Anda di halaman 1dari 88

Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 1

2 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

beranda
Tentang Surat Kabar Guru Belajar
Sekolah
Surat Kabar Lawan

Guru Belajar Corona

Yang kita percaya, pendidikan itu utama


Yang kita percaya, pendidikan itu hak semua
Terbit setiap dua bulan sekali, surat Yang kita percaya, pendidikan itu perlu
kabar ini menampilkan praktik baik merdeka belajar, berkolaborasi dan berkarya
pembelajaran dan pendidikan untuk Yang kita percaya, #belajartanpabatas
menularkan kegemaran belajar pada Yang kita percaya #mengajartanpabatas
komunitas guru. Isi tidak sepenuhnya Yang kita percaya #selaluadapilihan
mewakili pandangan redaksi.
Virus Corona memang telah mendunia
Virus Corona mengancam kesehatan kita
Virus Corona membatasi sekolah dan
Dewan redaksi
sebagian kegiatannya
Najelaa Shihab
Tapi akan kah kita biarkan Virus Corona
Bukik Setiawan menghentikan proses belajar anak-anak kita?
Rizqy Rahmat Hani
M. Abdurrahman B Tinggal di rumah, bukan berarti menyerah,
M. Rizky Satria untuk memberikan kesempatan belajar bagi
murid, guru dan orangtua!
Email dan sosial media
Ayo #SekolahLawanCorona!
Kampusguru@cikal.co.id Padukan 3 kekuatan: keahlian, komunitas dan
teknologi
Kampus Guru Cikal
@kampusgurucikal Keahlian guru dan orangtua
@kampusgurucikal Kekuatan jejaring komunitas
Kecanggihan teknologi belajar.

#KerjaBarenganLawanCorona dan
#SekolahLawanCorona adalah kolaborasi
antara Kampus Guru Cikal, Komunitas Guru
Belajar, Sekolah.mu, Keluarga Kita dan Semua
Murid Semua Guru.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 3
kontributor
penyunting

penyunting

penyunting

penyunting
M. Rizky Satria Kristijorini Umi Kalsum Ratno Kumar Jaya
KGB Tangerang Selatan KGB Surakarta KGB Bandung KGB Pemalang
Sekolah Cikal TK Kr. Widya Wacana Pasar Legi Aurora SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan

@rizky_satria Rizky Satria @kristijorini Kristiyorini @kak_umi @ratno_kumar Ratno Kumar Jaya
Wibowo
penyunting
penyunting

Rizqy Rahmat Hani Irma Nurul Fatimah


KGB Pekalongan KGB Depok
Kampus Guru Cikal SMP Lazuardi Al-Falah GIS
@irmalulsie
@rizqyrahmat Rizqy Rahmat Hani
desainer
desainer

desainer

desainer

grafis
grafis

grafis

grafis

Yusuf Muamar Khadafi Lukman Hakim Virandy Putra Rizqy Rahmat Hani
KGB Tegal KGB Pekalongan KGB Belitung KGB Pekalongan
SMPNU 01 BERBASIS PESANTREN SMA Islam Kota Pekalongan SMAN 1 Sijuk Kampus Guru Cikal
BOJONG TEGAL

@ymkhadafi Muamar @ukluk_hakim Lukman @virandhyp Virandy Putra @rizqyrahmat Rizqy Rahmat Hani
Khadafi Hakim
desainer

desainer

desainer
grafis

grafis

grafis

Ina Lina Wilma A.I.S Kailola M. Niamil Hida


KGB Surabaya KGB Jakarta Pusat KGB Pekalongan
Paud Hidayah Surabaya Sekolah.mu MI Kranji 01

@veenuz027 Lina Ina @wilmakailola niamilhida M Niamil Hida


4 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Perubahan cepat dalam kehidupan manusia


karena virus corona, mustahil tak memengaruhi
pendidikan anak-anak kita dan layanan sekolahnya.
Semua proses belajar-mengajar yang terjadi secara
formal di lembaga, dipaksa berubah total menjadi
pembelajaran jarak jauh di rumah. Krisis “jangka
pendek” saat ini dilalui oleh puluhan juta murid,
guru dan orangtua dengan susah payah. Sebagian
bertransisi dan beradaptasi dengan rasa berdaya,
mencoba belajar dan mengajar tanpa batas
diantara wabah. Sebagian yang lain, tanpa akses
yang terjangkau, tanpa kualitas yang tersedia dan
pada akhirnya menjadi korban jangka panjang dari
wabah corona, krisis belajar yang akan memperkuat
kesenjangan pendidikan sampai bertahun-tahun ke
depan.

Penutupan sekolah dan pembelajaran jarak jauh dari


rumah berlangsung di 191 negara dan memengaruhi
1.54 Milliar murid di dunia, menyebabkan banyak

SEKOLAH
ketidakpastian dalam penyelenggaraan pendidikan.
Berbagai isu utama harus diselesaikan; resiko

LAWAN
kesehatan dan keamanan murid dan keluarga,
guru dan tenaga kependidikan, penyediaan akses
instruksional pendidikan (di lembaga formal maupun

CORONA
non formal), kedua hal ini sudah mulai menjadi
perhatian, namun kondisi pelaksanaannya masih
jauh dari harapan. Dua isu utama lainnya berkait
penjaminanmutu pelaksanaan pembelajaran dan
penilaian, juga potensi masalah SDM dan operasional
Najelaa Shihab tampaknya sama sekali belum sempat terjamah.

Bencana dan wabah, datang dengan prioritas yang


berbeda, dan sering kali tidak berpihak pada anak
yang tak berdaya. Tantangan sesungguhnya untuk
kita semua, pendidik yang merdeka dan orangtua
yang penuh cinta adalah apakah kita bisa segera
berpihak pada kepentingan semua dan setiap anak,
memastikan mereka mendapatkan akses pendidikan
yang berkualitas. Ekosistem pendidikan manapun
di dunia, tidak siap menghadapi krisis ini, karenanya
transisi dan adaptasi adalah proses yang pasti perlu
terus kita jalani, tidak saja di minggu-minggu ini tetapi
sampai 1 hingga 6 bahkan 12 bulan mendatang.
Semua dan setiap anak Indonesia, membutuhkan
dukungan dan intervensi efektif, kebijakan yang kuat
dan terarah agar tidak ada kerugian struktural pda
ekosistem dalam jangka panjang. Mari menetapkan
target yang tinggi pada kita sebagai pendidik di
negeri ini, proses pendidikan setelah wabah dan
masuk sekolah bisa kembali ke titik awal dengan
momentum yang tepat. Yang dibutuhkan adalah
komitmen bersama dan strategi yang mumpuni,
bahwa resiko jangka menengah dan panjang yang
sudah teridentifikasi akan bisa kita atasi.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 5
6 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

‘‘
Banyak contoh kerja barengan lawan corona yang
sudah ditunjukkan oleh begitu banyak pemangku
kepentingan pendidikan. Di Kampus Guru Cikal dan
Komunitas Guru Belajar, berbagai kolaborasi dengan
Sekolah.mu dalam gerakan Sekolah Lawan Corona,
begitu banyak praktik baik telah berhasil ditunjukkan
dalam jangka waktu relatif pendek. Modal kemerdekaan
belajar yang ditumbuhkan bertahun-tahun dalam
jaringan, keahlian profesional dalam menerapkan 5M “... menjadi bagian
dalam pembelajaran, yang dilengkapi dengan teknologi
belajar, menghasilkan solusi-solusi dalam jangka kecil dari mereka
pendek yang insya Allah menjadi bagian dari sejarah
perubahan yang terjadi pada pendidikan kita karena yang memilih
corona. Kemerdekaan berkarya, saling mendukung
pemenuhan kebutuhan murid dimanapun ia bersekolah ambil peran,
di seluruh Nusantara, ditunjukkan oleh berbagai
program belajar-mengajar yang dibuat bersama lewat mempraktikkan
platform ataupun proses belajar LIVE di sosial media.
prinsip kerja
Kemerdekaan berkolaborasi, saling percaya bahwa
ada proses kurasi dan tanggungjawab profesi untuk barengan dengan
menggunakan hasil perencanaan, pembelajaran dan
penilaian bersama sebagai bagian dari pembelajaran standard yang selalu
murid-murid kita. Saya selalu bangga berada dari
jaringan ini, tetapi diantara kabar buruk maupun tinggi, adalah salah
kekhawatiran tentang virus corona dan penyakit covid
19, menjadi bagian kecil dari mereka yang memilih satu hikmah yang
ambil peran, mempraktikkan prinsip kerja barengan
dengan standard yang selalu tinggi, adalah salah satu akan selalu saya
hikmah yang akan selalu saya syukuri. Membaca tulisan-
tulisan di surat kabar guru belajar kali ini, saya yakin syukuri”
teman-teman akan merasakan harapan yang sama -
pengalaman Corona dan melaluinya dengan kekuatan
bersama, akan jadi modal penting transformasi
pendidikan Indonesia. Najelaa Shihab
penulis

Najelaa Shihab
Pendiri Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal,
IniBudi.Org, Keluarga Kita, Islamedu,
SekolahMu dan penggagas Pesta
Pendidikan.

@NajelaaShihab
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 7

dari redaksi

MESKI KONDISI
DARURAT, TETAP
MERDEKA BELAJAR
Awal Maret, murid Sekolah Cikal diliburkan. Sementara, kantor
saya dibersihkan dan protokol kesehatan disiapkan dan diterapkan.
Saya pun masuk kantor sudah harus melewati deteksi suhu tubuh.
Masker masih jadi kewajiban buat yang sakit. Tanda peringatan dan
pembersih tangan semprot dipasang di tempat strategis.

Saya masih rapat di sejumlah tempat dengan mengikuti


protokol kesehatan. Situasi Jakarta sudah berubah. Orang-orang
menggunakan masker dan berjarak. Lalu lintas di jalan raya
berkurang, lalu lintas di media sosial bertambah.

Selang beberapa hari, kantor kami menetapkan kebijakan bekerja


dari rumah. Ada kesempatan beberapa hari untuk mengambil
peralatan dan dokumen yang dibutuhkan. Setelah itu, sepenuhnya
saya dan tim KGC sepenuhnya bekerja dari rumah masing-masing.

Ada 4 orang yang sedang berada di luar daerah tetap diarahkan


bertahan di daerahnya: Pekalongan, Lampung, Kebumen dan
Bandung. Jadi per hari ini, tim Kampus Guru Cikal bekerja dari 6
daerah, ditambah 2 daerah yaitu Jakarta Selatan dan Tangerang
Selatan.

Dalam situasi seperti itu, perhatian kami tertuju pada dari


sekolah yang mulai diliburkan. Bagaimana para guru memandu
pembelajaran jarak jauh? Bagaimana pengalaman belajar yang
didapatkan para murid?
penulis

Pertemuan daring dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar,


Sekolah.mu, Keluarga Kita, Semua Murid Semua Guru dan PSPK.
Lahirlah dua inisiatif kolaborasi yaitu #KerjaBarenganLawanCorona
dan #SekolahLawanCorona. #KerjaBarenganLawanCorona
lingkupnya lebih luas pada semua bidang dan pemangku
kepentingan. Sementara #SekolahLawanCorona (SLC) lebih fokus
Bukik Setiawan
pada membantu guru menyediakan pembelajaran jarak jauh yang
Ketua Kampus Guru Cikal
berkualitas untuk muridnya. Kedua inisiatif tersebut diluncurkan
@bukik pada Minggu 15 Maret 2020.

Temu Pendidik Mingguan diliburkan. Tim SLC menggelar Temu


Pendidik Spesial berturut-turut, membagikan RPP pembelajaran
jarak jauh setiap hari, dan tim KBLC mengadakan program kelas
LIVE setiap hari. Lima hari setelah diluncurkan, kami menerbitkan
Panduan Pembelajaran Jarak Jauh Bagi Guru di Situasi Wabah Virus
8 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Corona Dengan Cara Pembelajaran 5M. Kondisi Percayalah, Anda bukan seorang diri yang pusing
genting, bergerak cepat menjadi penting. menghadapi pembelajaran jarak jauh, tapi Anda
termasuk sedikit guru yang merdeka belajar,
Ditulis ringkas begini kesannya seolah prosesnya menghadapi kepusingan dengan belajar cara
mudah. Pada kenyataannya, usulan ide, diskusi, baru. Silahkan optimalkan pengalaman guru,
penajaman ide, salah ketik, revisi lagi, kekeliruan tawaran program dan tautan beragam sumber
dalam penayangan dan banyak proses lagi terjadi belajar di Surat Kabar Guru Belajar ini.
pada pola komunikasi yang dinamis, dari multi
arah. Ide kedua, berupa program kelas pembelajaran
jarak jauh bagi guru merdeka belajar yang
Meski prosesnya demikian, tetap takjub dengan rencananya akan diluncurkan pada pertengahan
sejumlah guru yang antusias untuk bergabung April.
baik di Sekolah Lawan Corona maupun di Kerja
Barengan Lawan Corona. Bayangkan, mereka Bekerja dan belajar di rumah bukan alasan
sebagai guru pada dasarnya mempunyai menghentikan kemerdekaan belajar kita.
kekhawatiran yang sama terhadap penularan
virus corona dan kepusingan yang sama dalam Ayo #SekolahLawanCorona!
menyiapkan pembelajaran jarak jauh untuk
muridnya, tapi mereka masih saja ada energi untuk Padukan 3 kekuatan: keahlian, komunitas dan
dadakan kerja barengan. teknologi
Keahlian guru dan orangtua
Untuk semua guru yang terlibat SLC dan KBLC, Kekuatan jejaring komunitas
saya salut dan mengucapkan terima kasih karena Kecanggihan teknologi belajar
memilih untuk berjuang bersama.
Tetap Merdeka Belajar!
Sebagaimana tradisi merdeka belajar, tidak ada
pelajaran tanpa refleksi atas aksi yang dilakukan.
Meski setiap saat bisa dilakukan penyesuaian, tapi Bukik Setiawan M
kami melakukan refleksi setiap minggu. Ada dua
ide besar yang lahir. Pertama, Surat Kabar Guru
Belajar Edisi Khusus Sekolah Lawan Corona yang #KerjaBarenganLawanCorona dan
berisi pengalaman guru dalam mempraktikkan #SekolahLawanCorona adalah kolaborasi antara
pembelajaran jarak jauh. Kedua, penataan Kampus Guru Cikal, Komunitas Guru Belajar,
ulang program SLC agar lebih fokus dan intensif Sekolah.mu, Keluarga Kita dan Semua Murid
mendampingi guru. Semua Guru.

Ide pertama telah hadir di hadapan Anda.


Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 9
Praktik Baik Pembelajaran

Belajar Hari, Tanggal,


dan Angka di Rumah
untuk Murid Tuli

Saya Lisza Megasari, biasa dipanggil ibu Ega, guru


kelas 2 SDLB - SLB Negeri Binjai, Sumatera Utara.
Saya mengajar enam murid yang memiliki hambatan
pendengaran atau biasa disebut tuli/ tunarungu. Sejak
merebaknya wabah virus Corona/ Covid19, SLB Negeri
Binjai diliburkan oleh Dinas Pendidikan. murid belajar di
rumah, sedangkan guru mendapat jadwal piket untuk
hadir ke sekolah seminggu sekali.

Sebelum libur diterapkan di seluruh Indonesia,


Kampus Guru Cikal (KGC) dan Komunitas Guru Belajar
(KGB) Nusantara sudah menginisiasi sebuah program
pembelajaran jarak jauh blended learning melalui
sebuah platform digital SekolahMu. Sebagai salah satu
penggerak di KGB Binjai, saya memberanikan diri untuk
menjadi pengajar di sesi Belajar Live! dari SekolahMu.
Saya mengajar Sesi 4 selama tiga hari berturut-turut
pada hari Rabu – Jumat, 18 – 20 Maret 2020. Awalnya
sempat ragu. Apakah pembelajaran jarak jauh dapat
dilakukan pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)?
Apalagi untuk ABK tuli jenjang SD yang biasanya belum
memiliki kemampuan berbahasa yang cukup. Mereka
masih berada di tahap Perdati (Percakapan Dari Hati
Ke Hati), tahap paling dasar dari penguasaan bahasa
penulis

anak tuli berdasarkan Metode Maternal Reflektif (MMR).


Karenanya, murid tuli SD pun belum terlalu optimal
memahami bahasa isyarat, bila dibandingkan dengan
murid tuli SMP atau SMA. Namun, berdasarkan konsep
Education For All, anak-anak SD tuli kelas kecil juga
berhak mendapatkan pendidikan seperti anak lainnya.
LISZA MEGASARI Ketika dianggap sulit melakukan pembelajaran jarak
KGB Binjai jauh kepada mereka, kenapa tidak dicoba saja? Gagal
SLB NEGERI BINJAI sebelum berhasil adalah salah satu spirit kemerdekaan
liszam24@gmail.com belajar.
10

‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Gagal sebelum berhasil


adalah salah satu spirit
kemerdekaan belajar.”
LISZA MEGASARI
melompati pagar sekolah, atau kecoa mati
Pada hari pertama dalam sesi Belajar terjepit pintu kelas. Tambahkan perasaan
Live!, saya memilih topik Hari, Tanggal dan mereka di sana. Rasa senang naik kereta
Angka 1-20. Hari dan tanggal sebenarnya api, rasa terkejut melihat kucing melompat,
merupakan topik yang mendasar bagi rasa takut pada kecoa. Lalu bimbing murid
anak. Setiap hari di seluruh Indonesia, untuk “Apa yang kau pikirkan dan rasakan,
setiap guru di jenjang kelas berapapun, begini cara mengucapkannya”
akan bertanya kepada murid. Hari apa
hari ini? Tanggal berapa hari ini? Lalu, Untuk mengajarkan hari dan tanggal, saya
biasanya hari dan tanggal akan dituliskan biasanya melakukannya dengan beberapa
di sudut kiri papan tulis kelas. Bagi murid media. Mulai dari media kartu tempel
tuli, hari dan tanggal adalah kosakata “Nama Hari, Baju Guru & Baju murid”
yang abstrak, yang tidak bisa dilihat dan yang melibatkan murid menentukan
disentuh. Kosakata abstrak lebih sulit hari apa hari ini lewat warna baju guru
diajarkan kepada murid tuli dibandingkan dan murid. Lewat media ini, saya juga
kosakata konkrit yang bisa dilihat dan menyelipkan pembelajaran tentang
disentuh, seperti meja, kucing atau bunga. warna kepada murid. Ketika murid sudah
Dibutuhkan upaya kreatif dari guru untuk menemukan hari, selanjutnya dia akan
membuat murid merasakan hari dan menempelkan kartu hari itu di papan “Ayo
tanggal dalam kehidupannya. Karena Pasang Hari Ini” yang terdapat di sudut
bila tidak kreatif, maka hari dan tanggal kiri papan tulis. Selain kartu hari, papan
cenderung diajarkan lewat cara hafalan. ini juga terdiri atas kartu tanggal/ angka,
Cara menghafal bukanlah cara yang tepat kartu bulan, dan kartu tahun. Adalah hal
dalam mengajarkan murid pada umumnya, yang sangat menarik dan menantang bila
apalagi murid tuli. Dalam Metode melibatkan murid mengganti kartu. Bukan
Maternal Reflektif (MMR), yaitu metode hanya ketika mengganti kartu hari dan
khusus penguasaan bahasa anak tuli, kartu tanggal/ angka setiap hari, tapi ketika
tidak ada hafalan. MMR, yang merupakan mengganti kartu hari di setiap awal minggu
metode yang berpusat pada penelitian (kartu Minggu kembali ke kartu Senin),
ilmiah terhadap kondisi anak tuli, sadar kartu tanggal/ angka di setiap awal bulan
betul bahwa daya ingat jangka panjang (pergantian kartu 31 kembali ke kartu 1),
anak tuli akan lebih optimal bila mereka kartu bulan di setiap awal bulan, dan kartu
mengalami langsung. Alih-alih membuat tahun di setiap awal tahun. Mata murid
mereka menghafal 10 alat transportasi, biasanya akan membulat, lalu dahi berkerut
lebih baik ajak mereka naik kereta api, lalu seakan bertanya kepada guru, “Mengapa
latih mereka mengucapkannya. Alih-alih diganti?”. Saat itulah momen yang amat
menghafal 10 nama hewan, lebih baik ajak pas untuk mengajaknya menuju kalender
seisi kelas berhenti sejenak melihat kucing dan menunjukkan keberadaan 7 hari, 12
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 11
bulan dan/ atau pergantian tahun.

Murid juga diajak mengenal konsep hari


ini, besok, dan kemarin lewat papan “Ayo
Pasang Hari Ini, Besok & Kemarin”. Ada proses
pemahaman literasi dan numerasi di sini. murid
tuli akan diajak untuk berpikir mengenai hari apa
tanggal berapa sebelum dan sesudah hari ini.
Bila sebuah hari sudah kosong di papan “Nama
Hari” karena sudah ditempelkan di papan “Ayo
Pasang Hari Ini”, maka murid cukup mengamati
hari di atas dan di bawah kartu kosong itu.
Begitu juga, di papan kartu tanggal/ angka.
murid cukup mengamati angka di samping
kanan dan kiri kartu yang kosong. Momen ini
melatih kemampuan logis murid untuk mengenal
bilangan lebih besar dan lebih kecil, juga urutan
logis suatu bilangan.

Untuk memahami angka, alih-alih meminta


murid tuli untuk menghafal urutan angka 1-20,
saya lebih memilih mengajak murid merasakan
kegunaan angka dalam kehidupannya, yaitu
lewat tanggal. Selain mengajarkan angka 18
dengan menghadirkan 18 benda untuk dihitung,
saya juga mengajak murid merasakan kehadiran
angka 18 di tanggal 18 setiap bulannya. Setiap
hari, tanggal akan berganti dan murid diajak
merasakan keberadaan urutan angka yang
berganti setiap hari.

