreseptor yang akan merespons perubahan
bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi.
Berdasarkan data pengamatan diatas baik pada bagian ujung jari maupun lengan bawah dapat
dibedakan dengan baik.
Local pain atau primary pain adalah fenomena dimana nyeri dirasakan pada bagian yang
diberi stimulasi nyeri, sedangkan referred pain adalah fenomena dimana nyeri dirasakan di daerah
yang berbeda dari sumber nyeri. Peristiwa ini dapat terjadi karena bagian yang dirujuk berasal
dari segmen embrionik atau dermatom yang sama dengan bagian tubuh yang diberi stimulus
sehingga dipersarafi oleh saraf spinalis yang sama. Contohnya adalah rasa sakit serangan jantung
yang sering dirasakan di lengan kiri dan rasa sakit usus buntu yang umumnya dirasakan pertama
di daerah sekitar pusar kemudian di daerah kanan bawah. Selain itu, referred pain juga dapat
terjadi karena fenomena konvergensi yakni stimulus dari saraf somatik dan visceral jatuh pada
bagian yang sama yakni neuron orde dua pada batang otak. Oleh karena itu, neuron orde kedua
memberikan informasi yang ambigu mengenai lokasi stimulus. Contohnya adalah munculnya rasa
sakit pada bagian rahang dan gigi pada orang yang serangan jantung.
Pusat pengaturan suhu tubuh berada di hipotalamus. Ketika suhu lingkungan naik, maka
hipotalamus akan mengirimkan sinyal melalui saraf simpatis ke beberapa bagian tubuh seperti
kelanjar keringat dan pembuluh darah di kulit. Sinyal yang dikirimkan ke kelenjar keringat memicu
kelenjar tersebut mengeluarkan keringat sehingga terjadi evaporasi panas. Evaporasi merupakan
salah satu proses penghilangan panas melalui penguapan air dari kulit. Sedangkan pada pembuluh
darah, sinyal tersebut akan membuat pembuluh darah mengalami vasodilatasi sehingga
menyebabkan peningkatan aliran darah ke kulit. Peningkatan aliran darah membuat panas yang
diangkut ke kulit semakin banyak. Panas ini kemudian akan dikeluarkan dari kulit melalui proses
radiasi, konveksi, atau konduksi. Radiasi adalah proses transfer panas dari permukaan suatu objek
ke permukaan objek lain tanpa melalui perantara. Konveksi adalah transfer panas yang
diperantarai oleh udara. Sedangkan konduksi adalah proses transfer panas dari suatu objek ke
objek lain yang memerlukan perantara atau kontak langsung. Ketika suhu lingkungan turun, maka
hipotalamus juga akan mengirimkan sinyal ke pembuluh darah sehingga pembuluh darah
mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi pembuluh darah membuat panas tersimpan dalam
tubuh. Selain itu, hipotalamus juga memicu peningkatan metabolisme tubuh sehingga terjadi
peningkatan pembentukan panas.
Suhu tubuh dipengaruhi beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, bobot tubuh,
lingkungan, aktivitas dan rangsangan atau stimulus. Faktor yang pertama adalah usia. Usia

8
mempengaruhi kemampuan penyesuaian terhadap lingkungan baik panas atau dingin.
Kemampuan penyesuaian ini berkaitan dengan penurunan aktivitas fisik seperti pada lansia.
Lansia memiliki rentang suhu tubuh yang lebih sempit dan lebih sensitif terhadap suhu tertentu.
Sebagai contoh, lansia sensitif terhadap suhu eskrim, karena kemunduran mekanisme kontrol,
terutama pada kontrol vasomotor, penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas
kelenjar, dan penurunan metabolisme (Pearce, 1990).
Faktor selanjutnya jenis kelamin. Nunneley (1978) menyebutkan bahwa dibandingkan
laki-laki yang sama-sama dalam tekanan panas, perempuan memiliki suhu inti dan suhu kulit yang
lebih tinggi, denyut jantung yang lebih cepat dan tingkat berkeringat yang lebih rendah.
Perbedaan ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan
salah satunya masalah hormon. Saat perempuan mengalami menstruasi, terjadi fluktuasi hormon
estrogen dan progesteron sehingga mempengaruhi suhu tubuh.
