Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH GEC CIVIL EXPO ITS 2020

PERBAIKAN TANAH LUNAK DENGAN MENGGUNAKAN METODE


PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) POLA PEMASANGAN
SEGITIGA

Disusun oleh :

Sri Intan 17.01.073.052

Teguh Dwi Jauhari 18.01.016.030

Acha Ferendi 17.01.073.002

UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA


SUMBAWA BESAR
2020
LEMBAR PENGESAHAN MAKALAH

1. Nama Tim : CIVIL UTS


2. Institusi : Universitas Teknologi Sumbawa
3. Alamat Institusi : Jalan Olat Maras, Batu Alang, Kecamatan
Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Nusa
Tenggara Barat.
4. Ketua Tim
a. Nama lengkap : Sri Intan
b. NIM : 17.01.073.052
c. No. Telp/HP : 085237131165
d. Alamat e-mail : sriintankilo@gmail.com
5. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dedy Dharmawansyah, ST. MT.
b. NIDN : 0827098601
c. No. Telp/HP : 085234391005

Sumbawa, 29 September 2020

Mengetahui,
Dosen Pembimbing Ketua Tim

Dedy Dharmawansyah, ST. MT. Sri Intan


NIDN. 0827098601 NIM. 17.01073052

Menyetujui,
Ketua Jurusan Teknik Sipil

Hermansyah, ST. M.Sc.


NIDN.0811109001
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mobilitas yang tinggi telah menjadi gaya hidup dari manusia zaman
sekarang. Hal ini disebabkan.oleh aktivitas manusia yang dituntut untuk
berpindah tempat dengan cepat, baik untuk kepentingan pariwisata maupun
untuk pekerjaan. Saat ini moda transportasi yang bisa memenuhi kebutuhan
tersebut adalah sarana transportasi udara yaitu dengan mengganakan pesawat
terbang. Dengan hal.tersebut maka dibutuhkan bandara untuk pesawat
terbang mendarat (landing) maupun untuk mengudara (climbing).
Saat.ini.bandara.bukanlah sekedar fasilitas bagi transportasi udara, bandara
juga bisa menjadi ikon membanggakan dari daerah tersebut, hal ini bisa
dilihat dari desain dan fasilitas yang ditawarkan juga cara bandara tersebut
beroperasi melayani penumpang.
Bandar udara, disingkat dengan bandara adalah tempat atau fasilitas
untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, barang, pos yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan berfungsi sebagai
perpindahan antar moda transportasi.Saat ini Indonesia tercatat memiliki lebih
dari 200 bandara yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Meliputi bandara
internasional, maupun bandara domestik.
Dalam bidang Teknik Sipil, tanah memiliki peranan yang sangat
penting sebagai pendukung kekuatan suatu struktur, salah satunya sebagai
pendukung struktur Bandar Udara. Namun, tidak semua tanah memiliki sifat
yang selalu sama. Setiap tanah mempunyai sifat – sifat teknis yang beragam
yang disebabkan oleh pengaruh dari keadaan geografis suatu tempat. Ada
jenis tanah yang memiliki kekuatan daya dukung baik dan adapula tanah yang
memiliki daya dukung yang buruk.
Pada konstruksi Bandar Udara, perencanaan tanah sebagai Sub-Grade
Bandar Udara sangat penting. Bandar Udara memiliki peranan yang sangat
penting sebagai kawasan untuk mendarat dan lepas landas pesawat terbang,
bongkar muat barang, naik turun penumpang, dan sebagai tempat
perpindahan moda transportasi. Agar dapat berfungsi sesuai dengan yang
diharapkan, maka perlu untuk memperhatikan faktor – faktor yang
mempengaruhi fungsi pelayanan konstruksi tersebut, antara lain sifat dari
tanah dasar dimana nantinya akan dilakukan perkerasan. Di beberapa wilayah
penduduk menggunakan tanah sebagai Sub-Grade. Salah satunya tanah di
Kabupaten Paser Tanah Grogot Kalimantan Timur (Gambar 1). Tanah di
Kabupaten Paser ini di dominasi oleh lapisan lempung lunak yang cukup
dalam sehingga perlu dilakukan penanganan dalam bentuk perbaikan tanah
maupun perkuatan – perkuatan lainnya agar mampu menahan beban rencana
nantinya.
Permasalahan yang telah diuraikan tersebut yang melatar belakangi
dibuatnya makalah ilmiah ini untuk mengetahui metode perbaikan tanah yang
sesuai dengan tanah dikawasan Tanah Grogot ini.

Gambar 1.1. Lokasi Perencanaan Bandar Udara tanah Grogot.


1.2 Rumusan Masalah
Dalam perencanaan ini didapatkan permasalahanpermasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana merencanakan perbaikan tanah untuk kontruksi bandara
yang akan dibangun?
2. Bagaimana merencanakan perbaikan tanah menggunakan metode
PVD?
3. Bagaimana merencanakan timbunan dengan mempertimbangkan
penurunan tanah?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari dibuatnya tugas akhir ini adalah
sebagai berikut:
1. Merencanakan perbaikan tanah untuk kontruksi bandara yang akan
dibangun?
2. Merencanakan perbaikan tanah menggunakan metode PVD?
3. Merencanakan timbunan dengan mempertimbangkan penurunan
tanah?

1.4 Batasan Masalah


Adapun lingkup pekerjaan yang dilakukan dalam perencanaan tugas
akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Karya ilmiah ini membahas mengenai perencanaan perbaikan tanah
untuk pembangunan Bandar Udara. Oleh karena itu penelitian ini
bertujuan untuk merancang perbaikan tanah paling efektif dan efisien.
2. Perancangan ini dilakukan di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi
Kalimantan Timur.
3. Perencanaan perbaikan tanah ini dibatasi pada Runaway.
4. Metode perhitungan untuk perencanaan perbaikan tanah ini dibatasi
pada metode PVD.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kondisi Geografis, Topografi dan Geologi Kabupaten Paser


Kabupaten Paser dengan ibukota Tanah Grogot merupakan satu dari
sepuluh kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, yang secara geografis
terletak pada 0°45’18.37” -2°27’20.82” LS dan 115°36’14.5” -166°57’35.03”
BT dengan luas wilayah 11.603,94 km2. Secara Administratif, Kabupaten
Paser memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut (Gambar 2.1):
1. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Kutai
2. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser
Utara dan Selat Makasar
3. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru
Prov. Kalimantan Selatan
4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Tabalong
Prov. Kalimantan Selatan dan Hulu Sungai Utara
Prov. Kalimatan Selatan.
Keadaan Topografi wilayah Kabupaten paser memiliki ketinggian dan
kontur yang bervariasi, Secara garis besar Kabupaten Paser dibagi dalam dua
wilayah:
1. Wilayah Timur merupakan dataran rendah, landai hingga
bergelombang dengan ketinggian berkisar 0-1.000 m diatas
permukaan laut yang membentang dari utara sampai selatan yang
terdiri dari rawa-rawa dan daerah aliran sungai dengan luas 967.100
Ha (69,52% dari Luas daratan). Dengan jalan negara Penajam-Kuaro
dan Kerang Dayu sebagian batas topografi;
2. Wilayah Barat merupakan daerah bergelombang, berbukit dan
bergunung berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah dengan luas 424.100 Ha (30,48% dari luas
daratan). Di wilayah ini terdapat beberapa puncak pegunungan seperti
Gunung Serumpaka dengan ketinggian 1.380 m, Gunung Lumut 1.233
m, Gunung Narujan atau Gunung Rambutan dan Gunung Halat.
Sedangkan Kondisi Geologi Kabupaten Paser terbagi dalam beberapa
formasi dan satuan batuan dengan litologi sebagai berikut:
1. Kompleks Batuan Ultramafik merupakan batuan tertua dan batuan
alas dari formasi yang ada di daerah penelitian, terutama terdiri dari
serpentin dan harzburgit. Serpentin berwarna kelabu kehijauan
tersusun oleh kristosil dan antigorit. Komplek ini diduga berumur
Jura. Di jumpai di sebelah barat Kuaro, dengan arah sebaran utara-
selatan.
2. Formasi Pitap dan Haruyan terletak di atas Komplek Batuan
Ultramafik berumur Kapur Awal. Formasi Pitap terdiri dari
perselingan batu pasir, grewake, batulempung dan konglomerat.
Formasi Haruyan terdiri dari lava, breksi dan tuf. Batuan granit dan
diorit menerobos batuan di atas pada Kapur Akhir. Komoditas yang
dijumpai adalah lempung.
3. Secara tidak selaras menutupi Formasi Pitap adalah Formasi Tanjung
dan Kuaro yang berumur Eosen Awal. Formasi Tanjung terdiri dari
perselingan batu pasir, batulempung, konglomerat, batugamping dan
napal dengan sisipan tipis batubara, napal, batugamping dan serpih.
Komoditas yang dapat dijumpai adalah lempung dan batugamping.
4. Secara tak selaras menindih di atas Formasi Kuaro diendapkan
Formasi Telakai berumur Eosen Akhir berupa batulempung, batu pasir
lempungan dan serpih dengan sisipan batugamping dan napal.
5. Di atasnya diendapkan Formasi Tuyu berumur Oligosen Akhir, terdiri
dari perselingan batu pasir, grewake, serpih dan batulempung.
6. Di atasnya lagi diendapkan Formasi Berai terdiri dari batugamping,
napal dan serpih. Formasi Pamaluan terdiri dari batulempung dan
serpih dengan sisipan napal , batu pasir dan batugamping, sedangkan
Formasi Bebulu terdiri dari batugamping dengan sisipan batu lempung
lanauan dan sedikit napal. Komoditas yang dapat dijumpai disini
adalah batugamping, lempung.
7. Formasi Warukin menindih secara selaras Formasi Berai berumur
Miosen Tengah-Akhir, terdiri dari perselingan batu pasir batu pasir
dengan batulempung dengan sisipan batubara. Komoditas yang dapat
dijumpai adalah lempung.
8. Formasi Pulau balang menutupi selaras Formasi Pamaluan berumur
Miosen Tengah, terdiri dari perselingan batu pasir kuarsa, batu pasir
dan batulempung dengan sisipan batubara. Komoditas yang dijumpai
adalah lempung, pasir kuarsa.
9. Formasi Balikpapan menindih secara selaras di atas Formasi
Pulaubalang berumur Miosen tengah bagian atas, terdiri dari
perselingan batu pasir kuarsa, batulempung lanauan dan serpih dengan
sisipan napal. Komoditas yang dijumpai adalah batugamping,
batubara, pasir kuarsa, lempung.
10. Endapan termuda adalah alluvial yang berupa endapan sungai, rawa
dan pantai terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan Lumpur. Komoditas
yang dapat dijumpai adalah sirtu , lempung.

Gambar 2.1. Peta Geografis Kalimantan Timur


2.2. Klasifikasi Tanah
Tanah merupakan himpunan mineral, bahan organik dan endapan-
endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak diatas batuan dasar (bedrock)
(Christady, 2017)
Dari sudut pandang teknis, tanah – tanah itu dapat digolongkan
kedalam macam pokok berikut ini :
a. Kerikil (Gravel)
b. Pasir (Sand)
c. Lanau (Silt)
d. Lempung (Clay)
Istilah kerikil, pasir, lanau dan lempung digunakan untuk
menggambarkan ukuran partikel pada batas ukuran butiran yang ditentukan,
namun istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan sifat tanah
yang khusus. Contoh: Lempung adalah jenis tanah yang bersifat kohesif dan
plastis sedangkan pasir digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif dan
non plastis. Adapun ukuran butiran dari setiap jenis tanah berdasarkan
klasifikasi dari berbagai organisasi dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Klasifikasi Ukuran Butiran


Ukuran Butiran (mm)
Nama Organisasi
Kerikil Pasir Lanau Pasir
Massachusetts
Institute of >2 2 – 0.06 0.06 – 0.002 <0.002
Technology (MIT)
U.S. Department of
>2 2 – 0.05 0.05 – 0.002 <0.002
Agriculture (USDA)
American Association
of State Highway and
76.2 - 2 2 – 0.075 0.075 – 0.002 <0.002
Transportation
Officials (AASHTO)
Unifief Soil
Classification System
(U.S. Army Corps of Butiran halus
Engineer, U.S. Bureau 76.2 – 4.75 4.75 – 0.075 (contoh Lanau dan
of Reclamation, and Lempung) < 0.075
American Society for
Testing and Materials)
2.3. Tanah Lunak
Tanah lunak merupakan tanah kohesif yang terdiri dari butir-butir
yang sangat kecil seperti lempung dan lanau. Tanah lunak selalu mempunyai
dua sifat yang kurang menguntungkan dalam konstruksi teknik sipil yakni
kuat geser yang sangat rendah dan sifat mampat yang sangat tinggi. Karena
kedua sifat ini, konstruksi yang akan didirikan diatas tanah ini harus
menghadapi terbatasnya kecepatan konstruksi dan perlu adanya masa
prabeban yang sering tidak mudah diadakan.
Nilai Uji Penetrasi Standar (SPT) menunjukkan bahwa tanah lunak
memiliki nilai NSPT < 2 sampai 5 dengan nilai qu dari hasil pengujian
Unconfined Compression Strength berkisar antara <25 kN/m2 s.d. 50 kN/m2
dengan konsistensi very soft sampai soft. Hubungan antara NSPT dan qu dapat
dilihat pada Tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Hubungan antara NSPT dan qu

Sumber: Das, 2018


2.4. Korelasi Data Tanah
Berat jenis tanah dapat dilakukan pendekatan menggunakan hasil
korelasi seperti pada Tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3. Berat Jenis Tanah
Jenis Tanah Berat Jenis
Kerikil 2,65 – 2,68
Pasir 2,65 – 2,68
Lanau anorganik 2,62 – 2,68
Lanau organik 2,58 – 2,65
Lempung
2,68 – 2,75
anorganik
Humus 1,37
Gambut 1,25 – 1,80
(Sumber: Hardiyatmo, 2018)

Indeks Plastisitas yang merupakan selisih dari batas cair dan batas
plastis, dapat dilakukan pendekatan menggunakan nilai seperti yang tertera
pada Tabel 2.4 dan untuk menentukan jenis tanah dari parameter LL dan PI
dapat dicari menggunakan kurva pada Gambar

Tabel 2.4. Nilai Indeks Plastisitas dan Jenis Tanah


Plasticity Index (PI) Klasifikasi
0 Non - Plastis
1-5 Sedikit plastis
5 - 10 Plastis rendah
10 - 20 Plastis sedang
20 - 40 Plastis tinggi
 40 Sangat tinggi
(Sumber: USCS)

Gambar 2.2 Hubungan LL dan PI (Das, 2018)


Nilai kuat geser tanah, diperoleh dari hasil korelasi yang dikeluarkan
oleh Bowles, 1984 yang menggunakan hasil pengujian SPT. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.5 berikut.

Tabel 2.5 NSPT dan Korelasinya (Bowles, 1984)


Cohesionless Soil
N (blows) 0-3 4 - 10 11 - 30 31 - 50 > 50
 (kN/m3) - 12 - 16 14 - 18 16 - 20 18 - 23
 (o) - 25 - 32 28 - 36 30 - 40 > 40
State Very Loose Loose Medium Dense Very Dense
Dr (%) 0 - 15 15 - 35 35 - 65 65 - 85 85 - 100
Cohesive Soil
N (blows) <4 4-6 6 -15 16 - 25 > 25
 (kN/m3) 14 - 18 16 - 18 16 - 18 16 - 20 > 20
cu (kPa) < 25 20 - 50 30 - 60 40 -200 > 200
Consistency Very Soft Soft Medium Stiff Hard

Nilai indeks pemampatan (cc) yang akan digunakan sebagai salah satu
parameter masukan dalam perhitungan penurunan konsolidasi, dapat dicari
menggunakan perumusan seperti pada Tabel 2.6 berikut.

