Anda di halaman 1dari 23

JURNAL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA STERIL (FA 3102)

OTM PILOCARPINE HCl

Kelompok : N-5

Shift : Kamis

Anggota :

Natasha Belvani (10718100)


Diah Fardesia (10718054)
Aristo Hakisa Rendra (10718055)
Nada Nurul Husna (10718056)

LABORATORIUM STERIL

PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI

SEKOLAH FARMASI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2020
JURNAL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA STERIL (FA 3102)

KELOMPOK : N-5 SHIFT : Kamis

SOAL : OTM PILOCARPINE HCl

I. Pendahuluan
Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan
untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak
mata dan bola mata. Obat tetes mata harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu
steril ; harus jernih dan bebas dari partikel ; sebisa mungkin isohidris dengan cairan
mata, yaitu pada pH 7,4 dan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5-10,5 ; dan
sedapat mungkin isotonis dengan air mata yaitu 0,9% b/v NaCl dan yang masih bisa
diterima adalah 0,7%-1,5% b/v (The Pharmaceutical Codex, p. 163)
Menurut Farmakope edisi V halaman 1013, tetes mata Pilokarpin HCl adalah
larutan Pilokarpin HCl dalam air, steril, dan didapar. Mengandung tidak kurang dari
90% dan tidak lebih dari 110% C11H16N2O2.HCl, dari jumlah yang tertera pada etiket.
Dapat mengandung antimikroba, stabilisator yang sesuai, dan zat tambahan yang
sesuai untuk menambah viskositas.
Mekanisme dari obat ini adalah meningkatkan aliran keluar aqueous karena
adanya kontraksi badan siliar. Hal itu mengakibatkan penarikan tapis sklera dan
penguatan clamp trabekula. Pada glaukoma sudut tertutup, efek miotik dari obat
melepaskan blok pupil dan juga menarik iris menjauh dari sudut bilik mata depan.
Pilokarpin HCl dapat berinteraksi dengan obat-obat otonomik seperti epinefrin, yang
dapat meningkatkan laju absorpsi sistemik obat-obat tersebut (AHFS h.2719)
Menurut Martindale edisi 36 halaman 1885, untuk sediaan tetes mata Pilokarpin
HCl yang digunakan adalah sebesar 0,5 sampai 4% dan diberikan sebanyak 4 kali
dalam sehari, disesuaikan dengan respon pasien.
II. Preformulasi

A. Zat Aktif (Pilokarpin HCl)

Struktur Kimia

Rumus Kimia : C11H16N2O2.HCl

Pemerian Hablur tidak berwarna, agak transparan, tidak berbau; rasa agak pahit;
higroskopis dan di pengaruhi oleh cahaya, bereaksi asam terhadap
kertas lakmus (Farmakope V hal 1013)

Kelarutan Sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol; sukar larut
dalam klorofom; tidak larut dalam eter (Farmakope V hal 1013)

pH pH untuk sediaan optalmik 3,5-5,5 (Farmakope V hal 1013)

pH larutan pada 5% pada air bebas karbondioksida adalah 3,5 - 4,5


(The pharmaceutical codex page 1004)

Stabilita

- Panas Dengan kenaikan suhu pada pH 10,9 ,pilokarpin HCl akan mengalami
peningkatan reaksi hidrolisis (The pharmaceutical codex page 1004)

- Hidrolisis Mengalami hidrolisis yang dikatalisis oleh ion hidrogen dan hidroksida,
terjadi epimerisasi pada pH basa (The pharmaceutical codex page
1004)
- Cahaya Dipengaruhi oleh cahaya (Farmakope V hal 1013)
Titik Leleh 195-198°C (Analycital Profiles of Drug Substances volume 12, page
387)

Kesimpulan :

Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : garam pilokarpin HCl


(C11H16N2O2.HCl BM : 244,72) (FI V, halaman 1012)

Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi/krim/salep): larutan

Cara sterilisasi sediaan: sterilisasi bulk dan filtrasi membran

Kemasan: botol tetes mata tidak tembus cahaya

III. Permasalahan Farmasetika dan Solusinya

Permasalahan Solusi

Sediaan obat tetes mata harus steril Di sterilisasi menggunakan filtrasi


membran dan sterilisasi bulk

Sediaan obat tetes mata dibuat multiple dose Perlu ditambahkan pengawet yaitu
benzalkonium klorida