Faktor selanjutnya adalah bobot tubuh. Bobot tubuh berkaitan erat dengan jumlah lemak
dalam tubuh. Menurut Cheung (2000), Individu dengan proporsi lemak tubuh yang lebih tinggi
memiliki toleransi panas yang lebih rendah karena penurunan kemampuan menyimpan panas
tubuh. Dalam hal ini, orang yang kurus atau proporsi lemak tubuhnya sedikit memiliki luas
permukaan tubuh yang lebih kecil sehingga panas yang hilang melalui evaporasi lebih sedikit
dibandingkan orang gemuk. Oleh karena itu, orang bertubuh kurus dapat lebih lama melakukan
aktivitas yang memicu panas daripada orang bertubuh gemuk.
Faktor berikutnya adalah lingkungan. Jika suhu lingkungan meningkat, maka suhu tubuh
pun akan meningkat hingga mencapai batas normal. Setelah melewati batas normal, otak akan
memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan panasnya dengan cara mengeluarkan keringat,
sehingga suhu tubuh kembali normal. Ketika kondisi lingkungan dingin atau lembab, maka udara
yang lembab ini akan meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan penguapan
keringat, sehingga panas tertahan di dalam tubuh.
Faktor selanjutnya berikutnya adalah aktivitas. Aktivitas fisik berpengaruh terhadap suhu
tubuh misalnya olahraga. Ketika berolahraga, kerja otot rangka akan meningkat. Peningkatan
kerja otot rangka tentunya memerlukan energi yang berasal dari makanan seperti karbohidrat,
lemak, dan protein. Energi ini diperoleh melalui proses pembakaran yang menghasilkan panas.
Oleh karena itu, suhu tubuh pun meningkat karena produksi panas oleh tubuh juga meningkat.
Faktor yang terakhir adalah stimulus atau rangsangan yang diberikan. Jika tubuh diberi
stimulus panas, tentu suhu tubuh akan meningkat sebagai respon terhadap stimulus ini,
begitupun sebaliknya.
Suhu tubuh diatur oleh sistem termostat yang berada di dalam otak untuk menjaga suhu
dalam rentang 36,5°C – 37,5°C. Pada percobaan ini dilakukan berbagai variasi pertama, subjek
berbaring diperiksa suhu dibawah lidah diperoleh hasil 36,8°C yang mana sesuai dengan suhu
normal tubuh. Kedua, subjek berkumur dengan air es dan diperiksa kembali suhu dibawah lidah
dan diperoleh hasil 35,6°C ini lebih rendah dari suhu normal karena adanya pengaruh konveksi
yaitu tubuh kehilangan panas akibat kontak dengan air es sehingga udara dalam akan
menghasilkan udara yang lebih rendah. Ketiga, subjek diminta bernafas melalui mulut lalu
diperiksa kembali suhu di bawah lidah dan diperoleh hasil 36,5°C akibat adanya udara yang
dikeluarkan membuat suhu tubuh menjadi normal kembali. Sedangkan percobaan keempat,
dilakukan pengambilan suhu tubuh di bagian ketiak dan memperoleh hasil 36,4°C, ini berada
sedikit dibawah rentang normal diakibatkan adanya pengaruh luar seperti suhu lingkungan
percobaan rendah selain itu sebelum pengambilan suhu dilakukan pengeringan pada ketiak
karena bagian tersebut sangat lembab yang akan membuat suhu menjadi tinggi. Pengaruh lain
yang menyebabkan bervariasinya hasil pengukuran suhu tubuh adalah metabolisme yang terjadi
pada tubuh itu sendiri, waktu pengukuran yang akan berpengaruh pada kestabilan kalor saat
pengukuran biasanya kalor akan stabil setelah 3-10 menit dan akan memberikan hasil yang
akurat, selanjutnya tempat pengambilan suhu pada mulut lebih akurat karena mendekati suhu
dalam tubuh dan konstan sedangkan pada axilia/ketiak lebih mendekati suhu perifer.

