Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS OBAT NARKOBA


IDENTIFIKASI KUALITATIF GOLONGAN PREKURSOR

Disusun Oleh:
Nama: Jihan Anindya
NIM : P27235018074
Kelas : IV B ANAFARMA

PRODI DIII ANALISIS FARMASI DAN MAKANAN


JURUSAN ANALISIS FARMASI DAN MAKANAN
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
2020
A. TUJUAN

Mahasiswa mampu mengetahui dan mengidentifikasi keberadaan prekursor efedrin


HCl dan kalium permanganat.

B. DASAR TEORI

Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat
digunakan dalam pembuatan Narkotika dan Psikotropika. Peraturan mengenai
prekursor diatur dalam PP Nomor 44 Tahun 2013. Berdasarkan sifatnya, prekursor
dibedakan menjadi:

1. Prekursor bahan baku; yaitu prekursor yang digunakan sebagai bahan dasar dalam
pembuatan narkotika dan psikotropika yang dengan sedikit modifikasi dapat
menjadi narkotika atau psikotropika. Misalnya efedrin, pseudoefedrin,
fenilpropanolamin atau norefdrin.

2. Prekursor reagensia; yaitu bahan kimia pereaksi yang digunakan untuk mengubah
bentuk/ struktur molekul prekursor bahan baku menjadi narkotika dan
psikotropika..

3. Pelarut (solvent); yaitu bahan yang ditambahkan untuk melarutkan atau


memurnikan zat yang dihasilkan. Misalnya toluene, asam hidroklorida, etil eter,
asam sulfat, aseton.

Efedrin merupakan non katekolamin aksi tidak langsung yang merangsang


reseptor alpha dan beta aderegenik. Efek farmakologik efedrin sebagian berasal dari
pelepasan endogen norepinefrin (aksi tidak langsung). Efedrin juga memiliki efek
perangsangan langsung pada reseptor adregenik pemberian per oral, intramuskular
dan intravena. Efedrin tahan terhadap metabolisme oleh MAO sehingga dapat
diberikan per oral (Stoelting R.K, 1999).

Efedrin adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan efedra yang biasa
tumbuh di daerah Asia Tengah. Tanaman ini biasanya hijau sepanjang tahun dan biji
keringnya digunakan sebagai obat. Efedrin biasanya digunakan sebagai obat asma dan
penurun berat badan. Efedrin dijual dalam bentuk garam hidroklorida dan sulfat
(Wikipedia, 2008).
Menurut FI (1979), efedrin memiliki nama resmi ephedrin hydrochloridum
dengan nama lain efedrin HCl dan efedrina hidroksida. Memiliki rumus molekul
C10H15NO, HCl dengan berat molekulnya sebesar 201,70. Pemerian efedrin yaitu
berupa hablur putih, tidak berbau dan memiliki rasa pahit. Efedrin larut dalam lebih
kurang 4 bagian air, kurang larut dalam 14 bagian etanol 95% P, praktis tidak larut
dalam eter P. Penyimpanan efedrin dalam wadah tertutup rapat.

Efedrin HCl merupakan simpatomimetik yang bekerja secara langsung dan


tidak langsung terhadap reseptor adrenergik. Obat ini juga meningkatkan tekanan
darah melalui peningkatan curah jantung dan juga menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah tepi. Selain itu, efedrin juga bersifat bronkodilatasi, menurunkan
irama dan pergerakan usus, menurunkan aktivitas uterus serta merangsang pusat
napas (Sweetman, 2005).

Efek samping dari efedrin HCl yaitu pada orang yang peka terhadap efedrin
HCl, dalam dosis rendah sudah dapat menimbulkan gelisah, tremor, dan gangguan
berkemih. Sedangkan pada efek sentral yaitu insomnia yang sering terjadi
pengobatan kronik dan palpitasi. Saat ini, sangat banyak beredar produk obat yang
mengandung kombinasi dua atau lebih bahan aktif. Kombinasi dimaksudkan agar
obat dapat lebih efektif mencapai sasaran terapi. Salah satunya adalah kombinasi
antara teofilin dan efedrin HCl, yang digunakan untuk meringankan gejala gangguan
saluran pernapasan seperti asma bronkial, kejang bronkus dan alergi (Tan dan
Rahardja, 2007).