Dalam memahami angka, dikenal istilah


membilang dan menghitung. Membilang adalah
ketika seorang anak menyebutkan urutan angka 1
– 10 dengan tepat. Sedangkan berhitung adalah
ketika seorang anak menyebutkan jumlah benda.
Sering terjadi miskonsepsi bahwa membilang
dianggap sama dengan berhitung. Padahal
keduanya berbeda. Pada anak mendengar,
membilang bukanlah hal yang sulit. Biasanya
mayoritas anak mendengar akan masuk TK/ SD
dengan kemampuan membilang yang sempurna,
sehingga guru dapat lanjut mengajarkan
bagaimana berhitung. Sedangkan anak tuli
biasanya masuk sekolah tanpa kemampuan
membilang yang baik. Padahal membilang
adalah prasyarat dari menghitung. Kita tidak
bisa menghitung 5+3 bila tidak berurutan
membilang/ menyebutkan nama bilangan satu-
dua hingga delapan, bukan? Saya biasanya
melatih kemampuan membilang ini dengan
menggunakan kartu “Angka & Nama Bilangan”.
Berdasarkan konsep Komunikasi Total (Komtal)
pada pembelajaran bahasa anak tuli (Bicara,
Menulis, Membaca, Berisyarat, Mendengar/
‘‘
12 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

“Saya mengamati
pembelajaran jarak jauh ini
memberikan kesempatan pada
orangtua untuk lebih banyak
menghabiskan waktu bersama
ABK mereka. “
LISZA MEGASARI

Membaca Ujaran), maka nama bilangan ini bisa mempererat hubungan orangtua
diberikan kepada murid tuli lengkap dan anak. Anak diizinkan secara mandiri
dengan tulisan, cara membaca, isyarat, dan menentukan ukuran dan warna kartu.
membaca ujaran (dahulu disebut baca bibir). Ketika saya meminta orangtua berefleksi
tentang proses pembuatan kartu, mayoritas
Seluruh proses yang disebutkan di atas, berkata bahwa malah anak-anak tuli mereka
yang biasanya dilakukan murid setiap yang memberitahu orangtua bagaimana
hari di kelas, saya tuangkan dalam video membuat kartu yang benar. Hal ini terjadi
mengajar pertama saya di sesi Belajar Live! karena memang seluruh media di kelas
SekolahMu dengan link https://youtu.be/ saya merupakan hasil karya bersama murid.
FUl182L2iCg Link video ini saya share ke murid tahu benar bagaimana kartu-kartu
grup whatsapp (wa) kelas saya. Sebelum tersebut dibuat. Begitu pula ketika orangtua
wabah Covid19, kelas kami memang sudah membimbing cara menggunakan kartu.
memiliki grup wa sehingga tidak perlu Menurut orangtua, anak-anak tuli mereka
membuat grup lagi. yang malah bersemangat mengajarkan
tahapan penggunaan kartu kepada
Para orangtua memberikan apresiasi besar orangtuanya.
terhadap video itu.
“Ifa senang sekali melihat bu Ega di Keenam murid saya memiliki pencapaian
youtube”, ujar Mama Ifa di chat grup, yang berbeda. Anton, Ifa, dan
“Berkali-kali ditontonnya, Bu”. Zaid (ketiganya memiliki hambatan
“Kami sudah subscribe youtube bu Ega ya. pendengaran/ tuli saja) sudah memahami
Alif yang minta”, ujar Mama Alif. konsep hari dan tanggal. Mereka bahkan
“Diupayakan untuk nonton bersama anak sudah mulai mengenal konsep bulan. Pada
kita ya Bu. Lalu mohon dibuat kartu-kartu orangtua mereka, saya meminta agar papan
yang ada di video itu. Setiap hari, latih Ayo Pasang Hari ini tetap dilakukan setiap
kartunya bersama anak, seperti di video itu”, hari, namun penekanannya adalah kepada
saran saya kepada para orangtua. pengucapan nama hari, tanggal dan bulan
dengan tepat. Zaid sudah menguasai
Saya meminta orangtua untuk membuat membilang 1-20. Untuknya, saya mohon
kartu bersama anak. Proses membuat kartu, kepada orangtuanya untuk mulai fokus pada
menggunting, melipat dan mewarnai kartu menulis nama bilangan. Sedangkan untuk
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 13
Anton dan Ifa yang masih menguasai membilang
1-10, saya berpesan agar lanjut dilatih membilang
11-20. Boleh diajarkan menulis, namun jangan terlalu
fokus pada menulis.

Rei dan Alif (keduanya tuli dan memiliki hambatan


konsentrasi/ ADHD) belum memahami konsep hari
dan tanggal. Untuk mereka, saya berpesan agar
orangtua lebih fokus kepada penggunaan kartu
saja. Walaupun anak tetap dilatih mengucapkan,
namun jangan difokuskan, karena khawatir akan
membebani anak. Mereka masih menguasai angka
1-5, sehingga jangan dahulu diajari angka 6-20. Hal
yang sama juga saya pesankan kepada orangtua
Umi, salah seorang murid saya yang selain tuli, juga
memiliki hambatan penglihatan/ mata kiri low vision,
dan hambatan IQ/ slow learner. Bahkan untuk Umi,
angka boleh diturunkan menjadi hanya 1-3 saja. Saya
memberitahu orangtua mengenai asesmen awal anak
ini lewat chat pribadi/ japri atau lewat telepon. Di
grup, saya hanya menyampaikan bimbingan umum.
Hal ini agar setiap orangtua dan anak terlindungi
privasinya. Orangtua juga diarahkan mengirimkan
hasil pembelajaran via japri kepada saya, tidak lewat
grup, agar menghindari nuansa kompetisi.

Saya mengajak orangtua untuk berefleksi setiap


tiga hari sekali di grup. Orangtua boleh memilih
waktu yang pas untuk berefleksi, karena saya tidak
menetapkan jam khusus. Setiap tiga hari, orangtua
boleh komen di grup pada jam berapapun, dan saya
sebisa mungkin akan membalas komen itu. Refleksi
dilakukan bukan sekedar memberitahukan sejauh apa
perkembangan anak, namun juga mengajak orangtua
mengungkapkan apa hal yang menyenangkan dan
hal yang menyulitkan selama pembelajaran jarak
jauh. Juga mengajak mereka menyampaikan apa
yang akan mereka perbaiki dalam pembelajaran
berikutnya.

Saya mengamati pembelajaran jarak jauh ini


memberikan kesempatan pada orangtua untuk lebih
banyak menghabiskan waktu bersama ABK mereka.
pembelajaran bermakna juga terjadi, karena lewat
pembelajaran ini, saya mengajak orangtua untuk
memberikan terapi wicara di rumah kepada anak-
anak mereka dengan MMR, dan bukan memaksa
murid bicara dengan cara menghafal seperti cara
lama.
14 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 15
Praktik Baik Pembelajaran

Merdeka Belajar
dengan Ajak Murid
Memilih Tantangan

S
eperti yang sudah diketahui bersama bahwa wabah
virus corona atau yang sering didengar dengan nama
covid-19 sudah menyebar di berbagai negara, tidak
terkecuali Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan
pemerintah dengan sangat cepat untuk mencegah
penyebaran virus yang semakin meluas. Efek dari adanya
virus ini sangat berpengaruh di semua sektor kehidupan,
salah satunya di dunia pendidikan. Sesuai arahan dari
pemerintah bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah
untuk sementara waktu ditiadakan, serta dianjurkan untuk
melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh.

Semenjak mengetahui arahan tersebut, saya langsung


berpikir cepat bagaimana menyusun pembelajar jarak
jauh untuk murid. Saya teringat dengan WAG kelas yang
dibuat oleh wali kelas untuk setiap kelasnya. WAG tersebut
digunakan untuk memberikan berbagai informasi terkait
kelas ataupun informasi dari sekolah. Tak sedikit guru yang
memberikan tugas dalam bentuk soal melalui grup tersebut
dengan menggunakan Quizizz atau Edmodo. Alhasil saya
memilih menghubungi ketua kelas untuk meminta tolong
agar dibuatkan grup mata pelajaran Bahasa Indonesia
sesuai dengan mapel yang saya ampu, dikarenakan WAG
tersebut tercampur dengan beberapa guru lainya.

Setelah dibuatkan WAG khusus mata pelajaran, saya


menawarkan ke murid untuk membangun kesepakatan
bersama terkait proses belajar yang nantinya akan dilakukan
melalui jarak jauh. Pembahasa tersebut meliputi, mengenai
platform belajar yang akan digunakan, sistem belajar yang
penulis

seperti apa dan berapa durasi pembelajaranya.

Hasil diskusi dengan murid yaitu, mereka memilih platform


belajar hanya dengan menggunakan WAG dikarenakan
ternyata banyak murid yang sudah tidak bisa mendownload
aplikasi baru. Kemudian mereka juga menginginkan
Dina Marta Aulianingrum adanya pembahasaan materi terlebih dahulu, bukan hanya
KGB Pekalongan langsung diberi tugas untuk mengerjakan soal. Lalu untuk
SMK Negeri 1 Kedungwuni durasi belajarnya mereka memilih malam hari selama 90
dinamarta3391@gmail.com menit, dimulai pukul 18.30 WIB. Hal ini menjadi tantangan
16 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

tersendiri bagi saya untuk mengemas dan netral. Saya memberikan kesempatan
pembelajaran jarak jauh yang menarik dan kepada murid untuk menjawab selama 20
bermakna untuk murid. Otak saya langsung menit dan mereka berusaha dengan cepat
berputar dengan cepat, lalu saya menemukan untuk menjawabnya.
ide untuk memberdayakan konteks tentang
virus corona. Saya mengambil tema social “Jawaban Pro : Saya setuju dengan adanya
distancing untuk materi belajar debat di kelas social distancing itu perlu karena dapat
X. meminimalisir penularan virus corona.”

Sebelum memulai pembelajaran, saya “Kontra : Saya tidak setuju dengan adanya
mengabsen murid untuk memastikan social distancing karena dapat menghambat
mereka online dijam tersebut dan mengikuti pekerjaan orang tua yang melakukan aktivitas
pembelajaran. Saya memulai pembelajar di luar rumah, sehingga dikhawatirkan akan
tersebut dengan memberikan pertanyaan berdampak pada kebangkrutan dan tidak bisa
reflektif ke murid secara bertahap dan memenuhi kehidupan sehari-hari.”
mengajaknya berdiskusi. Dimulai dari mengapa
saat ini pembelajaran di sekolah ditiadakan, “Netral : Sebenarnya tergantung dengan
bagaimana cara mencegah virus corona, apa individu yang menanggapinya tentang perihal
itu social distancing dan apa saja bentuk dari social distancing itu sendiri.”
social distancing. Saat itu murid begitu antusias
untuk menjawabnya. Setelah semuanya Melihat jawaban dari murid yang sangat
berusaha menjawab, saya meluruskan jawaban bervariasi membuat saya terkagum, ini
dari mereka yang sekiranya masih kurang benar-benar diluar dugaan saya. Setelah
tepat. Selanjutnya saya menyampaikan ke itu, saya mengajak murid untuk melakukan
murid bahwa saat ini kita sedang belajar refleksi bersama. Banyak dari mereka yang
materi debat, lalu saya meminta mereka untuk mengatakan tertarik dengan pembelajaran
memberikan pendapat terkait social distancing jarak jauh seperti ini karena tidak monoton,
itu perlu atau tidak ? dengan memberikan 3 mereka juga belajar berpendapat dari berbagai
sudut pandang pendapat ya yaitu pro, kontra sudut pandang mengenai social distancing.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 17
Sketsa yang dibuat murid
Setelah murid melakukan refleksi saya mengakhiri
pembelajaran jarak jauh dan melanjutkannya lagi di
pertemuan berikutnya.

Keesokan harinya, saya melanjutkan pembelajaran


untuk pertemuan kedua. Seperti biasa, saya
mengabsen murid untuk memastikan bahwa
mereka mengikuti pembelajaran. Sebelum memulai
pembelajar, saya mencoba untuk mengingatkan
murid terkait pembelajaran pada pertemuan yang
lalu. Setelah itu, dilanjut dengan menyampaikan
kegiatan di pertemuan kedua ini yaitu, bagaimana
peran/kontribusi murid dalam melakukan social
distancing.

Pada kegiatan ini, saya memberi tantangan belajar


ke murid. Dimana tantangan tersebut bukan
mengerjakan soal, melainkan mengajak murid
untuk mengambil peran atau berkontribusi terkait
permasalahan di sekitar dengan membuat projek
yang bisa bermakna dan merdeka. Proyek tersebut
dikerjakan secara individu sesuai dengan hobi
mereka.

Bentuk proyeknya sangat sederhana, pertama


murid memilih tema yang akan dikerjakan. Saya
memberikan dua opsi, yaitu peran murid dalam
melakukan social distancing. Dimana peran yang
diambil bisa mengedukasi masyarakat terkait
social distancing. Berikutnya yaitu peran murid
dalam memberikan dukungan bagi mereka yang
tidak memiliki pilihan dan harus tetap bekerja di
luar seperti para medis, ojol, petugas keamanan,
petugas kebersihan, reporter, penjaga apotek,
penjaga supermarket dan pedagang.

Setelah menentukan tema, murid diberi


kebebasan untuk memilih cara mengerjakan
atau membuat proyek tersebut sesuai dengan
hobi mereka. Saya memberikan beberapa opsi
hobi yang biasa dilakukan oleh murid, yaitu
menggambar, menyanyi, ngevlog dan mendesain
(infografis/poster). Proyek yang dibuat berkaitan
dengan social distancing. Misalnya, yang
memiliki ketertarikan menggambar, murid dapat
menggambar terkait social distancing. Murid yang
mempunyai hobby menyanyi, bisa membuat lagu
terkait social distancing lalu dilagukan dan divideo.
Untuk murid yang suka dengan ngevlog, bisa juga
membuat konten video terkait social distancing.
Lalu bagi murid yang meminati desain (infografis/
poster), mereka bisa membuat desain tersebut
terkait social distancing. Saya memberikan contoh
projek disetiap hobby yang akan diminati murid.

Projek tersebut harus diselesaikan murid dalam


kurun waktu tiga hari. Selama mengerjakan
projek, murid diperbolehkan untuk konsultasi
Poster yang dibuat murid di WAG untuk mendapatkan feedback. Mereka
18 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

mengerjakan projek dengan sangat antusias.


Banyak murid yang menyelesaikan sebelum
batas waktu yang ditentukan. Lagi-lagi
saya dibuat takjub dengan karya murid.
Setelah projek tersebut saya setujui, mereka
memposting karya melalui media sosial masing-
masing.

Setelah murid mengumpulkan projek, saya


mengajaknya untuk melakukan refleksi bersama
terkait pembelajaran yang sudah dilakukan. Saya
menanyakan bagaimana pembelajaran hari ini
dan hal apa saja yang sudah didapatkan. Mereka
mengatakan bahwa pembelajaran kali ini sangat
seru sekali, mereka bisa belajar berpendapat
dengan berbagai sudut pandang, mendapat
informasi lebih terkait isu yang sedang hangat
dibicarakan, mengerjakan tugas yang bukan
berbentuk soal, melainkan proyek yang sesuai
dengan hobby dan projek tersebut bisa
bermanfaat untuk orang lain.

Dari pembelajar jarak jauh ini saya banyak


belajar dari murid, bahwasanya pembelajaran
jarak jauh itu bukan tentang secanggih apa
platfon yang digunakan. pembelajaran akan
tidak bermakna jika murid hanya disuruh
untuk mengerjakan soal di platfon tersebut
tanpa adanya pembahasan materi dari guru.
pembelajaran dengan memahami murid
dan dilakukan dengan merdeka belajar akan
jauh lebih bermakna. pembelajaran jarak
jauh pun bukan menjadi suatu halangan
bagi guru untuk terus menjelajah keadaan di
sekitar guna dijadikan bahan materi dalam
pembelajaran. Sebagai guru juga harus jeli
dalam memberdayakan konteks ketika mengajar,
karena dengan begitu pembelajaran akan
lebih bermakna untuk murid bukan malah
menyalahkan keadaan.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 19

Sekolah Lawan Corona

Sebuah Inisiasi
Membantu
Pembelajaran
Jarak Jauh
Rizqy Rahmat Hani

Bob Marley percaya bisa menyembuhkan Di masa seperti ini ketika virus corona
rasisme dan kebencian dengan menyuntikan menyebar, membuat aktivitas manusia banyak
musik dan cinta kepada manusia. yang harus dilakukan di rumah. Bekerja, belajar
dan beribadah harus dilakukan di rumah. Virus
Suatu hari ia dijadwalkan tampil di sebuah membuat semuanya berubah. Kalau dalam
konser damai, seorang penembak mendatangi kalimat Bob Marley yang saya kutip di depan,
rumahnya dan mencoba membunuhnya.Dua virus ibarat orang-orang yang ingin membuat
hari kemudian, ia naik panggung dan bernyanyi. dunia ini lebih buruk. Tapi seperti Bob Marley
Kemudian seseorang bertanya, yang terus bernyanyi dan menyampaikan salam
cinta dan damai, banyak inisiasi yang dilakukan
“Kenapa Kamu terus bernyanyi padahal banyak banyak orang dan organisasi di saat seperti ini.
orang yang membahayakan dan mencoba Orang-orang bergerak untuk tidak berhenti
membunuhmu?” menerangi kegelapan,

Ia berkata “Orang-orang yang berusaha Para influencer membuat penggalangan


membuat dunia ini lebih buruk, tidak pernah dana, membuat konten edukasi masyarakat
berhenti, bagaimana aku bisa berhenti untuk tetap #DiRumahAja, tenaga medis yang
menerangi kegelapan?” terus bergerak untuk menyelamatkan ratusan
nyawa, musisi membuat konser digital untuk
Cuplikan dialog tersebut saya dapatkan dari menghibur orang-orang yang #DiRumahAja.
film Im Legend, film tentang wabah virus yang
menyebar di kota New York dan dibintangi Salah satu inisiasi yang digerakkan oleh Kampus
Will Smith. Will Smith di sana berperan Robert Guru Cikal, Komunitas Guru Belajar, Sekolah.
Neville, seorang ahli virus yang sedang mu, Semua Murid Semua Guru dan Keluarga
meneliti obat yang bisa digunakan untuk Kita ialah inisiasi #SekolahLawanCorona.
menyembuhkan orang yang terkena virus itu.
20 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Untuk mencapai tujuan tersebut kami


#SekolahLawanCorona membentuk tim #SekolahLawanCorona yang
Himbauan untuk belajar di rumah disampaikan beranggotakan guru-guru dari Komunitas Guru
oleh beberapa pemerintah daerah. Tak ayal ini Belajar berbagai daerah. Guru-guru mendapat
membuat pembelajaran yang biasanya tatap beberapa peran untuk mencapai tujuan di atas.
muka, harus diubah menjadi pembelajaran
jarak jauh. Perlu adaptasi bagi murid, guru Inilah beberapa peran guru di tim
dan orangtua untuk melakukan pembelajaran #SekolahLawanCorona
jarak jauh. Komisi Perlindungan Anak Indonesia 1. Tim Program = merencanakan dan
(KPAI) mencatat bahwa sejak diberlakukannya merancang program.
pembelajaran jarak jauh banyak anak-anak yang 2. Tim Lawan Miskonsepsi = membuat daftar
stress. web resmi dan mengkategorikan informasi.
3. Tim Pembuat Konten = membuat konten
Lalu kenapa ini bisa terjadi? kampanye.
4. Tim Penyebar Konten = menyebarkan konten
Dari yang saya amati, banyak guru yang sekadar di berbagai kanal.
meminta murid mengerjakan soal, merangkum 5. Tim Pemberi Komentar = memberi komentar
tulisan, dan mengerjakan tugas-tugas lain yang di grup, media sosial.
tiap hari harus dikumpulkan.
Tim-tim tersebut melnjalankan beberapa
Inilah salah satu alasan mengapa inisiasi aktivitas tiap harinya untuk mencapai tujuan.
#SekolahLawanCorona lahir, mengajak guru- Aktivitas tersebut anatara lain :
guru untuk melakukan pembelajaran yang 1. Temu Pendidik Spesial
bermakna, bukan sekadar menggugurkan #SekolahLawanCorona. Diskusi tiap hari tentang
kewajiban semata. tips menghadapi Corona dan menjalankan
strategi pembelajaran jarak jauh untuk guru,
Tujuan #SekolahLawanCorona antara lain : orangtua dan kepala sekolah
1. Mengembangkan sekolah sebagai tempat 2. Posting konten RPP dan informasi program
yang aman buat anak. ke grup guru yang dibagi per fase yang dapat
2. Mengurangi risiko penularan virus corona di diterapkan secara mandiri oleh guru atau
sekolah. orangtua.
3. Menjadikan antisipasi bencana sebagai 3. Menyediakan program yang dapat diakses
kesempatan belajar bagi murid, guru, orangtua gratis di platform SekolahMu .salah satunya
dan sekolah
Selain itu beberapa produk yang sudah dan
akan diproduksi oleh tim #SekolahLawanCorona
untuk memberikan inspirasi kepada guru,
murid dan orangtua. Salah satu yang sudah
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 21
dipublikasi ialah Panduan Pembelajaran Jarak Jauh,
sebuah panduan bagi guru yang akan merancang
pembelajaran jarak jauh, yang bisa diunduh di sini.

Selain itu, yang akan berjalan berikutnya adalah Surat


Kabar Guru Belajar. Praktik-praktik baik yang dilakukan
oleh guru-guru akan kembali dipublikasikan agar
memantik guru lain melakukan praktik baik, sehingga
makin banyak guru yang melakukan pembelajaran jarak
jauh yang bermakna.

Dari apa yang dilakukan banyak guru-guru yang telah


terbantu, Guru Annisa Ratnasari di grup Telegram
#SekolahLawanCorona SD 1-3 salah satunya,

“Hari ini saya mulai pembelajaran sma persis dengan


rpp yg sya donwload disini. Saya mulai kelas dengan

‘‘
konfirmasi kehadiran anak2 melalui orangtua. Kmudian
saya berikan gambar2 tentang corona dan meminta
anak2 orangtua untuk mendiskusikan gambar2 tesebut
dengan anak2. Jadi perintah bnyak diberikan kpada
orangtua yg nantinya bisa disampaikan kpada anak2.
Sya tunjuk bberapa siswa untuk mengshare hasil diskusi
bersama orngtua mereka via VN/ pesan suara. Di akhir
sesi saya minta mereka untuk membuat video pendek

..yang berusaha
cara memcuci tangan dengan benar. Dan hasilnya
saya minta untuk share di story WA orangtua masing.

membuat dunia
Dan saya beri feedback melalui Wapri dengan cara
berkomentar pada story WA”

ini lebih buruk Yang kita percaya, pendidikan itu utama

tidak pernah
Yang kita percaya, pendidikan itu hak semua
Yang kita percaya, pendidikan itu perlu merdeka

berhenti,
belajar, berkolaborasi dan berkarya
Yang kita percaya, #belajartanpabatas

bagaimana aku
Yang kita percaya #mengajartanpabatas
Yang kita percaya #selaluadapilihan

bisa berhenti Virus Corona memang telah mendunia

menerangi
Virus Corona mengancam kesehatan kita
Virus Corona membatasi sekolah dan sebagian

kegelapan?”
kegiatannya

Tapi akan kah kita biarkan Virus Corona menghentikan


proses belajar anak-anak kita?

Tinggal di rumah, bukan berarti menyerah,


untuk memberikan kesempatan belajar bagi murid,
Bob Marley guru dan orangtua!