9
Kemudian dilakukan pengambilan suhu setelah subjek berlari dengan hasil 36,3°C dan
denyut nadi awal 90 kali per menit menjadi 160 kali per menit. Perubahan suhu tidak begitu
signifikan karena subjek sudah terbiasa berlari sehingga metabolisme tubuhnya cepat
beradaptasi. Suhu tubuh dapat bermakna keseimbangan antara panas yang diproduksi dengan
panas yang hilang dari tubuh. Dan organ untuk memelihara suhu normal adalah kulit. Panas hilang
dari kulit melalui konduksi, konveksi, radiasi, respirasi dan penguapan keringat. Selain itu
penurunan tersebut dipengaruhi juga oleh laju jantung dimana suhu tubuh mengalami naik turun
1°C per 24 jam. Pengeluaran keringat menjadi mekanisme kontrol umpan balik negative akibat
terjadinya dilatasi pembuluh darah yang mana saat berlari sel tubuh memerlukan oksigen lebih
banyak untuk menghasilkan energi sehingga curah darah yang dibutuhkan semakin besar. Pada
saat frekuensi denyut jantung cepat maka tekanan arteri turun yang menyebabkan peningkatan
suhu inti dan secara refleks memicu mekanisme pengeluaran panas.
Suhu tubuh dapat diukur dengan menggunakan termometer, pada percobaan diatas
dipakai jenis termometer elektronik pada bagian mulut dan ketiak. Seperti yang sudah dipaparkan
diatas bagian pengukuran suhu tubuh akan memberikan hasil yang berbeda bagian mulut lebih
akurat dibandingkan dengan ketiak karena bagian mulut lebih representative suhu dalam tubuh
sedangkan ketiak hanya menunjukkan suhu luar tubuh yang sudah dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain.
Ketidakakuratan pembacaan termometer dapat disebabkan oleh tidak memakai
termometer pada bagian tubuh yang tepat, baterai termometer yang lemah, terlalu cepat
mengangkat termometer dari tubuh, tidak mengikuti petunjuk penggunaan termometer yang baik
dan benar seperti mulut terbuka saat pengambilan suhu secara oral, pengambilan suhu tubuh
setelah olahraga, mandi air panas, merokok, dan minum minuman panas/dingin dikarenakan saat
air dingin menyentuh tubuh akan membuat darah bersirkulasi lebih cepat dan membuat suhu
tubuh semakin rendah sedangkan saat air panas/hangat menyentuh tubuh dapat membuka
pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan suhu tubuh. Selain itu, suhu tubuh dapat
mengalami pertukaran dengan lingkungan yang berarti panas tubuh dapat hilang atau berkurang
jika suhu dilingkungan tersebut dingin dan begitu juga sebaliknya saat suhu lingkungan panas.
Dengan demikian, interpretasi suhu akan memberikan hasil yang beragam dan bersifat tidak
absolut.
Demam merupakan kondisi saat tubuh terjadi peningkatan suhu melebihi suhu tubuh
normal (36,5-37,5°C). Proses perubahan suhu tubuh terjadi ketika zat toksin masuk kedalam
tubuh seperti adanya peradangan (inflamasi) yang mana merupakan mekanisme pertahanan
dasar tubuh terhadap serangan patologis. Proses peradangan diawali dengan masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh yang memiliki suatu zat toksin yang dikenal sebagai pirogen
eksogen. Sehingga tubuh akan berusaha melawan dengan mengaktivasi leukosit, makrofag, dan
limfosit untuk memakan mikroorganisme tersebut. Karena adanya fagositosis maka sel-sel
pertahanan tubuh akan mengeluarkan zat kimia sebagai pirogen endogen khususnya IL-1 yang
memiliki fungsi sebagai anti infeksi dan akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk
mengeluarkan asam arakhidonat dengan bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakhidonat akan
memicu pengeluaran prostaglandin (PGE2) yang dibantu oleh enzim siklooksigenase (COX)
sehingga memengaruhi kerja thermostat hipotalamus. Hal ini menyebabkan hipotalamus
meningkatkan patokan suhu tubuh karena hipotalamus merasa bahwa suhu tubuh saat inflamasi
tersebut berada dibawah batas normal akibatnya terjadi respons dingin atau mengigil. Proses
menggigil akan menyebabkan pergerakan otot rangka sehingga menghasilkan panas tubuh yang
lebih banyak dan terjadilah demam.
Selain itu mekanisme demam dapat terjadi pada jalur non-prostaglandin yaitu melalui
sinyal aferen nervus vagus yang dimediasi oleh produk lokal MIP-1 yang tidak dapat dimediasi
oleh antipiretik. Saat tubuh menggigil akan meningkatkan produksi panas dan secara bersamaan
kulit mengalami vasokonstriksi akan dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. Sehingga

10
keduanya dapat mendorong suhu naik. Pembentukan demam ini bukan suatu kerusakan
mekanisme termoregulasi namun respons alami tubuh terhadap rangsangan pirogenik.
Demam yang disebabkan oleh infeksi virus dapat diatasi dengan pemberian obat penurun
demam seperti paracetamol yang dosisnya disesuaikan dengan aturan pakai, agar pengobatan
lebih efektif takaran obat diberikan sesuai dengan berat badan atau usia. Namun, apabila demam
disebabkan oleh infeksi bakteri maka dapat diberikan obat antibiotik. Selain itu terdapat beberapa
perawatan untuk mengobati demam yang dapat dilakukan di rumah, antara lain istirahat yang
cukup agar tubuh dapat memulihkan diri dan membantu kekebalan tubuh, perbanyak minum air
putih sehingga tidak dehidrasi, gunakan pakaian yang tipis dan nyaman, dan kompres dengan air
hangat. Selain itu dapat dilakukan upaya pencegahan demam dengan cara menerapkan pola
hidup sehat dan bersih salah satu contohnya selalu mencuci tangan jika hendak makan, menutup
mulut atau hidung ketika sedang batuk/bersin, dan tidak saling bertukar peralatan makan.
Pada pengujian antipiretik dilakukan 5 perlakuan berbeda kepada 15 tikus. Tikus pertama
sampai ketiga tidak diinduksikan pepton dan hanya diberi suspending agent (CMC-Na), tikus ke-4
sampai 6 diinduksikan pepton dan diberi suspending agent (CMC-Na), tikus ke-7 sampai 9
diinduksikan pepton dan diberikan asam mefenamat, tikus ke-10 sampai 12 diinduksikan pepton
dan diberikan ibuprofen, tikus ke-13 sampai 15 diinduksikan pepton dan diberikan paracetamol.
Tikus ke-1 sampai 3 tidak diinduksikan pepton dan hanya di beri suspending agent (CMC-Na)
karena merupakan kontrol negatif yang digunakan sebagai pembanding tikus yang sehat untuk
membuktikan bahwa efek menyembuhkan berasal dari agen antipiretik bukan dari faktor lain
seperti pembawa pada sediaan atau sistem imun tikus. Selanjutnya pada tikus ke-4 sampai 6 yang
diinduksikan pepton dan diberi suspending agent (CMC-Na) disebut kontrol positif yang berfungsi
sebagai pembanding tikus yang mengalami demam tanpa diberikan medikasi. Sedangkan tikus
lainnya yang diinduksi pepton dan diberikan berbagai obat golongan antipiretik merupakan
pembanding.
Pada tikus ke-4 sampai 15, tikus disuntikkan pepton yang berfungsi sebagai agen
imunogenik yang dapat menginduksi sistem imun serta memberikan efek demam kepada tikus.
Demam sendiri didefinisikan sebagai kondisi teknis di mana suhu tubuh berada di atas 37°C dan
merupakan respon pertahanan alami tubuh untuk membunuh berbagai mikroba patogen. Pada
percobaan kali ini yang menginduksi sistem imun untuk bekerja bukanlah mikroba patogen
melainkan pepton.
Selanjutnya dibiarkan selama 4 jam sebelum pemberian obat golongan antipiretik. Hal ini
dilakukan karena pada pengujian antipiretik, waktu onset dari induksi demam oleh pepton
diperkirakan terjadi pada 3.5 sampai 4.5 jam setelah penginduksian.
Pada percobaan kali ini obat golongan antipiretik (jenis obat yang dapat menurukan
demam dan mengatasi gejalanya) yang digunakan adalah asam mefenamat, paracetamol, dan
ibuprofen. Obat golongan antipiretik ini digolongkan dalam beberapa jenis yaitu salisilat (aspirin,
salisilamid), para-aminofenol (asetaminofen, fenasetin), obat antiinflamasi nonsteroid atau AINS
(ibuprofen, naproxen, ketoprofen).