Tabel 2.6 Hubungan antara cc, eo dan w


Persamaan Keterangan Sumber
𝐶𝑐 = 0,54 (𝑒𝑜 − 0,35) Semua Lempung Nishida (1956)
𝐶𝑐 = 0,4 (𝑒𝑜 − 0,25) Lempung Yunani dan USA Azzous (1976)
𝐶𝑐 = 0,01 (𝑤 − 5) Lempung Yunani dan USA Azzous (1976)
𝐶𝑐 = 0,4049 (𝑒𝑜 − 0,3216) Tanah Kohesif Anorganik Hough (1957)

Sedangkan besarnya nilai kadar air, eo, sat dan Cv dapat dilakukan
pendekatan menurut hasil yang dikeluarkan oleh Biarez & Favre seperti pada
Tabel 2.7. Hubungan antara Koefisien Konsolidasi (Cv) dan batas cair (LL)
dapat di lakukan pendekatan menggunakan kurva seperti pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Hubungan Cv dan LL (After US. Navy)

Tabel 2.7 Korelasi Parameter Tanah (Biarez & Favre)


S ifat gd e n Wsat gsat K Cv s mv = I/E
Tanah g/cm
3
lb cb ft % g/cm
3
cm/s ft/year lugeon cm2/s 2
ft /year bars psi 2
cm /kg
2
ft /ton
0.5 31.25 4.4 0.8 163 1.31 1x10-9 1,03x10 -3 1x10-4 1x10-5 0,01 0,142 100 97,6
0.6 37.5 3.5 0.78 129.6 1.38 0,05 0,71 20 19,5
lunak

0.7 43.75 2.86 0.74 105.8 1.44 1x10-8 1,03x10 -2 1x10-3 1x10 -4 3.4
0.8 50 2.38 0.7 88 1.5 2 x10 -4 6.8 0,1 1,42 10 9,76
Silt, Clay

0.9 56.25 2 0.67 74.1 1.57 1x10-7 1,03x10 -1 1x10-2 3 x10 -4 10.1 0,5 7,05 2 1,95
4 x10 -4 11.1 1 14,2 1 0,976
1.0 62.5 1.7 0.63 63 1.63 1x10-6 1,03 1x10-1 5 x10 -4 16.9 2 28,4 0,5 0,488
1.1 68.75 1.45 0.59 53.9 1.69 2,06 20.3 3 42,6 0,33 0,325
rata-rata

2x10-6 6 x10 -4

1.2 75 1.25 0.56 46.3 1.76 3 x10-6 3,1 7 x10 -4 23.6 4 56,9 0,25 0,244
1.3 81.25 1.08 0.52 39.9 1.82 4 x10-6 4,13 8 x10 -4 27 5 71 0,2 0,195
1.4 87.5 0.93 0.48 34.4 1.88 5 x10-6 5,17 9 x10 -4 30.4 6 85,3 0,17 0,163
1.5 93.75 0.8 0.44 29.6 1.94 6 x10-6 6,2 1 x10 -3 338 7 99,5 0,14 0,144
1.6 100 0.69 0.41 25.5 2.04 7 x10-6 7,24 8 113 0,12 0,122
1.7 106.25 0.59 0.37 21.8 2.07 8,26 9 127 0,11 0,111
Sand

8 x10-6

1.8 112.5 0.5 0.33 18.5 2.13 9 x10-6 9,3 1 x10 -2 338 10 142 0,1 0,096
1.9 118.75 0.42 0.3 15.6 2.2 1 x10-5 10,33 1 11 156 0,091 0,0887
Gravel, Sand

1 x10-4 1,03x10 2 10 1 x10 -1 338 12 170 0,083 0,0815


2.0 125 0.35 0.26 13 2.26 1 x10-3 1,03x10 3 100 13 185 0,077 0,075
2.1 131.25 0.29 0.22 10.6 2.32 1 x10-2 1,03x10 4 1000 14 199 0,073 0,07
2.2 137.5 0.23 0.19 8.4 2.39 1 x10-1 1,03x10 5 10000 15 213 0,064 0,065
Gravel

2.3 143.75 0.17 0.15 6.4 2.45 20 284 0,05 0,0488


2.4 150 0.13 0.11 4.63 2.51 50 710 0,02 0,0195
2.5 156.25 0.08 0.074 2.96 2.57 100 1420 0,01 9,76x10 -3

2.6 162.5 0.038 0.037 1.42 2.64 500 7100 0,002 1,95x10 -3

2.7 168.75 0 0 0 2.7 1000 14200 0,001 9,76x10 -4

Uji kuat tekan bebas termasuk hal yang khusus dari uji triaksial
unconsolidated undrained (tak terkonsolidasi tak terdrainase). Hasil uji kuat
tekan bebas biasanya tidak begitu meyakinkan bila digunakan untuk
menentukan nilai parameter kuat geser tanah tak jenuh. Kuat geser undrained
dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.
𝑠𝑢 = 𝑐𝑢 = 𝑞𝑢/ 2
dimana:
𝑠𝑢 atau 𝑐𝑢 = kuat geser undrained,
𝑞𝑢 = kuat tekan bebas.
Penurunan pada tanah lempung (lunak) membutuhkan waktu yang
lama karena daya rembesan air sangat rendah. Angka pori pada akhir setiap
periode penambahan tekanan dapat dihitung dari pembacaan arloji pengukur
dan kadar air atau berat kering dari contoh tanah pada akhir pengujian.
Penurunan tanah dapat dihitung menggunakan Persamaan 2.

∆𝑒/∆𝐻 = (1 + 𝑒0)/𝐻0
dimana:
∆𝐻 = perubahan tebah tanah selama pengujian,
∆𝑒 = perubahan nilai angka pori selama pengujian,
𝑒o = angka pori tanah awal,
𝐻o = tebal contoh tanah pada awal pengujian.
Berat isi dan kadar air pada lapisan tanah yang kapasitas daya
dukungnya rendah dan kompresibilitasnya tinggi. Aplikasi yang sama untuk
kadar air (Persamaan 3), berat isi jenuh (Persamaan 4) dan berat isi kering
(Persamaan 5).
𝑤𝑛 = 𝑒/(𝐺𝑠⁄g)
𝛾𝑠𝑎𝑡 = (𝐺𝑠(1 + 𝑤𝑛))/((𝐺𝑠/𝑔)(𝑤𝑛 + 1))
𝛾𝑑 = 𝐺𝑠/(1 + (𝐺𝑠/𝑔)𝑤n)
dimana:
𝑤𝑛 = kadar air tanah,
𝑒 = angka pori tanah,
𝐺𝑠 = berat jenis tanah,
𝑔 = gaya gravitasi bumi,
𝛾𝑠𝑎𝑡 = berat isi tanah jenuh,
𝛾𝑑 = berat isi tanah kering.
2.5. Perencanaan Timbunan

2.5.1 Tinggi Timbunan Pelaksanaan (HR) dan Tinggi Timbunan Rencana


(H)
Tinggi timbunan pelaksanaan (HR) merupakan tinggi dimana tanah
ditimbun saat pelaksanaan untuk mencapai tinggi timbunan rencana (H)
sesuai dengan waktu yang direncanakan. Besarnya tinggi timbunan
pelaksanaan tergantung dari besarnya pemampatan yang terjadi pada tanah
dasar. HR dan H dimodelkan pada Gambar 2.4. Tinggi timbunan pelaksanaan
dapat dicari dengan menggunakan cara grafis dengan mencari titik
perpotongan antara kurva Sc vs HR dan HR-H vs HR., sehingga berlaku
persamaan
Sc= H HR
dimana:
Sc = besarnya pemampatan tanah dasar sesuai tinggi timbunan (HR)
(variabel)
HR = tinggi timbunan pelaksanaan (variabel)
H = tinggi timbunan rencana (fixed)

Gambar 2.4 Permodelan HR dan H timbunan

2.5.2 Tinggi Timbunan Kritis (Hcr)


timbunan kritis adalah tinggi dimana stabilitas timbunan memiliki
angka kemanan 1 atau saat timbunan akan mengalami kegagalan. Hcr dapat
dicari dengan menggunakan software analisis geoteknik seperti GeoSlope dan
PLAXIS dengan tujuan mencari tinggi timbunan ketika SF (Safety Factor)=1.

2.5.3 Timbunan Bertahap


Pelaksanaan timbunan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu
tertentu dengan tinggi timbunan per tahapnya direncanakan. Setiap tahap
ditimbun lalu dipantau perubahan stabilitas tanah dasarnya. Proses penahapan
timbunan mempertimbangkan tinggi timbunan kritis (Hcr) untuk mencegah
terjadinya kelongsoran. Pelaksanaan timbunan bertahap dapat dilaksanaan
pada Gambar 2.6.

