Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara kepulauan. Disamping itu, Indonesia juga termasuk
negara yang beriklim tropis. Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim
penghujan dan musim kemarau. WHO (World Health Organization) juga
menyatakan, jika angka kebutaan lebih dari 1 persen maka masalah ini menjadi
masalah sosial. Indra penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya
peningkatan kualitas sumber daya manusia, karena mata merupakan jalur
informasi utama. Penyakit katarak banyak terjadi di negara-negara tropis seperti
Indonesia. Hal ini berkaitan dengan faktor penyebab katarak, yakni sinar
ultraviolet yang berasal dari sinar matahari. Penyebab lainnya adalah kekurangan
gizi yang dapat mempercepat proses berkembangnya penyakit katarak,
masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menderita katarak lebih cepat 15
tahun dibandingkan masyarakat yang tinggal di daerah subtropis.
Kementrian kesehatan (KEMENKES) telah mengembangkan strategi untuk
mengatasi masalah kebutaan yang dituangkan dalam Kepmenkes no.1473/2005
tentang rencana strategi nasional penanggulangan gangguan penglihatan dan
kebutaan (Renstranas PGPK) untuk mencapai Visi 2020. Salah satu isi dari
Renstranas PGPK yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI (DEPKES
RI) itu adalah dalam bidang research & development, diharapkan dapat
melakukan pengembangan model atau prototype yang tepat, guna menunjang
pelayanan kesehatan mata. Salah satu pemeriksaan yang sangat penting untuk
mendeteksi penyakit mata dapat digunakan dengan slit lamp. Slit lamp adalah alat
untuk mendiagnosa penyakit mata. Alat ini lebih dapat memeriksa dan mendeteksi
berbagai jenis penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan seumur hidup.
Penyakit mata yang menyebabkan hal tersebut biasanya adalah katarak,
strabismus, dan juga glaukoma, dan beberapa penyakit mata lainnya.1,2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Dasar


Mata merupakan alat indra pada manusia yang akan menyesuaikan jumlah
cahaya yang masuk. Memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh, serta
menghasilkan gambaran yang akan dihantarkan ke otak. Bola mata terbagi
menjadi 2 bagian yang masing-masing terisi oleh cairan :2
a. Segmen Anterior
Dimulai dari kornea hingga lensa dan berisi humor aqueus. Segmen
anterior terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu bilik anterior mulai dari
kornea hingga iris dan bilik posterior mulai dari iris hingga lensa.
b. Segmen Posterior
Dimulai dari tepi lensa bagian belakang hingga ke retina dan berisi
humor vitreous yang akan menjaga bentuk bola mata.
Mata juga mempunya otot, saraf, dan pembuluh darah. Otot berfungsi untuk
menggerakkan mata dimana setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu.
Saraf lainnya yang terdapat di mata yaitu :2
a. Saraf optikus yang akan membawa rangsangan dari retina ke otak.
b. Saraf lakrimalis yang akan merangsang pembentukan air mata oleh
kelenjar air mata.

Gambar 2.1 Anatomi Mata Manusia

2
2.2. Definisi
Slit lamp atau lampu celah adalah alat yang digunakan untuk mendiagnosa
mata dengan menggabungkan fungsi mikroskop dan sumber pencahayaan melalui
suatu sistem mekanik optic. Slit lamp atau lampu celah terdiri dari sumber cahaya
intensitas tinggi yang dapat difokuskan untuk memberikan lembaran tipis cahaya
ke bola mata. Slit lamp menggunakan dan memanfaatkan sifat-sifat optik dan
sifat-sifat cahaya seperti halnya pada mikroskop. Hasil yang diperoleh dari
pemeriksaan slit lamp ini tergantung kepada bagian optik yang terdiri dari lensa
okuler (eyepiece), lensa objektif, pencahayaan pada objek yang diperiksa, dan
filter cahaya. Jenis sistem optik terdiri dari :3

a. Monocular yaitu sistem optik yang menggunakan 1 (satu) piece atau


satu lensa okuler.
b. Binocular yaitu sistem optic yang menggunakan 2 (dua) eyepiece
yang dikombinasikan menjadi satu fokus pandangan