Jika dilihat pada tabel X pada kontrol negatif suhu tubuh pada ketiga tikus fluktuatif,
bahkan ada yang sempat mencapai suhu 37 oC. Begitu pula pada ketiga tikus kontrol positif dimana
suhu tubuh sangat fluktuatif namun jika dibandingkan dengan kontrol negatif maka tikus-tikus
kontrol positif memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi kurang lebih 1 oC. Selanjutnya dapat dilihat
bahwa on set dari ketiga obat yaitu pada satu setengah jam setelah pemberian obat. Namun yang
membedakan adalah kemampuan penurunan demamnya dimana jika dilihat pada tabel X dimana
parasetamol mampu menurunkan suhu tubuh paling baik dibanding yang lain, kemudian disusul
oleh ibuprofen dan yang terakhir adalah asam mefenamat. Parasetamol dapat menurunkan suhu
dengan lebih baik mungkin disebabkan karena mekanisme kerja dari parasetamol adalah bekerja
langsung di pusat saraf atau hipotalamus dengan menghambat enzim cyclooxsygenase, COX-1,
COX-2 dan COX-3  yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin, substansi yang bertindak
mengatur rasa sakit dan diketahui juga sebagai regulator panas pada hipotalamus. Sedangkan

11
asam mefenamat dan ibuprofen merupakan golongan obat AINS yang bekerja dengan
menghalangi enzim siklooksigenase (cox 1 dan cox 2). Enzim ini membantu membuat
mediator inflamasi dalam tubuh yang disebut prostaglandin.  Prostaglandin ini akan diproduksi
pada tempat-tempat yang mengalami cedera atau kerusakan dan menyebabkan rasa sakit
dan peradangan. Dengan memblok efek enzim cox, maka akan menurunkan produksi
prostaglandin yang mengakibatkan pengurangan suhu tubuh. Jadi perbedaannya adalah letak
mekanismenya dimana parasetamol merupakan obat saraf pusat yang bekerja langsung pada
hipotalamus sedangkan ibuprofen dan asam mefenamat merupakan obat golongan AINS yang
bekerja di bagian yang mengalami kerusakkan. 
Pada beberapa populasi tikus, terdapat tikus dengan suhu yang sudah mengalami
penurunan suhu antipiretik, hal ini mungkin terjadi karena tikus memiliki sistem imun yang baik
sehingga tikus dapat mengatasi pepton yang terakumulasi dalam tubuh. Urutan efektivitas
antipiretik juga dapat dilihat dari rentang waktu pemberiannya secara oral, yakni dari jam ke-4
sampai dengan jam ke-6. Namun jika dilihat pada tabel x maka sangat sulit untuk menentukan
durasinya karena angka suhu tubuh yang kurang stabil. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan
alat percobaan yang tidak sesuai (alat pengukur suhu yang digunakan bukan untuk tikus
melainkan untuk kuda), penginduksian demam yang kurang baik (adanya pepton yang terbuang
saat penyuntikan), pengukuran suhu kurang akurat dikarenakan kedalaman termometer yang
berbeda serta praktikan yang mencoba pengukuran juga berbeda.

V. KESIMPULAN
1. Distribusi jumlah reseptor sentuhan (meissner corpuscle) dan reseptor nyeri (ujung
syaraf bebas) adalah sama sehingga tidak sesuai teori dan jumlah reseptor dingin
(krause end bulbs) lebih banyak dari reseptor panas (ruffini endings).
2. Sensasi tingkat kekasaran dan bentuk benda dapat dibedakan dengan baik karena
pada bagian kulit yang tidak berambut memiliki banyak corpuscullum tactus (reseptor
taktil) sehingga kepekaannya besar.
3. Pengambilan suhu tubuh saat berbaring berada pada kondisi normal karena
perpindahan kalor yang konstan dan stabil sedangkan pengambilan suhu tubuh
setelah berlari berada dibawah suhu rentang tubuh karena dipengaruhi pengeluaran
panas melalui keringat.
4. Bagian tubuh dari yang paling peka terhadap sensasi tekanan secara berurutan adalah
ujung jari, telapak tangan, punggung tangan, lengan atas bagian dalam, dan terakhir
tengkuk.
5. Fenomena referred pain memberikan lokasi nyeri yang berbeda dengan lokasi
diberikannya stimulus. Lokasi diberikannya stimulus adalah pada bagian siku, namun
nyeri dirasakan menjalar hingga ke pergelangan tangan.
