Anda di halaman 1dari 20

CRITICAL JURNAL

REVIEW

MK BAHASA INGGRIS

SKOR NILAI :

Penentuan Pola Kalimat bahasa Inggris Pada Simple Present Tense Menggunakan Metode
Bottom Up Parsing
(Budanis Dwi Meilani, Muhammad Nasir)

DISUSUN OLEH
NAMA : FAHMI HIDAYAT
NIM : 119311101
DOSEN PENGAMPU : Dra. Eva Betty Simanjuntak , S.Pd,M.Pd
MATA KULIAH : BAHASA INGGRIS

PROGRAM STUDI S1 PGSD


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN – UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
APRIL 2020

0
KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa,
sebab telah memberikan rahmat dan karuniaNya serta kesehatan kepada saya, sehingga
mampu menyelesaikan tugas “CRITICAL BOOK REVIEW” .Tugas ini dibuat untuk
memenuhi salah satu mata kuliah saya yaitu “BAHASA INGGRIS”.

Tugas critical book review ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua khususnya dalam hal perkembangan metode
pembelejaran peserta didik. Saya menyadari bahwa tugas critical book review ini masih
jauh dari kesempurnaan, apabilah dalam tugas ini terdapat banyak kekurangandan
kesalahan, saya mohon maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman saya
masih terbatas , karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya yang belum seberapa.

Penulisan pengantar ini telah membuat saya sangat menyadari keterbatasan


pengetahuan saya sendiri mengenai budaya luar,dan memunculkan ketegangan atas
perbedaan budaya dan bahasa di tempat kita dilahirkan yang menjadi cakrawala dan
batas pemikirann dan praktik kebanyakan orang. Populasi besar dunia-Cina, India,
Amerika Latin, dan seterusnya –yang menggunakan bahasa yang berbeda dari saya dan
hidup dalam keanekaragaman agama yang tidak saya mengerti sejak lama di luar
wilayah “Bahasa Inggris”.

Medan, April 2020

Fahmi Hidayat

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CJR

Sering kali kita bingung memilih jurnal referensi untuk kita baca dan pahami.
Terkadang kita memilih satu buku,namun kurang memuaskan hati kita. Misalnya dari
segi informasi yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itu, penulis membuat Critical Journal Review ini untuk
mempermudah pembaca dalam memilih buku referensi.Selain itu, salah satu faktor yang
melatarbelakangi penulis mereview buku ini adalah agar kita bisa berpikir kritis dan
mengetahui kelebihan dan kekurangan dari sebuah buku.

B. Tujuan Penulisan CJR

Critical Journal Review ini bertujuan :


a. Mengulas isi sebuah buku.
b. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
c. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap
bab dari buku.

C. Manfaat CJR
a. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran
b. Untuk menambah pengetahuan para pembaca
c. Memudahkan pembaca dalam memahami isi dari buku
d. Menambah wawasan penulis
e. Melatih penulis berpikir kritik

D. Identitas Jurnal Utama/ Pembanding dan jurnal riview


NO. Identitas Jurnal Utama Jurnal Pembanding 1
Jurnal

iii
1. Judul Jurnal Penentuan Pola Kalimat Bahasa Model Pembelajaran Tenses
Inggris Pada Simple Present Tense Menggunakan Rumus Mathematic
Menggunakan Metode Bottom Up English (MatEng).
Parsing .
2. Nama Jurnal Integer Journal Jurnal Bahasa (e-Journal)

3. Pengarang Budanis Dwi Meilani1, Muhamad Muhammad Shofiyuddin


Nasir
4. Penerbit Institut Teknologi Adhi Tama AL-Lisan
Surabaya
5. Kota Terbit Surabaya Gorontalo
6. Nomor ISSN - ISSN 2442-8965 (P)
ISSN 2442-8973 (E)
7. Alamat Situs - muhshofiyuddin@unisnu.ac.id
santi@unisnu.ac.i
8. Volume 01 05