Gambar 2.5 Timbunan Bertahap

2.5.4 Distribusi dan Perubahan Tegangan Akibat Timbunan Bertahap


Timbunan Bertahap akan mengalami perubahan Tegangan akibat
adanya penahapan timbunan per minggu. Setiap tahap timbunan akan
mendistribusikan tegangan yang berbeda-beda ke tanah dasar.
Untuk peninjauan penambahan tegangan yang berubah berdasarkan
waktu umur tahapan timbunan masing-masing dapat dihitung menggunakan
persamaan:
2.6. Penurunan Tanah
Salah satu permasalahan utama pada tanah lunak dalam suatu
pekerjaan konstruksi adalah penurunan tanah yang sangat besar. Penurunan
yang besar tersebut disebabkan oleh penurunan konsolidasi pada tanah.
Ketika tanah dibebani, maka sama dengan material lain, tanah akan
akan mengalami penurunan. Dalam ilmu Geoteknik, dikenal tiga jenis
penurunan tanah.
1. Penurunan Seketika (immediate Settlement)
2. Penurunsan Konsolidasi (Consolidation Settlement)
3. Penurunan Rangkak/Sekunder (Creep/Secondary Settlement)

 Penurunan seketika merupakan penurunan yang terjadi seketika saat beban


diberikan. Pada tanah jenuh air dan permeabilitas rendah, beban yang
bekerja diterima sepenuhnya oleh tegangan air pori. Pada tanah dengan
permeabilitas tinggi, tegangan air pori yang terjadi muncul hanya sebentar
karena tegangan air pori ini terdisipasi dengan cepat. Deformasi yang
terjadi pada tanah tidak disertai dengan perubahan volume. Perhitungan
untuk penurunan seketika ini didasarkan pada hukum elastisitas material
(contoh, Hukum Hooke).
 Penurunan konsolidasi adalah penurunan pada tanah kohesif yang
diakibatkan terdisipasinya tegangan air berlebih di dalam tanah, dan
akhirnya menghasilkan perubahan dari segi volume. Jenis penurunan
terjadi bersama dengan waktu yang berlalu. Tegangan air pori berlebih
ditransfer menuju partikel tanah menjadi tegangan efektif (σ’= σ-u). Saat
tegangan air pori berlebih ini = 0, penurunan konsolidasi sudah selesai dan
tanah berada dalam keadaan Drained.
 Penurunan sekunder merupakan penurunan yang terjadi setelah penurunan
konsolidasi. Penurunan ini terjadi seiring dengan waktu berlalu dan
biasanya terjadi sangat lama setelah beban mulai bekerja, dimana partikel
tanah mengalami creep. Penurunan ini terjadi saat semua tegangan air pori
berlebih di dalam tanah telah terdisipasi dan saat tegangan efektif yang
terjadi berada dalam keadaan konstan.
Dengan Demikian, penurunan total dari suatu tanah yang dibebani
adalah :
ST = Si + Sc + Ss
Dimana:
ST = Penurunan Total
Si = Penurunan Seketika (Immediate Settlement)
Sc = Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)
Ss = Penurunan Sekunder (Secondary Settlement)
Dengan kata lain, Penurunan Sekunder terjadi ketika Penurunan
Konsolidasi selesai, yaitu pada saat tegangan air pori berlebih, U sama
dengan nol.
Terlihat bahwa penurunan tanah sebagian besar terjadi pada saat
penurunan konsolidasi. Dan fase ini pula, tanah mengalami peningkatan
kekuatan dan stabilitas. Ada dua jenis penurunan konsolidasi yaitu,
Konsolidasi Normal (Normally Consolidated, NC), dan Konsolidasi Berlebih
(Over Consolidated, OC). Berdasarkan teori Terzaghi, tentang konsolidasi
satu dimensi, penurunan konsolidasi untuk konsolidasi normal dapat dihitung
dengan persamaan berikut :

Sc =

Dimana :
Sc = Penurunan konsolidasi (m)
Cc = Nilai Compression Index
e0 = Void Ratio awal
H = Tinggi tanah terkonsolidasi (m)
σz0 = Tegangan tanah awal (kg/m2)
σzf = Tegangan tanah akhir,
yaitu tegangan tanah awal + tegangan akibat beban luar
(σzf = σz0 + Δσz) (kg/m2)
Sedangkan untuk kondisi konsolidasi berlebih, penurunan dapat
dihitung dengan persamaan berikut :

Sc =

Dimana :
σzc = Preconsolidation Pressure (kg/m2)

2.7. PVD (Prefabricated Vertical Drain)


PVD (prefabricated Vertical Drain) merupakan salah satu produk
Geosintetik yang berfungsi sebagai pengalir air (Drainage). PVD merupakan
material komposit yang terdiri dari inti dan penyaring. PVD berfungsi untuk
mempercepat proses konsolidasi tanah, terutama pada jenis tanah lempung
atau lanau. PVD di tanam secara vertikal kedalam tanah untuk mengalirkan
air dari lapisan tanah lunak ke permukaan. Proses konsolidasi terjadi pada
tanah yang mempunyai kemampumampatan yang tinggi (Compressible Soil).
Oleh karena PVD berfungsi untuk mempercepat proses konsolidasi maka
PVD dipasang sepanjang tebal lapisan tanah yang mempunyai
kemampumampatan yang tinggi saja.
Pemasangan vertical drain bertujuan untuk mempercepat waktu
pemampatan. Hal ini dikarenakan pemampatan konsolidasi yang terjadi pada
tanah lempung berlangsung sangat lambat. Dengan adanya vertical drain
maka air pori tanah tidak hanya mengalir keluar ke arah vertikal saja, tetapi
juga ke arah horizontal seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6

Gambar 2.6 Penggunaan Vertical Drain


Salah satu jenis vertical drain adalah Prefabricated Vertical Drain
(PVD). PVD terbuat dari bahan geosintetik yang diproduksi di pabrik. Bahan
ini dapat mengalirkan air dengan baik, namun masa efektif kerja bahan ini
hanya 6 bulan. PVD lebih umum dipakai di lapangan dibandingkan dengan
kolom pasir karena kolom pasir pemasangannya jauh lebih rumit dan juga
lebih mahal. Waktu konsolidasi yang dibutuhkan dengan menggunakan
vertical drain menurut Barron (1948) adalah

dimana:
t = waktu yang diperlukan untuk mencapai Uh
D = diameter ekivalen dari daerah pengaruh PVD
D = 1,13 x S, untuk pola susunan segiempat,
D = 1,05 x S, untuk pola susunan segitiga
Ch = keofisien konsolidasi akibat aliran air arah radial
Uh = derajat konsolidasi tanah akibat aliran air arah radial

Nilai Ch dapat dicari dengan persamaan berikut:

dimana:
Cv = koefisien konsolidasi
kh = koefisien permeabilitas horizontal
kv = koefisien permeabilitas vertikal
kh/kv dapat dicari menggunakan Tabel 2.8
Tabel 2.8. Nilai kh/kv

Waktu konsolidasi dipengaruhi oleh pola pemasangan PVD. Pola


pemasangan PVD dapat berbentuk segiempat maupun segitiga seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.7 dan Gambar 2.8

Gambar 2.7. Pemasangan PVD Pola Segiempat


Gambar 2.8. Pemasangan PVD Pola Susunan Segitiga
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

Sebelum memulai tahap perhitungan korelasi dilakukan studi literatur


sebagai referensi untuk mengetahui nilai yang ditetapkan dalam perhitungan
korelasi untuk perbaikan tanah lunak untuk pembangunan Bandar udara di
Kalimantan Timur.
Adapun data korelasi yang dipakai untuk perhitungan perbaikan tanah
lunak adalah sebagai berikut :
1. Data korelasi sat
2. Data korelasi 
3. Data korelasi c
4. Data korelasi cu
5. Data korelasi e0
6. Data korelasi cc
7. Data korelasi cs
8. Data korelasi cv
3.1 Bagan Alir