6. Waktu reseptor untuk beradaptasi pada saat penempelan mata uang logam pertama
lebih cepat daripada pada saat penempelan mata uang logam selanjutnya .
7. Jari terasa dingin dan kaku saat dicelupkan pada air dingin, jari terasa nyeri dan panas
saat dicelupkan pada air panas, dan jari masih terasa dingin pada saat dicelupkan
pada air disuhu ruang
8. Kemampuan adaptasi reseptor masing masing individu berbeda – beda terhadap
fenomena afterimage.
9. Urutan efektivitas antipiretik dari yang terkuat adalah paracetamol > ibuprofen >
asam mefenamat.

VI. SARAN
Pada percobaan difusi sederhana, kristal yang ditambahkan sebaiknya tidak terlalu
banyak jumlahnya agar tidak terjadi bias. Pada percobaan difusi agar, dapat digunakan alat

12
ukur dengan ketelitian lebih tinggi untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan sebaiknya
cawan diletakkan pada daerah yang tidak bergelombang agar tidak mempengaruhi proses
difusi. Pada percobaan osmosis, seharusnya kantung selofan dibuat dalam bentuk yang lebih
rapat sehingga tidak ada kebocoran dan dilakukan dengan hati – hati agar tidak sobek atau
bocor. Pada pengamatan tonisitas menggunakan tabung reaksi, sebaiknya diamati secepat
mungkin (jangan lebih dari 5 menit) karena jika terlalu lama sel darah akan mengendap dan
hasil pengamatan tidak valid. Pada pengamatan tonisitas dengan kaca objek, seharusnya
diamati juga bentuk sel darah tanpa penambahan senyawa apapun sebagai kontrol.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Anderson, P.D. (1999). Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. Jones and Barret publisher Boston. Edisi
Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Anonim.2019. Asam Mefenamat : Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Diakses pada
https://www.honestdocs.id/asam-mefenamat tanggal 14 maret 2020.
Anonim.2019. Ibuprofen : Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Diakses pada
https://www.honestdocs.id/asam-mefenamat tanggal 14 maret 2020.
Anonim.2019.Paracetamol : Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Diakses pada
https://www.honestdocs.id/parasetamol tanggal 14 maret 2020.
Barnes, Jim. 2013. Essential Biological Psychology. London: Sage. Halaman 134-135.
CNS. Receptors. Diakses dari www.humanneurophysiology.com/receptors.htm pada 13 Maret
2020.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Kanisius. Hal 89-90.
Junqueira, Luis C. Dan Carneiro, Jose. 1980. Histologi Dasar Edisi Indonesia. Jakarta : EGC.
Lauralee Sherwood (2001). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Alih Bahasa dr Brahm U Pendit.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Martini, F., & Nath, J. L. (2009). Fundamentals of anatomy & physiology. San Francisco:
Pearson/Benjamin Cummings. (halaman 472, 497, 499, 501, dn 506).
Murray G. M. (2009). Guest Editorial: referred pain. Journal of applied oral science : revista FOB,
17(6), i. https://doi.org/10.1590/s1678-77572009000600001.
Nelwan, R.H.H., 2006. Demam: Tipe dan Pendekatan. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I.,
Simadibrata M., dan Setiati, S., Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keempat. Jilid
Ketiga. Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam. 1697-1699.
Nunneley, S. H. (1978). Physiological Responses Of Women To Thermal Stress: A Review. Med. Sci.
Sports Exerc. 10: 250–255.
Ovalle, W. K., Nahirney, P. C., & Netter, F. H. (2008). Netter's essential histology. Philadelphia:
Saunders/Elsevier. (halaman 471).
Pearce, EC. (1999). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.
Puspitawati, I. (1999). Psikologi Faal. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Sherwood, L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Sridianti. Sebutkan Macam-Macam Reseptor pada Kulit dan Fungsinya. Diakses dari
https://www.sridianti.com/sebutkan-macam-macam-reseptor-pada-kulit.html pada 14 Maret
2020.
Syaifuddin. 2012. Anatomi Fisiologi Kurikulim Berbasis Kompetensi untuk Keperawatan dan
Kebidanan Edisi 4. EGC: Jakarta
Wahyuningsih, Heni Puji dan Yuni Kusmiyati. 2017. Anatomi Fisiologi. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. Hal 108 dan 115.

IX. LAMPIRAN

13

Anda mungkin juga menyukai