BAB II
ISI JURNAL
A. PENDAHULUAN

iv
Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling banyak dipakai di berbagai
negara di dunia. Bahasa inggris terdiri dari beberapa aturan grammar. Setiap
grammar memiliki seperangkat struktural yang mengatur komposisi klausa, frase,
dan kata – kata dalam bahasa alami. Grammar terdapat 16 bentuk tenses dalam Bahasa
Inggris salah satunya adalah Simple present tense. Simple present tense merupakan
jenis tenses yang pertama sekaligus yang paling dasar dan digunakan untuk
menggambarkan suatu tindakan ya ng teratur atau rutin dikerjakan. Kebanyakan
siswa SMP mengalami kesulitan untuk menentukan pola grammar pada tenses
terutama simple present tense. pada penelitian ini dibahas sebuah aplikasi penentuan
pola kalimat Bahasa Inggris pada Simple Present Tense Menggunakan Metode
Bottom Up Parsing. Metode ini adalah salah satu metode Parsing yang digunakan
untuk penguraian kalimat. Kalimat diuraikan dan di terjemahkan dalam bentuk pola.
Pola yang di bangun bersifat rule-base dan mengimplementasikan Context Free
Grammar (CFG). Dari pengujian 110 kali inputan yang telah dilakukan, penggunaan
metode Bottom Up Parsing dalam menentukan pola sebuah kalimat didapat keakuratan
data sebesar 88,1 %. Dalam hal ini dikarenakan sistem belum bisa mendeteksi nama
orang pada kalimat introgative yang terletak pada jabatan subjek yang terletak pada
kata kedua.

B. DESKRIPSI ISI
Pengertian IPS
Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling banyak dipakai di berbagai
negara di dunia, bahasa inggris sudah dianggap sebagai bahasa resmi untuk dipakai di
dunia internasonal. Bahasa inggris terdiri dari beberapa aturan grammar. Grammar
merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara penyusunan kata yang memiliki wujud
tertentu menjadi sebuah kalimat yang tepat. Grammar ialah seperangkat aturan
struktural yang mengatur komposisi klausa, frase dan kata-kata dalam bahasa alami.
Grammar terdapat 16 bentuk tenses dalam bahasa Inggris salah satunya adalah
Simple present tense. Simple present tense merupakan jenis tenses yang pertama
sekaligus yang paling dasar sebelum selanjutnya mempelajari dari ke-15 tenses
yang ada dalam bahasa Inggris. Simple present tense dalam bahasa Inggris

v
digunakan untuk menggambarkan suatu tindakan yang teratur atau rutin dikerjakan.
Kebanyakan bahwa siswa sekolah menengah pertama (SMP) atau peserta lembaga
pelatihan bahasa inggris mengalami kesulitan untuk menentukan pola grammar
terutama kalimat tenses salah satunya yaitu simple present tense. Penerapan Context
Free Grammar (CFG) pada Aplikasi grammar Bahasa Inggris dengan Menggunakan
Metode Parsing Bottom Up diharap dapat membantu penulis agar dapat mengetahui
dan memahami bagaimana kalimat yang baik dan benar sesuai dengan unsur pola
grammar yang tepat. Untuk membuat aplikasi ini diperlukan suatu metode, penulis
menggunakan metode “Bottom Up Parsing” untuk menguraikan setiap kata dalam
kalimat Bahasa Inggris. Parsing Bottom Up adalah membangun pohon sintaks
melalui urutan simbol yang direduksi, atau dimulai dengan sebuah string hingga
mencapai simbol start Grammar. Metode Parsing Bottom Up ini berfungsi untuk
memecah perkata dari sebuah kalimat Bahasa Inggris agar kalimat mudah untuk dicari
pola kalimatnya.

HASIL
1) Aplikasi Penentuan Pola Kalimat Bahasa Inggris Simple Present Tense ini
berhasil dirancang sehingga dapat membantu user dalam mengetahui pola pada sebuah
kalimat bahasa Inggris tersebut dengan menggunakan pendekatan Context Free
Grammar berdasarkan metode Bottom Up Parsing.
2) Keakuratan data yang didapat metode ini dari 110 kali inputan data yaitu 88,1 %.
3) Ketidakakuratan hasil dikarenakan.
a) Belum bisa mendeteksi kata keterangan (adverb).
b) Belum bisa mendeteksi kata adjective setelah kata verb.
c) Sistem belum bisa mendeteksi nama orang pada kalimat.