Ayo #SekolahLawanCorona!
Padukan 3 kekuatan: keahlian, komunitas dan teknologi

Keahlian guru dan orangtua


Kekuatan jejaring komunitas
Kecanggihan teknologi belajar.
22 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

ikut diskusi di

bit.ly/DaftarTPSpesial

Unduh bit.ly/PanduanSLC5M Ikut Kelas di

sekolah.mu/tanpabatas

Daftar Grup

bit.ly/JoinGrupSLC

Unduh RPP

bit.ly/RPPHSLC
Unduh
bit.ly/TipsSLC
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 23
Testimoni Tim
Sekolah Lawan Corona
Pembuat

Senang bisa bergabung di tim SLC dan bisa berkolaborasi bersama di


tengah pandemi ini. Semua kerja barengan dengan satu tujuan yang
konten

sama. Salinh belajar dari satu sama lain dan terus menebar manfaat
bersama, serta manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain adalah hal yang
luar biasa. Terima kasih

Abdulaziz Hafidhurrahman
KGB Depok
Hawtn Edukasi/Creativa

Bekerja dengan tim #SLC yang luar biasa membuat saya berada pada
zona bertumbuh, membuat saya paham apa yang bisa saya lakukan
untuk ikut berjuang melawan pandemi ini, walau tidak terjun langsung
Pembuat
Program

di zona merah. Membuat saya fokus mendukung teman-teman guru


seperjuangan, untuk tetap bersama memberikan layanan pendidikan
dengan pembelajaran jarak jauh dan memastikan hak murid untuk
belajar tidak terabaikan. Secara tidak langsung, dengan memberikan
dukungan program dan materi kepada guru dan juga orangtua, tim
#SLC turut mendukung murid dan orangtua tetap #DiRumahAja serta
turut serta membantu sosialisasi pandemi Covid19 ini kepada masyarakat
luas. Seperti halnya sedang maraton, tim #SLC yang selalu memberikan
Febriandrini amunisi tiap hari, membuat saya tidak berhenti berlari sampai pandemi
KGB Depok ini berakhir. May Allah SWT bless you all. Amen.
SMP Lazuardi Al Falah GIS

Bersyukur KGB membentuk dan mengajak untuk menjadi Tim Sekolah


Lawan Corona,saya ikut berperan menjadi penyebar konten,yang paling
Penyebar

saya merasa terbantukan dengan adanya RPP yang disusun oleh tim SLC
Konten

bukan saya tapi semua guru terbantukan di KGB Daerah pada khususnya

Tetap memberikan pembelajaran bermakna,merdeka belajar berpihak


kepada anak dalam situasi seperti sekarang .
Terimakasih

Yulia Rahmawati
KGB Probolinggo
SD Negeri Krejengan

Senang dan terharu. Banyak pembelajaran dan pengalaman dari


Komentar

bertanya, kemudian menemukan sendiri jawabannya, awalnya tidak


Pemberi

percaya bisa terlibat, tapi semangat yg sangat besar agar dapat


membantu pemerintah, sekolah, siswa dan orang tua, maka bekerja di
TIM SLC ini jawabannya, kolaborasi.

Di tim inilah keyakinan bahwa belajar tanpa batas dan mengajar tanpa
batas serta selalu ada pilihan semakin kuat, Dan semakin meyakini
bahwa saya tidak sendiri, di KGBN banyak tangan yang selalu siap untuk
membantu . Terimakasih untuk kerja barengan ini
Erni Marlina
KGB Makassar
SMK Negeri 7 Makassar
24 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Testimoni Tim
Sekolah Lawan Corona

Aristoteles percaya bahwa “Kebajikan terbesar adalah mereka yang paling


bermanfaat bagi orang lain.” Dan tergabung dalam Tim Sekolah Lawan
Pembuat

Corona membuat saya semakin percaya bahwa inilah kesempatan yang


dihadiahkan semesta untuk semakin belajar, bertumbuh, berkolaborasi,
konten

berefleksi, dan menyebar luaskan kebermanfaatan.

Pandemi ini tidak akan membatasi kita untuk belajar


Tim #SekolahLawanCorona memberikan panggung untuk mendukung
teman-teman guru, memberikan layanan pendidikan
Tim #SekolahLawanCorona memberi keyakinan bahwa
#belajartanpabatas #mengajartanpabatas #selaluadapilihan
Elvrida Rosalia Indraswari
Tim #SekolahLawanCorona memberikan keluarga
KGB Semarang
School of Life Lebah Putih
Terimakasih Tim Sekolah Lawan Corona.

Mendengar berita dunia mengalami pandemi Virus Covid-19, dan


Miskonsepsi

memulai pembelajaran jarak jauh. Membuatku jadi harus banyak


belajar sehingga bisa membantu teman-teman se Nusantara. Bersama
tim SLC, saya belajar sembari ikut berperan membantu teman teman
Lawan

pendidik memberikan informasi mengenai pandemi virus ini juga bahan


pembelajaran kelas daring.

Meskipun guru dirumah, tetap bisa mengajar dan berkarya bersama


dengan siswa. Belajar tanpa batas bersama Tim Sekolah Lawan Corona

Adelia octoryta
KGB Gowa
Rumah Sekolah Cendekia
Penyebar
Konten

Kerennya Kolaborasi, saling berbagi kesemangatan, dan terharu nya


ketika hasil kerjasama, dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Yusuf Muamar Khadafi


KGB Tegal
SMPNU 01 Berbasis Pesantren
Komentar
Pemberi

Berada di tim SLC menjadikanku belajar banyak tentang pentingnya


sebuah kolaborasi dan kerjasama untuk saling tolong menolong
ditengah wabah pandemi Corona yang melanda. Tim SLC merupakan
penolong dunia pendidikan di Indonesia ini.

Choifah
KGB Jepara
MA Walisongo
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 25

Testimoni Tim
Sekolah Lawan Corona
Penyebar

Senang dan terharu. Pekerjaan yang tadinya terasa tidak mungkin, akan
Konten

terasa mungkin dan mudah jika dilakukan bersama, kolaborasi. Di tim


inilah keyakinan bahwa belajar tanpa batas dan mengajar tanpa batas
serta selalu ada pilihan semakin kuat. Terimakasih untuk kerja barengan
ini.

Tosi Widhya Prastiwi


KGB Depok
Hawtn Edukasi/Creativa
Miskonsepsi

Semua komunitas bergerak sesuai bidangnya.. bersyukur sekali di KGB


ada ajakan mjd Tim Sekolah Lawan Corona, sy jd bisa ikut berperan ambil
Lawan

bagian di tengah bencana pandemic ini..

Ada kebermaknaan saat waktu sisa mengajar kita tersalurkan dengan


bijak dan memberikan dampak, khususnya di bidang pendidikan

Lilik Nur Indah Sari


KGB Pekalongan/Tangerang
SD Islam Nurul Hikmah Legok Tangerang
Koordinator

Saya merasa bahagia bisa bekerja bareng guru-guru dari berbagai


daerah untuk satu tujuan, membantu guru-guru lain berdaya dalam
situasi seperti ini.

Rizqy Rahmat Hani


KGB Pekalongan
Kampus Guru Cikal
26 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Testimoni Pengguna Produk


Sekolah Lawan Corona

Pengguna RPP Harian

Bukan hal yang mudah untuk menyiapkan RPP untuk siswa selama
belajar di rumah dengan menggunakan media teknologi.

Hampir setiap hari dituntut untuk berpikir mengembangkan ide


kreatif yang berpihak pada anak serta bagaimana agar pendamping
(orang tua/ keluarga) mudah menerapkannya kepada anak-anak
mereka.

Dengan adanya RPP dari Sekolah Lawan Corona, saya menjadi sangat
terbantu dan terinspirasi untuk memberikan hak belajar kepada siswa
dengan cara yang menyenangkan dan bisa dipertanggung jawabkan.

Terimakasih Sekolahmu.
Karomah Zidnil - KGB Pekalongan

Penonton Belajar Live!

Aku Nabilah Lailatul Anhar mahasiswi Kalbis Institute dari program


studi Ilmu Komunikasi. Jadi ini pertama kalinya aku ikut livestreaming
dari Sekolah.mu banyak pelajaran dari bang Iwet sendiri yang
diberikan walaupun waktunya masih kurang sebenarnya. Karena
banyak yang mau ditanyain dan banyak juga yang mau bertanya.
Nggak cuma diberi tips trick tapi ada juga latihan latihan vocal sampe
dipraktekin juga di situ sama bang Iwet dan kak Eki.
Livestreaming-nya nyaman, apresiasi banget juga buat
operatornya karena operatornya gercep banget ngeramgkum isi
pembahasan dan ngasih point pointnya di screen, moderartornya
juga asik dan pertanyaan tersampaikan dengan jelas. Dan kupikir
kita butuh banget program kayak gini di saat seperti ini. We get this
for free tinggal modal kuota aja, dengan ilmu yang didapat pastinya
worth it, apalagi ini di keep dan bisa di tonton ulang.

Temu Pendidik Spesial

Strategi pembelajaran Menu Mingguan adalah hasil modifikasi dari


materi Temu Pendidik Spesial @kampusgurucikal yang disampainan
oleh Bu Andri. Pada strategi ini, kami ingin mendorong anak untuk tak
sekadar paham materi pelajaran. Mereka bebas membuat karya terkait
materi mapel, tapi mereka harus paham&presentasi tentang tujuan
mereka membuatnya dan manfaat proyek/produk tersebut.

@rizkamamalia
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 27
Praktik Baik Pembelajaran

Belajar di Rumah
Belajar dalam
Kehidupan
Belajar di rumah sebagai pengganti kata libur sering
diucapkan guru. Namun, guru dan murid sendiri sudah cukup
mafhum, “belajar di rumah” hanya basa-basi. Di rumah,
jarang murid yang benar-benar belajar. Guru pun tak pernah
memonitor apakah murid memang belajar atau melakukan
aktivitas lain. Selesai melaksanakan libur, tak ada tagihan
guru, atau setidaknya guru bertanya, “Apa yang kalian
pelajari selama libur?”.

Lalu apa jadinya jika muncul kebijakan libur untuk


belajar di rumah? Jawabannya, sekolah, murid , bahkan
termasuk pemerintah sendiri yang mengeluarkan kebijakan
tersebut, tampak bingung dan gagap. Dampaknya ada
semacam kepanikan yang dirasakan oleh guru dan murid.
Ketidaksiapan, sekolah dan guru saat ada kebijakan
pemerintah untuk meliburkan dan menggantikannya dengan
kebijakan belajar di rumah; tampak dari keluhan guru,
maupun murid, saat banyaknya tugas yang menumpuk,
dan kebingungan guru untuk belajar dengan cara apa dan
bagaimana.

Saya membayangkan, bagaimana jika murid benar-benar


diliburkan untuk mencegah penyebaran virus corona
makin merajalela. Lalu, timbullah ide membuat model
pembelajaran. Jika libur, tentu banyak waktu yang tersedia
bagi murid dan tentu perlu disiapkan skenario pembelajaran
yang tepat sesuai dengan kondisi anak, maupun kondisi
lingkungannya.
Benar saja, akhirnya Kemendikbud meliburkan seluruh murid,
termasuk menunda pelaksanaan ujian sekolah yang sedianya
penulis

diselenggarakan bulan Maret. Sebagai pengganti libur, murid


belajar dengan sistem pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Seperti
yang sudah saya katakan di awal tulisan ini, ketidaksiapan dan
kegagapan dirasakan oleh sekolah, dampaknya pada anak.

Sistem pembelajaran jarak jauh tentu tidak mudah,


Iwan Ardhie Priyana diperlukan kesiapan mental guru , dan terutama murid, Di
KGB Bandung Kabupaten samping itu banyak guru yang bingung bagaimana menata
SMPN 1 Nagreg Kab. Bandung model pembelajaran dari tatap muka ke tatap layar. Dalam
iwanapriyana@yahoo.co.id
pembelajaran jarak jauh diperlukan kemandirian murid,
28 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

sementara guru perlu merancang materi dan pembantu Anak-anak home service adalah
model yang sesuai , sehingga pembelajaran anak-anak yang menuntut untuk dilayani untuk
dalam model ini menyenangkan, baik bagi berbagai keperluan sehari-hari. Generasi
murid ,maupun untuk orang tua. seperti ini tumbuh karena terhapusnya
Persiapan yang sebelumnya pernah saya pendidikan dalam keluarga.
rancang sebelum kebijakan libur itu benar-
benar terealisasi, akhirnya diterapkan, dengan Bagaimana melihat keterkaitan pembelajaran
melakukan penyesuaian yang diperlukan. ini dengan kurikulum ? Khususnya
Ide untuk merancang strategi dan konten dengan pembelajaran Bahasa Indonesia ?
pembelajaran saya peroleh dari Kampus pembelajaran bahasa Indonesia menjadikan
Guru Cikal melalui Program Sekolah Melawan teks sebagai bahan pembelajaran. Ada
Corona (SLC) juga berbagai konten yang berbagai jenis teks yang terdapat dalam
Terdapat dalam “Sekolahmu” , dan juga kurikulum, seperti teks narasi, teks persuasi,
melalui TPS (Temu Pendidik Spesial) yang teks prosedur dan teks laporan. Aktivitas murid
dilaksanakan setiap minggu melalui telegram. dalam pendidikan keluarga itu kemudian oleh
Tema ini “Belajar dalam Kehidupan “ ini pun murid dituliskan berbagai teks yang sudah
dijadikan materi Temu Pendidik Spesial. Saya dipelajari. Sehingga jelas terdapat keterkaitan
menamai model pembelajaran yang saya antara kurikulum pembelajaran dengan
laksanakan dengan nama “Belajar dalam aktivitas mereka selama libur.
Kehidupan”. Belajar dalam kehidupan ini, Saya menyusun rancangan pembelajaran
bermaksud mengembalikan pendidikan dalam dengan urutan sebagai berikut :
lingkungan keluarga. Pendidikan terbaik adalah
pendidikan dalam keluarga. Terkait dengan Hari Pertama
pendidikan keluarga, maka aktivitas yang Mencuci baju sendiri dilanjutkan dengan
dilaksanakan para murid adalah aktivitas rutin membuat karangan dalam bentuk teks
sehari-hari para. Ada beberapa aktivitas belajar prosedur dan narasi, dilanjutkan membuat
yang dilaksanakan dalam keluarga, yakni refleksi.
mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, Hari kedua
maupun pekerjaan rumahnya. murid menonton video social distance.
Memahami tujuan belajar di rumah sebagai
Lalu, dimanakah letak proses pembelajaran upaya menangkal penyebaran virus korona.
dalam situasi ini ? Bagaimana pula dengan Membuat teks persuasi terkait pentingnya
ketercapaian kurikulum ? Proses pembelajaran melakukan gerakan untuk penyelamatan.
yang terjadi dalam lingkungan rumah adalah, Hari ketiga
menempatkan ayah atau ibu sebagai guru dan Belajar Pentingnya kebersihan lingkungan
narasumber. Saat melaksanakan pekerjaan rumah.
rumah itu, para murid sedang belajar Melakukan kegiatan membersihkan lingkungan
“kecakapan hidup” sebuah keterampilan yang rumah, mengepel, membuang sampah,
harus mereka miliki sebagai bekal menuju dan menyapu. murid menulis teks persuasi
kemandirian. Ayah atau ibunya akan mengajari pengalaman melakukan kebersihan dan
mereka bagaimana mencuci pakaian, mengajak menjaga kebersihan lingkungan
memasak, dan mengepel, tugas-tugas sepele sekitar.
yang tak pernah di mereka peroleh di bangku Hari keempat
sekolah. Belajar berempati.
murid bercengkrama dengan ayah dan ibu.
Lewat pekerjaan rumah itu, ada keuntungan murid menempatkan ayah atau ibunya yang
yang bisa diperoleh ,baik oleh murid maupun bekerja mencari nafkah. Ayah atau Ibu sebagai
orang tua. Bagi orang tua, bantuan anak narasumber menceritakan jenis pekerjaan
dapat meringankan beban pekerjaan harian dan bagaimana suka duka bekerja. murid
yang menumpuk. Bagi murid, terutama yang menuliskan cerita ayah atau ibu dalam bentuk
belum terbiasa dengan pekerjaan sehari- laporan atau narasi. murid mengajak untuk
hari, tentu merupakan sebuah pengalaman menghormati dan menghargai ayah atau
baru. Penguasaan keterampilan seperti ini ibunya yang bekerja.
membantu murid untuk tidak jadi generasi Hari kelima
home service. Belajar memasak
murid bekerja bersama ibunya untuk.
Generasi home service adalah anak-anak memasak masakan yang akan disajikan untuk
yang sangat bergantung pada orang tua atau makan keluarga. murid belajar salah satu jenis
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 29

masakan dan menceritakan pengalaman tersebut


Murid melakukan pekerjaan rumah.
dalam karangan.
Hari keenam
Menulis refleksi
Setelah melaksanakan berbagai kegiatan selama
libur. murid membuat refleksi dengan mengacu pada
pertanyaan pemandu.
Pengalaman baru apa yang kamu alami selama
belajar di rumah?
Pengalaman apa yang paling menarik selama di
rumah.
Apa bedanya belajar di rumah sendiri dan belajar
dengan guru di sekolah?
Bagaimana rasanya bisa membantu ibu di rumah?

Untuk menjelaskan tugas tersebut dilakukan dalam


bentuk pembelajaran jarak jauh maupun secara
daring. Dari sejak awal sebelum tugas ini diberikan
,diperoleh informasi tentang akses murid terhadap
internet atau aplikasi. Diantaranya, ada sebagian kecil
murid yang tidak memiliki HP, ada juga murid yang
memiliki keterbatasan kuota. Untuk pembelajaran
diatur dan direncanakan pada hari –hari tertentu.
Saat pembelajaran daring dilakukan secara efisien,
hanya tanya jawab serta diskusi seputar kesulitan
murid dalam mengerjakan tugas. murid yang tidak
memiliki HP dapat berkomunikasi dengan teman
terdekatnya untuk mengetahui tugasnya. Tugas itu
sendiri, diberikan pada awal daring untuk seluruh
murid.

Tugas murid ditulis dalam buku projek. Setiap murid


sudah memiliki buku projek. Buku yang berisi tugas
mereka yang telah dikerjakan. Sebagian murid yang
memiliki HP dapat mengupload tugasnya maupun
aktivitas sesuai dengan tugas yang telah diberikan.
Semua tugas menuntut keterlibatan orang tua. Salah
satu keterlibatannya adalah orang tua menuliskan
komentar di buku murid. Komentar itu berfungsi bagi
guru memperoleh umpan balik dari orang tua.

Dampak positif dari pembelajaran ini saya terima


lewat komentar yang ditulis orang tua lewat buku
tugas murid, ada yang dititip anaknya lewat chat
di WA. “ Saya sebagai orng tua merasa senang,
karena dengan adanya tugas ini bisa meningkatkan
rasa tanggung jawab anak dan mengembangkan
kreativitas anak” itu salah satu contohnya. Dari
beberapa komentar dapat ditarik kesimpulan. Intinya
orang tua senang dengan tugas ini karena terbantu.
Para murid sendiri saat ditanya komentarnya tentang
ini mengatakan mereka senang dan tak terbebani

Murid melakukan pekerjaan rumah


30 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 31
Praktik Baik Pembelajaran

Belajar dari Radio


Republik Indonesia

Libur terpaksa…

Ya kami menyebutnya libur kali ini adalah libur terpaksa,


tidak ada yang suka libur kali ini begitu juga dengan
kami pendidik dan murid-murid kami. Hal ini karena
untuk mencegah penyebaran virus corona yang sudah
menyebar di Indonesia, termasuk di daerah Sanggau.
Kebijakan belajar di rumah, Bekerja di rumah, beribadah
di rumah sangat berdampak pada masyarakat,
termasuk berdampak pada dunia pendidikan. Bagi
kami di Sanggau kebijakan belajar di rumah merupakan
tantangan yang harus kami selesaikan bersama-sama,
baik dengan semua guru, murid dan orang tua murid.
Di kelas saya tidak semua mempunyai HP dan dari
keluarga yang kurang mampu untuk membeli kuota
internet. Beberapa murid bisa menggunakan HP dan
mengerjakan tugas dari saya setelah orangtuanya
pulang dari bekerja. Walaupun sudah ada aturan untuk
bekerja di rumah, tapi tidak semua dapat mengikuti
aturan tersebut karena banyak orang tua murid yang
bekerja di kebun, berdagang sayur di pasar dan buruh
bangunan. Mau tidak mau mereka harus tetap bekerja di
situasi seperti ini.

Kebijakan libur pertama kali pada tanggal 17 Maret


2020 sd 28 Maret 2020. Tanpa persiapan yang matang
kami meliburkan murid dan memberikan tugas selama
libur. Bersyukur sebelumnya saya sudah membuat
penulis

grup WA untuk murid kelas V A dan grup paguyuban


orang tua murid. Tujuannya adalah memudahkan saya
untuk berkomunikasi dengan murid-murid saya dan
memperlancar pembelajaran jarak jauh selama libur
COVID-19. Saya melakukan pembelajaran jarak jauh
memanfaatkan aplikasi Whatsapp dan memilih video
Titis Kartikawati pembelajaran di Youtube. Awal-awal pembelajaran
KGB Sanggau berjalan lancar dan tidak ada kendala. Tugas yang
SDN 09 Sanggau mereka kerjakan dibuat menjadi kliping sebagai
penilaian portofolio. Ada juga yang berupa rekaman
32 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

video, rekaman suara sesuai jenis tugas


dengan materi yang saya ajarkan. Setelah
libur diperpanjang kembali, murid-murid
mulai jenuh dengan pembelajaran jarak
jauh yang seperti itu, mereka butuh
kegiatan pembelajaran yang bervariasi.

Beruntung sekali Radio Republik Indonesia


(RRI) Sanggau meluncurkan program
”Belajar di RRI” selama masa tanggap
darurat COVID-19. Program ini untuk
mendukung kebijakan belajar dari rumah
yang dikeluarkan pemerintah guna
memutus rantai penularan COVID-19.
Salah satu penyiar RRI menghubungi saya
selaku Ketua Komunitas Guru Belajar
untuk berkolaborasi menjadi pengajar.
Program yang diluncurkan pada 30 Maret
2020 ini menyediakan alternatif bagi guru
dan murid yang tidak bisa melaksanakan
pembelajaran online karena di daerahnya
terbatas akses internetnya. Setiap hari
senin sampai dengan Jumat, Komunitas
Guru Belajar yang terdiri dari guru-guru
lintas jenjang dengan suka rela mengajar
di RRI sebagai wujud cinta kami terhadap
negeri. Bersama-sama melawan COVID-19
dengan kapasitas masing-masing. Sebagai
guru mungkin hanya ini yang dapat kami
persembahkan untuk negeri ini.

Untuk memulai program ini, langkah


pertama adalah mendiskusikan program
kolaborasi ini dengan pengurus KGB
Sanggau. Setelah mendapat kesepakatan,
kami membuat jadwal siaran dan materi
yang akan kami sampaikan setiap
harinya. Beruntung sekali pengurus dan
anggota kami merupakan guru-guru
yang kompeten dan siap siaga ketika
dibutuhkan. Ini merupakan pengalaman
yang luar biasa karena bagi kami guru
yang biasa mengajar di depan murid,
tiba-tiba harus menyiapkan materi untuk
satu jam dan tanpa murid. Awalnya banyak
guru yang pesimis dan kurang percaya
diri, disinilah pentingnya kolaborasi antar
anggota yang saling menguatkan dan
saling mendukung.

Sebagai pengajar pertama saya


mengambil materi “siklus Air”. Walaupun
Mas Menteri menerbitkan kebijakan
bahwa materi pembelajaran tidak harus
menuntaskan capaian kurikulum, tetapi
saya tetap mengambil materi yang ada
di buku tema 8 dan memadukan materi
dengan pandemi COVID-19. Malam
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 33

sebelum siaran, saya sudah umumkan Dari hasil video siklus air yang dikirim, saya
kepada murid saya untuk mendengarkan dapat menilai murid saya yang berbakat
RRI sebagai bahan materi pembelajaran di bidang linguistik dan punya cita-cita
besok pagi. jadi presenter. Untuk itu saya punya
rencana mengajak murid saya tersebut
Awalnya banyak yang tidak tahu cara untuk berbagi ilmu dengan ikut program
membuka radio dia HP dan mencari belajar di RRI. Selain untuk mengisi jadwal
frekuensi RRI karena terus terang banyak siaran, saya berharap pelibatan murid
yang tidak mempunyai radio lagi. Akhirnya bisa membawa suasana yang lain bagi
saya berikan tutorial cara mencari pendengar. Murid tidak bosan hanya
frekuensi RRI di HP maupun menggunakan mendengarkan guru, tetapi mereka dapat
streaming. Paginya murid saya sudah belajar bersama teman sesama murid.
stay tune di depan radio masing-masing Ternyata rencana saya ini disambut baik
mendengarkan saya menyampaikan oleh pihak RRI dan mengijinkan murid saya
materi. Banyak yang bertanya melalui untuk menjadi leader program mengajar
telepon maupun SMS, pembelajaran yang dibawakan oleh murid.
jadi seru karena mereka merasa seperti
belajar bersama saya di kelas. Mereka bisa Saya berkoordinasi dengan murid
mendengar suara ibu gurunya kembali. saya tentang materi yang akan mereka
bawakan. Kami sepakati tanggal 15 April
Setelah siaran di RRI selesai saya 2020 murid yang bernama Refla Fitriani
memberikan tugas untuk membuat diorama dan Filyana Eza Handayani membawakan
siklus air kemudian menjelaskannya dalam materi tentang “Alat pencernaan dan cara
bentuk video. Hasilnya luar biasa..murid menjaga imun tubuh. Materi kami ambil
saya ada yang membuat video tentang di tema 3 kelas V dengan memadukan
siklus air hampir sama dengan penjelasan cara menjaga imun tubuh yang berkaitan
saya di radio. Ternyata pepatah yang dengan COVID-19. Pada tahap persiapan
mengatakan guru itu digugu dan ditiru saya hanya memberikan materi yang akan
benar adanya. murid saya meniru apa yang mereka sampaikan lalu mereka modifikasi
saya lakukan. Mereka mencatat penjelasan dan belajar membawakan materi dengan
saya kemudian membuat ringkasan. Hari- bahasa mereka sendiri. Hanya perlu
hari berikutnya program ini diisi oleh waktu tiga hari murid saya sudah berhasil
guru-guru dari berbagai sekolah dan lintas menguasai materi dan siap untuk siaran.
jenjang. Murid saya tetap saya tugaskan Bersyukur sekali saya mempunyai murid
untuk mendengarkan untuk menambah yang berbakat dan punya kepercayaan diri
pengetahuan mereka. yang tinggi. Pada pelaksanaannya mereka
sangat baik dalam penyampaiannya, tidak
34 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

kaku dan terkesan rileks. Teman-temannya RRI juga membantu sekolah yang
yang berada di rumah juga mendengarkan berada di area tanpa akses internet agar
serta berinteraktif dengan cara bertanya tetap belajar. Keadaan yang kurang
pada saat siaran. menguntungkan bukan alasan untuk tidak
bergerak dan merancang pembelajaran.
Berikut kesan dari Refla setelah mengikuti Hikmah dari pandemi COVID-19 ini
program siaran di radio “Siaran di radio salah satunya kita dapat bersatu dan
itu adalah pengalaman baru yang sangat berkolaborasi dengan semua pihak untuk
menyenangkan bagi saya. Saya dapat bangkit melawan corona dengan kapasitas
melatih percaya diri dan bakat saya di kita masing-masing. Bagi saya hikmah
bidang presenter. Saya dapat menerima yang sangat saya rasakan dalam masa
ilmu dengan adanya program belajar di libur ini adalah bertambahnya pengalaman
RRI, Para guru bergantian memberikan belajar jarak jauh, penggunaan IT bagi
ilmunya lewat radio ini dengan pembelajaran dan mengkoordinir murid
materi yang berbeda-beda sehingga serta orang tua untuk bersama-sama
pengetahuan saya juga bertambah. Kalau satu tujuan belajar dirumah dengan
belajar melalui RRI dirumah saya dapat menyenangkan dan bermakna.
mendengarkan dengan santai, bisa sambil
baring-baring dan makan cemilan”.

Dari pengalaman ini, “libur terpaksa”


kami menjadi sangat bermakna dan
menyenangkan. Kami tetap dapat
belajar dengan santai dan mengasah
keterampilan hidup yang lain. Kolaborasi
guru terutama Komunitas Guru Belajar
dengan RRI Sanggau telah memberikan
suasana belajar yang berbeda karena
dibawakan oleh guru-guru yang tidak
asing bagi murid-murid di Sanggau.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 35
36 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

Belajar Jarak Jauh


Gara-Gara Korona,
Siapa Takut?

Covid-19 atau wabah korona membuat murid harus belajar


di rumah. Ada yang merasa tergagap-gagap, ada pula yang
biasa saja. Jangankan murid, begitu pun dengan gurunya.
Mengingat sentuhan teknologi, harus digunakan, lebih dari
biasanya.

pembelajaran yang tepat mesti dilakukan. Tak hanya untuk


membuat anak mengerti, tetapi juga memastikan mereka
tidak bosan. Tentu bagi sebagian besar murid dan guru,
pembelajaran jarak jauh adalah hal yang baru. Semuanya
masih beradaptasi dan belajar.

Di tempat saya mengajar di pagi hari, membiasakan


pembelajaran jarak jauh adalah hal yang mudah. Murid SMK
cenderung lebih tanggap dan mawas terhadap teknologi.
Apalagi di SMK tempat saya mengajar, mereka sudah terbiasa
melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring/online).
Setiap hari.

Berbeda halnya di tempat saya menjadi tutor bimbingan


belajar, sore hari. Saya mengajar anak kelas 5 SD dari
berbagai sekolah. Karakteristik dan kemampuan mereka
berbeda-beda.

Ada yang terbiasa menggunakan berbagai aplikasi di telepon


seluler (ponsel). Ada yang belum. Ada yang rumahnya
beraliran sinyal cepat alias 4G. Ada pula yang sulit sinyal atau
istilah Jawanya, ‘mendrip-mendrip’. Sulit? Mungkin iya. Tetapi
penulis

untuk mengerti hal yang baru memang sudah sepatutnya


dicoba. Memang tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang
tidak mungkin, bukan?

Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, saya


berupaya agar pembelajaran jarak jauh harus membuat anak
Devy Mariyatul Ystykomah tetap merasa dekat dengan saya. Baik secara komunikasi
KGB Kediri maupun konten belajarnya. Tidak membebani atau malah
SMK PGRI Kediri dan Sekolah LISA memberatkan mereka. Melainkan membuat mereka
devymariyatulistiqomah@gmail.com memahami tema yang sedang dipelajari.
‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 37

“Dengan segala keterbatasan


dan kendala yang ada, saya
berupaya agar pembelajaran
jarak jauh harus membuat
anak tetap merasa dekat
dengan saya.”
Devy Mariyatul Ystykomah
masih perlu dukungan dan pendampingan
Dalam proses pembelajaran jarak jauh ini, saya orangtua. Makanya, saya sangat terbantu
menawarkan kesepakatan. Yaitu, bukan lagi dengan orangtua yang peduli dan aktif
belajar teori. Melainkan langsung praktik yang dalam membersamai pembelajaran anaknya.
melibatkan saya, murid, dan orangtua. Terutama dalam kondisi seperti sekarang.

Untuk menunjang itu, saya memiliki dua grup Apalagi, tema tentang Covid-19 bukan hanya
whatsapp (WA) untuk berkomunikasi. Pertama, materi untuk murid. Namun bisa digunakan
grup WA saya bersama orangtua dan yang untuk pendidikan keluarga. Mengingat virus ini
kedua, grup WA saya dengan murid. Dari dua sendiri memang masih benar-benar baru dan
grup inilah saya berkomunikasi dengan murid belum banyak diketahui, baik proses penularan
dan orangtua. maupun vaksinnya.

Seperti yang saya pelajari di Temu Pendidik Karena itu, dalam grup WA orangtua, selain
Spesial (TPS) Komunitas Guru Belajar tanggal membahas praktik ini, kami juga aktif berbagi.
18 Maret 2020. Dalam diskusi melalui grup Termasuk berdiskusi tentang keadaan daerah
telegram berjudul “Murid Belajar di Rumah, masing-masing.
Bagaimana Guru Memandu Murid Belajar Jarak
Jauh?” dengan narasumber bu Alfi Lailatin dan Seperti anjuran dalam Panduan pembelajaran
bu Dina Irdhina, saya memahami bagaimana Jarak Jauh #SekolahLawanKorona yang
saya sebagai guru harus menjadi teman belajar bisa diunduh di tautan https://bit.ly/
yang baik. Guru harus adaptif dan mengerti PanduanSLC5M, pengumpulan informasi
kondisi yang ada. Sehingga komunikasi yang tentang kesiapan orangtua merupakan
baik dengan orangtua dan murid sangat salah satu prioritas. Karena jangan sampai
diperlukan. Dalam hal ini, saya menggunakan pembelajaran yang kita lakukan justru
dua grup WA ini sebagai sarana. menyulitkan. Semua harus didasarkan kondisi
di lingkungan setempat.
Di grup orangtua, kami membahas kesiapan
mereka dalam proyek ini. Sedangkan di grup Informasi ini sangat bermanfaat. Saya
murid, kami membahas tentang rencana menggunakannya untuk menjabarkan kondisi
pelaksanaan serta apa saja referensi yang di sekitar rumah mereka. Mulai dari keadaan
dibutuhkan. rumahnya, jauh dekatnya dengan apotek,
hingga bagaimana kesiapan mereka melakukan
Saya menyadari untuk murid kelas 5 SD, tentu praktik pembelajaran jarak jauh.
38 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Aktivitas murid di rumah.


Dari percakapan itu, persiapan untuk pembelajaran
esok hari sudah kami diskusikan. Sehingga saat saya
memberi penugasan ke murid, sebenarnya orangtuanya
sudah tahu dan siaga jika diminta bantuan oleh
anaknya.
Seperti yang saya pelajari di Temu Pendidik Spesial
(TPS) Komunitas Guru Belajar tanggal 18 Maret 2020.
Dalam diskusi melalui grup telegram berjudul “Murid
Belajar di Rumah, Bagaimana Guru Memandu Murid
Belajar Jarak Jauh?” dengan narasumber bu Alfi Lailatin
dan bu Dina Irdhina, saya memahami bagaimana saya
sebagai guru harus menjadi teman belajar yang baik.
Guru harus adaptif dan mengerti kondisi sulit saat ini.
Sehingga komunikasi yang baik dengan orangtua dan
murid sangat diperlukan.

Sementara di grup WA murid, pada awal pembelajaran,


saya mengajak anak-anak berdiskusi tentang ‘apa itu
korona?’. Dari sana, mereka berupaya memberi jawaban
dengan referensi yang mereka punya. Mayoritas dari
proses googling.

‘Cengkling’…satu per satu jawaban dari mereka


saya terima di WA. Tak hanya menjawab singkat, dari
pertanyaan tersebut mereka malah punya banyak
imajinasi tentang apa yang harus dipraktikkan. Salah
satunya terkait cara pencegahan agar tidak tertular
korona.

Saya membaca dengan sangat bersemangat dan


memberi umpan balik cepat. Mereka juga mengetik
jawaban dan membalas dengan sangat giat. Diskusi
terasa gayeng dan penuh makna. Padahal kami tak
seperti biasanya di kelas, tetapi sedang berjauhan. Saya
di rumah. Mereka pun di rumah.

Dalam diskusi itu, saya juga mengirimkan komik karya


Watiek Ideo yang saya screenshoot dari postingan
instagram-nya @watiekideo. Anak-anak antusias.
Mereka membaca 10 halaman komik, lalu membuat
kesimpulan. Dari komik pendek itu mereka tahu cara
menjaga diri dan orang sekitarnya agar tidak terpapar
virus korona. Tambah lagi referensi mereka.
Dan hasilnya, akhirnya anak-anak dan saya memutuskan
praktik pembelajaran jarak jauh ini dimulai dengan
pencegahan penularan Covid-19. Saya pun memberi
dua pilihan proyek untuk dikerjakan bersama orangtua.
Pilihan pertama, murid membuat karya video yang
berisi cara mencuci tangan yang benar. Sebelum
membuat karya ini, murid atau anak dibolehkan mencari
data atau referensi. Dari sanalah mereka merumuskan
cara yang akan digunakan. Sedangkan orang tuanya
bertugas merekam dan mengirimkan videonya ke saya.
Sementara pilihan kedua adalah video tentang cara
membuat hand sanitizer. Prosesnya pun sama.
Saya sengaja memberi dua opsi praktik, yakni tentang
Aktivitas murid di rumah.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 39

cara mencuci tangan dan membuat hand juga melakukan refleksi dengan tepat. “Berarti
sanitizer, karena sejumlah pertimbangan. Tidak aku harus lebih hati-hati dan alhamdulillah
semua rumah murid dekat dengan apotek. ya bu, stok hand sanitizer kita jadi banyak.”
Begitu pun dengan fakta bahwa dengan Mendapat reaksi itu, sang ibu berkata ia jadi
merebaknya korona, bahan-bahan untuk terharu. Ternyata dari praktik membuat hand
membuat hand sanitizer seperti alkohol cukup sanitizer saja, si anak bisa mengambil hikmah
sulit didapatkan. Jadi opsi membuat hand dari kegagalan yang dia lakukan sendiri. Saya
sanitizer hanya untuk mereka yang siap saja. terharu.
Sementara yang kesulitan mencari bahan bisa
membuat video tentang mencuci tangan. Dalam proses pembelajaran jarak jauh ini, saya
Dengan kedua pilihan tersebut murid dapat pun bisa mengambil kesimpulan bahwa belajar
memberikan hasil tutorial dalam bentuk video memang tak mengenal tempat dan waktu.
yang akan dibagikan ke saya dan whatsapp Anak-anak tetap bisa belajar di rumah dengan
stories. Karya video inilah yang akan digunakan baik walau tak lagi bertatap muka langsung.
untuk berbagi dan mengedukasi yang lainnya. Bahwa mereka atau kita harus sedikit kesulitan
menyesuaikan diri dalam prosesnya, tentu saja.
Di luar ekspektasi saya, dengan kolaborasi Tetapi banyak cara agar pembelajaran tetap
yang baik, ternyata ada murid yang ingin lebih bisa dilaksanakan.
bermakna untuk sekitarnya. Ia tahu bahwa
hand sanitizer langka. Makanya, bukan hanya Dengan maraknya Covid-19, langkah antisipatif,
menyelesaikan tugasnya, dia juga membuat yakni dengan ‘meliburkan’ murid akhirnya
hand sanitizer dalam jumlah banyak untuk memang jadi pilihan kebijakan. Tapi apakah
dibagikan ke tetangga sekitar komplek murid harus berhenti belajar karena mereka tak
rumahnya. lagi berada di sekolah? Tentu tidak. Gerakan
untuk terus menggaungkan semangat belajar,
Sementara yang lain, ada juga yang selalu bukan hanya bisa terdengar di sekolah. Di
mengingatkan orang tuanya soal kebersihan tempat les, di jalanan, di mal, di rumah, bahkan
dan kewaspadaan untuk mencegah penularan di ponsel-ponsel kita, semangat itu bisa kita
korona. Di antaranya untuk selalu mencuci tularkan selalu. Salam Merdeka Belajar!
tangan dan membuka pintu dengan siku.
*Sebagai dokumentasi, saya menyimpan video
Meski namanya anak-anak, saya pun mendapat anak-anak ini dalam kompilasi di Youtube
cerita lucu. Ada orangtua yang berbagi bahwa Channel http://bit.ly/videoDevy
anaknya mengaku kesulitan mengunci pintu.
Karena seperti praktik membuka pintu, si anak
berusaha mengunci pintu dengan sikunya.
“Buk…Buk, gimana ini ngunci pintunya kalau
pakai siku? Nggak bisa-bisa,” keluh si anak
dengan wajah serius seperti yang diceritakan
ibunya. Sang ibu pun tertawa mendengarnya
sambil memberi pemahaman bahwa tidak
semua aktivitas harus pakai siku. Yang penting,
sang ibu memberi nasihat, bahwa setelah
beraktivitas maka mencuci tanganlah dengan
benar.

Bukan hanya itu soal ‘siku’ itu, ada pula cerita


dari salah satu ibu yang merasa dag-dig-dug
karena anaknya gagal mengucap kalimat yang
tepat saat mempraktekkan cara membuat hand
sanitizer. Akibatnya, perekaman video harus
diulang dari awal sampai 4 kali.

Bukan karena capek merekam, masalahnya


sang ibu merasa khawatir dengan ketersediaan
bahan bakunya. “Takut alkoholnya habis,“
curhat sang ibu ke saya. Namun dari cerita si ibu
pula, saya tahu bahwa anak tersebut ternyata
40 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 41
Praktik Baik Pembelajaran

PENYESUAIAN DIRI
DI TENGAH PANDEMI

K
etika Pemerintah Kota Surakarta mengumumkan
kebijakan untuk meliburkan murid-murid dari tanggal
16 Maret 2020 hingga 28 Maret 2020, timbul kepanikan
orang tua murid dan murid-murid. Menghadapi situasi
ini, WhatsApp grup yang biasanya berisi candaan dengan
laporan kegiatan murid di sekolah berubah menjadi curhatan
penuh ketakutan.
Kepanikan pertama yang mereka alami adalah membujuk
murid untuk tetap di dalam rumah, belajar di rumah, bermain
di rumah, dan beribadah di rumah. Apalagi orang tua
memiliki kebiasaan liburan di luar kota. Jika ada waktu luang
setelah pulang sekolah, mereka biasa pergi ke supermarket
untuk sekedar belanja maupun bermain.

Kepanikan kedua adalah mengajar buah hati di rumah


dengan segala kerepotan menyiapkan perlengkapan sekolah.
Tentu tidak mudah menyiapkan kegiatan seperti kegiatan
di sekolah ketika bahan-bahan pembelajaran sulit didapat
di dalam rumah. Apalagi orang tua bukan guru yang bisa
memberikan penjelasan seperti guru. Bahkan mengajak
murid melakukan sesuatu juga tidaklah mudah.

Kepanikan ketiga adalah mendampingi murid ketika orang


tua juga harus bekerja di rumah. Untuk murid usia 3-4 tahun
pasti ingin tahu apa yang dilakukan orang tua. Ketika orang
tua mengerjakan pekerjaan kantor, atau orang tua yang harus
mengurusi dagangannya dari rumah, maka murid-murid akan
bertanya dan mengganggu orang tuanya.

Kepanikan keempat adalah kebutuhan yang melonjak dan


sulitnya mencari barang-barang yang dibutuhkan saat
pandemi. Resah, gelisah, panik dan harus berjibaku dengan
penulis

berita yang simpang siur. Itulah yang membuat orang tua


panik.

Setelah saya membaca Panduan pembelajaran Jarak


Jauh dan mengikuti diskusi online di grup telegram
#SekolahLawanCorona, saya banyak belajar tentang
Kristijorini bagaimana memahami relasi positif guru, murid dan orang
KGB Surakarta tua. Bagaimana meramu pembelajaran jarak jauh yang
TK Kr. Widya Wacana Pasar Legi menyenangkan dan saling memahami kondisi murid maupun
kristijoriniflora@gmail.com
orang tuanya.
‘‘
42 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

“Maka saya menyesuaikan


kegiatan di rumah yang
menyenangkan, yang ringan
namun tetap bermakna.”
Kristijorini

Jadwal kegiatan belajar yang sudah saya mulai dapat ceria kembali. Murid dan orang tua
bagikan sejak hari Jumat, saya ubah. Tidak dapat bercanda dalam grup seperti biasa lagi.
mungkin saya memaksakan kegiatan belajar Tidak tampak kecemasan yang berarti meski
di sekolah dilakukan di rumah. Orang tua ada orang tua atau murid yang sakit, namun
bukan guru. Maka saya menyesuaikan kegiatan kami jadi saling menguatkan satu dengan
di rumah yang menyenangkan, yang ringan lainnya.
namun tetap bermakna. Tentu saja kegiatan ini
didiskusikan juga dengan orang tua dan murid- Minggu berikutnya saya dan orang tua
murid. mencoba melakukan pembelajaran dengan
menggunakan video call. Belajar bersama
Hari pertama, saya lebih fokus pada tujuan melalui video call. Ternyata kegiatan tidak
murid belajar di rumah. Kebetulan video berjalan seperti yang kami harapkan. Mereka
tentang covid-19 sudah banyak beredar. Saya rindu dengan teman-temannya. Hal ini
tinggal memilih video yang mudah dipahami membuat mereka menangis bersamaan.
oleh murid usia 3-4 tahun melalui whatsApp Alhasil, gagal sudah belajar menggunakan
grup. Murid-murid tetap melakukan kegiatan video call.
berdoa, berjemur dengan olahraga ringan,
makan bergizi, bermain di rumah, membantu “Mau ketemu Sae!” Khafka menangis
orang tua serta latihan cuci tangan yang benar. berguling-guling di kasurnya.
Kegiatan ini di foto ataupun di video oleh “Mau tiup lilin sama Sae dan memberi hadiah
orang tua sebagai bagian dari kegiatan belajar pada Sae!” Aldrik juga langsung menangis
di rumah. histeris.
“Ayo ke sekolah main sama teman-teman!”
Hari kedua, kami sepakat untuk melakukan Oim merengek pada mamanya yang sedang
hal yang sama. Saya bagikan juga gambar sakit kepala.
virus corona. Murid-murid boleh menggambar Dan saya juga rindu dengan murid-murid serta
ataupun membentuk sesuai imajinasi murid. orang tuanya.
Sengaja saya tidak memaksa murid melakukan
kegiatan yang sudah kami rancang ini. Jika Terpaksa kami memulai dari awal lagi dengan
mereka melakukan hal yang lain, saya memberi kegiatan yang menyenangkan seperti minggu
mereka pujian yang sama dengan teman yang lalu namun saya menambahkan video atau
melakukan kegiatan sesuai kesepakatan. Setiap gambar yang sesuai tema. Tugas untuk
kali kegiatan murid-murid di rumah dibagikan berdoa, berjemur, makan bergizi, bermain
dalam grup, kami saling menanggapi dengan dan membantu orang tua adalah kegiatan
gembira. yang selalu dilakukan setiap hari. Kegiatan
yang sesuai tema hanya saya berikan satu saja.
Hari-hari selanjutnya selama satu minggu itu Misalkan tema api, murid-murid mengamati
kami lakukan dengan kegiatan yang mudah api. Orang tua tinggal memfotonya dan
menyenangkan dan tidak memberatkan orang dikirimkan dalam grup. Menariknya, murid-
tua. Sebab orang tua dan murid-murid sedang murid dan orang tua punya cara sendiri untuk
menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak memahami tentang api.
mudah. Murid mulai nyaman dan orang tua
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 43
Aktivitas murid di rumah.

Ada orang tua yang menggambar api lalu murid


bercerita tentang api. Bahkan ada murid yang
membuat puisi tentang api. Ada yang menyanyi
tentang api karya mereka sendiri dan ada yang
meniup lilin yang menyala.

Akhirnya, saya melihat orang tua bekerja sama dalam


belajar tanpa kehadiran saya dalam bentuk video
call lagi. Rupanya mereka takut jika pembelajaran
menggunakan aplikasi video call, zoom, meet atau
yang lain, mampu membuat murid-murid rindu
sekolah lagi. Kami harus memulai dari awal untuk
mengatur perasaan murid-murid. Kekhawatiran
saya pada kemampuan orang tua dalam mengajar
murid-murid di rumah sudah tidak perlu lagi. Mereka
bekerjasama dengan sangat baik. Mereka telah
menjadi tim yang hebat. Saya tinggal menyemangati,
memberi tugas yang menyenangkan, mendukung
dari rumah.

Jika ada kesulitan, orang tua tinggal menghubungi


saya dan menceritakan keluh kesah mereka. Kami
akan mendiskusikannya bersama untuk mencari solusi
yang terbaik. Dalam situasi ini tentu tidak mudah
bagi murid-murid dan orang tua. Tetapi saya percaya
kepada mereka. Mereka adalah murid dan orang
tua yang tangguh. Pasti mampu melewati kondisi
ini dengan baik. Dengan berdoa dan berusaha
bersama, pasti bisa. Terbukti bahwa dua minggu
ini sudah mampu dilewati dengan baik. Tidak
perlu menggunakan kegiatan yang memberatkan
orang tua dan murid. Sebab sejatinya, orang tua
tahu cara mengajar yang asyik untuk muridnya asal
guru mampu memahami mereka. Guru mampu
memberikan stimulus yang tepat sesuai kondisi murid
dan orang tua.

Aktivitas murid di rumah.


44 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 45
Praktik Baik Pembelajaran

Puisi untuk
Planet Bumi

“Listen to my voice
And take a moment to sit back and relax
…..
Once you feel completely relaxed
Start to bring yourself to one of your favourite peaceful,
beautiful places”

Dua minggu lalu saya masih asik membawa anak-anak


bermeditasi di kelas, menyelami perasaan mereka
dan menikmati tempat indah di bumi dalam imajinasi
mereka. Ya, saya berniat mengajak mereka mengeksplor
puisi dari aspek kekuatannya dalam mempengaruhi
audiens melalui eksplorasi rasa dan emosi. Seberapa
kuat sebuah puisi dalam memberikan pengaruh sangat
bergantung dari keterlibatan rasa dan seberapa dalam
kita memaknainya. Itu yang menjadi target utama
pembelajaran ini, yakni bagaimana membuat sebuah
puisi yang mampu menjadi pengingat salah satu isu
terberat bumi, krisis perubahan iklim.

Namun, tiba-tiba datanglah pengumuman yang


menyayat hati. Sekolah akan ditutup sementara waktu
disusul oleh pengumuman WHO tentang global
pandemik Covid-19, dan kami semua, warga sekolah,
harus rela berpisah sementara waktu dan hanya bertemu
melalui jaringan internet.
penulis

Semua rencana belajar di kelas sudah pasti berantakan.


Mengunjungi daerah sekitar, diskusi tatap muka di
kelas, dan banyak aktivitas yang sudah dirancang
terancam gagal. Pihak sekolah meminta para guru untuk
mendesain materi yang sekiranya bisa dilaksanakan
Maryati Hulalata dengan sistem jarak jauh dan sejujurnya saya saat itu
KGB Depok bingung sekali, karena bagi saya, pembelajaran puisi
Lazuardi GCS dan aspek kekuatannya yang ingin saya gali, agak riskan
maryatihulalata10@gmail.com jika dibawakan hanya via jaringan, tanpa bertatap muka
‘‘
46 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

“Mengunjungi daerah sekitar, diskusi


tatap muka di kelas, dan banyak
aktivitas yang sudah dirancang
terancam gagal.”
Maryati Hulalata

secara langsung. Saya hampir menyerah, tersebut pindah mendekat ke pemukiman


dan berencana mengubah haluan metode manusia, dan akhirnya bersarang di atas
belajar saya. Saat itu pikiran saya, pokoknya sebuah peternakan. Di sanalah, hewan
asik dulu, tidak memberatkan anak dan peternakan yang terinfeksi, kemudian
sekiranya memungkinkan untuk dilakukan. menjangkiti manusia dan menyebabkan
Dalam relung hati tidak puas, tapi mesti global pandemik. Saya melanjutkan
gimana lagi? Ini kan situasi genting. mencari beberapa video pendukung, dan
menemukan video wawancara Sonia Shah,
Malamnya saya tetap saja gelisah, ditambah seorang jurnalis dan aktivis perubahan
dengan berita-berita seliweran tentang iklim. Beliau menyatakan bahwa aktivitas
penyebaran virus yang kian masif. Semua manusia yang menghancurkan alam liar
media memberitakan jumlah korban dan membuat beberapa populasi binatang
juga ekonomi yang semakin terancam. berbahaya mendekati kehidupan manusia.
Di antara berita yang berseliweran, saya Semua informasi ini dengan semangat saya
tonton lagi video puisi yang sempat saya serap dan menguatkan tekad saya untuk
bahas di kelas bersama anak-anak; ‘dear melanjutkan proyek puisi untuk planet ini
matafele peinem’, puisi ini dibacakan saat meski harus melakukannya via pembelajaran
UN Climate Change Summit 2014 silam. jarak jauh.
Saya lalu lanjutkan dengan menonton
sebuah film dokumenter tentang sejarah Lalu? Bagaimana pada prakteknya?
bumi, dan berita terkait perubahan iklim
yang awalnya menjadi tema besar saya Beruntungnya saya karena saya bergabung
di proyek puisi ini. Saya terus mencari dengan Komunitas Guru Belajar Depok
inspirasi. Hingga ‘aha’ moment itu muncul dan ikutan gerakan Sekolah Lawan Corona
ketika saya teringat sebuah film box office (SLC). Di komunitas tersebut, kami para
berkisah tentang global pandemik di guru diingatkan untuk mengikuti Panduan
tahun 2011. Saya ingat pernah menonton Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dari
film tersebut bertahun-tahun lalu. Khas panduan tersebut, lahirlah pembelajaran
film Hollywood, bertabur A-list aktor dan asik namun penuh makna bersama anak-
bumbu drama yang semakin membuat anak. Mengumpulkan ide, mendesain,
tegang, tapi bukan itu yang menjadi dan mencari keterkaitan, itu inti dari
perhatian saya. Bagian ending-nyalah yang perencanaan PJJ yang saya lakukan. Dalam
menjadi poin dari keseluruhan film tersebut, panduan PJJ Sekolah Lawan Corona, yang
dimana tampak sebuah traktor perusahaan pertama adalah bagaimana memanusiakan
memotong pepohonan di sebuah hutan hubungan antara saya, murid dan orang
yang membuat populasi kelelawar tua meski terpisahkan oleh jarak. Dalam
bermigrasi mencari tempat baru. Kelelawar banyak aktivitas kami, saya selalu meminta
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 47
Sekilas tampilan materi diskusi Murid kelas 7 mengeksplor Google Earth

anak-anak berdiskusi dengan orang tua “To a farm. And infected a pig, then to
dan meminta pendapat mereka, sehingga human” Seorang murid menuliskan.
orang tua dilibatkan sepanjang proses
belajar. Selanjutnya, saya memfokuskan Dilanjutkan oleh murid yang lain:
pembelajaran dengan penanaman konsep “So, Ms, this isn’t only about washing hands.
dan membangun keberlanjutan dengan This is about people destroying nature”
masukan-masukan sepanjang proses
pembelajaran juga asesmen yang otentik Diskusi mulai memanas. Saya biarkan
dan terukur. perasaan mereka semakin muncul ke
permukaan. Dan perasaan inilah yang
Di hari pertama PJJ, melalui video nantinya akan menimbulkan empati dan
conference, saya berikan anak-anak trailer menciptakan kekuatan dalam puisinya. Saya
film tersebut. lanjutkan lagi dengan menunjukan mereka
perubahan beberapa daerah di bumi dalam
“Wow, that looks real to me, Ms. Speaking rentang waktu tertentu menggunakan
of the situation today.” aplikasi Google Earth Engine.
“So scary, how come it can be so true at the
moment” “This was Ancol beach back in 1984 and
here was the satellite image of Ancol beach
Kurang lebih, itu tanggapan mereka ketika in 2018”
saya minta mereka menyampaikan apa yang
mereka lihat dan rasakan. Lalu, saya berikan Saya menunjukan pada mereka, tempat
cuplikan ‘endingnya’, memberikan efek favorit saya di Jakarta dan bagaimana
pause di beberapa bagian, dan membiarkan tempat tersebut telah banyak kehilangan
anak-anak mencerna apa yang mereka lahan hijau dan keasriannya. Kami
tonton. Setelah selesai, saya minta mereka melanjutkan virtual field trip kami ke
menceritakan apa yang mereka lihat. beberapa wilayah di dunia, dan di sana
anak-anak tidak henti-hentinya berdecak
“Is that the company cutting the trees and kesal campur sedih melihat betapa
the bats gone?” hancurnya muka bumi Indonesia akibat ulah
destruktif manusia. Sebagai penutup, saya
Seorang murid menuliskan di kolom grup berikan mereka cuplikan video Sonia Shah
chat. yang bicara tentang pandemik dan saving
the wildlife, juga video Greta Thunberg,
Saya merespon: “Yes, they are gone. Anyone seorang aktivis climate change yang masih
knows why and where they went?” remaja dan juga dikenal anak-anak. Di video
tersebut, Greta Thunberg bicara tentang
48 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

bagaimana ekonomi dan politik menjadi ganjalan


besar dalam usaha penyelamatan Bumi.

Di tengah rasa sedih, kesal dan amarah, saya


minta mereka menuangkan perasaan mereka
dengan menggunakan strategi Visible Thinking;
Murid membagi isi pikirannya What Makes You Say That. Kumpulan isi pikiran
menggunakan strategi Visible anak-anak ini memberikan saya gambaran jelas,
Thinking: What Makes You Say That juga motivasi tersendiri, bahwa proyek Puisi
untuk Planet akan tetap bisa terealisasi meski
pembelajaran tidak dilaksanakan di ruang kelas
yang sebenarnya. Proses penanaman konsep di
PJJ pertama berakhir dengan perasaan bahagia
saya yang membuncah.

Di pertemuan kedua, saya membahas hal teknis


kebahasaan, seperti poetic devices, ranking of
adjectives, dan lain-lain. Sebelumnya, di awal
saya minta mereka mengingat kembali mengapa
mereka akan menulis puisi.

“Poem is a powerful way to touch people’s


feeling through beautiful words”

Jawab salah seorang anak, yang diberi ‘thumbs


up’ oleh teman-temannya. Saya kemudian
bertanya lagi, how to dive into writing. Jawaban
yang timbul beragam tapi saling berkaitan. Ada
beberapa anak menjawab kira-kira seperti ini;

“We need the knowledge to write it, like a


structure of how to do it.”

Disinilah gerbang saya menuju pembahasan


materi kebahasaan. Melibatkan aplikasi seru
seperti quizizz dan mengevaluasi pemahaman
melalui worksheet online di platform belajar;
Google Classroom. Karena proses penanaman
konsep sudah dilakukan di awal, anak-anak
tidak melihat aspek kebahasaan sebagai bagian
terpisah dari kehidupan mereka, malahan,
mereka melihat manfaatnya belajar teori dimana
Keseruan mengerjakan latihan soal di mereka akan segera mempraktekannya segera
aplikasi Quizizz saat menulis puisi nanti.

Di pertemuan berikutnya, saya mulai meminta


anak-anak untuk memilih tantangan yang akan
mereka lakukan dan memberdayakan konteks
permasalah krisis perubahan iklim ini sebagai
motivasi intrinsik dalam diri anak-anak. Lalu,
bagaimana cara mengawalinya? saya ajak
mereka jalan-jalan lagi, sudah pasti pakai field
trip virtualnya Google Earth. Anak-anak diminta
memilih tempat favorit mereka lalu bergantian
menjelajah tempat tersebut. Tidak harus yang
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 49
Salah satu murid menjelajah
tempat favoritnya. Hasil karya murid

sudah dikunjungi, dan tidak harus yang ada saja, dan kita turut andil di sana.
di luar negeri. Saya mencontohkan tempat
favorit saya adalah Pantai Ancol. Ketika Membuat anak-anak mengkoneksikan
mereka sudah puas bertualang melalui hubungan mereka dengan tempat yang
Google Earth dan Street View, saya minta mereka anggap favorit benar-benar
mereka untuk mulai merangkai puisinya membuat mereka merasa terberdayakan
sesuai dengan perasaan dan kepedulian secara akal dan perasaan. Ketika anak-
mereka terhadap tempat tersebut dari anak mampu mengidentifikasi emosi
ancaman perubahan iklim yang semakin inilah yang membuat mereka sadar bahwa
tampak nyata. krisis perubahan iklim semakin dekat
menghancurkan bumi. Emosi ini juga yang
Anak-anak diajak memberdayakan konteks saya harapkan akan membuat puisi mereka
berupa permasalahan dunia dari kacamata semakin memiliki kekuatan, kekuatan untuk
seorang pelajar dengan menggunakan membuat orang-orang semakin sadar dan
semua pengetahuan yang sudah mereka bisa bersama-sama melakukan sesuatu yang
pelajari. Ditambah dengan buncahan emosi nyata.
dan perasaan yang mendalam terhadap
tempat favorit mereka dan membayangkan Proyek pembelajaran ini belum selesai,
apa yang akan terjadi atau bahkan sudah setelah ini anak-anak akan saya tantang
terjadi akibat ulah segelintir manusia. membacakan puisinya dengan diiringi
potongan-potongan gambar atau video
Dengan bantuan platform belajar, yang menampilkan keindahan tempat favorit
saya membantu anak-anak dari rumah, mereka atau juga tempat-tempat indah
membimbing mereka dan memberikan seluruh dunia. Bertujuan untuk menambah
masukan-masukan konstruktif dalam kesadaran masyarakat tentang pentingnya
menciptakan hasil karya yang penuh melestarikan alam demi keberlangsungan
kekuatan. Hal yang saya pikir akan menjadi kehidupan. Puisi untuk Planet ini lebih
kendala berarti, ternyata tidak saya temui. dari sekedar materi dalam pembelajaran
Anak-anak tetap antusias, merespon dan Bahasa Inggris. Puisi untuk Planet adalah
menuangkan isi pikiran, bertanya dan ikut satu dari berbagai cara untuk menyuarakan
berdiskusi. Saya merasakan luapan emosi kekhawatiran. Setidaknya bagi murid-
mereka atas permasalahan bumi menjadi murid saya, para penerus bangsa, efeknya
semakin nyata di tengah pandemik ini yang melekat dan memberi kekuatan dahsyat ke
membuat mereka harus tetap di rumah. dalam pikiran untuk menjadi generasi yang
Keadaan ini seakan menambah gambaran lebih baik dari pada para pendahulunya,
nyata bahwa bumi memang tidak baik-baik dan menjadi inspirasi bagi generasi di
50 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 51
52 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 53
Praktik Baik Pembelajaran

Ibu Bisa Memasak,


Anak Bisa Belajar

B
erita kebijakan kegiatan belajar di rumah baru
diberikan sehari sebelum kebijakan dilakukan.
Ada rasa panik dan kebingungan tentang
bagaimana nanti anak belajar dan bagaimana orang tua
memfasilitasi anak belajar. Walaupun RPP untuk minggu
tersebut sudah jadi, saya tetap harus menyesuaikan agar
kegiatan tersebut dapat dilakukan anak bersama orang
tuanya. Saya menyederhanakan kegiatan yang akan
diberikan ke orang tua, yaitu berupa jadwal harian yang
bisa dilakukan anak, opsi kegiatan terkait pengenalan
COVID-19, cara-cara hidup sehat, dan referensi video
untuk membantu anak belajar tentang materi tersebut.
RPP sudah jadi, langsung diberikan ke orang tua. Saya
tidak membuat kesepakatan di awal tentang bagaimana
memfasilitasi anak, teknis menyampaikan hasil belajar ke
guru, dan bagaimana membantu anak berefleksi.

Minggu pertama pembelajaran di rumah, saya hanya


beberapa kali menanyakan bagaimana belajar hari
ini. Responnya bermacam-macam. Begini salah satu
responnya :
“Ayah, apakah saya bisa menanyakan beberapa hal
terkait kegiatan belajar di rumah?
“Iya Bu, ini kami juga sudah mati gaya mau ngapain...
hehehe”
“Sudah mencoba melakukan kegiatan apa saja ayah?”
penulis

“Mostly cuma ngikutin papernya Bu Dynna yg kapan


hari itu. Cuma ya lama-lama bosen. Kasih LKS aja bu,
yang bisa dikerjakan sama Ceri.”

Beberapa orang tua menceritakan bahwa sudah


melihat videonya, beberapa orang tua bercerita bahwa
Dynna Wahyu Perwita Sari anak-anak melakukan aktivitas lain, dan ada juga
KGB Surabaya orang tua yang bercerita bahwa mereka kebingungan
PAUD Anak Ceria Universitas
memfasilitasi anak karena orang tua juga harus bekerja.
dynnawahyu@gmail.com Minggu kedua membuat RPP, saya membuat kegiatan
‘‘
54 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

“... ada juga orang tua


yang bercerita bahwa
mereka kebingungan
memfasilitasi anak karena
orang tua juga harus
bekerja.”
Dynna Wahyu Perwita Sari

yang lebih terperinci bagaimana orang sarana prasarana yang dibutuhkan untuk
tua dan anak dapat melakukan kegiatan memfasilitasi anak belajar juga menjadi
tersebut. RPP sudah jadi, lalu saya salah satu tantangan. Ada orang tua yang
berdiskusi dengan rekan kerja. Dari hasil tidak bisa mencetak lembar kerja karena
diskusi, ternyata RPP yang saya buat masih tidak ada printer di rumah. Ketersediaan
seperti kegiatan yang akan dilakukan di alat bahan belajar atau mainan tertentu
sekolah. Padahal kenyataannya mungkin juga salah satu tantangan. Tidak semua
ada orang tua belum bisa memfasilitasi anak juga memiliki mainan yang bisa
kegiatan yang direncanakan guru, dan ada digunakan sebagai alat bantu belajar.
beberapa alat bahan yang mungkin tidak Selain itu, jika pembelajaran perlu akses
ada di rumah. internet, saya juga belum menanyakan
apakah semua orang tua bisa dan memiliki
Banyak hal yang menjadi tantangan ketika kuota yang cukup untuk mengakses
menyusun kegiatan belajar di rumah untuk internet.
anak TK. Instruksi kegiatan yang kurang
jelas membuat orang tua kebingungan Proses memperbaiki RPP tidak hanya
bagaimana memfasilitasi anak belajar. dari berdiskusi saja, rekan saya juga
Kegiatan yang saya tuliskan dalam RPP menyarankan untuk membaca Panduan
juga membutuhkan waktu luang bagi pembelajaran Jarak Jauh (PPJJ) dan
orang tua untuk memfasilitasi anaknya. mengikuti Temu Pendidik Spesial (TPS).
Sedangkan tidak semua orang tua bisa Dari membaca PPJJ dan menyimak TPS,
meluangkan waktu. Ada orang tua masih saya mendapat beberapa inspirasi terkait
bekerja hingga malam, ada orang tua yang menyusun RPP kegiatan belajar di rumah.
tetap harus bekerja dari rumah, ada juga Karena kegiatan yang akan di lakukan
orang tua yang di rumah namun harus tentang makanan dan minuman sehat,
menemani 3 anaknya, dan juga orang tua khususnya sayur dan buah. Sebelum
masih harus melakukan rutinitas di rumah membuat RPP saya menanyakan dulu
seperti bersih-bersih dan memasak. Selain ke orang tua tentang pemahaman anak
waktu untuk memfasilitasi anak belajar, tentang makanan & minuman sehat,
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 55

tentang buah dan sayur apa yang anak mau


makan, dan tentang kebiasaan makan anak di
rumah. Setelah mendapat informasi tersebut,
saya menentukan capaian belajar anak. Hal
Murid sedang menggeprek bawang. ini dilakukan agar anak mendapat tantangan
yang sesuai dan menjaga ekspektasi orang tua
terhadap hasil belajar anaknya.

Setelah itu saya menanyakan beberapa hal


terkait kebiasaan di rumah, seperti apakah
sering berbelanja ke pasar/tukang sayur,
apakah memasak makanan sendiri, apakah
tersedia buah-buahan di rumah, dan apakah
selalu ada menu sayuran di rumah. Saya
juga mengumpulkan informasi tentang alat
bahan dan mainan apa saja yang tersedia di
rumah. Tak lupa juga menanyakan tentang
akses internet yang biasanya digunakan,
apakah menggunakan wifi atau kuota, Untuk
orang tua yang menggunakan kuota, saya
menanyakan apakah bisa jika digunakan juga
untuk mengakses berbagai sumber belajar dari
internet. Saya kemudian membuat jadwal kapan
orang tua bisa dihubungi untuk berdiskusi
tentang kegiatan belajar anak.

Informasi yang saya dapat adalah, kebanyakan


anak difasilitasi belajar oleh ibunya, ibu selalu
memasak setiap hari, setiap hari juga ada
buah dan sayur, namun belum semua anak
mau makan buah dan sayur. Sedangkan untuk
ketersediaan alat bahan dan mainan, beberapa
anak memiliki mainan lego, dan semua
anak memiliki alat mewarnai. Ada beberapa
orang tua yang menggunakan kuota untuk
mengakses internet, namun tetap bersedia
untuk mengakses video sebagai fasilitas anak
belajar. Informasi-informasi tersebut digunakan
sebagai dasar membuat RPP. Saya membuat
kegiatan yang mungkin dilakukan bersamaan
dengan rutinitas ibu ketika memasak, seperti
mengamati buah, membantu memotong sayur,
atau membuat hasil karya dari sisa bahan
masakan. RPP yang saya buat berupa beberapa
pilihan kegiatan yang bisa dilakukan berulang-
ulang dengan bahan yang berbeda.

Saya mengirimkan RPP ke orang tua di


Murid sedang memotong buncis. awal minggu, dan menghubungi orang tua
sesuai dengan jadwal yang disepakati di
awal minggu. Salah satu ibu bercerita bahwa
mendiskusikan dengan anak kegiatan mana
yang ingin dilakukan, anak memilih kegiatan
makan sayur. Ibu merasa lebih bisa mengajak
56 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

anak belajar tentang macam dan kandungan


sayur sambil anak makan sayur tersebut. Anak
juga bercerita bahwa ia mau makan sayur dan
mengetahui bahwa sayur tersebut membuat
matanya sehat. Ibu yang lain bercerita bahwa
anaknya membantu ketika ibu memasak. Anak
membutuhkan stimulasi untuk fokus pada satu
benda, sehingga kegiatan yang dilakukan
adalah memukul bawang putih di cobek, yang
kemudian akan digunakan untuk memasak sop.
Salah satu cerita lainnya adalah ketika membantu
ibu membuat bakwan.
Murid sedang memakan sop.
Ibu mengirimkan video anak bercerita tentang
kegiatannya hari ini yaitu membuat bakwan sayur
goreng,

“Wah membantu Bunda membuat bakwan. Saat


membuat bakwan apakah sambil mengenal
bahannya bunda?”
“Membantu mengaduk adonan, sambil saya
tunjukkan bahan-bahan sayurnya saat saya
membuat adonan.”
“Lalu bagaimana respon Cero, bunda?”
“Kalau untuk membantu mengaduk di dapur,
Cero selalu semangat. Dia bilang kalau carrot
anda vegetable make you strong.”
“Apakah jika kegiatan belajar sambil membantu
memasak seperti tadi, membuat bunda
kesulitan?”
“Mungkin kalau waktu persiapan memasaknya
saja yang bisa. Jika membantu mengaduk
adonan atau memotong sayur, masih bisa”

Dari hasil diskusi, orang tua merasa dimudahkan


ketika kegiatan belajar anak bisa dilakukan
bersama dengan rutinitas yang dilakukan oleh
ibu di rumah. Orang tua juga tidak terlalu repot
menyiapkan alat bahan karena sudah tersedia
yaitu bahan yang akan dimasak. Dan anak-anak
juga berhasil belajar tentang menjaga kesehatan
dengan mau mencoba makan sayur dan buah.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 57
58 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

MENGEMBALIKAN
FITRAH BELAJAR
YANG MERDEKA

Malam itu, surat pemberitahuan dari Dinas Pendidikan


menjadi topik hangat yang dibicarakan antar pemangku
lembaga pendidikan dan orang tua. Sontak kaget, ragu,
bingung namun ada rasa untuk mematuhinya. Ya, surat itu
berisi pemberitahuan bahwa Lembaga Sekolah baik negeri
maupun swasta untuk melaksanakan kegiatan belajar di
rumah. Mulai tanggal 16 Maret 2020 sampai pemberitahuan
lebih lanjut. Dalam rangka mengantisipasi penyebaran
Corona Virus Disease ( COVID-19).

Para guru, orangtua dan peserta didik mungkin tidak


terbayang sebelumnya, mereka harus menjalani kegiatan
belajar seperti ini. Sebagian sekolah yang lain sudah mulai
meliburkan kegiatan sekolah mereka. Anak – anak MI.
Tarbiyatul Banin masih harus masuk karena menunggu
keputusan rapat Yayasan. Hari itu kami gunakan untuk
mengenalkan anak tentang Social Distancing s. Menekankan
bahwa belajar di rumah, bukan karena libur cuma – Cuma,
bersenang – senang karena tidak pergi ke sekolah justru
malah berwisata, jalan – jalan atau mengadakan kegiatan
yang mengumpulkan banyak orang.

Usia anak MI kelas 2 masih harus bekerja sama orang


tua. Oleh karena itu, saya meluncurkan surat undangan
via whatsapp untuk mengundang wali murid pada hari
itu juga guna sosialisasi tentang pola pembelajaran yang
akan saya lakukan. Padahal sebenarnya belum terbayang
juga bagaimana alurnya. Saya hanya menitikberatkan pada
pembelajaran kemandirian, tanggung jawab dan teladan dari
orang tua selama di rumah.
penulis

Beruntung bergabung dengan grup GURU BELAJAR


LAMONGAN. Dari grup ini saya bisa mendapat dan
menambah amunisi selama kebijakan belajar di rumah itu
dilakukan. Mulai dari link Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
yang selalu update setiap hari, sesi belajar Live dan Temu
Lailatun Nisfah Pendidik Spesial/atau Panduan Pembelajaran Jarak Jauh.
KGB Lamongan Menyadari tidak semua orang tua adalah guru. Mereka punya
MI. Tarbiyatul Banin tanggung jawab, beban ekonomi dan kepentingan masing
nisfah.arch1@gmail.com
– masing, saya tidak mau menambah beban mereka dengan
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 59

mengalihkan tugas sekolah kepada mereka. kesempatan saya untuk mengulik fitrah
Oleh karena itu saya harus mengadopsi kemandirian anak dengan rentang usia 8 -9
sebagian besar inti dari RPP Pembelajaran tahun (kelas 2 MI). Seringkali saya melihat
Jarak Jauh Sekolah rawan Corona ini dan orang tua sekarang lebih cenderung
mengemasnya sesuai dengan potensi dan menginginkan nilai akademis yang baik tapi
kekuatan peserta didik dan orang tuanya mengesampingkan kemandirian anak atau life
menjadi pembelajaran yang berkesan dan skill yang dibutuhkan anak sebagai bekal masa
bermakna untuk bekal mereka. dewasanya nanti. Sehingga nilai kemandirian,
sosial dan spiritual selalu saya sematkan pada
School at Home memang tidak begitu agenda harian wajib anak selama belajar di
diinginkan oleh semua orang. Tetapi jika rumah, dengan menambahkan poin RPP yang
hal tersebut adalah pilihan sebagai langkah disediakan oleh Tim Sekolah Rawan Corona ini.
pencegahan penyebaran virus maka hal ini
harus kita dukung bersama dengan cara Hari pertama, Senin tanggal 17 Maret 2020
mengambil hikmah dibalik musibah ini. merupakan hari pertama anak – anak belajar
Diantaranya adalah sebagai media refleksi di rumah bersama orang tuanya. Saya
belajar bagi guru, orang tua dan anak. menggunakan Link http://bit.ly/SLC16Maret
Mengembalikan makna belajar yang merdeka di hari pertama dan kedua sebagai salah
tanpa berbatas ruang dan waktu. Semua itu satu referensi bahan ajar saya, pun di hari –
berasal dari rumah sebagai sekolah pertama hari berikutnya. Tujuan pada pembelajaran
anak. Mereka bisa bermain, ngobrol, dan pertama saya adalah mengajak anak berpikir
beraktivitas bersama keluarganya sehingga dengan sadar mengapa mereka sekarang
bonding antara anak dan orang tua yang harus belajar di rumah, tidak di sekolah. Oleh
hampir kita lupakan kembali terbangun, karena itu materi yang saya ambil adalah
lekat, dekat, hangat, bersahabat dan menjadi materi Life Skill- Kemandirian dan mengikuti
penguat karakter dan kepercayaan diri anak. RPP, yakni menjelaskan tentang Covid-19 serta
pencegahannya dengan bantuan orang tua di
Karena dasar itulah momen ini menjadi rumah.
60 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Kelas saya mulai jam 08.00 setelah ada Ada yang sudah terbiasa merapikan tempat
pemberitahuan sebelumnya. Sehingga anak dan tidurnya, maka level aktivitas bisa ditingkatkan.
orang tua sudah siap dan pekerjaan domestik Misal dengan mencuci piring makannya sendiri,
orang tua sudah selesai. Langkah pertama adalah mencuci bajunya sendiri dan lain – lain.
membuka pelajaran dan memotivasi anak dan 2. Peka terhadap masalah di sekitarnya.
orang tua dengan cara menyapa dan melakukan Menanyakan kabar melalui telepon seluler atau
presensi online. Dengan tujuan mengetahui video call menjadi pilihan kegiatan hari kedua.
respon dan kehadiran peserta didik dalam Kegiatan ini belajar ini bertujuan untuk melatih
pembelajaran online. Karena tidak semua orang komunikasi anak dan menumbuhkan rasa empati
tua memiliki akses internet. Hal ini terbukti dari anak kepada keluarga yang sedang berada di
19 murid ada 4 yang belum bisa hadir pada luar kota atau daerah.
pembelajaran hari pertama. Alhamdulillah 3. Menambah pengetahuan sesuai dengan
setelah menelusuri kendalanya di hari ke 3 semua materi yang ada di sekolah.
orang tua sudah bisa terhubung dengan jaringan Pada poin ini saya mengambil ide dari RPP yang
internet. tersedia di grup telegram Sekolah Melawan
Corona.
Langkah kedua – materi #1 adalah memberi
penjelasan tentang pentingnya melatih anak Banyak hal yang menarik pada momen Merdeka
kemandirian anak, dimulai dengan memberi belajar VS Melawan Corona ini. di hari kedua
tanggung jawab pada anak untuk merapikan hati ini meleleh melihat potret kemandirian
tempat tidurnya. Poin kemandirian ini akan anak – anak di rumah yang mulai bangkit, binar
menjadi Challenge anak selama belajar di mereka dan keluarga yang dihubungi menambah
rumah setiap hari dimulai hari esok. Selama 30 aura kebahagiaan keluarga di rumah, Output
menit kami sharing dengan orang tua tentang video cuci tangan dengan berbagai macam lagu
kebiasaan anak sebelumnya dan meminta dan juga indahnya melihat variasi cara belajar
komitmen orang tua untuk bisa mendukung dan yang dilakukan bersama dengan orang tuanya.
bekerjasama dalam hal kemandirian anak. Contoh saja di hari – hari berikutnya, anak - anak
mengenal pecahan dengan berbagai media. Ada
Setelah tuntas dan sepakat materi #1, saya yang menggunakan kertas origami, daun yang
lanjutkan pada materi berikutnya. Yakni disobek, buah apel atau agar – agar yang diiris.
tentang Corona dengan cara menjelaskan Sungguh indah melihat cara mereka belajar dan
dan mengirim gambar yang saya peroleh memahami konsep pecahan dengan cara yang
dari Grup Guru Belajar. Sebagai feedback menarik dan menyenangkan. Begitu jaga dengan
pembelajaran, saya menanyakan perasaan atau materi Bahasa Indonesia, saya memberikan
ungkapan dari anak tentang Corona melalui kebebasan orang tua dan anak untuk membaca
tulisan/ chat pada wag kelas. Setelah itu kami buku cerita yang mereka sukai, dengan rule tugas
lanjutkan materi tentang pentingnya menjaga mengambil dari RPP PJJ, yakni menjelaskan kata
diri dengan cara mencuci tangan dengan baik sapaan dan menuliskannya di buku tugas.
dan benar. Dengan menonton video pada
link http://www.sekolah.mu/lagucucitangan. Terbantu sekali dengan link http://www.sekolah.
Dan memperagakannya di rumah. Orang tua mu sebagai referensi bahan ajar baik materi
membantu mendokumentasikan aksi anak dan maupun media dan juga kerjasama dari orang
diposting di wa status agar bisa saya lihat dan tua dalam memfasilitasi anak – anak belajar di
apresiasi. rumah. Semoga dengan kebebasan ini anak –
anak bisa menemukan cara belajar yang gue
Ucapan terima kasih kepada anak dan orang tua banget untuk mengenal potensinya.
menjadi kegiatan penutup pembelajaran hari
itu dan menitipkan kepada orang tua untuk bisa
mendampingi anak – anak melakukan sholat 5
waktu di rumah.

1. Ada tiga hal poin penting dalam pembelajaran


yang saya lakukan selama masa Sekolah di
rumah. Diantaranya adalah :
Melatih kemandirian dan tanggung jawab anak.
Dimulai dengan merapikan tempat tidur
sebagai tanggung jawabnya. Masing – masing
anak boleh berbeda jenis kegiatannya sesuai
dengan kebutuhan dan kekuatan anak di rumah.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 61
62 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

Berselancar
dengan
Trigonometri
Semua orang pasti tidak pernah mengira akan mengalami
keadaan seperti sekarang ini, dimana semua harus berubah
sejauh 180 derajat dari yang biasa dijalani. Semua orang
panik dengan keadaan ini, cerita mengenai hebatnya
penyebaran virus korona terus disebarkan oleh berbagai
media. Dunia pendidikan pun terkena dampak dari keadaan
ini. Sekolah-sekolah ditutup, anak-anak harus belajar dari
rumah, tenaga pendidik dan kependidikan harus tetap
bekerja dari rumah, dan kita tidak tahu kapan keadaan ini
akan berakhir.

Masalah terbesar yang saya hadapi sekarang bukan hanya


bagaimana menghadapi murid yang malas dan sulit
belajar matematika. Masalah yang lebih besar lagi adalah,
bagaimana cara menyampaikan materi kepada murid dan
bagaimana membangun komunikasi dengan murid pada
saat mereka ada di rumah. Saya mengajar matematika di
kelas X dan kelas XII, dan tidak semua murid yang saya ajar
bisa menggunakan teknologi untuk belajar. Itulah sebabnya
pekerjaan saya sekarang ini terasa lebih berat daripada
saat mengajar di depan kelas. Yang saya kerjakan sekarang
bukan hanya menyampaikan materi, tapi juga menjelaskan
cara menggunakan aplikasi pembelajaran, membangun
komunikasi dengan murid dan orang tua murid, juga
mengelola kelas virtual yang digunakan sebagai media
belajar.

Sebetulnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya


berpikir untuk membuat Bank Materi dan video pembelajaran
yang bisa disimpan di server sekolah dengan tujuan :
1. Murid yang tidak sekolah karena sakit atau alasan apapun
tetap bisa mengakses materi.
2. Ketika ada guru yang tidak dapat hadir karena harus
penulis

mengikuti pelatihan ataupun sakit, murid tetap bisa


mendapatkan materi dan tidak akan ketinggalan
pelajaran.
3. Kegiatan pembelajaran tidak kaku hanya berdasarkan
pada tatap muka di dalam kelas.
4. Guru bisa merancang pembelajaran yang menyenangkan
Nadia Cassinie dengan cara praktek belajar di luar kelas dengan
KGB Bandung mengacu pada materi yang sudah disiapkan untuk bisa
SMK Prakarya Internasional diakses oleh murid.
nadiacassinieschiele@gmail.com 5. Kegiatan pembelajaran akan menjadi interaksi yang
menyenangkan antara murid dengan murid dan murid
‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 63

“Muridku beranggapan
matematika sebagai
pelajaran yang sulit dan
layak untuk dihindari.”
Nadia Cassine

dengan guru.
Sayangnya saya tidak mendapat dukungan. Setiap kali kita mencoba sesuatu yang baru,
Akhirnya dengan bantuan dari beberapa orang selalu ada proses pembelajaran yang harus
murid, saya membuat video pendek yang isinya dilalui. Saya yang tidak terlalu menguasai
tentang penyelesaian soal. Video itu digunakan teknologi harus banyak belajar untuk bisa
oleh murid kelas XII untuk latihan di rumah saat mengajar dengan cara live streaming seperti
menjelang ujian. itu. Dengan dibantu oleh anak-anak saya di
rumah dan tim “Kerja Barengan Lawan Korona”
Pertengahan bulan Maret lalu saya akhirnya saya bisa mengajar secara live,
mendengar kabar bahwa sekolah ditutup walaupun sesekali masih terasa gugup saat
dan pembelajaran dilakukan dari rumah, saya bicara sendiri di depan kamera laptop.
langsung berpikir untuk mengoptimalkan sosial
media yang selama ini saya gunakan sebagai Materi terakhir yang saya sampaikan adalah
media pendukung pembelajaran di kelas. tentang nilai perbandingan trigonometri untuk
Tapi….. lagi-lagi saya tidak terlalu yakin dengan sudut istimewa. Di video itu saya menjelaskan
ide itu, mengingat materi dan pembahasan tentang trik mencari nilai perbandingan
soal yang sudah saya posting di youtube dan trigonometri, karena pada saat anak-anak
blog pribadi saya tidak terlalu banyak. Maka belajar di kelas jarang dibahas cara seperti itu.
sebagai langkah awal saya hanya mengikuti Pada saat mengajar, saya selalu menanamkan
anjuran kurikulum untuk menggunakan google pemahaman konsep, bukan menghafal. Untuk
classroom sebagai media belajar. contoh, saya perlihatkan video dokumentasi
pembelajaran yang pernah saya lakukan,
Ketika ada kesempatan untuk berkontribusi dimana saya mengajak anak-anak untuk
membantu murid belajar di rumah dengan belajar di lapangan dan mempraktekan materi
cara live dari tempat tinggal sendiri, dimana trigonometri dalam kegiatan nyata.
sekolah.mu menjadi inisiator, saya langsung
bergabung. Yang ada di pikiran saya saat itu Materi trigonometri yang saya bahas di video
adalah, saya mendapat media yang tepat untuk itu adalah permintaan dari salah satu anak
mengajar murid saya, dan dalam waktu yang kelas X di tempat saya mengajar yang sengaja
bersamaan, saya juga bisa berkontribusi untuk mengirimkan pesan pribadi di instagram.
anak-anak lain yang membutuhkan. Kabar Kebetulan materi itu sesuai dengan tugas
gembira itu langsung saya sampaikan ke murid yang saya berikan di google classroom,
yang saya ajar, dan mereka menyambutnya tapi saya juga tidak menutup kemungkinan
dengan antusias. Maka saya mulai merancang untuk menerima permintaan dari anak lain
tugas yang linier dengan materi yang akan saya yang menonton video pembelajaran saya di
sampaikan pada saat live streaming nanti. youtube. Maka pada saat trigonometri saya
64 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

jelaskan di video streaming tersebut, sambutan dari


anak-anak sangat positif.
Saat mengisi Sesi Belajar Live!
Karena saya memberikan contoh dalam bentuk
implementasi matematika dalam kehidupan sehari-
hari, maka ada beberapa murid yang justru merasa
terilhami untuk membuat percobaan di rumah
untuk mengisi waktu selama mereka harus belajar
di rumah. Ada beberapa anak yang menghubungi
secara pribadi dan membahas materi ini untuk
dilakukan di rumah.

Setelah social distancing berjalan selama dua


minggu dan saya sudah beberapa kali melakukan
live streaming, hasilnya baru mulai terasa :
• Anak-anak yang saya ajar merasa terbantu
dengan adanya video pembelajaran itu.
• Komunikasi dengan anak-anak yang saya ajar
berubah menjadi diskusi mengenai materi yang
saya sampaikan pada saat live.
• Menjadi motivasi bagi anak-anak yang saya
ajar untuk tetap belajar dalam situasi seperti
apapun.
• Anak-anak yang saya ajar memahami konsep
dasar matematika.
• Menjadi inspirasi bagi teman-teman guru untuk
sama-sama belajar menggunakan teknologi
untuk mengajar.

Selalu ada pembelajaran dari setiap keadaan yang


terjadi. Keadaan sekarang membuat kita semua
yang menjadi stake holder pendidikan menjadi
semakin menyadari akan pentingnya teknologi
sebagai alat komunikasi. Setiap pendidik harus mau
belajar dan mengikuti perkembangan teknologi.
Besar harapan saya agar semua yang saya lakukan
bisa bermanfaat bagi anak-anak didik, teman-teman
guru, juga untuk masyarakat banyak.

Murid mengikuti sesi.


Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 65
66 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 67
Praktik Baik Pembelajaran

Tujuan Belajar, Penting


Dipahami Orang Tua
atau Wali Murid?

Pembelajaran jarak jauh awalnya sama sekali tak terbayang


di benak saya. Namun situasi dan kondisi dunia yang sedang
tidak baik-baik saja saat ini karena menyebarnya virus Corona
membuat saya dan teman-teman guru cukup gelisah. Bertambah
gelisah setelah mendapat surat edaran dari pemerintah
Kabupaten bahwa anak-anak belajar di rumah. Sebenarnya
beberapa kali saya dan tim pernah melakukan pembelajaran
di rumah dan bekerjasama dengan orang tua, atau kami
menyebutnya ‘misi rumah’. Namun, kondisi ini berbeda. Saya
sebagai guru merasa benar-benar harus belajar apa dan
bagaimana pembelajaran jarak jauh itu. Dengan bekal rasa butuh
dan semangat belajar itulah, saya mencoba untuk bergabung
di grup Sinau Bareng Kelas 2, Sekolah Lawan Korona, dan
mengikuti beberapa diskusi di grup komunitas guru belajar. Dari
situlah saya mendapat banyak pengetahuan tentang konsep
pembelajaran jarak jauh, tergambarkan lagi saat saya membaca
materi tentang panduan pembelajaran jarak jauh, yang meliputi
topik memanusiakan hubungan, Memahami konsep, dan
membangun keberlanjutan.

Awalnya saya merasa akan sulit dan ribet untuk melakukan


pembelajaran jarak jauh di tengah-tengah wabah virus Corona
ini. Namun, ternyata dari yayasan mengajak berembug untuk
mengambil langkah dan membuat rencana pembelajaran
online atau jarak jauh oleh guru. Berbekal pengetahuan tentang
panduan pembelajaran jarak jauh, saya dan tim guru yang lain
berkomitmen untuk memfasilitasi anak-anak belajar dengan
bekerja sama bersama orang tua via whatsapp. Karena mayoritas
penulis

wali murid di sekolah kami menggunakan via whatsapp untuk


saling berkomunikasi jarak jauh.

Rencana pembelajaran jarak jauh itu kemudian kami sampaikan


lewat grup whatsapp keluarga sekolah kami yang berisikan
pengurus yayasan, guru, dan wali murid sebagai pengumuman.
Siti Rodliyah Mayoritas orang tua atau wali murid menyetujui keputusan
KGB Rembang tersebut. Hal itu membuat saya dan teman-teman guru semakin
Sekolah Islam Umar Harun bersemangat untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh.
anarodliyah19@gmail.com Saya sebagai guru kelas 2 SD dan tim mulai merancang model
68 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Chat dengan walimurid Chat dengan walimurid

pembelajaran jarak jauh. Awalnya saya berpikir


bahwa saya harus menyapa hangat orang tua
dulu secara online setelah anak libur 2 hari Dengan mendapat cerita aktivitas anak-anak
sejak adanya pengumuman belajar di rumah. di rumah dari orang tua seperti itu, saya
Saya mulai menyapa dengan menanyakan dan tim guru mencoba untuk memahami
kabar anak-anak dan keluarga di grup kelas beberapa kondisi anak dan mulai merancang
kami. Selain itu, saya juga menyapa dengan pembelajaran di rumah.
menyampaikan perasaan rindu saya belajar
bersama anak-anak di sekolah. Ya, seperti itu Sesuai tujuan pembelajaran, saya dan tim
adanya. merancang schedule atau jadwal aktivitas yang
perlu dilakukan dalam jangka 2 hari. Setelah
Karena sapaan hangat dengan nuansa itu, kami membagikan poster jadwal aktivitas
keakraban keluarga, sekitar lima belas dari itu di grup kelas, dan untuk laporan proses
dua puluh orang tua terlihat semangat belajarnya anak-anak bisa chatting lewat jalur
menceritakan aktivitas anak-anak selama dua pribadi (japri) dengan guru pendamping, untuk
hari di rumah. Beragam sekali ceritanya, ada kemudian diberi feedback( umpan balik ) dari
yang main-main saja di dalam rumah bersama guru. Seperti di bawah ini poster aktivitas
adik, ada yang selalu bangun siang karena belajar di rumah yang pernah saya dan tim
tidak berangkat sekolah, ada yang membuat guru laksanakan :
kreasi-kreasi, ada yang main di sekitar rumah
bersama teman-teman tetangga, ada yang Dalam proses awal, beberapa dari orang tua
menonton tv seharian, ada yang nge-game, aktif merespon dan melaporkan proses belajar
ada yang lihat youtube, dan lain-lain. anak ke guru melalui video, voice, atau tulisan.
‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 69

... saya juga mencoba


untuk membagikan poster
membuat jadwal bersama
anak yang saya dapatkan dari
grup ‘Keluarga Kita’
Siti Rodliyah

Beberapa anak yang sudah bisa menggunakan empati.


whatsaap juga melaporkan sendiri proses
belajarnya lewat tulisan atau voice note dan guru Dari obrolan tersebut, saya tahu bahwa
memberikan umpan balik. beberapa orang tua yang tidak merespon
ternyata karena kurang bisa mengatur jadwal
Namun, hal itu tidak merata. Saya menemukan mendampingi anak belajar lantaran masih ada
tantangan lima orang tua yang kesulitan pekerjaan yang harus dilakukan. Sehingga
berkomunikasi. Dari guru sudah mengechat anak di rumah beraktivitas bebas tanpa
untuk menanyakan bagaimana perkembangan tujuan tertentu dan tidak melakukan jadwal
proses belajar anak di rumah bersama orang pembelajaran yang sesuai tujuan dari sekolah.
tua. Namun, pesan itu hanya dibaca, sedangkan
alokasi waktu pembelajaran sudah melampaui Namun, dari situ juga saya sebagai guru
batas ( tanpa ada laporan perkembangan anak mengajak orang tua untuk mencari cara,
dari orang tua). sedangkan guru belum bisa salah satunya dengan kesepakatan waktu
mengobservasi capaian anak karena tidak ada mendampingi anak melaksanakan pembelajaran
laporan dari orang tua. sesuai tujuan dari sekolah. Selain itu, saya juga
mencoba untuk membagikan poster membuat
Di tengah wabah Corona ini dan seminggu jadwal bersama anak yang saya dapatkan dari
pelaksanaan pembelajaran online, sekolah grup ‘Keluarga Kita’ kepada orang tua yang
saya juga bertepatan dengan jadwal laporan kesulitan mengatur jam pendampingan belajar
perkembangan tengah semester. Saat laporan anak.
perkembangan tengah semester, sekolah saya
memutuskan untuk mengundang satu persatu Mengaca dari refleksi orang tua tersebut, saya
orang tua datang ke sekolah dengan tetap dan teman-teman guru juga merefleksikan cara
melakukan protokol langkah pencegahan virus pembelajaran online bersama anak dan orang
corona oleh pemerintah. tua. Kami merencanakan pembelajaran jarak
jauh lagi dengan lebih bisa memahami masing-
Saya dan tim guru sudah merencanakan untuk masing kondisi keluarga atau orang tua dulu,
mengajak orang tua juga berefleksi tentang dan target pencapaian tujuan pembelajaran
pembelajaran online atau jarak jauh yang mungkin setiap anak bisa berbeda karena
sudah berjalan seminggu saat pertemuan LPTS melihat beberapa kondisi orang tua.
( Laporan perkembangan Tengah Semester).
Saya dan beberapa orang tua ngobrol santai Dan kami juga melakukan perbaikan dengan
sambil berefleksi. Salah satu orang tua ada mengshare tujuan pembelajaran yang harus
yang bercerita kalau sangat sulit mengatur jam dicapai anak dari sekolah kepada orang tua
pekerjaan dengan mendampingi pembelajaran dengan bahasa yang bisa dipahami kalangan
anak. Apalagi yang harus didampingi dua orang tua murid kami, tidak hanya jadwal
anak sekaligus, belum lagi ngurus si adik. Saat aktivitas belajar saja. Hal itu bertujuan untuk
itu saya hanya mendengarkan dengan penuh lebih memudahkan orang tua menyesuaikan cara
70 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

DARING JANGAN
JADI PUSING

Minggu malam suasana mulai genting, WA grup, WA


pribadi mulai bertebaran berita virus convid-19 yang sudah
sampai di Indonesia. Malam itu di TV sedang ditayangkan
pidato Presiden yang menyatakan tentang bekerja dari
rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah. Saya berasal
dari Kabupaten Probolinggo salah satu guru di SD Negeri
Krejengan yang termasuk SD desa dan saya mengajar di kelas
5, hingga malam hari belum ada kabar dari Ibu Bupati kami
berkaitan dengan hal tersebut hati saya berbisik,

“Bagaimana saya mengarahkan anak-anak untuk belajar dari


rumah kalau seandainya ini juga dilaksanakan di sekolah
kami?” beberapa menit kemudian, berita live FB Ibu Bupati
agar semua kegiatan dilakukan di rumah saja sudah tersebar.
Malam itu juga ada surat edaran dari Dinas Pendidikan
Kabupaten Probolinggo menyatakan untuk bekerja dari
rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah selama 2
minggu kebelakang tetapi para murid saja tidak dengan
Bapak dan Ibu guru kami tetap masuk. “Alhamdulillah berarti
masih ada kesempatan untuk sharing dengan bapak dan ibu
guru yang lain.

Kecemasan dan kekhawatiran yang saya rasakan yaitu


bagaimana caranya memberikan pelajaran yang bermakna,
anak tidak bosan selama daring?. Tidak mungkin juga
saya memberikan soal-soal saja kepada mereka karena
akan membebani anak serta orang tua dirumah, meskipun
belajar adalah kebutuhan mereka. Akhirnya kecemasan dan
kekhawatiran saya terobati karena 1 hari sebelum lockdown
sudah ada undangan di grup WA yang berisi untuk teman-
teman KGB (Komunitas Guru Belajar) yang aktif di media
penulis

sosial untuk bergabung menjadi penggerak sekolah lawan


corona dan undangan ini dikhususkan kepada penggerak
KGB saja, akhirnya saya coba untuk bergabung. Tantangan
pun dimulai bagaimana caranya agar pembelajaran daring/
jarak jauh ini benar-benar berjalan dengan baik dan bisa
berjalan dengan lancar 2 minggu ke depan?
Yulia Rahmawati Banyak yang harus kami siapkan karena semua serba tiba-
KGB Probolinggo tiba sedikit klipungan dengan bagaimana caranya untuk
SDN Krejengan
menyampaikan kepada wali murid perihal tentang daring ini
yuliarahmawati837@gmail.com serta kendala yang muncul dari anak-anak yang tidak punya
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 71
Chat dengan salah satu murid. Grup Chat dengan murid.

gawai untuk bisa bergabung di grup WA. Dari berdaya dan bermakna untuk mereka dalam
20 anak yang masuk dalam grup wa paguyuban suasana yang seperti sekarang.
kelas hanya 15 anak, “Jalan saja dulu pasti
nanti ada jalannya” saya selalu mencoba Saya menggunakan RPP sekolah lawan
berpikir positif. corona di wa grup dengan menyapa anak-
anak dan orang tua terlebih dahulu di RPP
Hari pertama anak-anak belajar dari rumah tersebut sangat memudahkan saya untuk
kami tetap di sekolah. Bapak dan Ibu guru yang menyampaikan penjelasan kepada para orang
lain mulai sibuk dengan grup WA kelas masing- tua tentang mengapa sekolah diliburkan?,
masing demikian juga saya., “wes tak ke’i tugas mengapa ada belajar daring? dan sebagainya,
murid-murid ku, wes tak fotokno soal, tapi kok dan mulai membuat kesepakatan dengan anak
mulai mau mung siji sing bales wa grup yo?( dan orang tua selama belajar dari rumah.
sudah saya beri tugas anak-anak, sudah saya
fotokan soal, tapi kok mulai dari tadi yang balas Setelah menyapa dan mengabsen anak-
hanya 1 orang saja di grup ya?”, salah satu anak saya beri link video yang ada di RPP
teman guru bercerita kendalanya. karena saya tentang penyebaran virus convid-19 selama
sudah bergabung dengan tim sekolah lawan 10 menit selama anak-anak melihat video
corona saya membagikan RPP tetapi masing salah satu kesepakatan kami bersama adalah
ada beberapa teman yang beranggapan ”ah membuka tutup wa grup dengan pengaturan
ribet difotokan soal sudah beres”. “oke saatnya hanya admin saja yang bisa mengirim pesan
saya bergerak membuktikan dulu kepada bertujuan untuk anak tetap berkonsentrasi
teman-teman dengan mempraktekan RPP”, dan tertib ketika berdiskusi dengan orang tua.
tantangan yang saya hadapi bukan dengan Setelah menonton video saya mempersilahkan
anak-anak saja tapi dengan bapak dan ibu anak dan orang tua berdiskusi tentang video
guru mengajak mereka untuk memanusiakan yang mereka tonton lalu hasil dari diskusi
hubungan dengan anak dan orang tua agar tersebut direkam menggunakan voice note
72 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

atau pesan suara dan dikirimkan ke wa grup seru


sekali mereka benar-benar antusias.

‘‘
Dari RPP saya mencoba mengembangkan memberi
dan memilih tantangan kepada anak yaitu yang
pertama membuat poster tentang convid-19
yang kedua membuat video menjelaskan tentang
convid-19, semua menjawab “siiapp bu”, ada
yang bertanya “kapan dikumpulkan bu?”, saya
balik bertanya “kira-kira anak-anak kapan bisa
Dari RPP saya mengumpulkan?” hampir semua murid “nanti
malam ya bu?” oke, dan saya menyampaikan
mencoba kendala yang saya hadapi daring hari ini “anak-anak
bagaimana dengan 5 teman yang tidak bergabung
mengembangkan dengan kita hari ini ya?”, salah satu dari orang
tua menelpon saya menyampaikan “saya siap
memberi membantu bu kebetulan rumahnya berdekatan saya
yang akan menyampaikan kepada orang tuanya”,
dan memilih wahh sangat berterimakasih sekali.

tantangan kepada Dari antusias anak dan orang tua tantangan yang
anak yaitu yang saya berikan tidak sampai malam hari siang hari
sudah ramai wa grup dengan video dan gambar-
pertama membuat gambar poster hasil karya mereka hampir semua
anak mengumpulkan dari 5 anak yang belum
poster tentang bergabung sudah mulai bergabung dengan yang
lain, lalu bagaimana caranya dengan bapak dan
convid-19 yang ibu guru yang lain yang hanya memberi soal saja?,
saya mencoba strategi “tebar manfaat di story wa
kedua membuat dan media sosial FB” hasil belajar anak-anak mulai
saya posting dan mulai ada yang penasaran dan
video menjelaskan bertanya-tanya bagaimana cara mengarahkan anak-
anak?. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
tentang convid-19. Story dan FB menjadikan teman-teman lain tahu
apa yang saya praktikan bersama anak-anak dan
satu bonus lagi yaitu orang tua antusias dan
bersemangat mendampingi anak belajar karena
melihat anak senang dan tidak dibebani oleh tugas
Yulia Rahmawati dan soal-soal, bahkan setelah saya mengakhiri
kelas daring refleksi bersama anak ada yang
menganggapi “saya sebagai orang tua senang
biasanya saya mendampingi anak hanya di meja
belajar saja hari ini saya belajar menjadi fotografer
bu”. Senang sekali rasanya ada yang bertanya
“besok belajar dan buat apalagi bu?”, “besok
mulainya jam berapa bu?, pagi-pagi saja ya bu, seru
bu”.

Pesan WA dari mereka sangat berharga untuk


saya, anak dan orang tua merasa dihargai dan
tidak merasa dibebani oleh guru, menjadi relawan
Tim sekolah lawan corona memudahkan saya
untuk belajar daring bersama anak-anak 5M
pembelajaran semua saya dapatkan, semoga semua
segera berlalu dan saya selalu bisa memberikan
pembelajaran yang bermakna kepada mereka.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 73
Temu Pendidik Nusantara

Temu Pendidik Nusantara 2019


didukung oleh :

official media partner


74 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 75
76 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

Semua Turut Berperan,


Semua Harus Saling
Memahami
Menghadapi murid berkebutuhan khusus bukanlah hal
yang mudah. Guru benar-benar perlu mendampingi dan
memahami bahwa murid memiliki cara yang unik untuk
mengerjakan aktivitasnya. Tantangannya sangat beragam dan
tidak dapat diperkirakan. Di pagi hari, sudah merencanakan
suatu aktivitas. Namun, bisa gagal karena anak tantrum.
pembelajaran tatap muka saja sudah menantang, bagaimana
pembelajaran jarak jauh? Di sini, saya akan membagikan
cerita saya.

Sekolah saya memutuskan pembelajaran jarak jauh lebih


awal daripada sekolah-sekolah pada umumnya. Tetapi hal ini
sudah terprediksi oleh saya, mengingat karakteristik orang
tuanya yang sudah mulai mempertanyakan keputusan sekolah
sejak diumumkannya pasien 001 dan 002 di Indonesia. Sore
harinya, sekolah memutuskan untuk membuat pembelajaran
jarak jauh sejak minggu depannya. Guru dan murid
langsung dipersiapkan untuk melakukan pembelajaran jarak
jauh, dengan berbagai strategi serta memfasilitasi media
pembelajaran.

Hal ini tidaklah sulit karena murid sudah cukup familiar


dengan media online (daring) yang biasa digunakan. Hal
yang menjadi tantangan bagi saya adalah minggu pertama
pembelajaran jarak jauh merupakan minggu sumatif.
Sebagai guru untuk anak berkebutuhan khusus, banyak hal
yang saya pertimbangkan ketika pelaksanaan sumatif. Saya
harus melakukan diferensiasi instruksi, metode asesmen,
bahkan konten, agar target pembelajaran tetap tercapai.
Lalu tantangan barunya adalah bagaimana metode asesmen
ini dibuat secara daring? Secara tatap muka saja, sudah sulit
untuk mengeksekusinya. Saya harus mendampingi di sisi anak
penulis

untuk memastikan ia fokus dan mengerjakan sesuai dengan


pemahamannya. Karena sekolah sudah memutuskan, saya
pun tetap melaksanakannya. Minggu persiapan tersebut saya
gunakan untuk membuat berbagai hands-on, memastikan
pemahaman mereka serta mereka mengetahui langkah-
langkah untuk pengerjaan tugasnya. Hal tersebut saya
Amanda Nurshadrina pastikan juga dengan orang tua murid.
KGB Depok
Sekolah Cikal Cilandak Minggu pertama pembelajaran jarak jauh pun dimulai.
amanda.nurshadrina@cikal.co.id
Hal ini berarti sama saja dengan minggu sumatif. Saat
itu, jujur saja, saya masih beradaptasi dan membaca pola
‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 77

“Saya harus melakukan diferensiasi


instruksi, metode asesmen, bahkan
konten, agar target pembelajaran
tetap tercapai.”
Amanda Nurshadrina

pembelajaran jarak jauh. Di satu sisi, murid pun menyetujui bahwa akan ada jadwal yang
berkebutuhan khusus yang saya pegang, masih dipersonalisasi sesuai kebutuhan mereka. Saya
bagian dari kelas sehingga mereka perlu ikut pun memberikan keterbukaan untuk mereka
dalam aktivitas kelas. Di sisi lain, saya harus memilih apa yang ingin mereka selesaikan
memastikan apa yang mereka kerjakan sudah lebih dulu.
sesuai instruksi. Pada minggu itu, semua
pelajaran melaksanakan sumatif. Perubahan rencana tersebut membuat saya
harus mengkomunikasikan dengan orang tua.
Semua pelajaran mengharuskan adanya produk Harapan saya, agar pembelajaran selaras dan
yang dihasilkan. Masalah yang dialami murid dapat didukung oleh orang tua di rumah,
saya rata-rata adalah keterampilan belajar mengingat saya tidak bisa menemani setiap
yang belum matang dan manajemen waktu menit, seperti ketika di sekolah. Saya pun
yang kurang baik. Bisa bayangkan dengan menyampaikan strategi-strategi yang akan saya
lingkungan baru yang masih dipelajari murid, lakukan untuk murid dalam menghadapi
serta tugas yang kian menumpuk jika tidak pembelajaran jarak jauh. Tidak disangka-
mulai dikerjakan, apa yang terjadi selanjutnya? sangka, ternyata respon yang saya dapat
Pada hari pertama, hasilnya nihil. Tidak ada cukup berbeda dari ekspektasi saya. Merujuk
progress signifikan yang dihasilkan murid pada Panduan pembelajaran Jarak Jauh,
tersebut. saya tidak terlebih dahulu mengumpulkan
informasi tentang kesiapan orangtua dalam
Melihat kondisi hari pertama, saya pun mendampingi murid, mengingat pola kerja
langsung memutar otak untuk hari kedua. orang tua. Orang tua menjadi tidak menerima
Saya berusaha membuat perencanaan belajar pembelajaran jarak jauh dilakukan.
dengan memahami karakteristik anak dengan
keterampilan belajar yang belum matang. Menurut orang tua, bahwa saya sebagai guru
Saya memprediksi kemungkinan murid-murid seharusnya mengetahui karakteristik anaknya
kehilangan arah untuk menentukan langkah yang memang belum siap. Jika ditanya hati
apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya kecil saya, yap saya tahu karakter anak tersebut.
pun mengkomunikasikan rencana dengan guru Memang pembelajaran jarak jauh tidak begitu
kelas. Pembicaraan tersebut membuahkan hasil cocok untuknya. Namun keadaan wabah
bahwa murid harus memiliki jadwal pelajaran lebih tidak bisa dikontrol sehingga keputusan
sendiri agar target terevaluasi dan terkontrol sekolah memang tidak bisa diganggu
secara berkala. Hasil ini pun didiskusikan gugat. Menghadapi orang tua yang sedang
dengan murid sembari merefleksikan hambatan emosional, tentu tidak bisa dibalas dengan
yang dialaminya. Memang masalahnya adalah emosi juga. Selain murid, ternyata saya pun
ia merasa kewalahan sehingga tidak dapat harus memahami orang tuanya. Memikirkan
memutuskan apa yang harus dilakukan lebih tidak hanya untuk kebaikan murid tetapi juga
dulu. Mendengar hal tersebut, dalam hati saya orang tua, sebagai penyokong. Di situlah saya
sudah berdetak, “Tuh kan, kejadian, anak- benar-benar menghadapi tantangan dalam
anak pasti overwhelmed”. Akhirnya, murid memanusiakan hubungan.
78 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

oase di tengah gurun bagi saya.