Gambar 2.2 Slit Lamp


2.3. Sejarah
Orang  pertama yang memberikan kontribusinya dalam perkembangan slit
lamp adalah  Hermann Von Helmholtz (1850) ketika ia menemukan
optalmoscope.
Dalam optalmologi dan optometri , "slit lamp" istilah yang paling sering disebut
namun akan lebih tepat untuk menyebutnya "lampu celah instrumen".  Instrumen

3
ini merupakan kombinasi dari dua perkembangan terpisah di instrumen. Dua
perkembangan adalah mikroskop kornea dan bahwa dari Slit lamp itu sendiri.
Meskipun Slit lamp adalah kombinasi dari dua perkembangan, konsep pertama
dari slit lamp pada tahun 1911 oleh ke Alvar Gullstrand dan "besar refleksi bebas
optalmoskop." Instrumen yang telah diproduksi oleh perusahaan Zeiss dan terdiri
dari iluminator khusus yang dihubungkan oleh basis berdiri kecil melalui kolom
disesuaikan vertikal. Dasar ini mampu bergerak bebas di piring kaca. Iluminator
ini menggunakan Nernst Glower yang kemudian diubah menjadi celah melalui
sistem optik sederhana. Namun, instrumen pernah menerima banyak perhatian dan
"slit lamp" Istilah tidak muncul dalam literatur lagi sampai 1914. Tidak sampai
1919 bahwa beberapa perbaikan dilakukan untuk lampu celah Gullstrand dibuat
oleh Vogt Henker. Pertama, koneksi mekanik dibuat antara lampu dan
optalmoscopic lensa. Unit penerangan dipasang ke kolom meja dengan lengan
diartikulasikan ganda. Mikroskop binokular didukung pada berdiri kecil dan dapat
bergerak bebas di meja. Kemudian, tahap geser silang digunakan untuk tujuan ini.
Vogt diperkenalkan Koehler iluminasi , dan bersinar kemerahan Nernst
Glower diganti dengan lebih cerah dan lebih putih Lampu pijar.  Dalam perhatian
khusus harus diberikan pada percobaan yang diikuti perbaikan Henker di 1919.
Pada perbaikan nya lampu Nitra diganti dengan busur karbon lampu dengan filter
cair. Pada saat ini sangat penting suhu warna dan pencahayaan dari sumber cahaya
untuk pemeriksaan lampu celah yang diakui dan dasar dibuat untuk pemeriksaan
dalam warna merah bebas cahaya.4
Pada tahun 1926, instrumen lampu celah didesain ulang. Susunan vertikal dari
celah proyektor (lampu celah) membuatnya mudah untuk menangani instrumen.
Untuk pertama kalinya, sumbu melalui mata pasien itu tetap pada sumbu berputar
umum. Ini adalah prinsip dasar yang diadopsi untuk setiap instrumen lampu celah
dikembangkan. Pembatasan A masih dengan instrumen ini itu tidak memiliki
koordinat lintas-slide tahap untuk penyesuaian instrumen tetapi hanya lateral
disesuaikan dengan dagu  pasien. Pentingnya pencahayaan fokus belum
sepenuhnya diakui.