Sediaan obat tetes mata diharapkan dapat Perlu ditambahkan peningkat viskositas
memperpanjang waktu kontak pada mata yaitu PVP

pH sediaan Pilocarpine HCl 3,5-5,5 dan perlu Ditambahkan dapar asetat untuk
dipertahankan mempertahankan pH nya

Sediaan tetes mata harus isotonis dengan cairan Ditambahkan zat pengisotonis yaitu NaCl,
mata karena dapat membuat sediaan menjadi
isotonis dengan cairan mata

Sediaan ini menggunakan benzalkonium klorida Ditambahkan Dinatrium EDTA sebagai


sebagai pengawet dan dapat dipengaruhi oleh pengkhelat logam dan meningkatkan
logam aktivitas antimikroba
Sediaan harus bebas partikulat Dilakukan filtrasi membran berukuran
0.45 µm dan 0.22 µm

Zat aktif yaitu Pilokarpin HCl dan pengawet yang Saat proses pembuatan sebisa mungkin
digunakan tidak stabil apabila terkena cahaya menghindari sinar matahari langsung, dan
matahari sediaan menggunakan wadah yang tidak
tembus cahaya

IV. Formulasi dan Perhitungan Tonisitas/Osmolalitas dan Dapar

a. Tonisitas
Metode : Titik Beku
Perhitungan :

ΔTf Pilokarpin HCl 2%=0,26°


ΔTf Benzalkonium klorida 1% = 0,09°
ΔTf Benzalkonium klorida 0,01% = 0,01%/1% x 0,09° = 9x10-4°
ΔTf PVP 5%=0,04°
Asam asetat :
Liso = 2
ΔTf asam asetat = L iso x M = 2 x 12,24 x 10-3 = 0,024°
Na-asetat :
Liso = 3,4
ΔTf Na-asetat = 3,4 x 6,726 x 10-3 = 0,023°
ΔTf Na2-EDTA 0,5% = 0,07°
ΔTf Na2-EDTA 0,05% = 0,05% x 0,07°/0,5% = 0,007°

Perbedaan titik beku


=0,52°-(0,26°+9x10-4°+0,04°+0,024°+0,023°+0,007°)=0,1651°
Dalam volume sediaan 100 ml, NaCl yang harus ditambahkan agar sediaan isotonis
adalah
= 0,1651° x 0,9% NaCl/0,52° = 0,286% NaCl
Jadi, NaCl yang harus ditambahkan pada setiap botol 15 ml adalah
= 0,286% x 15 ml = 0,043 gram

Kesimpulan :
Sediaan bersifat Isotonis
Perhatian yang harus dicantumkan dalam informasi obat: Simpan di tempat yang
terhindar dari cahaya, dapat digunakan selama 30 hari setelah dibuka.
b. Osmolaritas
Tidak dilakukan perhitungan osmolaritas karena sediaan yang dibuat merupakan
sediaan opthalmik.
c. Dapar

Jenis Dapar Dapar Asetat

Target pH 4,5 (Rentang pH sediaan tetes mata


Pilokarpin HCl 3,5 - 5,5)

Kapasitas Dapar 0,01

Diketahui :
pKa Asam asetat : 4,76
Ka = 1,738 x 10-5
pH target : 4,5
BM Asam Asetat : 60,05 g/mol
BM Natrium Asetat : 82,03 g/mol
Kapasitas dapar : 0.01
Volume sediaan : 15ml
Kapasitas dapar = 0,01

pH= -log[H+ ]
[H+]= 10-4,5
Dengan persamaan Henderson-Hasselbalch, maka :
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
4,5 = 4,76 + 𝑙𝑜𝑔
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
−0,26 = 𝑙𝑜𝑔
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
0,5495 =
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] = 0,5495 [𝑎𝑠𝑎𝑚]
Jika C adalah konsentrasi total komponen dapar, maka :
C = [garam] + [asam]
C = 0,5495 [asam] + [asam]
C = 1,5495 [asam]
Kapasitas dapar yang digunakan adalah 0,01, maka :
[𝐻 + 𝑥 𝐾𝑎 ]
𝛽 = 2,303 𝐶
[𝐻 + + 𝐾𝑎]2
0,01 = 2,303. C . { (1,738x10-5. 10-4,5)/(1,738x10-5 + 10-4,5)2}
4,34 x 10-3 = C { (1,738x10-5. 10-4,5)/(1,738x10-5 + 10-4,5)2}
4,34 x 10-3 = C { (5,496x10-10) / (2,401x10-9)}
C = {(4,34x10-3)/(0,2289)} = 0,01896

C = [garam] + [asam]
0,01896 = 0,5495 [asam] + [ asam]

0,01896 = 1,5495 [asam]

[asam] = 0,01224 M

Mol asam = mol [asam asetat] = 0,01224 M x 0,015 L = 1,836 x 10 -4 mol

Gram asam asetat = 1,836 x 10-4 mol x 60,05 gram/mol = 0,011 gram (dalam 1 botol
15 ml)

Mol garam = mol natrium asetat = 6,73 x 10-3 M x 0,015 L = 1,01 x 10-4 mol

Gram natrium asetat = 1,01 x 10-4 mol x 82,03 gram/mol = 8,29 x 10-3 gram (dalam 1
botol 15 ml)

V. Pendekatan Formula

No Bahan Jumlah Fungsi / alasan penambahan


bahan

1. Pilokarpin Hidroklorida 2% Zat Aktif (Antiglaukoma)

2. Benzalkonium klorida 0,01% Pengawet

3. Natrium asetat 0,055% Komponen dapar (basa konjugat)


4. Asam Asetat 0,073% Komponen dapar (asam)

5. Natrium Klorida 0,287% Zat Pengisotonis

6. Polivinilpirrolidone 3% Peningkat viskositas

7. Dinatrium Edetat 0,05% Pengkhelat logam

8. Natrium Hidroksida q.s. pH adjuster

9. Asam klorida q.s. pH adjuster

10. Aqua pro injection Ad 15 ml Pelarut

VI. Preformulasi eksipient

a. Aqua pro injection

Struktur Kimia

Rumus : H2O

Deskripsi Air steril untuk injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan
dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan
antimikroba atau bahan tambahan lainnya (Farmakope V h. 112)

Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau (Farmakope V h. 112)

Stabilita
- Panas Stabil
- Hidrolisis Stabil
- Cahaya Stabil
- Oksidasi Stabil
(Farmakope V h. 112)

Inkompatibilitas Dengan zat-zat yang mudah terhidrolisis atau terurai oleh


keberadaan air. Dapat bereaksi dengan logam alkali dan logam basa
serta membentuk oksidanya, misal kalsium oksida. Dapat bereaksi
dengan garam anhidrat dan molekul organik tertentu (Farmakope V
h. 112)

b. Natrium asetat

Struktur Kimia

Rumus : C2H3NaO2

Pemerian Massa hablur, putih, kelabu pucat, atau coklat sangat pucat,
higroskopik (FI edisi V, halaman 1726)

Kelarutan Sangat mudah larut dalam air (FI edisi V, halaman 1726)

pH 7,5-9 (FI edisi V, halaman 1726)

Titik leleh 324°C (FI edisi V, halaman 1726)

Stabilita
- Panas Tidak tahan panas
- Hidrolisis Mudah terhidrolisis
(HOPE 6th Ed. halaman 621)
Inkompatibilitas Bereaksi dengan komponen asam dan basa. Akan bereaksi juga
dengan florin, kalium nitrat, dan diketene (HOPE 6th Ed. halaman
621)

c. Asam asetat

Struktur Kimia

Rumus : CH3COOH

Pemerian Cairan, jernih tidak berwarna, bau khas menusuk, rasa asam yang
tajam (FI V halaman 143)

Kelarutan Dapat bercampur dengan air, dengan etanol, dan dengan gliserol (FI
V halaman 143)

pH 3,5- 6,5 (FI V halaman 143)

Titik leleh 15,6°C (HOPE 6th Ed. halaman 6)

Stabilita
- Panas Stabil pada rentang suhu yang dapat disterilkan dengan autoklaf
tanpa kehilangan efektivitas. (HOPE 6th Ed. halaman 6)
- Cahaya Dapat dipengaruhi oleh cahaya, harus terlindung dari cahaya (HOPE
6th Ed. halaman 6)

Inkompatibilitas Asam asetat bereaksi dengan alkali (HOPE 6th Ed. halaman 6)
d. Benzalkonium klorida

Struktur Kimia

Pemerian Serbuk amorf putih atau putih kekuningan, gel kental, atau serpihan
bergelatin. Higroskopis, bersabun dan mempunyai bau aromatik
lembut, rasa sangat pahit (HOPE 6th Ed. halaman 61)