Strategi untuk murid harus dilaksanakan,
tetapi saya juga harus membuat strategi Saya melanjutkan perencanaan aktivitas terhadap
untuk memahami orang tua agar ekspektasi murid. Saya memperhatikan murid juga sudah
dan realitanya bertemu. Untuk murid, selain mulai beradaptasi dengan sistem pembelajaran
membuat personalisasi jadwal aktivitas, saya jarak jauh. Ia pun langsung mengirimkan pesan
pun membuat kesepakatan bersama untuk atau menelpon ketika kesulitan. Untuk orang tua,
pembelajaran jarak jauh. Kesepakatan inilah saya memberikan kabar terbaru tentang anak
yang akan menjadi patokan untuk performa setiap pagi dan sore.
murid. Kesepakatan ini pula yang akhirnya
saya sampaikan kepada orang tua. Melihat Setiap pagi, saya mengabari apa saja aktivitas
karakteristik murid pula, saya pun membuat yang akan dilakukannya, bentuk pendampingan
diferensiasi instruksi dan konten. Pada waktu- yang akan diberikan, hingga spesifik ke waktu
waktu tertentu, saya pun membuat semacam pelaksanaan. Setiap sore, saya memberikan
private tutoring, di mana murid tersebut laporan performa murid hari itu berdasarkan
mengerjakan aktivitasnya secara daring dengan target yang sudah disampaikan pada pagi
google classroom sambil conference via google hari. Ternyata, kabar-kabar tersebut cukup
hangouts atau zoom, yang bisa saya lihat juga menurunkan ketegangan dan kepanikan orang
progress setiap detiknya secara daring. Hal ini tua. Pada Panduan pembelajaran Jarak Jauh, hal
saya lakukan agar murid mendapatkan bantuan ini termasuk dalam kategori menantang tetapi
langsung ketika ia kesulitan, serta menghindari baik dilakukan agar terbentuknya kesepakatan
distraksi karena tidak fokus ketika mengerjakan. dengan orang tua terkait cara pengerjaan
tugas murid, jadwal, dan durasi konferensi guru
Hal ini pun dilakukan merujuk pada Panduan dengan anak.
pembelajaran Jarak Jauh, dimana saya harus
menyiapkan aktivitas yang sesuai dengan Dari sini, saya belajar bahwa hal-hal sederhana
murid. Saya pun meluangkan waktu untuk dia seperti memberikan kabar terbaru ternyata
memperbincangkan situasinya, serta memberi cukup menenangkan bagi orang tua. Bagi murid
dukungan bahwa saya selalu siap sedia untuknya. pun, ia hanya perlu memastikan bahwa ada
Strategi tersebut saya sampaikan kepada orang orang sudah siap sedia memberikan bantuan
tua, namun orang tua belum menerima secara ketika ia kesulitan. Nantinya pun murid dengan
penuh. Hal ini berarti saya ditantang untuk lebih cepat dapat beradaptasi dengan lingkungan
memanusiakan hubungan. baru. Seperti saat ini, setelah dua minggu
berjalannya pembelajaran jarak jauh, pola
Saya mencoba memposisikan diri sebagai mengajar pun sudah didapatkan ritmenya
orang tua. Dengan situasi pekerjaan dan bagi murid, guru, maupun orang tua. Mulai
keluarga tertentu, apa sih yang saya inginkan dari pagi, saya menanyakan target murid hari
dari anak saya dan sekolah? Tentu saja, saya itu serta kabar terbaru. Kemudian mengontrol
ingin anak saya berprogres dan tidak mau anak pengerjaan secara daring, mengirim pesan atau
saya menjadi drop hanya karena pembelajaran video call melalui hangout sebagai bagian dari
jarak jauh. Saya mendapatkan insight bahwa checkpoint tugas serta di luar jadwal yang telah
saya harus memberikan setiap progress yang direncanakan, menjawab pertanyaan murid,
dilakukan anak tersebut. Dengan sisa hari yang hingga akhirnya di sore hari, memberikan kabar
ada, saya berusaha menjalankan strategi yang progress murid. murid pun terasa semakin
saya diskusikan dengan murid, serta mencoba handal dalam mengontrol fokus.
strategi baru kepada orang tua. Tentu saja
eksekusinya itu tidak mudah. Sempat ada hari di pembelajaran jarak jauh yang tadinya sulit
mana murid sakit. Prediksi saya, murid tersebut bahkan dirasa tidak mungkin, ternyata bisa saja.
mengalami psikosomatis karena overwhelmed. Lucunya pernah tidak mendengar, “work from
home tidak mungkin bisa bagi guru”, nyatanya
Pola ini pernah terjadi pada aktivitas yang sekarang semua guru dari prasekolah hingga
semacam pula. Situasi semakin tidak terkontrol, universitas melakukan hal ini. Seiring berjalannya
saya hanya bisa pasrah dengan situasi tersebut. waktu, guru, murid, bahkan orang tua akan saling
Namun hal yang menguatkan saya untuk mempelajari pola pembelajarannya yang
lanjut adalah murid tersebut yang tiba-tiba paling nyaman baginya. Kesimpulannya, hal
mengirimkan pesan via google hangout, yang yang paling penting adalah kita selalu ada.
berisi, “Miss, aku udah enakan. Aku boleh Dengan menjadi ada tersebut, kita juga turut
lanjutin mengerjakan tugas?”. Pesan ini seperti memanusiakan hubungan.
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 79
80 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Praktik Baik Pembelajaran

Tentang Aku, Sekolah


Lawan Corona dan
Distance Learning

Aristoteles percaya bahwa “Kebajikan terbesar adalah


mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Cuplikan
kalimat tersebut saya dapatkan dari laman di internet sambil
menyeruput kopi panas di tengah derasnya hujan Kota
Semarang pagi itu. Di masa seperti ini, langit dunia tengah
dihiasi dengan berita merebaknya covid-19 atau juga dikenal
dengan virus corona. Semua yang dibahas adalah tentang
corona. Virus membuat semuanya berubah. Membuat
aktivitas manusia banyak yang harus dilakukan dari rumah.
Belajar, bekerja, dan beribadah #DiRumahAja.

“Teman-teman project hari ini adalah membuat macam-


macam simetri lipat bangun datar.”
“Boleh bangun datar apa saja, Kak?”
“Boleh, batas waktu pengumpulan besok pukul 16.00 ya”

Itu adalah percakapan saya dan murid-murid Altostratus di


hari Minggu pukul 19.00. Ya, pembelajaran jarak jauh mulai
digaungkan sore itu. Seketika fasilitator, orangtua maupun
murid pun harus mulai beradaptasi. Minggu pun berlalu dan
Senin sore telah tiba, murid-murid mulai mengumpulkan hasil
pekerjaannya ke WA pribadi saya. Pukul 16.30 saya mulai
berdiskusi kembali dengan murid-murid dan kali ini adalah
mengenai keberagaman sifat dalam keluarga.

“Kak, terus tugas yang kemarin nggak diapa-apain?”


“Kemarin simetri lipat sekarang materi ini ya, Kak?”

Seketika saya tertampar dan jantung berdetak cukup kencang


meskipun kalimat tersebut tertulis, bukannya terucap. Sempat
penulis

teringat pula curhatan dari saudara sepupu yang mempunyai


anak kelas 2 SD, “Buat apa ngerjain tugas online, padahal
tidak pernah dikoreksi atau diberi masukan sama gurunya”.
Tarik napas panjang dan pikirkan. Saya mulai refleksi diri.

Benar bahwa dulu saya juga sangat tidak suka apabila saya
Elvrida Rosalia Indraswari mendapatkan sebuah tugas namun tidak diberikan feedback
KGB Semarang oleh guru saya. Apalagi pembelajaran yang saya jalani tidak
School of Life Lebah Putih berkelanjutan, saya bingung jadinya. Jadi, tantangannya
adyrosa70@gmail.com
ada dua Ros, konsisten memberikan feedback di setiap
‘‘
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 81

“Buat apa ngerjain tugas online,


padahal tidak pernah dikoreksi atau
diberi masukan sama gurunya”.
pengerjaan murid dan bagaimana memberikan Pada sore ini saya menyapa murid melalui
feedback yang menarik. sebuah voice note dengan nada ceria dan
murid-murid saya minta untuk berfoto sedang
Saya tak ingin hal ini terulang kembali. Jadi, apakah mereka.
mulailah saya berselancar dan belajar kembali.
Sempat saya membuka kembali foto-foto Ah sudah rindu saja dan siap menahan rindu
hasil refleksi Temu Pendidik Telegram yang tentunya. Apa pendapat mereka?
tersimpan di gallery. Oh ya, saya ingat bahwa “Waaah, suaranya kak Rosa kayak penyiar radio
kemarin saya download RPP dari SekolahMu. ya!”
Pada awal RPP bertanggal 16 Maret itu terbit “Hehe, kak Rosa kan memang dulu penyiar
saya yang juga berusaha menyebarkannya ke radio mbak.”
grup-grup guru tentu juga memanfaatkannya “Aku siap belajar kak, pertama kali lho kita
sebagai referensi pribadi. Saya akan coba dan belajar lewat HP nya bunda ya.”
beraksi pada hari Selasanya. Saya mencoba “Ayooo kak Rosa dimulai belajarnya.”
membacanya kata demi kata dan memahami
alurnya dari menyapa hingga refleksi.Ya, yang Semangat mereka seperti mengandung
sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini unsur magis yang membangkitkan semangat
adalah berperang melawan covid-19. Alasan mengajarku pula. Meskipun berjarak,
yang sama mengapa akhirnya pembelajaran meskipun kata “jarak” kini nyata, tapi belajar
jarak jauh digaungkan adalah covid-19 pula. tanpa batas kan? Saya melakukan presensi
Jadi, mengapa tidak saya membahas dari untuk mengecek apakah ada yang tidak atau
covid-19, dan bertahap serta berkelanjutan. belum hadir dan mengapa kah? Awalnya ada
Akan ada sebuah hikmah besar dari untaian- beberapa murid yang belum hadir. Namun,
untaian ini. akhrinya hadir dan manyatakan bahwa daerah
rumahnya sedang diguyur hujan dan timbul
Hari Selasa pun tiba. Memahami kondisi dan lenyaplah sinyalnya, tantangan. Wah, hari
situasi murid adalah hal yang tidak boleh kedua pembelajaran jarak jauh ya. Oke sembari
dinomor duakan dalam pembelajaran jarak ayah bunda membersamai murid-murid, saya
jauh. Banyak di antara murid saya memilki menyampaikan kembali bahwa murid-murid
orangtua yang bekerja di ranah publik. Kami, perlu didampingi dalam menggunakan telepon
yaitu saya dan orangtua menyepakati pukul genggam dan mungkin murid-murid juga
16.30 sebagai jam belajar kami selepas beliau- belum cukup terampil dalam mengoperasikan
beliau pulang dari kantor. Kita sepakat, kerja telepon genggam.
barengan!
Yeaaay 16.30. Action! “Teman-teman, apa yang baru-baru ini terjadi
di Negara kita? Ada yang tahu mengapa kita
Berbekal RPP #SekolahLawanCorona saya melakukan pembelajaran jarak jauh?”
mulai berdiskusi lewat grup WhatsApp “Corona kak”
kelas 3 dengan tujuan pembelajaran murid “Covid-19 kak, jadi kita harus belajar dari
menjelaskan pengetahuannya tentang rumah.”
Covid-19 dan pencegahannya dan murid
menunjukkan kemampuannya untuk Dan akhirnya 22 orang murid menjawab lewat
bertanggung jawab terhadap lingkungan voice note. Wah, suasana grup whatsapp
sekitarnya dengan garis besar materi “Apa berubah heboh dengan keantusiasan murid-
itu Covid-19”? Langkah pertama saya adalah murid dalam menjawab dan mengeksplor
melakukan presensi online dan menyapa kelas. pengetahuannya. Kemudian saya ambilkan
82 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Tampilan asesmen yang murid kerjakan Tampilan asesmen yang murid kerjakan

sebuah gambar virus corona yang pernah mereka. Saya mengajak murid-murid saling
digambar salah seorang murid saya dan mengapresiasi ide-ide yang tercetus sambil
sebuah komik yang saya download dari grup sedikit membahas tahap per tahap pembuatan
SLC. Keduanya itu saya tunjukkan ke murid- project. Akhirnya “Apa itu Corona” saya jadikan
murid, kemudian saya mengajak murid-murid project kelas hari ini dan murid-murid boleh
berdiskusi. memakai media apapun dalam mengekspresikan
gagasan mereka, diferensiasi intinya.Pada akhir
“Apa penjelasan gambar dan komik tersebut sesi kami merefleksi bersama pembelajaran
bisa kamu pahami? Sulit nggak?” kami hari ini, “Kakak tunggu ya projectnya, dan
“Jadi, apakah teman-teman takut dengan virus tunggu juga feedback dari kakak”. Obrolan
Corona? Mengapa?” masih terus berlanjut di grup whatsapp, dan
kali ini dengan para orangtua. Entah apa yang
Kembali, murid-murid bersahut-sahutan dalam merasuki saya begitu salut dengan semangat
menjawab dan memaparkan jawaban mereka. para orangtua dalam mendampingi ananda
Semakin sore dan keseruan di grup semakin belajar.
tergambar. Cuci tangan kak! Pekik salah satu
murid ketika membahas salah satu upaya “Bikin guest teacher online yuk bund?” tanya
pencegahan virus corona, ya. Benar bahwa kita saya.
harus mencuci tangan dengan benar. Bagaimana
caranya? Lantas saya berikan sebuah link ke “Ayok kak, lewat zoom aja ya, nanti saya
grup dan murid-murid langsung klik https:// moderator deh. Gimana kalau bunda Vera sama
www.sekolah.mu/lagucucitangan. Dalam video bunda Desi jadi narasumber?”, jawab salah satu
tersebut Dr. Nahla Shihab berbagi cara mencuci orangtua.
tangan yang benar. Bertanyalah kembali saya “Wah cocok tuh mbak dokter. Jadi kapan nih
usai murid-murid menyaksikan video tersebut. rencananya kak?”
Siapa yang dapat menjelaskan bagian mana saja Deal!
yang harus dibersihkan saat mencuci tangan. Kami sepakati bahwa hari Jumat menjadi
Sangat seru! hari guest teacher bagi Altostratus dengan
menggandeng Bunda Vera dan bunda Desi yang
“Kak, jadi lebih tahu banyak tentang Corona. berprofesi dokter sebagai narasumber yang
Boleh bikin poster pencegahan Corona?” akan berbagi informasi lebih lanjut mengenai
“Ih aku mau juga bikin komik.” Corona. Asyik! Kerja barengan ini semakin
“Aku juga pengen belajar bikin hand sanitizer keren saja. Pagi harinya sudah ada beberapa
sama bunda dan tak share, Kak.” notifikasi link yang teman-teman kirimkan
melalui grup. Tak disangka benar kompak kelas
Seketika mata berbinar melihat ide-ide ini, orangtua dan ananda saling mengapresiasi
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 83

karya teman, saling memberikan like bahwa Lebah Putih terletak di Salatiga. Para orangtua
saling subscribe. Satu demi satu terkumpul memutuskan untuk menyalurkan bantuan ke
project karya murid Altostratus dan saya beberapa RS seperti RS Aryo Wirawan dan
lanjutkan untuk memberikan feedback Puri Asih kemudian. Sedangkan donasi lainnya
atau tanggapan kepada murid atas hasil disalurkan pada para pedagang-pedagang
kerja mereka yang sangat keren. Ada yang kecil dan pekerja serabutan yang terkena
membuat presentasi powerpoint kemudian dampak dari covid-19 ini.
ayah bundanya merekamkan saat dia “Terimakasih Kak Rosa, atas kesempatannya
mempresentasikan, membuat komik tentang buat ngisi guest teacher Altostratus,” kata
corona dan pencegahannya, membuat video perwakilan orangtua.
pembuatan hand sanitizer dan masih banyak Alhamdulillah pada minggu kedua
karya menakjubkan dari mereka semua. Selain pembelajaran jarak jauh ini terkumpul donasi
feedback, kebiasaan saya selanjutnya adalah yang cukup banyak dan dapat disalurkan
memberikan apresiasi berupa piagam canva kepada yang membutuhkan. “Kebajikan
bertuliskan “outstanding performance atau terbesar adalah mereka yang paling
excellent” dan alasan mereka memperolehnya. bermanfaat bagi orang lain”, semuanya terasa
Betapa senangnya mereka menerima itu, membahagiakan.
tergambar dari balasan voice note yang pembelajaran jarak jauh yang membangun
mereka kirimkan. keberlanjutan. pembelajaran ini membuat
“Terimakasih Kak Rosa feedbacknya. Aku akan saya belajar tentang memandu murid
belajar lebih giat lagi.” mengalami rute pengalaman belajar yang
Saya merasakan angin sejuk yang melintas terarah dan berkelanjutan melalui feedback.
di hati karena balasan voice note dari murid- Menumbuhkan rasa bahagia dan melahirkan
murid. Pada Kamisnya saya melanjutkan kebermanfaatan.
diskusi dengan murid-murid tentang gagasan Ini cerita saya, seorang Tim Sekolah Lawan
pokok. Saya ambilkan teksnya dari karya Corona, seorang fasilitator School of Life
murid yang membuat tulisan pada powerpoint Lebah Putih, dan seorang yang selalu belajar
tentang covid-19. Pembahasan sore ini tidak dan berefleksi.
kalah seru dan sebagai hadiahnya kami Salam Merdeka Belajar!
melaksanakan videocall WA secara bergantian
tujuh kloter. Siapa sangka bahwa saya melepas
rindu sembari memberi feedback langsung
lewat video call. Mereka tersenyum lebar,
Alhamdulillah.
Hari Jumat pun tiba.
Tahu kan sekarang jadwalnya apa? Ya,
guest teacher orangtua. Orangtua yang
menyediakan room, memoderatori, menjadi
narasumber dan memfasilitasi murid-
murid belajar tentang covid-19, hingga
pencegahan dengan bahagia. Sempat
dibahas juga mengenai dampak covid-19
terhadap perekonomian masyarakat sekitar
yang kurang mampu, dan menggantungkan
rezekinya dari berjualan hingga serabutan.
Saat ini mereka harus rela tidak berjualan
dan kesulitan menafkahi keluarga. Akhirnya,
orangtua mencetuskan program “Masker
Cinta” dan donasi, menggerakkan para
orangtua Lebah Putih lainnya untuk
berdonasi membantu relawan kesehatan
yang membutuhkan sejumlah uluran tangan
demi merawat sejumlah pasien covid-19
yang terus bertambah di sejumlah RS di
Salatiga, ya. Sekolah saya, School of Life
84 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona 85
resensi buku

Judul Buku
Literasi Menggerakkan Negeri

Penulis

Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar

Jumlah halaman
308 Halaman

Penerbit
Literati

“Gimana, Pak… kegiatan literasi di kelas berjalan diajak menelusuri perjalanan literasi yang berawal
lancar?” dan berakhir pada murid. Anda diajak mengenal
praktik pembelajaran literasi yang mendukung
“Saya sudah menjalankan program membaca kemampuan belajar pada lintas pelajaran. Anda
setiap pagi, Bu. Tapi kok kurang efektif ya, Bu…” diajak memahami praktik literasi yang mendaya-
gunakan potensi yang ada di sekitar sekolah. Dan
“Lho, bukannya dari laporan anak-anak sudah pada akhirnya, Anda diajak menyaksikan praktik
bisa baca ya? Berarti berhasil kan?” pembelajaran literasi yang membantu murid un-
tuk berdaya dan produktif sebagai warga negara.
“Iya, Bu. Anak-anak sudah bisa baca. Tapi waktu
saya tanya tentang bacaan mereka enggak bisa Penulis buku ini adalah guru yang bergabung di
jawab Bu” Komunitas Guru Belajar. Penulis yang memang
mendalami dan melakukan praktik pembelajaran
Dalam 10 tahun terakhir, literasi hadir dari sepo- literasi tentu menjanjikan tulisan yang renyah,
tong istilah menjadi sebuah gerakan yang menye- mudah dipahami namun tetap esensial. Praktik
bar ke berbagai penjuru. Sayangnya, di tengah pembelajaran literasi yang dipaparkan dapat
keriuhan literasi masih jarang upaya refleksi terha- dipelajari, diadaptasi dan dimodifikasi sesuai
dap kerja keras mengembangkan literasi, apalagi kebutuhan murid dan potensi di sekitar sekolah.
upaya mempromosikan praktik baik pembelaja- Karena kami percaya bahwa menyebarkan praktik
ran literasi. Apakah upaya pengembangan literasi baik literasi adalah cara menggerakkan negeri.
sudah efektif dan terlihat dampaknya pada
murid? Mana praktik pembelajaran literasi yang
baik, bisa direplikasi dan disebarkan? Buku bisa didapatkan di :

Di tengah situasi tersebut, buku Literasi Meng-


gerakkan Negeri hadir sebagai niatan memper- Bit.ly/KontakGuruPromotor
kaya khazanah pembelajaran literasi. Anda diajak
pengalaman memahami literasi mulai dari mis-
konsepsi hingga menemukan esensi. Anda diajak
memahami kompleksitas konsep literasi. Anda
86produk
Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona

Guru Belajar Esensial


BUKU

DIFERENSIASI MERDEKA BELAJAR MEMANUSIAKAN LITERASI


Memahami Pelajar untuk Belajar DI RUANG KELAS HUBUNGAN MENGGERAKKAN
Bermakna & Menyenangkan NEGERI

KAUS

Dapatkan produk Guru Belajar di

Bit.ly/KontakGuruPromotor
S
aya paham bahwa budaya berliterasi di Indonesia memang
dirasa kurang jika dibandingkan dengan negara-negara
tetangga.
Surat Masalah
Kabar Guru Belajar literasi tersebut
- Edisi Spesial memang
Sekolah 87
sudah sangat
Lawan Corona
mahfum bagi pemerintah, termasuk Kementerian Pendidikan Dan
Kebudayaan. Program 15 menit membaca buku menjadi salah satu
fokus pemerintah untuk meningkatkan budaya membaca di sekolah.

tumbler Akan tetapi, saya merasa jikatotebag


kegiatan literasi tersebut hanya
membaca sangatlah kurang. Seperti yang saya ketahui kegiatan
berliterasi tidak hanya aspek membaca saja, melainkan ada aspek
yang lain, seperti: baca-tulis, sains, ldigital, numerasi, finansial, serta
budaya dan kewargaan.

Saya berusaha mencari cara untuk melaksanakan satu kegiatan yang


bisa mencakup beberapa aspek literasi tersebut. Setelah berpikir
cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan kegiatan
literasi dengan judul “Sahabat Pena Acil – Aku Cinta Literasi”.

Kegiatan SPA (Sahabat Pena AciL) tersebut merupakan kegiatan


berkirim surat ke anak-anak yang ada di beberapa daerah di
Indonesia. Dalam berkirim surat tersebut anak-anak saya minta
untuk menceritakan segala hal yang berkaitan dengan budaya di
daerahnya dan mendeskripsikan lingkungan tempat tinggalnya
beserta dengan kehidupan sosial yang ada.

KAUS Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, saya harus mempersiapkan


beberapa hal termasuk dalam menentukan nama penerima surat
beserta menghubungi pihak kantor pos. Kantor pos? Iya, karena
kegiatan SPA ini saya rancang agar anak-anak mengenal kantor pos
sekaligus dunia filateli. Beberapa tahapan kegiatan yang harus saya
lalui adalah sebagai berikut.

Tahap persiapan. Tahap ini bagi saya adalah tahap yang paling
menantang. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena saya harus
mencari calon penerima surat serta harus menghubungi pihak kantor
pos. Dan bagi saya untuk menemukan penerima surat tidaklah
mudah, karena target saya adalah di luar daerah atau pulau.

Setelah berselancar di grup WA, saya mendapatkan beberapa


kenalan yang sedang mengikuti program Indonesia Mengajar di
Kabupaten Natuna Kepulauan Riau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Kalimantan Selatan, serta ada dua teman yang sedang kuliah di
Dapatkan
luar negeri yang bersedia untuk berkirim surat,produk
yaitu diGuru Belajar
Inggris dan di
Australia. Teman-teman saya (dari Natuna dan Hulu Sungai Selatan)
tersebut saya minta untuk menunjuk murid didik mereka agar mau
menerima surat dari kami. Bit.ly/KontakGuruPromotor
Tahap persiapan ini tentunya juga dibarengi dengan memberikan
materi untuk anak-anak. Saya harus memberikan materi terlebih
dahulu tentang surat, bagian-bagian surat, cara menulis surat yang
baik dan benar, serta tentunya saya harus memberikan penekanan
pada mereka bahwa suratnya harus menceritakan tentang daerah
tempat tinggalnya. Tentu tujuannya agar bisa bertukar pengetahuan
terkait kehidupan sosial dan budaya.

Setelah materi saya berikan, giliran saya harus menghubungi pihak


kantor pos, dan saat itu saya memilih Kantor Pos Besar Yogyakarta
yang ada di sekitar Malioboro. Selain itu, saya juga harus membuat
88 Surat Kabar Guru Belajar - Edisi Spesial Sekolah Lawan Corona