Kalium permanganat merupakan suatu senyawa kimia anorganik yang dapat


digunakan sebagai obat. Kalium permanganat dapat digunakan sebagai bahan obat
untuk pembersih luka dan dermatis. KMnO4 merupakan agen pengoksidasi yang kuat,
larut dalam air menghasilkan larutan berwarna merah muda. Kalium permanganat
dapat bereaksi dengan senyawa yang mudah menyala sehingga meyebabkan
kebakaran sehingga perlu untuk dijauhkan dari senyawa pereduksi, asam kuat,
material organik, senyawa kimia logam aktif, peroksida, dan alkohol (Palenik, 1967).

Kalium permanganat dapat digunakan untuk menentukan bahan organik


keseluruhan yang dapat teroksidasi dalam sampel air secara kuantitatif. Nilai yang
sudah ditentukan biasa disebut dengan nilai permanganat. Dalam kimia analitik,
larutan standar dari KMnO4 digunakan sebagai titran pengoksidasi untuk titrasi
redoks (Permanganometri). Dalam cara ini, KMnO4 digunakan sebagai pereaksi
untuk menentukan bilangan Kappa. Untuk standarisasi larutan KMnO4, digunakan
asam oksalat untuk mereduksi larutan tersebut (Kovacs, dkk., 2004).

Permanganometri adalah suatu metode titrasi dengan menggunakan kalium


permanganat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan pada titrasi redoks.
Permanganometri dalam pemanfaatannya dapat digunakan sebagai penentu kadar
belerang, nitrit, dan fosfit. Cara titrasi ini banyak digunakan untuk menganalisa zat-
zat organik. Reagensia ini selain mudah didapat, harganya relatif murah dan tidak
memerlukan indikator kecuali jika digunakan larutan yang sangat encer (Day, 1999).

Prinsip titrasi permanganometri adalah reaksi oksidasi reduksi pada suasana


asam yang melibatkan elektron dengan jumlah tertentu, dan dibutuhan suasana asam
(HsSO4) untuk mencapai tingkat oksidasi dari KMnO4 yang paling tinggi dan
bilangan oksidasi +7 menjadi +2. Pada proses titrasi, tidak dibutuhkan indikator lain
karena KMnO4 sudah mampu memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi
yang ditandai dengan terbentuknya warna merah muda. Sifat dari KMnO4 ini dikenal
sebagai autoindikator (Harjadi, 1999).

Uji organoleptis yaitu penilaian dan mengamati tekstur, warna, bentuk, aroma,
rasa dari suatu makanan, minuman maupun obat-obatan (Nasiru, 2014). Pengujian
organoleptik merupakan cara menilai dengan panca indera untuk mengetahui adanya
perubahan maupun penyimpangan pada suatu produk. Organoleptik merupakan
pengujian berdasarkan pada proses penginderaan (Agusman, 2013).

Kelarutan adalah keadaan dimana suatu senyawa padat, cair atau gas yang
terlarut dalam padatan, cairan atau gas yang kemudian membentuk larutan yang
homogen. Kelarutan tersebut bergantung pada pelarut yang digunakan serta suhu dan
tekanan (Lachman, 1986). Dalam bidang farmasi, kelarutan memiliki peranan penting
dalam menentukan bentuk sediaan dan untuk menentukan konsentrasi yang dicapai
pada sirkulasi sistemik untuk menghasilkan respon farmakologi. Obat yang memiliki
kelarutan rendah dalam air sering membutuhkan dosis yang tinggi untuk mencapai
konsentrasi spesifik setelah dilakukan pemberian oral. Umumnya obat yang bersifat
asam lemah atau basa lemah mempunyai kelarutan terhadap air yang buruk (Savjani
et al., 2012).
Spektrofotometer UV VIS adalah alat yang digunakan untuk mengukur
transmitansi, reflektansi dan absorbansi sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Spektrofotometer menghasillkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan
atau yang diabsorbsi. Suatu spektrometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak
yang sinambung dan monokromatis. Sel pengabsorbsi untuk mengukur perbedaan
absorpsi antara cuplikan dengan blanko atau pembanding (Gandjar, 2007).

Prinsip kerja dari spektrofotometer UV VIS adalah interaksi yang terjadi


antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang
berupa molekul. Besar energi yang diserap yang diserap dapat menyebabkan elektron
tereksitasi dari ground state ke keadaan tereksitasi yang lebih tinggi. Serapan tidak
terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur elektronik tetapi
hanya pada sistem-sistem terkonjugasi, struktur elektronik dengan adanya ikatan p
dan non bonding elektron (Harjadi, 1990).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu timbangan, gelas beaker,
buret, statif dan klem, erlenmeyer, pipet ukur, pipet tetes, tabung reaksi, batang
pengaduk, cawan porselein, dan kaca arloji. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu
serbuk KMnO4, H2SO4, H2O2, aquades, HCl, methanol, asam oksalat, efedrin HCl,
etanol 96%, tembaga (II) Sulfat, NaOH, eter, serbuk tembaga, larutan karbon
tetraklorida, larutan raksa (III) asetat, asam perklorat, aseton, sampel, dan indikator
metil merah.