BAB III
PEMBAHASAN/ANALISIS

A. PEMBAHASAN ISI JURNAL

vi
Jurnal Utama Jurnal Pembanding
Tujuan Parsing adalah proses menentukan apakah Agar mampu menjadi seorang guru bahasa
sekumpulan string yang dibuat di token dapat
Penelitian Inggris yang professional, mahasiswa perlu
dibuat oleh sebuah Grammar. Parser ini
nantinya diharapkan dapat mengirimkan dibekali kemampuan berkomunikasi lisan
kesalahan yang terdapat dalam sintaks bahasa
maupun tulisan yang baik. Komunikasi lisan dan
tersebut serta mengecek apakah sebuah kalimat
tersebut benar sesuai Grammar atau tidak. Ada tulisan dalam bahasa membutuhkan pemahaman
tiga parser yang biasa digunakan untuk sebuah
terhadap pemahaman struktur atau tata bahasa
Grammar yaitu Top Down Parsing, Bottom Up
Parsing, serta gabungan dari keduanya Left yang baik dan benar. Oleh karena itu, prodi PBI
Corner Parsing. Left Corner Parsing pertama kali
di setiap perguruan tinggi umumnya
dikemukakan oleh Rosenkrantz dan Lewis II
pada tahun 1970. LC (Left Corner) parsing mewajibkan mahasiswa menempuh mata kuliah
merupakan strategi yang menggunakan data
structure (tata bahasa) yang terdiri dari basic
secara bottom up parsing dan prediksi dari top
down parsing (Fachry Khusaini, 2011). Dalam structure, intermediate structure, dan advanced
bottom up parsing, pembentukan parse tree
structure. Semua mata kuliah tersebut ditempuh
dimulai dari bawah ke atas. Proses
penguraian dimulai dari terminal simbol pada oleh mahasiswa dimulai dari semester 1 hingga
suatu CFG. Aturan CFG ditransformasikan dari
4. Pentingnya penguasaan tenses atau tata
bagian kiri production rule hingga akhirnya
mencapai start simbol. Pada setiap langkah bahasa Inggris bagi mahasiswa PBI
reduksi suatu substring yang sesuai dengan sisi
sebagaimana diutarakan oleh Penny dalam
kanan suatu produksi diganti dengan simbol
yang berada di kanan produksi itu, langkah ini Chang (2010: 13) bahwa grammar adalah
disebut derivasi right most.
seperangkat aturan yang menentukan bagaimana
kata (atau bagian dari kata) digabungkan atau
diubah untuk membentuk unit makna yang
dapat diterima dalam suatu bahasa. Sirod dalam
Falah (2011: 10) juga menyatakan bahwa
kompetensi gramatikal adalah konsep payung
yang mencakup peningkatan keahlian dalam tata
bahasa (morfologi dan sintaks), kosakata, dan
pola. Untuk menyampaikan makna, peserta
harus memiliki pengetahuan tentang kata-kata
dan kalimat. sehingga penguasaan bahasa
Inggris tidak dapat dikuasai dengan baik tanpa
adanya tata bahasa khususnya tenses.

vii
Subjek Siswa sekolah menengah pertama (SMP) atau Mahasiswa PBI Universitas Muria Kudus
Penelitian peserta lembaga pelatihan bahasa inggris.
Assesment Berikut Analisis hasil input kalimat Setelah proses pembelajaran berakhir, kami
Data 1. Aplikasi grammar akan menerima inputan menyebarkan kuisioner kepada siswa untuk disi
kalimat bahasa inggris. Contoh kalimat "The Hal ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan
Dog Chases The Cat" program. Angket ini berisi 10 pernyataan
2. Selanjutnya kalimat tersebut di parsing tentang konsep , implementasi , serta manfaat
menjadi beberapa kata The Dog Chases The yang dirasaan setelah pembelajaran. Hasilnya
Cat menunjukkan bahwa sebagian besar
3. Di mulai dari langkah yang pertama yakni dari memberikan tanggapan yang sangat baik pada
kata "The" di dalam kelas kata yang telah di keseluruhan item yang tersedia. Berikut hasil
bentuk pada kata "The" terdeteksi sebagai pola olah data dari pengisian kuisioner.
"Article" Dapat disimpulkan bahwa dalam konstruksi
4. Selanjutnya pindah ke kata berikutnya yakni konsep, keberfungsian produk, dan efektifitas
"Dog" di dalam kelas kata yang telah di bentuk mencapai score lebih dari 4, oleh karena itu
pada kata "Dog" terdeteksi sebagai pola "Noun" implementasi model pembelajaran tenses
5. Karena kata "The" dan "Dog" merupakan satu menggunakan rumus mateng (mathematic
kesatuan atau satu rule production kata, maka english) dinyatakan sangat baik.
kata tersebut termasuk rule production pada pola
grammar kata tersebut menjadi “subject”.
The Dog sebagai Subject
6. Selanjutnya setelah pola yang sebelumnya
sudah ditemukan, lanjut lagi ke kata "chases"
karena pada umumnya kata kerja simple present
tense langsung ditambahkan dengan akhiran “–
s” maka dilakukanlah Proses stemming pada
kata "chases", pada proses pengecekan kata
chases, yakni kata dasar dari "chases" adalah
"chase" maka "s" akan di hilangkan menjadi
"chase". Inputan Awal : Chases Hasil Stemming
: Chase

viii
7. Jika pengecekan stemming sudah selesai
"Chase" di dalam kelas kata yang telah di bentuk
pada kata " Chase " terdeteksi sebagai pola "
Verb ".
8. Dilanjutkan ke frasa berikutnya yakni kata
“The” di dalam kelas kata yang telah di bentuk
pada kata "The" terdeteksi sebagai pola
"Article".
9. Selanjutnya pindah ke kata berikutnya yakni
"Cat" di dalam rule production pola grammar
yang telah di bentuk pada fungsi CFG "Cat"
terdeteksi sebagai pola "Noun"
10. Karena kata "The" dan "Cat" adalah satu
kesatuan kata dan terletak di belakang kalimat,
maka termasuklah pada rule production pola
grammar kata tersebut menjadi “Noun”. The Cat
= sebagai noun.
11. Dan sampai yang terakhir yakni simbol dari
start grammar yakni “sentence”.
Metode 1. Flowchart Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, maka
Berikut ini adalah Flowchart yang
penelitian penelitian ini menggunakan metode deskriptif
menggambarkan proses aplikasi secara umum
serta proses proses utama yang akan dilalui oleh kualitatif. Sugiono (2012: 9) menyatakan
aplikasi. Flowchart menggambarkan proses
penelitian kualitatif sebagai metode penelitian
aplikasi secara umum beserta proses-prosesnya.
Pada aplikasi ini proses awal yang dilakukan yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
adalah input kalimat akan di proses dengan
digunakan untuk meneliti pada kondisi objek
Bottom Up parsing yang berfungsi untuk
memecah kalimat menjadi beberapa kata. alamiah. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha
untuk meneliti secara mendalam tentang proses
impelementasi kodel pembelajaran tenses
menggunakan rumus mateng (mathematic
english). Subjek pada penelitian ini adalah
mahasiswa semester 4 Prodi Pendidikan Bahasa

ix
Inggris Universitas Muria Kudus berjumlah 40
mahasiswa. Teknik pengumpulan data pada
penelitian ini menggunakan observasi dan
kuisioner. Obervasi yang digunakan oleh
peneliti adalah observasi langsung. Ini berarti
bahwa peneliti mengamati secara langsung
segala bentuk perilaku dan proses pembelajaran
tenses yang dilaksanakan pada kelas tersebut.
Marshall dalam Sugiono (2010: 310)
menyatakan bahwa “through observation, the
researcher learn about behavior and he meaning
attached to those behavior”. Sedangkan
kuisioner digunakan untuk mengetahui respon
dari subjek penelitian mengenai implementasi
model pembelajaran tenses menggunakan rumus
mateng untuk kemudian hasilnya dideskripsikan
oleh peneliti. Teknik analisis data yang
dilakukan adalah dengan mengorganisasikan
data ke dalam kategori, memilih dan memilah
data yang sesuai dengan tujuan penelitian,
kemudian membuat kesimpulan. Analisis data
dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak
sebelum memasuki lapangan, selama di
lapangan dan setelah selesai di lapangan
(Sugiono: 2009).
Langkah 1. Aplikasi grammar akan menerima inputan Langkah awal penggunaan Rumus Mateng pada
kalimat bahasa inggris. Contoh kalimat "The
Penelitian pembelajaran tenses dimulai dari penguasaan
Dog Chases The Cat"
2. Selanjutnya kalimat tersebut di parsing nama 16 tenses yang dilakukan dengan
menjadi beberapa kata
pendekatan metode jarimatika, yaitu
The Dog Chases The Cat
3. Di mulai dari langkah yang pertama yakni dari menghafalkan nama 16 tenses dengan cara
kata "The" di dalam kelas kata yang telah di
menggabungkan kelompok nama waktu dan
bentuk pada kata "The" terdeteksi sebagai pola

x
"Article" kelompok nama kejadian, masing-masing
4. Selanjutnya pindah ke kata berikutnya yakni
berjumlah empat nama. Kelompok nama waktu
"Dog" di dalam kelas kata yang telah di bentuk
pada kata "Dog" terdeteksi sebagai pola "Noun" dituliskan pada empat jari tangan kiri, dari
5. Karena kata "The" dan "Dog" merupakan satu
telunjuk sampai dengan kelingking. Sedangkan
kesatuan atau satu rule production kata, maka
kata tersebut termasuk rule production pada pola kelompok nama kejadian dtuliskan pada tangan
grammar kata tersebut menjadi “subject”.
kanan pada empat jari tersebut. Berikut gambar
The Dog sebagai Subject
6. Selanjutnya setelah pola yang sebelumnya ilustrasi rumus :
sudah ditemukan, lanjut lagi ke kata "chases"
Waktu + Bentuk Kejadian.
karena pada umumnya kata kerja simple present
tense langsung ditambahkan dengan akhiran “– Penggabungan nama dengan cara penjumlahan
s” maka dilakukanlah Proses stemming pada
sebagaimana penjumlahan pada aritmatika.
kata "chases", pada proses pengecekan kata
chases, yakni kata dasar dari "chases" adalah Contoh: simple (kejadian) + present (waktu) =
"chase" maka "s" akan di hilangkan menjadi
simple present, Past + continuous = Past
"chase". Inputan Awal : Chases Hasil Stemming
: Chase continuous, Future + Prefect = Future perfect,
7. Jika pengecekan stemming sudah selesai
dan seterusnya. Adapun nama urutan
"Chase" di dalam kelas kata yang telah di bentuk
pada kata " Chase " terdeteksi sebagai pola " penggabungan sebagaimana angka yang tertera
Verb ".
pada gambar. Simple memiliki angka satu yang
8. Dilanjutkan ke frasa berikutnya yakni kata
“The” di dalam kelas kata yang telah di bentuk berarti pada penggabungannya, simple akan
pada kata "The" terdeteksi sebagai pola "Article"
selalu berada di depan. Sedangkan continuous,
9. Selanjutnya pindah ke kata berikutnya yakni
"Cat" di dalam rule production pola grammar perfect dan perfect continuous selalu pada
yang telah di bentuk pada fungsi CFG "Cat"
urutan kedua. Pertama, mahasiswa diminta
terdeteksi sebagai pola "Noun"
10. Karena kata "The" dan "Cat" adalah satu untuk mengamati dan memahami materi yang
kesatuan kata dan terletak di belakang kalimat,
disampaikan melalui power point. Setelah
maka termasuklah pada rule production pola
grammar kata tersebut menjadi “Noun”. mereka memahaminya, peneliti meminta mereka
The Cat = sebagai noun
untuk mempraktikkannya bersama-sama, dan
11. Dan sampai yang terakhir yakni simbol dari
start grammar yakni “sentence”. yang terakhir adalah uji coba mahasiswa untuk
praktik secara mandiri. Proses penguasaan nama
16 tenses melalui rumus mateng hanya
membutuhkan waktu 10 menit. Penguasaan
Fungsi 16 Tenses Pembelajaran fungsi 16
tenses dilakukan sebagaimana proses
penguasaan nama 16 tenses, yaitu dengan

xi
metode jarimatika dan prinsip penjumlahan
aritmatika. Urutan penjumlah juga sama dengan
penjumlahan atau penggabungan nama tenses.
Contoh: Simple = rutinitas atau fakta dan
present = saat ini. Sehingga simple present
digunakan untuk menyatakan rutinitas atau fakta
saat ini; past = masa lampau dan continuous =
sedang dilakukan, sehingga past continuous
digunakan untuk menyatakan aktivitas yang
sedang dilakukan atau sesuatu yang sedang
terjadi pada masa lampau, dan seterusnya.
Setelah memahami penggabungan tersebut,
mahasiswa juga diminta untuk
mempraktikkanya bersama-sama dan individu.
Penguasaan Fungsi 16 Tenses Proses terakhir
penggunaan Rumus Mateng adalah penguasaan
rumus 16 tenses. Proses ini sedikit berbeda
dengan proses penguasaan nama dan fungsi 16
tenses. Meskipun pendekatan atau prinsip yang
digunakan sama namun prinsip artimatika
diterapkan dan lebih ditekankan pada proses ini.
Setelah proses pembelajaran berakhir, kami
menyebarkan kuisioner kepada siswa untuk
disi . Hal ini bertujuan untuk mengetahui
keefektifan program. Angket ini berisi 10
pernyataan tentang konsep , implementasi , serta
manfaat yang dirasaan setelah pembelajaran.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar
memberikan tanggapan yang sangat baik pada
keseluruhan item yang tersedia. Berikut hasil
olah data dari pengisian kuisioner. Disimpulkan

xii
bahwa dalam konstruksi konsep, keberfungsian
produk, dan efektifitas mencapai score lebih dari
4, oleh karena itu implementasi model
pembelajaran tenses menggunakan rumus
mateng (mathematic english) dinyatakan sangat
baik.
Hasil Pada pengujian aplikasi penentuan pola Bahasa Implementasi Model Pembelajaran Grammar
Penelitian Inggris Simple Present Tense ini, pengujian berbasis Rumus Mateng
dilakukan untuk mengetahui kebenaran pola Berdasarkan hasil observasi yang telah
dari kalimat bahasa Inggris yang diinputkan. dilakukan, ditemukan bahwa
Pola Kalimat dinyatakan benar apabila pola implementasiproses pembelajarantenses
yang didapat sesuai dengan pola yang sudah menggunakan rumus mateng meliputi tiga
ditentukan. Terlihat bahwa aplikasi ini memiliki aspek, yaitu penguasaan nama 16 tenses, fungsi
tingkat keakurasian sebesar 88.1 % dari 110 kali dan rumusnya.Sebelum masuk dalam
data inputan. pembahasan 16 tenses melalui Rumus Mateng,
mahasiswa diharuskan telah menguasai jenis,
bentuk, dan penggunaan Verb sebagai dasar dan
inti dari tenses. Untuk mengetahui bahwa
mahasiswa telah menguasai Verb,
kemudiandiberikan beberapa pertanyaan atau
kuis kepada mereka, mulai dari jenis verb,
fungsi verb dan bentukbentuk verb yang akan
digunakan pada rumus tenses. Setelah dapat
dipastikan bahwa mahasiswa telah menguasai
verb, pembelajaran 16 tenses melalui Rumus
Mateng dimulai. Proses pembelajaran dilakukan
menggunakan metode PPP ditambah dengan
kuis yang diawali dengan brainstorming.
Pertama, pembelajaran diawali dengan guiding
question dan brainstorming. Kemudian dilanjut
dengan pemaparan materi dan penggunaan

xiii
rumus Mateng dalam penguasaan 16 tenses,
dimulai dari nama, fungsi dan terakhir adalah
rumusnya. Setelah pemaparan materi
setiapbagian, mahasiswa diminta untuk
mengulanginya bersama-sama. Dan yang
terakhir adalah praktik secara mandiri untuk
mempraktikkan implementasi rumus Mateng di
depan kelas dan mereka diminta untuk
mempraktikkannya diluar kelas. Penguasaan
Nama 16 Tenses Langkah awal penggunaan
Rumus Mateng pada pembelajaran tenses
dimulai dari penguasaan nama 16 tenses yang
dilakukan dengan pendekatan metode
jarimatika, yaitu menghafalkan nama 16 tenses
dengan cara menggabungkan kelompok nama
waktu dan kelompok nama kejadian, masing-
masing berjumlah empat nama. Kelompok nama
waktu dituliskan pada empat jari tangan kiri,
dari telunjuk sampai dengan kelingking.
Sedangkan kelompok nama kejadian dtuliskan
pada tangan kanan pada empat jari tersebut.
Berikut gambar ilustrasi rumus : Waktu +
Bentuk Kejadian.
Penggabungan nama dengan cara penjumlahan
sebagaimana penjumlahan pada aritmatika.
Contoh: simple (kejadian) + present (waktu) =
simple present, Past + continuous = Past
continuous, Future + Prefect = Future perfect,
dan seterusnya. Adapun nama urutan
penggabungan sebagaimana angka yang tertera
pada gambar. Simple memiliki angka satu yang

xiv
berarti pada penggabungannya, simple akan
selalu berada di depan. Sedangkan continuous,
perfect dan perfect continuous selalu pada
urutan kedua. Pertama, mahasiswa diminta
untuk mengamati dan memahami materi yang
disampaikan melalui power point. Setelah
mereka memahaminya, peneliti meminta mereka
untuk mempraktikkannya bersama-sama, dan
yang terakhir adalah uji coba mahasiswa untuk
praktik secara mandiri. Proses penguasaan nama
16 tenses melalui rumus mateng hanya
membutuhkan waktu 10 menit. Penguasaan
Fungsi 16 Tenses Pembelajaran fungsi 16
tenses dilakukan sebagaimana proses
penguasaan nama 16 tenses, yaitu dengan
metode jarimatika dan prinsip penjumlahan
aritmatika. Urutan penjumlah juga sama dengan
penjumlahan atau penggabungan nama tenses.
Contoh: Simple = rutinitas atau fakta dan
present = saat ini. Sehingga simple present
digunakan untuk menyatakan rutinitas atau fakta
saat ini; past = masa lampau dan continuous =
sedang dilakukan, sehingga past continuous
digunakan untuk menyatakan aktivitas yang
sedang dilakukan atau sesuatu yang sedang
terjadi pada masa lampau, dan seterusnya.
Setelah memahami penggabungan tersebut,
mahasiswa juga diminta untuk
mempraktikkanya bersama-sama dan individu.
Penguasaan Fungsi 16 Tenses Proses terakhir
penggunaan Rumus Mateng adalah penguasaan

xv
rumus 16 tenses. Proses ini sedikit berbeda
dengan proses penguasaan nama dan fungsi 16
tenses. Meskipun pendekatan atau prinsip yang
digunakan sama namun prinsip artimatika
diterapkan dan lebih ditekankan pada proses ini.
Kesimpula 1) Aplikasi Penentuan Pola Kalimat Bahasa Implementasi model pembelajaran tenses
n Inggris Simple Present Tense ini berhasil menggunakan rumus mateng (mathematic
dirancang sehingga dapat membantu user dalam english) yang meliputi 3 aspek ; penguasaan
mengetahui pola pada sebuah kalimat bahasa nama 16 tenses, fungsi dan rumusnya. Proses
Inggris tersebut dengan menggunakan pemembelajaran tenses dimulai dari appersepsi,
pendekatan Context Free Grammar kemudian main activity menggunakan metode
berdasarkan metode Bottom Up Parsing. PPP, dan individual task untuk mahasiswa.
2) Keakuratan data yang didapat metode ini dari Respon mahasiswa terhadap impelementasi
110 kali inputan data yaitu 88,1 %. model pembelajaran tenses menggunakan rumus
3) Ketidakakuratan hasil dikarenakan. mateng dinyatakan sangat baik.
a) Belum bisa mendeteksi kata
keterangan (adverb).
b) Belum bisa mendeteksi kata adjective
setelah kata verb.
c) Sistem belum bisa mendeteksi nama
orang pada kalimat
Kekuatan Banyak penjelasan mengenai metode Bottom Up Banyak penjelasan mengenai Model
Parsing, untuk penentuan pola kalimat Bahasa Pembelajaran Mateng(Mathmetika English) dan
Inggris pada Simple Present Tense. Jurnal inni penulisan yang bagus, sehingga pembaca
juga menerangkan kegunaan bahasa Inggris merasa menarik membacanya.
didunia dan penjelasan Grammar.
Kelemahan 1. Jurnal ini tidak memiliki alamat web site. Sebelum masuk dalam pembahasan 16 tenses
2. Pada bagian abstak penjelasan melalui Rumus Mateng, mahasiswa diharuskan
menggunakan bahasa asing dan dimana telah menguasai jenis, bentuk, dan penggunaan
penulis tidak memberikan arti terlebih Verb sebagai dasar dan inti dari tenses, sehingga
dahulu, sehingga pembaca merasa pusing mahasiswa yang belum mengusai jenis, bentuk,
dan bingung. dan penggunaan verb, tidak dapat menggunakan