Kelarutan Hampir tidak larut dalam eter, sangat larut dalam aseton, etanol
(95%), metanol, propanol, dan air. Larutan benzalkonium klorida encer
berbusa jika dikocok, mempunyai tegangan permukaan rendah dan
mempunyai sifat detergen dan pengemulsi (HOPE 6th Ed. halaman 61)

pH 4,8-5,5 (HOPE 6th Ed. halaman 61)

Titik leleh 158-163°C (HOPE 6th Ed. halaman 62)

Stabilita
- Panas Stabil pada rentang suhu yang dapat disterilkan dengan autoklaf
tanpa kehilangan efektivitas. (HOPE 6th Ed. halaman 57)
- Cahaya Dapat dipengaruhi oleh cahaya, harus terlindung dari cahaya (HOPE
6th Ed. halaman 57)
- Hidrolisis Dipengaruhi oleh logam dan udara (HOPE 6th Ed. halaman 57)

Inkompatibilitas Inkompatibel dengan sabun dan surfaktan ionik lainnya HOPE 6th Ed.
halaman 62)
e. NaCl

Struktur

Pemerian Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih; rasa
asin (FI V halaman 917)

Kelarutan Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih;
larut dalam gliserin; sukar larut dalam etanol (FI V halaman 917)

pH 7

Titik leleh 801°C

Stabilita Tahan panas (HOPE 6th Ed. Halaman 639)

Inkompatibilitas Korosif dengan besi, bereaksi membentuk endapan dengan perak,


timbal, dan garam merkuri (HOPE 6th Ed. Halaman 639)

f. PVP

Stuktur kimia

Rumus : (C6H9NO)n

Pemerian Berwarna putih sampai krem, tidak berbau atau hampir tidak berbau,
serbuk higroskopis (HOPE 6th Ed. Halaman 582)
Kelarutan Larut dalam asam, kloroform, etanol (95%) , keton, metanol, dan air
(HOPE 6th Ed. Halaman 582)

pH pH 3-7 (HOPE 6th Ed. Halaman 582)

Titik leleh 150°C (HOPE 6th Ed. Halaman 582)

Stabilita PVP akan menjadi gelap sampai batas tertentu saat dipanaskan
- Panas sampai 150 C, dengan penurunan kelarutan air. Dapat di sterilisasi
uap dan tidak akan mengubah sifat-sifatnya. (HOPE 6th Ed. Halaman
582)

- Hidrolisis PVP dapat disimpan dalam kondisi biasa tanpa mengalami


dekomposisi atau degradasi. Namun, karena serbuk bersifat
higroskopis, serbuk harus disimpan dalam wadah kedap udara di
tempat yang sejuk dan kering (HOPE 6th Ed. Halaman 582)

- Cahaya Stabil terhadap cahaya (HOPE 6th Ed. Halaman 582)

Inkompatibilitas PVP kompatibel dalam larutan dengan berbagai macam garam


anorganik, resin alami dan sintetis, dan bahan kimia lainnya.
Membentuk molekul dengan larutan dengan sulfathiazole, natrium
salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tanin, dan senyawa lainnya. Jika
digunakan pengawet seperti thimerosal dapat mengakibatkan
dampak negatif yaitu membentuk kompleks dengan PVP.
(HOPE 6th Ed. Halaman 582)
g. Dinatrium Edetat

Struktur Kimia

Rumus : C10H18N2Na2O10

Pemerian Serbuk kristal berwarna putih, tidar berbau, dan rasa nya asam
(HOPE 6th Ed. Halaman 243)

Kelarutan Tidak larut dalam kloroform dan eter. Sedikit larut dalam etanol (95%).
Larut 1 dalam 11 bagian air (HOPE 6th Ed. Halaman 243)

pH 4,3-4,7 untuk 1% larutan dalam karbondioksida bebas air (HOPE 6th


Ed. Halaman 243)

Titik leleh Dihidrat terdekomposisi pada suhu 252°C (HOPE ed 6 p.243)

Stabilita
- Panas Stabil karena larutan dinatrium edetat dapat di sterilisasi dengan
autoklaf (HOPE 6th Ed. Halaman 243)

- Hidrolisis Bersifat higroskopis dan tidak stabil saat lembab. Mudah terhidrolisis.
(HOPE 6th Ed. Halaman 243)

- Cahaya Harus disimpan pada tempat tertutup / terlindungi dari cahaya (HOPE
6th Ed. Halaman 243)

Inkompatibilitas Dinatrium edetat sebagai asam lemah, menggantikan karbon


dioksida dari karbonat dan bereaksi dengan logam untuk membentuk
hidrogen. Ini inkompatibel dengan zat pengoksidasi kuat, basa kuat,
ion logam, dan paduan logam. (HOPE 6th Ed. Halaman 243)

h. NaOH

Struktur Kimia

Pemerian Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras,
rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh
basah. Sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida
(Farmakope Indonesia V Halaman 1727).