4
Pada tahun 1927, Camera stereo dikembangkan dan ditambahkan ke Slit
lamp  untuk melanjutkan penggunaan dan aplikasi. Pada 1930, seorang pria
bernama Rudolf Theil disajikan pengembangan lebih lanjut dari lampu celah
didorong oleh sebuah perusahaan bernama Goldmann. Horisontal dan vertikal
koordinasi penyesuaian dilakukan dengan tiga elemen kontrol di panggung lintas
slide. Sumbu putar umum untuk mikroskop dan sistem pencahayaan yang
terhubung ke tahap lintas slide, yang memungkinkan untuk dibawa ke setiap
bagian dari mata diperiksa. Sebuah perbaikan lebih lanjut dibuat pada tahun 1938.
Sebuah tuas kontrol atau joystik digunakan untuk pertama kalinya untuk
memungkinkan pergerakan horisontal.4
Setelah perang dunia II slit lamp ditingkatkan lagi. Pada perbaikan tertentu
proyektor slit lamp dapat berputar terus menerus di depan mikroscope. Ini
kemudian ditingkatkan lagi pada tahun 1950. Pada tahun 1950, sebuah perusahaan
bernama Littmann mendesain ulang lampu celah lagi. Mereka mengadopsi kontrol
joystick dari instrumen Goldmann dan jalur hadir penerangan dalam instrumen
Comberg. Selain itu Littmann menambahkan sistem teleskop stereo dengan
perbesaran changer tujuan bersama.4
Pada tahun 1965, Lampu Model 100/16 Celah diproduksi berdasarkan slit
lamp oleh Littmann. Ini segera diikuti oleh model 125/16 Lampu Celah pada
tahun 1972. Satu-satunya perbedaan antara kedua model adalah operasi mereka
dari jarak 100   mm sampai 125   mm. Dengan diperkenalkannya lampu celah foto
kemajuan lebih lanjut adalah mungkin. Pada tahun 1976, pengembangan Lampu
110 Model Celah dan Lampu Photo 210/211 Celah adalah sebuah inovasi dimana
masing-masing dibangun dari modul standar yang memungkinkan untuk berbagai
konfigurasi yang berbeda. Pada saat yang sama, lampu halogen digantikan sistem
pencahayaan lama untuk membuat mereka lebih cerah dan pada dasarnya kualitas
siang hari. Dari 1994 dan seterusnya, lampu celah baru diperkenalkan yang
mengambil keuntungan dari teknologi baru. Perkembangan besar terakhir adalah
pada tahun 1996 di yang termasuk keuntungan dari optik lampu celah baru.

2.4. Fungsi

5
Slit lamp digunakan untuk indikasi :
 Pemeriksaan mata rutin
 Mengamati struktur anterior anatomi mata termasuk didalamnya
lensa kristalin dan anterior vitreous body
 Memonitor ada atau tidaknya glaukoma
 Mengetahui adanya benda asing pada mata
 Memonitor adanya komplikasi pada pasien post operasi mata
 Mengetahui keadaan segmen anterior
 Mengetahui defek kornea
 Mengetahui lubang/fistula pada kornea
 Mengetahui kedalaman sudut bilik mata depan5

2.5. Bagian Alat


Tiga komponen utama slit lamp adalah :
a. Sistem Pengamatan (Mikroskop)
Terdiri dari lensa mikroskop dan lensa pembesaran
b. Sistem Iluminasi (Slit Lamp)
Terdiri dari :
1) Slit atau celah yang dapat diatur lebar dan posisinya

Gambar 2.3 Pemilihan celah di Slit Lamp

2) Lampu sebagai light source


c. Sistem Mekanik
Berfungsi untuk melakukan pengaturan :
1) Posisi pasien
2) Penyesuaian untuk pengamatan user dan pasien

6
3) Penyesuaian sistem pengamatan dan iluminasi
4) Merupakan bagian hardware

Gambar 2.4 Bagian - Bagian Slit Lamp

2.6. Prinsip Kerja


Slit lamp bekerja dengan menggunakan tiga sistem utama yaitu mikroskop
untuk melakukan sistem perbesaran yang terdiri dari lensa objektif dan lensa
okuler, iluminasi yaitu sistem pencahayaan untuk memberikan cahaya ke mata

7
yang akan diperiksa, serta sistem mekanik yang digunakan untuk menggerakkan
meja alat untuk mendapatkan posisi yang sesuai antara user dan pasien. 5