Mulai

Tinjauan pustaka

Data :
Data tanah
Data topografi

 Perhitungan Penurunan
Perencanaan Timbunan
Konsolindsi

 Perencanaan Pulmat  Perencanaan Pulmat


PVD Stone Colm

RAB

Selesai

Gambar 3.1 Bagan Alir


3.2 Penjelasan Bagan Alir
3.2.1 Tinjauan Pustaka
Studi literatur dalam sebuah perencanaan mempunyai tujuan yaitu
mengumpulkan referensi yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran
yang menyeluruh tentang perencanaan perbaikan tanah lunak pada proyek
pembangunan jalan. Adanya referensi akan mempermudah dan membantu
dalam penyelesaian perencanaan tugas akhir ini. Referensi yang ada bisa
didapatkan dari berbagai macam sumber, dimulai dari diktat kuliah,
bukubuku yang berhubungan dengan perencanaan, jurnal juga dari
internet.
3.2.2 Pengumpulan Data
Data-data yang dipakai dalam perencanaan ini adalah data
sekunder yang didapat dari instansi terkait atau hasil survey. Beberapa data
yang diperlukan dalam proses perhitungan antara lain:
 Lokasi pembangunan bandar udara Kalimantan Ggrogot

 Lokasi Rencana Pembangunan Runway

 Layout Bandara Paser

 Detail Potongan Melintang Runway

 Topografi Lahan

 Data hasil pengujian Bor dalam (BH-01, BH-02 dan BH-03)

3.2.3 Perhitungan Penurunan Konsolidasi


Dalam perencanaan ini, hal pertama yang dilakukan adalah dengan
menentukan parameter tanah dari hasil pengujian tanah di lapangan.
Parameter–parameter tanah yang digunakan dalam perencanaan adalah
menggunakan pendekatan/korelasi berdasarkan data tanah lapangan.
Analisis visual adalah analisis pertama yang dilakukan untuk
mendeskripsikan sifat tanah dan jenis lapisan tanah yang divisualisasikan
ke dalam bentuk statigrafi tanah. Data tersebut selanjutnya digunakan
untuk merencanakan preloading dan perkuatan lereng timbunan. Adapun
tahapan perencanaan preloading adalah sebagai berikut:
 Perhitungan sistem penimbunan bertahap dengan pembebanan awal
(Hinitial, Hfinal)

 Perhitungan besar dan waktu penurunan / pemampatan (settlement)

 Perhitungan daya dukung tanah (stablilitas terhadap puncture)

 Analisis kelongsoran timbunan (stabilitas terhadap rotational)

 Perhitungan angka keamanan (safety factor)

3.2.4 Perencanaan Timbunan


Penimbunan bertahap direncanakan dengan menentukan jadwal
pentahapan beban pre-loading sesuai kenaikan daya dukung. Penimbunan
akan dilakukan dengan kecepatan penimbunan tertentu dengan tetap
mengontrol daya dukungnya.
3.2.5 Perencanaan Perbaikan dan Perkuatan Tanah
Perkuatan tanah dasar dalam metodologi ini adalah alternatif yang pada
akhirnya selalu di cek angka kemananannya yakni menggunakan
preloading.
3.2.6 Perencanaan PVD
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses
pemampatan tanah adalah dengan memperbesar permeabilitas tanah
dengan menggunakan vertical drain, dalam perhitungan PVD akan
didapat:
 Pola pemasangan PVD

 Kedalaman PVD

 Jarak Antar PVD


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengolahan Data


Pada perencanaan pembangunan Bandar udara di kabupaten paser, tanah
grogot Kalimantan timur. Adapun data-data yang diperoleh dari panitia untuk
pernbaikan tanah untuk pembangunan Bandar udara internasional di Kalimantan
timur adalah sebagi berikut.

Gambar 4.1 Lokasi pembangunan bandar udara kalimantan Grogot

Gambar 4.2 Lokasi Rencana Pembangunan Runway


Gambar 4.3 Layout Bandara Paser

Gambar 4.4 Detail Potongan Melintang Runway


Gambar 4.5 Topografi Lahan
Gambar 4.6 Bor Hole BH-01
Gambar 4.7 Bor Hole BH-02
Gambar 4.8 Bor Hole BH-03
4.2 Analisis Geoteknik Tanah Dasar

Data tanah yang di kasih dari panitia yaitu BH-01, BH-02 dan BH-03. Dari
data tanah yang diperoleh dari panitia dilakukan perhitungan korelaasi parameter
tanah yang dibutuhkan sebagai berikut :

4.2.1 Korelasi berat volume tanah ()


Nilai berat volume tanah () ditentukan menggunakan interpolasi
berdasarkan data SPT tanah menggunakan tabel NSPT dan korelasinya
menurut Bowles (1984) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Lapisan tanah dengan NSPT < 4, berat volume tanah dicari
menggunakan persamaan menurut (Wahyudi dan Lastiasih, 2007)
sat = 0,08 N + 1,47
d = 0,09 N + 0,78
Contoh perhitungan korelasi berat volume tanah () untuk tanah
dasar lapisan 1.
N=3
sat = 0.08 x 3 + 1.47 = 1.48 t/m3
d = 0.09 x 3 + 0.78 = 1.05 t/m3

Hasil korelasi berat volume tanah () untuk setiap lapisan tanah BH-01
ditunjukkan pada Tabel 4.1.
BH-01 BH-02 BH-03
Kedalaman
(m)   
NSPT NSPT NSPT
(kN/m3) (kN/m3) (kN/m3)
0-2 3 14.9 1 14.8 1 14.8
2-4 1 14.8 1 14.8 1 14.8
4-6 1 14.8 1 14.8 1 14.8
6-8 4 15.1 1 14.8 4 15.1
8-10 6 15.4 3 14.9 3 14.9
10-12 4 15.1 4 15.1 3 14.9
12-14 5 15.2 4 15.1 6 15.4
14-16 5 15.2 6 15.4 12 16.9
16-18 10 16.2 8 15.8 15 17.6
18-20 11 16.8 15 17.6 17 17.9
20-22 18 18.3 18 18.3 18 18.3
22-24 42 22.0 27 19.4 60 22.0
24-26 47 22.0 31 19.4 62 22.0
26-28 57 22.0 32 19.5 65 22.0
28-30 60 22.0 32 19.5 60 22.0
30-32 49 22.0 38 19.9 46 22.0
32-34 52 22.0 40 22.0 48 22.0
34-36 56 22.0 49 22.0 50 22.0
36-38 59 22.0 51 22.0 61 22.0
38-40 60 22.0 57 22.0 69 22.0

4.2.2 Korelasi Nilai Sudut Geser dalam Tanah (


Sudut geser dalam tanah () untuk tanah lunak (lanau)
diambil sesuai nilai NSPT setiap lapisan tanah, sedangkan
untuk tanah pasir menggunakan Tabel 2.1 berdasarkan berat
volume tanah. Contoh korelasi nilai sudut geser dalam tanah
() untuk tanah dasar lapisan 1:
N=0
  0
Hasil korelasi sudut geser dalam tanah () untuk setiap
lapisan tanah ditampilakan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-01

Kedalaman (m) NSPT () (◦)


0 - 2 3 3
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 4 4
8 - 10 6 6
10 - 12 4 4
12 - 14 5 5
14 - 16 5 5
16 - 18 10 10
18 - 20 11 11
20 - 22 18 18
22 - 24 42 42
24 - 26 47 35
26 - 28 57 40
28 - 30 60 40
30 - 32 49 49
32 - 34 52 52
34 - 36 56 56
36 - 38 59 59
38 - 40 60 60

Tabel 4.5 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-02

Kedalaman (m) NSPT () (◦)


0 - 2 1 1
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 1 1
8 - 10 3 3
10 - 12 4 4
12 - 14 4 4
14 - 16 6 6
16 - 18 8 8
18 - 20 15 15
20 - 22 18 18
22 - 24 27 27
24 - 26 31 31
26 - 28 32 32
28 - 30 32 32
30 - 32 38 38
32 - 34 40 40
34 - 36 49 49
36 - 38 51 52
38 - 40 57 40
Tabel 4.5 Hasil Korelasi Sudut Geser Dalam Tanah () BH-03

Kedalaman (m) NSPT () (◦)


0 - 2 1 1
2 - 4 1 1
4 - 6 1 1
6 - 8 4 4
8 - 10 3 3
10 - 12 3 3
12 - 14 6 6
14 - 16 12 12
16 - 18 15 15
18 - 20 17 17
20 - 22 18 18
22 - 24 60 60
24 - 26 62 62
26 - 28 65 40
28 - 30 60 40
30 - 32 46 40
32 - 34 48 40
34 - 36 50 50
36 - 38 61 61
38 - 40 69 69

4.2.3 Korelasi Undrained Shear Strength (cu)


Untuk mendapatkan nilai undrained shear strength (cu)
digunakan korelasi cu menurut Terzaghi dan Peck berdasarkan
NSPT. Untuk cu dengan SPT = 0, diambil sebesar 5-8 kPa.
lempung plastis, cu = 12.5 N
lempung berlanau, cu = 10 N
lempung berpasir, cu = 6.5 N
secara nilai umum cu = 0.6 N

Contoh korelasi undrained shear strength (cu) untuk tanah


dasar lapisan 1.

N=3
cu = 12.5 x (3) = 37.5 t/m3

Tabel 4.6 Hasil Korelasi undrained shear strength (cu) BH-01


Kedalaman (m) NSPT Cu (t/m2)
0 - 2 3 37.5
2 - 4 1 12.5
4 - 6 1 12.5
6 - 8 4 40
8 - 10 6 39
10 - 12 4 26
12 - 14 5 50
14 - 16 5 50
16 - 18 10 100
18 - 20 11 6.6
20 - 22 18 180
22 - 24 42 273
24 - 26 47 305
26 - 28 57 0
28 - 30 60 0
30 - 32 49 29.4
32 - 34 52 31.2
34 - 36 56 33.6
36 - 38 59 35.4
38 - 40 60 36

Tabel 4.7 Hasil Korelasi undrained shear strength (cu) BH-02

Kedalaman (m) NSPT Cu (t/m2)


0 - 2 1 12.5
2 - 4 1 12.5
4 - 6 1 6.5
6 - 8 1 6.6
8 - 10 3 19.5
10 - 12 4 26
12 - 14 4 26
14 - 16 6 39
16 - 18 8 80
18 - 20 15 150
20 - 22 18 180
22 - 24 27 270
24 - 26 31 18.6
26 - 28 32 19.2
28 - 30 32 208
30 - 32 38 22.8
32 - 34 40 24
34 - 36 49 29.4
36 - 38 51 30.6
38 - 40 57 0

Tabel 4.8 Hasil Korelasi undrained shear strength (cu) BH-03

Kedalaman (m) NSPT Cu (t/m2)


0 - 2 1 12.5
2 - 4 1 12.5
4 - 6 1 12.5
6 - 8 4 50
8 - 10 3 37.5
10 - 12 3 37.5
12 - 14 6 60
14 - 16 12 78
16 - 18 15 150
18 - 20 17 0
20 - 22 18 10.8
22 - 24 60 36
24 - 26 62 37.2
26 - 28 65 0
28 - 30 60 0
30 - 32 46 0
32 - 34 48 0
34 - 36 50 30
36 - 38 61 36.6
38 - 40 69 41.4

4.2.4 Korelasi Angka Pori Tanah (e0)


Untuk nilai angka pori tanah (e0) ditentukan berdasarkan berat volume
tanah () menggunakan korelasi menurut Biarez & Favre seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 2.2. Contoh korelasi angka pori tanah (e0) untuk tanah dasar
lapisan 1:
sat = 1,49 t/m2
Jika, sat = 1,44 e0 = 2,86
sat = 1,50 e0 = 2,38
Interpolasi untuk sat = 1,47 t/m2

e0 = 2.38 + x (2.86-2.38)
= 2.748

Hasil korelasi nilai angka pori tanah ditunjukkan pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil Korelasi Korelasi Angka Pori Tanah (e0) BH-01

Kedalaman (m) (kN/m3) e0


0 - 2 1.49 2.784
2 - 4 1.48 2.684
4 - 6 1.48 2.684
6 - 8 1.51 2.049
8 - 10 1.54 2.239
10 - 12 1.51 2.049
12 - 14 1.52 2.098
14 - 16 1.52 2.098
16 - 18 1.64 1.492
18 - 20 1.68 1.650
20 - 22 1.83 0.500
22 - 24 2.20 0.500
24 - 26 2.20 0.500
26 - 28 2.20 0.500
28 - 30 2.20 0.500
30 - 32 2.20 0.500
32 - 34 2.20 0.500
34 - 36 2.20 0.500
36 - 38 2.20 0.500
38 - 40 2.20 0.500

Tabel 4.10 Hasil Korelasi Korelasi Angka Pori Tanah (e0) BH-02

Kedalaman (m) (kN/m3) e0


0 - 2 1.48 2.684
2 - 4 1.48 2.684
4 - 6 1.48 2.684
6 - 8 1.48 2.684
8 - 10 1.49 2.784
10 - 12 1.51 2.049
12 - 14 1.51 2.049
14 - 16 1.54 2.239
16 - 18 1.58 1.740
18 - 20 1.76 1.439
20 - 22 1.83 0.960
22 - 24 1.94 0.927
24 - 26 1.94 0.927
26 - 28 1.95 0.701
28 - 30 1.95 0.701
30 - 32 1.99 0.742
32 - 34 2.20 0.500
34 - 36 2.20 0.500
36 - 38 2.20 0.500
38 - 40 2.20 0.500

Tabel 4.11 Hasil Korelasi Korelasi Angka Pori Tanah (e0) BH-03

Kedalaman (m) (kN/m3) e0


0 - 2 1.48 2.684
2 - 4 1.48 2.684
4 - 6 1.48 2.684
6 - 8 1.51 2.049
8 - 10 1.49 2.784
10 - 12 1.49 2.784
12 - 14 1.54 2.239
14 - 16 1.69 1.683
16 - 18 1.76 1.439
18 - 20 1.79 1.154
20 - 22 1.83 0.960
22 - 24 2.20 0.500
24 - 26 2.20 0.500
26 - 28 2.20 0.500
28 - 30 2.20 0.500
30 - 32 2.20 0.500
32 - 34 2.20 0.500
34 - 36 2.20 0.500
36 - 38 2.20 0.500
38 - 40 2.20 0.500

4.2.5 Korelasi Koefisien Kompresi Tanah (Cc)

Koefisien kompresi tanah (Cc) menggunakan persamaan 2.5 untuk inorganic


cohesive soil. Berikut adalah contoh perhitunga koefisien kompresi tanah
(Cc) untuk tanah lapisan 1:
e0 = 2.748
Cc = 0.30 (2.748 – 0.27) = 0.743
Hasil korelasi koefisien kompresi tanah ditunjukkan pada Tabel 4.12

Tabel 4.12 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Kompresi Tanah (Cc)


BH-01

Kedalaman (m) e0 Cc
0 - 2 2.784 0.743
2 - 4 2.684 0.724
4 - 6 2.684 0.724
6 - 8 2.049 0.534
8 - 10 2.239 0.591
10 - 12 2.049 0.534
12 - 14 2.098 0.548
14 - 16 2.098 0.548
16 - 18 1.492 0.367
18 - 20 1.650 0.414
20 - 22 0.500 0.207
22 - 24 0.500 0.069
24 - 26 0.500 0.069
26 - 28 0.500 0.069
28 - 30 0.500 0.069
30 - 32 0.500 0.069
32 - 34 0.500 0.069
34 - 36 0.500 0.069
36 - 38 0.500 0.069
38 - 40 0.500 0.069

Tabel 4.13 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Kompresi Tanah (Cc)


BH-02

Kedalaman (m) e0 Cc
0 - 2 2.684 0.724
2 - 4 2.684 0.724
4 - 6 2.684 0.724
6 - 8 2.684 0.724
8 - 10 2.784 0.743
10 - 12 2.049 0.534
12 - 14 2.049 0.591
14 - 16 2.239 0.441
16 - 18 1.740 0.351
18 - 20 1.439 0.207
20 - 22 0.960 0.197
22 - 24 0.927 0.201
24 - 26 0.927 0.129
26 - 28 0.701 0.129
28 - 30 0.701 0.129
30 - 32 0.742 0.142
32 - 34 0.500 0.069
34 - 36 0.500 0.069
36 - 38 0.500 0.069
38 - 40 0.500 0.069

Tabel 4.14 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Kompresi Tanah (Cc)


BH-03

Kedalaman (m) e0 Cc
0 - 2 2.684 0.724
2 - 4 2.684 0.724
4 - 6 2.684 0.724
6 - 8 2.049 0.534
8 - 10 2.784 0.743
10 - 12 2.784 0.743
12 - 14 2.239 0.591
14 - 16 1.683 0.424
16 - 18 1.439 0.351
18 - 20 1.154 0.265
20 - 22 0.960 0.207
22 - 24 0.500 0.069
24 - 26 0.500 0.069
26 - 28 0.500 0.069
28 - 30 0.500 0.069
30 - 32 0.500 0.069
32 - 34 0.500 0.069
34 - 36 0.500 0.069
36 - 38 0.500 0.069
38 - 40 0.500 0.069

4.2.6 Korelasi Koefisien Mengembang Tanah (Cs)


Untuk koefisien mengembang tanah (Cs) diasumsikan sebesar 1/5
dari nilai Cc yang telah
didapatkan sebelumnya.
Cc = 0.743
Cs = 1/5 x 0.743 = 0.149
Hasil korelasi koefisien mengembang tanah ditunjukkan pada Tabel 4.15

Tabel 4.15 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Mengembang Tanah


(Cs) BH-01

Kedalaman (m) Cc Cs
0 - 2 0.743 0.149
2 - 4 0.724 0.145
4 - 6 0.724 0.145
6 - 8 0.534 0.107
8 - 10 0.591 0.118
10 - 12 0.534 0.107
12 - 14 0.548 0.110
14 - 16 0.548 0.110
16 - 18 0.367 0.073
18 - 20 0.414 0.083
20 - 22 0.207 0.041
22 - 24 0.069 0.014
24 - 26 0.069 0.014
26 - 28 0.069 0.014
28 - 30 0.069 0.014
30 - 32 0.069 0.014
32 - 34 0.069 0.014
34 - 36 0.069 0.014
36 - 38 0.069 0.014
38 - 40 0.069 0.014

Tabel 4.16 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Mengembang Tanah


(Cs) BH-02

Kedalaman (m) Cc Cs
0 - 2 0.724 0.145
2 - 4 0.724 0.145
4 - 6 0.724 0.145
6 - 8 0.724 0.145
8 - 10 0.743 0.149
10 - 12 0.534 0.107
12 - 14 0.591 0.107
14 - 16 0.441 0.118
16 - 18 0.351 0.088
18 - 20 0.207 0.070
20 - 22 0.197 0.041
22 - 24 0.201 0.039
24 - 26 0.129 0.040
26 - 28 0.129 0.026
28 - 30 0.129 0.026
30 - 32 0.142 0.028
32 - 34 0.069 0.014
34 - 36 0.069 0.014
36 - 38 0.069 0.014
38 - 40 0.069 0.014

Tabel 4.17 Hasil Korelasi Korelasi Koefisien Mengembang Tanah


(Cs) BH-03

Kedalaman (m) Cc Cs
0 - 2 0.724 0.145
2 - 4 0.724 0.145
4 - 6 0.724 0.145
6 - 8 0.534 0.107
8 - 10 0.743 0.149
10 - 12 0.743 0.149
12 - 14 0.591 0.118
14 - 16 0.424 0.085
16 - 18 0.351 0.070
18 - 20 0.265 0.053
20 - 22 0.207 0.041
22 - 24 0.069 0.014
24 - 26 0.069 0.014
26 - 28 0.069 0.014
28 - 30 0.069 0.014
30 - 32 0.069 0.014
32 - 34 0.069 0.014
34 - 36 0.069 0.014
36 - 38 0.069 0.014
38 - 40 0.069 0.014

4.2.7 Korelasi Koefisien Pengaliran Tanah (Cv)


Koefisien pengaliran tanah (Cv) dapat dicari menggunakan
tabel korelasi menurut Biarez & Favre seperti pada Tabel 2.2 dengan
melakukan interpolasi sesuai nilai yang telah didapatkan.
sat = 1,49 t/m2
Jika, sat = 1,44 Cv = 1 x 10-4 cm2/s
sat = 1,50 Cv = 2 x 10-4 cm2/s

Cv = 1x10-4 + x (2x10-4 – 1x10-4)

= 0.00018

Hasil korelasi nilai Cv untuk setiap lapisan tanah ditunjukkan pada Tabel
4.18.
Tabel 4.2 Hasil Korelasi Koefisien Mengembang Tanah (Cs) BH-01

Kedalaman (m) Cs Cv
0 - 2 0.149 0.00018
2 - 4 0.145 0.00016
4 - 6 0.145 0.00016
6 - 8 0.107 0.00021
8 - 10 0.118 0.00026
10 - 12 0.107 0.00021
12 - 14 0.110 0.00023
14 - 16 0.110 0.00023
16 - 18 0.073 0.00053
18 - 20 0.083 0.00058
20 - 22 0.041 0.00082
22 - 24 0.014 -
24 - 26 0.014 -
26 - 28 0.014 -
28 - 30 0.014 -
30 - 32 0.014 -
32 - 34 0.014 -
34 - 36 0.014 -
36 - 38 0.014 -
38 - 40 0.014 -

Tabel 4.19 Hasil Korelasi Koefisien Mengembang Tanah (Cs) BH-02

Kedalaman (m) Cs Cv
0 - 2 0.145 0.00016
2 - 4 0.145 0.00016
4 - 6 0.145 0.00016
6 - 8 0.145 0.00016
8 - 10 0.149 0.00018
10 - 12 0.107 0.00021
12 - 14 0.107 0.00021
14 - 16 0.118 0.00026
16 - 18 0.088 0.00033
18 - 20 0.070 0.00069
20 - 22 0.041 0.00082
22 - 24 0.039 0.00100
24 - 26 0.040 0.00101
26 - 28 0.026 0.00090
28 - 30 0.026 0.00090
30 - 32 0.028 0.000108
32 - 34 0.014 -
34 - 36 0.014 -
36 - 38 0.014 -
38 - 40 0.014 -

Tabel 4.20 Hasil Korelasi Koefisien Mengembang Tanah (Cs) BH-03

Kedalaman (m) Cs Cv
0 - 2 0.145 0.00016
2 - 4 0.145 0.00016
4 - 6 0.145 0.00016
6 - 8 0.107 0.00021
8 - 10 0.149 0.00018
10 - 12 0.149 0.00018
12 - 14 0.118 0.00026
14 - 16 0.085 0.00059
16 - 18 0.070 0.00069
18 - 20 0.053 0.00074
20 - 22 0.041 0.00082
22 - 24 0.014 -
24 - 26 0.014 -
26 - 28 0.014 -
28 - 30 0.014 -
30 - 32 0.014 -
32 - 34 0.014 -
34 - 36 0.014 -
36 - 38 0.014 -
38 - 40 0.014 -
4.2.8 Korelasi Koefisien Pengaliran Tanah Horizontal (Ch)
Koefisien pengaliran tanah horizontal dicari menggunakan Tabel 2.5. Nilai kh/kv
diambil sebesar 3 sehingga nilai Ch = 3 x Cv.

4.2.9 Korelasi Batas Cair Tanah (LL)


Batas cair tanah (LL) dicari menggunakan Gambar 2.1 berdasarkan harga Cv
tanah yang telah didapatkan. Hasil korelasi ditunjukkan pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21 Hasil Korelasi Batas Cair Tanah (LL) BH-01

Kedalaman (m) Cv LL
0 - 2 0.00018 90%
2 - 4 0.00016 94%
4 - 6 0.00016 94%
6 - 8 0.00021 87%
8 - 10 0.00026 82%
10 - 12 0.00021 87%
12 - 14 0.00023 85%
14 - 16 0.00023 85%
16 - 18 0.00053 76%
18 - 20 0.00058 71%
20 - 22 0.00082 60%
22 - 24 NP NP
24 - 26 NP NP
26 - 28 NP NP
28 - 30 NP NP
30 - 32 NP NP
32 - 34 NP NP
34 - 36 NP NP
36 - 38 NP NP
38 - 40 NP NP

Tabel 4.22 Hasil Korelasi Batas Cair Tanah (LL) BH-02

Kedalaman (m) Cv LL
0 - 2 0.00016 94%
2 - 4 0.00016 94%
4 - 6 0.00016 94%
6 - 8 0.00016 94%
8 - 10 0.00018 90%
10 - 12 0.00021 87%
12 - 14 0.00021 87%
14 - 16 0.00026 83%
16 - 18 0.00033 80%
18 - 20 0.00069 67%
20 - 22 0.00082 60%
22 - 24 0.00100 55%
24 - 26 0.00101 53%
26 - 28 0.00090 58%
28 - 30 0.00090 58%
30 - 32 0.00108 50%
32 - 34 NP NP
34 - 36 NP NP
36 - 38 NP NP
38 - 40 NP NP