xvi
3. Penggunaan metode ini tidak sepenuhnya rumus ini.
berhasil melainkan 88,1%.
4. Metode ini tidak dapat mendeteksi nama
orang pada kalimat introgative yang
terletak pada jabatan subjek yang terletak
pada kata kedua.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada kedua jurnal ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Sudah dapat dimaklumi , walaupun kaidah penulisannya, penulis sudah berusaha
semaksimal mungkin, namun penulisan memang harus memperbaiki untuk
perbaikan kedepaanya.

xvii
B. Rekomendasi
Penulis sangat merekomendasi kedua jurnal ini, karena jurnal ini sangat
membahas tata bahasa dan tenses, dengan sebab itu manfaat kegunaan dari
jurnal ini sangat cocok bagi kaum pelajar sebagai tambahan asupan
pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Alqrainy, Shihadeh, 2012. Context free Grammar Analysis for Arabic sentences.
International Journal of Computer Application, Volume 53 (No. 3), Hal 7-
11.
Coghill, Jeffrey and Stacy Magendanz, 2003. English Grammar. New York: Wiley
Publishing, Inc.
Greenbaum, Sidney, 1996. English Grammar. Oxford University Press.
Ikranegara, Yudhistira,2012. Sari Kata Bahasa Indonesia, Jombang: Lintas Media.
Ingason, K., Helgadóttir, S., Loftsson, H., Rögnvaldsson, E, 2008. A Mixed Method
Lemmatization Algorithm Using a Hierarchy of Linguistic Identities
(HOLI). Aarne Ranta (Eds,). Advances in Natural Language Processing.
Khusaini, Fachry,2011. CFG dan Parsing. Modul Praktikum Teknik Kompilasi.
Kowalski, M. 2011, Information Retrieval Architecture and Algorithms. New York:
Springer.
Leech, Geoffrey,1982. English Grammar for Today. London: The Macmillan Press
Ltd.
Nirenburg, S. 2009. Language Engineering for Lesser-Studied Languages.
Amsterdam: IOS Press. Nugroho, A. Sulistyo. 2013. Teori Bahasa &
Otomata. Yogyakarta. Graha Ilmu.
Parno, 2005. Analisis dan perancangan Sistem. Gunadarma.
Antula, P. W. (2016). Penggunaan Present Perfect Tense Bahasa Inggris Oleh Siswa
Smk Kesehatan Bakti Nusantara Gorontalo (Sebuah Analisis Kesalahan).
Jurnal Elektronik Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, 4(2).

Chang, S-C. (2010). A Contrastive Study Of Grammar Translation Method And


Communicative Approach In Teaching English Grammar. Published By
Canadian Center Of Science And Education. Doi:10.5539/Elt.V4n2p13.

Crystal, D. (2003). English As A Global Language. Cambridge: Cambridge University


Press.

Falah, M. (2011). The English Grammar Mastery Of LBA Students Of MA NU TBS


Taught By Using Aralish Contrastive Analysis In Academic Year 2010-2011. Kudus.
UMK.

xviii
Hafid, A. G. (2016). The Effectiveness of Using Crossing Formulas of Tenses Table in
Learning English 16 Tenses at XII Grade Students of MA Madani Alauddin
Paopao In Academic Year of 2015/2016. Eternal (English, Teaching,
Learning, And Research Journal), 2(1), 96-109.

Hasibuan, B. (2012). Teaching Simple Past Tense By Using Cooperative Learning: An


Experimental Study At Seconde Of MTS Pembangunan UIN Jakarta.

Megawati, E. (2019). Penggunaan Model Pembelajaran Peer Teaching Dalam


Pengajaran Tenses Pada Mahasiswa EFL. DEIKSIS, 11(01), 39-50.

Pribadi, R. (2013). Aplikasi Structure Tenses Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris


Berbasis J2ME (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung :


Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung :


Alfabeta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

xix

Anda mungkin juga menyukai