2.7. Blok Diagram

Gambar 2.5 Blok Diagram Slit Lamp


a. Power Supply berfungsi untuk memberikan supply tegangan yang
dibutuhkan oleh alat. Pada rangkaian power supply, tegangan yang
diberikan dari PLN akan diturunkan oleh trafo step down menjadi
tegangan yang lebih rendah untuk didistribusikan ke blok lainnya.
b. Light Source adalah bagian yang merubah energi listrik menjadi
energi cahaya melalui lampu tungsten. Tegangan yang digunakan
adaalah 6 volt dan daya 27 watt.
c. Filter berfungsi untuk melakukan proses filterisasi atau penyaringan
cahaya yang akan diteruskan ke mata pastien
Tipe-tipe filter yaitu :
1) No filter
2) Heat-absorption filter
3) ND filter
4) Green-colored/red-free filter
5) Blue filter

8
d. Condenser berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang telah melalui
tahap filterisasi. Condenser ini terdiri dari lensa dan diafragma.
e. Mirror berfungsi untuk melalukan refleksi atau pemantulan cahaya
yang berasal dari light source menuju mata pasien.
f. Objek adalah bagian yang akan diperiksa yaitu mata pasien.
g. Lensa objektif dan lensa okuler berfungsi untuk memperbesar
bayangan objek yang dilihat.
h. Prisma berfungsi untuk membiaskan cahaya sehingga diperoleh
panjang gelombang tertentu. Prisma sangat berpengaruh terhadap
kejelasan bayangan objek, sedikit saja terjadi pergerakan atau
geseran akan mempengaruhi bayangan objek dan dapat
menyebabkan objek terlihat buram.
i. Motor hidrolik berfungsi sebagai penggerak naik turunnya meja agar
memudahkan user untuk menentukan tinggi rendahnya pasien pada
saat pemeriksaan.3

2.8. Cara Kerja Blok Diagram


a. Slit lamp akan mendapatkan tegangan PLN sebesar 220 volt.
Tegangan ini akan diturunkan melalui trafo step down untuk
mendapatkan tegangan yang lebih rendah yang akan didistribusikan
ke bagian alat lainnya.
b. Tegangan sebesar 6 volt akan di supply ke lampu tungsten dengan
daya 27 watt, cahaya yang dihasilkan oleh lampu tungsten akan
diteruskan ke blok filter.
c. Light source yang menghasilkan cahaya akan mengalami
penyaringan/filter sehingga diperoleh cahaya dengan panjang
gelombang tertentu.
d. Setelah cahaya mengalami filterisasi, cahaya tersebut akan
dikumpulkan dan difokuskan oleh condenser, lalu cahaya tadi akan
di mirror atau dipantulkan oleh cermin ke objek/mata pasien.

9
e. Cahaya yang telah mengenai objek sebagian ada yang diserap da
nada pula yang dipantulkan, cahaya yang dipantulkan oleh objek
akan membawa bayangan objek dan diteruskan ke lensa objektif.
f. Setelah melewati lensa objektif, cahaya akan diteruskan ke prisma
untuk membiaskan atau memantulkan cahaya sehingga akan
diperoleh bayangan objek yang jelas. 5
g. Cahaya akan menuju lensa okuler untuk mengalami perbesaran
bayangan. Cahaya yang telah mengalami perbesaran akan jatuh pada
mata operator yaitu bayangan yang diperbesar dan tidak terbalik
sehingga operator bisa menganalisa keadaan mata pasien.

2.9. Standar Prosedur Operasional6


2.9.1 Persiapan Awal
1) Fokuskan lensa mikroskop
2) Sesuaikan sandaran kepala pasien dengan posisi user
3) Tempatkan target fiksasi
4) Redupkan lampu ruangan
2.9.2 Pengoperasian
1) Nyalakan alat dengan menekan tombol power ON.
2) Atur fokus dan inter Pupil Distance (PD) dari tiap lensa okuler
sesuai dengan ukuran mata user.
a) Untuk gerakan horizontal, tahan tuas kontrol dalam posisi
tegak dan akan menggerakkan base.
b) Untuk menaikkan putar tuas kontrol searah jarum jam dan
untuk menurunkannya putar berlawanan arah jarum jam.
c) Kencangkan dengan mengunci tombol.

10
Gambar 2.6 Pengaturan Jarak dan Fokus

d) Atur jarak antar pupil user (PD) dengan memutar diopter


adjusting ring sehingga objek terlihat utuh.

Gambar 2.7 Pengaturan Lebar Jarak Antar Mata

3) Atur tombol intensitas sinar sesuai dengan cara memutar knop


sesuai dengan cahaya yang diinginkan.

Gambar 2.8 Pengaturan Intensitas Cahaya

11
4) Atur lebar dan posisi sinar lampu slit lamp diatur sesuai
kebutuhan dengan memutar knop kontrol lebar celah sebesar 0
hingga 14 mm.

Gambar 2.9 Pengaturan Lebar Bukaan Celah/Slit


5) Pasien dipersilahkan duduk, tempatkan dagu pasien di chin rest
dan dahi pasien menempel pada head rest.

Gambar 2.10 Chin Rest dan Forehead Rest Pasien

6) Perintahkan kepada pasien untuk melihat ke arah fixation target


agar mata pasien fokus ke satu arah.

12
Gambar 2.11 Fixation Target Unit
7) Posisi mata pemeriksa dan pasien diatur agar sejajar, yaitu
dengan cara mengatur chin rest elevation control atau dengan
memutar joy stick.
8) Sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan, maka untuk mendapatkan
posisi lurus atau penyinaran serong dan fokus yang tajam, maka
user dapat mengaturnya dengan memainkan sumber cahaya slit
lamp ke kiri atau ke kanan dan memainkan joy stick ke depan dan
ke belakang.

2.10. Pemeriksaan Bilik Mata Depan


2.10.1. Alat:
 Slitlamp
 Kursi untuk duduk pasien (bila pasien duduk)
2.10.2. Tehnik pemeriksaan:
1. Pasien/probandus berada pada posisi diperiksa (duduk/berdiri sesuai keadaan)
dengan dagu pada chinrest dan dahi pada forehead band
2. Nyalakan slitlamp dengan cahaya putih dengan intensitas cahaya mulai dari
yang terendah
3. Periksa keadaan:
a. Palpebra: bagaimanakah warnanya, adakah lesi/deformitas,
bagaimanakah muara kelenjar pada tepi palpebra
b. Silia: Bagaimanakah arah silia, adakah trichiasis atau distichiasis.
Adakah benda asing. Normal: terdiri 3 lapis, melekuk kearah luar bola
mata
c. Konjungtiva ( konjungtiva palpebra, konjungtiva forniks, dan
konjungtiva bulbi):
d. Lihat dengan cahaya utuh (bundar) dan slit. Nilailah bentuk, warna,
dan keutuhannya. Warna, adakah papill/folikel, adakah lesi, adakah

13
laserasi, adakah injeksi (warna, bentuk, dan arah injeksi), adakah
secret (warna secret, konsistesi secret), adakah edema/perdarahan,
adakah massa dan deformitas. Normal: jernih, ada pembuluh darah
dari perifer, tak tampak pembesaran papill ataupun folikel. Membalik
kelopak mata untuk mengetahui keadaan konjungtivanya.6
e. Kornea
Lihat dengan cahaya utuh (bundar) dan slit. Nilailah ukuran, bentuk,
kejernihan dan keutuhannya. Adakah lesi, massa, neovaskularisasi,
keratic precipitate atau benda asing. Bila curiga ada defek kornea
(contoh:, erosi, infiltrate) atau adanya fistula lakukan pemeriksaan
selanjutnya dengan menggunakan tetes mata fluorescein. Normal:
jernih, tidak tercat oleh zat warna fluoresin. 6
f. Sklera
Menilai warna, konsistensinya (keras atau lembek ; bila lembek curiga
ada perforasi), dan keutuhannya (adakah laserasi/perforasi). Normal:
tampak putih tak tampak pembuluh darah.
g. Bilik mata depan
Menilai kejernihan (adakah darah, flare/produk radang) dan
kedalamannya. Normal: jernih kedalaman cukup
h. Iris
Menilai kripte, keutuhan (adakah robekan atau lubang), sinekia,
massa, dan neovaskularisasi. Normal: ada kripte, tak ada robekan, tak
ada massa, tak tampak pembuluh darah.
i. Pupil
Menilai bentuk, ukuran, dan refleknya
j. Lensa
Menilai ada tidaknya lensa, bentuk, posisi, dan kejernihannya.
Nilailah dengan cahaya utuh (bundar) atau slit. Normal terlihat jernih
(gelap), tak ada pergerakan
k. Badan kaca

14
Menilai dengan cahaya slit. Normal: jernih, terlihat gelap tak ada
pergerakan. 6

2.11. Pemeriksaan Defek Kornea


2.11.1 Dasar
Zat warna fluoresin akan berubah menjadi warna hijau pada media alkali. Zat
warna fluoresin bila menempel pada epitel kornea yang defek/luka akan menjadi
hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa
2.11.2 Alat:
o Zat warna fluresin 0,5 – 2% (dapat berupa tetes mata atau kertas
fluoresin).
o Aqua steril atau larutan garam fisiologik
o Spuit 5 cc tanpa jarum
o Tissue
o Slit lamp (Terlihat lebih jelas dengan pembesaran dengan menggunakan
slit lamp)
o Kursi untuk duduk pasien (bila pasien duduk)

2.11.3 Tehnik Pemeriksaan:


a. Zat warna fluoresin diteteskan (bila berupa tetes mata) pada mata atau
kertas fluoresin diselipkan di forniks inferior. Diamkan selama 20 detik
b. Bilas zat warna dengan mengirigasi permukaan mata dengan
menggunakan aqua steril atau larutan garam fisiologik sampai seluruh air
mata tidak terwarnai hijau lagi
c. Lihat defek akan berwarna hijau. Terlihat jelas dengan pembesaran
memakai slit lamp memakai cahaya biru,
d. Nilailah defek pada kornea. Defek kornea akan tercat hijau:
 Pada erosi warna hijau tampak cemerlang dan belum terlihat
infiltrate.
 Pada keratitis tampak infiltrate dengan warna hijau redup/tidak cerah
dengan batas tidak tegas.

15
 Pada ulkus kornea tampak infiltrate disertai jaringan nekrotik. 6

2.12. Pemeriksaan Kebocoran Kornea


2.12.1 Tujuan
Untuk mengetahui adanya fistel atau kebocoran kornea maka dilakukan uji
fistel/tes fistel
2.12.2 Alat
o Zat warna fluresin 0,5 – 2% (dapat berupa tetes mata atau kertas
fluoresin).
o Tissue
o Slit lamp (Terlihat lebih jelas dengan pembesaran dengan menggunakan
slit lamp)
o Kursi untuk duduk pasien (bila pasien duduk)

2.12.3 Tehnik Pemeriksaan:


a. Zat warna fluoresin diteteskan (bila berupa tetes mata) pada mata atau
kertas fluoresin diselipkan di forniks inferior selama 30 detik
b. Jangan dibilas.
c. Bola mata tidak boleh ditekan.
d. Pasien diminta jangan berkedip.
e. Perhatikan warna fluoresin akan tampak mengalir pada fistel. Lihat dengan
cahaya biru.
f. Nilailah: Fistel poitif (ada fistel) Bila tampak warna hijau cerah mengalir
maka hal ini menunjukkan adanya fistel pada defek tersebut. Lambat laun
di tempat kebocoran/ fistel warna hijau tersapu oleh humor akuos dan
menjadi jernih dengan daerah sekelilingnya defek berwarna hijau

2.13. Pemeriksaan Kedalaman Bilik Mata Depan


2.13.1 Teknik Pemeriksaan Van Heirick

16
Teknik Van Herick adalah metode pemeriksaan mata yang digunakan untuk
menentukan ukuran sudut ruang anterior mata. Glaukoma saat ini merupakan
penyebab utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan di dunia.  Oleh karena
itu, teknik Van Herick berkaitan dengan kepentingan semua praktisi perawatan
mata karena memungkinkan untuk alternatif skrining cepat dan sederhana untuk
pemeriksaan Gonioscopy konvensional. Namun, ini seharusnya tidak digunakan
sebagai pengganti untuk pemeriksaan gonioskopi tetapi digunakan sebagai cara
untuk menyangkal atau mengkonfirmasi hasil dari pemeriksaan gonioskopi.7
Teknik Van Herick telah menjadi metode kualitatif yang paling umum
digunakan untuk menilai sudut kamera okuli anterior dengan membandingkan
kedalaman ruang anterior perifer dengan ketebalan kornea , ketika sinar sempit
bersinar di dalam limbus pada sudut 60 °. Sudut drainase ruang anterior kemudian
dinilai sebagai rasio antara kedalaman ruang anterior perifer dan ketebalan kornea
(rasio AC: C) atau dinyatakan sebagai fraksi untuk memberikan hasil Van
Herick. Grading juga dapat diperoleh dengan membedakan struktur yang terlihat
setelah pengamatan.8
2.13.2 Langkah Pemeriksaan Van Heirick9
a. Persiapkan pasien dan peralatan
b. Sinar slit lamp diarahakan pada kornea tegak lurus di aerah limbus.
Gunakan cahaya slit.
c. Arahkan 60 derajat terhadap kornea yang disinari.
d. Nilailah kedalaman sudut
e. Penilaian:
o Sudut derajat 4: kedalaman BMD = tebal kornea
o Sudut derajat 3: kedalaman BMD = ¼ - ½ ketebalan kornea
o Sudut derajat 2: kedalaman BMD = ¼ ketebalan kornea
o Sudut derajat 1: kedalaman BMD < ¼ ketebalan kornea
o Sudut tertutup: sudut bilik mata depan tidak tampak

17
BAB III
KESIMPULAN

Slit lamp (Lampu celah) adalah instrumen yang terdiri dari sumber cahaya
intensitas tinggi yang dapat difokuskan untuk bersinar menjadi lembaran tipis dari
cahaya ke mata. Slit lamp digunakan dalam hubungannya dengan biomicroscope.
Dengan slit lamp dapat memfasilitasi pemeriksaan segmen anterior, atau struktur
frontal dan segmen posterior, dari mata manusia, yang meliputi kelopak mata,
sklera, konjungtiva, iris, lensa kristal alami, dan kornea. Pemeriksaan celah-lampu
teropong memberikan pandangan diperbesar stereoskopik dari struktur mata
secara rinci, memungkinkan diagnosis anatomi harus dibuat untuk berbagai
kondisi mata.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, D. Opthalmologi umum. Jakarta : Widya Medika, 2010.


2. Nana, W. Ilmu penyakit mata edisi ke enam. Jakarta : 1993.
3. Painter, R. Slit lamp photography: The basics. Journal of Visual
Communication in Medicine, 38(1-2); 2015. p. 119–123.
4. Clover, J. Slit-lamp biomicroscopy; 2018.
5. M.U.T. Slit lamp microscopy (biomicroscopy) in ophthalmology. American
Journal of Ophthalmology, 8(12), 975–977; 2012.
6. Arines, J., & Gargallo, A. Slit-lamp management in contact lenses laboratory
classes: learning upgrade with monitor visualization of webcam video
recordings. 12th Education and Training; 2014.

19
7. Shiba, B. S, Taree. Evaluation of the van herick technique for screening for
occludable angles in an African population. Research Gate; 2013.
8. J. Ahmad, L, Mohamed. Interobserver reliability when using the Van Herick
method to measure anterior chamber depth. Oman Journal of Opthalmology;
2017.
9. Johnson, T. V., Ramulu, P. Y., Quigley, H. A., & Singman, E. L. Low
sensitivity of the van Herick method for detecting gonioscopic angle closure
independent of observer expertise. American Journal of Ophthalmology; 2018.

20