Kelarutan Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P (FI V halaman
917)

pH
pH ~ 12 (larutan 0.05% w/w);

pH ~13 (larutan 0.5% w/w);

pH ~14 (larutan 5% w/w)

(HOPE 6th Halaman 659).

Titik leleh 318oC (HOPE 6th Halaman 659).

Stabilita
- Panas Natrium hidroksida harus disimpan dalam wadah bukan logam kedap
udara di tempat yang sejuk dan kering. (HOPE 6th Halaman 659)

- Oksidasi Saat terkena udara, natrium hidroksida dengan cepat menyerap


kelembapan dan mencair, tetapi kemudian menjadi padat kembali
karena penyerapan karbon dioksida dan pembentukan natrium
karbonat(HOPE 6th Halaman 659).
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan senyawa apa pun yang mudah mengalami
hidrolisis atau oksidasi. NaOH akan bereaksi dengan asam, ester,
dan eter, terutama dalam larutan air (HOPE 6th Halaman 659).

i. HCl

Struktur Kimia

Pemerian Larutan hidrogen klorida berair yang bening, tidak berwarna, berair,
dengan bau yang menyengat (HOPE 6th Halaman 308).

Kelarutan
Dapat bercampur dengan air; larut dalam dietil eter, etanol (95%), dan
metanol (HOPE 6th Halaman 308).

pH
pH = 0.1 (10% v/v larutan encer) (HOPE 6th Halaman 308).

Titik leleh -114.2oC

Stabilita
- Panas Tidak tahan panas, harus disimpan pada suhu di bawah 30 oC

Disimpan pada tempat yang tertutup ( wadah yang tertutup baik, kaca
- Cahaya atau wadah lembam lainnya). Penyimpanan di dekat alkali pekat,
logam, dan sianida harus dihindari (HOPE 6th Halaman 308).

Inkompatibilitas Asam klorida bereaksi hebat dengan basa. Asam klorida juga
bereaksi dengan banyak logam, membebaskan hidrogen (HOPE 6th
Halaman 308).
VII. Persiapan Alat/Bahan/Wadah
a. Alat

No Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi

1 Spatel logam 6 Oven 170oC, 1 jam

2 Batang pengaduk 4 Oven 170oC, 1 jam

3 Kaca arloji 7 Oven 170oC, 1 jam

4 Gelas kimia 50 ml 5 Autoklaf 121oC selama 15 menit


Gelas kimia 100 ml 2
Gelas kimia 2000 ml 1

5 Buret + statif + klem 1 Direndam dalam etanol 70% selama


24 jam

6 Karet pipet tetes 4 Direndam dalam etanol 70% selama


24 jam
Pipet tetes 4 Oven 170oC, 1 jam

7 Gelas ukur 10 ml 2 Autoklaf 121oC selama 15 menit


Gelas ukur 50 ml 2

8 Pipet ukur 2 Autoklaf 121oC selama 15 menit

9 Corong 2 Oven 170oC, 1 jam

10 Tali kasur Secukupnya Dibungkus dengan plastik tahan


panas, diautoklaf 121oC selama 15
menit

11 Alumunium foil Secukupnya Dibungkus dengan plastik tahan


panas, diautoklaf 121oC selama 15
menit

12 pH meter 1 -

13 Membran filtrasi 0.45 µm 2 Autoklaf 121oC selama 15 menit


Membran filtrasi 0.22 µm 2

14 Syringe dan holder 2 Direndam dengan etanol 70%


selama 24 jam

15 Erlenmeyer 50 ml 2 Autoklaf 121oC selama 15 menit


b. Wadah

No Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi

1. Botol tetes mata (tidak 100 Direndam dengan etanol 70%


tembus cahaya) selama 24 jam

c. Bahan
Tidak dilakukan sterilisasi bahan karena metode sterilisasi yang digunakan
adalah sterilisasi bulk dan filtrasi membran

d. Penimbangan Bahan
Keterangan :
● Volume 100 sediaan : 15 ml x 100 = 1500 ml
Volume dilebihkan untuk setiap sediaan : 0,5 ml x 100 = 50 ml
Volume berlebih untuk kehilangan selama penyiapan sediaan = 50 ml
Maka,
Volume total larutan yang akan disiapkan = 1500 + 50 + 50 = 1600 ml

No Bahan Jumlah yang ditimbang

1. Pilokarpin Hidroklorida 2% x 1600 ml = 32 gram

2. Benzalkonium Klorida 0,01% x 1600 ml = 0,16 gram


= 160 mg

3. Natrium Asetat Sebagai komponen basa konjugat dapar :


Mol CH3COONa = 6,73 x 10-3 M x 1,6 L
= 0,010768 mol

Massa CH3COONa = 0,010768 mol x 82,03 g/mol


= 0,883 gram
= 883 mg

4. Asam Asetat Sebagai komponen dapar :


Mol CH3COOH = 0,01224 M x 1,6 L
= 0,019584 mol
Massa CH3COOH = 0,019584 mol x 60,05 g/mol
= 1,176 gram

5. Natrium klorida Sebagai pengisotonis, massa NaCl yang dibutuhkan :


0,286% x 1600 ml = 4,576 gram

6. Polivinilpirrolidone 3% x 1600 ml = 48 gram

7. Dinatrium edetat 0,05% x 1600 ml = 0,8 gram


= 800 mg

VIII. Prosedur Pembuatan, Evaluasi Sediaan, dan IPC

Prosedur Tempat

1. Sterilisasi Alat Kelas D


● Alat dan wadah yang dapat disterilisasi
dengan autoklaf, diautoklaf pada suhu 121 C
selama 15 menit
● Alat dan wadah yang dapat disterilisasi
dengan panas kering, dioven pada suhu 170
C selama 1 jam
● Alat dan wadah yang disterilisasi
menggunakan desinfektan, direndam dalam
etanol 70% selama 24 jam

2. Bahan yang digunakan ditimbang Kelas D


● Zat aktif Pilokarpin HCl ditimbang sebanyak 32
gram
● Zat eksipien ditimbang sebanyak bahan yang
diperlukan (benzalkonium klorida 160mg;
natrium asetat 883mg; asam asetat
1,176gram; natrium klorida 4,576 gram; PVP
48 gram; dan Na2EDTA 800mg)
● Larutan HCl 0,1 N dan NaOH 0,1N dibuat
secukupnya

3. Sebanyak 32 gram pilokarpin HCl dilarutkan Kelas C


dengan 50ml water for injection dalam gelas kimia
2 L (Gelas A)

4. Benzalkonium klorida 160mg dilarutkan dalam Kelas C


10ml water for injection dalam gelas kimia 50ml
lalu dimasukan ke dalam gelas A
5. PVP 48 gram dilarutkan dalam 100ml water for Kelas C
injection dalam gelas kimia 100 ml lalu dimasukan
ke gelas A

6. Dinatrium EDTA 800mg dilarutkan dalam 10ml Kelas C


water for injection dalam gelas kimia 50ml lalu
dimasukan ke gelas A

7. Natrium klorida 4,576 gram dilarutkan dalam 50ml Kelas C


water for injection lalu dimasukan ke dalam gelas
A

8. Pembuatan dapar asetat Kelas C


● Natrium Asetat 883mg dilarutkan kedalam
10ml water for injection lalu dimasukan ke
gelas kimia 50ml (Gelas B)
● Asam asetat 1,176 gram dilarutkan dalam
10ml water for injection lalu dimasukan ke
gelas kimia 50ml
● Lalu larutan asam asetat dimasukan ke
gelas B secara perlahan-lahan lalu di cek
pHnya dengan pH meter
● pH dapar harus sesuai yaitu 4,5. Jika tidak
sesuai ditambahkan HCl atau NaOH
disesuaikan

9. Gelas B dimasukan ke dalam gelas A, lalu Kelas C


Larutan dalam gelas A digenapkan dengan
water for injection hingga 75% (1200 ml) dan
diaduk dengan batang pengaduk

10. pH larutan kembali di cek menggunakan pH Kelas C


meter, jika sudah sesuai, digenapkan hingga 1,6
L (100%)

11. Larutan dilakukan membran filtrasi 0,45 µm dan Kelas C


0,22 µm untuk meminimalisir partikulat

12. Sterilisasi gelas A yang berisi larutan sediaan Kelas D


dengan autoklaf 121 C selama 15 menit (metode
sterilisasi bulk), Gelas A dilapisi dengan
alumunium foil terlebih dahulu.