D. CARA KERJA

Uji Efedrin
1. Uji organoleptis: diamati bau, rasa dan warna.
2. Uji kelarutan
3. Identifikasi
a. Dibuat larutan dengan konsentrasi 0,05% b/v, dispektrum serapan UV pada
panjang gelombang 220-350nm. Diamati panjang gelombang maksimumnya.
b. Sebanyak 10 mg efedrin dilarutkan dalam 1 ml air kemudian ditambahkan 0,1
ml larutan tembaga (II) sulfat P dan 2 ml larutan NaOH. Diamati warna yang
terbentuk. Kemudian ditambahkan 1 ml eter P lalu dikocok. Diamati
perubahan yang terjadi.
c. Sebanyak 50 mg efedrin dilarutkan dalam 1 ml air, ditambahkan dengan 4 ml
NaOH 0,1 N. Kemudian ditambahkan 30 ml larutan karbon tetraklorida.
Dikocok lalu dibiarkan selama kurang lebih 2 menit. Pisahkan lapisan organic,
ditambahkan sedikit serbuk tembaga lalu dikocok. Diamati perubahan warna
atau endapan yang terbentuk.
4. Uji keasaman
Sebanyak 200 mg efedrin dilarutkan dalam 10 ml air bebas CO2. Dinetralkan
dengan 0,02 N NaOH atau dengan HCl 0,02 N. Kemudian ditambahkan dengan
larutan indikator merah metal. Diamati perubahan yang terjadi.
Uji kalium permanganat
1. Uji organoleptis: diamati warna, bau dan rasa.
2. Uji kelarutan
3. Identifikasi
a. Sebanyak 1 gram sampel dilarutkan dalam asam sulfat encer kemudian
ditambahkan H2O2 encer. Diamati perubahan yang terjadi.
b. Sampel dipanaskan hingga memijar terurai menjadi gas oksigen (sisa warna
hitam), dilarutkan sisanya dengan air. Kemudian dinetralkan dengan
penambahkan asam klorida encer. Diamati hasilnya.
4. Penetapan kadar
Sebanyak 800 mg kalium permanganat dilarutkan dalam air secukupnya, ad 250
ml (digunakan sebagai titran). Dititrasi campuran 25 ml asam oksalat 0,1 N, 5 ml
asam sulfat pekat dan 25 ml air. Selama titrasi larutan dipanaskan pada suhu
kurang lebih 70°C.
E. HASIL
Efedrin
1. Uji Organoleptis
Bentuk Warna Bau Rasa
Hablur/ serbuk hablur putih Putih Tidak berbau Pahit

2. Uji Kelarutan
Larut dalam air, mudah larut dalam etanol 95%P, praktis tidak larut dalam eter P.
3. Identifikasi
Analisis Hasil
A Terdapat 3 panjang gelombang maksimum yaitu 251 nm, 257 nm,
dan 263 nm.
B a. Terbentuk warna violet
b. Lapisan eter berwarna violet, sedangkan lapisan air berwarna
biru
C Terbentuk endapan

Kalium permanganat
1. Uji organoleptis
Bentuk Warna Bau Rasa
Hablur mengkilap Ungu tua/ hampir hitam Tidak berbau Manis/ sepat

2. Uji kelarutan
Larut dalam 16 bagian air, mudah larut dalam air mendidih.
3. Identifikasi
Identifikasi Hasil
A Warna larutan hilang
B Larutan menunjukkan reaksi kalium yang tertera pada reaksi
identifikasi (pada FI)

F. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi keberadaan
prekursor efedrin HCl dan kalium permanganat. Efedrin bekerja dengan cara
mengurangi pembengkakan pembuluh darah yang ada disaluran hidung dan
memperlebar saluran udara di pari-paru sehingga pernafasan berjalan lebih mudah.
Pertama, dilakukan uji organoleptis pada efedrin. Uji organoleptis bertujuan
untuk mengetahui bentuk, warna dan rasa pada sediaan. Setelah dilakukan uji,
diperoleh hasil yaitu efedrin berbentuk serbuk halus berwarna putih, tidak berbau dan
memiliki rasa yang pahit. Kemudian dilakukan juga uji kelarutan. Efedrin larut dalam
kurang lebih 4 bagian air yang artinya efedrin mudah larut, lebih kurang 14 bagian
etanol 95% yang artinya agak sukar larut, dan tidak larut dalam eter.
Selanjutnya, dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum pada UV
dengan rentang 220-350 nm. Panjang gelombang maksimum ditandai dengan
absorbansi sampel yang maksimum. Pada percobaan diperoleh hasil panjang
gelombang maksimum yaitu pada 251 nm,257 nm, dan 263 nm. Kemudian dilakukan
identifikasi yang pertama dengan melarutkan efedrin dalam air, dengan penambahan
tembaga (II) sulfat dan NaOH menunjukkan hasil berwarna violet, setelah dilakukan
penambahan eter P menunjukkan lapisan eter berwarna violet kemerahan dan lapisan
air berwarna biru. Kemudian dilakukan identifikasi yang kedua dengan melarutkan
efedrin dalam air dan ditambah NaOH, larutan Karbon tetrahidroklorida kemudian
dikocok dan dibiarkan, dengan penambahan sedikit tembaga dan dikocok, terjadi
perubahan yaitu terbentuknya endapan.
Selanjutnya dilakukan uji pada kalium permanganat. Kalium permanganat
merupakan suatu senyawa kimia anorganik yang dapat digunakan sebagai obat.
Kalium permanganat dapat digunakan sebagai bahan obat untuk pembersih luka dan
dermatis. KMnO4 merupakan agen pengoksidasi yang kuat, larut dalam air
menghasilkan larutan berwarna merah muda. Pertama, dilakukan uji organoleptis
yang menunjukkan hasil yaitu kalium permanganat berupa hablur mengkilap
berwarna ungu tua/ hampir hitam, tidak berbau, memiliki rasa yang manis atau sepat.
Kelarutan kalium permanganat yaitu larut dalam 16 bagian air, dan mudah larut dalam
air mendidih.
Identifikasi kalium permanganat dilakukan dengan melarutkan hablur kalium
permanganat dengan asam sulfat encer dan H2O2 encer yang kemudian menghasilkan
warna larutan hilang. Lalu dilakukan pemanasan pada sampel hingga memijar terurai
menjadi gas oksigen hingga sisa warna hitam lalu melarutkan sisanya dengan air dan
dinetralkan dengan menambahkan HCl encer menunjukkan reaksi kalium
permanganat.

G. KESIMPULAN

Mahasiswa telah mampu mengetahui dan mengidentifikasi keberadaan


prekursor efedrin HCl dan kalium permanganat. Efedrin bekerja dengan cara
mengurangi pembengkakan pembuluh darah yang ada disaluran hidung dan
memperlebar saluran udara di pari-paru sehingga pernafasan berjalan lebih mudah.
Kalium permanganat merupakan suatu senyawa kimia anorganik yang dapat
digunakan sebagai obat. Kalium permanganat dapat digunakan sebagai bahan obat
untuk pembersih luka dan dermatis. KMnO4 merupakan agen pengoksidasi yang kuat,
larut dalam air menghasilkan larutan berwarna merah muda.
DAFTAR PUSTAKA

Agusman. 2013. Pengujian Organoleptik. Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah


Semarang. Semarang

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta

Day, R.A dan Underwood, A.L. 1999. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi 6. Erlangga. Jakarta

Gandjar, I. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Harjadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta

Lachman L., H.Lieberman dan J.N. Kaning. 1986. The Theory and Practice of Industrial
Pharmacy Edisi ke 3. Lea and Febiger. Amerika Serikat

Nasiru, N. 2014. Teknologi Pangan Teori Praktis dan Aplikasi. Graha Ilmu. Yogyakarta

Savjani Ketan T., Anuradha K. Gajjar, dan Jignasa K. Savjani. 2012. “Drug Solubility:
Importance and Enhancement Techniques”. ISRN Pharmaceutics. (2012): 195727

Stoelting R.K. 1999. Pharmacology and physiology in anesthetic practice. 4th edition.
Lippincott Williams. Philadelphia

Sweetman S.C. 2005. Martindale: The Complete Drug Reference 34th edition. Pharmaceutical
Press. London

Tan Hoan Tjay, K. Raharja. 2008. Obat- Obat Penting. Edisi 6. Gramedia. Jakarta