Tabel 4.23 Hasil Korelasi Batas Cair Tanah (LL) BH-03

Kedalaman (m) Cv LL
0 - 2 0.00016 94%
2 - 4 0.00016 94%
4 - 6 0.00016 94%
6 - 8 0.00021 87%
8 - 10 0.00018 90%
10 - 12 0.00018 90%
12 - 14 0.00026 83%
14 - 16 0.00059 70%
16 - 18 0.00069 67%
18 - 20 0.00074 63%
20 - 22 0.00082 60%
22 - 24 NP NP
24 - 26 NP NP
26 - 28 NP NP
28 - 30 NP NP
30 - 32 NP NP
32 - 34 NP NP
34 - 36 NP NP
36 - 38 NP NP
38 - 40 NP NP
4.3 Data Material Timbunan

Dalam perencanaan ini, timbunan direncanakan menggunakan material sirtu


dengan parameternya, yaitu:
Berat volume, timbunan= 1.8 t/m3
Sudut geser dalam tanah, = 35
Kohesi, c = 0.1 t/m2
4.4 Data Material Perbaikan dan Perkuatan Tanah
Perencanaan perbaikan dan perkuatan tanah menggunakan material yang sesuai
dengan yang tersedia di pasaran. Material perbaikan dan perkuatan tanah yang
digunakan dalam perencanaan ini di antaranya, yaitu:
4.4.1 Prefabricated Vertical Drain (PVD)
Prefabricated Vertical Drain yang digunakan sebagai perencanaan
vertical drain adalah merk CeTeau-Drain CT-D812. Brosur yang digunakan
adalah dari PT. Teknindo Geosistem Unggul dengan spesifikasi yang
ditampilkan pada Lampiran 1.

4.4.2 Stone Column


Stone Column yang digunakan sebagai perencanaan perbaikan
tanah ini adalah kolom-kolom vertikal dari material kerikil atau batu pecah.

BAB V SOLUSI
Perencanaan timbunan dilakukan untuk mengetahui besarnya tinggi timbunan
yang diperlukan agar hasil akhir sesuai dengan yang direncanakan. Perbaikan
tanah dasar direncanakan umumnya dilakukan untuk tanah yang dominan lunak
yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah sehingga mengurangi
resiko terjadinya kegagalan tanah. Tinggi timbunan rencana tertinggi adalah 4 m.

5.1 Perhitungan Pemampatan Tanah Dasar


Sebelum menghitung pemampatan tanah dasar dihitungterlebih dahulu
tegangan-tegangan yang terjadi pada tanah.Tegangan yang dihitung adalah
tegangan overburden (o’) yaitu tegangan tanah vertikal efektif, tegangan
prakonsolidasi (c’) yaitu tegangan yang pernah terjadi pada tanah pada masa
lampau, dan distribusi tegangan () yaitu tegangan akibat beban yang bekerja
pada tanah. Perhitungan tegangan ditinjau pada setiap kedalaman dengan interval
1 m.

Berikut adalah contoh perhitungan tegangan untuk kedalaman 0-2 m


dengan tinggi timbunan 4 m.
HR = 4 m
z=1m
q0 = timbunan x Htimbunant/m2
= 1.8 x 4 = 7.2 t/m2
Tegangan overburden (o’):

o’ = (1x1.48)+(0.5x(-1))
=1x1.48)+(0.5x(1.49-1))
= 1.735 t/m3
c’ = 48 x N
=48 x 3 = 144 KPa
Distribusi tegangan ():
tekanan vertikal
sat awal di tengah- σc ' Δσ1/2timb Δσ Sc
lapisan tanah NSPT (BH-01) α1 α2 Δσ(t/m2) Sc(cm)
Kedalaman (t/m3) tengah setiap (Kpa) (t/m2) (kn/m2) (m)
(m) lapisan (t/m3)
0 clay
1 clay σ1 1.735 0.01 1.53 3.599 7.197 71.972 0.085 8.540
2 very soft, clay 1.49 3 144
3 very soft, clay σ2 2.446 0.03 1.45 3.596 7.192 71.917 0.120 12.032
4 very soft, clay 1.48 1 48
5 very soft, clay σ3 3.402 0.05 1.34 3.497 6.994 69.944 0.129 12.935
6 very soft, clay 1.48 1 48
7 very soft, clay σ4 4.544 0.07 1.3 3.578 7.155 71.554 0.116 11.595
8 soft, clay 1.51 4 192
9 soft, sandy clay σ5 5.842 0.08 1.23 3.556 7.112 71.116 0.118 11.776
10 soft, sandy clay 1.54 6 288
11 soft, sandy clay σ6 6.58 0.1 1.16 3.532 7.064 70.639 0.121 12.052
12 soft, sandy clay 1.51 4 192
13 soft, clay σ7 7.706 0.11 1.1 3.491 6.982 69.817 0.122 12.152
14 soft, clay 1.52 5 240
15 soft, clay σ8 8.742 0.12 1.04 3.450 6.900 69.003 0.123 12.250
16 soft, clay 1.52 5 240
17 soft, clay σ9 11.73 0.13 0.98 3.390 6.780 67.797 0.086 8.579
18 soft, clay 1.64 10 480
tekanan vertikal awal di
ƴsat NSPT σc ' Δσ1/2timb
Kedalaman lapisan tanah tengah-tengah setiap lapisan α1 α2 Δσ(t/m2) Δσ(kn/m2) Sc (m) Sc(cm)
(t/m2) (BH-02) (Kpa) (t/m2)
(m) (t/m3)
0 clay
1 clay σ1 1.719 0.01 1.531 3.599 7.197 71.972 0.085 8.542
2 very soft, clay 1.48 1 48
3 very soft, clay σ2 2.436 0.03 1.453 3.596 7.192 71.917 0.121 12.081
4 very soft, clay 1.48 1 48
5 very soft, clay σ3 3.392 0.049 1.337 3.497 6.994 69.944 0.130 12.972
very soft, sandy
6 1.48 1 48
clay
very soft, sandy
7 0.067 1.303 3.578 7.155 0.136 13.601
clay σ4 4.348 71.554
very soft, sandy
8 1.48 1 48
clay
very soft, sandy
9 0.083 1.232 3.556 7.112 0.139 13.919
clay σ5 5.368 71.116
very soft, sandy
10 1.49 3 144
clay
11 very soft, clay σ6 6.57 0.098 1.164 3.532 7.064 70.639 0.121 12.070
12 soft, sandy clay 1.51 4 192
13 soft, sandy clay σ7 7.588 0.11 1.1 3.491 6.982 69.817 0.122 12.199
14 soft, sandy clay 1.51 4 192
15 soft, sandy clay σ8 9.096 0.121 1.04 3.450 6.900 69.003 0.121 12.143
16 soft, sandy clay 1.54 6 288
17 soft, sandy clay σ9 11.595 0.131 0.97 3.378 6.755 67.553 0.095 9.487
18 soft, clay 1.58 8 384
19 soft, clay
tekanan vertikal awal di
ƴsat NSPT σc ' Δσ1/2timb Δσ Δσ
Kedalaman lapisan tanah tengah-tengah setiap α1 α2 Sc (m) Sc(cm)
(t/m2) (BH-03) (Kpa) (t/m2) (t/m2) (kn/m2)
(m) lapisan (t/m3)
0 clay
1 clay σ1 1.719 0.01 1.531 3.599 7.197 71.972 0.085 8.542
2 very soft, clay 1.48 1 48
3 very soft, clay σ2 2.436 0.03 1.453 3.596 7.192 71.917 0.121 12.081
4 very soft, clay 1.48 1 48
5 very soft, clay σ3 3.392 0.049 1.337 3.497 6.994 69.944 0.130 12.972
6 very soft, clay 1.48 1 48
7 very soft, clay σ4 4.534 0.067 1.303 3.578 7.155 71.554 0.116 11.621
8 very soft, clay 1.51 4 192
9 very soft, clay σ5 5.368 0.083 1.232 3.556 7.112 71.116 0.139 13.919
10 very soft, clay 1.49 3 144
11 very soft, clay σ6 6.34 0.098 1.164 3.532 7.064 70.639 0.142 14.164
12 very soft, clay 1.49 3 144
13 very soft, clay σ7 8.824 0.113 1.084 3.481 6.961 69.612 0.110 10.963
14 soft, clay 1.54 6 288
15 soft, clay