13. Pengisian bahan ke dalam botol sediaan Kelas A background B


● Siapkan buret steril dan lakukan pembilasan
dengan sediaan sampai bagian dalam buret
terbasahi
● Larutan dituang kedalam buret steril. Ujung
bagian atas buret ditutup dengan alumunium
foil dan bagian ujung bawah buret dibersihkan
dengan alkohol 70%
● Tuang larutan ke dalam botol sediaan
menggunakan buret sebanyak 15,5 ml
● Pasang tutup botol tetes mata

14. Pengemasan dan evaluasi Kelas D


● Botol yang sudah ditutup dibawa ke
ruang evaluasi melalui transfer box
● Etiket ditempel pada wadah
● Sediaan dimasukkan kedalam
kemasan
● Evaluasi sediaan

Evaluasi Akhir Sediaan

No Jenis Evaluasi Prinsip Evaluasi Jumlah Hasil Syarat


Sampel Pengamatan

1. Uji Efektivitas Inokulasi tiap 5 botol - Koloni bakteri


Antimikroba wadah dengan tidak kurang
(Farmakope V satu inokula dari log reduksi
halaman 1354) baku yang telah dari jumlah
disiapkan dan awal pada hari
diaduk. ke-7, tidak
Kemudian wadah kurang dari 3
diinkubasi log reduksi
selama 28 hari pada hari ke-
dan diamati pada 14 dan tidak
setiap hari ke- 7, meningkat
14, dan 28 sampai hari ke-
28.
Koloni kapang
& khamir tidak
meningkat
sampai hari ke-
28

2. Uji Sterilitas Sampel 10 botol - Steril, tidak


(Farmakope V sediaan ada mikroba
halaman 1359) dimasukkan yang tumbuh
dalam medium pada media
steril dengan
kontrol medium
steril dan
kontrol
pertumbuhan
mikroba uji
pada medium
selama tidak
lebih dari 5 hari
3. Uji Kejernihan dan Sampel 3 botol - Larutan
Warna Larutan diletakkan pada dianggap jernih
(Farmakope V tabung reaksi apabila sama
halaman 1521) alas datar yang dengan air
tidak berwarna,
transparan, dan
terbuat dari kaca
netral.
Bandingkan
sampel dengan
larutan suspensi
padanan dan
juga air.

4. Uji Penetapan pH pH sediaan 10 botol - pH 4,5 (sesuai


(Farmakope V diukur dengan
halaman 1563) menggunakan sediaan yang
pH meter pada dibuat)
suhu 25 ±2 C

5. Uji kebocoran Sampel 10 botol Larutan Tidak satu


(Farmakope sediaan tidak botol pun
Indonesia Edisi V diletakkan bocor/keluar bocor
Hal.1613) dengan posisi dari wadah
terbalik
In Process Control

No. Jenis Evaluasi Prinsip Evaluasi Syarat

1. Penetapan pH pH campuran larutan 3,5 - 5,5 (sesuai


(Farmakope Indonesia Edisi V diukur menggunakan monografi obat tetes
Hal.1563) pH meter pilokarpin HCl pada
Farmakope Indonesia
Edisi V Hal. 1013)

2. Uji Organoleptik Pengujian fisik Larutan jernih dan


sediaan meliputi homogen
warna dan
homogenitas
IX. Daftar Pustaka
Florey, K. (Ed.). (1990). Analytical Profiles of Drug Substances, Volume 12. Elsevier
Science & Technology.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia Edisi 5.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
McEvoy, G. K. (1994). AHFS drug information. Oncology Issues, 9(5).
Lund, W. (1994). Principles and practice of pharmaceutics. The Pharmaceutical
Codex, 12th ed. The Pharmaceutical Press, London, 85.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., & Quinn, M. E. (2009). Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th edition Pharmaceutical Press. London, England.
Sweetman, S. C. (2009). Martindale, The comperhensive drug reference 36th Edition.

Anda mungkin juga menyukai