Anda di halaman 1dari 3

Ikuti kami: English

 Jumat, 27 Maret 2015

 Awal
 Berita
 Pusat Data
 Klinik »
 Talks »
 Karier
 Produk dan Jasa
 English

<a href='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/ck.php?
n=a9428a87&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/avw.php?
zoneid=18&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a9428a87' border='0'
alt='' /></a>

Kategori: Kenegaraan

 Siapa yang Berwenang Mengadili Sengketa Pilkada?


 Dasar Hukum Pengibaran Bendera Negara Merah Putih
 Fungsi Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan
 Sudah 3 Periode Sebagai Kades, Bolehkah Mencalonkan Diri Lagi di Desa Lain?
 Arti, Tujuan, Lingkup, dan Contoh Diskresi
 Apakah Kepala Desa Boleh Menjadi Pegawai Negeri Sipil?
 Periode Maksimal Jabatan Kepala Desa
 Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilihan Kepala Desa
 Perbedaan Pengaturan DPRD di UU MD3 dan UU Pemerintahan Daerah
 Bolehkah Pejabat Memiliki Istri/Suami WNA?

Tweets about "@klinikhukum"


<a href='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/ck.php?
n=a31b3220&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/avw.php?
zoneid=19&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a31b3220' border='0'
alt='' /></a>
<a href='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/ck.php?
n=a97ccab6&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://ads.hukumonline.com/www/delivery/avw.php?
zoneid=20&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a97ccab6' border='0'
alt='' /></a>
RUBRIK KLINIK
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum
yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member
hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline, silakan login, atau Daftar ID anda.
Cari jawaban:
Jumat, 14 Pebruari 2014
Pertanyaan:
Bolehkah Pemerintah Desa Memungut Dana dari Masyarakat?
Dalam rangka melaksanakan kewenangan desa, bolehkah pemerintah desa memungut dana dari
masyarakat desa? Sendainya dibolehkan, apa istilah yang tepat untuk pungutan dimaksud
(retribusi desa atau pajak desa atau istilah lainnya)?
ayisumarna

 Tweet

Jawaban:
Tri Jata Ayu Pramesti, S.H.

Terima kasih atas pertanyaan Anda.


 

Sebelumnya, kami akan membahas tentang kedua istilah yang Anda sebutkan, yakni retribusi dan pajak pada suatu
daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (“UU
28/2009”). Retribusi daerah menurut Pasal 1 angka 64 UU 28/2009 adalah pungutan daerah sebagai pembayaran
atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan.
 

Sedangkan pajak daerah menurut Pasal 1 angka 10 UU 28/2009 adalah kontribusi wajib kepada daerah yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
 

Kami kurang jelas mengenai pungutan seperti apa yang Anda maksud. Adapun istilah pungutan yakni disebut dalam
Pasal 69 ayat (4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“UU Desa”), yakni berkaitan dengan
perancangan/penyusunan peraturan desa. Berdasarkan pasal tersebut, Rancangan Peraturan Desa tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa, pungutan, tata ruang, dan organisasi Pemerintah Desa harus mendapatkan evaluasi
dari Bupati/Walikota sebelum ditetapkan menjadi Peraturan Desa.
 

Dari rumusan Pasal 69 ayat (4) UU Desa di atas diketahui bahwa pungutan yang dilakukan oleh desa, harus
dituangkan dalam bentuk Peraturan Desa. Namun sayangnya, UU ini tidak menjelaskan lebih lanjut apa maksud
pungutan tersebut.
 

Dikaitkan dengan pertanyaan Anda, kami berasumsi bahwa pungutan yang Anda maksud adalah dalam konteks
pendapatan desa.
 

Lebih lanjut, yang termasuk pendapatan desa berdasarkan Pasal 68 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 72
Tahun 2005 tentang Desa (“PP Desa”) adalah:

a. pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil
gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah;
b. bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa dan dari
retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa;
c. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa
paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang
merupakan alokasi dana desa;
d. bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka
pelaksanaan urusan pemerintahan;
e. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
 

Terdapat satu penambahan pendapatan desa yang disebutkan dalam Pasal 72 ayat (1) UU Desa yang belum
disebutkan dalam Pasal 68 ayat (1) PP Desa, yakni alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta lain-lain
pendapatan yang sah.
 

Ada penekanan pengaturan dalam Pasal 70 PP Desa yang berbunyi:


(1) Sumber pendapatan daerah yang berada di desa baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh
Provinsi atau Kabupaten/Kota tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa.
(2) Pungutan retribusi dan pajak lainnya yang telah dipungut oleh Desa tidak dibenarkan dipungut atau
diambil alih oleh Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota.
(3) Bagian desa dari perolehan bagian pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota dan pengalokasiannya ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota.
 
Jadi, menjawab pertanyaan Anda, apabila memang sumber pendapatan daerah yang berada di desa sudah dipungut
oleh kabupaten/kota, pemerintah desa tidak dibenarkan meminta pungutan tambahan, baik itu berupa pajak maupun
retribusi.  
 
Selanjutnya, mengacu ketentuan Pasal 70 ayat (2) PP Desa di atas yang memuat frasa ‘pungutan retribusi dan pajak
lainnya yang telah dipungut oleh Desa...’ maka diketahui bahwa peraturan perundang-undangan membolehkan
pemerintah desa meminta pungutan dari masyarakat.
 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat


 
Dasar hukum:

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah  
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa